Anda di halaman 1dari 30

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat,
rahmat dan hidayahNya penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul Hipospadia ini
sebagai salah satu syarat menyelesaikan kepaniteraan klinik Bedah RSUP Fatmawati.
Banyak terima kasih penulis sampaikan kepada pembimbing ,dr. Audy Budiarty, Sp BP,
atas segenap waktu, tenaga, dan pikiran yang telah diberikan selama proses pembuatan referat
ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada seluruh rekan-rekan kepaniteraan klinik
Bedah atas kebersamaan dan kerja sama yang terjalin selama ini.
Tidak lupa penulis ingin berterima kasih kepada orang tua dan keluarga atas dukungan
moril maupun materil serta doa yang tidak pernah putus.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu segala kritik dan saran yang membangun akan sangat diharapkan demi penyempurnaannya.
Semoga referat ini dapat memberi informasi yang berguna bagi para pembaca.

Jakarta, Mei 2015

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I

PENDAHULUAN

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

2.2 Insiden

2.3 Etiologi

2.4 Anatomi

2.5 Klasifikasi

10

2.6 Manifestasi Klinis

12

2.7 Diagnosis

13

2.8 Tatalaksana

13

2.9 Komplikasi

26

2.10 Prognoisis
28
BAB III

Kesimpulan

29

DAFTAR PUSTAKA

30

BAB I
PENDAHULUAN
Hipospadia merupakan kelainan abnormal dari perkembangan uretra anterior dimana
muara dari uretra terletak ektopik pada bagian ventral dari penis proksimal hingga glands penis.
Muara dari uretra dapat pula terletak pada skrotum atau perineum. Semakin ke proksimal defek
uretra maka penis akan semakin mengalami pemendekan dan membentuk kurvatur yang disebut
chordee.
Pada abad pertama, ahli bedah dari Yunani Heliodorus dan Antilius, pertama-tama yang
melakukan penanggulangan untuk hipospadia. Dilakukan amputasi dari bagian penis distal dari
meatus. Selanjutnya cara ini diikuti oleh Galen dan Paulus dari Argentia pada tahun 200 dan
tahun 400.
Duplay memulai era modern pada bidang ini pada tahun 1874 dengan memperkenalkan
secara detail rekonstruksi uretra. Sekarang, lebih dari 200 teknik telah dibuat dan sebagian besar
merupakan multi-stage

reconstruction

yang

terdiri

dari

first

emergency

stage untuk

mengoreksi stenotic meatus jika diperlukan dan second stage untuk menghilangkan chordee dan
recurvatum, kemudian pada third stage yaitu uretroplasti.
Beberapa masalah yang berhubungan dengan teknik multi-stage yaitu membutuhkan
operasi yang multiple, sering terjadi meatus tidak mencapai ujung glans penis, sering terjadi
striktur atau fistel uretra, dan dari segi estetika dianggap kurang baik.
Pada tahun 1960, Hinderer memperkenalkan teknik one-stage repair untuk mengurangi
komplikasi dari teknik multi-stage repair. Cara ini dianggap sebagai rekonstruksi uretra yang
ideal dari segi anatomi dan fungsionalnya, dari segi estetik dianggap lebih baik, komplikasi
minimal, dan mengurangi social cost.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
Hipospadia dapat didefinisikan sebagai virilisasi inkomplit dari tuberkel genitalia yang
menyebabkan insufisiensi perkembangan jaringan-jaringan yang membentuk aspek ventral penis.
Tiga tipe anomali yang terkait dengan hipospadia yaitu :
(1) Pembukaan ektopik meatus urethra yang letaknya diantara glans dan pangkal penis.
(2) Curvatura ventral (chordee)
(3) Preputium yang menutup glans dan kelebihan kulit pada bagian dorsal dan
kekurangan kulit pada bagian ventral penis.
Meatus hipospadik juga bisa ditemukan di daerah preputium dan Chordee sering dikaitkan
dengan hipoplasia korpus spongiosum.

2.2 INSIDENSI
Insidensi hipospadia telah meningkat sejak 15 tahun yang lalu di negara-negara barat
dengan angka kejadian 1 untuk setiap 250 kelahiran bayi laki-laki. Insidensi lebih tinggi
sekiranya terdapat riwayat keluarga dengan hipospadia dengan angka kejadian 1 untuk setiap 100
kelahiran hingga 1 untuk setiap 80 kelahiran bayi laki-laki.
Insidensi kasus hypospadia terbanyak adalah Eropa dilaporkan dari Amerika Serikat,
Inggris, Hungaria telah menunjukkan peningkatan. BDMP menyatakan bahwa insdensi
hypospadia meningkat dari 20,2 per 10.000 kelahiran hidup pada 1.970 menjadi 39,7 per
10.000 kelahiran hidup pada tahun 1993.3,4
Kajian populasi yang dilakukan di empat kota Denmark tahun 1989-2003 (North Jutland,
Aarhus, Viborg dan Ringkoebing) tercatat 65.383 angka kelahiran bayi laki-laki dengan jumlah
kelainan alat kelamin (hypospadia) sebanyak 319 bayi.4

Di Amerika Serikat, hipospadia terjadi 1:300 kelahiran bayi laki-laki hidu. Kelainan ini
terbatas pada uretra anterior. Pemberian estrogen dan progestin selama kehamilan diduga
4

meningkatkan insidensinya. Jika ada anak yang hipospadia maka kemungkinan ditemukan 20%
anggota keluarga yang lainnya juga menderita hipospadia. Meskipun ada riwayat familial namun
hingga saat ini, belum ditemukan ciri genetik yang spesifik.

2.3 ETIOLOGI
Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum diketahui
penyebab pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa factor yang oleh para ahli dianggap
paling berpengaruh antara lain :3
1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormon
Hormon yang dimaksud di sini adalah hormon androgen yang mengatur organogenesis
kelamin (pria). Atau biasa juga karena reseptor hormon androgennya sendiri di dalam
tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormon androgen sendiri telah
terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan
memberikan suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis
hormon androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama.
2. Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada
gen yang mengkode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak
terjadi.
3. Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat
teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi

2.4 ANATOMI
5

Secara umum, fungsi penis ada dua yaitu:


1. Urination, penis berfungsi sebagai tempat keluarnya air seni atau urin dari kandung
kemih.
2. Ejakulasi, penis berfungsi untuk melepaskan semen (air mani) dari kelenjar prostat
dan sperma dari testis.
Jadi dapat disimpulkan bahwa fungsi penis berkaitan dengan fungsi reproduksi, seksual
dan ekskresi (pengeluaran). Menjalankan fungsi ekskresi, penis bertugas mengeluarkan cairan
sisa metabolisme yang tidak dibutuhkan tubuh, fungsi reproduksi untuk menyalurkan sel sperma
ke dalam rahim wanita agar dapat membuahi sel telur wanita (procreation). Dan fungsi seksual
sebagai alat untuk melakukan aktifitas seksual baik itu bersama pasangan maupun sendiri
(recreation). Struktur internal penis terdiri dari dua ruangan berbentuk jaringan (corpora
cavernosa) yang berjalan di sepanjang penis, uretra (tabung untuk mengeluarkan urin dan
ejakulasi), jaringan erektil yang mengelilingi uretra, dua arteri utama, dan beberapa pembuluh
darah dan saraf. Bagian terpanjang dari penis adalah shaft, bagian ujung atas penis terdapat
kepala berbentuk cendawan yang disebut glans penis.
Secara umum, penis terdiri atas tiga bagian utama, yang terbuat dari bahan seperti busa
yang dapat terisi darah, yaitu:
1.

Dua buah Corpora Cavernosa di kiri dan kanan atas, Kedua Corpora Cavenosa

ini diliputi oleh jaringan ikat yang disebut tunica albuginea, satu lapisan jaringan kolagen
yang padat dan di luarnya ada jaringan yang kurang padat yang disebut fascia buck.
2.

Korpus Spongiosum, yang berada di bawah dua corpora cavenosa dan mengelilingi

uretra.
Ketika seorang pria medapat stimulasi seksual dan terangsang, saraf di sekitar penis
menjadi aktif, menyebabkan otot-otot sekitar pembuluh darah menjadi rileks sehingga darah
mengalir lebih banyak ke dalam penis membuat penis kaku dan keras atau tegak.
Corpora Cavernosa

Corpora cavernosa adalah dua ruangan yang mengisi sebagian besar penis. Ruang-ruang
ini terisi jaringan spons yang mencakup otot, ruang terbuka, pembuluh darah dan arteri. Ereksi
terjadi ketika corpora cavernosa terisi dengan darah dan berkembang. Ereksi ini mengencangkan
pembuluh darah sehingga darah terjebak dan tidak bisa meninggalkan penis, memungkinkan
penis untuk tetap tegak selama beberapa menit. Setelah ejakulasi terjadi atau jika gairah seks
memudar, proses detumescence terjadi, di mana otak akan mengirimkan sinyal yang
memungkinkan darah meninggalkan penis, akibatnya penis menjadi lemas kembali.

Selaput albuginea
Adalah sebuah membran yang mengelilingi corpora cavenosa. Membran ini berfungsi
untuk menjaga darah tetap berada di dalam penis selama ereksi terjadi.

Uretra
Uretra adalah tabung yang menjadi saluran tempat urin keluar. Proses ejakulasi juga
melalui uretra. Letaknya menyusuri batang penis di bawah corpora cavernosa dan melebar pada
ujung uretra yang disebut meatus. Meatus terletak di glans (kepala penis).
7

Corpus spongiosum
Corpus spongiosum adalah salah satu bagian anatomi penis berbentuk ruang yang
mengelilingi uretra. Ruangan ini menjadi penuh dengan darah selama ereksi.
Glans (kepala penis)
Kepala penis berbentuk seperti kerucut. Kepala penis sangat sensitif dan biasanya
tertutup oleh kulup kecuali pada penis yang ereksi. Kepala penis memiliki beberapa fungsi yaitu
meningkatkan peluang untuk pembuahan telur, menciptakan gesekan saat berhubungan seks, dan
bertindak sebagai penumbuk atau penekan di dalam vagina selama hubungan seksual.
Kulup
Kulup adalah selubung kulit yang dapat terbuka di bagian atas. Saat bayi, kulup sangat
ketat dan biasanya tidak bisa ditarik. Kulup akan mengendur setelah usia bayi bertambah. Saat
ereksi, kulup penis akan tertarik sepenuhnya sehingga menampakkan kepala penis secara polos.
Kulit kepala penis sangat sensitif, dan fungsi dari kulup adalah untuk melindunginya.
Frenulum
Organ anatomi ini adalah salah satu area yang sangat sensitif pada penis, lokasinya
terletak di bagian bawah glans (kepala penis).
Smegma
Yaitu cairan pelumas alami yang dikeluarkan untuk membuat penis tetap lembab.
Smegma ditemukan di bawah kulup penis.
Scrotum (kantung kemaluan)
Skrotum adalah salah satu organ eksternal anatomi penis pria berbentuk kantung yang
menggantung di belakang dan di bawah penis, dan berisi testis (buah zakar). Fungsi utama
skrotum adalah untuk menjaga suhu testis tetap pada sekitar 34 C, suhu di mana testis paling
efektif menghasilkan sperma.
8

Testis
Merupakan kelenjar seksual laki-laki, ada dua testis dalam skrotum yang berfungsi
menghasilkan sperma dan hormon testosteron. Setiap testis menghasilkan hampir 150 juta
sperma setiap 24 jam.
Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urin ke luar dari buli-buli melalui proses miksi.
Pada pria organ ini berfungsi juga dalam menyalurkan cairan mani.
Uretra diperlengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada perbatasan buli-buli
dan uretra, dan sfingter uretra eksterna yang terletak pada perbatasan uretra anterior dan
posterior. Secara anatomis uretra dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Uretra pars anterior, yaitu uretra yang dibungkus oleh korpus spongiosum penis, terdiri
dari: pars bulbosa, pars pendularis, fossa navikulare, dan meatus uretra eksterna.
2. Uretra pars posterior, terdiri dari uretra pars prostatika, yaitu bagian uretra yang
dilengkapi oleh kelenjar prostat, dan uretra pars membranasea.

2.5 KLASIFIKASI
Terdapat beberapa klasifikasi hipospadia telah diperkenalkan, namun yang sering digunakan
saat ini adalah berdasarkan letak dari meatus uretra :
1. Glandular, muara penis terletak pada daerah proksimal glands penis
2. Coronal, muara penis terletak pada daerah sulkus coronalia
3. Penile shaft
4. Penoscrotal
5. Perineal

10

Namun, klasifikasi berdasarkan letak dari meatus uretra tidak cukup menggambarkan tingkat
keparahan dari malformasi. Klasifikasi lain yang praktis untuk menentukan prosedur operasi
adalah berdasarkan tingkat divisi dari korpus spongiosum :
1. Glandular Hypospadias. Meatus terletak pada glans dibelakang tempat meatus normal.
Meatus tampak ketat namun jarang sekali menyebabkan obstruksi aliran urin.
2. Hypospadias dengan divisi pada distal corpus spongiosum, bisa disertai sedikit atau tanpa
chordee.

11

3. Hypospadias dengan divisi pada proksimal corpus spongiosum. Tipe ini lebih mudah ditangani
karena teknik operasi untuk mengoreksi chordee dan merekonstruksi uretra telah lama
diperkenalkan.
4. Hypospadias cripples. Tipe ini terjadi pada pasien yang telah menjalani beberapa prosedur
operasi namun gagal, dan meninggalkan jaringan parut, meatus abnormal, striktur, fistula dan
gangguan kosmetis dan psikologis.
2.6 Manifestasi Klinis
Gejala yang timbul pada kebanyakan penderita hypospadia biasanya datang dengan
keluhan kesulitan dalam mengatur aliran air kencing (ketika berkemih). Hypospadia tipe
perineal dan penoscrotal menyebabkan penderita harus miksi dalam posisi duduk dan pada
orang dewasa akan mengalami gangguan hubungan seksual.12
Tanda-tanda klinis hypospadia : 11,12
1. Lubang Osteum/orifisium Uretra Externa (OUE) tidak berada di ujung glands penis.
2. Preputium tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung penis.
3. Biasanya jika penis mengalami kurvatura (melengkung) ketika ereksi, maka dapat
disimpulkan adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang membentang hingga ke glans
penis.
4. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glands penis.

A : Penis yang Normal

B : Hypospadias dengan chorda

Selain terdapat tanda dan gejala klinis diatas dalam beberapa penelitian juga
membuktikan bahwa sebagian besar hypospadia mengalami sedikit gangguan psikologis.
Roger dan Michel (2005) mengungkapkan bahwa pederita hypospadia memiliki pola
12

pergaulan yang cenderung menutup diri. Faktor psikososial 43% terjadi pada penderita
hypospadia. Beberapa sumber menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi psikososial
hypospadia pada orang dewasa adalah hubungan antara hypospadia fungsi seksual 10%,
namun belum dilakukan survei tentang korelasi antara hypospadia dengan fungsi reproduksi
untuk memdapatkan keturunan.12

2.7 DIAGNOSIS
Diagnosis hipospadia biasanya jelas pada pemeriksaan inspeksi. Kadang-kadang
hipospadia dapat didiagnosis pada pemeriksaan ultrasound prenatal. Jika tidak teridentifikasi
sebelum kelahiran, maka biasanya dapat teridentifikasi pada pemeriksaan setelah bayi lahir.
Pada orang dewasa yang menderita hipospadia dapat mengeluhkan kesulitan untuk
mengarahkan pancaran urin. Chordee dapat menyebabkan batang penis melengkung ke ventral
yang dapat mengganggu hubungan seksual. Hipospadia tipe perineal dan penoscrotal
menyebabkan penderita harus miksi dalam posisi duduk, dan hipospadia jenis ini dapat
menyebabkan infertilitas.
Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu uretroskopi dan
sistoskopi untuk memastikan organ-organ seks internal terbentuk secara normal. Excretory
urography dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya abnormalitas kongenital pada ginjal dan
ureter.

2.8 PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan hipospadia adalah dengan jalan pembedahan. Tujuan prosedur pembedahan
pada hipospadia adalah :
1. Membuat penis lurus dengan memperbaiki chordee
2. Membentuk uretra dan meatusnya yang bermuara pada ujung penis (uretroplasti)
13

3. Untuk mengembalikan aspek normal dari genitalia eksterna (kosmetik) dengan


merekonstruksi jaringan yang membentuk radius ventral penis (glans, corpus spongiosum
dan kulit)
Pembedahan dilakukan berdasarkan kondisi malformasinya. Pada hipospadia glanular, uretra
distal ada yang tidak terbentuk, biasanya tanpa recurvatum, bentuk seperti ini dapat
direkonstruksi dengan flap lokal (misalnya, prosedur Santanelli, Flip flap, MAGPI [meatal
advance and glanuloplasty], termasuk preputium plasti).

PRINSIP PEMBEDAHAN
1) Eksisi chordee
Setelah insisi dari hipospadia telah dilakukan dan flap telah diangkat, seluruh jaringan yang
dapat mengakibatkan penis menjadi bengkok diangkat dari sekitar meatus dan dibawah
glans. Setelah itu dilakukan tes ereksi artificial. Bila chordee tetap ada, maka diperlukan reseksi
lanjutan. Kurang dari 5% kasus, chordee masih bertahan walaupun telah dilakukan dua prosedur
tersebut, dan ini membutuhkan plikasi dorsal dari corpus cavernosa. Sejumlah ahli bedah tidak
menyetujui tindakan membebaskan urethal plate karena dikatakan akan membahayakan aliran
darah ke daerah tersebut. Mereka lebih memilih untuk melakukan dorsal corporeal plication
secara langsung. Khusus buat kondisi hipospadia yang paling berat, apabila prosedur Koyanagi
yang dipilih, urethral plate dibagi dua dan diposisikan ke dorsal glans , lalu dipisahkan ke
dasar/pangkal penis. Proses pemisahan yang komplit dari jaringan uretra dari aspek ventral
corpora lazimnya cukup untuk meluruskan penis, walaupun prosedur ini hanya digunakan pada
hipospadia paling parah.
2) Urethroplasti
Pemilihan urethroplasti tergantung kualitas dan lebar dari urethral plate (pelepasan mukosa
uretra mulai dari meatus uretral ektopik sampai ke glans cap). Sekiranya urethral plate cukup
lebar dan baik, ia bisa digunakan untuk menkonstruksi salur uretra (prosedur Thiersch-Duplay).
Namun, jika urethral plate tipis atau sempit, masih terdapat beberapa opsi. Opsi yang paling
popular saat ini yaitu prosedur Snodgrass, di mana urethral plate di insisi secara longitudinal dari
14

meatus ektopik sehingga ke glans. Alternatif lain adalah jaringan dengan empat persegi panjang
di pisahkan dan di aplikasi ke urethral plate dan dijahit di pinggirnya (onlay urethroplasty).
Jaringan berbentuk empat persegi panjang ini diambil dari kulit bagian preputium dan
diposisikan pada tepi ventral meatus uretral ektopik (prosedur Mathieu flip-flap) atau bisa
dengan pencakokan jaringan, lazimnya mukosa buccal atau yang jarang dipakai yaitu mukosa
vesika urinaria dan kulit. Dalam kasus yang jarang, urethral plate tidak dipertahankan, dan
substitusi penuh dari uretra yang hilang harus dilakukan dengan menggunakan tabung mukosa
preputium (prosedur Asopa-Duckett) atau tabung mukosa buccal (prosedur Koyanagi)

15

Gambar 1.0 Prosedur Thiersch-Duplay A: Garis insisi. B dan C: Insisi dilakukan sepanjang
garis tepi urethral plate dan tubularisasi plate dengan memasukkan kateter ukuran 8F (2.64mm)
hingga 10F (3.30mm) D: Melakukan glansplasti, sirkumsisi (penjahitan kulit pada korona)

16

Gambar 1.1 Posedur Onlay. A: Garis insisi B: Diseksi preputium berbentuk segi empat C dan D:
Mukosa preputium yang sudah didiseksi dipindahkan ke urethral plate supaya bisa menjadi dasar
dan menutup urethral plate. E dan F: Pedicle dimobilisasi untuk menutup garis suture,
dilanjutkan dengan glansplasti, dan sirkumsisi.

17

Gambar 1.2 Prosedur Mathieu. A: Garis insisi. B: Diseksi Mathieu flap dan insisi sepanjang tepi
urethral plate.C: Menjahit Mathieu flap di sepanjang tepi urethral plate yang telah dimasukkan
kateter ukuran 8F (2.64-mm) hingga 10F (3.30-mm). D: glansplasti, dan sirkumsisi.

Sebagai tambahan kepada prosedur standar diatas, beberapa teknik operasi telah
diperkenalkan, misalnya prosedur pembentukan semula glans (glans reshaping) untuk
hipospadia yang sangat distal, dikenal sebagai, meatal advancement and glanuloplasty
incorporated (MAGPI) procedure yang saat ini sudah kurang popular. Prosedur lain adalah
mobilisasi penuh uretra dan prosedur Turner-Warwick yang memiliki kelebihan tidak
menggunakan jaringan non-uretra untuk merekonstruksi uretra seluruhnya.
18

3) Penile Covering
Apabila penis telah menjadi lurus dan uretra telah direkonstruksi sempurna, banyak ahli
bedah menganjurkan untuk ditutup neouretra dengan jaringan yang masih sihat, misalnya dengan
menggunakan dua penyangga yaitu spongiosum dan diposisikan di masing-masing sisi lateral
uretra (spongioplasti) atau jaringan diambil dari bagian dorsum penis atau skrotum. Langkah
selanjutnya adalah rekonstruksi meatus yang baru (meatoplasti), membuat glans bagian ventral
(glanuloplasti), dan pembentukan mucosal collar disekeliling glans (prosedur Firlit).

Gambar 1.3 A: Mukosa buccal berbentuk empat segi diambil dari bagian dalam bibir bawah.
B: Buccal graft (uretroplasti).
BEBERAPA TEKNIK YANG SERING DIGUNAKAN OLEH AHLI BEDAH UROLOGI.
Hipospadia glanular
Walaupun hipospadia tipe ini sering disebut hipospadia minor, namun untuk
menatalaksananya adalah sukar karena bagian distal uretra sering mengalami hipoplastik
misalnya tidak dikelilingi oleh korpus spongiosum dan dikarenakan anomali pada tipe ini
keliatan minor, jadi sering dianggap hanya memerlukan tatalaksana yang minimal. Kondisi inilah
yang menjadi sebab mengapa prosedur MAGPI oleh Duckett dipilih sebagai prosedur yang
paling popular dipakai bertahun-tahun, sangat sederhana untuk diaplikasi dan mudah untuk
19

belajar. Bagaimanapun, prosedur MAGPI belum dapat memberikan kepuasan jangka panjang,
jadi teknik rekonstruksi distal uretra dan ventral glans yang lebih terperinci dan rumit lebih
dipilih saat ini.
Prosedur menggunakan Urethral Plate
Pada prosedur Thiersch-Duplay, penutupan uretra yang telah direkonstruksi dapat
dilakukan jika sayatan yang dibuat pada glans cukup dalam. Urethral plate dibebaskan dengan
cara melakukan insisi secara vertical pada masing-masing pinggirnya. Selanjutnya urethral plate
digulung setelah dimasukkan kateter uretra dan dijahit dengan menggunakan benang yang dapat
diabsorpsi (6-0 hingga 7-0 polidioksanon atau poliglaktin).
Prosedur Snodgrass bisa dijadikan alternatif jika distal dari urethral plate terlalu sempit
atau tidak cukup untuk digulung. Satu sayatan secara longitudinal pada garis tengah dibuat pada
urethral plate, yang kemudiannya digulung melingkari kateter, meninggalkan area kosong
didalam uretra dan diharapkan di kemudian hari akan mengalami epitelisasi. Hasil dari teknik ini
adalah baik. Di dalam satu literatur, dinyatakan angka terjadinya komplikasi cuma 9-10% dengan
masing-masing stenosis meatus (3%), fistula (5%), dan striktur uretra (2%) .
Prosedur Koff
Mobilisasi komplit uretra (prosedur Koff), adalah teknik lain untuk mereposisikan meatus
uretra ke tempat yang seharusnya walaupun dikira sangat ekstensif oleh beberapa ahli. Pada
teknik ini, seluruh uretra dipisahkan dari aspek anterior korpus kavernosa dan dipindahkan dari
dorsal ke depan/ventral supaya meatus berada di ujung glans. Panjang uretra dari 5 hingga 15mm
bisa didapatkan dengan menggunakan teknik ini. Panjang tersebut bisa lebih sekiranya uretra
dibebaskan lebih proksimal dengan menggunakan prosedur Turner-Warwick walaupun jarang
sekali diperlukan untuk hipospadia tipe glanular. Prosedur Koff bisa menimbulkan komplikasi
fistula yang sangat jarang terjadi, namun terjadinya stenosis meatus bisa mencapai 20% kasus,
diduga karena terjadi distal iskemi. Ketiga-tiga prosedur ini menarik karena tidak menggunakan
jaringan non-uretra untuk merekonstruksi uretra.

Prosedur Mathieu
20

Pada prosedur ini, dilakukan dua insisi secara paralel pada kedua sisi urethral plate,
hingga ke ujung glans dan mendalam ke korpus kavernosa. Garis insisi membatasi a perimeatal
skin flap yang dilipat dan dijahit ke pinggir urethral plate. Selanjutnya, sisi lateral glans didiseksi
dari korpus kavernosa. Angka terjadinya komplikasi dengan prosedur ini adalah jarang dengan
masing-masing striktura distal (1%), fistula (4%), retraksi meatus (0.5%) dan fistula
uretrokutaneus

(1%). Dikwatirkan adalah terjadinya half-moon-shaped dari meatus, namun

diseksi ekstensif pada dua sayap glans akan menghasilkan granuloplasti yang baik. Jadi, secara
keseluruhan, hasilnya masih memuaskan.

21

Gambar 1.4 Prosedur Asopa-Duckett A: Garis insisi. B dan C: Diseksi mukoa preputium
berbentuk empat segi dengan bagian pedikel (kaki). D: Flap ditubularisasi melingkari kateter
ukuran 8F (2.64-mm) sampai 10F (3.30-mm) dan anastomosis secara sirkular dengan uretra natif
dibentuk pada bagian proksimal. E dan F: Pedikel (kaki) menutup garis suture. Glansplasti,
sirkumsisi, dan penutupan oleh kulit dilakukan.
22

Gambar 1.5 Prosedur Koyanagi A dan B: Garis insisi. C: Mukosa preputium di insisi pada posisi
jam 12 supaya membentuk flap huruf Y. D: Sisi medial dari dua flaps preputium disambung
dan dijahit membentuk dinding belakang dari neouretra. E: Neourethral plate di tubularisasi
menutup kateter ukuran 8F (2.64-mm) sampai 10F (3.30-mm). F: Firlit collar, glansplasti,
sirkumsisi dan penutupan dengan kulit dilakukan.
23

Gambar 1.6 Mucosal (Firlit) collar mengelilingi glans.


Meatal Advancement and Glanuloplasty Incorporated
Prosedur MAGPI lebih kearah membentuk kembali (reshaping) glans dan dalam hal ini
meatus uretra sudah dipindahkan ke ujung penis. Teknik MAGPI ini dapat digunakan untuk
pasien dengan hipospadia glanular distal. Setelah penis terlihat lurus pada tes ereksi artifisial,
insisi sirkumsis dilakukan. Skin hook diletakkan pada tepi ujung dari saluran uretra glanular lalu
kemudian ditarik ke arah lateral. Gerakan ini dapat meningkatkan transverse band dari mukosa
yang nantinya akan diinsisi longitudinal pada garis tengah. Insisi pada dinding dorsal glanular
uretra ini nantinya akan ditutup dengna jahitan transversal dengan chromic catgut 6-0. Skin hook
ditempatkan pada tepi kulit dari korona pada garis tengah ventral. Dengan traksi distal, ujung
glans ditarik ke depan dan dijahitkan pada garis tengah dengan jahitan subkutikuler. Epitel glans
ditutup dengan jahitan interrupted . Kelebihan kulit dari prepusium dorsal dapat dijahitkan untuk
penutupan kulit.

Prosedur Multistage

24

Prosedur Multistage dilakukan apabila ada indikasi yaitu hipospadia posterior yang parah
dimana urethral plate tidak dapat dipertahankan.Beberapa ahli bedah plastic seperti Bracka
melaporkan hasil yang baik dari segi kosmetik sekiranya menggunakan prosedur twostages yang
di ilhami oeh teknik Clouteir. Hal yang dikwatirkan dalam penggunaan prosedur two-stages ini
adalah pemakaian kulit untuk memperbaiki uretra. Pada dekad terakhir abad ke 20, kulit
dikatakan sebagai jaringan yang kurang baik untuk menggantikan uretra karena angka terjadinya
striktur utera sangat tinggi akibat pemakaian tersebut. Hal ini menjadi alasan mengapa prosedur
twostages yang menggunakan mukosa buccal memberikan hasil jangka panjang yang lebih baik.
Dikenal tiga tahapan atau teknik dalam prosedur multistage yaitu prosedur Byas, Modifikasi
kecil dan Teknik Belt-Fuqua.
Prosedur Byas
Pada tahap pertama dilakukan chordectomi dan defek pada kulit ventral ditutup dengan
menyambungkan kedua belah preputium. Tahap kedua (uretroplasti) idealnya dilakukan setelah 6
bulan atau lebih. Pembuatan neouretra harus disesuaikan dengan ukuran uretra yang sudah ada.
Modifikasi kecil
Jika tidak tersedia kulit yang cukup untuk uretroplasti, penis dapat ditanamkan pada
skrotum. Setelah 4 bulan penis kemudian dibebaskan dari skrotum, dimana sebagian dari kulit
skrotum telah menutupi bagian ventral penis.
Teknik Belt-Fuqua
Setelah melepaskan chordee dengan insisi buttonhole, preputium selanjutnya di putar ke
ventral dengan ujung glans melewati insisi buttonhole yang telah dibuat, lalu di jahit dengan baik
sehingga tersisa sebagian besar kulit pada distal meatus. Enam bulan kemudian, uretra dibentuk
dengan menggunakan kulit preputim yang tersisa, kemudian dibuat saluran/terowongan ke dalam
glans.
2.9 KOMPLIKASI
Komplikasi awal yang bisa terjadi adalah :
25

1)

Perdarahan : Perdarahan postoperasi jarang terjadi dan biasanya dapat dikontrol dengan
balut tekan. Tidak jarang hal ini membutuhkan eksplorasi ulang untuk mengeluarkan
hematoma dan untuk mengidentifikasi dan mengatasi sumber perdarahan.

2)

Infeksi : Infeksi merupakan komplikasi yang cukup jarang dari hipospadia. Dengan
persiapan kulit dan pemberian antibiotika perioperatif hal ini dapat dicegah.

3)

Edema : Edema lokal dan bintik-bintik perdarahan dapat terjadi segera setelah operasi
dan biasanya tidak menimbulkan masalah yang berarti.

4)

Jahitan yang terlepas

5)

Nekrosis flap

Komplikasi lanjut yang bisa terjadi adalah :


1) Ketidakpuasan

kosmetis : Komplikasi ini biasa terjadi hasil dari penjahitan yang

irregular, gumpalan kulit (skin blobs), atau kulit bagian ventral yang berlebihan. Jika
aspek ventral glans pendek dan tidak ada mucosal collar disekeliling glans, hasilnya
adalah mengecewakan. Namun yang harus diingat sering pasien dan ahli bedah masingmasing mempunyai tanggapan yang beda tentang kosmetis.
2) Stenosis atau menyempitnya meatus uretra

karena edema atau hipertropi scar pada

tempat anastomosis. Adanya aliran air seni yang mengecil dapat menimbulkan
kewaspadaan atas adanya stenosis meatus. Stenosis meatal lazimnya mudah untuk
ditangani dengan melakukan operasi meatal revision. Namun, stenosis di proximal adalah
paling parah dan cuma bisa diperbaiki dengan dilatasi uretra, yang mana tidak
memungkinkan untuk dilakukan pada anak.
3) Fistula uretrokutan : Fistula uretrokutan merupakan masalah utama yang sering muncul
pada operasi hpospadia. Fistula jarang menutup spontan dan dapat diperbaiki dengan
penutupan berlapis dari flap kulit lokal. Fistula yang kecil dan tidak berhubungan dengan
striktur uretra bisa sembuh secara spontan. Lokasi terjadinya fistula sering di proksimal
corona pada sisi lateral. Jika fistula masih bertahan lebih dari 6 bulan setelah prosedur
26

inisial, salurnya harus di eksisi, di jahit, dan ditutup dengan beberapa lapis jaringan.
Kombinasi diantara fistula dan stenosis uretra adalah biasa, justru itu uretroplasti perlu
diperiksa secara berterusan sebelum fistula ditutup. Fistula yang letaknya di belakang
corona tidak mudah untuk di tutup dan sering mengalami rekurensi jika eksisi dan
penutupan dengan teknik sederhana dilakukan. Jadi, direkomendasikan untuk dilakukan
uretroplasti distal sekali lagi dengan teknik Mathieu flap.

4) Striktur uretra : Komplikasi ini sudah jarang terjadi saat ini, karena ahli bedah telah
mengambil langkah awal dengan tidak melakukan anastomosis sirkular dan memilih
prosedur uretroplasti secara onlay. Gangguan aliran urin yang terus-terusan bisa
menyebabkan kerusakan saluran urin dan vesika urinaria karena harus memberikan
tekanan yang kuat untuk mengeluarkan urin. Keadaan ini dapat diatasi dengan
pembedahan, dan dapat membutuhkan insisi, eksisi atau reanastomosis.

5) Divertikula : Divertikula uretra dapat juga terbentuk ditandai dengan adanya


pengembangan uretra saat berkemih. Striktur pada distal dapat mengakibatkan obstruksi
aliran dan berakhir pada divertikula uretra. Divertikula dapat terbentuk walaupun tidak
terdapat obstruksi pada bagian distal. Hal ini dapat terjadi berhubungan dengan adanya
graft atau flap pada operasi hipospadia, yang disangga dari otot maupun subkutan dari
jaringan uretra asal.

6) Adanya rambut dalam uretra : Kulit yang mengandung folikel rambut dihindari
digunakan dalam rekonstruksi hipospadia. Bila kulit ini berhubungan dngan uretra, hal
ini dapat menimbulkan masalah berupa infeksi saluran kemih dan pembentukan batu saat
pubertas. Biasanya untuk mengatasinya digunakan laser atau kauter, bahkan bila cukup
banyak dilakukan eksisi pada kulit yang mengandung folikel rambut lalu kemudian
diulang perbaikan hipospadia.

27

7) Ektropion mukosa : Komplikasi ini sudah jarang terjadi dengan penggunaan teknik
uretroplasti onlay. Jika terjadi, sering berbarengan pseudopolips dan memerlukan untuk
di reseksi. Rekurensi sering, yaitu sebagai stenosis meatal sekunder.
8) Balanitis xerotica obliterans (BXO) : Komplikasi yang juga jarang terjadi, dikaitkan
dengan inflamasi kronik dan fibrosis dari meatus dan glans. Meatoplasti atau uretroplasti
ulang menggunakan mukosa buccal harus dipertimbangkan jika aplikasi steroid topical
gagal.
9) Uretrocele : Komplikasi ini dikaitkan dengan perbedaan compliance uretra diantara uretra
natif dan uretra yang direkonstruksi. Justru itu, penting untuk menopang uretra dengan
beberapa lapisan jaringan yang bervaskularisasi, untuk mengurangkan perbedaan dari
elastisitas jaringan. Penting juga untuk memeriksa uretrocele tidak berhubungan dengan
stenosis uretra. Komplikasi ini biasa terjadi pada uretroplasti dengan menggunakan
mukosa kandung kemih. Dalam hal ini, eksisi jaringan uretra yang berlebihan dan
tatalaksana stenosis distal adalah diperlukan.
10) Meatal Regression or Glanular Dehiscence
11) Chordee persisten
12) Kebocoran traktus urinaria karena penyembuhan yang lama.
.
2.10 PROGNOSIS
Secara umum hasil fungsional dari one-stage procedure lebih baik dibandingkan
dengan multi-stage procedures karena insidens terjadinya fistula atau stenosis lebih sedikit, dan
lamanya perawatan di rumah sakit lebih singkat, dan prognosisnya baik.

28

BAB III
KESIMPULAN

Hipospadia merupakan suatu kelainan bawaan dimana meatus uretra eksternus (lubang
kencing) terletak di bagian bawah dari penis dan letaknya lebih kearah pangkal penis
dibandingkan normal. Hipospadia biasanya disertai bentuk abnormal penis yang disebabkan
adanya chordee dan adanya kulit di bagian punggung penis yang relatif berlebih dan bagian
bawah yang kurang. Operasi hipospadia sampai saat ini sangat menantang, dengan tingkat
komplikasi yang signifikan walaupun telah diusahakan operasi seefektif mungkin. Perawatan
selama preoperatif dan perioperatif sangat mempengaruhi kesembuhan. Pada abad ini, tantangan
utama yang dihadapi oleh ahli bedah adalah menemukan jaringan yang adekuat untuk
menggantikan uretra yang hilang/tidak cukup (missing urethra). Hal ini karena kepuasan
maksimal belum tercapai dengan penggunaan jaringan kulit, mukosa buccal atau mukosa
kandung kemih sebagai pengganti. Kultur sel-sel urotelial mungkin bisa dipertimbangkan
mengingat ianya bahan yang mudah untuk ditangani untuk uretroplasti.

DAFTAR PUSTAKA
29

1. Pierre D.E. Mouriquand, Delphine Demde, Daniela Gorduza, Pierre-Yves.


Saunders Pediatric Urology 2nd ed. Hypospadias. Philadelphia : Elsevier Inc;
2010. p. 526-543.
2. Jack W.McAninch. Smiths General Urology 17th ed. Disorders of the Penis &
Male Urethra. California : The McGraw-Hill Companies; 2008. p. 629-631.
3. Wim De Jong, R. Sjamsuhidajat, Buku Ajar Ilmu Bedah 3rd ; 2002 p. 862-863.
4. Laurence S. Baskin. Cambridge Pediatric Surgery & Urology 2nd ed. Hypospadias
. New York : Cambridge University Press; 2006. p. 611-618.
5. Sowande, Olajide, Salako. Experience with transverse preputial island flap for
repair of hypospadias in Ile-Ife, Nigeria. African Journal of Paediatric Surgery.
2009;6(1):40-43.
6. Antonio Macedo Jr, Riberto Liguori, Sergio L. Ottoni. Long-term results with a
one-stage complex primary hypospadias repair strategy (the three-in-one
technique). Journal of Pediatric Urology. 2011;7:299-304.
7. Miroslav L. Djordjevic, Sava V. Perovic, Zoran Slavkovic, Nenad Djakovic.
Longitudinal Dorsal Dartos Flap for Prevention of Fistula after a Snodgrass
Hypospadias Procedure. European Association of Urology. 2006;50:53-57.
8. Amilal Bhat. General considerations in hypospadias surgery. Indian Journal of
Urology. 2008;24(2):188-194

30