Anda di halaman 1dari 9

IDENTIFIKASI KATION GOLONGAN 4 DAN 5

Identifikasi kation banyak digunakan terhadap terutama sampel yang berupa bahan garam
yang mengandung banyak logam-logam, misalnya pasir besi dan sebagainya. Dengan uji
kation ini, bahan-bahan galian tersebut dapat segera ditentukan tanpa memerlukan waktu
yang lama.

Dengan adanya suatu unsur berguna untuk memisahkan bahan galian yang tercampur. Selain
itu, dapat juga digunakan untuk kasus-kasus keracunan logam berat, seperti Hg dan Pb.
Identifikasi kation banyak digunakan atau dilakukan, mengingat karena bahan-bahan tersebut
merupakan bagian bahan obat, bahan baku, dan sedian obat. Namun, dapat juga sebagai
pencemar yang perlu diketahui keberadaannya agar dapat diantisipasi bila membahayakan.

Untuk tinjauan analisis kualitatif sistematik, kation-kation diklasifikasikan dalam ilmu


golongan berdasarkan sifat-sifat kation itu tehadap beberapa reagensia. Reagen golongan
yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum adalah Asam klorida, Hidrogen
sulfida, Amonium sulfida, dan Amonium karbonat. Klasifikasi ini didasarkan atas apakah
suatu kation bereaksi dengan reagen-reagen ini dengan membentuk endapan atau tidak.

Secara prinsip, zat yang akan diidentifikasi dilarutkan kemudian ditambahkan pereaksi
tertentu yang sesuai, yang akan mengendapkan segolongan kation sebagai garam yang sukar
larut atau hidroksidanya. Pereaksi haruslah sedemikian rupa sehingga pengendapan kation
golongan kation selanjutnya tidak terganggu atau sebelumnya dapat dengan mudah
dihilangkan dari larutan yang hendak dianalisis.

Untuk identifikasi senyawa organik, pada umumnya didasarkan atas kelarutannya dalam air.
Jika senyawa tidak larut dalam air, maka harus dilakukan destruksi. Cara destruksi tergantung
dari senyawa yang hendak dianalisis dan ditentukan dengan bantuan percobaan pendahuluan.
Prinsip destruksi ini terdiri dari pelelehan campuran senyawa yang sukar larut dalam pereaksi
yang sesuai dalam jumlah yang berlebih. Akibatnya reaksi akan digeser sempurna ke arah
reaksi.

Klasifikasi kation yang paling umum didasarkan pada perbedaan kelarutan dari klorida,
sulfida, dan karbonat kation tersebut. Kation diklasifikasikan dalam 5 golongan berdasarkan
sifat-sifat kation tersebut terhadap beberapa reagensia. (Vogel, 1990).
Golongan-golongan kation memiliki ciri-ciri khas, yaitu:

Kation golongan I membentuk klorida, yang tidak larut. Namun, Timbal klorida sedikit larut
dalam air, dan karena itu timbal tidak pernah mengendap dengan sempurna bila ditambahkan
dengan HCl encer kepada suatu cuplikan ion timbal yang tersisa itu, diendapkan secara
kuantitatif dengan H2S dalam suasana asam bersama-sama golongan II.

Endapan Perak klorida dalam bentuk dadih susu atau gumpalan sebagai hasil koagulasi bahan
koloidal. Endapan dapat dengan mudah disaring atau dicuci dengan air yang mengandung
sedikit asam nitrat. Asamnya mencegah peptisasi endapan dan teruapkan apabila endapan
dikeringkan.

Reaksi identifkasi yang lebih sederhana dikenal sebagai reaksi spesifik untuk golongan
tertentu. Reaksi kation untuk golongan II adalah Hidrogen sulfida yang hasilnya adalah
endapan-endapan berbagai warna. Kation-kation golongan II dibagi atas dua subgolongan,
yaitu subgolongan Tembaga dan Arsenik. Subgolongan Tembaga terdiri dari Hydrargium (II),
Plumbum (II), Bismut (III), Cuprum (III), dan Capmium (II). Subgolongan Arsenik terdiri
dari Arsen (III), Arsen (V), Stibium (III), Stannum (II), dan Stannum (IV).

Kation golongan III terdiri dari Besi (III), Aluminium, Kromium (III) dan (IV), Nikel, Kobalt,
Mangan (II) dan (VII), dan Zink.

Logam-logam ini diendapkan oleh reagen golongan untuk golongan I dan II, tetapi semuanya
diendapkan. Dengan adanya Amonium klorida oleh Hidrogen sulfida dari larutan yang telah
dijadikan basa dengan larutan Amonia. Logam-logam ini diendapkan sebagai sulfida, kecuali
Amonium dan Kromin, yang diendapkan sebagai hidroksida oleh larutan Amonia dengan
adanya Amonium klorida. Sedang logam-logam lain ini tetap berada dalam larutan dan dapat
diendapkan sebagai sulfida oleh Hidrogen sulfida.

Kation golongan IV terdiri dari Barium, Stronsium, dan Kalsium. Kation golongan ini tidak
bereaksi dengan Asam klorida, Hidrogen sulfida, ataupun Amonium sulfida; tetapi Amonium

karbonat membentuk endapan-endapan putih.membentuk endapan dengan ammonium


karbonat dengan adanya ammonium klorida dalam suasana netral atau sedikit asam.

Kation golongan V terdiri dari Magnesium, Natrium, Kalium, dan Amonium. Kation-kation
golongan V tidak bereaksi dengan Asam klorida, Hidrogen sulfida, Amonium sulfida, dan
Amonium karbonat. Reaksi-reaksi khusus atau uji-uji nyala dapat dipakai untuk
mengidentifikasi ion-ion ini. disebut juga golongan sisa karena tidak bereaksi dengan
reagensia-reagensia golongan sebelumnya. Ion kation yang termasuk dalam golongan ini
antara lain magnesium, natrium, kalium, dan ammonium

2.
Pereaksi golongan, pemisahan dan penetapan kation. Kation digolongkan dalam 5
golongan :
a.

Golongan I terdiri dari : Ag, Pb, Hg.

b.

Golongan II terdiri dari : Hg, Pb, Bi, Cu, Cd, As, Sb.

c.

Golongan III terdiri dari : Al, Cr, Fe, Co, Mn, Zn, Ni

d.

Golongan IV terdiri dari : Ba, Ca, Sr

e.

Golongan V terdiri dari : Na, K, Mg, NH4

Identifikasi kation golongan 4

Barium (Ba)

Barium adalah logam putih perak, dapat ditempa dan liat, yang stabil dalam udara kering.
1. Barium bereaksi dengan air dalam udara yang lembab, membentuk oksida atau
hidroksida. Barium melebur pada 710oC. Logam ini bereaksi dengan air pada suhu ruang,
membentuk Barium hidroksida dan hidrogen.
Ba + 2H2O Ba2+ + H2 + 2OHAsam encer melarutkan Barium dengan mudah dengan mengeluarkan hidrogen.
Ba + 2H+ Ba2+ + H2
Barium adalah bivalen dalam garam-garam, membentuk kation barium(II), Ba2+. Klorida dan
nitratnya larut, tetapi dengan menambahkan asam klorida pekat atau asam nitrat pekat kepada
larutan natrium, barium klorida atau nitrat mungkin mengendap sebagai akibat hukum
kegiatan masa.

2. Larutan amonia : tak terjadi endapan barium hidroksida karena kelarutannya relatif
tinggi. Jika larutan yang basa itu terkena udara luar, sedikit karbondioksida akan terserap dan
terjadi kekeruhan yang ditimbulkan oleh barium karbonat. Sedikit kekeruhan mungkin terjadi
ketika menambahkan reagensia; ini disebabkan oleh sejumlah kecil amonium karbonat, yang
sering terdapat dalam reagensia yang telah lama.
3. Larutan amonium karbonat : endapan putih barium karbonat, yang larut dalam asam
asetat dan dalam asam mineral encer.
Ba2+ + CO32- BaCO3
Endapan larut sedikit dalam larutan garam-garam amonia dari asam-asam kuat; ini
disebabkan karena ion amonium, sebagai suatu asam kuat, bereaksi dengan basa, yaitu ion
karbonat, CO32-, dengan mengakibatkan terbentuknya ion hidrogen karbonat, HCO3-, maka
konsentrasi ion karbonat dari larutan menjadi berkurang.
NH4+ + CO32- NH3 + HCO3atau
NH4+ + BaCO3 NH3 + HCO3- + Ba2+
Jika jumlah endapan barium karbonat sangat kecil, ia bisa larut dengan baik dalam garam
amonium yang berkonsentrasi tinggi.
4. Larutan amonium oksalat : endapan putih barium oksalat Ba(COO)2, yang hanya sedikit
larut dalam air (0,09 g/liter; Ks = 1,7 x 10-7), tapi dilarutkan dengan mudah oleh asam asetat
encer (perbedaan dari kalsium) dan oleh asam mineral.
Ba2+ + (COO)22- Ba(COO)2
5. Asam sulfat encer : endapan putih barium sulfat BaSO4 hampir tak larut dalam asam
encer dan dalam larutan amonium sulfat, dan larut cukup baik dalam asam sulfat pekat
mendidih. Dengan mengendapkan dalam larutan yang mendidih, atau lebih baik lagi dengan
menambahkan pula amonium asetat, diperoleh bentuk yang lebih mudah disaring:
Ba2++ SO42- BaSO4
BaSO4 + H2SO4 (pekat) Ba2+ + 2HSO4Jika barium sulfat dididihkan dengan larutan natrium karbonat pekat, terjadi transformasi
parsial menjadi barium karbonat yang kurang larut, menurut persamaan :
BaSO4 + CO32- BaCO3 + SO42Karena reaksi ini reversibel, transformasi ini tak sempurna. Jika campuran disaring dan dicuci
( jadi menghilangjkan natrium sulfat) dan residu dididihkan dengan sejumlah larutan natrium
karbonat yang baru saja dibuat, lebih banyak lagi barium sulfat akan berubah menjadi
karbonat yang bersangkutan.

6. Larutan kalsium sulfat jenuh : endapan segera dari barium sulfat putih. Fenomena yang
serupa terjadi jika dipakai reagensia strontium sulfat jenuh.
Penjelasan atas reaksi-reaksi ini adalah sebagai berikut : dari ketiga alkali tanah sulfat,
barium sulfatlah yang paling sedikit larut. Dalam larutan kalsium atau strontium sulfat jenuh,
konsentrasi ion sulfat cukup tinggi untuk menimbulkan pengendapan dengan barium yang
berjumlah agak banyak, karena hasil kali konsentrasi-konsentrasi ion melampaui nilai hasil
kali kelarutannya:
SO42- + Ba2+ BaSO4
7. Larutan kalium kromat : endapan kuning barium kromat, yang praktis tak larut dalam air
(3,2 mg/ liter, Ks = 1,6 x 10-10).
Ba2+ + CrO42- BaCrO4
Endapan tak larut dalam asam asetat encer (perbedaan dari strontium dan kalsium) tetapi
dapat larut dengan mudah dalam asam mineral.
Penambahan asam pada larutan kalium kromat menyebabkan warna kuning dari larutan
berubah menjadi jingga-kemerahan, disebabkan terbentuknya dikromat:
2CrO42- + 2H+ Cr2O72- + H2O
Dengan penambahan basa (misalnya ion-ion OH-) kepada larutan dikromat, reaksi atom
berlangsung dari kanan ke kiri karena ion hidrogen hilang diikat oleh ion OH-, maka kromat
akan terbentuk.
8.

Reagensia rhodizonat

9. Etanol bebas air dan eter : campuran 1+1 dari pelarut-pelarut ini melarutkan barium nitrat
anhidrat atau barium klorida (perbedaan dari strontium dan kalsium). Garam-garam ini harus
dipanaskan 180oC sebelum pengujian, untuk menghilangkan semua air kristal. Uji ini bisa
dipakai untuk memisahkan barium dari strontium dan atau kalsium.

Strontium (Sr)

Strontium adalah logam putih-perak, yang dapat ditempa dan liat. Strontium lebur pada
771oC. Sifat-sifatnya serupa dengan sifat-sifat barium.
1.

Larutan amonia : tak ada endapan.

2.

Larutan amonium karbonat: endapan putih strontium karbonat :

Sr2+ + CO32- SrCO3

Strontium karbonat agak kurang larut dibanding barium karbonat; lain daripada ini; ciri-ciri
khasnya (kelarutan yang sedikit dalam garam-garam amonium terurai oleh asam), adalah
serupa dengan ciri-ciri khas barium karbonat.
3.

Asam sulfat encer : endapan putih strontium sulfat :

Sr2+ + SO42- SrSO4


Kelarutan endapan tak dapat diabaikan (0,097 gr/L, Ks = 2,8 x 10-7). Endapan tak larut
dalam larutan amonium sulfat bahkan dengan mendidihkan sekalipun (perbedaan dari
kalsium), dan larut sedikit dalam asam klorida mendididh. Ia hampir sempurna diubah
menjadi karbonat yang bersangkutan, dengan mendidihkan larutan karbonat pekat:
SrSO4 + CO32- SrCO3 + SO42Strontium karbonat kurang larut dibanding strontium sulfat (kelarutan 5,9 mg SrCO3 L-1; Ks =
1,6 x 10-9 pada suhu ruang)
Setelah menyaring larutan, endapan dapat dilarutkan dalam asam klorida, jadi ion-ion
strontium dapat dipindahkan ke dalam larutan itu.
4. Larutan kalsium sulfat jenuh : endapan putih strontium sulfat, terbentuk dengan lambatlambat dalam keadaan dingin, tetapi lebih cepat dengan mendidihkan (perbedaan dengan
barium)
5.

Larutan amonium oksalat : endapan putih strontium oksalat

Sr2+ + (COOH)22- Sr(COO)2


Endapan hanya sedikit sekali larut dalam air (0,039 gr/L, Ks = 5 x 10-8). Asam asetat tak
menyerangnya; namun asam-asam mineral melarutkan endapan.
6.

Larutan kalium kromat: endapan kuning strontium kromat

Sr2+ + CrO42- SrCrO4


Endapan larut agak banyak dalam air (1,2 gr/L, Ks = 3,5 x 10-5), maka tak terjadi endapan
dalam larutan strontium yang encer. Endapan larut dalam asam asetat (perbedaan dari
barium) dan dalam asam-asam mineral, oleh sebab-sebab yang sama, seperti yang diuraikan
pada barium.
7.

Reagensia natrium rhodizonat

8.
Etanol bebas air dan ete : campuran 1+1 dari pelarut-pelarut ini, tidak melarutkan
strontium nitrat anhidrat, tetapi melarutkan strontium klorida anhidrat. Uji dapat dipakai
untuk pemisahan kalsium, strontium, dan barium.
Uji ini dapat dilakukan sebagai berikut: endapkan strontium sebagai karbonat. Saring
endapan, larutkan satu bagian darinya dalam asam klorida, dan satu bagian lain dalam asam

nitrat. Uapkan kedua larutan di atas kaca arloji sendiri-sendiri sampai kering, panaskan residu
sampai 180oC selama 30 menit, dan coba larutkan residu dalam ml pelarut.

Kalsium (Ca)

Kalsium adalah logam putih perak, yang agak lunak. Yang melebur pada 845oC ia terserang
oleh oksigen atmosfer dan udara lembab, pada reaksi ini terbentuk kalsium oksida dan
kalsium hidroksida. Kalsium menguraikan air dengan membentuk kalsium hidroksida dan
hidrogen.
Kalsium membentuk kation kalsium (II), Ca2+, dalam larutan-larutan air. Garam-garamnya
biasanya berupa bubuk putih dan membentuk larutan yang tak bewarna, kecuali bila anionnya
berwarna. Kalsium klorida padat bersifat higroskopis dan sering digunakan sebagai zat
pengiring. Kalsium klorida dan kalsium nitrat larut dengan mudah dalam etanol atau dalam
campuran 1+1 dari etanol bebas-air dan dietil eter.
Reaksi-reaksi :
1.
Larutan amonia: tak ada endapan, karena kalsium hidroksida larut cukup banyak.
Dengan zat pengendap yang telah lama dibuat, mungkin timbul kekeruhan karena
terbentuknya kalsium karbonat.
2.

Larutan amonium karbonat : endapan amorf putih kalsium karbonat :

Ca2+ + CO32- CaCO3


Dengan mendidihkan, endapan menjadi berbentuk kristal. Endapan larut dalam air yang
mengandung asam karbonat berlebihan (misalnya, air soda yang baru dibuat), karena
pembentukan kalsium hidrogen karbonat yang larut :
CaCO3 + H2O + CO2 Ca2+ + 2HCO-3
Dengan mendidihkan, endapan muncul lagi karena karbondioksida keluar selama proses itu
sehingga reaksi berlangsung kearah kiri. Ion-ion barium dan sromtium bereaksi serupa.
Endapan larut dalam asam, bahkan dalam asam asetat :
CaCO3 + 2H+ Ca2+ + H2O + CO2
CaCO3 + 2CH3COOH Ca2++ H2O + CO2+ 2CH3COOKalsium karbonat larut sedikit dalam larutan garam-gaaram amonium dari asam kuat.
3.

Asam sulfat encer : endapan putih kalsium sulfat :

Ca2+ + SO42- CaSO4


CaSO4 larut cukup berarti dalam air (0,61 gram Ca2+, 2,06 gram CaSO4 atau 2,61 gram
CaSO4.2H2O l-1, Ks = 2,3 x 10-6) yaitu larut lebih banyak dari pada barium

Identifikasi Kation-Kation Golongan Sisa (V)


Kation-kation Golongan V (Mg2+, Na+, K+, dan NH4+) dapat diidentifikasi satu persatu tanpa
pemisahan pendahuluan. Proses identifikasinya adalah sebagai berikut :
b.

Identifikasi Kation Magnesium (Mg2+)

Residu dilarutkan dalam beberapa tetes HCl encer dan tambahkan 2-3 ml air. Kemudian bagi
menjadi dua bagian yang tidak sama.
Bagian yang lebih banyak.
Olah 1 ml larutan oksina 2 % dalam asetat 2M dengan 5 ml larutan ammonia 2M. Jika perlu
panaskan untuk melarutkan setiap oksina yang diendapkan. Tambahkan NH4Cl kepada
larutan uji, diikuti dengan reagensia oksina amoniakal yang telah dibuat. Kemudian panaskan
sampai mendidih selama 1-2 menit (bau NH3 harus terbedakan). Adanya endapan kuning
muda menandakan adanya Mg oksinat.
Bagian yang lebih sedikit.
Sekitar 3-4 tetes sampel tambahkan 2 tetes reagensia magneson diikuti dengan beberapa
tetes NaOH sampai basa. Adanya endapan biru memastikan adanya Mg. Uji ini bergantung
pada adsorpsi reagensia, yang merupakan suatu zat pewarna, diatas Mg(OH)2 dalam larutan
basa maka akan dihasilkan bahan pewarna biru.
Semua logam, kecuali logam-logam alkali tidak boleh ada. Garam ammonium mengurangi
kepekaan uji ini dengan mencegah pengendapan Mg(OH)2, dan karenanya harus dihilangkan
terlebih dahulu.
c.
Identifikasi Kation Natrium (Na+)a uranil magnesium asetat, kocok, dan diamkan
selama beberapa menit. Adanya endapan kristalin kuning menandakan Na ada.
Na+ + Mg2+ + 3U2 2+ + 9CH3COO - NaMg(UO2)3(CH3COO)9
Pengendapan yang paling baik untuk ion-ion natrium adalah pengendapan dengan uranil
magnesium atau zink asetat.
d.

Identifikasi Kation Kalium (K+)

Filtrat ditambahkan dengan sedikit larutan natrium heksanitritokobaltat (III) atau kira-kira 4
mg zat padatnya dan beberapa tetes asam asetat encer. Aduk-aduk, dan jika perlu diasamkan
selama 1-2 menit. Adanya endapan kuning K3[Co(NO2)6] menandakan adanya K.
3K+ + [Co(NO2)6]3- K3[Co(NO2)6]
Endapan tak larut dalam asam asetat encer. Jika ada natrium dalam jumlah yang lebih banyak
(atau jika reagensia ditambahkan berlebihan) terbentuk suatu garam campuran,

K2Na[Co(NO2)6]. Endapan terbentuk dengan segera dalam larutan-larutan pekat, dan lambat
dalam larutan encer, pengendapan dapat dipercepat dengan pemanasan.