Anda di halaman 1dari 59

MATA KULIAH ELEMEN MESIN

PASAK

DI SUSUN OLEH
Nama

: 1. Andriana Juliyanti (13 644 007)


2. Nurwanty Dzul Aidha (13 644 012)
3. Rizky Maulidiyani (13 644 021)
4. Firdaus (13 644 054)

Kelompok

: III (tiga)

Kelas

: 1-A (S1-Terapan)

Dosen Pengajar : Mustafa

ELEMEN MESIN
JURUSAN TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
2014

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
DAFAR ISI...

KATA PENGANTAR

ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.
1.2 Manfaat Penulisan
1.3 Tujuan Penulisan..
1.4 Rumusan Masalah

1
3
3
4

BAB II STUDI PUSTAKA


2.1 Pengertian Pasak...
2.2 Macam Pasak
2.3 Gaya pada Pasak...
2.4 Sambungan Pasak dan Pena.
2.5 Penggunaan Pasak/Dpie
2.6 Pasak Berdasarkan Bentuk yang Ditegangkan.
2.7 Pasak Berdasarkan Bentuk yang Dinormalisasi
2.8 Perhitungan Kekuatan Pasak
2.9 Komponen Mesin Pasak...
3.0 Aplikasi Pasak..
3.1 Pemilihan Jenis Pasak..
3.2 Perhitungan Perencanaan Pasak

5
7
11
12
13
15
17
23
35
36
37
41

BAB III PERTANYAAN DAN JAWABAN


3.1 Pertanyaan dan Jawaban

51

BAB 1V RANGKUMAN
4.1 Kesimpulan

55

DAFTAR PUSTAKA
i

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta
hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga kami
dapat

menyelesaikan

makalah

ELEMEN

MESIN

ini

dengan

lancar. Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada Nabi


besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni
al-quran.
Makalah ini dibuat dalam rangka untuk mengetahui apakah peran
pasak terhadap kehidupan kita sehari-hari khususnya dalam dunia
pekerjaan, dan untuk memperdalam pengetahuan mahasiswa mengenai
pengertian pasak dan komponen pasak.
Dan apabila dalam penulisan makalah ini banyak terdapat kesalahan
atau kekurangan, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya karena
kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT dan kekurangan hanyalah milik
kami semata.
Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu penyusunan makalah ini.
Samarinda,

Januari 2014

Penulis
ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan zaman, maka semakin kompleks
pula kebutuhan manusia di segala bidang. Dengan kompleknya ini
mendorong manusia untuk terus mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologinya. Sejumlah catatan sejarah mengenai para Ilmuwan yang telah
berhasil menciptakan penemuan-penemuan yang sangat bermanfaat bagi
manusia.

Penemuan-penemuan inilah yang kemudian dikembangkan

teknologinya agar dapat memenuhi kebutuhan pasar dunia modern.


Sejumlah penemuan telah diwujudkan dalam karya nyata, khususnya
bidang permesinan baik mesin konvensional maupun non konvesional,
bidang konstruksi mesin / bangunan seperti penggunaan sambungan baut
dan mur; pengelingan; maupun sambungan las yang digunakan dalam
penyambungan konstruksi-konstruksi tersebut. Khususnya dalam bab ini
penulis hanya membahas mengenai penggunaan sambungan tetap dalam
suatu konstruksi, yakni sambungan paku keling, khususnya untuk
sambungan dua pelat yang dibebani. Dalam makalah ini akan dijelaskan
teori tentang paengertin pasak, macam-macam pasak serta perhitungan
kekuatan pasak.

Tugas Elemen Mesin ini sebagai bentuk aplikasi dari mata kuliah
Elemen Mesin , yang bertujuan agar mahasiswa Teknologi Kimia Indstri
dapat melakukan suatu perancangan konstruksi secara sederhana yang
nantinya bermanfaat di lapangan kerja kelak.
Pengetahuan awal tambahan mengenai pasak kiranya dapat
menambah dasar pengetahuan mengenai perancangan suatu konstruksi
mesin ataupun bangunan, sehingga diharapkan para lulusan Teknologi
Kimia Industri dapat menjadi teknisi atau konsultan handal di dalam
masyarakat guna memenuhi pasar dunia yang semakin canggih akan
teknologinya, dalam memenuhi kebutuhan manusia yang semakin modern
dan komplek.
Teknologi diciptakan untuk kemudahan bagi para pengguna.
Penggunaan teknologi selalu dikaitkan dengan usaha baik yang berbasis
kecil maupun menengah. Seperti usaha pengolahan plastik. Sebelum plastik
menjadi bahan jadi tentunya harus melalui beberapa proses permesinan.
Mesin yang tepat guna diharapkan efisiensi untuk menghasilkan produksi
dari plastik.
Penulis akan memaparkan lebih lanjut tentang teknologi pengolahan
plastik kedalam bentuk laporan yang berjudul Mesin penghancur plastik.
Mesin ini hasil penelitian yang dilakukan pada sebuah usaha pengolahan
plastik bekas yang berada di Selindung Lama Kota Madia Pangkal Pinang.
Mesin penghancur plastik ini memiliki beberapa komponen/elemen
mesin, yang salah satunya adalah pasak. Untuk menjaga supaya produksi
2

tetap berjalan dengan baik elemen penerus putaran ini harus mendapat
perawatan, sehingga tidak terjadi kemacetan pada waktu produksi. Dan
pada laporan ini akan menjelaskan tentang pasak dan perhitungan pada
pasak, serta komponen dan macam pasak.
Penulis mengharapkan laporan ini dapat bermamfaat bagi pembaca dan
para mahasiswa untuk dapat mengetahui pasak, yaitu pengertian, macam,
dan komponen pasak, serta perhitungan kekuatan pasak.

1.2 Manfaat Penulisan


Dari latar belakang permasalahan yang dijelaskan diatas, maka
dapat ditentukan bahwa tujuan dari penulisan laporan ini adalah :
Memenuhi tugas Elemen Mesin
Menganalisa sistem kerja dari pasak
Dari hasil analisa penulis akan menentukan perhitungaan
kekuatan pasak

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan Umum :

Menerapkan dan mengaplikasikan Ilmu Pengetahuan mengenai


pasak dalam mata kuliah Elemen Mesin

Melatih mahasiswa dalam membuat suatu rancangan konstruksi


mesin atau bangunan.
3

Tujuan Khusus
Mahasiswa dapat :

Memilih material konstruksi yang tepat dengan penggunaan jenis


sambungan pasak.

Menghitung segala faktor-faktor yang dapat mempengaruhi


konstruksi dengan penggunaan pasak

Menghitung

kekuatan

sambungan

pasak

yang

memenuhi

persyaratan yang diizinkan.

1.4

Rumusan Masalah
Untuk menegaskan dan lebih memfokuskan permasalahan yang akan

dianalisa dalam penelitian tugas elemen mesin, maka akan dibatasi


permasalahan-permasalahan yang akan dibahas sebagai berikut :
-

Komponen yang ditinjau/yang dibahas hanya komponen pasak dengan

macam-macam pasak
-

Diasumsikan komponen bekerja dalam keadaan normal

BAB II
STUDI PUSTAKA
2.1 Pengertian Pasak
Pasak merupakan sepotong baja lunak (mild steel), berfungsi
sebagai pengunci yang disisipkan diantara poros dan hub (bos) sebuah roda
pulli atau roda gigi agar keduanya tersambung dengan pasti sehingga
mampu meneruskan momen putar/torsi.
Pemasangan pasak antara poros dan hub dilakukan dengan
membenamkan pasak pada alur yang terdapat antara poros dan hub sebagai
tempat dudukan pasak dengan posisi memanjang sejajar sumbu poros.
Pasak (key) adalah sebuah elemen mesin berbentuk silindris, balok
kecil atau silindris tirus yang berfungsi sebagai penahan elemen seperti puli
, sprocket roda Gigi atau Kopling seperti puli , sprocket roda gigi atau
kopling pada poros. (Sonawan, H., Perancangan Elemen Mesin, 2009).
Mengapa pemasangan pasak harus benar ?
Jika pasak tidak terpasang dengan benar antara puli dengan poros
maka kemungkinan akan terjadi slip diantara bagian yang berkontak lubang
puli akan cepat aus. .
Piye Carane ?

Harus dibuatkan alur sebagai tempat duduknya

pasak pada permukaan poros yang akan dipasangkan puli. Contoh


pemasangan pasak padaporos motor listrik dan puli.
5

Gambar 1.1 diagram kerja katup motor diesel


Menurut kamus besar Bahasa Indinesia, pasak meiliki arti 1. paku yg

dibuat dr kayu, bambu, dsb; 2 poros kecil pd roda arloji dsb; 3 Tek
potongan kecil logam yg disisipkan pd alur yg terlipat di antara roda
dng sumbunya agar roda tsb tidak berputar thd sumbu tsb; 4 sepotong
besci atau kayu tidak berkepala untuk menyatukan dua bagian besi,
kayu, atau bagian mesin (roda); besar -- dr tiang, pb belanja lebih
besar dp pendapatan; -- bumi tumbuhan hutan (di Kalimantan) yg
akarnya dapat dijadikan obat penambah tenaga; -- kampung 1
penduduk kampung yg tetap menetap (tidak pernah pindah ke manamana); 2 ki orang udik; orang dusun; -- kuku garis hitam di tengah
kuku (kuda); -- kunci ki orang yg berkuasa; -- negeri orang terkemuka
6

dl suatu negeri tempat orang meminta nasihat; turus negeri;


memasak v memasang pasak; memaku dng pasak: ~ tiang;
memasakkan v 1 memakai sesuatu untuk pasak: ~ sepotong kayu ke
dl lubang; 2 ki menerangkan (menasihatkan dsb) benar-benar: dr
dahulu Ayah telah ~ hal itu kepadamu; ~ ke telinga menasihatkan
benar-benar; terpasak v sudah dipasak.

2.2

Macam Pasak
Beberapa tipe yang digunakan pada sambungan elemen mesin,

adalah :

Gambar 1.2 Macam Pasak


1. Pasak Benam (PB)
Pasak jenis ini dipasang terbenam setengah pada bagian poros dan
setengah pada bagian hub.
Terdiri atas beberapa jenis :
7

a. PB Persegi Panjang (penampang memanjang tirus perbandingan 1 :


1000)
Dengan :
- Lebar pasak : w =

d
4

- Tebal pasak : t =

2
.w
3

dimana :

d = diameter poros atau lubang lubang Hub.

b. PB Sama sisi/persegi
Disini lebar pasak sama dengan tebalnya. (w = t =

d
)
4

c. PB Sejajar (sama dengan PB Persegi Panjang tetapi penampang


memanjang tidak tirus)
Bentuk seperti ini dimaksudkan agar hub atau sebaliknya poros
dapat digeser satu sama lain di sepanjang sumbu poros.
d. PB Kepala
Memiliki bentuk yang sama dengan PB Persegi Panjang tetapi
dilengkapi kepala pada salah satu bagian ujungnya. Berfungsi untuk
memudahkan proses bongkar pasang.
e. PB Ikat

Pasak diikat pada poros, bebas pada hub atau sebaliknya agar
bagian yang bebas bisa digerakkan aksial (searah poros).
Merupakan pasak tipe khusus untuk memindahkan torsi/momen
putar sekaligus diizinkan adanya pergerakan aksial disepanjang
sumbu poros.
f. PB Segmen
Merupakan jenis pasak yang dapat disetel dengan mudah, karena
pasak dibenam pada alur yang berbentuk setengah lingkaran pada
poros.
Jenis ini digunakan secara luas pada mesin-mesin kendaraan dan
perkakas.
Kelebihan dari jenis pasak ini adalah :
-

dapat menyesuaikan sendiri dengan kemiringan (ketirusan)


bentuk celah yang terdapat pada hub.

Sesuai untuk poros dengan konstruksi tirus pada bagian


ujungnya, karena mencegah kemungkinan lepasnya pasak.

Kekurangannya :
-

Alur yang terlalu dalam pada poros akan melemahkan poros

Tidak dapat difungsikan sebagai PB Ikat.

2. Pasak Pelana
Terdiri dari dua tipe, yakni :
9

Pasak Pelana Datar


Merupakan pasak tirus yang dipasang pas pada alur hub dan
datar pada lengkung poros, jadi mudah slip pada poros jika
mengalami kelebihan beban torsi. Sehingga hanya mampu
digunakan untuk poros-poros beban ringan sebagai penyortir
beban.

Pasak Pelana Lengkung


Merupakan pasak tirus yang dipasang pas pada alurnya dihub
dan bagian sudut bawahnya dipasang pas pada bagian lengkung
poros.
Tebalnya :
t=

d
w
=
12
3

3. Pasak Bulat
Merupakan pasak berpenampang bulat yang dipasang ngepas dalam
lubang antara poros dan hub. Kelebihannya adalah pembuatan alur
dapat dilakukan dengan mudah setelah hub terpasang pada poros
dengan cara dibor.
Umumnya digunakan untuk poros yang meneruskan tenaga putar kecil.
Ada dua posisi pemasangannya atau kedudukannya pada poros dan
hub, yakni :
a. dipasang membujur (sejajar sumbu poros)
10

b. dipasang melintang (tegak lurus sumbu poros)

4. Pasak Bintang (Spline)


Pasak jenis ini memiliki kekuatan yang lebih besar dibanding dengan
tipe-tipe lainnya. Karena konstruksi pasaknya dibuat lansung pada
bahan poros dan hub yang saling terkait.
Umumnya digunakan untuk poros-poros yang harus mentrasmisikan
tenaga putar besar, seperti pada mesin-mesin tenaga dan sistim
transmisi kendaraan.
Bahan pasak dan poros yang digunakan biasanya sama. Pasaknya yang
berjumlah banyak yakni : 4, 6, 8, 10 sampai 16 buah . Karena hampir
menyerupai sehingga sering disebut sebagai pasak bintang (Spline).
Spline pada poros biasanya relatif lebih panjang, terutama bagi hub
yang dapat digeser-geser secara aksial.
Dengan :

2.3

D = 1,25.d

dan

b1 = 0,25.D

Gaya-gaya yang bekerja pada pasak


Saat poros digunakan untuk mentrasmisikan daya, maka pada pasak

akan bekerja gaya-gaya seperti :


a. Gaya Radial (FR)
Gaya yang memberikan tekanan pada pasak dengan arah tegak lurus
sumbu poros.
b. Gaya Tangensial (FT)
11

Gaya yang menimbulkan tegangan geser dan tekanan bidang pada


pasak. Pada saat bekerja meneruskan tenaga putar, pada konstruksi
pasak, Gaya Tangensial (FT) lah yang memberikan nilai terbesar.

2.4

Sambungan Pasak & Pena


Tujuan pena dan pasak adalah untuk menyambung bagian-bagian
konstruksi sedemikian rupa satu terhadap yang lain, hingga
sambungan itu setiap waktu dapat dilepas kembali atu dapat
digerakkan satu terhadap yang lain. Contoh konstruksi pada umumnya
berupa poros dan nabe yang harus dihubungkan satu dengan yang
lainnya.

Gambar 1.3 Sambungan Pasak

12

Gambar 1.4 Macam-macam pasak


2.5

Penggunaan Pasak/Dpie
Gambar dibawah ini adalah ilustrasi dari penggunaan pasak/spie yang

dipasang antara shaft dengan gear :

Gambar 1.5 penggunaan pasak/spie


13

Keterangan :
1. Pasak (Spie)
2. Shaft
3. Gear (Roda gigi)

Gambar 1.6 Besar ukuran pasak


14

Catatan :
Dalam beberapa kasus sering ditemukan ukuran pasak yang idak
sesuai dengan table diatas, hal itu biasanya ditemukan pada shaft diameter
lebih dari 90 mm. contoh kasus yang sudah ditemukan adalah :

Dalam table d : 95 mm lebar pasak 28 mm ditemukan actual lebar


pasak 25 mm

Dalam table d : 110 mm lebar pasak 28 mm ditemukan actual lebar


pasak 26 mm
Pasak adalah bagian dari mesin yang berfungsi untuk penahan/

pengikat benda yang berputar. Bagian ini biasanya berupa Shaft yang
berfungsi sebagai transfer daya dengan gear/roda gigi maupun pulley yang
berfungsi untuk mengatur perbandingan putaran.
Dengan pasak inilah akan diperoleh sambungan yang kuat dan
fleksibel/mudah untuk di pasang di lepas. Adapun besar ukuran pasak
berbeda-beda ukurannya.

2.6 Sambungan Pasak berdasarkan Bentuk yang ditegangkan


1.

Pasak tembereng
Pasak tembereng adalah memiringkan diri sendiri menghasilkan
sambungan pasak yang paling murah dan paling sedikit membutuhkan
pengerjaan akhir. Khususnya digunakan pada mesin perkakas dan juga
pada kendaraan pada momen putar yang tidak terlalu besar.
15

2.

Pasak rata
Perlemahan proses karena peralatan tidak sebesar perlemahan
karena alur. Momen putar yang dapat ditransmisikan agak lebih besar
daripada dengan baji lubang.

3. Pasak alur
Pasak yang terpasang masuk (naf yang digerakkan masuk)
dibedakan dari pasak gerak (pasak yang digerakkan masuk), yang kalau
dikehendaki mudah dilepaskan dilengkapi juga dengan kepala (pasak
kepala). Momen putar yang dapat ditransmisikan lebih besar daripada
dengan pasak rata. Pada momen putar yang arahnya bolak-balik dan
tersentak-sentak dapat diatur dua pasak alur yanbg terpisah 120
(kondisi tiga titik).
4. Pasak singgung
Pasak singgung merupakan satu-satunya pasak, pada naf dan poros
yang

juga

ditegangkan

pada

arah

keliling,

sehinggga

juga

mentransmisikan momen putar tersentak-sentak dalam kedua arah


putaran dalam pemasangan bebas kelonggaran (contoh penggunaan :
Roda Gila)
Fungsi yang serupa dengan pasak dilakukan pula oleh seplain (spline)
dan gerigi (serration) yang mempunyai gigi luar pada poros dan gigi dalam
16

dengan jumlag gigi yang sama pada naf dan saling terkait yang satu dengan
yang lain.
Gigi pada seplain adalah besar-besar, sedang pada gerigi adalah kecilkecil dengan jarak bagi yang kecil pula.
Kedua-duanya dapat digeser secara aksial pada waktu meneruskan
daya. Pasak pada umumnya dapat digolongkan atas beberapa macam
(menurut letak pada poros dapat dibedakan anatara) :
Pasak Rata
Pasak Pelana
Pasak Benam
Pasak singgung yang umumnya berpenampang segi empat

2.7

Sambungan Pasak berdasarkan Bentuk yang di Normalisasi


Bentuk ini merupakan yang paling sederhana dan paling tua dari

sambungan dalam konstruksi mesin : Suatu pasak melintang atau baut


(=pasak besar) dipasang pada suatu lubang, yang menembus masuk bagian
konstruksi yang disambungkan.
Disamping alat-alat penyambung kayu seperti perekat, baut, dn
paku, terdapat alat-alat penyambung kayu yang semuanya dapat
digolongkan sebagai pasak. Definisi pasak adalah suatu benda yang
dimasukkan semua atau sebagian pada bidang sambungan dalam tiap-tiap
17

bagian kayu yang disambung, untuk memindahkan beban dari bagian satu
ke bagian yang lain.
Beberapa contoh ditunjukkan oleh gambar dibawah ini :

Gambar 1.7 Baut yang di normalisasi


Sambungan dengan pasak
Menurut pemasangannya pasak dapat dibedakan menjadi 3 macam :
1. Yang pada bidang sambungan dimasukkan ke dalam tarikan-rarikan di
dalan bagian kayu yang disambung
2. Yang pada bidang sambungan di salam bagian-bagian kayu bdengan
cara do pres
3. Kombinasi 1 dan 2
18

t 5 ,1

u t

15 cm

Kekuatan ijin satu sambungan S adalah harga terkecil.


Pasak-pasak modern :
1. Split ring Connector
2. Toothed ring Connector
3. Bulldog Connector
4. Claw-plate Connector
5. Shear-plate Connector
6. Spike-grid Connector
Penggunaan
Untuk pengamanan posisi dari dua bagian, contohnya
bagian atas dan bawah suatu kotah roda gigi dengan dua buah pasak
pas, yang jaraknya diatur sejauh mungkin satu ama lain; untuk
19

pengaturan kekuatan luncur dari naf terhadap poros, untuk


perletakkan kuat dari gandar dengan pasak melintang atau pasak
memanjang; untuk sambungan fleksibel atau bantalan dari sirip,
batang, piringan dan rol, dengan bautnya menembus ke dalam suatu
dudukan kuat dari bagian dan dipegang dalam dudukan luncur dari
bagian yang lain.
(Baut penyambung, baut piston, baut gandar, baut kopling);
untuk penghenti dari pegas, batang, dan semacamnya (pasak
benam); untuk pembatasan gaya (baut patah); untuk pengaman dari
sekrup, mur, dan baut (pasak benam, pasak melintang, bilah).

Desain
Kekuatan dari vaut serta pasak harus lebih tinggi daripada
benda kerjanya, umumnya St 50, St 60, atau C 35 untuk baut dan
pasak yang berhubungan dengan baja pegas untuk soket penegang
dan sebagainya.
Baut penyambung berbeban tinggi (contohnya baut poros)
adalah dikeraskan dan dipoles. Pada baut berlubang (pipa)
sebaiknya diameter dalam di < d/1,5, untuk mencegah penekanan
menjadi oval dan penjepitan.
Penguatan untuk pengaman getaran dicapai pada pasak
dengan dudukan pres dan pada baut penyambung yang penting
dengan tambahan pengaman isi, contohnya dengan cincin
20

pengaman, dengan pasak melintang atau bilah, dengan top berulir


dan mur atau dengan pengelingan kepala.
Pasak Suatu elemen mesin yang di pakai untuk menetapkan atau
mengunci bagian- bagian mesin . Pasak digunakan untuk menyambung dua
bagian batang (poros) atau memasang roda, roda gigi, roda rantai dan lainlain pada poros sehingga terjamin tidak berputar pada poros.
Pemilihan jenis pasak tergantung pada besar kecilnya daya yang
bekerja dan kestabilan bagian-bagian yang disambung. Untuk daya yang
kecil, antara naf roda dan poros cukup dijamin dengan baut tanam (set
screw).
Dilihat cara pemasangannya, pasak dapat dibedakan yaitu :
1. Pasak memanjang
Jenis pasak memanjang yang banyak digunakan ada bermacam-macam
yaitu :
~ Sunk Keys (pasak benam)
Pasak benam ada beberapa jenis yaitu :
a. Pasak benam segi empat (Rectangular Sunk key)
b. Pasak bujur sangkar (Square key)
Bentuknya smaa seperti Rectangular sunk key, tetapi lebar dan
tebalnya sama yaitu
b = t = 4d
c. Parallel Sunk key (pasak benam sejajar)
21

Bentuknya sama seperti di atas, tapi penggunaannya bila pemakaian di


atas belum mampu memindahkan daya, maka pasak tersebut dipasang
sejajar
d. Pasak Berkepala (Gib head key)
Pasak ini digunakan biasanya untuk poros berputar bolak balik

b = 4d
t = 32 b = 6d
e. Pasak Tembereng (woodruff key)
Pasak jenis ini digunakan untuk poros dengan puntir / daya tidak
terlalu besar.
f. Pasak Pelana (Saddle key)
Jenis pasak ini pemakaian umum untuk menjamin hubungan antara naf
roda dengan poros.
g. Tangent key
Pemakaiannya sama seperti pasak pelana, tetapi pasaknya dipasang
dua buah berimpit.
h. Pasak bulat (Round keys)
Jenis pasak ini, biasanya digunakan untuk memindahkan daya relatip
kecil.
i. Pasak gigi (Splines)

22

Jenis pasak ini bahannya dibuat satu bahan dengan poros dan biasanya
digunakan untuk memindahkan daya serta putaran yang cukup besar
dan arah kerja putarannya bolak balik.

2.8

Perhitungan Kekuatan Pasak Memanjang


Bila direncanakan poros tersebut mampu memindahkan daya sebesar P

(KW) dengan putaran (n) rpm, maka sudah barang tentu pasak yang akan
direncanakan tersebut juga harus mampu meneruskan daya dan putaran,
sehingga besar torsi (T) yang bekerja pada poros yaitu :
3

T = nP260 (N.m) atau T = 16 d


p

dimana : p = daya yang akan dipindahkan (watt)


n = putaran dalam (rpm)
d = Diameter poros
= Tegangan puntir yang diizinkan untuk bahan poros
p

Dalam perencanaan pasak, besar torsi yang terjadi lebih besar dari torsi
yang harus dipindahkan yaitu :
T = k. T
p

dimana : T = Total untuk perencanaan pasak


p

T = Torsi yang bekerja pada poros


k = Faktor perencanaan = 1,25 s/d 1,5

23

Bila diameter poros serta Torsi untuk perencanaan pasak telah diketahui,
maka gaya keliling yang bekerja pada pasak dapat dicar yaitu :
F = 2/dTp . 1) dimana : d = diameter poros
Dalam perencanaan pasak, ada dua kemungkinan pasak tersebut rusak atau
putus :
a. Putus akibat gaya geser
b. Putus akibat tekanan bidang
Bila pasak tersebut diperhitungkan kemungkinan putus akibat gaya
geser maka :
F=A

---------- > F = L b
g

dimana : A = Luas penampang kemungkinan putus tergeser


= L b
= Tegangan geser yang diizinkan untuk bahan pasak.
g

Dari pers. 1 & 2 diperoleh :


2/dTp = L b ===== > T = L b 2d .
g

Pasak kerucut (Kerucut 1 : 50) bekerja memusatkan, tetapi


menyebabakan kaeausan dari lubang (mahal!) pasak kerucut dengan tap
berulir (DIN 258) dapat juga dikeluarkan dari lubang benam dengan
mengetatkan sebuah mur.

24

Gambar 1.8 Pasak Kerucut


Pasak silinder membutuhkan untuk dududkannya yang ketat
(bertegangan melintang) suatu kegiatan terhadap toleransi lubang yang
ketat (mahal!)

Gambar 1.9 Pasak Silinder


25

Penegang yang becelah (lebar celah = kekuatan pita pegas) dan


pasak penegang spiral berbentuk spiral yang digulung dari baja pegas (

1400 1800 N/mm2, kekerasan HRC = 42. 50) atas jasa dari
pemegasan melintangnya tidak ada toleransi lubang yang ketat. Cukup
dengan lubang yang di bor dengan toleransi H 12.
Pada soket penegang maka pemegasan tergantung dari arah
pembebanannya (keras, kalau pelebaran celah dalam arah pembebanan;
lunak, kalau arahnya kmenguncupkan). Pemegasan dari pasak penegang
spiral adalah sama dalam setiap arah, tetapi pada dasarnya lebih keras
daripada soket penegang.

Gambar 2.1 Soket Penegang


26

Dibandingkan dengan pasak pejal biasa (gaya geser = 100%) maka


besarnya gaya geser pada soket pemegang yang ringan DIN 7346 sekitar
62%, pada yang berat (DIN 1481) sekitar 112% dan pada soket penegang
gabungan yang berat (= 2 soket penegang berat yang dimasukkann satu ke
yang lain) sekitar 155%.
Pada pasak penegang spiral ringan maka besarnya gaya geser
sekitar 80.90% dan pada pasak penegang spiral berat sekitar 130%.
Soket penegang berlubang juga dapat dipakai sebagian bus belah untuk
sekrup dan sebagai bus bantalan untuk sambungan (suatu soket penegang
kedua sebagai baut).
Pada pasak bertakik dan paku bertakik maka dudukan yang kuat
dihasilkan oleh 3 takikan berlapis pada pasak, yang pada pemukulan maka
pasaknya berubah bentuk secara plastis-elastis, maka lubang yang dibor
halus mencukupi (toleransi H9 sampai

3 mm, H 11 di atas

3 mm.

Berbagau bentuk desain dan maksud penggunaan ditunjukkan pada


gambar 1.2. hal yang baru adalah juga pasak dan paku bertakik yang
terbuat dari plastic (berwarna) untuk keperluan penyambungan dan
pengkonstruksian dalam perakitan plastic.

27

Tabel 1.1 Tegangan dan perhitungan suatu sambungan pasak.


No.1 Baut melintang dalam batang tarik

Nilai pegangan : /d = 1,5.1,7


; /d = 2.3,5
DN/d = 2,5 untuk naf St dan Gs ;
= 3,5
b Baut:

dari Mb =

sampai Mb =
(masing-masing

menurut

pelampauan)
Kasus a sampai kasus b.
Nilai perhitungan praktis : Mb =
Mb = Wb .
ab

baut; dari

F = 2 d2 .

ab/4

P garpu: dari

F = 2p . b. d

sampai
F = 2 . Pmax. d. b/(4+ /b)
(kasus a sampai kasus b)
P batang : dari

F=p. .d
28

No.2 Pasak benam dalam gaya tekuk

pasak dari :

Mb = F . h =

b.

d2/32

Pb =

P max dari :

P max, = Pb

+ Pd =

29

No.3 Pasak melintang dalam momen Nilai pegangan d/D = 0,2..0,3


putar
DN/D = 2 untuk naf St
dan Gs = 2,5
Dari ..
ab

pasak;

Mt =

ab

.D.

d2/4

P max poros;
Mt = Pmax . d . D2/6
P naf;

Mt = p .

poros;

Wt = =

. d (D + )

Mt = Wt .

(1 0,9 d/D)

30

No.4 Pasak memanjang

Nilai pegangan d/D=


0,13..0,2

Panjang pasak :
= 1D..1,5D

Pt

ab

pasak;

Dari Mt = p .
=

ab .

d . D/4

d . D/2

Pada table 1.1 menunjukkan untuk beberapa kasus penggunaan dari


pengaturan dari berbagai distribusi tegangan permukaan yang dapat
diterima dan setelah itu hubungan yang dipasangkan untuk pengukuran,
kalau hanya dipertimbangkan gaya kerja F saja.
Tegangan tambahan karena dudukan pres dalam lubang adalah
untuk berbagai cara pempasakan dan berbagai ukuran serta disamping itu
untuk pelampauan (ukuran lebih) yang berhubungan pada pasak lerucut
yang tergantung dari gaya pemukulannya. Kasus ekstrim adalah tekanan
badan yang secara setempat melampaui batas elastisitas. Dari sini
menghasilkan suatu gaya perusak tambahan, yang pada pengukuran dari
gaya perusak pada bagian konstruksi tertinggal harus diperhatikan. Maka
31

besaran dari gaya perusak dalam mata garpu Fs <

s.

b.d =

Untuk naf baja dan GS maka dengan

diizinkan =

s/1,5

dan untuk naff GG DN > 3,5 (dengan

diizinkan =

s/2,5).

(DN d) . b.

kemudian DN/d > 2,5

1. Baut melintang dalam batang tarik.


~ Diberikan baut dari St 70, d = 20 mm, batang dan garpu dan St
50, bus bantalan BZ (perunggu), b = 12 mm,

= 32 mm, gaya

tarik F = 5200 N membesar.


~ Dihitung :
tegangan geser

ab

= F/(2 d2/4) = 8,27 N/mm2 ,

ab diizinkan

= 70

N/mm2.
~ Tegangan tekung
b=

Fl32 / (8 d3) = 26,48 N/mm2 < DIIZINKAN = 105 N/mm2

Tegangan Permukaan batang : p = F/(ld) = 8,12 N/mm2 < p


diizinkan = 12...15 N/mm2
Tegangan permukaan batu : Kasus a : p F / (2bd) = 10,83 N/mm2
< p diizinkan = 90 N/mm2.
Kasus b : P max = F (4 + l/b) / (2bd) = 72,2 N/mm2
2. Pasak Benam dalam gaya tarik.
~ Tekanan permukaan maksimal diberikan secara bersamaan dari
sumbangan Pb dari momen tekuk : Pb = F(h + s/2) 6 (ds2) dan
sumbangan Pd dari gaya F : Pd = F / (ds)
`~ Diberikan :
32

pasak bertakik dari St 50, d = 13 mm, h = 12 mm


~ Plat dari GS dengan s = 18 mm
~ Gaya F = 1000 N membesar
~ Dihitung :
Untuk pasak

64 N/mm2 . P

= Fh 32/ d3 = 55,63,
max

diizinkan = 80 x 0,8 =

= 4F(1 + 1,5 h/s) / (d/s) = 34,18 N/mm2 <

diizinkan = 60 x 0,7 N/mm2 = 42 N/mm2


3. Pasak Melintang dalam momen putar
~ Diambil penegangan yang kuat dari pasak sebagai pasak pas,
sehingga pasak dihitung terhadap gesekan. Tekanan permukaan p
dalam

poros

yaitu

pada

kelilingnya,

didekati

dengan

penggambaran distribusi linear.


~ Diberikan :
Poros St = 37, D = 30 mm, naf dari GG dengan DN = 75 mm;
pasak dari St 50 dengan d = 8 mm, d/D = 0,26; momen putar =
50000 Nmm membesar
~ Dihitung :
Untuk pasak

ab

= Mt 4 / (D d2) = 33,15 N/mm2 <

ab

diizinkan

= 50 N/mm2
Poros : teranan permukaan P max = Mt . 6 (D d2) = 41,66
N/mm2 H p diizinkan = 65 N/mm2 ; Mt = 16 / { d3 (1-0,9 . d/D)}
= 12,42 N/mm2 < diizinkan = 1,1 . 0,35 = 55,2 N/mm2.
33

4. Pasak Memanjang dalam momen putar


~ Pemeriksaan ulang dari pasak terhadap tegangan geser
dihemat, kalau 2

ab

ab

adalah

> P diizinkan

~ Diberikan :
Poros, naf seperti contoh 3, pasak d = 4 mm, dan l = 40 mm
~ Dihitung :
Untuk pasak p = Mt / (ldD) = 41,6 N/mm2 <
N/mm2 < 2

P diizinkan = 50

ab diizinkan.

Tabel 1.2 Nilai yang diizinkan untuk sambungan pasak


Bahan Bagian Konstruksi
P diizinkan

GG

GS

St 37

St 50

50

60

65

90

Bahan Pasak atau Baut dengan

400

500

600

700

55

80

95

105

ab

40

50

60

70

Pada pasak bertakik oleh karena

lapisan takikan maka

tegangannya meningkat setempat; sehingga pembebanan yang diizinkan


harus diturunkan (lihat table 1.2)
34

Berlaku untuk beban membesar; untuk beban brubah-ubah


dikalikan 0,7; untuk beban tetap dikalikan 1,4. Untuk pasak yang bertakik
nilai p dikalikan 0,7;
2.9

b dikalikan

0,8.

Komponen Mesin : Pasak

Gambar 2.2. Macam-macam bentuk pasak


Pasak

merupakan

komponen

yang

sangat

penting

dalam

perencanaan suatu poros. Pasak dipastikan sangat terkait dengan poros dan
roda. Posisi pasak berada diantara poros dan roda. Sesuai dengan fungsi
35

pasak yakni sebagai penahan agar roda yang berputar pada poros tidak
selip, maka rancangan suatu pasak harus dipertimbangkan berdasarkan
momen puntir yang bekerja pada roda dan poros tersebut. Dimensi pasak
berbentuk empat persegi panjang dipasang pada alur pasak di poros dan
roda.

Gambar 2.3. Poros, pasak, kopling


3.0 Aplikasi Pasak
a. Definisi
36

Pasak merupakan sepotong baja lunak (mild steel), berfungsi


sebagai pengunci yang disisipkan diantara poros dan hub (bos)
sebuah roda pulli atau roda gigi agar keduanya tersambung dengan
pasti sehingga mampu meneruskan momen putar/torsi. Pemasangan
pasak antara poros dan hub dilakukan dengan membenamkan pasak
pada alur yang terdapat antara poros dan hub sebagai tempat dudukan
pasak dengan posisi memanjang sejajar sumbu poros.
b. Prinsip Kerja
Pengunci yang disisipkan di antara poros dan hub (bos) sebuah
roda pulli atau roda gigi agar keduanya tersambung dengan pasti
sehingga mampu meneruskan momen putar/torsi. Pemasangan pasak
antara poros dan hub dilakukan dengan membenamkan pasak pada
alur yang terdapat antara poros dan hub sebagai tempat dudukan
pasak dengan posisi memanjang sejajar sumbu poros.
c. Aplikasi
Penggunaan Pasak yaitu sebagai pengaman posisi, pengaturan
kekuatan putar atau kekuatan luncur dari naf terhadap poros,
perletakan kuat dari gandar, untuk sambungan flexible atau bantalan,
penghenti pegas, pembatas gaya, pengaman sekrup dan lain-lain.
3.1

Pemilihan Jenis Pasak


Pada umumnya pasak digunakan untuk menyambung dua bagian
37

batang (poros) atau memasang roda, roda gigi, roda rantai dan lain-lain
pada poros sehingga terjamin tidak berputar pada poros.
Pemilihan jenis pasak tergantung pada besar kecilnya daya yang
bekerja dan kestabilan bagian-bagian yang disambung.
Untuk daya yang kecil, antara naf roda dan poros cukup dijamin
dengan baut tanam (set screw).

Gambar 2.4 komponen pasak


Dilihat cara pemasangannya, pasak dapat dibedakan yaitu :
1. Pasak memanjang
Jenis pasak memanjang yang banyak digunakan ada bermacam-macam
yaitu : Sunk Keys (pasak benam)
Pasak benam ada beberapa jenis yaitu :
a. Pasak benam segi empat (Rectangular Sunk key)

38

Lebar pasak b =
Tinggi pasak t =

d
4
2
3

b dimana : d =
diameter poros
b. Pasak bujur sangkar (Square key)
Bentuknya smaa seperti Rectangular sunk key, tetapi lebar dan
tebalnya sama yaitu :

b=t= 4
c. Parallel Sunk key (pasak benam sejajar)
Bentuknya sama seperti di atas, tapi penggunaannya bila pemakaian
di atas belum mampu memindahkan daya, maka pasak tersebut
dipasang sejajar
d. Pasak Berkepala (Gib head key)
Pasak ini digunakan biasanya untuk poros berputar bolak balik

t = 2/3 b = 6d
b = d/d4
e.
39

f. Pasak Tembereng (woodruff key)


Pasak jenis ini digunakan untuk poros dengan puntir / daya tidak
terlalu besar.

g. Pasak Pelana (Saddle key)


Jenis pasak ini pemakaian umum untuk menjamin hubungan antara
naf roda dengan poros.

g. Tangent key
Pemakaiannya sama seperti pasak pelana, tetapi pasaknya dipasang
dua buah berimpit.

40

h. Pasak bulat (Round keys)


Jenis pasak ini, biasanya digunakan untuk memindahkan daya
relatip kecil.

i. Pasak gigi (Splines)


Jenis pasak ini bahannya dibuat satu bahan dengan poros dan
biasanya digunakan untuk memindahkan daya serta putaran yang
cukup besar dan arah kerja putarannya bolak balik.

3.2

Perhitungan Perencanaan Pasak


41

Bila direncanakan poros tersebut mampu memindahkan daya


sebesar P (KW) dengan putaran (n) rpm, maka sudah barang tentu
pasak yang akan direncanakan tersebut juga harus mampu meneruskan
daya dan putaran, sehingga besar torsi (T) yang bekerja pada poros
yaitu:
T=

(N.m) atau T = 16

pd3

dimana : p = daya yang akan dipindahkan (watt) n = putaran dalam (rpm)


d = Diameter poros

p= Tegangan puntir yang diizinkan untuk bahan poros


Dalam perencanaan pasak, besar torsi yang terjadi lebih besar dari
torsi yang harus dipindahkan yaitu :
Tp = k. T
dimana :
Tp = Total untuk perencanaan pasak T =

42

Torsi yang bekerja pada poros

k = Faktor perencanaan = 1,25 s/d 1,5

Bila diameter poros serta Torsi untuk perencanaan pasak telah diketahui,
maka gaya keliling yang bekerja pada pasak dapat dicar yaitu :
F=

Tp
. 1)dimana : d = diameter poros
d/2

Dalam perencanaan pasak, ada dua kemungkinan pasak tersebut rusak atau
putus :
a. Putus akibat gaya geser
b. Putus akibat tekanan bidang

Bila pasak tersebut diperhitungkan kemungkinan putus akibat gaya geser


maka :
43

F=A g

---------- > F = L b g 2)
dimana : A = Luas penampang kemungkinan putus tergeser
= L b

g = Tegangan geser yang diizinkan untuk bahan pasak.


Dari pers. 1 & 2 diperoleh :

Tp = L b g ===== > Tp = L b d
d/2
2

g . 3)

Bila diperhitungkan kemungkinan rusak akibat tekanan bidang :


F = A D
dimana :

D =

Tegangan bidang yang diizinkan untuk bahan pasak

A = Luas bidang pasak yang menekan / bersinggungan terhadap


bidang poros.
= L

t
2

------ > F = L t
2

===== > Tp = L

dimana Tp = F

d
2

t d
2 2

D 4)
44

Bila pasak harus mampu menahan gaya geser dan gaya tekan, maka
dari pers. 3 & 4 diperoleh :
Lb

d
2

g = L t

b g = 2

D ==== > t

=2 g

Seperti halnya baut dan sekrup, pasak digunakan untuk membuat


sambungan yang dapat dilepaskan. Dari kebanyakan pasak yang dibebani
adalah bagian penampang memanjangnya, sedangkan beban pada
penampang melintang tidak banyak terdapat pada pasak.
Pasak memanjang

terutama digunakan untuk menyematkan naf

pada poros. Dapat dibedakan antara lain menjadi:

1. Pasak Benam Rata


Pasak benam merata merupakan pasak memanjang yang paling
banyak diterapkan. Pasak ini diterapkan, baik pada konstruksi diman roda
harus dapat digeserkan pada poros, maupun pada konstruksi dimana roda
harus disambung tak bergerak dengan poros.
Nama pasak pada pasak rata sebenarnya tidak tepat, sebab pasak
ini tidak tirus, karena
itu pasak benam rata harus lebih banyak dipandang sebagai suatu penahan
memutarnya roda terhadap poros kala kurang ada gesekan.
45

Alur pasak dalam naf sejajar dengan poros. Antara tepi atas pasak
dan dasar alur dalam naf terhadap ruang main sebesar 0,2 . . . 0,4 mm lihat
NEN 2430.
Pasak benam rata hanya mendukung pada tepi sampingnya. Jadi
lebar pasak dan labar alur harus disesuaikan dengan teliti, sebab kalau
tidak, terutama pada arah gaya bertukar akan terjadi tumbukan dan pasak
terancam terlepas.
Untuk toleransi alur pasak dalam poros dan naf dapat dilihar pada
NEN 2430.
Kalau sebuah naf harus dapat digeser-geserkan, sangatlah perlu
untuk menerapkan suatu ruang main antara pasak dan alur pasak, sekalipun
ruang main itu sangat kecil. Karena itu dalam hal serupa pasak harus
dikencangkan agar pasak tidak terlepas (lihat gambar V.02 penampang AA) dan NEN 2432.
Panjang (l ) pasak benam rata dapat dikontrol dengan tekanan
bidang yang diperbolehkan antara pasak dan naf. Dengan mengabaikan
gesekan antara naf dan poros, pasak dapat dalam gambar V.01 dapat
memindahkan momen (M) kalau penyerongan s

pasak

pada pasak

diabaikan (ini memang diperbolehkan sebab lengan gaya pada pasak agak
lebih besar dari d).
Mw = t. (l-b). o . d/2

46

Pada efek tumbuk, tekanan bidang yang diperbolehkan o = 40 N/mm2


pada naf besi cor dan o = 70 N/mm2 pada naf baja cor dan naf baja. Kalau
tidak ada efek tumbuk, harga ini masing-masing adalah 60 dan 100 N/mm2.
Kalkulasi ini hanya benar pada gerak antara poros dan naf seperti gambar
V.02. kalau naf desematkan pada poros dengan suaian jepit arau dengan
suaian pres, maka sebagian dari momen puntir dipindahkan lewat gesekan
antara poros dan naf.

2. Pasak Belah
Pasak belah juga dinamakan pasak Woodruff (gambar V.03) lebih
murah ditinjau dari segi pembuatannya, tetapi membuat poro jauh lebih
lebih lemah. Pasak ini masih bisa digunakan untuk momen puntir kecil.
Momen puntir yang hendak dipindahkan. Dapat dihitung lagi seperti yang
dikemukakan tadi dengan tekanan bidang yang sama.

3. Pasak Tirus
Karena dilantak maka pasak, naf dan poros dipres satu sama lain,
dengan demikian suatu momen puntir dipindahkan lewat gesekan. Gesekan
sekaligus mencegah tergesernya naf pada poros, sehingga suatu penahan
terhadap penggeseran aksial kebanyakan dianggap tidak perlu lagi. Tepi
samping pasak ini biasanya tidak mendukung. Bidang miring (lereng 1:
100) pasak dengan hati-hati dibuat suai dalam alur naf dan alur poros.
47

Kepalanya memberi kesempatan untuk melepaskan pasak. Bagian yang


menonjol pada pasak dapat membahayakan sehingga perlu dipasang sebuah
pelindung yang biasanya terbuat dari baja plat tipis.
Kalkulasi pasak ini pada kekuatan tidak mungkin dilakukan.
Kalkulasi pasak aman kalau untuk panjang naf sekitar 1,5 d.
Ketika pasak dilantak, ruang bebas antara naf dan poros terdapat
pada satu sisi, roda terletak agak eksentrik dan mungkin miring terhadap
poros. Hal ini mempunyai pengaruh buruk terhadap kerjasama dengan
elemen yang lain. Disamping itu, titik berat dalam hal itu tidak lagi terletak
di sumbu poros, sehingga poros mulai berayun, karena itu jenis pasak ini
tidak cocok untuk pekerjaan teliti, seperti pemindahan dengan roda gigi.

4. Pasak tangensial
Pasak ini member sambungan mati yang luar biasa. Sambungan ini
adalah satu-satunya sambungan dimana naf dan poros dalam arah keliling
diprategang, sehingga juga lolen puntir tumbuk dapat dipindahkan kedua
arah di bawah prategangnya (jadi tanpa ruang bebas). Disini poros dan naf,
menurut perbandingan, dilemahkan oleh alur pasak tidak sebanyak
pelemahan yang dialami oleh dudukan pasak, sedangkan bidang samping
pasak bekerja dengan bidang tekan. Dalam tiap alur dilantak dua buah
pasak, dengan bidang mirinya menempel satu sama lain, sehingga dalam
arah tangensial dikerjakan suatu gaya.
48

Tepi luar alur satu sama lain membentuk sudut 120O resultan kedua
gaya tangensial menekan naf dan poros satu sama lain dengan kuat pada
sisi yang lain. Pasak tangensial hampir semata-mata dipergunakan apabila
hendak dipindahkan gaya besar dan jika dalam hal ini pemindahan terkena
tumbukan, atau seandainyakopel yang hendak dipindahkan dengan
berganti-ganti bekerja dalam arah yang satu dan yang lain seperti pada roda
daya.
Apabila naf dari 2/2, mala pasak harus dipasang sedemikian rupa
sehingga pasak tidak berusaha melepaskan paruhan roda yang satu dari
yang lain sehingga simetrik terhadap bidang pisahnya.
Tinggi pasak h = d/10 dan b = 3h
Catatan: disamping pasak memenjang masih terdapat pasak
melintang yang diterapkan untuk sambungan sebuah ujung batang pada
suatu elemen mesin antara lain pada kompresor torak kerja berganda.
Dalam hal ini pasak menerima beban lengkung.
Untuk perbandingan satu sama lain konstruksi ini berlaku :
Panjang bagian berbentuk kerucut pada batang l = 2 d, tinggi pasak h= 1,2 d ,
lebar pasak b= 1,3 d
Untuk ukuran lebar dan tebal pasak biasanya sudah distandarisasi
maka hasil perhitungan harus dipilih ukuran yang ada pad
astandarisasi.Bila hasil perhitungan, ukurannya tidak ada yang cocok dalam
49

tabel pasak, maka ukuran pasak yang diambil adalah ukuran yang
lebih besar
Di bawah ini dicantumkan ukuran lebar dan tebal pasak, sesuai
dengan standart yang dipasaran.
Tabel standart Pasak melintang menurut IS : 2292 dan 2293 1963
Diameter
poros
(mm)
6
8
10
12
17
22
30
38
44
50
58
65
75

Penampang pasak
Lembar
(mm)
2
3
4
5
6
8
10
12
14
16
18
20
22

Tebal
(mm)
2
3
4
5
6
7
8
8
9
10
11
12
14

Diameter
Poros
(mm)
85
95
110
130
150
170
200
230
260
290
330
380
440

Penampang pasak
Lembar
(mm)
25
28
32
36
40
45
50
56
63
70
80
90
100

Tebal
(mm)
14
16
18
20
22
25
28
32
32
36
40
45
50

50

BAB III
PERTANYAAN DAN JAWABAN
1. Mengapa pemasangan pasak harus benar ? (Andriana Juliyanti)
Jawab :
Pasak adalah bagian dari mesin yang berfungsi untuk penahan/
pengikat benda yang berputar. Bagian ini biasanya berupa Shaft yang
berfungsi sebagai transfer daya dengan gear/roda gigi maupun pulley
yang berfungsi untuk mengatur perbandingan putaran.
Piye Carane

merupakan harus dibuatkan alur sebagai tempat

duduknya pasak pada permukaan poros yang akan dipasangkan puli.


Jika pasak tidak terpasang dengan benar antara puli dengan poros maka
kemungkinan akan terjadi slip diantara bagian yang berkontak lubang
puli akan cepat aus. Contoh pemasangan pasak pada poros

motor

listrik dan puli.

51

2. Tentukan bahan dan ukuran suatu pasak untuk poros yang meneruskan
daya sebesar 10 (kW) pada 1450 (rpm). Panjang pasak benam tidak
boleh lebih dari 1,3 kali diameter poros. (Nurwanty Dzul Aidha)
Jawab :
P = 10 (kW),n1 = 1450 (rpm)
Fc = 1
Pd = 1,0

10 = 10 (kW)

T = 9,74

105

S30C-D :

10/1450 = 1717 (kg.mm)

= 58 (kg/mm2), Sfk1 = 6, Sfk2 = 2

sa = 58/(6,0

2,0) =,4,83 (kg/mm2)

Kt = 2, Cb = 2
ds = [5,1/4,83

6717]1/3 = 30,4 (mm)

31,5 (mm) F =

6717/(31,5/2) = 426 (kg)


Penampang pasak 10

8,

Kedalaman alur pasak pada poros t1 = 4,5 (mm)


Kedalaman alur pasak pada naf t2 = 3,5 (mm)
Jika bahan pasak S45C dcelup dingin dan dilunakan, maka

= 70

(kg/mm2), Sfk1 = 6, Sfk2 = 3, Sfk1. Sfk2 = 6 3 = 18


Teganan geser yang diizinkan ka = 70/18 = 3,9 (kg/mm2) , tegangan
permukaan yang diizinkan pa = 8 (kg/mm2)
k =

52

p=
l = 15,2 (mm)
lk = 25 (mm)
b/ds = 10/31,5 = 0,317, 0,25

0,317

0,35, baik

lk/ds =25/31,5 = 0,817, 0,25

0,794

1,5, baik

Ukuran pasak : 10

8 (standard)

Panjang pasak yang aktif : 25 (mm)


Bahan pasak : S45C, dicelup dingin, dan dilunakkan.
3. Mengapa pasak tangensial disebut member sambungan mati yang luar
biasa ? (Rizky Maulidiyani)
Jawab :
Karena Sambungan ini adalah satu-satunya sambungan dimana naf
dan poros dalam arah keliling diprategang, sehingga juga lolen puntir
tumbuk dapat dipindahkan kedua arah di bawah prategangnya (jadi
tanpa ruang bebas). Disini poros dan naf, menurut perbandingan,
dilemahkan oleh alur pasak tidak sebanyak pelemahan yang dialami
oleh dudukan pasak, sedangkan bidang samping pasak bekerja dengan
bidang tekan. Dalam tiap alur dilantak dua buah pasak, dengan bidang
mirinya menempel satu sama lain, sehingga dalam arah tangensial
dikerjakan suatu gaya yang menyebabkan pasak ini disebt dengan
member sambungan mati luar biasa.
53

Gambar 1.1 Pasak Tangensial

4. Apa prinsip kerja dari pasak ? (Firdaus)


Jawab :
Pengunci yang disisipkan di antara poros dan hub (bos) sebuah
roda pulli atau roda gigi agar keduanya tersambung dengan pasti
sehingga mampu meneruskan momen putar/torsi. Pemasangan pasak
antara poros dan hub dilakukan dengan membenamkan pasak pada alur
yang terdapat antara poros dan hub sebagai tempat dudukan pasak
dengan posisi memanjang sejajar sumbu poros.
Penggunaan Pasak yaitu sebagai pengaman posisi, pengaturan
kekuatan putar atau kekuatan luncur dari naf terhadap poros, perletakan
kuat dari gandar, untuk sambungan flexible atau bantalan, penghenti
pegas, pembatas gaya, pengaman sekrup dan lain-lain.
54

BAB IV
RANGKUMAN
Pasak merupakan sepotong baja lunak (mild steel), berfungsi
sebagai pengunci yang disisipkan diantara poros dan hub (bos)
sebuah roda pulli atau roda gigi agar keduanya tersambung dengan
pasti sehingga mampu meneruskan momen putar/torsi. Pemasangan
pasak antara poros dan hub dilakukan dengan membenamkan pasak
pada alur yang terdapat antara poros dan hub sebagai tempat dudukan
pasak dengan posisi memanjang sejajar sumbu poros.
Pengunci yang disisipkan di antara poros dan hub (bos) sebuah
roda pulli atau roda gigi agar keduanya tersambung dengan pasti
sehingga mampu meneruskan momen putar/torsi. Pemasangan pasak
antara poros dan hub dilakukan dengan membenamkan pasak pada
alur yang terdapat antara poros dan hub sebagai tempat dudukan
pasak dengan posisi memanjang sejajar sumbu poros.
Penggunaan Pasak yaitu sebagai pengaman posisi, pengaturan
kekuatan putar atau kekuatan luncur dari naf terhadap poros,
perletakan kuat dari gandar, untuk sambungan flexible atau bantalan,
penghenti pegas, pembatas gaya, pengaman sekrup dan lain-lain.

55

DAFTAR PUSTAKA
Abdillah, Noor Yasin. 2012. Pasak dan Poros.
http://nooryasinabdillah.blogspot.com/2012/04/elemen-mesin-pasakporos-baut-bantalan.html. Diakses 14 Januari 2014, 19.05 WITA.
Mansyur, Iqbal. 2013. Elemen Mesin Pasak.
http://myprivate-zone.blogspot.com/2013/12/elemen-elemenmesin.html. Diakses 14 Januari 2014, 20.05 WITA.
Mustaqim, Romadhona Al. 2012. Sambungan Pasak (Keys).
http://romadhona33.blogspot.com/2012/11/contoh-jurnal-elemenmesin19.html. Diakses 14 Januari 2014, 18 WITA.
Niemann, G. Elemen Mesin Jilid 1. Erlangga. Jakarta : 1999
Raharja, Dian. 2013. Komponen Mesin Pasak.
http://teknik-pelat.blogspot.com/2013/02/komponen-mesinpasak.html. Diakses 14 Januari 2014. 17.30 WITA
Suga, kiyokatsu. Design of machine elements. pradnya paramita. Jakarta :
1987
Sularso. Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin. pradnya
paramita. Jakarta : 2008
Stolk, Jack. Ir; Kros, C. Ir. Elemen Konstruksi Bangunan Mesin. Erlangga.
Jakarta : 1986

56