Anda di halaman 1dari 7

Nama Peserta : Bumi Zulheri Herman

Nama Wahana : RSUD Massenrempulu Enrekang


Topik : Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang
Tanggal (kasus) : 16 Juni 2014
Nama Pasien : An. Nur Rifqah

No. RM : 057822

Tanggal Presentasi : 28 Oktober 2014

Nama Pendamping : Dr. Zulfahri Sulaeman

Tempat Presentasi : Aula RSUD Massenrempulu


Obyektif Presentasi :

Keilmuan

Keterampilan

Penyegaran

Tinjauan Pustaka

Diagnostik

Manajemen

Masalah

Istimewa

Bayi

Anak

Remaja

Dewasa

Lansia

Bumil

Neonatus

Deskripsi : Anak perempuan usia 48 bulan mengalami BAB cair sejak satu hari yang lalu, lendir tidak ada, darah tidak ada,
disertai muntah dan demam sejak satu hari terakhir
Tujuan : Menegakkan diagnosis dan mengobati diare akut

Bahan bahasan:
Cara membahas:

Tinjauan Pustaka

Diskusi

Riset
Presentasi dan
diskusi

Kasus

Audit

Email

Pos

Data pasien :

Nama: An. Nur Rifqah

Nama klinik : RSUD Massenrempulu

Nomor Registrasi : 057822


Telp :

Terdaftar sejak : Juni 2014

Data utama untuk bahan diskusi:


1. Diagnosis/Gambaran Klinis: pasien mengalami BAB encer, frekuensi 4 kali per hari, jumlah sulit dievaluasi, cair lebih banyak
daripada ampas, lendir tidak ada, darah tidak ada, pasien mulai malas minum, demam ada tidak terlalu tinggi naik turun dan berespon
dengan penurun panas, batuk pilek tidak ada, muntah frekuensi ada 3 kali, sekitar 3-4 sendok, isi makanan dan cairan.

2.

Riwayat Pengobatan: Riwayat pengobatan sebelumnya hanya parasetamol 3 x 1 sendok teh

3.

Riwayat kesehatan/Penyakit: - Status gizi baik


- Riwayat alergi susu dan makanan lain tidak ada
4. Riwayat keluarga: Riwayat penyakit serupa dalam keluarga disangkal
5.

Riwayat pekerjaan: -

6.

Kondisi lingkungan sosial dan fisik (RUMAH, LINGKUNGAN, PEKERJAAN) : Keluarga pasien menggunakan air PAM untuk

kebutuhan sehari-hari, memasak air sendiri untuk kebutuhan minum dan memasak, BAK dan BAB di toilet.
7. Riwayat imunisasi :
-

BCG
Polio
DPT
Hepatitis B
Campak

: (+)
: (+) 1,2,3,4
: (+) 1,2,3
: (+) 1,2,3
: (+)

kesan : imunisasi dasar lengkap

Daftar Pustaka:
a. Pickering LK and Snyder JD. Gastroenteritis in Nelson Textbook of Pediatric,17Edition. 2003. page1272-1276
b. Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI. Gastroenterologi. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
c.

Indonesia. Jakarta.1998. hal 283-293.


Standar Penatalaksanaan Ilmu Kesehatan Anak. RSMH. 2010

Hasil Pembelajaran:
1. Definisi Diare
2. Penyebab Diare
3. Gejala-gejala Diare
4. Tanda-tanda dehidrasi
5. Penatalaksanaan diare
6. Komplikasi diare
1. Subjective

Pasien anak perempuan 48 bulan mengalami BAB cair, lebih dari 3x/hari, dengan konsistensi cair lebih banyak daripada
ampas, muntah ada, demam ada tidak terlalu tinggi. Hal ini mengarah pada diare, disentri, dan kolera. Namun pada tinja tidak ada
darah, tidak ada lendir maupun bau anyir sehingga disentri dapat disingkirkan. Konsistensi yang masih padat juga dapat menyingkirkan
kolera.
2. Objective
Hasil pemeriksaan fisik menunjang penegakan diagnosis. Pada kasus ini, diagnosis ditegakkan berdasarkan:
a. Gejala klinis:

Sejak satu hari yang lalu, ibu pasien mengeluh pasien mengalami BAB cair
frekuensi 4 kali dalam sehari
cair lebih banyak daripada ampas
demam ada tidak terlalu tinggi
muntah ada 3 kali, sekitar 3-4 kali sendok, isi makanan dan cairan
Pasien mulai sulit untuk intake oral
Lendir pada tinja tidak ada, tinja berbau anyir tidak ada
Darah pada tinja tidak ada
b. Pemeriksaan Fisik :
Kepala
Bentuk

: Normosefali

Rambut

: Hitam, lurus, tidak mudah dicabut.

Mata

: Cekung (+), air mata (+)

Mulut

: Mukosa mulut dan bibir kering (+), sianosis (-).

Abdomen

Inspeksi : Datar
Palpasi

: Lemas, hepar dan lien tidak teraba, turgor lambat

Perkusi

: Timpani

Auskultasi: Bising usus (+) meningkat


3. Assessment
Menurut WHO diare adalah berak cair lebih dari tiga kali dalam 24 jam, dan lebih menitik beratkan pada konsistensi tinja dari pada
menghitung frekuensi berak. Insidens diare pada tahun 2000 yaitu sebesar 301 per 1000 penduduk, secara proporsional 55 % dari

kejadian diare terjadi pada golongan balita dengan episode diare balita sebesar 1,0 1,5 kali per tahun.Patogenesis terjadinya diare akut
didahului masuknya jasad renik yang masih hidup ke usus halus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung. Selanjutnya jasad
renik tersebut berkembang biak di dalam usus halus. Kemudian jasad renik mengeluarkan toksin (toksin diaregenik). Akibat toksin
tersebut terjadilah hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare. Mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah suhu
tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare, tinja cair dan mungkin disertai lendir dan atau
darah. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat
gangguan keseimbangan asam-basa dan elektrolit. Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi
mulai tampak. Berat badan turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta
kulit tampak kering. Prinsip dasar penatalaksanaan diare adalah pemberian cairan (rehidrasi), feeding adjusment, pengobatan
medikamentosa dan health education (penyuluhan) serta zink.
1)
a)

Pemberian cairan
Diare akut murni, ditujukan untuk

i)

Rehidrasi

: Mengganti previous water losses dengan IVFD/NGT


ii) Maintenance: Mencegah dehidrasi dengan mengganti on going water losses dengan oralit peroral

iii)
b)

Requirement : Dengan makan minum seperti biasa


Diare akut dengan penyulit

i)

Diare akut dengan penyulit dehidrasi ringan sedang : 75 cc per Kg/BB daalam 3 jam pertama

ii)

Diare akut dengan penyulit dehidrasi berat untuk usia diatas 2 tahun : 30 cc/kg BB dalam 30 menit pertama dan 70 cc per

kg BB dalam 2,5 jam berikutnya


4. Plan
Diagnosis

: Kemungkinan keluhan pada pasien akibat mengalami diare. Diare yang dialami pada anak ini kemungkinan disebabkan

oleh infeksi, dimana 80% infeksi pada balita disebabkan oleh Rotavirus tapi tidak menutup kemungkinan adanya infeksi
Eschericia coli. Didapatkan tanda dehidrasi yang tergolong ringan sedang pada pasien. Upaya diagnosis sudah optimal.
Pengobatan : Prinsip dasar penatalaksanaan diare adalah pemberian cairan (rehidrasi), feeding adjusment, pengobatan medikamentosa
dan health education (penyuluhan). Penatalaksanaan pada pasien ini dengan rehidrasi dengan menggunakan larutan
oralit tiap kali BAB cair dan muntah sulit dilakukan serta ditemukan tanda dehidrasi ringan sedang sehigga rehidrasi B
menurut WHO dilakukan. Rehidrasi dilakukan dengan menggunakan cairan Ringer laktat 75 cc/kg BB ( 42 tpm makro)
dan mintenance 14 tpm makro, Terapi suportif dengan pemberian antipiretik (Paracetamol) 3 x 1 sendok untuk
menurunkan demam, dan injeksi metoclopramide ampul/ 8 jam intra vena untuk mengatasi muntah. Serta pemberian
tablet zink 20 mg setiap hari selama sepuluh hari untuk mengurangi kejadian diare berulang. Pemberian antibiotik
profilaksis kotrimoksazole syr 2x1 sendok teh untuk pencegahan diare karena Eschericia coli.
Pendidikan : Pendidikan dilakukan kepada pasien dan keluarganya untuk membantu proses penyembuhan, pencegahan diare dan
komplikasinya. Edukasi meliputi tanda bahaya umum, cara pemberian oralit dan zink, kapan ibu harus membawa anak
kontrol kembali ke pelayanan kesehatan, perilaku hidup bersih dan sehat, serta diet rendah serat.

Konsultasi : -

Kegiatan
Kepatuhan makan obat

Periode
Hasil yang diharapkan
- Oralit diberikan setiap kali BAB cair dan - Rehidrasi cairan tercapai
muntah

- Paracetamol dan metoclopramide hanya - Gejala demam dan muntah teratasi


diberikan selama pasien masih mengalami
demam dan muntah.
-Zink tablet 20 mg selama 10 hari
- Memperbaiki mukosa usus dan rekurensi
diare berkurang.
Cotrymoxazole syr 2x1 sdt
- Mencegah dan mengobati diare akibat
adanya infeksi sekunder Eschericia coli
Pemeriksaan Lanjutan
- Pemeriksaan feses rutin dan Satu kali. Bila diare masih berlangsung lebih Didapatkan penyebab pasti diare yang
dari 14 hari (diare kronik)
terjadi
kultur
Nasihat

Setiap kali kunjungan

Kepatuhan minum obat, pencegahan diare


sehingga
tidak
berulang,
mencegah
komplikasi lanjut, kunjungan ulang bila
pasien tidak ada perbaikan atau terdapat
tanda bahaya umum.