Anda di halaman 1dari 201

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
1. Abdul hakim
2. Aprizal
3. Astri widyarini
4. Ayu rizky nanda
5. Daniel marison
6. Dhani windra gusva
7. Ekin dwi arif kurniawan
8. Elvi arni
9. Emalia contesa
10. Husna

A1C112009
A1C112015
A1C112001
A1C112007
A1C112017
A1C112010
A1C112011
A1C112039
A1C112023
A1C112037

ASISTEN :
Muhammad Al Muttaqi
Wulan Primadhani Suryadi
Ade Gusnita

PENDIDIKAN KIMIA REGULER


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
Page
1

DAFTAR ISI
PERCOBAAN
1 PENGAMATAN ILMIAH DAN STOIKIOMETRI KClO3 ........................................

2 GOLONGAN DAN IDENTIFIKASI UNSUR ............................................................ 21


3 RUMUS EMPIRIS SENYAWA DAN HIDRASI AIR ...............................................

39

4 TERMOKIMIA DAN HUKUM HESS .......................................................................

57

5 PEMISAHAN KOMPONEN DARI CAMPURAN DAN ANALISIS MELALUI


PENGENDAPAN ........................................................................................................

68

6 REAKSI-REAKSI KIMIA DAN REAKSI REDOKS ................................................

85

7 PENETAPAN MASSA MOLAR BERDASARKAN PENURUNAN TITIK BEKU . 100


8 SKALA pH DAN PENGGUNAAN INDIKATOR ....................................................

110

9 TITRIMETRI DAN PENGENDALIAN KEASAMAN (pH) LARUTAN BUFFER .. 122


10 KINETIKA KIMIA ..................................................................................................... 137
11 PERBANDINGAN SENYAWA KOVALEN DAN IONIK ...................................... 153
12 IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSI ............................................................................ 164
13 ESTER ........................................................................................................................ 178

Page
2

PERCOBAAN 1
I.
II.
III.

JUDUL
HARI/ TANGGAL
TUJUAN

: Pengamatan Ilmiah dan Stoikiometri KClO3


: Rabu, 20 Maret 2013
:
1. Memperoleh pengalaman dalam mencatat dan menjelaskan
pengamatan percobaan
2. Mengembangkan keterampilan dalam menangani alat kaca dan
mengalihkan bahan kimia padat maupun cair
3. Membiasakan diri dengan tata cara keselamatan kerja di laoraturium
4. Menentukan koefisien reaksi penguraian KClO3
5. Menghitung volume molar gas oksigen pada keadaan STP
6. Menghitung persentase O2 dalam KClO3

IV.

PERTANYAAN PRAPRAKTIK
1. Dengan kata-kata sendiri definisikan istilah berikut : kimia, percobaan, hipotesis, ilmu,
hukum ilmiah, metode ilmiah, teori.
Jawab :
Kimia
: ilmu yang mempelajari tentang susunan, sifat dan reaksi dari unsur,
senyawa atau campuran
Percobaan : suatu tindakan uji yang dilakukan untuk menguji suatu hipotesis atau
masalah yang hasilnya digunakan untuk menambah atau
mengembangkan pengetahuan
Hipotesis : jawaban atau pemecahan masalah sementara yang masih harus
dibuktikan kebenarannya melalui eksperimen
Ilmu
: pemahaman yang dihasilkan dari usaha berpikir manusia secara sadar
yang telah diuji melalui uji coba dan digunakan untuk menambah
pengetahuan manusia lainnya
Hukum ilmiah : suatu hukum atau pernyataan dalam ilmul pengetahuan yang
bermula dari hipotesis dan pemikiran kritis
Metode ilmiah : suatu cara sistematis yang digunakan untuk memperoleh atau
mengembangkan pengetahuan
Teori : suatu dalil atau penjelasan dalam ilmu pengetahuan yang diterima
masyarakat dan telah dibuktikan melalui percobaan

Page
3

2. Mana dari bahan berikut yang perlu ditangani dengan hati-hati dan sebutkan bahayanya
:asam pekat, alkohol, amonium nitrat, kalsium klorida, bahan kimia organik, air suling
Jawab :
Yang perlu ditangani dengan hati-hati adalah asam pekat, alkohol, amonium nitrat,
kalsium klorida dan bahan kimia organik, bahayanya yaitu :
- Asam pekat dapat bereaksi dengan jaringan hidup (mata, kulit, saluran
pernafasan), yang dapat mengakibatkan kerusakan berupa luka peradangan,
iritasi, dan jika terpercik ke mata dapat mengakibatkan kebutaan
- Alkohol, dapat menyebabkan kebutaan, jika dipanaskan langsung dengan api
akan mudah terbakar
- Amonium nitrat, jika mengalami kontak dengan hidrokarbon dapat meledak dan
bila terkena kulit, akan terasa pedih dan panas
- Kalsium klorida, menyebabkan gatal dan merah bahkan kulit dapat terkelupas
- Bahan kimia organik, bila terhirup dapat menyebabkan mual-mual dan pingsan
3. Apa yang akan Anda lakukan bila bahan kimia terpercik ke mata Anda?
Jawab :
Apabila bahan kimia terpercik ke mata saya, maka saya akan mencuci mata saya
dengan air banyak-banyak dan melaporkan kejadian ini kepada asisten
4. Tuliskan persamaan reaksi kimia untuk reaksi yang terjadi bila sampel KClO3 dipanaskan?
Jawab :
2KClO3 MnO
2KCl + 3O2
5. Apa gunanya MnO2 yang ditambahkan pada KClO3 sebelum dipanaskan?
Jawab :
MnO2 berguna untuk mempercepat laju reaksi karena MnO2 merupakan katalis
2

6. Tuliskan kegunaan KClO3 dalam industri!


Jawab :
KClO3 dalam industri berguna sebagai bahan pembuat kembang api, petasan ,
pelapis korek api batangan ,bahan peledak, serta pupuk
V.

LANDASAN TEORI
Ilmu kimia sebagai bagian dari ilmu pengetahuan alam mempelajari komposisi dan
struktur zat kimia serta hubungan keduanya dengan sifat zat tersebut. Komposisi (susunan) zat
menyatakan perbandingan unsur yang membentuk zat itu. Contohnya air dan etanol. Di dalam
satu molekul air ter apat dua atom hidrogen dan satu atom oksigen, sedangkan dalam molekul
etanol terdapat dua atom karbon, enam atom hidrogen, dan satu atom oksigen. Dengan
demikian, rumus senyawa air dan etanol adalah H2O dan C2H5OH (Syukri,1999:1).
Sebagian besar ilmua kimia merupakan ilmu percobaan, sebagian besar pengetahuaanya
diperoleh dari penelitian di laboratorium. Banyak penelitian canggih di bidang biologi dan
kedokteran dilakukan pada tingkat atom dan molekul, unit struktural yang merupakan dasar dari
ilmu kimia (Chang, 2003:4).
Page
4

Metode ilmiah (scientific method) adalah suatu pendekatan sistematik untuk melakukan
penelitian. Lanhkah umum dalam metode ilmiah adalah mengadakan pengamatan, merumuskan
hipotesis, melakukan percobaan, menarik kesimpulan, dan membuat laporan. Data pengamatan
yang telah diperoleh, memerlukan penjelasan sementara yang disebut hipotesis. Kebenaran
hipotesis dapat diketahui setelah diuji dengan percobaan. Data yang diperoleh mungkin sesuai
dengan hipotesis, tetapi mungkin juga tidak. Hipotesis yang teruji kebenarannya melalui
percobaan yang dilakukan berulang kali dapat dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan umum
yang disebut teori. Menarik kesimpulan untuk mendapatkan sebuah teori adalah puncak kegatan
dalam metode ilmiah (Syukri,1999:2-5).
Aspek penting penelitian ilmiah adalah eksplanasi. Eksplanasi dapat membantu
mengorganisasikan pengetahuan dan meramalkan kemungkinan gejala berikutnya. Suatu
hipotesis adalah eksplanasi sementara dari beberapa keteraturan alam. Hipotesis ini harus diuji
melalui percobaan baru. Jika hipotesis adalah dasar ilmiah dan berhasil melewati serangkaian
pengujian, maka hipotesis menjadi suatu teori. Kedua aspek ilmiah, yakni pengukuran dan
eksplanasi saling berhubungan satu sama lain (Sunarya,2010:5-6).
Dalam ilmu kimia, stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari dan menghitung hubungan
kuantatif dari reaktan dan produk dalam reaksi kimia (persamaan kimia). Kata ini berasal dari
bahasa Yunani stoikheion (elemen) dan metria (ukuran). Stoikiometri reaksi adalah penentuan
perbandingan massa unsur-unsur dalam senyawa dalam pembentukan senyawanya. Pada
perhitungan kimia secara stoikiometri biasanya diperlukan hukum-hukum dasar ilmu kimia
(Zul, 2009: 1-2).
Hukum-hukum pokok reaksi kimia atau hukum pokok ilmu kimia dan biasanya disebut
juga hukum persenyawaan kimia merupakan generalisasi dari hasil eksperimen tentang massa
pereaksi dan hasil reaksi dari sejumlah reaksi kimia, yaitu :
1. Hukum kekekalan massa
Pada setiap reaksi kimia, massa zat-zat yang bereaksi adalah sama dengan massa zat-zat
hasil reaksi. Hukum ini berlaku untuk semua reaksi kimia.
2. Hukum kekekalan tetap
Suatu senyawa murni selalu terjadi dari unsur-unsur yang sama, yang tergabung dalam
perbandingan tertentu. Hukum ini tidak berlaku untuk senyawa non stoikiometrik
3. Hukum kelipatan perbandingan
Bila dua unsur dapat membentuk lebih dari satu senyawa, perbandingan massa dari unsur
yang satu, yang bersenyawa dengan sejumlah tertentu unsur lain, merupakan bilangan
mudah dan bulat
4. Hukum perbandingan setara menunjukkan bahwa setiap gram hidrogen beraksi dengan 8
gram oksigen
(Achmad, 1993:7)
Dapat dinyatakan bahwa reaksi kimia adalah suatu proses dimana zat-zat baru yaitu hasil
reaksi, terbentuk dari beberapa zat aslinya, yang disebut pereaksi. Biasanya, suatu reaksi kimia
disertai oleh kejadian-kejadian fisis, seperti perubahan warna, pembentukan endapan atau
timbulnya gas (Petrucci, 1987: 92).
Page
5

Satuan yang digunakan untuk reaktan atau produk adalah mol, untuk menghitung jumlah
produk yang terbentuk dalam reaksi kimia. Pendekatan ini disebut metode mol (mol method)
yang berarti bahwa koefisien stoikiometri dalam persamaan kimia dapat diartikan sebagai
jumlah mol dari setiap zat. Sebagai contoh, pembakaran karbon monoksida di udara
menghasilkan karbon dioksida :
2CO(g) + O2(g)

2CO2(g)

Untuk perhitungan stoikiometri persamaan di atas dibaca sebagai, 2 mol gas karbon
monoksida bergabung dengan 1 mol gas oksigen membentuk 2 mol gas karbon dioksida.
Metode mol terdiri dari beberapa tahap :

massa
reaktan

menggunakan
massa molar

mol
reaktan

menggunakan
perbandingan mol

mol
produk

menggunakan
massa molar

massa
produk

Metode mol. Pertama ubah kuantitas reaktan (dalam gram atau satuan lain) menjadi mol.
Kemudian, gunakan perbandingan mol dalam persamaan yang sudah setara untuk menghitung
jumlah mol produk terbentuk. Akhirnya, ubah mol produk menjadi gram (Chang, 2003:74-75).
Zat yang dihasilkan dari penguraian termal KClO 3 adalah zat padat KCl dan gas O2
dengan menggunakan katalis MnO2 :
2KClO3

MnO2

2KCl + 3O2

Jumlah mol O2 yang dibebaskan dapat dihitung dari hukum gas ideal, n=PV/RT, sehingga
diperlukan informasi tentang tekanan, volume, dan suhu dari gas oksigen. Jika salah satu zat
telah diketahui molarnya maka mol zat-zat lain pada persamaan reaksi tersebut dapat dicari
dengan cara membandingkan koefisien :
Mol zat A = koefisien zat A x mol zat B
koefisien zat B
Karena volume oksigen yang dihasilkan diukur dengan cara pemindahan air, uap air juga akan
ada dalam gas. Percobaan dirancang sedemikian, sehingga tekanan total oksigen dan air dapat
diukur kuantitasnya dengan barometer. Tekanan parsial oksigen dalam labu dapat dihitung dari
tekanan total dan tekanan uap air.
PO2 = P total P H2O
Dengan percobaan ini, selain dapat menentukan koefisien reaksi penguraian KClO3 ,
volume molar gas oksigen dapat dihitung :
V O2 = Volume molar O2
N O2

Page
6

V O2 (pada STP) = V O2

P O2 ( mmHg )
273

760 (mmHg) T O2 (K)

(Epinur,2012:18-19)
VI.

ALAT DAN BAHAN


4.1 ALAT
4.1.1 Pengamatan Ilmiah
1. Labu florance
2. Labu erlenmeyer
3. Gelas piala 150 mL
4. Kaca arloji
5. Sudip
6. Paku besi
7. Batang pengaduk
4.1.2 Stoikiometri
1. Labu florence
2. Klem penjepit
3. Selang karet
4. Tabung reaksi
5. Pembakar spritus
6. Gelas piala
7. Pipa kaca
4.2 BAHAN
4.2.1 Pengamatan Ilmiah
1. Larutan biru (10 gram glukosa dalam 300mL KOH 0,5 M dan 10 mL larutan biru metil
0,1 gr/L)
2. Asam nitrat pekat
3. Gula pasir
4. Asam sulfat pekat
5. Etanol
6. Air suling
7. Serbuk zink dan amonium nitrat
8. Amonium klorida
9. Kalsium klorida
10. Merkuri (II) nitrat
11. Kalium Iodida
4.2.2 Stoikiomtri
1. Air
2. 0,2 gr KClO3
3. 0,03 MnO2
Page
7

VII.
PROSEDUR KERJA
VII.1 Pengamatan Ilmiah
A. Demonstrasi oleh asisten
1. Warna biru yang sirna
Larutan biru (10 gr glukosa dalam
300 ml KOH 0,5M dan 10 ml larutan
biru metil )
Labu Florance
Ditutup, diangkat dan ditutup
dengan ibu jari menutup tutup
Percobaan diulang 2-3
kali
Hasil pengamatan dicatat
Hipotesis diajukan

2. Asbut (smog) tembaga


Sekeping logam tembaga
dimasukkan ke dalam

Labu erlenmeyer
Seluruh kepingan logam
terendam
Labu ditutup rapat
Seluruh kepingan logam
terendam
Hasil pengamatan dicatat
Hipotesis diajukan

3. Busa hitam
Gula

Page
8

dituangkan

Asam
nitrat

dimasukkan ke dalam

Gelas piala 150


ditambahkan

Gelas piala + gula pasir


Gula pasir + diaduk
asamhati-hati
nitrat
pekat

15 mL
asam nitrat
pekat

Hasil pengamatan dicatat


Hipotesis diajukan

4. Kalor
40 mL etanol
60 mL air dalam 150 mL gelas
piala

direndam dalam

Kertas
saring

kelebihan larutan diperas


dibentangkan

Kaca arloji
dibakar

Hasil pengamatan dicatat

Hipotesis diajukan

5. Bahaya air
3 gr amonium
nitrat
digerus
dalam lumpang
dimasukkan
ditaburkan
Cawan penguap
mundur beberapa langkah

Air disemprot dari botol


semprot
Page
Hasil pengamatan 9dicatat

Serbuk zink

Hipotesis diajukan

B. Percobaan oleh praktikan


1. Panas dan dingin

Seujung sudip
amonium
dimasukkan
klorida

Seujung sudip kalsium


dimasukkan
klorida

Tabung reaksi 1

Tabung reaksi 2

diiisi dengan air

Bag. Bawah tabung


dipegang
Hasil pengamatan dicatat
Hipotesis diajukan

2. Aktif dan tidak aktif

Airdimasukkan sampai setengah


dimasukkan

Paku besi

Gelas piala 250 mL


Sekeping
logam

Hasil pengamatan dicatat

3. Paku tembaga

Hipotesis diajukan
Larutan tembaga (II) sulfat
dimasukkan

Gelas piala 250 mL

Hasil pengamatanPage
dicatat
10

Paku besi

Hipotesis diajukan

4. Ada dan hilang

100 mL merkuri (II) nitrat


dimasukkan
ditambahkan
20 mL larutan Kalium
iodida

Gelas ukur

Gelas ukur berisi merkuri


(II) nitrat + larutan kalium
iodida

ditambahkan

30 mL larutan Kalium
iodida

Hasil pengamatan dicatat

VII.2 Stoikiometri
Persiapan alat
Alat dipasang seperti pada
gambar
Labu florance
- diisi air hingga hampir penuh
- klem penjepit dibuka
Selang karet
-

dilepaskan, selang karet bag. atas labu florence


berhubungan dengan tabung reaksi
ditiup melalui pipa kaca hingga selang karet terisi
penh air, air mengalir dari labu ke gelas piala
dihubungkan kembali selang karet ke pipa kaca
pendek labu florence, selama air masih mengalir

Gelas piala
- jika tidak ada kebocoran, tidak ada lagi air mengalir
dari labu ke gelas piala
- selang kret dijepit dengan klem penjepit, gelas piala
dikosongkan
Alat siap digunakan
Page
11

Percobaan
Tabung reaksi
pyrex
- ditimbang
dalam keadaan bersih, kering, dan kosong
menggunakan neraca
0,2 gr KClO3 dalam tabung reaksi
- ditimbang dengan ketelitian 0,001 gr lalu tambahkan
0,03 gr MnO2
- KClO3 dengan MnO2 dihomogenkan
tabung reaksi berisi KClO3 dan MnO2
- dipasang menggantikan tabung reaksi kosong pada
alat yg telah disiapkan
Spritus

dasar tabung reaksi dipanaskan selama 1 menit dan


klem penjepit dibuka

Selang karet
- pemanasan dilanjutkan hingga tidak ada lagi air yang
mengalir
Gelas piala
- tidak ada lagi air menetes, selang karet dijepit
kembali dan api dipadamkan
Air dalam gelas kimia
- volumenya diukur dengan gelas ukur, suhu air dicatat
- tabung reaksi dingin, dilepaskan, dibersihkan lalu
ditimbang dgn ketelitian 0,001 gr

Tekanan dan suhu udara


laboraturium dicatat
Percobaan dilakukan 2 kali
VIII.
DATA PENGAMATAN
VIII.1 Pengamatan Ilmiah
A. Demonstrasi oleh asisten
1. Warna biru yang sirna
Page
12

Pengamatan
Larutan KOH dan glukosa yang awalnya
bening setelah ditambahkan larutan biru
metil menjadi berwarna biru pekat, namun
setelah diaduk warna biru lama-kelamaan
pudar dan sirna

Hipotesis
Warna biru sirna karena larutan biru metil
yang
awalny
berkonsentrasi
tinggi
dimasukkan ke larutan KOH dan glukosa
konsentrasinya menjadi rendah, sehingga
menghilangkan warna biru

2. Asbut tembaga
Pengamatan
Hipotesis
Asam nitrat yang ditambahkan pada tembaga Logam tembaga bereaksi dengan asam nitrat
menjadi berwarna biru kehijauan disertai menghasilkan H2
timbulnya gas
3. Busa hitam
Pengamatan
Hipotesis
Gula pasir yang ditambahkan asam sulfat Warna hitam menandakan adanya karbon
pekat berubah warna menjadi coklat dan pada gula pasir
lama-kelamaan menjadi hitam, terasa panas
4. Kalor
Pengamatan
Hipotesis
Kertas saring yang direndam di larutan etanol Terjadi reaksi karena muncul api
setelah dibakar muncul api yang berwarna
biru
5. Bahaya air
Pengamatan
Hipotesis
Amonium nitrat yang ditambahkan serbuk Tidak terjadi reaksi
zink setelah ditambah air menjadi berasap,
timbul gelembung gas, terjadi endapan
berwarna abu-abu, menjadi keruh, dan terasa
panas
B. Percobaan oleh praktikan
1. Panas dan dingin

Pengamatan
Amonium klorida ditambahkan
menjadi dingin (suhu turun)
Page
13

air

Hipotesis
NH4Cl + H2O adalah reaksi endoterm
CaCl + H2O adalah reaksi eksoterm

Kalsium klorida ditambahkan air menjadi


panas (suhu naik)

2. Aktif dan tidak aktif


Pengamatan
Paku menjadi lebih bersih, logam Ca melapisi
paku, terdapat gelembung gas di sekitar paku

Hipotesis
Terjadi reaksi antara logam kalsium dan
paku besi

3. Paku tembaga
Pengamatan
X

Hipotesis
X

Pengamatan
X

Hipotesis
X

4. Ada dan hilang

VIII.2 Stoikiometri : Pengukuran KClO3


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

A.
1.
2.
3.
4.

B.
1.
2.
3.
4.

Massa tabung reaksi pyrex + KClO3


Massa tabung reaksi pyrex
Massa KClO3(g)
Massa KClO3 + MnO2(g)
Suhu air (oC)
Tekanan uap air (mmHg)
Tekanan udara (mmHg)
Volume air yang pindah (bobot jenis H2O 1,00 g/mL)
Volume O2 yang timbul (l)
Massa tabung reaksi pyrex dan perlengkapannya
setelah pemanasan (g)
Koefisien reaksi penguraian KClO3
Mol KClO3
Mol O2
Mol KCl
Persamaan reaksi penguraian KClO3
2 KClO3
2 KCl + 3 O2

Volume molar O2 dan % dalam KClO3


Tekanan dari O2 kering
Volume O2 pada STP
Mol O2 yang timbul (mol)
Volume molar O2 (l/mol) pada STP
Page
14

Ulangan 1
39,7
39,5
0,2
0,23
29 oC
30,04 mmHg
760 mmHg
45 mL
0,045 L
39,6 gram

0,00163265
0,003125
0,00134228

729,96 mmHg
0,0396 L
0,001668
22,35 L/mol

5. Volume molar rata-rata dari O2 (l/mol) pada STP


6. Persentase O2 dalam KClO3
IX.

50 %

PEMBAHASAN
Pada percobaan ini, praktikan dituntut untuk dapat membuat suatu hipotesis dari hasil
pengamatan percobaan dengan berpatokan pada teori yang telah dipelajari. Pada percobaan ini
terdapat 9 percobaan yang harus dilakukan namun hanya 7 percobaan yang dilakukan dan
sisanya berdasarkan studi literatur. Setiap percobaan tersebut masing-masing perubahannya
diamati dan membuat hipotesisnya. Pada percobaan ini analisa yang digunakan merupakan
analisa kualitatif, karena praktikan mengamati perubahan fisik seperti adanya gas, padatan,
perubahan warna, dan sebagainya dengan menggunakan indera.
1. Warna biru yang sirna
Dalam gelas piala telah disediakan 300 mL KOH 0,5M dan 10 gr glukosa. Dalam larutan
tersebut ditambahkan 10 mL larutan biru metil 0,1 gr/L. Larutan yang awalnya bening
berubah menjadi biru, setelah diaduk dan didiamkan beberapa saat larutan kembali bening.
Hal ini dikarenakan larutan biru metil dengan massa jenis 0,1 gram setiap liternya yang
artinya larutan biru metil memiliki konsentrasi yang cukup besar, dicampurkan dengan
larutan KOH dengan volume 300 mL menjadikan konsentrasinya semakin kecil. Karen
akonsentrasi berbanding terbalik dengan volume larutan, semakin besar volume larutan
maka semakin kecil konsentrasi.
2. Asbut (smog) tembaga
Tembaga dalam tabung reaksi ditambahkan 10 tetes HNO 3 pekat, yang terjadi adalah suatu
larutan yang berwarna biru kehijauan yang disertai dengan kemunculan asap, gelembung
gas, dan dasar tabung reaksi terasa panas. Hal ini menunjukkan bahwa logam tembaga
bereaksi dengan HNO3 dan menghasilkan gas H2.
3. Busa hitam
Seujung sudip gula pasir yang dimasukkan ke dalam tabung reaksi ditambahkan 15 tetes
asam sulfat pekat, yang terjadi adalah gula pasir menjadi seperti gelembung-gelembung
yang berwarna coklat kehitaman namun lama-kelamaan campuran tersebut menjadi larutan
berwarna hitam dan pada dasar tabung terasa panas. Hal ini menandakan bahwa terjadi
reaksi antara gula pasir dan H2SO4. Warna hitam yang dihasilkan menandakan bahwa dalam
gula pasir tersebut mengandung unsur C. Gula pasir yang dibakar oleg asam sulfat
menyebabkan ikatan gula terputus.
4. Kalor
Kertas saring direndam dalam larutan lakohol, yaitu etanol yang dilarutkan dalam air.
Setelah direndam kertas saring diperas dan dibakar. Yang terjadi adalah muncul api
berwarna biru. Hal ini menunjukkan bahwa alkohol mudah bereaksi dengan dengan udara
dan terjadi pembakaran. Hal ini dapat terjadi karena sifat etanol yang mudah menguap dan
Page
15

terbakar. Namun dalam percobaan ini reaksi yang terjadi tidak sempurna karena kertas
saring yang dibakar tidak smapai hangus.
5. Bahaya air
Amonium nitrat (NH4NO3) yang ditambahkan serbuk zink dalam tabung reaksi dan
ditambahkan air menghasilkan endapan berwarna abu-abu, air menjadi keruh, munculnya
asap, gelembung gas, dan dasar tabung terasa panas. Dari hasil tersebut, percobaan yang
dilakukan dikatakan gagal karena jika NH4NO3, Zn, dan H2O bereaksi tidak terbentuk
endapan, selain itu larutan seharusnya mendidih.
6. Panas dan dingin
Tabung reaksi berisi amonium klorida (NH4Cl)
Serbuk NH4Cl yang dimasukkan dalam tabung reaksi ditambahkan dengan beberapa
tetes air, menyebabkan dasar tabung reaksi terasa dingin. Reaksi yang terjadi adalah
reaksi endoterm, karena terjadi penurunan suhhu. Pada reaksi ini kalor berpindah dari
lingkungan ke sistem sehingga sistem menyerap energi.
Tabung reaksi berisi kalsium klorida (CaCl2)
Serbuk CaCl2 yang dimasukkan ke dalam tabung reaksi ditambahkan dengan beberapa
tetes air, yang terjadi adalah dasar tabung reaksi terasa hangat. Pada reaksi ini kalor
berpindah dari sistem ke lingkungan sehingga sistem membebaskan energi. Reaksi ini
termasuk ke dalam reaksi eksoterm, dimana terjadi kenaikkan suhu.
7. Aktif dan tidak aktif
Paku besi dan logam kalsium yang dimasukkan dalam air yang berada dalam gelas piala
menunjukkan bahwa pada paku besi menjadi lebih bersih. Hal ini dikarenakan paku besi
yang digunakan telah sedikit berkarat dan dapat dilihat pada paku menempel gelembunggelembung gas. Adanya gelembung gas menunjukkan bahwa kalisum bereaksi dengan air
dan melepaskan gas H2. Dan paku besi yang menjadi lebih bersih dikarenakan terlapisi
logam kalsium.

8. Paku tembaga
Percobaan ini tidak dilakukan, sehingga untuk memperoleh data pengamatan berdasarkan
studi literatur yang dijelaskan secara teori. Paku besi yang dimasukkan ke dalam larutan
tembaga (II) sulfat (CuSO4) menyebabkan paku berkarat. Hal ini dikarenakan Cu 2+ yang
berasal dari CuSO4 mengoksidasi logam besi sehingga besi menjadi berkarat. Reaksi yang
terjadi ini merupakan reaksi redoks.
9. Ada dan hilang
Percobaan ini juga tidak dilakukan dan hanya didadsarkan pada studi literatur. Pada
percobaan ini 20 mL larutan kalium iodida ditambahkan pada 10 mL merkuri (II) nitrat dan
Page
16

setelah itu ditambahkan lagi 30 mL kalium iodida. Larutan merkuri (II) nitrat yang
ditambahkan dengan larutan kalium iodida menghasilkan larutan yang berwarna kuning,
namun setelah ditambahkan lagi kalium iodida menyebabkan warna kuning menghilang
dan berubah menjadi larutan berwarna hitam.
Dari serangkaian percobaan tersebut, dapat dilihat bahwa dari hasil percobaan dapat
ditarik suatu dugaan sementara (hipotesis). Semua reaksi yang terjadi mengikuti hukum
tertentu. Seperti pada reaksi antara gula pasir dan asam sulfat yang melepaskan karbon, antara
logam Ca dan H2O menghasilkan Ca(OH)2 dan gas H2, reaksi antara CaCl2 dengan air tergolong
reaksi eksoterm, reaksi antara NH4Cl dengan air tergolong reaksi endoterm, serta reaksi antara
logam Fe dengan CuSO4 yang tergolong reaksi redoks.
Untuk percobaan pengukuran KClO3 tidak dilakukan secara praktik. Namun, secara teori
dapat dibahas sebagai berikut :
Massa KCl = (massa tabung reaksi pyrex + KClO3) (massa tabung reaksi pyrex
setelah dipanaskan)
= (39,7 39,6) gram
= 0,1 gram
Massa O2 = (massa KCO3) (massa KCl)
= 0,2 gr 0,1 gr
= 0,1 gram
Mol KClO3 = massa KClO3 =
0,2 gr
Mr KClO3
122,5 gr/mol
Mol O2 = massa O2 =
0,1 gr
Mr O2
32 gr/mol

= 0,00163265 mol

= 0,00325 mol

Mol KCl = massa KCl =


0,1 gr
= 0,001342281 mol
Mr KCl
74,5 gr/mol
Tekanan dari O2 kering = Ptotal PH2O
= 760 mmHg 30,04 mmHg
= 729,96 mmHg
P O2 ( mmHg )
273
Volume O2 pada STP = VO2 760 (mmHg) T O (K)
2
= 0,045 L 729,96 mmHg 273 K
760 mmHg
(29+273) K
= 0,039 L
Mol O2 yang timbul : n = P.V/R.T
n = 729,96 0,045
Page
17

760 0,082 302


= 0,0017453 mol
Volume molar O2 pada STP = VO2 (STP) =
0,039 L = 22,35 L/mol
n O2 (STP) 0,0017453 mol
Persentase O2 dalam KClO3
% O2 dalam KClO3 = massa O2 100%
massa KClO3
= 0,1 gr 100%
0,2 gr
= 50 %
X.

DISKUSI
Dari percobaan yang telah dilakukan terdapat beberapa kegagalan yang disebabkan
ketidaktelitian dalam pengamatan, penggunaan alat, atau tidak sesuai dengan petunjuk.
1. Warna biru yang sirna
Larutan bitu metil yang ditambahkan pada larutan KOH dan glukosa menyebabkan larutan
berwarna biru, untuk menunggu larutan biru tersebut kembali bening membutuhkan waktu
yang cukup lama. Hal ini mungkin disebabkan volume KOH yang terlalu banyak.
2. Asbut (smog) tembaga
Serbuk logam tembaga bereaksi dengan HNO3 dengan reaksi Cu+HNO3
Cu(NO3)2 + H2 telah dilakukan dengan benar, karena dari hasil pengamatan didapat
adanya gelembung gas, asap, dasar tabung terasa panas, dan larutan berubah warna menjadi
biru kehijauan.
3. Busa hitam
Pada percobaan ini reaksi anatar gula pasir dan H 2SO4 tidak sampai menghasilkan busa
hanya saja pada awal reaksi gula pasir menjadi gelembung-gelembung coklat kehitaman
dan lama-kelamaan gula pasir mencair menjadi larutan yang berwarna hitam. Reaksi ini
tidak sempurna karena penggunaan pipe tetes sehingga volume H2SO4 tidak tepat, serta
dapat dipengaruhi juga oleh asam sulfat yang kurang pekat.
4. Kalor
Kertas saring yang telah direndam dalam larutan alkohol dan dibakar memang
menimbulkan api berwarna biru dan menunjukkan bahwa alkohol mudah terbakar. Namun,
percobaan yang dilakukan tidak sempurna karena kertas saring tidak dibakar sampai habis
dan menghasilkan abu. Selain itu, percobaan di temapt terang sehingga api tidak terlalu
tampak.
5. Bahaya air
Amonium nitrat yang ditambahkan serbuk zink dan kemudian ditambahkan air, reaksi yang
terjadi seharusnya disertai ledakan kecil dan kepulan asap dikarenakan sifat amonium nitrat
Page
18

yang mudah meledak. Selain itu pada percobaan yang kami lakukan menyebabkan adanya
endapan. Hal seperti intu terjadi karena volume air yang ditambahkan terlalu banyak atau
perbandingan antara amonium nitart, serbuk zink dan air tidak sesuai dengan prosedur
kerja.
6. Panas dan dingin
Untuk reaksi antara NH4Cl dan air pada dasar tabung reaksi memang terasa dingin dan
sesuai dengan teorinya, namun untuk reaksi antara Ca(Cl)2 dan air pada dasar tabung reaksi
hanya terasa sedikit hangat, hal ini dikarenakan jumlah Ca(Cl)2 yang dimasukkan terlalu
sedikit.
7. Aktif dan tidak aktif
Pada percobaan ini paku yang digunakan sudah dalam kondisi berkarat sehingga kami
kurang dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi antara paku besi, logam kalsium dan air.
Namun pada paku tersebut kami dapat melihat adanya gelembung gas yang menempel pada
paku, dan jika dilihat paku yang tadinya berkarat menjadi sedikit bersih. Pada percobaan ini
kami melupakan sesuatu, yaitu merasakan gelas piala apakah menjadi panas atau tidak,
karena reaksi antara logam kalsium selain menghasilkan gas H2, gelas piala yang digunakan
juga akan terasa panas.
8. Paku tembaga dan ada dan hilang
Untuk kedua percobaan ini tidak kami lakukan sehingga kami tidak dapat mendiskusikan
kesalahan yang terjadi. Dan untuk dua percobaan ini hanya dibahas secara teori atau
berdasarkan hasil pecobaan praktikan lain.
Untuk stoikiometri pengukuran KClO3 juga tidak kami lakukan secara praktik karena waktu
yang tidak mencukupi untuk melakukan percobaan ini. Namun untuk percobaan ini, asisten
memberikan data yang harus kami bahas bagaimana mendapatkannya secara teori.
XI.

PERTANYAAN PASCA PRAKTIK


1. Benar (B) atau salah (S) pernyataan ini?
a. ___S___ kaca mata pelindung tidak berguna bagi pekerja di laboratorium
b. ___B___ semua bahan kimia dianggap berbahaya
c. ___B___ semua reaksi yang menggunakan bahan kimia yang mengiritasi kulit atau
berbahaya harus dilakukan di lemari asam
d. ___S___ bila menyisipkan pipa kaca atau termometer ke dalam gabus, gunakan bahan
pelumas mesin motor
e. ___B___ buanglah sisa reagen cair ke dalam bak cuci dan siram dengan air yang banyak
2. Setelah menyelesaikan percobaan dan memeriksa data, apalagi yang perlu Anda lakukan ?
Jawab :
Page
19

Setelah percobaan selesai maka alat-alat yang digunakan dibersihkan, dicuci, dan
dikembalikan atau disimpan pada temapt yang telah ditentukan. Sisa-sisa bahan
kimia ditempatkan pada tempat yang ditentukan, membersihkan meja dan alat tulis
dan menyerahkan laporan sementara kepada asisten.
3. Anda diberi sembilan uang logam dan sebuah neraca palang. Salah satu keping lebih ringan
dan delapan lainnya yang bobotnya sama. Bagaimana anda menetapkan kepingan mana
yang ringan hanya dengan melakukan dua kali penimbangan ?
Jawab :
Pertama, kesembilan keping uang logam tersebut ditimbang dab catat bobotnya.
Kedua, salah satu uang logam ditimbang dan dicatat bobotnya. Masing-masing
bobot tadi dibagi dengan bobot total. Dari hasil pembagian tersebut maka dapat
diketahui kepingan mana yang lebih ringan.
4. Gas oksigen sedikit larut dalam air. Apakah keadaan ini akan mempengaruhi jumlah KClO 3
yang terurai dalam campuran yang sudah Anda laporkan ? Jelaskan
Jawab :
Ya, karena gas O2 yang sedikit larut dalam air akan bercampur dengan KCl, dimana
mol KClO3 akan mendapat pengaruh dari mol O2
5. a. Bila ketinggian air di luar tabung reaksi pengumpul gas lebih tinggi daripada yang di
luar, apakah ini disebabkan oleh tekanan gas O2 lebih tinggi atau lebih rendah daripada
tekanan udara? Jelaskan
Jawab :
Ketinggian air di luar tabung reaksi pengumpul gas lebih tinggi daripada yang di
luar disebabkan oleh tekanan gas O2 yang lebih rendah dari tekanan udara, karena
semakin tinggi volume air dalam tabung reaksi, semakin kecil tekanannya jika
dibandingkan tekanan udara.
b. Bila Anda menyertakan tekanan gas pada pertanyaan 2a, apakah volume gas O 2
bertambah atau berkurang ? Jelaskan
Jawab :
Volume O2 bertambah pada tabung pengumpul ditandai dengan banyaknya air yang
berpindah. Namun pertambahan volume ini disebabkan tekanan O 2 dan gas yang
bertambah.
c. andaikan Anda tidak menyertakan tekanan, tetapi mengambil tekanan O2 sama dengan
tekanan udara luar, apakah jumlah mol O2 yang timbul lebih besar atau lebih kecil daripada
yang sebenarnya? Jelaskan
jawab :
jumlah mol O2 yang timbul akan lebih kecil dari jumlah yang sebenarnya, karena
tidak ada faktor yang mempengaruhi pemindahan air ke tabung pengumpul
disebabkan tekanan O2 dan tekanan udara luar yang sama.
Page
20

6. Bila udara memasuki tabung reaksi pengumpul gas, bagaimana hal ini dapat mempengaruhi
jumlah mol KClO3 yang terurai? Jelaskan
Jawab :
Udara yang memasuki tabung pengumpul gas menyebabkan air yang berada dalam
tabung tersebut berpindah, air yang berpindah ini merupakan volume dari gas O 2
yang timbul. Gas O2 ini merupakan hasil reaksi penguraian KClO3.
XII.

XIII.

KESIMPULAN
1. Praktikan memperoleh pengalaman dalam mencatat dan menjelaskan pengamatan
percobaan melalui percobaan pengamatan ilmiah yang dilakukan dengan prosedur kerja
yang benar. Dalam menjelaskan pengamatan hasil percobaan diperlukan suatu perumusan
yang didasarkan pada hukum atau aturan tertentu (hipotesis) yang perlu diuji lagi melalui
eksperimen.
2. Percobaan kimia memerlukan alat dan bahan tertentu, sebelum melakukan percobaan,
praktikan harus mengetahui terlebih dulu peralatan dasar laboraturium serta cara
menanganinya. Keterampilan dalam mengalihkan bahan kimia padat atau cair didapat dari
pemahaman prosedur kerja.
3. Laboraturium bukan temaot yang berbahaya jika praktikan mengetahui tata cara
keselamatan kerja di laboraturium. Bahan kimia yang ada harus dianggap berbahaya agar
praktikan dapat menangani secara hati-hati. Alat-alat praktikum serta peraturan
prapraktikum seperti memakai jas labor, sepatu, dan lain-lain juga harus dipatuhi.
4. Koefisien reaksi penguraian KClO3 didapatkan dari perbandingan mol zat pereaksi dan
produk atau dengan menyetarakan koefisien pereaksi dengan produk. Persamaan reaksi
penguraian KClO3 :
2KClO3
2KCl + 3O2
5. Volume molar gas O2 pada keadaan STP, dapat dihitung :
Volume molar O2 = V O2
N O2
6. Persentase O2 dalam KClO3 didapat dari perbandingan massa O2 terhadap massa total
KClO3:
% O2 = massa O2
x 100%
massa KClO3
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Hiskia. 1993. Materi Pokok Kimia Dasar I:1-9. Jakarta : Universitas Terbuka.
Chang, Raymond. 2003. Kimia Dasar: Konsep-konsep Inti Jl. 1 Ed. 3. Jakarta : Erlangga.
Epinur. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Jambi : UNJA.
Petrucci, Ralph. 1987. Kimia Dasar : Prinsip dan Terapan Modern Ed. 4b Jl.1. Jakarta :
Erlangga.
Sunarya, Yayan. 2010. Kimia Dasar I. Bandung: Yrama Widya.
Syukri,S. 1999. Kimia Dasar 1. Bandung : ITB.
Page
21

Zul, Alfian. 2009. Kimia Dasar. Medan : USU Press.

PERCOBAAN 2

I. JUDUL
: Golongan dan identifikasi unsur
II. HARI/TANGGAL : Rabu / 27 maret 2013
III. TUJUAN
:
1. Mengkaji kesamaan sifat unsur-unsur
dalam tabel berkala
2. Mengamati uji nyala dan reaksi
beberapa unsur alkali dan alkali tanah
3. Mengenali reaksi air klorin dan halide
4. Menganalisis larutan anu yang
IV. PERTANYAAN PRAPRAKTEK
1. Tulislah unsur-unsur yang termasuk golongan IA ( alkali ) dan dolongan IIA ( alkali
tanah )
Jawab : Golongan IA alkali, yaitu : golongan IIA ( alkali tanah), yaitu :
a. Litium (Li)
a. Berilium (Be)
b. Natrium (Na)
b. Magnesium (Mg)
Page
22

c. Kalium (K)
d. Rubidium (Rb)
e. Cesium (Cs)
f. Fransium (Fr)

c. Kalsium (Ca)
d. Stronsium (Sr)
e. Barium (Ba)
f. Radium (Ra)

2. Selesaikan persamaan reaksi berikut :


Jawab :
a. CaCl2 + (NH4)2CO3 CaCO3 + 2NH4Cl
b. BaCl2 + (NH4)2CO3
BaCO3 + 2NH4Cl
c. 2NaCl + (NH4)2CO3 Na2CO3 + 2NH4Cl
d. NaCl + Cl
e. 2NaBr + Cl2
2 NaCl + Br2
f. NaI + Cl2
2NaCl + I2
3. Apakah fungsi penambahan CCl4 dalam percobaan C ?
Jawab : Fungsi penambahan CCl4 adalah sebagai pelarut non polar untuk melarutkan
golongan halogen, untuk mengidentifikasi unsur-unsur yang ada di dalam larutan
tersebut sehingga dapat diketahui jenisnya.

V. LANDASAN TEORI
Berdasarkan teori atom Dalton, atom dapat didefinisikan sebagai unit terkecil dari
suatu unsur yang dapat melakukan penggabungan kimia.Dalton membayangkan suatu atom
yang sangat kecil dan tidak dapat dibagi.Tetapi, serangkaian penyelidikan secara jelas
menunjukan bahwa atom sesungguhnya memiliki struktur internal, yaitu atom tersusun atas
partakel-partikel yang lebih kecil lagi yang disebut partikel subatom.Penelitian mengarah pada
penemuan tiga partikel subatom yaitu electron, proton, dan neutron.
Suatu atom dapat diidentifikasi berdasarkan jumlah proton dan neutron yang
dikandungnya.Jumlah proton dalam inti setiap atom suatu unsur disebut nomor atom
(Z).sedangkan jumlah total neutron dan proton yang ada dalam inti atom suatu unsur disebut
nomor massa (A). Cara yang lazim digunakan untuk menandai nomor atom dan nomor massa
dari satu atom untuk unsur X adalah sebagai berikut :

Nomor Massa

Nomor Atom
Page
23

XZ

( Chang, 2003 : 35-36)


Pada mulanya pengelompokkan unsur didasarkan massa atom relatif,
seperti yang dikemukakan oleh Dobereiner, Newland, dan Mendeleyev. Sejak
ditemukan nomor atom, ternyata sifat unsur ditentukan oleh nomor atomnya
sehingga lahirlah system priodik modern yang didasarkan konfigurasi electron.
Dalam sistem priodik ini, unsur dibagi atas blok, golongan, dan prioda. Setiap
unsur menempati kotak tertentu sesuai dengan nomor atomnya.(Syukri, 1999 :
155 )
Unsur-unsur kimia menunjukkan keteraturan tertentu.Ini memungkinkan
penggolongan unsur kedalam kelompok yang anggotanya mempunyai sifat kimia
dan fisik yang serupa. Bila unsur-unsur ini disusun berdasarkan meningkatnya
nomor atom Z, kelompok-kelompok ini menunjukkan fakta yang luar biasa : pola
perilaku kimianya berulang secara teratur menurut fungsi Z. Temuan ini di ringkas
oleh hukum keberkalaan : sifat kimia unsur merupakan fungsi berkala dari nomor
atom Z. Akibatnya, unsur-unsur yang disusun dengan Z yang mengikat ini dapat
dimuat dalam bagan yang disebut tabel berkala ( Oxtoby, dkk. 2001 : 21 )
Sistem priodik unsur adalah suatu daftar unsur-unsur yang disusun dengan
aturan tertentu.Semua unsur yang ada dalam daftar tersebut.System priodik
modern

disusun

berdasarkan

nomor

atom

dan

kemiripan

sifat.Lajur-lajur

horizontal disusun berdasarkan kenaikan nomor atom, sedangkan kolom vertical


disusun berdasarkan kemiripan sifat.( Purba, 2006 : 58 )
Baris mendatar pada tabel yang disusun berdasarkan jenaikan nomor atom,
dinamakan priode.Kolom-kolom tegak, yang berisi unsur-unsur serupa dinamakan
golongan atau family.Golongan dalam tabel berkala ditulis angka romawi dan
huruf. Unsur-unsur golongan A dikenal sebagai unsur-unsur wakil ( representative
elements ). Unsur-unsur golongan B, bersama dengan golongan VIII dan erat
lantanoid serta aktanoid dinamakan unsur-unsur transisi ( transition elements ).
(Petrucci, 1987 : 247)
Page
24

Semua unsur blok s dan p disebut golongan utama (A), sedangkan blok d
dan f disebut golongan transisi. Golongan utama terdiri dari 8 kolom yang
betrurut-turut disebut golonagn (A) s/d VIIIA.
Electron valensi masing-masing golongan adalah :
S1 = IA

S2 = IIA

S2P3 = VA

S2P4 = VIA

S2P1 = IIIA
S2P5 = VIIA

S2P2 = IVA
S2P6 = VIIIA

Unsur golongan VIIIA disebut golongan gas mulia, karena tidak dapat bersenyawa
dengan unsur lain, dan disebut juga golongan O ( Syukri, 1999 :164 )
Unsur-unsur golongan IA, yaitu logam alkali memiliki energy ionisasi yang
rendah dan karena itu memiliki kecendrungan besar kehilangan satu electron
valensinya. Dalam sebagian besar senyawanya, unsur-unsur tersebut berupa ion
unipositif. Logam-logam sangat reaktif, sehingga tidak pernah ditemukan dalam
keadaan bebas di alam.Logam-logam yang berseseuaian tersebut bereaksi
dengan air menghasilkan gas hydrogen dan hidroksida logam.
2M

(s)

+ 2H2O(l

2MOH (aq) + H2O(g)

Dimana M adalah logam alkali. Ketika dibiarkan di udara, unsur-unsur tersebut


secara

bertahap kehilangan kilap logamnya karena bergabung dengan gas

oksigen membentuk oksida. ( Chang, 2003 : 246-247 ).


Unsur

Konfigurasi

Titik leleh

Jari-jari

Spekrtum

elekton

(0C)

ionic (0A)

warna (nyala
Bunsen)

H1

1sI

Li3

[He] 2sI

180

0,60

Merah

Na11

[Ne] 3sI

98

0,96

Kuning

K19

[Ar] 4sI

64

1,33

Ungu

Rb37

[Kr] 5sI

39

1,48

Merah

29

1,69

Biru

23

39
85

132

Cs55

[Xe] 6s

Page
25

223

[Rn] 7sI

Fr87

Unsur alkali merupakan logam lunak, berwarna putih mengkilap, dan yang
mempunyai titik leleh yang rendah.Unsur alkali mempunyai 1 elektron valensi
dalam pembentukan ikatan logam, seingga logam ini mempunyai energy kohesi
kesil yang menjadikannya sebagai logam lunak.Senyawa alkali tidak pernaha
ditemukan dalam keadaan unsur bebas, karena sifatnya yang sangat reaktif dan
alakali merupakan reduktor kuat.Unsur alkali biasanya disimpan dalam minyak
tanah atau hidrokarbon yang innert (tidak reaktif).Senyawa alkali yang paling
banyak ditemukan adalah senyawa Natrium (NaCl) dan kalium (pada tumbuhan,
garam oksalat, dan garam tartat). (Lestari,2004 :21-22)

Sebagai

suatu

golongan,

logam

alakali

tanah

agak

kurang

reaktif

dibandingkan dengan alkali. Baik energy ionisasi pertama maupun kedua turun
dari Berilium ke Berilium. Jadi, kecendrungannya adalah untuk membentuk ion
M2+( dengan M melambangkan atom logam alkali ), dank arena itu karakter
logamnya meningkat dari atas ke bawah dalam golongan itu. Kereaktifan logam
alkali tanah dengan air cukup beragam. Berilium tidak bereaksi dengan air,
magnesium bereaksi lambat dengan uap, dan kalsium, stronsium, dan barium
cukup reaktif untuk air dingin.
Ba(s) + 2H2O(l)

Ba(OH)2(aq) + H2(g)

Kereaktifan logam alkali tanah terhadap oksigen juga meningkat dari Be ke Ba.
Berilium dan Magnesium membentuk oksida (BeO) dan (MgO) hanya pada suhu
tinggi, sedangkan CaO, SrO, dan BaO terbentuk pada suhu kamar. (Chang,2003 :
247-248).
Semua unsur alkali tanah bereaksi langsung dengan halogen membentuk
halida, dengan nitrogen dapat membentuk nitrida pada suhu tinggi, misalnya
magnesium nitrida :

Page
26

Mg(s) + N2(g)

Mg3N2(s)

Pembakaran unsur-unsur alakali tanah atau garamnya dalam nyala Bunsen


dapat memancarkan spectrum warna khas.Stronsium berwarna crimson, barium
hijau-kuning, dan magnesium putih terang.( Yayan& Agus, 2007 : 78-80 ).
Garam halida dari alkali dan alkali tanah dapat bereaksi dengan halogen
yang lebih bersifata pengoksidasi, sehingga terbentuk halogen dari halida
tersebut. Urutan kekuatan pengoksidasi adalah : F 2> Cl2> Br2 > I2. F2 dapat
mengoksidasi Cl- menjadi Cl2 dan Cl2 dapat mengoksidasi Br- menjadi Br2, dam
setrusnya. Sedangkan Br2 tidak dapat menoksidasi Cl- menjadi Cl2. Reaksinya
dapat dilihat sebagai berikut :
Cl2 + Br
Cl2 + I

Br2 + Cl

Cl- + Br2
Cl- + I2

tidak bereaksi

Dalam reaksi ini untuk mendapatkan klorin dapat dibuat air klorin dengan jalan
memanaskan campuran MnO2 dengan HCl ( MnO2+ 4HCl

MnCl2 + 2H2O +

Cl2). ( Penuntun Praktikum Kimia Dasar, 2012 : 25-26 ).

VI.

ALAT DAN BAHAN


A. Uji nyala untuk usnur alkali dan alkali tanah
Alat : 1. Tabung reaksi 6 buah
4. Pembakar bunsen
2. Rak tabung reaksi
5. Korek api
3. Kawat nikrom
6. Sarung tangan
Bahan : 1) 2mL BaCl2 0,5M ; CaCl2 0,5M ; LiCl 0,5M ; KCl 0,5M ; NaCl 0,5M;
SrCl20,5M
2) Larutan HCl pekat (12M)
B. Reaksi-reaksi unsur alkali dan alkali tanah
Alat : 1. Tabung reaksi 2. Tissue
3. Alat tulis
Page
27

Bahan : 1) 1 ml larutan amonium karbonat 0,5 M


2) 3 ml larutan barium, kalsium, litium, kalium, natrium, dan
stronsium
3) 1 ml larutan amonium fosfat 0,5M
4) 1 ml larutan amonium sulfat
C. Reaksi-reaksi halida
Alat : 1) Tabung reaksi 3 buah

2) Rak tabung reaksi

BAHAN : 1) 1 ml larutan NaCl 0,5M ; NaBr 0,5M ; NaI 0,5M


2) 1 ml karbon tetraklorida (CCl4)
3) 1 ml air klorin
4) 5 tetes asam nitrat encer (6M)
D. Analisis larutan anu
Alat : 1) tabung reaksi 3 buah
Bahan : 1) Larutan anu (X) dan (Y)
2)1 ml ammonium karbonat
3) 1 ml ammonium fosfat
4) 1 ml ammonium sulfat

VII.

5) 1 ml karbon tetraklorida
6) 1 ml air klorin
7) setetes asam nitrat

PROSEDUR KERJA
A. Uji nyala untuk unsur alkali dan alkali tanah

6 tabung reaksi

Diletakkn dalam rak

Ditambahkan masing-masing 2ml


BaCl2 0,5M ; CaCl2 0,5M ; LiCl 0,5M ; KCl
0,5M ; NaCl 0,5M; SrCl20,5M

Kawat Nikrom

Page
28

Dipanaskan pada nyala biru bunsen sampai


tidak ada lagi warna nyala yang timbul
Untuk

mencegah

kontaminasi

kawat

nikrom bersih jangan disentuh


Dicelupkan dalam tabung berisi barium
Ujung kawat dipanaskan pada nyala
Mencatat hasil

Kawat dibersihkan

Ulangi uji nyala pada

B. Reaksi-reaksi unsur alkali dan alkali tanah

1 ml ammonium

Tabung reaksi

DImasukkan kedalam setiap


lubang berisi larutan
Barium, Kalium, Litium,
Jika
terjadi
endapan
ditulis
Natrium
dan
Stronsiium.
EDP dan bila tidak ada
reaksi ditulis TR pada
laporan.
Dibersihkan dan dibilas
dengan air suling.
2ml Larutan Ba, Ca, Li, K,
Na, dan Sr dimasukkan
kedalam masing-masing
Pagetabung reaksi.
29

1ml larutan Amonium Fosfat


0,5 ditambahkan kedalam
tabung reaksi.

Mencatat hasil
Dibersihkan
.
1ml larutan Ba, Ca, Li,K, Na,
dan Sr dimasukkan kedalam
masing-masing tabung
reaksi.
1ml larutan Amonium Sulfat
ditambahkan kedalam
setiap lubang.

1 ml ammonium

Mencatat hasil

C. Reaksi-reaksi halida
Tiga tabung reaksi
Diletakkan pada rak
Dimasukkan 1ml
larutan

NaCl 0,5M; NaBr 0,5M; NaI 0,5 M

Kedalam setiap tabung


ditambahkan

1ml Karbon tetraklorida (CCla), 1ml Air


klorin, 5 tetes Asam nitrat
encer (6M)
Page
30

Dikocok
Warna lapisan Karbon
Tetraklorida dibagian bawah
diamati

D. Analisis Larutan Anu


Sejumlah larutan
anu (x)

Dilakukan uji
nyala

1ml larutan anu

1ml Amonium
Karbonat

Dimasukkan kedalam tiga


tabung reaksi
Dimasukkan kedalam tabung
pertama

1ml
AmoniumFosfat
1ml Amonium
Sulfat
Mencatat
pengamatan

Dimasukkan kedalam tabung


kedua
Dimasukkan kedalam tabung
ketiga
Dibandingkan uji nyala
Unsur alkali yang terdapat dalam larutan x
dinyatakan

1ml larutan anu (y)


Dimasukkan kedalam tabung reaksi

1ml Karbon
Tetraklorida, 1ml
air klorin, setetes
Ditambahkan dalam
tabung
Page
31

Dikocok

Mencatat warna
lapisan Karbon
Uji halida larutan Y dibandingkan dengan
ketiga larutan halida
Halida yang ada dalam larutan Y dinyatakan

VIII. DATA PENGAMATAN


A. Uji nyala unsur alkali dan alkali tanah
No

Zat

Warna nyala

Keterangan

.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

CaCl2
BaCl2
SrCl2
KCl
NaCl
LiCl

Merah
Hijau
Marah Tua
Biru Keunguan
Kuning
Merah Terang

Alkali Tanah
Alkali Tanah
Alkali Tanah
Alkali
Alkali
Alkali

B.

Reaksi-reaksi unsur alkali dan alkali tanah

No

Zat

.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

CaCl2
BaCl2
SrCl2
KCl
NaCl
LiCl

No.
1.
No
2.
.
3.
4.
5.
6.

Pereaksi

TR

(NH4)2CO2

Zat

CaCl2
Zat
BaCl2
SrCl2
KCl
NaCl
LiCl

EDP

Pereaksi
Pereaksi
(NH4)2PO4

EDP

EDP

Page
32

TR
TR

1.
2.
3.
4.
5.
6.

CaCl2
BaCl2
SrCl2
KCl
NaCl
LiCl

(NH4)2SO4

C. Reaksi- reaksi Halida


No.
1.
2.
3.

Zat
NaCl+Cl2
NaBr+Cl2
NaI+Cl2

Warna Lapisan
Bening
Kuning
Cokelat Kemerahan

D. Analisis larutan Anu


a. Zat X
- Warna nyala zat X : Tak Berwarna
- X+(NH4)2CO2
Berwarna putih dan terdapat endapan
- X+(NH4)3PO4
Berwarna putih dan terdapat endapan
- X+(NH4)2SO4
Berwarna putih dan tidak terdapat endapan
Kesimpulan : Zat X dapat berupa larutan CaCl2 atau mnegandung unsur Ca
b. Zat Y
Zat Y + CCl4 + HNO3
Kuning Jernih
Warna lapisann CCl4 : Bening Kekuningan
Kesimpulan : Zat Y dapat berupa larutan NaBr atau larutan yang
mengandung unsur Br.
IX.

PEMBAHASAN
IX.1. Uji Nyala Unsur Alkali dan Alkali Tanah
Golongan alkali dan alkali tanah adalah golongan yang terdiri dari unsur-

unsur yang bersifat logam yang apabila dipanaskan/ dibakar pada nyala api akan
menyebabkan unsur tereksitasi dengan memancarkan radiasi elektromagnetik
yang memberikan warna nyala. Setiap unsur logam alkali maupun alkali tanah
memiliki warna nyala yang berbeda.Pada percobaan ini, untuk mengetahui warna
nyala unsur alkali dan alkali tanah melalui uji nyala menggunakan kawat nikrom.
Kawat nikrom harus dipanaskan terlebih dahulu sampai panas atau tidak ada lagi
Page
33

warna yang timbul pada nyala Bunsen, kemudian dimasukkan kedalam larutan ke
tabung reaksi, setelah itu kawta di bakar lagi dan akan tibul warna pada api,
warna yang muncul tersebut adalah warna dari zat yang ada pada tabung reaksi.
Larutan yang digunakan dalam percobaan ini adalah larutan garam dari
unsur alkali dan alkali tanah, yaitu Barium klorida( BaCl 2), kalsium klorida (CaCl2),
litium klorida (LiCl2), kalium klorida (KCl2), Natrium Klorida(NaCl), dan stronsium
klorida (SrCl2) dengan konsientrasi msing-masing ) 0,5 M. setelah masing-masing
larutan di uji nyala di dapatkan bahwa; CaCl 2 memiliki warna nyala merah, BaCl 2
warna hijau, SrCl2 berwarna merah tua, KCl berwarna biru keunguan, NaCl
berwarna kuning, LiCl berwarna merah terang.
Dari hasil tersebut, percobaan yang kami lakukan dapat dikatakan berhasil,
karena seperti yang di jelaskan oleh lestari,(2004;21), bahwa unsur litium,
natrium, dan kalium masing-masing memiliki spectrum warna (nyala Bunsen)
merah, kuning, dan ungu. Dan untuk untuk unsur alkali tanah, seperti yang di
jelaskan oleh surtresna (2007;115) bahwa unsur alkali tanah, yaitu kalsium,
stronsium, dan barium masing-masing memiliki warna yang khas jika garam dari
unsur-unsur tersebut dibakar, yaitu jingga merah, merah bata, dan hijau. Pada
warna nyala yang dihasilkan unsur alkali tanah dapat dilihat kurang sesuai
dengan teori, hal ini disebabkan hampir setiap orang memliki pandangan yang
berbeda dalam mengamati dan menjelaskan warna yang terjadi, bisa juga
disebabkan factor warna api pada lampu spiritus yang lebih dominan.
IX.2. Reaksi-reaksi unsur alkali dan alkali tanah
Untuk mengetahui unsur alkali dan alkali tanah ,BaCl 2, CaCl2, LiCl, KCl, NaCl,
dan SrCl2, masing-masing dicampurkan dengan larutan ammonium karbonat
((NH4)2CO3), ((NH4)2PO4 ), dan ((NH4)2SO4 ) masing-masing 0,5M sebanyak 10 tetes
kedalam tabung reaksi. Untuk reaksi dengan ((NH4)2CO3) didapatkan bahwa:
1. CaCl2 + (NH4)2CO3
CaCO3 + 2NH4Cl (membentuk endapan)
2. BaCl2 + (NH4)2CO3
BaCO3 + 2NH4Cl (membentuk endapan)
3. SrCl2 + (NH4)2CO3
SrCO3 + 2NH4Cl (membentuk endapan)
4. KCl + (NH4)2CO3
K3CO3+ 2NH4Cl (tidak bereaksi)
5. NaCl + (NH4)2CO3
Na2CO3 + 2NH4Cl (tidak bereaksi)
6. 2LiCl + (NH4)2CO3
Li2CO3 + 2NH4Cl (tidak bereaksi)

Page
34

Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa unsur alkali tanah di campur
dengan (NH4)2CO3 memvbentuk endapan (bereaksi), sedangkan unsur alkali yang
di campur (NH4)2CO3 tidak membentuk endapan karena tidak bereaksi.Hal ini
dikarenakan garam CaCO3, BaCO3, dan SrCO3 sukar larut dalam air sehingga
membentuk endapan berwarna putih.
Untuk reaksi dengan ((NH4)2PO4 ), dapat dikatakan bahwa :
1. 3CaCl2 + 2(NH4)3PO3
Ca3(PO4)2+ 6NH4Cl (membentuk endapan)
2. 3BaCl2 +2(NH4)3PO3
Ba3(PO4)2+ 6NH4Cl (membentuk endapan)
3. 3SrCl2 +2(NH4)3PO3
Sr3(PO4)2+ 6NH4Cl (membentuk endapan)
4. 3KCl + 2(NH4)3PO3
K3PO4+ 3NH4Cl (tidak bereaksi)
5. 3NaCl + 2(NH4)3PO3
Na3PO4+ 3NH4Cl (tidak bereaksi)
6. 3LiCl + 2(NH4)3PO3
Li3PO4+ 3NH4Cl (tidak bereaksi)
Dari hasil tersebut, dapat diketahui bahwaBaCl2, CaCl2dan SrCl2yang dicampur
dengan ((NH4)2PO4 ) membentuk endapan sedangkan KCl, NaCl, dan LiCl tidak
bereaksi dengan larutan (NH4)2PO4. Hal ini dikarenakan garam Ca3(PO4)2, Ba3(PO4)2,
dan

Sr3(PO4)2adalah

garam-garam

yang

sukar

larut

dalam

air

sehingga

membentuk endapan, yang berwarna putih. Dan garam K 3CO3, Na3PO4, dan
Li3PO4adalah garam-garam yang mudah larut.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Untuk reaksi dengan di dapatkan(NH4)2SO4 bahwa :


CaCl2 +(NH4)2SO4
CaSO3 + 2NH4Cl (tidak bereaksi)
BaCl2 + (NH4)2SO4
BaSO3 + 2NH4Cl (membentuk endapan)
SrCl2 + (NH4)2SO4
SrSO3 + 2NH4Cl (membentuk endapan)
2KCl +(NH4)2SO4
K2SO3+ 2NH4Cl (tidak bereaksi)
2NaCl +(NH4)2SO4
Na2SO3 + 2NH4Cl (tidak bereaksi)
2LiCl +(NH4)2SO4
Li2SO3 + 2NH4Cl (tidak bereaksi)
Dari hasil-hasil tersebut dapat dilihat bahwa hanyaBaCl 2 dan SrCl2setelah

dicampur dengan larutan (NH4)2SO4 membentuk endapan. Hal ini disebab karena
garam BaSO3dan SrSO3 adalah garam yang sukar larut, sedangkan garam CaSO 3,
K2SO3, Na2SO3, dan Li2SO3adalah garam-garam yang mudah larut tidak ditemukan
endapan.
IX.3. Reaksi-reaksi Halida
Pada percobaan ini, 20 tetes larutan NaCl 0,5M , NaBr 0,5M, dan NaI 0,5M
masing-masing

dimasukkan

kedalam

tabung

reaksi

dan

masing-masing

ditambahkan dengan 10 tetes CCl4, 10 tetes air klorin (Cl2), dan 5 tetes HNO3
Page
35

encer. Setelah dicampur diperoleh bahwa, NaCl + Cl 2 membentuk lapisan CCl4 tak
berwarna/bening, NaBr + Cl2 membentuk lapisan CCl4 berwarna kuning , dan NaI
+ Cl2 membentuk lapisan CCl4 berwarna cokelat kemerahan. Dari perubahan
warna lapisan tersebut dapat diketahui bahwa NaBr dab NaI dapat bereaksi
dengan

Cl2

karena

terdapat

perubahan

warna,

sedangkan

NaCl

tidak

berwarna/bening karena tidak dapat bereaksi dengan Cl2.


IX.4. Analisis Larutan Anu
Pada percobaan analisis larutan X dengan hasil percobaan, warna nyala zat X
tak berwarna. Kemudian zat X yang dicampur dengan larutan (NH 4)2CO3 dan
(NH4)2PO4
Sedangkan

membentuk endapan putih dan warna larutan memnjadi keruh.


zat

yang

dicampur

dengan

(NH 4)2SO4

tidak

membentuk

endapan.Dari hasil tersebut dan data yang diperoleh pada percobaan uji nyala
alkali dan alkali tanah dan reaksinya, dapat disimpulkan larutan zat X adalah
larutan BaCl2 atau SrCl2 atau larutan garam dari Ba atau Sr.
Larutan Y yang digunakan adalah untuk mengetahui halida yang ada
didalamnya.Larutan zat Y yang dimasukkan dalam tabung reaksi ditambahkan
dengan larutan CCl4, air klorin, dan HNO3.Setlah dicampur warna lapisan CCl4 yang
terbentuk didasar tabung berwarna bening kekuningan dan warna larutan menjadi
kuning jernih. Dari hasil tersebut, jika dibandingkan dengan reaksi halida
sebelumnya laruatan zat Y yang digunakan adalah larutan garam NaBr atau
garam lain yang mengandung unsur Br.
X. DISKUSI
A. Uji Nyala Unsur Alkali dan Alkali Tanah
Menurut teori alkali memberikan warna nyala yang khas. Misalnya, Li (merah),
Na (kuning), dan K (ungu). Sama seperti logam Alkali, Alkali tanah juga
memberikan warna nyala yang khas.Misalnya, Ca memberikan warna nyala merah
jingga, Sr memberikan warna nyala merah ungu, dan Ba memberikan warna nyala
kuning.Pada percobaan yang kami dapatkan Sr berwarna merah tua, Ca berwarna
merah, dan Li berwarna merah tua. Untuk logam alkali kami memdapatkan warna
nyala Na berwarna kuning, Ba berwarna hijau kekuningan, dan K berwarba biru
Page
36

keunguan. Pada percobaan ini hampir sama dengan yang dinyatakan teori hanya
seaja terdapat kesalahan pada si pengamat yang kurang teliti dalam mengamati
warna nyala yang timbul.
B. Reaksi-reaksi Unsur Alkali dan Alkali Tanah
Untuk reaksi unsur alkali dan alkali tanh dapat diketahui dari hasil pengamatan
bahwa unsur dari golongan alkali tanah membentuk endapan, sedangkan
golongan alkali tidak terdapat pengendapan, yang berarti tidak terjadi reaksi. Dan
hasil ini sesuai dengan teori, bahwa CaCl 2, BaCl2 dan SrCl2 yang dicampur dengan
(NH4)3PO4 dan (NH4)CO3 membentuk endapan, sedangkan ketika dicampurkan
dengan (NH4)2SO4 hanya BaCl2 dan SrCl2 yang terbentuk endapan. Adanya
endapan ini dikarenakan golongan IIA tidak mudah larut dalam pelarut dan
membentuk basa lemah, dan ion karbonat (CO 32-), sulfat (SO42-), dan fosfat(PO43-)
pada

umumnya

sukar

larut

kecuali

Na 2CO3,K2CO3,

LiCO3,

CaSO4,

K2SO4,Na2SO4,Li2SO4, Na3PO4, K3PO4,dan Li3PO4. Selain itu, golongan IA mudah larut


membentuk basa kuat (bersifat elektolit) sehingga tidak terjadi pengendapan.
C. Reaksi-reaksi Halida
Reaksi antara garam halida denag CCl 4, air klorin, dan HNO3 membentuk warna
pada dasar tabung dan perubahan warna pada larutan. Dari hasil pengamatan
dapat dilihat lapisan CCl4 yang terbentuk memiliki warna yang berbeda-beda
untuk setiap unsurnya.Perbedaan warna ini menandakan bahwa garam halida
NaBr dan NaI dapat bereaksi dengan Cl 2. Hal ini sesuai dengan teori, bahwa Cl 2
dapat mengoksidasi Br dan I sesuai dengan tingkatan oksidasi F 2>Cl2>Br2>I2.Yang
berarti Cl2 dapat mengoksidasi Br- menjadi Br2 dan Cl2 dapat mengoksidasi Imenjadi I2.
D. Analisis Larutan Anu
Untuk larutan anu X, kelompok kami tidak melakukannya dikarenakakn waktu
yang terbatas. Namun, kami memngan data dari kelompok lain yang kami
perhatikan bahwa warna nyala zat X menunjukkan tidak berwarna ketika
direaksikan dengan (NH4)2CO3 membentuk endapan putih, ketika di reaksikan
dengan (NH4)2SO4 membentuk endapan putih juga, dan ketika direaksikan dengan
Page
37

(NH4)3PO4 tidak membentuk endapan. Jika dilihat data dengan reaksi (NH 4)2CO3,
(NH4)2SO4 , dan(NH4)3PO4dapat disimpulkan bahwa zat tersebut adalah BaCl 2 datau
SrCl2. Namun, jika dilihat dari warna nyalanya zat X adalah larutan Fr atau Ra.
Dengan berpatokan pada uji nyala dan reaksi-reaksi insur alkali dan alkali tanah,
kita dapat menentukan unsur apa yang terkandung pada larutan zat X dapat
dilihat tidak sesuai dengan data yang telah ada, sehingga kesalahan ini dapat
disebabkan oleh ketidaktelitian praktikan dalam menguji nyala, ketidak sterilnya
kawat nikrom, ata nyala api spiritus yang terlalu besar.
Untuk larutan anu Y, ketika zat Y dimasukkan kedalam tabung reaksi, CCl 4, air
klorin, dan HNO3 encer ditambahkan, kemudian lapisan CCl4 yang terbentuk
didasar tabung reaksi kami amati. Lapisan yang terbentuk berwarna bening
kekuningan dan warna berubah menjadi warna kuning jernih, sehingga dapat
disimpulkan bahwa zat Y adalah larutan NaBr atau larutan yang mengandung
unsur Br. Pada percobaan ini kami kurang cermatdalam mengamati warna yang
terjadi, karena jika dilihat dengan hasil yang kami dapatkan sebelumnyapada
reaksi-reaksi halida, warna yang kami peroleh tidak terlalu jelas ( lebih jernih). Hal
ini dapat bisa disebabkan oleh ketidak akuratan pipet tetes atau tabung reaksi
yang kurang bersih, serta dapat dipengaruhi oleh pencahayaan jika diperhatikan
dengan baik dan tabung reaksi diletakkan pada bidang bersih yang berwarna
putih separti kertas, warna lapisan yang mengendap adalah bening sehingga
dapat disimpulkan dari data reaksi halida zat Y adalah NaCl. Namun, larutan yang
terbentuk berwarna kuning jernih, sedangkan warna larutan NaCl adalah
bening/tak berwarna.Jadi, kesalahan ini disebabkan oleh praktikan yang kurang
cermat.

XI.

PERTANYAAN PASCA PRAKTEK


1. Apakah reaksi nyala saja dapat digunakan untuk mengidentifikasi unsur ?
jelaskan jawaban anda !
Page
38

Jawab :Tidak, karena uji nyala adalah salah satu cara untuk mengidentifikasi
unsur yang memiliki ciri khas warna. Selain reaksi nyala, dapat
juga digunakan atau direaksikan dengan unsur atau senyawa lain
(reaksi pengendapan) atau reaksi halida.
2. Mengapa reaksi air klorin dengan NaCl, NaBr, dan NaI memberikan hasil
yang berbeda?
Jawab : Reaksi air klorin denganNaCl, NaBr, dan NaI memberikan hasil yang
berbeda karena senyawa tersebut memiliki unsur halogen yang
berbeda dan memiliki kereaktifan yang berbeda, serta tingkat
oksidasi yang berbeda. Dan fungsi dari air klorin berguna untuk
meberikan perbedaan warna dari tiap zat.
3. Mengapa unsur golongan IA memberikan hasil yang berbeda dengan
golongan IIA pada percobaan B 1, 2, dan 3 ?
Jawab : unsur golongan IA memberikan hasil yang berbeda dengan
golongan IIA pada percobaan B 1, 2, dan 3 karena kelarutan yang
berbeda.

Golongan

IA

apabila

bereaksi

dengan

garam

akan

membentuk basa kuat dan mudah larut, sedangkan golongan IIA


akan membentuk basa lemah dan sukar larut.
XII.

KESIMPULAN
1. Kesamaan sifat unsur-unsur dalam tabel berkala berdasarkan kesamaan
jumlah elektron valensi dan diletakkan dalam satu golongan.
2. Unsur alkali dan alkali tanah dapat diketahui melalui warna nyala larutan
garamnya. Litium (Li) memilikiwarna nyala merah, Natrium (Na) warna
kuning, Kalium (K)

warna ungu, Barium (Ba) warna hijau, Kalsium (Ca)

warna merah, dan Stronsium (Sr) warna merah tua. Garam-garam alkali
dan alkali tanah dapat beraksi da nada juga yang tidak. Larutan garam
yang dapat bereaksi dengan (NH4)2CO3 dan (NH4)3PO4 adalah CaCl2, BaCl2,
dan SrCl2, sedangkan yang bereaksi dengan (NH4)2SO4 adalah BaCl2 dan
SrCl2.
3. Reaksi

antara

garam

halida

dengan

CCl 4,

air

klorin,

dan

HNO3

menghasilkan warna lapisan CCl 4 yang terletak didasar tabung. Warna ini
Page
39

berbeda tergantung senyawa halida yang digunakan ( mengandung unsur


halogen). Air klorin CCl4 yang digunakan adalah untuk mengetahui garam
halida dapat bereaksi dengan halogen yang bersifat pengoksidasi.
4. Analisis larutan X dan Y adalah unsur alkali atau alkali tanah atau halida
apa yang terdapat di dalamnya., dngan cara membandingkan data uji
nyala,

reaksi

halida

unsur

alkali

dan

alkali

tanah,

serta

membandingkannya dengan teori yang sudah ada.

XIII. DAFTAR PUSTAKA


Chang, Raymond.2003. Kimia Dasar : Konsep-KonsepInti Jl.I Ed.3. Jakarta:
Erlangga
Epinur, dkk. 2012. PenuntunPraktikumKimiaDasar. Jambi :UNJA
Lestari, Sri. 2004. MenguraiSusunanPriodikUnsurKimia. Jakarta:

Kawan

Pustaka
Oxtoby, dkk.2001.Prinsip-PrinsipKimiaModernJl.I Ed.4.Jakarta : Erlangga
Petrucci, Ralph. 1987.
KimiaDasar: PrinsipdanTerapanModernEd.4.Jl.I.
Jakarta :Erlangga
Purba, Michel. 2006. Kimia. Jakarta : Erlangga
Sutresna, Nana.2007. CerdasBelajarKimia. Bandung : Grafindo Media Pratama
Syukri, S.1999.Kimia Dasar I. Bandung :ITB
Yayan Dan Agus. 2007. MudahdanAktifBelajarKimia. Bandung : Setia Purna
Inves

PERCOBAAN 3
Page
40

I.JUDUL
II.
HARI / TANGGAL
III.
TUJUAN

: Rumus Empiris Senyawa Dan Hidrasi Air


: Rabu, 20 Maret 2013
:
1. Mencari rumus empiris dari suatu senyawa dan menetapkan
rumus molekul senyawa tersebut
2. Mempelajari cara mendapatkan data percobaan dan cara
memakai data untuk menghitung rumus empiris
3. Mempelajari sifat-sifat senyawa bwrhidrat
4. Mempelajari reaksi bolak-balik hidrasi
5. Menentukan persentase air di dalam suatu hidrat

IV.

PERTANYAAN PRAPAKTIKUM
1. Apakah yang disebut rumus empiris dan rumus molekul ?
Jawab :
a. rumus empiris adalah rumus yang paling sederhana yang menyatakan perbandingan atom-atom
dari berbagai unsure dalam senyawa.
b. Rumus molekul adalah rumus yang menggambarkan perbandingan mol berbagai unsure serta
imformasi tentang berapa banyak atom dalam masing-masing molekul
2. Jika dalam 5 gr tembaga klorida terdapat 2,35 gr tembaga dan 2,65 gr klorida. Tentukan rumus yang
paling sederhana dari rumus klorida tersebut !
Jawab :

Unsur
Massa
Mr
Mol
Atom
Rumus empiris

Tembaga (Cu)
2,35 gr
63,543
2,35/63,543-0,04
1

Clorida (Cl)
2,65 gr
35
2,25/35=0,08
2

3. Difinisikan apa yang dimaksud dengan hidrat


Jawab :
Hidrat adalah yang setiap satu mol nya mengandung air atau senyawa yang tersusun karna adanya
molekul air sebagai bagian komposisinya.
4. Suatu sampeldiketahui berupa hidrat yaitu zink sulfat (ZnSO 4). Bila 300 gr dipanaskan hingga
bobotnya tetap, bobot yang tersisa adalah 1,692 gr. Bagai mana rumus garam hidrat ini ?
Jawab :
znso4 ZnSo4 + x H2o
Page
41

300 gr

300 gr 300-1,692
300 gr 298,308 gr
Mol ZnSo4 = gr ZnSo4 / Mr
300 / 161
=1,86 mol
Mol H2o = gr H2o / mr
=298,308 / 18
=16,6 mol
Mol ZnSo4 =mol H2o
1,86 =16,6
1 =9
Jadi rumus garam hidrat adalah ZnSo4.9H2o
V.

LANDASAN TEORI
5.1. Rumus empiris
Rumus paling sederhana dari suatu molekul dinamakan rumus empiris, yaitu rumus
molekul yang menunjukan perbandingan atom-atom penyusun molekul paling sederhana dan
merupakan bilangan bulat. Rumus molekul merupakan rumus yang diproleh dari percobaan.
Rumus empiris dapat juga ditunjukan rumus molekul apabila tidak ada imformasi
tentang massa molekul relative dari senyawa itu. Minsalnya, NO 2 dapat dikatakan sebagai
rumus molekul jika tidak ada imformasi massa molekul relatifnya, tetapi jika massa
molekulnya di ketahui, misalnya 92 maka Na2 merupakan rumus empiris karena rumus
molekul senyawa tersebut adalah N2O4.
Untuk menentukan rumus empiris perlu terlebihdahulu mengetahui komposisi massa
dari cuplikan senyawa yang di tentukan melalui percobaan seperti di uraikan di atas.
Selanjutnya data tersebut bersama dengan massa atom relative unsure penyusun senyawa
digunakan untuk menghitung nilai perbandingannya yang paling sederhana dari atom-atom
penyusun cuplikan senyawa itu (Sunarya, Yayan. 2010).
Rumus empiris suatu senyawa menyatakan nisbah terkecil jumlah atom yang terdapat
dalam senyawa tersebut.menurut sejarahrumus empiris ditentukan lewat penggantungan
nisbah bobot dari unsure-unsurnya ini merupakan langkah yang penting untuk
memperlihatkan sifat berkala dari unsure-unsur, percobaan rumus empiris juga dilakukan
untuk menentukan daya gelombang suatu unsure.(Epinur. 2011)
Rumus kimia senyawa menggambarkan jum;ah atom relative dan berbagai unsure yang
ada. Rumus kimia juga menggambarkan jumlah mol relatif berbagai unsure tersebut. Jika
rumus senyawa tidak diketahui, rumus kimia itu dapat di perkirakan dari perbandingan yang
di tentukan secara eksprimen . prosedur ini dapat dilakukan karena jika massa relative unsure
Page
42

sudah tidak diperoleh, jumlah mol relatifmasing-masing unsure tersebut dapat diketahui.
Rumus kimia yang diturunkan dengan cara seperti ini disebut rumus empiris. Dalam
menyelesaikan soal-soal yang telah diketahui komposisi persennya, kita dapat menggunakan
berbagai ukuran sampel, karna presentase setiap unsure tidak bergantung pada ukuran sampel
(Goldberg. 2004).
Rumus empiris biasanya digunakan untuk zat-zat yang terddiri dari molekul-molekul
diskrit seperti kalsium karbonat (CaCo3), Natrium klorida (NaCL). Dari suatu rumus,
massadari setiap unsure dapat dihitung. Karna rumus suatu senyawa menyatakan jumlah dan
massa atom. Sebaiknya dari massa setiap unsure dapat ditentukan (Chang,Raymond. 2005).
Rumus empiris dapat di tentukan dari data :

Macam unsure dalam senyawa (analisis kualitatif)


Persen komposisi unsure (analisis kuantitatif), dan
Massa atom relative unsure-unsur yang bersangkutan

Cara menentukan rumus empiris suatu senyawadapat dilakukan dalam tahap-tahap


berikut :

Tentukan massa setiap unsure dalam sejumlah massa tertentu senyawa atau persen massa
tiap unsure. Dari data ini dapat di perolehmassa relative yang di dapat dalam senyawa.
Membagi massa setiap unsure dengan massa atom relatif, sehingga di peroleh
perbandingan mol setiap unsure atau perbandingan atom
Mengubah perbandingan yang di peroleh pada opsi 2menjadi bilangan sederhana dengan
cara membagi dengan bilangan bulat terkecil

1.2. Rumus molekul


Rumus molekul adalah rumus yang menggambarkan perbandingan mol berbagai
unsure serta imformasi tentang beberapa banyak jumlah atom dalam masing-masing
molekul. Untuk memperkirikan rumus molekul dari data eksprimen, biasanya ditentukan
perserinya dan massa molarnya (Gold, David E. 2004).
Rumus kimiayang menggambarkan jenis dan jumlah nyata dari atom-atom yang
membentuk molekul suatu zat disebut rumus molekul, rumus molekul menyatakan jumlah
atom yang sebenarnya dari suatu unsure dalam suatu molekul. Rumus molekul dapat
membedakan antara zat-zat yang berbeda tapi mempunyai rumus empiris sama (Achmad,
Hiskia.1993).

Page
43

Rumus molekul memberikan jumlah mol (bukan saja perbandingan) setiap jenis
atom dalam suatu molmolekul senyawa menentukan rumus molekul senyawa yang tidak
diketahui memerlikan percobaan di laboratorium dengan langkah umum sebagai berikut :

Analisis kualitatif, menentukan unsure yang terdapat dalam senyawa.


Analisis kuanlitatif, menentukan persen masing-masing unsure.
Menentukan rumus empiris dari dat aanalisis kuallitatif dan kuantitatif
Menentukan Mr
Menentukan rumus molekul.
(Syukri, S.2004).

1.3. Hidrasi Air


Beberapa reaksi yang dilakukan di laboratorium kimia selallu berkenaan dengan
larutan, beberaapa di antaranya bekerja dengan menggunakan air sebagai pelarut. Ketika
air di uapkan, hasil reaksi dapat di isolasi seringkali dalam bentuk padatan kadang kala
produk padatan mengandung molekul air sebagai bagian dari komposisinya, sebagai contoh
nikel (11) oksida (Nio) di larutkan dalam larutan H2SO4 encer,akan terbentuk NiSo4.
Beberapa bahan akan menyerap sedikit air jika di tempatkan di atmosfer yang
mengandung banyak uap air. Penambahan air akan membentuk zat anhidrat dan proses ini
merupakan proses bolak-balik, sebagai contoh, hidrst nikel (11) sulfat jika dipanaskan akan
kehilangan air membentuk nikel (11) sulfat anhidrat. Nikel (11) sulfat anhidrat dapat
dilarutkan kembali dalam air dan dikristalkan ulang sebagai senyawa hidrat.
NiSO4 . 6H2O

NiSO4 (s) + 6H2O (g)

(Epinur.2011)

Hidrat adalah zat yangmengikat beberapa molekul air sebagai bagian dari molekul
kristalnya.
Contoh :
Terusi , CuSO4 . 5H2O

Tembaga (11) sulfat penta hidrat

Gips , CaSO4 .2H2O

Kalsium sulfat dihidrat

Garam inggris, Mg SO4. 7H2O

Magnesium sulfat heptahidrat

Soda hablur , Na2CO3 .10 H2O

Natrium karbonat dekahidrat

Jika suatu hidrat dipanaskan, seluruh air kristalnya dapat lepas (menguap)
Contoh :
Page
44

CaSO4 . 2H2O(S)

CaSO3. 10H2O. H2O(S) + 3/2 H2O(g) Gips

Jika suatu hidrat dilarutkan dalam air, maka air kristalnya akan lepas.
Contoh :
CuSO4 .5 H2O(S)

CuSO4 (aq) + 5H2O(l)


(Purba, Michael.2000).

Hidrat adalah suatu larutan yang dapat bekerja dengan menggunakan air sebagai
pelarut dan air yang diupkan hasil reaksi akan diisolasi membentuk padatan yang
mengandung molekul air sebagai bagian dari kapasitasnya. Sifat-sifat senyawa berhidrat di
antaranya membentuk Kristal memiliki molekul air, reaksi bolak- balik dapat dipisahkan
dengan pemanasan persentase air dalam hidrat dapat dihitung dari data yang diperoleh dari
percobaan.
Persentase air = massa air sebelum pemanasan massa air setelah pemanasan x 10
Massa air sebelum pemanasan

(Yuni, Astuti .2004).


Reaksi adalah hasilreaksi dapat bereaksi kembali membentuk zat pereaksi. Garam
hidrat jiga mengalami pereaksi bolak-balik dari garam hidrat dapat panaskan pada suhu
tertentu menjadi garam anhidrat dapat di ubah menjadi garam hidrat dengan menambahkan
molekul air. Air dapat bereaksi dengan logam-logam yang aktif pada suhu biasa minsalnya
natrium , kalium, magnesium dan kalsium. Reaksi logam dengan air akan menghasilkan
basa dan basa hydrogen. Reaksi logam dengan air akan menghasilkan basa dan basa
hydrogen.air akan terikat secara kimia dalam molekul Kristal dan di sebut air Kristal.
Banyaknya molekul air dapat dilihat dari rumus kimia hidrat misalnya :
CuSO4 +5H2O

CuSO4 .5H2O tembaga sulfat pentahidrat

Air Kristal dalam suatu zat dapat dihilangkan atau di keluarkan dari Kristal dengan cara
pemasaran . (Anggota Ikapi. 1984).

VI.

Alat dan Bahan


Page
45

6.1 Rumus empiris senyawa


a. alat
alat-alat yang digunakan pada saat percobaan ini antara lain :
1. Cawan krus dan tutupnya
2. Neraca
3. Kertas tissue
4. Penjepit krus
5. Pembakar Bunsen
6. Pipetetes
7. Gelas arloji
8. Segitiga porselen
9. Kalitiga
10. Stopwatch
b. bahan
bahan yang digunakan pada percobaan ini antara lain :
1.
2.
3.
4.

Pita Mg (10-15 cm)


Air
0,5 gr logam tembaga
10 ml asam nitrat 4m

6.2 Hidrasi air


a. alat
alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Cawan porselen dan tutupnya


Segitiga penyangga
Kaca arloji
Neraca
Lampu spiritus
Spatula
Stopwatch

b. bahan
bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1.
2.
3.
4.

Deterjen
Air
Air suling
Larutan HNO3 6m
Page
46

5. CuSO4 . 5H2O spatula


6. Contoh sampel
6.1. Reaksi bolak balik hidrat
a. alat
alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :
1. Spatula
2. Cawan porselen
3. Kaca arloji
b. bahan
bahan yang digunakan pada percobaan ini antara lain :
1. Tembaga (11) sulfat pnta hidrat (CuSO4 . 5H2O)
VII.

PROSEDUR KERJA
- Rumus empiris dan senyawa

Cawan krus
dan tutupnya
Ditimbang hingga
Ketelitian 0,001 gram
Potong pipa
mg 15 cm.
Di gulung
Gulungan
mg
Dimasukkan ke dalam
Krus
Di letakkan diatas
Kaki tiga

Krus
beserta isi

Di ilengkpi dg kakitiga porselen

Page
47

dipanaskan dengan

Membakar
bunsen Setelah 20 mnt ambil dg
Penjepit krus
Buka sedikit agar udara masuk,dan di lanjutkan pembakar 20 mnt.

bunsen
Di matikan ,di biarkan dingin dan di tetes
40 tetes air
Di teteskan air
Cawan krus

Timbang
krus dan
tutupnya

ketelitian 0,001 gram


dengan
selama 5 menit hingga tak ada asap

Api kecil

Dinginkan krus

selama 15 menit

timbang

Api kecil

lnjt pemanasan

Menggunakan Cu
Cawan
penguap

Panaskan

Dinginkan

Ditambahkan
0,5 gram
tutup
logam
tembaga

10 ml
asam nitrat
4 ml
setelah logam larut
Panaskan lagi
Page
48

Gelas
arloji

timbang

sampai terbentuk kristal hitam


Pemanasan
dilanjutkan smpai terbentuk kristal ke kuningan
Di dinginkan

dalam satu kamar

Cawan
penguap
beserta isinya
di timbang

Tentukan
rumus
empiris dari
oksida
tembaga

Hidrasi air

A.penentuan kuantitatif persentase air dalam senyawa hidrat.


Cawan
penguap
dan
Bilas dg
tutupnya
Kemudian

Cuci dengan
setengah air

Di periksa

Cawa
n

Air suling

Larutan HNO3

Kaki segitiga
penyangga

Cawan
penguap

Panaskan dg hati-hati
Sampai bagian tengah cawan
Membara.
Hentikan
Pada suhu kamar
utpemanasan
Selama 10-15 menit
dan dinginkan

Page
49

Air suling

Cawan beserta
tutup

Jaga agar tetap dalam keadaan bersih

Di timbang
1 gram sampel
dalam cawan

Naikkan
panas hingga
bagian atas
cawan
terlihat

Letakkan pada

pembak
ar

segitiga

Dpnskan

cawan

Selama 1o menit

Hentikan
Di tutup di biarkan dingin pada suhu kamar

Cawan

Timbang

Ulangi
pemanasan

B. Reaksi bolak-balik hidrat

Setengah spatula
tembaga (ll) sulfat
pentahidrat
(CuSo4.5H2O )
Di masukkan ke dalam
Page
50

dengan penutup sedikt


Terbuka.

Cawan
porselen

Amati sampai dan catat


Di tutup dengan
Di panaskan ( amati dan catat hasil )

Hentikan
pemansan

Setelah dingin
Teteskan air
Yang terkumpul pada
Kaca arloji
Ke dalam
Cawan

Amati apa yang terjadi

VIII. DATA PENGAMATAN


1.1.

Senyawa Mg

no
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Bobot cawan krus + tutup


Bobot cawan krus + magnesium
Bobot magnesium
Bobot cawan krus + magnesium
oksida + tutup
Bobot magnesium oksida
Bobot oksida
Bobot atom magnesium
Bobot atom oksida
Jumlah mol atom oksigen
Jumlah mol atom magnesium
Rumus empiris magnesium
oksida

Bagaimana
mendapatkannya
Menimbang
Menimbang
(2)-(1)
Menimbang

Ulang 1

Ulang II

57,5420
57,5667
0,0257
57,5830

57,5426

(4)-(1)
(4)-(1)
Table berkala
Table berkala
6
/8
3
/7

0,041
0,0153
24,3
16,0
0,00095625
0,001057612
Mg O

Page
51

24,3
16,0

Senyawa Tembaga

Bobot cawan penguap


= 57,4930 g
Bobot cawan penguap + tembaga
= 57,5793 g
Bobot cawan penguap + oksida tembaga
= 57,5880 g
Bobot oksida tembaga yang di peroleh
= 0,095 g
Tulis reaksi antara logam tembaga dengan asam nitrat
Cu(s) + HNO3(aq) + H2(g)
Dari hasil percobaan buatlah perhitungan untuk menentukan rumus empirisoksida
tembaga tersebut
Massa Cu = 57,5793 57,4930= 0,0863 gr
Massa O = 0,095-0,083 = 0,0087 gr
Mol Cu = mol O
0,0863
= 0,0087
63,5
16
0,00108
= 0,00054
2
=
1
RE = Cu2O

A. Air hidrat
1. Massa cawan kosong + tutup
=57,58 gr
2. Massa cawan kosong + tutup + contoh
= 57,6725 gr
3. Massa cawan kosong +tutup +contoh, pemanasan 1
= 57,5804 gr
4. Massa contoh setelah pemanasan
= 0,0004 gr
5. Massa air yang hilang dari contoh
=0,0921 gr
6. Persentase air yang hilang dari contoh
= 9956 0/0
7. Massa molar senyawa anhidrat
= 159,5 gr
8. Rumus hidrat
= CuSO4, 5H2O
B. Reaksi bolak balik hidrasi
a. Warna CuSO4 , 5H2O
b. Pada pemanasan CuSO4 , 5H2O Terdapat / air pada kaca arloji
c. Warna contoh setelah pemanasan adalah putih
d. Setelah pemanasan dan penambahan H2O Terjadi warna biru muda
e. Persamaan reaksi
CuSO4 .. 5H2O
CuSO4 + 5H2O
CuSO4 + 5H2O
CuSO4 . 5H2O
XI. PEMBAHASAN
1. Senyawa Magnesium
Pada percobaan inidi lakukan terlebih dahulu memeriksa cawan penguap dan kaca arloji
sebagai tutup, baik untuk di gunakan. Setelah itu,perlakuan pertama menimbang bobot cawan
penguap kemudian + tutup kemudian menimbang bobot cawan penguat + magnesium, lalu
Page
52

mencari bobot magnesium dengan percobaan (2)-(1), setelah itu menimbang bobot cawan penguat
+ tutup + magnesium oksidasi dengan langkah percobaan (4)-(1), bobot atom magnesium pada
table berkala. Langkah selanjutnya, mencari jumlah atom magnesium dengan cara konsep gay
lussac. Kemudian terakhir mencari rumus empiris magnesium oksida.
A. Air Hidrat
Percobaan ini dilakukan dengan terlebih dahulu memeriksa cawan penguap dan tutupnya, baik
untuk digunakan. Kemudian di atur ketinggian kaki tiga sehinggah tengah cawantetap dan tetap
pada bagian panas pada bagian pembakaran. Cawan tadi dipanaskan dengan hati-hati sampai bagian
tengah cawan tampak membara, dan dibiarkan selama 5 menit. Setelah dipanaskan, cawan diangkat
dan didinginkan pada suhu kamar. Cawan di timbanng dan di dapatkan hasil timbangan 57,5804 gr.
Cawan kosong + tutup adalah 57,58 gr cawan beserta contoh dan tutup adalah 57 gr dipanaskan
selama 5 menit kemudian didinginkan dan cawan ditimbang.
Berdasarkan data yang di peroleh pada saat percobaan, maka dicari dengan rumus yaitu:
~ Massa sampel sebelum dipanaskan
=data (2) data (1)
= 57,6725 gr 57,58 gr
= 0,09925 gr
~ Massa sampel sesudah di panaskan
= data 3 data 1
= 57,5804 57,58 gr
=0,0004 gr
Massa yang hilangdpat di peroleh dari selisih massa sampel sebelum pemanasan dengan massa
sampel ssetelah pemanasan dapat di tulis sebagai berikut :
~ Masssa air yang hilang =nmasssa sampel sebelum dipanas massa sampel sesudahdi panaskan
= 0,0925 gr 0,0004 gr
= 0,0921 gr
~ persentase air yang hilang dari sampel dapat dicari dengan rumus
0

/0 air = massa air yang hilang dari sampel x 100 0/0


Massa sampel sebelum pemanasan
Page
53

= 0,0925 X 100 0/0


0,0921
= 99,56 0/0
Massa molar senyawa anhidrat dapat ditentukan berdasarkan massa atom-atom penyusun sehingga
Mr CuSO4

= (1xArCu) + (1x ArO) +(4 x ArO )


= 63,5 + 32 + 64
= 159,5

Menentukan rumus hidrat senyawa CuSO4 . H2O


~ Mol CuSO4 = massa CuSO4
Mr CuSO4
= 0,0925 g
159,5 mol
= 0,00058 gr/mol
~ Mol H2O

= massa H2O
MO H2O
= 0,0921 g
18 mol
= 0,00512

~ Perbandingan antara mol CuSO4 : Mol H2O


0,0006 : 0,005
1

Maka rumus hidrat yang didapatkan yaitu


CuSO4 . 8H2O
Pada percobaan yang kami lakukan rumus hidrat yang di dapat adalah CuSO4 . 8H2O . Dapat
diketahui bahwa pada senyawa CuSO4 tersebut mengandung air
Page
54

B. Reaksi bolak-balik hidrasi


Pada percobaan ini dilakukan dengan di masukan 1 gr tembaga sulfat pentahidrat (CuSO4 .
5H2O). kedalam cawan penguap setelah di amati CuSO4 . 5H2O menghasilkan warna biru.
Kemudian tutup cawan dengan kaca arloji yang di panaskan pada nyala Bunsen 10 menit
sampai warna pada CuSO4 .5H2O Berubah menjadi putih. Hal ini terjadi karena molekul H 2O
melepas diri dari ikatan CuSO4 . 5H2O Setelah warna putih di tetesi H2O kemudian jadi warna
biru kembali. Hal ini terjadi karena H2O Terikatkembali pada CuSO4 . 5H2O. melepassnya H2O
terlihat pada kaca arloji.
Persamaan reaksi yang diperoleh yaitu :
CuSO4 . 5H2O

CuSO4 + 5H2O

(BIRU)

(PUTIH)

CuSO4 + 5H2O

CuSO4 . 5H2O

(PUTIH)

(BIRU)

Maka, reaksi bolak balik tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :


CuSO4 . 5H2O

CuSO4 + 5H2O

X. DISKUSI
1. Air Hidrat
Pada percobaan ini didapat rumus hidrat yaitu : CuSO 4 . 3H2O. Hal ini tidak sesuai dengan
teori . ini terjadi mungkin karena kami kurang telitih dalam melakukan percobaan. Pada teori
sebenarnya hasil yang di dapat adalah : rumus hidrat CuSO 4 .5H2O Persentase air yang hilang dari
sampelmenghasilkan 99,56 0/0
Rumus hidrat pada senyawa CuSO4 . H2O
~ mol CuSO4 = Massa CuSO4
Mr CuSO4
= 0,0925 g
159,5 mol
=0,00058 gr/mol
~ mol H2O

= Massa H2O
Page
55

Mr H2O
=0,0921 gr
18 mol
= 0,00512 gr/mol

~ perbandingan antara mol CuSO4

: mol H2O

0,0006 : 0,005
1

Maka rumus senyawa hidrat yaitu


CuSO4

: 8H2O

2. Reaksi bolak balik hidrasi


Reaksi bolak balok yaitu reaksi di mana hasil dapat menjadi pereaksi kembali. Pada
percobaan ini warna awal dari senyawa CuSO4 . 5H2O adalah biru setelahdipanaskan menjadi
berwarna putih. Pemanasan di lakukan sampai warna berubah hal yang terjadi H2O melepas
diri dari CuSO4 . 5H2O tampak menguap bintik-bintik air pada kaca arloji . setelah itu di bari
atau di tetesi H2O pada CuSO4 . H2O yang bewarna putih tadi dan yang terjadi warna CuSO 4 .
H2O menjadi biru kembali. Hal ini terjadi karena H 2O terikat kembali pada percobaan reaksi
bolak balik ini adalah
CuSO4 . 5H2O

CuSO4 + 5H2O

Percobaan ini sesuai dengan teori, maka hasil percobaan yang kami lakukan ini berhasil.
XI. Pertanyaan Pasca Praktek
1. Kenapa di pilih cawan praselin yang masih baik (utuh) untuk percobaan menentukan rumus
hidrat (percobaan A)
Jawab : karena agar menghasilkan hasil yang maksimal, jika keadaan cawan tidak baik maka
hasil yang didapatkan tidak baik pula.
2. Apa yang dimaksud dengan bobot tetap
Jawab : bobot tetap adalah massa suatu sampel sebelum dan sesudah stabil (tetap)
3. Apa tujuan menutup mulut tabung reaksi pada percobaan B ?
Page
56

Jawab : agar zat tidak bereaksi dengan oksigen dan uap airsampel CuSO 4 . 5H2O tidak
langsung keudara dan untuk melihat ada atau tidaknya air pada kaca arloji
4. Mengapa warna CuSO4 . 5H2O yang biru berubah menjadi putih pada pemanasan
Jawab : karena senyawa hidrat CuSO 4 . 5H2O melepaskan molekul H2O hingga terbentuk
senyawa anhidrat CuSO4 . Hidrat CuSO4 Menjadi putih karena airnya hilang.
5. Pemanasan harus dihentikan segera bila warna nya berubah menjadi coklat atau hitam.
Jelaskan maksud kalimat berikut !
Jawab : agar zat tidak menjadi abu atau bahkan mengeluarkan asap yang dapat membuat
senyawa tersebut menguap. Hal ini mengakibatkan senyawa anhidrat tidak akan membentuk
senyawa hidrat kembali semula secara sempurna
6. Suatu senyawa hidrat mempunyai massa 1,632 gr sebelum dipanaskan dan 1,0689 setelah
dipanaskan. Hitunglah persentase air secara eksperimen pada hidrat penyelesaian ;
Dik : massa sebelum pemanasan
= 1,632 gr
Massa sesudah pemanasan
= 1,0089 gr
Dit : 0/0 air ?
Jawab :
0
/0 air = masa air yang hilang X 100 0/0
Massa sebelum pemanasan
= 1,632 1,008 X100 0/0
1,632
0
= 38,24 /0
7. Tuliskanlah rx setimbang dari persamaan CuSO4 . 5H2O
Jawab : CuSO4 . 5H2O
CuSO4 + 5H2O

XII. KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapatkan dari percobaan ini adalah :
1. Cara mencari rumus molekul adalah dengan menentukan 0/0 massa setiap unsure sehingga
diperoleh massa relative unsure mencari mol tiap senyawa dengan menggunakan pers :
~
massa senyawa
Mr senyawa
Kemudian dicari perbandingan mol tiap senyawa
2. Cara mendapatkan data percobaan dengan menimbang sampel rumus empiris ditentukan dengan
Analisis kuantitatif
Analisis kuanlitatif
Massa atom relatif
3. Sifat-sifat senyawa berhidrat yaitu
Page
57

~ jika senyawa berhidrat dipanaskan pada suhu tertentu, maka akan terbentuk senyawa anhidrat
dan molekul air ditandai dengan perubahan warna dari biru menjadi putih.
~ jika senyawa anhidrat di tambahkan air maka akan terbentuk kembali senyawa hidrat dan
warna kembali kesemula.
4. Dapat mempelajari reaksi-reaksi bolak balik , reaksinya yaitu :
CuSO4 . 5H2O

CuSO4 + 5H2O

CuSO4 + 5H2O

CuSO4 . 5H2O

Maka reaksi bolak baliknya .


CuSO4 . 5H2O

CuSO4 + 5H2O

5. Persentaase air yang terdapat dalam suatu senyawa hidrat dapat dihitung dengan rumus :
0
/0 H2O = Massa air yang hilang
x 100 0/0
Massa sampel sebelum pemanasan

XIII. DAFTAR PUSTAKA


Ahmad, Hiskia, dkk. 1993. Materi Pokok Kimia Dasar . Depdikbut : Jakarta.
Astuti, Yuni . 2004 . Kimia. Jakarta : Erlangga.
Epinur, dkk. 2011. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Jambi : Universitas Jambi.
Purba, Michael. 2000. Kimia . Jakarta : Erlangga.
Wismono, joko. 2007. Kimia Dasar . Jakarta : Grafindo.

Page
58

PERCOBAAN 4
I.

JUDUL

: Termokimia Dan Hukum Hess

II.

HARI/TANGGAL

: Rabu,03 April 2013

III.

TUJUAN

:
1.Mengukur kalor reaksi dengan alat yang sederhana
2.Mengumpukan dan menganalisis data termokimia
3.Menerapkan ukum Hess

IV,

PERTANYAAN PRAPRAKTEK
1. Berikan pengertian tentang (a) entalpi, (b) sistem terisolasi, (c)sistem terbuka,(d) sistem
tertutup,(e) lingkungan,(f) kalorimeter,(g) eksotermik
Jawaban :
a. Entalpi adalah jumlah enegi data semua bentuk energi yang dimiliki zat tersebut,yang
jumlahnya tidak daat diukur atau kalor yang dimiliki oleh satu bahan atau zat.
b. Sistem terosilasi adalah sistem dengan lingkungannya tidak dapat mempertukarkan baik
energi mupun materi
c. Sistem terbuka adalah sistem dengan lingkungannya dapat saling mempertukarkan baik
materi maupun energi
d. Sistem tertutup adalah sistem yang menjadi penyekatnya atau mencegah aliran zat masuk
dan keluar sistem
Page
59

e. Lingkungan adalah bagian sisa dari semesta yang apat bertkar energi dengan sistem selama
proses berlangsung atau segala sesuatu di luar sistem
f. Kalorimeter adalah alat yang dipakai uuk mengukur panasnya suatu reaksi.
g. Eksotermik adalah kalor yang dilepaskan dari sistem ke lingkungan.

2. Apa perbedaan antara entalpi dengan energi dalam?


Jawaban :

Entalpi adalah kalor yang dimiliki oleh suatu zat ,zat tersebut tidak dapat
diukurkeculi zat
tersebut mengalami perubahan wujud atau beraksi dengan zat lain .
Energi dalam yaitu jumlah total energi potensial dan energi kinetik zat-zat yang terdapat dalam
suatu sistem.

V.

LANDASAN TEORI
Termokimia adalah hukum pertama termodinamika terhadap peristiwa kimia yang
membahas tentang kalor yang menyertai reaksi kimia.Pesamaan termokimia adalah persamaan
kimia yang sudah setara berikut perubahan entalpi reaksi yng dituliskan secara langsung setelah
persamaan kimia.Untuk reaksi Natrium dan air,persamaan termokimianya dapat ditulis sbb:
2Na(s) + 2H2O(l) 2NaOH(aq) + H2(g)

H= -367,5kj

Persamaan ini menyatakan bahwa dua mol natrium bereaksi dengan dua mol air
menghasilkan dua mol natrium hidroksida dan satu mol hidrogen serat kalor dilepaskan
sebanyak 367,5 kj.Dalam persamaan termokimia harus melibatkan fasa zat-zat yang bereaksi,
sebab perubahan entalpi bergantung pada fasa zat.Sebagai contoh reaksi antara gas hidrogen
dan gas oksigen membentuk air,jika air yang di hasilkan berwujud cair akan dilepaskan kalor
sebesar 483,7kj, tetapi jika air yang di produksi berupa uap, kalor yang dilepaskan sebesar
571,7 kj.Pesamaan termokimianya adalah:
2H2(s) + O2 2H2O(l)

H= -571,1

Kalorimeter adalah alat untuk mengukur kalor yang diserap atau dilepaskan oleh suatu
reaksi kimia.Kalorimeter terdiri dari bejana yang dilengkapi dengan batang pengaduk dan
termometer.Perubahan kalor dilakukan melalui pengukuran suhu yang terjadi selama proses
perubahan kimia atau fisika berlangsung (Sunarya,2010: 136-141).
Hukum Hess

Page
60

Walaupun ada alat untuk mengukur kalor reaksi,tetapi ada reaksi yang berlangsung terlalu
cepat atau lambat sehingga sulit diukur.Disamping itu ada reaksi yang tidak ada terjadi tetapi
kita ingin mengetahui kalor reaksinya.Masalah ini dapat di pecahkan dengan menggunakan
Hukum Hessyang menyatakan: kalor yang menyertai suatu reaksi tidak bergantung pada
jalanyang ditempuh,tetapi hanya pada keadaan awal dan akhir.
Contoh CO2 dapat dibuat dengan dua cara,yaitu

C(s) = O2(g) CO2


C(s) = O2(g) CO
CO(g) + O2 (g) CO2

Reaksi kimia termasuk proses isotermal,dan bila dilakukan di udara maka bereaksi
Qp = H
Akibatnya, kalor dapat di hitung dari perubahan entalpi reaksi
q = Hreaksi = Hhasil reaksi pereaksi
Kalor yang menyertai suatu reaksi dapat ditentukan dangan percobaan labolatorium zat
pereaksi yang terukur direaksikan dalam kalorimeter, yaitu alat yang akan mengukur kalor yang
akan dihasilkan atau diserap reaksi.Jika reaksi eksotermik, kalor yang dihasilkan akan menaikka
suhu air dalam kalorimeter.Besarnya kalor dapat dihitung dari kenaikan suhu dan massa air di
dalam alat tersebut (Syukri,1999:84).
Kimia termo mempelajari perubahan panas yang mengikuti reaksi kimia dan perubahan
fisika.Satuan tenaga panas biasanya dinyatakan oleh kalori.
1 joule =107 erg = 0.24 kal
1 kal =4,148 joule
Untuk menentukan perubahan panas yang terjadi pada eaksi-reaksi kimia di pakai
kalorimeter.Besarnya panas reaksi kimia dinyatakan pada tekanan tetap yaitu sebagai berikut:
gv = Ep Er (Vp Vr) dengan p sebagai produk dan r sebagai reaktan.adapun hubungan
keduanya yaitu: H,E = + Panas diserap atau reaksi endoterm sedangkan reaksi eksoterm
yaitu : H,E = - Panas dikeluarkan.Besaranya panas reksi bergantung pada jumlah zat
beeaksi,keadaan fisik,temperatur,tekanan dan jenis reaksi (Sukardjo,1997 :71-73).
Kalor adalah energi yang dipindahkan karena perbedaan suhu,mengalir dari suhu tinggi ke
suhuyang lebih rendah.Jumlah energi kalor tergantung pada suhu,jumlah zat dan
identitas.Kapasitas kalor adalah banyak energi kalor yang dibutuhkan untuk meningkatkan suhu
Page
61

zat 1 derajat celcius,tergantung pada jumlah zat kalor jenis adalah banyaknya energi kalor yag
dibutuhkanuntuk meningkatkan 1 gram zat tersebut 1 derajat celcius.

H adalah sifat eksientif, perubahan entalpi berbanding langsung dengan jumlah zat-zat
yang terlibat dalam suatu proses
H berubah jika reaksi berlangsung sebaliknya.
Hukum Hess tentang penjumlahan kalor konstant.

Berdasarkan sejumlah percobaan yang dilakukan dan sifat- sifat entalpi, Hess mengajukan
temuannya yaitu, oleh karena entalpi adalah suatu fungsi keadaan, maka perubahan entalpi yang
berlangsung dari keadaan awal ke keadaan akhir tidak bergantung pada pada jalannya reaksi
(Petrucci Halp,1987:174-175).
Jumlah perubahan kalor sebagian hasil reaksi kimia,dapat diukur dalam suatu
kalorimer.Kalorimeter terdiri dari suatu tabung yang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak ada
perpindahan atau pertukaran kalor harus sekecil mungkin sehingga diabaikan.Sebagai
kalorimeter sederhana dapat di gunakan botol termos gelas kimia yang dihubungkn atau
dibungkus busa, plastik atau botol plastik.Jumlah kalor yang di serap kalorimeter untu
menaikkan suhunya sebesar satu derajat disebut tetapan kalorimeter.Harga tetapan kalorimeter
diperoleh dengan membagi jumlah kalor yang di serap kalorimeter untuk menaikkan suhunya
sebesar satu derajat disebut tetapan kalorimeter.
Harga tetapan kalorimeter diperoleh dengan membagi jumlah kalor yang diserap
kalorimeter dengan perubahan temperaturnya pada kalorimeter.Adapun satuan dari tetapan
kalorimeter adalah JK-1 (Hiskia Ahmad,1993: 43-44).

VI. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
Gelas ukur
Kalorimeter
Termometer
Alat pengaduk
Gelas piala

2 .Bahan
Air suling
Larutan NaOH
Larutan NaCl
Asam asetat
Natrium hidroksida
Asam nitrat

VII. PROSEDUR KERJA


A. PENENTUAN TAN KALORIMETER
Page
62

40 ml air suling

Diukur dalam gelas

Tuangkan dalam kalorimeter

Tutup kalorimeter dilengkapi


Aduk dan catat

40 ml air suling

Gelas ukur

Gelas piala
kering
Panaskan 6070C

Ukur dengan termometer


yang sama

Cairan 6 dipindahkan dalam


kalorimeter
Aduk campuran

Tutup kembali

Catat suhu 15 detik

Catat suhu setiap 1

B. PENENTUAN H NETRALISASI UNTUK REAKSI ASAM- BASA


Kalorimeter
dikeringkan
40 ml larutan NaOH

Kalorimeter

40 ml HCl

Diu ukur
Masukkan dalam

Gelas piala dekat


kalorimeter

Ukur suhu larutan


Ukur suhu larutan
Page
asam
basa
63

Bilas termometer
kkeringkan

Panaskan gelas piala dengan


telapak tangan

Larutan asam

Aduk dan catat

VIII. DATA PENGAMATAN


A. Penentuan Tetapan Kalorimeter
Ulangan 1

Ulangan 2

Rata-rata

Suhu air panas

70C

70C

70C

Suhu air dingin

27C

28C

27.5C

Shu campur

41C

40C

43.5

Ulangan 1

Ulangan 2

Rata-Rata

Suhu larutan asam(...) 1M

28C

28C

28C

Suhu lartan basa(...) 1M

28C

28C

28C

Suhu campuran

32C

32C

32.5C

B. Penentuan H Netralisasi untuk asam-basa

A. Asam asetat dengan suhu= 28C

C. Suhu Natrium Asetat = 28C

Suhu Natrium Asetat = 28C

Suhu HCl = 28c

Suhu Campuran = 31C

Suuhu Campuran = 28C

B. Suhu Asam Nitrat = 28C


Suhu Natrium Hidroksida =28C
Suhu Campuran = 30C

D. Suhu HCl =28C


Suhu Amonia = 28C
Suhu Campuran =30C

Page
64

IX. PEMBAHASAN
A. Penentuan Tetapan Kalorimeter
Percobaan praktikum kali ini yaitu penentuan tetapan kalorimeter.sebelum percobaan
praktikum dilaksanakan,ada baiknya disiapkan alat dan bahan terlebih dahulu.Setelah semuanya
siap,hal yang pertama kalinya dilakukan yaitu memasukkan 20 ml air suling ke dalam gelas
ukur,selanjutnya setelah di ukur,air suling tersebut dimasukkan ke dalam kalorimeter yang telah
i sediakan sebelumnya,kalorimeter di lengkapi dengan alata pengaduk sehinga di peroleh suhu
yaitu 27.Dimasukkan lagi ke dalam gelas ukur dan dimasukkan ke dalam gelas piala,serta
dipanaskan pada biru bunsen.Suhu pemanasan tidak boleh melebihi dari 70 C.Setelh pemanasan
berlangsung,api di matikan,kemudian selanjutnya dengan cepat di masukkan air suling dari
gelas piala ke dalam kalorimeter,untuk mengukur suhu pendinginan dicatat suhu pendinginan
15 detik satu kali sambil mengaduk-aduk campuran tersebut.Hasil yang di dapat dari campuran
tersebut yaitu 41C.Tetapan kaloimeter dari campuran tersebut adalah sbb:
(Mp (Tp-Tm) =CMd (Tm-Td) + W (Tm- Td)
Diketahui: C = Kalor jenis air (4,148 j/gC)
Mp = Bobot air panas 20
Md = Bobot air dingin 20
(Mp (Tp Tm)=CMd (Tm-Td) + W (Tm-T)
(4.148 (20) (70-43.5) = (4,148 (20) (43,5- 27,5) + W (43,5- 27,5)
(83,68) (26,5) = (83,68) (16) +W (16)
(2217,52) = (1338,88) 16W
16W = (2217,52) (1338,88)
16 W = 878,62
W = 54,915

Pada percobaan kali ini dilakukan 2 kali pengulangan,anatara percobaan

1 dan dua

mendapatkan hasil yang berbeda,hasil dapat dilihat pada data pengamatan.


B. Penentuan H Netralisasi Untuk Reaksi Asam-Basa
Adapun langkah yang pertama kalinya dilakukan yaitu dikeringkan termometer terlebih
dahulu,kemudian selanjutnya yaitu dimasukkan 40 ml NaOH ke dalam gelas ukur, dan
dimasukkan ke dalam kalorimeter,suhu larutan tersebut diukur dengan termometer yang berada
Page
65

dalam kalorimeter .Adapun hasil yang di dapat dari larutan NaOH yaitu 28 C.Selanjutnya
diukur pula 40 ml HCl dalam gelas ukur,dan dimasukkan termometer ke dalam gelas ukur dan
di ukur suhunya.Hasil yang di dapat 28C sama seperti NaOH.Pada mulanya suhu tersebut tidak
sama,akan tetapi dapat disamakan dengan meletakkan larutan asam diatas telapak tangan.
Selanjutnya larutan asam tersebut di masukkan ke dalam kalorimeter. Adapun suhu
campurannya yaitu 32C.Dari data yang diperoleh dapat di hitung :
Q = CM (Tf- Ti) + W (Tf-Ti)
= 4,148 (20) (32,5 28) + 54,915 (32,5 28)
= 83,68 (4,5) + 54,915 (4,5)
= 376,56 + 247,1179
= 623,67

Selanjutnya yaitu dilakukan percobaan dalam mengamati beberapa larutan asam dan basa
diantaranya diantaranya:
Q1 = CH3COOH + NaOH CH3COONa +H2O = 989,12 Joule
Q2 =HCl + NH3
Q3 =HNO3 + NaOH
Q4 = NH3 + HCl
Adapun perhitungannya yaitu sebagai berikut:
Q1 = 4, 148 (20) (31 -28) =54,915 (31-28)
= 83,68 (3) + 54,195 (3)
=251,04 +164,785 joule
Q2 = 4,148 (20) (28-28) + 54,915 (28-28)
= 83,68 (0) + 54,915 (0) = 0
Q3 = 4,148 (20) (30-28) + 54,915 (30-28),

Q4 = 4,184 (20) (31-28) + 54,915 ( 31 -28)

= 83,68 (2) + 54,915 (30 28)

= 83,68 (3) +54,915 (3)

= 167, 36 + 109,83

= 251,04 +164,745

=277,19

= 415,785

Page
66

X. DISKUSI
A. Penentuan Tetapan Kalorimeter

Adapun pada praktiku percobaan dalam mengamati penentuan tetapan kalorimeter,terdapat


berbagai kesalahan yang terjadi.Salah satunya yaitu ketika pencatatan suhu air suling dalam
gelas ukur,kemudian dipindahkan ke dalam kalorimeter. Suhu semestnya tidak boleh meebihi dari
70C.Namun karena adanya keslahan, suhu tersebut diukur melebihi dari 70 C.Sehingga perlu
dilakukannya pengulangan pada prosedur kali ini.Kesalahan yang kedua yaitu ketika
dilakukannya pula pencatatan untuk suhu pendinginan 1 menit satu kali sampai tidak ada
perubahan suhu,namun pencatatan yang dilakukan dalam pendinginan untuk yang pertama
kalinya melebihi ambang waktu.Oleh karena itu waktu yang dibutuhkan makin
bertambah.Sehingga pencatatan pada suhu air panas dan air dingin dilakukan pada pengamatan
yang kedua kalinya.Suhu air panas 70C,suhu air dingin 27C. Suhu rata-rata diperoleh
43,5C.Dari kedua pengulangan tersebut tidak samanya suhu pengulangan 2 dengan pengamatan
yang pertama.Hal ini terjadi dikarenakan kurang hati hati dalam pengamatan.
B . Penentuan H netralisasi untuk reaksi asam basa.
Dalam pengukuran yang dilakukan pertama kalinya yaitu pada suhu larutan basa didalam
kalorimeter dengan mendapatkan hasil 28C, demikian pula pada laruta asam.Pada mulanya suhu
kedua larutan tersebut tidak sama,akan tetapi dilakukan penyamaan suhu kedua larutan tersebut
yaitu dengan meletakkan atau menggenngam tabung reaksi yang berisi laritan asam atau HCl
pada telapak tangan.Sehingga suhu antara kedua larutan tersebut sama yaitu 28 C.Hal ini
dilakukan kedua kalinya,dengan proses yang sama, dan menghasilkan suhu yang sama pula
antara larutan asam dan larutan basa.
Beberapa pasangan asam basa dapat di uji oleh praktikan yaitu diantaranya asam asetat
(HNO3) dengan Natrium Hidroksida (NaOH).Pada pengamatan kali ini yaitu mengukur suhu
larutan asam dalam gelas ukur dan suhu larutan basa dalam kalorimeter.Hasil yang di dapat yaitu
suhu larutan asam 28C,dan larutan basa 28C.Ketika keduanya di campur,adapun hasil yang di
dapat yaitu 31C.Selanjutnya dilakukan pula pada larutan asam asetat (CH 3COOH) dengan Asam
Klorida (HCl) dalam percobaan kali ini terdapat kesalahan yang tejadi,ini dikarenakan suhu
ketiga larutan dan campuran tersebut sama yaitu 2C.Selanjutnya pada pengamatan dengan
menggunakan asam nitrat (HNO3) dan Natrium Hidroksida (NaOH) didapatkan suhu larutan
asam 28C,suhu larutan basa 28C dan suhu campuran 30C.Dalam hal ini suhu larutan asam
dipanaskan dengan menggunakan telapak tangan sehingga suhunya sama.Dan yang terakhir suhu
larutan asma di ukur yaitu HCl dan NH 3. Hasil yang di dapatkan yaitu 28C untuk keduanya
karena suhunya sama,adapun suhu campuran yaitu 31C.

Page
67

XI. PERTANYAN PASCAPRAKTEK


1. Untuk reaksi asam basa dalam prosedur B,berapa H Netralisasi bila anda secara sadar
menganggap bahwa kalor yang diterima kalorimeter adalah nol? Tunjukkan dengan hitungan
menggunakan data anda!
Jawab: W= 0C
Adapun contohnya yaitu R1: CH3COOH +NaOHQ =989,12Joule
Q = CM(Tf-Ti) + W(Tf Ti)
=4 ,148 (20) (32-20) + 0 (32-20)
= 83,68 (4)
= 334,72 Joule
H = -Q/mol = -334,72/0,04 = -8368 j/mol
2. Apa pengaruhnya terhadap H netralisasi bila yang di reaksikan dengan NaOH 1,0 M ialah HCl
dengan kosentrasi lebih dari 1,0 M?
Jawab: tidak berprngaruh karena H netralisasi digunakan yaitu mol yangbereaksi dan yang
beraksi adalah mol NaOH yaitu 0,04 mol.jadi, H reaksi dengan HCl 1M,H reaksi HCl>1M
3. Tunjukkan bahwa kalor reaksi dari pasangan berikut!
a. NaOH +HCl b.NaOH + HOAC c. HCl + NaOH
Dapat di gunakan untuk menggambarkan hukum Hess,kumpulkan data dari praktikan dan
hitunglah H reaksi teoritis untuk reaksi (a).Apakh hasilnya cocok dengan angka hasil
percobaan
Jawab: CH3COOH + NaOHCH3COONa+ H2O
HCl + CH3 COONa NaCl+ CH3COOH
NaOH + HClNaCl +H2O
4. Simpulkan harga H netralisasi untuk asam dan basa dengan kekuatan yang berbeda-beda!
Jawab: Kesimpulannya yaitu semakin kuat asam dan basa yang beraksi,maka semaki besar
entalpi H reaksi tersebut.Dapat dilihat bahwa reaksi asam (HCl) dengan basa (NaOH)
mennghasilkan H netralisasi yang paling besar dibandingkn yang lain.
XII. KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa kalorimeter dapat
digunakan untuk mengukur kalor reaksi,terutama untuk larutan basa.Selain itu kalorimeter dapat
digunakan untuk membandingkan suhu larutanasam dan larutan basa.Adapun untuk mencari data
tetapan kalorimeter dapat di cari dengan menggunakan rumus
CMp ( Tp-Tm) = CMd (TM-Td) +W (Tm-Td)
Dengan

C= Kalor jenis air 4,184 j/gC

Mp =Bobot Air Panas


Page
68

Md = Bpbot Air Dingin


Tp = Suhu Air Panas Sebelum Bercampur
Td = Suhu Air Dingin Sebelum Bercampur
Tm = Suhu Campuran
W = Tetapan Kalorimeter C
Sebelum mencari tetapan kalorimeter tersebut, harus terlebih dahulu di cari suhu panas
dan dingin yang di hasilka dalam setiap percobaan yang dilakukan.Perhitungan kalor reaksi dapat
dilakukan dengan menggunakan yaitu antaranaya

Hukum Hess
Data entalpi pembentukan standar
Energi ikatan rata rata

XIII. DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Hiskia,dkk. 1994. Kimia Dasar1.Jakarta: Univ ersitas Terbuka
Sunarya Yayan.2010.Kimia Dasar 1 Berdasarkan Prinsip- Prinsip Kimia
Cv Yrama Widya
Syukri.1999.Kimia Dasar 1.Bandung : ITB
Sukadjo.1997.Kimia Fisika.Jakarta : Rineka Cipto
Sastrohamidjojo Hardjono,2008.Kimia Dasar.Yogyakarta: Gajah Mada

Page
69

Terkini. Bandung:

PERCOBAAN 5

I.
II.
III.

JUDUL

: Pemisahan komponen dari campuran dan analisis melalui


pengedapan

HARI / TANGGAL

: Rabu, 3 April 2013

TUJUAN

:
1. Memisahkan campuran dengan cara (1) sublimasi (2) ekstraksi (3)
elekantasi (4) kristalisasi (5) kromatografi
2. Mengendapkan kalium klorida dan menentukan persentase hasil dari
barium klorida
3. Menentukan persentase dari barium klorida dalam suatu campuran
4. Mendalami dan menggunakan hukum stoikiometri dalam reaksi kimia
5. Mengembangkan keterampilan menyaring dan memindahkan endapan.

IV.

PERTANYAAN PRAPRAKTEK
1. Apa yang di maksud dengan pemisahan komponen dari campuran?
Jawab: pemisahan komponen dari campuran yaitu memisahkan komponen atau zat dari
campuran dengan menggunakan alat sederhana atau modern.
2. Sebutkan cara-cara pemisahan yang anda ketahui dan jelaskan prinsipnya!
Jawab:
a. Pemisahan campuran dengan penyaringan (filtrasi)
Page
70

Prinsip kerjanya : perbedaan kelarutan zat dalam air atau perbedaan ukuran
partikel zat.
b. Pengkristalan (kristalisasi)
prinsipnya didasarkan bahwa pada keadaan lewat jenuh, salah satu zat yang
bercampur akan membentuk kristal.
c. Penyubliman (sublimasi)
prinsip kerjanya didasarkan pada sifat zat yang bercampur, zat yang satu dapat
menyublim (berubah wujud dari padat ke gas), sedangkan zat lainnya tidak dapat
menyublim.
d. kromatografi
prinsip kerjanya di dasarkan pada perbedaan kecepatan merambat atau daya
serap antara partikel-partikel zat yang bercampur pada medium tertentu dengan
larutan pelarut berbeda.
e. penyulingan (distilasi)
prinsip kerjanya didasarkan pada perbedaan titik didih dari dua zat atau lebih
yang bercampur
f. ekstraksi
prinsipnya adalah kelarutan bahan dalam pelarut tertentu.
3. Apakah yang di sebut Rf dan apa peranannya dalam proses pemisahan?
Jawab: Rf adalah perbandingan gerakan zat terhadap aliran pelarut, Rf berperan dalam
pemisdahan campuran secara kromatografi, pemisahan zat padat dari campurannya
berdasarkan perbedaan migrasi senyawa.
4. Berikan definisi untuk: a. Filtrasi, b. % komposisi, c. Endapan, d. Stoikiometri, e.
Supernatan, f. Hasil teoritis.
Jawab:
a. Filtarasi : hasil penyaringan berupa larutan
b. % komposisi: persentase banyaknya unsur dalam suatu larutan
c. Endapan: suatu zat yang memisahkan diri dari larutan sebagai fase padat.
d. Stoikiometri: ilmu yang mempelajari hubungan kuantatif dari zat yang
bereaksi dalam suatu reaksi
e. Supernatan: zat atau larutan yang terdapat diatas endapan
f. Hasil teoritis: hasil perhitungan tanpa adanya suatu percobaan terlebih dahulu.
5. Bagaimana menguji apakah endapan telah sempurna?
Jawab: dengan cara memasukan beberapa tetes larutan yang kita ujikan sehingga tidak
terlihat lagi endapan atau dengan cara menghitung bobot endapan agar dapat
menentukan apakah telah sempurna atau tidak.
6. Masalah apa yang terjadi jika endapan yang terjadi tidak sempurna?
Jawab: sebagian bobot yang seharusnya mengendap terpaksa harus menguap karena
masih menyatu dengan larutan yang paling atas dan juga tidak dapat membentuk
senyawa berdasarkan proses pemisahan cairan padatannya.
Page
71

7. Apakah yang anda lakukan jika partikel endapan kelihatan dalam filtral?
Apakah sumber utama dari kesalahan percobaan tersebut?
Jawab: apabila partikel endapan kelihatan dalam filtral maka harus dilakukan
penyaringan kembali sampai tidak ada lagi partikel dalam filtrat, sedangkan sumber
utama dari kesalahan tersebut adalah kertas saring yang digunakan tidak sesuai atau
praktikum yang kurang teliti dalam menyaring.
V.

Landasan teori
Kebanyakan materi yang terdapat di bumi ini tidak murni, tetapi beberapa campuran
dari beberapa komponen contohnya, tanah terdiri dari berbagai senyawa dan unsur baik dalam
wujud padat, cair, dan gas. Untuk memperoleh zat murni kita harus memisahkan dari campuran,
contohnya untuk mendapatkan air suling (akuades) kita harus menulingnya dari air sumur atau
sungai (campuran dapat di pisahkan melalui peristiwa fisika atau kimia, pemisahan secara fisika
tidak mengubah zat selama pemisahan, sedangkan secara kimia satu komponen atau lebih
direaksikan dengan zat lain sehingga dapat di pisahkan (syukri. 1999 : 15)
Campuran adalah gabungan dua zat atau lebih yang mempunyai sifat zat asalnya dengan
komposisi tidak tertentu dan dapat di pisahkan campuran tersebut dapat di bedakan atas dua
macam
a. Campuran homogen
Campuran homogen adalah campuran yang serba sama di seluruh bagiannya,
membentuk satu fase
b. Campuran heterogen
Campuran heterogen adalah campuran yang tidak sama membentuk dua fase atau
lebih dan terdapat batas yang jelas diantara fase-fase tersebut.
Campuran ini di pisahkan dengan beberapa cara:
1. Penyaringan (filtrasi)
Cara pemisahan campuran berdasarkan perubahan wujud zat padat menjadi
gas atau sebaliknya. Contohnya pembuatan kapur barus.
2. Penyaringan
Cara ini biasanya di gunakan untuk memisahkan senyawa organik dan
campurannya. Contohnya pemisahan asam pada sabun.
(Wiwik winarti. 1997: 19-22)

Pemisahan campuran dapat di lakukan dengan beberapa cara antara lain: ekstraksi, dekantasi,
kristalisasi, dan kromatografi.
1. Ekstraksi yaitu proses pemisahan komponen zat dari suatu campuran berdasarkan perbedaan
kelarutan.
Page
72

2. Dekantasi yaitu proses pemisahan cairan dari padatannya dengan nuruankan supernatan
(perlahan).
3. Kristalisasi yaitu proses pemisahan cairan dari padatannya berdasarkan kelarutan.
4. Kromatografi yaitu pemisahan zat padat dari campurannya berdasarkan perbedaan migrasi
senyawa.

Dalam sistem kromatografi, perbandingan gerakan zat terhadap aliran pelarut adalah tetap dan
merupakan sifat yang khas hal in dinyatakan sebagai harga Rf yang di definisikan sebagai
Rf =

jarak yang ditempuh zat


jarak yang ditempuh pelarut

Suatu zat akan mengendap apabila hasil kali kelarutan ion-ionnya lebih besar dari pada harga
Kp. Pada percobaan ini larutan barium klorida di endapkan dengan barium kromat.
BaCl2 + K2CrO4 BaCrO4[s] + 2KCl
Endapan barium tromal disaring hasil teoritis barium kromal di hitung dari endapan yang
terbentuk semua barium klorida aianggap berubah menjadi hasil teoritis di tentukan dari stoikiometri
reaksi.
(penuntun praktikum kimia dasar, 2012 )
Salah satu jenis reaksi yang umumnya berlangsung dalam larutan berair adalah reaksi
pengendapan (precipitahan) yang cirinya adalah terentuknya produk yang tak larut atau endapan.
Endapan adalah padatan tek larut yang terpisah dari larutan reaksi pengendapan biasanya melibatkan
senyawa-senyawa ionik. Misalnya, ketika larutan timbal nitrat (Pb(NO3)2) di tambahkan kedalam
larutan natrium iodida (PbI2)
Pb(NO3)2 (aq) + 2 NaI (aq)

PbI2 + 2NaNO3 (aq)

Untuk dapat meramalkan apakah endapan terbentuk ketika dua larutan di campurkan atau
ketika satu senyawa di tambahkan kedalam suatu larutan bergantung pada kelarutan (solubility) dari zat
terlarut, yaitu jumlah maksimum zat terlarut yang akan larut dalam jumlah tertentupelarut pada suhu
tertentu dalam konteks kualitatif. Ahli kimia membagi zat-zat sebagai dapat larut, sedikit larut atau tak
dapat larut. Zat dikatakan dapat larut jika sebagian besar zat tersebut melarut apabila di tambahkan air.
Jika tidak, zat tersebut di gambarkan sebagai sedikit larut atau tidak dapat larut (Chang, 2003: 92-93)
Larutan merupakan campuran homogen (serba sama) antara zat terlarut dalam zat pelarut,
sedangkan zat terlarut merupakan zat yang terdispersi (tersebar secar merata) dalam zat pelarut zat
terlarut umumnya jumlah lebih sedikit dalam campuran tersebut, zat terlarut ini di sebut solut dan zat
pelarut saya umumnya bewujud cair, zat pelarut merupakan zat yang mensidpersikan komponenPage
73

komponen zat terlarut. Umumnya yang termasuk zat pelarut adalah zat yang jumlahnya lebih banyak
dalam campuran terrsebut zat pelarut ini biasanya di sebut dengan solven.
Kelarutan di defensikan sebagai kosentrasi molar dari larutan jenuhnya pembentukan endapan
adalah salah satu teknik untuk memisahkan analit dan zat lain dan endapan dengan cara menimbang
endapan yang terbentuk kemudian dilakukan perhitungan stoikiometri, cara pemisahan dengan
pengendapan ini disebut dengan gravimetri dalam reaksi hasil reaksi di peroleh suatu senyawa yang
sukar larut dalam air. Senyawa inilah disebut pengendapan, endapan merupakan zat yang memisahkan
diri dari suatu larutan sebagai fase padat atau terbentuk jika larutan menjadi terlalu jenuh dengan zat
yang bersangkutan suatu zat akan mengendap jika hasil kali ionnya lebih besar dari konsepnya (brady,
1999 : 105).

Beberapa dasar pemisahan campuran, yaitu :


1. Ukuran partikel. Bila ukuran partikel zat yang di gunakan berada dengan zat yang tidak
diinginkan dapat dipisahkan dengan metode filtrasi (penyaringan). Jika partikel zat hasil
lebih kecil dari pada zat percampurannya, maka dapat di pilih penyaring atau media
berpori yang sesuai dengan ukuran partikel zat yang di inginkan.
2. Titik didih. Bila antara zat hasil dan at pencampur memiliki titik didih yang jauh berbeda
dapat di pisahkan melalui proses distilasi.
3. Kelarutan. Dengan melihat kelarutan suatu zat yang berbeda dengan zat lain dalam
campurannya, maka kita dapat memisahkan zat yang di inginkan tersebut dengan
menggunakan pelarut tertentu
4. Pengendapan zat-zat dengan berat jenis besar dari pada pelarutnya akan segera
mengendap jika dalam suatu campuran mengandung satu atau beberapa zat dengan
kecepatan mengendap yang berbeda dan kita hanya menginginkan salah satu zat maka
dapat dipisahkan melalui proses sedimentasi atau sentri fungsi. Namun jika dalam
campuran mengandung lebih dari satu zat yang kita inginkan maka di gunakan metoda
prestasi, metode prestasi biasanya di kombinasikan dengan metoda filtrasi.
(Keenan, dkk. 1984: 405)

VI.

ALAT DAN BAHAN


1. Pemisahan komponen dari campuran
a. Pemisahan dengan cara konvesional
Alat: > cawan penguap
>neraca
>pembakar bunsen
>kaca arloji
>batang pengaduk
>stopwatch
Page
74

Bahan:

> NH2Cl 0.1 gr

>NaCl 0.1 gr
> SiO2
> Air
b. pemisahan dengan kromatografi
Alat: > bejana kromatografi
> gelas piala
>kaca arloji
>gunting
>kertas saring
>pensil
>pipa kapiler
Bahan: >campuran butanol, asam asetat, air (1:1:4)
> Tinta

2. Analisis melalui pengendapan


a. Persentase hasil barium kromat
Alat : >gelas piala 250ml
>neraca
>batang pengaduk
>pembakar bunsen
>kertas saring whatman
Bahan : >BaCl2 1 gr
>air suling 25 ml
>larutan K2CrO4 0,2M 25ml.
VII. PROSEDUR KERJA
Pemisahan dengan cara kenvesional
Cawan penguap

Kering, bersih
di timbang
Cawan penguap + NH2Cl 0,1 gr + NaCl 0,1 gr
+ SiO2

di timbang
Page
75

panaskan hati-hati sampai asap putih


habis
Cawan penguap

di timbang
Air 25ml

di tambahkan

Padatan yang

diaduk selama 5 menit


dekantasi larutan
Cawan penguap yang telah di timbang

cuci dengan air sampai bebas NaCl


Cawan penguap mengandung NaCl

di tempatkan diatas pemanas


di tutup dengan kaca arloji
di biarkan sampai berbentuk kristal
NaCl
kering
di timbang
SiO2

di keringkan dengan pembakar bunsen


Cawan penguap +

di tutup kaca arloji


SiO2 kering dan tidak menguap

di dinginkan sampai suhu kamar


di timbang
Pemisahan dengan kromatografi
Gelas piala 150 ml

Kertas saring

Di isi

di gunting

elven

Buat garis
Page
76

Di tutup dengan kaca arloji


Gelas piala + eluen

Noda hitam

Di gantung dalam gelas

Kertas saring dengan noda


hitam
Di atas permukaan pelarut

Pelarut di biarkan bergerak


Menaikan harga Rf

Persentase hasil barium kromat


Gelas piala 250 ml di
timbang

BaCl2 1 gr

Gelas piala + BaCl2

Di timbang
Air suling di tambahkan

Di aduk-aduk
Larutan homogen

Di masukkan

Larutan k2CrO4 0,2M 25 ml

Larutan BaCl2 + k2CrO4

Di aduk-aduk
endapan

Di amati
Di uji dengan beberapa tetes larutan k2CrO4
Endapan BaCrO4

Tambahkan k2CrO4 sampai tidak terbentuk lagi


Di panaskan sampai mendidih, di alihkan dari api
BaCrO4
Page
77

Menghitung hasil beretis

Di saring
Di keringkan, di timbang, bobotdi catat

Mencari persen hasil

Persentase barium klorida dalam campuran

Campuran mengandung
BaCl2

Di catat bobot
Prosedur A

Di ulangi
Massa BaCl2 di hitung

Mencari % BaCl2 dalam


campuran

VII.

DATA PENGAMATAN
A. Pemisahan dengan cara konvensional
1. Bobot cawan penguap dan contoh semula
Bobot cawan penguap
Bobot contoh
Bobot cawan penguap sesudah NH4Cl menyublim
Bobot NH4Cl
Persentase NH4Cl
0.0015

Perhitungan
100%
0.3

Page
78

56,9567gr
56,6567gr
0,3 gr
56,9552gr
0.0015 gr
0,5 gr

2. Bobot cawan + kaca arloji + NaCl


Bobot cawan + kaca arloji
Bobot NaCl
Persentase NaCl
Perhitungan

79,6990gr
9,74381gr
0,04487gr
14,96%

3. Bobot cawan + SiO2


Bobot cawan
Bobot SiO2
Persentase SiO2

56,7487gr
55,6567gr
0,092 gr
30,67%

4. Bobot sampel
Bobot NH4Cl +NaCl+ SiO2
Selisih bobot

0,3 gr
0,13837gr
2,83837

Persen bahan yang terpisahkan =

gr zat yang terbentuk


100
gr sampel
0,13837
100 =46,123
0.3

B. Pemisahan dengan kromatografi


No
1
2
3
4
5

Noda
Hitam
Biru
Kuning
Merah muda
Hijau

Rf
3,9/4,5 = 0,87
4/4,5 = 0,89
4,2/4,5 = 0,93
4/4,5 = 0,89
4,5/4,5 = 1

Warna
Hitam dan biru
Biru, ungu tua
Merah muda, putih dan
orange
Ungu muda dan putih
Kuning muda, biru, putih

Apakah campran warna terpisah dengan baik?


> sebagian campuran warna terpisah dengan baik yaitu hitam, biru, kuning. Warna hijau tidak
terpisah dengan sempurna, begitu juga dengan warna merah muda
Kesimpulan anda mengenai bahan penyusun tinta?
>bahwa tinta tidak terdiri dari suatu warna tetapi terdiri dari beberapa warna
C. Analisis melalui pengendapan
Page
79

Persentase hasil barium kromat


Bobot piala + BaCl2
Bobot piala
Bobot BaCl2
Bobot kertas saring + endapan BaCrO4
Bobot ketas saring
Hasilnyata endapan BaCrO4
Perhitungan hasil teoritis BaCrO4: mol BaCrO4 Mr=5 10
Bobot endapan BaCrO4 (hasil teoritis)

perhitungan persetase hasil : % hasil =

253

1,265 gr
bobot praktek
100
bobot teori

persen hasil BaCrO4

VIII.

-3

616,74%

PEMBAHASAN
A. Pemisahan komponen dari campuran

Campuran adalah gabungan dua zat tunggal atau lebih dengan perbandingan sembarang.
Campuran terdiri dari berbagai komponen untuk memperoleh zat murni kita harus memisahkannya dari
campurannya. Campuran dapat di pisahkan melalui peristiwa fisika atau kimia. Pemisahan secara fisika
tidak merubah zat selama pemisahan, sedangkan secar kimia komponen di reaksikan dengan zat lain
sehingga dapat di pisahkan. Ara atau teknik pemisahan campuran bergantung pada jenis, wujud, dan
sifat komponen yang terkandung di dalamnya.
Pada percobaan ini pemisahan komponen dari campurannya, dilakukan melalui car
konvensional dan kromatografi. Cara konvensional yang di lakukan menggunakan cara dekantasi dan
pemisahan kromatografi menggunakan kromatografi kertas.
1. Pemisahan dengan cara konvensional
Pada percobaan ini, pemisahan dengan cara konvensional menggunakan NH4Cl, Na Cl, dan
SiO2 dengan bobot masing-masing 0,1 gram. Semuabahan tersebut di tempatkan kedalam cawan
penguap dan dipanaskan hingga asap putih yang muncul betul-betul habis. Setelah dingin di timbang,
padatan yang terbentuk setelah pemanasan di tambahkan air dan diaduk. Setelah pengadukan larutan ini
di diamkan sebentar hingga padtannya mengendap. Lalu, dekantasi dengan cara menuangkan
supernatan ke cawan penguap lain. Supernatan yang di gunakan tersebut adalah larutan NaCl dan
padtan sisa (residu) yang mengendap merupakan SiO2. Keduanya ditutp dengan kca arlojidengan tujuan
Page
80

untuk memantau bahan, dan di panaskan hingga kering dan setelahnya di timbang. Dari percobaan
yang telahdi lakukan, di dapat bahwa:
1. Bobot sampel (NH4Cl + NaCl + SiO2) = 0,3 gr
Bobot cawan penguap = 56,6567 gr
Bobot cawan penguap + sampel = 56,6567 +0,3 =56,9567 gram
Bobot cawan penguap sesudah NH4Cl menyublim = 56,9552 gram
Bobot NH4Cl = (Bobot cawan penguap + sampel) (Bobot cawan penguap sesudah NH4Cl
menyublim)
=56,9567 gram - 56,9552 gram
= 0,0015 gram
bobot NH 4 Cl
100
Persentase NH4Cl = bobot sampel
=

0.0015
100 =0,5
0,3

2. bobot cawan + kaca arloji

= 46 04467 + 33,6992

= 79,74387 gram
bobot cawan + kaca arloji + NaCl = 79,6990 gram
bobot NaCl = (bobot cawan + kaca arloji + NaCl i)- (bobot cawan + kaca arloji)
=79,6990 79,74387
= 0,04487 gram
Bobot NaCl
0,04487
100 =
100 14,96
Persentase NaCl Bobot sampel
0,3
3. bobot cawan + SiO2

= 56,7487 gram

bobot cawan
Bobot SiO2

= 56,6567 gram
= (bobot cawan + SiO2) ( bobot cawan)
= 56,7487 gram - 56,6567 gram
= 0,092 gram

Persentase SiO2

bobot SiO 2
0,092
100 =
100
bobot sampel
0,3

= 46,123%
4. bobot sampel

= 0,3 gram

Bobot NH4Cl + NaCl +SiO2 =0,0015 + 0,04487 + 0,092


Page
81

= 0,13837 gr
Selisih bobot = (bobot sampel) (Bobot NH4Cl + NaCl +SiO2)
= 0,3 0,13837
= 0,16163 gr
Persen bahan yang terpisahkan =

massa zat yang terbentuk


100
massa sampel
0,13837
100
0,3

= 46,123 %
2. Pemisahan dengan kromatografi
Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran dalam berbagai wujud baik padat cair,
maupun gas. Dasar kromatografi adalah perbedaan daya serap satu zat dengan zat lainnya.
Kromatografi memiliki 4 cara yaitu kromatografi kolom, kertas, lempeng tipis dan gas. Namun,
pada percobaan ini menggunakan cara kertas. Kertas saring yang digunakan berfungsi sebagai
absorben dan pelarut (eluen) yang digunakan merupakan campuran dari butanol, asam asetat
dan air, dengan nisbah 1:1:4
Kertas saring yang digunakan di beri noda spidol setitik, berjarak 1 cm dari tepi bawah
kertas. Kemudian, kertas ini di celupkan ke dalam eluen sedemikian sehingga noda tidak
terendam pelarut. Pelarut perlahan diserap/bergerak oleh kertas dan di biarkan hingga
menjelang 1 cm dari atas tepi kertas, ketika pe;arut mengenai tinta matawarna tinda akan terurai
menjadi komponennya. Setelah pelarut mencapai jarak 1 cm dari tepi atas, dilakukan
pengukuran dengan menggunakan mistar. Jarak tinta yang bergerak dan jarak pelarut di ukur
untuk mendapatkan harga Rf.
Pada noda pertama ( tinta hitam ) diperoleh bahwa jarak yang di tempuh tinta 3,9 cm
dan jarak yang ditempuh eluen 4,5 cm, sehingga diperoleh harga Rf = 0,87. Warna yang
diuraikan tinta hitam yaitu hitam dan biru. Pada noda kedua (tinta biru) diperoleh jarak tinta 4
cm dan jarak eluen 4,5 sehingga harga Rf= 0,89, dengan penguraian warna biru menjadiungu
tua. Kemudian noda ke 3 (tinta kuning) diperoleh jarak tinta 4,2 cm dan jarak eluen 4,5
sehingga harga Rf = 0,93. Warna yang diuraikan tinta kuning adalah merah muda, putih, dan
orange. Lalu, noda ke 4 (tinta merah muda) di peroleh bahwa jarak tinta 4 cm dan jarak yang
ditempuh eluen 4,5 cm sehingga harga Rf 0,89 dengan penguraian warna yaitu ungu muda
menjadi putih. Dan noda ke 5 tinta hijau diperoleh jarak yang ditempuh tinta sama panjangnya
dengan jarak yang di tempuh eluen, yaitu 4,5 cm sehingga harga Rf yang diperoleh adalah 1,
dengan penguraian warna dari kuning muda menjadi biru dan putih.
Page
82

Dari hasil tersebut dapat dilihat semua tinta memiliki Rf dan warna komponene yang
berbeda-beda. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan daya serap tinta pada kertas atau adanya
perbedaan kepolaran senyawa yang dianalisis oleh pelarut .
B. Analisis Melalui Sedapan
Endapan adalah padatan yang tak telarut yang memisahkan diri dari larutannya. Suatu
zat akam mengendap apabila hasil kali kelarutan ionnya lebih besar dari pada harga KSP nya.
Pada percobaan ini larutan Ba Cl2 dilarutkan dengan larutan K2CrO4 untuk memperoleh
BaCrO4. BaCl2 yang dibutuhkan pada larutan ini sebesar 1 gr, BaCl 2 dalam gelas piala
ditambahkan air dan di aduk hingga memperoleh yang homogen. Kemudian 25 ml larutan
K2CrO4 0,2 M ditambahkan dan larutan diamati. Untuk menguji endapan yang masih terlarut
atau tidak, beberapa tetes K2CrO4 di tambahkan hingga BaCrO4 tidak terbentuk lagi. Lalu, gelas
piala yang berisi endapan BaCrO4 dan larutan KCl di panaskan hingga mendidih, dan disaring
dengan kertas saring whatman. Kertas saring dan endapan ini di timbang dan bobot BaCrO 4
secara praktiknya dapat diketahui, untuk endapan BaCrO4 secara teoritis dapat digunakan
stoikiometri. Dari percobaan yang dilakukan diperoleh bahwa:
Bobot piala + BaCl2 = 79,2058 gr
Bobot piala = 78,1926 gr
Bobot BaCl2= (bobot piala + BaCl2) (bobot piala)
= 79,2058 78,1926
= 1,0132
Bobot kertas saring = 1,832
Bobot kertas saring + endapan BaCrO4 = 9,6338 gr
Bobot nyata endapan BaCrO4 = Bobot kertas saring + endapan BaCrO4 - Bobot
kertas saring
= 9,6338 1,832
= 7,8018 gr
Perhitungan hasil teoritis BaCrO4 :
BaCl2 + K2CrO4
Mol BaCl2 =

1 gr
208 gr / mol

BaCrO4 + 2KCl
= 0,005 mol = 5.10-3

Mol K2CrO4 = 25.10-3. 0,2 = 50.10-4 = 5.10-3 mol


BaCl2

+ K2CrO4

5.10-3mol

5.10-3mol

Rx

5.10-3mol

5.10-3mol

BaCrO4 + 2KCl

5.10-3mol

10.10-3mol
Page
83

Hasil -

5.10-3mol

10-2mol

Mol BaCrO4 = 5.10-3 mol


Massa BaCrO4 = mol Mr

= 5.10-3 253 = 1265.10-3 = 1,265 gram

Jadi bobot endapan BaCrO4 (hasil teoritis) = 1,265 gram


Perhitungan persentase hasil :
-

Pesen hasil BaCrO4 =

bobot praktek
7,8018 gr
100 =
100 =616,74
bobot teori
1,265 gr

Pada percobaan analisis melalui pengendapan ini diperlukan ketelitian dan kesepakatan untuk
memperoleh hasil yang baik. Percobaan analisis melalui pengendapan ini merupakan suatu cara analisis
melalui metode gravinetri, di mana pengukuran sampel berdasarkan bobot dari sampel yang berubah
selam proses reaksi. Dari hasil dapat dilihat bobot endapan BaCrO4 melalui percobaan bobot endapan
BaCrO4 secara teoritis.

IX.

Diskusi
A. Pemisahan Secara Konvensional

Dengan vara konvensional pemisah komponene dari campurannya dilakukan dengan cara
menuangkan supernatan secara perlahan. Dari percobaan yang kami lakukan menunjukan bahwa
persentase NH4Cl yang menyublim sebesar 0,5%. Hal ini disebabkan kami tidak memanaskan
NH4Cl, NaCl dan SiO2 sampai asap putih yang muncul benar-benar hilang, sehingga tidak semua
NH4Cl menyublim. Kemudian untuk memperoleh kristal NaCl, larutan NaCl harus dipanaskan.
Dalam percobaann ini air suling di gunukan untuk mendapatkan NaCl terlalu banyak dan
menyebabkan waktu yang lama untuk memperoleh kristal NaCl. Lalu persentase SiO2 yang
diperoleh 30,67%. SiO2 adalah residu endapan dari NaCl dan NH4Cl. Jika dibandingkan dengan
NaCl,pemanasan SiO2 dapat di katakan cepat. Dari percobaan yang telah dilakukan dan hasilnya
yang diperoleh percobaan yang kami lakukan terdapat beberapa kesalahan yang disebabkan
ketidaktelitian ataupun ketidak tepatan praktikan dalam mengukur dan menghitung, serta gangguan
yang disebabkan sumbu spritus yang pendek dan menyebabkan pemanasan berjalan lama.
B. Pemisahan dan kromatografi
Pemisahan komponen dari campurannya dipengaruhi oleh perbedaan fase gerak danKepolaran
senyawa. Apabila zat dalam campuran tersebut tidak memisah sebagai mana mestinya maka fase
Page
84

gerak maupun kepolarannya hampir atau bahkan sama. Pada percobaan pemisahan dengan
kromatografi ini, di peroleh data dari kelompok lain yaitu harga Rf yang berbeda untuk tiap warna:
1.
2.
3.
4.
5.

Hitam = 0,87
Biru = 0,89
Kuning =0,93
Merah muda = 0,89
Hijau = 1

Menurut teorinya perbedaan Rf yang memungkinkan terjadinya pemisahan zat benda dari sekitar
angka 0,1. Pada hasil diatas tinta berwarna hijau memiliki nilai Rf 1 yang artinya tidak ada
perbedaan Rf, sehingga pada percobaan kromatografi ini terjadi kesalahan yang di sebabkan
kelalaian dan kesalahan dalam melakukan prosedur
C. persentase hasil barium kromat
Berdasarkan hasil pengamatan kelompok lain, dapat di lihat bahwa bobot endapan BaCrO 4
secara teori lebih kecil di banding bobot endapan BaCrO 4 secara praktik. Oleh karena BaCrO4 hasil
praktik lebih besar maka percobaan ini dapat di katakan berhasil, namun hasil yang di peroleh
terlalu besar. Hal ini dapat di sebabkan oleh kertas saring, karena pada saat penimbangan mungkin
kertas saring masih dalam kondisi basah dan belum di keringkan sehingga mempengaruhi bobot
BaCrO4 pada saat penimbangan.

X. PERTANYAAN PASCA PRAKTIKUM


1. Gunakan handbook untuk menjawab pertanyaan ini:
a. Bagaimana anda memisahkan NiCO3 dari Na2CO3 ?
Jawab: dengan cara kromatografi
b. Bagaimana cara memisahkan AgCl dari BaCl2?
Jawab : melalui dekantasi
c. Bagaimana cara memisahkan FeO2 dari SiO2?
Jawab: dengan cara konvensional
2. Apakah ada cara pemisahan selain yang di sebut dalam percobaan ini?
Jawab: ada, yaitu filtrasi, distilasi (penyulingan)
3. Mengapa contoh NaCl perlu di tutup selama pemanasan?
Jawab: karena bila tidak di tutup maka larutan NaCl akan menguap dan menyebabkan
ketidaktepatan pengukuran bobot NaCl yang terbentuk
4. Apa kekurangan dan kelebihan cara kromatografi sebagai alat analisis?
Jawab: kekurangan:
Kelebihan:
-tidak memerlukan alat dan larutan yang mahal
-prosedur kerja sederhana dan cepat
Page
85

- tidak perlu kuantitas kecil dari larutannya


- metode ini terbukti berhasil untuk deteksi golongan sukar di analisis
secara kuantitatif
5. Contoh magnesium krorida sebanyak 0,552 gr di larutkan dalam air dan diendapkan dengan
larutan perak nitrat. Jika endapan perak klorida bobotnya 1,631 gr, berapa persentase hasil?
Jawab:
MgCl + 2 AgNO 2AgCl + Mg(NO )
2

3 2

0,552
95
0,0058 mol

2/1. 0,0058 = 0,0116 mol

Massa AgCl = 0,0116 143,5 = 1,6646


massa praktek
1,631 gr

100 =97,98
%hasil =
100% 1,6646 gr
massateori
6. Batu gamping terutama mengandung kalsium karbonat. Contoh batu gamping di olah dengan
asam hidro klorida dan memberikan reaksi.
CaCO3 + 2HCl CaCl2 + H2O + CO2
Larutan kalsium klorida di uapkan sampai kering, dan ternyata mempunyai bobot 0,789 gr.
Hitunglah persentase kalsium karbonat jika contoh batu gamping bobotnya 0,750 gr
Jawab:
massa 0,789
=
=0,0071mol
Mol CaCl2 = Mr
111
Mol CaCO3 = 1/1.mol CaCl2 =0,0071 mol
Massa CaCO3 = 0,0071 mol 100 gr/mol = 0,71
%CaCl2 =

massa praktek
0,71
100
100 =54,67
massa sampel
0,75

XI.

KESIMPULAN
1. Pemisahan campuran dapat di lakukan dengan berbagai cara diantaranya sebagai berikut:
Page
86

Sublimasi
Ekstraksi
Dekantasi
Kristalisasi
Kromatografi

2. Untuk mendapatkan barium klorida dengan cara menambahkan K2CrO4 persentase hasil barium
kromat (BaCrO2), yaitu :
bobot endapan p raktek
100
% BaCrO4 =
bobot endapan teori
3. Persentase barium klorida(BaCl2) dalam suatu campuran dapat di hitung rumus:
bobot BaCl 2
100
% BaCl2 = bobot campuran
4. Dalam suatu reaksi kimia di gunakan hukum stoikiometri yang mempelajari hubungan kuantatif
zat pereaksi (reaktan) dengan hasil reaksi
5. Endapan adalah zat fase padat yang memisahkan diri dari larutan. Untuk memperoleh dan
memindahkan endapan, kita dapat menyaringnya menggunakan kertas saring(proses filtrasi).

XII.

DAFTAR PUSTAKA
Brady, J.E. 1990. Generalchemistry, principles and structure Edisi 5. New york : John Willy and
sons
Chang, Raymond. 2003. Konsep-konsep inti jilid satu edisi ke 3. Jakarta: Erlangga
Epinur,dkk.2012. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Jambi : UNJA
Keenan,dkk.1984. Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Erlangga
Syukri,S. 1999. Kimia Dasar. Bandung: ITB

PERCOBAAN 6
I. JUDUL

: REAKSI-REAKSI KIMIA DAN REAKSI REDOKS


Page
87

II. HARI/TANGGAL : Rabu/ 10 April 2013


III. TUJUAN

: 1. Mempelajari jenis reaksi kimia secara sistematis


2. mengamati tanda-tanda terjadinya reaksi
3. menuis persamaan reaksi dengan benar
4. menyelesaikan reaksi redoks dari setiap percobaan

IV. PERTANYAAN PRA PRAKTEK


1. Berikan defenisi dari istilah-istilah berikut: katalis, deret elektromatif, reaksi eksotermik,
endapan, produk, dan pereaksi?
Jawab:
katalis adalah suatu zat yang dapat mempercepat laju reaksi dengan cara menurunkan
energy aktivasi sebagai komplekstraktifasi lebih mudah terbentuk.
Deret elektromatif adalah suatu deret yang menyatakan atau berdasarkan kemampuan
untuk mereduksi dari yang paling kuat sampai yang lama.
Reaksi eksotermik adalah reaksi kimia dimana system melepaskan kalor kelingkungan.
Endapan adalah komponen campuran yang tidak larut dan terdapat di bawah larutan.
Produk adalah zat hasil reaksi.
Pereaksi adalah zat yang digunakan untuk mereaksikan zat-zat yang lain.
2. Terangkan arti lambing-lambang berikut:
,WR,(s), (l),(g), dan (aq).?
Jawab:

Adalah reaksi diberi panas


WR adalah jumlah energy dalam suatu reaksi
(s) adalah solid untuk fase padat
(l) adalah liquid untuk fase cair
(g) adalah gas untuk fase gas
(aq) adalah aquos untuk berlangsung dalam larutan air
3. Berapa kira-kira volume dalam tabung reaksi yang berisi 1/10 bagian?
Jawab:
PV = nRT
V=

nRT
P

Page
88

V=

1 nRT
x
10
P

4. Apakah warna indikator PP dalam larutan asam?


Jawab:
Tidak berwarna
5. Hitung masa atom Cu dari data berikut!
Bobot cawan penguap + logam M yang tidak diketahui = 45,82 gr
Bobot cawan penguap
= 45,361 gr
Bobot cawan penguap + Logam Cu
= 45,781 gr
Jawab:
Bobot logam Cu = (bobot logam Cu + bobot cawan penguap) (bobot cawan penguap )
= 45,781 gr 45,361 gr
= 0,42 gr
6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan oksidasi dan reduksi.?
Jawab:
Oksidasi adalah proses dimana senyawa kimia melepaskan elektron.
Reduksi adalah proses dimana senyawa kimia menerima electron.
7. Jelaskan apa yang dimaksud dengan oksidator dan reduktor.?
Jawab:
Oksidator adalah zat yang mengalami reduksi
Reduktor adalah zat yang mengalami oksidasi

V. LANDASAN TEORI
Reaksi reduksi oksidasi atau reaksi redoks berperan dalam banyak hal dalam kehidupan seharihari. Reaksi redoks dapat berguna bagi pembakaran bahan bakar minyak bumi, dan digunakan juga
sebagai cairan pemutih. Selain itu, sebagai unsure logam dan non logam diperoleh dari bijihnya melalui
proses oksidasi atau reduksi. Contohnya dalam reaksi pembentukan kalsium oksida (CaO) dari kalsium
dan oksigen.
2 Ca(s) + O2 (g) 2 CaO(s)
Kalsium oksida (CaO) adalah senyawa ionik yang tersusun atas ion Ca 2+ dan O2-. Dalam reaksi
pertama, dua atom Ca memberikan atau memindahkan empat elektron pada dua atom O (dalam O 2).
Agar lebih mudah dipahami, proses ini dibuat sebagai dua tahap terpisah, tahap yang satu melibatkan
hilangnya empat elekron dari dua atom Ca dan tahap lain melibatkan penangkapan empat electron oleh
molekul O2.
2 Ca 2 Ca2+ + 4 e
O2 + 4 e 2 O2Page
89

Setiap tahap di atas dapat disebut sebagai reaksi setengah sel (hal reaction) yang secara eksplisit
menunjukan banyaknya elektron yang terlibat dalam reaksi.
Reaksi setengah sel yang melibatkan hilangnya elektron disebut reaksi oksidasi. Istilah
oksidasi pada awalnya berarti kombinasi unsur dengan oksigen. Namun istilah itu sekarang memiliki
arti yang lebih tua. Reaksi setengah sel yang melibatkan penangkapan elektron disebut reaksi reduksi.
Dalam contoh di atas, kalsium bertindak sebagai zat pereduksi karena memberikan elektron pada
oksigen dan menyebabkan oksigen tereduksi. Oksigen tereduksi bertindak sebagai zat pengoksida
karena menerima elektron dari kalsium dan menyebabkan kalsium teroksidasi. Dalam persamaan
redoks tingkat oksidasi harus sama dengan tingkat reduksi yaitu jumlah elektron yang hilang oleh zat
pereduksi harus sama dengan jumlah elektron yang diterima oleh suatu zat pengoksida (Raymond,
Chang 2005: 311).
Reaksi redoks ialah reaksi dimana terdapat perubahan bilangan oksidasi, valensi atau muatan.
Dalam reaksi redoks selalu terdapat unsur yang teroksidasi bersama-sama dengan unsure yang
tereduksi sebab reaksi redoks, terjadi karena perpindahan elektron. Reduktor melepaskan elektron
sedangkan oksidator menangkap electron. Unsur yang teroksidasi naik bilangan oksidasinya sedangkan
unsur yang tereduksi turun bilangan oksidasinya atau muatan positifnya yang naik bilangan
oksidasinya.
Reduktor

: - Unsur yang mereduksi


-

Oksidator

Yang melepaskan elektron


Yang naik muatan positifnya
: - Unsure yang dioksidasi

Yang menangkap elektron


Yang turun bilangan oksidasinya
Yang turun muatan positifnya

Mengenali reaksi redoks :


1. Ada unsur bebas yang terlibat (terdapat sebagai pereaksi atau hasil) sebab muatan dan biloks
unsur yang bebas = 0 dan dalam senyawa tidak 0 tapi positif atau negatif. Unsur bebas dalam
reaksi terjadi dari senyawa atau berubah menjadi senyawa, sehingga terjadi perubahan biloks
2. Ada unsur yang diketahui dapat berubah-ubah valensi atau biloks ini membutuhkan
pengetahuan tentang valensi biloks unsur-unsur.
(Harjadi,W 1993; 36-37)
Suatu reaksi kimia besarnya dinyatakan dengan persamaan reaksi kimia atau singkatan
persamaan reaksi harus setara, artinya jumlah atom unsur diruas kiri sama banyaknya dengan jumlah
atom diruas kanan pada persamaan reaksi. Demikian pula jumlah uatan diruas kiri sama dengan diruas
kanan.
Page
90

Banyak cara untuk menggolongkan macam reaksi kimia, salah satunya cara mengelompokan
reaksi kimia dalam :
1. Reaksi sintesis adalah pembentukan senyawa darui unsur-unsurnya
Fe(s) + Cl(g) FeCl2(s)
2. Reaksi metatesis adalah reaksi dimana terjadi pertukaran antara senyawa
Na2CO3(aq) + CaCl2(aq) CaCO3(s) + 2 NaCl(aq)
3. Reaksi penetralan atau reaksi asam basa
HCl(aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O(l)
4. Reaksi reduksi oksidasi
K2SO3(aq) + O2(g)K2SO4(aq)
Persamaan reaksi adalah suatu bahasan utama dalam ilmu kimia. Persamaan reaksi dapat
mengungkapkan secara kualitatif. Apa yang terjadi jika zat-zat bereaksi secara kuantitatif
mengungkapkan banyaknya zat pereaksi dan hasil reaksi (Hiskia, 1991: 230).
Suatu reaksi tidak boleh melanggar hukum kekekalan massa, artinya jenis dan jumlah atom
sebelum dan sesudah reaksi sama. Untuk menyetarakan persamaan reaksi harus mengetahui hal-hal
berikut:

Harus diketahui rumus pereaksi dan produk reaksi


Jumlah atom setiap unsure dalam pereduksi sama dengan produk reaksi
Koefisien reaksi merupakan bilangan bulat sederhana

Penyetaraan reaksi merupakan hal penting karena perhitungan kimia dapat diselesaikan bila
peramaan reaksinya benar-benar setara. Penyetaraan reaksi dapat dilakukan dengan cara yaitu:

Dengan menerka untuk reaksi sederhana


Dengan persamaan matematika untuk reaksi yang rumit
(Sudarmanto,1997:83)

Reaksi redoks ditandai dengan serah terima elektron dari suatu partikel kepada yang lain,
sebagai contoh:
3 I2 Fe3+

I3- + 2 e

(oksidasi)

Dalam reaksi ini terlihat elektron yang dilepaskan I - diterima oleh Fe3+. Jumlah elektron tersebut
dapat disamakan dengan menyetarakan koefisien reaksinya. Di samping itu, ada reaksi yang tidak
sederhana karena melibatkan banyak partikel, contoh:
5 SO32- + 5 H2O

5 SO42- + 10 H+ + 10 e

2 MnO4- + 16 H+ + 10 e

2 Mn2+ + 8 H2O
Page
91

(oksidasi)
(reduksi)

2 MnO4- + 5 SO32- + 6 H+

2 Mn2+ + 5 SO42- + 3 H2O (redoks)

Yang sering menjadi masalah adalah syarat terjadinya reaksi dan cara menyetarakan koefisien
reaksinya. Reaksi redoks dapat diketahui dengan melihat perubahan bilangan oksidasi atom-atom
sebelum dan sesudah reaksi. Atom yang biloksnya naik mengalami oksidasi dan melepaskan elektron,
Sedangkan biloksnya turun adalah reduksi atau menerima elektron. Sebagai contoh:
Zn + 2 HCl

ZnCl + H2

+2

+1

Yang mengalami kenaikan biloks (oksidasi) adalah Zn dari 0


Yang mengalami biloks turun (reduksi) adalah H dari +1

+2
0
(Syukri, 1998:68)

VI. ALAT DAN BAHAN


6.1

Alat

6.2

Sudip
Cawan krus + tutup
Bunsen
Kaki tiga + kasa
Tabung reaksi + rak
Pipet tetes
bahan

Magnesium
Kristal CuSO4 . 5 H2O
1 ml larutan AgNO3 0,01 M
0,1 gr serbuk Cu
1 ml larutan Hg(NO3)2 0,1 M
1 ml HCl 0,1 M
0,1 gr serbuk Mg
1 ml larutan Al(NO3)2 0,1 M
3 ml KI 0,1 M, NaNO3 0,5 M
Larutan Na3PO4 0,1 M
5 tetes H2O2 0,1 M
Larutan HNO3 0,1 M
Page
92

VII.
7.1

Larutan H2SO4 0,1 M


Larutan H3PO4 0,1 M
NaOH 0,1 M
FeCl3 0,1 M
Larutan KMnO4, ZnSO4 0,5 M
NaHSO3 0,1 M, NaOH 10 M
N2C2O4 0,1 M, CuSO4 0,5 M
Logam Zn dan logam Cu
Pb(NO3)2 0,5 M

PROSEDUR KERJA
Reaksi penggabungan

Seujung sudip Mg
dimasukkan
Cawan krus
di bakar pada nyala bunsen
Hasil pengamatan
7.2

Reaksi penguraian

Seujung sudip kristal CuSO4 . 5 H2O


dimasukkan
Tabung reaksi
dipanaskan dengan bunsen
Hasil pengamatan

7.3

Reaksi penggantian tunggal

1 ml laruta AgNO3 0,01 M

1 ml larutan HCl 0,1 M


Page
93

dimasukkan

dimasukkan

Tabung reaksi

Tabung reaksi

dimasukkan 0,1 gr serbuk Cu dan dikocok

dimasukkan 0,1 gr serbuk Mg


Hasil pengamatan

Hasil pengamatan
7.4

Reaksi penggantian rangkap

1 ml larutan Ag NO3 0,01 M

1 ml larutan Hg(NO3)2 0,1 M

1 ml larutan Al(HO3)3 0,1 M

ditambahkan
KI 0,1 M
diamati
Hasil pengamatan

1 ml AgNO3 0,01 M

1 ml larutan Hg(NO3)2 0,1

1 ml larutan Al(NO3)3 0,1 M

ditambahkan
Air Na3PO4 0,1 M
diamati
Hasil pengamatan

7.5 Reaksi Netralisasi


1 ml larutan HNO3 0,1 M

1 ml larutan H2SO4 0,1 M


ditambahkan
1 tetes penoftalen
ditambahkan
Larutan NaOH 0,1 M
Page
94

1 ml larutan H3PO4 0,1 M

diamati dengan dicatat NaOH yang terpakai


Hasil pengamatan

7.6 Reaksi redoks serta perubahan warna


0,5 ml H2SO4 6 M

3 ml N2HSO3 0,1 M

1 ml HCl 6 M

0,5 ml KMnO4 0,1 M


dideteksi

1 ml NaOH 10 M
dikocok

1 gr Kristal KMnO4
dipanaskan di dalam

ditetesi

Larutan Na2C2O4 0,1 M

lemari asam

Larutan KMnO4 0,1 M

diamati

diamati

Hasil pengamatan

diamati
Hasil pengamatan

Hasil pengamatan

7.7 Beberapa Reaksi Redoks


1.
2 ml laruran
CuSO4 0,5 M
dimasukkan

Logam
Cu
dimasukkan

Tabung reaksi

Larutan Zn SO4 0,5 M

ditambahkan

diamati

Logam Zn

Hasil pengamatan

dibiarkan beberapa menit


diamati
Hasil pengamatan

Page

Serbuk logam Mg
95

2.
dimasukkan
Larutan Pb(NO3) 0,5 M

dimasukkan
Larutan NaNO3 0,5 M

diamati

diamati

Hasil pengamatan

3.

Hasil pengamatan

5 tetes H2O2 0,1 M


dimasukkan
Tabung reaksi
ditambahkan 10 tetes H2SO4 0,1 M
ditambahkan 10 tetes KI 0,1 M
dipanaskan 2 menit
ditanbahkan 1 tetes larutan kanji
Hasil pengamatan

VIII. DATA PENGAMATAN


No
A.

B.

Persamaan Reaksi
Reaksi penggabungan

Bukti Terjadinya Reaksi


Terbentuknya MgO tidak terjadi

Mg + O2

perubahan warna

Reaksi penguraian
CuSO4 . 5H2O

C.

MgO

Terjadinya perubahan warna dan


CuSO4 + 5 H2O

terurai melalui uap.

Reaksi penggantian tunggal


1. Cu + 2AgNO3 Lu(NO3)2 + 2Ag 1. Adanya endapan
2. Adanya endapan terbentuk gas,
2. Mg + HCl MgCl2 + H2
dan perubahan warna
Page
96

Reaksi penggantian rangkap


D.

1.
2.
3.
4.

AgNO3 + KI KNO3 + AgI


Hg(NO3)2 + KI K(NO3)2 + HgI
Al(NO3)3 + KI
AgNO3 +
Na3PO4NaNO3+AgPO4

5. Hg(NO3)2 + Na3PO4Hg(PO4)2 +
3NaNO3

1. Berwarna hijau, tidak ada


endapan
2. Berubah warna menjadi orange
3. Tidak beraksi
4. Warna kehijauan dan tidak ada
endapan
5. Warna berubah menjadi
keemasan, terjadi endapan dan

6. Al(NO3)3 + Na3PO4 3NaNO3 +

tidak terjadi perubahan suhu


6. Putih tidak ada endapan

Al(PO4)3
Reaksi netralisasi
1. HNO3 + NaOH NaNO3 + H2O
E.

1. Warna berubah menjadi pink

2. H2SO4 + NaOH Na2SO4 + 2 H2O

setelah ditetesi 71 tetes dan


tidak mengendap
2. Warna berubah pink setelah

3. H3PO4 + NaOH

ditetesi 97 tetes dan tidak


mengendap
3. Warna berubah pink setelah

Reaksi redoks
1. Na2C2O4 + KMnO4
F.

2. NaHSO4 + KMnO4

ditetesi 32 tetes dan tidak

OH

mengendap
KHSO4 +

NaMnO4
1. Perubahan warna dari ungu ke
coklat setelah ditetesi 20 tetes

3. HCl + KMnO4 KCl + HMnO4

Na2C2O4
2. Terdapat gelembung gas dan
warna bening setelah ditetesi
KMnO4 sebanyak 20 tetes
3. Ada gelembung gas, warnanya
berubah menjadi hitam dan
terasa berbau menyengat
Page
97

setelah ditetesi 20 tetes larutan


KMnO4

No
1.

Percobaan
CuSO4 + logam Zn

Pengamatan
Mengendap, ada gelembung gas

Reaksi
CuSO4+ Zn ZnSO4+ Cu

ZnSO4 + logam Cu

Menggumpal

ZnSO4+ Cu CuSO4+ Zn

Serbuk Mg + Pb(NO3)2

Terasa hangat & berwarna keruh

Mg + Pb(NO3)2
Mg(NO3)2+ Pb

2.

Serbuk Mg + Zn(NO3)2

Menggendap tidak terjadi


perubahan warna

Serbuk Mg + NaNO3
3.

H2O2 + H2SO4 + KI +

Berubah warna menjadi coklat

Mg + NaNO3 MgNO3 +

kemerahan

Na2

Berubah warna menjadi kuning

Amilum
4.

FeCl3 + H2SO4+ KI +

Keruh, timbul asap berwarna

Amilum

ungu

IX. PEMBAHASAN
A. Reaksi penggabungan
Pada reaksi penggabungan, dimasukkan Mg seujung sudip kedalam krus dan dibakar pada nyala
Bunsen. Hasil pengamatan yang diperoleh yakni Mg beraksi dengan O 2. Hal ini dibuktikan dengan asap
putih yang keluar dari dalam krus saat dipanaskan.
Persamaan reaksi Mg + O2 yaitu:
Mg + O2 MgO
B. Reaksi penguraian
Pada reaksi penguraian CuSO4 . 5H2O dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak seujung
sudip. Selanjutnya dipanaskan pada nyala Bunsen. Percobaan ini tidak dilakukan pada percobaan
sebelumnya.
C. Reaksi penggabungan tunggal
Page
98

1. Pada reaksi ini, sebanyak 1 ml larutan AgNO 3 0,01 M di masukkan kedalam sebuah tabung reaksi
kemudian dicampurkan dengan seujung sudip serbuk Cu. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa
ada reaksi yang terjadi antara AgNO3 dan serbuk Cu. Dengan bukti terjadinya endapan.
2. Pada reaksi ini, 1 ml larutan HCl 0,01 M di masukkan kedalam sebuah tabung reaksi dan kemudian
ditambahkan 0,1 gr serbuk Mg. Hasil pengamatan yang diperoleh yaitu tampaklah gas dan endapan
terbentuk di dasar tabung. Ini membuktikan jika Mg dapat menggantikan H. persamaan reaksi
sebagai berikut:
Mg + 2 HCl MgCl2 + H2
D. Reaksi penggantian rangkap
1. Pada percobaan reaksi ini, 1 ml larutan AgNO3 0,01 M, 1 ml larutan Hg(NO3)2 0,1 M dan larutan
Al(NO3)2 masing-masing dimasukkan kedalam sebuah tabung reaksi, kemudian ditambahkan 1 ml
KI 0,1 M pada tiap larutan. Hasil pengamatan sebagai berikut:
a. Pada tabung a, AgNO3 beraksi dengan KI. Dibuktikan dengan adanya perubahan warna dari
bening menjadi berwarna hijau. Persamaan reaksinya:
AgNO3 + KI KNO3 + AgI
b. Pada tabung b, Hg(NO3)2 beraksi dengan KI. Hal ini di buktikan dengan perubahan warna
larutan menjadi orange.
c. Pada tabung c, Al(NO3)3 0,1 M tidak bereaksi dengan KI karena tidak adanya perubahan dari
percampuran keduanya.
2. 1 ml larutan AgNO3 0,1 M. 1 ml larutan Hg(NO 3)2 0,1 M, dan larutan Al(NO3)3 0,1 M. Masingmasing di masukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian pada tiap tabung ditambahkan 1 ml larutan
NaPO4 0,1 M. Hasil pengamatanya yaitu:
a. AgNO3 beraksi dengan Na3PO4. Hal ini dibuktikan dengan perubahan warna menjadi hijau
tetapi tidak ada endapan.
b. Hg(NO3)2 beraksi dengan Na3PO4. Hal ini dibuktikan dengan perubahan warna campuran
keduanya.
c. Al(NO3)3 beraksi dengan Na3PO4. Ini ditunjukkan dengan perubahan warna dari bening menjadi
putih dan terdapat endapan.

E. Reaksi netralisasi
Pada reaksi ini masing-masing larutan yakni 1 ml HNO 3 0,1 M, 1 ml H2SO4 0,1 M dan 1 ml
HCl 0,1 M di masukkan ditiap tabung reaksi dan ditetesi dengan indikator penoftalein hingga
terjadi suatu reaksi. Hasil yang diperoleh yaitu:
1. 1 ml HNO3 0,1 M membutuhkan 71 tetes NaCl untuk bereaksi dengan cara mengubah warna
menjadi pink.
Page
99

2. 1 ml H2SO4 0,1 M membutuhkan 97 tetes NaOH untuk bereaksi dengan cara mengubah warna
menjadi pink.
3. 1 ml HCl 0,1 M membutuhkan 30 tetes NaOH untuk bereaksi dengan cara mengubah warna
menjadi pink.

F. Reaksi redoks dan perubahan warna


1. 0,5 ml larutan H2SO4 6 M dan 0,5 ml larutan KMnO4 0,1 M ditetesi 20 tetes larutan Na2C2O4
0,1 M menunjukan adanya reaksi karena tampak adanya perubahan warna dari ungu menjadi
coklat.
2. Campuran dari larutan NaHSO4 0,1 M dan 1 ml NaOH 10 M dengan ditetesi larutan KMnO4
sebanyak 20 tetes terdapat gelembung gas dan warnanya bening.
3. Campuran dari larutan HCl dengan KMnO4 menunjukan adanya reaksi karena terdapat
gelembung gas dan berbau menyengat.
G. Beberapa reaksi redoks
1. 2 ml larutan CuSO4 0,5 ml dimasukkan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan sepotong
logam Zn. Terlihat adanya reaksi karena campuran dari keduanya menghasilkan endapan dan
terbentuk gelembung gas. Selanjutnya logam Cu di masukkan kedalam larutan ZnSO 4. Tampak
terjadi gumpalan yang menandakan terjadinya reaksi. Selanjutnya serbuk Mg di masukkan ke
dalam larutan Pb(NO3)2. Ternyata keduanya tidak dapat bercampur, yang menandakan jika
keduanya tidak dapat bereaksi, hanya terasa hangat dan terlihat larutan keruh.
2. Serbuk Mg di masukkan kedalam tabung reaksi yang berisi larutan NaNO 3 0,5 M. Campuran ini
dapat bereaksi karena warnanya berubah menjadi coklat kemerahan, sedangkan apabila serbuk
Mg direaksikan dengan Zn(NO3)2 tampak terjadi reaksi karena campuran ini mengalami
pengendapan dan tidak terjadi perubahan warna.
3. 5 tetes H2O2 0,1 M direaksikan dengan H 2SO4 1M sebanyak 5 tetes dan 10 tetes KI 0,1 M.
Kemudian tambahkan amilum, campuran ini dapat bereaksi karena warnanya berubah menjadi
kuning.
4. FeCl3 0,1 M lalu tambahkan 10 tetes H 2SO4 1 M dan 10 tetes KI 0,1 M, dan reaksikan dengan
amilum. Hasil yang didapat, larutan menjadi keruh dan timbul asap berwarna ungu.
X. DISKUSI
A. Pada reaksi penggabungan ternyata Mg dapat bereaksi setelah dipanaskan. Hal ini sesuai
dengan literatur yang dibaca karena Mg memang dapat bereaksi dengan O2.
B. Pada reaksi penguraian CuSO4 . 5 H2O tidak dilakukan.
C. Pada reaksi penggantian tunggal, ada reaksi yang terjadi dari campuran terbentuknya AgNO3
dengan Cu. Hal ini sesuai dengan literatur, begitu juga untuk campuran antara Mg dengan
larutan HCl 0,01 M, tampak terjadi reaksi.
Page
100

D. Pada reaksi penggantian rangkap, semua percobaan yang dilakukan menunjukan terjadinya
reaksi.
E. Pada reaksi netralisasi, masing-masing senyawa membutuhkan jumlah NaOH berbeda-beda
untuk membuat ketiganya bereaksi.
F. Pada reaksi redoks, ketiga percobaan yang dilakukan menunjukkan terjadinya reaksi yang
terjadi. Hal ini sesuai dengan literatur.
G. Pada reaksi beberapa reaksi redoks terjadi reaksi dari 1 sampel yang dicampurkan. Sedangkan
yang satu lainya tidak dilakukan percobaan karena tidak tersedia alat dan bahan.

XI. PERTANYAAN PASCA PRAKTEK


1. Identifikasikan zat-zat berikut ini. Lihatlah hasil pengamatan Anda.
a. Asap putih
b. Cairan tak berwarna
c. Gas yang dapat memadamkan api
d. Padatan kelabu
e. Gas tak berwarna
f. Endapan jingga
g. Endapan kuning
h. Yang mengubah warna indikator.
2. Buatlah persamaan reaksinya.
a. Tembaga logam + oksigen tembaga (II) oksida.
Cu + O2 CuO
b. Merkuri (II) nitrat + kalium bromida merkuri (I) bromida + kalium nitrat
Hg(NO3)2 + 2 KBr 2 HgBr + 2 KNO3.
3. Lengkapi persamaan reaksi berikut. Bila tak ada reaksi, tulislah TR.
a. Hg + Fe(NO3)2 TR
b. Zn + Ni(OH)2 Zn(OH)2 + Ni
c. Pb(NO3)2 + K2CrO4 TR
d. Zn(HCO3)2
XII. KESIMPULAN

Tanda-tanda terjadi reaksi adalah:


1. Terbentuk gelembung-gelembung gas
2. Ada endapan
3. Ada perubahan warna
4. Ada perubahan suhu
5. Menimbulkan bau dan berasap

Reaksi kimia yang terjadi


1. Reaksi penggabungan

: A + Z AZ
Page
101

2.
3.
4.
5.

Reaksi penguraian
Reaksi penggantian tunggal
Reaksi penggantian rangkap
Reaksi netralisasi

: AZ A + Z
: A + B2 AZ + B
: AX + BZ AZ + BX
: HX + BOH BX + HOH

Cara menyetarakan reaksi redoks ada 2, yaitu:


1. Dengan metode reaksi
2. Dengan PBO

Menulis persamaan reaksi dengan benar yaitu dengan penyetaraan reaksi terlebih dahulu, yaitu
dengan cara sebagai berikut:
1. Harus diketahui rumus zat pereaksi dan produk.
2. Jumlah atom relatif setiap unsur dalam pereaksi sama dengan jumlah atom unsur dalam
produk reaksi.
3. Koefisien rumus diubah menjadi bilangan bulat terkecil.
4. Persamaan diberi koefisien sehingga jumlah setiap unsur diruas kiri dan kanan sama.

XIII. DAFTAR PUSTAKA


Ahmad, Hiskia. 1991. Stoikiometri dan Energitika Kimia. Bandung : Citra Aditya Bakti
Hardjadi, W,1993. Stokiometri. Jakarta : Gramedia
Raymond, Chang. 2005. Penuntun Belajar Kimia. Bandung : Ganesca Exact
Sudarmanto. 1997. Intisari Kimia. Jakarta : Erlangga
Syukri. 1998. Kimia Dasar. Bandung : ITB.

PERCOBAAN 7
I.

JUDUL

: Penetapan Massa Molar Berdasarkan Penurunan Titik Beku

II.

HARI/TANGGAL

: Rabu,17 April 2013

III.

TUJUAN

:
Page
102

1. Menetapkan titik beku cairan murni dan titik beku larutan dalam
pelarut yang bersangkutan
2. Menetapkan massa molar dan senyawa yang tidak diketahui
berdasarkan penurunan titik beku
IV.

PERTANYAAN PRAPRAKTEK
1. Sebanyak 1,2 gram senyawa yang rumusnya C 8H8O dilarutkan dalam 15 ml
sikloheksana C6H12( rapatan sikloheksana 0,779 g/ml ).hitunglah molaritas larutan ini.
Jawab : C8H8O = 1,2
Mol C6H8O = gr = 1,2 =0,01 mol
Mr 120
V = 15 ml = 15.10-3 L
M = mol = 0,01 mol = 0,66 M
V
15.10-3 L
2. Hitunglah penurunan titik beku , TF, larutan pada soal 1 .Tetapan titik beku molal (kf)
untuk sikloheksana ialah 20,0 km-1.
Jawab : V C6H12 = 15 L
C6H12 = 0,779 g/ml
m C6H12 = .v
= 0,779 g/ml . 15 ml = 11,685 gr
Kf C6H12 = 20 km-1
Tf = m.kf
= 1,2 . 1000 . 20
120 60 11,685
= 1,7116 k
3. Asam asetat ,HC2H3O2,terurai dalam air menjadi H+ dan C2H3O2-.larutan tersebut diberi
label 0,100 m HC2H3O2 yang mempunyai titik beku hasil pengukuran -0,190 0c.hitunglah
persentase penguraian HC2H3O2.
Jawab : HC2H3O2
H+ + C2H3O20
Tf = -0,190 c
Tf = 0-(-0,19) = 0,190c
Tf = m.kf.i
0,19 = 0,1 . 1,86 (1+(n-1))
0,19 = 0,186 (1+(2-1))
0,19 = 0,186 + 0,186
= 0,19 0,186 = 0,02
0,186
= jumlah mol terionisasi
Jumlah mol mula-mula
0,02 = x
10-1
X = 2.10-3
terurai = 2.10-3 . 100 = 2
Page
103

10-1
V.

LANDASAN TEORI
Kebanyakan larutan mempunyai salah satu komponen yang besar jumlahnya.komponen
yang besar itu disebut pelarut (solvent) dan yang lain disebut zat terlarut (solute).contohnya 1
gram gula dicampur dengan 1.000 ml air membentuk larutan gula.berdasarkan
pelarutnya,larutan dapat dibagi tiga,yaitu larutan gas,larutan cair,dan larutan padat.Dalam
larutan gas tidak banyak interaksi atau pengaruh suatu komponen terhadap yang lain,karena
partikelnya sangat berjauhan.Dalam larutan cair,antara partikel komponen larutan terdapat
interaksi yang relative kuat.Dalam larutan padat,pelarut tidak dapat sebagai medium karena
partikelnya tidak bergerak,kecuali bila dicairkan (syukri,199:351-352).
Larutan ialah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat,yang bisa berupa
padatan,cairan,atau gas.Mudahnya pelarutan zat terlarut dalam pelarut dipengaruhi oleh gayagaya antar molekul.Energi dan peningkatan ketidakteraturan yang dihasilkan bila molekul zat
terlarut dan molekul pelarut membentuk larutan merupakan factor-faktor pendorong terjadinya
proses pelarutan (chang,2003:21).
Zat yang tidak menguap apabila dilarutkan kedalam zat pelarut,sifat-sifat fisika larutan
berbeda nyata dengan sifat-sifat pelarut murni.Sifat-sifat fisika larutan yang hanya bergantung
pada jumlah partikel zat terlarut dalam larutan dan tidak bergantung pada jenis partikel dikenal
dengan sifat-sifat koligatif.Ada 4 sifat koligatif larutan,yaitu penurunan titik beku,kenaikan titik
didih,timbulnya tekanan osmotic,dan penurunan tekanan uap (sumardjo,2008:506).
Penambahan zat terlarut tak-atsiri kedalam cairan murni menyebabkan turunnya tekanan
uap cairan itu.Ini mengkibatkan turunnya titik beku larutan dan naiknya titik didih larutan bila
dibandingkan dengan cairan murninya.Seberapa jauh perubahan itu terjadi hanya bergantung
pada banyaknya zat yang dilarutkan,dan pada tingkat disosiasi zat terlarut.Perubahan titik beku
dan titikdidih tidak berkaitan dengan identitass kimia zat kimia yang bersangkutan.penurunan
tekanan uap,kenaikan titik didih dan penurunan titik beku dikenal sebagai sifat
koligatif.Seberapa jauh titik beku menurun dirumuskan sebagai berikut :

T = kf . bobot zat terlarut


Kg pelarut
(Epinur,dkk.2012:52)
Sifat koligatif larutan nonelektrolit dapat digunakan untuk menentukan massa molar zat
terlarut.Secara teoritis,semua dari keempat sifat koligatif dapat digunakan untuk tujuan
tersebut.Namun,pada praktiknya,hanya penurunan titik beku dan tekanan osmotic yang
digunakan sebab keduanya menunjukkan perubahan yang paling mencolok.Contoh,7,85 gram
Page
104

sampel senyawa dengan rumus empiris C 5H4 dilarutkan dalam 301 gram benzena.Titik larutan
ialah 1,050c dibawah titik beku benzene murni.Berapa massa molar dan rumus molekul senyawa
tersebut?
Penyelesaian soal ini memerlukan tiga tahap.pertama,kita menghitung molaritas larutan
dari titik bekunya.kemudian,kita menentukan jumlah mol senyawa dalam 7,58 gram.Akhirnya
dengan membandingkan massa molar hasil percobaan dengan massa molar dari rumus empiris
akan diperoleh rumus molekulnya.
Molaritas = Tb = 1,05 oc
= 0,205 m
0
kb 5,12 c/m
karena ada 0,205 mol zat terlarut dalam 1 kg pelarut,jumlah mol zat yang terlarut dalam
301 gr,ata 0,301 kg pelarut adalah
0,25 mol
1kg pelarut

x 0,301 kg pelarut = 0,0617 mol

Akhirnya kita menghitung massa molar zat terlarut :


7,85 gr
0,0617 mol

= 127 gr/mol

Karena rumus C5H4 adalah 64 gr dan massa mlarnya adalah 127 gr,maka rumus
molekulnya adalah C10H8 (naftalein) (chang,2003:19).
VI.

VII.

ALAT DAN BAHAN


VI.1 Alat
1. Tabung reaksi dan gabus
2. Thermometer
3. Statif dan klem
4. Kawat kasa dan kawat pengaduk
5. Gelas piala 600 ml
6. Stopwatch,neraca serta gelas ukur
VI.2 Bahan
1. Es
2. Air
3. Garam
4. 25 ml p-xilena
5. 2-2,5 gr senyawa

PROSEDUR KERJA
A. Penetapan titik beku pelarut
Merakit alat seperti
Page
105
gambar

Thermometer dan kawat


pengduk
dipasang pada
lubang gabus
Diisi ke

Gelas
25 ml p-xilena

ditambahkan

Es,garam dan
air

Tabung
reaksi
disumbat
dijepit

Permukaan p-xilena berada


di bawah permukaan cairan
pendingin dalam gelas piala

Pelarut p-xilena diaduk sewaktu


mendingin
suhu di catat
Tabung dan cairan pendingin
diangkat
Biarkan cair

B. Penetapan massa molar senyawa yang tidak diketahui


2-2,5 gr senyawa

ditimbang dengan ketelitian tinggi


Dialihkan secara kuantitatif

Tabung reaksi

Semua zat larut

VIII.

Dicatat suhu tiap 15


detik

Titik beku dalam


larutan p-xilena di
tentukan
DATA PENGAMATAN
A. Penetapan titik beku pelarut murni
1. Pembacaan buret akhir

20 ml
Page
106

Pembacaan buret awal


Volume p-xilenayang digunakan

25 ml
5 ml

Waktu (s)
Suhu (0c)
15
14
30
5
45
3
60
-2
75
-5
90
-6
105
-7
120
-7
135
-8
150
-8
165
-8
B. Penetapan massa molar senyawa yang tidak diketahui
1. Massa tabung dan senyawa 22,1 gr
Massa tabung
18,1 gr
Massa senyawa
4 gr
Waktu (s)
15
30
45
60
75
IX.

Suhu ( 0c)
15
0
-3
-5
-6

PEMBAHASAN
A. Penetapan titik beku pelarut murni
Percobaan ini adalah untuk mengetahui tetapan titik beku pelarut murni,yaitu pxilena.sebelum percobaan dilakukan alat dan bahan disiapkan terlebih dahulu.Alat yang
digunakan harus dirakit terlebih dahulu,yaitu tabung reaksi besar disumbat dengan
gabusyang telah dilubangi,lubang tersebut untuk thermometer dan kawat
pengaduk.Kemudian tabung tersebut dijepit dengan penjepit tabung reaksi.Selanjutnya,gelas
piala diisi dengan campuran pendingin yang terdiri dari es,air dan garam.Fungsi garam
disini sebagai media pngisi ruang diantara essehingga es tidak mudah mencair atau
esmencair lebih lama.Kemudian sebanyak 5 ml p-xilena dimasukkan kedalam tbung
reaksi,dan tabung yang telah berisi pelarutdimasukkan kedalam gelas piala.
Setelah dimsukkan kedalam pendingin,suhu p-xilena akan turun secara perlahanlahan,dan penurunan ini dapat dilihat melalui thermometer.Suhu yang turun dicatat tiap 15
detik sampai suhu tetap.Selama p-xilena membeku,suhunya akan tetap dan jika semua
bahan telah beku,suhunya akan turun lagi.Berikut ini adalah data data yang kami peroleh
dengan suhu setelah 180c,yaitu :
Page
107

Waktu (s)
15
30
45
60
75
90
105
120
135
150
165

Suhu (0c)
14
5
3
-2
-5
-6
-7
-7
-8
-8
-8

Berdasarkan data tersebut pada waktu 105-120 detik,suhu p-xilena yaitu -7 0c dan pada
waktu 135-165 detik,suhu menunjukkan -80c.Yang berarti p-xilena telah membeku.Hal ini
dapat dilihat pada kurva di bawah ini.
12
10
8
6
4
2
0

Dari kurva tersebut dapat dilihat garis berada pada suhu -8 0c,maka titik beku p-xilena
adalah -80c.
B. Penetapan massa molar senyawa yang tidak diketahui
Untuk menetukan massa molar (mr) senyawa yang tidak diketahui,dilakukan dengan
menambahkan 2-2,5 gr senyawa kedalam tabung reaksi berisi p-xilena,lalu dicatat suhunya
setiap 15 detik sampai larutan membeku.berikut ini adalah data percobaan dengan
menggunakan 4 gr senyawa,setelah suhu mencapai 150c dengan suhu awal percobaan 310c.
Waktu (s)
15

Suhu (0c
15
Page
108

30
45
60
75

0
-3
-5
-6

Massa mlar senyawa dapat ditentukan berdasarkan kurva :


80
70
60
50
40

Waktu (s)

30

Suhu (0c

20
10
0
-10

-20

Untuk memperoleh titikbeku larutan ditarik dua garis,masing-masing untuk bagian


atasdan bagian bawah kurva.Pada kurva dapat dilihat titik potong kedua garis ditunjukkan
oleh garis putus-putus,dan diperoleh bahwa titik beku larutan berada pada suhu -30c.
Sebelum mencari massa molar senyawa,dibutuhkan data yaitu :
Diketahui kf p-xilena = 4,3 0c/molal
p-xilena = 0,861 gr/mL
V p-xilena = 5 mL
Sehingga,massa p-xilena = .
= 0,861 gr/mL . 5 mL
= 4,305 gr
Tf = Tf pelarut - Tf larutan
= 130c (-30c)
= 160c
Setelah itu,massa molar senyawa dapat diketahui :
Tf = m . kf
Tf = gr . 1000 . kf
Mr mpelarut
16 = 4 . 1000 . 4,3
Mr
4,305
Mr = 4 . 1000 . 4,3
16 . 4,305
Mr = 249,7
Page
109

X.

DISKUSI
A. Penetapan titik beku pelarut murni
Dalam percobaan ini pelarut yang digunakan adalah p-xilena,p-xilena dimasukkan
kedalam pendingin,yaitu campuran antara air,es dan garam.Pendingin ini berfungsi untuk
membekukan p-xilena.Agar didapatkan hasil yang maksimal,garam yang digunakan harus
tepat,yaitu tidak terlalu banyak dan tidak juga sedikit.Karena jika garam digunakan
sedikit,es akan cepat mencair.Kemudian,untuk mengetahui suhu p-xilena digunakan
thermometer,thermometer yang digunakan harus dijaga keadaannya,karena jika
thermometer bersentuhan dengan tabung akan mempengaruhi pengukurannya.
Dari percobaan yang telah dilakukan praktikan didapatkan bahwa titik beku p-xilena
adalah -80c.Sedangkan,menurut handbook,p-xilena memiliki titik beku 130c.Dengan
perbedaan tersebut,percobaan kami lakukan tidak berhasil.Karena pada saat percobaan
dilakukan p-xilena tidak membeku,hanya pada bagian dinding tabung saja yang
membeku.ketidak berhasilan ini,dapat disebabkan kesalahan yang berasal dari
praktikan.Untuk melakukan percobaan ini,ketelitian sangat diperlukan,karena banyak factor
luar yang berpengruh.Faktor-faktor tersebut adalah seperti garaam yang digunakan terlalu
banyak,gabus penyumbat tabung reksi tidak terpasang dengan baik sehingga suhu dari
lingkungan dapat mempengaruhi suhu p-xilena didalam tabung,selain itu kawat kasa yang
berfungsi sebagai alas gelas piala tidak kami gunakan sehingga suhu dalam gelas piala
terpengaruh oleh suhu yang berasal dari meja praktikum.Karena factor-faktor tersebutlah
percobaan ini tidak berhasil.
B. Penetapan massa molar senyawa yang tidak diketahui
Percobaan penetapan massa molar senyawa yang tidak diketahi ini,tidak dilakukan
oleh praktikan karena p-xilena yang berfungsi sebagai pelarut tidak berhasik diketahui titik
bekunya secara praktik.Untuk itu pada percobaan ini digunakan data dari literatur.
Untuk mendapat mr senyawa,diperlukan data-data seperti tetapan titik beku (k f) pxilena,rapatan () p-xilena,serta Tf p-xilena.selain data tersebut,kurva titik beku larutan
harus dibuat guna mengetahui dimana larutan membeku.
Titik beku larutan berubah karena ketika suatu larutan dibekukan,yang membeku
adalah pelarutnya.ketika sebagian pelarut mulai membeku,maka zat terlarut akan memasuki
pelarut yang belu membeku dan demikian larutan.Jadi,proses pembekuan tidak terjadi pada
suhu tetap,tetapi pada suhu yang semakin lama semakin rendah.Penurunan titik beku tidak
bergantung padajenis zat terlarut,tetapi bergantung pada jumlah dan konsentrasipartikel
pelarut dalam larutan.berdasarkan percobaan yang telah diperoleh dari literature,dapat
diketahui bahwa titik beku pelarut lebih tinggi daripada titik beku larutan.

Page
110

XI.

PERTANYAAN PASCA PRAKTEK


1. Apa efek yang akan terjadi pada perhitungan massa molar dari tiap kemungkinan kesahan
berikut :
a. Sejumlah kecil p-xilena menguap,selama percobaan
Jawab : jika p-xilena menguap,maka volumenya akan berkurang sehingga
akan
mempengaruhi molaritasnya.sehingga Mr nya seemakin besar.
Mr =
gr x 1000 x kf
Massa pelarut x Tf
b. Zat asing yang terdapat dalam p-xilena
Jawab : jika terjadi demikian, massa zat tersebut menjadi larut.Dengan demikian,massa
molarnya akan berkurang.
2. Diketahui 3,39 gr urea,H2NCONH2,bila dilarutkan kedalam 98 gr pelarut,titik pelarut lebih
rendah 7,80c.Hitung tetapan titik beku molal dari pelarut.
Jawab : Tf = m . kf
Tf = gr . 1000 . kf
Mr
p
0
7,8 c = 3,39 gr . 1000 . kf
60 gr/mol
98 gr
Kf = 7,80c . 60 . 98 = 13,53 0c/molal
3,39 mol.1000
3. Sebanyak 88,0 gr zat dilarutkan dalam 393 mL benzena.Larutan membeku pada
-0,500c.Titik beku normal benzene 5,50c dan tetapan titik beku molalnya 5,120c/m.Rapatan
benzene 0,879 gr/mL.Hitung massa molar dari zat pelarut.
Jawab : Tf = Tf pelarut-Tf larutan
Tf = 5,5 (-0,5)
Tf = 60c
Mbenzena = .
= 0,879 .393
= 345,447 gr
Tf = gr . 1000 . kf
Mr
345,447
6 = 88 .
1000 . 5,12
Mr
345,447
Mr = 88 . 1000 . 5,12 = 217,38 gr/mol
6 . 345,447
4. Ketika 3,5 gr zat dilarutkan dalam 20 mL air,titik beku air turun hingga -1,250c.Kf air
=1,860c/m.Hitung massa molar zat terlarut.
Jawab : Tf = Tf pelarut Tf larutan
Tf = 0 (-1,25)
Tf = 1,25
Tf = m.kf
Page
111

1,25 = 3,5 . 1000 . 1,86


Mr
20
Mr = 3,5 . 1000 . 1,86
1,25 . 20

= 260,4

XII.

KESIMPULAN
1. Titik beku larutan murni dan larutn dapat ditentukan dari penurunan suhu zat.Keadaan suhu
yang tetap (konstan) menunjukkan titik bekunya.
2. Untuk menetapkan massa molar (Mr) senyawa yang tidak diketahui,dapat ditentukan
berdasarkan titik beku.
Tf = massa zat terlarut x
1000
x kf
Mr
pelarut (gr)
Tf = Tf pelarut - Tf larutan
3. Percobaan penetapan massa molar berdasarkan penurunan titik beku harus dilakukan
dengan sangat teliti,baik pada saat mengamati penurunan suhu,maupun cara kerja dan alatalat.
4. Kesalahan dalam percobaan dapat disebabkan oleh situasi percobaan serta kesalahan
praktikan.

XIII.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad,Hiskia.2001.kimia larutan.Bandung:Citra Aditya Bakri
Chang,Raymond.2003.Kimia Dasar:konsep-konsep inti JL.I Ed 3.Jakarta:Erlangga
Epinur,dkk.2012.Penuntun praktikum kimia dasar.Jambi:UNJA
Sumardjo,Damin.2008.Pengantarkimia:Buku panduan kuliah mahasiswa kedokteran.
Jakarta:EGC
Syukri,S.1999.Kimia Dasar 1.Bandung:ITB

Page
112

PERCOBAAN 8

I. JUDUL

: Skala PH dan Penggunaan Indikator

II. HARI/TANGGAL

: Rabu, 01 Mei 2013

III. TUJUAN

: 1. membuat larutan standar asam dan basa dalam


berbagai konsentrasi
2. mengatur PH larutan dengan berbagai indikator
3. memilih indikator yang sesuai dengan PH
4. mengukur PH larutan dengan menggunakan PH meter

IV. PERTANYAAN PRAPRAKTIKUM


1. Fenoftalein adalah salah satu indikator yang lazim. Bagaimana warnanya
larutan asam? dan larutan basa?

dalam

Jawaban : Warna fenolftalein dalam asam adalah tidak berwarna dan untuk
basa warna fenolftalein adalah merah muda/pink

larutan

2. Apa yang dimaksud dengan PH? berapa PH larutan netral?


Jawaban : PH (Potensial Hidrogen) adalah suatu larutan dihitung berdasarkan ion H atau
logaritma negatif [H] dan secara matematis ditulis PH= -log [H] . PH netral = 7.
3. Apabila 0.01 mol HCL ada dalam 10L larutan , berapa molaritasnya , berapa konsentrasi [H]
dan berapa PH-nya?
Jawaban : HCL H + Cl Rumus yang digunakan adalah M = n/V 0.01/10 = 0.001 M
=1x10 M
[H] = a.M = 1 x 1.10 = 1x10 M
PH = -Log [H] = - Log [10] = 3
4. Bagaimana hubungan antaran [H] dan [OH ] dalam larutan air , jika [H] =10 M?
Page
113

Jawaban : Kw = [H] [OH ] 10 = [H] [OH ] 10 = 10 [OH ]


[OH ] = 10/10 = 10

V. LANDASAN TEORI
Konsep asam dan basa didasarkan pada beberapa sifat yang ditunjukkan oleh sekelompok
senyawa larutannya dalam air. Berdasarkan sifat-sifat yang ditunjukkan tersebut , asam adalah
senyawa yang mempunyai rasa asam , dan memerahkan lakmus biru. Basa adalah senyawa yang
memiliki rasa pahit, dan dapat membirukan lakmus merah. Dalam larutan air, asam menghasilkan
ion H dan basa menghasilkan ion OH (Penuntun Praktikum Kimia Dasar, 2012 :56).
Konsentrasi ion [H] dan konsentrasi [OH ] dalam air, larutan asam atau basa merupakan
bilangan yang sangat kecil. Oleh sebab itu,seorang ahli kimia yang bernama Sorensen
mengemukakan suatu konsep yang disebut PH (P berarti Potensial dan H adalah simbol darii unsur
Hidrogen ) PH didefenisikan secara matematika sebagai berikut : PH = - Log[H]
Untuk PH pada lingkungan : Asam : PH < 7
Basa : PH > 7
Netral : PH = 7
(Tony Bird, 1987 : 71)
Asam dan basa merupakan zat kimia yang banyak terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Sari
jeruk dan vitamin c tidak lain dari asam askorbat. Di lambung kita terdapat getah untuk pencernaan
yang mengandung asam klorida (HCl). Asam asetat, yaitu asam cuka yang banyak digunakan di dapur
untuk memasak, asam karbonat terdapat pada minuman bersoda dan untuk memberikan rasa segar dan
asam sulfat yang banyak digunakan dalam aki. Itu merupaka contoh-contoh asam di sekitar kita. Basa
yang disekitar kita adalah amonia yang digunakan sebagai pelarut yang memiliki bau yanh kuat. Untuk
dapat mengetahui larutan bersifat asam atau basa , biasanya menggunakan indikator PH, umumnya
kebanyakan Lakmus yang sering digunakan (Benny karyadi. 1997 : 67- 68).
Asam dan basa menurut arrhenius. Asam adalah senyawa yang dilarutkan dalam air
meningkatkan konsentrasi [H] dan basa adalah senyawa yang meningkatkan konsentrasi [[OH ]
(David.W Oxtoby,1998 : 29).
Terjadinya asam : beberapa oksida unsur bukan logam dapat bereaksi dengan air dan
menghasilkan asam disebut oksida asam.
Contoh reaksi : SO + HO HSO = Asam sulfit
Page
114

SO + HO HSO = Asam sulfat


(Soehito, 1997 : 78 - 79)
Kekuatan asam dapat diukur dan dibandingkan melalui nilai tetapan kesetimbangan
protolisisnya . Untuk protolisis asam asam asetat tetapan kesetimabangan ini dapat dinyatakan sebagai
berikut :
Ka = [HO] [CHCOO] / [CHCOOH]
Rumus ini identik dengan tetapan ionisasi yang didefinisikan dan diuraikan. Protolisis asam
dalam air dapat digambarkan dengan persamaan umum :
Asam + HO HO + Basa
Maka, Ka = [HO] [Basa] / [Asam]
Makin besar tetapan ionisai, makin kuat asam itu, dan akibatnya makin lemah basanya. Jadi,
nilai Ka adalah sama juga suatu ukuran dari kekuatan basa (G.Svahite .1990 : 98 99).

VI. ALAT DAN BAHAN


Alat : 1. Tabung reaksi
2. Pipet tetes
3. Rak tabung reaksi
4. Indikator
5. PH meter
6. Elektroda
7. Sudip

Bahan :
1. HCl 0,01 M
2. Air suling
3. NaOH 0,01 M
Page
115

4. Indikator : - metil jingga


- fenolftalein
- biru bromtimol
- kuning alizarin
- merah metil
5. PH berbagai zat :
-Larutan cuka (encerkan 10X)
-Sari buah anggur/jeruk
-Minuman berkarbonat (encerkan 50%)
-Shampo
-Detergen cair (larutan 5%)
-Amonia untuk keperluan Rumah tangga
-Soda kue (larutan 10%)
-Tablet aspirin (asam salisilat dilarutkan
dalam 20ml air)

VII. PROSEDUR KERJA


A. Daerah asam, PH 2 sampai PH 6

-Diisi tabung pertama

Larutan standar HCl


0.01 N

Sehingga terionisasi sempurna dengan

Larutan lain

PH = 2

-Dibuat dengan PH 3, PH 4, PH 5 dan PH 6


dengan cara pengenceran 10 kali dengan PH 2
-Diambil larutan untuk menjadi PH 3
Page
116

1 ml Larutan PH 2

1ml Larutan PH 3
-Diencerkan dengan 9ml air suling yang telah
dididihkan dan diaduk perlahan-lahan.

Diambil larutan tersebut dan diencerkan dengan


9ml air mendidih untuk mendapatkan larutan PH 4
-Dengan cara yang sama dibuat PH 5 dan PH 6

Dicatat Hasil
Pengamatan
B. Daerah netral, PH 7

Air yang Mendidih


-Dimasukkan Kedalam tabung reaksi

Dicatat Hasil
Pengamatan
C. Daerah Basa, PH 8 sampai 12

Larutan NaoH 0,01


M
-Dimasukkan kedalam tabung reaksi dengan
menjadi PH 12

Larutan Lain
-Diencerkan dengan 9ml air suling yang telah dididih
kan untuk membuat PH 11

Larutan dengan PH 10, PH 9


dan PH 8 ddandan

-Dibuat dengan cara yang sama


Page
117

1 ml setiap
larutan lalarutan
-Disimpan yang dibuat percobaan A,B,dan C
Yang akan digunakan pada percobaa berikutnya
Dan diberi labe sesuai dengan PH nya.

Dua tetes indikator

-Ditetesi pada tiap tabung reaksi sampai terjadi


perubahan warna .
-Diamati perubahan yang terjadi
-Indikator yang digunakan adalahh jingga meti,
fenolftalein,biru bromtimol, kuning alizarin &
metil merah

Dicatat Hasil
Pengamatan

D. Penunjuk PH dalam berbagai zat


Menentukan PH dari zat berikut :
-Larutan cuka
-Sari buah anggur/ jeruk
-Minuman berkabornat
-Shampo
-Detergen air
-Amonia
Page
118

-Soda kue
-Tablet aspirin

2ml dari setiap zat


-Dipipet dan dimasukkan masing-masing ke
Dalam 5 tabung reaksi

2 tetes indikator
-Ditetesi ke dalam masing-masing tabung reaksi
Dan dibandingkan warnanya.

Setiap
larutan
-Ditentukan PH berdasarkan warnanya.
Larutan yang terjadi setelah penambahan dari
Indikator

Dicatat hasil
pengamatan

VIII. DATA PENGAMATAN


Data I
Hasil pengukuran PH
PH
standar dengan
standa
menggunakan PH meter
r

2
3

MJ

AK

Jingga
Jingga

Kuning
Kunig
Page
119

Jenis indikator
MM
F
Pink
Jingga

Tidak berwarna
Tidak berwarna

BB
Kuning
Kuning

4
5
6
7
8
9
10
11
12
Keterangan : MJ

Jingga
Jingga
Kuning
Jingga
Jingga
Jingga
Jingga
Jingga
Jingga

Kuning
Kuning
Kuning
Kuning
Kuning
Kuning
Ungu
Ungu
Ungu

Merah
Merah
Pink
Merah
Merah
Merah
Kuning
Kuning
Kuning

Tidak berwarna
Tidak berwarna
Tidak berwana
Tidak berwarna
Tidak berwarna
Tidak berwarna
Tidak berwarna
Merah
Pink

Kuning
Hijau
Hijau
Kuning
Hijau
Biru
Biru
Biru
Biru

: Metil Jingga

AK

: Alizarin Kuning

MM

: Metil Merah

: Fenolftalein

BB

: Bromtimol Biru

Trayek PH indikator :
Metil jingga 3,1 - 4,4
Metil merah 4,4 6,2
Fenolfatlein 8,3 10
Bromtimol biru 6,0 7,6
Alizarin kuning 10 - 12

Data II
No
1
2

Sampel
Larutan cuka
Sari Anggur/

MJ

MM

J
J

P
M

Jenis indikator
AK
PP
BB
K
K
Page
120

TB
K

K
M

PH
< 3,1
3,1- 4,4

Keterangan

3
4
5
6

Jeruk
Sprite
Shampo
Detergen cair
Amonia RT

J
K
H
K

K
M
K
K

TB
H
B
TB

TB
H
P
TB

M
K
H
K

Soda kue

Aspirin

TB

3,1 - 4,4
10 12
6,2 - 7,6
4.6 - 6,0/
6,7 - 8,3
3,1 - 4,4 /
6,7 - 8,3
< 3,1

Keterangan :
Indikator MJ = Metil Jingga, MM = Metil Merah, AK = Alizarin Kuning,
PP/F = Fenoftalein, dan BB = Bromtimol Biru.
Warna J = Jingga, P = Pink, K = Kuning, TB = Tidak Berwarna, H = Hijau,
B = Biru, M = Merah, dan U = Ungu

IX. PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini kami melakukan percobaan mengenai PH dan pengggunaan indikator.
A. Daerah asam, PH 2 sampai PH 6
Untuk membuat PH 2 sampai 6 kami menggunakan larutan standar 1ml HCl dengan konsentrasi
2M. Untuk membuat konsentrasi 0,01 Molar agar terionisasisempurna dengan pH = 2. Maka kami
melakukan pengenceran dengan cara menambahkan air sebanyak 199ml . Dengan hitungan seperti
ini :
M V = M V
2.1 = 1x10 . V
V = 2/1x10 = 200ml
Jadi, volume air yang ditambahkan adalah 200ml-1ml = 199ml. Dari percobaan tersebut didapat
PH sebesar 2.

* Untuk membuat PH 3 adalah menggunakan 1ml larutan PH 2 dan ditambahkan 9ml air suling.
Dengan hitungan seperti ini : PH = 3 [H] = 1x10 atau 0,003
Page
121

Jadi menggunakan rumus yang sama yaitu,


M V = M V 0,01.1 = 0,001. V V = 0,01/0,001 = 10ml
Volume air yang ditambahkan adalah 10ml - 1ml = 9ml
Dan untuk PH 4- PH 6 langkah kerjanya sama seperti diatas yaitu dengan menggunakan 1ml
larutan PH sebelumnya dan tambahkan 9ml air suling.

B. Daerah netral, PH = 7
Daerah netral dapat diperoleh dengan menggunkan air suling saja yang telah dipanaskan lalu
dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Karena air bersifat netral maka PH yang diperoleh adalah 7. *
Setelah dibuat larutan PH 2-7 dimasukkan pada tabung reaksi yang berbeda dan beri tanda dengan
menggunakan label yang ditulis dengan sesuai PH -nya.
C. Daerah Basa, PH 8 sampai 12
Pada percobaan ini kami menggunakan larutan NaoH 0,01 M dengan volume 1ml
maka akan terionisasi sempurna menjadi PH = 12. Untuk membuat PH 11 dilakukan percobaan
dengan cara pengenceraan juga dengan menambahkan 9ml air suling ke dalam 1ml larutan PH 12
dengan perhitungan sebagai berikut :
M V = M V 0,01.1 = 0,001 V V2 = 0,01/0,001 = 10ml
Jadi volume air yang ditambahkan adalah 10ml - 1ml = 9ml. Maka untuk PH 8 sampai PH 10
dilakukan percobaan yang sebelumnya yaitu menggunkan larutan PH sebelumnya dan ditambah
9ml air suling ke dalam tabung reaksinya.
* Setelah selesai membuat PH 2 - PH 12 letakkan seluruh tabung reaksi ke dalam rak tabung
reaksi lalu ambil tabung reaksi baru lagi dan teteskan dengan 5 indikator yaitu : metil merah,
metil jingga, fenolftalein, alizarin kuning, dan bromtimol biru. Pada setiap larutan yang mewakili
PH-nya ditetesi kelima indikator tersebut pada masing-masing tabung yang berbeda.

D. Petunjuk PH berbagai zat


Pada pecobaan ini banyak sampel yang digunakan, diantaranya yaitu larutan cuka, sari buah
anggur / jeruk , sprite, detergen cair, shampo, amonia rumah tangga, soda kue dan obat aspirin.
Masing -masing sampel dimasukkan kedalam taabung reaksi dan volumenya 1ml. Setelah itu
masing - masing tabung reaksi ditetesi indikator sebanyak 2 tetes. Dimana indikatornya yang
Page
122

digunakan sama dengan sebelumnya.


E. Penentuan PH dengan PH meter
Pada percobaan kali ini kami tidak melakukannya dikarenakan ketersedian bahan kimia telah
habis, keterbatasan waktu penggunaan laboratorium, adanya mata kuliah lain juga pada praktikan.
Sehingga kami tidak dapat menjelaskannya secara lebih detail. Namun kami sedikit mengetahui
penentuan PH dengan alat PH meter dilakukan dengan cara mencelupkannya ke dalam larutan
yang sedang diuji. Dan nantinya pada alat tersebut akan muncul angka/nilai yang menunjukkan
larutan itu termasuk golongan asam ataukah basa.

X. DISKUSI
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan adapun informasi yang diperoleh adalah sebagai
berikut :
A. Daerah asam, PH 2 - PH 6
Larutan HCl 0,01 M dapat diterionisasi sempurna menjadi PH = 2 . Untuk memperoleh PH = 3
kita dapat menggunakan 1ml larutan PH 2 dan menambahkannya 9ml air suking yang telah
dipanaskakan.
Begitu juga untuk larutan PH 4 sampai PH 6 dilakukan caran yang sama dengan cara
sebelumnya dengan cara menggunakan 1ml larutan PH sebelumnya dan ditambahkan 9ml air suling.

B. Daerah netral, PH = 7
Pada percobaan ini dapat membuat dengan menggunakan air suling yang telah dipanaskan.
karena air bersifat netral maka PH yang diperoleh adalah 7.

C. Daerah basa, PH 8 - PH 12
Larutan yang digunakan adalah 1ml larutan NaoH 0,01 M , pada larutan ini akan terionisasi
sempurna dengan PH = 12, karena larutan bersifat basa maka [OH ] = 0,01 jadi POH = 2 dan PH =
14 - 2 = 12.
Untuk membuat larutan PH 11 digunakan larutan PH 12 sebanyak 1ml dan ditambahkan 9ml
air suling maka PH yang diperoleh adalah 11 dan seterusnya untuk PH 8 sampai PH 10 dilakukan
cara dengan cara menambahkan 9ml air pada 1ml larutan sebelumnya ,
Page
123

Setelah dibuat larutan PH 2 sampai PH 12 yang sudah berada pada masing-masing tabung dan
diletakkan di rak tabung reaksi. Kemudian Setiap larutan perwakilan PH ditetesi 5 indikator tersebut
sebanyak 2ml dalam 5 buah tabung reaksi yang baru. Dan setiap indikator menghasilkan warna yang
hampir sama dan ada juga yang berbeda semua bahkan bening/tidak berwarna.
D. Penunjuk PH berbagai zat
Pada praktikum ini, semua sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 1ml dan setiap
sampel ditetesi 5 indikator dan dimasukkan ke dalam 5 buah tabung reaksi yang baru dan sebanyak
2 tetes.
E. Penentuan PH dengan menggunakan PH meter
Pada Percobaan ini kami tidak melakukannya tetapi kami bisa menjelaskannya berdasarkan
buku. (Kimia Dasar, 2009 : 1992)PH meter adalah suatu alat yang digunaka untuk mengukur PH
suatu larutan. Dengan cara mencelupkannya ke dalam larutan tersebut. Maka alat ini akan
menampilkan nilai/angka yang menunjukkan jumlah PH tersebut. Sehingga kita dapat
mengidentifikasi larutan itu termasuk golongan asam atau basa.

XI. PERTANYAAN PASCA PRAKTIK


1). Mengapa larutan soda kue bersifat asam ? Jelaskan !
Jawab : Karena soda kue memiliki PH <7 dan berwarna merah saat dicelupkan
indikator (metil merah)
2). Setelah anda melakukan percobaan, kelompokkanlah zat pada percobaan D
menjadi kelompok zat yang asam, netral, dan basa.
Jawaban : Zat yang bersifat asam : Sari jeruk, Asam cuka, Soda kue, dan
Amonia.
Zat yang bersifat netral : Aspirin.
Zat yang bersifat basa : Sprite, Detergen cair, dan Shampo.

XII. KESIMPULAN
Berdasarkan Praktikum yang telah dilaksanakan, adapun kesimpulan yang diperoleh adalah :

Larutan standar asam dan basa dapat diperoleh dengan berbagai konsentrasi apabila
konsentrasi diketahui konsentrasi awal dan PH awal-Nya. Larutan ini dapat dibentuk dengan
Page
124

pengenceran pada larutan awal

Pengukuran PH larutan dapat menggunakan berbagai indikator dengan mengamati


perubahan warna pada larutan dan membandingkan warnanya kita dapat menentukan PH nya .

Pengukuran PH dapat juga dilakukan menggunakan alat yaitu PH meter yang dimana
ketika dicelupkan maka alat tersebut akan menunjukkan PH nya dengan angka/nilai yang keluar
pada alat tersebut.

Pada indikator akan menunjukkan PH nya berdasarkan warna yang berubah pada larutan
asam atau basa tersebut . Dan jika larutan tersebut asam akan menimbukan warna yang berbeda
dengan basa.

Dalam praktikum ini kita dapat mengetahui bahwa :


PH asam PH < 7
PH netral PH = 7
PH basa PH > 7

XIII. DAFTAR PUSTAKA


Bird, Tony. 1987. Kimia Fisik. Jakarta : Erlangga.
Epinur dan M. Dwi Wiwi.E. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. UNJA :
FKIP.
Karyadi, Benny. 1997. Kimia Untuk Universitas. Bandung : Cipta Aditya Bakti.
Oxtoby, W. David.1998. Kimia Modern. Bandung : Bumi Aksara.
Soehito. 1975. Penuntun Praktikum Kimia. Bandung : Yudhistira.
Stevia, G. 1990. Analisis Anorganik Kualitatif. Jakarta : Vagel.

PERCOBAAN 9

I.
II.

JUDUL
HARI/TANGGGAL

: Titrimetri dan Pengendalian pH


: Rabu/ 15 Mei 2013

III.

TUJUAN

Page
125

1. Mempelajari dan menerapkan teknik tirasi untuk


menganalisis contoh yang mengandung asam
2. Menstandardisai larutan penitrasi
3. Memstandardisai larutan NaOH
4. Menggambarkan kurva titrasi
5. Menentukan tetapan kesetimbangan asam lemah
6. Menjelaskan pentingnya pengendalian pH, terutama pada
sistem fisiologi tubuh
7. Menguraikan cara mempertahankan pH dalam berbagai
macam penggunaan
8. Mengenal denggan baik beberapa larutan buffer dari sistem
tertentu dan bagaimana mereka berfungsi

Pertanyaan Prapraktek
1. Apa yang dimaksud dengan
a. Asam
b. Basa
c. Titik ekuivalen
d. Indilkator
Jawab :
a.
b.
c.
d.

Asam adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air menghasilkan ion H
Basa adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air menghasilkan ion OH
Titik ekuivalen adalah titik dimana pada titik tersebut mol H sama dengan mol OH
Indicator adalah suatu senyawa yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu zat
apakah bersifat asam atau basa

2. Jelasakan perbedaan titik akhir titrasi dengan titik ekuivalen ?


Jawab :
- Titik akhir titrasi adalah suatu titik dimana indicator yang digunakan dalam titrassi dapat
berubah warna.
- Titik ekuivalen adalah suatu titik dimana titik mol H sama dengan mol OH yang
ditunjukkan dengan pH
3. Sebanyak 0,7742 g Kalium hydrogen sitrat dimasukkan kedalam Erlenmeyer dan dilakukan
dalam air suling, kemudian dititrasi dengan larutan NaOH, bila terpakai 33,6 ml larutan NaOH,
berapa molaritas larutan NaOH tersebut ?
Jawab :
Dik : Massa kalium Hidrogen
Sitrat
: 0,7742 gr
V NaOH
: 33,6 ml
Dit : Molaritas NaOH ?
Page
126

M NaOH

=
=
=

mol NaOH / V NaOH


0,00336 / 0,0336
0,1 M

4. Apa yang dimakud dengan :


a. Kurva titrasi asam basa ?
Jawab : Kurva atau aliran grafik antara pH dengan jumlah asam atau basa yang dimbahkan
b. Titik ekuivalen ?
Jawab : kondisi saat dimana larutan asam tepat bereaksi dengan larutan basa
c. Standardisasi ?
Jawab : proses pengukuran konsentarasi larutan standar
d. Larutan standar primer ?
Jawab : suatu larutan yang konsentrasinya dapat ditentukan dengan bahan murni
e. pH ?
Jawab : adalah derajat keasaman suatu larutan asam atau basa
f. pH meter ?
Jawab : alat untuk mengukur pH suatu larutan

5. Hitung massa kalium hydrogen flatat (KHP) untuk menetralisasi 25ml NaOH 0,1M dan tulis
persamaan rekasinya
Jawab :
Dik : V NaOH : 25 ml
M NaOH : 0,1 M
Dit : Massa KHP=> untuk menetralkan
NaOH ?
Mol =
M.V
=
0,1 . 0,025
=
25 . 10 mol
Massa =
mol . MR
=
0,0025 . 204
=
0,51 gram
6. Bagaimana membuat 50 ml larutan HCl dengan pH 1 dari larutan HCl 1 M
Jawab :
V . M= V . M
V . 1 = 50 . 10
V
= 5 ml
V air = V - V
= 50ml 5ml
= 45 ml

Page
127

7. - Apakah larutan buffer itu ?


Jawab : larutan yang bila ditambahkan sedikit asam , basa atau tidak mengubah pH secara
berarti
- Mengapa larutan buffer itu penting ?
Jawab : karena dapat mempertahankan pH larutan dalam daerah pH tertentu sebaba menandung
ion garam kesetimbangan asam lemah dan kesetimbangan air

8. Berikan definisi untuk asam lemah dan basa lemah


Jawab :
- Asam lemah adalah ion H nya lebih bear dibandingkan air. Sehingga menggeserkan
kesetimbangan air, akibatnya (H) dan air makin kecil dan dapat diabaikan
- Basa lemah adalah ion OH dan air dapat diabaikan karena sangat kecil dibandingkan basa

9. Jelaskan dengan persamaan reaksi bagaimana larutan natrium sianida (NaCH) dengan hydrogen
sianida (HCN) berfungsi sebagai larutan buffer ?
Jawab :
HCHO + NaOH
NaCHO + HO
KHPO + NaOH

KNaHPO + HO

10. Sebutkan beberapa pasangan larutan buffer yang sifat fisiologinya sama besar
Jawab :
- Basa lemah dan asam konjugassi NHOH dan NHCL
- Asam dan baa konjugasi campuran CHCOOH dan CHCOONa

IV.

LANDASAN TEORI

Berdasarkan pengertian titrasi, titrasi asam basa merupakan metode penentuan kadar
penentuan kadar larutan asam dengan zat penites ( zat penitrasi ) suatu larutan basa atau
penentuan kadar larutan basa dengan at peniter ( zat penitrasi ) suatu larutan asam . titrasi titik
akhirnya adalah kondisi pada saat terjadi perubahan warna dari indicator. Titik akhir titrasi
diharapkan mendekati titik ekuivalen yaitu kondisi pada saat larutan asam tepat bereaksi dengan
larutan basa .
Contoh reaksi netralisai
NaOH (aq) + HCL (aq)

NaCl (aq) + HO (l)


Page
128

(Nana Sutresna . 2007 : 221-222)

Titrasi asam basa adalah suatu titrasi dengan menggunakan reaksi asam basa dengan
mengukur volume dari asam basa yang bereaksi ssehingga disebut volmetri.
Asam + Basa garam + Air
Reaksi penetralan asama basa dibagi menjadi :
-

Penetralan asam kuat oleh basa kuat


Penetralan asam kuat oleh basa lemah
Penetralan asam lemah oleh basa kuat
Penetralan asam lemah oleh basa lemah
( Parning . 2002 : 54 )

Suatu penerapan penting dari stoikiometri dilaboratorium adalah analisis unsur-unsur untuk
menentukan komposisinya. Pengukuran yang didasarkan pada massa disebut gravimetric ,dan
pengukuran yang dilakukan berdasarkan volume larutan adalah volumetric atau titrasi. Dalam
percobaan ini teknik analisi volumetric diterapkan pada analisi contoh yang mengandung asam.
Reaksi- reaksi yang dapat dipakai untuk analisis volumetric harus mempunyai sifat-sifat penting
yaitu :
-

Stoikiometri yang baik tidak


Memberikan reaksi samping (hanya bahan yang dianalisis yang bereaksi dengan titran)
Laju reaksi tinggi
Tidak ada gangguan yang berarti
Ada alat untuk mendeteksi titik ekuivalen reaksi
( Epinur ,dkk . 2012 : 61 )

Campuran antara larutan asam lemah dengan garamnya atau basa lemah dengan garamnya
disebut campuran buffer. Campuran itu dapat menahar perubahan pH bila larutan ini ditambah
sedikit asam atau basa mislanya campuran buffer
HA

H + A

NaA

Na + A

Kalau kedalam larutan ditambah asam ( ion H) ion ini diikat oleh A menjadi HA hingga
OH didalam larutan tetap, kalau didalamnya ditambahkan basa ion OH dari basa ini juga
ditarik oleh ion H dan air untuk membentuk HO kekurangan ion H ditambah dari asam
dengan ini ion H dalam larutan ditahan tetap ( Sukardjo . 2002 : 312 ).
Page
129

Suatu buffer dapat mempertahankan pH larutan dalam pH daerah tertentu dalam membuat
buffer perlu diperhatikan perbandingan Cad an Co atau Ck dan Cg. Perbandingan itu jangan
terlalu besar atau terlalu kecil karena akan mengganggu penggabungan. Kesetimbangan
contohnya buffer CHCOOH dengan CHCOO
Jika Ca terlalu kecil maka pergeseran tekanan akan tepat terganggu ( berhenti ) sebaliknya.
Jika Cg terlalu kecil, maka pergeseran kekiri akan mudah berhenti. Keterbatasan nilai Ca/Cg
mengakibatkan buffer mempunyai daerah pH tertentu yang secara umum ketentuannya adalah :
1. Bufer asam lemah, garamnya untuk daerah pH tertentu dan besar dari 7
2. Bufer basa lemah, garamnya untuk daerah pH tertentu dan kecil dari 7
( Hiskia Ahmad . 1993 : 42 )
V.

ALAT DAN BAHAN

1. Penyiapan larutan NaOH 0,1 M


- Botol 500 ml
- Larutan NaOH
- Botol plastik
- Timbangan
- Air suling
2. Standardisasi larutan NaOH 0,1 M
- Biuret 50 ml
- Air suling
- Larutan NaOH
- Erlenmeyer 250 ml
- Pipet
- Larutan HCL 0,1 M
- Indicator fenoflatan
- Stopwatch
- Kalium hydrogen ftalat
3. Menentukan persentae asam asetat dalam cuka
- Cuka dapur ( asam 4-6 % )
- Larutan NaOH
- Erlenmeyer
- Pipet tetes
- Air suling
- Indicator fenolfralein
Potensiometri
a. pH meter
b. Neraca
c. Labu ukur
Page
130

d. Pipet tetes
e. Gelas piala
f. Statif
g. Larutan penyangga ( pH 5 )
h. Kalium hydrogen flafat
i. Air suling
j. Larutan NaOH
1. Larutan bukan buffer
- Tabung reaksi
- Air suling
- Larutan HCl 0,0001 M
- Larutan NaOH 0,0001 M
- Indikarot Universal
2. Larutan Buffer
- Tabung reaksi
- Asam asetat 1 M
- Natrium asetat 1 M
- NHCl 1 M
- Larutan HCl 1 M
- Larutan NHOH 1 M

VI.

PROSEDUR KERJA
A. Penyiapan larutan NaOH 0,1 M

1,6 gr NaOH
Ditimbang dan dimasukkan ke dalam botol

Dilarutkan dengan NaOH tadi


Dikocok hingga larut

400 ml air suling

Hasil

B. Standardisasi Larutan NaOH 0,1 M


5 ml NaOH
-

Dimasukkan kedalam biuret 50 ml yang


sudah dicuci dan dibilas dengan air suling
Diimiring dan diputar biuret untuk
membasahi permukaan biuret
Larutan NaOH
Page
131

Dikeluarkan dari biuret dan diulangi


proses pembilasan sekali atau dua
kali dengan larutan NaOH
Larutan
Diisi pada biuret sampai mencapai angka
Nol
Dialirkan larutan untuk mengeluarkan
Gelembung udara pada unjung biuret
Dan isi biuret kembali

Dipipet 25 ml dan dimasukkanLarutan


kedalam HCL standar
0,1 M
erlenmeyer

25 ml dan 3 tetes indicator


fenolftalein
Ditambahkan kedalam masing-masing
erlenmeyer
Larutan NaOH

Dicatat kedudukan awal pada buret


Kemudian dialirkan sedikit demi sedikit
Larutan NaOH pada Erlenmeyer pertama
Dicatat V akhir pada biuret
Diisi biuret kembali dan titrasi contoh
Pada Erlenmeyer kedua dan ketiga
Dibitung molaritas dengan menunjukkan
Rincian perhitungan

0,35 gr KHP
-

Dimasukkan kedalam Erlenmeyer yang


Sudah dicuci

Ditambah dan dikocok

Ditambahkan 3 tetes NaOH


Dititrasi hingga merah muda
Dicatat waktunya
Dihitung molaritas

25 ml air suling

Indicator
fenolftalein

Page
Hasil pengamatan
132

C. Menentukan persentase Asam asetat dalam cuka

3 buah
erlenmeyer

Dicuci dan dibilas


Ditambah 20 ml air suling
Ditambah indicator PP (3tetes)
Dititrasi dengan NaOH

Campuran warna merah


jambu
-

Dihitung persen massa pada Tiap contoh


Diulangi percobaan jika ketiga Contoh berbeda
lebih besar Dari 0,05%

Data

Potensiometri

pH meter
-

Dikalibrasi dengan larutan buffer PHS


KHP

Ditimbang dengan 5,1 gr


Dilarutkan dengan air suling dan diencerkan
Dan labu ukur 250 ml
Dipipet 50 ml dan dimasukan ke dalam gelas
piala

Sekitar 0,1 M dimasukan ke biuret

Larutan NaOH

pH dicatat dan dibuat kuva titrasi

Page
133

A. Larutan Bukan buffer


1. Penentuan larutan bukan buffer
3 buah tabung
reaksi
1 ml air suling
-

Diisi pada tabung reaksi


Ditentukan dan dicatat pH
dengan indicator universal

1ml larutan HCl


0,0001 M

1 ml NaOH 0,0001
M

Hasil

2. Penentuan pH larutan bukan buffer setelah ditambah asam

3 tabung reaksi

1 ml air suling

1 ml larutan HCL
0,000 M

1 ml larutan NaOH
0,0001 M

HCl 1 M
-

Ditambahkan 1 tetes kedalam


Tabung reaksi
Ditentukan pH
Hasil

B. Larutan Buffer
1. Penentuan pH larutan buffer
a.
5ml asam asetat
HCHO 1M
b.

5 ml Natrium asetat NaCHO


1M
Ditentukan pH dengan indicator
dicampur
universal

5ml larutan
NHOH 1M

5ml NHCl 1M

Page
dicampur
134

Ditentukan pH larutan

2. Penambahan pH larutan buffer setelah penambahan asam

2ml larutan buffer


-

Diisi pada tabung 1 dan 2


HCl 1M

Ditambahkan 1 tetes HCL 1M

Dicatat dan ditentukan pH

Hasil

3. Penentuan pH larutan buffer setelah penambahan basa

Diisi tabung 1 dan 2

2ml larutan buffer


Larutan NaOH 1M

- Ditambahkan ketabung
- Ditentukan pH dan dibandingkan dengan
Larutan buffer
Hasil

VII.

PEMBAHASAN
Analisis volumetric adalah analisis yang pengukuran dilakukan berdasarkan volume
larutan.Volumetric biasa dikenal dengan titrasi, dimana contoh yang dianalisis ditempatkan
dalam Erlenmeyer. Metode volumetric dapat dilakukan untuk mengetahui konsentrasi zat
penitrasi yang tidak diketahui pada percobaan ini, praktikan akan melakukan standarisasi
,yaitu proses pengukuran konsentrasi larutan standar. Larutan standar adalah larutan yang
Page
135

konsentrasinya diketahui secara tepat.Selain melakukan standardisasi praktikan juga


menentukan persentase asam asetat dalam cuka, da juga pengendalian pH pada larutan
penyangga (buffer).
Sebelum melakukan percobaan, larutan NaOH harus disiapkan terlebih dahulu ,karena
akan digunakan untuk percobaan-percobaan selanjutnya. Untuk membuat larutan NaOH
dengan konsentrasi 0,1M , dibutuhkan NaOH padahan sebnyak 0,1 gram dan dilarutkan dalam
air sebanyak 100 ml. dengan perhitungan :
Mol NaOH = massa/Mr = 4/40 = 0,1 mol
M = mol/V = 0,1 mol/1L = 0,1 M
Setalah larutan NaOH 0,1 M siapa, maka praktikan melakukan standardisasi larutan NaOH
dengan cara titrasi. Zat yang dititrasi adalah larutan HCl standar 0,1 M. pada percobaan ini
dibutuhkan 3 tabung Erlenmeyer. Ke dalam tabung dimasukkan 25 ml larutan HCl 0,1 M dan
ditambahkan air suling sebganyak 25ml, sehingga
M . V

M . V

0,1 M . 25ml

M . 50 ml

0,1 M . 25 / 50

0,05 M

Molaritas larutan HCl menjadi 0,05


a) Penyiapan larutan NaOH 0,1M
Pada percobaan ini kami membuat titrasi atau pengenceran yaitu dengan mengambil 1,6 gr
NaOH dan menambahkannya 400ml air suling. Sehingga diperoleh dengan konsentrasi 0,1M
dari rumus :
M = gr/Mr x 1000/V(ml)

0,1

= 1,6/40 x 1000/X

4X

= 1600 X = 400 ml

Jadi air suling yang digunakan sebanyak 400ml

b) Standardisasi NaOH 0,1M


Pada percobaan ini kami melakukan sebanyak 2 kali yaitu :
Page
136

1. Standardisasi NaOH 0,1M dengan 50 ml HCl 0,1M. dengan cara menyiapkan buret yang
telah dicuci bersih kemudian dimasukkan NaOH sebanyak 50ml. setelah itu letakkan
Erlenmeyer yang berisi larutan HCl dan sudah ditetesi sebanyak 2 tetes indicator PP (funol
Ftalein). Kemudian alirkan NaOH dengan cara memutar tuas pada buret sehingga NaOH
mengalit ke dalam Erlenmeyer tersebut. dan tunggu hingga larutan berubah warna menjadi
merah muda. Untuk percobaan ini dilakukan sebanyak tiga kali.
2. Standardisasi NaOH dengan KHp (kalium hydrogen ptalat). Dengan cara minimbang
sebanyak 0,35g KHp dan ditumbauhkan air suling 25ml serta kocok hingga larut. Di dalam
Erlenmeyer dan tambahkan 3 tetes PP. laruatn tersebut dialirkan NaOH dari buret ke
Erlenmeyer hingga warna berubah menjadi merah muda serta hitung pemakaian volume
NaOH pada larutan tersebut. reaksi yang terjadi adalah :
NaOH (aq) + KHCHO

NaKCHO + HO

c) Menentukan presentase asam asetat dalam cuka. Pada ercobaan ini digunakan asam cuka
mengandung 25% asam asetat. Dimasukkan asam cuka 2ml ke dalam Erlenmeyer dan
ditambahkan 20 ml air suling dan 3 tetes indicator PP. selanjutnya dititrasi dengan larutan
standar NaOH sampai larutan membentuk warna menjadi merah jambu. Percobaan tersebut
dilakukan sebanyak tiga kali dan hasil yang diperoleh :
Volume Cuka = 2ml
Massa jenis cuka = 1,008 g/m
Massa cuka = rapatan/ massa jenis x volume
= 1,008 x 2 = 2,016 gr
Mol asam asetat = 6,5 x 10 x 0,1 = 6,5 x 10 mol
Berat asam asetat =massa asetat contoh/ massa cuka x 100%
=Mol asetat . Mr / 2,016 x 100%
= 0,39/2,016 x 100%
= 19,345
= 19,34 %
VIII.

DISKUSI
Pada percobaan pertama siapkan terlebih dahulu Erlenmeyer 500ml sebanyak 3 botol
lalu masukkan larutan HCl lalu masukkan larutan HCl lalu teteskan dengan NaOH dengan
burret sampai warna berubah menjadi merah mudah. Pada botol pertama NaOH yang terpakai
sebanyak 350ml. pada botol kedua NaOH yang terpakai sebanyak 300ml, dan pada botol ketiga
NaOH yang terpakai sebanyak 250ml. disini dapat disimpulkan titik titrasi yang sama pula.
Pada percobaan kedua yang pertama kali harus dilakukan adalah siapkan Erlenmeyer
sebanyak 3 buah, lalu masukkan KHp. Kedalam erlenmeyer seberat 0,35gr.Lalu dititrasi lagi
dengan larutan NaOH sampai warna pada KHp tersebut berubah menjadi merah muda. Pada
botol pertama NaOH yang terpakai sebanyak 15ml sedangkan pada botol kedua NaOH yang
Page
137

terpakai sebanyak 16ml. dan pada botol ketiga NaOH yang terpakai sebanyak 22ml. dan dapat
disimpulkan molaritas rata-rata larutan NaOH adalah 0,099 M.
Pada percobaan ketiga yang pertama kali harus dilakukan adalah siapkan Erlenmeyer
sebanyak 3 buah juga.Lalu masukkan cuka ke dalam Erlenmeyer sebanyak 2ml. lalu di titrasi
lagi dengan larutan NaOH sampai warna pada KHp tersebut berubah menjadi merah muda.Pada
botol pertama NaOH yang terpakai sebanyak 18,5ml.pada botol kedua NaOH yang terpakai
sebanyak 18ml. pada botol ketiga NaOH yang terpakai sebanyak 17,5ml. dan % massa rata-rata
asam asetat adalah 200,16%

IX.

PERTANYAAN PASCAPRAKTEK
1. Apakah hasil standardisasi larutan NaOH dengan menggunakan larutan HCl dan KHp
memberikan hasil yang sama ? bila tidak beri komentar
Jawab : tidak, karena pada larutan HCl, NaOH yang dibutuhkan semakin besar, % banyak
sebab HCl merupakan asam buatan
2. Komentar hasil analisis asam asetat dalam contoh yang anda kerjakan
Jawab: Analidid asam asetat dalam contoh yang kami gunakan semakin besar % massa asam
asetat maka lebih banyak lagi larutan NaOH yang dibutuhkan untuk menstrelerelisasinya.
3. Agar titrasi untuk contoh kedua dan ketiga berjalan cepat, tidakan apa yang anda lakukan
Jawab : Dengan terus digoyang tabung Erlenmeyer dan memperbesar lubang kran dan NaOH
yang keluar
4. Agar titik akhir titrasi mendekati titik ekuivalen. Bagaimana caranya dan bagaimana pula
pengamatan untuk titrasi itu ?
Jawab : Dengan cara memperlambat / memperkecil larutan NaOH yang apabila larutan telah
burubah menjadi merah muda, maka titrasi dihentikan
5. Dari semua prosedur percobaan, mengapa indicator begitu penting dalam titrasi jelaskan
alasannya
Jawab : Karena Indikator tersebut pemberi warna pada saat titik ekuivalen dalam proses
titrasi
6. Jika falat pada bagian B titrasinya berlebihan dengan NaOH apakah kekeliruan dalam bobot
KHCHO pada bagian B atau asam asetat pada cuka mengasilkan hasil yang positif atau
negative ?jelaskan pendapat anda.
Jawab : Jika pada flafat berlebihan, tidak ada kaitannya dengan bobot asam asetat pada cuka.
7. Selesaikanlah persamaan reaksi berikut : KHCHO + NaOH
Jawab : KHCHO + NaOH
NaKCHOH + HO
Page
138

XI.

KESIMPULAN
Dari hasil percobaan diatas, maka dapat disimpulkan :
1. Suatu contoh larutan yang mengandung asam dapat diketahui dengan uji titrasi
2. Pada proses titrasi, perlu digunakan suatu indicator, yang berfungsi sebagai penentu
perubahan warna
3. Ada 3 jenis titrasi :
a) Titrasi asam kuat dengan basa kuat
b) Titrasi asam lemah dengan kuat
c) Titrasi basa lemah dengan asam kuat
4. Larutan penyangga terdiri dari campuran-campuran
a) Asam lemah dengan basa konjugasinya
b) Basa lemah dengan asam konjugasinya
5. Larutan buffer sangat penting peranannya dalam pengendalian pH . terutama pada fisiologi
tubuh

XII. DAFTAR PUSTAKA


Ahmad, Hiskia. 1993. Kimia larutan. Bandung : Citra Aditya Bakti

Epinur, dkk.2011.Penuntun praktikum kimia dasar.Jambi : Universitas Jambi


Parning.2002. KIMIA.Jakarta : Bumi Aksara
Sukardjo.2002. Kimia Fisik.Jakarta : PT.Bina Aksana
Sutresno, Nana.2007. Cerdas Kimia. Bandung : Grafindo.

PERCOBAAN 10

I.
II.

JUDUL
HARI, TANGGAL

: Kinetika Kimia
: Rabu, 22 Mei 2013

III.

TUJUAN

:
1. Mengukur perubahan konsentrasi pereaksi menurut waktu
Page
139

2. Mengamati pengaruh konsentrasi, suhu, dan katalis pada laju


reaksi
3. Menentukan hukum laju suatu reaksi dalam larutan berair

IV.

PERTANYAAN PRA PRAKTEK


Soal
1. Apa definisi ringkas dari (a) hukum laju (b) tetapan laju (c) orde reaksi (d) energi
aktivasi ?
2. Apakah satuan tetapan laju reaksi untuk (a) Reaksi orde nol (b) Reaksi orde satu (c)
Reaksi orde dua ?
3. Belerang dioksida mereduksi HIO3 dalam larutan asam dengan reaksi
3 SO2 (g) + 3 H2O (l) + HIO3 (aq)

3 H2SO4 (aq) + HI (aq)

Pada akhir reaksi, jika terdapat HIO3 berlebih. Zat ini dapat diambil dengan larutan
kanji. Senyawa HI dan HIO3 segera bereaksi membentuk I2 yang diserap oleh kanji dan
menimbulkan warna biru. Dari perbedaan diperoleh data.
[SO2] M
14,6 . 10-4
7,31 . 10-3
14,6 . 10-4

[HIO3] M
3,6. 10-3
3,6. 10-3
7,21. 10-3

t (detik)
25,8
52,8
12,6

Page
140

Tentukan orde reaksi untuk setiap pereaksi dan orde keseluruhannya?


Jawaban
1. (a) Hukum laju adalah persamaan yang mengaitkan laju reaksi dengan konsentrasi
molar atau tekanan parsial dengan pangkat yang sesuai.
(b) Tetapan laju adalah perbandingan laju dengan hasil konsentrasi yang
mempengaruhi laju reaksi.
(c) Orde reaksi adalah bilangan pangkat (eksponen) yang menyatakan bertambahnya
laju reaksi/jumlah pangkat konsentrasi pereaksi dalam persamaan laju reaksi.
(d) Energi aktivasi adalah energi yang diperlukan untuk membentuk kompleks
teraktivasi.
2.

a). Reaksi Orde Nol : K = Laju / [A]0 = MS-1 ( mol L-1 S-1)
b). Reaksi Orde Satu : K = Laju / [A]1 = mol L-1 S-1/(mol L-1)-1 = S-1
c). Reaksi Orde Dua : K = Laju / [A]2 = mol L-1 S-1 /[M] 2 = M-1S-1

3. Reaksinya :
3 SO2 (g) + 3 H2O (l) + HIO3 (aq)

[SO2] M
14,6 . 10-4
7,31 . 10-3
14,6 . 10-4

Orde
Reaksi terhadap A [SO2] : Perc. 1 & 2
V2 / V1 = ( [SO2]1 / [SO2]2)m

3 H2SO4 (aq) + HI (aq)


[HIO3] M
3,6. 10-3
3,6. 10-3
7,21. 10-3

52,8 / 25,8 = ( 14,6. 10-4 / 7,31. 10-3 )m


2 = 2m
m=1

Orde Reaksi terhadap B [HIO3] : Perc. 1 & 3


V3 / V1 = ( [HIO3]1 / [HIO3]3)n
12,6 / 25,8 = ( 3,60. 10-3 / 7,21. 10-3 )n
1/2 = 1/2n
n=1
Page
141

t (detik)
25,8
52,8
12,6


V.

Orde Total : m + n = 1 + 1 = 2

LANDASAN TEORI
Pengukuran laju reaksi merupakan bidang kimia yang menakjubkan. Dari kajian
kinetika, mekanisme reaksi dapat dideduksi. Informasi tentang reaksi katalis maupun
penghambatan hanya dapat diperoleh melalui pengkajian kinetika.
Faktor- faktor yang mempengaruhi laju reaksi
a) Sifat Pereaksi
Salah satu faktor penentu laju reaksi adalah sifat pereaksinya. Ada yang reaktif dan
ada yang kurang reaktif, Misalnya bensin lebih cepat terbakar daripada minyak
tanah.
b) Konsentrasi Pereaksi
Dua molekul yang akan bereaksi harus bertabrakan langsung. Jika konsentrasi
pereaksi diperbesar, berarti kerapatannya bertambah dan akan memperbanyak
kemungkinan tabrakan sehingga akan mempercepat reaksi
c) Suhu
Hampir semua reaksi menjadi lebih cepat bila suhu dinaikkan karena kalor yang
diberikan akan menambah energi kinetik partikel pereaksi. Akibatnya, jumlah dan
energi tabrakan bertambah besar.
d) Katalis
Laju suatu reaksi dapat diubah (umumnya dipercepat) dengan menambah zat yang
disebut katalis. Katalis sangat diperlukan dalam reaksi zat organik, termasuk
organisme. Katalis dalam organism disebut enzim dan dapat mempercepat reaksi
ratusan sampai puluhan ribu kali.
( S. Syukri, 1999 : 468-470)
Laju reaksi adalah banyaknya pereaksi yang berkurang ( hilang) persatuan
waktu. Banyaknya atau produk yang dinyatakan dalam berbagai satuan konsentrasi umumnya
dalam satuan molar (mol/l) (M) dengan notasi []. Misalnya untuk reaksi A
2B, maka
laju reaksi (V) dapat dinyatakan sebagai berikut.
V = - [A] / t
atau
V = + [B] / t
Pada umumnya pernyataan persamaan laju reaksi mengacu pada pereaksinya. Karena
tetapan yang diterapkan berhubungan dengan arah laju reaksi ke kanan.
( Mulyono, 2008 : 221)
Pengaturan kecepatan reaksi

Page
142

Bila ahli kinetika kimia mengatur kecepatan reaksi, hasil reaksinya dinyatakan sebagai
kecepatan perubahan dari jumlah suatu zat yang ada didalam campuran reaksi. Biasanya
pernyataan itu diberikan dalam variabel intensif, yaitu misalnya konsentrasi.
Kecepatan = d [C] / dt
Dimana d [C] / dt adalah kecepatan dari perubahan dengan waktu t dari konsentrasi
produk (C). Dari gambar dibawah ini, kecepatan merupakan kemiringan dari plot konsentrasi
waktu.

c
t

t waktu
( Soeni, 1989 : 99)
Cara mengukur laju reaksi
Salah satu segi penting dari pengkajian kinetika ialah merancang teknik yang mudah untuk memantau
jalannya reaksi menurut waktu. Analisis kimia dengan cara volumetri atau gravimetri relatif lambat,
sehingga cara seperti ini tidak digunakan kecuali bila reaksinya lambat atau dapat dihentikan dengan
pendinginan tiba-tiba atau dengan penambahan pereaksi yang menghentikan reaksi.
Beberapa cara umum digunakan ialah dengan menggunakan sifat warna dan hantaran listrik. Laju
reaksi melibatkan gas ditetapkan dengan mengukur volume gas persatuan waktu. Dalam percobaan ini,
anda menggunakan perubahan warna.
Untuk suatu reaksi hipotesis
2A + 3B

C + 5D

Hukum lajunya :
Laju :

[C] /

t = K [A]n [B]m

Ket : k = tetapan laju


n = orde reaksi untuk A
Page
143

m = orde reaksi untuk B


Orde reaksi keseluruhan = m + n
Orde reaksi hanya dapat ditentukan melalui percobaan, karena angka-angka ini tidak selalu sama
dengan koefisien reaksi (stoikiometri).
Dalam percobaan ini, akan direaksikan natrium trisulfat dengan asam hidroklorida.
S2O32- + 2H+

SO2 + H2

Laju reaksi ini hanya bergantung pada konsentrasi S2O32- , tidak pada konsentrasi asam. Hal ini
dibuktikan dari grafik I/t terhadap S2O32- yang memberikan garis lurus. Grafik ini menyiratkan
bahwa orde reaksi adalah salah satu untuk tiosulfat. Karena konsentrasi asam tidak berpengaruh
maka ordenya adalah nol.
( Epinur, dkk. 2012 : 71-72)
Faktor- faktor yang mempengaruhi laju reaksi
1) Keadaan pereaksi dan luas permukaan
Jika dibandingkan dengan pita magnesium, serbuk magnesium lebih cepat bereaksi
dengan asam sulfat encer. Pada umumnya, makin kecil partikel pereaksi, maka makin
besar permukaan pereaksi yang bersentuhan dalam reaksi, sehingga reaksinya makin
cepat.
2) Konsentrasi
Makin besar konsentrasi, makin cepat laju reaksi, begitupun sebaliknya.
3) Suhu
Jika suhu dinaikkan, laju reaksi bertambah begitupun sebaliknya.
4) Katalis
Katalis dapat mempengaruhi laju reaksi, biasanya katalis mempercepat laju reaksi.
( Achmad, Hiskia. 2001 : 158-159)
VI.

ALAT DAN BAHAN


ALAT
Erlenmeyer
Stopwatch
Tab. Reaksi
Gelas piala
Bunsen & kaki tiga
Termometer
Pipet Tetes
Gelas ukur
Kawat kasa
Page
144

Spritus

BAHAN

Larutan Na2S2O3 (ml) : 25, 20, 15, 10, 5


Larutan Na2S2O3 (M) : 0,15 ; 0,12 ; 0,09 ; 0,06 ; 0,03
Larutan H2O (ml) : 5, 10, 15, 20
Larutan HCI (ml) : 4
Pita Mg
Larutan HCI (M) : 0,6 ; 0,8 ; 1,12 ; 1,4 ; 1,6 ; 1,8 ; 2
Asam oksalat 8 ml 0,1 M
Asam sulfat 2 ml 6M
KMnO4 0,1 M
2 ml H2SO4 1M
1 ml H2SO4 1M
4 ml H2O

Page
145

VII.

PROSEDUR KERJA
A. Orde reaksi dalam reaksi natrium tiosulfat dengan asam hidroklorida

Campuran-campuran zat-zat pereaksi dengan volume


seperti tertera pada tabel 10.1

Dibuat
Dicampurkan larutan tiosulfat dengan air sebelum HCI ditambahkan
Diputar erlenmeyer agar campuran homogen
Dicatat waktu mulai asam ditambahkan sampai saat timbulnya kekeruhan
karena pengendapan berkurang
Dilakukan 2x pengulangan

Komposisi campuran seperti tertera pada tabel


10.2
Dilakukan percobaan
Volume tiosulfat dibuat tetap, volume asam diragamkan
Dibuat grafik ( S2O32- ) terhadap t dan ( S2O32- ) terhadap I/t

Hasil Pengamatan

B. Orde reaksi dalam reaksi antara Magnesium dengan asam hidroklorida

Pita Mg
Dipotong menjadi 16 potong yang panjangnya 2cm
Dimasukkan masing 1 potong logam ke dalam 8 erlenmeyer yang disediakan
Disisihkan dulu 8 potong lainnya
Larutan HCI 2M

Diencerkan sampai konsetrasi seperti tertera pada tabel 10.3


Diencerkan didalam labu takar 100ml
Dituangkan 100ml larutan asam 1ml ke dalam erlenmeyer
Dicatat waktu dengan stopwatch
Page
146

Digoyangkan sekali-kali tabung reaksi agar Mg tetap dalam keadaan bergerak


Dihentikkan segera stopwatch setelah Mg terlarut
Diulangi percobaan ini dengan memasukkan lagi potongan Mg yang lain
Dicatat waktu untuk melarutkan pita Mg
Dibuat grafik i/t terhadap HCI dan i/t terhadap [HCI]

Hasil Pengamatan
C. Pengaruh Suhu terhadap laju reaksi

8 ml asam oksalat 0,1 M dan 2 ml Asam


sulfat 6M

Dimasukkan ke dalam 6 tabung reaksi


Disiapkan 3 gelas piala, diisi sepenuhnya

Gelas Piala 1

Didihkan

Gelas Piala 2

Dipanaskan hingga 50oC

Gelas Piala 3

Tidak dipanaskan
Dimasukkan 2 tabung dalam gelas piala
Setelah 10 menit ditambahkan 3 tetes KMnO4 0,1 M setiap
tabung
Diperhatikan perubahan warna & dicatat waktu & reaksi
dalam setiap tabung

Hasil Pengamatan

Page
147

D. Pengaruh katalis terhadap laju reaksi

6 ml larutan Asam oksalat


Dimasukkan kedalam 6 tabung reaksi

Tabung 1 dan 2

Ditambah 2 ml H2SO4

Tabung 3 dan 4

Ditambah 1 ml H2SO4

Tabung 5 dan 6
Ditambah 4 ml H2O
Larutan KMnO4

Ditetesi 3 tetes ke dalam setiap tabung


Diperhatikan perubahan warna dan dicatat

waktu reaksi

Hasil Pengamatan

VIII. Hasil Pengamatan


A. Orde reaksi dalam reaksi natrium tiosulfat dengan asam hidroklorida
Pengamatan terhadap pengaruh konsentrasi Na-tiosulfat
Na2S2O3
(ml)
25
20
15
10
5

Na2S2O3
(M)
0,15
0,12
0,09
0,06
0,03

H2O
(ml)
5
10
15
20

H2O
(M)
4
4
4
4
4

T (detik)

i/t
( det-1)

22
34
70
85
480

1/22
1/34
1/70
1/85
1/480

Pengamatan terhadap pengaruh konsentrasi asam hidroklorida


Na2S2O3

H2O
(ml)

HCI
(ml)
Page
148

[HCI]
(M)

T (detik)

i/t
( det-1)

(ml)
25
25
25

2
4

5
3
1

3
1,8
0,6

42
51
55

1/42
1/51
1/55

B. Orde reaksi dalam reaksi magnesium dengan asam hidroklorida


Pengamatan terhadap pengaruh konsentrasi Asam Hidroklorida
[HCI]
(M)
0,6
0,8
1
1,2
1,4
1,6
1,8
2,0

HCI
(ml)
100
100
100
100
100
100
100
100

T
(detik)
28
20
8
12
40
12,41
6,5
6,7

i/t
(detik-1)
1/28
1/20
1/8
1/12
1/40
1/12,41
1/6,5
1/6,7

[HCI]2

Log [HCI]

Log i/t

0,36
0,64
1
1,44
1,96
2,56
3,24
4

-0,2218
-0,0969
0
-0,07918
0,146
0,204
0,2552
0,301

-1,447
-1,301
0
-1,079
-1,602
-1,0937
-0,813
-0,826

C. Pengaruh suhu terhadap laju reaksi


Waktu reaksi pada berbagai suhu (detik)
Ulangan

Suhu Reaksi
o

50oC

100 C
1

25oC

20

50

15

1/20

1/50

1/15

2 i/t
Rata-rata

D. Pengaruh katalisis terhadap laju reaksi


Waktu reaksi pada berbagai suhu (detik)
Ulangan

H2SO4
0,5 ml

3,49

2 i/t
Rata-rata

3,47
3,48

1 ml

2 ml
1,55

20,27

2,42

20,25

1,985

20,25

Page
149

IX.

Pembahasan
Laju reaksi adalah besarnya perubahan konsentrasi pereaksi / hasil reaksi persatuan

waktu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi ;
a)
b)
c)
d)

Luas permukaan bidang sentuh


Konsentrasi
Suhu
Katalis

A. Keadaan pereaksi dan luas permukaan


Jika dibandingkan dengan pita magnesium, serbuk magnesium lebih cepat bereaksi
dengan asam sulfat encer. Pada umumnya, makin kecil partikel pereaksi, maka makin
besar permukaan pereaksi yang bersentuhan dalam reaksi, sehingga reaksinya makin
cepat.
B. Konsentrasi
Makin besar konsentrasi, makin cepat laju reaksi, begitupun sebaliknya.
C. Suhu
Jika suhu dinaikkan, laju reaksi bertambah begitupun sebaliknya.
D. Katalis
Katalis dapat mempengaruhi laju reaksi, biasanya katalis mempercepat laju reaksi.
Orde Reaksi dalam reaksi natrium tiosulfat dengan asam hidroklorida
Orde reaksi untuk Natrium tiosulfat
R4 = ( K [Na2S2O3]4 ) m
R5
( K [Na2S2O3]5 )
1/85 =
1/480

( [0,06] )
( [0,03] )

5,6 = 2m
M = 2,5

Mendekati 3

M=3

Orde reaksi untuk HCI


R2 =

K [HCI]2

Page
150

R3

K [HCI]3

1/51 =

[1,8]

1/55

[0,6]

1,1 = 3n
n=0,1
Orde total : m + n

3+ 0,1 = 3,1

Orde reaksi dalam reaksi magnesium dengan asam hidroklorida


m

R1 = K [HCI]1
R2

K [HCI]2

1/28 =

[0,6]

1/20

[0,8]

0,71 = 0,75m

Mendekati 1

1=1 m
M = 1/0
Persamaan reaksi
Mg (s) + 2HCI (aq)

MgCI2 + H2 (g)

grafik [HCl] terhadap t

Page
151

45
40
35
30
25

[HCI] (M)

20

T (detik)

15
10
5
0
1

grafik [HCl]2 terhadap t


4.5
4
3.5
3
2.5

[HCI]2
i/t (detik-1)

2
1.5
1
0.5
0
1

Pengaruh suhu terhadap laju reaksi


Hampir semua reaksi menjadi lebih cepat bila suhu dinaikkan, karena kalor yang
diberikan akan menambah energi kinetik partikel pereaksi. Akibatnya, jumlah dan energi
tabrakan bertambah kecuali enzim yang hanya bisa bekerja pada suhu optimumnya.
Dari percobaan, diperoleh bahwa semakin tinggi suhu semakin cepat laju reaksi.
Dibuktikan dengan kurva (grafik) yang antara laju reaksi dan suhu berbanding lurus.
H2C2O4 + 2KMnO4

H2SO4

K2C2O4 + 2MnO4 + H2
Page
152

Walaupun ada katalis H2SO4 tapi dikarenakan katalis bekerja efektif pada suhu
optimum maka katalis tidak mempengaruhi, faktor utama pengaruhnya adalah suhu.
Yang membuat laju reaksi semakin cepat pada suhu yang semakin tinggi adalah nilai
konstanta, laju reaksi (K)
Pers. Reaksi : K = Ae Ea/RT
Pengaruh katalis terhadap laju reaksi
Sifat-sifat katalis

Katalis tidak bereaksi secara permanen


Jumlah katalis yang diperlukan dalam reaksi sangat sedikit
Katalis tidak memulai suatu reaksi tetapi hanya mempengaruhi lajunya
Katalis tidak mempengaruhi hasil akhir reaksi
Katalis bekerja efektif pada suhu optimum
H2C2O4 + 2KMnO4

H2SO4

K2C2O4 + 2MnO4 + H2

Terbukti dengan zat yang tidak diberi katalis akan bereaksi lambat dibandingkan
yang diberi katalis. Katalis hanya mempengaruhi laju reaksi secara spesifik. Berarti suatu
katalis mempengaruhi laju reaksi satu / sejenis reaksi dan tidak dapat untuk reaksi jenis
lain.

X.

Diskusi
A. Orde reaksi dalam reaksi natrium tiosulfat dengan asam hidroklorida
Orde reaksi : Bilangan pangkat yang menyatakan naiknya laju reaksi akibat naiknya
konsentrasi
Orde reaksi Na2S2O3 dengan HCI 3,1
Na2S2O3 (aq) + 2HCI (aq)

2NaCI (aq) + SO2 (g) + S (s) + H2O (l)

Semakin besar konsentrasi, maka laju reaksi akan semakin cepat kecuali pada
karena pada orde nol, konsentrasi tidak berpengaruh.
B. Orde reaksi dalam reaksi Mg dengan asam hidroklorida
Orde reaksi Mg dengan HCI adalah 1/0
Mg (s) + HCI (aq)

MgCI2 (aq) + H2 (g)

Page
153

orde nol,

Pada saat pita dimasukkan kedalam larutan HCI terdapat gelembung gas H2 dan
pita Mg semakin lama semakin menghilang
Ini menunjukkan bahwa Mg ditambah HCI bereaksi
Semakin besar konsentrasi laju reaksi, semakin cepat kecuali pada orde nol.
Karena kita mengukurnya dengan waktu, maka untuk mendapatkan laju reaksi
dengan i/t

C. Pengaruh Suhu terhadap Laju reaksi


Jika suhu dinaikkan maka laju reaksi bertambah, ini dibuktikan dengan kurva (grafik)
yang antara laju reaksi dan suhu berbanding lurus.
H2C2O4 + 2 KMnO4
K2C2O4 + 2MnO4 + H2
Yang mmbuat laju reaksi semakin cepat pada suhu yang semakin tinggi adalah nilai
konstanta laju reaksi.
Pers. K = Ae Ea/RT
D. Pengaruh katalis terhadap laju reaksi
Katalis merupakan zat yang dapat mempercepat terjadinya reaksi. Hal ini karena
katalis akan menurunkan energi pengaktifan reaksi. Dalam mempercepat reaksi katalis
tidak ikut bereaksi dan katalis dapat terbentuk lagi pada akhir reaksi. Jadi, dngan
penambahan katalis akan dapat mempercepat laju reaksi. Suatu reaksi yang
menggunakan katalis dan prosesnya disebut katalisme.

XI.

Pertanyaan Pasca Praktek


1. Tuliskan persamaan reaksi pada percobaan C. Apakah H2SO4 dalam percobaan ini
dapat dikatakan katalis?
Jawab :
H2C2O4 + 2 KMnO4
K2C2O4 + 2MnO4 + H2
Bisa, tapi dikarenakan sifat katalis yang bekerja efektif pada suhu optimum maka
katalis pada percobaan ini tidak begitu mempengaruhi.
2. Tuliskan persamaan reaksi pada percobaan D. Jelaskan mekanisme kerja H2SO4
sebagai katalis dalam reaksi ini ?
Jawab :
H2C2O4 + 2 KMnO4
K2C2O4 + 2MnO4 + H2
Katalis mempengaruhi, terbukti dengan zat yang tidak diberi katalis dengan
diberikan katalis, yang lebih cepat laju reaksinya adalah yang diberi katalis. H2SO4 tidak
mempengaruhi hasil reaksi tapi hanya mempercepat laju reaksinya.

XII.

Kesimpulan
Page
154

Semakin besar konsentrasi pereaksi maka waktu yang dibutuhkan akan semakin
kecil. Laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi.
Konsentrasi
Jika konsentrasi pereaksi diperbesar, berarti kerapatannya bertambah dan akan
memperbanyak kemungkinan tabrakan sehingga akan mempercpat reaksi.
Suhu
Jika suhu dinaikkan, laju reaksi semakin cepat kecuali pada saat-saat tertentu,
misalnya pada enzim.
Katalis
Semakin banyak katalis maka laju reaksi akan semakin cepat. Katalis tidak bereaksi
secara permanen. Katalis tidak memulai suatu reaksi tetapi hanya mempengaruhi
lajunya.
Hukum laju reaksi ditentukan dengan persamaan
R = K [A]m [B]n

XIII. Daftar Pustaka


Achmad, Hiskia. 2001 .Elektrokimia dan Kinetika Kimia. Bandung : PT.Citra Aditya bakti.
Drs. Epinur, dkk. 2011 . Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Jambi : Universitas Jambi.
Ham, Mulyono. 2008. Kamus Kimia. Jakarta : Bumi Aksara.
Respati. 1986. Dasar-dasar ilmu kimia untuk Universitas. Bandung : Yudishtira.
Soeni, Ms. 1989. Kimia Fisik I . Bandung : ITB Press.

Page
155

PERCOBAAN 11

I.
II.
III.

JUDUL
: Perbandingan Senyawa Ionik Dan Kovalen
HARI/TANGGAL: RABU,29 MEI 2013
TUJUAN
1. Mengenal perbedaan antara senyawa kovalen dengan ionic
2. Mempelajari jenis ikatan dan struktur molekul yang
mempengaruhi senyawa secara langsung
3. Membandingkan sifat fisis dan kimia beberapa pasang isomer
4. Mempersiakan diri untuk memasuki praktikum kimia organik

IV.

PERTANYAAN PRAPRAKTIKUM
1. Apa sebabnya air disebut molekul polar ? jelaskan dwikutub air berdasarkan bentuk
molekulnya.
Jawab :
Karena air memiliki kutub polar sehngga dapat melarutkan senyawa polar
Bentuk molekul air (H2O) adalah bentuk huruf U (non linear) sebesar 104,50 .
kedua,asam hydrogen lebih cenderung lemah dibandingkan atom oksigen sehingga
ikatan lebih cenderung kea rah atom O.Dwikutub yang terbentuk ini dapat
melarutkan senyawa polar dan non polar sehingga air disebut pelarut universal.
2. Tuliskan beberapa perbedaan senyawa ionic dan kovalen.
Jawab :
# senyawa ionic

#senyawa kovalen
Page
156

Mempunyai titik leleh dan


Titik didih tinggi
Cairan dan larutannya dapat
Menghantarkan listrik
Pada suhu kamar berwujud
Padat

* titik leleh dan titik didih rendah


* cairan dan larutannya tidak dapat
menghantarkan listrik
* pada suhu kamar berwujud zat padat,
cair,dan gas

3. Gambarkan struktur isomer dari C3H6Cl12 (gambarkan setiap ikatan dengan


garis).Apakah setiap isomer mempunyai ikatan yang sama.Berapa jumlahnya?
Jawab :
H Cl H
H C

H Cl H

H
H

Cl

Cl

Cl Cl
C

C C

H
H

Cl

H
C

H
C Cl

H H
H
H
H
H
4. Diantara senyawa-senyawa berikut ini :
MgCl2,C4H10,Li2O,SO3,C3H3,PCL3,dan HCl.Tentukan mana senyawa ionic dan mana
senyawa kovalen.
Jawab :
Senyawa ionic
: MgCl2,Li2O,
Senyawa kovalen
: C4H10,SO3,C3H8,PCl3,HCl

V.

5. Gambarkan ikatan rantai lurus dan siklik dari C 4H8 (setiap ikatan digambar dengan
garis).
Jawab :
Ikatan rantai lurus
CH2 = CH-CH2-CH3 ( 1- butena )
Ikatan rantai siklik
CH2 CH2
CH2 CH2
LADASAN TEORI
Gaya antar partikel terdiri dari :
Page
157

1. Ikatan logam adalah ikatan antar atom dalam logam


Makin banyak electron yang dipakai dalam ikatan logam,titik leleh makin tinggi.
2. Cahaya vander walls adalh gaya molekul dalam senyawa kovalen
Untuk molekul polar disebut gaya antar dipole
Untuk molekul non polar disebut gaya London (dipole sesaat).dalam hal ini makin
besar Mr senyawa kovalen gaya vanderwalls makin makin kuat sehingga titik didih
makin tinggi.
3. Ikatan hydrogen adalah ikatan antar atom yang sangat elektromagnetif (F,O dan N )
dengan H yang teikat pada atom F,O dan N pada molekul yang lain.
Kekuatan hydrogen lebih besar dari pada gaya vonderwalls sehingga senyawa
yang mengandung ikatan hydrogen mempunyai titk didih lebih tinggi dari pada MR
nya ( sukardjo : 1997 ).
Ikatan ion dapat dikatakan jauh lebih kuat daripada ikatan kovalen karena ikatan
ionic terbentuk akibat gaya tarik listrik (gaya coulomb).sedangkan ikatan kovalen
terbentuk karena pemakaian electron ikatan bersama.
Ikatan kovalen koordiant terjadi apabila pasangan electron yang dipakai berasal
dari senbarangan salah satu atom yang berkaitan.ikatan kovalen koordinat dikenal juga
sebagai ikatan semi polar.ikatan kovalen koordinat dinyatakan dengan garis berpindah
dari atom donor menuju akseptor pasangan elelktron bebas ( wati : 2005 ).
Ikatan ion lebih kuat dari pada ikatan kovalen karena ikatan ion terjadi akibat
gaya coulomb.sedangkan ikatan kovalen terjadi karena pemakaian bersama pasangan
electron bebas.perbandingan senyawa ion dan senyawa kovalen.

Senyawa ion
- Mempunyai titik didh dan titik leleh yang tinggi
- Ciran dan larutannya dapat meghantarkan listrik
- Pada suhu kamar semua senyawa berwujud padat
Senyawa kovalen
- Mempunyai titik didih dan titik leleh rendah
- Cairan dan larutannya tidak dapat menghantarkan listrik
- Pada suhu kamar ada yang bewujud padat,cair dan gas
(sudarmanto : 1997)

Atom yang cenderung melepas elekron bertemu dengan electron yang electron
yang
cenderung menerima electron akan membentuk ikatan ion.ikatan ion adalah adalah ikatan antara
ion positif dan negative,karena partikel yang muatannya berlawanan tarik menarik.ion positif
dan negative dapat terbentuk bila terjadi serah terima electron antar atom.atom yang melepas
electron akan menjadi ion positif,dan sebaliknya.yang menerima electron menjadi ion negative
( syukri : 1998 ).
Ciri-ciri ikatan ion yaitu :
Page
158

Ikatan ion terbentuk karena adanya perpindahan electron antara sebuah atom logam
(+) dan atom non logam (-)
Atom bukan lpgam memperoleh sejumlah electron yang cukup menghasilkan anion
dengan konvigurasi electron ga mulia.
Kecuali dalam keadaan gas,senyawa ion tidak tersusun dari pasangan ion sederhana
atau sekalompok kecil ion.
Yang dimaksud suatu senyawa ionic adalah sekelompok terkecil ion-ion yang
kemudian listrik netral.
(sura : 2000 )

Dalam struktur leewis Nacl dan Hcl dan atom cl memperoleh konfigurasi gas mulia.Na
labih bersifat logam daripada hydrogen.hydrogen bukan logam pada keadaan normal , hidrogen
tidak memberikan elektronnya pada atom bukan logam lainnya pembentukan ikatan antara H
dan cl melibatkan pemakaian bersama elektron menghasilkan ikatan kovalen beberapa unsur
gas tidak merupakan kumpulan atom berisolasi tetapi berbentuk molekul , misalnya
H2,Cl2,N2,dan O2 (Ansyori : 2000 ).
VI.

ALAT DAN BAHAN


5.1 Alat
Tabung kapilaer
Karet gelang
Pengaduk
Tabung reaksi
Pipet tetes
Gelas piala
Sudip spritus
5.2 Bahan
Naftalen C10H8
P-diklorobenzena
Air raksa
Air suling
Nacl
Kalium iodide
KI
MgsO4
N-butil alcohol
Logam natrium
Isoprofil alcohol
Karbon tetraklorida
N-heksana
N-dekana
Page
159

Minyak bumi
O-diklorobenzena
P-diklobenzena
Alcohol
Detil eter

VII.
PROSEDUR KERJA
A. Perbandingantitikleleh
a. SenyawaKovalen

Disusun
Ditentukantitiklelehnyadannaftalen CHHdan
P-diklorobenzena

Radastitikleleh

Hasil
Cara penentuantitikleleh

Naftalen, CH P-Diklorobenzena CHC


-

Dimasukandalamtabungkapiler
Disejajarkanujungpipakapilerdenganujung air raksa
Dipanaskanpenangas air sehingga Hg dalam thermometer naiksekitar
10C/menit
Dicatatsuhusaasuhumeleleh

Hasil
b. Senyawaionik

NaCl, kaliumklorida, KI,MGSO


- Ditentukandengan hand book

Hasil

B. Perbandingankelarutan

0,5 gr isopropyl alcohol dan 5 senyawa yang adapadapercobaan I


- Disediakan 6 tabungreaksi
- Dimasukkanmasing-masing 6 senyawakita 0,5 g
Page
160

1 ml air

- Dimasukkankedalamtabungreaksitadi
- Diamatipadapercobaantersebut
- Diulangidenganmenggunakantetraklorida
C. Senyawakarbonberantai, lurusdanlingkar (cincin)

n-heksana dan sikloheksana


Dibandingkansifatfisis
Diteteskanmasing-masing n-heksana, n dekanadanminyakbumiuntuk
Membandingkankekentalan

Hasil
D. Isomer

p-diklorobenzena, p-diklorobenzena
-

Dibandingkandandicatat baud an wujudnya

n-butil alcohol dan t-butil alcohol


-

Dicatatdandibandingkanbaunya

Ditentukankelarutandenganmeneteskanlebihkurang 15 tetesketabungreaksi

n-butil alcohol dan t-butilalkohol

- Dibandingkansifatkimia
-

Dimasukkan 1 ml dalamtabung
Ditambahkansepotonglogamnatrium
Dicatatlajupembuatangelembung
Dituang alcohol dannatrium
Dimasukkandalamgelaspiala

Dicatatbaunya

Dibandingkandenganbau alcohol

Diteteskanpadasudipdanbakarpadanyalabunsen

Dietileter

Page
161

Dicatat waktu terbakarnya

VIII. DATA PENGAMATAN


A. Perbandinan Titik Leleh
a. Senyawa kovalen
Senyawa kovalen
Naftalena C10H8
p-diklorobenzena

Titik leleh
86oC
-

Titik leleh pustaka


79-81oC

b. Senyawa ionik
Senyawa ionik
1. Garam dapur, NaCl
2. KI
3. MgSO4

Titik leleh pustaka


801oC
681oC
1124oC

B. Perbandingan Kelarutan
Senyawa
1.
2.
3.
4.
5.

Isopropil alkohol (CH3)2CHOH


Naftalena C10H8
NaCl
KI
MgSO4

Kelarutan
Air
Karbon tetraklorida
X
X
Tidak larut
X
X
Tidak larut
X
Tidak larut
X
Tidak larut

C. Senyawa Karbon Berantai Lurus Dan Lingkar (Cincin)


Senyawa
1. n-Heksana
2. sikloheksana
Senyawa
1. n-Heksana
2. sikloheksana
3. n-Heptana
Catatan : untuk taraf kekentalan
1. sangat kental
2. kental
3. kurang kental
4. tidak kental

Warna
Bening
Bening
Warna
Bening
Bening
Bening

Page
162

Bau
Menyengat
Tidak menyengat
Bau
Menyengat
Tidak menyengat
Halus

D. Isomer
Sifat fisis
1.
2.
3.
4.

Senyawa
o-Diklorobenzena
p-Diklorobenzen
n-Butil alkohol
t-Butil alkohol

Warna
Bening keruh
Bening

Sifat kelarutan
Senyawa
1. n-Butil alkohol
2. t-Butil alkohol

Kejenuhun larutan (tetes)


15
15

Sifat kimia
Senyawa
1. Dietil eter
2. n-Butil alkohol
3. t-Butil alkohol

IX.

Bau
Sedikit menyengat, harum
Sedikit menyengat, lembut

Bau
Sangat menyengat
Agak menyengat
Menyengat harum

Kecepatan terbakar
0,1 s
0,72 s
2s

PEMBAHASAN
Senyawa terbentuk karena adanya tarik menarik yang terjadi antara atom yang disebut
dengan ikatan kimia.ikatan kimia terjadi karena kecendrungan atom mempunyai
konfigurasielektron seperti gas mulia.kecendrungan tersebut melahirkan atau memunculkan
berbagai jenis ikatan,terutama ikatan ion dan kovalen.ikatan ion terjadi karena adanya serah
terima electron antara logam dan logam,sedangkan ikatan kovalen adalah ikatan yang terjadi
karena pemakaian bersama pasangan electron,dan terjadi antara unsure logam dengan non
logam.
Percobaan ini adalah untuk membandingkan senyawa ionic dengan senyawa
kovalen.perbedaan yang mencolok antara keduanya adalah terdapat pada titik
leleh,kelarutan maupun hantaran listrik.selain membandingkan senyawa ionic dan
kovalen ,percobaan ini juga bertujuan untuk membandingkan sifat fisis dan kimia beberapa
pasang isomer.
A. Perbandingan titik leleh
Untuk membandingkan senyawa ion dan kovalen,digunakan naftalena ( C 10H8 )
yang merupakan senyawa kovalen.sedangkan senyawa ion tidak dapat dilakukan melalui
percobaan radas.untuk itu percobaan ini menggunakan handbook untuk senyawa
ionic.untuk mengetahui titk leleh C10H8,percobaan ini memerlukan alat berupa
Page
163

radas,yaitu seperangkat alat labor yang terdiri dari gelas piala,thermometer,tabung


reaksi,tabung kapilaer,statif,klem penjepit,pembakar spritus,dan karet gelang yang
dirancang sedemikian rupa.
Naftalena yang digunakan adalah dalam bentuk bubuk dan dimasukkan kedalam
tabung kapiler,lalu diikat ke thermometer dan di masukkan ke tabung reaksi kemudian
dimasukkan kedalam gelas piala yang telah diisi air.setelah C 10H8 di pastikan berada di
bawah permukaan air,api spirtus dapat di hidupkan .degan menaikan suhu air, maka
naftalena ikut meleleh, akibat pengaruh suhu luar.setelah di panaskan, ternyata praktikan
mendapatkan bahwa titik leleh dari naftalena adalah 86 0c.sedangkan berdasarkan
literature titik leleh dari naftalena adalah berkisar 79-810c.
Kemudian,untuk senyawa ion,titik lelehnya diketahui berdasarkan literature
didapat bahwa titik leleh Nacl adalah 801 0c, titik leleh KI adalah 6810c,dan titik leleh
MgSO4 adalah 11240c. Dapat dilihat bahwa titik leleh dari senyawa ionic sangat tinggi
dan lebih tinggi daripada senyawa kovalen. Hal ini dikarenakan daya tarik antara ion
yang muatannya berlwanan. Akibatnya titik lebur dan didih senyawa ion lebih tinggi
dibandingkan senyawa kovalen.
B. Perbandingan kelarutan
Untuk mengetahui bagaimana kelarutan dari senyawa ion dan senyawa kovalen
pada percobaan ini digunakan senyawa isopropil alcohol (CH3)2CHOH,Naftalena
C10H8,Nacl,KI,dan MgSO4.Dari elima senyawa tersebut,ternyata yang dapat larut dalam
air adalah isopropyl alcohol,Nacl,KI,dan MgSO4.Sedangkan senyawa yang dapat larut
dalam karbon tetraklorida ( CCL2 ) adalah isopropyl alcohol dan naftalena.
Dapat dilihat bahwa Nacl,KI,dan MgSO 4 adalah senyawa ion,ketiga senyawa
tersebut larut dalam air.Air adalah pelarut polar.Senyawa Nacl,KI,MgSO 4 dapat larut
dalam air karena molekul pelarut menghadapkan kutub negative (oksigen pada molekul
air) ke ion positif,dan sebagian menghadapkan kutub positifnya (hydrogen) ke ion
negative.Akhirnya ion-ion berpisah satu sama lain.
Untuk senyawa kovalen seperti isopropyl alcohol dan naftalena larut dalam CCL 4
yang merupakan pelarut non polar.Hal ini disebabkan PEI (pasangan electron ikatan)
pada ikatan kovalen tertarik sama kuat kea rah atom-atom yang
berikatan.Sehinggaterbentuk
atom-atom
unsure
yang
mempunyai
beda
keelektronegatifan nol atau memiliki bentuk molekul simetris.
C. Senyawa karbon yang berantai lurus dan melingkar
Senyawa karbon adalah senyawa yang unsure penyusunnya terdiri dari karbon ( C
) hydrogen ( H ),selain itu unsure lainnya oksigen,nitrogen,fosforus,halogen dan
beberapa unsure logam.Pada percobaan ini praktikan membandingkan senyawa karbon
yang digunakan adalah n-heksana,sikloheksana,n-heksana,dan n-heptana.Yang
dibandingkan melalui warna tampak dan bau serta kekentalannya.
Berdasarkan warna yang tampak,n-heksana dan sikloheksana,keduanya berwarna
bening.Sedangkan berdasarkan baunya,n-heksana memiliki bau yang menyengat
sedangkan sikloheksana baunya tidak menyengat.selain dibandingkan melainkan
Page
164

kenampakan dan bau,dapat juga melalui kekentalannya,yaitu kejenuhan larutan.Terjadi


dari percobaan yang telah dilakukan,n-heksana,sikloheksana dan n-heptana semuanya
tidak kental.
D. Isomer
Isomer adalah senyawa yang memiliki rumus molekul sama tetapi rumus
strukturnya berbeda.Senyawa yang digunakan pada percobaan ini adalah n-butil
alcohol,t-butil alcohol dan dietil eter.Antara n-butil alcohol dan t-butil alcohol
dibandingkan dari baud an kelarutannya.berdasarkan baunya,n-butil alcohol memiliki
bau yang harum tetapi tidak menyenyengat,sedangkan t-butil alcohol memiliki bau yang
lembut tetapi agak menyangat.Senyawa alcohol ini memiliki bau karena senyawa
alcohol merupakan senyawa organikyang mengandung atom C yang mudah terurai oleh
udara.
Berdasarkan larutannya,pada hasil percobaan ternyata dibutuhkan 15 tetes t-butil
alcohol dan 15 tetes n butyl alcohol agar dapat berubah keruh dalam air.Dan berdasarkan
sifat kimianya,senyawa dietil eter memiliki bau yang sangat menyengat,n-butil alcohol
berbau agak menyangat,dan t-butil alcohol berbau menyangat harum.Selain berdasarkan
bau,senyawa dietil eter,n-butil alcohol dan t-butil alcohol dapat juga dibandingkan
berdasarkan kecepatan terbakarnya.ternyata senyawa dietil eter terbakar selama 0,1
detik,senyawa n-butil alcohol terbakar selama 0,72 detik,dan senyawa t-butil alcohol
terbakar selam 2 detik.hal ini dikarenakan senyawa organic dietil eter,n-butil alcohol dan
t-butil alcohol mengandung karbon dan hydrogen sehingga menyebabkan mudah
bereaksi dengan oksigen membentuk H2O dan CO2 pada saat pembakaran.adapun
reaksinya
Pembakaran dietil eter
C4H10O + 6O2 4CO2 + 5H2O
Pembakaran n-butil alcohol dan t-butil alcohol
C5H12O + 15CO2 5CO2 + 6H2O
2
2C5H12O + 15O2 10CO2 + 12H2O
X.

DISKUSI
Pada percobaan kali ini,praktikan membandingkan senyawa ionic dengan senyawa
kovalen berdasarkan perbedaan titik leleh, kelarutan, keisomeran, bau, warna, maupun
kemudahannya untuk terbakar.Pada percobaan ini ada yang langsung dipraktikkan dan ada
yang tidak,seperti untuk penentuan titik leleh senyawa ion tidak dilakukan karena senyawa
ion memiliki titik leleh yang sangat tinggi yang sangat sulit dan tidak mungkin dilakukan di
laboratorium biasa. Karena senyawa ion memiliki ikatan antara ion-ion dengan gaya
elektrostatis sangat kuat dengan susunan Kristal tertentu dan teratur.Oleh karena
itu,praktikan hanya dapat membandingkan dengan data toritis yang didapat dari literature.
Pada percobaan ini,terdapat beberapa kesalahan,contohnya pada penentua titik
leleh, dimana titik leleh naftalena hasil percobaan adalah 86 0c,sedangkan pada teoritis titik
Page
165

leleh naftalena adalah 790c-810c.Selain itu,pada reaksi pembakaran,dan kejenuhan


larutan,dimana air mengeruh pada saat n-butil alcohol dan t-butil alcohol diteteskan
sebanyak 15 tetes.
Perbedaan hasil percobaan yang dilakukan dengan teoritisini dapat disebabkan
olehfaktor teknis dan nonteknis,yaitu dapat berasal dari kesalahan praktikan.Seperti
kesalahan pembacaan alat laboratorium,kesalahan penggunaan alat,ketidak telitian melhat
hasil reaksi,serta ketidak bersihan alat yang digunakan.Selain itu factor yang lingkungan
juga dapat mempengaruhi,seperti tekanan uadara dan suhu.
XI.

PERTANYAAN PASCA PRAKTIKUM


1. Manakah yanglebih tinggi titik lelehnya,kalsium klorida,cacl,atau asetil
klorida,CH3C(O)Cl ? jelaskan alas an ramalan anda !
Jawab :
Yang lebih tinggi titik lelehnya adalah cacl2,karena cacl2 adalah senyawa
ionic,sedangkan CH3COCl adalah senyawa kovalen.Hal ini menyebabkan gaya tarik
vanderwall,antara molekul senyawa lebih rendah dibandingkan senyawa ion.Karena itu
hanya sedikit energy yang diperlukan oleh molekul senyawa kovalen untuk merusak
keadaan padatannya yang teratur dan berubah manjadi keadaan cair yang lebih acak.
2. Mengapa naftalena tidak larut dalam air ?
Jawab :
Karena naftalena adalah senyawa kovalen dan bersifat nonpolar sehingga hanya bisa
larut pada pelarut non polar pula,sedangkan air bersifat polar.
3. Mengapa senyawa ionic tidak larut dalam heksana ?
Jawab :
Karena senyawa ionic hanya larut dalam pelarut polar seperti air,karena untuk membuat
senyawa ionic larut,pelarut harus memiliki kutub-kutub positifdan negative yang dapat
berikatan dengan anion dan kationdari senyawa ionic.
4. Dietil eter larut dalam air.Jelaskan peranan air dalam pelarut eter ?
Jawab :
Air sukar melarutkan dietil eter dikarenakan adanya daya kepolaran kecil dan kurang
reaktif atau bisa juga karena dietil eter molekulnya tidak begitu polar.
5. Gambarkan 2 isomer eter dari etil eter !
Jawab :
C2H5 O
C2H5 dietil eter
CH3
O
C3H8 metal propel eter

XII.

KESIMPULAN
Senyawa ionic terjadi Karena adanya serah terima electron antara atom-atom dalam
suatu senyawa.senyawa kovalen terjadi karena adanya pemakaian bersama electron.
Perbedaan fisis antara senyawa ionic dan kovalen terdapat pada titik leleh,dan
hantaran listriknya.
Page
166

XIII.

Perbedaan sifat fisika dan kimia pada senyawa ion dan senyawa kovalen dipengaruhi
oleh jenis ikatannya dan struktur molekulnya.
Isomer adalah beberapa molekul dengan rumus molekul yang sama tetapi berbeda
struktur molekulnya.Perbedaan sifat fisis dan kimia senyawa isomer dapat diketahui
melalui kenampakannya (warna),bau,atau kejenuhannya.

DAFTAR PUSTAKA
Ansyori,Irfan.2000.Acuan Pembelajaran Kimia.Jakarta:Erlangga
Sudarmanto.1997.Inti Sari Kimia.jakarta:Erlangga
Sukardjo.1997.Kimia Organik II.Bandung:ITB
Suro.1997.Kmia Organik.Yogyakarta:Rineka Cipta
Syukri.1998.Kimia Dassar.Bandung:ITB
Wati,Sulistyo.2005.Belajar Kimia.Jakarta:Yudhistira

Page
167

PERCOBAAN 12
I.JUDUL
II.
HARI/TANGGAL
III.
TUJUAN

IV.

: Identifikasi Gugus Fungsi


: Rabu, 5 Juni 2013
:
1. Mengenal sifat fisis dan kimia alkohol, aldehida, keton, asam
karboksilat, hlida, senyawa nitro, dan ester.
2. Melakukan uji yang khas untuk gugus fungsi

PERTANYAAN PRAPRAKTIK
1. Bagaimana membedakan alkohol dengan hidrokarbon?
Jawab :
Alkohol merupakan senyawa hidrokarbon dengan satu atom H disubstitusikan oleh
satu gugus OH sedangkan hidrokarbon merupakan senyawa yang terdiri dari atom C
dan H
2. Mengapa alkohol mempunyai sifat diantra hidrokarbon dan air?
Jawab :
Karena selalu bisa dibuat dari substitusi atom H dari senyawa hidrokarbon, juga dapat
dibuat dari subtitusi atom H pada H2O dengan atom H disubstitusi oleh alkil
3. a. Bagaimana cara membuat ester di laboraturium?
Jawab : Dengan cara mereaksikan asam karboksilat dengan alkohol
b. Bagaimana cara membuat asam karboksilat di laboraturium ?
Jawab : dengan cara mengoksidasi aldehida atau alkohol
4. Tuliskan rumus molekul aldehida yang terbentuk dari oksidasi alkohol?
Jawab :
O
R-CH2-OH + O2
R-C-H + H2O
RM = CnH2nO
5. Bagaimana membedakan asam organik dari basa organik?
Jawab :
Asam organik didapat dengan mengoksidasi alkohol/aldehida. Basa organik
umumnya mengandung gugus fungsi NH2. Asam memiliki pH rendah, sedangkan
basa memiliki pH tinggi.
6. Tuliskan rumus mokekul asam yang terbentuk dari oksidasi etanol!
Jawab :
O
O
[O]
[O]
R-OH
R-C-H
R-C-OH
Page
168

V.

LANDASAN TEORI
Senyawa organik menunjukkan sifat kimia dan fisika yang sangat berbeda karena
strukturnya berbeda. Beberapa diantaranya berwujud padat, sebagian berwujud cair, dan ada pula
gas. Ada yang rasanya manis, ada pula yang asam. Ada yang beracun, ada yang sangat penting
untuk kehidupan. Tiga prinsip sederhana yang dapat memberikan pengertian dasar tentang
struktur dan kimiawi molekul organik ialah :
1. Atom karbon dapat membentuk ikatan kovalen dengan atom hidrogen
2. Atom karbon dapat membentuk ikatan kovalen dengan atom karbon lain untuk membangun
rantai karbon
3. Atom karbon dapat membentuk ikatan kovalen dengan unsur lain, terutama oksigen,
nitrogen, belerang, dan halogen
Pada umumnya kimia organik melibatkan substituen yang menempel pada rantai
hidrokarbon. Substituen ini, yang biasanya mengandung oksigen, nitrogen, sulfur atau fosfor,
dinamakan gugus fungsi, yakni bagian suatu molekul yang berfungsi secara kimia (Wilbraham.
1992 : 24-51).
Alkohol merupakan senyawa yang mempunyai rumus R-OH, dimana R adalah gugus alkil
atau alkil tersubstitusi. Gugus ini dapat merupakan rantai terbuka, tertutp (siklis) dan dapat
mempunyai ikatan rangkap atau mengikat gugus aromatik. Semua alkohol mengandung gugs OH
yang merupakan gugs fungsional. Titik didih alkohol jauh lebih tinggi dari titik didih alkana yang
mempunyai atom C sama. Ini disebabkan dalam keadaan cair molekul-molekul alkohol
terasosiasi, makin banyak atom C makin tinggi titik didih. Alkohol mempunyai berat jenis yang
lebih tinggi daripada alkana tetapi masih lebih rendah daripada air (Respati. 1986 : 128-129).
Berdasarkan letak OH pada rantai hidrokarbon, alkohol dapat dibagi atas tiga golongan,
yaitu :
1. Alkohol primer
: CH3-CH2-OH
2. Alkohol sekunder : CH3-CH-CH3
OH

3. Alkohol tersier

CH3
CH3 C CH3
OH
(Epinur. 2012 : 83).

Aldehida dan keton mengandung gugs karbonil C=O. Jika kedua gugs yang menempel pada
gugus karbonal adalah gugs-gugus karbon, maka disebut keton. Jika salah satu dari kedua gugs
tersebut hidrogen, termasuk aldehida :
Page
169

Oksidasi dari alkohol menghasilkan aldehida (oksidasi lanjutannya menghasilkan asam


karboksilat). Oksidasi alkohol sekunder menmberikan keton.
Cr2O72-

CH3CH2OH
Etanol
(alkohol primer)

Cr2O72-

CH3CHO
asetaldehida

CH3CO2H
asam asetat

Cr2O72-

CH3CH2OHCH3
2 propanol
(alkohol sekunder)

CH3COCH3
propanon
(keton)
(Petrucci. 1987 : 270-271).

Ester diturunkan dari asam dengan mengganti gugus OH oleh gugus OR. Erster dinamai
dengan cara yang sama dengan garam asam karboksilatnya. Bagian R dari gugus OR ditulis
dahulu, diikuti dengan nama asam dengan akhiran at tidak berubah.
Ester dinamai dengan dua kata dan tidak gabung. Kebanyakan ester merupakan zat berbau
enak dan menyebabkan cita rasa dan harus dari banyak buah-buahan dan bunga.
CH3COOCH3Metil asetat

CH3COOCH2CH3 etil asetat

Pada kondisi-kondisi yang tidak sesuai baik lakohol maupun aldehid dapat dioksidasi
menjadi asam karboksilat tersebar luas di atom. Asam ini ditemukan baik dalam tumbuhan dan
binatang. Semua molekul protein terbuat di asam amino. Jenis khusus asam karboksilat yang
mengandung gugus amino NH2 dan gugus karboksil (-COOH).
Tidak seperti asam anorganik HCl, HNO3, dan H2SO4, asam karboksilat pada umumnya
merupakan asam lemah. Asam karboksilat bereaksi dengan alkohol untuk membentuk ester yang
baunya sedap.
CH3COOH + HOCH2CH3

CH3COOC2H5 + H2O

Dan pembentukan halida asam :


CH3COOH + PCl5

CH3COCl + HCl + POCl3

Halida asam merupakan senyawa reaktif yang digunakan sehingga zat antara dalam
pembuatan banyak senyawa organik lainnya (Chang. 2004 : 352-353).

Page
170

VI.

ALAT DAN BAHAN


VI.1
Alat
- Tabung reaksi
- Pipet tetes
- Pembakar spritus
- Batang pengaduk
- Kertas lakmus
- Stopwatch
VI.2
-

VII.

Bahan
Alkohol
Air
NaOH 10 %
I2/KI 10%
K2Cr2O7 0,1 M
H2SO4 pekat
Aldehida
NaHSO3 40%
H2SO4 3 M

- Asam organik dan basa


- Kristal asam salisilat
- NaHCO3 10%
- KMnO4 0,1M
- Etanol
- Senyawa Nitrobenzena
- Fe(NH4)2(SO4)2
- KOH 15%

PROSEDUR KERJA
1. Alkohol

5 mL air

dimasukkan dalam

Tabung reaksi

dilarutkan

0,5 mL alkohol

ditambahkan
Alkohol dalam tabung
tabung reaksi

5 mL NaOH 10%
diteteskan

Tabung digoyang

I2/KI 10%

Warna coklat I2
tabung reaksi dipanaskan, suhu tidak > 60o C
I2/KI ditambahkan lagi

Warna coklat tua bertahan selamaPage


2 menit
171

Tabung reaksi menjadi dingin


ditambahkan
beberapa tetes

Tabung digoyang
diisi aquades
dibiarkan 10 menit
Kristal CHI3 timbul
2. Oksidasi alkohol

2 mL K2Cr2O7 0,1 M

dituang ke dalam

Tabung reaksi
1 mL H2SO4 ditambahkan
diaduk
Semua larut

didinginkan

2 mL alkohol
ditambahkan
Terjadi perubahan warna dan bau
3. Aldehida dan keton
Aldehida 1 mL + NaHSO3 40% 3 mL
didalam
Tabung reaksi
ditambahkan
1 tetes alkohol
digoyangkan
Terbentuk senyawa padat
ditambahkan

3 mL air suling
Page
172

Ulangi percobaan dengan keton

NaOH 10%

4. Asam dan basa


Keasaman
0,1 gr asam/basa organik

atau

4/5 tetes asam/basa organik

1 mL air suling dalam


tabung reaksi
diuji pH dengan kertas lakmus

Dekarboksilasi

2 mL NaHCO3 10%
ditambahkan pada
0,2 mL larutan asam dalam tabung
Gas CO2

Oksidasi
2 mL KmnO4 0,1 M
dituangkan dalam
Tabung reaksi
ditambahkan
Etanol

Perubahan warna dan bau

5. Senyawa nitro
10 mg senyawa
nitrobenzena
Page
173

dimasukkan dalam
Tabung reaksi
dicampur dengan
1,5 mL Fe(NH4)2(SO4)2 15%
ditambahkan

1 mL KOH 15%
dalam suasana alkohol
diaduk kuat-kuat
diperhatikan
Warna endapan setelah 1 menit
6. Ester
Asam salisilat HOC6H4COOH
dimasukkan dalam
Tabung reaksi
5 tetes H2SO4 3M dan 3 tetes air
ditambahkan
3-4 tetes metanol CH3OH
ditempatkan pada
Penangas air bersuhu 60o C
VIII. DATA PENGAMATAN
I.
Alkohol
a. Uji iodoform
Nama alkohol
1. Metanol
2. Etanol
3. Propanol
4. Butanol

Nama golongan
Alkohol primer
Alkohol primer
Alkohol
Alkohol

Pengamatan
Larutan bening
Larutan bening
Larutan bening
Larutan bening

Hasil iodoform
Bening tak berwarna
Bening tak berwarna
Bening tak berwarna
Bening tak berwarna

b. Oksidasi alkohol
Nama alkohol

Nama golongan
Page
174

Pengamatan

Hasil oksidasi

II.

1. Metanol

Alkohol primer

Larutan berwarna
hijau toska

2. Etanol

Alkohol primer

3. Propanol

Alkohol

Larutan berwarna
hijau toska
Larutan berwarna
hijau toska

4. Butanol

Alkohol

Aldehida dan keton


Uji natrium bisulfat
Nama senyawa
Benzaldehid + butanol

III.

Larutan berwarna
hijau toska muda,
terdapat endapan
berwarna hijau
toska tua

Berubah warna,
berbau tidak
menyengat
Berubah warna,
berbau menyengat
Berubah warna,
berbau sedikit
menyengat
Berubah warna,
berbau sedikit
mnyengat

Perubahan akibat uji


Terbentuk dua lapisan,
bag. bawah kuning jernih,
bag.atas terbetuk minyak
kuning

Struktur kimia produk


OH

CHSO3-Na+

Asam dan basa


a. pH
Nama senyawa
1. asam salisilat

Asam/basa
Asam, pH = 1

2. asam benzoat

Asam, pH = 2

Struktur kimia

b. Uji natrium bikarbonat


Nama senyawa
1. Asam salisilat

Perubahan akibat uji


Ada banyak gelembung,
berbusa, berwarna kuning
Ada gelembung gas, berbusa
bening, suhu turun (dingin)

2. Asam benzoat

c.

Oksidasi

KmnO4

Page
175

Struktur kimia produk

IV.

Reaksi : CH3CH2OH
CH3COOH
Pengamatan :
terbentuk 3 lapisan, terdapat endapan berwarna coklat keunguan dan
ungu tua, berbau tidak menyengat, beraroma seperti anggur
Kesimpulan : alkohol dioksidasi dengan menggunakan oksidator kuat (KMnO4)
menghasilkan asam karboksilat

Senyawa Nitro
Uji ferohidroksida
Nama senyawa
Nitrobenzena

V.

Pembuatan minyak gandapura


Reaksi :
HOC6H4COOH + CH3OH

Perubahan akibat uji


Larutan
awal
berwarna
kuning
menjadi
coklat
kemerahan dan terdapat
endapan
seperti
pasir
berwarna coklat bata

Struktur kimia produk


+ Fe(OH)3

H2SO4

HOC6H4COOCH3 + H2O

Pengamatan : Terbentuk zat berwarna putih, struktur seperti balsem, berbau balsem, kental
seperti minyak
Kesimpulan : Ester (minyak gandapura) dapat dibuat dari asam salisilat dengan asam sulfat
dan alkohol (metanol)
IX.

PEMBAHASAN
Senyawa organik merupakan senyawa hidrokarbon yang mengandung satu atom atau gugus
atom yang mensubstitusi hidrogen atau karbon dari senyawa karbon. Atom atau gugus atom ini
disebut dengan gugus fungsi yang memiliki sifat khusus. Percobaan ini dilakukan untuk
mengidentifikasi gugus fungsi tersebut.
I.
Alkohol
Alkohol adalah senyawa hidrokarbon yang memiliki gugus fungsi OH. Berdasarkan
letak OH, alkohol dibagi menjadi alkohol primer, alkohol sekunder, dan alkohol tersier.
Untuk membedaannya, dilakukan uji iodoform. Uji ini akan positif apabila iodin dalam
suasana basa (digunakan NaOH) akan mengoksidasi alkohol menjadi asam karboksilat dan
iodoform (CHI3).
Dari percobaan yang telah dilakukan, praktikan tidak menemui adanya kristal CHI 3 dan
tidak pula mencium bau yang khas, dan larutan yang didapat berwarna bening. Sedangkan
seharusnya larutan yang didapat berwarna coklat, sehingga praktikan tidak dapat
membedakan alkohol primer, alkohol sekunder, ataupun alkohol tersier.
Page
176

Percobaan berikutnya, oksidasi alkohol. Alkohol dapat dioksidasi menjadi alkanal atau
keton, namun dengan menggunakan oksidator kuat seperti K2Cr2O7, alkohol dapat
menghasilkan asam karboksilat. Pada percobaan ini, praktikan mengoksidasi alkohol yang
terdiri dari metanol, etanol, propanol, dan butanol menggunakan oksidator K2Cr2O7. Setelah
K2Cr2O7 ditambahkan H2SO4 lalu ditambahkan alkohol, terjadi perubahan warna menjadi
larutan berwarna hijau toska, selain terjadi perubahan warna juga timbul bau. Yang memiliki
bau menyengat adalah larutan yang mengandung etanol, sedangkan larutan yang
mengandung propanol dan butanol berbau sedikit menyengat, dan beda halnya dengan
larutan yang mengandung metanol yang tidak memiliki bau menyengat.
Berdasarkan teori, oksidasi alkohol menggunakan larutan natrium atau kalium dikromat
(VI) yang bersifat asam atau diasamkan dengan asam sulfat. Jika oksidasi terjadi, larutan
orange yang mengandung ion-ion dikromat direduksi menjadi larutan hijau yang
mengandung ion-ion kromium (III). Persamaan setengah reaksi untuk reaksi ini :
Cr2O72- + 14H+ + 6e2Cr3+ + 7H2O
II.

Aldehida dan keton


Pada percobaan ini digunakan larutan benzaldehid dengan menggunakan reagen natrium
bisulfit. Dari percobaan yang telah dilakukan, ternyata terbentuk dua lapisan. Dimana lapisan
atas terbentuk seperti minyak dan lapisan bawah larutan berwarna kuning jernih.
Uji positif reagen ini ditandai dengan terbentuknya kristal-kristal. Reaksi adisi natrium
bisulfit ini hanya berlangsung baik pada senyawa aldehid. Sedangkan pada senyawa keton,
reaksi adisi natrum bisulfit akan berlangsung jika salah satu gugus hidrokarbon yang terikat
pada gugus karbonil berupa gugus metil. Reaksi yang terjadi adalah:
OH

Benzaldehid :
III.

+ NaHSO3

CH-SO3-Na+

Asam dan basa


Untuk mengetahui keasaman suatu asam organik dapat menggunakan kertas lakmus.
Namun pada percobaan ini kami menggunkan indikator universal. Senyawa yang digunakan
adalah asam salisilat dan asam benzoat. Dari hasil percobaan, didapat bahwa asam salisilat
dan asam benzoat bersifat asam dengan pH masing-masing adalah 1 dan 2.
Kedua asam tersebut dilakukan uji terhadap natrium bikarbonat dan didapatkan bahwa
setelah direaksikan keduanya menghasilkan gelembung gas. Gas ini adalah gas CO2, sesiau
dengan teorinya bahwa asam organik bereaksi cepat dengan NaHCO3 menghasilkan gas
CO2. Sesuai dengan reaksinya :
+ Na+HCO3-

C7H5NaO3 + H2O + CO2

+ NaHCO3

C7H5NaO2 + H2O + CO2

Asam salisilat

Page
177

Asam benzoat
Percobaan oksidasi alkohol dengan menggunakan KMnO4 alkohol yang digunakan
dalam percobaan ini adalah etanol. Ternyata setelah dtambahkan KMnO 4 terbentuk larutan
dengan tiga lapisan. Lapisan paling bawah terdapat endapan berwarna coklat keunguan,
lapisan tengah berupa larutan berwarna coklat keunguan dan lapisan paling atas berupa
larutan ungu bening.
IV.

Senyawa nitro
Untuk mengetahui senyawa nitro, percobaan ini menggunakan nitrobenzena. Senyawa
nitro ini sangat mudah direduksi oleh ferohidroksida menjadi ferihidroksida (Fe(OH)3).
Larutan nitrobenzena yang awalnya berwarna kuning setelah ditambahkan Fe(HH 4)2(SO4)2
dan KOH dalam suasana alkohol warnanya berubah menjadi coklat kemerahan dan terdapat
endapan seperti pasir berwarna merah bata. Reaksi yang terjadi adalah :
+ 6Fe(OH)2 + 4H2O

+ 6Fe(OH)3

Endapan yang terjadi menanda senyawa nitro tereduksi menjadi amina.


V.

Ester
Ester dapat terbentuk dari reaksi antara asam organik dengan alkohol. Ester biasanya
memiliki bau, karena molekulnya mudah menguap. Pada percobaan ini ester yang berupa
minyak gandapura dibuat dari asam salisilat yang dicampurkan dengan asam sulfat dan
metanol, dan dipanaskan. Dari hasil percobaan didapatkan zat yang berwarna putih seperti
balsem dan baunya juga seperti balsem.
H2SO4

HOC6H4COOH + CH3OH

HOC6H4COOCH3 + H2O

Penambahan asam sulfat pekat pada percobaan ini adalah berfungsi sebagai katalis yang
sifatnya asam dan hanya untuk mempercepat laju reaksi dengan menurunkan energi aktivasi.
X.

DISKUSI
Pada percobaan identifikasi gugus fungsi ini memerlukan ketelitian dan kehati-hatian,
karena bahan-bahan yang digunakan adalah senyawa organik yang perlu ditangani hati-hati.
Seperti metanol yang dapat membutakan mata atau senyawa organik lain yang dapat membuat
mual dan pingsan.
I.
Alkohol
Pada percobaan alkohol dengan uji iodoform dikatakan tidak berhasil karena larutan
sampel (metanol, etanol, propanol, butanol) yang direaksikan dengan NaOH, dan I 2 tidak
menunjukkan adanya tanda-tanda reaksi. Hal ini terjadi karena larutan I 2 yang digunakan
tidak dalam keadaan baru. Selain itu pada percobaan ini juga tidak ditemukan terbentuknya
Page
178

kristal CHI3, faktor-faktor yang menyebabkan gagal terbentuknya iodoform ini adalah seperti
reaksi antara alkohol dengan iodin kurang sempurna, suasananya kurang basa (uji positif bila
iodin dalam keadaan basa), takaran yang tidak tepat atau dapat juga dikarenakan iodin yang
menguap.
Uji iodoform, reaksi antara sampel alkohol dengan iodin seharusnya membentuk larutan
berwarna kuning dan disertai bau yang menyengat. Hal ini disebabkan karena alkohol
bereaksi dengan hidrogen halida menghasilkan alkil halida.
Pada percobaan oksidasi alkohol dengan menggunakan K2Cr2O7 dapat dikatakan
berhasil, karena larutan yang terbentuk dihasil reaksi berwarna hijau yang menandakan
mengandung ion-ion kromium (Cr).
II.

Aldehida dan keton


Reaksi antara aldehida/keton dengan natrium bisulfit termasuk dalam reaksi adisi.
Reaksi ini akan berlangsung baik pada aldehida. Karena pada percobaan ini yang digunakan
hanya benzaldehid sehingga praktikan tidak dapat membandingkan reaksi ini pada keton.
Aldehida yang ditambahkan natrium bisulfit akan terbentuk satu fase cairan, jika yang
terbentuk senyawa padat dapat ditambahkan air suling untuk melarutkannya.
Namun, pada percobaan kami tidak ditemukan adanya padatan putih melainkan suatu
larutan bening dengan larutan minyak diatasnya. Hal ini mungkin terjadi karena faktor
ketidaktelitian atau alkohol yang digunakan tidak sesuai.

III.

Asam dan basa


Pada percobaan ini dikatakan berhasil, karena asam salisilat dan asam benzoat adalah
asam organik, terbukti pH yang didapatkan adalah 1 dan 2. Selanjutnya reaksi antara asam
slaisilat dan antrium bikarbonat juga dikatakan berhasil, karena timbul gas CO 2 yang berarti
hal ini sesuai dengan teori bahwa asam organik bereaksi cepat dengan NaHCO 3
menghasilkan gas CO2. Kemudian pada reaksi oksidasi etanol menggunakan KMnO4
dikatakan juga berhasil, karena terjadi perubahan warna dari yang awalnya ungu menjadi
ungu kecoklatan disertai adanya endapan dan bau.

IV.

Senyawa nitro
Percobaan ini juga berhasil, terbukti dengan ditemukannya produk berupa larutan merah
kecoklatan dengan adanya endapan berpasir berwarna merah bata yang menandakan
senyawa nitro tereduksi menjadi amina dan Fe(OH) 2 yang teroksidasi menjadi Fe(OH)3 yang
berwarna merah coklat.

V.

Ester
Pada percobaan esterifikasi ini juga dikatakan berhasil, karena hasil percobaan
menunjukkan bau khas seperti balsem yang merupakan bau dari metil salisilat, hasil reaksi
antara asam salisilat dan metanol dengan katalisnya H 2SO4. Namun, percobaan pembuatan
minyak gandapura ini membutuhkan waktu yang cukup lama, dan suhu air (penangas air)
juga harus dijaga pada suhu sekitar 60oC.
Page
179

XI.

PERTANYAAN PASCA PRAKTIK


1. Tuliskan rumus molekul propanol dan isopropanol
Jawab :
Propanol : C3H8O
Isopropanol : C3H8O
2. Ester apa yang dikaitkan dengan bau yang khas dari:
Jawab :
a. Nanas : C3H7COOCH3
b. Jeruk : C2H5COOC2H5
c. Anggur : NH2C6H6 COOCH3
3. Bagaimana Anda dapat membedakan:
a. CH3NH2 dengan CH3OH
Adanya gugus amina dan CH3OH adalah alkohol dengan gugus OH serta bau yang
khas
b. C2H6 dengan t-C4H9OH
C2H6 adalah senyawa hidrokarbon alkana tidak bereaksi dengan Na sedangkan tC4H9OH senyawa karbon yang dapat bereaksi dengan Na
c. CH3CHO dengan CH3CH2OH
CH3CHO adalah senyawa aldehida yang tidak bereaksi dengan I 2 dan NaOH
sedangkan CH3CH2OH adalah senyawa alkohol yang dapat bereaksi dengan NaOH
d. CH3COOH dengan CH3CH3
CH3COOH adalah asam karboksilat yang dapat bereaksi dengan alkohol, sedangkan
CH3CH3 adalah senyawa alkana tidak bereaksi dengan alkohol
e. CH3CH2Cl dengan CH3CH2CH3
CH3CH2Cl adalah senyawa alkil halida dapat bereaksi dengan halida, sedangkan
CH3CH2CH3 adalah alkana yang dapat bereaksi dengan halida.
f. CH3CH2CHO dengan CH3CH2CH2Cl
CH3CH2CHO dapat direduksi sedangkan CH3CH2CH2Cl tidak dapat direduksi
4. Asam asetat dapat dibuat dengan mengoksidasi etanol dengan ion permanganat dalam
suasana asam. Tuliskan reaksi yang terjadi
Jawab :
CH3CH2OH + KMnO4 + H2SO4

XII.

CH3COOH + K 2SO4 + MnSO4 + H2O

KESIMPULAN
Page
180

1. Sifat fisika dan kimia senyawa alkohol, aldehid, keton, asam karboksilat, halida, senyawa
nitro, dan ester berbeda-beda karena mengandung gugus fungsi yang berbeda sehingga
masing-masing memiliki ciri khas dan fungsi yang berbeda.
2. Dalam membedakan gugus fungsi yang satu dengan yang lainnya dapat dilakukan uji
identifikasi, sehingga dapat ditentukan ciri khas dari setiap gugus fungsi.
XIII.

DAFTAR PUSTAKA
Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Epinur, dkk. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Jambi : UNJA.
Hart, Harold. 2003. Kimia Organik : Suatu Kuliah Singkat Ed. 2. Jakarta : Erlangga.
Petrucci, Ralph. 1987. Kimia Dasar. Jakarta : Erlangga.
Respati. 1986. Dasar-dasar Ilmu Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Aksara Baru.
Wilbraham dan Matta. 1992. Pengantar Kimia Organik dan Hayati. Bandung : ITB.

PERCOBAAN 13
Page
181

I.
II.
III.

JUDUL
HARI / TANGGAL
TUJUAN

: ESTER
: Rabu, 12 Juni 2013
:
1. Mensintesis sekurang-kurangnya 3 macam ester
2. Mengetahui pengaruh konsentrasi alcohol terhadap reaksi
kesetimbangan padapembuatan ester
3. Mengetahui pengaruh konsentrasi asam karboksilat terhadap
reaksi kesetimbangan pada pembuatan ester
4. Mengenal bau khas dari beberapa ester
5. Menggunakan ester sebagai bahan pembuatan sabun
6. Mengetahui prinsip saponifikasi
7. Membuat berbagai macam sabun untuk bahan pencuci dan
untuk kosmetik
8. Menguji daya kerja dalam air

IV.
PERTANYAAN PRAPRAKTEK
1. Tuliskan rumus umum dari senyawa ester
Jawab :
R-C-OR
O
2. Tuliskan struktur umum
a. Alkohol primer : R-OH
b. Alkohol sekunder : R-CH-OH
R R
c. Alkohol tersier : R-C-R
OH
3. Tuliskan Persamaan reaksi antara
a. Alkohol primer dan asam karboksilat
R-OH + R-C=O R-C= OR + HO
OH
O
b. Alkohol sekunder dan asam karboksilat
R-CH-OH + R-C=O R-C-O=CH +HO
OH
O
c. Alkohol tersier dengan asam karboksilat
R
OH
O R
R-C-R + R-C=O R-C-O-C-R +HO
OH
R

4. Tuliskan reaksi pembentukan aspirin casetilsalisilat !


Jawab :
COOH
CH-C=O
OH

CH-C=O
Page
182

COOH
O-C=O

CHCOOH

CH
5. Apa perbedaan esterifikasi dan netralisasi
Jawab :
- Esterifikasi : reaksi atau metode untuk menghasilkan ester dengan mereaksikan ester dengan
mereaksikan asam karboksilat dengan alcohol pada suasana basa
- Netralisasi : reaksi antara asam dan basa menghasilkan garam dan air
6. Apakah bahan dasar pembuatan sabun
Jawab : ester dan basa kuat
7. Gambarkan satu molekul khas lemak dan tuliskan persamaan reaksi saponifikasi untuk
menghasilkan sabun natrium
Jawab :Molekul Khas Lemak

Persamaan reaksi saponifikasi

V.

LandasanTeori
Sejumlah besar senyawa di alam raya terdiri dari bahan yang menyenangkan bagi
kita.Berbagai macam bunga dan buah mengandung zat-zat yang baunya enak. Berkat ilmu
pengetahuan zat ini dapat dipisahkan , didefinisikan dan disintesis begitu banyak sehingga
senyawa
ini
tersedia
melimpah
denganharga
yang
layakuntukdigunakandalamkosmetikproduk- produk rumah tangga ,alat pembersih dan
bahkan berbagai macam makanan.
Page
183

Hasil sintesis senyawa-senyawa ini dapat harapkan dengan pasti umumnya senyawa
yang baunya wangi digolongkan dalam kelas ester senyawa dari ester-ester ini mempunyai
gugus fungsi :
R-C-OR
O
Dengan R dan R adalah gugus alkil. Salah satu metode untuk menghasilkan ester adalah
dengan mereaksikan asam karboksilat dengan alkohol pada suasana asam. Asam
karboksilat dapat bereaksi dengan basa menghasilkan garam karboksilat dan air. Pada
umumnya garam larut dalam air tetapi dalam asam sering tidak larut. Asam karboksilat RCOOH pada umumnya tidak mengion kecuali apabila BM nya rendah. Senyawa yang tidak
mengion ini membentuk lapisan yang tidak larut atau endapan (Epinur, dkk. 2012 :89).
Aster adalah salah satu dari kelas senyawa organik yang sangat berguna sering
dijumpai di alam. Ester merupakan senyawa turunan karboksilat dimana satu atom H pada
COOH diganti dengan gugus alkil (-R) atau (-Ar). Sehingga tata nama menurut IUPAC
gugus alkil disebut lebih dahulu lalu gugus karboksilatnya, contoh CH 3COOCH3. Ester
dapat disintesisi dengan mereaksikan asam karboksilat dan alkohol dengan bantuan katalis
asam. Reaksi ini disebut esterifikasi, dengan reaksi umum :
R-COOH + R-OH
RCOOR + H2O
(Sumo dan Channah. 1992: 150).
Senyawa-senyawa ester antara lain memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1. Pada umumnya mempunyai bau yang harum, menyerupai bau buah-buahan
2. Senyawa ester pada umumnya sukar larut dalamair dan bersifat polar
3. Ester lebih mudah menguap dibandingkan dengan asam atau alkohol
pembentuknya
4. Ester merupakan senyawa karbon yang netral
5. Ester dapat mengalami reaksi hidrolisis
Contoh :

6. Ester dapat direduksi oleh H2 menggunakan katalisator Ni dan dihasilkan dua


buah senyawa alkohol
Contoh :

7. Ester khususnya minyak dan lemak bereaksi dengan basa membentuk garam
(sabun) dan gliserol.
(Safrizal. 2009 : 128).
Page
184

Ester umumnya dihidrolisis dengan basa. Reaksi ini disebut penyabunan (saponifikasi).
Dari kata latin, sapun yang berarti sabun. Sebab jenis reaksi ini digunakan untuk membuat
sabun dari lemak. Reaksi umunya yaitu :
kalor

R-COO-R + NaOH

R-COO-Na + R-OH
H2O

Ester

nukleofili

garam dan asam alkohol

Mekanisme ini merupakan contoh lain dari substitusi asli nukleofilik. Reaksinya
melibatkan senyawa nukleofilik oleh ion hidroksida, yaitu nukleofilik pada karbonil dan
ester. Dalam penetapan struktur, penyabunan terutama bermanfaat untuk memecah ester
yang tidak diketahui, misalnya diisolari dari sumber alam, menjadi asam dan alkohol
penyusunnya (Hart. 2003 : 324-325).
Pada mulanya diperkirakan bahwa hidrolisis senyawa karbonil dalam susana basa
berlangsung melalui mekanisme SN2
Ester turunan alkana diberi nama alkil alkanoat yang disebut alkil pada nama itu adalah
gugus karbon yang terikat pada atom O.Sedangkan alkanoat adalah gugus R-CO.Atom C
gugus fungsi masuk ke dalam alkanoat.Beberapa ester yang penting dan kegunaannya.
A. Zat memberi aroma
B. Lemak dan minyak
Ester dihasilkan apabila asam karboksilat dipanaskan bersama alkohol dengan bantuan
katalis asam.Katalis ini biasanya Asam sulfat pekat. Gas hidrogen klorida
kering terkadang digunakan,tetapi penggunaaanya cenderung melibatkan ester- ester
aromatik ( Ester dimana asam karboksilat mengandung sebuah cincin benzena)
(Sukadjo, 1997: 132)
Ester adalah senyawa yang dapat dianggap sebagai turunandari asam karboksilat dengan
mengganti ion hidrogen oleh radikal hidokarbon.Adapun tata nama dariester yaitu sebagai
berikut:
Setiap asam kaboksilat membrikan kenaikan terhadap deret homolog ester.Oleh sebab
itu,nama ester di rancang sedemikian rupa untuk menunjukkan asam karboksilat dan radikal
hidrokarbon.Dengan kata lain,penamaan ester dimulai dengan menyebutkan gugus alkil
diikuti dengan gugus karboksilatnya.Beberapa tata nma ester di tunjukkkan berikut ini.
Dari asam format (HCOOH):
HCOO-CH3 atau metil format
HCOO-CH2CH3 atau etil format
HCOO-CH2CH2CH3 atau n-propil asetat.
Dari asam asetat ( CH3COOH)
Page
185

CH3COO-CH3 atau metil asetat


CH3COO-CH2CH3 atau etil asetat
CH3COO-CH2CH2CH3 atau n- propil asetat
(Sunarya,2012:485)
Adapun reaksi- reaksi ester antara lain:
1. Hidrolisa Asam karboksila
O
R

OR + H2O -OH RCOOH + ROH

2. Amonalisa Amida
O
R
3.

O
OR + NH3 R

NH2 + ROH

Alkoholisa
O

O
OR + R OH R C

Keisomeran ester
Seperti halnya senyawa karbon lain,ester mempunyai keisomeran struktur dan isomer
fungsional dengan asam karboksilat.sepeti contohnya yaitu ester dengan rumus molekul
C4H8O2.Terdapat banyak metode untuk membuat ester ,salah satu metode yang sering
digunakan adalah reaksi alkohol dengan asam karboksilat.Dalam reaksi tersebut asam sulfat
ditambahkan sebagai zat dehidrasi.Untuk medapatkan hasil yang banyak,dapat dilakukan
dengan mengunakan alkohol atau asam berlebih.Selain itu dapat juga dieroleh dengan cara
memisahkan ester yang terbentuk dari air agar kesetimbangan bergeser ke arah kanan
(Respati,1986:165-166).

VI.

ALAT DAN BAHAN


ALAT

BAHAN
Page
186

VII.

Tabung reaksi
Pipet tetes
Gelas piala
Kaca arloji
Batang pengaduk
Termometer
Stopwatch
Pemanas spritus
n-Butanol
NaOH

Asam asetat glaserol


Isomil alkoho/etanol
H2SO4 6M
Air
Asam benzoat
Asam Asetat
Asam Butirat
Metanol
PbNO3 1M

PROSEDUR KERJA

A. Sintesis Dan Identifikasi Ester


1 ml asam asetat

1 ml isomil

Masukkan tabung
10 tetes asam sulfat
Tabung reaksi dalam
penangas air
Teteskan pada kaca
arloji
Identifikasi zat dengan
mencium bau

B. Esterifikasi Dengan Alkohol Berlebih


3 buah tabung
reaksi

Masukkan 3 ml
asamnya

Masukkan alkohol dalam


tabel
Masukkan 10 tetes
Amati bentuk lapisan
Amati bentuk lapisan

C. Sintesis Beberapa Ester


Page
Asam Benzoat 250 ml, metanol
3 ml,15
187
tetes H2S04

HCl % 10
Lakmus
Minyak kelapa
NaOH
NaCl jenuh
Larutan sabun
CaCl2 1M
MgSO4 1M

Asam asetat 1 ml dg n-butanol 1ml,10 tetes


Asam butirat 1 ml dg n-butanol 1 ml,10
tetes H2SO4

D. Estrifikasi Dengan Asam berlebih


3 tabung reaksi dengan 4,6 dan 8 ml
asamnya
3 ml alkohol pada setiap
tabung
15 tetes H2SO4 di kocok
merata
Badingkan bau yang
terbentuk

E. SAFONIFIKASI ESTER
Masukkan 1 ml NaOH
Tabung reaksi
3 ml larutan dalam
penangas air

Pemanasan selama

Aliran air dengan dinginkan


tabung reaksi
1 ml HCl 10 %,aduk dan periksa
keasaman
Tambahkan HCl 10 %20-50
tetes

F. PEMBUATAN SABUN

Gelas piala 500 ml

Page
188
5 ml minyak kelapa,15 ml NaOH 3M, dan

Aduk dengan suhu sekitar 90% selama


Tambahkan
Ambil
sedikit25
padatan
ml NaCllarutkan
jenuh,dan
ddengan
angkatair

Sedikan 4 tabung reaksi,masukkan sekitar 3ml larutan


sabun dalam air
1 ml Kalsium Klorida,1 ml magnesium sulfat,dan tambahlan 1 ml
timbal nitrat
Tidak ditambahkan apapun

VIII. DATA PENGAMATAN


A. Sintesis dan identifikasi ester
Persamaan reaksi esterifikasi :
CH3COOH + CH3CH2OH

CH3COOCH2CH3 + H2O

Apakah reaksi berjalan seperti yang dituliskan ? ya


Bukti terjadinya reaksi : adanya perubahan warna dari bening menjadi kuning, terdapat
dua lapisan
Ester yang dihasilkan berbau seperti : balon

B. Esterifikasi dengan alkohol berlebih


Tabung

Volume asam

1
2

1 mL
1 mL

Volume
alkohol
1 mL
2 mL
Page
189

Tebal lapisan
ester
0,7 cm
1,2 cm

Bau
Nanas
Pisang
(menyengat)

1 mL

3 mL

1,5 cm

Pisang (tidak
terlalu menyengat)

Kesimpulan mengenai reaksi kesetimbangan :


Makin banyak alkohol yang digunakan pada reaksi esterifikasi, makin banyak ester yang
terbentuk
C. Reaksi beberapa ester
Bereaksi/tidak
bereaksi
Bereaksi

Persamaan reaksi
a. Asam benzoat + metanol

b. Asam salisilat + butanol


C7H6O3 + C4H9OH
C11H14O3

Bereaksi

c. Asam butirat + butanol


C4H8O2 + C4H9OH
C3H7COOC4H9 + H2O

Bereaksi

Ciri fisis produk


Terdapat dua lapisan,
bag. atas bening cair,
bag. bawah padatan
merah muda, berbau
mint
Terdapat dua lapisan,
bag.
atas
bening
berminyak, bag. bawah
bening, berbau pisang
Terdapat dua lapisan,
bag. atas kuning, bag.
bawah kuning, berbau
pisang

Kesimpulan terhadap jalannya esterifikasi :


Ester terbentuk dari reaksi antara asam karboksilat dengan alkohol, dihasil reaksi
terbentuk dua lapisan, lapisan atas merupakan ester dan memiliki bau khas
D. Esterifikasi dengan asam berlebih
Asam butirat
Tabung
1
2
3

Volume
asam
2 mL
4 mL
6 mL

Volume
alkohol
1 mL
1 mL
1 mL

Asam salisilat

Page
190

Tebal lapisan
ester
1 cm
2 cm
2,5 cm

Bau
Nanas
Nanas (menyengat)
Nanas (tidak terlalu
menyengat/lembut)

2 mL
4 mL

Volume
alkohol
1 mL
1 mL

Tebal lapisan
ester
0,3 cm
0,2 cm

6 mL

1 mL

0,2 cm

Tabung

Volume asam

1
2
3

Bau
Pisang
Pisang (agak
menyengat)
Pisang (paling
menyengat)

Kesimpulan mengenai reaksi kesetimbangan;


Pada reaksi esterifikasi menggunakan asam salisilat, volume asam tidak memperngaruhi
banyanya ester yang terbentuk, sedangkan esterifikasi menggunakan asam butirat,
makin banyak asam yang digunakan maik banyak ester yang terbentuk.
E. Saponifikasi ester
1. Reaksi antara metil salisilat dengan NaOH
C8H8O3 + NaOH
C7H4O3Na2 + CHOH + H2O
2. CH3COOC2H5 + HCl
CH3COOH + C2H5Cl
3. Larutan menunjukkan sifat asam dengan pH = 1
F. Pembuatan sabun
1. Campuran reaksi yang dilarutkan dalam air dapat digunakan sebagai uji
kesempurnaan reaksi penyabunan. Hal ini karena jika campuran tersebut dilarutkan
dalam air dan dikocok kemudian dihasilkan busa yang baik, maka dalam campuran
tersebut tidak terdapat asam lemak bebas, yang berarti reaksi penyabunan berjalan
baik.
2. Pengamatan terhadap daya kerja sabun

CaCl2
MgSO4

Sabun dalam larutan


Sabun mengapung, agak larut
Sabun menyatu dengan larutan
Sabun tidak menyatu

Pb(NO3)2

IX.

Pengamatan
Sabun
mengapung,
larutan menjadi keruh
Sabun larut, larutanputih
keruh
Sabun tidak menyatu dan
sabun menjadi seperti
butir-butir

PEMBAHASAN
Ester adalah salah satu jenis senyawa organik yang memiliki bau khas. Ester memiliki
gugs fungsi COO. Ester dapat disintesis dengan mereaksikan asam karboksilat dengan
Page
191

alkohol dengan menggunakan katalis asam. Pada percobaan ini dilakukan berbagai reaksi
esterifikasi (sintesis ester).
A. Sintesis dan identifikasi beberapa ester
Praktikan mereaksikan asam asetat dengan menggunakan katalis asam sulfat H 2SO4
3M. Setelah dicampurkan terbentuk dua lapisan, yaitu larutan yang awalnya bening
berubah warna menjadi kuning jernih. Lapisan atas hasil reaksi ini adalah ester. Ester
yang dihasilakn memiliki bau khas seperti bau balon. Ester yang dihasilkan adalah etil
etanoat seperti pada reaksi :
CH3COOH + CH3CH2OH
CH3COOCH2CH3 + H2O
B. Esterifikasi dengan alkohol berlebih
Sintesis ester dengan menggunakan alkohol berlebih, dimana volume asam yang
digunakan dibuat sama yaitu 1mL sedangkan alkohjol yang digunakan volumenya
berbeda-beda yaitu 1 mL, 2 ml, 3ml. Asam yang digunakan adalah asam butirat yaitu
berupa zat cair berbau tengik sedangkan alkohol yang digunakan adalah butanol.
Setelah dicampurkan dan ditambah katalis H2SO4 , tebal lapisan ester yang terbentuk
berbeda-beda, yaitu 0,7 cm, 1,2 cm, dan 1,5 cm. Bau yang dihasilkan adalah seperti
nanas, makin banyak ester yang terbentuk makin berkurang baunya. Ester yang
dihasilkan pada reaksi ini adalah butil butirat.
CH3CH2CH2COOH + CH3CH2CH2CH2OH
C3H7COOC4H9 + H2O
Butil butirat yang dihasilkan ternyata dipengaruhi oleh banyaknya alkohol yang
digunakan.
C. Reaksi beberapa ester
Sintesis beberapa macam ester, asam yang digunakan adalah asam benzoat, asam
salisilat dan asam butirat. Alkohol yang digunakan adalah metanol dan n-butanol,
sedangkan katalisnya adalah H2SO4.
Reaksi pertama, asam benzoat dan metanol, setelah dicampurkan dan ditambah H 2SO4
serta dipanaskan, terbentuk dua lapisan. Lapisan atas cairan bening sedangkan lapisan
bawah terbentuk padatan berwarna merah muda. Lapisan atas yang berupa cairan
bening tersebut menimbulkan bau seperti mint.
C6H5COOH + CH3OH
C6H5COOCH3 + H2O
Selanjutnya reaksi asam salisilat dengan n-butanol, setelah ditambahkan H 2SO4 serta
dipanaskan, terbentuk dua lapisan. Lapisan atas cairan bening begitupun bagian bawah
yang juga bening. Lapisan atas ini berbau seperti pisang.
C7H6O3 + C4H9OH
C11H14O3 + H2O
Kemudian reaksi asam butirat dengan n-butanol, setelah ditambahkan H2SO4 serta
dipanaskan, terbentuk dua lapisan. Lapisan atas cairan bening begitupun bagian bawah
bening. Dan lapisan atas ini menimbulkan bau seperti bau pisang.
Page
192

CH3CH2CH2COOH + CH3CH2CH2CH2OH

C3H7COOC4H9 + H2O

Pada percobaan reaksi beberapa ester ini dapat disimpulakn bahwa esetr dapat
etrbentuk dari asam karboksilat dan alkohol dengan menggunakan katalis asam kuat,
dihasilakn dua lapisan, lapisan atas yang etrbentuk merupakan ester.
D. Esterifikasi dengan asam berlebih
Sintesis ester menggunakan asam dengan volume berbeda sedangkan alkoholnya
dibuat sam. Asam yang digunakan adalah asam butirat dan asam salisilat, volume
keduanya dibuat menjadi 2ml, 4ml, dan 6 ml. Sedangkan alkohol yang digunakan
adalah butanol dengan volumenya 1 ml.
Asam butirat
Ester yang terbentuk memiliki tebal 1 cm, 2cm, dan 2,5 cm, ester yang dihasilkan
adalah butil butirat memiliki bau seperti nanas. Dapat disimpulkan bahwa
esterifikasi menggunakan asam butirat berlebih menghasilkan ester yang lebih
abnyak.
Asam salisilat
Ester yang dihasilkan memiliki tebal 0,3 cm, 0,2 cm, dan 0,2 cm. Dari tebal yang
dihasilkan tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan asam salisilat
dihasilkan ester yang sama banyak (konstan).
E. Saponifikasi ester
Ester yang digunakan adalah ester dari percobaan A, yaitu etil asetat. Etil asetat
ditambahkan dengan NaOH menghasilkan suatu garam karboksilat dan alkohol,
reaksinya adalah :
C8H8O3 + NaOH
C7H4O3Na2 + CHOH + H2O
Garam karboksil yang terbentuk ini dipanaskan dalam penangas sampai bau dan
volume ester berkurang. Setelah didinginkan larutan ini ditambahkan 5 tetes HCl lalu
diperiksa keasamannya. Pada penambahan HCl tersebut, ternyata pH yang terbentuk
adalah 1.
CH3COOC2H5 + HCl

CH3COOH + NaCl

Garam natrium karboksilat dikenal sebagai sabun. Pembentukan garam dibuktikan


juga dengan penambahan HCl. HCl berfungsi untuk mengetahui banyaknya NaOH
yang tersisa dalam proses saponifikasi, penambahan HCl juga untuk memberikan
suasana asam, karena hasil mula-mula reaksi saponifikasi adalah berupa karboksilat,
dengan penambahan HCl ini karboksilat diubah menjadi asam karboksilat.
F. Pembuatan sabun
Reaksi antara asam lemak dengan basa menghasilkan sabun dan gliserol. Asam
lemak dihasilkan dari hidrolisis lemak atau minyak dengan cara pemanasan. Pada
Page
193

percobaan ini digunakan minyak kelapa. Minyak kelapa ditambahkan dengan NaOH
dan etanol kemudian dipanaskan dalam penangas air lalu didinginkan. Setelah dingin
terbentuk padatan putih, padatan ini diambil sedikit lalu dilarutkan dalam air panas,
setelah dikocok ternyata busa yang dihasilkan cukup baik, berarti tidak terdapat \asam
lemak bebas.
Pengamatan terhadap daya kerja sabun
Untuk mengetahui daya kerja sabun, sabun yang diperoleh sebelumnya ditambahkan
larutan panas NaCl jenuh. Sehingga padatan sabun terpisah dari gliserol. Setelah
didinginkan padatan sabun dilarutkan dalam air. Larutan sabun ini dimasukkan dalam 3
tabung yang berisi CaCl2, MgSO4, dan Pb(NO3)2. Setelah ditambahkan dalam larutan
CaCl2 sabun agak larut dan sedikit mengapung, dalam larutan MgSO4 sabun menyatu
dengan larutan dan larutan menjadi putih keruh, sedangkan dalam larutan Pb(NO 3)2
sabun tidak menyatu dan sabun yang ditambahkan menjadi seperti butir-butir/bubuk
detergen.
X.

DISKUSI
A. Sintesis dan identifikasi beberapa ester
Sintesis ester dari asam asetat dan etanol dengan menggunakan katalis H2SO4 ini
dapat dikatakan berhasil. Dalam literatur disebutkan bahwa ester cukup tidak larut
dalam air dan cenderung membentuk lapisan tipis pada permukaan. Asam dan alkohol
akan larut dan terpisah di bawah lapisan ester. Ini sesuai dengan percobaan yang telah
dilakukan mmenghasilkan dua lapisan. Bau ester yang didapat seperti bau balon, ester
ini masih sedikit tercium bau asetat (menyengat) yang dihasilakn dari asam asetat hal ini
dapat terjadi karena reaksinya yang berlangsung lambat dan dapat balik (reversible),
maka kemungkinan ester yang terbetuk tidak banyak, sehingga bau khas ester sering kali
tertutupi oleh bau asam asetat.
B. Esterifikasi dengan alkohol berlebih
Reaksi eterifikasi merupakan reaksi kesetimbangan yang bersifat dapat balik
(reversible). Untuk memperoleh ester lebih banyak, kesetimbangan harus digeser ke arah
ester. Untuk memperoleh ini adalah dengan cara salah satu zat pereaksi (asam
karboksilat atau alkohol) ditambahkan secara berlebih. Dari percobaan esterifikasi
dengan alkohol berlebih, ester yang dihasilakn semakin banyak. Hal ini menunjukkan
percobaan yang telah dilakukan berhasil. Kemudian bau dari butil butirat yang
ditimbulkan untuk alkohol 1 mL adalah nanas, sedangkan untuk alkohol 2 mL dan 3 mL
adalh pisang. Berdasarkan literatur, bau dari butil butirat adalah anans. Perbedaan bau ini
dapat disebabkan perbedaan penciuman antar praktikan, karena bau antara ester yang
satu dengan yang lain serupa.
C. Reaksi beberapa ester
Page
194

Reaksi beberapa ester yang dilakukan yaitu ester dari hasil reaksi antara asam
benzoat dengan metanol , asam salisilat dengan butanol, serta asam butirat dengan
butanol. Ester yang dihasilakn yaitu metil benzoat, butiil salisilat, dan butil butirat.
Percobaan ini dapat dikatakan berhasil, karena reaksi antara asam karboksilat dengan
alkohol menghasilkan ester, yang ditandai dengan terbentuknya dua lapisan dan lapisan
atas yang berwarna bening merupakan ester. Bau ester yang dihasilkan pada percobaan
ini, yaitu metil benzoat berbau seperti mint, butil salisilat berbau pisang, dan butil butirat
berbau pisang. Menurut teori, bau dari metil benzoat adalah fruity, ylang-ylang atau
pohon feijoa, dan bau dari butil butirat adalah nanas. Perbedaan bau terhadap teori ini
mungkin disebabkan perbedaan penciuman praktikan atau karena karena bau ester yang
tertutupi oleh bau asam karboksilatnya.
D. Esterifikasi dengan asam berlebih
Sama halnya dengan esterifikasi dengan lakohol berlebih, percobaan ini untuk
mengetahui bagaimana pengaruh konsentrasi asam karboksilat terhadap reaksi
kesetimbangan esterifikasi. Unutk memperoleh ester lebih banyak, kesetimbangan harus
digeser ke arah ester dengan cara zat pereaksi (asam karboksilat atau alkohol) ditambah
berlebih. Asam karboksilat yang digunakan adalah asam butirat dan asam salisilat.
Didapatkan bahwa butil butirat yang doihasilkan makin banyak, namun pada butil
salisilat volumenya cenderung konstan walaupun dengan volume asam salisilat yang
berlebih. Hal ini mungkin disebabkan oleh ketidaktelitian atau ketidaktepatan praktikan
dalam mereaksikan/mencampur volume pereaksi yang dibutuhkan.
E. Saponifikasi ester
Ester yang dihasilkan pada percobaan A direaksikan dengan NaOH membentuk
garam natrium karboksilat, ester yang ditambahkan dengan NaOH dipanaskan hingga
bau dan volumenya berkurang, setelah itu didinginkan dan ditambahkan dengan larutan
HCl. Pada penambahan HCl ini, larutan langsung berubah sifatnya menjadi asam,
dengan pH menunjukkan 1, dengan menggunakan indikator universal. Pada percobaan
ini dapat dikatakan berhasil karena garam natrium karboksilat yang direaksikan dengan
HCl membentuk asam karboksilatnya, asam ini bersifat asam.
F. Pembuatan sabun
Pada pebuatan sabun ini digunakan minyak kelapa untuk membentuk sabun,
minyak yang telah dicampur NaOH dipanaskan membutuhkan waktu yang cukup lamaa
untuk menjadi padatan dan dibutuhkan air es. Sabun yang terbentuk tidak berbau
minyak lagi tetapi berbau segar. Dan sabun yang terbentuk ini tidak menunjukkan
adanya lemak bebas, karena sabun menunjukkan busa yang baik setelah ditambahkan air
panas. Ini berarti pembuatan sabun yang dilakukan berhasil.
Lalu pada daya kerja sabun dalam air sadah menunjukkan bahwa larutan sabun
dalam CaCl2, MgSO4, dan Pb(NO3)2 tidak menimbulkan adanya busa karena berdasarkan
Page
195

percobaan yang telah dilakukan, larutan sabun dalam CaCl2 agak larut dan arutan
menjadi keruh, larutan sabun dalam MgSO4 larut dan menjadi putih keruh, sedangkan
larutan sabun dalam Pb(NO3)2 tidak larut. Berdasarkan teori, air sadah adalah air yang
memiliki kandungan mineral tinggi seperti ion kalsium (Ca) atau magnesium (Mg). Pada
air sadah, sabuntidak akan menghasilkan busa atu sedikit sekali menghasilkan busa.
Dari teori tersebut, percobaan kami dapat diakatakan berhasil karena larutan sabun tidak
menunjukkan adanya busa.
XI.

PERTANYAAN PASCA PRAKTIK


1. Tuliskan persamaan reaksi untuk setiap percobaan
Jawab :
a. Sintesis dan identifikasi ester
CH3COOH + CH3CH2OH
CH3COOCH2CH3 + H2O
b. Esterifikasi dengan alkohol berlebih
CH3CH2CH2COOH + CH3CH2CH2CH2OH
c. Reaksi beberapa ester
C6H5COOH + CH3OH
C7H6O3 + C4H9OH
d. Saponifikasi ester
C8H8O3 + NaOH
CH3COOC2H5 + HCl

C3H7COOC4H9 + H2O

C6H5COOCH3 + H2O
C11H14O3 + H2O
C7H4O3Na2 + CHOH + H2O
CH3COOH + C2H5Cl

2. Dari pustaka, tulislah langkah-langkah mekanisme reaksi esterifikasi


Jawab :
Mekanisme reaksi esterifikasi:
1. Tranfer proton dari katalis asam ke atom oksigen karbonil, sehingga
meningkatkan elektrofilisitas dari atom karbon karbonil
2. Atom karbon karbonil kemudian diserang oleh atom oksigen dari alkohol
yang bersifat nukleofilik sehingga terbentuk ion oksonium
3. Terjadi pelepasan proton dari gugus hidroksil milik alkohol menghasilkan
kompleks teraktivasi
4. Protonasi terhadap salah satu gugus hidroksil yang diikuti oleh pelepasan air
menghasilkan ester
3. Setelah pengasaman sabun Anda memperoleh endapan yaitu asam lemak. Apakah asam
lemak ini murni atau campuran?
Jawab :
Murni, karena asam lemak tersebut berasla dari asam karboksilatnya yang murni.
Jika direaksikan dengan ester dan gliserol menghasilkan asam lemak dan minyak.
Page
196

4. Mengapa sabun tidak bekerja baik dalam air sadah?


Jawab :
Karena air sadah memiliki kandungan mineral yang tinggi sehingga sabun tidak
me nghasilkan busa
5. Apakah air di laboraturium Anda tergolong air sadah? Bagaimana membuktikannya?
Jawab :
Untuk mengetahui air yang digunakan di laboraturium air sadah atau bukan
dapat diuji dengan cara melarutkan larutan sabun ke dalam sampel air, kemudian
dikocok. Jika tidak dihasilkan busa berari air tersebut adalah air ssadah, namun jika
dihasilkan busa yang cukup banyak berarti air tersebut bukan air sadah.
6. Jika pada pabrik sabun tersedia minyak kelapa sebanyak 1 ton, bepara kilogram
sekurang-kurangnya antrium hidroksida yang dipergunakan untuk membuat sabun?
Jawab :
Perbandingan minyak kelapa dengan NaOH adalah 1:3, sehingga jika digunakan
minyak kelapa 1 ton maka dibutuhkan NaOH sebanyak 3 ton.
XII.

KESIMPULAN
1. Pembuatan ester dapat dilakukan dengan mereaksikan asam karboksilat dengan alkohol
menggunakan katalis asam kuat H2SO4.
2. Ester yang disintesis pada percobaan ini, yaitu etil etanoat/etil asetat, butil butirat, metil
benzoat, dan butil salisilat.
3. Esterifikasi adalah reaksi yang dapat dibalik (reversible), sehingga reaksi esterifikasi
dapat juga disebut reaksi kesetimbangan. Jika dalam pembuatan ester digunakan alkohol
dalam konsentrasi berlebih, maka ester yang dihasilkan akan lebih banyak karena
kesetimbangan bergeser ke arah ester (produk).
4. Dalam esterifikasi, asam karboksilat dengan konsentrasi berlebih menyebabkan
kesetimbangan reaksi esterifikasi bergeser ke arah produk, sehingga ester yang
dihasilkan lebih banyak.
5. Ester adalah senyawa organik yang memiliki bau khas, seperti bau buah-buahan atau
harum atau aroma bunga-bungaan. Berikut ini bau beberapa ester :
- Etil asetat CH3COOC2H5 : Balon, Lem
- Butil Butirat C3H7COOC4H9 : Nanas
-Metil Benzoat C6H5COOCH3 : Feijoa
6. Penyabunan / saponifikasi merupakan reaksi antara ester dengan basa yang
menghasilkan sabun.
7. Air sadah adalah air yang mengandung mineral tinggi. Dalam air sadah, sabun tidak
akan menghasilkan busa atau hanya sedikit sekali busa.
Page
197

XIII. DAFTAR PUSTAKA


Epinur,dkk. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Jambi : UNJA.
Petrucci Ralph. 1985.Pengantar Kimia Organik.Jakarta:Balai Pustaka.
Respati.1986.Dasar Ilmu Kimia. Jakarta:Aksara Baru.
Sukadjo.1997.Kimia Fisika. Jakarta:Rineka Cipto.
Soehito.1982.Penuntun Belajar Kimia. Jakarta:Fa Widjaja.
Sunarya Yayan.2012.Kimia Dasar 2. Bandung:CV.Yrama Widya.

LAMPIRAN

Percobaan(8)skala pH dan penggunaan indikator

Page
198

Percobaan (9) titrimetri dan pengendalian pH

Page
199

Standardisasi dgn lrutan HCl

standardisasi dgn KHP

PERCOBAAN (10) KINETIKA KIMIA =

PERCOBAAN (11) PERBANDINGAN SENYAWA KOVALEN & IONIK

Page
200

PENGARUHKATALIS TERHADAP LAJU REAKSI\

Page
201