Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ISOSLASI SOSIAL


DI Prof.Dr. SOEROJO, MAGELANG
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Praktek Klinik Stase Jiwa
Dosen Pengampu: Christin Wiyani, S.Kep., Ns., MSN

Disusun Oleh :
Nama

: Zaien Ukhrawi

NIM

: 14160110

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
2015

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL

DisusunOleh :
Nama

: Zaien Ukhrawi

NIM

: 14160110

Mengetahui :

Pembimbing Klinik

PembimbingAkademik

Mahasiswa

ISOLASI SOSIAL
A. PENGERTIAN
Isolasi sosial merupakan upaya menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari
hubungan dengan orang lain. (Kusumawati dan Hartono, 2010)
Isolasi sosial adalah keadaan ketika seseorang individu menglami penurunan atau bahkan
sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang laindisekitarnya (Keliat, dkk, 2010).
Isolasi social adalah suatu pengalaman menyendiri dari seseorang dan perasaan segan
terhadap orang lain sebagai suatu yang negative atau keadaan yang mengancam (Nanda
2008).
Isolasi sosial adalah penilaian yang salah tentang pencapaian diri dengan menganalisa
seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri pencapaian ideal diri /cita-cita /harapan
langsung menghasilkan perasaan berharga. (Hidayat, 2006).
Jadi isolasi sosial adalah keadaan dimana seorang individu tidak mampu berinterkasi
dengan orang lain disekitarnya.
B. TANDA DAN GEJALA
1. Data Subyektif
a. Mengatakan perasaan ditolak atau sepi
b. Mengungkapkan perasaan tidak dimengerti orang lain
2. Data Obyektif
a. Menyendiri dalam ruangan
b. Tidak berkomunikasi, menarik diri
c. Tidak melakukan kontak mata
d. Sedih dan afek datar
e. Asyik dengan pikiran dan dirinya sendiri
f. Kontak mata kurang/tidak mau menatap lawan bicara
g. Klien cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka melamun dan berdiam
diri.
C. PENYEBAB
Menurut Kusumawati dan Hartono (2010) penyeban isoalasi sosial anatar lain:
1. Faktor Predisposisi
a. Biologis
Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya gangguan
dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan
hubungan sosial adalah otak, misalnya pada klien skizofrenia yang mengalami
masalah dalam hubungan sosial memiliki struktur yang abnormal pada otak seperti

atropi otak, serta perubahan ukuran dan bentuk sel-sel dalam limbic dan daerah
kortikal
b. Sosial budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan suatu faktor
pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Hal ini disebabkan oleh
norma-norma yang salah dianut oleh keluarga, dimana setiap anggota keluarga yang
tidak produktif seperti usia lanjut, berpenyakit kronis dan penyandang cacat
diasingkan dari lingkungan sosialnya.
2. Faktor Presipitasi
Terjadinya gangguan hubungan sosial juga dapat ditimbulkan oleh faktor internal dan
eksternal seseorang. Faktor stressor presipitasi dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. Faktor eksternal
Contohnya adalah stressor sosial budaya, yait stress yang ditimbulkan oleh
faktorsosial budaya seperti keluarga.
b. Faktor internal
Contohnya adalah stressor psikologis yaitu stress terjadi akibat ansietas yang
berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan individu
untuk mengatasinya. Ansietas ini dapat terjadi akibat tuntutan untuk berpisah dengan
orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan individu.

D. AKIBAT
Perilaku isolasi sosial klien memungkinkan klien menjadi autism dan motisme yang
disertai dengan disorientasi, konsentrasi yang rendah sehingga berakibat pada adanya
gangguan persepsisensori halusinasi. Adanya perilaku isolasi sosial ini juga menunjukkan
adanya penurunan motivasi klien dalam berhubungan sosial atu kehilangan keinginan. Hal
iniakibat penurunan kadar neurotransmitter serotonin otak yang menyebabkan produktivitas
menurun sehingga menjadi malas beraktivitas. Klien dengan isolasisosial selain malas
berhubungan sosial juga kehilangan keinginan untuk melakukan perawatan diri sehingga
mengalami masalah deficit perawatan diri. Halini dapat berdampak pada penykit kulit dan
penurunan berat badan jika berlangsung lama. (Videbeck, 2008)
E. PSIKOPATOLOGI
Mekanisme koping yang sering dilakukan oleh pasien menarik diri adalah regresi.
Dimana regresi adalah Kemunduran akibat stress terhadap perilaku dan merupakan ciri khas

dari suatu taraf perkembangan yang lebih dini. Regresi merupakan respon yang umum bagi
individu bila berada dalam situasi frustrasi. Regresi dapat mempengaruhi keseluruhan atau
sebagian aspek kepribadian yang dapat menimbulkan macam-macam prilaku antara lain:
gangguan asosiasi, pembicaran, austistik, prilaku kekanak-kanakan atau gejala katatonik
lainnya.
Pasien mula-mula merasa rendah diri, tidak berharga lagi dan tidak berguna sehingga
tidak aman dalam membina hubungan dengan orang lain, pasien dengan prilaku menarik diri
biasanya berasal dari keluarga yang penuh permasalahan ketegangan dan kecemasan yang
tidak menjamin/ mengembangkan kehangatan emosional dalam hubungan yang positif
dengan orang lain
Pasien memerlukan usaha-usaha melindungi diri sehingga dia merasa pasif dan
berkepribadian kaku, pasien tak mau mencari penyebab dan berusaha menyesuaikan diri
dengan kenyataan, tetapi dia mengembangkan rasionalisasi dan menghamburkan realitas.
.
F. DIAGNOSIS KEPERAWATAN UTAMA
Diagnosa keperawatan utama adalah isolasi sosial.
G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan isolasi soasial adalah strategi pelaksanaan isolasi social.
H. FOKUS INTERVENSI
1. Tindakan mandiri
SP I
a. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial dengan pasien
b. Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
c. Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
d. Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang
e. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan
orang lain dalam kegiatan harian.
SP II
a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
b. Memberikan kesempatan kepada pasien mempraktekkan cara berkenalan dengan
orang lain
c. Membantu pasien memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain
sebagai salah satu kegiatan harian.
SP III

a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien.


b. Memberikan kesempatan kepadapasien mempraktekkan cara berkenalan dengan dua
orang atau lebih.
c. Menganjurkan pasien memasukkan dalamkegiatan harian.

2. Terapi Modalitas
a. Melibatkan dalam terapi kognitif, jika ada distorsi atau penyimpangan dalam berfikir
(misal ketidakpercayaan terhadap orang lain, berhubungn sosial tidak ada
manfaatnya, tidak mempunyai kemampuan untuk bicara dengan orang lain).
1) Identifikasi derajat isolasi dengan mendngarkan pandangan klien tentang
kesendirian.
2) Buat interaksi yang singkat tetapi mengkomunikasikan minat, kekhawatiran dan
perhatian.
3) Identifikasi sistem pendukung yang tersedia untuk klien ( klien lain,perawat,
keluarga, teman).
4) Identifikasi hubungan keluarga,pola komunikasi.
5) Catat perasaan makna diri klien dan keyakinan tentang identitas individu/peran
dalam pergaulan dan lingkungan
b. Melibatkan dalam terapi aktivitas kelompok (sosialisasi, stimulasi sensasi)
3. Terapi Kolaborasi
a. Memberikan obat-obatan sesuai program pengobatan pasien
b. Memantau keefektifan dan efek samping obat yang diminum (vital sign dan
pemeriksaan fisik lain
I. DAFTAR PUSTAKA
1. Hartono, Y. 2007. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : Salemba Medika.
2. Kelliat, dkk, 2010. Buku Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta : EGC.
3. Kusumawati dan Hartono. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : Salemba Medika
4. Stuart dan Sudden. 2005. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.
5. Videback. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
6. Yosep, I. 2007. Keperawatan Jiwa. Jakarta : Refika Aditama.

STRATEGI PELAKSANAAN: ISOLASI SOSIAL

1. Kondisi Klien
Klien dengan isolasi sosial menarik diri jarang bahkan tidak mampu melakukan interaksi
dengan orang lain. Klien sering menunjukan tanda dan gejala seperti kurang spontan, apatis,
akspresi wajah kurang berseri, afek datar, kontak mata kurang, komunikasi verbal menurun,
mengisolasi diri (menyendiri), posisi a(ceritakan kondisi klien , gambaraan pasienny seperti
apa).
2. Diagnosa keperawatan
Isolasi Sosial Menarik Diri
3. Tujuan
a. Mampu membina hubungan saling percaya dengan klien
b. Klien mampu menyebutkan penyebab isolasi sosial menarik diri
c. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak
berhubungan dengan orang lain.
d. Klien mampu berkenalan dengan orang lain.
4. Strategi pelaksanaan:
SP1 : Berdiskusi tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain dan
mengajarkan cara berkenanlan
Orientasi :
Orientasi (Perkenalan):
Selamat pagi
Saya Zaien Ukhrawi ,biasa dipanggil Zaien Saya mahasiswa keperawatan, saya yang akan
membantu merawat ibu dari sekarang sampai 2 minggu kedepan
Siapa nama Ibu? Senang dipanggil siapa?
Apa keluhan S... hari ini? Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang keluarga dan temanteman ibu S? Mau dimana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di ruang tamu? Mau berapa
lama S...? Bagaimana kalau 15 menit

Kerja:
(Jika pasien baru)
Siapa saja yang tinggal serumah? Siapa yang paling dekat dengan S? Siapa yang jarang
bercakap-cakap dengan S? Apa yang membuat S jarang bercakap-cakap dengannya?
(Jika pasien sudah lama dirawat)

Apa yang S rasakan selama S dirawat disini? Apakah S merasa sendirian? Siapa saja yang S
kenal di ruangan ini
Apa saja kegiatan yang biasa S lakukan dengan teman yang S kenal?
Apa yang menghambat S dalam berteman atau bercakap-cakap dengan pasien yang lain?
Menurut S apa saja keuntungannya kalau kita mempunyai teman ? Wah benar, ada teman
bercakap-cakap. Apa lagi ? (sampai pasien dapat menyebutkan beberapa) Nah kalau kerugiannya
tidak mampunyai teman apa ya S ? Ya, apa lagi ? (sampai pasien
dapat menyebutkan beberapa) Jadi banyak juga ruginya tidak punya teman ya. Kalau begitu
inginkah S belajar bergaul dengan orang lain ? Bagus. Bagaimana kalau sekarang kita belajar
berkenalan dengan orang lain
Begini lho S, untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan dulu nama kita dan nama
panggilan yang kita suka asal kita dan hobi. Contoh: Nama Saya S, senang dipanggil Si. Asal
saya dari Bireun, hobi memasak
Selanjutnya S menanyakan nama orang yang diajak berkenalan. Contohnya begini: Nama
Bapak siapa? Senang dipanggil apa? Asalnya dari mana/ Hobinya apa?
Ayo S dicoba! Misalnya saya belum kenal dengan S. Coba berkenalan dengan saya!
Ya bagus sekali! Coba sekali lagi. Bagus sekali
Setelah S berkenalan dengan orang tersebut S bisa melanjutkan percakapan tentang hal-hal yang
menyenangkan S bicarakan. Misalnya tentang cuaca, tentang hobi, tentang keluarga, pekerjaan
dan sebagainya.
Terminasi:
Bagaimana perasaan S setelah kita latihan berkenalan?
S tadi sudah mempraktekkan cara berkenalan dengan baik sekali
Selanjutnya S dapat mengingat-ingat apa yang kita pelajari tadi selama saya tidak ada. Sehingga
S lebih siap untuk berkenalan dengan orang lain. S mau praktekkan ke pasien lain. Mau jam
berapa mencobanya. Mari kita masukkan pada jadwal kegiatan hariannya.
Besok pagi jam 10 saya akan datang kesini untuk mengajak S berkenalan dengan teman saya,
perawat N. Bagaimana, S mau kan?
Baiklah, sampai jumpa.

SP2 : Mempraktekan cara berkenanlan dengan 1 orang


Orientasi :
Orientasi (Perkenalan):
Selamat pagi
Masih ingat dengan saya ? Saya Zaien mahasiswa keperawatan, saya yang akan membantu
merawat ibu dari sekarang sampai 2 minggu kedepan
Sesuai dengan kontrak kemarin hari ini kita akan bercakap-cakap tentang keluarga dan temanteman ibu S? Mau dimana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di ruang tamu? Mau berapa
lama S...? Bagaimana kalau 15 menit
Kerja:)
Baik S, coba ceritakan apa saja yang sudah S lakukan kemarin ? Bagus sekali..Hari ini saya
akan mengajarkan S cara berkenalanan dengan 1 orang. Pertama menyapa dengan sopan dan
santun lalu julurkan tangan S dan katakan boleh saya berkenalan? Lalu S memperkenalkan diri
bapak nama lengkap,nama panggilan,hobi,asal, dll. (perawat mencontohkan cara berkrnalan)
Sekarang giliran S mencoba berkenalan dengan saya (pasien melakukan perkenalan) baik sekali
S melakukanya dengan benar.
Nah agar S menambah teman nanti ada teman saya yang kesini dan S ajak dia kenalan nanti
saya akan Tanya nama teman saya ke S.
Terminasi:
Bagaimana perasaan S setelah kita latihan berkenalan dengan 1?
S tadi sudah mempraktekkan cara berkenalan dengan baik sekali
Selanjutnya S dapat mengingat-ingat apa yang kita pelajari tadi selama saya tidak ada. Sehingga
S lebih siap untuk berkenalan dengan orang lain. S mau praktekkan ke pasien lain. Mau jam
berapa mencobanya. Mari kita masukkan pada jadwal kegiatan hariannya.
Besok pagi jam 10 saya akan datang kesini untuk mengajak S berkenalan dengan teman saya,
perawat N. Bagaimana, S mau kan?
Baiklah, sampai jumpa.
SP3 : Mempraktekan cara berkenanlan dengan 2 orang atau lebih
Orientasi :

Orientasi (Perkenalan):
Selamat pagi
Masih ingat dengan saya ? Saya Zaien mahasiswa keperawatan, saya yang akan membantu
merawat ibu dari sekarang sampai 2 minggu kedepan
Sesuai dengan kontrak kemarin hari ini kita akan bercakap-cakap tentang keluarga dan temanteman ibu S? Mau dimana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di ruang tamu? Mau berapa
lama S...? Bagaimana kalau 15 menit
Kerja:
Baik S, coba ceritakan apa saja yang sudah S lakukan kemarin ? Bagus sekali..Hari ini saya
akan mengajarkan S cara berkenanran dengan 2 orang. Pertama menyapa dengan sopan dan
santun lalu julurkan tangan S dan katakan boleh saya berkenalan? Lalu S memperkenalkan diri
bapak nama lengkap,nama panggilan,hobi,asal, dll. (perawat mencontohkan cara berkrnalan)
Sekarang giliran S mencoba berkenalan dengan saya (pasien melakukan perkenalan) baik sekali
S melakukanya dengan benar.
Nah agar S menambah teman nanti ada 2 teman saya yang kesini dan S ajak dia kenalan nanti
saya akan Tanya nama teman saya ke S.
Terminasi:
Bagaimana perasaan S setelah kita latihan berkenalan dengan 2 orang ?
S tadi sudah mempraktekkan cara berkenalan dengan baik sekali
Selanjutnya S dapat mengingat-ingat apa yang kita pelajari tadi selama saya tidak ada. Sehingga
S lebih siap untuk berkenalan dengan orang lain. S mau praktekkan ke pasien lain. Mau jam
berapa mencobanya. Mari kita masukkan pada jadwal kegiatan hariannya.
Besok pagi jam 10 saya akan datang kesini untuk mengajak S berkenalan dengan teman saya,
perawat N. Bagaimana, S mau kan?
Baiklah, sampai jumpa.