Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KASUS

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

PEMBIMBING :
dr. David Allorante, Sp.OG

DISUSUN OLEH :
Ade Laksono
Meita Kusumo Putri

030.10.002
030.10.174

Runy Oktaviani Pongsitanan 030.10.242

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARAWANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 19 FEBRUARI 2015

LEMBAR PENGESAHAN

Nama mahasiswa

1. Ade Laksono
2. Meita Kusumo Putri
3. Runy Oktaviani Pongsitanan
Bagian

030.10.002
030.10.174
030.10.242

: Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan FK Universitas


Trisakti

Periode

: 19 Februari 2015

Judul

: Laporan kasus hiperemesis gravidarum

Pembimbing

: dr. David Allorante, Sp.OG

Telah diperiksa dan disahkan pada tanggal :


Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti dan menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Ilmu
Kebidanan dan Kandungan di Rumah Sakit Umum Daerah Karawang.

Jakarta, Maret 2015

dr. David Allorante, Sp.OG

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala nikmat,
rahmat, dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul
Hiperemesis gravidarum dengan baik dan tepat waktu.
Referat ini disusun dalam rangka memenuhi tugas Kepaniteraan Ilmu Kebidanan dan
Kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti di Rumah Sakit Umum Daerah
Karawang Periode 19 Februari 2015. Di samping itu, laporan kasus ini ditujukan untuk
menambah pengetahuan bagi kita semua tentang hiperemesis gravidarum.
Melalui kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya
kepada dr. David Allorante, Sp.OG selaku pembimbing dalam penyusunan referat ini, serta
kepada dokterdokter pembimbing lain yang telah membimbing penulis selama di
Kepaniteraan Ilmu Kebidanan dan Kandungan Rumah Sakit Umum Daerah Karawang.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada rekanrekan anggota Kepaniteraan Ilmu
Kebidanan dan Kandungan Rumah Sakit Umum Daerah Karawang serta berbagai pihak yang
telah memberi dukungan dan bantuan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna dan tidak luput dari
kesalahan. Oleh karena itu, penulis sangat berharap adanya masukan, kritik maupun saran
yang membangun. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih yang sebesarbesarnya, semoga
tugas ini dapat memberikan tambahan informasi bagi kita semua.

Jakarta,

Maret 2015
Penulis

Ade Laksono, Meita Kusumo Putri, Runy Oktaviani P.

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan .................................................................................................

Kata pengantar .........................................................................................................

Daftar isi ..................................................................................................................

BAB I

Pendahuluan ....................................................................................

BAB II

Laporan kasus ..................................................................................

BAB III

Analisa kasus ...................................................................................

17

BAB IV

Tinjauan pustaka ..............................................................................

20

Daftar Pustaka .........................................................................................................

34

BAB I
PENDAHULUAN
Sekitar 50-90% perempuan hamil mengalami keluhan mual dan muntah. Keluhan ini
biasanya disertai dengan hipersalivasi, sakit kepala, perut kembung, dan rasa lemah pada
badan. Keluhan-keluhan ini secara umum dikenal sebagai morning sickness. Istilah ini
sebenarnya kurang tepat karena 80% perempuan hamil mengalami mual dan muntah
sepanjang hari.1 Apabila mual dan muntah yang dialami mengganggu aktivitas sehari-hari
atau menimbulkan komplikasi, keadaan ini disebut hiperemesis gravidarum. Komplikasi yang
dapat terjadi adalah ketonuria, dehidrasi, hipokalemia dan penurunan berat badan lebih dari 3
kg atau 5% berat badan.1
Mual dan muntah pada kehamilan biasanya dimulai pada kehamilan minggu ke-9
sampai ke-10, memberat pada minggu ke-11 sampai ke-13 dan berakhir pada minggu ke-12
sampai ke-14. Hanya pada 1-10% kehamilan gejala berlanjut melewati minggu ke-20 sampai
ke-22. Pada 0,3-2% kehamilan terjadi hiperemesis gravidarum yang menyebabkan ibu harus
ditata laksana dengan rawat inap. Hiperemesis gravidarum jarang menyebabkan kematian,
tetapi angka kejadiannya masih cukup tinggi. Hampir 25% pasien hiperemesis gravidarum
dirawat inap lebih dari sekali. Terkadang, kondisi hiperemesis yang terjadi terus-menerus dan
sulit sembuh membuat pasien depresi. Pada kasus-kasus ekstrim, ibu hamil bahkan dapat
merasa ingin melakukan terminasi kehamilan.2
Beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan hiperemesis gravidarum antara lain
hiperemesis gravidarum pada kehamilan sebelumnya, berat badan berlebih, kehamilan
multipel, penyakit trofoblastik, nuliparitas dan merokok.

BAB II
LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. U

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 27 tahun

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Agama

: Islam

Alamat

: Pebayuran Kel. Teluk Jambe, Karawang

Suku

: Sunda

Tanggal Masuk RS

: 9 Maret 2015

IDENTITAS SUAMI
Nama

: Tn. D

Umur

: 30 tahun

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Pedagang

Agama

: Islam

Alamat

: Pebayuran Kel. Teluk Jambe, Karawang

Suku

: Sunda

II. ANAMNESIS
Autoanamnesis dilakukan di kamar bersalin RSUD Karawang pada tanggal 09/03/2015
pukul 16.30 WIB
A.

Keluhan Utama
Muntah sejak 3 hari SMRS

B.

Keluhan Tambahan
Mual, pusing, nyeri ulu hati, nafsu makan berkurang, penurunan berat badan selama
kehamilan.
5

C. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien G1P0A0 mengaku hamil 3 bulan datang ke kamar bersalin RSUD Karawang
dengan keluhan mual dan muntah sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan
muntah sebanyak lebih dari 8 kali sehari, muntahan berupa cairan berwarna putih
kekuningan, berisi campuran makanan dan minuman yang dimakan. Muntah
bercampur darah disangkal. Setiap makan atau minum, pasien merasa mual dan
memuntahkan makanan dan minuman yang dikonsumsinya. Pasien mengatakan
keluhan mual-mual ini sudah dirasakan sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit, dan
sejak saat itu nafsu makannya berkurang. Keluhan mual muntah ini dirasa semakin
hari semakin memberat. Pasien juga mengaku terjadi penurunan berat badan sebanyak
5 kg dalam waktu 1 bulan terakhir, dan mengeluh adanya nyeri ulu hati sejak 5 hari
sebelum masuk rumah sakit, nyeri dirasa seperti ditusuk-tusuk. Pasien mengatakan
sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit ia juga tidak dapat bangun dari tempat tidur
karena merasa lemas, dan pusing. Keluhan ini dirasa hingga mengganggu aktivitas
sehari-hari. Buang air kecil (BAK) diakui lancar, berwarna kuning jernih. Buang air
besar (BAB) juga lancar, diare atau konstipasi disangkal.
D. Riwayat Penyakit Dahulu
Darah Tinggi (-)
Kencing Manis (-)
Asma
(-)
Alergi
(-)
Riwayat operasi (-)
Riwayat sakit maag (-)
E. Riwayat Haid
HPHT

: 23-10-2014

Taksiran Partus

: 30-07-2015

Usia Kehamilan

: 12 minggu

Menarche

: 14 tahun

Siklus Haid

: teratur (antara 28-30 hari)

Lama Haid

: 4-6 hari

Banyaknya

: 3 kali ganti pembalut per hari

Dismenore

: (-)

F. Riwayat Perkawinan
6

Status
Usia saat menikah
Lama perkawinan
Jumlah anak

: Menikah, 1x
: 22 tahun (tahun 2014)
: Menikah selama 5 tahun hingga sekarang
: Hamil pertama

G. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas Yang Lalu


1. Hamil ini
H. Riwayat Keluarga Berencana
Pasien tidak menggunakan KB
I. Riwayat Kebiasaan
Merokok
(-)
Minum Alkohol (-)
Jamu-jamuan (-)
Menggunakan narkoba ataupun konsumsi obat-obatan (-)
III. PEMERIKSAAN FISIK
A. PEMERIKSAAN UMUM
1. Keadaan umum

: Tampak lemah, pucat

2. Kesadaran

: Compos mentis

3. Tanda vital
a. Tekanan darah

: 100/60 mmHg

b. Nadi

: 92x/menit

c. Pernapasan

: 18x/menit

d. Suhu

: 36,4oC

4. Antropometri
a.
b.
c.
d.

BB
: 55 kg
TB
: 165 cm
BMI
: 20,20
Lingkar pinggang : -

B. STATUS GENERALIS
3. Kepala dan Wajah
Kepala
Wajah

: Normosefali
: Tampak simetris

4. Mata
Kedua mata tampak cekung
Palpebra

: Kedua palpebra tidak tampak oedem


7

Konjunctiva

: Kedua konjunctiva tidak tampak pucat

Sklera

: Kedua sklera tidak tampak ikterik

Pupil

: Bulat, isokor, diameter 3 mm / 3 mm,

Refleks cahaya

: Langsung

: +/+

Tidak langsung

: +/+

5. Leher
a. Deviasi trakea

: (-)

b. Kelenjar Tiroid

: Tak teraba membesar

c. Kelenjar getah bening leher : Tak teraba membesar


d. Tekanan Vena Jugularis : JVP 5 1 cmH20
6. Thorax
a. Paru

: Suara napas vesikuler dikedua lapang paru, tidak terdengar ronkhi,


ataupun wheezing dikedua lapang paru

b. Jantung

: Suara I-II normal, irama reguler, tidak terdengar split, murmur,


ataupun gallop.

7. Abdomen
Inspeksi

: Perut tampak datar

Palpasi

: Supel, terdapat nyeri tekan epigastrium, turgor kulit 2 detik.

Perkusi

: Timpani di seluruh lapang kuadran abdomen

Auskultasi

: Bising usus (+) dengan frekuensi 4x/menit.

8. Ekstremitas
Ekstremitas atas

Dekstra

Sinistra

Deformitas

(-)

(-)

Akral

Hangat

Hangat

CRT

2 detik

2 detik

Lain-lain

Oedem (-)

Oedem (-)

Dekstra

Sinistra

(-)

(-)

Ekstremitas bawah
Deformitas

Akral

Hangat

Hangat

CRT
Lain-lain

2 detik
Oedem (-)

2 detik
Oedem (-)

C. STATUS OBSTETRI
TFU
DJJ
Inspeksi genitalia
Inspekulo
Vaginal toucher
IV.

: 3 jari diatas sympisis


: sulit dinilai dengan laenec/doppler
: v/u tampak tenang, tidak ada perdarahan
: portio livide, licin, ostium uteri tertutup
: tidak dilakukan

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium tanggal 09/03/2015
a. Hematologi
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Parameter
Hemoglobin
Leukosit
Trombosit
Hematokrit
Masa perdarahan
Masa pembekuan
Golongan darah
HbsAg rapid
Tes kehamilan
GDS

Hasil
11,7
7,250
233.000
33,8
2
10
B (+)
Non reaktif
(+) / Positif
82

Satuan
g/dl
/L
/ L
%
Menit
Menit

Nilai Rujukan
12,0 16,0
3,80 10,60
150 440
35,0 47,0
13
5 11

Pos/Neg
mg/dl

<140

b. Urinalisis fisis/kimiawi
No.
1
2
G 3
4
5
582
6
7

Parameter
Warna
Kekeruhan
pH
Protein
Glukosa
Keton
Sedimen :
Epitel
Leukosit
Eritrosit
Kristal
Silinder
Bakteri

Hasil
Kuning
Jernih
6,0
Negatif
Negatif
(+) 3

Satuan

(+) 1
01
01
Negatif
Negatif

/ lpb
/ lpb
/ lpb

Nilai Rujukan
c. US
4,80 7,50
Negatif
Negatif
Negatif

CRL

mm

<6
<1

Usia Kehamilan : 12-13 minggu


Kesan : Tampak janin tunggal hidup intrauterin, 12-13 minggu
9

V. RESUME
Pasien G1P0A0 mengaku hamil 3 bulan datang ke kamar bersalin RSUD Karawang
dengan keluhan mual dan muntah sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan
muntah sebanyak lebih dari 8 kali sehari, muntahan berupa cairan berwarna putih
kekuningan, berisi campuran makanan dan minuman yang dimakan. Muntah bercampur
darah disangkal. Setiap makan atau minum, pasien merasa mual dan memuntahkan
makanan dan minuman yang dikonsumsinya. Pasien mengatakan keluhan mual-mual ini
sudah dirasakan sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit, dan sejak saat itu nafsu
makannya berkurang. Keluhan mual muntah ini dirasa semakin hari semakin memberat
Pasien juga mengaku terjadi penurunan berat badan sebanyak 5 kg dalam waktu 1 bulan
terakhir, dan mengeluh adanya nyeri ulu hati sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit,
nyeri dirasa seperti ditusuk-tusuk. Pasien mengatakan sejak 2 hari sebelum masuk rumah
sakit ia juga tidak dapat bangun dari tempat tidur karena lemas, dan pusing. Keluhan ini
dirasa hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Buang air kecil (BAK) diakui lancar,
berwarna kuning jernih. Buang air besar (BAB) juga lancar, diare atau konstipasi
disangkal.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan:
o
o
o
o

Keadaan umum : tampak lemah, pucat


Tanda vital: TD: 100/60mmHg, N: 80x/menit, RR: 20x/menit, S: 36.4oC
Status generalis: terdapat nyeri tekan epigastrium, turgor kulit 2 detik, CRT 2 detik
Status obstetri
- TFU
: 3 jari di atas sympisis
- DJJ
: sulit dinilai dengan laenec/doppler
- Genitalia
Inspeksi
: v/u tampak tenang, tidak ada perdarahan
Inspekulo
: portio livide, licin, ostium uteri tertutup
VT
: tidak dilakukan

o Pada pemeriksaan penunjang didapatkan:


Keton urine +3
USG (09/03/2015)
CRL : 582 mm
Usia Kehamilan : 12-13 minggu
Kesan : Tampak janin tunggal hidup intrauterin, 12-13 minggu
VI. DIAGNOSIS KERJA
-

Hiperemesis Gravidarum pada G1P0A0 Hamil 12-13 minggu

10

VII.

PROGNOSIS
Ad vitam
: Ad bonam
Ad fungsionam : Dubia ad bonam
Ad sanationam : Dubia ad bonam
VIII. PENATALAKSANAAN
-

Observasi keadaan umum, tanda vital, tanda-tanda dehidrasi

Rawat ruangan

Cek DPL, UL, GDS, PT/OT, keton

Terapi medikamentosa :

Hidrasi cairan IVFD RL: Dextrose 5% = 1:1/ 8 jam

Drip neurobion 1 amp dalam 500cc RL

Ranitidin 2x1 amp IV

Ondansetron 3x1 amp IV

Asam folat 1x1 po

SF 1x1 po

Terapi edukasi :

Small frequent feeding, yaitu mengonsumsi makanan dan minuman sedikit


namun sering, bertujuan untuk membantu mengurangi gejala mual dan
muntah.2

Menghindari makanan yang bersifat merangsang, seperti makanan pedas dan


berlemak.2

IX.

FOLLOW UP HARIAN
Tanggal 10 Maret 2015
Mual (+), muntah 4 kali sejak datang ke RSUD Karawang, berisi campuran makanan

dan minuman, berwarna kekuningan, pusing (+), nyeri pada ulu hati (+), mulai bisa
makan dan minum sedikit, BAK lancar berwarna kuning jernih, belum BAB.

Keadaan umum :
Compos mentis, tampak sakit sedang
Tanda vital

:
11

Tekanan darah : 100/60 mmHg


Nadi

: 84x/menit

Pernapasan

: 18x/menit

Suhu

: 36,7oC

Pemeriksaan fisik :
Status Generalis :
Kepala

: Konjunctiva pucat : -/- Sklera ikterik -/- Mata tampak cekung

Leher

: Tak tampak kelainan

Toraks

: S1 normal, S2 normal, irama reguler, murmur (-), gallop (-)


Suara napas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-

Abdomen

: Tampak datar, supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal

Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik, oedem ekstremitas -/Status Obstetri :

Tfu : 3 jari di atas sympisis


DJJ : sulit dinilai dengan laenec/doppler
V/U: tampak tenang

Hiperemesis Gravidarum pada G1P0A0 Hamil 12-13 minggu


-

Observasi keadaan umum, tanda vital, tanda-tanda dehidrasi

USG Konfirmasi

Small frequent feeding

Terapi medikamentosa :

Hidrasi cairan IVFD RL: Dextrose 5% = 1:1/ 8 jam

Drip neurobion 1 amp dalam 500cc RL

Ranitidin 2x1 amp IV

Ondansetron 3x1 amp IV

Asam folat 1x1 po

SF 1x1 po

Tanggal 11 Maret 2015


S

12

Mual (+) namun sudah berkurang, muntah (+) 1x/hari, pusing (-), nyeri pada ulu hati
(+), BAK lancar berwarna kuning jernih, belum BAB
Keadaan umum :
Compos mentis, tampak sakit sedang
Tanda vital

Tekanan darah : 110/70 mmHg


Nadi

: 80x/menit

Pernapasan

: 18x/menit

Suhu

: 36,6oC

Pemeriksaan fisik :
Status Generalis :

Kepala

: Konjunctiva pucat : -/- Sklera ikterik -/- Mata tidak tampak cekung

Leher

: Tak tampak kelainan

Toraks

: S1 normal, S2 normal, irama reguler, murmur (-), gallop (-)


Suara napas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-

Abdomen

: Tampak datar, supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal

Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik, oedem ekstremitas -/Kulit

: Turgor kulit baik

Status Obstetri :
Tfu : 3 jari di atas sympisis
DJJ : sulit dinilai dengan laenec/doppler
V/U: tampak tenang
Laboratorium
Urinalisis kimawi
No
.
1
A
P

Parameter

Hasil

Keton

(+) 1

Satuan

Nilai Rujukan
Negatif

Hiperemesis Gravidarum pada G1P0A0 Hamil 12-13 minggu


-

Observasi keadaan umum, tanda vital, tanda-tanda dehidrasi

Small frequent feeding

Terapi medikamentosa :
13

Hidrasi cairan IVFD RL: Dextrose 5% = 1:1 / 8 jam

Drip neurobion 1 amp dalam 500cc RL

Ranitidin 2x1 amp IV

Ondansetron 3x1 amp IV

Asam folat 1x1 po

SF 1x1 po

Tanggal 12 Maret 2015


S

Mual (+), muntah (-), pusing (-), nyeri pada ulu hati (+), BAK lancar berwarna kuning
jernih, belum BAB

Keadaan umum :
Compos mentis, tampak sakit sedang
Tanda vital

Tekanan darah : 110/80 mmHg


Nadi

: 80x/menit

Pernapasan

: 18x/menit

Suhu

: 36,6oC

Pemeriksaan fisik :
Status Generalis :
Kepala

: Konjunctiva pucat : -/- Sklera ikterik -/- Mata tidak tampak cekung

Leher

: Tak tampak kelainan

Toraks

: S1 normal, S2 normal, irama reguler, murmur (-), gallop (-)


Suara napas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-

Abdomen

: Tampak datar, supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal

Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik, oedem ekstremitas -/Kulit

: Turgor kulit baik

Status Obstetri :

Tfu : 3 jari di atas sympisis


DJJ : sulit dinilai dengan laenec/doppler
V/U: Tampak tenang
14

Laboratorium
Hematologi
No
.
1
2
3
4

Parameter

Hasil

Satuan

Nilai Rujukan

Hemoglobin
Leukosit
Trombosit
Hematokrit

11,9
7,200
236.000
33,9

g/dl
/L
/ L
%

12,0 16,0
3,80 10,60
150 440
35,0 47,0

Urinalisis kimiawi
1
A

Keton

Negatif

Negatif

Hiperemesis Gravidarum pada G1P0A0 Hamil 12-13 minggu


-

Observasi keadaan umum, tanda vital, tanda-tanda dehidrasi


Small frequent feeding
Terapi medikamentosa diganti oral :
Ranitidin 2x1 tab po
Asam folat 1x1 tab po
Sulfas ferosus 1x1 tab po
Vitamin B kompleks 1 x 1 tab po
Boleh pulang

15

BAB III
ANALISIS KASUS
Pasien pada kasus ini didiagnosis dengan Hiperemesis Gravidarum didasarkan atas dari hasil
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
1) Dari anamnesis :
o Wanita, 27 tahun, G1P0A0, mengaku hamil 3 bulan
o Mual dan muntah selama 3 hari SMRS yang dirasakan semakin memberat.
Dialami sejak awal kehamilan, namun makin lama makin parah. Muntah lebih
dari 8x/hari. Muntah berisi makanan dan minuman yang dimakan.
o Tidak nafsu makan, lemas, mengganggu aktivitas sehari-hari
o Penurunan berat badan
Pada pasien dalam kasus ini, terdapat gejala-gejala Hiperemesis Gravidarum yang sesuai
dengan kepustakaan, dimana terjadi mual dan muntah yang terjadi pada trimester pertama
kehamilan, yang dirasakan semakin hari semakin bertambah parah, sehingga mengakibatkan
gangguan asupan nutrisi secara oral, gangguan gizi, hambatan aktivitas sehari-hari dan
terdapat tanda-tanda dehidrasi.3
2) Dari pemeriksaan fisik :
o KU/Kesadaran : lemah, pucat / CM
o Tanda vital : TD 110/70 mmHg, N 88x/menit, RR 18x/menit, S 36,7oC
o Mata : tampak cekung (+/+)
o Abdomen : nyeri tekan epigastrium (+), turgor kulit 2 detik, CRT 2 detik
o Status obstetrik
Inspeksi
: datar
Palpasi
: supel, TFU teraba 3 jari diatas simfisis
Auskultasi
: DJJ sulit dinilai dengan Laenec/doppler
Pemeriksaan Dalam
I : v/u tenang, tidak tampak keluar cairan dari vagina, perdarahan aktif (-)
Io : portio livide, licin, ostium uteri tertutup
VT : tidak dilakukan

16

Status generalis menunjukkan tanda-tanda dehidrasi yaitu mata tampak cekung, dan
turgor kulit lambat.3 Muntah yang terjadi pada wanita hamil disebabkan oleh karena banyak
faktor yang mempengaruhi, yaitu peningkatan kadar human chorionic gonadotropin (hCG)
akan menginduksi ovarium untuk memproduksi estrogen, yang dapat merangsang mual dan
muntah.2 Tingginya kadar hormon progesteron pada kehamilan juga menyebabkan kejadian
muntah, dimana kada progesteron berakibat pada melemahnya kontraksi otot polos saluran
pencernaan, sehingga pergerakan motilitas pencernaan berkurang dan terjadi refleks muntah
setiap kali makan.2,4 Muntah yang berlebihan menyebabkan iritasi pada mukosa lambung
ditambah dengan motilitas usus yang berkurang pada wanita hamil sehingga pemaparan
mukosa lambung terhadap asam lambung lebih lama, sehingga didapatkan nyeri epigastrium. 2
Pada status obstetrik, didapatkan perut mendatar, dengan palpasi teraba fundus uteri setinggi
3 jari diatas simfisis, yang menandakan usia kehamilan adalah 12 minggu berdasarkan
perkiraan tinggi fundus uteri, dan DJJ yang sulit dinilai, menyokong pernyataan pasien yang
menyatakan hamil muda. Hal ini penting untuk diketahui karena untuk dapat menegakkan
diagnosis Hiperemesis Gravidarum, pertama kali kita harus yakin bahwa pasien dalam
keadaan hamil.
3) Dari pemeriksaan penunjang
o Lab : Tes kehamilan (+)
Keton urin (+++) positif Pada kasus hiperemesis gravidarum yang
cukup berat, dimana pasien tidak dapat makan atau minum sama
sekali, mengakibatkan cadangan karbohidrat dalam tubuh akan habis
terpakai untuk pemenuhan kebutuhan energi jaringan. Sehingga
sebagai akibatnya lemak akan dioksidasi. Namun, lemak tidak dapat
dioksidasi dengan sempurna, sehingga terjadi penumpukan asam
aseton-asetik, asam hidroksibutirik, dan aseton, dan menyebabkan
ketosis.4
o USG tanggal 9 Maret 2015 :
CRL : 582 mm
Usia Kehamilan : 12-13 minggu
Kesan : Tampak janin tunggal hidup intrauterin, 12-13 minggu
4) Penatalaksanaan
Tujuan terapi yang pertama pada pasien dengan hiperemesi gravidarum adalah
untuk memperbaiki keadaan umum pasien dan mengatasi dehidrasi,2 dimana pada
17

pasien ini, awalnya dberikan terapi parenteral sehingga keluhan mual, muntahnya
berkurang. Cairan yang diberikan untuk rehidrasi ialah infuse RL : Dextrose 5% =
1:1/8 jam. Diberikan cairan dextrose diberikan karena diharapkan tubuh akan
mempergunakan karbohidrat sebagai sumber energi. Neurobion merupakan suplemen
vitamin yang mengandung vitamin B kompleks, yaitu vitamin B 1, B6, dan B12. Tujuan
pemberian vitamin B ini adalah untuk mencegah komplikasi berupa neuropati perife
pada pasien hiperemesis gravidarum, mencegah terjadinya Ensefalopati Wernicke
akibat defisiensi thiamin (vitamin B1).2
Ondansentron diberikan untuk mengurangi mual yang dialami pasien, dimana
ondansentron merupakan antagonis 5-HT3 yang bekerja pada sistem saraf SSP dan
perifer. Target utama zat ini adalah SSP, tetapi zat ini juga meningkatkan pengosongan
lambung. Selain itu, juga diberikan Ranitidin untuk mengurangi produksi asam
lambung. Pasien juga diberikan terapi asam folat

1x1 tab, dimana asam folat

merupakan suplemen bagi ibu hamil karena merupakan vitamin yang membantu
dalam pembentukan tulang belakang janin.
Pasien dianjurkan untuk mengatur diet makannya dengan prinsip small
frequent feeding, yaitu mengonsumsi makanan dan minuman sedikit namun sering,
bertujuan untuk membantu mengurangi gejala mual dan muntah. 2 Menghindari
makanan yang bersifat merangsang, seperti makanan pedas dan berlemak.2
Penilaian keberhasilan terapi pasien dengan hiperemesis gravidarum dilakukan
secara klinis dan laboratoris. Secara klinis, keberhasilan terapi dapat dinilai dari
penurunan frekuensi mual dan muntah, frekuensi dan intensitas mual, serta perbaikan
tanda-tanda vital dan dehidrasi. Sedangkan parameter pemeriksaan laboratorium yang
dilakukan dapat dilakukan pemeriksaan perbaikan dari gambaran ketonuria, ataupun
perbaikan apabila terdapat gangguan asam-basa dan elektrolit.1
Pada pasien dalam kasus ini, hari pertama dan kedua perawatan, terapi yang
diberikan masih dilanjutkan secara parenteral oleh karena pasien masih mengeluh
adanya mual dan muntah, meski frekuensi muntah telah berkurang. Pada hari ketiga
perawatan, pasien sudah tidak mengeluh mual, maupun muntah. Dari pemeriksaan
klinis pun sudah tidak didapatkan tanda-tanda dehidrasi, serta dari pemeriksaan
laboratorium didapatkan hasil pemeriksaan keton urin telah negatif, menandakan telah
terjadi perbaikan kondisi pada pasien, sehingga pengobatan diganti secara per oral,
dan pasien dapat dipulangkan.

18

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
1. DEFINISI
Hiperemesis gravidarum (HG) adalah mual dan muntah hebat dalam masa kehamilan
yang dapat menyebabkan kekurangan cairan, penurunan berat badan, atau gangguan
elektrolit sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan membahayakan janin di dalam
kandungan.3 Pada umumnya, HG terjadi pada minggu ke 6 - 12 masa kehamilan, yang
dapat berlanjut sampai minggu ke 16 20 masa kehamilan.3,5
Keluhan mual dan muntah kadang-kadang begitu hebat dimana segala apapun yang
dimakan atau diminum dimuntahkan kembali sehingga dapat mempengaruhi keadaan
umum dan mengganggu aktivitas sehari-hari, terjadi penurunan berat badan, dehidrasi dan
asetonuria.3
2. EPIDEMIOLOGI
Mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering kita jumpai pada kehamilan
muda dan dikemukakan oleh 50 70 % wanita hamil dalam 16 minggu pertama, kurang lebih
66% wanita hamil trimester pertama mengalami mual dan muntah dan 44% mengalami
muntah muntah.
Bila wanita hamil memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum hingga berat
badannya sangat turun, turgor kulit berkurang, diuresis berkurang dan timbul asetonuria,
keadaan ini disebut dengan hiperemesis gravidarum dan memerlukan perawatan di rumah
sakit. Perbandingan insidensi hiperemesis gravidarum 4 : 1000 kehamilan. Sindrom ini
ditandai dengan adanya muntah yang sering, penurunan berat badan, dehidrasi,asidosis
karena kelaparan, alkalosis yang disebabkan menurunnya asam lambung (HCL ) dan
hipokalemia 1,4

19

3. FAKTOR RESIKO
Faktor risiko untuk hiperemesis gravidarum adalah:
-

Kehamilan sebelumnya dengan hiperemesis gravidarum

Primigravida, mola hidatidosa, dan kehamilan ganda

Faktor organik : yaitu masuknya vili korialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan
metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap
perubahan ini

Alergi : sebagai respon jaringan ibu terhadap anak

Faktor psikologis, memegang peranan yang penting terhadap penyakit ini. Hubungan
psikologis dengan hiperemesis gravidarum belum dikenal pasti. Tidak jarang dengan
memberikan suasana baru, sudah dapat membantu mengurangi frekuensi muntah.
Merokok berhubungan dengan risiko yang lebih rendah untuk hiperemesis
gravidarum 1,2,4

20

4. ETIOLOGI
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. 3,4,5 Mual dan muntah
tampaknya berkaitan dengan kombinasi hormon esterogen dan progesteron serta peranan
dari hormon human gonadotropin korionik.2,3,7 Keadaan ini biasanya terjadi pada trimester
pertama, kehamilan pertama, riwayat keluarga hiperemesis gravidarum, mola hidatidosa
dan kehamilan multipel, dan kehamilan yang tidak direncanakan.6,7
a) Hormon
Hiperemesis berhubungan dengan peningkatan kadar serum hormon kehamilan.
Meskipun stimulus pasti tidak diketahui, hCG (human chorionic gonadotropin),
estrogen, progesteron, leptin, hormon pertumbuhan plasenta, prolaktin, tiroksin, dan
hormon adrenokortikal.2,6
a.

HCG
HCG adalah faktor endokrin paling penting untuk terjadinya hiperemesis
gravidarum. Dikatakan bahwa peningkatan kadar human chorionic gonadotropin
(hCG) akan menginduksi ovarium untuk memproduksi estrogen, yang dapat
merangsang mual dan muntah.2 Kesimpulan ini berdasarkan hubungan antara
peningkatan produksi HCG (seperti dalam kehamilan mola atau multipel) dan
fakta insiden hiperemesis paling tinggi ketika produksi HCG mencapai puncaknya

b.

selama kehamilan (sekitar 9 minggu).8


Progesteron
Pada sebuah studi pada 44 perempuan hamil (22 perempuan hiperemesis, dan 22
perempuan hamil sehat) menunjukkan bahwa perempuan hiperemesis mempunyai
kadar progesteron lebih tinggi dibandingkan perempuan tanpa hiperemesis.
Tingginya kadar hormon progesteron pada kehamilan menyebabkan kejadian
muntah, dimana kada progesteron berakibat pada melemahnya kontraksi otot
polos saluran pencernaan, sehingga pergerakan motilitas pencernaan berkurang

c.

dan terjadi refleks muntah setiap kali makan.2,4,8


Estrogen
Peningkatan kadar estrogen dan estradiol diketahui menyebabkan mual dan
muntah selama kehamilan. Adanya fetus perempuan berhubungan dengan mual

d.

dan muntah, menjelaskan terjadinya peningkatan konsentrasi estrogen in utero.8


Hipertiroidisme
Fungsi tiroid secara fisiologis berubah selama kehamilan, termasuk stimulasi oleh
HCG. Hipertiroidisme dengan fT3 dan fT4, tetapi kadar TSH menurun, mungkin
berimplikasi pada hiperemesis gravidarum.2,8 THHG (transient hyperthyroidism of
hyperemesis gravidarum) adalah penemuan berdasarkan skrining pada perempuan
21

dengan peningkatan kadar HCG dan fT4. THHG mungkin bertahan hingga
minggu 18 kehamilan, dan tidak membutuhkan pengobatan. Kondisi ini mungkin
sebagian disebabkan oleh kadar HCG yang tinggi dan sering dijumpai pada pasien
dengan hiperemesis gravidarum karena HCG dan TSH mempunya struktur protein
yang mirip, sehingga HCG mampu bertindak seperti TRH dan terjadi
hiperstimulasi tiroid.
THHG didiagnosis berdasarkan:
- Serologi patologis selama hiperemesis;
- Tidak ada riwayat hipertiroid sebelum kehamilan;
- Tidak adanya antibodi tiroid.9
b) Psikogenik
Tidak ada keraguan bahwa tidak semua kasus berat, dan terdapat hubungan
psikologis.5 Hubungan psikologik dengan hiperemesis gravidarum belum diketahui
pasti.5
c) Alergi atau imunologi (masuknya villi chorealis ke sirkulasi maternal)
Laporan terbaru juga menunjukkan hubungan antara keparahan hiperemesis
dengan konsentrasi sel-sel bebas DNA fetus. DNA fetus berasal dari destruksi
trofoblas villi yang membatas rongga intervilli diisi dengan darah maternal. DNA
fetus dihancurkan oleh sistem imun maternal yang hiperaktif. Aktivasi fungsional dari
natural killer dan sel T-sitotoksik ditemukan lebih jelas pada perempuan hiperemesis
daripada tanpa hiperemesis. Secara klinis, keparahan hiperemesis berhubungan
dengan peningkatan DNA fetus. Jika sistem imun maternal telah mentoleransi fetus,
miometrium diinvasi oleh pertumbuhan trofoblas, tetapi adanya interaksi imun antara
ibu dan fetus, invasi trofoblas ke miometrium akan menyebabkan peningkatakan
konsentrasi DNA fetus dalam plasma maternal. Hiperaktivasi sistem imun maternal
akan menyebabkan hiperemesis. Lebih lanjut, kadar TNF-alfa ditemukan lebih tinggi
pada pasien dengan hiperemesis, dan dapat menjadi etiologi. Kadar IL-6 juga
ditemukan memperkuat sekresi -hCG dari sel trofoblas.1
d) Penurunan motilitas gaster4
Selama kehamilan, saluran cerna terdesak karena memberikan ruang untuk
perkembangan janin. Hal ini dapat berakibat refluks asam (keluarnya asam dari
lambung ke tenggorokan) dan lambung bekerja lebih lambat menyerap makanan
sehingga menyebabkan mual dan muntah.3,5

22

e) Helicobacter pylori
Hubungan infeksi H. pylori telah diajukan, tetapi bukti belum ada. Goldberd, dkk
menunjukkan studi 14 kasus kontrol. Meskipun analisis diindikasikan, hubungan
antara H. pylori dan hiperemesis, heterogenisitas antara beberapa kelompok studi
ekstensif. Pada waktu ini, kami tidak mendiagnosis dan merawat infeksi gaster pada
perempuan dengan hiperemesis. Selain itu, H. pylori juga berhubungan dengan
peningkatan risiko terjadinya preeklampsia. Pada studi oleh Dodds dkk, insiden
hipertensi dalam kehamilan tidak berbeda antara kelompok kasus dan kontrol. H.
pylori juga berhubungan dengan defisiensi besi pada kehamilan. 4,6,7,8 Penelitian
melaporkan bahwa 90% kasus kehamilan dengan HG juga terinfeksi dengan bakteri
ini, yang dapat menyebabkan luka pada lambung.9,10

Perubahan Metabolisme, Biokimia, dan Sirkulasi


Tidak adekuatnya asupan makanan menyebabkan kekurangan glikogen. Suplai
energi, simpanan lemak dipecah. Karena karbohidrat yang rendah, terdapat oksidasi tidak
lengkap dari lemak dan akumulasi badan keton dalam darah. Aseton biasanya
diekskresikan melalui ginjal dan pernapasan. Selain itu, terjadi pula peningkatan
metabolisme protein dari jaringan endogen sehingga terjadi ekskresi berlebihan dari
nitrogen nonprotein dalam urine.
Hilangnya air dan garam melalui muntah menyebabkan penurunan natrium,
kalium, dan klorida plasma. Klorida urine mungkin dibawah normal 5 mg/liter atau
mungkin tidak ada. Disfungsi hepar menyebakan asidosis dan ketosis sehingga terjadi
peningkatan urea darah dan asam urat, hipoglikemia, hipoproteinemia, hipovitaminosis,
dan hiperbilirubinemia.
Dalam sistem sirkulasi, dapat terjadi hemokonsentrasi sehingga terjadi
peningkatan persentase hemoglobin, jumlah sel darah merah dan nilai hematokrit. Selain
itu, terdapat jumlah sel darah putih dengan peningkatan eosinofil. Selain itu, terjadi
pengurangan cairan ekstraseluler.7
5. PATOFISIOLOGI
Ada yang menyatakan bahwa perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya
kadar estrogen, oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama. Pengaruh
fisiologik hormon estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau
23

akibat berkurangnya pengosongan lambung. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita


hamil, meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan. (2).
Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda,
bila terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit
dengan alkalosis hipokloremik. Belum jelas mengapa gejala-gejala ini hanya terjadi pada
sebagian kecil wanita, tetapi faktor psikologik merupakan faktor utama, di samping
pengaruh hormonal.
Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak
habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna,
terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik, asam hidroksibutirik dan
aseton dalam darah2. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena
muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang.
Natrium dan khlorida darah turun, demikian pula khlorida air kemih. Selain itu dehidrasi
menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Hal ini
menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan mengurang pula dan
tertimbunnya zat metabolik yang toksik. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah
dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, menambah frekuensi muntah-muntah yang lebih
banyak, dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan. Di
samping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan pada
selaput lendir esofagus dan lambung (Sindrom Mallory-Weiss), dengan akibat perdarahan
gastrointestinal. Pada umumnya robekan ini ringan dan perdarahan dapat berhenti
sendiri.2

6. MANIFESTASI KLINIS
Hiperemesis gravidarum bermanifestasi antara minggu 4 dan 10 dan menghilang pada
minggu 20 kehamilan.5 Puncaknya terjadi pada antara minggu 8 dan minggu 12. Hanya
pada kasus yang sangat jarang, berlanjut hingga trimester kedua.6
Batas jelas antara mual dalam kehamilan yang masih fisiologik dengan hiperemesis
gravidarum tidak ada. Namun secara garis besar, dapat dibedakan antara emesis
kehamilan dengan hiperemesis dalam kehamilan berdasarkan keterangan berikut.
24

Emesis gravidarum
Mual dan muntah dikeluhan

Hiperemis gravidarum
Mual dan muntah mengganggu aktivitas

melewati 20 minggu pertama

sehari- hari

kehamilan
Tidak mengganggu aktivitas sehari-hari

Mual dan muntah menimbulkan komplikasi


(ketonuria,

dehidrasi,

hipokalemia

penurunan berat badan)


Tidak menimbulkan komplikasi patologis

Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi ke dalam 3


tingkatan: 3
Tingkat I. Ringan

Mual muntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu


merasa lemah, intoleransi terhadap makanan dan minuman, berat badan menurun dan
nyeri epigastrium. Frekuensi nadi meningkat sekitar 100 kali per menit, tekanan darah
sistolik menurun, turgor kulit berkurang, lidah kering, mata cekung, urin sedikit tetapi
masih normal.3

Tingkat II. Sedang

Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih mengurang lidah
mengering dan tampak kotor, nadi 100-140x permenit, suhu kadang-kadang naik dan
mata sedikit ikterik. Berat badan turun dan mata cekung, tensi turun,
hemokonsentrasi, oliguria dan konstipasi. Dapat pula tercium aseton dalam hawa
pernapasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam
kencing.3

Tingkat III. Berat

Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dari somnolen
sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat dan tensi menurun. 3 Komplikasi
fatal terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wernicke, dengan
gejala nistagmus, diplopia dan perubahan mental. Dapat terjadi ikterus, sianosis,
ganggguan jantung, bilirubin, dan proteinura dalam urin.3

2. DIAGNOSIS
25

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang khas dan jika perlu dilakukan
pemeriksaan laboratorium.2,3 Harus ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah yang
terus-menerus, sehingga mempengaruhi keadaan. Namun demikian harus dipikirkan
kehamilan muda dengan penyakit gastritis, kolesistitis, pankreatitis, hepatitis, ulkus
peptikum, pielonefritis, ulkus ventrikuli dan tumor serebri yang dapat pula memberikan
gejala muntah.2,3
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan pasien lemah, apatis sampai koma, nadi
meningkat sampai 100 kali per menit, suhu meningkat, tekanan darah turun, atau ada
tanda dehidrasi lain. Pada pemeriksaan elektrolit darah ditemukan kadar natrium dan
klorida turun. Pada pemeriksaan urin kadar klorida turun dan dapat ditemukan keton.2,3
Kriteria Diagnosis:3
a.

Amenore yang disertai muntah hebat sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu


b. Anamnesis: Tenggorokan terasa kering dan terus-menerus merasa
haus, kulit menjadi keriput (dehidrasi), berat badan mengalami
penyusutan
c.Fungsi vital : nadi meningkat 100x permenit, tekanan darah
menurun pada keadaan berat, subfebril dan gangguan kesadaran
(apatis-koma).
d. Fisik

: dehidrasi, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan

munurun, pada vaginal toucher uterus besar sesuai besarnya


kehamilan, konsistensi lunak, pada pemeriksaan inspekulo serviks
berwarna biru (livide)
e. Pemeriksaan

USG:

untuk

mengetahui

kondisi

kehamilan,

kemungkinan adanya kehamilan kembar ataupun kehamilan mola


hidatidosa.
f. Laboratorium : penurunan relatif hemoglobin dan hematokrit, shift
to the left, benda keton dan proteinuria.

3. DIAGNOSIS BANDING 1,9


Apendisitis akut
Obstruksi usus
Keracunan makanan
Hepatitis
26

Hernia hiatus
Hipertiroidisme
Kehamilan mola
Pankreatitis
Penyakit ulkus peptida
Pielonefritis
Kolik renal

4. PENCEGAHAN
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan
memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu
proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah
merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah
kehamilan 4 bulan, menganjurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam
jumlah kecil, tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur,
tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat. Makanan yang
berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan.2,3
5. TATA LAKSANA
Tujuan terapi hiperemesis gravidarum adalah untuk mengendalikan muntah,
mengoreksi cairan, elektrolit, dan gangguan metabolit lain, serta untuk mencegah atau
mendeteksi secara lebih awal komplikasi yang mungkin terjadi.2
Untuk keluhan hyperemesis yang berat pasien dianjurkan untuk dirawat di rumah
sakit dan membatasi pengunjung.3 Cairan yang dapat diberikan melalui infus selama 24
jam adalah glukosa 10% atau 5% : RL = 2 : 1, 40 tetes per menit (3 liter).3 Pasien
sebaiknya mengubah gaya hidup dan diet. Pasien dianjurkan untuk mengatur diet
makannya dengan prinsip small frequent feeding, yaitu mengonsumsi makanan dan
minuman sedikit namun sering, bertujuan untuk membantu mengurangi gejala mual dan
muntah.2 Menghindari makanan yang bersifat merangsang, seperti makanan pedas dan
berlemak.2 Thiamin dengan dosis 100 mg, diberikan untuk mencegah neuropati perifer dan
ensefalopati Wernicke yang merupakan komplikasi lanjut akibat muntah yang berlebihan.
Jika muntah berkelanjutan setelah rehidrasi dan kegagalan terapi, perawatan
direkomendasikan.4 American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG)
merekomendasikan 10 mg piridoksin ditambah 12,5 mg doxylamine per oral setiap 8 jam
sebagai farmakoterapi lini pertama yang aman dan efektif. Dalam sebuah randomized trial,
kombinasi piridoksin dan doxylamine terbukti menurunkan 70% mual dan muntah dalam
27

kehamilan. Suplementasi dengan tiamin dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya


komplikasi berat hiperemesis, yaitu Wernickes encephalopathy. Komplikasi ini jarang
terjadi, tetapi perlu diwaspadai jika terdapat muntah berat yang disertai dengan gejala
okular, seperti perdarahan retina atau hambatan gerakan ekstraokular.
Antiemetik konvensional, seperti fenotiazin dan benzamin, telah terbukti efektif dan
aman

bagi

ibu.

Antiemetik

seperti

proklorperazin,

prometazin,

klorpromazin

menyembuhkan mual dan muntah dengan cara menghambat postsynaptic mesolimbic


dopamine receptors melalui efek antikolinergik dan penekanan reticular activating system.
Obat-obatan tersebut dikontraindikasikan terhadap pasien dengan hipersensitivitas
terhadap golongan fenotiazin, penyakit kardiovaskuler berat, penurunan kesadaran berat,
depresi sistem saraf pusat, kejang yang tidak terkendali, dan glaukoma sudut tertutup.
Namun, hanya didapatkan sedikit informasi mengenai efek terapi antiemetik terhadap
janin.
Fenotiazin atau metoklopramid diberikan jika pengobatan dengan antihistamin
gagal. Prochlorperazine juga tersedia dalam sediaan tablet bukal dengan efek samping
sedasi yang lebih kecil. Dalam sebuah randomized trial, metoklopramid dan prometazin
intravena memiliki efektivitas yang sama untuk mengatasi hiperemesis, tetapi
metoklopramid memiliki efek samping mengantuk dan pusing yang lebih ringan.Studi
kohort telah menunjukkan bahwa penggunaan metoklopramid tidak berhubungan dengan
malformasi kongenital, berat badan lahir rendah, persalinan preterm, atau kematian
perinatal. Namun, metoklopramid memiliki efek samping tardive dyskinesia, tergantung
durasi pengobatan dan total dosis kumulatifnya. Oleh karena itu, penggunaan selama lebih
dari 12 minggu harus dihindari.
Antagonis reseptor 5-hydroxytryptamine3 (5HT3) seperti ondansetron mulai sering
digunakan, tetapi informasi mengenai penggunaannya dalam kehamilan masih terbatas.
Seperti metoklopramid, ondansetron memiliki efektivitas yang sama dengan prometazin,
tetapi efek samping sedasi ondansetron lebih kecil. Ondansetron tidak meningkatkan risiko
malformasi mayor pada penggunaannya dalam trimester pertama kehamilan.
Droperidol efektif untuk mual dan muntah dalam kehamilan, tetapi sekarang jarang
digunakan karena risiko pemanjangan interval QT dan torsades de pointes. Pemeriksaan
elektrokardiografi sebelum, selama dan tiga jam setelah pemberian droperidol perlu
dilakukan.
28

Untuk kasus-kasus refrakter, metilprednisolon dapat menjadi obat pilihan.


Metilprednisolon lebih efektif dari pada promethazine untuk penatalaksanaan mual dan
muntah dalam kehamilan, namun tidak didapatkan perbedaan dalam tingkat perawatan
rumah sakit pada pasien yang mendapat metilprednisolon dengan plasebo. Hanya sedikit
bukti yang menyatakan kortikosteroid efektif. Dalam dua RCT kecil, tidak didapatkan
kegunaan metilprednisolon ataupun plasebo, tetapi kelompok steroid lebih sedikit
mengalami readmission. Efek samping metilprednisolon sebagai sebuah glukokortikoid
juga patut diperhatikan. Dalam sebuah metaanalisis dari empat studi, penggunaan
glukokortikoid sebelum usia gestasi 10 minggu berhubungan dengan risiko bibir sumbing
dan tergantung dosis yang diberikan. Oleh karena itu, penggunaan glukokortikoid
direkomen-dasikan hanya pada usia gestasi lebih dari 10 minggu.
Obat-obat yang dapat digunakan untuk tatalaksana hiperemesis gravidarum dapat
dilihat pada tabel 2.

29

6. PROGNOSIS
Dengan penanganan yang baik prognosis hiperemesis gravidarum sangat memuaskan.
Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian pada tingkatan yang berat,
penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin. 5 Literatur lain menyebutkan, prognosis
hiperemesi gravidarum umumnya baik, namun dapat menjadi fatal bila terjadi deplesi
elektrolit dan ketoasidosis yang tidak dikoreksi dengan tepat dan cepat. 5 Yang menjadi
pegangan kita untuk mengetahui ada atau tidaknya perbaikan kondisi pasien adalah aseton
dan acidum diaceticum dalam urin dan berat badan pasien.5

7. KOMPLIKASI
Muntah yang terus-menerus disertai dengan kurang minum yang berkepanjangan
dapat menyebabkan dehidrasi. Jika terus berlanjut, pasien dapat mengalami syok. Dehidrasi
yang berkepanjangan juga menghambat tumbuh kembang janin. Oleh karena itu, pada
pemeriksaan fisik harus dicari apakah terdapat abnormalitas tanda-tanda vital, seperti
peningkatan frekuensi nadi (>100 kali per menit), penurunan tekanan darah, kondisi
subfebris, dan penurunan kesadaran. Selanjutnya dalam pemeriksaan fisis lengkap dapat
dicari tanda-tanda dehidrasi, kulit tampak pucat dan sianosis, serta penurunan berat badan.
Selain dehidrasi, akibat lain muntah yang persisten adalah gangguan keseimbangan
elektrolit seperti penurunan kadar natrium, klor dan kalium, sehingga terjadi keadaan
alkalosis metabolik hipokloremik disertai hiponatremia dan hipokalemia. Hiperemesis
gravidarum yang berat juga dapat membuat pasien tidak dapat makan atau minum sama
sekali, sehingga cadangan karbohidrat dalam tubuh ibu akan habis terpakai untuk pemenuhan
kebutuhan energi jaringan. Akibatnya, lemak akan dioksidasi. Namun, lemak tidak dapat
dioksidasi dengan sempurna dan terjadi penumpukan asam aseton-asetik, asam hidroksi
butirik, dan aseton, sehingga menyebabkan ketosis. Salah satu gejalanya adalah bau aseton
(buah-buahan) pada napas. Pada pemeriksaan laboratorium pasien dengan hiperemesis
gravidarum dapat diperoleh peningkatan relatif hemoglobin dan hematokrit, hiponatremia dan
hipokalemia, badan keton dalam darah dan proteinuria.
Robekan pada selaput jaringan esofagus dan lambung (sindrom Mallory Weiss) dapat
terjadi bila muntah terlalu sering. Pada umumnya robekan yang terjadi kecil dan ringan, dan

30

perdarahan yang muncul dapat berhenti sendiri. Tindakan operatif atau transfusi darah
biasanya tidak diperlukan.
Perempuan hamil dengan hiperemesis gravidarum dan kenaikan berat badan dalam
kehamilan yang kurang (<7 kg) memiliki risiko yang lebih tinggi untuk melahirkan bayi
dengan berat badan lahir rendah, kecil untuk masa kehamilan, prematur, dan nilai APGAR
lima menit kurang dari tujuh.

31

DAFTAR PUSTAKA
1

Jueckstock JK, Kaestner R, Mylonas I. Managing hyperemesis gravidarum: a multimodal


challenge. Germany: BMC Medicine; 2010; 8:46.

Niebyl JR. Nausea and vomiting in pregnancy. Englan: N Engl J Med; 2010;363; p.154450.

Saifuddin A, Ravhimhadhi T, Wiknjosastro G. Kelainan gastrointestinal. Hiperemesis


gravidarum. Dalam: Ilmu Kebidanan Sarwono Prawiroharjo. Edisi keempat. Cetakan
kedua. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2009. hal 814-818

Miller AWF, Hanretty KP. Vomiting in pregnancy. Dalam: Miller AWF, Hanretty KP, eds.
Obstetrics Illustrated. 5th ed. London: Churchill Livingstone; 1998; p.102-3.

Bagian obstetri & ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung.


Obstetri patologi. Edisi 1984. Bandung: Penerbit & Percetakan Elstar Offset; 1984; p.849.

Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams obstetrics. 23rd Edition. New
York: McGraw Hill; 2010.

Sulaiman.S, Djamhoer M, Firman F. Gestosis. Dalam: Johanes. C. Obstetriks Patologi


Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Edisi kedua. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2004; p. 64 7.

Quinlan JD, Hill DA. Nausea and vomiting of pregnancy. Am Fam Physician (serial
online)

2003

(dikutip

2010

Nov

6);

68(1):

121-8.

Diunduh

dar::

http://www.aafp.org/afp/2003/0701/p121.html.
9

Evans AT. Manual of obstetrics. 7th Edition. Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins; 2007.

32