Anda di halaman 1dari 71

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN


SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
TANGERANG SELATAN

PAPER SEMINAR AKUNTANSI PEMERINTAH

PSAP 07 tentang Akuntansi Aset Tetap


Disusun oleh :
DINA PRAMUDIANTI
JANUARDO NAPITUPULU
YUSUF HERI PRASETYO

: 144060005808 (8A / 15)


: 144060005803 (8A / 20)
: 144060005669 (8A / 30)

Program Diploma IV Keuangan Akuntansi Kurikulum Khusus


Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
Tahun 2014 / 2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pemerintah memiliki peranan yang besar dalam perekonomian, baik dalam
menciptakan kebijakan dan peraturan, serta pengeluaran belanja pemerintah
dalam

rangka

menciptakan pelayanan yang baik kepada masyarakat.

Peningkatan kualitas atas pengelolaan keuangan negara menjadi poin penting


yang

menjadi

perhatian

masyarakat

dalam

rangka

menciptakan

Good

Governance. Informasi keuangan yang transparan dan akuntabel pastinya akan


sangat mendukung dalam proses pengambilan keputusan dan pengawasan
secara tepat.
Sejak ditetapkannya kewajiban penyusunan neraca sebagai bagian dari
laporan keuangan pemerintah dimana merupakan bentuk

perwujudan

good governance tersebut, pengakuan/pencatatan, pengukuran/penilaian, dan


penyajian serta pengungkapan aset tetap menjadi fokus utama, karena aset
tetap memiliki nilai yang sangat signifikan dan memiliki tingkat kompleksitas
yang tinggi.
Akuntansi aset tetap telah diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi
Pemerintahan Nomor 07 (PSAP 07) dari Lampiran PP 24 Tahun 2005. PSAP
07

tersebut

pengakuan,

memberikan
pengukuran,

pedoman
dan

bagi pemerintah

penyajian

dalam

melakukan

serta pengungkapan aset tetap

berdasarkan peristiwa (events) yang terjadi, seperti perolehan aset tetap


pertama kali, pemeliharaan aset tetap, pertukaran aset tetap, perolehan aset
dari hibah/donasi, dan penyusutan.
Aset tetap dalam PSAP 07 didefinisikan sebagai aset berwujud yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan
dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Lebih
lanjut, dalam Paragraf 8, aset tetap diklasifikasikan berdasarkan kesamaan sifat
atau fungsinya dalam aktivitas operasi entitas.
Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mencapai
good governance yang lebih baik adalah dengan cara menerapkan akuntansi
berbasis akrual dari yang semula menggunakan akuntansi berbasis kas menuju

akrual. Hal ini dapat dilihat dari Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005
tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, yaitu basis kas untuk pendapatan,
belanja, dan pembiayaan serta basis akrual untuk aset, kewajiban dan ekuitas,
atau secara keseluruhan dikenal sebagai basis cash toward accrual. Kemudian
pemerintah menggantinya dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010
tentang Standar Akuntansi Pemerintah (SAP).
Lingkup pengaturan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 ini meliputi
SAP Berbasis Akrual dan SAP Berbasis Kas Menuju Akrual. SAP Berbasis Kas
Menuju Akrual berlaku selama masa transisi bagi entitas yang belum siap untuk
menerapkan SAP Berbasis Akrual yaitu maksimal empat tahun sejak tanggal
ditetapkan. Dengan demikian, paling lambat tahun 2015, pemerintah pusat
maupun pemerintah daerah wajib melaksanakan SAP Berbasis Akrual.
Berdasarkan perubahan peraturan pemerintah yang melandasi penerapan
basis akuntansi Standar Akuntansi Pemerintah, akuntansi aset tetap telah
diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah Nomor 07 (PSAP 07)
dari Lampiran PP 71 Tahun 2010. Dalam PSAP 07 tersebut, pengakuan,
pengukuran, dan penyajian serta pengungkapan aset tetap dalam lingkungan
pemerintahan telah berlandaskan pada basis akuntansi akrual.
Salah satu komponen utama dalam neraca adalah aset tetap atau barang
milik negara yang terdiri dari pemerintah pusat dan daerah. Tuntutan penyajian
laporan

keuangan

negara

adalah

menciptakan

pengelolaan

dan

pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang akuntabel dan transparan.


Berdasarkan pengalaman pemerintah dalam menyusun neraca, komponen
aset adalah hal yang paling sulit untuk diakui. Hal ini terkait dengan banyaknya
jenis aset tetap yang dimiliki pemerintah termasuk aset budaya/sejarah, aset
kemiliteran dan aset infrastruktur yang memerlukan perlakuan yang spesifik.
Pada saat ini neraca yang disajikan oleh pemerintah secara struktural dan
tugas fungsi penyusunan laporan keuangan melekat di Biro/Bagian Keuangan
sedangkan

pencatatan

aset

tetap

ditangani

oleh

Biro/Bagian

Perlengkapan/Umum. Selama ini Biro/Bagian Keuangan hanya mencatat arus kas


uang dan Biro/Bagian Aset hanya mencatat aset/barang saja. Dengan kata lain
tidak ada integrasi antara arus uang dan arus barang karena terpisahnya unit
yang melakukan pencatatan dan sistem akuntansi yang digunakan masih single
entry. Padahal arus uang atau belanja pemerintah sebagian besar digunakan
untuk belanja modal aset tetap yang seharusnya dilaporkan dalam neraca.

Kondisi yang diinginkan seharusnya neraca dihasilkan melalui suatu sistem


akuntansi yang berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang
mengintegrasikan arus uang dan arus barang dengan menerapkan double entry.
Dan pemahaman akan pentingnya akuntansi sehingga tidak terbatas pada
administrasi aset tetapi juga pada pengelolaan aset.

BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI ASET TETAP


1. Definisi Aset Tetap Menurut SAP
Aset tetap merupakan salah satu pos di neraca di samping aset lancar,
investasi jangka panjang, dana cadangan, dan aset lainnya. Aset tetap
mempunyai peranan yang sangat penting karena mempunyai nilai yang cukup
signifikan bila dibandingkan dengan komponen neraca lainnya.
Menurut PSAP 07 tentang Aset Tetap, Aset tetap didefinisikan sebagai aset
berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk
digunakan, atau dimaksudkan untuk digunakan,

dalam kegiatan pemerintah

atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum.


Aset tetap sering merupakan suatu bagian utama aset pemerintah, dan
karenanya signifikan dalam penyajian neraca. Termasuk dalam aset tetap
pemerintah adalah:
1) Aset tetap yang dimiliki oleh entitas pelaporan namun dimanfaatkan oleh
entitas lainnya, misalnya instansi pemerintah lainnya, universitas, dan
kontraktor;
2) Hak atas tanah.
Tidak termasuk dalam definisi aset tetap adalah aset yang dikuasai untuk
dikonsumsi

dalam

operasi

pemerintah,

seperti

bahan

(materials)

dan

perlengkapan (supplies).
Sesuai dengan PSAP 07, pernyataan standar tersebut diterapkan untuk
seluruh unit pemerintah yang menyajikan laporan keuangan untuk tujuan umum
dan mengatur tentang perlakuan akuntansinya, termasuk pengakuan, penilaian,
penyajian, dan pengungkapan yang diperlukan.
Pernyataan Standar ini tidak diterapkan untuk:
1) Hutan dan sumber daya alam yang dapat diperbaharui (regenerative
natural resources); dan
2) Kuasa pertambangan, eksplorasi dan penggalian mineral, minyak, gas
alam, dan sumber daya alam serupa yang tidak dapat diperbaharui (non
regenerative natural resources).

Namun demikian, Pernyataan ini berlaku untuk aset tetap yang digunakan
untuk mengembangkan atau memelihara aktivitas atau aset yang tercakup
dalam (1) dan (2) di atas dan dapat dipisahkan dari aktivitas atau aset tersebut.
2. Definisi Aset Tetap Menurut IPSAS
Akuntansi Aset Tetap menurut IPSAS diatur dalam IPSAS 17 tentang Property,
Plant, and Equipment (PPE). Menurut IPSAS 17, PPE adalah barang berwujud
yang:
1) diadakan untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau
jasa, untuk disewakan kepada orang lain, atau untuk tujuan administratif;
dan
2) diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode pelaporan.
IPSAS 17 ini berlaku untuk PPE termasuk peralatan militer khusus dan aset
Infrastruktur. Namun, standar ini tidak berlaku untuk:
1) Aset biologis yang terkait dengan kegiatan pertanian
2) Mineral dan cadangan mineral seperti minyak, gas alam dan nonregeneratif sumber daya yang sejenis.
3. Perbandingan
Dari beberapa definisi mengenai asset tetap di atas dapat disimpulkan bahwa
suatu asset dapat dikategorikan sebagai asset tetap apabila memenuhi syarat
sebagai berikut:
Ase
t
Te t a
p

D i g u n a k a n u n t u k p ro d u k s i d a n t u ju a n
a d m i n is t r a t i f , s e r t a p e l a y a n a n k e p a d a m a s y a r a k a t

M e m il i k i m a s a m a n f a a t
le b ih d a r i 1 t a h u n

4. Case : Definisi Aset Tetap Di Selandia Baru

Definisi asset tetap yang dikemukakan oleh NZ IAS


16 mengadopsi definisi asset tetap menurut IPSAS, yaitu
Properti, pabrik dan Peralatan (PPE) adalah barang
berwujud yang:
1) diadakan untuk digunakan dalam produksi atau
penyediaan barang atau jasa, untuk sewa kepada orang lain, atau untuk
tujuan administratif; dan
2) diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode pelaporan.
Menurut NZ IAS 16, definisi PPE ini tidak berlaku untuk:
1) PPE yang diklasifikasikan sebagai asset yang dimiliki untuk dijual (diatur
dalam NZ IFRS 5 tentang Non-current Assets Held for Sale and
Discontinued Operations)
2) Aset biologis yang berhubungan dengan kegiatan pertanian (diatur NZ IAS
41 Agriculture);
3) Pengakuan dan pengukuran aset eksplorasi dan evaluasi (diatur dalam NZ
IFRS 6 Exploration for and Evaluation of Mineral Resources), atau
4) Hak mineral dan cadangan mineral seperti minyak, gas alam dan sumber
daya non-regeneratif yang sejenis.
B. KLASIFIKASI ASET TETAP
1. Klasifikasi Aset Tetap Menurut SAP
Aset tetap diklasifikasikan berdasarkan kesamaan dalam sifat atau fungsinya
dalam aktivitas operasi entitas. Klasifikasi aset tetap adalah sebagai berikut:
1) Tanah
Tanah yang dikelompokkan sebagai aset tetap ialah tanah yang diperoleh
dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional pemerintah dan
dalam kondisi siap dipakai. Termasuk dalam klasifikasi tanah ini adalah tanah
yang digunakan untuk gedung, bangunan, jalan, irigasi, dan jaringan.
2) Peralatan dan Mesin
Peralatan dan mesin mencakup mesin-mesin dan kendaraan bermotor, alat
elektonik, inventaris kantor, dan peralatan lainnya yang nilainya signifikan
dan masa manfaatnya lebih dari 12 (dua belas) bulan dan dalam kondisi siap
pakai.
Peralatan dan mesin memiliki variasi terbanyak dalam kelompok aset tetap.
Peralatan dan mesin ini dapat berupa alat-alat berat, alat kantor, alat
angkutan, alat kedokteran, alat komunikasi, dan lain sebagainya.
3) Gedung dan Bangunan

Gedung dan bangunan mencakup seluruh gedung dan bangunan yang


diperoleh

dengan

maksud

untuk

dipakai

pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai.


Termasuk dalam kelompok Gedung dan

dalam

kegiatan

Bangunan

operasional

adalah

gedung

perkantoran, rumah dinas, bangunan tempat ibadah, bangunan menara,


monumen/bangunan bersejarah, gudang, gedung museum, dan ramburambu.
Gedung dan bangunan ini tidak mencakup tanah yang diperoleh untuk
pembangunan gedung dan bangunan yang ada di atasnya. Tanah yang
diperoleh untuk keperluan dimaksud dimasukkan dalam kelompok Tanah.
4) Jalan, Irigasi, dan Jaringan
Jalan, irigasi, dan jaringan mencakup jalan, irigasi, dan jaringan yang
dibangun oleh pemerintah serta dimiliki dan/atau dikuasai oleh pemerintah
dan dalam kondisi siap dipakai.
Jalan, irigasi, dan jaringan tersebut selain digunakan dalam kegiatan
pemerintah juga dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Termasuk dalam
klasifikasi jalan, irigasi, dan jaringan adalah jalan raya, jembatan, bangunan
air, instalasi air bersih, instalasi pembangkit listrik, jaringan air minum,
jaringan listrik, dan jaringan telepon.
Jalan, irigasi, dan jaringan ini tidak mencakup tanah yang diperoleh untuk
pembangunan jalan, irigasi dan jaringan. Tanah yang diperoleh untuk
keperluan dimaksud dimasukkan dalam kelompok Tanah.
5) Aset Tetap Lainnya
Aset tetap lainnya mencakup aset tetap yang tidak dapat dikelompokkan ke
dalam kelompok aset tetap di atas, yang diperoleh dan dimanfaatkan untuk
kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai.
Aset yang termasuk dalam kategori Aset Tetap Lainnya adalah koleksi
perpustakaan/buku

dan

non

buku,

barang

bercorak

kesenian/kebudayaan/olah raga, hewan, ikan, dan tanaman. Termasuk dalam


kategori Aset Tetap Lainnya adalah Aset Tetap-Renovasi, yaitu biaya renovasi
atas aset tetap yang bukan miliknya, dan biaya partisi suatu ruangan kantor
yang bukan miliknya.
6) Konstruksi dalam Pengerjaan.
Konstruksi dalam pengerjaan mencakup aset tetap yang sedang dalam proses
pembangunan

namun

pada

tanggal

laporan

keuangan

belum

selesai

seluruhnya.
Standar ini wajib diterapkan oleh entitas yang melaksanakan pembangunan
aset tetap untuk dipakai dalam penyelenggaraan kegiatan operasional
pemerintahan dan/atau pelayanan masyarakat, dalam jangka waktu tertentu,
baik yang dilaksanakan secara swakelola maupun oleh pihak ketiga.
Suatu KDP ada yang dibangun tidak melebihi satu tahun anggaran dan ada
juga yang dibangun secara bertahap yang penyelesaiannya melewati satu

tahun anggaran. Apabila Pemerintah mengontrakkan pekerjaan tersebut


kepada pihak ketiga dengan perjanjian akan dilakukan penyelesaian lebih dari
satu tahun anggaran, maka penyelesaikan bagian tertentu (prosentase
selesai) dari pekerjaan yang disertai berita acara penyelesaian, pemerintah
akan membayar sesuai dengan tahapan pekerjaan yang diselesaikan dan
selanjutnya dibukukan sebagai KDP. Permasalahan utama akuntansi untuk
KDP adalah identifikasi jumlah biaya yang diakui sebagai aset yang harus
dicatat sampai dengan konstruksi tersebut selesai dikerjakan.
Aset tetap yang tidak digunakan untuk keperluan operasional pemerintah
tidak memenuhi definisi aset tetap dan harus disajikan di pos aset lainnya sesuai
dengan nilai tercatatnya.
2. Klasifikasi Aset Tetap Menurut IPSAS
Pengelompokan/klasifikasi PPE adalah pengelompokan aset yang memiliki
kesamaan sifat atau fungsi dalam operasi suatu entitas. Berikut ini adalah contoh
klasifikasi PPE (Paragraph 52 IPSAS 17):
1. Tanah;
2. Bangunan Operasional;
3. Jalan;
4. Mesin;
5. Jaringan transmisi listrik;
6. Kapal;
7. Pesawat;
8. Peralatan militer khusus;
9. Kendaraan Bermotor;
10.Furniture dan perlengkapan;
11.Perlengkapan kantor, dan
12.Alat Pengeboran Minyak
3. Case : Klasifikasi Aset Tetap Di New Zealand
Menurut NZ IAS 16, Klasifikasi PPE adalah pengelompokan aset yang memiliki
kesamaan sifat dan digunakan dalam operasi entitas. Berikut ini adalah contoh
klasifikasi PPE menurut NZ IAS:
1. Tanah;
2. Tanah dan bangunan;
3. Mesin;

4. Kapal;
5. Pesawat udara;
6. Kendaraan bermotor;
7. Mebel dan perlengkapan, dan
8. Peralatan kantor.
C. PENGAKUAN ASET TETAP
1. Pengakuan Aset Tetap Menurut SAP
a. Kriteria Pengakuan
Aset tetap diakui pada saat manfaat ekonomi masa depan dapat diperoleh
dan nilainya dapat diukur dengan handal. Untuk dapat diakui sebagai aset tetap
harus dipenuhi kriteria sebagai berikut :
1) Berwujud;
2) Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan;
Dalam menentukan apakah suatu aset tetap mempunyai manfaat lebih
dari 12 (dua belas) bulan, suatu entitas harus menilai manfaat ekonomi
masa depan yang dapat diberikan oleh aset tetap tersebut, baik langsung
maupun tidak langsung, bagi kegiatan operasional pemerintah. Manfaat
tersebut dapat berupa aliran pendapatan atau penghematan belanja bagi
pemerintah. Manfaat ekonomi masa depan akan mengalir ke suatu entitas
dapat dipastikan bila entitas tersebut akan menerima manfaat dan
menerima risiko terkait. Kepastian ini biasanya hanya tersedia jika
manfaat dan risiko telah diterima
3) Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal;
4) Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas; dan
Tujuan utama dari perolehan aset tetap adalah untuk digunakan oleh
pemerintah

dalam mendukung kegiatan operasionalnya dan bukan

dimaksudkan untuk dijual.


5) Diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan.
b. Pengakuan Andal
Pengakuan aset tetap akan andal bila aset tetap telah diterima atau
diserahkan hak kepemilikannya dan atau pada saat penguasaannya berpindah.
Saat pengakuan aset akan dapat diandalkan apabila terdapat bukti bahwa telah
terjadi perpindahan hak kepemilikan dan/atau penguasaan secara hukum,
misalnya sertifikat tanah dan bukti kepemilikan kendaraan bermotor. Apabila
perolehan aset tetap belum didukung dengan bukti secara hukum dikarenakan
masih adanya suatu proses administrasi yang diharuskan, seperti pembelian
tanah yang masih harus diselesaikan proses jual beli (akta) dan sertifikat

10

kepemilikannya di instansi berwenang, maka aset tetap tersebut harus diakui


pada saat terdapat bukti bahwa penguasaan atas aset tetap tersebut telah
berpindah, misalnya telah terjadi pembayaran dan penguasaan atas sertifikat
tanah atas nama pemilik sebelumnya.
c. Tanah
Pedoman pengakuan tanah yang tercantum dalam Buletin SAP Nomor 9
tentang Akuntansi Aset Tetap adalah sebagai berikut :
1) Dalam hal tanah belum ada bukti kepemilikan yang sah, namun dikuasai
dan/atau digunakan oleh pemerintah, maka tanah tersebut tetap harus
dicatat dan disajikan sebagai aset tetap tanah pada neraca pemerintah, serta
diungkapkan secara memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
2) Dalam hal tanah dimiliki oleh pemerintah, namun dikuasai dan/atau
digunakan oleh pihak lain, maka tanah tersebut tetap harus dicatat dan
disajikan

sebagai

aset

tetap

tanah

pada

neraca

pemerintah,

serta

diungkapkan secara memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan, bahwa


tanah tersebut dikuasai atau digunakan oleh pihak lain.
3) Dalam hal tanah dimiliki oleh suatu entitas pemerintah, namun dikuasai
dan/atau digunakan oleh entitas pemerintah yang lain, maka tanah tersebut
dicatat dan disajikan pada neraca entitas pemerintah yang mempunyai bukti
kepemilikan, serta diungkapkan secara memadai dalam Catatan atas Laporan
Keuangan. Entitas pemerintah yang menguasai dan/atau menggunakan tanah
cukup mengungkapkan tanah tersebut secara memadai dalam Catatan atas
Laporan Keuangan.
4) Perlakuan tanah yang masih dalam sengketa atau proses pengadilan:
a) Dalam hal belum ada bukti kepemilikan tanah yang sah, tanah
tersebut dikuasai dan/atau digunakan oleh pemerintah, maka tanah
tersebut tetap harus dicatat dan disajikan sebagai aset tetap tanah
pada neraca pemerintah, serta diungkapkan secara memadai dalam
Catatan atas Laporan Keuangan.
b) Dalam hal pemerintah belum mempunyai bukti kepemilikan tanah
yang sah, tanah tersebut dikuasai dan/atau digunakan oleh pihak lain,
maka tanah tersebut dicatat dan disajikan sebagai aset tetap tanah
pada neraca pemerintah, serta diungkapkan secara memadai dalam
Catatan atas Laporan Keuangan.
c) Dalam hal bukti kepemilikan tanah ganda, namun tanah tersebut
dikuasai dan/atau digunakan oleh pemerintah, maka tanah tersebut
tetap harus dicatat dan disajikan sebagai aset tetap tanah pada

11

neraca pemerintah, serta diungkapkan secara memadai dalam Catatan


atas Laporan Keuangan.
d) Dalam hal bukti kepemilikan tanah ganda, namun tanah tersebut
dikuasai dan/atau digunakan oleh pihak lain, maka tanah tersebut
tetap harus dicatat dan disajikan sebagai aset tetap tanah pada
neraca pemerintah, namun adanya sertifikat ganda harus diungkapkan
secara memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
d. Peralatan dan Mesin
Pengakuan peralatan dan mesin dapat dilakukan apabila terdapat bukti
bahwa hak/kepemilikan telah berpindah, dalam hal ini misalnya ditandai dengan
berita acara serah terima pekerjaan, dan untuk kendaraan bermotor dilengkapi
dengan bukti kepemilikan kendaraan. Perolehan peralatan dapat melalui
pembelian, pembangunan, atau pertukaran aset, hibah/donasi, dan lainnya.
Perolehan melalui pembelian dapat dilakukan dengan pembelian tunai dan
angsuran.
e. Gedung dan Bangunan
Pengakuan Gedung dan Bangunan harus dipisahkan dengan tanah di mana
gedung dan bangunan tersebut didirikan. Gedung dan Bangunan diakui pada
saat gedung dan bangunan telah diterima atau diserahkan hak kepemilikannya
dan/atau pada saat penguasaannya berpindah serta telah siap dipakai.
Saat pengakuan Gedung dan Bangunan akan lebih dapat diandalkan apabila
terdapat bukti bahwa telah terjadi perpindahan hak kepemilikan dan/atau
penguasaan secara hukum, misalnya akte jual beli atau Berita Acara Serah
Terima. Apabila perolehan Gedung dan Bangunan belum didukung dengan bukti
secara hukum dikarenakan masih adanya suatu proses administrasi yang
diharuskan, seperti pembelian gedung kantor yang masih harus diselesaikan
proses jual beli (akta) dan bukti kepemilikannya di instansi berwenang, maka
Gedung dan Bangunan tersebut harus diakui pada saat terdapat bukti bahwa
penguasaan atas Gedung dan Bangunan tersebut telah berpindah, misalnya
telah terjadi pembayaran dan penguasaan atas bangunan. Perolehan Gedung
dan Bangunan dapat melalui pembelian, pembangunan, atau tukar menukar,
dan lainnya. Perolehan melalui pembelian dapat dilakukan dengan pembelian
tunai dan angsuran. Perolehan melalui pembangunan dapat dilakukan dengan
membangun sendiri (swakelola) dan melalui kontrak konstruksi.
f. Jalan, Irigasi dan Jaringan

12

Untuk dapat diakui sebagai Jalan, Irigasi, dan Jaringan, maka Jalan, Irigasi,
dan Jaringan harus berwujud dan mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua
belas) bulan, biaya perolehannya dapat diukur secara handal, tidak dimaksudkan
untuk dijual dalam kondisi normal entitas dan diperoleh dengan maksud untuk
digunakan.
Jalan, irigasi, dan jaringan diakui pada saat jalan, irigasi, dan jaringan telah
diterima

atau

diserahkan

hak

kepemilikannya

dan/atau

pada

saat

penguasaannya berpindah serta telah siap dipakai. Perolehan jalan, irigasi, dan
jaringan pada umumnya dengan pembangunan baik membangun sendiri
(swakelola) maupun melalui kontrak konstruksi.
g. Aset Tetap Lainnya
Aset Tetap Lainnya diakui pada saat Aset Tetap Lainnya telah diterima atau
diserahkan hak kepemilikannya dan/atau pada saat penguasaannya berpindah
serta telah siap dipakai. Khusus mengenai pengakuan biaya renovasi atas aset
tetap yang bukan milik, ketentuan telah diatur dalam Buletin Teknis Nomor 04
tentang Penyajian dan Pengungkapan Belanja Pemerintah sebagai berikut:
1) Apabila renovasi aset tetap tersebut meningkatkan manfaat ekonomik
aset tetap misalnya perubahan fungsi gedung dari gudang menjadi
ruangan

kerja

dan

kapasitasnya

naik,

maka

renovasi

tersebut

dikapitalisasi sebagai Aset Tetap-Renovasi. Apabila renovasi atas aset


tetap yang disewa tidak menambah manfaat ekonomik, maka dianggap
sebagai Belanja Operasional. Aset Tetap-Renovasi diklasifikasikan ke
dalam Aset Tetap Lainnya.
2) Apabila manfaat ekonomik renovasi tersebut lebih dari satu tahun buku,
dan memenuhi butir 1 di atas, biaya renovasi dikapitalisasi sebagai Aset
Tetap-Renovasi, sedangkan apabila manfaat ekonomik renovasi kurang
dari 1 tahun buku, maka pengeluaran tersebut diperlakukan sebagai
Belanja Operasional tahun berjalan.
3) Apabila jumlah nilai moneter biaya renovasi tersebut cukup material, dan
memenuhi syarat butir 1 dan 2 di atas, maka pengeluaran tersebut
dikapitalisasi sebagai Aset TetapRenovasi. Apabila tidak material, biaya
renovasi dianggap sebagai Belanja Operasional.
h. Konstruksi dalam Pengerjaan
Berdasarkan PSAP 08 Paragraf 14, suatu benda berwujud harus diakui sebagai
KDP jika:

13

a) besar kemungkinan bahwa manfaat ekonomi masa yang akan datang


berkaitan dengan aset tersebut akan diperoleh;
b) biaya perolehan aset tersebut dapat diukur dengan handal;
c) aset tersebut masih dalam proses pengerjaan.
Apabila dalam konstruksi aset tetap pembangunan fisik proyek belum
dilaksanakan, namun biaya-biaya yang dapat diatribusikan langsung ke dalam
pembangunan proyek telah dikeluarkan, maka biaya-biaya tersebut harus diakui
sebagai KDP aset yang bersangkutan.
Sesuai dengan paragraf 16 PSAP 08, suatu KDP akan dipindahkan ke pos aset
tetap yang bersangkutan jika konstruksi secara substansi telah selesai dikerjakan
dan konstruksi tersebut telah dapat memberikan manfaat/jasa sesuai tujuan
perolehan. Dokumen sumber untuk pengakuan penyelesaian suatu KDP adalah
Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan (BAPP). Dengan demikian, apabila atas
suatu KDP telah diterbitkan BAPP, berarti pembangunan tersebut telah selesai.
Selanjutnya, aset tetap definitif sudah dapat diakui dengan cara memindahkan
KDP tersebut ke akun aset tetap yang bersangkutan.
2. Pengakuan Aset Tetap Menurut IPSAS
a. Kriteria Pengakuan
Sedangkan menurut IPSAS 17 Property, Plant, Equipment, biaya dari item
properti, pabrik dan peralatan harus diakui sebagai aset jika, dan hanya jika:
1) Terdapat kemungkinan manfaat ekonomi masa depan atau potensi
layanan yang terkait dengan item tersebut akan mengalir ke entitas, dan
2) Biaya atau nilai wajar item dapat diukur secara andal.
b. Properti, Pabrik dan Peralatan Tertentu
Selain itu, IPSAS juga mengatur pengakuan properti, pabrik dan peralatan
tertentu sebagai berikut :
1) Suku cadang dan peralatan servis biasanya diakui sebagai persediaan dan
diakui dalam surplus atau defisit sebesar yang digunakan. Namun, suku
cadang utama dan stand-by equipment memenuhi syarat sebagai
properti, pabrik dan peralatan ketika entitas mengharapkannya untuk
digunakan selama lebih dari satu periode. Demikian pula, jika suku cadang
dan peralatan servis hanya dapat digunakan dalam kaitannya dengan
item properti, pabrik dan peralatan, mereka dicatat sebagai properti,
pabrik dan peralatan.

14

2) Peralatan militer spesialis umumnya memenuhi definisi properti, pabrik


dan peralatan dan harus diakui sebagai suatu aset sesuai dengan Standar
ini.
3) Beberapa aset biasanya digambarkan sebagai "aset-aset infrastruktur".
Meskipun tidak ada definisi yang diterima secara universal dalam
menjelaskan aset infrastruktur, aset-aset ini biasanya menampilkan
a)
b)
c)
d)

beberapa atau semua karakteristik sebagai berikut:


Mereka adalah bagian dari sistem atau jaringan;
Mereka digunakan di alam/luar dan tidak memiliki penggunaan
alternatif;
Mereka tidak bergerak, dan
Mereka dapat menjadi kendala pada pembuangan.

Meskipun kepemilikan aset infrastruktur tidak hanya terbatas pada entitas


dalam sektor publik, aset infrastruktur yang signifikan sering ditemukan pada
sektor publik. Aset infrastruktur memenuhi definisi aset dan peralatan dan harus
dicatat sesuai dengan Standar ini. Contoh aset infrastruktur termasuk jaringan
jalan, sistem saluran pembuangan, sistem catu daya dan air dan jaringan
komunikasi.
Kesimpulannya,

baik

menurut

IPSAS

dan

SAP,

unsur

penting

dalam

pengakuan aset tetap ada dua hal, yaitu saat manfaat ekonomi masa depan
dapat diperoleh (mengalir ke entitas) dan nilainya dapat diukur dengan handal.
Pengaku
an Aset
Tetap

nilain ya d apat diukur


d engan handal.

saat m anfaat ekonom i m asa depan dapat


dip eroleh (m engalir ke entitas)

3. Case : Pengakuan Aset Tetap Di Australia


a. Standar Akuntansi
Negara Australia mengadopsi standar akuntansi akrual penuh, konsisten dengan
IPSAS. Oleh karena itu, standar yang digunakan umumnya sama dengan standar
dalam IPSAS. Selain itu, Australian Accounting Standards Board (AASB) juga

15

telah mengeluarkan Australian equivalents to IFRS (AIFRS) yang berlaku untuk sektor publik.
b. Penilaian Aset
Pencatatan aset dan kewajiban pada harga pembelian
adalah metode paling mudah, namun permasalahan
yang ditemui adalah :
1) Aset similar dinilai pada jumlah yang berbeda hanya karena mereka
mempunyai tanggal pembelian yang berbeda
2) Nilai aset dan kewajiban dapat naik dan turun di pasar seperti hutang dan
bangunan.
Penilaian yang paling baik menggunakan metode current valuation, namun
pendekatan ini juga menemui masalah yaitu :
a) Nilai berubah-ubah
b) Saran profesional dibutuhkan untuk menentukan nilai
c) Beberapa aset seperti warisan budaya, pertahanan dan infrastuktur sulit
untuk dinilai
c. Heritage Assets
Warisan (heritage assets)

meliputi bangunan bersejarah, monumen, situs

purbakala, museum, galeri dan kumpulan koleksi. Pengakuan dan penilaian


warisan tesebut menemui kesulitan karena :
1) Menekankan pada nilai pasar untuk sesuatu yang mempunyai nilai budaya
dan bukan nilai moneter
2) Warisan memilik siklus hidup yang lama, kadang-kadang ratusan tahun.
Nilainya tidak jatuh dari waktu ke waktu sehingga konsep depresiasi tidak
relevan.
3) Aset ini secara umum tidak diperjualbelikan karena dilindungi undangundang dan aset ini tidak mempunyai nilai pengganti (replacement value)
Pemerintah Australia dalam pengakuan aset warisan ini dengan menerapkan
hal-hal berikut :
1) Agency diperlukan untuk mengelola aset-aset warisan sehingga aset
warisan tidak jatuh nilainya.
2) Tidak semua warisan atau item budaya akan memenuhi definisi akuntansi
aset walaupun walaupun mempunyai nilai warisan. Apabila suatu aset

16

warisan dan budaya tak tergantikan dan tidak memiliki harga pasar, tidak
mungkin nilainya dapat diukur secara andal dan dicatat sebagai aset.
3) Aset warisan dinilai pada nilai wajar, dimana harga pasar tidak dapat
digunakan,

metode

penilaian

lain

digunakan

seperti

pendekatan

pendapatan atau nilai pengganti yang didepresiasi.


d. Senjata Pertahanan
Australia mengadopsi metode kapitalisasi untuk akuntansi senjata pertahanan
setelah

sebelumnya

memperlakukannya

sebagai

biaya.

Amerika

Serikat

mengadopsi pendekatan serupa. Aset militer seperti rumah sakit dasar, sekolah
militer dan perguruan tinggi militer dikapitalisasi. Namun demikian, masih ada
masalah yang tidak terselesaikan :
1) Sulit untuk mengkapitalisasi penelitian, terutama bila dilakukan in-house
2) Sulit untuk menilai kelebihan aset yang dihentikan, penggunaan eksklusif
militer atas bagian spektrum untuk komunikasi dan penggunaannya dalam
wilayah udara eksklusif.
e. Aset Infrastruktur
Aset infrastruktur terutama terdiri dari jalan raya dan aset jaringan lainnya. Isuisu yang terjadi meliputi:
1) Aset ini memiliki masa manfaat yang panjang. Oleh karena itu muncul
pertanyaan apakah mereka harus disusutkan.
2) Beberapa negara tidak melakukan depresiasi aset tersebut atas dasar
bahwa pengeluaran pemeliharaan mempertahankan nilai mereka.
3) Pemerintah Australia menilai aset infrastruktur pada nilai wajar sebagai
contoh bila harga pasar di mana tidak dapat digunakan, metode penilaian
lain seperti pendapatan atau pendekatan biaya pengganti terdepresiasi
akan digunakan.
4. Case : Pengakuan Aset Tetap Di Swedia
a. Aset Infrastruktur
Investasi dalam infrastruktur diperlakukan sebagai aset.
Jalan disusutkan selama 40 tahun. Biaya pemeliharaan dan
perawatan

untuk

mempertahankan

potensi

layanan

diperlakukan sebagai beban untuk periode tersebut. Jalan


dan kereta api yang dibangun dan dikelola oleh dua
lembaga. Investasi dalam jenis infrastruktur ini biasanya

17

diperlakukan sebagai beban sebelum 1993, tetapi sekarang diakui pada nilai
akuisisi dikurangi depresiasi.
Bandara sipil, jaringan listrik dan saluran air yang dibangun oleh utilitas
publik dan sudah diperlakukan sebagai aset pada tahun 1993. Utilitas publik
tidak mengubah prinsip-prinsip akuntansi yang sama antara lembaga
pemerintah dan perusahaan swasta.
b. Aset Darurat termasuk Aset Militer
Aset darurat adalah aset yang disimpan dalam untuk digunakan dalam
keadaan darurat atau situasi perang. Aset darurat dibagi menjadi tiga kelompok:
1) Aset darurat, yang dijual dan diganti saat ini, seperti pasokan makanan.
2) Aset darurat yang disimpan selama masa manfaat ekonominya
3) Aset darurat dalam pembangunan
Semua aset darurat diklasifikasikan dan biasanya dihargai sebagai aset tetap.
Aset darurat yang dijual dan diganti secara saat ini dinilai menurut metode FIFO.
Oleh karena itu, defence material seperti real estate, kendaraan, senjata dan
peralatan lainnya, pada prinsipnya dicatat sebagai aset dalam akuntansi
pemerintah Swedia. Prinsip ini telah berlaku sejak tahun 1998. Sebelumnya
terdapat perbedaan antara material yang digunakan untuk pelatihan staf militer
di satu sisi dan perlengkapan yang disimpan dalam cadangan untuk digunakan
dalam hal perang. Ada dua alasan mengapa semua peralatan militer sekarang
harus diperlakukan sama sebagai aset lainnya.
a) Praktis karena sulit untuk membedakan peralatan yang digunakan untuk
tujuan pelatihan dari yang disimpan untuk dijual.
b) Teoritis karena menjaga peralatan militer dapat dianggap sebagai asuransi
dalam menyediakan potensi layanan untuk setiap warga negara, dan
biaya tersebut harus diakui dalam periode/tahun ketika orang menikmati
manfaat tersebut.
c. Heritage Assets
Aset warisan adalah pengecualian dari aturan bahwa semua aset harus
diperhitungkan. Aset warisan dikeluarkan dari rekening ketika lembaga-lembaga
menyajikan Neraca dengan mengikuti prinsip-prinsip baru tahun 1993 karena
banyak kasus, informasi tentang biaya perolehan tidak ada sama sekali atau
benar-benar tidak relevan karena perubahan dalam satuan moneter atau harga.

18

Aset ini dinilai menjadi tidak menarik sehubungan dengan tujuan reformasi, yaitu
untuk lebih berkontribusi terhadap manajemen keuangan.
Bahkan

Aset

warisan

yang

diperoleh

setelah

tahun

1993

mungkin

dikecualikan dari pengakuan. Dalam peraturan suplemen ESV, menyebutkan


pada tahunan Laporan dan dokumentasi anggaran itu ditetapkan bahwa: "Tanah,
bangunan dan real estate lainnya dengan nilai historis atau budaya dominan,
serta benda-benda museum yang ada biasanya ada pasar, dapat dikecualikan
dari pengakuan. ESV sedang menyelidiki bagaimana prinsip-prinsip akuntansi
untuk aset warisan dapat ditingkatkan dan dibuat lebih seragam.
d. Aset dari Hibah
Aset yang diperoleh dari hibah harus dicatat pada nilai yang sesuai dengan
nilai pasar pada saat akuisisi.
D. PENGUKURAN ASET TETAP
1. Pengukuran Aset Tetap Menurut SAP
a. Pengukuran pada Biaya Perolehan
Dalam SAP, aset tetap dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian aset
tetap dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai
aset tetap didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan.
Pengukuran dapat dipertimbangkan andal bila terdapat transaksi pertukaran
dengan bukti pembelian aset tetap yang mengidentifikasikan biayanya. Dalam
keadaan suatu aset yang dikonstruksi/dibangun sendiri, suatu pengukuran yang
dapat diandalkan atas biaya dapat diperoleh dari transaksi pihak eksternal
dengan entitas tersebut untuk perolehan bahan baku, tenaga kerja dan biaya
lain yang digunakan dalam proses konstruksi.
Biaya perolehan aset tetap yang dibangun dengan cara swakelola meliputi
biaya langsung untuk tenaga kerja, bahan baku, dan biaya tidak langsung
termasuk biaya perencanaan dan pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik,
sewa peralatan, dan semua biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan
pembangunan aset tetap tersebut.
b. Tanah
a) Berdasarkan PSAP 07 Paragraf 31, tanah diakui pertama kali sebesar biaya
perolehan.

Biaya

perolehan

mencakup

harga

pembelian

atau

biaya

pembebasan tanah, biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh hak


seperti

biaya

pengurusan

sertifikat,

biaya

19

pematangan,

pengukuran,

penimbunan, dan biaya lainnya yang dikeluarkan sampai tanah tersebut siap
pakai. Nilai tanah juga meliputi nilai bangunan tua yang akan dimusnakan
yang terletak pada tanah yang dibeli tersebut. Apabila perolehan tanah
pemerintah dilakukan oleh panitia pengadaan, maka termasuk dalam harga
perolehan tanah adalah honor panitia pengadaan/pembebasan tanah, belanja
barang dan belanja perjalanan dinas dalam rangka perolehan tanah tersebut.
b) Biaya yang terkait dengan peningkatan bukti kepemilikan tanah, misalnya
dari status tanah girik menjadi SHM, dikapitalisasi sebagai biaya perolehan
tanah.
c) Biaya yang

timbul

atas

penyelesaian

sengketa

tanah,

seperti

biaya

pengadilan dan pengacara tidak dikapitalisasi sebagai biaya perolehan tanah.


c. Peralatan dan Mesin
a) Berdasarkan PSAP 07 tersebut, peralatan dan mesin dinilai dengan biaya
perolehan atau nilai wajar pada saat aset tetap tersebut diperoleh. Biaya
perolehan peralatan dan mesin menggambarkan jumlah pengeluaran yang
telah dilakukan untuk memperoleh peralatan dan mesin tersebut sampai siap
pakai. Biaya ini antara lain meliputi harga pembelian, biaya pengangkutan,
biaya instalasi, serta biaya langsung lainnya untuk memperoleh dan
mempersiapkan sampai peralatan dan mesin tersebut siap digunakan.
b) Pengukuran Peralatan dan Mesin harus memperhatikan kebijakan pemerintah
mengenai ketentuan nilai satuan minimum kapitalisasi aset tetap. Kebijakan
nilai satuan minimum ini dapat berbeda-beda pada pemerintah daerah,
sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing. Untuk Pemerintah Pusat,
ketentuan mengenai nilai satuan minimum mengacu kepada Keputusan
Menteri Keuangan Nomor 01/KMK.12/2001 tentang Pedoman Kapitalisasi
Barang Milik/Kekayaan Negara dalam Sistem Akuntansi Pemerintah, dimana
nilai satuan minimum perolehan peralatan dan mesin adalah Rp300.000.
Dengan demikian jika biaya perolehan peralatan dan mesin kurang dari
Rp300.000, maka perlatan dan mesin

tersebut tidak dapat diakui dan

disajikan sebagai aset tetap.


d. Gedung dan Bangunan
a) Berdasarkan PSAP, maka gedung dan bangunan dinilai dengan biaya
perolehan.

Biaya perolehan gedung dan bangunan meliputi seluruh biaya

yang dikeluarkan untuk memperoleh gedung dan bangunan sampai siap


pakai. Biaya ini antara lain meliputi harga pembelian atau biaya konstruksi,
termasuk biaya pengurusan IMB, notaris, dan pajak.

20

b) Apabila penilaian Gedung dan Bangunan dengan menggunakan biaya


perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai
wajar/taksiran pada saat perolehan.
c) Biaya perolehan Gedung dan Bangunan yang dibangun dengan cara
swakelola meliputi biaya langsung untuk tenaga kerja, bahan baku, dan biaya
tidak langsung termasuk biaya perencanaan dan pengawasan, perlengkapan,
tenaga listrik, sewa peralatan, dan semua biaya lainnya yang terjadi
berkenaan dengan pembangunan aset tetap tersebut seperti pengurusan
IMB, notaris, dan pajak. Sementara itu, Gedung dan Bangunan yang dibangun
melalui kontrak konstruksi, biaya perolehan meliputi nilai kontrak, biaya
perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan, jasa konsultan, dan pajak.
Gedung dan Bangunan yang diperoleh dari sumbangan (donasi) dicatat
sebesar nilai wajar pada saat perolehan.
d) Pengukuran Gedung dan Bangunan

harus

memperhatikan

kebijakan

pemerintah mengenai ketentuan nilai satuan minimum kapitalisasi aset tetap.


Untuk Pemerintah Pusat, kebijakannya sesuai dengan Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 01/KMK.12/2001 tentang Pedoman Kapitalisasi Barang
Milik/Kekayaan Negara dalam Sistem Akuntansi Pemerintah, yang mengatur
bahwa nilai satuan minimum perolehan gedung dan bangunan adalah
Rp10.000.000. Artinya, jika nilai perolehan gedung dan bangunan kurang dari
Rp10.000.000, maka gedung dan bangunan tersebut tidak dapat diakui dan
disajikan sebagai aset tetap, namun tetap diungkapkan dalam Catatan Atas
Laporan Keuangan dan dalam Laporan BMN.
e. Jalan, Irigasi dan Jaringan
a) Jalan, irigasi, dan jaringan dinilai dengan biaya perolehan. Biaya perolehan
jalan, irigasi, dan jaringan meliputi seluruh biaya yang dikeluarkan untuk
memperoleh jalan, irigasi, dan jaringan sampai siap pakai. Biaya ini meliputi
biaya perolehan atau biaya konstruksi dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan
sampai jalan, irigasi dan jaringan tersebut siap pakai.
b) Biaya perolehan untuk jalan, irigasi dan jaringan yang diperoleh melalui
kontrak meliputi biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan, jasa
konsultan, biaya pengosongan, pajak, kontrak konstruksi, dan pembongkaran.
Biaya perolehan untuk jalan, Irigasi dan Jaringan yang dibangun secara
swakelola meliputi biaya langsung dan tidak langsung, yang terdiri dari
meliputi biaya bahan baku, tenaga kerja, sewa peralatan, biaya perencanaan
dan

pengawasan,

biaya

perizinan,

biaya

21

pengosongan,

pajak

dan

pembongkaran. Jalan, Irigasi dan Jaringan yang diperoleh dari sumbangan


(donasi) dicatat sebesar nilai wajar pada saat perolehan.
c) Untuk Jalan, Irigasi, dan Jaringan, tidak ada kebijakan Pemerintah 1 mengenai
nilai satuan minimum kapitalisasi, sehingga berapa pun nilai perolehan Jalan,
Irigasi, dan Jaringan dikapitalisasi.
f. Aset Tetap Lainnya
a) Biaya perolehan Aset Tetap Lainnya menggambarkan seluruh biaya yang
dikeluarkan untuk memperoleh aset tersebut sampai siap pakai. Aset Tetap
Lainnya dinilai dengan biaya perolehan. Biaya perolehan Aset Tetap Lainnya
yang diperoleh melalui kontrak meliputi pengeluaran nilai kontrak, biaya
perencanaan dan pengawasan, pajak, serta biaya perizinan.
b) Biaya perolehan Aset Tetap Lainnya yang diadakan melalui swakelola,
misalnya untuk Aset Tetap Renovasi, meliputi biaya langsung dan tidak
langsung, yang terdiri dari biaya bahan baku, tenaga kerja, sewa peralatan,
biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan, pajak, dan jasa
konsultan.
c) Pengukuran Aset Tetap Lainnya harus memperhatikan kebijakan pemerintah
tentang ketentuan nilai satuan minimum kapitalisasi aset tetap.
g. Konstruksi dalam Pengerjaan
1. Pengukuran Konstruksi secara Swakelola
Apabila konstruksi asset tetap tersebut dilakukan dengan swakelola, maka
biaya-biaya yang dapat diperhitungkan sebagai biaya perolehan adalah
seluruh biaya langsung dan tidak langsung yang dikeluarkan sampai KDP
tersebut siap untuk digunakan, meliputi biaya bahan baku, upah tenaga kerja,
sewa peralatan, biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan, biaya
pengosongan dan pembongkaran bangunan yang ada di atas tanah yang
diperuntukkan untuk keperluan pembangunan. Biaya konstruksi secara
swakelola diukur berdasarkan jumlah uang yang telah dibayarkan dan tidak
memperhitungkan jumlah uang yang masih diperlukan untuk menyelesaikan
pekerjaan.
2. Pengukuran Konstruksi secara Kontrak Konstruksi
Apabila kontruksi dikerjakan oleh kontraktor melalui suatu kontrak konstruksi,
maka komponen nilai perolehan KDP tersebut berdasarkan PSAP 08 Paragraf
22 meliputi:

22

a) termin yang telah dibayarkan kepada kontraktor sehubungan dengan


tingkat penyelesaian pekerjaan;
b) kewajiban yang masih harus dibayar kepada kontraktor sehubungan
dengan pekerjaan yang telah diterima tetapi belum dibayar pada tanggal
pelaporan; dan
c) pembayaran klaim kepada kontraktor atau pihak ketiga sehubungan
dengan pelaksanaan kontrak konstruksi
Pembayaran atas kontrak konstruksi pada umumnya dilakukan secara
bertahap (termin) berdasarkan tingkat penyelesaian yang ditetapkan dalam
kontrak konstruksi. Setiap pembayaran yang dilakukan dicatat sebagai
penambah nilai KDP.
3. Konstruksi dibiayai dari Pinjaman
Jika konstruksi dibiayai dari pinjaman maka biaya pinjaman yang timbul
selama masa konstruksi dikapitalisasi dan menambah biaya konstruksi,
sepanjang biaya tersebut dapat diidentifikasikan dan ditetapkan secara andal.
Biaya pinjaman mencakup biaya bunga dan biaya lainnya yang timbul
sehubungan dengan pinjaman yang digunakan untuk membiayai konstruksi.
2. Pengukuran Aset Tetap Menurut IPSAS
a. Biaya dari item properti, pabrik dan peralatan
Menurut IPSAS, item properti, pabrik dan peralatan yang memenuhi syarat
untuk pengakuan sebagai suatu aset harus diukur pada biaya. Dimana aset
diperoleh melalui non-exchange transaction, biayanya harus diukur pada nilai
wajar pada tanggal akuisisi. Biaya dari item properti, pabrik dan peralatan terdiri
dari:
1) Harga pembelian, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak dapat
dikembalikan, setelah dikurangi diskon dagang dan rabat.
2) Setiap biaya dapat langsung diatribusikan untuk membawa aset ke lokasi dan
dalam kondisi yang diperlukan agar mampu beroperasi dalam cara yang
dimaksudkan oleh manajemen. Contohnya adalah :
a) Biaya employee benefits yang timbul langsung dari konstruksi atau
akuisisi item properti, pabrik dan peralatan;
b) Biaya persiapan lokasi;
c) Biaya pengiriman awal dan biaya penanganan;
d) Biaya instalasi dan perakitan ;

23

e) Biaya pengujian apakah aset tersebut berfungsi dengan baik, setelah


dikurangi hasil bersih dari penjualan setiap item yang diproduksi,
sementara membawa aset ke lokasi dan kondisi (seperti sampel dihasilkan
ketika pengujian peralatan), dan
f) Profesional fees.
3) Estimasi awal biaya pembongkaran dan penghapusan item dan memulihkan
tempat di mana item berada.
b. Bukan termasuk Biaya dari item properti, pabrik dan peralatan
Biaya yang tidak dapat dimasukkan dalam biaya properti, pabrik dan peralatan
antara lain :
1) Biaya pembukaan fasilitas baru;
2) Biaya memperkenalkan produk baru atau jasa (termasuk biaya iklan dan
kegiatan promosi);
3) Biaya melakukan bisnis di lokasi baru atau dengan kelas baru pelanggan
(termasuk biaya pelatihan staf), dan
4) Biaya administrasi dan biaya overhead umum lainnya.
Pengakuan biaya dalam nilai tercatat dari item properti, pabrik dan peralatan
berhenti ketika item dalam lokasi dan kondisi yang diperlukan untuk menjadi
mampu beroperasi dalam cara yang dimaksudkan oleh manajemen. Oleh karena
itu, biaya yang dikeluarkan dalam menggunakan atau redeploying item tidak
termasuk dalam nilai tercatat dari barang tersebut. Sebagai contoh, biaya
berikut ini tidak termasuk dalam nilai tercatat dari item properti, pabrik dan
peralatan:
1) Biaya yang dikeluarkan sementara item yang mampu beroperasi dalam
cara yang dimaksudkan oleh manajemen belum dibawa untuk digunakan
atau dioperasikan kurang dari kapasitas penuh;
2) Kerugian operasi awal, seperti yang terjadi ketika permintaan untuk output
item tersebut meningkat; dan
3) Biaya relokasi atau reorganisasi sebagian atau semua operasi entitas.
3. Case : Penilaian Aset Di Portugal
Kerangka hukum mengenai pendaftaran aset sektor publik, baik aset milik
negera maupun swasta, bermula di Portugal pada awal tahun 1980. Sejak saat
itu, langkah-langkah legislatif telah dirancang guna menetapkan aturan bagi

24

departemen

pemerintah

dan

otoritas

lokal

untuk

mempersiapkan laporan keuangan dan nilai aset modal


mereka. Ketentuan pertama adalah Decree Law no.477/80
yang menetapkan standar dan aturan untuk pendaftaran
properti dan aset lainnya milik entitas publik. Tujuan yang
diinginkan dalam dasar hukum bagi keberadaan suatu daftar aset Negara yang
up-to-date, adalah sebagai berikut: untuk mendapatkan pengetahuan yang
akurat tentang aset sektor publik, yang akan memberikan informasi tentang
keberadaan,

sifat,

nilai

dan

kepemilikan

pemerintahan,

untuk

menilai

pengelolaan urusan sektor publik, meyakinkan adanya kinerja yang efisien atas
uang pembayar pajak, untuk menjadi pilar kehidupan politik, administratif,
ekonomi, sosial, dan intelektual negara, dan sebagai dasar penjabaran neraca
pemerintah.
Dengan awal reformasi administrasi keuangan sektor publik, di awal 1990-an,
beberapa inisiatif legislatif telah dilakukan untuk mencapai tujuan yang
diusulkan seperti Official Plan for Public Accounting, ditetapkan dengan DecreeLaw no. 54-A/99, yang berasal Accounting Plan for Local Government (POCAL) Decree-Law no. 54-A/99, dan rekomendasi untuk elaborasi dari Cadastre and
Register of State Goods (CIBE), ditetapkan oleh Administrative Order no.
671/2000.
a. Kategori Aset
Undang-undang Portugis mengatur bahwa semua aset sektor publik harus
dicatat, namun memungkinkan yang terdaftar mencakup aset dicatat pada nilai
nol, sementara penilaian aset lainnya mungkin berasal dari baik atas dasar nilai
pasar, nilai sisa, atau penggantian yang nilai, antara lain.
Aset pemerintah daerah, seperti semua aset sektor publik, diklasifikasikan
menurut berikut kategori sebagai berikut :
1. Public domain assets adalah Aset yang, milik sebuah badan hak public
kolektif, tunduk oleh sebuah hukum yuridis pemerintahan yang khusus,
ditandai

terutama

dikarenakan

sifatnya

nontradable,

dalam

rangka

melestarikan produksi untuk penggunaan publik. Kategori ini terdiri dari aset
berikut: jalan, taman, persediaan air dan jaringan sanitasi, jaringan listrik dan
barang-barang warisan.

25

2. Private domain assets adalah aset yang tidak dipertimbangkan dalam public
domain, yang, pada prinsipnya, terintegrasi dalam kepemilikan pemerintahan
ditetapkan dalam hukum perdata dan, akibatnya, tunduk pada perdagangan
yuridis yang sesuai. Aktiva dalam kategori terdiri dari properti, pabrik dan
peralatan, yang bukan bagian dari public domain. Kategori ini dibagi lagi
menjadi non-disposable private assets, yang ditahan dan digunakan oleh
entitas publik untuk memberikan layanan hukum, dan disposable private
assets, yang diduduki oleh entitas tetapi dapat ditransaksikan pada setiap
waktu.
b. Metode Penilaian Aset
Menurut POCAL dan CIBE, pendekatan biaya produksi atau biaya akuisisi
digunakan sebagai aturan umum dalam penilaian aset pemerintah daerah.
Dalam kasus-kasus metode penilaian ini tidak dapat diterapkan, atau tidak
memberikan gambaran yang akurat tentang keuangan dan situasi patrimonial
institusi, metode penilaian lainnya harus digunakan (nilai sekarang dihitung
melalui metode arus kas diskonto, metode perbandingan penjualan dan metode
biaya penggantian). Jika tidak mungkin sama sekali untuk menilai aset, catatan
dalam laporan keuangan harus menunjukkan bahwa jenis aset ini tidak dicatat,
serta penjelasan masing-masing. Dalam kasus ini, yaitu untuk barang-barang
sejarah dan budaya, mereka harus dicatat dan diperhitungkan di nilai nol, kecuali
mereka yang diasuransikan. Dalam situasi yang terakhir nilai asuransi adalah
dasar untuk penilaian.

26

4.

Case : Penilaian Aset Di Inggris


a. Klasifikasi dan Penilaian Aset

Kategorisasi dan klasifikasi properti sektor public di


Inggris disajikan sebagai berikut, menurut RICS Red Book
(Connellan, 1997, p 216):
1) Non-operasional assets : sebagai aktiva tetap
dipegang oleh otoritas lokal, namun tidak secara langsung ditempati,
digunakan atau dikonsumsi dalam pelayanan atau jasa. Contohnya adalah
investasi properti dan aset yang surplus untuk digunakan.
2) Operasional assets : sebagai Aktiva tetap yang dimiliki dan diduduki,
digunakan atau dikonsumsi oleh otoritas lokal dalam kegiatan langsung
dalam pelayanan masyarakat menurut undang-undang atau tanggung
jawab diskresioner.
3) Community assets : sebagai Aset bahwa otoritas lokal berniat untuk
menahan selama kelangsungannya, bahwa tidak memiliki masa manfaat
ditentukan, dan mungkin memiliki pembatasan dalam pembuangan
mereka.
4) Infrastructure assets: sebagai Aktiva tetap adalah aset yang tidak dapat
dicabut,

pengeluaran

untuk

yang

dipulihkan

hanya

dengan

terus

menggunakan aset yang diciptakan. Contohnya adalah jalan raya dan


jalan setapak.

27

Jadi, tidak ada perbedaan yang signifikan antara klasifikasi aset sector publik
di

Portugis dan Inggris kecuali bahwa kategori Infrastructure assets dan

Community assets di Inggris bila dijadikan satu, sesuai dengan Public domain
assets di Portugal. Mengenai praktek penilaian aset sektor publik, dapat dilihat
(Gambar 1 dan 2) bahwa di Portugal, sedangkan semua jenis asset harus dinilai,
di Inggris ada beberapa kategori (Infrastructure assets dan Community assets),
yang tidak perlu dinilai.
E. PENILAIAN AWAL ASET TETAP
1. Penilaian Awal Aset Tetap Menurut SAP
a. Pengukuran Penilaian Awal
Barang berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu aset
dan

dikelompokkan

sebagai

aset tetap,

pada awalnya

harus diukur

berdasarkan biaya perolehan.


Bila aset tetap diperoleh dengan tanpa nilai, biaya aset tersebut adalah
sebesar nilai wajar pada saat aset tersebut diperoleh.
Contohnya: aset tetap yang diterima pemerintah sebagai hadiah/donasi dari
pihak

ketiga;

dan

pengimplementasian

aset

yang

wewenang

diperoleh

yang

dimiliki

tanpa

nilai

pemerintah,

melalui
misalnya

penyitaan sebidang tanah dan bangunan yang kemudian digunakan sebagai


tempat operasional pemerintahan.
Nilai wajar pada saat perolehan bukan merupakan suatu proses penilaian
kembali (revaluasi) dan tetap konsisten dengan biaya perolehan. Penilaian

28

kembali

hanya

diterapkan

pada

penilaian

untuk

periode

pelaporan

selanjutnya, bukan pada saat perolehan awal.


Untuk keperluan penyusunan neraca awal suatu entitas, biaya perolehan
aset tetap yang digunakan adalah nilai wajar pada saat neraca awal tersebut
disusun. Untuk periode selanjutnya setelah tanggal neraca awal, atas perolehan
aset tetap baru, suatu entitas menggunakan biaya perolehan atau harga wajar
bila biaya perolehan tidak ada.
b. Komponen Biaya
Biaya

perolehan

suatu

aset

tetap

terdiri

dari

harga

belinya

atau

konstruksinya, termasuk bea impor dan setiap biaya yang dapat diatribusikan
secara langsung dalam membawa aset tersebut ke kondisi yang membuat aset
tersebut dapat bekerja untuk penggunaan yang dimaksudkan.
Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah:
a) biaya persiapan tempat;
b) biaya pengiriman awal (initial delivery), serta biaya simpan dan bongkar
muat (handling cost);
c) biaya pemasangan (installation cost);
d) biaya profesional seperti arsitek dan insinyur; dan
e) biaya konstruksi.
Komponen biaya menggambarkan seluruh biaya yang dikeluarkan dan yang
masih harus dikeluarkan untuk memperoleh aset tetap sampai siap pakai. Biaya
administrasi dan biaya umum lainnya bukan merupakan suatu komponen biaya
aset tetap sepanjang biaya tersebut tidak dapat diatribusikan secara langsung
pada biaya perolehan aset atau membawa aset ke kondisi kerjanya. Demikian
pula biaya permulaan (start-up cost) dan pra-produksi serupa tidak merupakan
bagian biaya suatu aset kecuali biaya tersebut perlu untuk membawa aset ke
kondisi kerjanya. Setiap potongan dagang dan rabat dikurangkan dari harga
pembelian.
Biaya perolehan suatu aset yang dibangun dengan cara swakelola ditentukan
menggunakan prinsip yang sama seperti aset yang dibeli.
Berikut adalah komponen biaya perolehan atas masing-masing aset tetap:

Tanah.

29

Biaya perolehan mencakup harga pembelian atau biaya pembebasan tanah,


biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh hak, biaya pematangan,
pengukuran, penimbunan, dan biaya lainnya yang dikeluarkan maupun yang
masih harus dikeluarkan sampai tanah tersebut siap pakai. Nilai tanah juga
meliputi nilai bangunan tua yang terletak pada tanah yang dibeli tersebut jika
bangunan tua tersebut dimaksudkan untuk dimusnahkan.

Peralatan dan mesin.


Biaya perolehan peralatan dan mesin menggambarkan jumlah pengeluaran
yang telah dan yang masih harus dilakukan untuk memperoleh peralatan dan
mesin tersebut sampai siap pakai. Biaya ini antara lain meliputi harga
pembelian, biaya pengangkutan, biaya instalasi, serta biaya langsung lainnya
untuk memperoleh dan mempersiapkan sampai peralatan dan mesin tersebut
siap digunakan.

Gedung dan bangunan.


Biaya perolehan gedung dan bangunan menggambarkan seluruh biaya yang
dikeluarkan dan yang masih harus dikeluarkan untuk memperoleh gedung dan
bangunan sampai siap pakai. Biaya ini antara lain meliputi harga pembelian
atau biaya konstruksi, termasuk biaya pengurusan IMB, notaris, dan pajak.

Jalan, irigasi, dan jaringan.


Biaya perolehan jalan, irigasi, dan jaringan menggambarkan

seluruh biaya

yang dikeluarkan dan yang masih harus dikeluarkan untuk memperoleh jalan,
irigasi, dan jaringan sampai siap pakai. Biaya ini meliputi biaya perolehan atau
biaya konstruksi dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan sampai jalan, irigasi
dan jaringan tersebut siap pakai.

Aset tetap lainnya.


Biaya perolehan aset tetap lainnya menggambarkan seluruh biaya yang
dikeluarkan dan yang masih harus dikeluarkan untuk memperoleh aset
tersebut sampai siap pakai.
c. Konstruksi Dalam Pengerjaan

30

Jika penyelesaian pengerjaan suatu aset tetap melebihi dan atau melewati
satu periode tahun anggaran, maka aset tetap yang belum selesai tersebut
digolongkan dan dilaporkan sebagai Konstruksi Dalam Pengerjaan sampai
dengan aset tersebut selesai dan siap dipakai.
Apabila Konstruksi Dalam Pengerjaan sudah selesai dibuat atau dibangun dan
telah siap dipakai, maka harus segera direklasifikasikan ke salah satu akun yang
sesuai dalam pos aset tetap.
d. Perolehan Secara Gabungan
Biaya perolehan dari masing-masing aset tetap yang diperoleh secara
gabungan

ditentukan

dengan

mengalokasikan

harga

gabungan

tersebut

berdasarkan perbandingan nilai wajar masing-masing aset yang bersangkutan.


e. Pertukaran Aset
Suatu aset tetap dapat diperoleh melalui pertukaran atau pertukaran
sebagian aset tetap yang tidak serupa atau aset lainnya. Biaya dari pos
semacam itu diukur berdasarkan nilai wajar aset yang diperoleh yaitu nilai
ekuivalen atas nilai tercatat aset yang dilepas setelah disesuaikan dengan
jumlah setiap kas atau setara kas dan kewajiban lain yang ditransfer/diserahkan.
Suatu aset tetap dapat diperoleh melalui pertukaran atas suatu aset yang
serupa yang memiliki manfaat yang serupa dan memiliki nilai wajar yang serupa.
Suatu aset tetap juga dapat dilepas dalam pertukaran dengan kepemilikan aset
yang serupa. Dalam keadaan tersebut tidak ada keuntungan dan kerugian yang
diakui dalam transaksi ini. Biaya aset yang baru diperoleh dicatat sebesar nilai
tercatat (carrying amount) atas aset yang dilepas.
Nilai wajar atas aset yang diterima tersebut dapat memberikan bukti adanya
suatu pengurangan (impairment) nilai atas aset yang dilepas. Dalam kondisi
seperti ini, aset yang dilepas harus diturun-nilai-bukukan (written down) dan nilai
setelah diturun-nilai-bukukan (written down) tersebut merupakan nilai aset yang
diterima. Apabila terdapat aset lainnya dalam pertukaran, misalnya kas atau
kewajiban lainnya, maka hal ini mengindikasikan bahwa pos yang dipertukarkan
tidak mempunyai nilai yang sama.
f. Aset Donasi
Aset tetap yang diperoleh dari sumbangan (donasi) harus dicatat sebesar
nilai wajar pada saat perolehan.

31

Sumbangan aset tetap didefinisikan sebagai transfer tanpa persyaratan suatu


aset tetap ke satu entitas, misalnya perusahaan nonpemerintah memberikan
bangunan yang dimilikinya untuk digunakan oleh satu unit pemerintah tanpa
persyaratan apapun. Penyerahan aset tetap tersebut akan sangat andal bila
didukung dengan bukti perpindahan kepemilikannya secara hukum, seperti
adanya akta hibah. Perolehan atas aset donasi tersebut diakui sebagai
pendapatan operasional.
Tidak termasuk perolehan aset donasi, apabila penyerahan aset tetap
tersebut dihubungkan dengan kewajiban entitas lain kepada pemerintah.
Sebagai contoh, satu perusahaan swasta membangun aset tetap untuk
pemerintah

dengan

persyaratan

kewajibannya

kepada

pemerintah

telah

dianggap selesai. Perolehan aset tetap tersebut harus diperlakukan seperti


perolehan aset tetap dengan pertukaran.
2. Penilaian Awal Aset Tetap Menurut IPSAS
a. Pengukuran Penilaian Awal
Property, Plant and Equipment yang memenuhi kualifikasi untuk diakui
sebagai suatu aset, pada awalnya harus diukur berdasarkan biaya perolehan.
Bila aset diperoleh dengan tanpa nilai, biaya aset tersebut adalah sebesar
nilai wajar pada saat aset tersebut diperoleh.
Contohnya: aset yang diterima pemerintah sebagai hadiah/donasi dari pihak
ketiga; dan aset yang diperoleh tanpa nilai melalui pengimplementasian
wewenang yang dimiliki pemerintah.
Nilai wajar pada saat perolehan bukan merupakan suatu proses penilaian
kembali (revaluasi) dan tetap konsisten dengan biaya perolehan. Penilaian
kembali hanya diterapkan pada penilaian untuk periode pelaporan selanjutnya,
bukan pada saat perolehan awal.
b. Komponen Biaya
Biaya perolehan aset terdiri dari harga belinya, termasuk bea impor dan pajak
pembelian yang non-refundable, serta setiap biaya yang dapat diatribusikan
secara langsung dalam membawa aset tersebut ke kondisi siap pakai. Setiap
potongan dagang dan rabat dikurangkan dari harga pembelian.
Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah:
1) biaya persiapan tempat;

32

2) biaya pengiriman awal (initial delivery), serta biaya simpan dan bongkar
muat (handling cost);
3) biaya pemasangan (installation cost);
4) biaya profesional seperti arsitek dan insinyur; dan
5) Perkiraan biaya pembongkaran aset dan pengembalian situs, yang diakui
sebagai provisi.
Jika pembayaran aset ditangguhkan melampaui persyaratan kredit normal,
biayanya

adalah

setara harga tunai;

perbedaan

antara

jumlah

ini dan

pembayaran total diakui sebagai beban bunga selama periode kredit kecuali
dikapitalisasi

berdasarkan

alternatif

yang

diperbolehkan

sesuai

IPSAS

mengenai Borrowing Cost.


Biaya administrasi dan biaya umum lainnya bukan merupakan suatu
komponen biaya aset sepanjang biaya tersebut tidak dapat diatribusikan secara
langsung pada biaya perolehan aset atau membawa aset ke kondisi kerjanya.
Demikian pula biaya permulaan (start-up cost) dan pra-produksi serupa tidak
merupakan bagian biaya suatu aset kecuali biaya tersebut perlu untuk
membawa aset ke kondisi kerjanya. Kerugian operasi awal yang terjadi sebelum
aset mencapai kinerja yang direncanakan diakui sebagai beban.
c. Aset yang Dibangun Sendiri
Biaya aset yang dibangun sendiri ditentukan dengan menggunakan prinsip
yang sama seperti perolehan aset. Jika entitas membuat aktiva yang serupa
untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, biaya aset biasanya sama dengan
biaya memproduksi aset untuk dijual (IPSAS 12 tentang Inventories.
d. Aset Leasing
Biaya aset yang dimiliki lessee melalui finance lease ditentukan dengan
menggunakan prinsip-prinsip leasing sesuai dengan IPSAS 13 tentang Leases.
e. Pertukaran Aset
Suatu aset dapat diperoleh melalui pertukaran atau pertukaran sebagian aset
tetap yang tidak serupa atau aset lainnya. Biaya dari pos semacam itu diukur
berdasarkan nilai wajar aset yang diperoleh yaitu nilai ekuivalen atas nilai
tercatat aset yang dilepas setelah disesuaikan dengan jumlah setiap kas atau
setara kas dan kewajiban lain yang ditransfer/diserahkan.

33

Suatu aset dapat diperoleh melalui pertukaran atas suatu aset yang serupa
yang memiliki manfaat yang serupa dan memiliki nilai wajar yang serupa. Suatu
aset tetap juga dapat dilepas dalam pertukaran dengan kepemilikan aset yang
serupa. Dalam keadaan tersebut tidak ada keuntungan dan kerugian yang diakui
dalam transaksi ini. Biaya aset yang baru diperoleh dicatat sebesar nilai tercatat
(carrying amount) atas aset yang dilepas.
Nilai wajar atas aset yang diterima tersebut dapat memberikan bukti adanya
suatu pengurangan (impairment) nilai atas aset yang dilepas. Dalam kondisi
seperti ini, aset yang dilepas harus diturun-nilai-bukukan (written down) dan nilai
setelah diturun-nilai-bukukan (written down) tersebut merupakan nilai aset yang
diterima. Apabila terdapat aset lainnya dalam pertukaran, misalnya kas atau
kewajiban lainnya, maka hal ini mengindikasikan bahwa pos yang dipertukarkan
tidak mempunyai nilai yang sama.
3. Case : Penilaian Awal Aset Di Selandia Baru
a. Pengukuran pada Saat Pengakuan
Property, plant and equipment yang memenuhi persyaratan
untuk diakui sebagai aset harus diukur berdasarkan biaya
perolehan.
b. Element-elemen Biaya
Biaya Property, plant and equipment terdiri dari:
1) Harga pembelian, termasuk bea impor dan pajak pembelian nonrefundable, setelah dikurangi diskon dan rabat.
2) Biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung sampai aset berada
pada kondisi mampu beroperasi sesuai dengan yang dimaksudkan oleh
manajemen.
3) Estimasi awal

biaya

pembongkaran

dan

menghapus

item,

dan

mengembalikan situs pada tempatnya, kewajiban yang timbul baik ketika


item tersebut diperoleh atau sebagai konsekuensi menggunakan item
tersebut

pada

periode

tertentu

untuk

tujuan

selain

memproduksi

persediaan selama periode tersebut.


Contoh biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung:
1) biaya manfaat karyawan (seperti yang didefinisikan di NZ IAS 19
Employee Benefits) yang timbul secara langsung dari konstruksi atau
akuisisi Property, plant and equipment.

34

2)
3)
4)
5)

biaya persiapan tempat,


pengiriman awal dan biaya penanganan,
instalasi dan biaya perakitan,
biaya pengujian apakah aset tersebut berfungsi dengan baik, setelah
dikurangi hasil bersih dari penjualan setiap item yang diproduksi serta
membawa aset ke lokasi dan kondisi tertentu (seperti sampel yang

dihasilkan saat pengujian peralatan), dan


6) biaya profesional.
Contoh biaya-biaya yang bukan termasuk biaya

property, plant and

equipment adalah:
1) biaya membuka fasilitas baru,
2) biaya memperkenalkan produk baru atau jasa (termasuk biaya iklan dan
kegiatan promosi),
3) biaya menjalankan bisnis di lokasi baru atau dengan kelas baru dari
pelanggan (termasuk biaya pelatihan staf), dan
4) administrasi dan biaya overhead umum lainnya.
Beberapa

operasi

terjadi

sehubungan

dengan

pembangunan

atau

pengembangan dari property, plant and equipment, tetapi tidak diperlukan untuk
membawa item ke lokasi dan kondisi mampu beroperasi dalam cara yang
dimaksudkan oleh manajemen. Operasi insidental ini dapat terjadi sebelum atau
selama kegiatan konstruksi atau pembangunan. Misalnya, pendapatan dapat
diperoleh melalui menggunakan situs bangunan sebagai tempat parkir sampai
konstruksi dimulai. Karena operasi insidental tidak diperlukan untuk membawa
item ke lokasi dan kondisi mampu beroperasi dalam cara yang dimaksudkan oleh
manajemen, pendapatan dan biaya operasi insidental terkait diakui dalam
laporan laba rugi dan termasuk dalam klasifikasi masing-masing pendapatan dan
biaya.
c. Aset yang Dibangun Sendiri
Biaya aset yang dibangun sendiri ditentukan menggunakan prinsip yang
sama seperti aset yang diperoleh. Jika entitas membuat aktiva yang serupa
untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, biaya aset tersebut biasanya sama
dengan biaya membangun aset untuk dijual (NZ IAS 2). Oleh karena itu, setiap
laba internal dieliminasi dalam mencapai biaya tersebut. Demikian pula, biaya
jumlah abnormal bahan terbuang, tenaga kerja, atau sumber daya lainnya yang
timbul dalam aset yang dibangun sendiri, tidak termasuk dalam biaya aset
tersebut. NZ IAS 23 Borrowing Costs menetapkan kriteria untuk pengakuan

35

bunga sebagai komponen dari nilai tercatat item property, plant and equipment
yang dibangun sendiri.
F. PENGELUARAN SETELAH PEROLEHAN ASET TETAP
1. Pengeluaran Setelah Perolehan Aset Tetap Menurut SAP
a. Capitalization Thresholds
Pengeluaran

setelah

memperpanjang

masa

perolehan

awal

manfaat atau

yang

suatu

aset

kemungkinan

tetap
besar

yang

memberi

manfaat ekonomi di masa yang akan datang dalam bentuk kapasitas, mutu
produksi, atau peningkatan standar kinerja, harus ditambahkan pada nilai
tercatat aset yang bersangkutan.
Kapitalisasi

biaya

dimaksud

pada

paragraf

di atas

harus

ditetapkan

dalam kebijakan akuntansi suatu entitas berupa kriteria seperti pada paragraf di
atas dan/atau

suatu

batasan

jumlah

biaya

(capitalization

thresholds)

tertentu untuk dapat digunakan dalam penentuan apakah suatu pengeluaran


harus dikapitalisasi atau tidak.
Dikarenakan

organisasi

pemerintah

sangatlah

beragam

dalam jumlah

dan penggunaan aset tetap, maka suatu batasan jumlah biaya kapitalisasi
(capitalization thresholds) tidak dapat diseragamkan untuk seluruh entitas
yang

ada. Masing-masing entitas harus menetapkan batasan jumlah tersebut

dengan

mempertimbangkan

telah terbentuk maka


thresholds)

kondisi

batasan

harus diterapkan

keuangan

jumlah
secara

dan

biaya

operasionalnya.

kapitalisasi

konsisten

dan

Bila

(capitalization

diungkapkan

dalam

Catatan atas Laporan Keuangan.


b. Penjelasan dalam Buletin Teknis SAP Nomor 15
Setelah

aset

pengeluaran

diperoleh,

yang

pengeluaran

berhubungan

tersebut.

Pengeluaran-

aset

lebih

dari

yang

(memperpanjang

semula

atau

biaya

pengeluaran-

rehabilitasi atau renovasi. Pengeluaran yang dapat memberikan manfaat


direncanakan

berupa

dengan

melakukan

biaya

tahun

dapat

masih

ataupun

satu

tersebut

Pemerintah

manfaat

peningkatan

pemeliharaan
aset

kapasitas,

tersebut
mutu

dari

produksi,

atau

peningkatan kinerja) disebut dengan pengeluaran modal (capital expenditure)


sedangkan

pengeluaran

yang

memberikan manfaat kurang dari satu tahun

(termasuk pengeluaran untuk mempertahankan kondisi aset tetap) disebut


dengan pengeluaran pendapatan (revenue expenditure).

36

Pembedaan
menambah

antara

capital

atau

revenue

expenditure

selain

dari

manfaat atau tidak juga dapat dilhat dari besarnya jumlah

pengeluaran. Sebuah pembelian inventaris

berupa jam dinding seharga

Rp20.000,00 misalnya harus dicatat sebagai pengeluaran untuk

aset

tetap

karena jam dinding tersebut dapat digunakan lebih dari satu tahun. Akan
tetapi

karena

nilainya

yang

kecil

tidak

mungkin

mencatat

dan

memperlakukan biaya tersebut seperti biaya perolehan aset yang besar. Untuk
itu pemerintah harus menentukan batasan

pengeluaran

aset

dari

yang

diklasifikasi

dapat

dimanfaatkan

sebagai

aset

lebih

tetap.

Batasan

satu
ini

untuk
tahun

disebut

memperoleh
yang
juga

dapat
dengan

capitalization threshold (nilai satuan minimum kapitalisasi aset). SAP tidak


menentukan

besarnya

capitalization

threshold

ini

tetapi

memberikan

kebebasan kepada masing-masing entitas untuk menentukan sendiri.


Pengeluaran setelah perolehan awal dapat diakui sebagai pengeluaran modal
(capital

expenditure)

atau

sebagai

pengeluaran

pendapatan

(revenue

expenditure). Kapitalisasi setelah perolehan awal aset tetap dilakukan terhadap


biaya-biaya lain yang

dikeluarkan setelah pengadaan awal yang dapat

memperpanjang masa manfaat atau yang

kemungkinan

besar

memberi

manfaat ekonomik di masa yang akan datang dalam bentuk peningkatan


kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan kinerja.

Sebaliknya, pengeluaran-

pengeluaran yang tidak memperpanjang masa manfaat atau yang kemungkinan


besar tidak memberi manfaat ekonomik di masa yang akan datang dalam bentuk
peningkatan kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan kinerja diperlakukan
sebagai biaya (expense).
Pengeluaran-pengeluaran

yang

dikapitalisasi

diukur

sebesar

jumlah

biaya

yang dikeluarkan dalam rangka memperpanjang masa manfaat atau

yang

kemungkinan

besar

memberi manfaat ekonomik di masa yang akan

datang dalam bentuk peningkatan kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan


kinerja

aset

yang

bersangkutan.

berupa

pengembangan

dan

Pengeluaran

penggantian

yang

utama.

dikapitalisasi

dapat

Pengembangan

disini

maksudnya adalah peningkatan aset tetap karena meningkatnya manfaat


aset

tetap tersebut.

Biaya

pengembangan

ini

akan

menambah

harga

perolehan aset tetap yang bersangkutan. Sedangkan penggantian utama


adalah memperbaharui bagian aset tetap, dimana biaya penggantian utama
ini akan dikapitalisasi dengan cara mengurangi nilai bagian yang diganti dari
harga aset tetap yang semula dan menambahkan biaya penggantian. Dalam

37

proses kapitalisasi biaya pada aset tetap diterapkan kebijakan mengenai Nilai
Satuan

Minimum

Kapitalisasi

Aset

Tetap

(capitalization

threshold)

yang

mengatur batas minimum pengeluaran yang dapat ditambahkan ke dalam nilai


tercatat aset tetap. Aset tetap yang nilai perolehannya di bawah Nilai Satuan
Minimum Kapitalisasi Aset Tetap tidak disajikan dalan neraca (on face),
melainkan diungkapkan pada Catatan atas Laporan Keuangan dan dicatat
pada Laporan BMN/Laporan Barang Milik Daerah.
Pengeluaran setelah perolehan awal atas aset tetap yang oleh karena
bentuknya, atau lokasi
dan/atau

kuantitas

penggunaannya

yang

memiliki

mengakibatkan

risiko

penurunan

ketidakpastian perolehan potensi

ekonomik di masa depan, seperti tanggul lumpur lapindo,


gelombang,

tanggul

dikapitalisasi,

penahan

melainkan

lahar

di

diperlakukan

nilai

lereng

sebagai

tanggul

gunung

biaya

pemecah

Merapi

tidak

pemeliharaan

biasa

(expense).
Contoh Kasus :
Pada tahun 2009, Kementerian S melakukan pemeliharaan gedung dan
bangunan sebagai berikut:

Tanggal 10 Agustus 2009 dilakukan kegiatan pemasangan keramik


yang

semula

hanya

berupa

lantai

tanah

sejumlah

Rp600.000.000

dengan pembebanan pada akun belanja modal gedung dan bangunan.


Tanggal 10 September 2009 dilakukan pengecatan taman gedung
sejumlah

Rp300.000.000 dengan pembebanan pada akun belanja

pemeliharaan.
Atas transaksi tersebut biaya pemeliharaan yang dapat dikapitalisasi
hanyalah
sebagai

biaya
beban

merupakan
adanya

pemasangan
tahun

kegiatan

suatu

berjalan

keramik.
dan

pemeliharaan

peningkatan

Biaya

tidak
rutin

pengecatan

perlu
yang

mutu/kualitas/kapasitas

dikapitalisasi
tidak
atas

bersangkutan.
Jurnal yang dibuat oleh Kementerian S adalah sebagai berikut:

38

taman

diakui
karena

menunjukkan
aset

yang

Pencatatannya di BUN:

2. Pengeluaran Setelah Perolehan Aset Tetap Menurut IPSAS


Dengan adanya prinsip pengakuan biaya atas item Property, Plant and
Equipment yaitu:
a) Memungkinkan adanya manfaat ekonomis di masa yang akan datang yang
akan diterima oleh perusahaan.
b) Biaya-biaya tersebut dapat diukur secara reliably.
Entitas tidak mengakui nilai tercatat dari biaya pemeliharaan sehari-hari atas
item Property, Plant and Equipment. Sebaliknya, biaya ini diakui dalam surplus
atau defisit pada saat terjadinya. Biaya pemeliharaan sehari-hari terutama biaya
tenaga kerja dan bahan habis pakai, dan mungkin termasuk biaya komponen
kecil. Tujuan pengeluaran ini sering digambarkan sebagai untuk "repair and
maintenance" dari item Property, Plant and Equipment.
Bagian

dari

memerlukan

beberapa

item

Property,

penggantian secara berkala.

39

Plant

and

Misalnya,

Equipmentmungkin

jalan

mungkin

perlu

diperbaiki permukaannya setiap beberapa tahun, tungku mungkin memerlukan


pelapisan ulang setelah sejumlah tertentu jam penggunaan, atau interior
pesawat

udara

penggantian

seperti

selama

kursi

masa

dan

mungkin

memerlukan

hidup

pesawat.

Item

beberapa

Property,

Plant

kali
and

Equipmentjuga mungkin diperlukan untuk melakukan sedikit perbaikan secara


berulang, seperti mengganti dinding interior bangunan, atau untuk membuat
pengganti tidak berulang. Dengan prinsip pengakuan dalam biaya atas item
Property, Plant and Equipment, entitas mengakui biaya penggantian bagian item
Property, Plant and Equipmentsaat biaya tersebut terjadi jika memenuhi kriteria
pengakuan. Nilai tercatat bagian-bagian yang diganti dihentikan pengakuannya
sesuai dengan ketentuan yang ada dalam bagian derecognition (tidak diakui).
Sebuah kondisi untuk terus mengoperasikan item Property, Plant and
Equipment(misalnya, pesawat) memungkinkan melakukan inspeksi rutin utama
menganalisa kesalahan besar dari bagian item yang diganti. Ketika setiap
inspeksi yang dilakukan, biaya diakui dalam jumlah tercatat item Property, Plant
and Equipment sebagai pengganti jika memenuhi kriteria pengakuan. Setiap nilai
tercatat sisa biaya pemeriksaan sebelumnya (yang berbeda dari bagian-bagian
fisik) dihentikan pengakuannya. Hal ini terjadi terlepas dari apakah biaya
pemeriksaan sebelumnya diidentifikasi dalam transaksi di mana barang itu
diperoleh atau dibangun. Jika perlu, perkiraan biaya inspeksi serupa di masa
depan dapat digunakan sebagai indikasi apa biaya komponen pemeriksaan yang
ada adalah ketika item tersebut telah diperoleh atau dibangun.
3. Case : Biaya Setelah Kepemilikan Menurut US IFRS
Biaya yang terjadi setelah kepemilikan aset tetap, seperti
pemeliharaan, atau perbaikan (betterment). Perlakukan
akuntansi atas biaya setelah pemilikan ditentukan oleh
karakteristik dari biaya tersebut. Biaya setelah pemilikan
dapat dikapitalisasi sepanjang biaya tersebut diprediksi
akan memberikan manfaat ekonomi di waktu yang akan
datang

melampau

prediksi

manfaat

ekonomi

semula,

misalnya

umur

ekonomisnya bertambah, kapasitas produksinya bertambah, atau kualitas


outputnya meningkat.
Sebagaimana halnya dalam biaya aset yang dibuat sendiri, jika biaya
penggantian melampaui batasan biaya yang telah ditetapkan, maka kelebihan

40

biaya harus dibebankan sebagai biaya pada periode yang berjalan, dan pada
saat perbaikan aset menyangkut penggantian sebagian dari aset, bagian aset
yang diganti harus diperlakukan sebagai penghentian aset.
Untuk komponen aset tetap yang harus diganti secara periodik, karena usia
ekonomisnya lebih cepat dibanding aset tetap utamannya, maka komponen
tersebut harus didepresiasi tersendiri sesuai dengan umur ekonomis bagian dari
aset tetap tersebut, sehingga ketika komponen tersebut diganti atau direnovasi
total, komponen tersebut diharapkan sudah habis didepresiasi secara penuh. Jika
ternyata masih tersisa biaya komponen aset tetap yang belum didepresiasi
penuh dan komponen aset tetap yang baru telah dibukukan sebagai komponen
aset tetap, maka sisa biaya aset tetap tersebut harus dihapus dari rekening
komponen aset tetap.
Prinsip umum yang dapat digunakah adalah jika pengeluaran biaya setelah
pemilikan hanya ditujukan untuk membuat aset tetap dapat berfungsi sesuai
dengan prediksi kapasitas produksi pada saat aset tetap diperoleh, atau untuk
mengembalikan kapasitas aset tetap ke kapasitas semula, pengeluaran biaya
setelah pemilikan tersebut tidak boleh dikapitalisasi.
Pengecualian dapat diberikan pada saat aset tetap diperoleh dalam kondisi
memerlukan pengeluran tertentu untuk membuat aset tetap tersebut dalam
kondisi dapat dioperasikan sebagaimana yang diharapkan. Dalam kondisi
semacam ini, biaya biaya yang dalam kondisi normal masuk dalam kategori
biaya pemeliharan dan tidak dikapitalisasi, dapat diperlakukan sebagai biaya
yang dikapitalisasi. Setelah restorasi aset tetap selesai, selanjutnya pengeluaran
biaya pemeliharaan harus diperlakukan sebagai biaya periode.
Biaya yang berkaitan dengan keharusan inspeksi, misalnya dalam kasus
inspeksi

pesawat

terbang,

biaya

semacam

ini

dapat

dikapitalisasi

dan

didepresiasi sesuai dengan periode berlakunya inspeksi teknis. Jika dikemudian


hari diperlukan inspeksi ulang karena kasus tertentu, maka biaya inspeksi yang
belum didepresiasi harus dikeluarkan dari rekening dan diganti dengan biaya
inspeksi yang baru. Untuk memudahkan teknis pembukuan, biaya inspeksi dapat
diperlakukan sebagai komponen terpisah dari aset tetap utama.
Secara umum standar akuntansi untuk pengeluaran setelah pemilikan, tidak
ada perbedaan antara standard versi US GAAP dengan versi IFRS. Ketentuan
tentang kapitaliasi pengeluaran, yang dalam US GAAP diklasifikasi ke dalam

41

capital expenditures dan revenue expenditures, dalam IFRS juga berlaku


ketentuan yang sama.
G. PENGUKURAN

BERIKUTNYA

(SUBSEQUENT

MEASUREMENT)

TERHADAP PENGAKUAN AWAL


1. Pengukuran Berikutnya Menurut SAP
Menurut PSAP 07 Aset tetap disajikan berdasar biaya perolehan aset tetap
tersebut dikurangi akumulasi penyusutan.

Apabila terjadi kondisi yang

memungkinkan penilaian kembali, maka aset tetap akan disajikan dengan


penyesuaian pada masing-masing akun aset tetap dan akun ekuitas.
Revaluasi pada umumnya tidak diperkenankan karena SAP menganut
penilaian aset berdasar biaya prolehan atau harga pertukaran
2. Pengukuran Berikutnya Menurut IPSAS
Suatu entitas harus memilih antara model biaya atau model revaluasi sebagai
kebijakan akuntansi, dan menerapkan kebijakan tersebut atas seluruh kelompok
aset Properti, pabrik, dan peralatan.
Model Biaya
Setelah pengakuan sebagai aset, suatu Properti, pabrik, dan peralatan harus
dilakukan pada biaya, dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi kerugian
penurunan/pengurangan nilai.
Model Revaluasi
Setelah pengakuan sebagai aset, Properti, pabrik, dan peralatan yang nilai
wajarnya dapat diukur secara andal harus dilakukan pada revaluasi jumlah nilai
wajar pada tanggal revaluasi, dikurangi dengan akumulasi penyusutan, dan
selanjutnya akumulasi kerugian penurunan/pengurangan nilai. Revaluasi harus
dilakukan dengan keteraturan yang cukup untuk memastikan bahwa jumlah
tercatat tidak berbeda secara material dari nilai wajar pada tanggal pelaporan.
Nilai wajar dari sebuah aset biasanya ditentukan berdasarkan bukti berbasis
pasar oleh penilai. Nilai wajar sebuah Properti, pabrik, dan peralatan biasanya
berupa nilai pasar yang ditentukan oleh penilai. Sebuah penilaian atas aset
biasanya dilakukan oleh anggota profesi penilai, yang memegang kualifikasi
profesional yang diakui dan relevan. Bagi banyak aset, nilai wajar akan mudah

42

dipastikan dengan mengacu pada harga pasar di pasar aktif dan lancar. Sebagai
contoh, harga pasar saat ini biasanya dapat diperoleh untuk tanah, bangunan
bukan khusus, kendaraan bermotor, dan banyak jenis Properti, pabrik, dan
peralatan.
Bila Properti, pabrik, dan peralatan direvaluasi, akumulasi depresiasi pada
tanggal revaluasi diperlakukan dalam salah satu dari berikut cara :
(a) Disajikan kembali secara proporsional dengan perubahan dalam jumlah
tercatat/nilai buku bruto aset, sehingga jumlah tercatat aset setelah
revaluasi sama dengan nilai revaluasi. Metode ini sering digunakan ketika
aset yang direvaluasi dengan cara menerapkan indeks biaya penggantian
yang disusutkan.
(b) Dieliminasi terhadap jumlah tercatat bruto dari aset dan nilai bersih yang
disajikan kembali sebesar nilai revaluasi aktiva tersebut. Metode ini sering
digunakan untuk bangunan.
Jumlah penyesuaian yang timbul pada penyajian kembali atau penghapusan
akumulasi
penyusutan
bentuk
bagian
dari
kenaikan
atau
penurunan/pengurangan dalam menjalankan Jumlah yang dicatat sesuai
dengan paragraf 54 dan 55.
Jika Properti, pabrik, dan peralatan dinilai kembali, seluruh kelompok Properti,
pabrik, dan peralatan dalam aset tersebut harus direvaluasi. Sebuah kelompok
properti, pabrik, dan peralatan adalah pengelompokan aset berupa sifat atau
fungsi dalam operasi entitas. Berikut ini adalah contoh kelompok terpisah :
(a) Tanah;
(b) bangunan operasional;
(c) Jalan;
(d) Mesin;
(e) Jaringan transmisi listrik;
(f) Kapal;
(g) Pesawat;
(h) Peralatan khusus militer;
(i) Kendaraan bermotor;
(j) Peralatan dan perlengkapan;
(k) Peralatan kantor, dan
(l) rig minyak.
Aset-aset dalam sebuah kelompok properti, pabrik, dan peralatan dinilai
kembali secara bersamaan untuk menghindari revaluasi aset selektif dan
pelaporan jumlah dalam laporan keuangan yang merupakan campuran dari
biaya dan nilai pada tanggal yang berbeda. Namun, kelompok aset dapat
direvaluasi secara bergulir, seperti yang tersedia dalam revaluasi kelompok aset,
dan selesai dalam waktu singkat dan memberikan revaluasi tetap terbaru.

43

Jika nilai tercatat dari kelompok aset meningkat sebagai hasil dari revaluasi,
kenaikan tersebut dikreditkan langsung ke revaluasi surplus. Namun, kenaikan
tersebut harus diakui dalam surplus atau defisit sejauh penurunan/pengurangan
nilai akibat revaluasi dari kelompok yang sama dari aset yang sebelumnya diakui
dalam surplus atau defisit.
Jika nilai tercatat dari sebuah kelompok aset menurun sebagai akibat dari
revaluasi, penurunan/pengurangan tersebut harus diakui dalam surplus atau
defisit. Namun, penurunan/pengurangan tersebut harus didebitkan terlebih
dahulu ke revaluasi surplus untuk tingkat saldo kredit surplus revaluasi
sehubungan kelompok aset.
Revaluasi meningkat dan penurunan/pengurangan yang berkaitan dengan
aset individu dalam kelompok Properti, pabrik, dan peralatan harus diimbangi
terhadap satu sama lain dalam kelompok itu, tetapi tidak harus diimbangi dalam
hal aset di kelompok yang berbeda.
Sebagian

atau

semua

surplus

atas

revaluasi

termasuk

dalam

aset

bersih/ekuitas suatu Properti, pabrik, dan peralatan, dapat ditransfer langsung ke


akumulasi surplus atau defisit saat aktiva tersebut dihentikan pengakuannya. Hal
ini mungkin melibatkan pentransferan sebagian atau seluruh surplus saat aktiva
termasuk dalam kelompok Properti, pabrik, dan peralatan terkait dengan
pelepasan

aktiva

tersebut.

Namun,

sebagian

surplus

dapat

ditransfer

sebagaimana aset digunakan oleh entitas. Dalam kasus seperti itu, jumlah
surplus yang ditransfer akan menjadi perbedaan antara penyusutan berdasarkan
nilai tercatat revaluasi aset dan depresiasi, berdasarkan biaya asli aset. Transfer
dari surplus atas revaluasi akumulasi surplus atau defisit tidak dibuat melalui
surplus atau defisit.
Pedoman efek pada pajak atas surplus, jika ada, yang dihasilkan dari
revaluasi Properti, pabrik, dan peralatan dapat dasetukan dalam relevansi
standar akuntansi internasional atau nasional yang berhubungan dengan pajak
penghasilan.
H. AKUNTANSI PENYUSUTAN ASET TETAP
Penyusutan aset tetap bukan merupakan metode alokasi biaya untuk periode
yang menerima manfaat aset tetap tersebut sebagaimana diberlakukan di sektor
komersial.

Penyesuaian

ini

lebih

merupakan

44

upaya

untuk

menunjukkan

pengurangan nilai karena pengonsumsian potensi manfaat aset oleh karena


pamakaian dan/atau pengurangan nilai karena keusangan dan lain-lain.
Menurut PSAP 07, Penyusutan adalah alokasi yang sistematis atas nilai suatu
aset tetap yang dapat disusutkan (depreciable assets) selama masa manfaat
aset yang bersangkutan. Nilai penyusutan untuk masing-masing periode diakui
sebagai pengurang nilai tercatat (carrying amount) aset tetap dalam neraca dan
beban penyusutan dalam laporan operasional. Penyesuaian nilai aset tetap
dilakukan dengan berbagai metode yang sistematis sesuai dengan masa
manfaat. Metode penyusutan yang digunakan harus dapat menggambarkan
manfaat ekonomi atau kemungkinan jasa (service potential) yang akan mengalir
ke pemerintah. Masa manfaat aset tetap yang dapat disusutkan harus ditinjau
secara periodik dan jika terdapat perbedaan besar dari estimasi sebelumnya,
penyusutan

periode

sekarang

dan

yang

akan

datang

harus

dilakukan

penyesuaian.
Metode penyusutan yang dapat dipergunakan menurut PSAP antara lain:
1.

Metode garis lurus (straight line method);

2.

Metode saldo menurun ganda (double declining balance method)

3.

Metode unit produksi (unit of production method)

Selain tanah dan konstruksi dalam pengerjaan, seluruh aset tetap disusutkan
sesuai dengan sifat dan karakteristik aset tersebut.
Tujuan utama dari penyusutan adalah menyesuaikan nilai aset tetap untuk
mencerminkan nilai wajarnya. Di samping itu penyusutan juga dimaksudkan
untuk menggambarkan penurunan kapasitas dan manfaat yang diakibatkan
pemakaian aset tetap dalam kegiatan pemerintahan. Untuk menerapkan
penyusutan, prasyarat yang perlu dipenuhi adalah:
a. Identitas Aset yang Kapasitasnya Menurun
Aset tetap harus dapat diidentifikasi sehingga dapat dibedakan antara aset
tetap yang dapat menurun kapasitas dan manfaatnya (peralatan dan mesin,
bangunan dll) dengan aset yang tidak menurun kapasitas dan manfaatnya atau
bahkan bertambah nilainya (tanah, konstruksi dalam pengerjaan).
b. Nilai yang Dapat Disusutkan
Nilai aset tetap menjadi prasyarat dalam penyusutan. PSAP menganut nilai
historis, sehingga kecuali karena kondisi yang tidak memungkinkan perolehan
nilai

historis,

nilai

aset

tetap yang

diakui secara umum adalah

nilai

perolehannya. Lebih lanjut Buletin Teknis 05 menyatakan bahwa di lingkungan

45

pemerintah aset tetap diniatkan untuk digunakan dalam operasi pemerintahan


dan tidak dimaksudkan untuk dijual pada akhir masa manfaatnya. Selain itu,
penyusutan aset tetap tidak dimaksudkan dalam rangka perbandingan antara
biaya

dan

ditentukan

pendapatan.

Meskipun

terhadap

suatu

aset

tetap

dapat

nilai residunya, dengan kedua alasan, maka nilai sisa/residu

diabaikan dalam menghitung penyusutan. Aset tetap masih memiliki nilai


selama masih dapat dimanfaatkan, sehingga pada prinsipnya tidak dikenal nilai
residu. Dengan demikian, nilai perolehan atau nilai wajar aset tetap menjadi nilai
yang dapat disusutkan (depreciable cost).
c. Masa Menfaat dan Kapasitas Aset Tetap
Suatu aset disebut sebagai aset tetap adalah karena manfaatnya dapat
dinikmati lebih dari satu tahun atau satu periode akuntansi. Ukuran manfaat
isendiri berbeda-beda, ada yang dapat diukur dengan indikator terkuantifikasi
dan ada yang tidak. Perbedaan masa manfaat dan

intensitas

pemanfaatan

perlu diketahui untuk menetapkan metode penyusutan.


Terhadap aset tetap yang indikasi potensi manfaatnya dikaitkan dengan
panjang masa manfaat dapat dipilih metode penyusutan garis lurus atau saldo
menurun berganda. Dalam hal ini masa manfaat akan menjadi dasar perhitungan
penyusutan. Sedangkan aset tetap dikaitkan dengan intensitas pemanfaatannya
dapat menggukan metode penyusutan unit produksi. Dalam hal ini pemanfaatan
akan diukur dengan unit kapasitas atau produksi yang termanfaatkan. Pada
gillirannya, unit kapasitas atau produksi ini akan dibandingkan dengan seluruh
potensi kapasitas/produksi yang dikandung oleh suatu aset tetap.
Sementara itu, menurut IPSAS 17, Penyusutan adalah alokasi yang sistematis
atas nilai suatu aset tetap yang dapat disusutkan (depreciable assets) selama
masa manfaat aset yang bersangkutan. Nilai yang dapat disusutkan adalah
biaya aset atau biaya penggantian aset dikurangi nilai sisa (residual value)
aset tersebut. Hal ini berbeda dengan SAP yang tidak mengakui adanya nilai sisa
(residual value) dalam menentukan nilai yang dapat disusutkan pada aset tetap.
Selain itu IPSAS menyatakan secara jelas bahwa aset tetap yang memiliki nilai
yang signifikan terhadap total aset tetap yang dimiliki harus disusutkan secara
terpisah. Hal ini berbeda dengan SAP yang tidak secara jelas menyatakan syarat
aset yang disusutkan secara terpisah atau secara berkelompok. Namun secara
teknis hal ini diatur dalam Buletin Teknis 05 yang mengatur bagaimana
menentukan

aset

yang

disusutkan

secara

berkelompok

atau

individual.

Penyusutan dimulai sejak aset tetap tersedia untuk digunakan. Metode


penyusutan yang dapat dipergunakan menurut IPSAS antara lain:
1. Metode garis lurus (straight line method);

46

2. Metode saldo menurun (diminishing balance method)


3. Metode unit produksi (unit of production method)
Secara ringkas, perbandingan antara PSAP dan IPSAS tentang penyusutan
aset tetap dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Perbandingan

Definisi

Nilai yang Dapat


Disusutkan
Nilai sisa (residual value)

Metode Penyusutan

Saat Dimulai penyusutan

SA
P
Alokasi
yang
sistematis atas
nilai suatu aset tetap
yang dapat disusutkan
(depreciable
assets)
selama
masa
manfaat
Harga perolehan atau
Nilai terbawa
(Carrying
Amount)
Tidak
diakui

IPSA
S
Alokasi
yang
sistematis atas
nilai suatu aset tetap
yang dapat disusutkan
selama
masa
manfaatnya.
Harga perolehan
dikurangi nilai sisa
(residual value) aset
Diakui

Garis lurus (Straight


Line
Method)
Saldo menurun
ganda (Double
Declining
Balance
Method)
Unit produksi
Tidak
dijelaskan(Unit of
secara
eksplisit.

Garis lurus (Straight


Line
Method)
Saldo menurun
(Diminishing
Balance Method)
Unit
produksi(Unit of
Production
Method)
Sejak
aset tetap
tersedia
untuk
digunakan.

I. AKUNTANSI PENGHENTIAN/PENGHAPUSAN ASET TETAP


Adanya penghentian maupun pelepasan aset tetap (Barang Milik Negara) di
lingkungan

pemerintah

Pemindahtanganan

Barang

lazim
Milik

disebut

dengan

pemindahtanganan.

Negara (BMN) yang dilakukan pemerintah

berdasarkan pada PMK Nomor 96/PMK.08/2007 tentang pengelolaan BMN yang


diantaranya dilakukan dengan cara:
1. Dijual ;
2. Dipertukarkan
3. Dihibahkan; atau
4. Dijadikan penyertaan modal negara/daerah.
Kriteria pelepasan aset tetap di atas senada dengan PSAP 07 paragraf 76 dan
77 menyatakan bahwa:
76.

Suatu aset tetap dieliminasi dari neraca ketika dilepaskan atau

bila aset secara permanen dihentikan penggunaannya dan tidak ada


manfaat ekonomik masa yang akan datang.
77.

Aset tetap yang secara permanen dihentikan atau dilepas harus

dieliminasi dari Neraca dan diungkapkan dalam Catatan atas Laporan


Keuangan.

47

Ketentuan pelepasan aset tetap di PSAP 07 di atas senada dengan IPSAS 17


paragraf 82 yang menyebutkan bahwa carrying amount dari suatu aset tetap
harus dilakukan penghentian pengakuannya ketika (1) dilepaskan dan (2) tidak
mempunyai manfaat ekonomis di masa depan dari penggunaannya. Apabila
suatu aset tetap dihentikan dari penggunaannya, baik karena dipindahtangankan
maupun karena berakhirnya masa manfaat/tidak lagi memiliki manfaat ekonomi,
maka pencatatan akun aset tetap yang bersangkutan harus ditutup.
Secara akuntansi, aset tetap yang tidak dapat digunakan karena aus,
ketinggalan jaman, tidak sesuai
berkembang, rusak

dengan

berat, tidak

kebutuhan organisasi

sesuai

yang makin

dengan rencana umum tata ruang

(RUTR) atau masa kegunaannya telah berakhir, maka aset tetap tersebut
hakekatnya tidak lagi memiliki manfaat ekonomi masa depan, sehingga
penggunaannya

harus

dihentikan

dan

dapat

dilepaskan.

Namun

proses

pelepasan tersebut harus memenuhi proses sebagaimana diatur dalam PMK


Nomor 96/PMK.08/2007 tentang pengelolaan BMN. Pencatatan dilakukan setelah
terbit surat keputusan penghapusan oleh K/L untuk aset tetap yang telah habis
masa manfaat/tidak ada lagi manfaat dari penggunaannya. Untuk aset tetap
yang dihibahkan, dieliminasi dari neraca pada saat telah dikeluarkan berita acara
serah terima hibah oleh K/L sebagai tindak lanjut persetujuan hibah pengelola
barang. Aset tetap yang dipindahtangankan melalui mekanisme Penyertaan
Modal Negara (PMN), dikeluarkan dari pembukuan pada saat Peraturan
Pemerintah (PP) PMN diterbitkan. Sedangkan aset tetap yang dilepaskan melalui
penjualan dikeluarkan dari pembukuan pada saat diterbitkan risalah lelang.
Jurnal yang dibuat untuk akuntansi pelepasan aset tetap adalah sebagai
berikut:
Saat penghentian secara permanen
Tanggal
Uraia
n
Aset Lainnya
Akumulasi Penyusutan
Aset Tetap
(mencatat reklasifikasi aset tetap
menjadi aset lainnya)
Penjualan Aset Tetap
Tanggal

Uraia
n

48

Debet
xxx
x
xxx
x

Kredit

Debet

Kredit

xxx
x

Akumulasi Penyusutan
Defisit Penjualan Aset Non Lancar, atau
Surplus Penjualan Aset Non Lancar
Aset Tetap
(untukmencatat
penghapusan aset
tetap melalui Penjualan)

Hibah
Tanggal

Uraia
n
Beban Hibah
Akumulasi Penyusutan
Aset Tetap
(untuk mencatatpenghapusan
tetap melalui Hibah)

xxx
x
xxx
x

xxx
x
xxx
x

Debet
xxx
x
xxx
x

Kredit

Penyertaan Modal
Tanggal
Uraia
n
Penyertaan Modal Pemerintah
Akumulasi Penyusutan
Aset Tetap
(untuk mencatatpenghapusan
aset
tetap melalui Penyertaan Modal)

Debet
xxx
x
xxx
x

Kredit

Transfer Aset Tetap antar Intansi


Tanggal
Uraia
n
Beban Transfer
Akumulasi Penyusutan
Aset
Tetap
(untuk mencatatpenghapusan
aset
tetap melalui Transfer antar

Debet
xxx
x
xxx
x

Kredit

aset

xxx
x

xxx
x

xxx
x

Pencatatan sebagaimana di atas senada dengan IPSAS 17 paragraf 85 yang


menyebutkan nilai aset tetap yang dilepas adalah sebesar nilai sisa aset tetap
tersebut setelah disusutkan. Begitu juga apabila

suatu

entitas

tidak

mengaplikasikan nilai sisa (tanpa residual value) maka nilai yang digunakan
adalah biaya perolehan pada saat aset tetap tersebut diperoleh maupun
dibangun.
Dalam hal penghentian aset tetap merupakan akibat dari pemindahtanganan
dengan cara dijual atau dipertukarkan sehingga pada saat terjadinya transaksi
belum seluruh nilai buku aset tetap yang bersangkutan habis disusutkan, maka
selisih antara harga jual atau harga pertukarannya dengan nilai buku aset tetap
terkait diperlakukan sebagai surplus atau defisit atas penjualan aset non lancar
pada Laporan Operasional (LO). Sementara itu pelepasan aset tetap melalui
penjualan, IPSAS 17 paragraf

49

83 menyebutkan bahwa akan muncul gain atau loss dari pelepasan aset tetap
yang diakui dalam surplus atau defisit. Apabila muncul Gain tidak diklasifikasikan
sebagai revenue (pendapatan). Nilai gain atau loss tersebut adalah selisih antara
pendapatan bersih pengalihan dengan nilai sisa aset tetap tersebut.
Dari penjelasan di atas diketahui bahwa aset tetap yang akan dilepaskan
maupun sudah tidak mempunyai masa manfaat di masa mendatang tidak
langsung dilepaskan/dikeluarkan dari neraca sebelum ada persetujuan pelepasan
berupa surat keputusan, persetujuan, peraturan, maupun dokumen lainnya.
Beberapa status untuk aset tetap yang akan dihapuskan berdasarkan dasar
persetujuan tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1) Apabila suatu aset tetap dimaksudkan untuk dihentikan dari penggunaan
aktif, maka aset tetap tersebut direklasifikasi dalam kelompok aset
lainnya.
2) Apabila

suatu

permanen

aset

tetap

dilepaskan

atau

dihentikan

secara

setelah mendapatkan persetujuan penghapusan, maka aset

tetap tersebut dieliminasi dari neraca.


3) Aset tetap yang dihentikan secara permanen oleh pimpinan entitas
sebelum

mendapat

persetujuan

penghapusan

direklasifikasi

dalam

kelompok aset lainnya.


4) Aset tetap dalam proses pemindahtanganan dan telah diterbitkan surat
persetujuan dari pengelola barang maka aset tersebut tidak digunakan
dalam kegiatan operasional pemerintah, dengan kata lain tidak aktif,
sehingga tidak memenuhi kriteria dan tidak dapat dikelompokkan lagi
sebagai aset tetap.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Paragraf 78 PSAP 07 menyatakan
bahwa

aset

tetap

yang dihentikan dari penggunaan aktif pemerintah tidak

memenuhi definisi aset tetap dan harus dipindahkan ke pos aset lainnya sesuai
dengan nilai tercatatnya. Pada saat dokumen sumber untuk mengeliminasi aset
tetap tersebut dari neraca telah diperoleh, maka aset tetap yang telah
direklasifikasi menjadi aset lainnya tersebut dikeluarkan dari neraca.
Perbandingan
Kriteria pelepasan aset
tetap
(penghapusbukuan)

SA
P atau
Dilepaskan
secara permanen
dihentikan
penggunaannya.
Tidak ada manfaat

50

IPSA
DilepaskanS
Tidak mempunyai
manfaat ekonomis di
masa depan dari
penggunaannya.

Pengakuan Laba atau


Rugi

selisih antara harga jual


atau harga pertukarannya
dengan nilai buku aset
tetap terkait diperlakukan
sebagai surplus/defisit
penjualan/pertukaran aset
non lancar dan disajikan
pada Laporan Operasional
(LO). Penerimaan kas akibat
penjualan dibukukan
sebagai pendapatan dan
dilaporkan pada Laporan
Realisasi Anggaran (LRA).

51

Laba atau rugi yang


timbul dari penghentian
pengakuan suatu properti,
pabrik, dan peralatan
harus dimasukkan dalam
surplus atau defisit ketika
aset tersebut dihentikan
pengakuannya

J. PENDAPAT AHLI TENTANG ASET TETAP PEMERINTAH


1.

Aset Tetap

Aset tetap di sektor pemerintah merupakan salah satu bentuk investasi


pemerintah yang diharapkan

melalui

aset

tersebut pemerintah dapat

menerima manfaat untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Berikut


ini akan dibahas beberapa pendapat ahli tentang aset tetap pemerintah di
sektor.
William D. Braddy, Jr.,MA, CPPO
Di dalam tulisannya yang berjudul Managing Fixed Asset in Public
Sector,

William

D. Braddy menyatakan bahwa aset tetap adalah propeti

individu yang tidak melekat secara permanen kepada properti riil, tanah dan
bangunan, bisa dipindahkan, memiliki masa manfaat minimal satu tahun dan
minimum biaya akuisisi oleh suatu organisasi.
Untuk diklasifikasikan sebagai aset tetap, William menegaskan bahwa
suatu

aset

harus memenuhi minimal dua kategori yaitu 1) memiliki minimal

masa manfaat, dan 2) minimal biaya perolehan sebelum diakui sebagai aset
tetap.

Lebih

lanjut,

dalam

tulisannya,

William menyatakan beberapa

karakteristik aset tetap antara lain:

Diakuisisi untuk kegiatan operasi dan tidak untuk dijual;


Hanya aset yang digunakan dalam kegiatan operasi normal; Untuk jangka
panjang.

2.

Aset Bersejarah

Hines (1988) menyatakan bahwa akuntansi untuk aset dalam beberapa hal
terlihat memiliki kekurangan dibandingkan dengan akuntansi untuk aspek
lainnya, mengingat sifat alamiah yang dimiliki oleh masing- masing aset
tersebut. Akuntansi untuk aset bersejarah (heritage asset) adalah salah satu
isu

yang

masih

diperdebatkan.

Hingga

saat

ini

akuntansi

untuk

aset

bersejarah masih menjadi sebuah polemik bagi para ahli, padahal beberapa
standar sudah ditetapkan sebagai hasil dari diskusi- diskusi para ahli yang
selama ini dilakukan. Aset bersejarah disebut sebagai aset yang cukup unik
karena memiliki beragam cara perolehan, tidak hanya melalui pembangunan
namun juga pembelian, donasi, warisan, rampasan, ataupun sitaan. Aset

52

bersejarah tergolong dalam aset tetap karena aset bersejarah memenuhi definisi
aset tetap.
Menurut Carnegie dan Wolnizer (1995), aset besejarah bukanlah aset dan
akan lebih tepat diklasifikasikan sebagai kewajiban, atau secara alternatif
disebut sebagai fasilitas dan menyajikannya secara terpisah. Berbeda halnya
dengan Micallef dan Peirson (1997), mereka berpendapat bahwa aset bersejarah
tergolong dalam aset dan dapat dimasukkan dalam neraca. Hal ini tentunya
masih menjadi perdebatan bagi para akuntan. Sebelum ada definisi hukum untuk
aset bersejarah ini tentu para ahli sulit untuk menentukan bagaimana
perlakuan akuntansi yang tepat untuk aset tersebut baik dari segi pengakuan,
pengukuran, penilaian, dan penyajiannya.
Berikut ini beberapa pendapat ahli tentang aset bersejarah :
Penili
tiPeirson
Micallef dan
(1997)

Pendapat tentang Aset Bersejarah


Aset bersejarah tergolong dalam aset dan dapat
dimasukkan
dalam neraca (Heritage assets are considered
assets and
they can be
included
on the balance
Christiaens (2004)
Aset
bersejarah
harus
dimasukkan
dalam
neraca meskipun
tidak memenuhi definisi resmi (Heritage assets
should be reported in the balance sheet
notwithstanding
non
- compliance
Barton (2000)
Aset
bersejarah their
harus
disajikan
dalam with the
anggaran terpisah
sebagai aset layanan (Heritage assets must be
represented
in a harus
separate
budgetdalam
as "services
Aset bersejarah
disajikan
kategori
Pallot (1990), (1992)
yang terpisah dari aset sebagai aset daerah
(Heritage assets must be
represented in a separate category of asset as
"community assets")
Mautz (1988)
Aset bersejarah harus disajikan pada kategori
terpisah dari
aset sebagai fasilitas (Heritage assets must be
represented
in a tidak
separate
category
of asset
Nasi et al. (2001)
Aset bersejarah
harus
disajikan
dalamas
neraca (Heritage
assetsbesejarah
should not be reported
in the
balance
Carnegie dan
Aset
bukanlah
aset
dan sheet)
akan
Wolnizer
lebih
tepat
(1995)
diklasifikasikan sebagai liabilitas, atau secara
alternatif
disebut
sebagai
fasilitas
dan
menyajikannya secara terpisah (Heritage assets
are not assets and it would be more appropriate to
classify2012
them
as Perlakuan
liabilities,Akuntansi
or alternatively
to call
Sumber: Aversano dan Christiaens,
dalam
Aset Bersejarah,
2014

K. PERBANDINGAN ASET TETAP BERDASARKAN SAK DAN SAP

53

A. Definisi dan Klasifikasi


Aset
tetap
adalah
aset
berwujud
yang
mempunyai masa
manfaat lebih dari 12( dua belas) bulan untuk
digunakan, atau dimaksudkan untuk digunakan,
dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh
masyarakat umum.

PP 71 Tahun
2010 (PSAP
07)

Pengecualian:
Aset
yang
dikuasai
untuk
dikonsumsi dalam operasi pemerintah, seperti
bahan (materials) dan perlengkapan (supplies),
hutan dan sumber daya alam yang
dapat diperbaharui (regenerative
natural
resources), kuasa
Aset tetap adalah aset berwujud yang:
a) dimiliki
untuk
digunakan
dalam produksi atau
penyediaan
barang atau jasa untuk direntalkan kepada
pihak lain, atau untuk tujuan administratif;
dan
b)
diharapkan
digunakan
selama lebih dari
Aset tetap adalah untuk
aset berwujud
yang:
a) dimiliki
untuk
digunakan
dalam produksi atau
penyediaan
barang atau jasa untuk direntalkan kepada
pihak lain, atau untuk tujuan administratif;
dan
b) diharapkan untuk digunakan selama lebih dari

IAS 16

PSAK 16

Dari segi definisi aset tetap antara SAP dan SAK pada dasarnya
menganut prinsip yang sama, yaitu suatu aset dikategorikan sebagai aset
tetap jika memiliki masa manfaat/diharapkan dapat digunakan selama
lebih dari satu periode (12 bulan).
Berbeda dengan SAP, SAK tidak menentukan secara eksplisit klasifikasi
aset tetap seperti yang dinyatakan dalam SAP. Hal ini menunjukkan
bahwa

SAK

memberikan

menetapkan nama

akun

kebebasan
sesuai jenis

kepada

aset tetap

sepanjang memenuhi kriteria sebagai aset tetap.


B. Pengakuan Aset Tetap

54

suatu entitas untuk


yang

dilaporkan

PP 71 Tahun 2010Aset tetap diakui pada saat manfaat


ekonomi masa depan dapat diperoleh dan
(PSAP 07)
nilainya dapat diukur dengan handal.
Untuk dapat diakui sebagai aset tetap
harus dipenuhi kriteria sebagai berikut :
a) Berwujud;
b) Mempunyai masa manfaat lebih dari 12
(dua belas) bulan
c) Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal;
d) Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam
operasi normal entitas; dan
e) Diperoleh
atau
dibangun
dengan maksud untuk
IAS 16
Biaya perolehan aset tetap harus diakui sebagai aset
jika dan
hanya jika:
a) besar kemungkinan manfaat ekonomis di
masa depan berkenaan dengan aset tersebut
akan mengalir ke entitas; dan
b)
biaya perolehan
aset
dapat
diukur
PSAK 16
Biaya perolehan
aset tetap
harus
diakui
sebagai aset
jika dan
hanya jika:
a) besar kemungkinan manfaat ekonomis di
masa depan berkenaan dengan aset tersebut
akan mengalir ke entitas; dan
b) biaya perolehan aset dapat diukur
Dalam hal pengakuan aset tetap, terlihat bahwa SAP dan SAK menggunakan
prinsip yang sama. Aset tetap diakui jika memenuhi dua kriteria utama yaitu 1)
besar kemungkinan manfaat ekonomis berkaitan dengan aset tersebut mengalir
ke entitas, dan 2) biaya perolehan aset tersebut dapat diukur secara andal.
Selain itu, SAP dan SAK juga menganut prinsip yang sama terkait
dengan

penghentian pengakuan aset tetap. Pada PSAP 07 Par 76 dinyatakan

Suatu aset tetap dieliminasi dari neraca ketika dilepaskan atau bila aset secara
permanen dihentikan penggunaannya dan tidak ada manfaat ekonomik masa
yang akan datang. Hal ini senada dengan PSAK 16 dan IAS 16 yang sama-sama
menyatakan Jumlah tercatat aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat 1)
dilepas, atau 2) ketika tidak terdapat lagi manfaat ekonomi masa depan yang
diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya.
Dalam SAP dan SAK sama-sama mengakui adanya laba atau rugi berkenaan
dengan pelepasan aset tetap, baik karena dijual, ditukar dll. Dan laba atau rugi
tersebut dilaporkan pada bagian yang terpisah dari klasifikasi pendapatan.

C. Pengukuran Aset Tetap

55

PP 71 Tahun
2010
(PSAP 07)

IAS 16

PSAK 16

Aset tetap dinilai dengan biaya perolehan. Apabila


penilaian aset
tetap dengan menggunakanbiaya perolehan
tidak memungkinkan maka nilai aset tetap
didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan
Revaluasi pada umumnya tidak diperkenankan
kecuali terdapat ketentuan pemerintah yang berlaku
nasional.
Suatu aset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk
diakui sebagai
aset pada awalnya harus diukur sebesar biaya
perolehan. Biaya perolehan aset tetap adalah setara
dengan nilai tunai pada tanggal pengakuan. Jika
pembayaran suatu aset ditangguhkan hingga
melampaui jangka waktu kredit normal, perbedaan
antara
nilaitetap
tunai yang
dengan
pembayaran
total diakui
Suatu aset
memenuhi
kualifikasi
untuk
diakui sebagai
aset pada awalnya harus diukur sebesar biaya

Dari tabel di atas terlihat bahwa SAP dan SAK sama-sama penganut prinsip
biaya perolehan dalam mengukur nilai suatu aset tetap pada saat awal akuisisi.
Perbedaan terletak pada ketentuan pengukuran setelah pengakuan awal. Dalam
paragraf 52, SAP hanya mengatur pengukuran nilai aset tetap berdasarkan harga
perolehan, penilaian kembali (revaluasi) hanya dapat dilakukan hanya jika terjadi
kondisi yang memungkinkan entitas melakukan penilaian kembali aset tetap
tersebut. Hal ini berbeda dengan IFRS dan SAK yang mengharuskan entitas
memilih antara model biaya atau model revaluasi sebagai kebijakan akuntansi
dan menerapkan kebijakan tersebut terhadap seluruh aset tetap.
1)
Model Biaya
Setelah diakui sebagai aset, aset tetap dicatat sebesar biaya perolehan
dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai aset.
2)
Model revaluasi
Setelah diakui sebagai aset, aset tetap yang nilai wajarnya dapat diukur
secara andal harus dicatat pada jumlah revaluasian, yaitu nilai wajar pada
tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi
penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi. Revaluasi harus
dilakukan dengan keteraturan yang memadai untuk memastikan bahwa
jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari apa yang akan
ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada akhir periode
pelaporan.
Jika entitas mengubah kebijakan akuntansi dari model biaya ke model
revaluasi

dalam pengukuran aset tetap maka perubahan tersebut berlaku

prospektif.

D. Penyajian dan Pengungkapan

56

Senada dengan SAP, SAK mengatur ketentuan hal-hal yang harus dilaporkan
dalam Catatan atas Laporan Keuangan, untuk setiap kelompok aset tetap antara
lain:
1)

dasar pengukuran yang digunakan dalam menentukan jumlah

tercatat bruto;
2)
metode penyusutan yang digunakan;
3)
umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;
4)
jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan (dijumlahkan
dengan akumulasi rugi penurunan nilai) pada awal dan akhir periode; dan
5)
rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang
menunjukkan:
a) penambahan;
b) aset diklasifikasi

sebagai

tersedia

untuk

dijual

atau

termasuk

dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai tersedia untuk


dijual sesuai PSAK 58 (revisi 2009): Aset Tidak Lancar yang Dimiliki
untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan dan pelepasan lainnya;
c) akuisisi melalui kombinasi bisnis;
d) peningkatan atau penurunan akibat dari revaluasi sesuai paragraf 31,
39, dan 40 serta dari rugi penurunan nilai yang diakui atau dijurnal
balik dalam pendapatan komprehensif lain sesuai PSAK No. 48 (revisi
2009): Penurunan Nilai Aset;
e) rugi penurunan nilai yang diakui dalam laba rugi sesuai PSAK 48;
f) rugi penurunan nilai yang dijurnal balik dalam laba rugi sesuai PSAK
48;
g) penyusutan;
h) selisih nilai tukar neto yang timbul dalam penjabaran laporan keuangan
dari mata uang fungsional menjadi mata uang pelaporan yang
berbeda, termasuk penjabaran dari kegiatan usaha luar negeri menjadi
mata uang pelaporan dari entitas pelapor; dan
i) perubahan lain.
Laporan keuangan juga mengungkapkan:
1) keberadaan dan jumlah restriksi atas hak milik, dan aset tetap yang
dijaminkan untuk liabilitas;
2) jumlah pengeluaran yang diakui dalam jumlah tercatat aset tetap yang
sedang dalam pembangunan;
3) jumlah komitmen kontraktual dalam perolehan aset tetap; dan
4) jumlah kompensasi dari pihak ketiga untuk aset tetap yang mengalami
penurunan nilai, hilang atau dihentikan yang dimasukkan dalam laba rugi,
jika tidak diungkapkan secara terpisah pada pendapatan komprehensif
lain.
Jika aset tetap disajikan pada jumlah revaluasian, hal berikut diungkapkan:
1) tanggal efektif revaluasi;

57

2) apakah penilai independen dilibatkan;


3) metode dan asumsi signifikan yang digunakan dalam mengestimasi nilai
wajar aset;
4) penjelasan mengenai nilai wajar aset yang ditentukan secara langsung
berdasarkan harga terobservasi (observable prices) dalam suatu pasar
aktif

atau

transaksi

pasar

terakhir

yang

wajar

atau

diestimasi

menggunakan teknik penilaian lainnya;


5) untuk setiap kelompok aset tetap, jumlah tercatat aset seandainya aset
tersebut dicatat dengan model biaya; dan
6) surplus revaluasi, yang menunjukkan perubahan selama periode dan
pembatasan- pembatasan distribusi kepada pemegang saham.

L. PERMASALAHAN SEHUBUNGAN DENGAN ASET TETAP


Beberapa permasalahan terkait aset tetap dan solusinya dalam penyusunan
laporan keuangan pemerintah diuraikan pada paragraf berikut ini.
Permasalahan pertama: bagaimana menentukan komponen biaya
penunjang yang
Apakah
panitia
lain

dapat

honorarium
pengadaan,

yang

sifatnya

dikapitalisasi

sebagai

panitia pelaksana
dan

honorarium

menunjang

nilai

kegiatan,

aset

tetap.

honorarium

panitia pemeriksa, serta biaya

pelaksanaan

pengadaan

dan/atau

pembangunan aset tetap, dapat dikapitalisasi?


PSAP 07 Paragraf 20 menyatakan bahwa aset tetap dinilai dengan biaya
perolehan. Apabila penilaian aset tetap dengan menggunakan biaya perolehan
tidak memungkinkan, nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar pada saat
perolehan. Selanjutnya, dalam PSAP 07 paragraf 4 dinyatakan bahwa biaya
perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang telah dan yang masih wajib
dibayarkan atau nilai wajar imbalan lain yang telah dan yang masih wajib
diberikan untuk memperoleh suatu aset pada saat perolehan atau konstruksi
sampai dengan aset

tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk

dipergunakan. Artinya, biaya utama maupun biaya penunjang yang diperlukan


sampai aset tetap siap digunakan dapat dikapitalisasi sebagai biaya perolehan.
Berikut diberikan uraian lebih rinci biaya perolehan tanah, peralatan dan
mesin, serta gedung dan bangunan.
Tanah
Selanjutnya, PSAP 07 Paragraf 30 menyatakan bahwa: Tanah diakui pertama
kali sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan mencakup harga pembelian atau
biaya pembebasan tanah, biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh
hak seperti biaya pengurusan sertifikat, biaya pematangan, pengukuran,

58

penimbunan, dan biaya lainnya yang dikeluarkan sampai tanah tersebut siap
pakai. Nilai tanah juga meliputi nilai bangunan tua yang terletak pada tanah
yang

dibeli

tersebut

jika

bangunan

tua

tersebut

dimaksudkan

untuk

dimusnahkan. Apabila perolehan tanah pemerintah dilakukan oleh panitia


pengadaan, maka termasuk dalam harga perolehan tanah adalah honor panitia
pengadaan/pembebasan tanah dan belanja perjalanan dinas dalam rangka
perolehan tanah tersebut.
Peralatan dan Mesin
Biaya perolehan peralatan dan mesin menggambarkan jumlah pengeluaran
yang telah dilakukan untuk memperoleh peralatan dan mesin tersebut sampai
siap pakai. Biaya ini antara lain meliputi harga pembelian, biaya pengangkutan,
biaya instalasi, serta biaya langsung

lainnya

untuk

memperoleh

dan

mempersiapkan sampai peralatan dan mesin tersebut siap digunakan.


Gedung dan Bangunan
Biaya perolehan gedung dan bangunan meliputi seluruh biaya yang
dikeluarkan untuk memperoleh gedung dan bangunan sampai siap pakai. Biaya
ini antara lain meliputi harga pembelian
biaya

pengurusan

IMB,

notaris,

dan

atau

biaya

konstruksi,

termasuk

pajak. Apabila penilaian Gedung dan

Bangunan dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan


nilai aset tetap didasarkan pada
perolehan.
Biaya
cara
biaya

nilai

wajar/taksiran

perolehan Gedung dan Bangunan yang dibangun

pada

maka
saat

dengan

swakelola meliputi biaya langsung untuk tenaga kerja, bahan baku, dan
tidak

langsung

termasuk

biaya

perencanaan

dan

pengawasan,

perlengkapan, tenaga listrik, sewa peralatan, dan semua biaya lainnya yang
terjadi berkenaan dengan pembangunan aset tetap tersebut seperti pengurusan
IMB, notaris, dan pajak. Sementara itu, Gedung dan Bangunan yang dibangun
melalui kontrak konstruksi, biaya perolehan meliputi nilai kontrak, biaya
perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan, jasa konsultan, dan pajak.
Gedung dan Bangunan yang diperoleh dari sumbangan (donasi) dicatat sebesar
nilai wajar pada saat perolehan.
Kesimpulannya adalah honorarium panitia pelaksana kegiatan, honorarium
panitia pengadaan, dan honorarium panitia pemeriksa, serta biaya lain yang
sifatnya menunjang pelaksanaan pengadaan dan/atau pembangunan aset tetap,
dapat dikapitalisasi.
Permasalahan kedua: apakah aset tetap yang dikuasai secara fisik
namun bukti kepemilikannya tidak ada dapat diakui sebagai aset tetap
milik pemerintah, dan sebaliknya bagaimana dengan aset tetap yang

59

memiliki bukti kepemilikan yang sah namun dikuasai oleh pihak lain
(warga).
Permasalahan ini pada umumnya terkait dengan tanah. Dalam Buletin Teknis
No. 15, dijelaskan perlakuan masalah tersebut dan perluasannya sebagai berikut:
1. Dalam hal tanah belum ada bukti kepemilikan yang sah, namun dikuasai
dan/atau digunakan oleh pemerintah, maka tanah tersebut tetap harus
dicatat dan disajikan sebagai aset tetap tanah pada neraca pemerintah,
serta diungkapkan secara memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
2. Dalam hal tanah dimiliki oleh pemerintah, namun dikuasai dan/atau
digunakan oleh pihak lain, maka tanah tersebut tetap harus dicatat dan
disajikan

sebagai

aset

tetap

tanah

pada

neraca

pemerintah,

serta

diungkapkan secara memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan, bahwa


tanah tersebut dikuasai atau digunakan oleh pihak lain.
3. Dalam hal tanah dimiliki oleh suatu entitas pemerintah, namun dikuasai
dan/atau digunakan oleh entitas pemerintah yang lain, maka tanah tersebut
dicatat dan disajikan pada neraca entitas pemerintah yang mempunyai bukti
kepemilikan, serta diungkapkan secara memadai dalam Catatan atas
Laporan

Keuangan.

Entitas

pemerintah

yang

menguasai

dan/atau

menggunakan tanah cukup mengungkapkan tanah tersebut secara memadai


dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
4. Perlakuan tanah yang masih dalam sengketa atau proses pengadilan:
a. Dalam hal belum ada bukti kepemilikan tanah yang sah, tanah tersebut
dikuasai dan/atau digunakan oleh pemerintah, maka tanah tersebut tetap
harus dicatat dan disajikan sebagai aset tetap tanah pada neraca
pemerintah, serta diungkapkan secara memadai dalam Catatan atas
Laporan Keuangan.
b. Dalam hal pemerintah belum mempunyai bukti kepemilikan tanah yang
sah, tanah tersebut dikuasai dan/atau digunakan oleh pihak lain, maka
tanah tersebut dicatat dan disajikan sebagai aset tetap tanah pada
neraca pemerintah, serta diungkapkan secara memadai dalam Catatan
atas Laporan Keuangan.
c. Dalam hal bukti kepemilikan tanah ganda, namun tanah tersebut
dikuasai dan/atau digunakan oleh pemerintah, maka tanah tersebut tetap
harus dicatat dan disajikan sebagai aset tetap tanah pada neraca
pemerintah, serta diungkapkan secara memadai dalam Catatan atas
Laporan Keuangan.
d. Dalam hal bukti kepemilikan tanah ganda, namun tanah tersebut
dikuasai dan/atau digunakan oleh pihak lain, maka tanah tersebut tetap
harus dicatat dan disajikan sebagai aset tetap tanah pada neraca

60

pemerintah, namun adanya sertifikat ganda harus diungkapkan secara


memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
Permasalahan ketiga: bagaimana menentukan klasifikasi suatu aset
tetap yang lokasinya melekat pada aset tetap lain. Misalnya

lift dan

gedung, pagar dan gedung, gedung dan pelataran parkir, gedung dan
taman, taman dan pagar, gedung kantor dan bangunan ibadah, apakah
pencatatan

dan

pengukurannya

dipisahkan

atau

dijadikan

satu

klasifikasi.
Gedung bertingkat pada dasarnya terdiri dari komponen bangunan fisik,
komponen penunjang utama yang berupa mechanical engineering (lift, instalasi
listrik beserta generator, dan sarana pendingin Air Conditioning), dan komponen
penunjang lain yang antara lain berupa saluran air dan telepon. Masing-masing
komponen

mempunyai

masa

manfaat

yang

berbeda,

sehingga

umur

penyusutannya berbeda, serta memerlukan pola pemeliharaan yang berbeda


pula.

Perbedaan

diperlukannya

masa

sub-akun

manfaat

dan

pencatatan

pola

yang

pemeliharaan

berbeda

untuk

menyebabkan
masing-masing

komponen gedung bertingkat, misalnya menjadi sebagai berikut:


Gedung:
Bangunan Fisik
Taman, Jalan, dan Tempat Parkir, Pagar
Instalasi AC
Instalasi Listrik dan Generator
Lift
Penyediaan Air, Saluran Air Bersih, dan Air Limbah
Saluran Telepon
Disarankan

agar

akuntansi

pengakuan

gedung

bertingkat

diperinci

sedemikian rupa, sehingga setidak-tidaknya terdapat perincian per masingmasing komponen bangunan yang mempunyai umur masa manfaat yang sama.
Data untuk perincian tersebut dapat diperoleh pada dokumen penawaran yang
menjadi dasar kontrak konstruksi pekerjaan borongan bangunan.
Permasalahan keempat: bagaimana menentukan nilai perolehan
awal, apabila dalam perolehan aset tetap tersebut biaya penunjangnya
tidak hanya untuk aset tetap yang bersangkutan.
Biaya penunjang tersebut dialokasikan dengan

rata-rata

tertimbang.

Contoh: pada tanggal 20 April 20X1, Satker ABC melakukan pembelian sebuah
kompleks gedung perkantoran dengan rincian: harga beli tanah Rp8 miliar, dan
harga beli gedung kantor Rp12 miliar, biaya notaris dan balik nama Rp60 juta,
dan pajak Rp2 miliar. Pembelian tersebut dilakukan

61

secara

tunai

melalui

SPM/SP2D LS. Biaya perolehan gedung perkantoran, termasuk nilai tanahnya


adalah sebesar:
Harga perolehan

Jumlah (Rp)

Harga beli tanah

8.000.000.0

Harga beli gedung

Biaya Notaris dan balik00060.000.000

- Pajak
nama

00 12.000.000.
2.000.000.

Total

00022.060.000.

000
Untuk mengalokasikan biaya notaris, balik nama, dan pajak dapat dilakukan
dengan rata-rata tertimbang, sehingga nilai masing-masing tanah serta gedung
dan bangunan adalah:
- Tanah = Rp8 miliar + (Rp2.060.000.000 X 8/20)
= Rp8.824.000.000
- Bangunan = Rp12 miliar + (Rp2.060.000.000 X 12/20)
=
Rp13.236.000.000
Permasalahan kelima: bagaimana menentukan biaya pemeliharaan
yang dapat dikapitalisasi dalam nilai aset tetap.
Setelah aset diperoleh, Pemerintah masih melakukan

pengeluaran-

pengeluaran yang berhubungan dengan aset tersebut. Pengeluaran-pengeluaran


tersebut dapat berupa biaya pemeliharaan ataupun biaya rehabilitasi atau
renovasi. Pengeluaran yang dapat memberikan manfaat lebih dari satu tahun
(memperpanjang manfaat aset tersebut dari yang direncanakan semula atau
peningkatan kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan kinerja) disebut dengan
pengeluaran

modal

(capital

expenditure)

sedangkan

pengeluaran

yang

memberikan manfaat kurang dari satu tahun (termasuk pengeluaran untuk


mempertahankan kondisi aset tetap) disebut dengan pengeluaran pendapatan
(revenue expenditure).
Pembedaan antara capital expendituredanrevenue expenditure selain dari
adanya penambahan manfaat aset atau tidak, juga dapat dilhat dari besarnya
jumlah pengeluaran. Misalnya,sebuah pembelian inventaris berupa jam dinding
seharga Rp20.000 harus dicatat sebagai pengeluaran untuk aset tetap karena
jam dinding tersebut dapat digunakan lebih dari satu tahun. Akan tetapi karena
nilainya yang kecil tidak mungkin mencatat dan memperlakukan biaya tersebut
seperti

biaya

perolehan

aset

yang

besar.

Untuk

itu

pemerintah

harus

menentukan batasan pengeluaran untuk memperoleh aset yang dapat disebut


juga dengan capitalization threshold (nilai satuan minimum kapitalisasi aset).

62

SAP tidak menentukan besarnya capitalization threshold ini tetapi memberikan


kebebasan kepada masing-masing entitas untuk menentukan sendiri.
Pengeluaran setelah perolehan awal dapat diakui sebagai pengeluaran modal
(capital

expenditure)

atau

sebagai

pengeluaran

pendapatan

(revenue

expenditure).
Kapitalisasi setelah perolehan awal aset tetap dilakukan terhadap biaya-biaya
lain yang dikeluarkan setelah pengadaan awal yang dapat memperpanjang masa
manfaat atau yang kemungkinan besar memberi manfaat ekonomik di masa
yang akan datang dalam bentuk peningkatan kapasitas, mutu produksi, atau
peningkatan kinerja.
Sebaliknya, pengeluaran-pengeluaran yang tidak memperpanjang masa
manfaat atau yang kemungkinan besar tidak memberi manfaat ekonomik di
masa yang akan datang dalam bentuk peningkatan kapasitas, mutu produksi,
atau peningkatan kinerja diperlakukan sebagai beban (expense / revenue
expenditure).
Pada tahun 20X1, Kementerian S melakukan pemeliharaan gedung dan
bangunan sebagai berikut:
Tanggal 10 Agustus 20X1 dilakukan kegiatan pemasangan keramik yang
semula

hanya

berupa

lantai

tanah

sejumlah

Rp600.000.000dengan

pembebanan pada akun belanja modal gedung dan bangunan.


Tanggal 10 September 20X1 dilakukan pengecatan gedung sejumlah
Rp300.000.000dengan pembebanan pada akun belanja pemeliharaan.
Atas transaksi tersebut biaya pemeliharaan yang dapat dikapitalisasi

hanyalah biaya pemasangan keramik. Biaya pengecatan gedung diakui sebagai


beban tahun berjalan dan tidak perlu dikapitalisasi karena merupakan kegiatan
pemeliharaan

rutin

yang

tidak

menunjukkan

adanya

suatu

peningkatan

mutu/kualitas/kapasitas atas aset yang bersangkutan


Permasalahan keenam: bagaimana penyajian dan pengungkapan
aset

tetap yang pengadaan/pembangunannya diperuntukkan bagi

pihak lain?
Aset tetap yang pengadaan/pembangunannya diperuntukkan bagi pihak lain
disajikan sebagai persediaan.
Pengadaan tanah pemerintah yang sejak semula dimaksudkan untuk
diserahkan kepada pihak lain tidak disajikan sebagai aset tetap tanah,
melainkan

disajikan

sebagai persediaan. Misalnya, apabila Kementerian

Perumahan Rakyat mengadakan tanah yang di atasnya akan dibangun rumah


untuk rakyat miskin. Pada Neraca Kementerian Perumahan Rakyat,

tanah

tersebut tidak disajikan sebagai aset tetap tanah, namun disajikan sebagai
persediaan.

63

Lebih lanjut PSAP 07 Paragraf 19 mengatur bahwa pengakuan aset tetap akan
sangat andal bila aset tetap telah diterima atau diserahkan hak kepemilikannya
dan/atau pada saat penguasaannya berpindah. Begitu pula PSAP 05 paragraf 13
menyatakan

bahwa

persediaan

diakui

pada

saat

diterima

atau

hak

kepemilikannya dan atau kepenguasaannya berpindah. Hak kepemilikan tanah


didasarkan pada bukti kepemilikan tanah yang sah berupa sertifikat, misalnya
Sertifikat Hak Milik (SHM), Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB), dan
Sertifikat Pengelolaan Lahan (SPL). Berdasarkan hal tersebut, untuk contoh kasus
di atas, Kementerian Perumahan Rakyat tetap mengakui/ mencatat tanah
sebagai persediaan sebelum berita acara penyerahan dan sertifikat tanah
diserahkan kepada masing-masing rakyat yang berhak.
Peralatan dan mesin yang diperoleh dan yang dimaksudkan akan diserahkan
kepada pihak lain, tidak dapat dikelompokkan dalam aset tetap Peralatan dan
Mesin, tapi dikelompokkan kepada aset persediaan. Misalkan Pemda Kabupaten
AA melalui Dinas Pendidikan mengadakan perlengkapan sekolah yang terdiri dari
komputer sebanyak 100 unit. Sumber pendanaan adalah APBD yang berasal dari
Dana Alokasi Khusus (DAK).
Berdasarkan ketentuan penggunaan DAK pelaksanaan kegiatan tersebut
ditujukan untuk sekolah yang dikelola oleh yayasan. Berdasarkan hal tersebut,
komputer tersebut tidak dapat diakui sebagai aset tetap peralatan dan mesin
karena ditujukan untuk sekolah yang dikelola oleh yayasan. Komputer tersebut
disajikan dalam kelompok persediaan.
Permasalahan
ketujuh:
bagaimana pengakuan dan
penyajian serta pengungkapan
untuk

penggantian

biaya

pemeliharaan

atas kerusakan yang diakibatkan

dari suatu aset tetap milik pihak lain?


Suatu satuan kerja (pada K/L atau SKPD) dapat melakukan perbaikan/renovasi
aset tetap yang dimiliki dan/atau dikuasainya. Renovasi dapat dilakukan
terhadap semua barang milik dalam kelompok aset tetap, namun demikian
renovasi terhadap akun tanah dan akun aset tetap lainnya jarang ditemukan.
Apabila aset tetap yang dimiliki dan/atau dikuasai suatu K/L atau SKPD
direnovasi dan memenuhi kriteria kapitalisasi aset tetap, maka renovasi tersebut
umumnya

dicatat

dengan

menambah

nilai

perolehan

aset

tetap

yang

bersangkutan.
Namun demikian, dalam hal aset tetap yang direnovasi tersebut memenuhi
kriteria kapitalisasi dan bukan milik suatu satker atau SKPD, maka renovasi
tersebut dicatat sebagai aset tetap lainnya.
melakukan

renovasi

umumnya

Biaya yang dikeluarkan

untuk

adalah belanja modal aset terkait. Biaya

64

perawatan sehari-hari untuk mempertahankan suatu aset tetap dalam kondisi


normalnya,

termasuk di

dalamnya

pengeluaran

untuk suku

cadang,

merupakan pengeluaran yang substansinya adalah kegiatan pemeliharaan dan


tidak dikapitalisasi meskipun nilainya signifikan.
Terkait dengan renovasi, sebagaimana dalam Buletin Teknis Nomor 04
tentang Penyajian dan Pengungkapan Belanja Pemerintah telah diatur sebagai
berikut:
1. Apabila renovasi aset tetap tersebut meningkatkan manfaat ekonomik
aset tetap misalnya perubahan fungsi gedung dari gudang menjadi ruangan
kerja dan kapasitasnya naik, maka renovasi tersebut dikapitalisasi sebagai
Aset Tetap-Renovasi. Apabila renovasi atas aset tetap yang disewa tidak
menambah

manfaat

ekonomik,

maka dianggap

sebagai Belanja

Operasional. Aset Tetap-Renovasi diklasifikasikan ke dalam Aset Tetap


Lainnya.
2. Apabila manfaat ekonomik renovasi tersebut lebih dari satu tahun buku, dan
memenuhi butir 1 di atas, biaya renovasi dikapitalisasi sebagai Aset TetapRenovasi, sedangkan apabila manfaat ekonomik renovasi kurang dari
tahun

buku,

maka

pengeluaran tersebut diperlakukan sebagai Belanja

Operasional tahun berjalan.


3. Apabila jumlah nilai moneter biaya renovasi tersebut cukup material, dan
memenuhi syarat butir 1 dan 2 di atas, maka pengeluaran tersebut
dikapitalisasi sebagai Aset TetapRenovasi. Apabila tidak material, biaya
renovasi dianggap sebagai Belanja Operasional.
Berdasarkan obyeknya, renovasi aset tetap di lingkungan satuan kerja K/L
atau SKPD dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu:
1. Renovasi aset tetap milik sendiri;
Perlakuan renovasi aset tetap milik sendiri langsung menambah aset tetap
terkait. Adapun renovasi aset tetap bukan milik sendiri dicatat sebagai Aset
Tetap Lainnya-Aset Renovasi jika memenuhi persyaratan kapitalisasi aset
tetap.
2. Renovasi aset tetap bukan milik-dalam lingkup entitas pelaporan; dan
Renovasi semacam ini, pada satuan kerja yang melakukan renovasi tidak
dicatat sebagai penambah nilai perolehan aset tetap terkait karena
kepemilikan aset tetap tersebut ada pada pihak lain. Renovasi tersebut
apabila telah selesai dilakukan sebelum tanggal pelaporan akan dibukukan
sebagai aset tetap lainnya-aset renovasi dan disajikan di neraca sebagai
kelompok aset tetap. Apabila sampai dengan tanggal pelaporan renovasi

65

tersebut belum selesai dikerjakan, atau sudah selesai pengerjaannya namun


belum diserahterimakan, maka akan dicatat sebagai konstruksi dalam
pengerjaan.
Pada akhir tahun anggaran, aset renovasi ini seyogyanya diserahkan pada
pemilik. Mekanisme penyerahannya mengikuti peraturan yang berlaku. Jika
dokumen sumber penyerahan tersebut (sebagaiman dijelaskan pada bab
terdahulu) telah diterbitkan maka aset tetap renovasi tersebut dikeluarkan
dari neraca dan satuan kerja K/L atau SKPD pemilik akan mencatat dan
menambahkannya sebagai aset tetap terkait. Namun apabila sampai dengan
akhir periode pelaporan aset renovasi ini belum juga diserahkan, maka K/L
atau SKPD yang melakukan renovasi terhadap aset tersebut tetap akan
mencatat sebagai Aset Tetap Lainnya-Aset Renovasi.
Contoh 1: Ditjen Kekayaan Negara meminjam gedung Ditjen Pajak
Kementerian

Keuangan

untuk

kantor

layanan

daerah

di

Kabupaten

Purwokerto. Untuk menunjang layanan dan kelancaran tugas, gedung


tersebut direnovasi dengan menambahkan loket layanan, memperluas ruang
tunggu, menambahkan ruang rapat dan mushola dengan total biaya Rp2
miliar. Pada tanggal 20 Oktober 20X1 telah dilakukan penyerahan pekerjaan
yang ditandai dengan BAST. Menjelang akhir tahun, administrasi aset
renovasi tersebut diserahkan kepada pemiliknya (Ditjen Pajak).
Ditjen Kekayaan Negara:
Tanggal
20/10/20X
1

Uraian
Aset
Tetap
Renovasi

Debet

Lainnya-Aset

2.000.000.00
0

Kas di Kas Umum Negara

31/12/20X
1

Ekuitas

Kredit

2.000.000.00
0
2.000.000.00
0

Aset Tetap
Renovasi

Lainnya-Aset

2.000.000.00
0

Ditjen Pajak:
Tanggal
20/10/20X1

Uraian

Debet

Gedung dan Bangunan

2.000.000.000

66

Kredit

Ekuitas

2.000.000.000

Pada saat penggabungan laporan keuangan Ditjen Kekayaan Negara dan


Ditjen Pajak menjadi laporan keuangan Kementerian Keuangan, maka atas
renovasi

aset

disajikan

sebagai

penambah

Gedung

dan

Bangunan,

sedangkan pendapatan dan beban atas transfer aset tetap renovasi


dieliminasi.
3. Renovasi aset tetap bukan milik-diluar lingkup entitas pelaporan.
Renovasi semacam ini, pengakuan dan pelaporannya serupa dengan
renovasi aset bukan milik-dalam lingkup entitas pelaporan sebagaiman butir
2 di atas, yaitu bahwa pada satuan kerja yang melakukan renovasi tidak
dicatat sebagai penambah nilai perolehan aset tetap terkait karena
kepemilikan aset tetap tersebut ada pada pihak lain. Apabila renovasi aset
tersebut telah selesai dilakukan sebelum tanggal pelaporan, maka transaksi
renovasi akan dibukukan sebagai aset tetap lainnya-aset renovasi dan
disajikan di neraca sebagai kelompok aset tetap. Apabila sampai dengan
tanggal pelaporan renovasi tersebut belum selesai dikerjakan, atau sudah
selesai pengerjaannya namun belum diserahterimakan, maka akan dicatat
sebagai KDP.
Pada akhir masa perjanjian pinjam pakai atau sewa, aset renovasi ini
seyogyanya diserahkan pada pemilik. Mekanisme penyerahannya mengikuti
peraturan yang berlaku.

Jika dokumen sumber penyerahan tersebut

(sebagaiman dijelaskan pada bab terdahulu) telah diterbitkan maka aset


tetap renovasi tersebut dikeluarkan dari neraca dan satuan kerja K/L atau
SKPD pemilik akan mencatat dan menambahkannya sebagai aset tetap
terkait.
Contoh 2: Balai Diklat Keluarga Berencana, BKKBN meminjam
(dua) lantai milik

gedung 2

Pemda Banyumas dengan pola pinjam pakai selama 2

(dua) tahun. Gedung tersebut dimaksudkan sebagai sarana pendidikan dan


pelatihan

keluarga

berencana

wilayah

DIY

dan

Jawa

Tengah.

Untuk

kepentingan diklat tersebut, Balai Diklat merenovasi lantai 2 gedung yang


sebelumnya berupa aula menjadi ruang kelas. Lantai 1 gedung tersebut juga
direnovasi menjadi ruang widyaiswara dan ruang kantor Balai.

Biaya

yang dibutuhkan untuk merenovasi aset tersebut berasal dari DIPA Balai
Diklat sebesar Rp10 miliar. Pada tanggal 20 Oktober 20X1 telah dilakukan

67

penyerahan pekerjaan dari kontraktor yang ditandai dengan BAST. Untuk


membukukan transaksi tersebut dijurnal sebagai berikut:
Balai Diklat BKKBN:
Tanggal
20/10/20X1

Uraian
Aset
Tetap
Renovasi

Debet

Lainnya-Aset

Kredit

10.000.000.000

Kas di Kas Umum Negara

10.000.000.000

Dalam rangka penggabungan laporan keuangan Balai Diklat BKKBN menjadi


laporan keuangan BKKBN, Aset Tetap Lainnya-Aset Renovasi sebesar
Rp10.000.000.000 pada Balai Diklat BKKBN juga disajikan sebagai

Aset

Tetap Lainnya-Aset Renovasi pada laporan keuangan BKKBN.


Pada akhir masa pinjam pakai, aset renovasi tersebut diserahkan kepada
Pemda Banyumas dengan mekanisme hibah dan telah diterbitkan BAST
hibah dari BKKBN kepada Pemda Banyumas pada tanggal 3 Nopember 20X2.
Untuk membukukan transaksi tersebut dijurnal sebagai berikut:
Balai Diklat BKKBN/BKKBN:
Tanggal
3/11/20X2

Uraian

Debet

Beban Hibah
Aset Tetap
Renovasi

Kredit

10.000.000.000
Lainnya-Aset

10.000.000.000

Pemda Banyumas:
Tanggal
3/11/20X2

Uraian

Debet

Gedung dan Bangunan

Kredit

10.000.000.000

Pendapatan Hibah-LO

10.000.000.000

68

BAB III
PENUTUP

Definisi Aset Tetap


Dari beberapa definisi mengenai asset tetap di atas dapat disimpulkan bahwa
suatu asset dapat dikategorikan sebagai asset tetap apabila memenuhi syarat
sebagai berikut :
1. Memiliki masa manfaat lebih dari 1 tahun
2. Digunakan untuk produksi dan tujuan administratif, serta pelayanan kepada
masyarakat
Klasifikasi Aset Tetap
Aset tetap diklasifikasikan berdasarkan kesamaan dalam sifat atau fungsinya
dalam aktivitas operasi entitas.
Pengakuan Aset Tetap
Baik menurut IPSAS dan SAP, unsur penting dalam pengakuan aset tetap ada
dua hal, yaitu saat manfaat ekonomi masa depan dapat diperoleh (mengalir ke
entitas) dan nilainya dapat diukur dengan handal.
Pengukuran Aset Tetap
Aset tetap dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian aset tetap dengan
menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap
didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan.
Penilaian Awal Aset Tetap
Barang berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu aset dan
dikelompokkan sebagai aset tetap, pada awalnya harus diukur berdasarkan
biaya perolehan.
Bila aset tetap diperoleh dengan tanpa nilai, biaya aset tersebut adalah sebesar
nilai wajar pada saat aset tersebut diperoleh.

69

Pengeluaran Setelah Perolehan Aset Tetap


Pengeluaran setelah perolehan awal suatu aset tetap yang memperpanjang
masa manfaat atau yang kemungkinan besar memberi manfaat ekonomi di
masa yang akan datang dalam bentuk kapasitas, mutu produksi, atau
peningkatan standar kinerja, harus ditambahkan pada nilai tercatat aset
yang bersangkutan.

70

DAFTAR PUSTAKA

Australia's experience in moving to accrual accounting; Australia-Indonesia


Partnership.
Accrual Accounting in Swedish Central Government, 2001. Kristina Lundqvist.
Ekonomistyrningsverket (ESV).
Braddy,

William

D.

(2001).

Managing

Fix

Asset in

Public Sector. From www.upublish.com/books/braddy.htm l


Buletin Teknis No 15 Tentang Aset Tetap
Http://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/04/ED-PSAK-16.pdf
IPSAS

17

(2006)

from

http://www.ifac.org/sites/default/files/publications/files/ipsas-17-propertyplant-3.pdf
Peraturan

Pemerintah

No.

71

Tahun

2010

tentang

Standar

Pemerintahan.
PSAK 16 Aset tetap
Valuation of Local Government Assets in Portugal; Jorge Alves.

71

Akuntansi