Anda di halaman 1dari 91

A.

Pengertian
Diare adalah gejala kelainan pencernaan, absorbsi dan fungsi sekresi (Wong, 2001 : 883).
Diare adalah pasase feses dan konsistensi lunak atau cair, sering dengan atau tanppa
ketidaknyamanan yang disebabkan oleh efek-efek kemoterapi pada apitelium (Tusker, 1998 :
816).
Diare adalah kehilangan banyak cairan dan elektrolit melalui tinja (Behiman, 1999 : 1273).
Diare adalah keadanan frekuensi air besar lebih dari empat kali pada bayi dan lebih dari 3
kali pada anak, konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau adapat pula bercampur lendir
dan darah atau lendir saja (Ngastiyah, 1997 : 143).
Diare mengacu pada kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi dengan
bagian feces tidak terbentuk (Nettina, 2001 : 123).
Jadi diare adalah gejala kelainan pencernaan berupa buang air besar dengan tinja berbentuk
cairan atau setengah cair dengan frekuensi lebih dari 3 x sehari pada anak sehingga mengacu
kehilangan cairan dan elektrolit.
B. Klasifikasi
Diare dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Diare akut
Diare akut dikarakteristikkan oleh perubahan tiba-tiba dengan frekuensi dan kualitas defekasi.
2. Diare kronis
Diare kronis yaitu diare yang lebih dari 2 minggu.

C. Etiologi
Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor :
1. Faktor infeksi
a.

Faktor internal : infeksi saluran pencernaan makananan yang merupakan penyebab utama diare
pada anak. Meliputi infeksi internal sebagai berikut:

Infeksi bakteri : vibrio, e.coli, salmonella, campylobacler, tersinia, aeromonas, dsb.

Ifeksi virus : enterovirus (virus ECHO, cakseaclere, poliomyelitis), adenovirus, rotavirus,


astrovirus dan lain-lain

Infeksi parasit : cacing (asoanis, trichuris, Oxyuris, Strong Ylokles, protzoa (Entamoeba
histolytica, Giarella lemblia, tracomonas homonis), jamur (candida albicans).

b.

Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan, seperti : otitis media akut
(OMA), tonsilitist tonsilofasingitis, bronkopneumonia, ensefalitis dsb. Keadaan ini terutama
terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.

2. Faktor malabsorbsi
-

Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, dan sukrosa), mosiosakarida


(intoleransi glukosa, fruktosa, dan galatosa).
Pada bayi dan anak yang terpenting dan terseirng intoleransi laktasi.

Malabsorbsi lemak

Malabsorbsi protein

3. Faktor makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
4. Faktor psikologis
Rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar).
D. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah :
1. Gangguan Osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan
osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam
rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya
sehingga timbul diare.

2. Gangguan sekresi
Akibat gangguan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi,
air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare tidak karena peningkatan isi rongga
usus.
3. Gangguan motilitas usus
Hiper akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga
timbul diare, sebaliknya jika peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh
berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.

Patogenesis diare akut :


-

Masuknya jada renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah berhasil melewati rintangan
asam lambung.

Jasad renik tersebut berkembangbiak (multiplikasi) di dalam usus halus.

Oleh jasad renik dikeluarkan toksin (toksin diaregenik)

Akibat toksin hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.


Patogenesis diare kronis :
Lebih koplek dan faktor-faktor yang menimbulkan wabah infeksi, bakteri, parasit, malabsorbsi,
malnutrisi, dll.
Sebagai akibat diare baik akut maupun kronis akan terjadi :

Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengatakan terjadinya gangguan keseimbangan
asam basa (osidosis, metabolik, hipokalamia).

Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan (masukan makanan kurang, pengeluaran bertambah).

Hipoklikemia

Gangguan sirkulasi darah (FK UI, 199

F. Manifestasi Klinis
Mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nasfu makan
berkurang atau tidak ada.
-

Kemudian disertai diare, tinja cair, mungkin disertai lendir atau lendir darah.

Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena bercampur empedu

Anus dan daerah sektiar timbul lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama makin asam
sehingga akibat makin lama makin asam sehingga akibat makin banyak asam laktat yang berasal
dari latosa yang tidak di absorbsi oleh usus selama diare.
Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan karena
lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila
pasien banyak kehilangan cairan dan elektrolit, mata dan ubun-ubun cekugn (pada bayi) selaput
lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering (Ngastiyah, 1997).

G. Penatalaksanaan
Medik :
Dasar pengobatan diare adalah :
1. Pemberian cairan : jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberianya.
2. Dietetik (cara pemberian makanan)
3. Obat-obatan.
1. Pemberian cairan
Pemberian cairan pada pasien diare dan memperhatiakn derajat dehidrasinya dan keadaan umum.
a.

Pemberian cairan
Pasien dengan dehidrasi rignan dan sedang cairan diberikan per oral berupa cairan yang
berisikan NaCl dan Na HCO3, KCl dan glukosa untuk diare akut dan karena pada anak di atas
umur 6 bulan kadar natrium 90 ml g/L. pada anak dibawah 6 bulan dehidrasi ringan / sedang
kadar natrium 50-60 mfa/L, formula lengkap sering disebut : oralit.

b. Cairan parontenal
Sebenarnya ada beberapa jenis cairan yang diperlukan sesuai engan kebutuhan pasien, tetapi
kesemuanya itu tergantugn tersedianya cairan stempat. Pada umumnya cairan Ringer laktat (RL)

diberikan tergantung berat / rignan dehidrasi, yang diperhitugnkan dengan kehilangan cairan
sesuai dengan umur dan BB-nya.
-

Belum ada dehidrasi


Per oral sebanyak anak mau minum / 1 gelas tiap defekasi.

Dehidrasi ringan
1 jam pertama : 25 50 ml / kg BB per oral
selanjutnya : 125 ml / kg BB / hari

Dehidrasi sedang
1 jam pertama : 50 100 ml / kg BB per oral (sonde)
selanjutnya 125 ml / kg BB / hari

Dehidrasi berat
Tergantung pada umur dan BB pasien.

2. Pengobatan dietetik
Untuk anak di bawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan BB kurang dari 7 kg jenis
makanan :
-

Susu (ASI adalah susu laktosa yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tidak jenuh,
misalnya LLM, al miron).

Makanan setengah padar (bubur) atau makanan padat (nasitim), bila anak tidak mau minum susu
karena di rumah tidak biasa.

Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan susu dengan tidak mengandung
laktosa / asam lemak yang berantai sedang / tidak sejuh.

3. Obat-obatan
Prinsip pengobatan diare adalah mengganti cairan yang hilang melalui tinja dengan / tanpa
muntah dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa / karbohidrat lain (gula, air tajin,
tepung beras sbb).
-

Obat anti sekresi


Asetosal, dosis 25 mg/ch dengan dosis minimum 30 mg.
Klorrpomozin, dosis 0,5 1 mg / kg BB / hari

Obat spasmolitik, dll umumnya obat spasmolitik seperti papaverin, ekstrak beladora, opium
loperamia tidak digunakan untuk mengatasi diare akut lagi, obat pengeras tinja seperti kaolin,

pektin, charcoal, tabonal, tidak ada manfaatnya untuk mengatasi diare sehingg tidak diberikan
lagi.
-

Antibiotik
Umumnya antibiotik tidak diberikan bila tidak ada penyebab yang jelas bila penyebabnya kolera,
diberiakn tetrasiklin 25-50 mg / kg BB / hari.
Antibiotik juga diberikan bile terdapat penyakit seperti : OMA, faringitis, bronkitis /
bronkopneumonia.

H. Komplikasi
Akibat diare, kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai
komplikasi sebagai berikut :
1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik)
2. Rinjatan hipovolemik
3.

Hipokalemia (dengan gejala miteorismus, hipotoni otot, lemak, bradikardia, perubahan


elektrokardiagram).

4. Hipoglikemia
5. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim laktasi.
6. Kejang-kejang pada dehidrasi hipertonik
7. Malnutrisi energi protein (akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik).
(Ngastiyah, 1997 : 145)
I.

Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian

1. Biodata umum
Tempat tinggal : di daerah sanitasi buruk.
2. Riwayat kesehatan
Riwayat gastroenteritis, glardiasis, penyakit seliakus, sindrom iritabilitas kolon, otitis media
akut, tondilitas, ensefalitis dan lainnya.
3. Riwayat kesehatan dahulu
Pernah mengalami diare, pernah menderita penyakit pencernaan.
4. Riwayat kesehatan keluarga
Pernah menderita penyakit saluran pencernaan.

5. Keluhan utama
Anak sering menangis, tidam mau makan dan minum, badan lemas.
6. Pola kesehatan fungsional
a.

Pemeliharaan kesehatan
Personal hygiene anak kurang : kebiasaan ibu memelihara kuku anak, cuci tangan sebelum
makan, makanan yang dihidangkan tidak tertutup, makanan basi.

b. Nutrisi dan metabolik


Hipertermi, penuturan berat badan total sampai 50%, dnoteksia, muntah.
c.

Eliminasi BAB
Feces encer, frekuensi bervariasi dari 2 sampai 20 per hari.

d. Aktifitas
Kelemahan tidak toleran terhadap aktifitas.
e.

Sensori
Nyeri ditandai dengan menangis dan kaki diangkat ke abdomen.

7. Pemeriksaan Fisik
a.

Keadaan umum
Tampak lemah dan kesakitan.

b. Tanda vital
Berat badan menurun 2% dehidrasi ringan
Berat badan menurun 5% dehidrasi sedang
Berat badan menurun 8% dehidrasi berat
TD menurun karena dehidrasi
RR meningkat karena hipermetabolisme, cepat dan dalam (kusmoul)
Suhu meningkat bila terjadi reaksi inflmasi
Nadi meningkat (nadi perifer melemah)
c.

Mata: cekung

d. Mulut: mukosa kering


e.

Abdomen: turgor jelek

f.

Kulit: kering, kapilari refil > 2

b. Diagnosa keperawatan
1. Kurangnya volume cairan berhubungan dengan seringnya buang air besar dan encer.
2.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan menurunnya intake dan
menurunnya absorbsi makanan dan cairan.

3. Hipertermi berhubungan dengan infeksi ditandi dengan kerusakan pada mukosa usus.
4. Resiko gangguan integritas kulit ditandai dengan kemerahan di sekitar anus
5. Gangguan tidur berhubungan dengan rasa nyaman ditandai dengan sering defekasi.
6. Cemas berhubungan dengan kondisi dan hospitalisasi pada anak.
7. Kurangnya pengetahuan orang tua berhubungan dengan kurangnya informasi.
c. Fokus Intervensi
1. Diagnosa

: Kurangnya volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan seringnya

buang air besar dan encer.


Tujuan

: Keseimbangan cairan dapat dipertahankan dalam batas normal.

Hasil yang diharapkan :


a.

Pengisien kembali kapiler < dari 2 detik

b. Turgor elastik
c.

Membran mukosa lembab

d. Berat badan tidak menunjukkan penurunan.


Intervensi :
-

Kaji intake dan output, otot dan observasi frekuensi defekasi, karakteristik, jumlah dan faktor
pencetus
Rasional : menentukan kehilangan dan kebutuhan cairan.

Kaji TTV
Rasional : membantu mengkaji kesadaran pasien.

Kaji status hidrasi, ubun-ubun, mata, turgor kulit, dan membran mukosa.
Rasional : menentukan kehilangan dan kebutuan cairan.

Ukur BB setiap hari


Rasional : mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi.

Anak diistirahatkan
Rasional : meningkatkan sirkulasi.

Kolaborasi dengan pemberian cairan parenteral


Rasional : meningkatkan konsumsi yang lebih.

Pemberian obat antidiare, antibiotik, anti emeti dan anti piretik sesuai program.
Rasional : menurunkan pergerakan usus dan muntah.
2. Diagnosa

: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

menurunnya intake absorbsi makanan.


Tujuan

: Anak-anak toleran diet yang sesuai.

Hasil yang diharapkan :


-

BB dalam batas normal

Tidak terjadi kekambuhan diare.


Intervensi :

Timbang BB tiap hari


Rasional : mengevaluasi keefektifan dalam pemberian nutrisi./

Pembatasan aktifitas selama fase sakit akut


Rasional : mengurangi reyurtasi.

Jaga kebersihan mulut pasien


Rasional : mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan.

Monitor intake dan output


Rasional : observasi kebutuhan nutrisi.
3.Diagnosa

: Hiperermi berhubungan dengan infeksi ditandai dengan kerusakan pada

mukosa usus.
Tujuan

mengembalikan suhu tubuh menjadi normal.


Hasil yang diharapkan :

Suhu tubuh kembali normal 36-37oC


Intervensi :

Hindarkan dan cegah penggunaan sumber dari luar


Rasional : mengurangi resiko vasodilatasi perifer dan kolaps paskuler.

Pantau suhu tubuh pasien dan melaporkan peningkatan dari nilai dasar suhu normal pasien.

Rasional : mendeteksi peningkatan suhu tubuh dan mulainya hipertermi.


-

Anjurkan pada anak agar tidak memakai pakaian / selimut tebal.


Rasional : mengurangi peningkatan suhu tubuh.
Kolaborasi pemberian obat anti infeksi anti gronik.

4.Diagnosa

: Resiko gangguan integritas kulit ditandai dengan kemerahan di sekitar

anus
Tujuan

: integritas kulit normal.

Hasil yang diharapkan :


-

Iritasi berkurang
Intervensi :

Kaji kerusakan kulit / iritasi setiap buang air besar


Rasional : menentukan intervensi lebih lanjut.

Gunakana kapas lembab dan sabun bayi (pH normal) untuk membersihkan anus setiap buang air
besar.
Rasional : menghindari resiko infeksi kulit.

Hindari dari pakaian dan pengalas tempat tidur yang lembab.


Rasional : mengurangi infeksi secara dini.
5.Diagnosa

: Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan sering defekasi ditandai

dengan mata merah dan sering menguap


Tujuan

Agar pola tidur pasien dapat terpenuhi.


Hasil yang diharapkan :

Pasien dapat tidur 6-8 jam setiap malam

Secara verbal mengatakan dapat lebih rileks dan lebih segar.


Intervensi :

Berikan susu hangat sebelum tidur


Rasional : meningkatkan tidur

Anjurkan makanan yang cukup satu jam sebelum tidur.


Rasional : meningkatkan tidur.

Keadaan tempat tidur yang nyaman, bersih dan bantal yang nyaman.
Rasional : meningkatkan tidur.

Lakukan persiapan untuk tidur malam sesuai dengan pola tidur pasien.
Rasional : mengatur pola tidur.

Tujuan

6.Diagnosa

: Cemas berhubungan dengan kondisi dan hospitalisasi pada anak

Anak dan orang tua menunjukkan rasa cemas atau takut berkurang.

Hasil yang diharapkan :


-

Orang tua aktif marawat anak dan bertanya dengan perawat atau dokter tentang kondisi atau
klasifikasi dan anak tidak menangis.
Intervensi :

Anjurkan pada orang tua mengekspresikan perasaan rasa takut dan cemas, dengarkan keluhan
orang tua dan bersikap empati dengan sentuhan terapeutik.
Rasional : mengurangi rasa cemas dan takut yang dialami oleh orang tua.

Gunakan komunikasi terapeutik, kontak mata, sikap tubuh dan sentuhan.


Rasional : orang tua anak merasa diperhatiakn akan rasa cemas yang dihadapinya.

Jelaskan setiap prosedur yang akan dlakukan pada anak kepada orang tua.
Rasional : mengurangi rasa cemas orang tua.

Libatkan orang tua dalam perawatan anak


Rasional : anak tidak merasa kehilangan perhatian akan orang lain.

Jelaskan kondisi anak, alasan pengobatan dan perawatan


Rasional : meningkatkan pengetahuan orang tua dan agar orang tua mengetahui kondisi anak.
7.Diagnosa

: Kurangnya pengetahuan orang tua berhubungan dengan kurangnya

informasi.
Tujuan

: Agar keluarga mengetahui informasi tentang diare.

Hasil yang diharapkan :


-

Keluarga mengerti tentang diare

Keluarga mengetahui cara pencegahan dan pengobatan yang dapat dilakukan apabila terjadi lagi
diare.
Intervensi :

Kaji tingkat pemahaman orang tua


Rasional : ajarkan orang tua tentang pentingnya cuci tangan untuk mengetahui kontaminasi.

Jelaskan pentingnya kebersihan

Ajarkan tentang positif diet dan kontrol diare


Rasional : meningkatkan pengetahuan dan cara mencegah diare.

Membiasakan bersih agar air di jamban dan jamban harus selalu bersih agar tidak ada lalat.
Rasional : Mencegah penyebaran kuman dan diare

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Di era globalisasi ini penyakit diare semakin meningkat, hal ini dikarenakan masyarakat kurang
menjaga kebersihan lingkungan dan kebiasaan makan makanan yang hygiennya kurang serta
kurangnya pengetahuan masyarakat tentang diare dan pencegahannya.
Dampak dari penyakit diare dapat menyebabkan berbagai masalah pada anak seperti aktivitas
anak berkurang, kebutuhan nutrisi tidak seimbang sehingga menyebabkan tumbuh kembang anak
terganggu.
Diare terjadi pada balita dan sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian karena
kekurangan cairan.
Saran
Diharapkan orang tua mengetahui tentang diare dan cara mengatasinya.
Hendaknya orang tua mengajarkan cara personal hygiene yang baik pada anak.
Apabila anak mengalami diare, penanganan pertama yang dilakukan adalah dengan memberikan
oralit.
Mahasiswa diharapkan mampu memberikan pendidikan kesehatan kepada klien, keluarga dan
masyarakat bagaimana cara mencegah dan mengatasi diare.

DAFTAR PUSTAKA
Dongoes, E. Marilyn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.
Wong, Donna L. dan Eaton, M. H(et all). 2001. Wongs Essentials of Pediatric Nursing. (Ed. 6).
Missouri : Mosby.
Nethina, Sandra, M. 2001. Pedoman Praktek Keperawatan. Alih Bahasa oleh Setiawan, dkk. Jakarta :
EGC.
Tucker, Susan Martin, dkk. 1998. Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, Diagnosis, dan
Evaluasi. (ed. 5). Alih Bahasa Yasmin Asih,dkk. Jakarta : EGC.
Behrman, Richard E, dkk. 1999. Ilmu Kesehatan dan Anak Nelson, Volume 2. Edisi 15. Alih Bahasa A.
Samik Wahab. Jakarta : EGC

LP dan ASKEP DIARE ANAK

GASTROENTERITIS
(DIARE)
I. KONSEP DASAR
A. Pengertian
Diare adalah pengeluaran tinja yang tidak normal atau cair (Hipocrates)
Diare adalah buang air besar yang tida nomral dan cair, dengan frekuensi lebih
banyak dari biasanya (Neonatus > 4 kali dan bayi-anak > 3 kali dalam sehari) (Lab
IKA FKUI, 1988).
B. Etiologi
Penyebab diare (Lab IKA FKUA, 1984)
1. Infeksi
a. Infeksi enteral :
Bakteri : Vibrio, entamoeba coli, salmonella, shigela
Virus
: enterovorus, adenovirus, rotavirus, asatrovirus
Parasit : cacing, protozoa, jamur
b. Infeksi parenteral

Infeksi dibagian tubuh lain di luar alat pencernaan ( ISPA, saluran kemih dan
OMA)
2. Malabsorbsi
a. Malabsorbsi karbohidrat (intoleransi laktosa)
b. Malabsorbsi protein
c. Malabsorbsi lemak
3. Faktor makanan
4. Faktor psikologis

1.
a.
b.
c.
d.

E. Derajat Dehidrasi (Lab IKA FKUI, 1988)


Kehilangan berat badan
2,5 % tidak ada dehidrasi
2,5-5% Dehidrasi ringan
5-10 % dehidrasi sedang
> 10% dehidrasi berat

2. Skor Maurice King


Bagian Tubuh
Yang Diperiksa
Keadaan Umum
Turgor
Mata
UUB
Mulut
Denyut Nadi

KETERANGAN :

0
Sehat
Normal
Nomral
Normal
Normal
Kuat
< 120

N I LAI
1
Gelisah cengeng,
apatis, ngantuk
Sedikit, kurang
Sedikit cekung
Sedikit cekung
Kering
Sedang
(120-140)

Skor :
- 0-2 dehidrasi ringan
- 3-6 dehidrasi sedang
- 7-12 Dehidrasi berat
Pada anak-anak Ubun Ubun Besar sudah menutup
Untu k kekenyalan kulit :
- 1 detik
: dehidrasi ringan
- 1-2 detik
: dehidrasi sedang
- > 2 detik
: dehidrasi berat

2
Mengigau,
koma/syok
Sangat kurang
Sangat cekung
Sangat cekung
Kering, sianosis
Lemah
> 140

II.

PENGKAJIAN
A. Identitas
Diare akut lebih sering terjadi pada bayi dari pada anak, frekuensi diare untuk
neonatus > 4 kali/hari sedangkan untuk anak > 3 kali/hari dalam sehari. Status
ekonomi yang rendah merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
terjadinya diare pada nak ditinjau dari pola makan, kebersihan dan perawatan.
Tingkat pengetahuan perlu dikaji untuk mengetahui tingkat perlaku kesehatan dan
komunikasi dalam pengumpulan data melalui wawancara atau interview. Alamat
berhubungan dengan epidemiologi (tempat, waktu dan orang) ( Lab. FKUI, 1988).
B. Keluhan utama
Keluhan yang membuat klien dibawa ke rumah sakit. Manifestasi klnis berupa
BAB yang tidaknomral/cair lebih banyak dari biasanya (LAN IKA, FKUA, 1984)
C. Riwayat Penyakit Sekarang
Paliatif, apakah yang menyebabkan gejala diare dan apa yang telah dilakukan.
Diare dapat disebabkan oleh karena infeksi, malabsorbsi, faktor makanan dan
faktor psikologis.
Kuatitatif, gejala yang dirasakan akibat diare bisanya berak lebih dari 3 kali dalam
sehari dengan atau tanpa darah atau lendir, mules, muntak. Kualitas, Bab
konsistensi, awitan, badan terasa lemah, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari
.
Regonal,perut teras mules, anus terasa basah.
Skala/keparahan, kondisi lemah dapat menurunkan daya tahan tubuh dan aktivitas
sehari-hari.
Timing, gejala diare ini dapat terjadi secara mendadak yang terjadi karena infeksi
atau faktor lain, lamanya untuk diare akut 3-5 hari, diare berkepanjangan > 7 hari
dan Diare kronis > 14 hari (Lab IKA FKUA, 1984)
D. Riwayat Penyakit sebelumnya
Infeksi parenteral seperti ISPA, Infeksi Saluran kemih, OMA (Otitis Media Acut)
merupakan faktor predisposisi terjadinya diare (Lab IKA FKUA, 1984)
E. Riwayat Prenatal, Natal dan Postnatal
1. Prenatal
Pengaruh konsumsi jamu-jamuan terutamma pada kehamilan semester pertama,
penyakti selama kehamilan yang menyertai seperti TORCH, DM, Hipertiroid yang
dapat mempengaruhi pertunbuhan dan perkembangan janin di dalam rahim.
2. Natal

Umur kehamilan, persalinan dengan bantuan alat yang dapat mempengaruhi fungsi
dan maturitas organ vital .
3. Post Natal
Apgar skor < 6 berhubungan dengan asfiksia, resusitasi atau hiperbilirubinemia.
BErat badan dan panjang badan untuk mengikuti pertumbuhan dan perkembangan
anak pada usia sekelompoknya. Pemberian ASI dan PASI terhadap perkembangan
daya tahan tubuh alami dan imunisasi buatan yang dapat mengurangi pengaruh
infeksi pada tubuh.
F. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan dan perkembangan menjadi bahan pertimbangan yang penting karena
setiap individu mempunyai ciri-ciri struktur dan fungsi yang berbeda, sehingga
pendekatan pengkajian fisik dan tindakan haruys disesuaikan dengan pertumbuhan
dan perkembangan (Robert Priharjo, 1995)
G. Riwayat Kesehatan Keluarga
1. Penyakit
Apakah ada anggota keluarga yangmenderita diare atau tetangga yang
berhubungan dengan distribusi penularan.
2. Lingkungan rumah dan komunitas
Lingkungan yang kotor dan kumuh serta personal hygiene yang kurang mudah
terkena kuma penyebab diare.
3. Perilaku yang mempengaruhi kesehatan
BAB yang tidak pada tempat (sembarang)/ di sungai dan cara bermain anak
yangkurang higienis dapat mempermudah masuknya kuman lewat Fecal-oral.
4. Persepsi keluarga
Kondisi lemah dan mencret yang berlebihan perlu suatu keputusan untuk penangan
awal atau lanjutan ini bergantung pada tingkat pengetahuan dan penglaman yang
dimiliki oleh anggota keluarga (orang tua).
H. Pola Fungsi kesehatan
1. Pola Nutrisi
Makanan yang terinfeksi, pengelolaan yang kurang hygiene berpengaruh terjadinya
diare, sehingga status gizi dapat berubah ringan samapai jelek dan dapat terjadi
hipoglikemia. Kehilangan Berat Badan dapat dimanifestasikan tahap-tahap
dehidrasi. Dietik pada anak < 1tahun/> 1tahun dengan Berat badan < 7 kg dapat
diberikan ASI/ susu formula dengan rendahlaktosa, umur > 1 tahun dengan BB > 7
kg dapat diberikan makananpadat atau makanan cair.
2. Pola eliminasi

BAB (frekuensi, banyak, warna dan bau) atau tanpa lendir, darah dapat mendukung
secara makroskopis terhadap kuman penyebab dan cara penangana lebih lanjut.
BAK perlu dikaji untuk output terhadap kehilangan cairan lewat urine.
3. Pola istirahat
Pada bayi, anak dengan diare kebutuhan istirahat dapat terganggu karena frekuensi
diare yang berlebihan, sehingga menjadi rewel.
4. Pola aktivitas
Klien nampak lemah, gelisah sehingga perlu bantuan sekunder untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari.
I. Pemeriksaan Fisik (Robert Priharjo, 1995).
1. Sistem Neurologi,
Subyektif, klien tidak sadar, kadang-kadang disertai kejang.
Inspeksi, Keadaan umum klien yang diamati mulai pertama kali bertemu dengan
klien. Keadaan sakit diamati apakah berat, sedang, ringan atau tidak tampak sakit.
Keadaran diamati komposmentis, apatis, samnolen, delirium, stupor dan koma.
Palpasi, adakah parese, anestesia,
Perkusi, refleks fisiologis dan refleks patologis.
2. Sistem Penginderaan
Subyektif, klien merasa haus, mata berkunang-kunang,
Inspeksi :
Kepala, kesemitiras muka, cephal hematoma (-), caput sucedum (-), warna dan
distibusi rambut serta kondisi kulit kepala kering, pada neonatus dan bayi ubunubun besar tampak cekung.
Mata, Amati mata conjunctiva adakah anemis, sklera adakah icterus. Reflek mata
dan pupil terhadap cahaya, isokor, miosis atau midriasis. Pada keadaan diare yang
lebih lanjut atau syok hipovolumia reflek pupil (-), mata cowong.
Hidung, pada klien dengan dehidrasi berat dapat menimbulkan asidosis metabolik
sehingga kompensasinya adalah alkalosis respiratorik untuk mengeluarkan CO2
dan mengambil O2,nampak adanya pernafasan cuping hidung.
Telinga, adakah infeksi telinga (OMA, OMP) berpengaruh pada
kemungkinaninfeksi parenteal yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya diare
(Lab. IKA FKUA, 1984)
Palpasi,
Kepala, Ubun-ubun besar cekung, kulit kepala kering, sedangkan untuk anak-anak
ubun-ubun besar sudah menutup maximal umur 2 tahun. Mata, tekanan bola mata
dapat menurun,
Telinga, nyeri tekan, mastoiditis.

3. Sistem Integumen
Subyektif, kulit kering
Inspeksi , kulit kering, sekresi sedikit, selaput mokosa kering
Palpasi, tidak berkeringat, turgor kulit (kekenyalan kulit kembali dalam 1 detik =
dehidrasi ringan, 1-2 detik = dehidrasi sedang dan > 2 detik = dehidrasi berat (Lab
IKA FKUI, 1988).
4. Sistem Kardiovaskuler
Subyektif, badan terasa panas tetapi bagian tangan dan kaki terasa dingin
Inspeksi, pucat, tekanan vena jugularis menurun, pulasisi ictus cordis (-), adakah
pembesaran jantung, suhu tubuh meningkat.
Palpasi, suhu akral dingin karena perfusi jaringan menurun, heart rate meningkat
karena vasodilatasi pembuluh darah, tahanan perifer menurun sehingga cardiac
output meningkat. Kaji frekuensi, irama dan kekuatan nadi.
Perkusi, normal redup, ukuran dan bentuk jantung secara kasar pada kausus diare
akut masih dalam batas normal (batas kiri umumnya tidak lebih dari 4-7 dan 10 cm
ke arah kiri dari garis midsternal pada ruang interkostalis ke 4,5 dan 8.
Auskultasi, pada dehidrasiberat dapat terjadi gangguansirkulasi, auskulatasi bunyi
jantung S1, S2, murmur atau bunyi tambahan lainnya. Kaji tekanan darah.
5. Sistem Pernafasan
Subyektif, sesak atau tidak
Inspeksi, bentuk simetris, ekspansi , retraksi interkostal atau subcostal. Kaji
frekuensi, irama dan tingkat kedalaman pernafasan, adakah penumpukan sekresi,
stridor pernafas inspirasi atau ekspirasi.
Palpasi, kajik adanya massa, nyeri tekan , kesemitrisan ekspansi, tacti vremitus (-).
Auskultasi, dengan menggunakan stetoskop kaji suara nafas vesikuler, intensitas,
nada dan durasi. Adakah ronchi, wheezing untuk mendeteksi adanya penyakit
penyerta seperti broncho pnemonia atau infeksi lainnya.
6. Sistem Pencernaan
Subyektif, Kelaparan, haus
Inspeksi, BAB, konsistensi (cair, padat, lembek), frekuensilebih dari 3 kali dalam
sehari, adakah bau, disertai lendi atau darah. Kontur permukaan kulit menurun,
retraksi (-) dankesemitrisan abdomen.
Auskultasi, Bising usus (dengan menggunakan diafragma stetoskope), peristaltik
usus meningkat (gurgling) > 5-20 detik dengan durasi 1 detik.
Perkusi, mendengar aanya gas, cairan atau massa (-), hepar dan lien tidak
membesar suara tymphani.

Palpasi, adakahnyueri tekan, superfisial pemuluh darah, massa (-). Hepar dan lien
tidak teraba.
7. Sistem Perkemihan
Subyektif, kencing sedikit lain dari biasanya
Inspeksi, testis positif pada jenis kelamin laki-laki, apak labio mayor menutupi
labio minor, pembesaran scrotum (-), rambut(-). BAK frekuensi, warna dan bau
serta cara pengeluaran kencing spontan atau mengunakan alat. Observasi output
tiap 24 jam atau sesuai ketentuan.
Palpasi, adakah pembesaran scrotum,infeksi testis atau femosis.
8. Sistem Muskuloskletal
Subyektif, lemah
Inspeksi, klien tampak lemah, aktivitas menurun
Palpasi, hipotoni, kulit kering , elastisitas menurun. Kemudian dilanjutkan dengan
pengukuran berat badan dan tinggi badan , kekuatan otot.
J. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium (Lab IKA FKUI, 1988)
a. Faeces lengkap
Makroskopis dan mikroskopis (bakteri (+) mis. E. Coli)
PH dan kadar gula
Biakan dan uji resistensi
b. Pemeriksaan Asam Basa
Analisa Baood Gas Darah dapat menimbulkan Asidosis metabolik dengan
kompensasi alkalosis respiratorik.
c. Pemeriksaan kadar ureum kreatinin
Untuk mengetahui faali ginjal
d. Serum elektrolit (Na, K, Ca dan Fosfor)
Pada diare dapat terjadi hiponatremia, hipokalsemia yang memungkinkan terjadi
penuruna kesadaran dan kejang.
e. Pemeriksaan intubasi duedenum
Terutama untuk diare kronik dapat dideteksi jasad renik atau parasit secara
kualitatif dan kuantitatif.
2. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi diperlukan kalau ada penyulit atau penyakit penyerta seperti
bronchopnemonia dll seperti foto thorax AP/PA Lateral.
K. Penatalaksanaan (Lab IKA FKUI, 1988 dan FKUA, 1984)

1. Rehidrasi
a. Jenis cairan
- cara rehidrasi oral :
Formula lengkap (NaCl, NaHCO3, KCl dan Glukosa) seperti oralit,pedyalit setiap
kali diare.
Formula sederhana (NaCl dan Sukrosa/KH lain) seperti LGG, tajin
- cairan parenteral :
usia 0-2 hari dengan BB < 2500 D5%, BB > 2500 (aterm) D10%.
Usia 2 hari-3 bulan d100,18 NS
Usia 3 bulan- 3 tahun D51/4 NS
Usia > 3 tahun D51/2NS
HSD (Half Strength Darrow) D1/2 2,5 NS cairan khusus untuk diare > usia 3 bulan.
b. Jalan pemberian
Oral (dehidrasi ringan, sedang dan tanpa dehidrasi, anak mau minum serta
kesadaran baik)
Intragastrik (dehidrasi ringan, sedang, tanpa dehidrasi, anak tidak mau makan dan
kesadaran menurun).
IV line bila dehidrasi berat
c. Jumlah cairan
Jumlah cairan yang diberikan tergantung pada :
- Defisit (derajat dehidrasi)
- Kehilangan sesaat (concurent loss)
- Rumatan (maintenance)
d. Jadual/kecepatan
Jadual atau kecepatan pemberian cairan tergantung pada tingkat dehidrasi dan
umur. Untuk defisit diberikan 3 jampertama dan dilanjutkan maintenance.
2.
a.
b.

Obat-obatan
Obat anti sekresi
Asetosal, 25 mg/hr dengan dosisminimal 30 mg
Klorpromasin, 0,5-1 mg/ kg BB/hr
Obat antispasmotilitik
Papaverin, opium. loperamid
c. Antibiotik
- Penyebab jelas
- Ada penyakit penyerta
3. Dietetik
a. Anak < 1 tahun atau > 1 tahun denga BB < 7 kg
- Susu ASI/ susu formula dengan laktosa rendah

- Makanan setengah padat (bubur susu), makana padat


b. Umur > 1 tahun dengan BB > 7 kg
Makanan padat/ maknan cair/susu
c. Dalam keadaan malabsorbsi berat serta allergi protein susu sapi dapat diberikan
elemental/semi elemental formula.
4. Supportif
a. Vitamin A 200.000 iu IM
usia < 1 tahun
b. Vitamin A 100.000 iu IM
usia 1-5 tahun
c. Vitamin A 5000 iu
usia > 5 tahun
d. Vitamin A 2.500 iu po
usia < 1 tahun
e. Vitamin A 5.000 iu po
usia > 1 tahun
f. Vitamin B kompleks, vit C
Rencana Asuhan Keperawatan
I. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan
cairan sekunder terhadap diare.
Tujuan : Keseimbangan cairan dan elektrolit dapat dipertahankan secara optimal.
Kriteria :
Tanda-tanda vital dalam batas normal
Tanda-tanda dehidrasi (-), turgor kulit elastis, membran mukosa basah, haluaran
urine terkontrol, mata tidak cowong dan ubun-ubun besar tidak cekung.
Konsistensi BAB liat/lembek dan frekuensi 1 kali dalam sehari
Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit BJ urine 1,008-1,010; BUN dalam batas
normal.
Blood Gas Analysis dalam batas normal
1.

2.

3.
4.
a.

Intervensi :
Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan (dehidrasi)
R/ Penurunan volume cairan bersirkulasi menyebabkan kekeringan jaringan dan
pemekatan urine. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera
untuk memperbaiki defisit.
Pantau intake dan out put
R/ Haluaran dapat melebihi masukan, yang sebelumnya tidak mencukupi untuk
mengkompensasi kehilangan cairan. Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi
glomerulus membuat haluaran tak adeguat untuk membersihkan sesa metabolisme.
Timbang BB setiap hari.
R/ Penimbangan BB harian yang tepat dapat mendeteksi kehilangan cairan.
Penatalaksanaan rehidrasi :
Anjurkan keluarga bersama klien untuk meinum yang banyak (LGG, oralit atau
pedyalit 10 cc/kg BB/mencret.

b.

5.
a.
b.

R/ Kandungan Na, K dan glukosa dalam LGG, oralit dan pedyalit mengandung
elektrolit sebagai ganti cairan yang hilang secara peroral. Bula menyebarkan
gelombang udara dan mengurangi distensi.
Pemberian cairan parenteral (IV line) sesuai dengan umur dan penyulit (penyakit
penyerta).
R/ Klien yang tidak sadar atau tingkat dehidrasi ringan dan sedang yang kurang
intakenya atau dehidrasi berat perlu pemberian cairan cepat melalui IV line sebai
pengganti cairan yang telah hilang.
Kolaborasi :
Pemeriksaan serum elektrolit (Na, K dan Ca serta BUN)
R/ Serum elektrolit sebagai koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit. BUN
untuk mengetahui faali ginjal (kompensasi).
Obat-obatan (antisekresi, antispasmolitik dan antibiotik)
R/ Antisekresi berfungsi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit untuk
keseimbangannya. Antispasmolitik berfungsi untuk proses absrobsi normal.
Antibiotik sebagai antibakteri berspektrum luas untuk menghambat endoktoksin.

II. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak
adekuatnya intake dan diare
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria :
Nafsu makan baik
BB ideal sesuai dengan umur dan kondisi tubuh
Hasil pemeriksaan laborat protein dalam batas normal (3-5 mg/dalam)
Intervensi :
1. Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan yang berserat tinggi,
berlemak dan air panas atau dingin)
R/ Makanan ini dapat merangsang atau mengiritasi saluran usus.
2. Timbang BB setiap hari
R/ Perubahan berat badan yang menurun menggambarkan peningkatan kebutuhan
kalori, protein dan vitamin.
3. Ciptakan lingkungan yang menyenagkan selama waktu makan dan bantu sesuai
dengan kebutuhan.
R/ Nafsu makan dapat dirangsang pada situasi releks dan menyenangkan.
4. Diskusikan dan jelaskan tentang pentingnya makanan yang sesuai dengan
kesehatan dan peningkatan daya tahan tubuh.
R/ Makanan sebagai bahan yang dibutuhkan tubuh untuk proses metabolisme dan
katabolisme serta peningkatan daya tahan tubuh terutama dalam keadaan sakit.
Penjelasan yang diterima dapat membuka jalan pikiran untuk mencoba dan
melaksanakan apa yang diketahuinya.

5. Kolaborasi :
a. Dietetik
- anak , 1 tahun/> 1 tahun dengan BB < 7 kg diberi susu (ASI atau formula rendah
laktosa), makan setengah padat/makanan padat.
R/ Pada diare dengan usus yang terinfeksi enzim laktose inaktif sehingga
intoleransi laktose.
- Umur > 1 tahun dengan BB > 7 kg diberi makan susu/cair dan padat
R/ Makanan cukup gizi dan disesuaikan dengan kondisi kesehatan.
b. Rehidrasi parenteral (IV line)
R/ Klien yang tidak sadar atau tingkat dehidrasi ringan dan sedang yang kurang
intakenya atau dehidrasi berat perlu pemberian cairan cepat melalui IV line sebai
pengganti cairan yang telah hilang.
c. Supporatif (pemberian vitamin A)
R/ Vitamin merupakan bagian dari kandungan zat gizi yang diperlukan tubuh
terutama pada bayi untuk proses pertumbuhan.
I. Risiko injuri kulit (area perianal) berhubungan dengan peningkatan
frekuensi diare
Tujuan : Injuri kulit tidak terjadi
Kriteria :
Integritas kulit utuh
Iritasi tidak terjadi
Kulittidak hiperemia,atau iscemia
Kebersihan peranal terjaga dan tetap bersih
Keluarga dapat mendemonstrasikan dan melakasnakan perawatan perianal dengan
baik dan benar
Intervensi :
1. Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga kebersihan di tempat tidur .
R/ Kebersihan mencegah aktivitas kuman. Informasi yang adeguat melalui metode
diskusi dapat memberikan gambaran tentang pentingnya kebersihan dan keadaran
partisipasi dalam peningkatan kesehatan.
2. Libatkan dan demonstrasikan cara perawatan perianal bila basah akibat diare atau
kencing dengan mengeringkannya dan mengganti pakaian bawah. serta alasnya.
R/ Kooperatif dan partisipati sangat penting untuk peningkatan dan pencegahan
untuk mencegah terjadinya disintegrasi kulit yang tidak diharapkan.
3. Menganjurkan keluarga untuk mengganti pakaian bawah yang basah.
R/ Kelembaban dan keasaman faeces merupakan faktor pencetus timbulnya iritasi.
Untuk itu pengertian akan mendorong keluarga untuk mengatasi masalah tersebut.

4. Lindungi area perianal dari irtasi dengan pemberian lotion.


R/ Sering BAB dengan peningkatan keasaman dapat dikurangi dengan menjaga
kebersihan dan pemberian lotion dari iritasi.
5. Atur posisi klien selang 2-3 jam.
R/ Posisi yang bergantian berpengaruh pada proses vaskularisasi lancar dan
mengurangi penekanan yang lama, sehingga mencegah ischemia dan iritasi.
LAPORAN PENDAHULUAN DIARE (Lengkap)

A. KONSEP MEDIS
1.

Pengertian
Diare adalah buang air yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan
frekuensi yang lebih banyak dari biasanya.

2.

Etiologi

a.

Faktor Infeksi :

Infesi Internal

yaitu saluran pencernaan yang merupakan penyebab

utama diare akut anak

Infeksi Bakteri

yaitu vibrio coma, E.coli, saimonella, campylobacter,

yersenia, aeromonas, dan sebagainya.

Infeksi virus

yaitu Enterovirus (virus echo, coxsackie, Poliomyelitis)

Adenovines, Rotavirus, Astrovirus.

Infeksi Parasit

kyaitu

Cacing,

Protozoa,

Jamur,

serta

kebiasaan

mengelola makanan.

Infeksi Parenteral

yaitu infeksi bagian tubuh lain diluar alat pencernaan,

seperti : OMA, Tonsilofaringitis, Paroncopneumonia, ensefalitis, dan sebagainya


sering terjadi pada bayi/anak kurang dari 2 tahun.
b.

Faktor Malabsorbsi :

Malabsorbsi Karbohidrat : disakarida (intoleransi Laktosa, Maltosa, dan Sukrosa)


pada bayi dan anak, yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktosa.

Malabsorbsi lemak

Malabsorbsi protein

makanan

Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan dan pola makanan yang

salah

sikologis

Rasa takut dan cemas.

3.

Patogenesis :

a.

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah :

Gangguan Osmotik, adanya makanan dan zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi
pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan
akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

Gangguan sekresi, akibat rangsangan tertentu (misalnya toxin) pada dinding usus,
akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus, yang
selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.

Gangguan Motilitas usus, Hyperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya


kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila
peristaltik usus menurun, akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan dan
selanjutnya dapat menimbulkan diare.

b.

Patogenesis diare akut


Masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah berhasil
melewati rintangan asam lambung.

Jasad renik tersebut berkembang biak (multiplikasi) dalam usus halus.

Oleh jasad renik dikeluarkan toksin (toksin diaregenik).

Akibat toksin tersebut terjadi hypersekresi yang selanjutnya menimbulkan diare.

c.

Patogenesis diare kronik


Lebih kompleks dan faktor-faktor yang menimbulkannya ialah : infeksi bakteri,
parasit, malabsorbsi, dan malnutrisi.

4.

Patofisiologi :
Sebagai akibat dari diare akut maupun kronis, akan terjadi :

a.

Kehilangan cairan dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan terjadinya


gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolic, hipoklamia.

b.

Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan (masukan makanan kurang, pengeluaran


bertambah).

c.

Hypoglikemia

d.

Gangguan sirkulasi darah

5.

Manifestasi Klinik

a.

Pasien cengeng, gelisah, SE meningkat, nafsu makan tidak ada

b.

Timbul diare, tinja cair, kadang-kadang disertai lendir dan darah.

c.

Anus dan sekitarnya lecet karena sering defekasi

d.

Timbul muntah

e.

Bila pasien kehilangan cairan dan elektrolit yang banyak, akan nampak :

BB menurun

Turgor berkurang

Pada bayi ubun-ubun besar dan mata cekung

Selaput lendir bibir dan mulut kering

Kulit tampak kering.

6.

Komplikasi

a.

Dehidrasi, Renjatan hypovolemik, hypokalemia.

b.

Hypoglikemia, Entolerence Laktosa Sekunder, Kejang.

7.

Pemeriksaan Laboratorium

a.

Pemeriksaan tinja (makroskopik & mikroskopik).

b.

Pemeriksaan kadar ureum & kreatinin

c.

Pemeriksaan elektrolit (Natrium, Kalium, Kalsium, dan Fosfor dalam Serum)

d.

Pemeriksaan inkubasi deodenum, untuk mengetahui jenis jasad renik/parasit


secara kuantitatif dan kualitatif.

8.

Penatalaksanaan
Dasar pengobatan diare adalah :

a.

Pemberian cairan : jenis cara pemberian, dan jumlah pemberian dengan


memperhatikan derajat dehidrasi dan keadaan umum

1)

Cairan Peroral :

Dehidrasi ringan dan sedang : Naol, NaHCO 3, Kcl, Glukosa, biasa berupa Oralit.

Untuk pengobatan sementara sebelum ke rumah sakit dan mencegah dehidrasi


lebih jauh.

2)

Cairan Parenteral :

Bila belum ada dehidrasi

Peroral sebanyak mungkin sesuai kemauan anak

Dehidrasi ringan :

1 jam I 25 50 ml/kgBB peroral


Selanjutnya 125 ml/kgBB/hr

Dehidrasi sedang :

1 jam I 50 100 ml/kgBB/oral sonde.


Selanjutnya 125 ml/kgBB/hr

Dehidrasi berat

Umur 1 bulan 2 tahun, BB : 3-10 Kg :

1 jam I

: 40 ml/kgBB/mnt

: 10 tts/kgBB/mnt

7 jam

: 12 ml/kgBB/mnt

: 3 tts/kgBB/mnt

16 jam

: 125 ml/kgBB/mnt

: 2 tts/kgBB/mnt

Umur 2 5 tahun, BB : 10 15 Kg :

1 jam I

: 30 ml/kgBB/mnt

: 8 tts/kgBB/mnt

7 jam

: 10 ml/kgBB/mnt

: 3 tts/kgBB/mnt

16 jam

: 125 ml/kgBB/mnt

: 2 tts/kgBB/mnt

Umur 5 10 tahun, BB : 15-25 Kg :

1 jam I

: 20 ml/kgBB/mnt

: 5 tts/kgBB/mnt

7 jam

: 10 ml/kgBB/mnt

: 2,5 tts/kgBB/mnt

16 jam

: 105 ml/kgBB/mnt

: 1 tts/kgBB/mnt

Untuk bayi baru lahir / Neonatus : BB 2 3 Kg :

Kebutuhan cairan : 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/ KgBB/24 jam

4 jam I : 25 ml/KgBB/Jam : 6 tts/KgBb/mnt.

20 jam ~ : 150 ml/KgBB/jam : 2 tts/KgBB/mnt.

b.

Pengobatan Dietetik (Makanan)

1)

Anak < dari 1 tahun :

Susu (ASI) / Susu Formula

Makanan setengah padat

Susu khusus

2)

Anak > dari 1 tahun : Makanan padat / cair / susu.

3)

Obat-obatan :

Obat anti sekresi : asetosal, klorpromazine,

Anti biotika.

9.

Pencegahan

a.

Mencegah berkembang baiknya lalat dengan menghilangkan sarang-sarang,


dengan cara :

Membuang sampah pada tempat tertutup

Membakar sampah

Mencegah lalat hinggap/mengotori makanan/minuman.

b.

BAB pada tempat tertentu (WC).

c.

Memelihara kebersihan rumah dan pekarangan

d.

Mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan.

e.

Menjaga kebersihan alat-alat makan/minum.

f.

Menghindari makanan yang menyebabkan diare.

g.

Pengolahan dan penyajian makanan harus sesuai dengan syarat kesehatan.

h.

Memberi pendidikan kesehatan pada keluarga/masyarakat.

B.

KONSEP KEPERAWATAN

I.

Pengkajian

1.

Riwayat Penyakit

Kemungkinan memakan makanan/minuman yang berkontaminasi

Kemungkinan infeksi ditempat lain, mis.: pernafasan, infeksi saluran kemih.

Kaji status dehidrasi

catat keluaran fekal (jumlah, volume, karakteristik).

Observasi dan catat tanda tenesmus, kram, muntah.

2.

Pemberian Sistem :

a.

Gastro Intestinal :

Tinja cair/encer

Tinja campur darah/lendir

Keram abdomen.

b.

Respirasi

Hyperventilasi

Pernapasan kusmaul

Nafas cepat dan dangkal

c.

Cardiovascular : nadi cepat dan tidak teratur

d.

Neurologik

Pusing, sakit kepala

Fatique dan lethargy.

Koma

e.

Hematology :

pH lebih dari 7,35

HCO3- kurang dari 22 mEq/l

Hypokalemia

f.

Integumen :

Turgor kulit kurang

Ubun-ubun besar cekung.

3.

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan feces lengkap

Pemeriksaan darah, elektrolit, kreatimin, BUB

Pemeriksaan urine (pH, berat jenis).

II. Diagnosa Keperawatan


1. Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan BI berlebihan melalui
feces/emisis.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kehilangan
cairan melalui diare, masukan yang tidak adekuat.
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan mikroorganisme yang menembus
saluran GI.
4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi karena diare.
5. Cemas/takut berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, lingkungan
asing, prosedur yang menyebabkan stress.
6. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kurang pengetahuan, krisis
situasi.
III. Rencana Intervensi
1. Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan GI berlebihan melalui
feces/emeis.

Sasaran

pasien

menunjukkan

tanda

rehidrasi

mempertahankan hidrasi adekuat.


a.

Berikan larutan rehdirasi oral sedikit


tapi sering

Untuk rehirasi dan penggantian


kehilangan cairan

b.

Beri dan pantau cairan IV sesuai


ketentuan

Untuk terapi dehidrasi hebat dan


muntah.

c.

Pertahankan pencatatan masukan


dan keluaran setiap saat

Untuk mengevaluasi keefektifan


intervensi

d.

Pantau tanda-tanda vital, turgor


kulit, membran mukosa, dan status
mental tiap 4 jam

Untuk mengkaji hidrasi

e.

Beri agent anti mikroba sesuai


ketentuan.

Mengobati patogen yang dapat


menyebabkan dehidrasi

dan

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


kehilangan cairan melalui diare, masukan yang tidak adekuat. Sasaran :
pasien mengkonsumsi nutrisi yang adekuat untuk mempertahankan BB yang
sesuai dengan usia.
a.

Instruksikan ibu untuk menyusui


untuk melanjutkan pemberian ASI

Cenderung untuk mengurangi


kehebatan dan durasi penyakit

b.

Observasi dan catat respon terhadap


pemberian makan

Untuk mengkaji toleransi pemberian


makanan

c.

Anjurkan orang tua untuk


memberikan diet yang tepat

Meningkatkan kepatuhan terhadap


program terapeutik

d.

Gali masalah dan prioritas anggota


keluarga

Memperbaiki kepatuhan terhadap


program terapeutik

3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan mikroorganisme yang menembus


saluran GI. Sasaran : pasien dan orang lain tidak menunjukkan tanda-tanda
infeksi gastro-intestinal.
a.
b.

Pertahankan pencucian tangan yang


benar
Pakaikan popok dengan tepat

Mengurangi resiko penyebaran


infeksi
Mengurangi kemungkinan
penyebaran feses

c.

Gunakn popok sekali pakai bersifat


superabsorbent

Untuk menampung feses dan


menurunkan kemungkinan
terjadinya dermatitis.

d.

Upayakan untuk mempertahankan


bayi dan anak tidak menempatkan
tangan dan objek dalam area
terkontaminasi.

Mencegah penyebaran infeksi

e.

Instruksikan anggota keluarga dan


pengunjung dalam praktek isolasi

Mengurangi resiko penyebaran


infeksi

4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi karena diare.


Sasaran : kulit pasien tetap utuh.
a.

Ganti popok sesering mungkin

Untuk menjaga agar kulit tetap


bersih dan kering

b.

Bersihkan bokong perlahan-lahan


dengan sabun lunak, non alkalin dan
air

Feses iritasi akan mengiritasi kulit

c.

Hindari menggunakan tisu basah


yang menggunakan alkohol

Akan menyebabkan rasa


menyengat

d.

Observasi bokong dan perineum


terhadap adanya infeksi

Mempercepat pengobatan yang


tepat

e.

Berikan obat anti jamur yang tepat

Untuk mengobati infeksi jamur kulit.

5. Cemas/takut berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, lingkungan


asing, dan prosedur yang menimbulkan stress. Sasaran : Pasien menunjukkan
tanda-tanda kenyamanan.
a.

Beri perawatan mulut dan empeng


untuk bayi

Untuk memberikan rasa nyaman

b.

Dorong untuk kunjungan dan


partisipasi keluarga dalam perawatan
semampunya

Untuk mencegah stress yang


berhubugan dengan perpisahan

c.

Sentuh, gendong dan bicara pada


anak sesering mungkin

Untuk memberikan rasa nyaman


dan menghilangkan stress

d.

Beri stimulasi sensori dan


pengalihan yang sesuai dengan
tingkat perkembangan anak dan
kondisinya.

Meningkatkan pertumbuhan dan


perkembangan yang optimal.

6. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan krisis situasi, kurang


pengetahuan. Sasaran : keluarga memahami tentang penyakit anak dan
pengobatannya serta mampu memberikan perawatan.
a.

Beri informasi pada keluarga


tentang penyakit anak dan tindakan
terapeutik

Mendorong kepatuhan terhadap


program terapeutik, khususnya jika
sudah di rumah

b.

Ijinkan anggota keluarga untuk


berpartisipasi dalam perawatan anak
sesuai keinginan.

Memenuhi kebutuhan anak dan


keluarga

c.

Instruksikan keluarga mengenai


pencegahan

Untuk mencegah penyebaran dan


infeksi

d.

Atur perawatan kesehatan pasca


hospitalisasi.

Untuk menjamin pengkajian dan


pengobatan yang kontinyu.

DAFTAR PUSTAKA

Wong, Donna. L., 2003,Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik, Edisi 4 EGC, Jakarta.

Staf Pengajar, IKA, 1985,Buku Kuliah I, Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Jakarta.

Suriadi, S.Kp dan Rita Yuliani, S.Kp, 2001.Asuhan keperawatan pada Anak, Jakarta.

Spear, Kathleen Morgan,Pediantric care planning, 3rd Ed.

Tim Penyusun, 1999, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Ed. 3, Balai Penerbit FKUI,
Jakarta.

DEFINISI
Diare adalah peningkatan volume, keenceran atau frekuensi
buang air besar. Diare yang disebabkan oleh masalah kesehatan
biasanya jumlahnya sangat banyak, bisa mencapai lebih dari 500
gram/hari.Orang yang banyak makan serat sayuran, dalam
keadaan normal bisa menghasilkan lebih dari 500 gram, tetapi
konsistensinya normal dan tidak cair.Dalam keadaan normal,
tinja mengandung 60-90% air, pada diare airnya bisa mencapai
lebih dari 90%.
ETIOLOGI
1. DIARE OSMOTIK
Diare osmotik terjadi bila bahan-bahan tertentu yang tidak dapat
diserap ke dalam darah, tertinggal di usus.
Bahan tersebut menyebabkan peningkatan kandungan air dalam

tinja, sehingga terjadi diare. Makanan tertentu (buah dan


kacang-kacangan) dan heksitol, sorbitol juga manitol (pengganti
gula dalam makanan dietetik, permen dan permen karet) dapat
menyebabkan diare osmotik. Kekurangan laktase juga bisa
menyebabkan diare osmotik. Laktase adalah enzim yang secara
alami ditemukan dalam usus halus, yang mengubah gula susu
(laktosa) menjadi glukosa dan galaktosa, sehingga dapat diserap
ke dalam aliran darah. Jika orang mengalami kekurangan laktase
minum susu atau makan produk olahan susu, maka laktosa tidak
akan diubah tapi terkumpul di usus dan menyebabkan diare
osmotik. Beratnya diare ini tergantung dari jumlah bahan
osmotik yang masuk.
Diare akan berhenti jika penderita berhenti memakan atau
meminum bahan tersebut.
2. DIARE SEKRETORIK
Diare sekretorik terjadi jika usus kecil dan usus besar
mengeluarkan garam (terutama natrium klorida) dan air ke
dalam tinja.
Hal ini juga bisa disebabkan oleh toksin tertentu seperti pada
kolera dan diare infeksius lainnya.
Diare bisa sangat banyak, bahkan pada kolera bisa lebih dari 1
liter/hari.
Bahan lainnya yang juga menyebabkan pengeluaran air dan
garam adalah minyak kastor dan asam empedu (yang terbentuk
setelah pengangkatan sebagian usus kecil).
Tumor tertentu (misalnya karsinoid, gastrinoma dan vipoma,
juga dapat menyebabkan diare sekretorik.
3. SINDROMA MALABSORBSI
Sindroma Malabsorbsi juga bisa menyebabkan diare.
Penderita sindroma ini tidak dapat mencerna makanannya secara

normal.
Pada malabsorbsi yang menyeluruh, lemak tertinggal di usus
besar dan menyebabkan diare sekretorik, sedangkan adanya
karbohidrat dalam usus besar menyebabkan diare osmotik.
Malabsorbsi mungkin juga disebabkan oleh beberapa keadaan
seperti:
- Sariawan non-tropikal
- Insufisiensi pankreas
- Pengangkatan sebagian usus
- Aliran darah ke usus besar yang tidak adekuat
- Kekurangan enzim tertentu di usus halus
- Penyakit hati.
4. DIARE EKSUDATIF
Diare eksudatif terjadi jika lapisan usus besar mengalami
peradangan atau membentuk tukak, lalu melepaskan protein,
darah, lendir dan cairan lainnya, yang akan meningkatkan
kandungan serat dan cairan pada tinja.
Diare ini dapat disebabkan oleh berbagai macam penyakit
seperti:
- Kolitis ulserativa
- Penyakit Crohn (enteritis regional)
- Tuberkulosis
- Limfoma
- Kanker.
Jika mengenai lapisan rektum, penderita akan merasakan
desakan untuk buang air besar dan sering buang air besar, karena
rektum yang mengalami peradangan lebih sensitf terhadap
peregangan oleh tinja.
5. PERUBAHAN PASASE USUS

Perubahan pasase usus bisa menyebabkan diare.


Untuk mendapatkan konsistensi yang normal, tinja harus tetap
berada di usus besar selama waktu tertentu. Tinja yang terlalu
cepat meninggalkan usus besar, akan berbentuk encer/cair. Tinja
yang terlalu lama berada di usus besar, konsistensinya keras dan
kering.
Banyak keadaan dan pengobatan yang dapat mempersingkat
keberadaan tinja dalam usus, diantaranya:
- Hipertiroid
- Pengangkatan sebagian usus halus atau usus besar
- Pembedahan perut
- Pengobatan tukak yang memotong saraf vagus
- Operasi bypass pada usus halus
- Obat-obat antasid dan pencahar yang mengandung magnesium,
prostaglandin, serotonin bahkan kafein.
6. PERTUMBUHAN BAKTERI BERLEBIH
Pertumbuhan bakteri berlebih adalah pertumbuhan bakteri alami
usus dalam jumlah yang sangat banyak atau pertumbuhan
bakteri yang secara alami tidak ditemukan di usus.
Hal ini bisa menyebabkan diare.
Bakteri alami usus memegang peranan penting dalam proses
pencernaan. Karena itu, gangguan pada bakteri usus bisa
menyebabkan diare.
GEJALA
Selain menimbulkan rasa tidak nyaman, rasa malu karena sering
ke toilet dan terganggunya aktivitas sehari-hari; diare yang berat
juga dapat menyebabkan kehilangan cairan (dehidrasi) dan
kehilangan elektrolit seperti natrium, kalium, magnesium dan
klorida.

Jika sejumlah besar cairan dan elektrolit hilang, tekanan darah


akan turun dan dapat menyebabkan pingsan, denyut jantung
tidak normal (aritmia) dan kelainan serius lainnya.
Resiko ini terjadi terutama pada anak-anak, orang tua, orang
dengan kondisi lemah dan penderita diare yang berat.
Hilangnya bikarbonat bisa menyebabkan asidosis, suatu
gangguan keseimbangan asam-basa dalam darah.
DIAGNOSA
Pertama-tama, dipastikan dulu apakah diarenya timbul tiba-tiba
dan untuk sementara waktu atau menetap. Dilihat juga apakah:
- penyebabnya adalah perubahan makanan
- terdapat gejala lain seperti demam, nyeri dan ruam kulit
- ada orang lain yang juga memiliki gejala yang sama.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan
contoh tinja.
Pemeriksaan tinja meliputi bentuknya (cair atau padat), baunya,
ditemukannya lemak, darah atau zat-zat yang tidak dapat
dicerna, dan jumlahnya dalam 24 jam.
Bila diare menetap, dilakukan pemeriksaan mikroskopik tinja
untuk:
- mencari sel-sel, lendir, lemak dan bahan lainnya
- menemukan darah dan bahan tertentu yang menyebabkan diare
osmotik
- mencari organisme infeksius, termasuk bakteri tertentu, amuba
dan Giardia.
Bila secara sembunyi-sembunyi mengkonsumsi pencahar, maka
pencahar yang diminum bisa ditemukan dalam contoh tinja.
Untuk memeriksa lapisan rektum dan anus dapat dilakukan
sigmoidoiskopi.

Kadang-kadang perlu dilakukan biopsi (pengambilan contoh


lapisan rektum untuk pemeriksaan mikroskop).
PENGOBATAN
Diare merupakan suatu gejala dan pengobatannya tergantung
pada penyebabnya.
Kebanyakan penderita diare hanya perlu menghilangkan
penyebabnya, misalnya permen karet diet atau obat-obatan
tertentu, untuk menghentikan diare.
Kadang-kadang diare menahun akan sembuh jika orang berhenti
minum kopi atau minuman cola yang mengandung cafein.
Untuk membantu meringankan diare, diberikan obat seperti
difenoksilat , codein, paregorik (opium tinctur) atau loperamide.
Kadang-kadang, bulking agents yang digunakan pada konstipasi
menahun (psillium atau metilselulosa) bisa membantu
meringankan diare
Untuk membantu mengeraskan tinja bisa diberikan kaolin,
pektin , attapulgit aktif dan Bismuth subsalicylate
Pemberian Antibiotik dengan indikasi penyebab diare sudah
dipastikan bakteri. Antibiotik diberikan dengan tujuan untuk
menghilangkan bakteri penyebab diare, antara lain
Golongan sefalosporin : Cefixime , Ceftriaxone , Cefotaxime
Golongan kuinolon : Ciprofloxacin
Golongan lain : Erythromycin , Metronidazole , Paromomycin ,
Trimethoprim + Sulfamethoxazole , Vancomycin , Tetracycline ,
Rifaximin
Bila diarenya berat sampai menyebabkan dehidrasi, maka
penderita perlu dirawat di rumah sakit dan diberikan cairan
pengganti dan garam melalui infus.
Selama tidak muntah dan tidak mual, bisa diberikan larutan yang
mengandung air, gula dan garam.

PENGKAJIAN
Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa
data dan penentuanmasalah. Pengumpulan data diperoleh
dengan cara intervensi, observasi, pemeriksaanfisik. Pengkaji
data menurut Cyndi Smith Greenberg, 1992 adalah :
1. Identitas klien dan penanggung jawab
2. Riwayat kesehatan
a) Awalan serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh
meningkat,anoreksia kemudian timbul diare
b) Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan
banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan
menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung, tonus dan turgor
kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi
BAB lebihdari 4 kali dengan konsistensi encer.
c) Riwayat kesehatan masa lalu
d) Riwayat penyakit yang diderita
e) riwayat pemberian imunisasi
f) Riwayat psikososial keluarga
Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun
bagi keluarga,kecemasan meningkat jika orang tua tidak
mengetahui prosedur dan pengobatan anak,setelah menyadari
penyakit anaknya, mereka akan bereaksi dengan marah dan
merasa bersalah.
Kebutuhan dasar :
1. Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih
dari 4 kali sehari, BAK sedikit atau jarang
2. Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anopreksia,
menyebabkan penurunan berat badan pasien
3. Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi
abdomen yang akanmenimbulkan rasa tidak nyaman
4. Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya

5. Pola Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang


lemah dan adanya nyeri akibatdistensi abdomen.
Pemerikasaan fisik.
1. Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah,
kesadaran composmentissampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi
cepat dan lemah, pernapasan agak cepat
2. Pemeriksaan sistematik
Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut
dan bibir kering, berat badan menurun, anus kemerahan
Perkusi : adanya distensi abdomen
Palpasi : Turgor kulit kurang elastis
Auskultasi : terdengarnya bising usus
3. Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang
4. Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak
dehidrasi sehingga berat badanmenurun
5. Pemeriksaan penunjang
6. Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan duodenum intubation
yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan
kualitatif
DI A G N O S A K E P E R A W A T A N
1. Devisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.
2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan mualdan muntah.
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,
frekwensi BAB yang berlebihan.
4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi
abdomen.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya
informasi tentang penyakit, prognosis dan pengobatan.
6. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,

prosedur yang menakutkan


INTERVENSI
Diagnosa 1
Devisit volime cairan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh
sehubungan dengan output cairan yang berlebihan
Tujuan :
Devisit Cairan dan elektrolit teratasi
Kriteria hasil :
Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir
lembab, balancairanseimbang
Intervensi :
Observasi tanda-tanda vital. Observasi tanda-tanda dehidrasi.
Ukur input dan outputcairan(balancairan). Berikan dan anjurkan
keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih
2000 2500 cc per hari. Kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian therapicairan,pemeriksaan lab elektrolit. Kolaborasi
dengan tim gizi dalam pemberiancairan rendah sodium.
Diagnosa 2 :
Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
sehubungan dengan mual dan muntah.
Tujuan :
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi
Kriteria hasil :
Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang
disediakan, mual, muntah tidak ada.
Intervensi :
Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. Timbang
berat badan klien. Kaji faktor penyebab gangguan pemenuhan
nutrisi. Lakukan pemeriksaan fisik abdomen (palpasi, perkusi,

dan auskultasi). Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi


kecil tapi sering.Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan
diet klien
Diagnosa 3.
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi
BAB yang berlebihan.
Tujuan :
Gangguan integritas kulit teratasi
Kriteria hasil :
Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-tanda
infeksi tidak ada
Intervensi :
Ganti popok anak jika basah. Bersihkan bokong secara perlahan
menggunakan sabun nonalkohol. Beri zalp seperti zinc oxsida
bila terjadi iritasi pada kulit. Observasi bokong dan perineum
dari infeksi. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi
antifungisesuai indikasi.
Diagnosa 4 :
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi
abdomen.
Tujuan :
Nyeri dapat teratasi
Kriteria hasil :
Nyeri dapat berkurang / hilang, ekspresi wajah tenang
Intervensi :
Observasi tanda-tanda vital. Kaji tingkat rasa nyeri. Atur posisi
yang nyaman bagi klien.Beri kompres hangat pada daerah
abdomen. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberiantherapi
analgetik sesuai indikasi.

Diagnosa 5 :
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
tentang penyakit, prognosis dan pengobatan.
Tujuan :
Pengetahuan keluarga meningkat
Kriteria hasil :
Keluarga klien mengerti dengan proses penyakit klien, ekspresi
wajah tenang, keluargatidak banyak bertanya lagi tentang proses
penyakit klien.
Intervensi :
Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan
keluarga tentang proses penyakit klien. Jelaskan tentang proses
penyakit klien dengan melalui pendidikankesehatan. Berikan
kesempatan pada keluarga bila ada yang belum
dimengertinya.Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan
pada klien.
Diagnosa 6 :
Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,
prosedur yang menakutkan.
Tujuan :
Klien akan memperlihatkan penurunan tingkat kecemasan
Intervensi :
Kaji tingkat kecemasan klien. Kaji faktor pencetus cemas. Buat
jadwal kontak denganklien. Kaji hal yang disukai klien. Berikan
mainan sesuai kesukaan klien. Libatkankeluarga dalam setiap
tindakan. Anjurkan pada keluarga untuk selalu mendampingi
klien.
EVALUASI
1. Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan

2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh


3. Integritas kulit kembali normal
4. Rasa nyaman terpenuhi
5. Pengetahuan kelurga meningkat
6. Cemas pada klien teratasi.
ANALISA DATA
1. Sympton :
Ds :
- klien mengatakan BAB mencret 3x di sertai muntah dan
konsentrasi cair
Do :
- kelopak mata sedikit cekung
- turgor jelek
- bising usus 16x / menit
- konsistensi BAB cair
Etiologi :
Masuknya bakteri kedalam usus > Mengiritasi usus > Absorpsi
terganggu > Peristaltic usus > Merangsang usus untuk
mengeluarkan cairan berlebihan > Mencret > Gangguan
pemenuhan kebutuhan cairan tubuh
Problem :
Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan elektrolit
2. Symptom :
Ds :
- klien mengatakan BAB mencret 3x di sertai muntah dan
konsentrasi cair
Do :
- kelopak mata sedikit cekung

- turgor jelek
- bising usus 16x / menit
- konsistensi BAB cair
Etiologi :
Masuknya bakteri kedalam usus > Mengiritasi usus > Absorpsi
terganggu > Peristaltic usus > Merangsang usus untuk
mengeluarkan cairan berlebihan > Mencret > Gangguan pola
eliminasi BAB
Problem :
Gangguan pola eliminasi BAB
3. Symptom :
Ds :
- suami klien mengatakan istrinya tidak mau makan
Do :
- berat badan menurun
- BB awal : 55 Kg
- BB saat sakit : 52 Kg
- Klien lemah
Etiologi :
Masuknya bakteri kedalam usus > Fungsi usus terganggu
> Peristaltic usus > Sari sari makanan terbuang melalui feces
> Penyerapan nutrisi berkurang
Problem :
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
4. Symptom :
Ds :
- klien mengatakan kulit anus klien kemerahan dan perih
Do :
- kulit anus kemerahan

Etiologi :
Frekuensi BAB sering > Feses bersifat asam > Memudahkan
terjaddinya iritasi > Potensial gangguan integritas kulit
Problem :
Gangguan integritas kulit
PROSES KEPERAWATAN KLIEN YANG MENGALAMI
DIARE
1. Diagnose keperawataan :
Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan elektrolit sehubungan
dengan sekresi cairan yangberlebihan di tandai dengan :
Ds :
- klien mengatakan BAB mencret 3x di sertai muntah dan
konsentrasi cair
Do :
- kelopak mata sedikit cekung
- turgor jelek
- bising usus 16x / menit
- konsistensi BAB cair
Tujuan :
Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan elektrolit dapat
terpenuhi dengan kriteria :
- klien mengatakan BAB sudah jarang tidak mencret lagi dengan
frekuensi BAB 1x / hari
- kelopak mata tidak cekung
- turgor kulit baik
- konsistensi feces lembek
- bising usus normal 12x / menit
Intervensi :
- observasi tanda-tanda vital

- anjurkan kepada keluarga klien untuk pemberian minum setiap


klien BAB
- observasi tanda-tanda dehidrasi
Rasionalisasi :
- dengan mengobservasi tanda-tanda vital diharapkan dapat
mengetahui keadaan umum klien sehingga dapat mempermudah
melakukan tindakan selanjutnya
- dengan menganjurkan kepada keluarga klien untuk
memberikan mnum setiap klien BAB diharapkan klien mau
minum sehingga dapat mengganti cairan yang keluar
- dengan mengobservasi tanda-tanda dehidrasi diharapkan dapat
mengetahui derajat dehidrasi klien
- dengan berkolaburasi dengan dokter untuk pemberian cairan
intravena diharapkan dapat mengganati cairan yang keluar
- dengan memberikan therapy obat sesuai advice dokter
diharapkan klien tidak muntah lagi
2. Diagnose keperawatan :
Gangguan pola eliminasi BAB sehubungan dengan absorpsi
yang terganggu ditandai dengan :
Ds :
- klien mengatakan BAB mencret 3x di sertai muntah dan
konsentrasi cair
Do :
- kelopak mata sedikit cekung
- turgor jelek
- bising usus 16x / menit
- konsistensi BAB cair
Tujuan :
Gangguan pola eliminasi dapat terpenuhi dengan kriteria :

- suami pasien mengatakan frekuensi BAB normal dengan


konsistensi feces lembek
- kelopak mata tidak cekung
- bising usus normal
Intervensi :
- observasi frekuensi BAB
- anjurkan kepada suami klien untuk melakukan tirah baring
klien
- berikan therapy sesuai advice dokter
Rasionalisasi :
- dengan mengobservasi frekuensi BAB diharapkan mengetahui
perkembangan pola BAB klien dan dapat mempermudah
melakukan tindakan selanjutnya
- dengan menganjurkan kepada keluarga klien tirah baring
diharapkan menurunkan motilitas usus
- dengan memberikan therapy obat sesuai advice dokter
diharapkan klien tidak sering BAB mencret lagi
3. Diagnose keperawatan :
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan
penyerapan usus terganggu ditandai dengan :
Ds :
- suami klien mengatakan istrinya tidak mau makan
Do :
- berat badan menurun
- BB awal : 55 Kg
- BB saat sakit : 52 Kg
- Klien lemah
Tujuan :
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi dengan
kriteria :
- Suami klien mengatakan istri klien mau makan

- Berat badan meningkat


- Klien segar
- Porsi makan habis 1 mangkok / 1 porsi
Intervensi :
- Anjurkan pada klien pemberian makanan sedikit tapi sering
- Sajikan makanan yang menarik
- berikan makanan sesuai diit klien
Rasionalisasi :
- dengan menganjurkan pemberian makanan sedikit tapi sering
diharapkan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi
- dengan menyajikan makanan yang menarik diharapkan klien
tertarik untuk makan
- dengan memberikan makanan sesuai diit diharapkan terhindar
dari makanan yang dapat membuat klien mencret
4. Diagnose keperawatan :
Gangguan integritas kulit sehubungan dengan frekuensi BAB
sering ditandai dengan :
Ds :
- klien mengatakan kulit anus klien kemerahan dan perih
Do :
- kulit anus kemerahan
Tujuan :
Gangguan integritas kulit dapat terpenuhi dengan kriteria :
- suami klien mengatakan kulit di daerah anus klien tidak
kemerahan lagi
Intervensi :
- anjurkan pada suami klien untuk mengganti pakaian setiap
klien BAB
- anjurkan pada klien untuk pemberian cream ruam popok
Rasionalisasi :

- dengan menganjurkan mengganti pakaian setiap klien BAB


diharapkan mengetahui dapat memberikan rasa nyaman pada
klien dan mengurangi resiko integritas kulit
- dengan menganjurkan pemberian cream ruam popok
diharapkan dapat mengurangi kemerahan dan lecet pada kulit
daerah anus klien
1. Pengertian Diare
Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal ( > 3 kali/hari ), serta
perubahan isi/volume ( > 200 gr/hari) dan konsistensi feces cair (Brunner & Suddarth, 2002).
Diare adalah peningkatan jumlah, volume, keenceran dan frekuensi buang air besar
(medistore.com)
2. Klasifikasi Diare sbb :
a. Diare akut
Diare akut merupakan penyebab awal penyakit pada anak dengan umur < 5 tahun, dehidrasi
dapat terjadi dan dapat mengakibatkan kefatalan kira-kira pada 400 anak tiap tahun di Amerika
Serikat ( Kleinman, 1992 dalam Wholey & Wong's, 1994).
Diare akut adalah BAB dengan frekuensi meningkat > 3 kali /hari dengan konsistensi tinja cair,
bersifat mendadak dan berlangsung dalam waktu kurang dari 1 minggu. Diare akut lebih banyak
disebabkan oleh agent infectius yang mencakup virus, bakteri dan patogen parasit.
b. Diare Kronik
Kondisi dimana terjadi peningkatan frekuensi BAB dan peningkatan konsistensi cair dengan
durasi 14 hari atau lebih ( Wholey & Wong's, 1994)
3. Penyebab Diare , Penyakit diare dapat disebabkan oleh :
a.

Infeksi oleh karena Penyebaran kuman yang menyebabkan diare


Terdiri atas : Virus (rotavirus), Bakteri ( E.colli, Salmonella, Shigella, Vibrio, Campylobacter
jejuni, dll) dan penyebab lain seperti parasit (Entamuba hystolitica).
Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain melalui makanan /
miniman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita.

b.

Malabsorsi : Gangguan dalam pencernaan makananan

c.

Alergi makanan dan keracunan makanan

d. Imunodefisiensi / imunosupresi(kekebalan menurun)


Keadaan ini biasanya berlangsung sementara setelah infeksi virus (campak) dan mungkin
berlangsung lama seperti pada penderita AIDS
e.

Faktor lingkungan dan perilaku


4. FAKTOR PREDISPOSISI

1. Usia
Anak dengan umur lebih muda mempunyai kemungkinan terjadi diare lebih besar dan
kemungkinan diare berat juga lebih besar. Diare lebih banyak pada usia infant.
2. Penurunan status kesehatan
Anak dengan kondisi yang lemah lebih tinggi kemungkinan terjadi diare dan lebih banyak diare
berat.
3. Lingkungan
Diare lebih banyak terjadi dimana kondisi sanitasi kurang, fasilitas kesehatan kurang memadai,
persiapan dan penyajian makanan, pendidikan tentang perawatan kesehatan tidak adekuat.
5.

PATOFISIOLOGI
Peningkatan cairan intra luminal menyebabkan terangsangnya usus secara mekanis karena
meningkatnya volume, sehingga motilitas usus meningkat. Sebaliknya bila waktu henti makanan
di usus terlalu cepat akan menyebabkan waktu sentuh makanan dengan mukosa usus sehingga
penyerapan elektrolit, air dan zat-zat lain terganggu. Sehingga transport cairan dan elektrolit
intestinal tidak normal.

6.

GEJALA & MANIFESTASI KLINIS DIARE.


Gejala Klinis :

Anak cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan berkurang sampai tidak ada sama
sekali.

Tinja/ feces menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah.

Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare.

Bila sudah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, maka timbulah dehidrasi bahkan syok
hipovolemik.
Manifestasi Klinis
N

Agen Penyebab

Karakteristik

o
1

2.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Viral agent
a. Rotavirus
b. Norwalk

Bacterial agent
E. Colli
Salmonella group gram positif
S. Thypi
Shigella group gram negatif
Campylobacter jejuni
Vibrio cholera group

Food Poisoning
a. Staphylococcus
b. Clostridium perfringens
c. Clostridium botulinum

Fever 38 atau lebih


Nausea, vomiting
Abdominal pain
Diare bisa lebih dari 1 minggu
Fever, loss of apetit
Abdominal pain
Diare dan malaise.
Diare cair disertai mukus dan darah
Vomiting, abdominal distention, diare
dqn fever.
Nausea, vomiting, colic abdominal,
diare disertai darah dan mukus.
Fever, hiperaktif peristaltic and mild
abdominal tenderness.
Headache and cerebral manifestation.
Ireguler fever, headache, malaise,
letargi, fatigue, abdominal pain,
anoreksia, weight loss develop.
Fever 40 derajat and cramping,
abdominal pain, konvulsi, headache,
delirium, diare disertai mukus bisa
bercampur darah, abdominal pain,
inright lower quadrant, vomiting.
Fever,
abdominal
cramping
periumbilical, diare disertai darah,
vomiting
Diare cair dengan cramp, iritasi anal,
feces disertai darah dan mukus.
Nausea, vomiting, severe abdominal
cramps, shok dapat terjadi pada kasus
berat, demam ringan.
Moderate to severe crampy, mid
epigastric pain.
Nausea, vomiting, diare, dry mouth dan
disfagia.

7. KOMPLIKASI

Kehilangan air dan elektrolit: dehidrasi, asidosis metabolik, hipoklasemia dan syok

Masalah gizi : maldigesti, malabsorbsi, kehilangan zat gizi langsung katabolisme

Aritmia jantung

8.

DIAGNOSIS
Diagnosis didasarkan pada definisi di atas, akan tetapi perlu dilakukan pengkajian tentang

a.

Riwayat diare sekarang

Meliputi: lama kurang dari 1 mg, frekuensi, konsistensi, muntah, demam, BAK 6 jam terakhir,
tindakan yang telah dilakukan.
b. Riwayat diare sebelumnya
c.

Riwayat penyakit penyerta saat ini

d. Riwayat Imunisasi
e.

Riwayat makanan sebelum diare

f.

Pemeriksaan laboratorium

Specimen feces : Plymorfonuklear leukosit sebagai gambaran infeksi

ELISA : untuk mengkonfirmasi infeksi parasit

pH < 6 dan penurunan substansi menunjukan malabsorbsi KH dan deficiency laktose sekunder.

Test urine : menentukan dehidrasi

Peningkatan Hmt, Hb, creatinin dan BUN umumnya ditemukan pada DCA.

9.

PEMERIKSAAN FISIK

Tanda-tanda vital

Berat badan dan panjang badan untuk menentukan status gizi

Tanda-tanda dehidrasi

Pemeriksaan chepalo caudal : ubun-ubun besar pada bayi, turgor kulit, kelembaban mukosa, air
mata, konjungtiva, dada : jantung dan paru, abdomen ; persitaltik usus, integritas kulit area
perianal dll

Kemungkinan komplikasi lain


10.TATALAKSANA PEMBERIAN MAKANAN
Makanan sangat penting untuk penderita diare. Makanan diberikan sesegera mungkin termasuk
susu, susu buatan khusus ( rendah lactose ) hanya diberikan atas indikasi yang jelas. Prinsip
pemberian makanan untuk penderita diare antara lain:

ASI tidak dihentika seoptimal mungkin

Kualitas dan kuantitas mencukupi

Mudah diabsorbsi

Tidak merangsang

Diberikan dalam porsi kecil tapi sering


11.TATALAKSANA DIARE

Dasar-dasar penatalaksanaan terdiri atas 5 D:

Dehidrasi

Diagnosis

Diit

Defisiensi disakarida

Drugs
Management terapeutik langsung untuk koreksi keseimbangancairan dan elektrolit dan
mencegah terjadinya malnutrisi. Untuk infant dan anak dengan DCA disertai dehidrasi, yang
pertama harus dilakukan adalah ORT (Oral Rehidrasi Therapy). Pada kasus dehidrasi berat dan
syok diberikan caiaran parenteral.
12. DEHIDRASI
Akibat dari diare yang terus menerus adalah kekurangan cairan ( dehidrasi ).
Tanda-tanda Dehidrasi Berat :
- Letargis atau tidak sadar dan Mata cekung
- Tidak bisa minum atau malas minum
- Cubitan kulit perut kemblinya sangat lama.
Tanda-tanda Dehidrasi ringan/sedang :

Gelisah,rewel/mudah marah

Mata cekung

Haus,minum dengan lahap

Cubitan kulit perut kembalinya lambat


Tanpa dehidrasi : tidak ditemukan tanda-tanda seperti diatas
Penanganan Dehidrasi Ringan :

a.

Beri cairan tambahan (sebanyak anak mau)


-

ASI tetap diberikan bagi anak yang masih menyusu

Oralit

Larutan gula garam

Cairan makanan( air tajin,kuah sayur atau air matang)

b.

Lanjutkan pemberian makan

c.

Pergi ke pusat pelayanan kesehatan

Penanganan Dehidrasi Sedang/Ringan:


a.

Pemberian cairan tambahan seperti penanganan dehidrasi ringan

b.

Pemberian Oralit secara intensif selama periode 3 jam

c.

Ulangi penilaian dan klasifikasikan derajat dehidrasinya.


Penanganan Dehidrasi Berat :

Rujuk segera ke pusat pelayanan kesehatan untuk pengobatan IV / lanjutan


13.REHIDRASI
Dasar-dasar rehidrasi:

a.

Jumlah cairan yang hilang

Dehidrasi ringan : 0 5 % atau rata-rata 25 ml/kg BB


Dehidrasi sedang : 5 10 % atau rata-rata 75 ml/kg BB
Dehidrasi berat: 10- 15 % atau rata-rata 125 ml/ kg BB
b. Tonisitas caiaran
Isotonis

: Kadar Na + : 131 150 mEq/L

Hipertonis : Kadar Na+ : > 150 mEq/L


Hipotonik : < 131 mEq/L
Oral Rehidrasi Solution (ORS) diberikan pada kasus lebih lanjut misalnya pada infant dengan
dehidrasi isotonik, hipotonik dan hipertonik. Nutrient based solution ini dapat menurunkan
vomiting, penurunan kehilangan volume cairan (Wong, 1994). Komposisi ORS tampak pada
tabel-2. Setelah rehidrasi pada infant, ORS dapat digunakan selama mempertahankan terapi
cairan dan sebagai solution alternative dengan cairan rendah sodium seperti ASI dan susu
formula bebas lactose.
Setiap kali BAB diganti dengan 1:1 ORS. Jika feces tidak diketahui, perkiraan ORS adalah 10
ml/kgBB atau 0,5 sampai 1 gelas ORS setiap kali BAB. ORS berguna untuk kasus dehidrasi dan
muntah. Seorang anak dengan muntah harus diberikan tambahan cairan 1 sendok kecil atau 5
10 cc setiap 1-5 menit, lebih jelasnya tampak pada tabel 3.
Tabel-2
Formula

Pedialyte (Ross)

Na+

K+

Cl-

Base

Glukose

(mEq/L

(mEq

(mEq/L

(mEq/L)

(g/L)

)
45

/L)
20

)
35

30 (citrate)

25

Rehydralyte
Infalyte (M.Johnson)
WHO

75
50
90

20
25
20

65
45
80

30
34 (citrat)
30

25
30
20

(bikarbonat)
Tabel-3
DEGREE OF

SIGN -

REHYDRATI

REPLACEME

MAINTENAN

DEHYDRATI

SYMPTO

ON THERAPY

NT OF STOOL

CE THERAPY

M
Peningkatan

ORS

LOSSES
ORS 10ml/kgBB ASI,formula

rasa haus

50ml/kgBB

(for infant)/150- bebas lactosa

Selama 4 jam

250ml(for older

ORS

children
ORS

ASI,

turgor kulit, 100ml/kgBB

10ml/kgBB(for

bebas lactosa

membrane

older

ON
Mild (5-6%)

Moderate
9%)

(7- Penurunan

selama 4 jam

mukosa

formula

children)

setiap x BAB

kering, mata
Severe (>9%)

cekung
Tanda sm Intravena

fluit ORS

ASI,formula

dg moderat (RL)

10ml/kgBB(for

dehydrasi

40ml/kgBB?hr

infant)/

di+

smp

peningkatan

normal, kmd 50- children) setiap

nadi,

100ml/kgBB

150-

nadi 250ml(for older

sianosis,
RR,
lethargy,co
ma
14. PENCEGAHAN DIARE
a.

Meningkatkan pemberian ASI

b.

Memperbaiki pemberian makanan pendamping ASI

c.

Menggunakan air bersih yang cukup

d.

Mencuci tangan dengan sabun

x BAB

bebas lactosa

e.

Menggunakan jamban yang benar

f.

Membuang tinja bayi dan anak-anak yang tepat

g.

Imunisasi campak
15. PRINSIP PENATALAKSANAAN DIARE

a. Mencegah terjadinya dehidrasi


Mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah dengan memberikan minuman
lebih banyak cairan rumah tangga yang dianjurkan, bila tidak mungkin berikan air matang
b. Mengobati Dehidrasi
Bila terjadi Dehidrasi (terutama pada anak), penderita harus segera dibawa ke petugas kesehatan
atau sarana kesehatan untuk mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat
c. Memberi makanan
Berikan makanan selama serangan diare untuk memberikan gizi pada penderita terutama anak
agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat badan. Anak yang masih minum
ASI harus lebih sering diberi ASI. Anak yang minum susus formula diberikan lebih sering dari
biasanya. Anak usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan padat
harus diberikan makanan yang mudah dicerna sedikit-sedikit tetapi sering. Setelah diare
berhenti,pemberian ekstra makanan diteruskan selama 2 minggu untuk membantu memulihkan
berat badan anak
d. Mengobati masalah lain
Apabila diketemukan penderita diare disertai dengan penyakit lain, maka diberikan pengobatan
sesuai indikasi, dengan tetapmengutamakan rehidrasi. Tidak ada obat yang aman dan efektif
untuk menghentikan diare.
RENPRA DCA
No
Diagnosa
Tujuan
Intervensi
1 Deficit
volume Setelah
dilakukan Manajemen cairan
cairan b/d diare
askep .. jam terjadi
Monotor diare, muntah
peningkatan

Awasi tanda-tanda hipovolemik (oliguri, abd.


keseimbangan cairan Pain, bingung)
dg KH:
Monitor balance cairan
Urine 30 ml/jam Monitor pemberian cairan parenteral
V/S dbn
Monitor BB jika terjadi penurunan BB drastis
Kulit lembab dan
Monitor td dehidrasi
tidak ada tanda-tanda

dehidrasi

Ketidak seimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan
tubuh
b/d intake nutrisi
inadekuat b.d faktor
biologis

Risiko infeksi b/d


penurunan imunitas
tubuh,
prosedur
invasive,
penyakitnya

Monitor v/s
Berikan cairan peroral sesuai kebutuhan
Anjurkan pada keluarga agar tetap memberikan
ASI dan makanan yang lunak
Kolaborasi u/ pemberian terapinya
Setelah
dilakukan Managemen nutrisi
askep .. jam terjadi Kaji pola makan klien
peningkatan
status Kaji kebiasaan makan klien dan makanan
nutrisi dg KH:
kesukaannya
Mengkonsumsi Anjurkan pada keluarga untuk meningkatkan
nutrisi yang adekuat. intake nutrisi dan cairan
Identifikasi kelaborasi dengan ahli gizi tentang kebutuhan
kebutuhan nutrisi.
kalori dan tipe makanan yang dibutuhkan
Bebas dari tanda tingkatkan intake protein, zat besi dan vit c
malnutrisi.
monitor intake nutrisi dan kalori
Monitor pemberian masukan cairan lewat
parenteral.
Nutritional terapi
kaji kebutuhan untuk pemasangan NGT
berikan makanan melalui NGT k/p
berikan lingkungan yang nyaman dan tenang
untuk mendukung makan
monitor penurunan dan peningkatan BB
monitor intake kalori dan gizi
Setelah
dilakukan Kontrol infeksi.
askep jam infeksi Batasi pengunjung.
terkontrol,
status Bersihkan lingkungan pasien secara benar
imun adekuat dg KH: setiap setelah digunakan pasien.
Bebas dari tanda Cuci tangan sebelum dan sesudah
merawat pasien, dan ajari cuci tangan yang
dangejala infeksi.
Keluarga tahu tanda- benar.
Lakukan dresing infus tiap hari
tanda infeksi.
Angka
leukosit Anjurkan pada keluarga untuk selalu menjaga
kebersihan klien dan menjaga pantat selalu
normal.
kering u/ hindari iritasi.
Tingkatkan masukkan gizi yang cukup.
Tingkatkan masukan cairan yang cukup.
Anjurkan istirahat.
Berikan therapi antibiotik yang sesuai, dan
anjurkan untuk minum sesuai aturan.
Ajari keluarga cara menghindari infeksi serta
tentang tanda dan gejala infeksi dan segera
untuk melaporkan keperawat kesehatan.
Pastikan penanganan aseptic semua daerah IV
(intra vena).

Kurang pengetahuan
keluarga
berhubungan
dengan
kurang
paparan
dan
keterbatasan

kognitif keluarga

Cemas berhubungan
dengan
krisis
situasional,
hospitalisasi

Proteksi infeksi.
Monitor tanda dan gejala infeksi.
Monitor WBC.
Anjurkan istirahat.
Ajari anggota keluarga cara-cara menghindari
infeksi dan tanda-tanda dan gejala infeksi.
Batasi jumlah pengunjung.
Tingkatkan masukan gizi dan cairan yang
cukup
Setelah
dilakukan Mengajarkan proses penyakit
askep

jam Kaji pengetahuan keluarga tentang proses


pengetahuan keluarga penyakit
klien meningkat dg Jelaskan tentang patofisiologi penyakit dan
KH:
tanda gejala penyakit
Keluarga Beri gambaran tentaang tanda gejala penyakit
menjelaskan tentang kalau memungkinkan
penyakit,
perlunya Identifikasi penyebab penyakit
pengobatan
dan
Berikan informasi pada keluarga tentang
memahami perawatan
keadaan pasien, komplikasi penyakit.
Keluarga
Diskusikan tentang pilihan therapy pada
kooperativedan mau
keluarga dan rasional therapy yang diberikan.
kerjasama
saat

Berikan dukungan pada keluarga untuk


dilakukan tindakan
memilih atau mendapatkan pengobatan lain
yang lebih baik.
Jelaskan pada keluarga tentang persiapan /
tindakan yang akan dilakukan
Setelah
dilakukan Pengurangan kecemasan
askep

jam Bina hubungan saling percaya.


kecemasan terkontrol Kaji kecemasan keluarga dan identifikasi
dg KH: ekspresi kecemasan pada keluarga.
wajah tenang , anak / Jelaskan semua prosedur pada keluarga.
keluarga
mau
Kaji tingkat pengetahuan dan persepsi pasien
bekerjasama dalam
dari stress situasional.
tindakan askep.
Berikan informasi factual tentang diagnosa dan
program tindakan.
Temani keluarga pasien untuk mengurangi
ketakutan dan memberikan keamanan.
Anjurkan keluarga untuk mendampingi pasien.
Berikan sesuatu objek sebagai sesuatu simbol
untuk mengurang kecemasan orangtua.
Dengarkan keluhan keluarga.
Ciptakan lingkungan yang nyaman.
Alihkan perhatian keluarga untuk mnegurangi
kecemasan keluarga.

PK: hipovolemia

PK;
Ketidakseimbangan
elektrolit

Bantu keluarga dalam mengambil keputusan.


Instruksikan keluarga untuk melakukan teknik
relaksasi.
Setelah
dilakukan Pantau status cairan (oral, parenteral)
askep jam perawat Pantau balance cairan
akan
mengurangi Pantau td syok ( v/s, urine <30 ml/jam, gelisah,
terjadinya
penurunan kesadaran, peningkatan respirasi,
hipovolemia
haus, penurunan nadi perifer, akral dingin,
pucat, lembab)
Kolaborasi pemberian terapinya
Batasi aktivitas klien
Setelah
dilakukan Pantau td hipokalemia (poli uri, hipotensi,
askep jam perawat ileus, penurunan tingkat kesadaran,kelemahan,
akan
mengurangi mual, muntah, anoreksia, reflek tendon
episode
melemah)
ketidakseimbangan Dorong klien u/ meningkatkan intake nutrisi
elektrolit
yang kaya kalium
Kolaborasi u/ koreksi kalium secara parenteral
Pantau cairan IV

A. Pengertian
Diare adalah buang air besar konsistensi lembek /cair bahkan dapat berupa air saja
yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (biasanya 3 kali atau lebih dalam
sehari). Diare akut (gastroenteritis) adalah inflamasi lambung dan usus yang
diseabbkan oleh berbagai bakteri virus dan patogen parasitik. Diare adalah buang
air besar (BAB) lebih dari tiga dengan konsistensi cair (WHO, 1992).
B. Klasifikasi
Jenis diare sebagai berikut :
a. Menurut perjalanan penyakit :
- Akut : jika kurang dari 1 minggu
- Berkepanjangan : jika antara 1 minggu sampai 14 hari
- Kronis : jika > 14 hari dan disebabkan oleh non infeksi
- Persisten : Jika >14 hari dan disebabkan oleh infeksi
b. Menurut patofisiologi :
- Gangguan absorbsi
- Gangguan sekresi
- Gangguan osmotik
c. Menurut penyebab :
- Infeksi : Virus, bakteri, parasit,jamur
- Konstitusi
- Malabsorbsi
d. Diare dengan masalah lain. Anak yang menderita diare mungkin juga disertai
dengan penyakit lain, seperti : demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.
C. Penyebab

Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor:


1. Infeksi
a. Infeksi entral : ialah infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan
penyebab diare pada anak meliputi infeksi interal sebagai berkut :
1) Infeksi bakteri: vibrio, E. coli, Salmonella, Sigela, Campylobakteri, Yersenia,
Aerromonas dan sebagainya..
2) Infeksi virus : Entro virus, adenovirus, Rotavirus, Astovirus dll.
3) Infeksi parasit : Cacing protozoa dan jamur.
b. Infeksi Parentral ialah infeksi diluar alat pencernaan makan seperti otitis media
akut (OMA) tonsillitis/ Tonsiloparingitis, bronkhopnemonia, encepalitis dsb. Keadaan
ini terutama tedapat pada anak kurang dari 2 tahun
2. Faktor Malabsorsi
a. Malabsorisi karbohidrat
b. Malabsorsi lemak
c. Malabsorsi Protein
3. Faktor makanan: Makanan basi, beracun alergi terhadap makanan.
4. Psikologis : rasa takut dan cemas
D. Faktor penyebaran
Faktor yang meningkatkan penyebaran kuman penyebab diare:
1. Tidak memadainya penyediaan air bersih
2. Air tercemar oleh tinja
3. Pembuangan tinja yang tidak hygienis
4. Kebersihan perorangan dan lingkungan jelek
5. Penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak semestinya
6. Penghentian ASI yang terlalu dini
E. Patogenesis
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah:
1. Gangguan osmotic
Akibat terdapat makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotic dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan
elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang
usus untuk mengeluarkanya sehingga timbul diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsang tertentu ( Misalnya toksin pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi, air dan elektrolit kedalam rongga usus selanjutnya timbul diare
karena terdapat peningkatan isi rongga usus
3. Gangguan motalitas usus
Hiperpristaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus menyerap
makan seingga timbul diare. Sebaliknya bila pristaltik menurun akan
mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan selanjutnya timbul diare pula.

Faktor penyakit / toksik ( misal toksin E. Coli )


Peningkatan peristaltik usus Peningkatan cairan intraluminar
Passase usus meningkat
Waktu henti makanan menurun frekwensi BAB meningkat

( Resiko Infeksi )
( Resiko kerusakan integritas kulit )
Penyerapan makanan, elektrolit terganggu pengeluaran cairan meningkat
Ketidak seimbangan cairan
Ketidakseimbagan nutrisi kurang
Resiko Hipo/hipertermi
Resiko Hipe/hipernatremi
Resiko Hipo/hiperkalemi
Asidosis Metabolik
F. Manifestasi Klinik
Mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat nafsu makan
berkurang atau tidak ada kemudian timbul diare. Tinja cair mungkin disertai ledir
atau lendir dan darah. Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena
bercampur dengan empedu. Anus dan sekitarnya timbul lecet karena sering
defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyak asam
laktat yang berasal dari laktose yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare.
Gejala muntah sebelum dan sesudah diare dan dapat menyebabkan lambung juga
turut meradang, atau akibat gangguan asam basa dan elektrolit. Timbul dehidrasi
akibat kebanyakan kehilangan cairan dan elektrolit .Gejala dehidrasi mulai nampak
yaitu berat badan menurun turgor berkurang mata dan ubun-ubun besar menjadi
cekung (pada bayi), selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering. Akibat
dehidrasi diuresis berkurang (oliguri sampai anuri). Bila sudah asidosis metabolis
pasien akan tampak pucat dengan pernapasan cepat dan dalam (kussmaul).
Asidosis metabolisme karena:
1. Kehilangan NaCO3 melalui tinja diare
2. Ketosis kelaparan
3. Produk- produk metabolik
4. Berpindahnya ion natrium dari cairan intra sel ke ekstrasel
5. Penimbunan laktat ( anoksia jaringan )
Manifestasi klinis dan dehidrasi
Isotonik (kehilangan air dan garam) Hipotonik (kehilangan garam pada kelebihan
air) Hipertonik (kehilangan air pada kelebihan garam)
Letergi nyata dengan hiperiritabilitas yang ekstrem terhadap stimulasi
Cara Menilai Dehidrasi (Who, 1992)
Gejala dan tanda Tak dehidrasi Dehidrasi tak berat Dehidrasi berat
1. Keadaan Umum Baik Rewel, gelisah, lemah. Apatis, tidak sadar
2. Mata Tidak cekung Cekung & kering Sangat cekung,
3. Air Mata Jika menangis masih ada Jika menangis tidak ada Jika menangis tidak
ada
4. Bibir Tidak kering Kering Sangat kering
5. Rasa Haus Tidak merasa haus Haus sekali, jika diberi minum rakus. Tidak bisa
minum

6. Cubitan Kulit Jika dicubit cepat kembali Jika dicubit kembali lambat dicubit
kembali sangat lambat.
G. Penatalaksanaan
Pencegahan penyakit diare
a. Meningkatkan pemberian ASI
b. Memperbaiki pemberian makanan pendamping ASI
c. Menggunakan air bersih yang cukup
d. Mencuci tangan dengan sabun
e. Menggunakan jamban yang benar
f. Membuang tinja bayi dan anak-anak yang tepat
g. Imunisasi campak
Prinsip Penatalaksanaan diare :
a. Mencegah terjadinya dehidrasi
b. Mengobati Dehidrasi
c. Memberi makanan
d. Mengobati masalah lain
Cara melakukan rehidrasi
Derajat
Dehidrasi Kelompok usia Jenis cairan Volume ml/kg bb Waktu
RINGAN Semua kelompok Oral 50 Tiap 4 jam
SEDANG Semua kelompok Oral 70 Tiap 4 jam
BERAT Anak Intra vena 70 Tiap 3 jam
BERAT dan SYOK Semua kelompok Intra vena 70 - 100 Tiap 4 jam
Tatalaksana penderita diare di rumah
a. Meningkatkan pemberian cairan rumah tangga, seperti kuah sayur, air tajin,
larutan gula garam terutama untuk penderita tanpa dehidrasi, dan bila tersedia
berikan oralit
b. Meneruskan pemberian makanan yang lunak dan tidak merangsang serta
makanan ekstra sesudah diare
c. Membawa panderita diare ke sarana kesehatan, bila dalam 3 hari tidak membaik
atau ada salah satu tanda :
-Berak cair berkali-kali -Muntah berulang-ulang
-Rasa haus yang nyata - Makan dan minum sedikit
-Demam -Tinja berdarah
Cara pembuatan dan pemberian oralit adalah sebagai berikut :
1. Sediakan air matang 1 gelas (200 cc) dan campurkan 1 bungkus oralit untuk
ukuran air 200 cc kemudian aduk sampai larut
2. Berikan sesendok teh tiap 1-2 menit untuk anak dibawah umur 2 tahun
3. Berikan beberapa teguk dari gelas untuk anak lebih tua
4. Bila anak muntah, tunggulah 10 menit, kemudian berikan cairan lebih lama
(misalnya sesendok 2-3 menit)
5. Bila diare berlanjut setelah oralit habis, berikan cairan lain seperti dijelaskan atau
ke petugas kesehatan untuk mendapatkan oralit.
6. Berikan oralit setiap habis BAB dengan jumlah sbb :
Tabel : Pemberian oralit setiap BAB sesuai umur
UMUR Jumlah oralit yang diberikan tiap BAB

< 1 tahun 50-100 ml


1-4 tahun 100-200 ml
> 5 tahun 200-300 ml
Dewasa 300-400 ml
Cara pembuatan Larutan Gula Garam, sebagai pengganti oralit :
- Sediakan air matang 200 cc ( 1 gelas)
- Tambahkan gula pasir 1 sendok makan dan garam sepucuk sendok teh
- Kemudian aduk sampai larut
H. Komplikasi
Akibat diare, kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi
berbagai komplikasi sebagai berikut:
a. Dehidrasi ( Ringan, berat hipotenik, isotonik hipertonik)
b. Renjatan hipovolemik
c. Hipoglikemi
d. Intoleransi sekunder akibat kerusakan filimukosa usus dan defisiensi enzim
laktase
e. Hipokalemia
f. Kejang terjadi akibat dehidrasi hipertonik
g. Malnutrisi energi protein
I. Asuhan Keperawatan
Pengkajian
1. Kajian riwayat penyakit
a. Kaji status dihidrasi
b. Catat keluaran fekal-jumlah, volume, karakteristik
c. Observasi dan catat adanya tanda-tanda berkaitan ternes, kram, muntah
2. Kemungkinan meamakan makanan atau air yang terkontaminasi
3. Kemungkinan infeksi ditempat lain misal : pernapasan , infeksi saluran kemih
a. Cek diagnostik
1) Tampung sperimen sesui kebutuhan
2) Feses pH, obuat Juni, frekuensi
3) HDL, ekusialit semua, kreasmi, BUM
b. Deteksi sumber infeksi
4. Pengkajian fisik rutin
5. Observasi adanya manifestasi gestro entritis akut
6. Pemeriksaan fisik
a. Pengukuran pertumbuhan
1). Tinggi badan
2). Berat badan
3). Ketebalan kulit dan lingkar lengan
b. Fisiologi
1) Suhu
2) Nadi
3) Respirasi
4) Tekanan darah
c. Penampilan umum
1) Anak lemas
2) Tampak kehausan

d. Kulit : inspeksi dan palpasi kulit, turgor berkurang, membran mukosa kering,
tekstur kulit menurun. Palpasi suhu kulit meningkat.
e. Kepala dan leher : ukuran kepala, bentuk, kesimetrisan. Fontanel dan sutura
cekung,
f. Mata : kelopak mata, mata cekung, konjungtiva, mata sayu.
g. Telinga: inspeksi telinga luar dan dalam, pendengaran.
h. Mulut dan kerongkongan : mukosa mulut kering, rasa haus, kerongkongan panas,
lemah menelan.
i. Dada : pergerakan dada, otot bantuan pernafasan.
j. Paru : pernafasan anak cepat. Lemah, dangkal bila dehidrasi berat
k. Jantung : nadi cepat dan lemah.
l. Abdomen : turgor kulit jelek, bunyi usus peristaltik meningkat,
m. Genetalia : iritasi, kemerahan sekitarnya,
n. Anus : kemerahan, iritasi,
o. Extermity : lemah, pergerakan lemah.
Masalah Keperawatan yang sering muncul
1. Diare b/d inflamasi bakteri/malabsorbsi/proses infeksi.
2. Defisit volume cairan b/d kehilangan cairan aktif
3. Risiko kerusakan integritas kulit b/d ekskresi/BAB sering
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d penurunan intake
makanan

No Diagnosa keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
1. Diare b.d inflamasi bakteri /malabsorbsi /proses infeksi.
Definisi :
BAB cair atau tidak berbentuk
Batasan Karakteristik :
- Sedikitnya BAB cair lebih dari 3 kali dalam sehari
- Suara usus hiperaktif
- Nyeri perut
- Kram
- Urgensi
Faktor yang berhubungan :
- Tingkat stres dan cemas tinggi
- Alkoholik
- Keracunan
- Penyalahgunaan laksatif
- Radiasi
- Pemberian makan melalui selang
- Efek samping obat
- Kontaminasi

- Taravelling
- Inflamasi
- Malabsorbsi
- Proses infeksi
- Iritasi
- Parasit
NOC
Bowel elimination
Balance cairan
Status hidrasi
Kriteria Hasil :
pola defekasi, lembek setiap hari atau 3 hari sekaki
menunjukkan daerah rectal bebas iritasi
menunjukkan frekuensi diare berkurang
mampu menjelaskan penyebab diare dan tindakan yang dilakukan
menunjukkan turgor kulit dan bb dbn.
NIC
Management diare
- Lakukan pemeriksaan feses kultur dan sensitivitas jika diare berlanjut
- Evaluasi efek samping pengobatan pada gastrointestinal
- Anjurkan pasien/keluarga mencatat warna, volume dan konsistensi feses
- Identifikasi faktor penyebab diare (pengobatan, bakteri atau pengaruh makanan)
- Monitor tanda dan gejala diare
- Observasi turgor kulit secara teratur
- Monitor daerah perineal dari iritasi dan ulcerasi
- Timbang BB
- Monitor peningkatan peristaltik usus
- Kelola pemberian intake nutrisi dan cairan
- Berikan medikasi sesuai program
Monitor elektrolit
- Monitor nilai elektrolit
- Monitor kehilangan cairan dan elektrolit
- Monitor manifestasi neurologi karena ketidakseimbangan elektrolit
- Monitor rasa mual, muntah dan diare
- Monitor tanda dan gejala hiponatremi, hiperkalemia
- Administrasi pemberian suplemen elektrolit
Perawatan perineal
- Lakukan hygiene perineal
- Jaga perineal tetap kering
- Bersihkan perineum secara rutin
- Mengetahui jenis bakteri penyebab dan spesifikasi pengobatan.
- Meminimalkan efek samping.
- Menghitung haluaran dan menghitung masukan yang seharusnya.
- Mengetahui pengobatan yang efektif
- Mengetahui efek lanjut secara dini.
- Mengevaluasi tingkat diare.
- Meminimalkan komplikasi dan pencegahan dini.

Mengetahui apakah ada penurunan BB


Mengetahui fungsi peristaltik usus.
Menjaga keseimbangan cairan.
Mencegah komplikasi dan menyembuhkan.
Mengetahui nilai elektrolit.
Mengethaui jumlah kehilangan cairan.
Mencegah dan mengetahui sedini mungkin komplikasi diare.
Mengetahui asupan oral.
Mengetahui sedini ungkin komplikasi elektrolit karena diare.
Mencegah terjadinya hipoelektrolit.
Mencegah iritasi perineal.
Mengurangi iritasi
Mencegah iritasi perineum.

2 .Defisit volume cairan b/d kehilangan cairan aktif


Definisi : Penurunan cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intrasellular. Ini
mengarah ke dehidrasi, kehilangan cairan dengan pengeluaran sodium
Batasan Karakteristik :
- Kelemahan
- Haus
- Penurunan turgor kulit/lidah
- Membran mukosa/kulit kering
- Peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah, penurunan volume/tekanan
nadi
- Pengisian vena menurun
- Perubahan status mental
- Konsentrasi urine meningkat
- Temperatur tubuh meningkat
- Hematokrit meninggi
- Kehilangan berat badan seketika (kecuali pada third spacing)
Faktor-faktor yang berhubungan:
- Kehilangan volume cairan secara aktif
- Kegagalan mekanisme pengaturan
NOC:
Fluid balance
Hydration
Nutritional Status : Food and Fluid Intake
Kriteria Hasil :
Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT
normal
Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal
Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa
lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan
NIC :
Fluid management

Timbang popok/pembalut jika diperlukan


Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan
darah ortostatik ), jika diperlukan
Monitor vital sign
Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian
Kolaborasikan pemberian cairan intravena IV
Monitor status nutrisi
Dorong masukan oral
Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
Tawarkan snack ( jus buah, buah segar )
Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
Atur kemungkinan tranfusi
Persiapan untuk tranfusi
Hypovolemia Management
Monitor status cairan termasuk intake dan ourput cairan
Pelihara IV line
Monitor tingkat Hb dan hematokrit
Monitor tanda vital
Monitor responpasien terhadap penambahan cairan
Monitor berat badan
Dorong pasien untuk menambah intake oral
Pemberian cairan Iv monitor adanya tanda dan gejala kelebihan volume cairan
Monitor adanya tanda gagal ginjal
- Mengetahui jumlah kehilangan cairan pasien.
- Mengetahui keseimbangan cairan tubuh.
- Mencegah sedini mungkin komplikasi
- Mengevaluasi keadaan umum pasien.
- Menghitung masukan oral pasien.
- Mencegah dehidrasi pasien
- Memberikan suplay cairan tubuh.
- Mengetahui secara dini gangguan elektrolit.
- Menjaga keseimbangan cairan tubuh
- Mengoptimalkan masukan oral.
- Mengurangi kejenuhan pada pasien
- Menjaga komplikasi secara dini.
- Menjaga keseimbangan cairan,
- Menjaga terjadinya anemia.
- Menghitung masukan dan haluaran.
- Menjaga infeksi nosokomial.
- Mengevaluai hemokonsentrasi darah pasien.
- Mengathui keadaan umum pasien.
- Mengevaluasi pengethuan pasien
- Mengevaluasi kenaikan berat badan
- Mensuplay masukan oral.,
- Untuk mengetahui dan menjaga over hidrasi.
- Mengethui secara dini PGK

3 .Risiko kerusakan integritas kulit b/d ekskresi/BAB sering


Definisi : Semua risiko untuk kulit yang merupakan perubahan yang bersifat
merugikan kulit.
Faktor resiko :
1. eksternal
factor mekanik
hipo/hipertermi
imobilitas fisik
substansi kimia
ekskresi atau sekresi
radiasi
kelembaban
pelembab
usia yang ekstrim
2. internal
pengobatan
tulang yang menonjol
kekebalan tubuh
perubahan sensasi
perubahanpigmentasi
perubahan status metabolic
perubahan sirkulasi
perubahn turgor kulit
perubahan status nutrisi
psikogenik
NOC : Tissue Integrity : Skin and Mucous Membranes
Kriteria Hasil :
Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur,
hidrasi, pigmentasi)
Tidak ada luka/lesi pada kulit
Perfusi jaringan baik
Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya
sedera berulang
Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan
alami
NIC : Pressure Management
Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
Hindari kerutan padaa tempat tidur
Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali
Monitor kulit akan adanya kemerahan
Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan
Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
Monitor status nutrisi pasien

Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat


Pencegahan Pressure Ulcer
Kaji adanya factor risiko pada pasien
Dokumentasikan status kulit dalam admisian tiap hari
Hindari menggunakan pelembab pada daerah perspirasi, luka, fekal atau
inkontinensia urine
Rubah posisi setiap 2 jam
Inspeksi bony prominence
Jaga kebersihan linen
Berikan pelembab pada kulit yang kering
Skin Surveillance
Inspeksi kondisi kulit yang mengalami pembedahan
Observasi warna, kelembaban, teksture, ulcerasi kulit
Monitor kulit yang kemerahan
Monitor adanya infeksi
Monitor warna dan suhu kulit
Catat perubahan kulit dan membran mukosa
- Mengurangi evaporasi
- Mencegah iritasi daerah lipatan.
- Mencegah iritasi kulit.
- Mencegah dekubitus.
- Mencegah komplikasi secara dini.
- Mengetahui adanya iritasi kulit.
- Mencegah kontraktur
- Mengetahui keadaan nutrisi pasien
- Mencegah iritasi kulit.
- Mengetahui faktor risiko.
- Mengetahui kerusakan pada kulit.
- Mencegah dekubitus.
- Mengevaluasi keadaan body prominence
- Mencegah iritasi alat linen.
- Mencegah iritasi kulit.
- Mencegah komplikasi
- Mengetahui efek legalisir.
- Menjaga kesempurnaan Djarum 76.
- Mengetahui perubahan kulit.
4 . Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d penurunan intake
makanan
Definisi : Intake nutrisi tidak cukup untuk keperluan metabolisme tubuh.
Batasan karakteristik :
- Berat badan 20 % atau lebih di bawah ideal
- Dilaporkan adanya intake makanan yang kurang dari RDA (Recomended Daily
Allowance)

Membran mukosa dan konjungtiva pucat


Kelemahan otot yang digunakan untuk menelan/mengunyah
Luka, inflamasi pada rongga mulut
Mudah merasa kenyang, sesaat setelah mengunyah makanan
Dilaporkan atau fakta adanya kekurangan makanan
Dilaporkan adanya perubahan sensasi rasa
Perasaan ketidakmampuan untuk mengunyah makanan
Miskonsepsi
Kehilangan BB dengan makanan cukup
Keengganan untuk makan
Kram pada abdomen
Tonus otot jelek
Nyeri abdominal dengan atau tanpa patologi
Kurang berminat terhadap makanan
Pembuluh darah kapiler mulai rapuh
Diare dan atau steatorrhea
Kehilangan rambut yang cukup banyak (rontok)
Suara usus hiperaktif
Kurangnya informasi, misinformasi

Faktor-faktor yang berhubungan :


Ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan atau mengabsorpsi zat-zat
gizi berhubungan dengan faktor biologis, psikologis atau ekonomi.
NOC :
Nutritional Status :
Nutritional Status : food and Fluid Intake
Nutritional Status : nutrient Intake
Weight control
Kriteria Hasil :
Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
Beratbadan ideal sesuai dengan tinggi badan
Mampumengidentifikasi kebutuhan nutrisi
Tidk ada tanda tanda malnutrisi
Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan
Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti
Nutrition Management
Kaji adanya alergi makanan
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
Berikan makanan yang terpilih (sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)

Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.


Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring
Monitor adanya penurunan berat badan
Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan
Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan
Monitor lingkungan selama makan
Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor makanan kesukaan
Monitor kalori dan intake nuntrisi
Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral.
- Menghindari terjadinya alergi, kembali.
- Mencegah dehidrasi.
- Mencegah suplai vit. Fe.
- Mencegah malnutrisi.
- Mencegah optimalisasi
- Mencegah konstipasi.
- Memudahkan oral.
- Memandirikan pasien.
- Mengetahui intake masukan.
- Mengetahui kebutuhan nutrisinya.
- Mengetahui keseimbangan cairan.
- Mengetahui pengeluaran kaliori
- Mengetahui trauma anak terhadap RS.
- Mencegah penularan penyakit.
- Mengurangi gangguan makan.
- Mengetahui tanda komplikasi secara dini.
- Mengetahui kekenyalan kulit.
- Menambah porsi makan.
- Mengetahui kerusakan sistemik.
- Mengetahui kerusakan lain.
Discharge Planning (health education)
1. Ajarkan pada orang tua mengenai perawatan anak, pemberian makanan dan
minuman (missal oralit).
2. Ajarkan mengenai tanda tanda dehidrasi, ubun ubundan mata cekung, turgor
kulit tidak elastis, membran mukosa kering
3. Jelaskan obat obatan yang diberikan, efek samping dan kegunaannya.

Definisi ;

1.

Diare adalah gangguan fungsi penyerapan dan sekresi dari saluran pencernaan, dipengaruh oleh
fungsi kolon dan dapat diidentifikasikan dari perubahan jumlah, konsistensi, frekwensi, dan warna dari
tinja (whaley dan Wong, 1997)..

2.

diare adalah pola buang air besar yang tidak normal dengan bentuk tinja encer dan peningkatan
frekwensi yang lebih dari biasanya (FKUI, 1991 )

1.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Kultur tinja.

2.

Media terkontaminasi (air, makanan ).

3.

Sigmoidoskopy.

4.

Hematologi.

5.

Kultur pus ( otitis media )


SISTEMATIKA PENATAAKSANAAN DIARE BERDASARKAN KEADAAN PENDERITA (Diagnosa fisik
pada anak, ( FKUI, 1991 ).
Dehidrasi ringan
dehidrasi sedang

sampai

Dehtdrasi berat dengan /


tanpa komplikasi dengan /
tanpa penyakit

Tanpa

Oralit

dehdrasi sampai dehidrasi


ringan

Cairan rehidrasi parentral,


RL, Glukosa

RS /Puskesmas perwatan
Cairan RT ( LGG, air tajin,
kuah sayur )

Puskesmas, poliklinik RS

Pengobatan dirumah

Menurut banyaknya cairan yang hilang


1.

Kehilangan berat badan

a.

2,5%

: tidak ada dehidrasi

b.

2,5 5%

: dehidrasi ringan

gunakan derajat dehidrasi

c.

5 10%

: dehidrasi sedang

d.

10% : dehidrasi berat

2.

Skor Maurice King


Bagian
tubuh yang
diperiksa
Keadaan
umum

Nilai
0
Sehat

Keterangan

Gelisah

Mengigau

Cengeng

Koma

0-2 =dehidrsi ringan

Apatis

Shock

3-6=dehidrasi swdang.

Mengantu
k

7-2=dehidrasi berat

Turgor

Normal

Sedikit
kurang

Sangat
kurang

Mata

Normal

Sedikit
cekung

Sangat
cekung

UUB

Normal

Sedikit
cekung

Sangat
cekung

Mulut

Normal

Kering

Kering
Sianosis

Pda anak-anak =UUB sudah


menutup , diganti produksi
urine.

Untuk
kembali
1 detik

kekenyalan

kulit,

= dehidrasi ringan

1-2 detik = dehidrasi sedang


2 detik/> =dehidrasi berat
Denyut nadi
/ menit

1.

Kuat
<120

Sedang
(120-140)

Lemah >140

MASALAH KESEHATAN
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit

2.

Gangguan nutrisi

3.

Gangguan integritas kulit.

4.

Resiko infeksi.

5.

Kecemasan.
. MASALAH KOLABORATIF

1.

Dehidrasi.

2.

Shock hipovolemik.

3.

Asidosis metabolik

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.

Kekurangan volme cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan dari gastrointestinal
aaakibat diare.

2.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhabn tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake,
diare.

3.

Resiko tinggi penjalaran infeksi berhubungan dengan invasi mikroorganisme di saluran pencernaan.

4.

Kerusakan integritas kulit berhubungan iritasi akibat peningkatan frekwensi dan keluarnya feces
yang cair.

5.

Cemas atau takut berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, lingkungan yang tidak
dikenal, pelaksanaan presedur.

6.

1.

Perubahan proses dalam keluarga berhubungan dengan krang pengetahuan, situasi krisis.
PERENCANAAN DAN INTERVENSI
Kekurangan volume caiuran berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan dari gastrointestial
akibat diare.

Tujuan : kien kan menunjukkan tanda tanda rehidrasi dan berikan cairan yang adekuat.
Kriteria : anak menunjukkan tanda tanda adekuat (turgor kulit baik, mata dan fontanel tidak cekung, kesadaran
compos mentis )
Intervensi:
a.

Berikan cairan rehidrasi peroral

b.

Berikan dan monitor cairan yang diberikan.

c.

Berikan (kolaborasi) pemberian antibiotik sesuai dengan resep pengobatan.

d.

Setelah rehidrasi berikan diet yang toleran secara teratur.

e.

Anjurkan cairan peroral yang rendah garam seerti ASI, formula bebas laktosa.

f.

Catat intake dan output ( urine,BAB, dan muntah ).

g.

Monitor urine secara spesifik tiap 8 jam atau sesuai indikasi dan timbang berat badan tiap hari.

h.

Batasi intake seperti ju ice buah, soft drink, dan gelatin.

i.

Kaji tanda-tanda vital turgor kuit, mukosa membran dan status mental setaip 4 jam atau sesuai
indikasi.

2.

Perubahan nurisi : urang dari kebutuhan tubuh berhubungan engan tidak adekuatnya intake, diare.

Tujuan : klien akan makan makanan sesuai dengan umur dan berat badan.
Kreteria : anak akan menunjukkkan kepuasan dengan kenaikan berat badan.
Intervensi ;
a.

Setelah rehidrasi, anjurkan ibu untuk memberikan ASI secara teratur.

b.

Berikan diet yang toleransi.

c.

Catat dan observasi respon terhadap makanan.

d.

Jelaskan pada keluarga tentang prioritas diet.

3. Resiko tinggi penjalaran infeksi berhubungan dengan invasi mikroorganisme di gastrointestinal track.
Tujuan : klien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.
Kreteria ; infeksi adak terjadi ditempat lain.
Intervensi:
a.

b.
c.

d.

Lakukan tindakan sesuai standar dan kontrol infeksi dengan menggunakan alat-alat dasposal dan
pencucian serta dalam penambilan spesimen dan cuci tangan dengan benar.
Pakailah popok yang pas, jangan longggar.
Usahakan anak untuk menjauh area yang terkontaminasi dan selalu mencuci tangan setiap selesai
toileting.
Anjurkan keluarga untuk melakukan tindakan isolasi seperti mencuci tangan.
4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi akibat peningkatan frekwensi dan keluarnya
feces yang cair.
Tujuan : klien akan menunjukkan peningkatan integritas kulit.
Kreteria : anak tidak mengalami tada-tanda kerusakan pada lulit.
Intervensi ;

a.
b.

Ganti popok sesering mungkin.


Bersishkan bokong dengan bahan yang lembut, sabun non alkaline dan air dalam bak mandi khusus
bayi.

c.

Oleskan salep seperti zinc oxide.

d.

Perhatikan tanda kemerahanataau ruam pada kulit.

e.

Hindari pemakain pemersih yang mengandung alkohol pada kulit yang lecet.

f.

Observasi bokong dan perineum terhadap infeksi.

g.

Kolaborasi ( untuk pemberian anti fungi ).

5. Cemas atau takut berhubungan dengan perpisah dengan orang tua, lingkungan yang tidak dikenal,
pelaksaan prosedur.
Tujuan : klien merasa nyaman dan tidak takut.
Kritreria ;
1.

Anak menunjukkan penurunan tanda-tanda emosi.

2.

Keluaraga aktif berpartisipasi dalam perawatan anak.

Intervensi:
a.

Berikan dot pada dan perkembangan bayi.

b.

Anjurkan keluarga untuk berkunjung ean berpartisipasi dalam perawatan seoptimal mungkin..

c.

Berikan sentuhan, peluan dan berbicaralah sebanyak mungkin dengan anak.

d.

Berikan stimulus sensasi dan pengalihan perhatian sesuai kondisi pertumbuhan anak.

6. Perubahan proses dalam keluarga dengan kurang pengetahuan, situasi krisis.


Tujuan ;

keluarga mengerti dengan penyakit anak.

Kreteria : keluarga mendemonstrasikan kemampuan merawat anak terutama di rumah.


Intervensi ;
a.
b.

Berikan informasi pada keluarga tentang perawatan dan therapy.


Kaji kemampuan keluarga dalam memberian support dan rasa aman dan ikutkan keluarga dalam
proses perawatan.

c.

Anjurkan keluarga untuk mematuhi hal-hal yang berhubungan dengan tidakan pencegahan.

d.

Rencakan follow up asuhan setelah hospitalisasi.

e.

Rujuk keluarga ke instansi atau instansi atau fasilitas kesehatan masyarakat terdekat.

1.

EVALUASI
Rehidrasi tercapai, intake balance,berat badan tetap atau menungkat.

2.

Kebutuhan nutrisi terpenuhi, intake adekuat terutama kalori.

3.

Tidak terdapat tanda- tanda infeksi di tempat lain.

4.

Ti ak terjadi gangguan integritas kulit.

5.

Klien dan kelurga dapat mengepesikan peningkatan rasa nyaman.

6.

Keluarga mampu mendentrasikan perawatan anak, pengobatan yang dibutuhkan selama di rumah
sakit dan di rumah.

A. PENGERTIAN
Menurut Haroen N, S. Suraatmaja dan P.O Asdil (1998), diare adalah defekasi encer lebih dari 3
kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja.

Sedangkan menurut C.L Betz & L.A Sowden (1996) diare merupakan suatu keadaan terjadinya
inflamasi mukosa lambung atau usus.
Menurut Suradi & Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya
kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar
satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.
Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3 kali
sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau lendir
sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus.
B. PENYEBAB
Menurut Haroen N.S, Suraatmaja dan P.O Asnil (1998), ditinjau dari sudut patofisiologi,
penyebab diare akut dapat dibagi dalam dua golongan yaitu:
1. Diare sekresi (secretory diarrhoe), disebabkan oleh:
a) Infeksi virus, kuman-kuman patogen dan apatogen seperti shigella, salmonela, E. Coli,
golongan vibrio, B. Cereus, clostridium perfarings, stapylococus aureus, comperastaltik usus
halus yang disebabkan bahan-bahan kimia makanan (misalnya keracunan makanan, makanan
yang pedas, terlalau asam), gangguan psikis (ketakutan, gugup), gangguan saraf, hawa dingin,
alergi dan sebagainya.
b) Defisiensi imum terutama SIGA (secretory imonol bulin A) yang mengakibatkan terjadinya
berlipat gandanya bakteri/flata usus dan jamur terutama canalida.
2. Diare osmotik (osmotik diarrhoea) disebabkan oleh:
a) malabsorpsi makanan: karbohidrat, lemak (LCT), protein, vitamin dan mineral.
b) Kurang kalori protein.
c) Bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir.
Sedangkan menurut Ngastiyah (1997), penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor yaitu:
1. Faktor infeksi
a) Infeksi enteral
Merupakan penyebab utama diare pada anak, yang meliputi: infeksi bakteri, infeksi virus
(enteovirus, polimyelitis, virus echo coxsackie). Adeno virus, rota virus, astrovirus, dll) dan
infeksi parasit : cacing (ascaris, trichuris, oxyuris, strongxloides) protozoa (entamoeba
histolytica, giardia lamblia, trichomonas homunis) jamur (canida albicous).
b) Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis media akut
(OMA) tonsilitis/tonsilofaringits, bronkopeneumonia, ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini
terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah dua (2) tahun.
2. Faktor malaborsi
Malaborsi karbohidrat, lemak dan protein.
3. Faktor makanan
4. Faktor psikologis
C. PATOFISIOLOGI
Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan osmotik, akibat

terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik
dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus,
isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga
timbul diare.
Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan
sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat
peningkatan isi rongga usus.
Ketiga gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya
kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus
menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan
diare pula.
Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah
berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak,
kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya
akan menimbulkan diare.
Sedangkan akibat dari diare akan terjadi beberapa hal sebagai berikut:
1. Kehilangan air (dehidrasi)
Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari pemasukan (input), merupakan
penyebab terjadinya kematian pada diare.
2. Gangguan keseimbangan asam basa (metabik asidosis)
Hal ini terjadi karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja. Metabolisme lemak tidak
sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam tubuh, terjadinya penimbunan asam laktat
karena adanya anorexia jaringan. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena
tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria) dan terjadinya pemindahan ion Na
dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler.
3. Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare, lebih sering pada anak yang
sebelumnya telah menderita KKP. Hal ini terjadi karena adanya gangguan
penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan absorbsi glukosa.Gejala
hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun hingga 40 mg% pada bayi dan 50%
pada anak-anak.
4. Gangguan gizi
Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat, hal ini disebabkan oleh:
- Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau muntah yang bertambah
hebat.
- Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengeluaran dan susu yang encer ini
diberikan terlalu lama.
- Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya
hiperperistaltik.
5. Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik, akibatnya perfusi jaringan

berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan otak,
kesadaran menurun dan bila tidak segera diatasi klien akan meninggal.
D. MANIFESTASI KLINIS DIARE
Terlampir di rental Hikari.
D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan tinja
a) Makroskopis dan mikroskopis
b) Ph dan kadar gula dalam tinja
c) Bila perlu diadakan uji bakteri
2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan PH dan
cadangan alkali dan analisa gas darah.
3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
4. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat.
E. KOMPLIKASI
1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
2. Renjatan hipovolemik.
3. Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada
elektro kardiagram).
4. Hipoglikemia.
5. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili
mukosa, usus halus.
6. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.
7. Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami
kelaparan.
F. DERAJAT DEHIDRASI
Terlampir di rental Hikari.
G. KEBUTUHAN CAIRAN ANAK
Terlampir di rental Hikari.
H. PATHWAYS
Terlampir di rental Hikari.
I. PENTALAKSANAAN
1. Medis
Dasar pengobatan diare adalah:
a. Pemberian cairan, jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya.

1) Cairan per oral


Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan peroral berupa cairan yang bersifat
NaCl dan NaHCO3 dan glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada anak diatas 6 bulan kadar
Natrium 90 mEg/l. Pada anak dibawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan-sedang kadar
natrium 50-60 mEg/l. Formula lengkap disebut oralit, sedangkan larutan gula garam dan tajin
disebut formula yang tidak lengkap karena banyak mengandung NaCl dan sukrosa.
2) Cairan parentral
Diberikan pada klien yang mengalami dehidrasi berat, dengan rincian sebagai berikut:
- Untuk anak umur 1 bl-2 tahun berat badan 3-10 kg
1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infus set berukuran 1 ml=15 tts atau 13
tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).
7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infusset berukuran 1 ml=15 tts atau 4
tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).
16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/ oralit
- Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg
1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 10 tts/kgBB/menit (1
ml=20 tetes).
- Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg
1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 7 tts/kgBB/menit (1
ml=20 tetes).
7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 3 tts/kgBB/menit (1
ml=20 tetes).
16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral.
- Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg
Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian
glukosa 5% + 1 bagian NaHCO3 1 %.
Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6 tts/kgBB/menit (1 ml = 15 tts) 8
tts/kg/BB/mt (1mt=20 tts).
Untuk bayi berat badan lahir rendah
Kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian
NaHCO3 1 %).
b. Pengobatan dietetik
Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan kurang dari 7 kg, jenis
makanan:
- Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan lemak tak jenuh
- Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi tim)
- Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan misalnya susu yang tidak
mengandung laktosa dan asam lemak yang berantai sedang atau tak jenuh.
c. Obat-obatan
Prinsip pengobatan menggantikan cairan yang hilang dengan cairan yang mengandung elektrolit
dan glukosa atau karbohidrat lain.

2. Keperawatan
Masalah klien diare yang perlu diperhatikan ialah resiko terjadinya gangguan sirkulasi darah,
kebutuhan nutrisi, resiko komplikasi, gangguan rasa aman dan nyaman, kurangnya pengetahuan
orang tua mengenai proses penyakit.
Mengingat diare sebagian besar menular, maka perlu dilakukan penataan lingkungan sehingga
tidak terjadi penularan pada klien lain.
a. Data fokus
1) Hidrasi
- Turgor kulit
- Membran mukosa
- Asupan dan haluaran
2) Abdomen
- Nyeri
- Kekauan
- Bising usus
- Muntah-jumlah, frekuensi dan karakteristik
- Feses-jumlah, frekuensi, dan karakteristik
- Kram
- Tenesmus
b. Diagnosa keperawatan
- Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan ketidakseimbangan antara intake
dan out put.
- Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kontaminasi usus dengan mikroorganisme.
- Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi yang disebabkan oleh peningkatan
frekuensi BAB.
- Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, tidak mengenal lingkungan,
prosedur yang dilaksanakan.
- Kecemasan keluarga berhubungan dengan krisis situasi atau kurangnya pengetahuan.
c. Intervensi
1) Tingkatkan dan pantau keseimbangan cairan dan elektrolit
- Pantau cairan IV
- Kaji asupan dan keluaran
- Kaji status hidrasi
- Pantau berat badan harian
- Pantau kemampuan anak untuk rehidrasi
- Melalui mulut
2) Cegah iritabilitas saluran gastro intestinal lebih lanjut
- Kaji kemampuan anak untuk mengkonsumsi melalui mulut (misalnya: pertama diberi cairan
rehidrasi oral, kemudian meningkat ke makanan biasa yang mudah dicerna seperti: pisang, nasi,
roti atau asi.
- Hindari memberikan susu produk.

- Konsultasikan dengan ahli gizi tentang pemilihan makanan.


3) Cegah iritasi dan kerusakan kulit
- Ganti popok dengan sering, kaji kondisi kulit setiap saat.
- Basuh perineum dengan sabun ringan dan air dan paparkan terhadap udara.
- Berikan salep pelumas pada rektum dan perineum (feses yang bersifat asam akan mengiritasi
kulit).
4) Ikuti tindakan pencegahan umum atau enterik untuk mencegah penularan infeksi (merujuk
pada kebijakan dan prosedur institusi).
5) Penuhi kebutuhan perkembangan anak selama hospitalisasi.
- Sediakan mainan sesuai usia.
- Masukan rutinitas di rumah selama hospitalisasi.
- Dorong pengungkapan perasaan dengan cara-cara yang sesuai usia.
6) Berikan dukungan emosional keluarga.
- Dorong untuk mengekspresikan kekhawatirannya.
- Rujuk layanan sosial bila perlu.
- Beri kenyamanan fisik dan psikologis.
7) Rencana pemulangan.
- Ajarkan orang tua dan anak tentang higiene personal dan lingkungan.
- Kuatkan informasi tentang diet.
- Beri informasi tentang tanda-tanda dehidrasi pada orang tua.
- Ajarkan orang tua tentang perjanjian pemeriksaan ulang.
DAFTAR PUSTAKA
Betz Cecily L, Sowden Linda A. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatik, Jakarta, EGC.
Sachasin Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatik. Alih bahasa : Manulang R.F. Jakarta,
EGC.
Arjatmo T. 2001. Keadaan Gawat yang mengancam jiwa, Jakarta gaya baru.

Anda mungkin juga menyukai