Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

MEKANIKA FLUIDA
DEBIT ALIRAN

Oleh:
Rahmania Dwi Aini
A1H014007

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2015

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Debit aliran merupakan satuan untuk mendekati nilai-nilai hidrologis
proses yang terjadi di lapangan. Kemampuan pengukuran debit aliran sangat
diperlukan untuk mengetahui potensi sumberdaya air di suatu wilayah DAS.
Debit aliran dapat dijadikan sebuah alat untuk memonitor dan mengevaluasi
neraca

air

suatu

kawasan

melalui pendekatan potensi sumber daya air

permukaan yang ada. Pengukuran debit air dapat dilakukan dengan mengukur
kecepatan aliran air pada suatu wadah dengan luas penampang area tertentu.

B. Tujuan
Mengukur debit aliran air pada saluran terbuka

I.

TINJAUAN PUSTAKA

Debit aliran adalah jumlah air yang mengalir dalam satuan volume per
waktu. Debit adalah satuan besaran air yang keluar dari Daerah Aliran Sungai
(DAS). Satuan debit yang digunakan adalah meter kubir per detik (m3/s). Debit
aliran adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu
penampang melintang sungai per satuan waktu (Asdak,2002).
Dalam praktek, sering variasi kecepatan pada tampang lintang diabaikan,
dan kecepatan aliran dianggap seragam di setiap titik pada tampang lintang yang
besarnya sama dengan kecepatan rerataV, sehingga debit aliran adalah:
Q =A. V
Keterangannya adalah
A : Luas Penampang (m2)
V : Laju aliran fluida atau cairan (m/s)
Q : debit (m3 / s)
Debit adalah suatu koefesien yang menyatakan banyaknya air yang mengalir
dari suatu sumber persatuan waktu, biasanya diukur dalam satuan liter per/detik,
untuk memenuhi keutuhan air pengairan, debit air harus lebih cukup untuk
disalurkan ke saluran yang telah disiapkan (Dumiary, 1992). Pada dasarnya debit
air yang dihasilkan oleh suatu sumber air ditentukan oleh beberapa faktor - faktor
yaitu :
1.Intensitas hujan
2.Penggundulan hutan

3.Pengalihan hutan
Pengukruan debit dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yaitu
(Arsyad,1989):
a.

Pengukuran volume air sungai

b.

Pengukuran debit dengan cara mengukur kecepatan aliran dan


menentukan luas penampang melintang sungai

c.

Pengukuran dengan menggunakan bahan kimia yang dialirkan dalam


sungai

d.

Pengukuran debit dengan membuat bangunan pengukur debit.

Debit air merupakan komponen yang penting dalam pengelolaan suatu DAS.
Pelestarian hutan juga penting dalam rangka menjaga kestabilan debit air yang ada
di DAS, karena hutan merupakan faktor utama dalam hal penyerapan air tanah
serta dalam proses Evaporasi dan Transpirasi. Juga pengendali terjadinya longsor
yang

mengakibatkan

permukaan

sungai

menjadi

dangkal,

jika

terjadi

pendangkalan maka debit air sungai akan ikut berkurang.


Selain menjaga pelestarian hutan, juga yang tidak kalah pentingnya yang
sangat penting kita perhatikan yaitu tingkah laku manusia terhadap DAS, seperti
pembuangan sampah sembarangan.
Hal-hal berikut ini adalah yang mempengaruhi debit air:
1. Intensitas hujan.
Karena curah hujan merupakan salah satu faktor utama yang memiliki
komponen musiman yang dapat secara cepat mempengaruhi debit air, dan siklus
tahunan dengan karakteristik musim hujan panjang (kemarau pendek), atau

kemarau panjang (musim hujan pendek). Yang menyebabkan bertambahnya debit


air.
2. Pengundulan Hutan
Fungsi utama hutan dalam kaitan dengan hidrologi adalah sebagai penahan
tanah yang mempunyai kelerengan tinggi, sehingga air hujan yang jatuh di daerah
tersebut tertahan dan meresap ke dalam tanah untuk selanjutnya akan menjadi air
tanah. Air tanah di daerah hulu merupakan cadangan air bagi sumber air sungai.
Oleh karena itu hutan yang terjaga dengan baik akan memberikan manfaat berupa
ketersediaan sumber-sumber air pada musim kemarau. Sebaiknya hutan yang
gundul akan menjadi malapetaka bagi penduduk di hulu maupun di hilir. Pada
musim hujan, air hujan yang jatuh di atas lahan yang gundul akan menggerus
tanah yang kemiringannya tinggi. Sebagian besar air hujan akan menjadi aliran
permukaan dan sedikit sekali infiltrasinya. Akibatnya adalah terjadi tanah longsor
dan atau banjir bandang yang membawa kandungan lumpur.
3. Pengalihan hutan menjadi lahan pertanian
Risiko penebangan hutan untuk dijadikan lahan pertanian sama besarnya
dengan penggundulan hutan. Penurunan debit air sungai dapat terjadi akibat erosi.
Selain akan meningkatnya kandungan zat padat tersuspensi (suspended solid)
dalam air sungai sebagai akibat dari sedimentasi, juga akan diikuti oleh
meningkatnya kesuburan air dengan meningkatnya kandungan hara dalam air
sungai.Kebanyakan kawasan hutan yang diubah menjadi lahan pertanian
mempunyai kemiringan diatas 25%, sehingga bila tidak memperhatikan faktor
konservasi tanah, seperti pengaturan pola tanam, pembuatan teras dan lain-lain.

4. Intersepsi
Adalah proses ketika air hujan jatuh pada permukaan vegetasi diatas
permukaan tanah, tertahan bebereapa saat, untuk diuapkan kembali(hilang) ke
atmosfer atau diserap oleh vegetasi yang bersangkutan. Proses intersepsi terjadi
selama berlangsungnya curah hujan dan setelah hujan berhenti. Setiap kali hujan
jatuh di daerah bervegetasi, ada sebagian air yang tak pernah mencapai
permukaan tanah dan dengan demikian, meskipun intersepsi dianggap bukan
faktor penting dalam penentu faktor debit air, pengelola daerah aliran sungai harus
tetap memperhitungkan besarnya intersepsi karena jumlah air yang hilang sebagai
air intersepsi dapat mempengaruhi neraca air regional. Penggantian dari satu jenis
vegetasi menjadi jenis vegetasi lain yang berbeda, sebagai contoh, dapat
mempengaruhi hasil air di daerah tersebut.
5. Evaporasi dan Transpirasi
Evaporasi transpirasi juga merupakan salah satu komponen atau kelompok
yang dapat menentukan besar kecilnya debit air di suatu kawasan DAS, mengapa
dikatakan salah satu komponen penentu debit air, karena melalu kedua proses ini
dapat membuat air baru, sebab kedua proses ini menguapkan air dari per mukan
air, tanah dan permukaan daun, serta cabang tanaman sehingga membentuk uap
air di udara dengan adanya uap air diudara maka akan terjadi hujan, dengan
adanya hujan tadi maka debit air di DAS akan bertambah juga.

Klasifikasi Aliran Fluida (Fluids Flow Classification)


1. Aliran yang tak termampatkan dan termampatkan (incompressible and
compressible flows)
Aliran tak termampatkan adalah kondisi aliran dimana rapat massa
fluidanya tidak berubah. Contohnya adalah air,minyak,dll. Aliran
termampatkan adalah kondisi aliran dimana rapat massa fluidanya
berubah..
2. Aliran tunak

dan

tak

tunak

(steady

and

unsteady

flows )

Aliran tunak atau aliran permanen (permanent flow) adalah kondisi dimana
komponen aliran tidak berubah terhadap waktu
3. Aliran seragam dan tak seragam (uniform and non-uniform flows)
Aliran seragam adalah kondisi dimana komponen aliran tidak berubah
terhadap jarak. Contoh aliran di saluran/sungai pada kondisi tidak ada
pengaruh pembendungan/terjunan, tidak ada penyempitan/pelebaran yang
ekstrim.
4. Aliran laminer dan turbulen (laminar and turbulent flows)
Dari sudut pandang hidraulik, hal yang paling

mudah

untuk

membedakannya adalah gerak partikel/distribusi kecepatannya seragam,


lurus, dan sejajar untuk aliran laminer dan sebaliknya untuk aliran
turbulen. Perubahan dari laminer menuju turbulen atau zona transisi terjadi
pada jarak tertentu dan zona transisi akan berakhir hingga terjadi kondisi
fully developed turbulence.
5. Aliran yang dipengaruhi kekentalan dan tidak (viscous and inviscid flows)
Aliran viskous atau aliran fluida nyata adalah aliran yang dipengaruhi oleh
viskositas. Adanya viskositas menyebabkan adanya tegangan geser dan

kehilangan energy. Pada aliran ini terjadi gesekan antarai fluida dengan
dasar/dinding saluran atau pipa
6. Aliran rotasi dan tak rotasi

(rotational and irrotational flows)

Aliran irrotasional adalah aliran dimana nilai rotasinya atau setiap


komponen vektor rotasinya sama dengan nol.
7. Aliran subkritis dan superkritis (subcritical and supercritical flows)
Untuk membedakan jenis aliran pada klasifikasi ini sering digunakanAngka
Froude.

III.METODOLOGI

A. Alat dan Bahan

1. Pipa kaca
2. Selang
3. Kran
4. Potongan daun kering
5. Stopwatch
6. Air

A. Prosedur Kerja

1. Pipa kaca dihubungkan dengan selang untuk mengalirkan air ke dalam


saluran.
2. Kran dibuka dan air dibiarkan mengalir sampai aliran stabil.
3. Tinggi dan lebar air dalam pipa kaca diukur
4. Potongan daun kering dialirkan pipa kaca sejauh 1 meter dan waktu yang
ditempuh dicatat. Percobaan diulang sampai 3 kali dengan ketinggian air
yang berbeda.

II.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Data hasilpraktikum
1. Panjangpipakaca 1 m
a.
Kaca : 5,8 x 6,5 = 0,377 x 10-2m2
Q1 = 0,377 x 10-2x 1/8,56 = 0,0439 x 10-2m3/s
Q2 = 0,377 x 10-2x 1/10,86 = 0,0847 x 10-2m3/s
Q3 = 0,377 x 10-2x 1/8,12 = 0,0464 x 10-2m3/s

Q rata rata =
b.

0,0439+ 0,0847+0,0464
3

= 0,416 x 10-2m3/s

Kaca : 5,7 x 5 = 0,285 x 10-2m2


Q1 = 0,285 x 10-2x 1/9,75 = 0,0292 x 10-2m3/s
Q2 = 0,285 x 10-2x 1/10,08 = 0,0282 x 10-2m3/s
Q3 = 0,285 x 10-2x 1/8,05 = 0,0354 x 10-2m3/s
0,0292+ 0,0282+ 0,0354
Q rata rata =
= 0,0309 x 10-2m3/s
3

c. Kaca : 5,8 x 3,8 = 0,1856 x 10-2m2


Q1 = 0,1856 x 10-2x 1/7,64 = 0,0241 x 10-2 m3/s
Q2 = 0,1856 x 10-2x 1/6,41 = 0,0289 x 10-2 m3/s
Q3 = 0,1856 x 10-2x 1/7,55 = 0,0245 x 10-2 m3/s
0,0241+ 0,0289+ 0,0245
Q rata rata =
= 0,258 x 10-2 m3/s
3

III.

PENUTUP

A. Kesimpulan
Debit aliran adalah jumlah air yang mengalir dalam satuan volume per
waktu. Debit adalah satuan besaran air yang keluar dari Daerah Aliran Sungai
(DAS). Satuan debit yang digunakan adalah meter kubir per detik (m3/s). Debit
aliran adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu
penampang melintang sungai per satuan waktu (Asdak,2002). Pada dasarnya debit

air yang dihasilkan oleh suatu sumber air ditentukan oleh beberapa faktor - faktor
yaitu : 1.Intensitas hujan , 2.Penggundulan huta, 3.Pengalihan hutan

B. Saran
Peralatan praktikum harap diperhatikan agar lebih bisa mengefektifkan
waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Wahid, Abdul. 2009. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Debit Sungai


Mamasa.
Tikno, Sunu. 2000. Analisis Debit di Daerah Aliran Sungai Batanghari Profinsi
Jambi
Tim Asisten Praktikum Mekanika Fluida. 2015. Modul Praktikum Mekanika
Fluida.