Anda di halaman 1dari 15

EXPENSE (BEBAN)

diajukan untuk memenuhi tugas matakuliah Teori Akuntansi


Dosen Pembimbing : Dr. Elfira Luthan. SE, M.Si, Ak

Oleh :

Kelompok : 9
Ketua : GUSTI AGUNG NUGRAHA

(1210532004)

Anggota :
1. BAGUS HIDAYATULLAH

(1210532014)

2. SHINTYA RAHMADENI

(1210532077)

3. SHINTA RIANI

(1210533003)

Program Studi Akuntansi


Fakultas Ekonomi
Universitas Andalas
2015

Expense (Beban)
Tujuan Pembelajaran :
1. The nature of expenses and the way they are defined in the accounting literature
2. Recognition criteria and the matching concepts as they are applied to expenses in
the accrual accounting system
3. Critisms of the matching process and accountants use of allocations
4. Challenges for standard setters and issues for auditors relating to expense
recognition and measurement.
Entitas bisnis terlibat dalam berbagai kegiatan yang menghasilkan pendapatan yang
dapat menimbulkan beban. Menentukan jumlah beban yang benar untuk dicatat dalam suatu
periode akuntansi sangat penting karena mempengaruhi laporan posisi keuangan dan kinerja
perusahaan. Namun, menghitung jumlah beban dan kapan harus diakui bukanlah proses yang
sederhana. Pada bagian pertama, kita membahas sifat beban dan definisi yang disajikan
dalam literatur dan pembuat standar. Selanjutnya menjelaskan hubungan beban dan kerugian
(losses). Beban mewakili baik peningkatan kewajiban atau penuruan aset dan selanjutnya
mempengaruhi ekuitas.
Kriteria pengakuan biaya adalah dasar dari praktik akuntansi. Pada bagian kedua akan
membahas panduan yang diberikan dalam kerangka IASB/AASB dari standar akuntansi
untuk pengakuan dan pengukuran beban. Bab ini juga membahas bagaimana beban
ditentukan dengan menggunakan pendekatan matching dan konservatisme, serta isu-isu yang
berkaitan dengan pembuat standar dan auditor.
LO 1 : DEFINISI BEBAN
Beban berkaitan dengan penurunan nilai perusahaan. Beban timbul dari pelaksanaan
aktivitas normal perusahaan, misalnya : beban penjualan, gaji, dan penyusutan. Beban
tersebut biasanya berupa arus keluar atau penurunan aset seperti kas, setara kas, persediaan,
dan properti.
Istilah beban juga merupakan konsep arus, yang menggambarkan perubahan yang
tidak menguntungkan dalam sumber daya perusahaan. Tetapi tidak semua perubahan yang
tidak menguntungkan termasuk beban. Menurut H&VB, beban yaitu penggunaan atau
pemakaian barang dan jasa didalam proses mendapatkan pendapatan. Beban merupakan
habisnya (expirations) jasa faktor yang berkaitan langsung ataupun tidak langsung dengan
pembuatan dan penjualan produk perusahaan.
Definisi beban berdasarkan framework paragraf 70 :
Beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama periode akuntansi dalam bentuk
arus keluar atau penurunan aset atau kenaikan kewajiban yang menggambarkan
penurunan ekuitas, selain yang berkaitan dengan distribusi kepada pemilik ekuitas.
Beban mencakup kerugian (losses) serta beban yang timbul dalam rangka kegiatan
normal entitas. Namun, framework menyatakan bahwa kerugian merupakan penurunan

manfaat ekonomi dan sifatnya tidak berbeda dengan beban. Oleh karena itu, beban dan losses
bukan bagian yang terpisah (paragraf 79). Perusahaan telah berusaha untuk membedakan
antara beban dan kerugian (losses) yang terjadi didalam dan diluar aktivitas normal
perusahaan dengan mengkategorikan ke dalam item abnormal atau luar biasa dalam laporan
laba/rugi. Praktik ini tidak diizinkan oleh IAS 1/AASB 101 tentang penyajian laporan
keuangan. Paragraf 85 menyatakan bahwa entitas tidak harus menampilkan setiap item
pendapatan atau beban sebagai pos luar biasa, penekanan framework mencakup semua
definisi beban.
Pandangan framework IASB/AASB berbeda dari FASB, pembuat standar di Amerika
Serikat. Pernyataan konsep No.6 (paragraf 68-69) membedakan antara beban dan kerugian.
Kerugian adalah penurunan aset bersih dari transaksi perifer atau insiden dan peristiwa lain
yang mungkin sebagian besar berada diluar kendali perusahaan. Beban berkaitan dengan
operasi utama atau pusat entitas yang sedang berlangsun, berkaitan dengan hal ini,
Henderson, Peirson, dan Brown berpendapat mengenai pemisahan ini:
Perbedaan oleh FASB antara beban dan kerugian tampaknya tidak terlalu berguna.
Hal ini membutuhkan penilaian tentang apakah suatu transaksi merupakan bagian dari
operasi utama atau pusat yang sedang berlangsung pada entitas. Tidak membedakan antara
beban dan kerugian memiliki kelebihan yang berbeda, manajemen tidak akan lagi mampu
memutuskan bahwa arus keluar aset adalah kerugian dan menghilangkan dari penentuan laba
usaha.
Perbedaan antara kerangka FASB dan IASB akan menjadi subjek diskusi dimana
Dewan berusaha untuk mengkonversi kerangka dan standarnya. Revisi substansial dan luas
untuk framework IASB sedang berlangsung.
a. Perubahan dalam Aktiva dan Kewajiban
Pendapatan dan beban langsung berkaitan dengan aspek nilai aset dan kewajiban.
Secara alami, pendapatan dan beban terjadi karena peristiwa (yaitu peningkatan nilai
kewajiban atau penurunan nilai aset) dalam operasi bisnis. Pada kenyataannya peristiwa
perubahan dalam aset dan kewajiban bukanlan suatu hal yang mudah untuk diamati. Yang
membuat definisi biaya operasional adalah konsep arus fisik yang melibatkan entitas,
sehingga definisi framework mengacu pada arus keluar atau penurunan aset atau kenaikan
kewajiban.
Definisi di framework tidak membuat referensi hubungan beban terhadap pendapatan,
meskipun keduanya didefinisikan dalam hal manfaat ekonomi masa depan. Ada baiknya
mengkorelasikan pendapatan dengan barang dan jasa yang mendukung peristiwa tersebut,
bukan hanya dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi. Definisi dalam framework berkisar
manfaat ekonomi masa depan, sehingga memastikan konsistensinya dengan menggunakan
definisi aset sebagai acuannya.

b. Beban dan Biaya

Framework menyiratkan bahwa menggunakan aset memerlukan biaya untuk entitas.


Hal ini sesuai dengan argumen sebelumnya bahwa beban merupakan perubahan nilai.
Perubahan nilai mengacu pada pengorbanan yang dilakukan perusahaan dalam memperoleh
layanan. Jika tidak ada biaya untuk perusahaan, maka tidak ada beban. Contohnya, jika
seorang karyawan menyediakan layanan tanpa bayaraan, mungkin hanya untuk mendapatkan
pengalaman, tentu perusahaan tidak akan mencatat beban gaji. Jika mesin disumbangkan
untuk perusahaan dan meskipun aset dinyatakan dalam nilai wajar, secara teoritis tidak benar,
berdasarkan akuntansi biaya historis, bagi perusahaan untuk dicatat penyusutannya. Kadang
beban ini disebut biaya kadarluasa (expired cost). Komite khusus AAA tahun 1957
mendefinisikan sebagai berikut :
Beban adalah biaya kadarluasa, yang secara langsung atau tidak langsung pada suatu
periode fiskal, aliran barang atau jasa ke pasar dan operasi yang terkait.

LO 2 : PENGAKUAN BEBAN
Menurut definisi, beban terjadi apabila barang atau jasa dikonsumsi atau digunakan
dalam proses memperoleh pendapatan. Pelaporan beban dilakukan dengan mencatat kegiatan
di dalam perkiraan atau memasukkannya dalam laporan keuangan. Pengakuan beban dapat
terjadi bersamaan dengan kegiatan menggunakan barang atau jasa, sesudah kegiatan tersebut
terjadi, atau dalam keadaan yang tidak biasa yaitu sebelum kegiatan menggunakan barang
atau jasa itu terjadi.
Pengakuan beban menurut kerangka kerja IASB terdiri dari dua kriteria utama. Beban akan
diakui dalam laporan keuangan apabila memenuhi kedua kriteria berikut:.
1. Terdapat kemungkinan adanya keuntungan yang akan mengalir ke perusahaan.
Tingkat kemungkinan tersebut memang merupakan konsep yang tidak mutlak. Hal
tersebut tergantung pada ketersediaan bukti ketika laporan keuangan akan disusun
atau dipersiapkan.
2. Memiliki nilai yang dapat diukur dengan andal
Framework menyatakan bahwa konsep probabilitias disini maksudnya adalah
menyesuaikan ketidakpastian yang menjadi ciri khas lingkungan dimana entitas beroperasi.
Penilaian terhadap tingkat ketidakpastian bergantung pada aliran manfaat ekonomi di masa
depan yang dihasilkan sebagai bukti ketika laporan keuangan dipersiapkan.
Jika kriteria probabilitas diinterpretasikan lebih atau kurang dari lima puluh persen,
penerapannya bisa bertentangan dengan karakteristik kualitatif yaitu prudence atau sifat hati
hati (Framework Para. 37). Prudence adalah penyertaan karakteristik kehati-hatian dalam
praktek penilaian yang dibutuhkan dalam pembuatan estimasi yang diperlukan di bawah
kondisi ketidakpastian, contohnya nilai aset dan pendapatan tidak dibesar-besarkan dan nilai
liabilitas dan beban tidak dikurang-kurangi. Sementara terdapat karakteristik kualitatif
lainnya yaitu netralitas, yang menekankan bahwa informasi dalam laporan keuangan bebas

dari bias. Jadi, dalam pengakuan kita harus memasukkan unsur kehatia-kehatian dalam
penilaian (judgements) dan pengestimasiannya, tetapi tidak menyebabkan bias dalam
informasi yang dilaporkan. Contohnya, beban yang dilaporkan dalam nilai yang dilebihlebihkan (overstatement) akan memperlihatkan penggunaan prinsip kehatian-hatian yang
berlebihan dan ketiadaan prinsip netralitas tidak akan diterima karena akan menyebabkan
informasi tidak reliable.
Kriteria kedua menyebutkan bahwa beban dapat diukur dengan prinsip keandalan.
Sehingga dari pernyataan ini disimpulkan bahwa dibutuhkan suatu estimasi, contohnya pada
beban depresiasi, dan ketentuan-ketentuan untuk hutang yang masih diragukan. Tetapi tetap
diperlukan bukti yang valid untuk mendukung estimasi tersebut. Pada framework paragraph
31 informasi dikatakan reliable:
ketika bebas dari material error dan bias dan bisa diandalkan oleh pengguna dan dapat
mewakili secara tepat yang mungkin dimaksudkan untuk mewakili atau yang bisa
diperkirakan untuk mewakili
Berdasarkan Framework paragraf 94, beban diakui dalam laporan laba rugi kalau
penurunan manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan penurunan aktiva atau
peningkatan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. Ini berarti pengakuan
beban terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan kewajiban atau penurunan aktiva
(misalnya, perubahan dalam nilai aset akan menyebabkan kenaikan pada depresiasi,
amortisasi dan impairment expense).
Beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar hubungan langsung antara biaya yang
timbul dan pos penghasilan tertentu yang diperoleh (Matching of cost with revenue). Misalnya,
berbagai komponen beban yang membentuk beban pokok penjualan (cost or expense of goods
sold ) diakui pada saat yang sama sebagai penghasilan yang diperoleh dari penjualan barang.
Kalau manfaat ekonomi diharapkan timbul selama periode akuntansi dan hubungannya
dengan penghasilan hanya dapat ditentukan secara luas atau tak langsung, beban diakui
dalam laporan laba rugi atas dasar prosedur alokasi yang rasional dan sistematis. Hal ini
sering diperlukan dalam pengakuan beban yang berkaitan dengan penggunaan aktiva seperti
aktiva tetap, goodwill, paten, merk dagang. Dalam kasus semacam itu, beban ini disebut
penyusutan atau amortisasi. Prosedur alokasi ini dimaksudkan untuk mengakui beban dalam
periode akuntansi yang mendapatkan manfaat ekonomi aktiva yang bersangkutan.

LO 2: PENGUKURAN BEBAN
Pengukuran kenaikan kewajiban dan penurunan aset pada periode berjalan tampaknya
menjadi tugas yang sederhana. Namun, kewajiban dapat meningkat karena akuisisi pada
periode berjalan pada peralatan operasi utama dengan estimasi umur operasi beberapa tahun.
Ini berarti bahwa dalam menentukan beban pada periode berjalan, sejumlah keputusan harus
dibuat mengenai bagaimana beban harus dialokasikan pada periode yang akan mendatang
dari pendapatan yang dihasilkan.

Ada beberapa standar akuntasi yang memberikan panduan tersebut, misalnya IAS
16/AASB 116 tentang Aktiva Tetap yang menyatakan bahwa nilai-nilai aset yang dapat di
depresiasi dapat diukur dengan beberapa cara setelah pengakuannya (seperti model biaya
perolehan atau model penilaian) dan beberapa pilihan alternatif untuk depresiasi (seperti
metode garislurus, nilai menurun dan unit produksi). Kriteria keputusan ditujukan untuk
mendukung konsep akuntansi akrual tentang pencocokan beban terhadap pendapatan pada
periode yang berhubungan.
Kompleksitas proses dan kebijaksanaan dalam penerapan teknik alokasi dan teknik
pengukuran merupakan masalah utama bagi mahasiswa akuntansi dan fokus pada bagian ini.

Alokasi Biaya
Salah satu cara untuk mengukur beban adalah dengan mengalokasikanbeban-beban
tersebut ke periode-periode dimana beban tersebut dinikmati. Hal inibiasanya disebut dengan
matching concept. Konsep tersebut memperlakukan kosdengan mengalokasikan kos yang sudah
kadaluarsa (beban) ke periode-periodedimana beban tersebut terjadi. Namun, pengalokasian
tersebut hanya bersifat estimasi.
Proses matching melibatkan pengakuan atau gabungan pendapatan dan beban yang
dihasilkan secara langsung dan bersama-sama dari transaksi atau peristiwa lain. Contohnya
berbagai komponen harga pokok penjualan diakui pada saat yang sama pada saat pendapatan
diturunkan dari penjualan barang (paragraph 95).
Bagi beberapa akuntan, menghubungkan upaya (beban) dan prestasi (pendapatan)
untuk suatu periode tertentu adalah fungsi utama dari akuntansi. Namun dalam prakteknya,
matching yang tepat adalah tugas yang sulit dan melibatkan judgement yang tepat pada
bagian akuntan. Akuntan harus mengidentifikasi aset yang telah digunakan (expired) dan
jumlahnya harus dihapuskan dari pendapatan pada periode tersebut.
Matching Concept adalah hal yang paling penting dalam akuntansi biaya historis.
Biaya yang sudah digunakan (expired) akan menjadi beban dan disajikan dalam laporan laba
rugi, sedangkan biaya yang belum digunakan (expired) akan dicatat sebagai aset dan
disajikan dalam laporan posisi keuangan. Untuk mengatasi masalahpenentuan dan
pengukuran biaya menjadi beban, terdapat tiga metode dari matching concept yang sering
digunakan:
1. Menghubungkan sebab akibat
2. Alokasi sistematis dan rasional
3. Pengakuan langsung
Metode yang pertama adalah yang ideal untuk menentukan jumlah beban, sedangkan metode
yang lainnya adalah alternative jika metode pertama tidak dapat digunakan.
1. Hubungan Sebab Akibat

Cara ideal yang cocok dengan menghubungkan beban dengan pendapatan adalah
dengan mengaitkan sebab dan akibatnya. Berdasarkan pengamatan, akuntan
memutuskan bahwa barang dan jasa tertentu yang digunakan harus membantu dalam
penciptaan pendapatan pada periode tersebut. Contoh : komisi penjualan, biaya
penjualan, gaji dan upah. Adanya keterkaitan antara upaya yang dilakukan oleh tenaga
penjualan untuk menghasilkan pendapatan untuk periode tersebut. Oleh karena itu,
upaya mereka yang diwakili oleh komisi yang dibayar atau terutang pada mereka
harus dikaitkan dengan pendapatan saat ini.
Berdasarkan prinsip pengakuan pendapatan, tidak ada biaya penjualan jika tidak ada
pendapatan. Misalnya, dalam kontrak kontruksi jangka panjang ketika metode
penyelesaian kontrak digunakan, tidak ada biaya konstruksi (beban), selama tidak ada
pendapatan konstruksi diakui. Pada metode in, biaya konstruksi yang terjadi untuk
periode tersebut diasumsikan telah membantu penciptaan pendapatan, sehingga beban
dicatat untuk jumlah biaya konstruksi. Pada kenyataannya, teknik umum untuk
memastikan rasio penyelesaian adalah dengan menggunakan biaya konstruksi aktual
atas biaya konstruksi total yang diharapkan dari proyek.
Namun, menghubungkan sebab akibat mungkin sulit untuk ditetapkan dalam praktik.
Salah satu alasannya adalah bahwa dalam praktiknya ada cost attach concept yang
merupakan dasar aturan sebab-akibat. Paton dan Littleton mengakui bahwa dalam
situasi yang khas kita tidak dapat menemukan dasar untuk cost attach. Pada
dasarnya, akuntan tidak secara langsung mengaitkan biaya dengan pendapatan, tetapi
sesuai dengan biaya untuk interval waktu.
Kritikus juga menunjukkan bahwa aturan sebab-akibat menyiratkan bahwa jumlah
pendapatan tertentu dapat disebabkan oleh sejumlah beban. Misalnya, pendapatan
sebesar
$
100.000
dihasilkan
dari
beban
$
60.000.
Dari jumlah beban tersebut, $ 15.000 merupakan beban gaji. Bila
menggunakan
konsep sebab akibat beban berupa gaji sebesar $ 15.000 tersebut dapat menghasilkan
pendapatan sebesar $ 25.000 dari total pendapatan tersebut. Namun pada
kenyataannya hal tersebut tidak dapatdinilai dan tidak dapat dibuktikan secara pasti.
2. Alokasi Yang Sistematis dan Rasional
Tidak semua beban dapat dialokasikan dengan menggunakankonsep sebab dan akibat.
Sebagai salah satu alternatif, alokasi yang sistematis dan rasional dapat digunakan.
Tujuannya yaitu untuk mengakui beban dalam periode akuntansi dimana pada periode
tersebut beban itu dimanfaatkan atau telah kadaluarsa. Jadi, beban dialokasikan pada
periode dimana beban tersebut dikonsumsi, bukan berdasar produk yang dihasilkan.
Menurut IAS 16/AASB 116, depresiasi adalah alokasi yang sistematis dari jumlah
yang dapat didepresiasi dari sebuah aset selamaumur ekonomisnya. Depresiasi
merupakan salah satu contoh dari proses alokasi.
Mempertimbangkan depresiasi sebagai alokasi biaya tidak memuaskan untuk
sejumlah alasan. Beban adalah peristiwa moneter yang disebabkan oleh peristiwa
fisik. Penyusutan merupakan sebuah fenomena yang terjadi dan beban yang dicatat
adalah efek moneter. Bauran peristiwa dan metode pengukuran terjadi karena teori
cost attach.

Di Amerika Serikat, Komite Terminologi melihat depresiasi sebagai penurunan


potensi layanan. Namun, yang lainnya termasuk ekonom melihat depresiasi sebagai
penurunan nilai aset yang tidak sama dengan pendapat akuntan. Suatu penurunan nilai
biasanya berarti penurunan harga pasar. Akuntan melihat aset tidak lancer jangka
panjang sebagai kumpulan layanan masa depan yang makin lama semakin kecil,
karena :
Faktor fisik seperti keausan karena penggunaan
Faktor ekonomi seperti keusangan
Akuntan memilih untuk menggunakan alokasi biaya untuk mengukur penurunan.
Sejumlah prosedur bisa diturunkan dari prinsip dasar selama prosedur tersebut
rasional dan sistematis dan dipertimbangkan dapat diterima.
Alokasi biaya adalah konsep yang cocok yang mengarah ke berbagai prosedur,
misalnya garis lurus, saldo menurun ganda, jumlah unit produksi, jumlah angka tahun,
dan metode lainnya. Kesulitan yang timbul dibanyak perusahaan adalah memilih
metode alokasi berdasarkan alasan yang tidak ada hubungannya dengan pola manfaat.
Kelemahan dari alokasi biaya adalah karena bergantung pada estimasi dan asumsi
yang mungkin sewenang-wenang. Contohnya adalah amortisasi goodwill. Sebelum
penerapan luas dari standar IASB pada tahun 2005, banyak entitas mengamortisasi
goodwill selama 2005 atau kurang dan dengan metode garis lurus. Beberapa
perusahaan berpendapat bahwa goodwill tidak menurunkan nilai dan karena itu tidak
harus diamortisasi. Mulai 1 Januari 2005, IFRS tidak menyarankan amortisasi untuk
goodwill, sehingga menghindari asumsi sepihak yang digunakan dalam proses
amortisasi. IFRS 3/AASB 3 tentang Kombinasi Bisnis paragraph 54 menyatakan
bahwa setelah akuisisi, goodwill yang diperoleh dalam menggabungkan usaha akan
diukur sebesar biaya perolehan dikurangi kerugian penurunan nilai. Dengan demikian,
proses estimasi untuk mentukan amortisasi goodwill tidak diperlukan.
Area lain dimana alokasi digunakan adalah pembayaran berbasis saham. Dalam IFRS
2/AASB 2 mensyaratkan bahwa perusahaan mencatat beban sehubungan dengan
penghasilan yang diberikan kepada karyawan, baik dalam bentuk uang tunai, aset lain,
atau instrument ekuitas. Tiga bentuk pembayaran berbasis saham adalah :
1) Pelunasan ekuitas dengan pembayaran berbasis saham (entitas menerima
barang dan jasa sebagai pertimbangan untuk instrument ekuitas sendiri)
2) Pelunasan kas dengan pembayaran berbasis saham (entitas memperoleh
barang dan jasa dengan menimbulkan kewajiban untuk jumlah berdasarkan
nilai instrument ekuitas)
3) Transaksi lainnya (entitas menerima atau memperoleh barang dan jasa, dan
entitas atau pemasok memiliki pilihan apakah melunasi transaksi dalam kas
atau dalam ekuitas)
Barang dan jasa yang diterima dalam transaksi pembayaran berbasis saham harus
diakui pada saat diterima (IFRS 2 paragraf 7). Peningkatan dalam ekuitas yang

dicatat untuk perencanaan pelunasan ekuitas dan peningkatan pada kewajiban


diakui untuk penyelesaian kas dengan pembayaran berbasis saham.
Pelunasan ekuitas yang paling sering diamati (di Inggris dan Australia,
kebanyakan perencanaan adalah pelunasan ekuitas, bukan pelunasan kas). Barang
dan jasa yang diterima dalam transaksi pembayaran berbasis saham pada
pelunasan ekuitas dan hubungan peningkatan dalam ekuitas harus diukur pada
nilai wajar dan barang jasa yang diterima, kecuali nilai tidak bisa diestimasi secara
andal (IFRS 2 paragraf 10). Nilai wajar harus didasarkan pada harga pasar barang
dan jasa yang diterima dan biasanya diukur dengan mengacu pada nilai wajar
instrument ekuitas yang diberikan pada tanggal tersebut.
Nilai wajar harus didasarkan pada harga pasar (IFRS 2 paragraf 11), tetapi jika
tidak tersedia, maka gunakan model harga opsi. Dengan demikian rencana
berbasis ekuitas menimbulkan aset atau beban dan peningkatan yang sesuai dalam
ekuitas (dalam kaitannya dengan saham yang dikeluarkan).
Proses alokasi digunakan untuk menentukan beban renumerasi (nilai wajar barang
dan jasa yang diterima) selama periode vesting. Misalnya, jika nilai wajar pada
tanggal pemberian opsi kepada karyawan adalah $ 12.000 dan periode vesting
adalah 4 tahun, lalu beban yang diakui adalah sebesar $ 3.000 untuk setiap
tahunnya.
3. Pengakuan Segera
Prinsip terakhir untuk pengakuan dan pengukuran beban dapat dilihat sebagai salah
satu akun dari seluruh kemungkinan yang tidak tercakup dalam dua periode pertama.
Contoh dari pengakuan langsung adalah pencatatan beban iklan. Pengaruh iklan
mungkin memiliki manfaat jangka panjang, tetapi sulit untuk ditentukan. Contohnya,
pelanggan mungkin membeli sebuah produk karena dipengaruhi oleh iklan dua tahun
sebelumnya. Karena manfaat tidak dapat ditentukan secara pasti, biaya iklan biasanya
segera diakui sebagai beban berdasarkan IAS 38/AASB 138 tentang Aset Tidak
Berwujud. Pembuat standar (dalam kasus ini adalah IASB) berpandangan bahwa
pengeluaran untuk penelitian tidak memenuhi criteria untuk aset, yaitu manfaat
ekonomi masa depan yang tidak dapat diukur dengan handal.
Impairment expense merupakan item lain yang harus diakui dengan segera. Meskipun
baik aset berwujud dan tidak berwujud dapat dikenakan depresiasi dan amortisasi,
proses alokasi mungkin meliputi kesalahan dalam penilaian atau nilai aset mungkin
dipengaruhi oleh kejadian tak terduga lainnya. Ketika jumlah pemulihan aset
dianggap kurang dari nilai tercatatnya , beban langsung dalam laporan laba rugi sesuai
dengan IAS 46/AASB 136 tentang Penurunan Nilai Aset. Dengan demikian,
Impairment expense timbul karena penurunan aset. Konsisten dengan definisi biaya
pada kerangka.

Kritik Untuk Alokasi

Paton dan Littleton melengkapi kerangka logis akuntansi konvensional. Matching


concept adalah salah satu fitur utama kerangka ini. Paton dan Littleton menghubungkan
antara pencocokan biaya dengan pendapatan. Mereka melihat proses bisnis sebagai aliran
biaya yang pasti berakhir di laporan laba rugi sebagai biaya akhir. Menentukan jumlah biaya
yang telah kadaluwarsa (expired) merupakan salah satu tugas utama akuntan.
Namun, Serouse menyatakan bahwa proses pencocokan (matching) telah membuat
neraca sekunder untuk laporan laba rugi yang menyediakan tempat penyimpanan biaya yang
belum kadaluwarsa untuk menunggu waktu kadaluwarsanya pada laporan keuangan yang
akan dating. Pendekatan ini mengurangi kegunaan neraca untuk pengambilan keputusan bagi
penggunanya. Dalam beberapa tahun terakhir, pembuat standar telah berfokus pada definisi
dan kriteria pengakuan untuk aset dan kewajiban untuk menjamin tidak ada neraca sekunder
pada laporan laba rugi.
Praktik saat ini juga dikritik Thomas, banyak yang beragumen bahwa apa yang
dilaporkan akuntan adalah sampah, karena informasi akuntansi sebagian besar didasarkan
pada alokasi. Thomas berpendapat bahwa alokasi secara teoritis tidak dibenarkan. Untuk
membenarkannya, ada tiga criteria yang disarankan:
Aktivitas
Keseluruhannya haruslah bagian yang sama. Jika alokasi dibuat dari total,
semua bagiannya harus dari total, tidak boleh lebih atau kurang. Artinya,
ketika jumlah yang dialokasikan ditambahkan, totalnya adalah sama seperti
sebelum alokasinya.
Tidak Ambigu
Sebuah metode alokasi harus menghasilkan alokasi yang unik, pilihan metode
yang jelas harus dilakukan. Cara alokasi yang dilakukan juga harus jelas.
Defensibilitas
Sebuah metode alokasi yang dipilih seseorang harus mampu memberikan
argument yang meyakinkan atas pilihannya dan mempertahankannya dari
berbagai alternatif lainnya.
Thomas berpendapat bahwa alokasi dalam akuntansi tidak memenuhi kriteria ini, terutama
kriteria ketiga. Ada kemungkinan untuk mempertahankan metode alokasi, pada kenyataannya
berbagai metode tersedia, salah satunya dipertahankan. Namun, tidak ada cara yang
meyakinkan untuk memilih salah satu referensi dari yang lainnya, kecuali dengan keputusan
sendiri.

Akuntan yang mempertahankan alokasi karena 2 argumen :


1) Input yang diberikan menyediakan layanan pada saat ini dan masa yang akan dating
dan pola alokasi biaya mencerminkan biaya layanan yang diterima dalam periode
tertentu.
2) Data alokasi menyediakan memberikan manfaat bagi pembaca laporan akuntansi yang
mencakup data alokasi.

Jika argument pertama dibuat, Thomas menyatakan bahwa akuntan harus menunjukkan
bahwa layanan yang disediakan oleh input yang diberikan menghasilkan arus kas masuk atau
pendapatan atau penghematan biaya. Tetapi akuntan tidak bisa. Thomas mempertahankan
karena pernyataan alokasi pada tempat pertama incorrigible, yaitu tidak mampu diverifikasi
berdasarkan tujuan dalam artian empiris. Thomas menyatakan :
Pernyataan alokasi konvensional tidak mengacu pada dunia nyata, ketika alokasi
yang tidak dapat diperbaiki dibagi dengan total akuntansi, tidak ada alasan untuk
percaya bahwa hal mencerminkan pembagian dari total eksternal ke dalam bagian
yang independen. Asersi alokasi konvensional tidak mengacu pada fenomena
ekonomi di dunia nyata, tetapi hanya untuk pemikiran pembaca.
Jika maksud Thomas bahwa pola layanan atau kontribusi berkaitan dengan sebuah input yang
tersedia di dunia nyata, tetapi asersi akuntan tentang pola ini jauh dari pola yang sebenarnya
yang memberikan asersi yang tidak realistis, banyak akuntan menerima kritik ini. Tetapi
Thomas berpendapat jauh dari itu. Dia berpendapat bahwa pola layanan atau kontribusi tidak
tersedia di dunia luar, hanya dalam pikiran akuntan.
Alasan lain dari argumen kontribusi dalam mendukung alokasi yang tidak valid adalah
interaksi dari input. Kontribusi input individual untuk output, atau pendapatan atau arus kas
masuk selama periode tertentu tidak dapat diketahui karena semua input berinteraksi satu
sama lain menghasilkan total output yang berbeda dari jika dihasilkan secara terpisah.
Misalnya, tenaga pekerja dengan mesin memproduksi lebih banyak jika dibandingkan pekerja
bekerja dengan tangan kosong dan mesin dibiarkan menganggur. Setiap input berinteraksi,
kalkulasi tentang berapa pendapatan atau kas masuk yang dihasilkan oleh tiap input sangat
berguna.
Thimas menekankan pada pandangannya, karena menghubungkan sebuah pembagian dari
layanan yang disediakan oleh aset dengan penggunaan actual aset, misalnya jam yang
digunakan atau kilometer yang dijalankan, bisa dikatakan bahwa pembagian memiliki
referensi dunia nyata, oleh karena itu alokasi sensitif.
Alokasi mungkin tidak akurat, tetapi bisa dikatakan rasional. Ada cara terbaik untuk
melakukan pembagian tanpa meninggalkan alokasi. Tetapi Thomas berpendapat bahwa
pembagian tidak ada pada dunia nyata. Jika ini benar, setiap argument yang diberikan untuk
mempertahankan alokasi tidak berguna.
Argumen kedua yang ditolak Thomas adalah data alokasi menyediakan tujuan yang berguna
oleh karena itu bermanfaat. Dia berpendapat bahwa studi empiris mengklaim bahwa
informasi akuntansi yang tersedia berguna tidak benar-benar menunjukkan argument kedua
tersebut. Akuntan membuat klaim yang tidak bisa mereka validasi. Solusinya adalah
mempersiapkan laporan alokasi. Thomas menyarankan laporan current exit price atau net
quick asset fund statement. Diluar semua argument, pembuat standar melanjutkan pembuatan
proposal alokasi. Meninggalkan alokasi akan menyebabkan masalah. Alokasi adalah bagian
substansi akuntansi. Bahkan definisi aset menyiratkan implikasi. Aset pada dasarnya adalah
paket layanan masa depan dan layanan ini diberikan selama periode saat ini dan masa depan.

Mempertahankan Alokasi
Eckel mendukung pernyataan Thomas bahwa alokasi ditetapkan sewenang-wenang.
Tetapi hanya karena tujuan alokasi tidak dipertahankan. Tujuan alokasi dalam akuntansi
konvensional adalah untuk menentukan keuntungan dengan proses pencocokan, khususnya
sebab-akibat. Keefektifitasan dari konsep pencocokan tergantung pada keberadaan sebabakibat yang unik dan dapat diidentifikasi antara biaya dan pendapatan. Tapi ini tidak
ditunjukkan oleh pendapat Thomas. Tujuan dari alokasi bagaimanapun bisa diubah.
Misalnya, laba untuk periode ini akan dihasilkan dari perbedaan antara pengakuan
pendapatan dan biaya dialokasikan pada periode dengan amortisasi garis lurus pada tahun ken. Hal ini menunjukkan perubahan proses laba dari sebab-akibat ke hubungan tertentu, yaitu
garis lurus.
Zimmerman menunjukkan bahwa alokasi biaya untuk keperluan internal berguna
sebagai alat untuk mengendalikan dan memotivasi manajer, dan oleh karena itu dibenarkan.
Alokasi biaya, ketika digabungkan dengan skema insentif akan mendorong manajer untuk
memperhatikan biaya yang dilaporkan, membantu untuk mengurangi beberapa masalah
Kontron dan koordinasi yang muncul ketika manajer dalam perusahaan diberi hak untuk
membuat keputusan tertentu. Dia menyimpulkan, selama manfaat alokasi biaya (contohnya :
sedikitnya keterlambatan biaya) melebihi biaya-biaya dari alokasi biaya, penggunaan teknik
alokasi rasional. Zimmerman menyarankan agar biaya tetap yang dialokasikan dapat
menyediakan pengukuran opportunity cost yang sulit. Dengan menggunakan sistem antrian
untuk model departemen layanan pada sebuah perusahaan, Miller dan Buckman
menyimpulkan bahwa penjelasan Zimmerman hanya berlaku untuk kasus-kasus dimana skala
ekonomis kecil. Penelitian mereka menerapkan kasus tertentu untuk alokasi biaya tetap oleh
departemen layanan dalam menerapkan biaya ke departemen pengguna.

LO 4: CHALLENGES FOR ACCOUNTING STANDARD SETTERS


Matching
Kerangka teoritis untuk laporan keuangan menyatakan bahwa baik neraca (laporan posisi
keuangan dan laporan laba/rugi menyajikan informasi dengan karakteristik relevansi
penyajian yang wajar (IASB 2008).
Standar IASB telah ditulis dan direvisi lebih dari 30 tahun. Kerangka bertujuan untuk
memberikan definisi umum dan criteria pengakuan untuk meningkatkan konsistensi dengan
standar.
Selain itu, kerangka kerja secara khusus menyatakan bahwa konsep pencocokan tidak harus
diterapkan sedemikian rupa untuk memungkinkan pengakuan item dalam neraca yang tidak
memenuhi definisi asset atau kewajiban (paragraph 95). Panduan untuk pengakuan
pendapatan dalam IAS 18 / AASB 118 menimbulkan dalam neraca yang tidak memenuhi

definisi kerangka tentang asset dan kewajiban. IASB sedang menangani ketidakkonsistenan
ini dalam proyek yang sedang dilakukan.
Konservatisme
Konsep pencocokan (matching concept) membutuhkan banyak pertimbangan dalam
menentukan apakah suatu jumlah biaya ini berlaku untuk masa depan atau periode berjalan.
Akuntan membutuhkan bukti objektif untuk pengakuan pendapatan, namun ada batasan bukti
objektif dalam kaitannya pengakuan beban. Yang dibutuhkan adalah kewajaran atau
kesesuaian.
Kewajaran merupakan prosedur yang diterima secara umum. Apapun yang dianggap sebagai
praktek yang diterima dianggap wajar dan sesuai. Misalnya, berhubungan dengan persediaan
adalah membebankannya pada periode yang diterima (seperti FIFO atau biaya rata-rata) dan
cara untuk menangani pabrik dan peralatan adalah mendepresiasikannya dengan metode
penyusutan yang diterima.
Salah satu alas an rendahnya kebutuhan untuk bukti objektif dari pengakuan beban. Jika
dibandingkan dengan pendapatan adalah konvensi konservatisme. Konvensi ini menyebutkan
bahwa pencatatan beban, kerugian, dan kewajiban sesegera mungkin, meskipun buktinya
lemah, namun pada pendapatan, keuntungan, dan asset harus didukung oleh bukti dan yang
substansial sebelum dicatat.
Menurut IAS II / AASB III tentang kontrak konstruksi (paragraph 28), pendapatan kontrak
dengan biaya kontrak harus diakui sebagai beban dan pendapatan masing-masing mengacu
pada tahap penyelesaian aktivitas kontrak pada tanggal pelaporan. Suatu kerugian yang
diperkirakan dalam kontrak konstruksi harus diakui sebagai beban dengan segera. Jadi
ketentuan ini dibuat untuk kerugian langsung, tidak untuk keuntungan keseluruhan kontrak.
Meskipun kerugian atas keseluruhan kontrak belum sepenuhnya terwujud karena proyek
tidak selesai, kerugian total yang diharapkan segera diakui. Hal ini berlaku bahkan ketika
metode penyelesaian kontrak digunakan.
Beberapa orang berpendapat bahwa yang mendasari koservatisme adalah criteria probabilitas
dan keandalan yang dianut dalam kerangka. Istilah probabilitas berarti bahwa peristiwa
masa depan memungkinkan terjadi untuk mengkonformasi kerugian atas biaya. Jadi, beban
piutang tak tertagih dicatat karena adanya kemungkinan entitas tidak dapat mengumpulkan
jumlah tertentu haknya pada tanggal laporan keuangan. Probabilitas didasarkan pada
pengalaman masa lalu, suatu kerugian pengambilalihan dicatat apabila pengambilalihan
sudah dekat dan jumlahnya dapat diperkirakan.
Jenis bukti yang diperlukan untuk probabilitas ini belum jelas. Penafsiran konsep pencatatan
dalam praktik, oleh karena itu bias disebabkan oleh konservatisme. Konservatisme tidak
berfokus pada buukti, tetapi pada kewaspadaan pada overstatement dari net asset dan profit.
Informasi yang tidak akurat bias saja dihasilkan.
Berdasarkan pedoman Australia (SACU) konservatisme mempertimbangkan bias yang harus
dihindari. Informasi dengan bias konservatif bukanlah informasi netral. Selain karena

probabilitas dan keandalan, standar mensyaratkan entitas untuk memiliki kewajiban saat
ini (hukum dan konstruksif) sebelum mengakui provisi (paragraf 95).
Dengan demikian, provisi tidak dapat diakui kecuali jika entitas tersebut tidak bias
menghindari pemenuhan kewajiban, yaitu tidak memiliki alternative realistis untuk melunasi
kewajiban (paragraf 17). Akibatnya kemampuan manajemen untuk menciptakan suatu provisi
yang mengutangi pendapatan dalam periode berjalan dan memungkinkan peningkatan
pendapatan di masa yang akan datang telah dibatasi. Provisi seperti pemeliharaan dan
restrukturisasi tidak dapat dimasukkan ke dalam laporan keuangan kecuali memenuhi criteria
pengakuan :
Pemeliharaan harus mencerminkan kewajiban untuk pihak eksternal
Penyisihan restrukturisasi muncul hanya jika suatu rencana formal terperinci, memenuhi
criteria yang telah dirumuskan (paragraf 12)
Standar menyatakan kewajiban kontinjensi tidak dapat diakui, termasuk beban pada periode
(paragraf 27). Neraca kewajiban kontinjensi tidak memenuhi kriteria pengakuan, tidak dapat
diakui dan tidak menyediakan sarana untuk melebih-lebihkan biaya (overstate) dan dengan
demikian menyajikan pandangan konservatif posisi dan kinerja keuangan.
Isu- Isu yang Berkaitan dengan Auditor
Auditor menghadapi isu seputar perbedaan antara beban dengan asset, periode dimana beban
diakui dan pengukuran beban yang tepat. Definisi beban dalam kerangka paragraph 70 :
penurunan manfaat ekonomi dalam bentuk arus keluar dan penurunan asset, memfokuskan
perhatian pada pilihan antara mendebit biaya atau asset saat mencatat arus keluar asset (atau
penambahan piutang). Runtuhnya perusahaan telekomunikasi Worldcom di Amerika Serikat
pada Juli 2002 mengungkapkan akuntan telah mengalami masalah dalam penerapan prinsipprinsip seputar biaya.
Salah satu ketidakteraturan akuntansi yang terungkap setelah runtuhnya Worldcom adalah
kapitalisasi beban operasional sebagai asset. Memperlakukan biaya sebagai asset adalah cara
yang tidak rumit untuk melebih-lebihkan laba (overstate) periode tersebut biasanya
membutuhkan bukti yang kuat untuk mendukung kapitalisasi pengeluaran. Namun, upaya
manajer untuk melakukan overstate/understate asset menyebabkan masalah bagi auditor.
Praktik overstate beban terkait dengan akuisisi dan restrukturisasi dikenal sebagai cookiejar atau big bath. Akuntansi cookie jar memungkinkan peningkatan keuntungan di masa
depan ketika beban dibalikkan atas dasar bukti baru dengan harapan biaya masa depan yang
terlalu pesimis.
Praktik-praktik akuntansi big-bath dan cookie-jar melanggar prinsip-prinsip alokasi
sistematis dan alokasi rasional untuk beban pada periode akuntansi yang sesuai. Auditor bias
tergoda untuk kurang memperhatikan kemungkinan beban yang overstate daripada understate
karena keyakinan bahwa pendekatan konservatif untuk pengukuran laba dipertimbangkan.
Namun, kerangka kerja tentang netralitas dan pembukuan IAS 37/AASB 137 meminta
Auditor untuk mengumpulkan cukup bukti bahwa akun beban entitas tidak overstate.

Area lain yang sulit bagi auditor adalah estimasi akuntansi, seperti penyisihan persediaan
yang usang, garansi, kerugian tuntutan hukum, dan kontrak pembangunan yang berlangsung.
Auditor harus menguji asumsi dan proses yang digunakan oleh manajemen ketika tiba pada
estimasi dan mempertimbangkan apakah ada bukti lain yyang mendukung jumlah yang
diklaim.

Anda mungkin juga menyukai