Anda di halaman 1dari 42

I.

DEFINISI PENELITIAN KUANTITATIF


Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah cukup lama
digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini sering
disebut sebagai metode positivistik, karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode ini
sebagai metode ilmiah/scientific, karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu
konkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Metode ini juga disebut metode
discovery, karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai IPTEK
baru. Metode ini disebut metode kuantitatif, karena data penelitian berupa angka-angka dan
analisis menggunakan statistik.
Penelitian Kuantitatif atau Quantitatif Research adalah suatu metode penelitian yang
bersifat deduktif, objektif dan ilmiah di mana data yang di peroleh berupa angka-angka (score,
nilai) atau pernyataan-pernyataan yang di nilai, dan dianalisis dengan analisis statistik.
Penelitian Kuantitatif biasanya di gunakan untuk membuktikan dan menolak suatu teori.
Karena penelitian ini biasanya bertolak dari suatu teori yang kemudian di teliti, di hasilkan
data, kemudian di bahas dan di ambil kesimpulan. Contoh penelitian kuantitatif adalah
penelitian-penelitian yang di lakukan oleh para ilmuwan dalam bidang ilmu alam, ilmu sosial,
jurnalisme, dll.
Penelitian kuantitaif merupakan sebuah penelitian yang berlangsung secara ilmiah dan
sistematis dimana pengamatan yang di lakukan mencakup segala hal yang berhubungan
dengan objek penelitian, fenomena serta korelasi yang ada diantaranya. Tujuan penelitian
kuantitatif adalah untuk memperoleh penjelasan dari suatu teori dan hukum-hukum realitas.
Penelitian kuantitatif dikembangkan dengan menggunakan model-model matematis, teoriteori dan atau hipotesis.
Perkembangan metode penelitian kuantitatif kebanyakannya di landasi oleh filsafat
positivisme yang berpedoman pada lima point penting yaitu:

Hakikat realitas adalah tunggal.

Macam-macam variabel dalam realitas kehidupan saling berhubungan antara satu


dengan lainnya dalam suatu hubungan sebab akibat yang nyata dan bersifat mekanistik.

Hubungan antara peneliti dengan yang diteliti terpisah.

1 | Metodologi penelitian: Penelitian Ku antitatif

Ilmu pengetahuan adalah bebas nilai.

Tujuan penelitian kuantitatif adalah untuk mendapatkan sebuah "penjelasan" atau


"eksplanasi" tentang realitas, dan untuk menemukan hukum-hukum realitas.

II.

KARAKTERISTIK PENELITIAN KUANTITATIF

Berikut akan disebutkan karakteristik penelitian kuantitatif.


1. Desain
a. Spesifik, jelas, rinci
b. Ditentukan secara mantap sejak awal
c. Menjadi pegangan langkah demi langkah
2. Tujuan
a. Menunjukkan hubungan antar variabel
b. Menguji teori
c. Mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif
3. Teknik Pengumpulan Data
a. Kuesioner
b. Observasi dan wawancara terstruktur
4. Instrumen Penelitian
a. Test, angket, wawancara terstruktur
b. Instrumen yang telah terstandar
5. Data
a. Kuantitatif
b. Hasil pengukuran variabel yang dioperasionalkan dengan instrumen
6. Sampel
a. Besar
b. Representatif
c. Sedapat mungkin random
d. Ditentukan sejak awal
7. Analisis
a. Setelah selesai pengumpulan data
b. Deduktif
c. Menggunakan statistik untuk menguji hipotesis
8. Hubungan dengan Responden
a. Dibuat berjarak
b. Kedudukan peneliti lebih tinggi dari pada responden
c. Jangka pendek sampai dipotesis dapat dibuktikan
9. Usulan Desain
a. Luas dan rinci
b. Literature yang berhubungandengan masalah, dan variabel yang diteliti
c. Prosedur yang spesifik dan rinci data-datanya
d. Masalah dirumuskan dengan spesifik dan jelas
e. Hipotesis dirumuskan dengan jelas
f. Ditulis secara rinci dan jelas sebelum terjun ke lapangan
10. Kapan Penelitian Dianggap Selesai?
Setelah semua kegiatan yang direncanakan dapat diselesaikan
2 | Metodologi penelitian: Penelitian Ku antitatif

11. Kepercayaan Terhadap Hasil Penelitian


Pengujian validitas dan reliabilitas instrument.
III.

PENGGUNAAN METODE KUANTITATIF

Metode kuantitatif digunakan apabila:


1.
2.
3.
4.
5.

Bila masalah yang merupakan titik tolak penelitian sudah jelas.


Bila peneliti ingin mendapatkan informasi yang luas dari populasi.
Bila ingin diketahui pengaruh perlakuan/treatment tertentu terhadap yang lain.
Bila peneliti bermaksud menguji hipotesis penelitian.
Bila peneliti ingin mendapatkan data yang akurat, berdasarkan fenomena yang empiris
dan dapat diukur.

6. Bila ingin menguji terhadap adanya keragu-raguan tentang validitas pengetahuan, teori,
dan produk tertentu.
IV.

PROSES

PENELITIAN,

MASALAH,

VARIABEL,

DAN

PARADIGMA

PENELITIAN
Berikut akan dijelaskan proses penelitian, masalah variabel, dan paradigma penelitian
kuantitatif
A. Proses Penelitian Kuantitatif
Penelitian selalu berangkat dari masalah, masalah yang dibawa peneliti kuantitatif harus
sudah jelas. Setelah masalah diidentifikasi dan dibatasi, maka selanjutnya masalah tersebut
dirumuskan. Rumusan masalah pada umumnya dinyatakan dalam kalimat pertanyaan. Dengan
pertanyaan peneliti menggunakan teori untuk menjawabnya, dinamakan hipotesis.
Selanjutnya, hipotesis dibuktikan dengan pengumpulan data secara empiris pada
populasi/sampel. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan
statistik.Instrumen
Statistik yang
Pengembangan
digunakan dapat berupa statistik deskriptif dan inferensial/induktif. Data hasil analisis
selanjutnya disajikan dan diberikan pembahasan. Setelah hasil penelitian diberikan
pembahasan, maka selanjutnya dapat disimpulkan. Jika ada lima rumusan masalah maka ada
lima kesimpulan pula.

Pengujian Instrumen
Populasi dan Sampel

Proses penelitian
kuantitatif dapat digambarkan seperti gambar di bawah ini.
Rumusan
Masalah
Landasan Teori
Perumusan Masalah
Pengumpulan DataAnalisis Data

3 | Metodologi penelitian: Penelitian Ku antitatif


Kesimpulan dan Saran

B. Masalah
Pada dasarnya penelitian itu dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang
antara lain dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Untuk itu setiap penelitian yang
akan dilakukan harus selalu berangkat dari masalah. Oleh karena itu menemukan masalah
dalam penelitian merupakan pekerjaan yang tidak mudah, tetapi setelah masalah ditemukan,
maka pekerjaan penelitian akan segera dapat dilakukan.
Sumber Masalah
Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa
yang benar-benar terjadi, antara teori dengan praktik, antara aturan dengan pelaksanaan, dan
antara rencana dengan pelaksanaan.
C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan suatu petanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui
pengumpulan data. Hubungan antara masalah dan rumusan masalah sangat erat, karena setiap
rumusan masalah harus didsasarkan pada masalah.
Bentuk-bentuk Rumusan Masalah Penelitian
1. Rumusan Masalah Deskriptif
Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan
pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih
(variabel yang berdiri sendiri).
4 | Metodologi penelitian: Penelitian Ku antitatif

Contoh:
Seberapa tinggi minat belajar matematika dan lama belajar rata-rata per hari murid-murid
sekolah di Jawa Timur?
2. Rumusan Masalah Komparatif
Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang membandingkan
keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda.
Contoh:
Adakah perbedaan prestasi belajar antara murid yang mengikuti bimbingan belajar di luar
sekolah dan tidak?
3. Rumusan Masalah Asosiatif
Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat
menyatakan hubungan anatar dua variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan, yaitu:
a. Hubungan Simetris
Hubungan simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan
munculnya bersama.
Contoh:
Adakah hubungan antara jarak antara rumah dan sekolah dengan prestasi belajar murid?
b. Hubungan Kausal
Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Jadi di sini ada variabel
independen (variabel yang memengaruhi) dan variabel dependen (dipengaruhi).
Contoh:
Seberapa besar pengaruh kurikulum, media pembelajaran, dan guru terhadap kualitas SDM
yang dihasilkan dari suatu sekolah?
c. Hubungan Interaktif/resiprocal/timbal balik
5 | Metodologi penelitian: Penelitian Ku antitatif

Hubungan interaktif adalah hubungan yang saling memengaruhi. Di sini tidak ada
variabel independen dan variabel dependen.
Contoh:
Hubungan antara kecerdasan dengan kekayaan orang tua.
D. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau
kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya.
Macam-macam Variabel
Menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel lai, maka macam-macam
variabel penelitian dapat dibedakan menjadi:
1. Variabel Independen: variabel ini sering disebut variabel stimulus, prediktor,
antecedent, atau dalam bahasa Indonesia disebut variabel bebas. Variabel bebas adalah
variabel yang memengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel
dependen (terikat).
2. Variabel Dependen: variabel ini sering disebut variabel output, kriteria, konsekuen, atau
dalam bahasa Indonesia disebut variabel terikat. Variabel terikat adalah variabel yang
dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel dependen (bebas).
3. Variabel Moderator: adalah variabel yang memengaruhi (memperlemah atau
memperkuat) hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.
4. Variabel Intervening: adalah variabel yang secara teoritis memengaruhi hubungan
antara variabel independen dan dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan
tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela/antara yang
terletak di antara variabel independen dan dependen, sehingga variabel independen tidak
langsung memengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen.
5. Variabel Kontrol: adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga
hubungan variabel independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang
6 | Metodologi penelitian: Penelitian Ku antitatif

tidak diteliti. Variabel kontrol sering digunakan oleh peneliti, bila akan melakukan
penelitian yang bersifat membandingkan.
E. Paradigma Penelitian
Paradigma penelitian dalam hal ini dapat diartikan sebagai pola pikir yang menunjukkan
hubungan antara variabel yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah
rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian, teori yang digunakan untuk
merumuskan hipotesis, jenis dan jumlah hipotesis, dan teknik analisis statistik yang akan
digunakan. Berdasarkan hal ini, maka bentuk paradigma atau model penelitian kuantitatif
khususnya penelitian survey adalah sebagai berikut:
1. Paradigma Sederhana
Paradigma penelitian ini terdiri atas satu variabel independen dan dependen.

Misal,
X

= Kualitas Media

Y
= Prestasi Belajar Murid
Berdasarkan paradigma tersebut, maka dapat ditentukan:
a. Jumlah rumusan masalah deskriptf ada dua dan asosiatif ada satu, yaitu:
1) Rumusan masalah deskriptif
a) Bagaimana X? (kualitas media)
b) Bagaimana Y? (prestasi belajar murid)
2) Rumusan masalah asosiatif/hubungan
Bagaimanakah hubungan atau pengaruh kualitas media dengan prestasi
nelajar murid?
b. Teori yang digunakan ada dua, yaitu teori tentang media pendidikan dan prestasi
belajar.
c. Hipotesis yang dirumuskan ada dua macam, hipotesis deskriptif dan hipotesis
asosiatif (hipotesis deskriptif jarang dirumuskan).
1) Dua hipotesis deskriptif
a) Kualitas media yang digunakan oleh lembaga pendidikan tersebut
telah mencapai 70% baik.
b) Prestasi belajar murid lembaga pendidikan tersebut telah mencapai
99% dari yang diharapkan.
2) Hipotesis asosiatif
Ada hubungan yang positif dan signifikan antara kualitas media pendidikan
dengan prestasi belajar murid. Hal ini berarti kualitas media pendidikan
7 | Metodologi penelitian: Penelitian Ku antitatif

ditingkatkan, maka prestasi belajar murid akan meningkat pada gradasi yang
tinggi (kata signifikan hanya digunakan apabila hasil hipotesis akan
digeneralisasikan ke populasi di mana sampel tersebut diambil).
d. Teknik analisis data
Berdasarkan rumusan masalah hipotesis tersebut, maka dapat dengan mudah
ditentukan teknik statistik yang digunakan untuk analisis data dan menguji
hipotesis.
1) Untuk dua hipotesis deskriptif, bila data berbentuk interval dan rasio, maka
pengujian hipotesis menggunakan t-test one sampel.
2) Untuk hipotesis asosiatif, bila data kedua variabel berbentuk interval atau
rasio, maka menggunakan teknik Statistik Korelasi Produt Moment.
2. Paradigma Sederhana Berurutan
Paradigma penelitian ini terdiri atas lebih dari dua variabel, tetapi hubungannya masih
sederhana.

X1
X1

X2
= Kualitas Input

X3
X3

= Kualitas Output

X2 = Kualitas Proses
Y
= Kualitas Outcome
Paradigma sederhana menunjukkan hubungan antar satu variabel independen dengan
satu variabel dependen secara berurutan. Untuk mencari hubungan antar variabel (X 1
dengan X2; X2 dengan X3 dan X3 dengan Y) tersebut digunakan teknik korelasi
sederhana.
3. Paradigma Ganda dengan Dua Variabel Independen
Paradigma penelitian ini terdiri atas dua variabel independen dan satu variabel
dependen. Dalam paradigma ini terdapat tiga rumusan masalah deskriptif dan empat
rumusan masalah asosiatif (3 korelasi sederhana dan 1 korelasi ganda).

r1
r3
X1

X1
R
X2

= Kualitas Media

r2

Y
Y

= Prestasi Belajar Murid

8 | Metodologi penelitian: Penelitian Ku antitatif

X2

= Lingkungan Sekolah

Paradigma ganda dengan dua variabel independen X1 dan X2, dan satu variabel
dependen Y. Untuk mencari hubungan X 1 dengan Y dan X2 dengan Y, menggunakan
teknik korelasi sederhana. Untuk mencari hubungan X1 dengan X2 secara bersama-sama
terhadap Y menggunakan korelasi ganda.
4. Paradigma Ganda dengan Tiga Variabel Independen
Paradigma ini terdapat tiga variabel independen (X1, X2, X3) dan satu dependen (Y).
Rumusan masalah deskriptif ada 4 dan rumusan masalah asosiatif (hubungan) untuk
yang sederhana ada 6 dan untuk yang ganda minimal 1.

X1

r1

r4
r6

X2
r5

X1

r2
r3

= Kualitas Media

X3

Y
X3

= Semangat Belajar

X2 =ganda
Gaya dengan
Belajar 3 variabel independen
Y
= Prestasi
Murid
Paradigma
yaitu X1Belajar
, X2, dan
X3. Untuk mencari
besarnya hubungan antara X1 dengan Y; X2 dengan Y; X3 dengan Y; X1 dengan X2, X2
dengan X3; dan X1 dengan X3 dapat menggunakan korelasi sederhana. Untuk mencari
besarnya hubungan antar X1 secara bersama-sama dengan X2 dan X3 terhadap Y
menggunakan korelasi ganda.
5. Paradigma Ganda dengan Dua Variabel Dependen

Y1

r1
X1
X

r2

= Kualitas Media

Y1
Y2

Y2

= Motivasi Belajar Murid


= Prestasi Belajar Murid

9 | Metodologi penelitian: Penelitian Ku antitatif

Paradigma ganda dengan satu variabel independen dan dua variabel dependen. Untuk
mencari besarnya hubungan antara X dengan Y1; X dengan Y2; dan Y1 dengan Y2
digunakan teknik korelasi sederhana.
6. Paradigma Ganda dengan Dua Variabel Independen dan Dua Variabel Dependen
Paradigma ini terdapat dua variabel independen (X 1 dan X2) dan dua variabel dependen
(Y1 dan Y2). Terdapat 4 rumusan masalah deskriptif dan 6 rumusan masalah
asosiatif/hubungan.korelasi dan regresi ganda dapat digunakan untuk menganalisis
hubungan antar variabel secara simultan.

r1

X1

Y1
r2

r5

r6

r3

r4
X1 X2
= Kualitas Sekolah

Y1Y2 = Jumlah Pendaftar

X2

Y2

= Pelayanan Sekolah

= Kepuasan Pelayanan

Hubungan antar r1, r2, r3, r4, r5, dan r6 dapat dianalisis dengan korelasi sederhana.
Hubungan antara X1 bersama-sama dengan X2 terhadap Y1 dan X1 bersama-sama
dengan X2 terhadap Y2 dapat dianalisis dengan korelasi ganda.
7. Paradigma Jalur

X1

r2

r1

r5

X3
r3
X2

r6

r4

X1

= Status Sosial Ekonomi

Y1

= Motivasi Berprestasi

X2

= IQ

Y2

= Prestasi Bealajar

Teknik analisis Statistik yang digunakan dinamakan path analysis (analisis jalur).
Analisis dilakukan dengan menggunakan korelasi dan regresi sehingga dapat diketahui
untuk sampai pada variabel dependen terakhir harus lewat jalur langsung atau melalui
10 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

variabel intervening. Dalam paradigma tersebut terdapat 4 rumusan masalah deskriptif


dan 6 rumusan masalah asosiatif/hubungan.
Paradigma penelitian ini disebut paradigma jalur karena terdapat variabel yang
berfungsi sebagai jalur antar (X3). Dengan adanya variabel antara ini, akan dapat
digunakan untuk mengetahui apakah untuk mencapai sasaran terakhir harus melewati
variabel antara itu atau bisa langsung ke sasaran terakhir.
V.

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS


Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proporsi yang berfungsi untuk

melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga
dapat berguna untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction), dan mengendalikan
(control) suatu gejala.
Teori yang digunakan untuk perumusan hipotesis yang akan diuji melalui pengumpulan
data adalah teori subtantif, karena teori ini lebih fokus berlaku untuk obyek yang akan diteliti.
Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori.
Dalam penelitian kuantitatif, teori yang digunakan harus jelas, karena teori di sini berfungsi
untuk memperjelas masalah yang diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, dan
sebagai referensi untuk menyusun instrumen penelitian. Oleh karena itu, landasan teori dalam
proposal penelitian kuantitatif harus sudah jelas teori apa yang akan dipakai.
Deskripsi Teori
Deskripsi teori merupakan uraian sistematis tentan teori (bukan sekedar pendapat pakar
atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti.
Kerangka Berfikir
Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel
yang kan diteliti. Kerangka berpikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam
penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih. Apabila penelitian hanya membahas
sebuah variabel atau lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti disamping
mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variabel, juga argumentasi terhadap
variasi besaran variabel yang diteliti.
11 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

Hipotesis
Perumusan hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam penelitian, setelah
peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka berfikir. Perlu diketahui bahwa tidak
setiap penelitian harus mengemukakan hipotesis. Penelitian yang bersifat eksploratif dan
deskriptif sering tudak perlu merumuskan hipotesis.
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian yang
masih berdasarkan teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang
diperoleh melalui pengumpulan data. Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian
yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan harus diuji oleh peneliti dengan menggunakan
pendekatan kuantitatif. Dalam hal ini, perlu dibedakan pengertian hipotesis penelitian dan
hipotesis statistik.
a. Hipotesis penelitian adalah pernyataan sementara yang merupakan jawaban dari
pertanyaan penelitian yang didasarkan pada teori dan hasil penelitian terdahulu.
b. Hipotesis statistik adalah pernyataan yang berkaitan dengan parameter populasi
Awalnya, hipotesis dibuat dengan harapan akan ditolak atau dibuat nol, sehingga
digunakan istilah hipotesis nol (H0). Akan tetapi sekarang, bentuk ini dapat diaplikasikan pada
sebarang hipotesis yang akan diuji, diharapkan terjadi oleh peneliti dan dinotasikan dengan
H0.
Sebarang hipotesis yang berbeda/bekebalikan dengan hipotesis yang diberikan (H0)
disebut hipotesis alternatif yang dinotasikan Ha atau H1. Penolakan dari H0 membawa pada
penerimaan H1.
Hipotesis nol selalu dinyatakan dalam nilai parameter eksak, sementara hipotesis
alternatif bisa dengan bermacam nilai. Pada H0 digunakan notasi = (sama dengan); H 1
digunakan notasi > (lebih besar dari), < (kurang dari), (tidak sama dengan).
Dalam hipotesis statistik, yang diuji adalah hipotesis nol, hipotesis yang menyatakan
tidak ada perbedaan antara data sampel dan data populasi. Yang diuji hipotesis nol, karena
peneliti tidak berharap ada perbedaan antara sampel dan populasi atau statistik dan parameter.
Bentuk-bentuk Hipotesis

12 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

Bentuk-bentuk hipotesis penelitian sangat terkait dengan rumusan masalah penelitian. Bila
dilihat dari eksplanasinya, maka bentuk rumusan masalah penelitian ada tiga yaitu: rumusan
masalah deskriptif (variabel mandiri), komparatif (perbandingan), asosiatif (hubungan).
Karena hal itu,maka bentuk hipotesis penelitian juga ada tiga yaitu hipotesis deskriptif,
komparatif, dan asosiatif.
A. Hipotesis Deskriptif
Hipotesis deskriptif merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif, yaitu
yang berkenaan dengan variabel mandiri.
Contoh:
1. Rumusan Masalah Deskriptif
Seberapa lama daya konsentrasi belajar matematika murid SMP kelas VII?
2. Hipotesis Deskriptif
H0 : Daya konsentrasi belajar matematika murid SMP kelas VII sama dengan 8
menit/jam (H0, karena daya konsentrasi belajar matematika murid SMP kelas VII
yang ada pada sampel diharapkan tidak berbeda secara signifikan dengan daya
konsentrasi belajar matematika murid SMP kelas VII yang ada pada populasi).
Ha

Angka 8 menit/jam merupakan angka hasil pengamatan sementara.


: Daya konsentrasi belajar matematika murid SMP kelas VII 8 menit/jam.

bisa berarti lebih besar atau lebih kecil dari 30 menit/jam.


3. Hipotesis Statistik (hanya ada bila berdasarkan data sampel)
H0 : = 8 menit/jam
Ha : 8 menit/jam

: adalah nilai rata-rata populasi yang dihipotesiskan atau


ditaksir melalui sampel.

B. Hipotesis Komparatif
Hipotesis komparatif merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah
komparatif. Pada rumusan ini, variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya yang berbeda,
atau keadaan itu terjadi pada waktu yang berbeda.
Contoh:
1. Rumusan Masalah Komparatif

13 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

Bagaimanakah prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi A bila dibandingkan


Perguruan Tinggi W?
2. Hipotesis Komparatif
Berdasarkan rumusan masalah komparatif tersebut dapat dikemukakan model hipotesis
nol dan alternatif, sebagai berikut:
H0 : tidak terdapat perbedaan prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi A bila
Ha

dibandingkan Perguruan Tinggi W


: prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi A lebih besar (atau lebih kecil) bila

dibandingkan Perguruan Tinggi W.


3. Hipotesis Statistik
H0 : 1 = 2
1 = rata-rata (populasi) prestasi belajar mahasiswa PT. A
H1 : 1 2
2 = rata-rata (populasi) prestasi belajar mahasiswa PT. W

C. Hipotesis Asosiatif
Hipotesis asosiatif adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiatif, yaitu
yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.
Contoh:
1. Rumusan Masalah Asosiatif
Adakah hubungan yang positif dan signifikan antara kepemimpinan guru matematika
kelas dengan suasana belajar di kelas.
2. Hipotesis Asosiatif
Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kepemimpinan guru matematika
kelas dengan suasana belajar di kelas.
3. Hipotesis Statistik
H0 : = 0,
0 berarti tidak ada hubungan
Ha: 0,
berarti bisa lebih besar atau lebih kecil dari 0, berarti ada
hubungan.
= nilai korelasi dalam formulasi yang dihipotesiskan.

VI.

METODE PENELITIAN KUANTITATIF

Berdasarkan desain penelitian kuantitatif, terdapat dua bentuk desain penelitian yaitu: bentuk
desain eksperimen dan bentuk desain noneksperimen.
A. Bentuk Desain Eksperimen

14 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

Desain eksperimen cenderung tinggi dalam validitas internal (internal validity) tetapi
lebih rendah di validitas eksternal (external validity). Terdapat beberapa bentuk desain
eksperimen yang dapat digunakan dalam penelitian pendidikan, yaitu: Pre-Experimental
Design, True Experimental Design, Factorial Design, dan Quasi Experimental Design. Hal ini
dapat digambarkan seperti di bawah ini.
One Shot Case Studi
One Group Pretest-Posttest

Pre-Experimental

Intec Group Comparison


Macam-macam Design Eksperimen

Posttest Only Control Design


True Experimental
Pretest-Postest Control Group Design

Factorial Experimental

Quasi Experimental

Time-Series Design

Nonequivalent Control Group Design

1. Pre-Experimental Designs (non-designs)


Dikatakan pre-experimental design, karena desain ini belum merupakan eksperimen
sungguh-sungguh. Hal ini disebabkan karena masih terdapat variabel luar yang ikut
berpengaruh terhadap terbentuknya variabel terikat (dependen). Jadi hasil eksperimen yang
merupakan variabel terikat (dependen) itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel bebas
(independen). Hal ini bisa saja terjadi karena tidak adanya variabel kontrol dan sampel yang
tidak dipilih secara acak (random). Bentuk pra-experimental designs antara lain:
a. One Shot Case Studi
Paradigma dalam penelitian eksperimen model ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Keterangan:
15 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

= treatment yang diberikan (variabel independen)

= observasi (variabel dependen)


Dalam desain penelitian ini terdapat suatu kelompok diberi treatment (perlakuan) dan

selanjutnya diobservasi hasilnya (treatment adalah sebagai variabel independen dan hasil
adalah sebagai variabel dependen). Dalam eksperimen ini subjek disajikan dengan beberapa
jenis perlakuan, lalu diukur.
Contoh:
Pengaruh bimbingan belajar matematika (X) terhadap prestasi belajar matematika murid(O).
Terdapat kelompok siswa yang mengikuti bimbingan belajar matematika kemudian
setelah diukur prestasi belajar matematika. Pengaruh bimbingan belajar matematika terhadap
prestasi belajar matematika diukur dengan membandingkan prestasi belajar matematika
sebelum mengikuti bimbingan belajar matematika dengan prestasi belajar matematika setelah
mengikuti bimbingan belajar matematika (misalnya sebelum mengikuti bimbingan belajar
prestasi belajar matematika mendapat nilai raport 70, setelah mengikuti bimbingan belajar
prestasi belajar matematika mendapat nilai raport 80. Jadi pengaruh mengikuti bimbingan
belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika murid sebesar 80 70 = 20 point).
b. One Group Pretest-Posttest
Paradigma dalam penelitian eksperimen model ini dapat digambarkan sebagai berikut:

O1

O2

Keterangan:
O1
O2

= nilai pretest (sebelum diberi perlakuan)


= nilai posttest (setelah diberi perlakuan)

Pengaruh perlakuan terhadap prestasi belajar matematika murid = (O2 O1)


Jika pada desain One-Shot Case Study tidak ada pretest, maka pada desain ini terdapat
pretest sebelum diberi treatment (perlakuan). Dengan demikian, hasil perlakuan dapat
diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi
perlakuan.
16 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

c. Intec Group Comparison


Paradigma dalam penelitian eksperimen model ini dapat digambarkan sebagai berikut:

O1
O2

Keterangan:

O1

= hasil pengukuran setengah kelompok yang diberi perlakuan

O2

= hasil pengukuran setengah kelompok yang tidak diberi perlakuan


Pada desain ini terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian, tetapi dibagi

dua yaitu: setengah kelompok untuk eksperimen (yang diberi perlakuan) dab setengahnya
untuk kelompok kontrol (yang tidak diberi perlakuan).
Contoh:
Dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh metode demonstrasi terhadap prestasi
belajar murid dalam pelajaran bangun ruang pada SMP. Terdapat enam kelas yang praktek
membuat contoh bangun ruang. Dari empat kelas tersebut, dua kelas diberi pelajaran dengan
metode demonstrasi (O1) dan dua kelas dengan metode ceramah (O2). Setelah 3 bulan, prestasi
belajar diukur. Bila prestasi/kompetensi murid yang diajar dengan metode demonstrasi lebih
tinggi daripada murid yang diajar dengan metode ceramah, maka metode demonstrasi
berpengaruh positif untuk pembelajaran bangun ruang. (O1 O2)
2. True Experimental Design
Dikatakan true experimental (eksperimen yang sebenarnya/betul-betul) karena dalam
desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya
eksperimen. Dengan demikian validitas internal (kualitas pelaksanaan rancangan penelitian)
dapat menjadi tinggi. Ciri utama dari true experimental adalah bahwa, sampel yang digunakan
untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random (acak) dari

17 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

populasi tertentu. Jadi cirinya adalah adanya kelompok kontrol dan sampel yang dipilih secara
random. Desain true experimental terbagi atas:
a. Posttest-Only Control Design
Paradigma dalam penelitian eksperimen model ini dapat digambarkan sebagai berikut:

O1
O2

Keterangan:
R
O1

= random
= kelompok yang diberi perlakuan (kelompok eksperimen)

O2

= kelompok yang tidak diberi perlakuan (kelompok kontrol)


Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random

(R). Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok lain tidak. Pengaruh adanya
perlakuan adalah (O1 : O2). Dalam penelitian yang sesungguhnya, pengaruh perlakuan
dianalisis dengan uji beda menggunakan statistik misalnya dengan t-test. Jika terdapat
perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, maka
perlakuan yang diberikan berpengaruh secara signifikan.
b. Pretest-Posttest Control Group Design
Paradigma dalam penelitian eksperimen model ini dapat digambarkan sebagai berikut:

O1

O3

O2
O4

Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara acak/random, kemudian
diberi pretest untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen
dan kelompok kontrol. Hasil pretest baik bila nilai kelompok eksperimen tidak berbeda secara
signifikan. Pengaruh perlakuan adalah (O2 O1) (O4 O3)
3. Factorial Experimental

18 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

Factorial experimental merupakan modifikasi dari design true experimental, yaitu yang
meperhatikan kemungkinan adanya variabel moderator yang mempengaruhi perlakuan
(variabel independen) terhadap hasil (variabel dependen). Paradigma eksperimen faktorial
dapat digambarkan sebagai berikut:

O1

O3

O5

O7

Y1

O2

Y1

O4

Y2

O6

Y2

O8

Pada eksperimen ini semua kelompok dipilih secara random, kemudian masing-masing
diberi pretest. Kelompok untuk penelitian dinyatakan baik, bila setiap kelompok nilai
pretestnya sama. Jadi O1 = O3 = O5 = O7. dalam hal ini variabel moderatornya adalah Y1 dan
Y2.
Contoh:
Dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran baru murid terhadap
prestasi belajar. Untuk itu dipilih empat kelompok secara random. Variabel moderatornya
adalah jenis kelamin, yaitu laki-laki (Y1) dan perempuan (Y2).
Perlakuan (model pembelajaran baru) dicobakan pada kelompok eksperimen pertama
yang telah diberi pretest (O1 = kelompok laki-laki) dan kelompok eksperimen kedua yang
telah diberi pretest (O5 = kelompok perempuan). Pengaruh perlakuan (X) terhadap prestasi
belajar untuk kelompok laki-laki = (O2 - O1) (O4 O3). Pengaruh perlakuan (model
pembelajaran baru) terhadap prestasi belajar untuk kelompok perempuan = (O6 O5) (O8
O7).
Bila terdapat perbedaan pengaruh model pembelajaran baru terhadap prestasi belajar
antara kelompok laki-laki dan perempuan maka penyebab utamanya adalah bukan karena
perlakuan yang diberikan (karena perlakuan yang diberikan sama), tetapi karena adanya
variabel moderator, yang dalam hal ini adalah jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan
menggunakan model pembelajaran baru yang sama, tempat belajar yang sama, tetapi pada

19 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

umumnya, kelompok wanita lebih rajin dalam belajar, sehingga meningkatkan prestasi
belajarnya.
4. Quasi Experimental
Bentuk desain eksperimen ini merupakan pengembangan dari true experimental design,
yang sulit dilaksanakan. Desain ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi
sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan
experimen. Walaupun demikian, desain ini lebih baik dari pre-experimental design. Quasi
Experimental Design digunakan karena pada kenyataannya sulit medapatkan kelompok
kontrol yang digunakan untuk penelitian.
Dalam suatu kegiatan pembelajaran di kelas misalnya, sering tidak mungkin
menggunakan sebagian siswa untuk eksperimen dan sebagian tidak. Sebagian menggunakan
prosedur belajar baru yang lain tidak. Oleh karena itu, untuk mengatasi kesulitan dalam
menentukan kelompok kontrol dalam penelitian, maka dikembangkan desain Quasi
Experimental.
Desain eksperimen model ini diantarnya sebagai berikut:
a. Time-Series
Dalam desain ini kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak dapat dipilih secara
random. Sebelum diberi perlakuan, kelompok diberi pretest sampai empat kali dengan
maksud untuk mengetahui kestabilan dan kejelasan keadaan kelompok sebelum diberi
perlakuan. Bila hasil pretest selama empat kali ternyata nilainya berbeda-beda, berarti
kelompok tersebut keadaannya labil, tidak menentu, dan tidak konsisten. Setelah kestabilan
keadaan kelompok dapay diketahui dengan jelas, maka baru diberi treatment. Desain
penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok saja, sehingga tidak memerlukan kelompok
kontrol.
Paradigma eksperimen faktorial dapat digambarkan sebagai berikut:

O1 O2 O3 O4 X O5 O6 O7 O8

20 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

Hasil pretest baik bila O1 = O2 = O3 = O4 danhasil perlakuan yang baik adalah

bila O5 = O6 = O7 = O8. Besarnya pengaruh perlakuan = (O5 + O6 + O7 + O8)


(O1 + O2 + O3 + O4).
b. Nonequivalent Control Group
Desain ini hampir sama dengan pretest-posttest control group design, hanya pada desain
ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random.
Dalam desain ini, baik kelompok eksperimental maupun kelompok kontrol
dibandingkan, meskipun kelompok tersebut dipilih dan ditempatkan tanpa melalui random.
Dua kelompok yang ada diberi pretest, kemudian diberikan perlakuan, dan terakhir diberikan
postes.
Paradigma nonequivalent Control Group dapat digambarkan sebagai berikut:

O1
O3

O2
O4

Contoh:
Dilakukan penelitian untuk mencari pengaruh perlakuan pemberian Pekerjaan Rumah
(PR) terhadap hasil belajar matematika murid. Desain penelitian dipilih satu kelompok
murid. Selanjutnya dari satu kelompok tersebut yang setengah diberi PR setiap selesai
pelajaran matematika dan yang setengah lagi idak. O 1 dan O3 merupakan murid sebelum ada
perlakuan pemberian PR. O2 adalah hasil belajar matematika murid setelah pemberian PR
setelah 1 semester. O4 adalah hasil belajar matematika murid yang tidak diberi perlakuan
pemberian PR. Pengaruh pemberian PR terhadap hasil belajar matematika murid = (O 2 O1)
(O4 O3).
B. Bentuk Desain Noneksperimen
Desain non-eksperimen cenderung rendah dalam validitas internal (kemampuan
mejelaskan hubungan sebab akibat) tetapi lebih tinggi pada validitas eksternal (kemampuan
untuk menggeneralisasikan hasil penelitian).

21 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

Desain penelitian kuantitatif non-eksperimental didasari oleh filsafat positivisme yang


menekankan pada fenomena-fenomena objektif dan dikaji secara kuantitatif. Desain
penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angka-angka, pengolahan statistik, struktur dan
percobaan terkontrol.

Ada beberapa metode penelitian kuantitatif yang bersifat non-

eksperimental, yaitu (Nana Saodih, 2005): deskriptif, survei, perbandingan kausal (Ex Post
Facto), komparatif, korelasional, dan tindakan.
1. Penelitian Deskriptif
Penelitan deskriptif adalah suatu metode penelitian yang menggambarkan fenomenafenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau masa lampau. Penelitian ini tidak
mengadakan

manipulasi

atau

pengubahan

pada

variabel-variabel

bebas,

tetapi

menggambarkan kondisi apa adanya (Nana Saodih, 2005).


Tujuan penelitian ini untuk membuat pencandraan secara sistematis, faktual, dan akurat
mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau bidang garapan tertentu.
Penelitian deskriptif tidak hanya bisa mendiskripsikan suatu keadaan namun juga dapat
mendeskripsikan keadaan dalam tahapan-tahapan perkembangannya. Penelitian demikian
disebut penelitian perkembangan (developmental studies). Dalam penelitian perkembangan
ada yang bersifat longitudinal (sepanjang waktu) dan ada yang bersifat cross sectional (dalam
potongan waktu) (Nana Saodih, 2005).
a. Penelitian Longitudinal
Penelitian longitudinal adalah penelitian yang meneliti perkembangan sesuatu aspek
atau suatu hal dalam seluruh periode waktu, atau tahapan perkembangan yang cukup panjang.
b. Penelitian Cross Sectional
Penelitian cross sectional adalah penelitian dalam satu tahapan atau satu periode waktu,
hanya meneliti perkembangan dalam tahapan-tahapan tertentu saja.
2. Penelitian Survei
Tujuan penelitian ini untuk mengumpulkan informasi berbentuk opini dari sejumlah
besar orang terhadap topik atau isu tertentu untuk mengetahui gambaran umum karakteristik
dari populasi.
22 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

3. Penelitian Perbandingan Kausal


Tujuan penelitian ini untuk meneliti hubungan sebab akibat atau kemungkinan
hubungan sebab akibat dengan cara mengamati akibat yang ada dan mencari kembali faktorfaktor yang mungkin menjadi penyebab dari akibat itu melalui pengumpulan data tertentu.
Berbeda dengan penelitian eksperimen, penelitiaan ini tidak mengumpulkan data dalam
keadaan terkontrol. Penelitian perbandingan kausal ini bersifat ex-post facto yaitu data
dikumpulkan setelah semua peristiwa yang dipermasalahkan berlalu.
4. Penelitian Komparatif
Penelitian komparatif diarahkan untuk mengetahui perbedaan antara dua kelompok atau
lebih dalam variabel yang diteliti. Dalam penelitian ini tidak ada pengontrolan variabel,
maupun manipulasi. Penelitian dilakukan secara alamiah, peneliti mengumpulkan data dengan
menggunakan instrumen yang bersifat mengukur (Nana Saodih, 2005).
5. Penelitian Korelasional
Penelitian korelasional adalah penelitian yang menghubungkan variabel yang satu
dengan yang lainnya, selanjutnya mengujinya secara statistik (uji hipotesis) atau dikenal
dengan uji korelasi yang menghasilkan koefisien korelasi. Korelasi positif berarti nilai yang
tinggi dalam suatu variabel berhubungan dengan nilai yang tinggi pada variabel yang lain.
Korelasi negatif berarti nilai yang tinggi pada suatu variabel berhubungan dengan nilai yang
rendah pada variabel lainnya. Keuntungan dari penelitian korelasi adalah relatif mudah, cepat,
dan inexpensive way dalam memperoleh dan memproses data yang digunakan untuk
menginvestigasi hubungan-hubungan variabel yang diteliti.
6. Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan (action research) merupakan penelitian yang diarahkahkan untuk
memecahkan masalah atau perbaikan. Penelitian ini difokuskan kepada perbaikan proses
maupun perbaikan hasil kegiatan. Proses kerja penelitian tindakan terdiri dari 4 langkah yang
berlangsung secara siklis yaitu perencanaan, tindakan, eveluasi dan refleksi. Selanjutnya
dilakukan perencanaan ulang, tindakan ulang, evaluasi ulang, dan refleksi ulang (Sudarwan
Danim, 2002).

23 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

Oleh karenanya penelitian tindakan bersifat praktis, langsung, dan relevan, dengan
situasi dunia kerja saat ini. Hasil penelitian menjadi kerangka dasar bagi tindakan-tindakan
atau kebijakan-kebijakan baru. Kekurangan penelitian tindakan adalah kurang memiliki
ketertiban ilmiah karena validitas internal dan eksternal lemah. Ciri penelitian tindakan adalah
bersifat situasional dan sampelnya terbatas, serta control terhadap variabel bebas sangat kecil
(Sudarwan Danim, 2002).
VII.

POPULASI DAN SAMPEL


Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai

kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulannya.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.
Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk
itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili).
Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Untuk menenukan
sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang
digunakan. Secara sistematis, macam-macam teknik sampling ditunjukkan pada bagan di
bawah ini.

A.
Probability Sampling
24 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang
sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel
1. Simple Random Sampling
Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi yang
dianggap homogen dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang adal dalam
populasi itu. Teknik simple random sampling dapat digambarkan seperti di bawah ini.

Diambil secara random


Populasi homogen/relatif homogen Sampel yang representatif

2. Proportionate Stratified Random Sampling


Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan
berstrata secara proporsional. Teknik proportionate stratified random sampling dapat
digambarkan seperti di bawah ini.

3. Disproportionate Stratified Random Sampling


Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi
kurang proporsional. Misal, murid dari sebuah sekolah tertentu mempunyai; 250 murid dari
Surabaya, 3 murid dari Bandung, 4 murid dari Solo, dan 150 murid dari Sidoarjo, maka 3
murid dari Bandung dan 4 murid dari Solo itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua
kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok murid dari Surabaya dan
Sidoarjo.
25 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

4. Cluster Sampling (Area Sampling)


Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti
atau sumber data sangat luas, misal penduduk dari suatu negara, propinsi atau kabupaten.
Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama
menentukan sampel daerah dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada
daerah itu secara sampling juga. Teknik cluster sampling (area sampling) dapat digambarkan
seperti di bawah ini.

B. Nonprobability Sampling
Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi
peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi
sampel. Teknik pengambilan sampel ini meliputi:
1. Sampling Sistematis
Sampling sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari angota
populasi yang telah diberi nomor urut. Sampling sistematis dapat digambarkan seperti di
bawah ini.

2.

Sampling Kuota

26 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai
ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Penelitian akan terus berlangsung
dan dipandang belum selesai jika kuota yang ditentukan belum terpenuhi.
3. Sampling Aksidental
Sampling aksidental adalah teknik pengumpulan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu
siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dan orang yang ditemui dipandang
cocok sebagai sumber data.
4. Purposive Sampling
Purposive Sampling adalah teknik penentuan sampel dengan petimbangan tertentu.
Sampel ini lebih cocok digunakan untuk penelitian kualitatif atau penelitian yang tidak
melakukan generalisasi.
5. Sampling Jenuh
Sampling Jenuh adalah teknik pengumpulan sampel bila semua anggota populasi
digunakan sebagai sampel. Hal ini dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30
orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.
Istilah lain sampel jenuh adalah sensus.
6. Snowball Sampling
Snowball Sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil,
kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding lama kelamaan menjadi besar.
Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi karena belum
lengkap maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi
data yang diberikan oleh dua orang sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel
semakin banyak. Sampel ini lebih cocok digunakan untuk penelitian kualitatif.
Menentukan Ukuran Sampel
Jumlah anggota sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel
diharapkan 100% mewakili populasi. Makin besar jumlah sampel mendekati populasi, maka
peluang kesalahan generalisasi semakin kecil dan sebaliknya. Oleh karena itu, banyaknya
sampel tergantung pada tingkat ketelitian atau kesalahan yang dikehendaki.
27 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

VIII. SKALA PENGUKURAN DAN INSTRUMEN PENELITIAN


Dalam penelitian kuantitatif, peneliti menggunakan instrumen untuk mengumpulkan
data. Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Dengan
demikian jumlah instrumen yang akan digunakan untuk penelitian bergantung pada jumlah
variabel yang diteliti. Karena instrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan
pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap instrumen
harus mempunyai skala.
A. Macam-macam Skala Pengukuran
Skala pengukuran adalah kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan
panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga lat ukur tersebut bila
digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Dengan skala pengukuran
ini, maka variabel yang diukur dengan instrumen tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk
angka, sehingga lebih akurat, efisien, dan komunikatif. Berbagai skala sikap yang dapat
digunakan untuk penelitian Administrasi, Pendidikan, dan Sosial antara lain:
1. Skala Likert, digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau
sekelompok orang tentang fenomena sosial.
2. Skala Guttman, digunakan untuk mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu
permasalahan. Data yang diperoleh berupa data interval atau rasio dikhotomi (dua
alternatif) dengan pilihan jawaban yaitu yatidak; pernahtidak pernah; positif
negatif; lain-lain.
3. Semantic Deferential, digunakan untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu yang
dimiliki seseorang dengan bentuknya adalah pilihan ganda maupun checklist yangg
tersusun dalam satu garis kontinum.
4. Rating Scale, digunakan untuk merubah data mentah berupa angka kemudian
ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Rating scale ini lebih fleksibel, tidak terbatas
untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap
fenomena lainnya, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, kelembagaan,
pengetahuan, kemampuan, proses kegiatan, dll.
B. Instrumen Penelitian

28 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

Instrumen-instrumen dalam penelitian pendidikan memang ada yang sudah tersedia dan
telah diuji validitas dan reliabilitasnya, seperti instrumen untuk mengukur motif belajar, (n
ach) untuk mengukur sikap, menukur IQ, mengukur bakat, dll.
C. Cara Menyusun Instrumen Penelitian
Titik tolak dari penyusunan instrumen adalah variabel-variabel penelitian yang
ditetapkan untuk diteliti. Dari variabel-variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya dan
selanjutnya ditentukan indikator yang akan diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan
menjadi butir-butir pertanyaan. Untuk memudahkan penyusunan instrumen, maka perlu
digunakan matrik pengembangan instrumen atau kisi-kisi instrumen.
D. Instrumen yang Dikembangkan
Bentuk-bentuk instrumen yang dipilih berdasarkan beberapa faktor, diantaranya adalah
teknik pengumpulan data yang akan digunakan. Penggunaan ketiga pengumpulan data
(angket, observasi, wawancara) adalah
1. Angket: digunakan bila responden jumlahnya besar, dapat membaca dengan baik, dan
dapat mengungkapkan hal-hal yang bersifat rahasia. Bila menggunakan angket, maka
bentuk pilihan ganda lebih komunikatif, tetapi tidak hemat kertas, dan instrumen
menjadi tebal sehingga responden malas untuk menjawab.
2. Observasi: digunakan bila obyek penelitian bersifat perilaku manusia, proses kerja,
gejala alam, dan responden kecil. Bentuk checklist dan rating scale dapat digunakan
sebagai pedoman observasi.
3. Wawancara: digunakan bila ingin mengetahui hal-hal dari responden secara lebih
mendalam serta jumlah responden sedikit. Bentuk checklist dan rating scale dapat
digunakan sebagai pedoman wawancara.
4. Gabungan ketiganya: digunakan bila ingin mendapatkan data yang lengkap, akurat,
dan konsisten.
E. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Harus dibedakan antara hasil penelitian yang valid dan reliabel dengan instrumen yang
valid dan reliabel. Hasil penelitian yang valid, bila terdapat kesamaan antara data yang
terkumpul dengan data sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti. Hasil penelitian yang
reliabel, bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. Instrumen yang valid, bila
instrumen itu dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Instrumen yang
29 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

reliabel, bila instrumen tersebut bila digunakan berkali-kali untuk mengukur obyek yang sama
akan menghasilkan data yang sama.
F. Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Berikut ini dikemukakan cara pengujian validitas dan reliabilitas instrumen yang
digunakan untuk penelitian.
1. Pengujian Validitas Instrumen
a. Pengujian Validitas Konstruk (Construct Validity), menggunakan pendapat
para ahli (judgment experts).
b. Pengujian Validitas Isi (Content Validity), untuk instrumen berbentuk test
pengujian dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan
materi pelajaran yang telah diajarkan.
c. Pengujian Validitas Eksternal, membandingkan (untuk mencari kesamaan)
antara kriteria yang ada pada instrumen dengan fakta-fakta empiris yang terjadi di
lapangan. Instrumen penelitian yang mempunyai validitas eksternal tinggi akan
mengakibatkan hasil penelitian yang mempunyai validitas eksternal tinggi pula.
Penelitian

mempunyai

validitas

eksternal

bila

hasil

penelitian

dapat

digeneralisasikan atau diterapkan pada sampel lain dalam populasi yang diteliti.
2. Pengujian Reliabilitas Instrumen
Pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal.
Secara eksternal, pengujian dapat dilakukan dengan test-retest (stability), ekuivalen, dan
gabungan keduanya. Secara internal, pengujian dapat dilakukan dengan menganalisis
konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen dengan teknik tertentu.
a. Test-retest, dengan mencobakan instrumen beberapa kali pada responden. Jadi dalam
hal ini instrumen sama, responden sama, dan waktu berbeda.
b. Ekuivalen, dengan memberikan pertanyaan yang sama maksudnya dengan bahasa
berbeda. Jadi dalam hal ini pengujian cukup dilakukan sekali, dua instrumen, responden
sama, waktu sama, instrumen berbeda.
c. Gabungan, mencobakan dua instrumen yang ekuivalen beberapa kali ke responden
yang sama.
d. Internal Consistency, dilakukan dengan cara mencobakan instrumen sekali saja,
kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan teknik tertentu. Pengujian reliabilitas

30 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

instrumen dapat dilakukan dengan teknik belah dua dari Spearman Brown (Split half),
KR. 20, KR. 21, dan Anova Hoyt.

IX.

TEKNIK PENGUMPULAN DATA


Terdapat dua hal utama yang memengaruhi kualitas data hasil penelitian, yaitu kualitas

data hasil penelitian dan kualitas pengumpulan data. Kualitas instrumen penelitian berkenaan
dengan validitas dan reliabilitas instrumen dan kualitas pengumpulan data berkenaan dengan
ketepatan cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Berikut dijelaskan
pengumpulan data berdasarkan tekniknya, yaitu:
A. Angket (Kuesioner)
Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi
seperangkat pertanyaan atau pernyaraan tertulis kepada responden untuk dijawab. Angket
cocok digunakan bila jumlah responden besar dan tersebar di wilayah yang luas. Angket dapat
berupa pertanyaan/pernyataan tertutup atau terbuka, dapat diberikan kepada responden secara
langsung atau dikirim melalui pos, atau internet.
B. Observasi
Observasi sebagai teknik pengumpulan data yang memungkinkan peneliti untuk
berkomunikasi dengan orang dan obyek-obyek alam yang lain dengan dua hal yang
terpenting, yaitu proses-proses pengamatan dan ingatan. Teknik pengunpulan data dengan
observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusi, proses kerja, gejalagejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.
C. Wawancara (Interview)
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin
melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti dan juga
apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah
respondennya sedikit/kecil. Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur (menggunakan
pedoman wawancara) maupun tidak terstruktur dan dapat dilakukan melalui tatap muka
maupun menggunkan telepon.

31 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

X.

ANALISIS DATA
Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah dari dari seluruh

responden atau sumber data terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokkan
data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari
seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk
menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah
diajukan (bagi penelitian kuantitatif yang merumuskan hipotesis).
Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan dua macam statistik,
yaitu seperti pada gambar di bawah.
Statistik Deskriptif
Macam Statistik untuk Analisis Data
Statistik Parametris

Statistik Inferensial
Statistik Nonparametris

A. Statistik Deskriptif dan Inferensial


Satistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara
mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa
bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi. Statistika deskriptif
digunakan untuk penelitian yang dilakukan pada populasi (tanpa diambil sampelnya) dan
penelitian yang dilakukan pada sampel.
Yang termasuk dalam statistik deskriptif antara lain adalah penyajian data melalui tabel,
grafik, diagram lingkaran, pictogram, perhitungan modus, median, mean (pengukuran
tendensi sentral), perhitungan desil, persentil, perhitungan penyebaran data melalui
perhitungan rata-rata dan standar deviasi, dan peritungan persentase.

32 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

Selain itu statistik deskriptif juga dilakukan untuk mencari kuanya hubungan antara
variabel melalui analisis korelasi, melakukan prediksi dengan analisis regresi, dan membuat
perbandingan dengan membandingkan rata-rata data sampel atau populasi yang tidak perlu
diuji signifikansinya (taraf kesalahan). Jadi secara teknis, statistik deskriptif tidak membuat
kesimpulan untuk menggeneralisasi.
Statistik inferensial (statistik induktif atau statisti probabilitas) adalah teknik statistik
yang digunakan untuk menganalisis data sampel dari populasi secara random dengan hasil
yang dapat diberlakukan untuk populasi yang kebenarannya bersifat peluang yang
mempunyai peluang kesalahan dan kebenaran (kepercayaan) yang dinyatakan dalam bentuk
persentase. Bila peluang kesalahan 1% maka taraf kepercayaan 99%, bila 5% maka taraf
kepercayaan 95%. Peluang kesalahan dan kepercayaan ini disebut dengan taraf signifikansi.
Pengujian taraf signifikansi dari suatu analisis akan lebih praktis bila didasarkan pada
tabel sesuai teknik analisis yang digunakan. Misalnya uji-t untuk tabel-t, uji-F untuk tabel F.
Pada setiap tabel disediakan taraf signifikansi berapa persen suatu hasil analisis dapat
digeneralisasikan. Jadi, signifikansi adalah kemampuan untuk digeneralisasikan dengan
kesalahan tertentu. Ada hubungan signifikansi, berarti hubungan itu dapat digeneralisasikan.
Ada perbedaan signifikansi, berarti perbedaan itu dapat digeneralisasikan.
B. Statistik Parametris dan Nonparametris
Pada statistik inferensial terdapat statistik parametris dan nonparametris. Statistik
parametris digunakan untuk menguji parameter populasi melalui statistik atau menguji
ukuran populasi melalui data sampel. Parameter populasi itu meliputi: rata-rata (mu),
simpangan baku
X

(sigma), dan varians

2 . Sedangkan statistiknya meliputi: rata-rata

(X bar), simpangan baku s, dan varians s 2. Jadi parameter populasi yang berupa diuji

melalui

X , selanjutnya

diuji melalui s, dan

diuji melalui s2. Dalam statistik,

pengujian parameter melalui statistik (data sampel) tersebut dinamakan uji hipotesis statistik.
Oleh karena itu penelitian berhipotesis statistik adalah penelitian yang menggunkan sampel.
Dalam hipotesis statistik, yang diuji adalah hipotesis nol (H 0), karena tidak dikehendaki
adanya perbedaan antara parameter populasi dan statistik (data yang diperoleh dari sampel).
Statistik nonparametris tidak menguji parameter populasi, tetapi menguji distribusi.
33 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

Penggunaan statistik parametris dan nonparametris tergantung pada asumsi dan jenis
data yang akan dianalisis. Statistik parametris memerlukan terpenuhinya banyak asumsi (data
harus berdistribusi normal, data dua kelompok atau lebih yang diuji harus homogen, dalam
regresi harus terpenuhi asumsi linieritas). Statistik nonparametris tidak menuntut terpenuhinya
banyak asumsi.
Penggunaan kedua statistik tersebut juga tergantung pada jenis data yang dianalisis.
Statistik parametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data interval dan rasio,
sedangkan statistik nonparametris kebanyakan menganalisis data nominal dan ordinal. Untuk
menguji hipotesis dalam penelitian kuantitatif yang menggunakan statistik harus
memperhatikan macam data dan bentuk hipotesis yang diajukan.
Berikut ini tabel Penggunaan Statistik Parametris dan Nonparametris untuk Menguji
Hipotesis.

Deskriptif
(Satu
MACAM
variabel
DATA
atau satu
sampel)
Binomial
Nominal

BENTUK HIPOTESIS
Komparatif
(dua sampel)
(lebih dari dua sampel)
Related

Ordinal

Run Test

Interval
Rasio

t-test*

Related

Independen

Fisher Exact
Probability

satu
sampel

Independen

Mc Nemar

dua

X 2 untuk

Cochran Q

sampel
Median Test
Mann Sign test
Whitney U
Friedman
Test
Wilcoxon
Two-Way
matched Kolomogorov anova
pairs
Smirnov
WaldWoldfowitz
t-test of
t-test*
One-Way
Related
Independent
Anova*
Two-Way
Anova*

Asosiatif
(hubungan)

Contingency
Coefficient C

k sampel

Median
Extension Spearman
Rank
KruskalCorrelation
Wallis
One Way Kendall Tau
Anova

One-Way
Anova*
Two-Way
Anova

Korelasi
Product
Moment*
Korelasi
Parsial*
Korelasi
Ganda*
Regresi

34 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

sederhana
dan ganda*

Keterangan: * Statistik Parametris


** deskriptif untuk parametris artinya satu variabel, dan untuk nonparametris
artinya satu sampel
C. Judul Penelitian dan Statistik yang Digunakan untuk Analisis
Berikut ini diberikan contoh judul penelitian, bentuk paradigma, rumusan masalah, hipotesis,
dan teknik statistik yang akan digunakan untuk pengujian hipotesis.
1. Judul Penelitian
PENGARUH

KECERDASAN

EMOSIONAL

TERHADAP

KECEPATAN

MEMEROLEH PEKERJAAN LULUSAN SMK DI PEMERINTAH PROPINSI JAWA


TIMUR
2. Bentuk Paradigma Penelitian

X
Y

= kecerdasan emosional
= kecepatan memeroleh pekerjaan

3. Rumusan Masalah, Hipotesis, dan Teknik Statistik untuk Analisis Data


Berdasarkan paradigma tersebut terlihat bahwa untuk judul penelitian yang terdiri atas
satu variabel independen dan satu variabel dependen terdapat dua rumusan
Rumusan Masalah
Berapakah rata-rata kecerdasan

Hipotesis
Kecerdasan emosional (EQ)

Statistik untuk uji hipotesis


Data yang terkumpul adalah

emosional pegawai di Propinsi

pegawai Pemerintah Propinsi

rasio. Bentuk hipotesisnya

Jawa Timur?

Jawa Timur paling tinggi 150.

adalah deskriptif, maka teknik


untuk uji hipotesis adalah t-test
(untuk satu sampel).

Berapakah rata-rata kecepatan

Kecepatan memeroleh

memeroleh pekerjaan?

pekerjaan lulusan SMK paling

t-test satu sampel

Adakah hubungan yang positif

lama 24 bulan.
Terdapat hubungan yang positif

Data kedua variabel adalah data

dan signifikan antara kecerdasan

dan signifikansi antara

rasio, oleh karena itu teknik

emosional dengan kecepatan

kecerdasan emosional dengan

statistik yang digunakan untuk

35 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

memeroleh pekerjaan lulusan

kecepatan memeroleh

menguji hipotesis adalah:

SMK?

pekerjaan.

Korelasi Pearson

Bagaimanakah pengaruh

Kecerdasan emosional

Product Moment
Koefisien diterminasi dan

kecerdasan emosional terhadap

berpengaruh positif terhadap

analisis regresi sederhana.

prestasi kerja?

kecepatan memeroleh
pekerjaan.

D. Konsep Dasar pengujian Hipotesis


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa hipotesis diartikan sebagai jawaban
sementara terhadap rumusan masalah. Sedangkan secara statistik, hipotesis diartikan sebagai
pernyataan mengenai keadaan populasi (parameter) yang akan diuji kebenarannya
berdasarkan data yang diperoleh dari populasi sampel penelitian (statistik).
1. Taraf Kesalahan
Pada dasarnya menguji hipotesis itu adalah menaksir parameter populasi berdasarkan
data sampel. Terdapat dua cara menaksir, yaitu: a point estimate dan interval estimate. A
point estimate (titik taksiran) adalah suatu taksiran parameter populasi berdasarkan suatu nilai
dari rata-rata data sampel, contoh: menaksir daya kosentrasi murid Indonesia 10 jam/hari.
Interval estimate (taksiran interval) adalah suatu taksiran parameter populasi berdasarkan nilai
interval rata-rata data sampel, contoh: menaksir daya kosentrasi murid Indonesia antara 8
sampai 10 jam/hari. Semakin besar interval taksiran hipotesis maka akan semakin kecil
kesalahannya.

Kesalahan Taksiran

Kesalahan Taksiran

10 jam
8 - 12 jam
36 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

2. Dua Kesalahan dalam Menguji Hipotesis


Dalam menaksir parameter populasi berdasarkan data sampel, kemungkinan akan
terdapat dua kesalahan yaitu:
a. Kesalahan Tipe I adalah suatu kesalahan bila menolak hipotesis nol (H0) yang
benar (seharusnya diterima). Dalam hal ini tingkat kesalahan dinyatakan dengan
.
b. Kesalahan Tipe II aadalah kesalahan bila menerima hipotesis yang salah
(seharusnya ditolak). Tingkat kesalahan untuk ini dinyatakan dengan .
Berdasarkan hal tersebut, maka hubungan antara keputusan menolak atau menerima
hipotesis dapat ditabelkan sebagai berikut.
Keadaan Sebenarnya

Keputusan
Terima hipotesis
Menolak hipotesis

Hipotesis Benar

Hipotesis Salah

Tidak membuat kesalahan


Kesalahan Tipe I ()

Kesalahan Tipe II ()
Tidak membuat kesalahan

Tingkat kesalahan ini selanjutnya dinamakan level of significant atau tingkat


signifikansi. Namun dalam prakteknya, tingkat signifikansi telah ditetapkan oleh peneliti
sebelum hipotesis diuji. Biasanya tingkat signifikansi yang diambil adalah 1% dan 5%. Dalam
pengujian hipotesis kebanyakan menggunkana kesalahan tipe I yaitu berapa persen kesalahan
untuk menolak hipotesis nol (H0) yang benar (yang seharusnya diterima).
3. Macam Pengujian Hipotesis
Terdapat tiga macam bentuk pengujian hipotesis, yaitu:
a. Uji Dua Pihak (Two Tail Test)
Uji dua pihak digunakan bila hipotesis nol (H 0) berbunyi sama dengan dan hipotesis
alternatif (Ha) berbunyi tidak sama dengan. (H0 = dan Ha )
Contoh hipotesis deskriptif (satu sampel):
Hipotesis nol
Hipotesis alternatif

: daya tahan belajar siswa X = 10 jam/hari


H0
: = 10 jam/hari
: daya tahan belajar siswa X 10 jam/hari

37 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

Ha
H0

: = 10 jam/hari

Ha

: 10 jam/hari

: 10 jam/hari

Contoh hipotesis komparatif (dua sampel):


Hipotesis nol
Hipotesis alternatif

: daya tahan belajar siswa X = siswa Y


H0
: 1 = 2
: daya tahan belajar siswa X siswa Y
Ha

H0

: 1 = 2

Ha

: 1 2

: 1 2

Contoh hipotesis asosiatif:


Hipotesis nol

: tidak ada hubungan antara X dengan Y

Hipotesis alternatif

: terdapat hubungan antara X dengan Y

H0

=0 (berarti tidak ada hubungan)

Ha

(berarti ada hubungan)

Uji dua pihak dapat digambarkan seperti berikut.

Daerah Penolakan H0
Daerah Penolakan H0
Daerah Penerimaan H0
38 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

b. Uji Pihak Kanan


Uji pihak kanan digunakan apabila hipotesis nol (H0) berbunyi lebih kecil atau
sama dengan () atau paling besar dan hipotesis alternatifmya (Ha) berbunyi lebih
besar (>).
Contoh hipotesis deskriptif (satu sampel):
Hipotesis nol
Hipotesis alternatif

: daya tahan belajar siswa X paling lama 10 jam/hari


H0
: = 10 jam/hari
: daya tahan belajar siswa X lebih besar dari 10 jam/hari
Ha

H0

: = 10 jam/hari

Ha

: > 10 jam/hari

: > 10 jam/hari

Contoh hipotesis komparatif (dua sampel):


Hipotesis nol
Hipotesis alternatif

: daya tahan belajar siswa X paling lama sama dengan siswa Y


H0
: 1 = 2
: daya tahan belajar siswa X lebih lama dari siswa Y
Ha

H0

: 1 = 2

Ha

: 1 > 2

: 1 > 2

Contoh hipotesis asosiatif:


Hipotesis nol

: hubungan antara X dengan Y paling kecil 0,65

Hipotesis alternatif

: hubungan antara X dengan Y lebih kecil dari 0,65

H0

=0,65

39 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

Ha

<0,65

Uji pihak kanan dapat digambarkan seperti berikut.

Daerah penolakan H0/penerimaan Ha


Daerah Penerimaan H0

c. Uji Pihak Kiri


Uji pihak kiri digunakan apabila hipotesis nol (H 0) berbunyi lebih besar atau
sama dengan () atau paling sedikit/paling kecil dan hipotesis alternatifnya berbunyi
lebih kecil (<).
Contoh hipotesis deskriptif (satu sampel):
Hipotesis nol

Hipotesis alternatif

: daya tahan belajar siswa X paling cepat sama dengan 10


jam/hari
H0
: = 10 jam/hari
: daya tahan belajar siswa X lebih kecil dari 10 jam/hari
Ha

H0

: 10 jam/hari

Ha

: < 10 jam/hari

: < 10 jam/hari

Contoh hipotesis komparatif (dua sampel):


Hipotesis nol
Hipotesis alternatif

: daya tahan belajar siswa X paling cepat sama dengan siswa Y


H0
: 1 = 2
: daya tahan belajar siswa X lebih kecil dari siswa Y
Ha

: 1 > 2

40 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

H0

: 1 = 2

Ha

: 1 < 2

Contoh hipotesis asosiatif:


Hipotesis nol

: hubungan antara X dengan Y paling kecil 0,65

Hipotesis alternatif

: hubungan antara X dengan Y lebih kecil dari 0,65

H0

=0,65

Ha

<0,65

Uji pihak kiri dapat digambarkan seperti berikut.

Daerah penolakan H0/penerimaan Ha


Daerah Penerimaan H0

41 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f

DAFTAR PUSTAKA

Brannen, Julia. 1996. Memandu Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar Offest
Purwanto. 2008. Metodologi Penelitian Kuantitatif

untuk Psikologi dan Pendidikan.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar


Santoso, Gempur. 2012. Metode Penelitian. Surabaya: Bina Pustaka
Sugiyono, 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Bandung: Alfabeta
Sukardi. 2009. Metodologi Penenlitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta:
Bumi Aksara

42 | M e t o d o l o g i p e n e l i t i a n : P e n e l i t i a n K u a n t i t a t i f