Anda di halaman 1dari 25

PEMBUNUHAN AKIBAT KEKERASAN

BENDA TAJAM

KELOMPOK E5
Friska Juliarty Koedoeboen

(102008183)

Billy Gerson

(102010345)

Devi Karlina

(102011069)

Julianti Dewisarty Ranyabar

(102011167)

Asher Juniar

(102011201)

Desak Putu Tri Artha Sari

(102011267)

Meldina Sari Simatupang

(102011362)

Jorgie Neforinaldy M

(102011390)

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jakarta
1

Pendahuluan
Salah satu aspek Pancasila menyinggung tentang adanya keadilan. Untuk mengatur dan
menjaga keadilan diperlukan adanya hukum atau undang-undang yang mengatur segala aspek
kehidupan tidak terkecuali. Untuk menjunjung tinggi hukum tentunya peradilan harus
berjalan dengan baik. Agar berjalan dengan baik, peradilan bisa dibantu oleh aspek-aspek lain
diluar hukum, salah satunya adalah bidang kedokteran.
Salah satu cabang ilmu kedokteran yang membantu peradilan dalam rangka penegakkan
hukum adalah ilmu kedokteran forensik. Pihak yang menengani suatu kasus peradilan
tentunya boleh meminta keterangan ahli dari para ahli forensik ini. Objeknya sendiri bisa
korban yang masih hidup maupun sudah meninggal. Dengan adanya kedokteran forensik ini,
nantinya akan para penegak hukum mampu mempertimbangkan dan menjunjung tinggi
keadilan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar kami sebagai mahasiswa kedokteran
mampu memahami berbagai aspek yang berhubungan dengan ilmu kedokteran forensik dan
nantinya mampu mempraktekan apa yang dipelajari, dan memiliki kesadaran akan
pentingnya penegakan keadilan mengingat keterangan ahli mampu menjadi alat yang kuat
dalam penegakkan peradilan.1
Aspek hukum prosedur medikolegal
Prosedur medikolegal adalah tata cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai
aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar
prosedur medikolegal mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku di
Indonesia, dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika
kedokteran.2
Ruang lingkup prosedur medikolegal adalah pengadaan visum et repertum, pemberian
keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian keterangan ahli di dalam
persidangan, kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran, penerbitan surat kematian
dan surat keterangan medik, pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka (psikiatri forensik),
dan kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik.2

Dasar Pengadaan Visum et Repertum1,2


Pasal 133 KUHAP
1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau
dokter dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagai mana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus
diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi
label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu
jari kaki atau bagian lain badan mayat.
Menurut pasal 133 KUHAP permintaan visum et repertum merupakan wewenang
penyidik, resmi dan harus tertulis, visum et repertum dilakukan terhadap korban bukan
tersangka dan ada indikasi dugaan akibat peristiwa pidana. Bila pemeriksaan terhadap mayat
maka permintaan visum disertai identitas label pada bagian badan mayat, harus jelas
pemeriksaan yang diminta, dan visum tersebut ditujukan kepada ahli kedokteran forensik atau
kepada dokter di rumah sakit.
Sanksi Hukum bila Menolak1,2
Pasal 216 KUHP
Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat
berdasarkan tugasnya, demikian pula yag diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak
pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau
menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara selama
empat bulan dua minggu atau denda paling banyak Sembilan Ribu Rupiah.

Pemeriksaan Mayat untuk Peradilan1,2


Pasal 222 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara palling lama Sembilan
bulan atau pidana denda paling banyak Empat Ribu Lima Ratus Rupiah.
Permintaan Sebagai Saksi Ahli1,2
Pasal 179 (1) KUHAP
Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
Pasal 224 KUHP
Barangsiapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang
dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus
dipenuhinya, diancam dalam perkara pidana dengan penjara paling lama Sembilan Bulan.
Pembuatan Visum et Repertum bagi tersangka ( VeR Psikiatris)2
Pasal 120 KUHAP
(1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang
yang memiliki keahlian khusus.
Pasal 180 KUHAP
(1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang
pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan saksi ahli dan dapat pula minta agar
diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
Pasal 53 UU Kesehatan
(3) Tenaga kesehatan untuk kepentingan pembuktian dapat melakukan tindakan medis
terhadap seseorang dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan yang bersangkutan.
Keterangan Ahli1,2
Pasal 1 Butir 28 KUHAP
Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan seorang yang memiliki keahlian
khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna
kepentingan pemeriksaan. (pengertian keterangan ahli saecara umum)

Agar dapat diajukan ke sidang pengadilan sebagai upaya pembuktian, keterangan ahli harus
dikemas dalam betuk alat bukti sah.
Alat Bukti Sah1
Pasal 183 KUHAP
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan
sekurang-kurangnya dua alat bukti sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu
tindakan pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah
melakukannya.
Pasal 184 KUHAP
Alat bukti yang sah adalah:
(a) keterangan saksi, (b) keterangan ahli, (c) Surat, (d) petunjuk,
(e) keterangan terdakwa
Keterangan ahli diberikan secara lisan2
Pasal 186
Keterangan ahli adalah apa yang ahli nyatakan di sidang pengadilan.
Penjelasan Pasal 186
Keterangan ahli dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik
atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan
mengingat sumpah di waktu menerima jabatan atau pekerjaan (BAP saksi ahli).
Keterangan ahli diberikan secara tertulis2
Pasal 187 KUHAP

Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah
jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah: (c) surat keterangan dari seorang ahli
yang memuat pendapat bedasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau suatu
keadaan yang diminta secara resmi daripadanya.

Identifikasi Forensik
Identifikasi forensik merupakan langkah pertama apabila korban ditemukan. Upaya
penentuan identitas korban dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas
seseorang. Identifikasi personel merupakan suatu masalah dalam kasus pidana atau perdata.

Menentukan identitas personel dengan tepat amat penting dalam penyelidikan karena adanya
kekeliruan dapat berakibat fatal dalam proses peradilan.3
Di dalam identifikasi korban ini, peran ilmu kedokteran forensik adalah penting terutama
apabila korban ini tidak dikenal dan korban ini sudah membusuk seperti di dalam kasus ini.
Penentuan identitas personel dapat menggunakan beberapa metode dan identifikasi seseorang
dipastikan apabila paling sedikit dua metode yang digunakan memberikan hasil positif.
Metode-metodenya adalah :3
1. Pemeriksaan dokumen
Apabila dokumen seperti kartu identifikasi (KTP, SIM, paspor dll) yang kebetulan
ditemukan dalam saku pakaian yang dikenakan atau berdekatan dengan TKP sangat
membantu mengenali korban tersebut.
2. Identifikasi medik
Pemeriksaan ini dilakukan di TKP atau ruang autopsi semasa pemeriksaan luar.
Identifikasi medik ini mempunyai nilai tinggi karena selain dilakukan oleh seorang
ahli dengan menggunakan cara/modifikasi sehingga ketepatan cukup tinggi. Metode
ini terbahagi kepada dua :
i.

Identifikasi umum
Pada pemeriksaan luar, identifikasi umum dilakukan dengan mencatat
identitas korban seperti; jenis kelamin, bangsa dan ras, umur, warna kulit,
keadaan gizi, tinggi, berat badan, rambut mayat baik dari segi warna,
distribusi, keadaan tumbuh serta sifatnya; kasar atau halus, lurus atau ikal,
keadaan zakar yang disirkumsisi atau tidak.

ii.

Identifikasi khusus
Ini terdiri daripada sesuatu yang khusus yang dapat dijumpai pada korban
yang dapat membantu identifikasi korban. Ini terdiri dari :

Rajah / tattoo
Tentukan letak, warna serta tulisan/lukisan tattoo yang ditemukan. Bila
perlu bt dokumentasi foto.
6

Jaringan parut
Catat seteliti mungkin jaringan parut yang ditemukan baik yang timbul
akibat penyembuhan luka maupun yang terjadi akibat tindakan bedah.

Kelainan kulit
Adanya kutil, angioma, bercak hiper atau hipopogmentasi, eksema dan
kelainan lain sering kali dapat membantu dalam penentuan identitas.

Anomali dan cacat pada tubuh


Kelainan anatomis berupa anomaly atau deformitas akibat penyakit
atau kekerasan perlu dicatat dengan seksama. Tidak tercatanya ciri-ciri
yang disebut di atas dapat sangat merugikan karena dapat
menyebabkan diragukannya hasil pemeriksaan terhadap mayat secara
keseluruhan.

3. Pemeriksaan pakaian dan perhiasan


Dari pakaian dan perhiasan yang dikenakan jenazah mungkin dapat diketahui merek
atau nama pembuat, ukuran, inisial nama pemilik, badge, yang semuanya membantu
identifikasi walaupun telah terjadi pembusukan pada jenazah tersebut.
4. Metode visual
Metode ini dilakukan dengan cara memperlihatkan jenazah pada orang-orang yang
merasa kehilangan anggota keluarga atau temannya. Cara ini hanya efektif pada
jenazah yang belum membusuk sehingga masih mungkin mengenali wajah dan bentuk
tubuhnya oleh lebih dari satu orang. Hal ini perlu perhatikan mengingat adanya
kemungkinan faktor emosi yang turut berperan untuk membenarkan atau sebaliknya
menyangkal identitas jenazah tersebut.
5. Pemeriksaan sidik jari
Metode ini membandingkan gambaran sidik jari jenazah dengan sidik jari ante
mortem. Sampai saat ini, pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang diakui
paling tinggi ketepatannya untuk menentukan identitas seseorang. Dengan demikian

harus dilakukan penanganan sebaik-baiknya jari tangan untuk pemeriksaan sidik jari
misalnya melakukan pembungkusan kedua tangan jenazah dengan kantung plastik.
6. Pemeriksaan gigi
Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi (odontogram) dan rahang yang dapat
dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan manual, sinar-x dan pencetakan gigi
serta rahang. Odontogram memuat data tentang jumlah, bentuk, susunan, tambalan,
protesa gigi dan sebagainya. Seperti halnya dengan sidik jari, maka setiap individu
memiliki susunan gigi yang khas. Dengan demikian dapat dilakukan identifikasi
dengan cara membandingkan data temuan dengan data pembanding ante mortem.
7. Pemeriksaan serologik
Pemeriksaan serologik bertujuan untuk menentukan golongan darah jenazah.
Penentuan golongan darah pada jenazah yang telah membusuk dengan memeriksa
rambut, kuku dan tulang.
Pemeriksaan Forensik
Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, yang meliputi pemeriksaan
terhadap bagian luar maupun dalam, dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau
adanya cedera, melakukan interpretasi atau penemuan-penemuan tersebut, menerangkan
penyebab kematian serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang
ditemukan dengan penyebab kematian.3,4
Autopsi Medikolegal
Autopsi medikolegal dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga meninggal akibat
suatu sebab yang tidak wajar seperti pada kasus kecelakaan, pembunuhan, maupun bunuh
diri. autopsi ini dilakukan atas permintaan penyidik sehubungan dengan adanya penyidikan
suatu perkara. Tujuan dari autopsi medikolegal adalah 4

Untuk memastikan identitas seseorang yang tidak diketahui atau belum jelas.

Untuk menentukan sebab pasti kematian, mekanisme kematian, dan saat kematian.

Untuk mengumpulkan dan memeriksa tanda bukti untuk penentuan identitas benda
penyebab dan pelaku kejahatan.

Membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam bentuk visum et
repertum.

Autopsi medikolegal dilakukan atas permintaan penyidik sehubungan dengan adanya


penyidikan suatu perkara. Hasil pemeriksaan adalah temuan obyektif pada korban, yang
diperoleh dari pemeriksaan medis. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada autopsi
medikolegal 4
1. Tempat untuk melakukan autopsi adalah pada kamar jenazah.
2. Autopsi hanya dilakukan jika ada permintaan untuk autopsi oleh pihak yang
berwenang.
3. Autopsi harus segera dilakukan begitu mendapat surat permintaan untuk autopsi.
4. Hal-hal yang berhubungan dengan penyebab kematian harus dikumpulkan dahulu
sebelum memulai autopsi. Tetapi kesimpulan harus berdasarkan temuan-temuan dari
pemeriksaan fisik.
5. Pencahayaan yang baik sangat penting pada tindakan autopsi.
6. Identitas korban yang sesuai dengan pernyataan polisi harus dicatat pada laporan.
Pada kasus jenazah yang tidak dikenal, maka tanda-tanda identifikasi, photo, sidik
jari, dan lain-lain harus diperoleh.
7. Ketika dilakukan autopsi tidak boleh disaksikan oleh orang yang tidak berwenang.
8. Pencatatan perincian pada saat tindakan autopsi dilakukan oleh asisten.
9. Pada laporan autopsi tidak boleh ada bagian yang dihapus.
10. Jenazah yang sudah membusuk juga bisa diautopsi.

Adapun persiapan yang dilakukan sebelum melakukan autopsi forensik/medikolegal adalah4


1. Melengkapi surat-surat yang berkaitan dengan autopsi yang akan dilakukan, termasuk
surat izin keluarga, surat permintaan pemeriksaan/pembuatan visum et repertum.
2. Memastikan mayat yang akan diautopsi adalah mayat yang dimaksud dalam surat
tersebut.
3. Mengumpulkan keterangan yang berhubungan dengan terjadinya kematian selengkap
mungkin untuk membantu memberi petunjuk pemeriksaan dan jenis pemeriksaan
penunjang yang harus dilakukan.
4. Memastikan alat-alat yang akan dipergunakan telah tersedia. Untuk autopsi tidak
diperlukan alat-alat khusus dan mahal, cukup :

Timbangan besar untuk menimbang mayat.

Timbangan kecil untuk menimbang organ.

Pisau, dapat dipakai pisau belati atau pisau dapur yang tajam.

Guntung, berujung runcing dan tumpul.

Pinset anatomi dan bedah.

Gergaji, gergaji besi yang biasanya dipakai di bengkel.

Forseps atau cunam untuk melepaskan duramater.

Gelas takar 1 liter.

Pahat.

Palu.

Meteran.

10

Jarum dan benang.

Sarung tangan

Baskom dan ember

Air yang mengalir

5. Mempersiapkan format autopsi, hal ini penting untuk memudahkan dalam pembuatan
laporan autopsi.

a) Pemeriksaan Luar
Bagian pertama dari teknik autopsi adalah pemeriksaan luar. Sistematika pemeriksaan
luar adalah 3-5
1. Label mayat
Memeriksa label mayat (dari pihak kepolisian) yang biasanya diikatkan pada jempol
kaki mayat. Gunting pada tali pengikat, simpan bersama berkas pemeriksaan. Catat
warna, bahan, dan isi label selengkap mungkin. Sedangkan label rumah sakit, untuk
identifikasi di kamar jenazah, harus tetap ada pada tubuh mayat.
2. Penutup mayat
Mencatat jenis/bahan, warna, corak, serta kondisi (ada tidaknya bercak/pengotoran)
dari penutup mayat.
3. Bungkus mayat
Mencatat jenis/bahan, warna, corak, serta kondisi (ada tidaknya bercak/pengotoran)
dari bungkus mayat. Catat tali pengikatnya bila ada.
4. Pakaian

11

Mencatat pakaian mayat dengan teliti mulai dari yang dikenakan di atas sampai di
bawah, dari yang terluar sampai terdalam. Pencatatan meliputi bahan, warna dasar,
warna dan corak tekstil, bentuk/model pakaian, ukuran, merk penjahit, cap binatu,
monogram/inisial, dan tambalan/tisikan bila ada. Catat juga letak dan ukuran pakaian
bila ada tidaknya bercak/pengotoran atau robekan. Saku diperiksa dan dicatat isinya.
5. Perhiasan
Mencatat perhiasan mayat, meliputi jenis, bahan, warna, merek, bentuk serta ukiran
nama/inisial pada benda perhiasan tersebut.
6.

Mencatat benda di samping mayat misalnya tas ataupun bungkusan.

7.

Mencatat perubahan thanatologi :


i.

Lebam mayat; letak/distribusi, warna, dan intensitas lebam.

ii.

Kaku mayat; distribusi, derajat kekakuan pada beberapa sendi, dan ada
tidaknya spasme kadaverik.

iii.

Suhu tubuh mayat; memakai termometer rektal dam dicatat juga suhu
ruangan pada saat tersebut.

iv.

Pembusukan

v.

Lain-lain; misalnya mumifikasi atau adiposera.

8. Mencatat identitas mayat, seperti jenis kelamin, bangsa/ras, perkiraan umur, warna
kulit, status gizi, tinggi badan, berat badan, disirkumsisi/tidak, striae albicantes pada
dinding perut.
9. Mencatat segala sesuatu yang dapat dipakai untuk penentuan identitas khusus,
meliputi rajah/tatoo, jaringan parut, kapalan, kelainan kulit, anomali dan cacat pada
tubuh.
10. Pemeriksaan rambut

12

Memeriksa distribusi, warna, keadaan tumbuh, dan sifat dari rambut. Rambut kepala
harus diperiksa, contoh rambut diperoleh dengan cara memotong dan mencabut
sampai ke akarnya, paling sedikit dari enam lokasi kulit kepala yang berbeda.
Potongan rambut ini disimpan dalam kantungan yang telah ditandai sesuai tempat
pengambilannya.
11. Pemeriksaan mata
Memeriksa mata, seperti apakah kelopak terbuka atau tertutup, tanda kekerasan,
kelainan. Periksa selaput lendir kelopak mata dan bola mata, warna, cari pembuluh
darah yang melebar, bintik perdarahan, atau bercak perdarahan. Kornea jernih/tidak,
adanya kelainan fisiologik atau patologik. Catat keadaan dan warna iris serta kelainan
lensa mata. Catat ukuran pupil, bandingkan kiri dan kanan.
12. Pemeriksaan daun telinga dan hidung
Mencatat bentuk dan kelainan/anomali pada daun telinga dan hidung.
13. Pemeriksaan mulut dan rongga mulut
Memeriksa bibir, lidah, rongga mulut, dan gigi geligi. Catat gigi geligi dengan
lengkap, termasuk jumlah, hilang/patah/tambalan, gigi palsu, kelainan letak,
pewarnaan, dan sebagainya.
14. Pemeriksaan leher
Bagian leher diperiksa jika ada memar, bekas pencekikan atau pelebaran pembuluh
darah. Kelenjar tiroid dan getah bening juga diperiksa secara menyeluruh.
15. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan.
Pada pria dicatat kelainan bawaan yang ditemukan, keluarnya cairan, kelainan
lainnya. Perhatikan bentuk lubang pelepasan, perhatikan adanya luka, benda asing,
darah dan lain-lain
16. Perlu diperhatikan kemungkinan terdapatnya tanda perbendungan, ikterus, sianosis,
edema, bekas pengobatan, bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh.
13

17. Bila terdapat tanda-tanda kekerasan/luka harus dicatat lengkap. Setiap luka pada
tubuh harus diperinci dengan lengkap, yaitu perkiraan penyebab luka, lokasi, ukuran,
dll. Dalam luka diukur dan panjang luka diukur setelah kedua tepi ditautkan.
Lokalisasi luka dilukis dengan mengambil beberapa patokan, antara lain : garis tengah
melalui tulang dada, garis tengah melalui tulang belakang, garis mendatar melalui
kedua puting susu, dan garis mendatar melalui pusat.
18. Pemeriksaan ada tidaknya patah tulang, serta jenis/sifatnya.

b) Pemeriksaan Dalam
Pemeriksaan dalam bisa dilakukan dengan beberapa cara berikut ini:4,5

Insisi I dimulai di bawah tulang rawan krikoid di garis tengah sampai prosesus
xifoideus kemudian 2 jari paramedian kiri dari puat sampai simfisis, dengan demikian
tidak perlu melingkari pusat.

Insisi Y, merupakan salah satu tehnik khusus otopsi.

Insisi melalui lekukan suprastenal menuju simfisis pubis, lalu dari lekukan
suprasternal ini dibuat sayatan melingkari bagian leher.

Pada pemeriksaan dalam, organ tubuh diambil satu persatu dengan hati-hati dan dicatat :
1. Ukuran : Pengukuran secara langsung adalah dengan menggunakan pita pengukur.
Secara tidak langsung dilihat adanya penumpulan pada batas inferior organ. Organ
hati yang mengeras juga menunjukkan adanya pembesaran.
2. Bentuk
3. Permukaan : Pada umumnya organ tubuh mempunyai permukaan yang lembut,
berkilat dengan kapsul pembungkus yang bening. Carilah jika terdapat penebalan,
permukaan yang kasar , penumpulan atau kekeruhan.
4. Konsistensi: Diperkirakan dengan cara menekan jari ke organ tubuh tersebut.
14

5. Kohesi: Merupakan kekuatan daya regang anatar jaringan pada organ itu. Caranya
dengan memperkirakan kekuatan daya regang organ tubuh pada saat ditarik. Jaringan
yang mudah teregang (robek) menunjukkan kohesi yang rendah sedangkan jaringan
yang susah menunjukkan kohesi yang kuat.
6. Potongan penampang melintang: Disini dicatat warna dan struktur permukaan
penampang organ yang dipotong. Pada umumnya warna organ tubuh adalah keabuabuan, tapi hal ini juga dipengaruhi oleh jumlah darah yang terdapat pada organ
tersebut. Warna kekuningan, infiltrasi lemak, lipofisi, hemosiferin atau bahan pigmen
bisa merubah warna organ. Warna yang pucat merupakan tanda anemia.
Struktur organ juga bisa berubah dengan adanya penyakit. Pemeriksaan khusus juga bisa
dilakukan terhadap sistem organ tertentu, tergantung dari dugaan penyebab kematian. Insisi
pada masing-masing bagian-bagian tubuh yaitu :
1. Dada : 3-5
Tulang dada diangkat dengan memotong tulang rawan iga 1 cm dari sambungannya
dengan cara pisau dipegang dengan tangan kanan dengan bagian tajam horizontal
diarahkan pada tulang rawan iga dan dengan tangan yang lain menekan pada punggung
pisau. Pemotongan dimulai dari tulang rawan iga no. 2. Tulang dada diangkat dan
dilepaskan dari diafragma kanan dan kiri kemudian dilepaskan mediastinum anterior.
Rongga paru-paru diperiksa adanya perlengketan, darah, pus atau cairan lain kemudian
diukur. Kemudian pisau dengan tangan kanan dimasukkan dalam rongga paru-paru,
bagian tajam tegak lurus diarahkan ke tulang rawan no.1 dan tulang rawan dipotong
sedikit ke lateral, kemudian bagian tajam pisau diarahkan ke sendi sternoklavikularis
dengan menggerak-gerakkan sternum, sendi dipisahkan. Prosedur diulang untuk sendi
yang lainnya. Mediastinum anterior diperiksa adanya timus persistens. Perikardium
dibuka dengan Y terbalik, diperiksa cairan perikardium, normal sebanyak kurang lebih 50
cc dengan warna agak kuning. Apeks jantung diangkat, dibuat insisi di bilik dan serambi
kanan diperiksa adanya embolus yang menutup arteri pulmonalis. Kemudian dibuat insisi
di bilik dan serambi kiri. Jantung dilepaskan dengan memotong pembuluh besar dekat
perikardium.
i.

Seksi Jantung :
15

Jantung dibuka menurut aliran darah : pisau dimasukkan ke vena kava


inferior sampai keluar di vena superior dan bagian ini dipotong. Ujung pisau
dimasukkan melalui katup trikuspidalis keluar di insisi bilik kanan dan bagian
ini dipotong. Ujung pisau lalu dimasukkan arteri pulmonalis dan otot jantung
mulai dari apeks dipotong sejajar dengan septum interventrikulorum. Ujung
pisau dimasukkan ke vena pulmonalis kanan keluar ke vena pulmonalis kiri
dan bagian ini dipotong. Ujung pisau dimasukkan melalui katup mitral keluar
di insisi bilik kiri dan bagian ini dipotong. Ujung pisau kemudian dimasukkan
melalui katup aorta dan otot jantung dari apeks dipotong sejajar dengan
septum inetrventrikulorum. Jantung sekarang sudah terbuka, diperiksa katup,
otot kapiler, chorda tendinea, foramen ovale, septum interventrikulorum.
Arteri

koronaria

diiris

dengan

pisau

yang

tajam

sepanjang

4-5 mm mulai dari lubang dikatup aorta. Otot jantung bilik kiri diiris di
pertengahan sejajar dengan epikardium dan endokardium, demikian pula
dengan septum interventrikulorum.

ii.

Paru-paru :
Paru-paru kanan dan kiri dilepaskan dengan memotong bronkhi dan
pembuluh darah di hilus, setelah perkardium diambil. Vena pulmonalis dibuka
dengan gunting, kemudian bronkhi dan terakhir arteri pulmonalis. Paru-paru
diiris longitudinal dari apeks ke basis.

2. Perut :3-5
Usus halus dipisahkan dari mesenterium, usus besar dilepaskan, duodenum dan
rektum diikat ganda kemudian dipotong. Limpa

pula dipotong di hilus, diiris

longitudinal, perhatikan parenkim, folikel, dan septa.


i.

Esofagus-Lambung-Doudenum-Hati :

16

Semua organ tersebut di atas dikeluarkan sebagai satu unit. Esofagus diikat
ganda dan dipotong. Diafragma dilepaskan dari hati dan esofagus dan unit tadi
dapat diangkat. Sebelum diangkat, anak ginjal kanan yang biasanya melekat
pada hati dilepaskan terlebih dahulu. Esofagus dibuka terus ke kurvatura
mayor, terus ke duodenum. Perhatikan isi lambung, dapat membantu
penentuan saat kematian. Kandung empedu ditekan, bulu empedu akan
menonjol kemudian dibuka dengan gunting ke arah papila Vater, kemudian
dibuka ke arah hati, lalu kandung empedu dibuka. Perhatikan mukosa dan
adanya batu. Buluh kelenjar ludah diperut dibuka dari papila Vater ke
pancreas.

Pankreas

dilepaskan

dari

duodenum

dan

dipotong-potong

transversal. Pada hati perhatikan tepi hati, permukaan hati, perlekatan,


kemudian dipotong longitudinal. Usus halus dan usus besar dibuka dengan
gunting ujung tumpul, perhatikan mukosa dan isinya, cacing.
ii.

Ginjal, ureter, rektum, dan kandung urine


Organ tersebut di atas dikeluarkan sebagai satu unit. Ginjal dengan suatu insisi
lateral dapat diangkat dan dilepaskan dengan memotong pembuluh darah di
hilus, kemudian ureter dilepaskan sampai panggul kecil. Kandung urine dan
rektum dilepaskan dengan cara memasukkan jari telunjuk lateral dari kandung
urine dan dengan cara tumpul membuat jalan sampai ke belakang rektum.
Kemudian dilakukan sama pada bagian sebelahnya. Tempat bertemunya kedua
jari telunjuk dibesarkan sehingga 4 jari kanan dan kiri dapat bertemu,
kemudian jari kelingking dinaikkan ke atas dengan demikian rektum lepas dari
sakrum. Rektum dan kandung urine dipotong sejauh dekat diafragma pelvis.
Anak ginjal dipotong transversal. Ginjal dibuka dengan irisan longitudinal dari
lateral ke hilus. Ureter dibuka dengan gunting sampai kandung urine, kapsul
ginjal dilepas dan perhatikan permukaannya. Pada laki-laki rektum dibuka dari
belakang dan kandung urine melalui uretra dari muka. Rektum dilepaskan dari
prostat dan dengan demikian terlihat vesika seminalis. Prostat dipotong
transversal, perhatikan besarnya penampang. Testis dikeluarkan melalui
kanalis spermatikus dan diiris longitudinal, perhatikan besarnya, konsistensi,
infeksi, normal, tubuli semineferi dapat ditarik seperti benang.

3. Leher :3-5
17

Lidah, laring, trakea, esofagus, palatum molle, faring dan tonsil dikeluarkan sebagai
satu unit. Perhatikan obstruksi di saluran nafas, kelenjar gondok dan tonsil. Pada kasus
pencekikan tulang lidah harus dibersihkan dan diperiksa adanya patah tulang.
4. Kepala :3-5
Kulit kepala diiris dari prosesus mastoideus kanan sampai yang kiri dengan mata
pisau menghadap keluar supaya tidak memotong rambut terlalu banyak. Kulit kepala
kemudian dikelupas ke muka dan ke belakang dan tempurung tengkorak dilepaskan
dengan menggergajinya. Pahat dimasukkan dalam bekas mata gergaji dan dengan
beberapa ketukan tempurung lepas dan dapat dipisahkan. Durameter diinsisi paralel
dengan bekas mata gergaji. Falx serebri digunting dibagian muka. Otak dipisah dengan
memotong pembuluh darah dan saraf dari muka ke belakang dan kemudian medula
oblongata. Tentorium serebri diinsisi di belakang tulang karang dan sekarang otak dapat
diangkat. Selaput tebal otak ditarik lepas dengan cunam. Otak kecil dipisah dan diiris
horisontal, terlihat nukleus dentatus. Medula oblongata diiris transversal, demikiaan pula
otak besar setebal 2,5 cm. Pada trauma kepala perhatikan adanya edema, kontusio,
laserasi serebri.

A. Luka Akibat Kekerasan Tumpul


Luka yang terjadi akibat kekerasan tumpul bisa berupa memar (kontusio, hematome),
luka lecet (ekskoriasi, abrasi), dan luka terbuka atau robek (vulnus laseratum).
Memar / Hematoma
Memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit/kutis akibat pecahnya
kapiler dan vena, yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul. Luka memar
kadangkala member petunjuk tentang bentuk benda penyebabnya.3
Letak, bentuk dan luas luka memar dipengaruhi oleh berbagai factor seperti besarnya
kekerasan, jenis benda penyebab (karet, kayu, besi), kondisi dan jenis jaringan (jaringan
ikat longgar, jaringan lemak), usia, jenis kelamin, corak dan warna kulit, kerapuhan
pembuluh darah, penyakit penyerta ( hipertensi, diastesis hemorragik, penyakit
kardiovaskular). Akibat gravitasi, lokasi hematom mungkin terletak jauh dari letak
benturan.3
Pada bayi, hematome cenderung lebih mudah terjadi karena sifat kulit yang
longgardan masih tipisnya jaringan lemak subkutan, demikian pula pada usia lanjut

18

sehubungnya dengan menipisnya jaringan lemak subkutan dan pembuluh darah yang
kurang terlindung.3
Umur luka memar secara kasar dapat diperkirakan melalui perubahan warnanya. Pada
saat timbul, memar berwarna merah, kemudian berubah menjadi ungu atau hitam, setelah
4-5 hari akan berwarna hijau yang kemudian akan berubah menjadi kuning dalam 7-10
hari, dan akhirnya menghilang dalam 14-15 hari. Perubahan warna tersebut berlangsung
mulai dari tepid an waktunya dapat bervariasi tergantung derajat dan berbagai factor yang
mempengaruhinya.3
Dari sudut pandang medikolegal, interpretasi luka memar merupakan hal penting,
apalagi bila luka memar itu disertai luka lecet. Dengan perjalanan waktu, baik pada orang
hidup atau mati, luka memar akan memberikan gambaran yang makin jelas.
Hematoma ante-mortem yang timbul beberapa saat sebelum kematian biasanya akan
menunjukkan pembengkakan dan infltrasi darah dalam jaringan sehingga dapat dibedakan
dari lebam mayat dengan cara melakukan penyayatan kulit.
Pada lebam mayat, darah akan mengalir keluar dari pembuluh darah yang tersayat
sehingga bila dialiri air, penampang sayatan akan tampak bersih. Sedangkan pada
hematom penampang sayatn tetap berwarna merah kehitaman. Tetapi harus diingat bahwa
pada pembusukan juga terjadi ekstravasasi darah yang dapat mengacaukan pemeriksaan
ini.3
Luka lecet (ekskoriasi / abrasi)
Luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda yang
memiliki permukaan kasar atau runcing.3
Manfaat interpretasi luka lecet ditinju dari aspek medikolegal seringkali diremehkan,
padahal pemeriksaan luka lecet yang teliti disertai pemeriksaan TKP dapat
mengungkapkan peristiwa yang sebenarnya terjadi.3
Sesuai dengan mekanisme terjadinya, lika lecet diklasifikasikan sebagai luka lecet
gores (scratch), luka lecet serut (graze), luka lecet tekan (impression) dan luka lecet geser
(friction abrasion).
Luka robek
Merupakan luka terbuka akibat trauma benda tumpul yang menyebabkan kulit
teregang ke satu arah dan bila batas elstisitas kulit terlampaui makan akan terjadi robekan
pada kulit. Luka ini mempunyai ciri yang umumnya tidak beraturan, tepi atau dinding
tidak rata, tampak jembatan jaringan antara kedua tepi luka, bentuk dasar luka tidak
beraturan, sering tampak luka lecet atau luka memar di sisi luka.3
Kekerasan benda tumpul yang cukup kuat dapat menyebabkan patah tulang. Bila
terdapat lebih dari 1 garis patah tulang yang saling bersinggungan maka garis yang terjadi
belakangan akan terhenti pada garis patah yang telah terjadi sebelumnya.3
19

B. Luka Akibat Kekerasan Tajam


Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka seperti ini adalah
benda yang memiliki sisi tajam, baik berupa garis maupun runcing, yang bervariasi dari alatalat seperti pisau, golok, dan sebagainya hingga keping kaca.3
Gambaran umum luka yang diakibatkannya adalah tepi dan dinding luka yang rata,
berbentuk garis, tidak terdapat jembatan jaringan dan dasar luka berbentuk garis atau titik.
Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa luka iris atau luka sayat, luka tusuk dan luka
bacok.3
Selain gambaran umum luka di atas, luka iris atau sayat dan luka bacok mempunyai
kedua sudut luka lancip dan dalam luka tidak melebihi panjang luka. Sudut luka yang lancip
dapat terjadi dua kali pada tempat yang berdekatan akibat pergeseran senjata sewaktu ditarik
atau akibat bergeraknya korban. Bila dibarengi gerak memutar, dapat menghasilkan luka
yang tidak selalu segaris.3,5
Pada luka tusuk, sudut luka dapat menunjukkan perkiraan benda penyebab, apakah
berupa pisau bermata satu atau bermata dua. Bila satu sudut luka lancip dan yang lain tumpul
berarti benda penyebabnya adalah benda tajam bermata satu. Bila kedua sudut luka lancip,
luka tersebut dapat diakibatkan oleh benda tajam bermata dua. Benda tajam bermata satu
dapat menimbulkan luka tusuk dengan kedua sudut luka lancip apabila hanya bagian ujung
benda saja yang menyentuh kulit, sehingga sudut luka dbentuk oleh ujung dan sisi tajamnya.
Kulit di sekitar luka akibat kekerasan benda tajam biasanya tidak menunjukkan
adanya luka lecet atau memar, kecuali bila bagian gagang turut membentur kulit.
Pada luka tusuk, panjang luka biasanya tidak mencerminkan lebar benda tajam
penyebabnya, demikian pula panjang saluran luka biasanya tidak menunjukkan panjang
benda tajam tersebut. Hali ini disebabkan oleh faktor elastisitas jaringan dan gerakan korban.
C. Penjeratan
Penjeratan adalah penekanan benda asing berupa tali, ikat pinggang, rantai, stagen,
kawat, kabel, kaos kaki dan sebagainya., melingkari atau mengikat leher yang makin lama
makin kuat, sehingga saluran pernapasan tertutup.3
Berbeda dengan gantung diri yang biasanya merupakan bunuh diri, maka penjeratan
biasanya adalah pembunuhan. Mekanisme kematian pada penjeratan adalah akibat asfiksia
atau refleks vaso-vagal (perangsangan reseptor pada carotid body).3

20

Pada gantung diri, semua arteri di leher mungkin tertekan, sedangkan pada penjeratan,
arteri vertebralis biasanya tetap paten. Hal inidisebabkan oleh karena kekuatan atau beban
yang menekan pada penjeratan biasanya tidak besar.3
Bila jerat masih ditemukan melingkari leher, maka jerat tersebut harus disimpan
dengan baik sebab merupakan benda bukti dan dapat diserahkan kepada penyidik bersamasama dengan Visum et Repertum-nya.3
Terdapat dua jenis simpul jerat, yaitu simpul hidup (lingkar jerat dapat diperbesar atau
diperkecil) dan simpul mati (lingkar jerat tidak dapat diubah). Simpul harus diamankan
dengan melakukan pengikatan dengan benang agar tidak berubah pada waktu mengangkat
jerat.3
Untuk melepaskan jerat dari leher, jerat harus digunting serong (jangan melintang)
pada tempat yang berlawanan dari letak simpul, sehingga dapat direkonstruksikan kembali di
kemudian hari. Kedua ujung jerat harus diikat sehingga bentuknya tidak berubah.3
Jejas jerat pada leher biasanya mendatar, melingkari leher dan terdapat lebih rendah
daripada jejas jerat pada kasus gantung. Jejas biasanya terletak setinggi atau di bawah rawan
gondok.3
Keadaan jejas jerat pada leher sangat bervariasi. Bila jerat lunak dan lebar seperti
handuk atau selendang sutera, maka jejas mungkin tidak ditemukan dan pada otot-otot leher
sebelah dalam dapat atau tidak ditemukan sedikit resapan darah. Tali yang tipis seperti kaos
kaki nylon akan meninggalkan jejas dengan lebar tidak lebih dari 2-3 mm.3
Bila jerat kasar seperti tali, maka bila tali bergesekan pada saat korban melawan akan
menyebabkan luka lecet di sekitar jejas jerat, yang tampak jelas berupa kulit yang mencekung
berwarna coklat dengan perabaan kaku seperti kertas perkamen (luka lecet tekan), pada otototot leher sebelah dalam tampak banyak resapan darah.3
Cara dan Sebab Kematian
a. Menentukan kematian atau memperkirakan cara kematian korban
Cara kematian adalah macam kejadian yang menimbulkan penyebab kematian.
Menentukan atau memperkirakan cara kematian korban pada umumnya baru dapat dilakukan
dengan hasil yang baik bila dokter diikut sertakan pada pemeriksaan di TKP, yang dilanjutkan
dengan pemeriksaan mayat oleh dokter yang bersangkutan. Jika hal tersebut tidak
21

dimungkinkan maka dokter yang melakukan pemeriksaan mayat masih dapat memperkirakan
atau menentukan cara kematian jika para penyidik memberikan keterangan yang jelas
mengenai berbagai hal yang dilihat dan ditemukan pada waktu penyidik melakukan
pemeriksaan di TKP.6,7
Dalam ilmu kedokteran forensic dikenal 3 cara kematian, yang tidak boleh selalu
diartikan dengan istilah dan pengertian secara hukum yang berlaku.
Cara kematian tersebut adalah :
1. Wajar (natural death), dalam pengertian kematian korban oleh karena penyakit bukan
karena kekerasan atau rudapakasa; misalnya kematian karena penyakit jantung, karena
perdarahan otak dank arena tuberkulosa.
2. Tidak wajar (un-natural death), yang dapat dibagi menjadi :
Kecelakaan
Bunuh diri
Pembunuh
3. Tidak dapat ditentukan (un-determined), hal ini disebabkan keadaan mayat telah
sedemikan rusak atau busuk sekali sehingga baik luka ataupun penyakit tidak dapat
dilihat dan ditemukan lagi.6,8
b. Memperkirakan saat kematian
Saat kematian korban hanya dapat diperkirakan karena penentuan kematian secara
pasti sampai saat ini masih belum memungkinkan. Perkiraan saat kematian diketahui dari:
1. Informasi para saksi, dalam hal ini perlu diingat bahwa saksi adalah manusia dengan
segala keterbatasannya.
2. Petunjuk-petunjuk yang terdapat di TKP, seperti jam atau arloji yang pecah, tanggal
yang tercantum pada surat kabar, surat, nyala lampu, keadaan tepat tidur, debu pada
lantai dan alat-alat rumah tangga dan lain sebagainya; yang semuanya ini dapat
dilakukan baik oleh penyidik.
3. Pemeriksaan mayat, yang dalam hal ini ialah:
Penurunan suhu mayat (algor mortis). Pada seseorang yang mati, suhu tubuh akan
menurun sampai sesuai dengan suhu disekitarnya. Secara kasar dikatakan bahwa
tubuh akan kehilangan panasnya sebesar 1 C/jam. Semakin besar perbedaan antara
suhu tubuh dengan lingkungan ( udara atau air), maka semakin cepat pula tubuh
akan kehilangan panasnya. Penurunan suhu tubuh juga dipengaruhi oleh intensitas
dan kuantitas dari aliran atau pergerakan udara. Kematian karena perdarahan otak,
kerusakan jaringan otak, perjeratan dan infeksi akan selalu didahului oleh
peningkatan suhu. Lemak tubuh, tebalnya otot serta tebalnya pakaian yang
dikenankan pada saat kematian pula mempengaruhi kecepatan penurunan suhu
22

tubuh. Selain pengurun suhu rectal, dokter dapat melakukan pengukuran suhu dari
alat-alat dalam tubuh seperti hati atau otak yang tentunya dapat dilakukan saat

pembedahan mayat.
Lebam mayat mulai tampak sekitar 30 menit setelah kematian, intensitas

maksimal tercapai pada 8-12 jam post mortal.


Kaku mayat terdapat sekitar 2 jam post mortal dan maksimal 10-12 jam post
mortal dan menetap selama 24 jam dan setelah 24 jam mulai menghilang kembali

sesuai urutan terdapatnya kaku mayat.


Pembusukan, kecepatan pembusukan pada mayat berbeda-beda tergantung
berbagai faktor, diantaranya factor lingkungan. Pembusukan mayat dimulai 48
jam setelah kematian, dengan diawali oleh timbulnya warna hijau kemerahmerahan pada dinding perut bagian bawah.6,8

c. Menentukan sebab kematian


Untuk dapat menentukan sebab kematian secara pasti mutlak harus dilakukan
pembedahan mayat (autopsy, otopsi), dengan atau tanpa pemeriksaan tambahn seperti
pemeriksaan mikroskopis, pemeriksaan toksikologis, pemeriksaan bakteriologis dan lain
sebaginya tergantung kasus yang dihadapi.
Tanpa pembedahan mayat tidak mungkin dapat ditentukan sebab kematian secara
pasti.
Perkiraan sebab kematian dapat dimungkinkan dari pengamatan yang teliti kelainankelainan yang dilihat dan ditemukan pada pemeriksaan luar.
Jadi tanpa pembedahan mayat perkiraan sebab kematian dapat diketahui dengan
menilai sifat luka, lokasi serta derajat berat ringannya kerusakan korban. Misalnya ada luka
tembak dikepala korban sedang pada bagian tubuh lainnya hanya ditemukan luka lecet kecilkecil, perkiraan sebab kematian dalam hal ini adalah karena tembakan senjata api.
Contoh sebab kematian :
-

Karena tusukan benda tajam


Karena tembakan senjata api
Karena pencekikan
Karena keracunan morfin
Karena tenggelam
Karena terbakar
Karena kekerasan benda tumpul
Sebab kematian jangan dikacaukan atau disalahartikan dengan mekanisme kematian.

Sebab kematian ditekankan pada alat atau sarana yang dipakai untuk mematikan korban,
sedangkan mekanisme kematian menunjukkan bagaimana korban itu mati setelah
23

umpamanya tertembak atau tenggelam. Mekanisme kematian, misalnya : karena perdarahan,


hancurnya jaringan otak atau karena refleks vagal.6

Visum et Repertum
Dalam tugas sehari-hari, selain melakukan pemeriksaan diagnostik, memberikan
pengobatan dan perawatan kepada pasien, dokter juga mempunyai tugas melakukan
pemeriksaan medik untuk tujuan membantu penegakan hukum baik untuk korban hidup
maupun korban mati. 1,3
Pemeriksaan medik untuk tujuan membantu penegakan hukum antara lain adlah
pembuatan visum et repartum terhadap seseorang yang dikirim oleh polisi (penyelidik)
karena diduga sebagai korban suatu tindak pidana baik dalam peristiwa kecelakaan lalu
lintas, kecelakaan kerja, penganiyaan, pembunuhan, perkosaan, maupun korban meninggal
yang pada pemeriksaan pertama polisi terdapat kecurigaan akan kemungkinan adanya tindak
pidana. 1,3
Visum et Repertum adalah keterangan yang dibuat dokter atas permintaan penyidik
yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, hidup maupun mati,
ataupun bagian/diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah
sumpah untuk kepentingan peradilan. 3,4
Penegak hukum mengartikan Visum et Repertum sebagai laporan tertulis yang dibuat
dokter berdasarkan sumpah atas permintaan yang berwajib untuk kepentingan peradilan
tentang segala hal yang dilihat dan ditemukan menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya. 3,4
Kesimpulan
Kematian dengan perdarahan masif akibat luka kekerasan benda tajam adalah
kematian yang tidak wajar. Dalam kasus ini, korban meninggal akibat kekerasan benda tajam,
sehingga dalam proses penyidikan, penyidik dapat menggunakan hasil pemeriksaan medis
untuk menemukan identitas korban dan perlu mencari barang bukti senjata pembunuh.
Pemeriksaan luar, pemeriksaan dalam dan laboratorium yang teliti dapat memberikan
kejelasan yang baik mengenai sebab kematian.
Daftar Pustaka
1. Amir,Amri.2007.Ilmu Kedokteran Forensik.Medan:Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran USU.

24

2. Suryadi,Taufik.2009.Pengantar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Buku Penuntun


Kepaniteraan Klinik Kedokteran Forensik dan Medikolegal.Banda Aceh: FK
Unsyiah/RSUDZA.

3. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Munim TWA, Sidhi, Hertian S, et al. Ilmu


kedokteran forensik. Jakarta. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 1997.
4. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Munim TWA, Sidhi, Hertian S, et al.
Teknik autopsi forensik. Jakarta. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 2004.
5. Dahlan, Sofyan. Ilmu kedokteran forensik, pedoman bagi dokter dan penegak hukum.
Semarang: Badan penerbit Universitas Dipenegoro. 2008.
6. Idries, A.M., Tjiptomartono, A.L. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik Dalam Proses
Penyidikan. Jakarta : Sagung Seto; 2008.
7. Staf Pengajar Bagian Forensik FKUI. Teknik Autopsi Foresik. Jakarta : Bagian
Kedokteran Forensik Universitas Indonesia; 2000.
8. Idries, A.M. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Ed I. Jakarta : Bina Rupa Aksara;
1997.

25