Anda di halaman 1dari 17

Judul

PEMISAHAN

PROTEIN

PUTIH

TELUR

( ALBUMIN

DENGAN

FRAKSINASI AMONIUM SULFAT ( (NH4)2SO4 ).


Tanggal Praktikum : SELASA 9 DESEMBER 2014
Tanggal Pengumpulan : SELASA 30 DESEMBER 2014
Tujuan :
Menganalisis profil setiap fraksi ammonium sulfat (NH4)2SO4 ).
Menghitung kadar albumin masing-masing fraksi ammonium sulfat (NH 4)2SO4 )
dengan metode Bradford.
Dasar teori
Telur merupakan bahan makanan yang hampir dikatakan mendekati sempurna, selain
rasanya enak, sangat mudah dicerna dan mudah pengolahannya serta relatif murah dibanding
sumber protein hewani lainnya. Satu butir telur ayam dengan berat 50 gram mengandung gizi
yaitu energi 81 kkal, protein 6.4 gr, lemak 5.75 gram, karbohidrat 0.35 gram, kalsium 180
mg, vitamin A 309 SI (Hakim, 2010a).
Nilai gizi telur sangat lengkap, telur merupakan sumber protein yang baik, kadarnya
sekitar 14%, sehingga dari tiap butir telur akan diperoleh sekitar 8 gram protein. Kandungan
asam amino proteinnya sangat lengkap, sehingga protein telur (campuran putih dan kuning
telur) seringkali dijadikan sebagai protein referensi. Telur kaya fosfor dan besi, tetapi
kandungan kalsiumnya rendah. Keadaan sepeerti ini sama seperti yang dijumpai pada daging.
Selain itu telur juga mengandung vitamin B kompleks, serta vitamin A dan D (dalam kuning
telur). Telur sama sekali tidak mengandung vitaminC. Satu butir telur berukuran sedangakan
memberikan energi sekitar 80 kilokalori (Sirait, 2003).
Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah
senyawa organikkompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimerdari monomermonomerasam aminoyang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul
protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogendan kadang kala sulfur serta fosfor.
Protein merupakan salah satu dari biomolekulraksasa, selain polisakarida, lipid, dan
polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein

merupakan salah satu molekulyang paling banyak diteliti dalam biokimia. Kebanyakan
protein merupakan enzim atau subunit enzim. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun)
sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan
(dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein
berperan sebagai sumber asam aminobagi organismeyang tidak mampu membentuk asam
amino tersebut (Arsyad, 1997).
Protein putih telur terdiri atas protein serabut yang terdiri ovomucin dan protein
globular yang terdiri dari ovalbumin, conalbumin, ovomucoid, lizosim, flavoprotein,
ovoglobulin, ovoinhibitor, dan avidin. Protein globular merupakan protein yang berbentuk
bola. Protein ini larut dalam larutan garam asam encer, juga lebih mudah berubah dibawah
pengaruh suhu, konsentrasi garam, pelarut asam basa dibandingkan protein serabut. Protein
globular juga merupakan protein yang mudah terdenaturasi (Winarno, 1997).
Nilai Haugh unit merupakan nilai yang mencerminkan keadaan albumen telur yang
berguna untuk menentukan kualitas telur. Nilai Haugh unit ditentukan berdasarkan keadaan
putih telur, yaitu korelasi antara bobot telur dan tinggi putih telur bagian putih telur menjadi
lebih encer disebabkan hilangnya sebagian protein ovomucin yang berfungsi sebagai
pembentuk struktur putih telur. Nilai Haugh unit yang tinggi menunjukkan kualitas telur
tersebut juga tinggi (Sudaryani ,2000).
Sifat fisikokimia setiap protein tidak sama, tergantung jumlah dan jenis asam
aminonya. Bila dalam suatu larutan protein ditambahkan garam, daya larut protein akan
berkurang, akibatnya protein akan terpisah sebagai endapan. Peristiwa pemisahan protein ini
disebut salting out. Garam-garam logam berat dan asam-asam mineral kuat ternyata baik
digunakan untuk mengendapkan protein. Apabila protein dipanaskan atau ditambah alkohol,
maka protein akan menggumpal. Hal ini disebabkan alkohol menarik mantel air yang
meliputi molekul-molekul protein. Selain itu penggumpalan juga dapat terjadi karena
aktivitas enzim-enzim proteolitik.

Protein akan mengalami kekeruhan terbesar pada saat mencapai ph isoelektrik yaitu
ph dimana protein memiliki muatan positif dan negatif yang sama, pada saat inilah protein
mengalami denaturasi yang ditandai kekeruhan meningkat dan timbulnya gumpalan. Asam
dan basa dapat mengacaukan jembatan garam dengan adanya muatan ionik. Sebuah
tipe reaksi penggantian dobel terjadi sewaktu ion positif dan negatif di dalam garam berganti
pasangan dengan ion positif dan negatif yang berasal dari asam atau basa yang
ditambahkan (Anna, 1994).
Albumin (albumin) adalah nama umum dari sekelompok protein yang berupa koloid.
Albumin merupakan unsur utama yang terdapat padaputih telur (ovalbumin), merupakan
unsur penting dalam serum darah (Serum albumin), juga terdapat dalam susu (lactalbumin),
jaringan dan cairan fisiologis dan dalam tumbuhan (vegetable (albumin). Hasil beberapa
analisis menunjukkan bahwa albumin telur mengandung 54,3%, karbon, 7,1% hidrogen, 21%
oksigen, 15,8% nitrogen, serta 1,8% sulfur. Albumin dapat bergabung dengan beberapa
logam berat, maka digunakan sebagai penangkal pada keracunan garam-garam merkuri.
Albumin dapat terkoagulasi atau terdenaturasi oleh panas, alkohol, atau asam (Makfoeld,
2006).
Romanoff dan Romanoff (1963) menyatakan bahwa nilai pH putih telur segar 7,6
kemudian akan meningkat menjadi 9,0 atau 9,7 setelah satu minggu. Perubahan pH putih
telur ini disebabkan hilangnya CO2 dari telur. Penggantian CO2 yang hilang ini dengan cara
pemecahan bikarbonat. Bikarbonat terdiri dari sodium dan potasium sebagai buffer.
Bikarbonat yang semakin menurun menyebabkan sistem buffer menjadi menurun.
Penambahan asam maka pH menjadi turun dan harga E naik. Hal ini disebabkan karena
dengan bertambahnya asam, iob H+ semakin banyak. Ini membuktikan bahwa larutan
semakin asam, maka pH semakin kecil dan semakin banyak H+ maka muatan ion semakin
positif dan tentunya potensial semakin besar. Begitu sebaliknya, jika adanya penambahan
basa maka pH menjadi naik dan harga E turun. Ini menyebabkan pH semakin besar dan

semakin banyak OH- maka muatan ion semakin negatif dan tentunya potensial semakin kecil
(Anonim, 2012).
Reaksi yang terjadi antara logam berat dengan protein akan mengakibatkan
terbentuknya protein logam yang tidak larut. Protein akan mengalami presipitasi bila beraksi
dengan ion logam. Pengendapan oleh ion positif (logam berat) diperlukan pH larutan diatas
pI karena protein bermuatan negatif sedangkan pengendapan oleh ion negative diperlukan pH
larutan dibawah pI karena protein bermuatan positif. Ion-ion positif yang dapat
mengendapkan protein adalah Ag+, Ca2+, Zn2+, Hg2+, Fe2+,Cu2+, dan Pb2+. Sedangkan ion-ion
negatif yang dapat mengendapkan protein adalah ion salisilat, triklorasetat, piktrat, tanat, dan
sulfosalisilat. Logam berat juga merusak ikatan disulfide karena afinitasnya yang tinggi dan
kemampuannya untuk menarik sulfur sehingga mengakibatkan denaturasi protein (Febriliaar,
2012).
Molekul protein akan membentuk ion positif dalam suasana asam, sedangkan dalam
suasana basa akan membentuk ion negatif. Pada titik isolistrik protein mempunyai muatan
positif dan negatif yang sama, sehingga tidak bergerak ke arah elektroda positif maupun
negatif apabila ditempatkan di antara kedua elektroda tersebut. Protein mempunyai titik
isolistrik yang berbeda-beda. Titik isolistrik protein mempunyai arti penting karena pada
umumnya sifat fisika dan kimia erat hubungannya dengan pH isolistrik ini. Pada pH di atas
titik

isolistrik

protein

protein

bermuatan

bermuatan

positif.

Titik

negatif,

sedangkan

isolistrik

pada

di

bawah

albumin

titik
adalah

isolistrik,
pada

pH 4,55-4,90 (Poedjiadi, 1994).


Amonium Sulfat [(NH4)2SO4] adalah senyawa kimia yang berwujud padat, berwarna
putih, berbentuk kristal (pada T > 513C), larut dalam air, tidak larut dalam alkohol dan
memiliki titik leleh 235-280C pada tekanan 1 atm. Ammonium Sulfat banyak dimanfaatkan
sebagai pupuk nitrogen dan biasa disebut pupuk ZA (Zwuafel Ammonium), terutama pada

tanaman industri dan perkebunan diantaranya tebu, tembakau, cengkeh, kopi, lada, kelapa
sawit, dan teh. Selain sebagai pupuk, senyawa Amonium Sulfat juga digunakan dalam bidang
industri seperti untuk pengolahan air, fermentasi, bahan tahan api dan penyamakan. Sebagai
pupuk, Amonium Sulfat merupakan jenis pupuk anorganik tunggal yang terdiri dari unsur
Sulfur (24% berat) dalam bentuk ion Sulfat dan unsur Nitrogen (21% berat) dalam bentuk ion
ammonium (Anonim, 2011b).
Dalam biokimia, amonium sulfat curah hujan adalah metode umum untuk
memurnikan protein dengan pengendapan selektif, sulfat Amonium sangat larut dalam air dan
sehingga dapat membuat solusi yang sangat terkonsentrasi, yang dapat "keluar garam"
protein, menyebabkan curah hujan pada konsentrasi tertentu. Ini menyediakan sarana yang
nyaman dan sederhana untuk fraksinasi campuran protein yang kompleks. Sebagaibahan
tambahan makanan, amonium sulfatdianggapumumnya diakui sebagai aman(GRAS) oleh
USA Foodand Drug Administration, dandi Uni Eropaituditunjuk olehnomorEE517. Hal ini
digunakansebagaipengatur keasamandalamtepungdan roti. Amonium sulfat digunakan dalam
skala kecil dalam penyusunan garam amonium lainnya, terutama amonium persulfat
(Anonim, 2011b).
Pengendapan pada protein yang dikarenakan penambahan ammonium sulfat pekat
menyebabkan terjadinya dehidratasi protein (kehilangan air) sehingga protein yang
mempunyai kelarutan yang rendah akan mengendap. Endapan ini akan larut kembali apabila
ditambahkan air. Pengendapan ini bersifat reversible. Pada percobaan ini larutan protein telur
dan susu masing masing ditambahkan larutan ammonium sulfat menghasilkan endapan
berwarna putih. Endapan berwarna putih terbentuk karena ammonium sulfat dapat
menyebabkan dehidratasi air, sehingga kelarutannya berkurang. Kemudian endapan ini larut
pada penambahan air. Berarti dalam protein telur dan susu mengandung gugus amino yang
memiliki kelarutan yang rendah yang menyebabkannya mengendap dan endapan yang
terbentuk bersifat reversible karena dapat dilarutkan kembali.

Albumin merupakan fraksi protein, sehingga proses pemisahannya dapat dilakukan


menggunakan prinsip-psinsip pemisahan protein. Pemisahan protein acap kali dilakukan
dengan menggunakan berbagai pelarut, elektrolit atau keduanya, untuk mengeluarkan fraksi
protein yang berbeda menurut karakteristiknya. Pemisahan protein dari berbagai campuran
yang terdiri dari berbagai macam sifat asam-basa, ukuran dan bentuk protein dapat dilakukan
dengan cara elektrofesa, kromatografi, pengendapan, dan perbedaan kelarutan (Anonim,
2010).
Pada putih telur, albumin akan berubah dari bening menjadi putih. hal ini terjadi
akibat adanya denaturasi albumin telur yang dipengaruhi oleh faktor panas yang dilakukan
dengan perebusan, faktor asam basa yang dapat membentuk ion pada beberapa gugus sisi
amino, faktor senyawa organik yang membentuk ikatan hidrogen dengan asam amino dan
factor logam berat yang dapat bereaksi dengan ikatan sulfida (Candra Prabowo, 2007).
Prinsip dari masing-masing metode pemisahan fraksi protein menurut Anonim (2010)
adalah sebagai berikut:
1. Elektroforesa
Elektroforesa merupakan teknik pemisahan senyawa yang tergantung dari pergerakan
molekul bermuatan. Jika suatu larutan campuran protein diletakkan di antara kedua elektroda,
molekul yang bermuatan akan berpindah ke salah satu elektrode dengan kecepatan tergantung
pada muatan bersihnya, dan tergantung pada medium penyangga yang digunakan. Kecepatan
2.

gerak albumin dalam elektroforesa adalah 6,0 dalam buffer berkekuatan ion 0,1 pH 8,6.
Kromatografi
Kromatografi meliputi cara pemisahan bahan terlarut dengan memanfaatkan perbedaan
kecepatan geraknya melalui medium berpori. Metode ini didasarkan pada perbedaan
kelarutan dan sifat asam basa pada masing-masing fraksi protein. Ada tiga teknik
kromatografi yang biasanya dipergunakan untuk pemisahan protein yaitu kromatografi partisi

dan kromatografi penukar ion, dan kromatografi lapis tipis.


3. Pengendapan protein sebagai garam
Sebagian besar protein dapat diendapkan dari larutan air dengan penambahan asam tertentu,
seperti asam triklorasetat dan asam perklorat. Penambahan ini menyebabkan terbentuknya

garam protein yang tidak larut. Zat pengendap lainnya adalah asam tungstat, fosfotungstat,
dan metafosfat. Protein jugha dapat diendapkan dengan kation tertentu seperti Zn dan Pb.
4. Pengendapan protein dengan penambahan garam
Pengendapan protein dengan cara penambahan garam didasarkan pada pengaruh yang
berbeda daripada penambahan garam tersebut pada kelarutan protein globuler. Pada umunya
dengan meningkatnya kekuatan ion, kelarutan protein semakin besar, tetapi setelah mencapai
titik tertentu kekuatannya justru akan semakin menurun. Pada kekuatan ion rendah gugus
protein yang terionisasi dikelilingi oleh ion lawan sehingga terjadinya interaksi antar protein,
dan akibatnya kelarutan protein akan menurun. Jenis garam netal yang biasa digunakan untuk
pengendapan protein adalah magnesium klorida, magnesium sulfat, natrium sulfat, dan
ammonium sulfat.
5. Pengendapan pada titik isoelektik
Titik isoelektrik adalah pH pada saat protein memiliki kelarutan terendah dan mudah
membentuk agregat dan mudah diendapkan. Berbagai protein globular mempunyai daya
kelarutan yang berbeda di dalam air. Variable yang mempengaruhi kelarutan ini dalah pH,
kekuatan ion, sifat dielektrik pelarut dan temperature. Setiap protein mempunyai pH
isoelektrik, dimana pada pH isoelekrik tersebut molekul protein mempunyai daya kelarutan
yang minimum.. Perubahan pH akan mengubah ionisasi gugus fungsional protein, yang
berarti

pula

mengubah

muatan

protein.

Protein

akan

mengendap

pada titik isoelektiknya, yaitu titik yang menunjukkan muatan total protein sama dengan nol
6.

(0), sehingga interaksi antar protein menjadi maksimum.


Pengedapan protein dengan pemanasan
Temperatur dalam batas-batas tertentu dapat menaikkan kelarutan protein. Pada umunya
kelarutan protein naik pada suhu lebih tinggi (0-40C). pada suhu di atas 40C kebanyakan
protein mulai tidak mantap dan mulai terjadi denaturasi. Denaturasi dapat didefinisikan
sebagai perubahan struktur sekunder, tersier, dan kuartener dari molekul protein tanpa
terjadinya pemecahan ikatan peptide. Peristiwa denaturasi biasanya diikuti dengan koagulasi
(penggumpalan). Rentang suhu denaturasi dan koagulasi sebagian besar protein sekitas 55

sampai 75C. suhu koagulasi albumin telur 56C, albumin serum sapi 67C, dan albumin
susu sapi 72C.
Ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu komponen dari suatu campuran
berdasarkan proses distribusi terhadap dua macam pelarut yang tidak saling bercampur.
Ekstraksi pelarut umumnya digunakan untuk memisahkan sejumlah gugus yang diinginkan
dan mungkin merupakan gugs pengganggu dalam analisis secara keseluruhan. Kadangkadang gugus-gugus pengganggu ini diekstraksi secara selektif.. Teknik pengerjaan meliputi
penambahan pelarut organik pada larutan air yang mengandung gugus yang bersangkutan.
Dalam pemilihan pelarut organik agar kedua jenis pelarut (dalam hal ini pelarut organik dan
air) tidak saling tercamupr satu sama lain. Selanjutnya proses pemisahan dilakukan dalam
corong pisah dengan jalan pengocokan beberapa kali. Hal yang harus diperhatikan untuk
memilih jenis pelarut yang sesuai menururt Arsyad (2001) adalah sebagai berikut:
a. Harga konstanta distribusi tinggi untuk gugus yang bersangkutan dan konstanta distribusi
rendah untuk gugus pengotor lainnya.
b. Kelarutan pelarut organik rendah dalam air
c. Viskositas kecil dan tidak membentuk emulsi dengan air
d. Tidak mudah terbakar dan tidak bersifat racun
e. Mudah melepas kembali gugus yang terlarut didalamnya untuk keperluan analisa lebih
lanjut
Ekstraksi dapat dilakukan secara kontinu atau bertahap, ekstraksi bertahap cukup
dilakukan dengan corong pisah. Campuran dua pelarut dimasukkan dengan corong pemisah,
lapisan dengan berat jenis yang lebih ringan berada pada lapisan atas.Dengan jalan
pengocokan proses ekstraksi berlangsung, mengingat bahwa proses ekstraksi merupakan
proses kesetimbangan maka pemisahan salah satu lapisan pelarut dapat dilakukan setelah
kedua jenis pelarut dalam keadaan diam. Lapisan yang ada dibagian bawah dikeluarkan dari
corong dengan jalan membuka kran corong dan dijaga agar jangan sampai lapisan atas ikut
mengalir keluar. Untuk tujuan kuantitatif, sebaiknya ekstraksi dilakukan lebih dari satu kali.
Jika sebagai metode analisis digunakan metode spekttrofotometri, tidak perlu dilakukan

pelepasan karena konsentrasi gugus yang bersangkutan dapat ditentukan langsung dalam
lapisan organik. Metode spektrofotometri dapat digunakan untuk pelarut air maupun organik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi menurut Arsyad (2001) adalah sebagai
berikut:
1. Tipe persiapan sampel
2. Waktu ekstraksi
3. Kuantitas pelarut
4. Suhu pelarut
5. Tipe pelarut

Prosedur Kerja
Disiapkan 10 mL larutan protein putih telur dalam tabung valcon. Lalu ditambahkan
garam ammonium sulfat hingga mencapai 20% jenuh (11,4 gram ammonium sulfat per 100
mL larutan). campuran diaduk dan dibiarkan selama lima menit pada temperature kamar.
Lalu disentrifugasi selama 15 menit. supernatant lalu diindahkan ke dalam tabung valcon
yang baru. Endapan yang terbentuk disebut fraksi 0-20% ammonium sulfat jenuh. Endapan
lalu dilarutkan dengan 5 mL buffer Tris pH 7. Kemudian ditambahkan garam ammonium
sulfat ke dalam supernatant dari tahap 5 hingga mencapai 50% jenuh (18,9 gram ammonium
sulfat per 100 mL larutan). campuran diaduk dan dibiarkan selama lima menit pada
temperature kamar. Lalu disentrifugasi selama 15 menit. supernatant lalu diindahkan ke
dalam tabung valcon yang baru. Endapan yang terbentuk disebut fraksi 20-50% ammonium
sulfat jenuh. Endapan lalu dilarutkan 70% jenuh (13,7 gram ammonium sulfat per 100 mL
larutan). campuran diaduk dan dibiarkan selama lima menit pada temperature kamar. Lalu
disentrifugasi selama 15 menit. supernatant lalu diindahkan ke dalam tabung valcon yang
baru. Endapan yang terbentuk disebut dengan fraksi 50-70% ammonium sulfat jenuh.
Endapan lalu diarutkan dengan 5 mL buffer Tris pH 7. Kemudian, setiap fraksi ammonium
sulfat yang dihasilkan didialysis dengan menggunakan buffer Tris pH 7 selama satu malam.

Hasil Pengamatan
Pembuatan larutan buffer tris pH 7
PERLAKUAN

HASIL PENGAMATAN

17,799 gr NaHPO4.2H2O dilarutkan dalam

Larutan tak berwarna

lbu takar 500 ml


8,8995 gr NaHPO4.2H2O dilarutkan dalam

Larutan tak berwarna

lbu takar 500 ml


15,601 gr NaHPO4.2H2O dilarutkan dalam

Larutan tak berwarna (Lar B)

lbu takar 1 L
1000 ml NaHPO4.2H2O dicampur dengan

Larutan tak berwarna (Lar A)

222 ml NaHPO4.2H2O
Larutan A + Larutan B dalam labu takar 2000

Larutan tak berwarna

ml.
1222 mL A : 778 mL B
Sampel telur ayam negri
PERLAKUAN
Putih telur dimasukan ke tabung valcon
Ditambah garam (NH4)2SO4 20 % atau 2 gr

HASIL PENGAMATAN
Cairan tak berwarna, kental
Bagian bawah menggumpal, ada supernatant

dan disentrifuge 15 menit pada 3000 rpm


Supernatant Ditambah garam (NH4)2SO4 50

Bagian bawah putih, atas supernatant 1

% atau 5 gr
Endapan ditambah 5 ml buffer tris pH 7

Larut, tak berwarna,terdapat buih diatas

dalam tabung reaksi


Supernatant 1 disentrifuge 15 menit pada

larutan (fraksi 1)
Bagian bawah putih, atas supernatant 2

3000 rpm
Endapan 2 ditambah buffer tris pH 7 dalam

Larut, tak berwarna,terdapat buih diatas

tabung reaksi
Supernatant 2 ditambah garam (NH4)2SO4 70

larutan (fraksi 2)
Bagian bawah putih, atas supernatant 3

% atau 4,2 gr dan disentrifuge 15 menit pada


3000 rpm
Endapan ditambah 5 ml buffer tris pH 7

Tak larut sempurna, warna putih keruh,

dalam tabung reaksi


fraksi 1,2,3 didialisis selama 3 jam dalam

terdapat buih diatas (fraksi 3)


Larutan berwarna putih

larutan buffer tris pH 7


Hasil dialysis fraksi 1,2,3 diukur

Larutan biru tua, data terlampir

absorbansinya dengan spektrofotometri UVVIS dengan menambahkan reagen bradford

Tabel pengukuran absorbansi = 595 nm


Pengukuran ke-

Fraksi ke1
1,520
1,503
1,529

2
1,529
1,538
1,538

3
1,548
1,529
1,557

Pengukuran ke1
0,00
0,176
1,311
1,423
1,402
1,269
0,815

2
0,00
1,079
1,213
1,271
1,255
1,111
0,790

3
0,00
1,102
1,210
1,235
1,229
1,129
0,782

1
2
3

Pengukuran larutan standard


sampel
Blanko
BSA 1 mg/ml
BSA 0,5 mg/ml
BSA 0,25 mg/ml
BSA 0,125 mg/ml
BSA 0,0625 mg/ml
BSA 0,03125 mg/ml

Perhitungan
Persamaan garis y = 0,062 x + 1,210
Fraksi 1 BSA 1

x=

0,319
0,062

= 5,1 mg/ml

Kadar Albumin cuplikan 1


Kadar Albumin cuplikan 3

Y = 1,520
1,520 = 0,062 x + 1,210

Y = 1,548

1,520 - 1,210 = 0,062 x

1,548 = 0,062 x + 1,210

x=

0,31
0,062

1,548- 1,210 = 0,062 x


= 5 mg/ml
x=

0,338
0,062

= 5,4 mg/ml

Kadar Albumin cuplikan 2


Y = 1,529
1,529 = 0,062 x + 1,210
1,529 - 1,210 = 0,062 x

Fraksi 2 BSA 1

Kadar Albumin cuplikan 1


Y = 1,503
1,503 = 0,062 x + 1,210

1,503- 1,210 = 0,062 x

Kadar Albumin cuplikan 2

x=

0,293
0,062

= 4,7 mg/ml

Y = 1,538

Y = 1,538

1,538 = 0,062 x + 1,210

1,538 = 0,062 x + 1,210

1,538 - 1,210 = 0,062 x

1,538 - 1,210 = 0,062 x


x=

0,328
0,062

x=

= 5,2 mg/ml

Kadar Albumin cuplikan 3

0,328
0,062

= 5,2 mg/ml

Kadar Albumin cuplikan 3


Y = 1,557

Y = 1,529

1,557 = 0,062 x + 1,210

1,529 = 0,062 x + 1,210

1,557 - 1,210 = 0,062 x

1,529 - 1,210 = 0,062 x


x=

0,319
0,062

= 5,1 mg/ml

Fraksi 3 BSA 1

Kadar Albumin cuplikan 1

x=

0,547
0,062

= 5,5

mg/ml
Persamaan garis y = 0,068 x + 1,098
Fraksi 1 BSA 2

Kadar Albumin cuplikan 1

Y = 1,529
1,529 = 0,062 x + 1,210

Y = 1,520

1,529 - 1,210 = 0,062 x

1,520 = 0,068 x + 1,098

x=

0,319
0,062

1,520 - 1,098= 0,068 x


= 5,1 mg/ml
x=

Kadar Albumin cuplikan 2

0,422
0,068

= 6,2 mg/ml

Y = 1,529
1,529 = 0,068 x + 1,098
1,529 - 1,098= 0,068 x

x=

0,431
0,068

= 6,3 mg/ml

Kadar Albumin cuplikan 3

x=

0,44
0,068

= 6,4 mg/ml

Y = 1,548
1,548 = 0,068 x + 1,098
1,548 - 1,098= 0,068 x

x=

0,45
0,068

Kadar Albumin cuplikan 3


Y = 1,529
1,529 = 0,068 x + 1,098

= 6,6 mg/ml

Fraksi 2 BSA 2

1,529 - 1,098= 0,068 x

x=

0,431
0,068

= 6,3 mg/ml

Kadar Albumin cuplikan 1


Fraksi 2 BSA 2

Y = 1,503
1,503 = 0,068 x + 1,098
1,503 - 1,098= 0,068 x

x=

0,405
0,068

Kadar Albumin cuplikan 1


Y = 1,529
1,529 = 0,068 x + 1,098

= 5,9 mg/ml

Kadar Albumin cuplikan 2

1,529 - 1,098= 0,068 x

x=

0,431
0,068

= 6,3 mg/ml

Y = 1,538
1,538 = 0,068 x + 1,098
1,538 - 1,098= 0,068 x

Kadar Albumin cuplikan 2


Y = 1,538
1,538 = 0,068 x + 1,098

1,538 - 1,098= 0,068 x

x=

0,44
0,068

= 6,4 mg/ml

1,529 - 1,098= 0,068 x

x=

0,439
0,102

= 4,3 mg/ml

Kadar Albumin cuplikan 3

Kadar Albumin cuplikan 3

Y = 1,557

Y = 1,548

1,557 = 0,068 x + 1,098

1,548 = 0,102 x + 1,081

1,557 - 1,098= 0,068 x

1,548 - 1,098= 0,068 x

x=

0,459
0,068

= 6,7mg/ml

Persamaan garis y = 0,102 x +


1,081

x=

= 4,5 mg/ml

Fraksi 2 BSA 3

Kadar Albumin cuplikan 1

Fraksi 1 BSA 3

Kadar Albumin cuplikan 1


Y = 1,520

Y = 1,503
1,503 = 0,102 x + 1,081
1,503 - 1,098= 0,068 x

1,520 = 0,102 x + 1,081


1,520 - 1,098= 0,068 x

x=

0,467
0,102

0,439
0,102

= 4,3 mg/ml

x=

0,422
0,102

= 4,1 mg/ml

Kadar Albumin cuplikan 2


Y = 1,538

Kadar Albumin cuplikan 2


Y = 1,529
1,529 = 0,102 x + 1,081

1,538 = 0,102 x + 1,081


1,538 - 1,098= 0,068 x

x=

0,422
0,102

= 4,1 mg/ml

Kadar Albumin cuplikan 3


Y = 1,529
1,529 = 0,102 x + 1,081
1,529 - 1,098= 0,068 x

x=

0,439
0,102

= 4,3 mg/ml

Fraksi 2 BSA 3

Kadar Albumin cuplikan 1


Y = 1,529
1,529 = 0,102 x + 1,081
1,529 - 1,098= 0,068 x

x=

0,439
0,102

= 4,3 mg/ml

Kadar Albumin cuplikan 2


Y = 1,538
1,538 = 0,102 x + 1,081
1,538 - 1,098= 0,068 x

x=

0,422
0,102

= 4,1 mg/ml

Kadar Albumin cuplikan 3


Y = 1,557

1,557 = 0,102 x + 1,081


1,557 - 1,098= 0,068 x

x=

0,457
0,102

= 4,4 mg/ml

Kurva standar pada cuplikan pertama


1.5
f(x) = 0x + 1.21
R = 0.01

1
Absorbansi

y
Linear (y)

0.5
0
0

500

1000

1500

Konsentrasi (ppm)

Kurva standar pada cuplikan kedua


1.5
f(x) = 0x + 1.1
R = 0.02

1
Absorbansi

y
Linear (y)

0.5
0
0

500

1000

Konsentrasi (ppm)

1500

Kurva standar pada cuplikan ketiga


1.5
f(x) = 0x + 1.08
R = 0.05

1
Absorbansi

y
Linear (y)

0.5
0
0

500

1000

Konsentrasi (ppm)

1500