Anda di halaman 1dari 34

ASKEP DEFISIT PERAWATAN DIRI

DEFISIT PERAWATAN DIRIA. PengertianPerawatan diri adalah salah satu


kemampuan dasar manusiadalammemenuhi kebutuhannyaguna
memepertahankan kehidupannya,kesehatandan kesejahteraan sesuai dengan
kondisikesehatannya, klien dinyatakan terganggukeperawatandirinya jika tidak
dapat melakukan perawatandiri ( Depkes 2000). Defisit perawatandiri adalah
gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatandiri (mandi, berhias,
makan, toileting) (Nurjannah, 2004).Menurut Poter. Perry (2005), Personal
hygiene adalah suatu tindakan untuk memeliharakebersihan
dankesehatanseseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan
diriadalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan
kebersihan untuk dirinya (Tarwoto dan Wartonah 2000 ).B. JenisJenis Perawatan
Diri1. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihanKurang perawatan diri (mandi)
adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitasmandi/kebersihan diri.2.
Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias.Kurang perawatan diri
(mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan memakai pakaiandan
aktivitas berdandan sendiri.3. Kurang perawatan diri : MakanKurang perawatan
diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk menunjukkan
aktivitasmakan.4. Kurang perawatan diri : ToiletingKurang perawatan diri
(toileting) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan ataumenyelesaikan
aktivitas toileting sendiri (Nurjannah : 2004, 79 ).Sponsored Link C.Etiologi
Menurut Tarwoto dan Wartonah, (2000) Penyebab kurang perawatan diri adalah
sebagai berikut:1. Kelelahan fisik 2. Penurunan kesadaranMenurut Dep Kes
(2000: 20), penyebab kurang perawatan diri adalah :1. Faktor prediposisia.
PerkembanganKeluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga
perkembangan inisiatif terganggu. b. BiologisPenyakit kronis yang menyebabkan
klien tidak mampu melakukan perawatan diri.c. Kemampuan realitas turunKlien
dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang
menyebabkanketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.
d. SosialKurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri
lingkungannya. Situasi lingkunganmempengaruhi latihan
kemampuandalamperawatan diri.2. Faktor presipitasiYang merupakan faktor
presiptasi deficit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi,kerusakan
kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah yang dialami individu
sehinggamenyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan
diri.Menurut Depkes (2000: 59) Faktor faktor yang mempengaruhi personal
hygiene adalah:1. Body ImageGambaran individu terhadap dirinya sangat
mempengaruhi kebersihan diri misalnya denganadanya perubahan fisik sehingga
individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya.2. Praktik SosialPada anak
anak selalu dimanjadalamkebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi
perubahan pola personal hygiene.3. Status Sosial EkonomiPersonal hygiene
memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo,
alatmandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.4.
PengetahuanPengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan

yang baik dapat meningkatkankesehatan. Misalnya pada pasien


penderitadiabetes mellitusia harus menjaga kebersihan kakinya.5. BudayaDi
sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.6.
Kebiasaan seseorangAda kebiasaan orang yang menggunakan produk
tertentudalamperawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain
lain.7. Kondisi fisik atau psikisPada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk
merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.Dampak yang
sering timbul pada masalah personal hygiene.1. Dampak fisik Banyak gangguan
kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan
perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah : Gangguan
integritaskulit,gangguan membran mukosa mulut, infeksi padamatadan telinga
dan gangguan fisik pada kuku.2. Dampak psikososialMasalah sosial yang
berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan
rasanyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi
diri dan gangguaninteraksi sosial.D. Tanda dan GejalaMenurut Depkes (2000: 20)
Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah:a) Fisik Badan bau,
pakaian kotor.Rambut dankulitkotor.Kuku panjang dan kotor Gigi kotor disertai
mulut bau penampilan tidak rapi
b) PsikologisMalas, tidak ada inisiatif.Menarik diri, isolasi diri.Merasa tak berdaya,
rendah diri dan merasa hina.c) SosialInteraksi kurang.Kegiatan kurangTidak
mampu berperilaku sesuai norma.Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di
sembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri.Data yang biasa
ditemukandalamdeficit perawatan diri adalah :1. Data subyektif a. Pasien merasa
lemah b. Malas untuk beraktivitasc. Merasa tidak berdaya.2. Data obyektif a.
Rambut kotor, acak acakan b. Badan dan pakaian kotor dan bauc. Mulut dan
gigi bau.d.Kulitkusam dan kotor e. Kuku panjang dan tidak terawatE. Mekanisme
Kopinga. Regresi b. Penyangkalanc. Isolasi diri, menarik dirid. IntelektualisasiF.
Rentang Respon Kognitif Asuhan yang dapat dilakukan keluarga bagi klien yang
tidak dapat merawat diri sendiri adalah :1. Meningkatkan kesadaran dan
kepercayaan diria) Bina hubungan saling percaya. b) Bicarakan tentang
pentingnya kebersihan.c) Kuatkan kemampuan klien merawat diri.2.
Membimbing dan menolong klien merawat diri.a) Bantu klien merawat diri b)
Ajarkan ketrampilan secara bertahapc) Buatkan jadwal kegiatan setiap hari3.
Ciptakan lingkungan yang mendukunga. Sediakan perlengkapan yang diperlukan
untuk mandi. b. Dekatkan peralatan mandi biar mudah dijangkau oleh klien.c.
Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi klien misalnya, kamar mandi
yang dekatdan tertutup.G. Pohon MasalahPenurunan kemampuan dan motivasi
merawat diriIsolasi sosial
Defisit perawatan diri : mandi, toileting, makan, berhias.H.Diagnosa Keperawatan
Menurut Depkes (2000: 32) diagnosakeperawatanyang muncul pada pasien
defisit perawatandiri sesuai dengan bagan 1.1 yaitu:1. Penurunan kemampuan
dan motivasi merawat diri2. Defisit perawatan diri.3. Isolasi Sosial.I. Fokus
IntervensiDiagnosakeperawatan: penurunan kemampuan dan motivasi merawat
diri.Tujuan UmumKlien dapat meningkatkan minat dan motivasinya untuk
memperhatikan kebersihan diri.Tujuan KhususTUK I : Klien dapat membina
hubungan saling percaya dengan perawat.Kriteria evaluasiDalamberinteraksi

klien menunjukan tanda-tanda percaya pada perawat:a. Wajah cerah, tersenyum


b. Mau berkenalanc. Ada kontak mata d. Menerima kehadiran perawate. Bersedia
menceritakan perasaannyaIntervensia. Berikan salam setiap berinteraksi. b.
Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan.c.
Tanyakan nama dan panggilan kesukaan klien.d. Tunjukan sikap jujur dan
menepati janji setiap kali berinteraksi.e. Tanyakan perasaan dan masalah yang
dihadapi klien.f. Buat kontrak interaksi yang jelas.g. Dengarkan ungkapan
perasaan klien dengan empati.h. Penuhi kebutuhan dasar klien.TUK II : klien
dapat mengenal tentang pentingnya kebersihan diri.Kriteria evaluasiKlien dapat
menyebutkan kebersihan diri pada waktu 2 kali pertemuan, mampu
menyebutkankembali kebersihan untuk kesehatan seperti mencegah penyakit
dan klien dapat meningkatkancara merawat diri.Intervensia. Bina hubungan
saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik. b.
Diskusikan bersama klien pentingnya kebersihan diri dengan cara menjelaskan
pengertiantentang arti bersih dan tanda- tanda bersih.c. Dorong klien untuk
menyebutkan 3 dari 5 tanda kebersihan diri.d. Diskusikan fungsi kebersihan diri
dengan menggali pengetahuan klien terhadap hal yang berhubungan dengan
kebersihan diri.e. Bantu klien mengungkapkan arti kebersihan diri dan tujuan
memelihara kebersihan diri.f. Beri reinforcement positif setelah klien mampu
mengungkapkan arti kebersihan diri.g. Ingatkan klien untuk memelihara
kebersihan diri seperti: mandi 2 kali pagi dan sore, sikat gigi
minimal 2 kali sehari (sesudah makan dan sebelum tidur), keramas dan menyisir
rambut, guntingkuku jika panjang.TUK III : Klien dapat melakukan kebersihan diri
dengan bantuan perawat.Kriteria evaluasiKlien berusaha untuk memelihara
kebersihan diri seperti mandi pakai sabun dan disiram pakaiair sampai bersih,
mengganti pakaian bersih seharihari, dan merapikan penampilan.Intervensia.
Motivasi klien untuk mandi. b. Beri kesempatan untuk mandi, beri kesempatan
klien untuk mendemonstrasikan caramemelihara kebersihan diri yang benar.c.
Anjurkan klien untuk mengganti baju setiap hari.d. Kaji keinginan klien untuk
memotong kuku dan merapikan rambut.e. Kolaborasi dengan perawat ruangan
untuk pengelolaan fasilitas perawatan kebersihan diri,seperti mandi dan
kebersihan kamar mandi.f. Bekerjasama dengan keluarga untuk mengadakan
fasilitas kebersihan diri seperti odol, sikatgigi, shampoo, pakaian ganti, handuk
dan sandal.TUK IV : Klien dapat melakukan kebersihan perawatan diri secara
mandiri.Kriteria evaluasiSetelah satu minggu klien dapat melakukan perawatan
kebersihan diri secara rutin dan teratur tanpa anjuran, seperti mandi pagi dan
sore, ganti baju setiap hari, penampilan bersih dan rapi.IntervensiMonitor
kliendalammelakukan kebersihan diri secara teratur, ingatkan untuk mencuci
rambut,menyisir, gosok gigi, ganti baju dan pakai sandal.TUK V : Klien dapat
mempertahankan kebersihan diri secara mandiri.Kriteria evaluasiKlien selalu
tampak bersih dan rapi.IntervensiBeri reinforcement positif jika berhasil
melakukan kebersihan diri.TUK VI : Klien dapat dukungan
keluargadalammeningkatkan kebersihan diri.Kriteria evaluasiKeluarga selalu
mengingatkan halhal yang berhubungan dengan kebersihan diri,
keluargamenyiapkan sarana untuk membantu kliendalammenjaga kebersihan
diri, dan keluargamembantu dan membimbing kliendalammenjaga kebersihan

diri.Intervensia. Jelaskan pada keluarga tentang penyebab kurang minatnya klien


menjaga kebersihan diri. b. Diskusikan bersama keluarga tentang tindakanyang
telah dilakukan klien selama di RSdalam menjaga kebersihan dan kemajuan yang
telah dialami di RS.c. Anjurkan keluarga untuk memutuskan memberi stimulasi
terhadap kemajuan yang telahdialami di RS.d. Jelaskan pada keluarga tentang
manfaat sarana yang lengkapdalammenjaga kebersihan diriklien.e. Anjurkan
keluarga untuk menyiapkan saranadalammenjaga kebersihan diri.f. Diskusikan
bersama keluarga cara membantu kliendalammenjaga kebersihan diri.
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DEFISIT PERAWATAN DIRI
Pada pasien gangguan jiwa yang dirawat dalam keluarga sering mengalami
ketidakpedulianmerawat diri yang menyebabkan pasien dikucilkan dalam
keluarga maupun masyarakat.Materi ini akan membahas cara-cara merawat
pasien dengan kurang perawatan diri (tidak peduliterhadap perawatan diri) agar
pasien dan keluarga mempunyai kemampuan merawat pasien dirumah.A.
PengertianPerawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam
memenuhi kebutuhannyaguna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan
kesejahteraan sesuai dengan kondisikesehatannya, klien dinyatakan terganggu
keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000).
Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas
perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Nurjannah, 2004).Menurut
Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk
memeliharakebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan
psikis, kurang perawatan diriadalah kondisi dimana seseorang tidak mampu
melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya (Tarwoto dan Wartonah 2000 ).B.
JenisJenis Perawatan Diri
1. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihanKurang perawatan diri (mandi)
adalah gangguan kemampuan untuk melakukan
aktivitasmandi/kebersihan diri.2. Kurang perawatan diri : Mengenakan
pakaian / berhias.Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah
gangguan kemampuan memakai pakaiandan aktivitas berdandan
sendiri.3. Kurang perawatan diri : MakanKurang perawatan diri (makan)
adalah gangguan kemampuan untuk menunjukkan aktivitasmakan.4.
Kurang perawatan diri : ToiletingKurang perawatan diri (toileting) adalah
gangguan kemampuan untuk melakukan ataumenyelesaikan aktivitas
toileting sendiri (Nurjannah : 2004, 79 ).C. EtiologiMenurut Tarwoto dan
Wartonah, (2000) Penyebab kurang perawatan diri adalah sebagai
berikut:1. Kelelahan fisik 2. Penurunan kesadaranMenurut Dep Kes (2000:
20), penyebab kurang perawatan diri adalah :1. Faktor prediposisia.
PerkembanganKeluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien
sehingga perkembangan inisiatif terganggu. b. BiologisPenyakit kronis
yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri.c.
Kemampuan realitas turunKlien dengan gangguan jiwa dengan
kemampuan realitas yang kurang menyebabkanketidakpedulian dirinya
dan lingkungan termasuk perawatan diri.d. SosialKurang dukungan dan
latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya. Situasi

lingkunganmempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.2.


Faktor presipitasiYang merupakan faktor presiptasi deficit perawatan diri
adalah kurang penurunan motivasi,kerusakan kognisi atau perceptual,
cemas, lelah/lemah yang dialami individu sehinggamenyebabkan individu
kurang mampu melakukan perawatan diri.Menurut Depkes (2000: 59)
Faktor faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah:1. Body
ImageGambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi
kebersihan diri misalnya denganadanya perubahan fisik sehingga individu
tidak peduli dengan kebersihan dirinya.2. Praktik SosialPada anak anak
selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi
perubahan pola personal hygiene.3. Status Sosial EkonomiPersonal
hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi,
shampo, alatmandi yang semuanya memerlukan uang untuk
menyediakannya.4. Pengetahuan
2. Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang
baik dapat meningkatkankesehatan. Misalnya pada pasien penderita
diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihankakinya.5. BudayaDi
sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.6.
Kebiasaan seseorangAda kebiasaan orang yang menggunakan produk
tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain
lain.7. Kondisi fisik atau psikisPada keadaan tertentu / sakit kemampuan
untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk
melakukannya.Dampak yang sering timbul pada masalah personal
hygiene.1. Dampak fisik Banyak gangguan kesehatan yang diderita
seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan
baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah : Gangguan integritas
kulit,gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga
dan gangguan fisik pada kuku.2. Dampak psikososialMasalah sosial yang
berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan
rasanyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri,
aktualisasi diri dan gangguaninteraksi sosial.D. Tanda dan GejalaMenurut
Depkes (2000: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri
adalah:a) Fisik Badan bau, pakaian kotor.Rambut dan kulit kotor.Kuku
panjang dan kotor Gigi kotor disertai mulut bau penampilan tidak rapi b)
PsikologisMalas, tidak ada inisiatif.Menarik diri, isolasi diri.Merasa tak
berdaya, rendah diri dan merasa hina.c) SosialInteraksi kurang.Kegiatan
kurangTidak mampu berperilaku sesuai norma.Cara makan tidak teratur
BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu
mandiri.Data yang biasa ditemukan dalam deficit perawatan diri adalah :1.
Data subyektif a. Pasien merasa lemah b. Malas untuk beraktivitasc.
Merasa tidak berdaya.2. Data obyektif a. Rambut kotor, acak acakan
3. b. Badan dan pakaian kotor dan bauc. Mulut dan gigi bau.d. Kulit kusam
dan kotor e. Kuku panjang dan tidak terawatE. Mekanisme Kopinga.
Regresi b. Penyangkalanc. Isolasi diri, menarik dirid. IntelektualisasiF.
Rentang Respon Kognitif Asuhan yang dapat dilakukan keluarga bagi klien
yang tidak dapat merawat diri sendiri adalah :1. Meningkatkan kesadaran
dan kepercayaan diria) Bina hubungan saling percaya. b) Bicarakan

tentang pentingnya kebersihan.c) Kuatkan kemampuan klien merawat


diri.2. Membimbing dan menolong klien merawat diri.a) Bantu klien
merawat diri b) Ajarkan ketrampilan secara bertahapc) Buatkan jadwal
kegiatan setiap hari3. Ciptakan lingkungan yang mendukunga. Sediakan
perlengkapan yang diperlukan untuk mandi. b. Dekatkan peralatan mandi
biar mudah dijangkau oleh klien.c. Sediakan lingkungan yang aman dan
nyaman bagi klien misalnya, kamar mandi yang dekatdan tertutup.G.
Pohon MasalahPenurunan kemampuan dan motivasi merawat diriC.
Diagnosa KeperawatanBerdasarkan data yang didapat ditetapkan
diagnosa keperawatan :Kurang Perawatan Diri : Kebersihan diriBerdandan- Makan- BAB/BAK Latihan 1: Percakapan saat melakukan
pengkajian pada pasien dengan kurang perawatan diri :kebersihan
diriOrientasi :Selamat pagi Tina, bagaimana perasaannya hari ini ?
Bagaimana kalau saat ini kitamendiskusikan tentang kegiatan Tina seharihari 15 menit disini, bagaimana Tin?Kerja :
4.
5. c) Bercukur Untuk pasien wanita, latihannya meliputi :a) Berpakaian b)
Menyisir rambutc) BerhiasLatihan 3. Percakapan saat melatih pasien lakilaki berdandanOrientasiSelamat pagi Pak Tono?Bagaimana perasaan Bpk
hari ini? Bagaimana mandinya?Hari ini kita akan latihan berdandan, mau
dimana latihannya. Bagaimana kalau di ruang tamu ?lebih kurang
setengah jam.KerjaApa yang bapak lakukan setelah selesai mandi ?
Apakah bapak menyisir rambut ? Bagaimana cara bersisir ?Bagaimana
cara bapak memakai baju ? Berapa kali ganti baju dalam sehari ?Apakah
bapak suka bercukur ?Berapa hari sekali bercukur ?Untuk menyisir
rambut sebaiknya tiap selesai mandi bapak bersisir. Pakailah sisir yang
bersihdan tidak tajam. Coba bapak praktekkan ya, bagus!Tampaknya
kumis dan janggut bapak sudah panjang. Mari Pak dirapikan ! Ya, Bagus !
(catatan: janggut dirapihkan bila pasien tidak memelihara janggut)Untuk
berpakaian, pilihlah pakaian yang bersih dan kering. Berganti pakaian
yang sehat2x/hari. Sekarang coba bapak ganti baju.. Ya, bagus seperti itu
.TerminasiBagaimana perasaan bapak setelah berdandan.Coba pak,
sebutkan cara berdandan yang baik sekali lagi..Selanjutnya bapak setiap
hari setelah mandi berdandan dan pakai baju seperti tadi ya!Masukkan ke
jadwal ya?Minggu depan kita latihan makan yang baik. Kita akan makan
bersama. Saya akan datang jam12 siang.Latihan 4. Percakapan melatih
berdandan untuk pasien wanitaOrientasiSelamat pagi, bagaimana
perasaaan Tina hari ini ?Bagaimana mandinya?Sesuai janji kita hari ini
kita akan latihan berdandan supaya ibu tampak rapi dan cantik. Dimana
alat-alat dandannya?KerjaBagaimana cara Ibu berdandan ? Apakah
menyisir rambut ? Bagaimana cara ibu menyisir ?Bagus sekali!Apa
kebiasaan ibu dalam berdandan/berpakaian ?Apakah ibu biasa memakai
bedak ?
6.
7. Nah sekarang kita praktek ya mulai dengan ganti pakaian. Ya bagus.
Sekarang menyisir rambut.. ya.. Bagus sekali.., lanjutkan dengan merias
muka. Ya bagus. Ibu tampak cantik..Saya jelaskan bahwa ganti baju
sebaiknya 2x/hari kemudian menyisir rambut setelah mandi.Berbedak

dilakukan setelah mandi.Terminasi:Bagaimana perasaan Ibu setelah


belajar berdandan. Untuk berdandan caranya bagaimana ?Hari-hari
berikutnya saya berharap Ibu berdandan dengan baik. Mari masukkan
dalam jadwalnya ya!Minggu depan kita bertemu lagi untuk belajar cara
makan yang baik.3) Melatih pasien makan secara mandiriUntuk melatih
makan pasien Saudara dapat melakukan tahapan sebagai berikut:a)
Menjelaskan cara mempersiapkan makan b) Menjelaskan cara makan yang
tertibc) Menjelaskan cara merapihkan peralatan makan setelah makand)
Praktek makan sesuai dengan tahapan makan yang baik Latihan 5.
Percakapan melatih pasien makan secara mandiriOrientasiSelamat pagi
Tina? Bagaimana perasaannya hari ini ?Apakah berdandan sudah
dilakukan tiap hari ?Hari ini kita akan latihan bagaimana cara makan
yang baik. Kita latihan selama satu jamlangsung di ruang makan ya..!
KerjaBagaimana kebiasaan sebelum, saat, maupun setelah makan ?
Dimana Tina makan ?Sebelum makan kita harus cuci tangan memakai
sabun. Ya, mari kita praktekkan ! Bagus !Setelah itu kita duduk dan ambil
makanan. Sebelum disantap kita berdoa dulu. Silakan Tina yang pimpin !.
Bagus..Mari kita makan.. saat makan kita harus menyuap makanan satusatu dengan pelan-pelan. Ya,mari kita makan..Setelah makan kita
bereskan piring, gelas yang kotor. Ya betul.. dan kita akhiri dengan
cucitangan. Ya bagus!TerminasiBagaimana perasaan Tina setelah kita
makan bersama-sama.Setelah makan apa yang sebaiknya kita lakukan ?
Hari-hari berikutnya saya berharap Ibu Asih melakukan cara tadi dengan
baik. Dua hari lagisaya datang lagi untuk melihat hasil kegiatan Tina.
Sampai jumpa!4) Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara
mandiri
8.
9. Saudara dapat melatih pasien untuk BAB dan BAK mandiri sesuai tahapan
berikut:a) Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai b) Menjelaskan cara
membersihkan diri setelah BAB dan BAK c) Menjelaskan cara
membersihkan tempat BAB dan BAK Latihan 6. Percakapan mengajarkan
pasien melakukan BAB/BAK secara mandiriOrientasiSelamat pagi Tono ?
Bagaimana perasaan Tono hari ini ?Sesuai dengan janji kita, selama
setengah jam ini kita akan membicarakan tentang cara berak dan kencing
yang baik?KerjaDimana biasanya Tono berak dan kencing? Benar Tono,
berak atau kencing yang baik itu diWC/kakus, kamar mandi atau tempat
lain yang tertutup dan ada saluran pembuangan kotorannya.Jadi kita tidak
berak/kencing di sembarang tempat ya..Sekarang, coba Tono jelaskan
kepada saya bagaimana cara Tono cebok?Sudah bagus ya Tono Yang
perlu diingat saat Tono cebok adalah Tono membersihkan anus
ataukemaluan dengan air yang bersih dan pastikan tidak ada tinja/air
kencing yang masih tersisa ditubuh Tono.
10.2.
11.Tindakan keperawatan pada keluarga
12.a. Tujuan1) Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami
masalah kurang perawatan diri. b. Tindakan keperawatanUntuk memantau
kemampuan pasien dalam melakukan cara perawatan diri yang baik
makaSaudara harus melakukan tindakan kepada keluarga agar keluarga

dapat meneruskan melatih pasien dan mendukung agar kemampuan


pasien dalam perawatan dirinya meningkat.Serangkaian intervensi ini
dapat Saudara lakukan:1) Diskusikan dengan keluarga tentang fasilitas
kebersihan diri yangdibutuhkan oleh pasien untuk menjaga perawatan diri
pasien.2) Anjurkan keluarga untuk terlibat dalam merawat diri pasien
danmembantu mengingatkan pasien dalam merawat diri (sesuai
jadualyang telah disepakati).3) Anjurkan keluarga untuk memberikan
pujian atas keberhasilan pasien dalam merawat diri.

ASKEP DEFISIT PERAWATAN DIRI


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi
kesehatannya.
Defisit perawatan diri merupakan suatu kondisi pada seseorang yang mengalami
kelemahan kemampuan dalam melakukan/melewati aktivitas perawatan diri
secara mandiri.

B. Tujuan Penulisan
1. Untuk membahas tentang Defisit Perawatan Diri
2. Untuk Pengetahuan Dasar Praktek Lapangan
3. Untuk membahas Asuhan Keperawatan Jiwa dengan Defisit Perawatan Diri

C. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini menggunakan penulisan metode studi pustaka,
diskusi kelompok dan browsing internet.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi
kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan
kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu
keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri (Depkes 2000).

Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas


perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Nurjannah, 2004).
Menurut Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk
memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan
psikis, kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu
melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya (Tarwoto dan Wartonah 2000).
Defisit Perawatan Diri adalah Suatu kondisi pada seseorang yang mengalami
kelemahan kemampuan dalam melakukan/melewati aktivitas perawatan diri
secara mandiri.

B. Jenisjenis Perawatan Diri


1. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan
Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan
aktivitas mandi/kebersihan diri.
2. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias.
Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan
memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri.
3. Kurang perawatan diri : Makan
Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk
menunjukkan aktivitas makan.

4. Kurang perawatan diri : Toileting


Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan
atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri (Nurjannah : 2004, 79 ).

C. Etiologi
Menurut Tarwoto dan Wartonah, (2000) Penyebab kurang perawatan diri adalah
sebagai berikut :
1. Kelelahan fisik.
2. Penurunan kesadaran.
Menurut Depkes (2000: 20), penyebab kurang perawatan diri adalah:
1. Faktor prediposisi
a. Perkembangan

Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan


inisiatif terganggu.
b. Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan
diri.
c. Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang
menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.
d. Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya. Situasi
lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.

2. Faktor presipitasi
Yang merupakan faktor presiptasi deficit perawatan diri adalah kurang
penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah
yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu
melakukan perawatan diri.
Menurut Depkes (2000: 59) Faktor faktor yang mempengaruhi personal hygiene
adalah:
1. Body Image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri
misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan
kebersihan dirinya.
2. Praktik Sosial
Pada anakanak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan
terjadi perubahan pola personal hygiene.
3. Status Sosial Ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat
gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk
menyediakannya.
4. Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik
dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes
mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.

5. Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.
6. Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri
seperti penggunaan sabun, sampo dan lainlain.
7. Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu/sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan
perlu bantuan untuk melakukannya.

Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene.


1. Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak
terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering
terjadi adalah : Gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut,
infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.
2. Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan
kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga
diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

D. Tanda dan Gejala


Menurut Depkes (2000: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri
adalah :
1. Fisik
a. Badan bau, pakaian kotor.
b. Rambut dan kulit kotor.
c. Kuku panjang dan kotor.
d. Gigi kotor disertai mulut bau.
e. Penampilan tidak rapi.

2. Psikologis
a. Malas, tidak ada inisiatif.
b. Menarik diri, isolasi diri.
c. Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.
3. Sosial
a. Interaksi kurang.
b. Kegiatan kurang .
c. Tidak mampu berperilaku sesuai norma.
d. Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan
mandi tidak mampu mandiri.
Data yang biasa ditemukan dalam deficit perawatan diri adalah :
1. Data subyektif
a. Pasien merasa lemah
b. Malas untuk beraktivitas
c. Merasa tidak berdaya.
2. Data obyektif
a. Rambut kotor, acak acakan
b. Badan dan pakaian kotor dan bau
c. Mulut dan gigi bau.
d. Kulit kusam dan kotor
e. Kuku panjang dan tidak terawat

E. Mekanisme Koping
1. Regresi
2. Penyangkalan
3. Isolasi diri, menarik diri
4. Intelektualisasi

F. Rentang Respon Kognitif

Asuhan yang dapat dilakukan keluarga bagi klien yang tidak dapat merawat diri
sendiri adalah :
1. Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri
a. Bina hubungan saling percaya.
b. Bicarakan tentang pentingnya kebersihan.
c. Kuatkan kemampuan klien merawat diri.
2. Membimbing dan menolong klien merawat diri.
a. Bantu klien merawat diri
b. Ajarkan ketrampilan secara bertahap
c. Buatkan jadwal kegiatan setiap hari
3. Ciptakan lingkungan yang mendukung
a. Sediakan perlengkapan yang diperlukan untuk mandi.
b. Dekatkan peralatan mandi biar mudah dijangkau oleh klien.
c. Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi klien misalnya, kamar
mandi yang dekat dan tertutup.

G. Pohon Masalah
Resiko tinggi isolasi

Harga diri rendah Kronis

H. Diagnosa Keperawatan
Menurut Depkes (2000: 32) diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien
defisit perawatan diri sesuai dengan bagan 1.1 yaitu:
1. Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri
2. Defisit perawatan diri.

3. Isolasi Sosial.

I. Data yang perlu Dikaji


Masalah Perawatan Data yang perlu Dikaji
Defisit perawatan diri Subjektif
Klien mengatakan dirinya malas mandi karena airnya dingin atau di RS tidak
tersedia alat mandi.
Klien mengatakan dirinya malas berdandan.
Klien mengatakan ingin di suapi makan.

Klien mengatakan jarang membersihkan alat kelaminnya setelah BAK atau


BAB.
Objektif
Ketidakmampuan mandi/membersihkan diri ditandai dengan rambut kotor, gigi
kotor, kulit berdaki, dan berbau, serta kuku panjang dan kotor.
Ketidakmampuan berapakaian/berhias ditandai dengan rambut acak-acakan,
pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, tidak bercukur (laki-laki), atau
tidak berdandan (wanita).
Ketidakmampuan makan secara mandiri ditandai dengan ketidakmampuan
mengambil makan sendiri.
Ketidakmampuan BAB/BAK secara mandiri ditandai BAB/BAK tidak pada
tempatnya, tidak membersihkan diri dengan baik setelah BAB/BAK

J. Rencana Tindakan Keperawatan


1. Tujuan
Klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti
mandi/membersihkan diri, berpakaian/berhias, makan, dan BAB/BAK
2. Tindakan Keperawatan untuk Klien

a. Mengkaji kemampuan melakukan perawatan diri yang meliputi


mandi/membersihkan diri, berpakaian/berhias, makan, dan BAB/BAK secara
mandiri.
b. Memberikan latihan cara melakukan mandi/membersihkan diri,
berpakaian/berhias, makan dan BAB/BAK secara mandiri.
c. Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kurang
perawatan diri.
3. Tindakan Keperawatan untuk Keluarga Klien
Keluarga dapat meneruskan melatih klien dan mendukung agar kemampuan
klien dalam perawatan dirinya meningkat. Serangkaian intervensi ini dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a. Diskusikan dengan keluarga tentang fasilitas kebersihan diri yang dibutuhkan
oleh klien agar dapat menjaga kebersihan diri.
b. Anjurkan keluarga untuk terlibat dalam merawat dan membantu klien dalam
merawat diri (sesuai jadwal yang telah disepakati)
c. Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian atas keberhasilan klien dalam
merawat diri.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Kasus
An.Cinta umur 15 tahun dibawa ke RSJ Magelang karena menurut keluarga
An.Cinta sudah 1 bulan ini tidak mau makan, tidak mau mandi, gosok gigi, dan
menata rambut. Hal ini dialami An.Cinta sejak diputuskan oleh pacarnya.

B. Analisa Kasus
Pada kasus An.Cinta masalah dimulai sejak An.Cinta diputuskan oleh pacarnya.
Hal tersebut membuat An.Cinta mengalami harga diri rendah kronis dengan kata
lain putus cinta merupakan faktor pencetus atau presipitasi dari masalah harga
diri rendah kronis. Dari kasus tidak kami temukan faktor predisposisi, sehingga
kami mengambil bahwa tidak adanya dukungan keluarga sebagai faktor
predisposisi. Jika di lapangan ditemukan kasus seperti An.Cinta kami perlu
pengkajian lebih lanjut menemukan faktor predisposisi.
Pokok masalah dari kasus An.Cinta yang dapat kami diskusikan, sebagai berikut :

Resiko Tinggi Isolasi Sosial

Tidak mau makan, mandi, gosok gigi,


menata rambut.

Harga diri rendah kronis putus cinta

Kesimpulan masalah keperawatan yang mungkin muncul :


1. Harga diri rendah kronis.
2. Defisit perawatan diri.
3. Resiko tinggi isolasi sosial.
Dari ketiga masalah keperawatan tersebut, kami mengambil diagnosa
keperawatan defisit perawatan diri masalah utama An.Cinta, yang kemudian
dibuat strategi pelaksanaan .

Tanda dan Gejala


a. Mandi/Higiene
An.Cinta mengalami ketidaksamaan dalam membersihkan badan, dan
memperoleh perlengkapan untuk mandi.
b. Berhias

An.Cinta mempunyai kelemahan dalam mengenakan atau melepaskan pakaian


atau berhias (menyisir rambut).
c. Makan
An.Cinta mempunyai ketidakmampuan dalam keinginan untuk makan

Faktor presipitasi : diputus pacarnya.


Faktor presdisposisi : tidak ada dukungan keluarga.

Masalah Defisit perawatan diri yang mungkin muncul :


Tidak mau makan
Masalah Higiene (tidak mau mandi dan gosok gigi).
Tidak mau berhias

Pohon Masalah

Resiko Tinggi Isolasi Sosial

Defisit Perawatan Diri

Harga Diri Rendah (diputus pacarnya)

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Masalah : Defisit Perawatan Diri


Pertemuan : Ke I (pertama)

A. Proses Keperawatam.
1. Kondisi klien :

Klien sudah satu bulan tidak mau makan, tidak mau mandi dan tidak mau
menata rambut.
2. Diagnosa Keperawatan : Defisit Perawatan Diri.
3. Tujuan khusus/SP I.
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya, dengan kriteri sebagai
berikut :
1. Ekspresi wajah bersahabat
2. Menunujukan rasa senang
3. Klien bersedia berjabat tangan
4. Klien bersedia menyebutkan nama
5. Ada kontak Mata
6. Klien bersedia duduk berdampingan dengan perawat
7. Klien bersedia mengutarakan masalah yang dihadapinya
b. Mengidentifikasi kebersihan diri, berdandan, dan makan.
c. Menjelaskan pentingya kebersihan diri.
d. Menjelaskan peralatan yang digunakan untuk menjaga kebersihan diri dan
cara melakukan kebersihan diri.
e. Memasukkan dalam jadwal kegiatan klien.
4. Rencana tindakan keperawatan.
a. Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komunikasi terapeutik.
1. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun nonverbal
2. Perkenalkan diri dengan sopan
3. tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan
4. Jelaskan tujuan peremuan
5. jujur dan menempati janji
6. tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya
7. Beri perhatian pada pemenuhan kebutuhan dasar klien
b. Identifikasi kemampuan klien dalam melakukan kebersihan diri, berdandan,
dan makan.

c. Jelaskan pentingnya kebersihan diri dengan cara memberikan penjelasan


terhadap pentingnya kebersihan diri, selanjutnya minta klien menjelaskan
kembali pentingnya kebersihan diri.
d. Jelaskan peralatan yang dibutuhkan dan cara membersihkan diri, dengan
tahapan tindakan berikut.
1. Jelaskan alat yang dibutuhkan dan cara membersihkan diri
2. peragakan cara membersihkan diri dan mempergunakan alat untuk
membersihkan diri
3. Minta klien untuk memperagakan ulang alat dan cara kebersihan diri
e. Memasukkan dalam jadwal kegiatan klien.

B. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan


1. Orientasi
a. Salam terapeutik.
Assalamualaikum Boleh saya kenalan dengan adik?
Nama saya adik boleh panggil saya saya mahasiswa keperawatan saya
sedang praktek disini. Kalau boleh saya tahu nama adik siapa, dan senangnya
dipanggil dengan sebutan apa?
b. Evaluasi/Validasi
c. Kontrak
2. Topik : Apakah adik tidak keberatan untuk mengobrol dengan saya? Menurut
adik sebaiknya kita ngobrol tentang apa? Bagaimana kalau kita ngobrol tentang
kebersihan diri?
3. Waktu : Berapa lama kira-kira bisa ngobrol? Adik maunya berapa menit?
bagaimana kalau 10 menit? Bisa?
4. Tempat : Dimana kita duduk? Diteras, dikursi panjang itu, atau dimana?

2. Kerja
Berapa kali adik membersihkan diri dalam sehari?
Apakah adik suka berdandan?
Alat apa yang adik gunakan pada saat makan, menggunakan sendok atau
tangan?

Apakah adik tahu pentingya kebersihan diri?


Bagaimana cara adik menjaga kebersihan diri?
Apakah adik tahu tentang alat-alat yang digunakan untuk membersihkan diri?
Bagaimana cara adik membersihkan diri?
Pertama lepaskan seluruh baju yang dikenakan, lalu siramkan pada seluruh
bagian tubuh dan bilas sampai bersih. Setelah itu menggosok gigi, keringkan
badan dengan handuk dan ganti pakaian dengan pakaian bersih.
3. Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan adik dengan obrolan kita tadi? Adik merasa senang tidak
dengan latihan tadi?
b. Evaluasi Objektif
Setelah kita berdiskusi panjang lebar, sekarang coba adik simpulkan
pembicaraan kita tadi? Coba sebutkan cara menjaga kebersihan diri?
c. Rencana tindak lanjut
kalau adik sudah tahu cara membersihkan diri, nanti saat jam 10.00 coba adik
praktek penjelasan saya tadi?

d. Kontrak yang akan datang :


1. Topik : Adik, bagaimana kalau besok kita ngobrol lagi tentang bagaimana cara
menjaga kebersihan mulut?
2. Waktu : Kira-kira waktuya kapan ya? Bagaimana kalau besok jam 09.30 WIB,
bisa?
3. Tempat : Kira-kira tempat yang enak buat kita ngobrol besok dimana ya, apa
masih disini atau cari tempat lain? Sampai jumpa.

Masalah : Defisit Perawatan Diri


Pertemuan : Ke -2 (dua)
Hari/tanggal :
Waktu :

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi klien :
Klien sudah satu bulan tidak mau makan, tidak mau mandi dan tidak mau
menata rambut.
2. Diagnosa Keperawatan : Defisit Perawatan Diri
3. Tujuan Khusus/SP 2
a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
b. Menjelaskan cara mandi yang benar
c. Membantu pasien mempraktekan cara makan yang baik
d. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
4. Tindakan Keperawatan
a. Jelaskan cara mempersiapkan mandi
b. Jelaskan cara mandi yang benar
c. Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari yang sudah dilatih
d. Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan

B. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan


1. Orientasi
a. Salam terupeutik
Assalamualaikum Cinta, sesuai janji saya kemarin sekarang saya datang lagi.
b. Evaluasi/Validasi
Bagaimana perasaan cinta hari ini?Apakah cinta masih ingat tanda-tandanya
bersih?Apakah sudah dipakai yang telah kita latih kemarin? Bagaimana
hasilnya?
c. Kontrak
1. Topik : sesuai janji saya kemarin, hari ini kita akan berdiskusi tentang cara
mandi yang benar.
2. Waktu : Mau berapa lama kita berbincang-bincang? 15 menit saja cukup?
3. Tempat : Tempatnya mau dimana cinta? Baiklah disini saja.

2. Fase Kerja
Menurut cinta kalau mandi itu kita harus gimana? Sebelum mandi apa yang
perlu kita persiapkan? Benar sekali. Cinta perlu menyiapkan pekaian ganti,
handuk, sikat gigi, sampo, sabun dan sisir. Bagaimana kalau sekarang kita
kekamar mandi. Saya akan membimbing cinta melakukannya. Sekarang cinta
siram seluruh tubuh cinta termasuk rambut lalu ambil sampo dan gosokan pada
kepala cinta sampai berbusa, setelah itu bilas sampai bersih. Bagus sekali.
Selanjutnya ambil sabun, gosokan diseluruh tubuh secara merata lalu siram
dengan air sampai bersih, jangan lupa sikat gigi pakai odol. Gosok seluruh gigi.
Giginya disikat mulai dari depan sampai belakang, dan arahnya dari arah atas ke
bawah. Lalu kumur-kumur sampai bersih, terakhir siram lagi seluruh tubuh,
sampai bersih lalu keringkan dengan handuk. Cinta bagus sekali melakukannya.
Selanjutnya cinta pakai baju dan sisir rambutnya dengan baik.

3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan cinta setelah mandi dan mengganti pakaian?
b. Evaluasi Objektif
Coba cinta sebutkan lagi bagaimana cara-cara mandi yang baik seperti yang
sudah cinta lakukan tadi.
c. Rencana tindak lanjut
Nanti cinta lakukan secara mandiri, sesuai jadwal yang sudah kita buat.
d. Kontrak
1. Topik : Besok kita ketemu untuk mendiskusikan jadwal kegiatan cinta terkait
dengan kemampuan cinta dalam merawat diri
2. Waktu : Cinta mau ketemu jam berapa?
3. Tempat : Kira-kira cinta mau ketemu dimana?

Masalah : Defisit Perawatan Diri


Pertemuan : Ke 3 (tiga)
Hari/tanggal :
Waktu :

A. Proses Keperawatan

1. Kondisi Klien
Klien sudah satu bulan tidak mau makan, tidak mau mandi dan tidak mau
menata rambut.
2. Diagnosa Keperawatan : Defisit Perawatan Diri
3. Tujuan Khusus/SP 3
a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
b. Menjelaskan cara makan yang baik
c. Membantu pasien mempraktekan cara makan yang baik
d. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
4. Tindakan Keperawatan
a. Jelaskan cara mempersiapkan makan
b. Jelaskan cara makan yang tertib
c. Jelaskan merapikan peralatan makan setealah makan
d. Praktik makan sesuai dengan tahapan makan yang baik
e. Menyusun Jadwal aktivitas sehari hari, sesuai dengan aktivitas yang telah
dilatih
f. Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan

B. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan


1. Orientasi
a. Salam terupeutik
Assalamualaikum Cinta, sesuai janji saya kemarin sekarang saya datang lagi.
b. Evaluasi / Validasi
Bagaimana perasaan Cinta hari ini? Apakah berdandan sudah dilakukan tiap
hari?
c. Kontrak
1. Topik : Hari ini kita akan latihan bagaimana cara makan yang baik
2. Waktu : Kita latihan selama satu jam
3. Tempat : Langsung di ruang makan ya Cinta!

2. Fase Kerja
Bagaimana kebiasaan sebelum, saat, maupun setalah makan ? Dimana Cinta
makan ?. Sebelum makan kita harus cuci tangan memakai sabun. Ya, mari kita
praktikkan . Bagus
Setelah itu kita duduk dan ambil makanan. Sebelum disantap kita berdoa dulu.
Silakan Cinta yang pimpin. Bagus. Mari kita makan saat makan kita harus
menyuap makanan dengan pelan pelan. Ya, mari kita makan.
Setelah makan kita bereskan piring dan gelas yang kotor. Ya betul dan kita
akhiri dengan cuci tangan. Ya bagus.
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
Bagaimana Cinta setelah kita makan bersama sama.
b. Evaluasi Objektif
Ayo, coba sebutkan lagi cara cara makan yang benar. Bagus.
c. Rencana Tindak Lanjut
Setelah makan apa yang sebaiknya kita lakukan. Harihari berikutnya saya
berharap Cinta melakukan cara tadi dengan baik.
d. Kontrak
1. Topik : Besok kita ketemu untuk mendiskusikan jadwal kegiatan dalam
kemampuan berdandan.
2. Waktu : Cinta mau ketemu jam berapa?
3. Tempat : Kira kira Cinta mau ketemu dimana ?

Masalah : Defisit Perawatan Diri


Pertemuan : Ke 4 (empat)
Hari/tanggal :
Waktu :

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien

Klien sudah satu bulan tidak mau makan, tidak mau mandi dan tidak mau
menata rambut.
2. Diagnosa Keperawatan : Defisit perawatan diri
3. Tujuan Khusus / SP 4
a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
b. Menjelaskan cara berdandan
c. Membantu pasien mempraktekkan dalam jadwal
d. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
4. Rencana Tindakan Keperawatan
a. Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien
b. Jelaskan cara berdandan
c. Bantu pasien mempraktekkan cara berdandan
d. Anjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

B. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan


1. Orientasi
a. Salam Teraupeutik
Assalamualaikum, adik. masih ingat saya? adik masih senang dipanggil
dengan sebutan ?
b. Evaluasi / Validasi
Bagaimana perasaan adik saat ini? Bagaimana, apakah jadwal kegiatan yang
kemarin dilakukan?

c. Kontrak
1) Topik : Sesuai janji kita hari ini kita akan latihan berdandan agar adik tampak
rapih dan cantik
2) Waktu : Berapa lama kira-kira kita bisa latihan berdandan? Adik maunya
berapa lama? Bagaimana kalau 15 menit?
3) Tempat : Dimana kita bisa latihan berdandan? Bagaimana kalau dikamar
saja?

2. Kerja
Bagaimana cara adik berdandan? Apakah dengan menyisir rambut? Bagaimana
cara adik menyisir rambut ?
Apa kebiasaan adik dalam berdandan?
Apakah adik biasa memakai bedak?
Nah, sekarang kita praktikan ya, mulai dengan mengganti pakaian, bagus.
Sekarang menyisir rambut ya bagus sekali , selanjutnya merias muka, ya
bagus. Adik sekarang sudah nampak cantik.
Saya jelaskan bahwa ganti baju sebaiknya dilakukan dua kali dalam sehari,
menyisir rambut setelah mandi, memakai bedak dilakukan setelah mandi.
3. Terminasi
a. Evaluasi subjektif
Bagaimana perasaan adik setelah belajar berdandan?
b. Evaluasi objektif
Untuk berdandan caranya bagaimana?
c. Rencana tindak lanjut
Hari-hari berikutnya, saya harap ibu sudah bisa berdandan dengan baik
d. Kontrak yang akan datang
Baik, besok kita bertemu lagi. Adik mau kita bertemu dimana? jam berapa?

SP KELUARGA

Masalah : Defisit Perawatan Diri


Pertemuan : Ke 1 (pertama)
Hari/tanggal :
Waktu :

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi
Klien tidak mau makan, tidak mau mandi, gosok gigi dan menata rambut.

2. Diagnosa Keperawatan
Defisit Perawatan Diri
3. Tujuan Khusus / SPK1
a. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien.
b. Menjelaskan pengertian tanda dan gejala defisit perawatan diri, dan jenis
defisit perawatan diri yang dialami pasien beserta proses terjadinya.
c. Menjelaskan cara cara merawat pasien defisit perawatan diri.
4. Tindakan Keperawatan
a. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga.
b. Menjelaskan :
1) Pengertian defisit perawatan diri
2) Tanda dan gejala defisit perawatan diri
3) Jenis jenis perawatan diri
4) Jenis defisit perawatan diri yang dialami oleh pasien
c. Menjelaskan cara cara merawat pasien defisit perawatan diri

B. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan


1. Orientasi
a. Salam Terapeutik
Assalamualaikum, selamat pagi bapak. Saya perawat yang merawat anak
bapak.
b. Evaluasi / Validasi
Bagaimana perasaan bapak hari ini ? apa pendapat bapak tentang anak bapak
Cinta?
c. Kontrak
1) Topik : Hari ini kita akan berdiskusi tentang masalah yang Cinta alami dan
bantuan apa yang bisa bapak berikan
2) Waktu : Waktunya 15 menit cukupkan?

3) Tempat : Tempatnya di sini saja ya pak?


2. Fase Kerja
Selama ini apa yang dilakukan oleh Cinta dalam merawat diri?
Perilaku yang ditunjukkan oleh Cinta itu dikarenakan gangguan jiwanya yang
membuat klien tidak mempunyai minat untuk mengurus diri sendiri.
Bapak, apakah selama ini dalam merawat Cinta, bapak menemukan
kesulitan?kalau ada apa saja pak?.
Pada dasarnya Cinta mengalami masalah defisit perawatan diri.
Defisit perawatan diri adalah suatu kondisi pada seseorang yang mengalami
kelemahan, kemampuan dalam melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan
diri secara mandiri, seperti mandi, berpakaian/berhias, makan, dan BAB/BAK
(toiletting)

Tanda dan gejala defisit perawatan diri antara lain :


a. Mandi : Seseorang dikatakan mengalami DPD jika mengalami
ketidakmampuan dalam membersihkan badan.
b. Berpakaian / Berhias : Seseorang dikatakan mengalami DPD jika tidak memiliki
kemampuan untuk memakai pakaian, memilih pakaian, mempertahankan,
penampilan pada tingkat yang memuaskan
c. Makan : Seseorang dikatakan mengalami DPD jika tidak mempunyai
kemampuan dalam menelan makanan, mempersiapkan makanan, mengunyah
makanan, mendapatkan makanan / dengan kata lain tidak ada kemauan untuk
makan.
d. BAB/BAK (Toileting) : Seseorang dikatakan mengalami DPD jika memiliki
keterbatasan/ketidakmampuan dalam mendapatkan kamar kecil, duduk/bangkit
dari jamban, membersihkan diri setelah BAB/BAK secara tepat dan menyiram
toilet/kamar mandi.
Jenis-jenis defisit perawatan diri seperti yang telah saya sebutkan tadi, yaitu :
Mandi, berpakaian/berhias, makan, BAB/BAK (Toiletting)
Dari tanda-tanda yang dialami anak bapak, anak bapak mengalami DPD dalam
tiga hal yaitu : mandi, berpakaian, makan.
Kalau Cinta Kurang motivasi dalam merawat diri apa yang bapak lakukan ?
Bapak perlu juga memperhatikan alat alat kebersihan diri yang dibutuhkan oleh
Cinta seperti handuk, baju ganti, sikat gigi, sampo, dan alat kebersihan lainnya.

Bapak juga perlu mendampinginya saat merawat diri sehingga dapat diketahui
apakah Cinta sudah bisa mandiri / mengalami hambatan dalam melakukannya.

3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan bapak setelah bercakap cakap?
b. Evaluasi Objektif
Coba bapak sebutkan lagi apa saja yang harus diperhatikan dalam membantu
Cinta dalam merawat diri
c. Rencana Tindak Lanjut ( RTL )
Mulai sekarang cobalah bapak mendampingi dan membantu Cinta saat
membersihkan diri
d. Kontak
Topik : Baiklah bapak tiga (3) hari lagi saya akan datang lagi. Kita akan
mendiskusikan tentang hasil yang sudah dicapai Cinta dan saya akan melatih
bapak dalam mempraktikan cara merawat Cinta.
Waktu : Mau jam berapa kita mau bertemu bapak? ya baiklah jam 09.00 WIB
saja
Tempat : Tempatnya disini saja ya pak.

Masalah : Defisit Perawatan Diri


Pertemuan : Ke 2 (kedua)
Hari/tanggal :
Waktu :

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi
Klien tidak mau makan, tidak mau mandi, gosok gigi dan menata rambut.
2. Diagnosa Keperawatan
Defisit perawatan diri
3. Tujuan khusus / SPK2

a. Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien defisit perawatan diri


b. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien defisit
perawatan diri
4. Tindakan keperawatan
Mempraktekan cara merawat pasien defisit perawatan diri langsung terhadap
pasien

B. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan


1. Orientasi
a. Salam terapeutik
Assalmualaikum, bapak sesuai janji saya tiga hari yang lalu sekarang saya
datang lagi
b. Evaluasi / Validasi
Bagaimana perasaan bapak hari ini? apakah bapak sudah membantu dan
mendampingi Cinta saat membersihkan diri?
c. Kontrak
1) Topik : Hari ini kita akan berlatih cara merawat anak bapak dan
mempraktekan secara langsung
2) Waktu : Waktunya 30 menit ya pak?
3) Tempat : Tempatnya di sini saja ya pak?
2. Fase Kerja
Sekarang kita akan berlatih cara menyuap anak bapak, merapikan dan
memandikan
Caranya seperti ini pak
Bagaimana bapak, apakah sudah paham ?
Coba bapak pratekkan !
Betul pak seperti itu, bapak sudah bisa
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan bapak setelah kita berlatih tadi?
b. Evaluasi Objektif

Coba bapak praktekkan lagi !


Bagus sekali bapak sudah bisa
c. Rencana Tindak Lanjut
Mulai sekarang bapak praktekkan cara merawat Cinta seperti yang saya ajarkan
tadi
d. Kontrak
1. Topik : Baiklah bapak, tiga hari lagi saya akan datang, kita akan berbincang
bincang tentang cara menyusun jadwal kegiatan Cinta di rumah termasuk
minum obat dan apa yang harus bapak lakukan setelah Cinta pulang
2. Waktu : Mau jam berapa pak kita ketemu?
3. Baiklah kita ketemu jam 09.00 ?
4. Tempat : Tempatnya mau dimana pak? Bagaimana kalau di sini saja?
Baiklah bapak, 3 hari lagi saya akan datang
Senang bisa membantu bapak

Masalah : Defisit Perawatan Diri


Pertemuan : Ke 3 (ketiga)
Hari/tanggal :
Waktu :

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi
Klien tidak mau makan, tidak mau mandi, gosok gigi dan menata rambut.
2. Diagnosa Keperawatan
Defisit perawatan diri
3. Tujuan Khusus / SPK 3
a. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat
b. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang
4. Tindakan Keperawatan
a. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah

b. Membantu keluarga membuat jadwal minum obat


c. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang

B. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan


1. Orientasi
a. Salam terapeutik
Assalamualaikum, selamat pagi bapak, sesuai janji saya. Sekarang saya datang
lagi.
b. Evaluasi/Validasi
Bagaimana perasaan bapak hari ini? apakah bapak sudah mempraktekkan
cara cara yang kita berlatih 3 hari yang lalu?

c. Kontrak
1. Topik : Hari ini kita akan berbincang-bincang tentang jadwal aktivitas di
rumah dan jadwal minum obat untuk Cinta serta tindakan untuk Cinta setelah
pulang
2. Waktu : Waktunya 30 menit ya pak
3. Tempat : Tempatnya di sini saja pak

2. Fase Kerja
Baiklah bapak sekarang kita akan membuat jadwal aktivitas Cinta di rumah
dimulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, termasuk jadwal minum obat Cinta.
Nah, berarti bapak harus menulis semua aktivitas Cinta secara terjadwal.
Setelah di rumah nanti bapak harus selalu mengawasi Cinta dan apabila ada halhal yang tidak bapak ketahui, bapak bisa hubungi petugas kesehatan terdekat.
Jangan lupa juga sebelum obat habis, bapak sudah kontrol agar petugas
kesehatan nantinya bisa membantu bapak apakah Cinta masih memerlukan obat
atau tidak.
Bagaimana bapak? Apakah bapak sudah paham?
Coba bapak simpulkan yang telah kita bicarakan tadi!

Betul sekali pak, bapak sudah paham.


3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang tadi?
b. Evaluasi Objektif
Coba bapak buat contoh jadwal aktivitas Cinta termasuk minum obat.
Bagaimana kalau bapak Cinta sudah pulang? Apa yang perlu bapak lakukan?
Bagus bapak sudah paham
c. Rencana Tindak Lanjut
Nah mulai sekarang bapak buat jadwal untuk aktivitas Cinta agar setelah
pulang bisa langsung dipraktekkan
Kalau ada kesulitan bapak bisa hubungan perawat.
Terimakasih bapak, senang bisa membantu bapak