Anda di halaman 1dari 15

Analisa Kredit 6C

Posted on 21/09/2008by Andri

Analisis Kredit
Tujuan utama analisis permohonan kredit adalah untuk memperoleh keyakinan apakah
nasabah mempunyai kemauan dan kemampuan memenuhi kewajibannya kepada bank secara
tertib, baik pembayaran pokok pinjaman maupun bunganya, sesuai dengan kesepakatan
dengan bank. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyelesaian kredit nasabah, terlebih
dahulu harus terpenuhinya Prinsip 6 Cs Analysis, yaitu sebagai berikut:
1. Character
Character adalah keadaan watak dari nasabah, baik dalam kehidupan pribadi
maupun dalam lingkungan usaha. Kegunaan dari penilaian terhadap karakter ini
adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana kemauan nasabah untuk memenuhi
kewajibannya (willingness to pay) sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan.
Sebagai alat untuk memperoleh gambaran tentang karakter dari calon nasabah
tersebut, dapat ditempuh melalui upaya antara lain:
a.

Meneliti riwayat hidup calon nasabah;

b.

Meneliti reputasi calon nasabah tersebut di lingkungan usahanya;

c.
Meminta bank to bank information (Sistem Informasi Debitur);
d. Mencari informasi kepada asosiasi-asosiasi usaha dimana calon nasabah
berada;
e. Mencari informasi apakah calon nasabah suka berjudi;
f.

Mencari informasi apakah calon nasabah memiliki hobi berfoya-foya.

2. Capital
Capital adalah jumlah dana/modal sendiri yang dimiliki oleh calon nasabah.
Semakin besar modal sendiri dalam perusahaan, tentu semakin tinggi kesungguhan
calon nasabah dalam menjalankan usahanya dan bank akan merasa lebih yakin
dalam memberikan kredit. Modal sendiri juga diperlukan bank sebagai alat
kesungguhan dan tangung jawab nasabah dalam menjalankan usahanya karena ikut
menanngung resiko terhadap gagalnya usaha. Dalam praktik, kemampuan capital ini
dimanifestasikan dalam bentuk kewajiban untuk menyediakan self-financing, yang
sebaiknya jumlahnya lebih besar daripada kredit yang dimintakan kepada bank.
3. Capacity

Capacity adalah kemampuan yang dimiliki calon nasabah dalam menjalankan


usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan. Kegunaan dari penilaian ini
adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana calon nasabah mampu untuk
mengembalikan atau melunasi utang-utangnya secara tepat waktu dari usaha yang
diperolehnya.
Pengukuran capacity tersebut dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan berikut
ini:
a.
Pendekatan historis, yaitu menilai past performance, apakah menunjukkan
perkembangan dari waktu ke waktu.
b. Pendekatan finansial, yaitu menilai latar belakang pendidikan para pengurus
c.
Pendekatan yuridis, yaitu secara yuridis apakah calon nasabah mempunyai
kapasitas untuk mewakili badan usaha yang diwakilinya untuk mengadakan
perjanjian kredit dengan bank.
d. Pendekatan manajerial, yaitu menilai sejauh mana kemampuan dan
keterampilan nasabah melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dalam memimpin
perusahaan.
e. Pendekatan teknis, yaitu untuk menilai sejauh mana kemampuan calon
nasabah mengelola faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, sumber bahan baku,
peralatan-peralatan , administrasi dan keuangan, industrial relation sampai pada
kemampuan merebut pasar.
4. Collateral
Collateral adalah barang-barang yang diserahkan nasabah sebagai agunan terhadap
kredit yang diterimanya. Collateral tersebut harus dinilai oleh bank untuk
mengetahui sejauh mana resiko kewajiban finansial nasabah kepada bank. Pada
hakikatnya bentuk collateral tidak hanya berbentuk kebendaan tetapi juga collateral
yang tidak berwujud seperti jaminan pribadi (borgtocht), letter of guarantee, letter
of comfort, rekomendasi dan avalis.
5. Condition of Economy
Condition of Economy, yaitu situasi dan kondisi politik , sosial, ekonomi , budaya
yeng mempengaruhi keadaan perekonomian pada suatu saat yang kemungkinannya
memengaruhi kelancaran perusahaan calon debitur. Untuk mendapat gambaran
mengenai hal tersebut, perlu diadakan penelitian mengenai hal-hal antara lain:
a.
Keadaan konjungtur
b.

Peraturan-peraturan pemerintah

c.

Situasi, politik dan perekonomian dunia

d.

Keadaan lain yang memengaruhi pemasaran

6. Constraint
Constraint adalah batasan dan hambatan yang tidak memungkinkan suatu bisnis
untuk dilaksanakan pada tempat tertentu, misalnya pendirian suatu usaha pompa
bensin yang disekitarnya banyak bengkel las atau pembakaran batu bata.
Dari keenam prinsip diatas, yang paling perlu mendapatkan perhatian account officer adalah
character, dan apabila prinsip ini tidak terpenuhi, prinsip lainnya tidak berarti. Dengan
perkataan lain, permohonannya harus ditolak.

Penyebab Kredit Bermasalah (Bag.2)

Posted on 28/02/2010by Andri

Dibawah ini adalah faktor penyebab kredit bermasalah jika ditinjau dari aspek
internal perbankan, yaitu:

a. Analisa kredit tidak berdasarkan data akurat atau kualitas data rendah
Kebanyakan pengusaha kita khususnya usaha mikro dan kecil, tidak memiliki
pembukuan yang baik, oleh karena itu seorang analis kredit harus mampu menggali
segala jenis informasi yang relevan agar didapatkan hasil analisa yang berkualitas.

b. Informasi kredit tidak lengkap atau kuantitas data rendah


Terkadang informasi data kuantitatif saja tidak cukup, perlu infomasi lebih lanjut
mengenai karakter nasabah serta kehidupan pribadi nasabah (ingat 5C)

c. Kredit terlalu sedikit


Kesalahan dalam perhitungan kebutuhan modal kerja nasabah, ibarat seorang
dokter yang obat dibawah dosis yang dianjurkan, berakibat sakit yang tak kunjung
sembuh, yang dapat mengakibatkan kematian.

d. Kredit terlalu banyak


Hal ini seringkali disebabkan adanya kelemahan dalam analisa kredit, kelalaian
petugas bank dalam memperoleh data yang akurat serta adanya kesengajaan petugas
bank untuk berkolusi dengan nasabah.

e. Analisa tidak cermat


Hal ini seringkali disebabkan analis terlalu percaya dengan data yang disajikan oleh
nasabah, perlunya pemahaman lebih lanjut tentang usaha nasabah serta pintarpintarlah membaca apa yang tersirat dari apa yang tersurat.

f. Jangka waktu kredit terlalu lama


Hal ini dapat dilihat sebagai tindakan untuk meringankan kewajiban nasabah,
dimana dapat membuat nasabah lalai dan suka melupakan kewajibannya.

g. Jangka waktu kredit terlalu pendek


Kejelian seorang analis dalam membuat analisa cashflow sangat menentukan nasib
nasabah, yang mana kredit dengan jangka waktu yang terlalu pendek dapat merusak
jadwal pembayaran bunga dan pembayaran pokoknya.

h. Kurangnya akuntabilitas putusan kredit


Kurangnya rasa tanggung jawab dari para petugas dan pejabat kredit, sangat erat
kaitannya dengan mekanisme reward and punishment.

Kelemahan Dalam Dokumentasi Kredit


a. Data mengenai kredit nasabah tidak didokumentasi dengan baik
Laporan keuangan nasabah merupakan data penting yang harus didokumentasikan
oleh bank secara baik, jika tidak maka laporan keuangan tersebut menjad tidak
berguna , bank akan kesulitan dalam memantau perkembangan usaha nasabah.

b. Pengawasan atas fisik dokumen tidak dilaksanakan sesuai dengan ketentuan


Terutama untuk dokumen-dokumen prarealisasi kredit seperti pengikatan agunan,
laporan perkembangan keuangan, semua hal tersebut harus diawasi dengan baik
agar tidak merugikan bank di kemudian hari.

Kelemahan Dalam Supervisi Kredit


a. Bank kurang pengawasan dan pemantauan atas performance nasabah secara
kontinyu dan teratur
Sebaiknya Bank mempunyai tenaga khusus untuk memantau dan melakukan
pembinaan terhadap nasabah apalagi jika nasabah kredit sudah terlalu banyak.

b. Terbatasnya data dan informasi yang berkaitan dengan penyelamatan dan


penyelesaian kredit
Jika kredit sudah bermasalah, dibutuhkan data dan informasi yang lebih lengkap,
bahkan lebih rumit daripada analisa kredit biasa, seringkali petugas bank
memperoleh kesulitan dalam memperoleh kelengkapannya.

c. Tindakan perbaikan tidak diterapkan secara dini dan tepat waktu


Lakukan usaha penyelamatan sejak dini, jika terdapat indikasi akan bermasalah
serta lakukan negosiasi dengan nasabah.

d. Jumlah nasabah terlalu banyak


Sebaiknya jumlah nasabah diimbangi dengan jumlah petugas yang mampu
menanganinya, agar tidak terjadi kevakuman dalam pengawasan kredit.

e. Nasabah terpencar
Nasabah yang terpencar di wilayah tertentu yg jauh dan sukar dijangkau, sementara
nilainya kecil merupakan pemborosan biaya dan menimbulkan keengganan bagi
petugas kredit untuk melakukan pengawasan.

f.
Konsentrasi portofolio kredit yang berlebihan
Lakukan diversifikasi kredit untuk menghindari risiko konsentrasi kredit, mengingat
risiko bisnis yang terpusat pada sektor tertentu yang mungkin pada saat tertentu
mengalami siklus menurun.

Analisa Karakter Dalam Pemberian Kredit


Posted on 07/08/2010by Andri

Di artikel saya terdahulu mengenai analisa kredit 6c telah


disebutkan mengenai 6 parameter penilaian kredit salah satunya adalah character
Banyak yang bertanya bagaimanakah kita menilai karakter seseorang, memangnya
kita tuhan?
Menurut pendapat saya pribadi pilar utama dalam menilai karakter seseorang
adalah kesesuaian antara yang diucapkan dengan hasil peninjauan lokasi, maupun
hasil BI checking ataupun trade checking
Karena pilar analisa yang lain menjadi tidak berguna, misalnya laporan keuangan
yang bagus, usaha yang bagus, tapi yang bersangkutan tidak mempunyai kemauan
membayar? Tentu saja hal tersebut perlu menjadi perhatian khusus, jangan karena
masalah agunan yang sudah cover lantas permohonan nasabah disetujui
Hal-hal yang utama dalam penilaian karakter nasabah menurut saya adalah:

lakukan pengecekan standar yaitu BI checking, apakah yang bersangkutan


sudah mempunyai fasilitas kredit yang berjalan di bank lain atau belum, apakah
status kredit tersebut lancar atau tidak? Apakah terdapat tunggakan bunga? Jika
terdapat tunggakan pelajari lah sebabnya, apakah memang watak ybs seperti itu
atau memang ada faktor lain, mungkin ada kebutuhan yang mendesak yang tidak
bisa ditawar-tawar lagi (biaya sekolah anak, berobat, dll)

lakukan pengecekan apakah nasabah yang bersangkutan masuk dalam

kategori DHN (daftar hitam nasional), lakukan cross check dengan bank pemberi
kredit bagaimanakah track record ybs
lakukan juga pengecekan dengan supplier, bagaimanakah ketepatan

pembayaran nasabah, apakah ontime atau sering ngaret


pelajarilah karakter masyarakat setempat, karena adat di tiap daerah sangat

berbeda, apakah ybs masuk kedalam daftar masyarakat yang disegani didaerah
itu? Kenapa disegani? Apakah karena mempunyai nama baik yang besar atau
sebaliknya mempunyai reputasi yang buruk
apakah profesi nasabah tersebut adalah termasuk dalam profesi yang

dihindari dalam pemberian kredit?


jika anda masih ragu, silahkan anda pikirkan dengan matang-matang apakah
anda akan memberikan pembiayaan ini dengan uang anda pribadi, jika
jawabannya adalah tidak, maka tidak ada alasan bagi bank untuk memberikan
kredit kepada ybs

Penyebab Kredit Bermasalah (NPL)

Posted on 21/09/2008by Andri

Sumber-sumber penyebab terjadinya kegagalan pengembalian kredit oleh nasabah atau


penyebab terjadinya kredit bermasalah pada bank dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Self Dealing
Self dealing terjadi karena adanya interest tertentu dari pejabat pemberi
kredit terhadap permohonan yang diajukan nasabah, berupa pemberian kredit yang
tidak layak atas dasar yang kurang sehat terhadap nasabahnya dengan harapan
mendapatkan kompensasi berupa pemberian imbalan dari nasabah.
2. Anxiety for Income
Pendapatan yang diperoleh melalui kegiatan perkreditan merupakan sumber
pendapatan utama sebagian besar bank sehingga ambisi ataupun nafsu yang
berlebihan untuk memperoleh laba bank melalui penerimaan bunga kredit sering
menimbulkan pertimbangan yang tidak sehat dalam pemberian kredit.
3. Compromise of Credit Principles
Pelanggaran prinsip-prinsip kredit oleh pimpinan bank yang menyetujui pemberian
kredit yang mengandung risiko yang potensial menjadi kredit yang bermasalah.
4. Incomplete Credit Information
Terbatasnya informasi seperti data keuangan dan laporan usaha, disamping
informasi lainnya seperti penggunaan kredit, perencanaan, ataupun keterangan
mengenai sumber pelunasan kembali kredit.
5. Failure to Obtain or Enforce Liquidation Agreements
Sikap ragu-ragu dalam menentukan tindakan terhadap suatu kewajiban yang telah
diperjanjikan, meskipun nasabah mampu dan wajib membayarnya, juga merupakan
penyebab timbulnya kredit-kredit yang tidak sehat dan mengakibatkan kredit
bermasalah bagi bank.
6. Complacency
Sikap memudahkan suatu masalah dalam proses kredit akan mengakibatkan
terjadinya kegagalan atas pelunasan kembali kredit yang diberikan
7. Lack of Supervising
Karena kurangnya pengawasan yang efektif dan berkesinambungan setelah
pemberian kredit, kondisi kredit berkembang menjadi kerugian karena nasabah
tidak memenuhi kewajibannya dengan baik.
8. Technical Incompetence
Tidak adanya kemampuan teknis dalam menganalisis permohonan kredit dari aspek
keuangan meupun aspek lainnya akan berakibat kegagalan dalam operasi
perkreditan suatu bank. Para pejabat kredit harus senantiasan meningkatkan

pengetahuan dan kemampuan yang berkaitan dengan tugasnya dan jangan


memberikan kredit kepada usaha atau sektor yang tidak dikenal dengan baik.
9. Poor Selection of Risks
Risiko tersebut dapat dijelaskan dibawah ini:
a.
Pejabat kredit mampu mendeteksi kemampuan nasabah dalam membiayai
usahanya, selain yang diperoleh dari bank.
b. Pejabat kredit harus mampu menghitung berapa kebutuhan nasabah yang
sesungguhnya.
c.
Pejabat kredit harus mampu menghitung nilai taksasi jaminan yang mengcover
kredit yang diberikan
d. Pejabat kredit harus mampu memperhitungkan kemungkinan risiko yang
dihadapi dengan pemberian kredit dan mengetahui sumber pelunasan.
e. Pejabat kredit harus mampu mendeteksi risiko pemberian kredit yang mungkin
secara kemampuan cukup baik, tetapi dari sisi moral kurang menguntungkan bagi
bank.
f.
Pejabat kredit harus mampu mendeteksi kualitas jaminan yang akan
menimbulkan masalah di kemudian hari.
10. Overlending
Overlending adalah pemberian kredit yang besarnya melampaui batas
kemampuanpelunasan kredit oleh nasabah.
11. Competition
Competition merupakan risiko persaingan yang kurang sehat antar bank yang
memperebutkan nasabah yang berakibat pemberian kredit yang tidak sehat.

Becoming Credit Analyst


Posted on 03/07/2013by Andri

Kredit, merupakan jantung bisnis bank dengan turunannya pendapatan bunga bank.
Sangat sedikit bank yang pendapatan utamanya tidak berasal dari hasil berjualan
kredit. tentunya kredit harus dijaga kualitasnya dalam arti tingkat kredit
bermasalahnya haruslah rendah sehingga beban pencadangan bank atas kredit
bermasalah tersebut akan minimal dan pada akhirnya akan memengaruhi besaran
laba bersih yang diperoleh bank.
Salah satu cara untuk memastikan agar kredit terjaga kualitasnya, adalah faktor
SDM yaitu petugas kredit (account officer) yang akan melakukan akuisisi maupun
pembinaan nasabah harusnya mempunyai skill yang mumpuni, yang mana skill
tersebut biasanya terdiri dari business skill, accounting skill, legal knowledge dan
tentunya ethic.

Business Skill, mencakup pengetahuan akan proses bisnis dari sektor yang akan
dituju misalnya sektor konstruksi. Seorang account officer haruslah mengetahui
risiko-risiko yang terkandung dalam bisnis ini begitu juga strategi untuk
memasarkan produk kredit bank agar laku di mata pengusaha.
Financial Statement Analysis Skill, mencakup pemahaman atas laporan keuangan,
rasio keuangan maupun penyusunan laporan keuangan. Hal ini sangat penting
untuk melihat performa atas nasabah yang dikelola oleh bank, terlebih jika nasabah
tersebut bersegmen menengah maupun korporat.
Legal Knowledge, seorang petugas kredit wajib mengetahui teknis pengikatan kredit
berikut aksesorisnya-terutama aspek hukum yang terkandung dalam perjanjian
kredit.
Terakhir, Ethic. Hal yang tentunya sangat fundamental, seorang banker wajib
memegang teguh etika perbankan dan juga selalu mengutamakan kepentingan bank
diatas kepentingan individu.

Prinsip 5 P Dalam Kredit ( Five Ps Principle)


Posted on 08/04/2009by Andri

Didalam memberikan kredit, selain analisa 6 C juga ada Analisa 5 P, yaitu:


1.
Person / People, meliputi penilaian pribadi dan kemampuan usaha dari calon
nasabah serta tenaga kerja dan pengelola serta orang-orang yang terlibat
langsung dalam bisnis nasabah
2.
Purpose, adalah penilaian tujuan penggunaan kredit dan penilaian sasaran
kredit
3.
Prospect, adalah penilaian masa depan usaha serta perhitungan bagi bank
antara risiko dengan pendapatan yang diperoleh
4.
Payment, adalah kemampuan membayar kembali kredit serta merupakan
financial statement dengan memperhitungkan ketidakpastian di masa depan.
5.
Protection adalah kemungkinan gagal perlu jaminan sebagai benteng terakhir
untuk berlindung serta berbagai asuransi untuk melindungi usaha nasabah dan
kepentingan bank.

Tiga R dalam Kredit (Three Rs of Credit)


Posted on 08/04/2009by Andri

Prinsip 3 R dalam kredit juga menjadi pertimbangan dalam memutus kredit, prinsip
tersebut diantaranya adalah:
a. Return
Penilaian penghasilan apakah usaha yang akan dibiayai benar-benar suatu usaha
yang memberikan hasil didasarkan pengalaman, kemampuan, pemasaran dan aspek
lainnya
b. Repayment Capacity
Penilaian kesanggupan membayar kembali kredit apakah nasabah benar-benar
memiliki kemampuan untuk mengembalikan kredit bank. hal ini ditilik dari segi
aliran kas, keuntungan yang akan diperoleh, watak yang dimiliki oleh nasabah.
c. Risk Bearing Ability
Penilaian kemampuan untuk menutup risiko yang mungkin timbul jika kredit
menjadi macet.