Anda di halaman 1dari 31

13

Rekonsiliasi Fiskal
(Fiscal Reconciliation)
A. Latar Belakang
Rekonsiliasi fiskal (Koreksi Fiskal) adalah sebuah lampiran SPT
Tahunan PPh berupa kertas kerja yang berisi penyesuaian antara laba/rugi
sebelum pajak menurut komersial/ pembukuan dengan laba/rugi menurut
SPT Tahunan
Rekonsiliasi fiskal dilakukan oleh wajib pajak karena terdapat
perbedaan penghitungan khususnya laba menurut akuntansi (komersial)
dengan menurut perpajakan (fiskal) (berdasarkan Undang-Undang Nomor
10 Tahun 1994 jo Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000). Laporan
keuangan komersial atau bisnis ditujukan untuk menilai kinerja ekonomi
dan keadaan financial dari sektor privat, sedangkan laporan keuangan
fiskal lebih ditujukan untuk menghitung pajak. Untuk kepentingan
komersial atau bisnis, laporan keuangan disusun berdasarkan prinsip yang
berterima umum yaitu Standar Akuntansi Keuangan (SAK), sedangkan
untuk

kepentingan

fiskal,

laporan

keuangan

disusun

berdasarkan

peraturan perpajakan (Undang-Undang PPh). Perbedaan kedua dasar


penyusunan

laporan

keuangan

tersebut

mengakibatkan

perbedaan

penghitungan laba (rugi) suatu entitas (wajib pajak). Pertanyaan yang


kemudian muncul adalah apakah suatu entitas

harus

melakukan

pembukuan untuk memenuhi kedua tujuan tersebut? jika suatu entitas


(wajib pajak) harus menyusun dua laporan keuangan yang berbeda maka
di samping terdapat pemborosan waktu, tenaga, dan financial juga tidak
tercapainya tujuan menghindari manipulasi pajak. Untuk mengatasi
masalah tersebut, digunakan beberapa pendekatan dalam penyusunan
laporan keuangan fiskal, yaitu (Bambang Kesit) :

Laporan keuangan fiskal disusun secara beriringan dengan laporan


keuangan
disusun

komersial.

Artinya,

meskipun

laporan

berdasarkan

prinsip

akuntansi

bisnis

keuangan
tetapi

bisnis

ketentuan

perpajakan sangat dominan dalam mendasari proses penyusunan


laporan keuangan.
Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal
Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

Laporan keuangan fiskal ekstra komtabel dengan laporan keuangan


bisnis. Artinya, laporan keuangan fiskal merupakan produk tambahan, di
luar laporan keuangan bisnis. Perusahaan bebas menyelenggarakan
pembukuan berdasarkan prinsip akuntansi bisnis. Laporan keuangan
fiskal disusun secara terpisah di luar pembukuan (ekstra komtabel)

melalui penyesuaian atau proses rekonsiliasi.


Laporan keuangan fiskal disusun dengan menyisipkan ketentuanketentuan pajak dalam laporan keuangan bisnis. Artinya, pembukuan
yang diselenggarakan perusahaan didasarkan pada prinsip akuntansi
bisnis, akan tetapi jika ada ketentuan perpajakan yang tidak sesuai
dengan prinsip akuntansi bisnis maka yang diprioritaskan adalah
ketentuan perpajakan.
Untuk menjembatani adanya perbedaan tujuan kepentingan laporan

keuangan komersial dengan laporan keuangan fiskal serta tercapainya


tujuan efisiensi maka lebih dimungkinkan untuk menerapkan pendekatan
yang kedua. Perusahaan hanya menyelenggarakan pembukuan menurut
akuntansi komersial, tetapi apabila akan menyusun laporan keuangan
fiskal barulah menyusun rekonsiliasi terhadap laporan keuangan komersial
tersebut.
Skema Penyusunan Laporan Keuangan Fiskal

Dokumen Dasar

Jurnal

Buku Besar
Neraca Percobaan
Laporan Keuangan Komersial

Dicocokkan

Rekonsiliasi

Buku Tambahan

Laporan Keuangan Fiskal

Tabel Laporan Keuangan Komersial Vs Laporan Keuangan Fiskal


Keterangan
Laporan Keuangan
Laporan Keuangan
Komersial
Fiskal
Tujuan

Menghitung laba bersih


Mengukur kinerja
Mengukur keadaan posisi
Mengukur keadaan kekayaan

Menghitung besarnya pajak


terutang
Laporannya untuk pihak
fiskus

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

Laporannya untuk pihak ketiga


dan manajemen
Akibat
Sanksi dibidang perpajakan :
Pengambilan keputusan yang
Penyimpangan
Sanksi admnistrasi berupa
tidak tepat oleh manajemen
denda, bunga atau
Opini yang buruk terhadap
kenaikan
laporan keuangan yang
berhubungan langsung dengan Sanksi Pidana berupa
kreditur, investur, pemilik
kurungan atau penjara
perusahaan
Dasar Penyusunan Standar Akuntansi Keuangan
SAK disesuaikan dengan UU
Pajak berlaku

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

Keterangan
Konsep

Laporan Keuangan
Komersial
Dasar Akrual
Mempertemukan beban dengan
pendapatan yang paling tepat
Konservative, yaitu konsep hatihati; mungkin rugi yang dapat
ditaksir sudah diakui sebagai
kerugian, dengan membentuk
penyisihan (cadangan) pada
akhir tahun atau dengan
membuat adjustment
Materialitas digunakan oleh
Auditor untuk menyatakan
wajar/tidak wajar dalam
penilaian LK Komersial

Laporan Keuangan
Fiskal
Dasar Akrual Stelsel
Mempertemukan antara
biaya untuk mendapat,
menagih dan memelihara
penghasilan dengan
penghasilan yang
merupakan objek PPh
Konservative tidak
digunakan
Materialitas digunakan oleh
Auditor untuk menyatakan
wajar/ tidak wajar dalam
penilaian LK komersial
tidak digunakan

B. Penyebab Perbedaan Laporan Keuangan Komersial dan Laporan


Keuangan Fiskal
Penyebab perbedaan laporan keuangan komersial dan laporan keuangan
fiskal adalah karena terdapat perbedaan prinsip akuntansi; perbedaan
metode dan prosedur akuntansi; perbedaan pengakuan penghasilan dan
biaya; perbedaan perilaku penghasilan dan biaya.
1) Perbedaan Prinsip Akuntansi
Beberapa prinsip akuntansi berterima umum (SAK) yang telah diakui
secara umum dalam dunia bisnis dan profesi tetapi tidak diakui dalam
fiskal adalah :
Prinsip konservatisme penilaian persediaan akhir dengan terendah
antara harga pokok dan nilai realisasi bersih, dan penilaian piutang
dengan nilai taksiran realisasi bersih, diakui dalam akuntansi
komersial, tetapi tidak diakui dalam fiskal.
Prinsip harga perolehan dalam akuntansi komersial, penentuan harga
perolehan untuk barang yang diproduksi sendiri boleh memasukkan
unsur biaya tenaga kerja yang berupa natura.
Prinsip matching biaya - hasil. Akuntansi komersial mengakui biaya
penyusutan pada saat aktiva tersebut menghasilkan.
2) Perbedaan Metode dan Prosedur Akuntansi.
Metode penilaian persediaan akuntansi komersial memperbolehkan
memilih beberapa metode penghitungan/penentuan harga perolehan
persediaan, seperti Rata-Rata (Average), Masuk Pertama Keluar
Pertama (First In First Out-FIFO), Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last
In First Out-LIFO), pendekatan laba bruto, pendekatan harga jual
eceran, dan lain-lain.
Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal
Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

Metode

penyusutan

dan

amortisasi.

Akuntansi

komersial

membolehkan memilih metode penyusutan seperti metode garis


lurus, metode jumlah angka tahun, metode saldo menurun ganda,
metode jam jasa, metode jumlah unit produksi, metode berdasarkan
jenis dan kelompok, dan sebagainya.
Metode
penghapusan
piutang.
Dalam

akuntansi

komersial

penghapusan piutang ditentukan berdasarkan metode cadangan.


Sedangkan dalam fiskal penghapusan piutang dilakukan pada saat
suatu piutang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat-syarat
tertentu yang diatur dalam peraturan perpajakan.
3) Perbedaan perlakuan dan pengakuan penghasilan dan biaya.
Penghasilan tertentu diakui dalam akuntansi komersial tetapi bukan
merupakan

objek

pajak

penghasilan.

Dalam

rekonsiliasi

fiskal, penghasilan tersebut harus dikeluarkan dari total penghasilan


kena pajak atau dikurangi dari laba menurut akuntansi komersial.
Contoh : penghasilan dividen yang diterima oleh perseroan terbatas,
koperasi,

yayasan, hibah,

bantuan, iuran dan penghasilan yang

diterima dana pensiun.


Penghasilan tertentu diakui dalam akuntansi komersial tetapi tidak
pengenaan

pajaknya

bersifat

final,

dalam

rekonsiliasi

fiskal,

penghasilan tersebut harus dikeluarkan dari total penghasilan kena


pajak

atau dikurangi

Contohnya

dari

adalah bunga

laba

menurut

akuntansi

deposito/tabungan

dan

komersial.

diskonto

SBI,

penjualan saham dibursa efek baik saham pendiri maupun bukan


saham pendiri, penghasilan yang diterima penyalur.
Penyebab perbedaan lain yang berasal dari penghasilan adalah
kerugian suatu usaha di luar negeri, kerugian usaha dalam negeri
tahun tahun sebelumnya, imbalan yang diterima atas pekerjaan yang
dilakukan oleh pemegang saham atau pun hak yang mempunyai
hubungan istimewa dengan jumlah yang melebihi kewajaran.
Pengeluaran tertentu diakui dalam akuntansi komersial sebagai biaya
atau

pengurangan

penghasilan

bruto,

tetapi

dalam

fiskal,

pengeluaran tersebut tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto.


Contoh : imbalan atau penggantian yang diberikan dalam bentuk
natura, cadangan atau pemupukan yang dibentuk oleh perusahaan
Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal
Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

selain usaha bank dan sewa guna usaha dengan hak opsi usaha
asuransi dan pertambangan, pajak penghasilan, sanksi administrasi
berupa denda, bunga, kenaikan serta sanksi pidana berupa denda
yang

berkenaan

dengan

perudangan

perpajakan.

Biaya

yang dibebankan untuk kepentingan pribadi wajib pajak atau orang


yang menjadi tanggungannya, dan lain lain.
Suatu penghasilan yang tidak diakui menurut fiskal tetapi diakui
menurut akuntansi komersial dan suatu pengeluaran/biaya yang diakui
menurut fiskal tetapi tidak diakui menurut akuntansi mengakibatkan laba
menurut akuntansi lebih kecil daripada laba (penghasilan) kena pajak
menurut fiskal. Jika terdapat perbedaan seperti ini, rekonsiliasi fiskal yang
dilakukan adalah menambahkan sejumlah penghasilan dan biaya tersebut
ke dalam laba bersih menurut akuntansi, dan sebaliknya.
Diagram Rekonsiliasi Fiskal Terhadap Penghasilan

Penghasila
n
(income/re
venue)
Objek
Dikecualika
Objek
PPh
n Sbg Objek
PPh
PPh Psl. 4
Final
Psl. 4
Sesu
Tidak
(1) Huruf K
Psl. 4
(1)
ai
(2)
Sesua
UU
i UU
ove
und
r
er

Bukan
Objek
PPh
Psl. 4
(3)

Kore
Kor
Kor
Kore
Kor
ksi
eksi
eksi
ksi
eksi
Beban
Diagram
Fiskal
nega Rekonsiliasi
posi
neg Terhadap
negBeban neg
tif
tif (cost/ex
atif
atif
atif
pense)
Tidak dapat
Dapat
dikurangkan
Dikurangk

an

Sesua
Tidak
Psl.6 (1)
i UU
Sesuai
over UUunde

Ps.9 (1)

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


r
Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

Kore
ksi
posi

Kore
ksi
nega

Korek
si
positif

tif

tif
13

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

C. Beda Tetap dan Beda Waktu


1) Beda Tetap / Permanen (Permanent Different)
Beda Tetap terjadi karena adanya

perbedaan

pengakuan

penghasilan dan biaya menurut akuntansi dan menurut pajak, yaitu


adanya penghasilan dan biaya yang diakui menurut akuntansi komersial
namun tidak diakui menurut fiskal, atau sebaliknya. Beda tetap
mengakibatkan laba / rugi menurut akuntansi ( pre tax income )
berbeda secara tetap dengan Laba Kena Pajak menurut fiskal ( taxable
income ).
Beda

Tetap

biasanya

timbul

karena

peraturan

perpajakan

mengharuskan hal-hal berikut dikeluarkan dari perhitungan Penghasilan


Kena Pajak :
a) Penghasilan yang telah dikenakan PPh Final ( Pasal 4 ayat (2) UU
PPh ).
b) Penghasilan yang bukan obyek pajak ( Pasal 4 ayat (3) UU PPh ).
c) Pengeluaran yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan
usaha, yaitu mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan
serta

pengeluaran

yang

sifatnya

pemakaian

penghasilan

atau

jumlahnya melebihi kewajaran (Pasal 9 ayat (1) UU PPh).


Beda tetap (permanen) terdiri dari :
a) Beda tetap penghasilan
Penerimaan menurut PSAK merupakan penghasilan tetapi UU
PPh bukan penghasilan. Contoh : dividen atau bagian laba yang
diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai wajib pajak dalam
negeri, koperasi, BUMN atau BUMD dari penyertaan modal pada
badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia
dengan syarat :
Dividen berasal dari cadangan laba ditahan
Bagian perseroan terbatas, BUMN dan BUMD yang menerima
dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan
dividen paling rendah 25% dari jumlah modal disetor dan harus
mempunyai usaha aktif diluar kepemilikan saham tersebut.
Penerimaan yang menurut SAK bukan merupakan penghasilan
tetapi menurut UU PPh merupakan penghasilan. Contohnya:
Penerimaan hibah atau bantuan dari pihak-pihak yang ada
hubungan istimewa.
Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal
Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

Penghasilan yang dikenakan pemungutan pajak bersifat final


(Pasal 4 ayat (2) UU PPh)

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

b) Beda tetap biaya


Pengeluaran yang menurut PSAK merupakan beban tetapi
menurut UU PPh tidak boleh dikurangi penghasilan bruto :
Biaya yang tidak ada hubungan langsung untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan
Biaya untuk mendapat, menagih dan memelihara penghasilan
yang dikenakan PPh final
Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan
berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima
Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta
sanksi

pidana

berupa

denda

yang

berkenaan

dengan

pelaksanaan perundang- undangan perpajakan.


Kerugian karena penjualan aktiva atau hak yang dimiliki yang
tidak dipergunakan dalam kegiatan usaha dan dalam rangka
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan
PPh pasal 21 dan 26 yang ditanggung oleh pemberi penghasilan
kecuali dalam menghitungnya menggunakan metode gross up.
c) Beda tetap yang disebabkan tidak dipenuhi syarat-syarat khusus
Yaitu suatu penghasilan atau biaya baru akan diakui berbeda
sepanjang

tidak

memenuhi

syarat-syarat

pengakuannya

dalam

ketentuan perpajakan. Namun jika memenuhi ketentuan perpajakan


maka perbedaan yang timbul dalam pengakuan menurut fiskal akan
menjadi hilang dan pengakuannya akan sama dengan pengakuan
menurut prinsip akuntansi
Contoh :
Biaya perjalanan yang dapt dikurangkan dari penghasilan bruto
adalah biaya perjalanan pegawai perusahaan untuk kepentingan
perusahaan yang dapat dilengkapi dengan bukti-bukti yang sah.
Misal: surat tugas, tiket, kwitansi hotel, atau pembayaran ke biro
perjalanan.
Biaya promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto
adalah biaya promosi yang didukung bukti pemuatan iklan,
pembuatan barang-barang promosi harus dibedakan dengan
sumbangan.
Biaya entertainment yang dapat dikurangkan dari penghasilan
bruto adalah biaya entertainment yang benar dikeluarkan ada

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

hubungannya dengan kegiatan usaha wajib pajak dan dibuatkan


daftar normative.
Biaya penelitian dan pengembangan yang dapat dikurangkan
dari

penghasilan

bruto

adalah

usaha

yang

dilakukan

di

Indonesia.
Kerugian piutang usaha kecuali bank dan sewa guna usaha,
piutang yang dapat dihapuskan adalah piutang yang nyata-nyata
tidak dapat ditagih dan dibuatkan daftar normative.
Beda tetap yang disebabkan praktek-praktek akuntansi yang
tidak sehat.
2) Beda Waktu / Sementara / Temporer (Time Different)
Sesuai namanya,
beda waktu merupakan perbedaan perlakuan
akuntansi dan perpajakan yang sifatnya temporer.

Artinya, secara

keseluruhan beban atau pendapatan akuntansi maupun perpajakan


sebenarnya sama, tetapi berbeda alokasi setiap tahunnya.
Beda waktu biasanya timbul karena perbedaan metode yang dipakai
antara pajak dengan akuntansi dalam hal :
a) Akrual dan realisasi.
b) Penyusutan dan amortisasi.
c) Penilaian persediaan.
d) Kompensasi kerugian fiskal.
Contoh :
Penyusutan/ amortisasi
Penilaian persediaan
Rugi laba selisih kurs
Rugi laba atas penyertaan saham
Kerugian piutang kecuali bank, sewa guna usaha dengan hak opsi,
cadangan untuk

usaha

asuransi, cadangan

reklamasi

usaha

pertambangan.
Tagihan atau hutang dalam valuta asing
Harta berwujud dan tidak berwujud
Biaya pendirian dan perluasan usaha
Biaya sebelum produksi komersial
Biaya dibayar dimuka jangka panjang
Pencadangan kewajiban bersyarat
Pengakuan penghasilan dan biaya atas proyek jangka panjang
Hak penambangan dan hak pengusahaan hutan

3) Koreksi Positif dan Negatif dari Rekonsiliasi Fiskal.


Rekonsiliasi fiskal dilakukan oleh Wajib Pajak yang pembukuannya
menggunakan

pendekatan

akuntansi

komersial,

yang

bertujuan

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

mempermudah mengisi SPT Tahunan PPh dan menyusun Laporan


Keuangan Fiskal yang harus dilampirkan pada saat menyampaikan SPT
Tahunan PPh. Dengan adanya beda waktu dan beda tetap laporan
komersial harus dikoreksi terlebih dahulu sesuai dengan UndangUndang Nomor 17 Tahun 2000 untuk menghitung penghasilan kena
pajaknya. Koreksi ini disebut koreksi fiskal yang dapat dibedakan
menjadi dua jenis, yaitu :
a) Koreksi positif yaitu koreksi fiskal yang menyebabkan penghasilan
kena pajak secara fiskal bertambah, yang selanjutnya berdampak
memperbesar nilai pajak penghasilan yang terutang. Koreksi positif
terjadi apabila pendapatan menurut fiskal bertambah. Koreksi positif
biasanya dilakukan akibat adanya :
Beban yang tidak diakui oleh pajak (non-deductible expense),
Penyusutan komersial lebih besar dari penyusutan fiskal,
Amortisasi komersial lebih besar dari amortisasi fiskal,
Penyesuaian fiskal positif lainnya.
b) Koreksi negatif yaitu koreksi fiskal yang menyebabkan penghasilan
kena pajak secara fiskal menjadi berkurang yang selanjutnya
berdampak memperkecil penghasilan kena pajak. Koreksi negatif
biasanya dilakukan akibat adanya :
Penghasilan yang tidak termasuk objek pajak,
Penghasilan yang dikenakan PPh final,
Penyusutan komersial lebih kecil daripada penyusutan fiskal,
Amortisasi komersial lebih kecil daripada amortisasi fiskal,
Penghasilan yang ditangguhkan pengakuannya,
Penyesuaian fiskal negatif lainnya.
D. Teknik (Format) Rekonsiliasi Fiskal
Teknik rekonsiliasi fiskal dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1) Jika suatu penghasilan diakui menurut akuntansi komersial tetapi tidak
diakui menurut fiskal, rekonsiliasi dilakukan dengan mengurangkan
sejumlah penghasilan tersebut dari penghasilan menurut akuntansi
komersial, yang berarti mengurangi laba menurut akuntansi komersial,
dan sebaliknya.
2) Jika suatu biaya/pengeluaran diakui menurut akuntansi komersial tetapi
tidak diakui sebagai pengurang penghasilan bruto menurut fiskal,
rekonsiliasi

dilakukan

dengan

mengurangkan

sejumlah

biaya/pengeluaran tersebut dari biaya menurut akuntansi komersial,


Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal
Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

yang berarti menambah laba menurut akuntansi komersial dan


sebaliknya.
Contoh format Rekonsiliasi Fiskal
Wajib pajak X
Rekonsiliasi fiskal
Tahun 20xx
Laba menurut Laporan Keuangan komersial ............. Rp
Koreksi Positif (Ditambah)
Pengeluaran yang tidak dapat
Rp
XXX
dikurangkan ...........................................
Pengeluaran berkaitan penghasilan
yang bukan objek pajak ......................... Rp
XXX
Pengeluaran berkaitan penghasilan
yang telah dikenakan pajak bersifat
Rp
XXX
final ........................................................
Beda penghitungan antara PSAK dan
Rp
XXX
PPh .........................................................
Total koreksi Positif .................................................... Rp
Koreksi Negatif (Dikurangi)
Penghasilan yang bukan objek pajak ..... Rp XXX
Penghasilan yang telah dikenakan pajak
bersifat final ........................................... Rp XXX
Beda penghitungan antara PSAK dan
Rp XXX
PPh .........................................................
Total koreksi Negatif .................................................. Rp

XXX

XXX

XXX

Penghasilan Kena Pajak menurut fiskal ...................... Rp


XXX
Bedaan dimaksudkan sebagai koreksi positif apabila :
PPh Terutang .............................................................. Rp
XXX
1) Pendapatan
bertambah
menurut fiskal.
Laba setelah
PPh .......................................................
Rp
XXX
Pendapatan menurut fiskal lebih besar dari pada menurut akuntansi
atau suatu penghasilan diakui menurut fiskal tetapi tidak diakui
menurut akuntansi.
2) Biaya/pengeluaran berkurang menurut fiskal.
Biaya/ pengeluaran menurut fiskal lebih kecil dari pada menurut
akuntansi atau suatu biaya/ pengeluaran tidak diakui menurut fiskal
tetapi diakui menurut akuntansi.

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

Bedaan dimaksudkan sebagai koreksi negatif apabila :


1) Pendapatan berkurang menurut fiskal.
Pendapatan menurut fiskal lebih kecil dari pada menurut akuntansi atau
suatu penghasilan tidak diakui menurut fiskal (bukan objek pajak) tetapi
diakui menurut akuntansi.
2) Biaya/pengeluaran bertambah menurut fiskal.
Biaya atau pengeluaran menurut fiskal lebih besar dari pada menurut
akuntansi atau suatu biaya/ pengeluaran diakui menuruttt fiskal tetapi
tidak diakui menurut akuntansi.
3) Suatu pendapatan telah dikenakan pajak penghasilan bersifat final.
Format lain dalam penyusunan rekonsiliasi fiskal
Wajib pajak X
Rekonsiliasi fiskal
Tahun 20xx
Keterangan
Pendapatan :
Biaya-Biaya :
Laba
(Penghasilan
)

Menurut
Akuntansi

Koreksi Fiskal
Beda
Beda
Tetap
Waktu

Laba Bersih
sebelum
pajak

Menurut
Fiskal

Laba
(Penghasila
n Kena
Pajak)

Rekonsiliasi fiskal dilakukan oleh wajib pajak badan dan wajib pajak
orang

pribadi

pembukuannya

yang

wajib

menggunakan

menyelenggarakan
pendekatan

pembukuan,

akuntansi

dan

(komersial).

Rekonsiliasi fiskal dilakukan untuk mempermudah pengisian SPT tahunan


PPh, dan menyusun laporan keuangan fiskal yang harus dilampirkan pada
saat menyampaikan SPT tahunan PPh.

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

E. Perhitungan Pajak Terutang


Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu
saat, dalam Masa Pajak, dalam Tahun Pajak, atau dalam Bagian Tahun
Pajak

sesuai

dengan

ketentuan

peraturan

perundang-undangan

perpajakan.
Perhitungan PPh terutang untuk Badan Tahun 2012, yaitu :
1) Tarif PPh Pasal 17 ayat 1 huruf (b)
Berdasarkan Pasal 17 ayat 1

huruf

(b)

undang-undang

Pajak

Penghasilan nomor 36 tahun 2008 bahwa Wajib Pajak badan dalam


negeri dan bentuk usaha tetap adalah sebesar 28% (dua puluh delapan
persen). Untuk tahun pajak 2010 diatur pada Pasal 17 ayat 2a menjadi
25%. untuk itu PPh terutang badan pada tahun 2012 menggunakan tarif
25 %.
Contoh :
PT. Sempurna memiliki jumlah peredaran bruto dalam tahun pajak 2012
Rp.54.000.000.000,00 dan jumlah Penghasilan Kena Pajak sebesar
Rp.4.000.000.000,00.
PPh

terutangnya

adalah

25%

Rp.4.000.000.000,00

Rp.1.000.000.000,00
2) Tarif PPh Pasal 17 ayat 2 huruf (b)
Tarif ini diterapkan bagi Wajib Pajak badan dalam negeri yang berbentuk
perseroan terbuka yang paling sedikit 40% dari jumlah keseluruhan
saham yang disetor diperdagangkan di bursa efek di Indonesia dan dan
memenuhi persyaratan tertentu lainnya. Wajib Pajak tersebut dapat
dapat memperoleh tarif sebesar 5% lebih rendah daripada tarif
sebagaimana dimaksud pada pasal 17 ayat 1 huruf b dan ayat 2a
Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008. PPh Terutang dihitung dengan
cara mengalikan tarif dengan Penghasilan Kena Pajak.
Contoh :
PT. Meranti Tbk memiliki Penghasilan Kena Pajak tahun 2012 sebesar
Rp.1.250.000.000,00.
PPh terutangnya = (25% - 5% ) x Rp 1.250.000.000,00 =

Rp

250.000.000,00
Peraturan terkait : Peraturan Pemerintah Nomor 81 tahun 2007 tentang
penurunan tarif PPh bagi Wajib Pajak Badan dalam negeri yang berbentuk
perseroan terbuka.
Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal
Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

3) Tarif PPh Pasal 31 E


Undang-undang Pajak Penghasilan nomor 36 tahun 2008 dijelaskan
bahwa Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai
dengan Rp. 50.000.000.000 (lima puluh milyar rupiah) mendapat
fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% (lima puluh persen) dari
tarif pasal 17

ayat 1 huruf b dan ayat 2a yang dikenakan atas

Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan


Rp.4.800.000.000,00 (empat milyar delapan ratus juta rupiah).
Penghitungan PPh terutang berdasarkan Pasal 31E dibagi menjadi dua
cara yaitu :
a) Jika peredaran bruto sampai dengan Rp. 4.800.000.000,00 maka
penghitungan PPh terutang yaitu sebagai berikut :
PPh Terutang = 50% x 25% x Seluruh Penghasilan Kena Pajak.
Contoh :
Peredaran bruto PT Saraswati tahun Pajak
2012 sebesar
Rp.4.500.000.000,00 dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp.
500.000.000,00.
Maka PPh terutangnya adalah :
= 50% x 25% x Rp. 500.000.000,00
= Rp. 62.500.000,00
b) Jika peredaran bruto lebih dari Rp.4.800.000.000,00 sampai dengan
Rp.50.000.000.000,00 penghitungan PPh terutangnya adalah sebagai
berikut :
PPh
Terutang

(50% x 25%) x
Penghasilan Kena Pajak
dari bagian peredaran
bruto yang
memperoleh fasilitas

25% x Penghasilan
Kena Pajak dari bagian
peredaran bruto yang
tidak memperoleh
fasilitas

Cara menghitung Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto


yang memperoleh fasilitas yaitu :
4.800.000.00
0
Penghasilan Kena
X
Pajak
Peredaran
Cara menghitung Bruto
Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran

bruto yang tidak memperoleh fasilitas yaitu Penghasilan Kena Pajak


dari bagian bruto yang memperoleh fasilitas.
Contoh :
Peredaran bruto PT Nusantara tahun pajak 2012 sebesar Rp.
30.000.000.000,00 dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp
3.000.000.000,00. Cara Menghitung PPh Terutang Badan tahun 2012
untuk PT Nusantara sebagai berikut :
Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal
Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang


memperoleh fasilitas :
= (Rp 4.800.000.000,00 : Rp
30.000.000.000,00) x Rp
3.000.000.000,00
= Rp. 480.000.000,00
Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto tidak
yang memperoleh fasilitas :
= Rp 3.000.000.000,00 - Rp 480.000.000,00
= Rp 2.520.000.000,00
PPh Badan yang terutang tahun 2012 adalah :
= (50% x 25% x Rp 480.000.000,00) + ( 25% x Rp
2.520.000.000,00)
= Rp 60.000.000,00 + Rp 630.000.000,00
= Rp 690.000.000,00
Catatan : Untuk keperluan penerapan tarif pajak, jumlah Penghasilan
Kena Pajak dibulatkan ke bawah dalam ribuan rupiah penuh.

F. Kredit Pajak
Untuk mendapatkan pajak yang masih harus dibayar pada suatu
tahun pajak maka atas pajak yang terhitung perlu dikurangi dengan kredit
pajak.
Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibayar
sendiri oleh Wajib Pajak ditambah dengan pokok pajak yang terutang
dalam Surat Tagihan Pajak karena Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan
tidak atau kurang dibayar, ditambah dengan pajak yang dipotong atau
dipungut, ditambah dengan pajak atas penghasilan yang dibayar atau
terutang di luar negeri, dikurangi dengan pengembalian pendahuluan
kelebihan pajak, yang dikurangkan dari pajak yang terutang.
Kredit Pajak untuk Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak Masukan
yang

dapat

dikreditkan

setelah

dikurangi

dengan

pengembalian

pendahuluan kelebihan pajak atau setelah dikurangi dengan pajak yang


telah dikompensasikan, yang dikurangkan dari pajak yang terutang.
Kredit pajak yang dapat dikurangkan terhadap pajak yang terutang
pada akhir tahun adalah pajak penghasilan yang telah dilunasi dalam
tahun berjalan oleh WP dalam negeri dan BUT baik yang dibayar sendiri
oleh WP dan BUT tersebut maupun yang dipotong serta dipungut oleh
pihak lain, berupa :
1) PPh yang dipotong pemberi kerja (pasal 21)
Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal
Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

2)
3)
4)
5)

PPh yang dipungut pihak lain (pasal 22)


PPh yang dipotong pihak lain (pasal 23)
Kredit PPh luar negeri (pasal 24)
Pembayaran yang dilakukan sendiri oleh WP (pasal 25)
Kredit pajak penghasilan adalah pajak-pajak yang telah dibayar

sendiri atau telah dipotong oleh pihak lain yang berkaitan dengan
transaksi antara WP dengan pihak lain. Kredit pajak penghasilan dapat
dibedakan sebagai berikut :
1) Pajak yang dipotong/ dipungut pihak lain
2) Pajak yang dibayar sendiri
3) Surat Tagihan Pajak
G. Pajak Akhir Tahun
Pada akhir tahun pajak, WP dalam negeri, BUT diwajibkan untuk
melakukan perhitungan pajak yang terutang atas seluruh penghasilan
yang diterima atau diperoleh dalam tahun pajak yang bersangkutan,
kecuali atas penghasilan yang telah dipotong pajak bersifat final. Pajak
yang terutang pada akhir tahun dikurangi dengan kredit pajak untuk
tahun yang bersangkutan. Hasil pengurangan pajak penghasilan yang
terutang pada akhir tahun dengan kredit pajak untuk tahun yang
bersangkutan akan berakibat pajak penghasilan yang terutang lebih besar
atau lebih kecil dari kredit pajak ataupun nihil. Mengacu pada pasal 28,
pasal 28 A, dan pasal 29 UU pajak penghasilan.
Sebagaimana yang diungkapkan dalam Bab IV tentang perhitungan
pajak pada akhir tahun pasal 28, yang berbunyi :
1) Bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, pajak yang
terutang dikurangi dengan kredit pajak untuk tahun pajak yang
bersangkutan, berupa :
a. pemotongan pajak atas penghasilan dari pekerjaan, jasa, dan
kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21;
b. pemungutan pajak atas penghasilan dari kegiatan di bidang impor
atau kegiatan usaha di bidang lain sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 22;
c. pemotongan pajak atas penghasilan berupa dividen, bunga, royalti,
sewa, hadiah dan penghargaan, dan imbalan jasa sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 23;
Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal
Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

d. pajak yang dibayar atau terutang atas penghasilan dari luar negeri
yang boleh dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24;
e. pembayaran yang dilakukan oleh Wajib Pajak sendiri sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 25;
f. pemotongan pajak atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 26 ayat (5).
2) Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi
pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan peraturan
perundangundangan di bidang perpajakan yang berlaku tidak boleh
dikreditkan dengan pajak yang terutang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1).
Penjelasan Pasal 28 Ayat 1
Pajak yang telah dilunasi dalam tahun berjalan, baik yang dibayar sendiri
oleh Wajib Pajak ataupun yang dipotong serta dipungut oleh pihak lain,
dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang pada akhir tahun pajak
yang bersangkutan.
Contoh :
Pajak Penghasilan yang terutang ...................
Kredit pajak :
Pemotongan pajak dari pekerjaan (Pasal
21) ..............................................................
Pemungutan pajak oleh pihak lain (Pasal
22) ..............................................................
Pemotongan pajak dari modal (Pasal 23) . . .
Kredit pajak luar negeri (Pasal 24) ..............

Rp
80.000.000,00
Rp 5.000.000,00

Rp
10.000.000,00
Rp 5.000.000,00
Rp
15.000.000,00
Dibayar sendiri oleh Wajib Pajak (Pasal 25)
Rp
10.000.000,00
Jumlah Pajak Penghasilan yang dapat Rp
dikreditkan ......................................................
45.000.000,00
Pajak Penghasilan yang masih harus dibayar . Rp
35.000.000,00

(+
)
(-)

Sementara menurut pasal 28A disebutkan bahwa Apabila pajak yang


terutang untuk suatu tahun pajak ternyata lebih kecil dari jumlah kredit
pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1), maka setelah
dilakukan

pemeriksaan,

kelebihan

pembayaran

pajak

dikembalikan

setelah diperhitungkan dengan utang pajak berikut sanksi-sanksinya.


Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal
Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 17B ayat (1) Undang-Undang


tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Direktur Jenderal
Pajak

atau

pemeriksaan

pejabat

yang

sebelum

ditunjuk

berwenang

dilakukan

pengembalian

menjadi

pertimbangan

untuk

mengadakan

atau

perhitungan

kelebihan pajak.
Hal-hal

yang

harus

sebelum

dilakukan

pengembalian atau perhitungan kelebihan pajak adalah :


a. kebenaran materiil tentang besarnya pajak penghasilan yang terutang;
b. keabsahan bukti-bukti pungutan dan bukti-bukti potongan pajak serta
bukti pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sendiri selama dan untuk
tahun pajak yang bersangkutan.
Oleh karena itu untuk kepentingan pemeriksaan, Direktur Jenderal
Pajak atau pejabat lain yang ditunjuk diberi wewenang untuk mengadakan
pemeriksaan atas laporan keuangan, buku-buku, dan catatan lainnya serta
pemeriksaan lain yang berkaitan dengan penentuan besarnya pajak
penghasilan yang terutang, kebenaran jumlah pajak dan jumlah pajak
yang telah dikreditkan dan untuk menentukan besarnya kelebihan
pembayaran pajak yang harus dikembalikan. Maksud pemeriksaan ini
untuk memastikan bahwa uang yang akan dibayar kembali kepada Wajib
Pajak sebagai restitusi itu adalah benar merupakan hak Wajib Pajak
Dalam pasal 29 dinyatakan bahwa apabila pajak yang terutang untuk
suatu tahun Pajak ternyata lebih besar daripada kredit pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1), kekurangan pembayaran pajak yang
terutang harus dilunasi sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan disampaikan.
Ketentuan ini mewajibkan Wajib Pajak untuk melunasi kekurangan
pembayaran pajak yang terutang menurut ketentuan Undang-Undang ini
sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan
dan paling lambat pada batas akhir penyampaian Surat Pemberitahuan
Tahunan. Apabila tahun buku sama dengan tahun kalender, kekurangan
pajak tersebut wajib dilunasi paling lambat tanggal 31 Maret bagi Wajib
Pajak orang pribadi atau 30 April bagi Wajib Pajak badan setelah tahun
Pajak berakhir, sedangkan apabila tahun buku tidak sama dengan tahun
kalender, misalnya dimulai tanggal 1 Juli sampai dengan 30 Juni,
Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal
Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

kekurangan pajak wajib dilunasi paling lambat tanggal 30 September bagi


Wajib Pajak orang pribadi atau 31 Oktober bagi Wajib Pajak badan.

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

H. Pembahasan Kasus
PT. Arkeikum merupakan perusahaan yang bergerak di bidang
wholesaling dan retailing bagi segmen konsumen bisnis maupun segmen
konsumen

akhir.

PT.

Arkeikum

merupakan

perusahaan

yang

45%

sahamnya dimiliki oleh publik dan diperdagangkan di bursa efek di


Indonesia.

Perusahaan

melaksanakan

pembukuan

terkait

kegiatan

akuntansinya. Berikut merupakan data yang diperoleh atas laporan


keuangan PT. Arkeikum di tahun 2012.
Penjualan bruto
Retur penjualan
Diskon penjualan
Penjualan netto
Harga Pokok Penjualan
Persediaan barang dagangan awal
Pembelian barang dagangan
Persediaan barang dagangan akhir
Laba bruto
Biaya pemasaran
Gaji dan bonus pegawai tetap
Tunjangan pajak penghasilan
Pembagian sembako
Pendidikan karyawan
Promosi dan iklan
Jamuan makan
Telepon, air, dan listrik
Penyusutan
Biaya bahan bakar dan tol
Total biaya pemasaran
Biaya umum dan administrasi (G&A)
Gaji dan bonus pegawai tetap
PPh 21 ditanggung perusahaan
Honorarium dan komisi pegawai tidak tetap
Seragam satpam gudang
Telepon, air, dan listrik
Biaya sewa kantor
Penyusutan
Royalti
Biaya pembangunan pabrik baru
Penghapusan piutang
Pemeliharaan kendaraan
Alat tulis kantor
Biaya bahan bakar dan tol
Asuransi kendaraan
PBB gudang
Riset

Nominal Akuntansi
74.350.000.000
(1.875.000.000)
(576.500.000)
71.898.500.000
(15.432.500.000)
(56.984.500.000)
36.857.500.000
(35.559.500.000)
36.339.000.000
(1.864.000.000)
(92.740.000)
(364.835.000)
(986.320.000)
(3.876.500.000)
(284.250.000)
(734.250.000)
(50.625.000)
(54.320.000)
(8.307.840.000)
(2.465.000.000)
(143.400.000)
(1.486.542.000)
(94.560.000)
(1.055.600.000)
(1.633.500.000)
(1.254.000.000)
(660.000.000)
(4.365.000.000)
(4.763.480.000)
(87.200.000)
(154.380.000)
(328.600.000)
(364.700.000)
(762.300.000)
(3.860.000.000)

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

Pendidikan karyawan
Family gathering
Total biaya umum dan administrasi (G&A)
Laba operasional

(1.340.000.000)
(134.700.000)
(24.952.962.000)
3.078.198.000

Pendapatan non operasi


Dividen dari PT. Negarakertagama
Dividen dari PT. Sutasoma
Sewa mesin
Bunga deposito (setelah pajak)
Dividen dari Bremen Ag.
Total pendapatan non operasi

382.500.000
134.900.000
67.400.000
34.280.000
276.500.000
895.580.000

Biaya non operasi


Dividen bagi PT. Smaradhahana
Dividen bagi PT. Arjuna Wiwaha
Dividen bagi publik
Bunga pinjaman
Sumbangan
Denda pajak
Rugi selisih kurs
Biaya lain - lain
Total biaya non operasi
Laba sebelum pajak

(28.700.000)
(16.300.000)
(60.000.000)
(76.275.000)
(764.820.000)
(452.300.000)
(124.890.000)
(742.950.000)
(2.266.235.000)
1.707.543.000

Berikut merupakan keterangan yang menjelaskan perincian berbagai elemen


yang terdapat di laporan keuangan PT. Arkeikum.
a.

Perusahaan mencatat penjualan berdasar prinsip akrual. Atas jumlah


tercantum, terdapat nilai pendapatan sebesar Rp 650.000.000,00 atas
penjualan merchandise Olimpiade 2012 yang diharapkan hanya akan
terjadi di tahun penyelenggaraan event olahraga tersebut.

b.

Retur dan diskon penjualan dicatat ketika serah terima barang telah
dilakukan.

c.

Persediaan barang dagangan dicatat dengan metode FIFO.

d.

Atas

gaji

dan

bonus

pegawai

tetap

bidang

pemasaran,

Rp

1.300.000.000,00 diberikan dalam bentuk gaji bulanan dan sisanya


dalam bentuk bonus tahunan.
e.

Atas tunjangan pajak penghasilan, Rp 32.500.000,00 diberikan bagi


pegawai dengan level supervisor, sedangkan sisanya diberikan bagi
pegawai dengan level manajer dan direktur.

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

f.

Atas

biaya

175.000.000,00

pendidikan
diberikan

karyawan
sebagai

bidang

tunjangan

pemasaran,

Rp

pengganti

gaji

cuti

bulanan.
g.

Atas biaya promosi dan iklan, 25% di antaranya diwujudkan melalui


sampling produk secara cuma cuma kepada konsumen akhir.

h.

Atas biaya jamuan makan, Rp 180.000.000 telah dilengkapi daftar


nominatif penerima secara lengkap.

i.

Atas biaya telepon, air, dan listrik bidang pemasaran, meliputi Rp


334.250.000,00 untuk biaya air dan listrik. Seperempat dari biaya
telepon dianggarkan dalam bentuk penyediaan pulsa bagi Direktur
Pemasaran, seperempat lain dianggarkan atas pembelian perangkat
PDA baru bagi salesperson.

j.

Atas biaya penyusutan bidang pemasaran, meliputi penyusutan


dengan metode garis lurus atas:
1.

Telepon genggam direktur, dibeli tahun 2011 dengan nilai


tercatat

Rp

25.000.000,

disusutkan

selama

tahun.

Sesuai

peraturan pajak termasuk aset kelompok 1.


2.

Smartphone bagi salesperson yang berdinas di luar lapangan,


dibeli tahun 2009 dan disusutkan selama 4 tahun dan sesuai
peraturan pajak termasuk aset kelompok 1.

3.

PDA baru bagi salesperson yang dibeli di akhir Juni tahun 2012,
disusutkan dengan masa manfaat 2 tahun, dan sesuai peraturan
pajak termasuk aset kelompok 1.

k.

Atas biaya bahan bakar dan tol bidang pemasaran, separuh di


antaranya dialokasikan bagi Direktur Pemasaran.

l.

Atas

honorarium

dan

komisi

pegawai

tidak

tetap,

termasuk

pembayaran senilai Rp 786.542.000,00 kepada mantan pegawai yang


masih dimanfaatkan jasanya secara lepas.
m. Atas biaya sewa kantor, meliputi pembayaran bagi kurun 30 bulan dan
dibayarkan di bulan Januari 2012.
n.

Biaya penyusutan bidang G&A meliputi penyusutan dengan metode


garis lurus atas:

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

1.

Gedung

pabrik

lama

dengan

nilai

kapitalisasi

awal

Rp

13.850.000.000,00 yang diperoleh tahun 1990 dan disusutkan


2.

dengan masa manfaat 25 tahun.


Kendaraan niaga bagi keperluan

distribusi

dengan

nilai

kapitalisasi awal Rp 6.000.000.000,00 yang diperoleh tahun 2008


dan
3.

disusutkan

dengan

masa

manfaat

10

tahun.

Peraturan

perpajakan menggolongkan aset ke dalam kelompok 2.


Kendaraan dinas bagi Direktur Utama dengan nilai kapitalisasi
awal Rp 2.400.000.000,00 yang diperoleh akhir September 2012 dan
disusutkan dengan masa manfaat 6 tahun. Peraturan perpajakan

o.

menggolongkan aset ke dalam kelompok 2.


Atas royalti, merupakan pembayaran bagi suatu perusahaan di luar
negeri. Di dalamnya termasuk beban PPh 26 yang ditanggung PT.
Arkeikum.

p.

Atas biaya penghapusan piutang, senilai Rp 3.763.480.000,00 telah


diberitahukan kepada Ditjen Pajak, namun Rp 500.000.000,00 di antara
jumlah terlapor tersebut belum didaftarkan ke BUPLN.

q.

Atas biaya pemeliharaan kendaraan, Rp 10.000.000,00 merupakan


biaya pemasangan sistem keamanan di kendaraan Direktur Utama.

r.

Atas biaya bahan bakar dan tol bidang G&A, 15% di antaranya
dialokasikan bagi Direktur Utama.

s.

Atas biaya riset, 50% di antaranya ditenderkan dan dilaksanakan di


luar Indonesia.

t.

Atas dividen PT. Negarakertagama, separuhnya berasal dari laba


ditahan. PT. Arkeikum memiliki proporsi kepemilikan 35%.

u.

Atas dividen PT. Sutasoma, seluruhnya diberikan dalam bentuk


instrumen investasi. PT. Arkeikum memiliki proporsi kepemilikan 15%.

v.

Atas dividen dari Bremen Ag., PT. Arkeikum telah mencatatnya secara
netto terhadap pajak di luar negeri dengan tarif 30%.

w.

Bunga sebesar 8% p.a. atas deposito PT. Arkeikum dibayarkan di akhir


tahun. Pokok deposito bernilai tetap sepanjang tahun.

x.

Bunga pinjaman sebesar 12% p.a. dibayarkan di akhir tahun, dengan


nilai pokok pinjaman bernilai tetap sepanjang tahun.

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

y.

Sumbangan diberikan untuk pembangunan panti asuhan rubuh di


sekitar perusahaan dan pengadaan sarana bermain di dalamnya.

z.

Biaya lain lain tidak memenuhi ketentuan perpajakan sebagai


deductible expense.

Kredit pajak yang telah dipotong pihak lain meliputi:


1.

PPh 22 atas impor dengan DPP PPN Rp 21.750.000.000,00.

2.
3.

Perusahaan telah memiliki API atas impor tersebut.


PPh 23 yang dipotong pihak lain, sebesar Rp 631.250.000,00.
Angsuran
PPh
25
yang
telah
dibayar,
sebesar
Rp

4.

855.750.000,00.
STP PPh 25 sebesar Rp 451.500.000,00 termasuk denda Rp
35.500.000,00.

Pertanyaan

a.

Bagaimanakah rekonsiliasi fiskal ditetapkan


atas PT. Arkeikum?

b.

Berapakah besar PPh terutang dan kredit pajak


di periode berjalan?

c.

Berapakah

pajak

kurang

(lebih)

bayar

di

periode berjalan?
d.

Berapakah angsuran PPh 25 per bulan yang


seharusnya dibayarkan di periode mendatang?

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

Pembahasan :

Penjualan bruto
Retur penjualan
Diskon penjualan
Penjualan netto
Harga Pokok Penjualan
Persediaan barang
dagangan awal
Pembelian barang
dagangan
Persediaan barang
dagangan akhir
Laba bruto
Biaya pemasaran
Gaji dan bonus pegawai
tetap
Tunjangan pajak
penghasilan
Pembagian sembako
Pendidikan karyawan
Promosi dan iklan
Jamuan makan
Telepon, air, dan listrik
Penyusutan
Biaya bahan bakar dan tol
Total biaya pemasaran

Nominal
Akuntansi
74.350.000.000
(1.875.000.000)
(576.500.000)
71.898.500.000

Koreksi
Positif

Koreksi
Negatif

Nominal
Fiskal
74.350.000.000
(1.875.000.000)
(576.500.000)
71.898.500.000

(15.432.500.000)

(15.432.500.000)

(56.984.500.000)

(56.984.500.000)

36.857.500.000
(35.559.500.000)
36.339.000.000

36.857.500.000
(35.559.500.000)
36.339.000.000

(1.864.000.000)

(1.864.000.000)

(92.740.000)
(364.835.000)
(986.320.000)
(3.876.500.000)
(284.250.000)
(734.250.000)
(50.625.000)
(54.320.000)
(8.307.840.000)

364.835.000
104.250.000
150.000.000
14.375.000
13.580.000

(92.740.000)
0
(986.320.000)
(3.876.500.000)
(180.000.000)
(584.250.000)
(36.250.000)
(40.740.000)
(8.307.840.000)

Keterangan :
Koreksi positif atas biaya telepon, air, dan listrik bidang pemasaran
= 50% Biaya pulsa direktur
+ Pembelian PDA yang seharusnya
dikapitalisasi
= 50% * * 400.000.000
+ * 400.000.000
= 50.000.000
+ 100.000.000
= 150.000.000
Penyusutan bidang pemasaran menurut akuntansi
= 20% * 25.000.000
+ Penyusutan smartphone
+ 6/12 * 50%
100.000.000
= 5.000.000
+ Penyusutan smartphone
+ 25.000.000
= 30.000.000
+ Penyusutan smartphone
Penyusutan bidang pemasaran menurut fiskal
= 50% * 25% * 25.000.000 + Penyusutan smartphone
100.000.000
= 3.125.000
+ Penyusutan smartphone
= 15.625.000
+ Penyusutan smartphone

+ 6/12 * 25% *
+ 12.500.000

Koreksi positif atas penyusutan bidang pemasaran


Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal
Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

= Penyusutan menurut akuntansi


- Penyusutan menurut fiskal
= (30.000.000 + Penyusutan smartphone)
- (15.625.000 + Penyusutan
smartphone)
= 14.375.000

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

Nominal
Akuntansi
Biaya umum dan administrasi (G&A)
Gaji dan bonus pegawai
tetap
(2.465.000.000)
PPh 21 ditanggung
perusahaan
(143.400.000)
Honorarium dan komisi
pegawai tidak tetap
(1.486.542.000)
Seragam satpam gudang
(94.560.000)
Telepon, air, dan listrik
(1.055.600.000)
Biaya sewa kantor
(1.633.500.000)
Penyusutan
(1.254.000.000)
Royalti
(660.000.000)
Biaya pembangunan
pabrik baru
(4.365.000.000)
Penghapusan piutang
(4.763.480.000)
Pemeliharaan kendaraan
(87.200.000)
Alat tulis kantor
(154.380.000)
Biaya bahan bakar dan tol
(328.600.000)
Asuransi kendaraan
(364.700.000)
PBB gudang
(762.300.000)
Riset
(3.860.000.000)
Pendidikan karyawan
(1.340.000.000)
Family gathering
(134.700.000)
Total biaya umum dan
administrasi (G&A)
(24.952.962.000)
Laba operasional
3.078.198.000

Koreksi
Positif

Korek
si
Negat
if

Nominal
Fiskal

(2.465.000.000)
143.400.000

980.100.000
466.500.000
110.000.000

(1.486.542.000)
(94.560.000)
(1.055.600.000)
(653.400.000)
(787.500.000)
(550.000.000)

4.365.000.000
1.500.000.000
5.000.000
24.645.000
1.930.000.000

0
(3.263.480.000)
(82.200.000)
(154.380.000)
(303.955.000)
(364.700.000)
(762.300.000)
(1.930.000.000)
(1.340.000.000)
(134.700.000)
(24.952.962.000)
3.078.198.000

Keterangan :
Koreksi positif atas biaya sewa kantor
= Proporsi biaya sewa dibayar di muka
= 18/30 * 1.633.500.000
= 980.100.000
Penyusutan bidang G&A menurut fiskal
= Penyusutan kendaraan niaga
+ Penyusutan kendaraan direktur
= 12,5% *6.000.000.000
+ 50% * 3/12 * 12,5% * 2.400.000.000
= 750.000.000
+ 37.500.000
= 787.500.000
Gedung pabrik lama tidak disusutkan menurut fiskal, sebab telah melewati
batas masa manfaat fiskal selama 20 tahun.
Koreksi positif atas penyusutan bidang G&A
= Penyusutan menurut akuntansi - Penyusutan menurut fiskal
= 1.254.000.000
- 787.500.000
= 466.500.000
Koreksi positif atas biaya royalti
Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal
Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

= Beban PPh 26 yang tidak boleh dibebankan


= 20% / 120% * 660.000.000
= 110.000.000
Nominal
Akuntansi
Pendapatan non operasi
Dividen dari PT.
Negarakertagama
Dividen dari PT. Sutasoma
Sewa mesin
Bunga deposito (setelah
pajak)
Dividen dari Bremen Ag.
Total pendapatan non operasi
Biaya non operasi
Dividen bagi PT.
Smaradhahana
Dividen bagi PT. Arjuna
Wiwaha
Dividen bagi publik
Bunga pinjaman
Sumbangan
Denda pajak
Rugi selisih kurs
Biaya lain lain
Total biaya non operasi
Laba sebelum pajak

Koreksi
Positif

Koreksi
Negatif

Nominal
Fiskal

382.500.000
134.900.000
67.400.000

(191.250.000)

191.250.000
134.900.000
67.400.000

34.280.000
276.500.000
895.580.000

(34.280.000)
118.500.000

0
395.000.000
895.580.000

(28.700.000)

28.700.000

(16.300.000)
(60.000.000)
(76.275.000)
(764.820.000)
(452.300.000)
(124.890.000)
(742.950.000)
(2.266.235.000)

16.300.000
60.000.000
64.275.000
764.820.000
452.300.000

0
0
(12.000.000)
0
0
(124.890.000)
0
(2.266.235.000)

1.707.543.000

742.950.000
12.419.530.00
0

(225.530.000)

13.901.543.000

Koreksi positif atas dividen dari Bremen Ag.


= Beban pajak luar negeri yang seharusnya tidak di-netto-kan
= 30% / 70% * 276.500.000
= 118.500.000
Pokok deposito
= 100% / 80% * 34.280.000 / 8%
= 535.625.000
Pokok pinjaman
= 100% / 12% * 76.275.000
= 635.625.000
Bunga pinjaman yang boleh dibebankan
= Selisih pokok pinjaman dan pokok deposito
= (635.625.000 - 535.625.000)
= 12.000.000

* Tingkat bunga pinjaman


* 12%

Koreksi positif atas bunga pinjaman


= Bunga pinjaman menurut akuntansi
- Bunga pinjaman menurut fiskal
= 76.275.000
12.000.000
= 64.275.000

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )

13

Pajak yang dibayar di luar negeri


118.500.000
= 0.3/ 0.7 * 274,500,000
Batas maksimum Kredit PPh 24
79.000.000
= 395,000,000/ 13,901,543,000 *
2,780,308,600
Kredit PPh 24
79.000.000
Laba sebelum pajak
13.901.543.000
PPh terutang (20%)
2.780.308.600
Tarif 20% berlaku bagi perusahaan yang minimal 40% sahamnya dikuasai
publik
dan diperdagangkan di bursa efek, sesuai ketentuan Pasal 17 Ayat (2b).
Kredit pajak
Kredit PPh 22
(543.750.000)
= 2,5% * 21,750,000,000
Kredit PPh 23
(631.250.000)
Kredit PPh 24
(79.000.000)
Kredit PPh 25
(855.750.000)
STP PPh 25
(416.000.000) (2.525.750.000)
Pajak kurang (lebih) bayar
254.558.600

Laba sebelum pajak


Pendapatan tidak berkesinambungan
Estimasi pendapatan tahun mendatang
PPh terutang (20%)
Kredit pajak
Kredit PPh 22
= 2,5% *
21,750,000,000
Kredit PPh 23
Kredit PPh 24
Total PPh 25 setahun
Angsuran PPh 25 per bulan

13.901.543
.000
(650.000.0
00)
13.251.543
.000
2.650.308.
600

(543.750.
000)
(631.250.
000)
(79.000.0
00)

(1.254.000.
000)
1.396.308.
600
116.359.05
0

Perpajakan : Rekonsiliasi Fiskal


Disusun oleh : Anton ( 1410245416 ), Suharti ( 1410245409 ) & Patricia Martha Lena
( 1410245348 )