Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam era globalisasi saat ini mobilitas penduduk untuk berpindah dari suatu
tempat ke tempat yang lain menjadi faktor yang sangat penting. Sebagai negara yang
dapat mengikuti perkembangan globalisasi sudah seharusnya fasilitas untuk mendukung
mobilitas tersebut dapat terpenuhi dengan baik. Fasilitas tersebut ialah berupa
transportasi umum. Perkembangan zaman yang pesat membuat permasalahan transportasi
makin kompleks seperti macet, lahan parkir yang kurang, dll. Di sini lah peran
pemerintah dalam mencari solusi dari permasalahn tersebut dengan cara menyediakan
transportasi masa yang memenuhi standar kelayakan, keamanan, dan kenyamanan.
PT KAI adalah perusahan satu-satunya milik pemerintah yang menyediakan jasa
transportasi kereta api. Sebagai penyedia jasa perkeretaapian Indonesia sudah seharusnya
PT KAI menyediakan fasilitas-fasilitas untuk mendukung kenyamanan dan keamanan
para pengguna jasanya. Melihat dari realita yang ada saat inihal-hal tersebut belum dapat
terealisasi. Masih banyak fasilitas-fasilitas penunjang yang belum ada, ada pula fasilitas
yang sudah ada tetapi tidak dilakukan perawatan sehingga saai ini sudah tidak layak
guna. Sistem pembelian tiket, keamanan, kenyamanan kendaraan, kebersihan kereta dan
stasiun masih harus diperbaiki tiap tahunnya. Namun pemerintah seolah tidak berkaca
dari pengalaman yang sudah-sudah sehingga masalah seperti itu terus terjadi tiap
tahunnya.
Latar belakang penulisan makalah ini adalah untuk menganalisa isu-isu
permasalahan kereta api di Indonesia khususnya masalah pelayanan baik pelayanan di
stasiun itu sendiri dan di dalam kreta apinya. Selain itu makala ini juga untuk memenuhi
tugas mata kuliah Teknik Informasi yang nantinya sebagai rujukan untuk pembuatan
poster dan film dalam tugas Teknik Informasi selanjutnya.

1.2 Tujuan
Program Studi Lanjut Jenjang D-IV Teknik Sipil
FTSP ITS Surabaya

Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui pelayanan yang


diberikan oleh PT KAI sebagai pihak yang menaungi perkeretaapian di Indonesia sudah
memenuhi standar kelayakan atau belum.
1.3 Rumusan masalah
1. Bagaimana keadaan perkeretaapian di Indonesia ?
2. Apa saja bentuk pelayanan kereta api ?
3. Apakah pelayanan kereta api di Indonesia sudah memenuhi standar kelayakan ?
4. Apakah solisi yang dapat diberikan dari masalah pelayanan Kereta Api di Indonesia ?

selanjutnya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kereta Api di Indonesia
Program Studi Lanjut Jenjang D-IV Teknik Sipil
FTSP ITS Surabaya

Kereta api adalah sarana transportasi berupa kendaraan dengan tenaga gerak, baik
berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya, yang akan ataupun
sedang bergerak di rel. Kereta api merupakan alat transportasi masal yang umumnya
terdiri dari lokomotif (kendaraan dengan tenaga gerak yang berjalan sendiri) dan
rangkaian kereta atau gerbong (dirangkaikan dengan kendaraan lainnya). Rangkaian
kereta atau gerbong tersebut berukuran relatif luas sehingga mampu memuat penumpang
maupun barang dalam skala besar. Karena sifatnya sebagai angkutan massal efektif,
beberapa negara berusaha memanfaatkannya secara maksimal sebagai alat transportasi
utama angkutan darat baik di dalam kota, antarkota, maupun antarnegara. Kereta Api juga
merupakan kendaraan yang cukup banyak diminati oleh masyarakat umum selain karena
dapat mengangkut penumpang dalam skala besar, kereta api juga terjangkau dari segi
harga tiket dan praktis sehingga banyak masyarakat yang menggunakan alat transportasi
ini.
.
A. Sejarah Kereta Api Indonesia
Sejarah perkeretaapian di Indonesia diawali dengan pencangkulan pertama
pembangunan jalan kereta api di desa Kemijen, Jumat tanggal 17 Juni 1864, oleh
Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele. Pembangunan
diprakarsai

oleh

Naamlooze

Venootschap

Nederlandsch

Indische

Spoorweg

Maatschappij (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju
desa Tanggung (26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka untuk
angkutan umum pada hari Sabtu, 10 Agustus 1867. Keberhasilan swasta, NV. NISM
membangun jalan KA antara Samarang-Tanggung, yang kemudian pada tanggal 10
Februari 1870 dapat menghubungkan kota Semarang - Surakarta (110 Km), akhirnya
mendorong minat investor untuk membangun jalan KA di daerah lainnya.
Tidak mengherankan, kalau pertumbuhan panjang jalan rel antara 1864 - 1900
tumbuh dengan pesat. Kalau tahun 1867 baru 25 km, tahun 1870 menjadi 110 km, tahun
1880 mencapai 405 km, tahun 1890 menjadi 1.427 km dan pada tahun 1900 menjadi
3.338 km. Setelah itu Indonesia memasuki pendudukan Jepang, kereta api mengalami
perkembangan pesat. Sampai dengan tahun 1939, panjang jalan KA di Indonesia
mencapai 6.811 km. Tetapi, pada tahun 1950 panjangnya berkurang menjadi 5.910 km,
Program Studi Lanjut Jenjang D-IV Teknik Sipil
FTSP ITS Surabaya

kurang lebih 901 km raib, yang diperkirakan karena dibongkar semasa pendudukan
Jepang dan diangkut ke Burma untuk pembangunan jalan KA di sana.
Jenis jalan rel KA di Indonesia dibedakan dengan lebar sepur 1.067 mm; 750 mm
(di Aceh) dan 600 mm di beberapa lintas cabang dan tram kota. Jalan rel yang dibongkar
semasa pendudukan Jepang (1942 - 1943) sepanjang 473 km, sedangkan jalan KA yang
dibangun semasa pendudukan Jepang adalah 83 km antara Bayah - Cikara dan 220 km
antara Muaro - Pekanbaru. Ironisnya, dengan teknologi yang seadanya, jalan KA Muaro Pekanbaru

diprogramkan

selesai

pembangunannya

selama

15

bulan

yang

memperkerjakan 27.500 orang, 25.000 diantaranya adalah Romusha. Jalan yang melintasi
rawa-rawa, perbukitan, serta sungai yang deras arusnya ini, banyak menelan korban yang
makamnya bertebaran sepanjang Muaro - Pekanbaru.Setelah kemerdekaan Indonesia
diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, karyawan KA yang tergabung dalam
"Angkatan Moeda Kereta Api" (AMKA) mengambil alih kekuasaan perkeretaapian dari
pihak Jepang. Peristiwa bersejarah yang terjadi pada tanggal 28 September 1945,
pembacaan pernyataan sikap oleh Ismangil dan sejumlah anggota AMKA lainnya,
menegaskan bahwa mulai tanggal 28 September 1945 kekuasaan perkeretaapian berada
ditangan bangsa Indonesia. Orang Jepang tidak diperkenankan lagi campur tangan
dengan urusan perkeretaapian di Indonesia.
Inilah yang melandasi ditetapkannya 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api
di Indonesia, serta dibentuknya "Djawatan Kereta Api Republik Indonesia" (DKARI).
Lalu Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) menerima lokomotif baru kelas CC201 dari
General Electric Amerika Serikat. CC201 merupakan keluarga lokomotif diesel tersukses
di Indonesia dengan jumlah lebih dari 140 unit. Seiring perkembangan waktu, kereta api
menjadi pesat hingga pada tahun 1981 industri Kereta Api (INKA) pabrik kereta api
Indonesia didirikan di Madiun. Unit kereta api terus ditambah hingga PJKA membeli
lokomotif CC202 yang merupakan lokomotif terkuat di Indonesia dari General Motor
Diesel Division, Ontario Canada. Lokomotif ini digunakan di Sumatera Selatan untuk
menarik kereta batubara rangkaian panjang (babaranjang) dari Muara Enim. Selama
bertahun-tahun, industri kereta api telah berkembang pesat. Pada tahun 1999 atau
tepatnya 1 Juni 1999 pemerintah melalui BUMN mendirikan PT Kereta Api ( PT KA)

Program Studi Lanjut Jenjang D-IV Teknik Sipil


FTSP ITS Surabaya

resmi dibentuk menggantikan Perumka sebagai perusahaan industri dan pengelolaan


perkeretaapian Indonesia.
B. Kondisi Kereta Api Indonesia
Kereta api merupakan salah satu transportasi massal , tujuan adanya kereta api
adalah untuk memperlancar perpindahan orang atau barang secara massal. Dengan
demikian, fungsi perkeretaapian untuk pelayanan umum kepada masyarakat. Akan tetapi
masih banyak permasalahan ataupun tantangan yang masih dihadapi perkeretaapaian.
Keseimbangan dalam kepentingan umum, berarti pelayanan tidak hanya memperhatikan
kepentingan komersial, ataupun hanya melayani sebagian golongan masyarakat tertentu
saja, tetapi juga bagi pelayanan umum dan semua golongan masyarakat. Ada 4 pilar
utama perkretaapian yaitu : keselamatan, ketepatan waktu, pelayanan dan kenyamanan.
Ada beberapa produk-nya :
1. Kereta Api (KA) Penumpang, yang terbagi menjadi 3 kelas ( Eksekutif, Bisnis dan
Ekonomi).
2. Kereta Wisata, untuk menunjang kepariwisataan, PT. Kereta Api (Persero)
memberikan pelayanan carter kereta khusus wisata juga berbagai keperluan seperti :
rapat, pesta pernikahan, ulang tahun, dsb di atas Kereta Api menuju berbagai kota
tujuan.
3. Kereta Barang, Kereta api khusus yang disesuaikan dengan spesifikasi produk, yang
mana PT. Kereta Api (Persero) memiliki gerbong yang digunakan untuk batu bara,
pulp, Crude Pal oil, BBM, Peti Kemas, Parcel BHP, Over Night Service, Semen.
4. Pengusahaan Aset , Disamping Angkutan Penumpang dan Angkutan Barang, PT.
Kereta Api (Persero) juga memberdayakan aset non produksi untuk dikomersialkan ke
pihak eksternal. Beberapa produk persewaan aset non produksi.
Di Jawa terdapat tiga lintas pelayanan utama, yaitu: Jakarta-Bandung, JakartaSemarang-Surabaya (disebut lintas utara), dan Jakarta-Yogyakarta-Surabaya (disebut
lintas selatan). Sementara di Sumatera terdapat tiga sub-jaringan KA yang terpisah satu
sama lain yakni: sub-jaringan Sumatera bagian Utara, sub-jaringan Sumatera bagian
Barat, dan sub-jaringan Sumatera bagian Selatan.

Program Studi Lanjut Jenjang D-IV Teknik Sipil


FTSP ITS Surabaya

Kondisi Kereta Api Indonesia ini mengalami suatu siklus penurunan. Walaupun
beberapa lokomotif kereta sudah dikatakan modern, tapi sistem manajerisasi kereta api
masih sangat buruk. Ini terlihat dari pengelolaan kereta api yang tidak maksimal. Ada
banyak lokomotiv yang tidak terawat, gerbong kereta yang begitu kotor dan tidak layak
pakai, hingga kondisi rel yang memprihatinkan. Pelayanan publik juga masih kurang
professional, ini terlihat dari ketidakmampuan PT. KAI mengatasi pembludakan
penumpang yang terjadi setiap harinya. PT. KAI belum mampu menjadi fasilisator bagi
masyarakat dalam transportasi umum. Seharusnya PT. KAI harus menemukan solusi
terhadap pembludakan itu yang bisa berakibat kecelakaan atau kematian, jika muatan
kereta api yang melebihi batas normal hingga banyaknya penumpang yang naik di atap
Kereta Api. Bagaimanapun perkeretaapian di Indonesia masih harus dikembangkan di
masa-masa mendatang, baik untuk angkutan jarak jauh maupun di tingkat lokal. Namun
demikian yang menjadi permasalahan yang cukup mengganggu perkeretaapian saat ini
adalah tingginya tingkat kecelakaan.
Cukup tingginya korban jiwa dan kerugian sosial ekonomi akibat kecelakaan KA
telah menyebabkan citra pelayanan dan manajemen perkeretaapian menurun. Kinerja
keselamatan semakin menjadi tuntutan dan perhatian sehingga perlu segera ditingkatkan.
Penyebab tingginya kecelakaan kereta api merupakan akumulasi dari banyak faktor,
diantaranya masalah regulasi, manajemen, kondisi prasarana & sarana. Sarana kereta api
meliputi lokomotif, kereta, gerbong, KRL, dan KRD. Prasarana jalan rel yang ada saat ini
pada umumnya masih jalur tunggal. Jalur ganda baru tersedia di jalur Jakarta-Cikampek,
Jakarta-Bogor, Padalarang-Bandung, dan Surabaya kota-Wonokromo. Jalur rel yang ada
memiliki beban gandar antara 9 s.d. 18 ton yang mampu mendukung kecepatan kereta api
antara 60-110 km/jam. Panjang rel di Jawa yang masih dioperasikan sepanjang 3.216 km
dan di Sumatera sepanjang 1.348 km. Sebagian dari jalur tersebut kondisinya sudah
kurang layak operasi sehingga sangat rawan terhadap kecelakaan. Dalam rangka
menekan angka kecelakaan kereta api, masalah faktor keselamatan KA pada prioritas
tertinggi, dengan menetapkan peningkatan keselamatan ada empat strategi sebagai
berikut:
1. Mengurangi frekuensi kecelakaan KA dengan mempertahankan kualitas prasarana dan
sarana, serta kualitas SDM terkait.
Program Studi Lanjut Jenjang D-IV Teknik Sipil
FTSP ITS Surabaya

2. Penertiban penumpang di atas atap KA melalui law enforcement dan sterilisasi stasiun.
3. Penerapan No Go Item secara tegas.
4. Sosialisasi budaya keselamatan.
Apabila strategi untuk menekan tingkat kecelakaan hanya bersifat normatif
sebagaimana telah dilakukan sebelumnya yang tidak mencerminkan sense of crisis, maka
upaya-upaya untuk menekan tingkat kecelakaan tidak akan efektif.
2.2 Pelayanan Kereta Api di Indonesia
Pelayanan adalah hal yang sangat menentukan kenyamanan masyarakat yang
akan memepengaruhi minat masyarakat untuk memilih alat transportasi umum yang akan
digunakan. Apabila pelayan yang diberikan buruk maka akan memperkecil minat
masyarakat untuk menggunakan alat transportasi tersebut. sementara jika pelayanan yang
diberikan bagus, maka akan meningkatkan minat masyrakat.
Khususnya pada bidang perkeratapian di Indonesia, pelayanan yang diberikan
banyak berhubungan dengan dua aspek, yakni pelayanan intra(dalam) dan pelayanan
ekstra(luar) kereta. Walaupun berbeda, namun kedua hal ini saling terkait dalam
peningkatan kenyamanan untuk pengguna kereta api. Jika hanya salah satu dari aspek ini
yang terlihat baik, maka sudah dapat dipastikan tingkat kenyamanan dan kepuasan
pengguna jasa kereta api di Indonesia tetap akan rendah.
Setiap periodenya, pengelola jasa layanan kereta api di Indonesia terus berbenah
dan meningkatkan pelayanannya. Salah satu cara yang telah dilakukan oleh PT. KAI
adalah dengan menyediakan jasa pemesanan tiket menggunakan sistem online. Cara ini
digunakan agar masyrakat tidak perlu lagi menghabiskan waktu untuk mengantri berjamjam hanya untuk mendapatkan tiket. Selain itu bentuk pembenahan lain yang dilakukan
oleh PT. KAI adalah dengan membuka kelas baru, yaitu kelas ekonomi AC. Kelas ini
memng salah satu terobosan yang sangat ampuh untuk meningkatkan minat masayarakat
untuk menggunakan jasa PT. KAI.
Walaupun begitu masih banyak hal yang menurut masyarakat harus diperbaiki.
Mulai dari sistem pelayanan tiket. Walaupun sudah menggunakan sistem pelayanan
online, namun masyarakat masih merasa kurang puas. Karena memang masih minimnya
jumlah tiket yang diberikan kepada masyarakat. Ini dapat dilihat dari fakta di lapangan.
Masih banyak penumpang yang terlantar karena masih kurangnya pengetahuan
masyarakat tentang sistem online ini.
Program Studi Lanjut Jenjang D-IV Teknik Sipil
FTSP ITS Surabaya

Jika pelayanan yang diberikan oleh PT. KAI telah dapat melayani masyarakat
hingga memberikan kepuasan sesuai dengan apa yang diharapkan, disaat itulah pelayanan
yang diberikan bisa dikatakan memuaskan.
2.3 Pelayanan Eksternal Kereta Api
Salah satu fasilitas yang disediakan berkaitan dengan perkereta apian adalah
stasiun kereta untuk tempat naik dan turunnya penumpang. Menurut UU No. 23
Perkeretaapian stasiun kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berfungsi
sebagai tempat kereta api berangkat atau berhenti untuk melayani :
1. Naik turun penumpang
2. Bongkar muat barang; dan / atau
3. Keperluan operasi kereta api
Pasal 133 Ayat (1) UU No. 23/2007 menyebutkan dalam penyelenggaraan
pengangkutan orang dengan kereta api, penyelenggara sarana perkeretaapian wajib
mengutamakan keselamatan dan keamanan orang, pelayanan kepentingan umum, sampai
mematuhi jadwal keberangkatan kereta api. Dalam Pasal 137 UU yang sama
menyebutkan pelayanan angkutan orang dengan kereta api harus memenuhi standar
pelayanan minimum mulai dari pelayanan di stasiun keberangkatan, dalam perjalanan,
hingga sampai di stasiun tujuan. Namun dalam implementasinya, masih banyak keluhan
dari konsumen mengenai SPM KRL. (Yudi,2012).
Untuk situasi perkeretaapian di Indonesia yang baru-baru ini mengalami
kemunduran, pelayananan dan sarana prasarana pun turut menurun kualitasnya. Mulai
dari pelayanan jual beli tiket, keamanan, kenyamanan, ketertiban dan sikap dari petugas
stasiun. Menurunnya pelayanan di stasiun dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain
kurangnya kedisiplinan baik petugas maupun penumpang, faktor alam atau bencana, dan
perilaku perorangan yang ada di stasiun tersebut. Keamanan yang harus diperhatikan di
dalam stasiun meliputi keamanan terhadap kriminalitas yang mengancam harta benda.
Hal ini mengingat bahwa di dalam keramaian penumpang di dalam stasiun terdapat para
pencuri ulung yang mengancam harta benda penumpang. Selain faktor kriminalitas,
bentuk dan luas peron turut menjadi faktor penyumbang turunnya tingkat keamanan di

Program Studi Lanjut Jenjang D-IV Teknik Sipil


FTSP ITS Surabaya

stasiun. Luas peron yang kurang memadai menyebabkan penumpang dan pedagang
asongan berdesakan saat menunggu datangnya kereta.
Semarang, Sabtu (23/2/2013). Berdasarkan pantauan, banjir akibat hujan deras
yang mengguyur Kota Semarang sejak Jumat (22/2/2013) malam, telah menggenangi
Stasiun Tawang dengan ketinggian sekitar 40 sentimeter, termasuk di ruang tunggu
penumpang. Bahkan, kursi di ruang tunggu Stasiun Tawang Semarang juga tergenang,
meski beberapa penumpang tetap terlihat nekat menerobos genangan banjir menunggu di
perlintasan KA stasiun yang sudah ditinggikan. (TribunJogja.com)
Contoh berita diatas adalah menurunnya pelayanan akibat dari faktor alam. Hal ini
menyebabkan aktivitas dan kenyamanan penumpang menjadi terganggu serta
mengakibatkan menurunnya kepuasan pelanggan atas situasi yang ada. Tidak hanya
masalah bencana yang menyebabkan pelayanan perkeretaapian menjadi terpuruk. Berikut
adalah ungkapan dari seseorang yang merasa kurang puas dengan pelayanan kereta di
salah satu stasiun di Indonesia.
Rabu, 2 Januari 2013, saya melakukan cancel tiket kereta Rajawali PP tujuan
Semarang-Surabaya melalui CS di Stasiun Gubeng. Namun sayangnya pelayanannya
sungguh tidak ramah. Petugas yang melayani saya pada waktu itu berkawat gigi dan
masih berumur sekitar 20 tahunan. Sebagai front liner, petugas dimaksud sungguh tidak
ramah. Beberapa pertanyaan yang saya lontarkan terkait mekanisme pengembalian tiket,
dijawab

dengan

ketus

dan

wajah

tidak

bersahabat.

Yang membuat kesalnya lagi, ketika saya hitung ulang uang retur yang diberikan,
jumlahnya ada yang kurang. Saat saya minta konfirmasi, justru si petugas malah menutup
tirai dengan wajah judes. (Winona Almira, tribunnews.com, 2013)
Dari pernyataan salah satu penumpang kereta api di atas menunjukan bahwa
pelayanan perkeretaapian di Indonesia memang belum memuaskan. Sebagai petugas
stasiun, bukankah seharusnya dapat memberikan pelayanan yang baik dan ramah. Karena
dengan adanya pelayanan yang menyenangkan, ramah dan jelas maka dengan sendirinya
akan meningkatkan kepuasan pelanggan atas kinerja petugas di stasiun. Apabila
pelanggan telah beranggapan bahwa pelayanan di suatu stasiun tertentu maka, akan
banyak pelanggan lainnya yang tetap menggunakan kereta api sebagai alat transportasi
mereka. Maka perkeretaapian tidak akan kehilangan pamornya. Pada intinya, untuk
Program Studi Lanjut Jenjang D-IV Teknik Sipil
FTSP ITS Surabaya

mengembalikaan keadaan perkeretaapian di Indonesia yang mulai terpuruk, Perusahaan


PT KAI hendaknya memperbaiki segala fasilitas yang menunjang perkeretapian baik
fasilitas dalam gerbong kereta maupun fasilitas luar seperti stasiun, tiketing dan kinerja
petugas.
2.4

Pelayanan Internal Kereta Api


Pencerminan baik buruknya kualitas pelayanan dapat di lihat dari fasilitas di
dalam kereta. Meskipun kereta memiliki kelasnya masing-masing (ekonomi, bisnis,
eksekutif) namun ketiga kelas tersebut haruslah sama-sama memenuhi standar
kenyamanan dan kepuasan dari penumpang. Terutama keretaapi yang memiliki jarak
tempuh jauh. Kenyamanannya harus lebih diperhatikan dibandingkan dengan kereta api
yang berjarak tempuh dekat. Berikut berapa hal yang perlu diperhatikan untuk
memperbaiki kualitas pelayan kereta api:
1. Bantal dan Selimut
Fasilitas seperti selimut dan bantal seharusnya merupakan fasilitas yang secara
free diberikan dari pihak kereta api untuk para penumpang. Sebab untuk penumpang
yang harus melakukan perjalanan jauh fasilitas seperti ini sangat dibutuhkan. Namun
kenyataannya untuk beberapa kelas kereta seperti kelas Ekonomi (AC dan non-AC)
dan bisnis masih menerapkan sistem sewa untuk bantal dan selimutnya. Hanya kereta
dengan kelas Eksekutif yang mendapatkan fasilitas bantal dan selimut secara free.

2. Makanan
Beberapa tahun yang lalu Kereta Api kelas eksekutif masih menyediakan
fasilitas makan bagi para penumpangnya. Kini fasilitas tersebut sudah tidak berlaku
lagi. Para penumpang yang ingin makan mau tidak mau harus membeli makanan di
tempat restorasi yang harganya cukup mahal. Sangat disayangkan mengingat tarif dari
kereta eksekutif itu sendiri tidak mengalami penurunan (bahkan cenderung naik) tetapi
fasilitasnya mengalami penurunan.
3. Toilet

Program Studi Lanjut Jenjang D-IV Teknik Sipil


FTSP ITS Surabaya

Jika dibanding kereta api level eksekutif, toilet kereta api level bisnis dan
ekonomi memang cukup miris. Selain karena kebersihannya yang kurang terjaga
terkadang toilet tersebut dijadikan tempat istirahat bagi orang-orang yang tidak
kebagian tempat duduk. Sehingga terkadang sulit jika ada penumpang lain yang ingin
menggunakan toilet tersebut.
4. PedagangAsongan
Jika menaiki kereta Ekonomi, di sepanjang perjalanan akan terdengar suara
banyak pedagang asongan yang lalu lalang menjajakan barang dagangan mereka. Hingga
malam pun suara para pedagang asongan yang sedang berjualan tersebut masih dapat
terdengar hingga mengganggu penumpang yang sedang beristirahat. Banyaknya
pedagang asongan yang masuk ke gerbong kereta tersebut karena mudahnya akses
mereka untuk masuk kedalam gerbong.Berbeda dengan kereta api kelas Ekonomi, pada
kereta api kelas bisnis pedagang asongan hanya boleh lalu lalangdan beriklan pada saat
kereta api berhenti saja. Sedangkan pada kelas Eksekutif, pedagang asongan hanya boleh
beriklan tanpa lalu lalang dan hanya dipersilahkan saat kereta berhenti. Seharusnya
sistem yang diterapkan dikereta api kelas eksekutif itu juga diberlakukan pada kereta api
kelas ekonomi dan bisnis

2.5 Solusi Permasalahan Kereta Api di Indonesia


Mengangkat masalah masalah yang tersebut diatas merupakan hal yang berasal
dari masalah sepele sampai ke masalah yang memerlukan penanganan yang lebih lanjut.
Masalah yang dituntaskan secara bertahap dengan prioritaskan yang mendesak. Solusi
yang mungkin segera di lakukan adalah, peremajaan umur kereta api dengan penanganan
teknisi yang mendetail ke seluruh kereta api, mulai dari badan kereta, mesin, sampai
fasilitas penunjang di dalam kereta api tersebut. Sistem rute jalur yang digunakan
menjadi factor penting dalam perbaikan. Dengan keadaan rel yang masih kokoh dan
Program Studi Lanjut Jenjang D-IV Teknik Sipil
FTSP ITS Surabaya

berumur panjang, akan mengurangi ancaman kecelakaan. Di lain hal diatas, perbanyakan
armada kereta api dengan rute yang sama akan memudahkan dalam pengendalian sistem
keberangkatan dan kedatangan tanpa harus menunggu lama. Stasiun yang kurang layak
guna juga dapat menjadi masalah yang penting. Di sisi lain masalah alam yang bisa saja
datang secara tiba-tiba walaupun sudah diprediksi juga menjadi masalah yang sulit untuk
ditangani, hanya saja dapat diantisipasinya.
Pemerintah dengan penganggaran yang lebih, diutamakan untuk perbaikan sarana
dan prasarana kereta api karena kereta api dapat menjadi salah satu alternative solusi
kemacetan di kota-kota besar. Dengan perhatian yang lebih ke kereta api, akan
memunculkan surplus untuk pemerintah, jika banyak orang-orang yang lebih memilih
menggunakan kereta api untuk mobilitas.Parahnya lagi jika memasuki suasana lebaran
yang

penumpangnya

lebih

banyak

memilih

menggunakan

kereta

harusnya

kenyamanannya lebih ditingkatkan.


Permasalahan yang menjadi orang-orang enggan atau kurang minat menggunakan
jasa kereta api adalah fasilitas pendukung dalam kereta api. Mereka menganggap kalau
fasilitas yang mereka dapatkan kurang dapat membuat nyaman selama perjalanan.
Penyedia fasilitas dengan harusnya lebih menjaga agar tetap baik dan membuat nyaman.
Kebersihan merupakan salah satu alasan ketidaknyamanan dalam kereta. Beda kelas,
beda pula perlakuan fasilitas kebersihannya, seharusnya walaupun beda tetap memenuhi
standar yang ada. Sebagai contoh ada kereta yang benyak sampah yang berceceran tanpa
ada yang membersihkan. Ketertiban dalam kereta api juga seharusnya dijaga, tidak hanya
penjaga kereta, penumpangpun juga begitu. Pedagan asongan bila perlu dilarang masuk
kalau sampai mejadi pengganggu ketertiban di dalam kereta.
BAB III
KESIMPULAN
Pelayanan kereta api indonesia masih belum bisa dikatakan baik. Masih banyak
hal yang perlu di benahi oleh PT. KAI sebagai pengelola Kereta Api Indonesia.
Meskipun kereta memiliki kelasnya masing-masing (ekonomi, bisnis, eksekutif) namun
ketiga kelas tersebut haruslah sama-sama memenuhi standar kenyamanan dan kepuasan
dari penumpang. Terutama pada kereta api yang memiliki jarak tempuh jauh,
kenyamanannya harus lebih diperhatikan dibandingkan dengan kereta api yang berjarak
tempuh dekat. Pada intinya, untuk mengembalikaan keadaan perkeretaapian di Indonesia
Program Studi Lanjut Jenjang D-IV Teknik Sipil
FTSP ITS Surabaya

yang mulai terpuruk, Perusahaan PT KAI hendaknya memperbaiki segala fasilitas yang
menunjang perkeretapian baik fasilitas dalam gerbong kereta maupun fasilitas luar seperti
stasiun, tiketing dan kinerja petugas.

Daftar Pustaka
Almira, Winona.2013. Retur Tiket KA Stasiun Gubeg Mengecewakan dalam tribuna
news. http://surabaya.tribunnews.com/m/index.php/2013/01/19/retur-tiket-ka-di-stasiun-gubeng
mengecewakan. Diunduh Kamis, 28 Maret 2013.

Anonim.2012. perkeretaapian dalam blogspot. http://perkeretaapian.dephub.go.id/index.php?


option=com_docman&task=cat_view&gid=53&Itemid=77 (link download pdf). Diunduh
pada 29 Maret 2013.
Anonim. 2012. Pelayanan Masih Buruk KAI Belum Layak Naikan Tarif dalam beritasatu.com.
http://www.beritasatu.com/megapolitan/57988-pelayanan-masih-buruk-kai-belum-layaknaikan-tarif.html. diunduh pada 29 Maret 2013.
Anonim. 2013. Kualitas Pelayanan Publik Kereta Api dalam blogspot.com.
http://radityowisnu.blogspot.com/2011/09/kualitas-pelayanan-publik-kereta-api.html.
diunduh pada 30 Maret 2013.
Anonim. 2013. Layanan Buruk PT. KAI Disomasi dalam Gatra.com.
http://m.gatra.com/hukum/21398-layanan-buruk,-pt-kai-disomasi.html. Diunduh pada 29
Maret 2013
Program Studi Lanjut Jenjang D-IV Teknik Sipil
FTSP ITS Surabaya

Program Studi Lanjut Jenjang D-IV Teknik Sipil


FTSP ITS Surabaya

Anda mungkin juga menyukai