Anda di halaman 1dari 3

Komunikasi Empatik

Ingin menggalang banyak pendukung? Ingin mendapat banyak suara? Ingin agar permintaan
dikabulkan? Ingin agar usulan diterima dengan baik? Ingin agar pendapat dimengerti? Ingin agar
permohonan bantuan diberikan? Jika demikian, artikel berikut memang untuk Anda.
MENGAPA KOMUNIKASI?
Sebagian besar waktu kita dihabiskan untuk berkomunikasi: di rumah, di kantor, di organisasi
sosial, ataupun di masyarakat umum. Dengan berkomunikasi kita menyatakan pendapat,
mengajukan permohonan, meminta pertolongan, menawarkan solusi, menyampaikan instruksi,
dan memberikan informasi kepada orang lain yang kita ajak berkomunikasi. Jelaslah bahwa
komunikasi merupakan bagian yang penting dari kehidupan kita, baik kehidupan pribadi maupun
kehidupan bisnis kita. Mantan presiden Amerika Serikat, Gerald Ford, mengatakan bahwa dalam
kehidupan tidak ada apapun yang lebih penting dari pada kemampuan berkomunikasi yang
efektif. Kemampuan berkomunikasi yang baik bisa membantu menyelesaikan banyak masalah
dan mendatangkan banyak keuntungan bagi kita. Sebaliknya, kegagalan dalam berkomunikasi
bisa berakibat fatal. Kegagalan ini dapat menyebabkan berbagai bencana: kesepakatan bisnis
gagal, pertolongan tidak jadi diberikan, persahabatan putus, pekerjaan tidak jadi diperoleh,
bahkan perang bisa tercetus.
KOMUNIKASI EMPATIK
Agar komunikasi bisa sukses, para pelaku komunikasi harus memperhatikan dan menerapkan
prinsip komunikasi empatik berikut.
Keseluruhan, bukan sebagian. Tiga orang buta sedang berdiri mengelilingi seekor gajah dan
mencoba memberikan gambaran mengenai sang gajah. Orang buta pertama yang memegang
ekor gajah mengatakan gajah itu kurus dan panjang. Orang buta kedua yang memegang telinga
gajah mengatakan gajah itu berkulit tipis dan lentur. Orang buta ketiga yang memegang perut
kaki gajah mengatakan gajah itu berkulit keras, dan berbentuk bulat.
Moral ceritanya adalah dalam berkomunikasi, cobalah terlebih dahulu mencari informasi yang
selengkap-lengkapnya sebelum memberikan komentar. Jika kita hanya memiliki sepenggal
informasi, jangan langsung membentuk opini dan menyatakan pendapat berdasarkan informasi
yang belum lengkap tersebut.
Yang perlu kita lakukan adalah melengkapi informasi yang kita miliki dengan banyak bertanya
(bertanya kepada pihak-pihak yang terlibat sebelum mengambil keputusan dan
mengkomunikasikan keputusan yang kita ambil), ataupun aktif mencari informasi tambahan yang
diperlukan sehingga kita mendapat gambaran yang lebih lengkap terhadap apa yang akan kita
komunikasikan.
Berusaha mengerti, baru dimengerti. Seorang manajer pemasaran produk elektronik berteknologi
tinggi sedang menawarkan produknya kepada calon pelanggan. Supaya terkesan canggih, dalam
menjelaskan spesifikasi produk yang ditawarkan, sang manajer menggunakan istilah-istilah
teknis yang berhubungan dengan produk elektronik tersebut.
Ia juga langsung menjelaskan fitur-fitur unggulan dari produk ini serta mendemokan penggunaan
produk tersebut. Namun, karena bahasa yang digunakan terlalu canggih bagi calon pembeli,
serta produk yang didemokan ternyata bukan produk yang dibutuhkan calon pembeli, maka bisa
dibayangkan apa yang terjadi kemudian: calon pelanggan tidak mau membeli produk yang
ditawarkan.
Kenapa terjadi kegagalan seperti ini? Stephen Covey dalam bukunya 7 Habits of Highly Effective
People mengatakan dalam berkomunikasi, ada baiknya bagi kita untuk terlebih dahulu mencoba
mengerti, sebelum menuntut untuk dimengerti.
Dengan mengerti duduk permasalahannya yang sebenarnya, serta mengerti siapa lawan bicara,
akan lebih mudah bagi kita memahami apa yang dikomunikasikan orang tersebut, dan akan lebih
mudah pula bagi kita untuk memberikan pendapat, masukan yang mudah dimengerti lawan
bicara. Dalam kasus di atas, jika sang manajer terlebih dahulu mencoba mengerti calon pembeli
(apakah calon pembeli cukup paham dengan istilah teknis?) dan kebutuhan calon pembeli, maka

tentunya dalam mengkomunikasikan produk yang akan dijualnya, ia bisa menggunakan bahasa
yang lebih mudah dipahami, dan memulai dengan pendekatan solusi bagi calon pembeli,
bukannya solusi yang diasumsikan dibutuhkan oleh calon pembeli tersebut.
Diagnosa sebelum respon. Bapak Salim pergi ke dokter mata. Pada sang dokter, Pak Salim
mengeluh ia tidak bisa menggunakan matanya untuk membaca. Sang dokterpun memeriksa
mata Pak Salim, lalu meminta sang bapak membeli kaca mata yang sesuai dengan resep yang
diberikan.
Seminggu kemudian Pak Salim kembali ke dokter mata yang sama. Ia mengeluh walaupun
sudah membeli dan menggunakan kaca mata yang disarankan dokter, ia tetap tidak bisa
membaca. Sang dokter menjadi bingung. Setelah diselidiki lebih jauh, ternyata permasalahannya
bukan pada ukuran kaca mata, tetapi pada Bapak Salim sendiri karena Bapak Salim buta huruf.
Jadi, walaupun dokter menyarankan menggunakan kaca mata yang paling canggih sekalipun,
Pak Salim tetap tidak akan bisa membaca. Jadi, moral yang bisa kita pelajari dari anekdot ini:
sebelum kita memberikan pendapat, masukan atau jawaban, diagnosis terlebih dahulu secara
teliti permasalahan yang dihadapi lawan bicara.
Setelah kita menemukan akar permasalahannya, akan lebih mudah bagi kita untuk membantu
memberikan jawaban, solusi ataupun masukan yang diperlukan lawan bicara.
Keyakinan. Jika kita tersesat dan bertanya kepada orang yang kita temui di jalan tentang alamat
yang kita cari, orang tersebut memberikan informasi tetapi ia tidak terlihat yakin akan informasi
yang diberikannya kepada kita. Apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan mengikuti
petunjuk yang diberikan orang tersebut?
Jika kita pergi ke toko obat, dan si penjual menawarkan obat yang kita perlukan. Tetapi ketika
ditanya apakah obat tersebut manjur, si penjual tidak memberikan jawaban yang meyakinkan.
Apakah kita akan membeli obat yang ditawarkan tersebut?
Jawaban dari kedua situasi di atas kemungkinan besar adalah tidak. Pada dasarnya, kita
cenderung lebih percaya kepada orang yang memiliki dan menunjukkan keyakinan diri tinggi.
Jadi, jika kita berkomunikasi, pastikan apa yang kita komunikasikan benar-benar kita kuasai
dengan baik, dan benar-benar kita yakini kebenarannya.
Jika kita sudah yakin, akan lebih mudah bagi kita untuk meyakinkan orang lain.
Fokus pada orang lain. John Maxwell dalam bukunya Mengembangkan Kepemimpinan di
Sekeliling Anda mengatakan dalam berkomunikasi, kita perlu lebih memfokuskan perhatian kita
pada orang yang kita ajak berkomunikasi, bukannya pada diri sendiri melulu. Dengan
memberikan fokus perhatian kepada orang lain, maka orang merasa kita memperdullikan
mereka.
Kalau orang merasakan kita memang memberikan perhatian, kepedulian, dan rasa hormat
kepada mereka ketika mereka berbicara ataupun menyampaikan pendapat, maka mereka akan
juga bersedia mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang akan kita komunikasikan kepada
mereka.
Dengan memfokuskan perhatian kepada orang lain, kita bisa lebih mudah memahami siapa
lawan bicara kita (apa keinginan mereka, apa permasalahan mereka, apa yang mereka perlukan
dari kita). Jika kita telah memahami mereka, tentunya kita bisa mengkomunikasikan apa yang
kiranya dapat menarik perhatian mereka, dan apa yang kiranya mau mereka terima, beli, ataupun
dukung.
Kontak mata. Kontak mata merupakan bagian yang penting dalam berkomunikasi. Dengan
melibatkan kontak mata dengan orang yang kita ajak bicara, kita memberi kesan dan pesan
kepada orang tersebut bahwa kita sungguh-sungguh terhadap apa yang kita komunikasikan.
Kesungguhan kita ini tentunya akan mendorong lawan bicara memperhatikan dengan seksama
apapun yang kita komunikasikan.
Mereka juga lebih percaya kepada kita karena kesungguhan yang kita perlihatkan, sehingga
akan lebih mudah bagi mereka memberikan dukungan ataupun memberikan jawaban Ya atas
permintaan kita, atau melakukan apapun yang kita anjurkan kepada mereka.
Senyum Hangat. Jika kita berpapasan dengan orang lain (yang tidak kita kenal sama sekalipun)
di lift, di tangga, ataupun di koridor kantor, cobalah sapa orang tersebut (dengan mengucapkan:
Selamat Pagi, Selamat Siang, atau sekadar sapaan sederhana Hai) dan berilah senyuman
hangat. Hampir bisa dipastikan orang tersebut akan tersenyum kembali kepada kita.
Yah, senyuman, menurut Maxwell, memang merupakan senjata yang paling ampuh yang dapat

digunakan untuk membuka komunikasi. Senyuman yang tulus dan hangat dapat mengatasi
berbagai hambatan dalam komunikasi (misalnya: ketegangan, kecurigaan, kemarahan,
kecemburuan).
Sebuah senyuman juga merupakan indikasi kita memiliki emosi positif terhadap orang yang kita
ajak berkomunikasi. Jika lawan bicara merasa kita memang suka berkomunikasi dengannya,
akan lebih mudah bagi orang tersebut menerima masukan, pendapat, ataupun solusi yang kita
tawarkan kepadanya.
Saling Menyukai. Nasihat siapa yang cenderung kita terima: musuh atau kawan? Pendapat siapa
yang cenderung lebih kita dukung: orang yang tidak kita kenal sama sekali atau orang yang
sudah sangat kita kenal dengan baik? Omongan siapa yang lebih cenderung kita percaya: orang
yang kita hormati dan menghormati kita atau orang yang membenci kita.
Intinya, komunikasi akan efektif, jika orang-orang yang terlibat dalam komunikasi tersebut saling
menyukai. John C. Maxwell juga memiliki pendapat yang sama. Maxwell berpendapat menyukai
orang lain yang kita ajak berkomunikasi merupakan awal kemampuan berkomunikasi yang
efektif.
Menyukai dan disukai, tidak bisa terjadi dalam sekejap. Kita perlu berinvestasi dalam kebaikan di
rekening bank emosi masing-masing. Semakin besar jumlah investasi kita di rekening bank
emosi orang yang kita ajak berkomunikasi, semakin besar kemungkinan orang tersebut akan
mengerti, menerima, dan mempercayai semua yang kita komunikasikan kepadanya.
Demikian pula sebaliknya, semakin besar investasi orang lain di rekening bank emosi kita,
semakin mudah bagi orang tersebut untuk sukses berkomunikasi dengan kita.
Ada banyak jalan menuju Roma. Ada banyak prinsip yang bisa kita terapkan untuk sukses
berkomunikasi. Namun, berbagai prinsip komunikasi empatik yang baru saja dibahas disini tidak
akan ada artinya, jika kita hanya memajangnya sebagai kata-kata manis. Kuncinya adalah:
praktikan prinsip tersebut untuk mengasah kemampuan berkomunikasi yang empatik. Selamat
berkomunikasi!n