Anda di halaman 1dari 27

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebuah abses anorektal merupakan akumulasi nanah di sekitar anus dan
rektum.Tingkat keparahan dan kedalaman suatu abses beragam, dan rongga abses
sering dikaitkan dengan pembentukan fistula. Kebanyakan abses dan fistula
anorektal merupakan manifestasi akut dan kronik dari kondisi patologis yang
sama, suatu infeksi yang berasal dari kelenjar kanalis anus.
Diagnosis maupun penatalaksanaan dari abses anorektal tidak hanya
memerlukan pengertian dari etiologi dan patofisiologi tetapi dari anatomi regional
dan rute penyebaran infeksi. Tindakan bedah yang dilakukan atas diagnosis tidak
tepat dan kesalapahaman tentang hubungan dari proses infeksi dan mekanisme
sfingter ani dapat mengakibatkan pemberantasan infeksi yang tidak sempurna
dan/atau gangguan permanen
Puncak insidensi dari abses anorektal adalah pada dekade tiga dan keempat.
Pria lebih sering terkena daripada wanita, dengan rasio 2:1 sampai dengan 3:1.
Sekitar 30% dari pasien dengan abses anorektal mempunyai riwayat abses serupa
yang sembuh dengan spontan atau memerlukan intervensi bedah. Insidensi yang
lebih tunggu dari pembentukan abses tampaknya berkait dengan musim semi dan
musim panas. Walaupun demografi menunjukan perbedaan yang jelas dalam
terjadinya abses anorektal yang berhubungan dengan usia dan jenis kelamin, tidak
ada pola yang jelas diberbagai wilayah atau negara di dunia. Walaupun
diperkirakan ada hubungan langsung dari pembentukan abses anorektal dengan
kebiasaan buang air besar, diare, dan higiene pribadi yang buruk namun hingga
sekarang belum ada bukti kongkrit. Terjadinya abses anorektal pada bayi juga
cukup umum. Mekanismenya kurang dipahami tetapi tidak berkaitan dengan
konstipasi. Untungnya, kondisi ini cukup jinak pada bayi, jarang memerlukan
intervensi operasi pada pasien ini selain drainase sederhana.

[1]

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah ang menjadi fokus
pembahasan dalam makalah ini yaitu Bagaimana konsep dasar dan Asuhan
Keperawatan dengan Abses Anorektal ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Para pembaca dapat mengetahui dan mengenal tentang konsep teori
dan asuhan keperawatan dengan Abses Anorektal.
1.3.2 Tujuan Khusus
Para pembaca dapat lebih memahami tentang konsep dasar dan
Asuhan Keperawatan dengan Abses Anorektal, meliputi.
1. anatomi fisiologi rektum dan anus.
2. Definisi abses anorektal.
3. Etiologi abses anorektal.
4. Manifestasi Klinis abses anorektal.
5. Patofisiologi abses anorektal.
6. Pemeriksaan Diagnostik abses anorektal.
7. Penatalaksanaan.
8. Pathway abses anorektal.
9. Asuhan keperawatan dengan abses anorektal.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan yaitu para pembaca khususnya bagi tenaga
kesehatan, dapat lebih mengetahui dan memahami tentang konsep
dasardan Asuhan Keperawatan dengan Abses Anorektal. Dengan
mengenali dan memahami konsep dasar penyakitnya, kita dapat
melakukan tindakan pengobatan secara cepat dan tepat.
1.5 Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini yaitu dengan studi kepustakaan dan
mencari data-data penunjang di internet.
BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Teori
2.1.1 Anatomi Fisiologi Anus Rektum
1. Anus

[2]

Dalam anatomi, anus, dubur, atau lubang bokong (Latin: nus) adalah
sebuah bukaan dari rektum ke lingkungan luar tubuh. Pembukaan dan penutupan
anus diatur oleh otot sphinkter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi
(buang air besar - BAB), yang merupakan fungsi utama anus.
Anus

Diagram rektum dan anus

Anus sering dianggap sebagai bagian yang tabu oleh berbagai kelompok
masyarakat. Anus manusia terletak di bagian tengah bokong, bagian posterior dari
peritoneum. Terdapat dua otot sphinkter anal (di sebelah dalam dan luar). Otot ini
membantu menahan feses saat defekasi. Salah satu dari otot sphinkter merupakan
otot polos yang bekerja tanpa perintah, sedangkan lainnya merupakan otot rangka.

2. Rektum
Dinding rektum terdiri atas mukosa, submukosa, dan dua Lapisan muskular
yang kompleet, yaitu sirkuler dalam dan longitudinal Luar. Rektum panjang nya
sekltar 12 - 15cm, dari kolon sigmoid sampai saluran anal sepertiga bagian atas
rektum di tutupi oleh peritoneum di sebelah anterior dan lateral. Sepertiga bagian
tengah rektum di tutupi oleh peritonieum hanya di permukaan anterior nya. Dan,

[3]

sepertiga bawah rektum terletak di bawah refleksi peritoneal. Rektum terdiri atas
3 kurva yang berbeda. Tiga lipatan ini memproyeksi kan kedalam lumen sebagai
klep dari houston.
Lapisan jaringan ikat yang tipis dari waldayer adalah lapisan jaringan ikat tipis
rektosakral yang padat, rnulai dari setinggi sakrum keempat hinnga ke anterior
lalu rektum, menutupi sacrum sebelah anterior ke rektum ekstraperitoneal adalah
lapisan jaringan ikat tipis dari Dennonvillers.Ligmen-ligmen lateral dari lapisan
jaringanakat tipis endopelvis menyokong rektum bagian bawah.
Dasar pelvis adalah lembaran muskulotendinous yang dibentuk oleh otot
levator ani dan diinervasi oleh saraf sakralis keempat.saluran anal mulai dari
diafragma pelvis dan berakhir di anal verge, batas anal adalah hubungan antara
anoderm dan kulit perianal.Dentate line adalah hubungan mukokutaneus, letaknya
1 - 1,5 sentimeter di atas batas anal.
Saluran anal dikelilingi oleh sfingter interna dan eksterna yang bersama-sama
merupakan mekanisme sfingter ani. Otot puborektalis berasal dari pubis dan
bergabung ke posterior kerektum; bila di kontraksi kan secara normal menyebab
kan sudut 80o dari hubungan anorektal.
Suplai Arteri
Cabang terminal dari arteri mesenterika inferior menjadi arteri rektal superior
menyilang arteri iliaka komunis kiri,turun di mesokolon sigmoid dan terbagi
dalam dua cabang pada sakrum ketiga. Cabang kiri dan kanan dari arteri rektal
superior menyuplai bagian atas dan tengah rectum.
Arteri rektal media dan inferior menyuplai sepertiga bawah rektum. Arteri
rektal media tampak dari arteri iliaka interna. Melintas jaringan ikat tipis dari
denon villers dan masuk ke anterolateral dari dinding rektum di tigkat cinicin anu
rektal. Koloteral berada di antara arteri rektal superior dan medial. Arteri rektal
media perlu untuk menjaga kelangsungan dari rektum setelah proksimal ligasi dari
arteri mesen terika inferior.
Arteri rektal inferior adalah cabang dari arteri pudendal. Merka melewati
saluran alcock, dan masuk ke posterolateral dari fosa izkiorektal. Mereka
menyuplai sfingter interna dan extema dan sejajar dengan saluran anal dan tidak

[4]

membentuk koral teral dengan arteri rektal lain. Arteri sakral media timbul di
daerah proksimal ke bifurkasio aorta dan menyuplai sedikit darah ke rektum.
Aliran Vena
Sejajar dengan suplai arteri dan bermuara di sistem ( caval ) sistemik dan
portal. Bagian atas dan tengah rektum di aliri vena rektal superior, yang masuk ke
sistem portal lewat arteri rektal superior vang masuk kesistem portal lewat vena
mesen terika inferior. Bagian bawah dan atas saluran anal di aliri oleh vena rektal
media yang bermuara di vena iliaka interna dan kemudian ke sistem cava. Vena
rektal inferior mengalir kebagian bawah dari saluran anal dan bermuara ke vena
pudendal yang mengalir ke sistem cava lewat vena iliaka interna. Tumor rektum
bagian bawah dapat bermetastase melewati saluran vena ke sistem vena sistemik
dan porta.
Ada tiga submukosa kompleks wasir interna vang letak nva di atas dentate
line. Pembuluh - pembuluh vena hemoroid interna kiri lateral, kanan postero
lateral bermuara ke vena rektal superior. Di bawah dentate line pembuluhpembuluh vena hemoroid ekterna bermuara ke vena pudendal. Ada hubungan
antara pleksus interna dan ekterna.
Aliran Limfa
Aliran limfatik rektal adalah segmental dan sirkumferensial dan mengikuti
aliran yang sama dengan suplai darah arteri. Limfa bagian atas dan tengah rektum
mengalir ke nodus mesenterika inferior bagian bawah relctum mengalir mengikuti
arter rektal superior dan masuk ke nodus mesenterika inferior. Limfa dari bagian
bawah rektum juga dapat mengalir di samping sepangjang arteri rektal inferior
dan medial, bagian belakang sepanjang arteri sakral media, atau bagian depan
melewati saluran di septum relctoveksikal atau rekto vaginal saluran-saluran ini
bermuara di nodus iliaka dan kemudian ke nodus Iimfatik periaorta. Limfatik dari
saluran anal di atas dentate line mengalir lewat limfatik rektal superior ke nodus
limfatik mesenterika inferior atau ke rateral kenodus limfa iliaka interna. Di
bawah dentate Zine Iimfatik mengalir ke nod us inguinal tapi dapat ke nodus
Iimfa rektal inferior atau superior sama baik nva.

[5]

Aliran Saraf
Persarafan rektum pada organ urogenital pelvis terdiri dari saraf simpatis dan
parasimpatis. Saraf simpatis dari segmen thorakolulu mnar bagian bawah a.
mesenterika inferior ke pleksus mesenterika inferior. Pembulun-pumbuluh saraf
simpatis semata-meta turun ke pleksus hipogastrik superior vang ber ada di bawah
bifur lcasio aorta, vang kemudian membagi dalam dua cabang. Turun ke bawah
pelvis sebagai nervus hipogastrik. Relctum bagian bawah, kandung kemih dan
organ-organ seksual baik pria dan wanita menerima persarafan simpetatik melalui
nervus hipogastrik. Parasimpatis: serat kedua, ketiga dan keempat sakrum dengan
nervus hipogastrik anterior dan lateral rektum membentuk pleksus. pelvis yang
berjalan di samping pelvis. Pleksus periprospatik timbul dari pleksus pelvis. Serat
gabungan dari pieksus ini mempersarafi rektum, sfingter ani intema, prostat,
kandung kemih, penis. Saraf pudendal ( sakratis 2,sakralis 3,sakralis 4 )
meneruskan rangsangan sensoris dari penis dan klitoris lewat nervus dorsalis.
Saraf simpatis dan parasimpatis penting untuk ereksi penis. Saraf para
simpatis menyebab kan vase dilatasi dan meningkatkan aliran darah ke korpus
kavemosum, menvebab kan ereksi serat-serat simpatis menyebab kan vase
kenstriksi dari pembuluh vena penis dan kemudian mempertahan kan ereksi saraf
- saraf simpatis menyebab kan kontraksi di duktus ejakulasi, vesika seminals dan
prostat dan panting, untuk ejakulasi. Kerusakan pleksus periprostatik dapat terjadi
saat pemotongan rektum. Trauma pada saraf otom plevis menyebabkan di fungsi
dari kandung kemih, impotensi, atau kedua-dua nya.
Sfingter ani interna di persarafi aleh saraf simpatis dan parasimpatis.
Keduanva menghambat sfingter. Sfingter interna secara kontinu menurun ketika
tekanan di rektum meningkat. Saat rektum kosong tekanan sfingter intera
meningkat kembali. Sfingter ani eksterna dan muskulus levaturani di persarafi
oleh cabang rektal inferior dari merfus pudendal interna ( sakralis 2, sakralis 3,
sakralis 4 ), dan cabang perineal dari nervus sakralis 4, setiap tekanan dari rektum
menyebabkan relaksasi dari sfingter intema sfingter ekstema menyebabkan
kcntraksi velunter dan berlangsung sekitar satu menit.

[6]

Di bawah dentate line perasaan kulit terhadap panas, dingin, nyeri, dan
sentuhan disampaikan serat aferen dari infrior rektal dan cabang perineal neivus
pudendal.Di atas dentate line, sensai tumpul. Yang di rasakan pada saat mukosa di
cubit atau wasir interna diligasi bisa dl antar kan oleh serat-serat parasimpatis.
2.1.2 Definisi
Abses anorektal merupakan infeksi yang terokalisasi dengan pengumpulan
nanah pada daerah anorektal. Abses anorektal biasanya dimulai sebagai
peradangan kriptus ani yang terletak pada ujung bawah kolum morgagni. Kelenjar
anus bermuara dalam kriptus ani. Obstruksi atau trauma pada saluran ini
menimbulkan stasis dan mencetuskan terjadinya infeksi. Robekan mukosa akibat
feses yang keras dapat menjadi faktor predisposisi. (Price, 2005 : 468)
Abses anorektal merupakan suatu pengumpulan nanah yang disebabkan
masuknya bakteri ke ruangan di sekitar anus dan rektum (Gunawan, 2010 ; 1).
Sebuah abses anorektal merupakan akumulasi nanah di sekitar anus dan
rektum. Abses anorektal (juga dikenal sebagai abses anal / dubur, atau perianal /
perirectal abses) adalah abses berdekatan dengan anus. Ini muncul dari infeksi di
salah satu sinus anal klarifikasi diperlukan yang mengarah ke peradangan dan
abses formasi.
2.1.3 Etiologi
Organisme penyebab biasanya adalah Escherichia coli, stafilokokus, atau
streptokokus. (Price, 2005 : 468)
Penyebab umum abses anorektal adalah bakteri seperti stafilokokus dan
Escherichia coli adalah penyebab paling umum. Infeksi jamur kadang-kadang
menyebabkan abses (Emedicinehealth, 2011; 1). Masuknya bakteri ke daerah
sekitar anus dan rektum (Eddy Gunawan, 2010 ;1).
2.1.4 Patofisiologi
Abses anorektal biasanya dimulai sebagai peradangan kriptus ani yang
terletak pada ujung bawah kolum morgagni. Kelenjar anus bermuara dalam
kriptus ani. Obstruksi atau trauma pada saluran ini menimbulkan stasis dan
mencetuskan terjadinya infeksi. Robekan mukosa akibat feses yang keras dapat

[7]

menjadi faktor predisposisi. Pada beberapa kasus, dapat ditemukan lesi lokal yang
menjadi pencetus gangguan ini misalnya hemoroid bertukak atau fisura. Terutama
rentan terhadap infeksi ini. Abses ini kebanyakan akan mengakibatkan fisula.
(Price, 2005 : 468)
Kebanyakan abses anorektal bersifat sekunder terhadap proses supuratif
yang dimulai pada kelenjar anal. Teori ini menunjukan bahwa obstruksi dari
saluran kelenjar tersebut oleh tinja, corpus alienum atau trauma akan
menghasilkan stasis dan infeksi sekunder yang terletak di ruang intersfingterik.
Dari sini proses infeksi dapat menyebar secara distal sepanjang otot longitudinal
dan kemudian muncul di subkutis sebagai abses perianal, ataudapat menyebar
secara lateral melewati otot longitudinal dan sfingter eksternal sehinggamenjadi
abses ischiorektal. Meskipun kebanyakan abses yang berasal dari kelenjar anal
adalah perianal dan ischiorektal, ruang lain dapat terinfeksi. Pergerakan infeksi ke
atas dapat menyebabkan abses intersfingterik tinggi. Ini kemudian dapat
menerobos otot longitudinal keruang supralevator sehingga menyebabkan sebuah
abses supralevator. Setelah absesterdrainase, secara spontan maupun secara bedah,
komunikasi abnormal antara lubang anus dan kulit perianal disebut fistula ani.
Selain pergerakan ke atas, ke bawah, dan lateral, proses supuratif dapat
menyebar melingkari anus. Jenis penyebaran dapat terjadi pada tiga lapangan;
ruang ischiorektal, ruangintersfingterik, dan ruang supralevator. Penyebaran ini
dikenal sebagai Horseshoeing.
2.1.5 Manifestasi Klinis
Abses dapat terjadi pada berbagai ruang didalam dan disekitar rektum.
Seringkali mengandung sejumlah pus berbau menyengat dan nyeri. Apabila abses
terletak superfisial, maka akan tampak bengkak, kemerahan, dan nyeri tekan.
Abses yang terletak lebih dalam megakibatkan gejala toksis dan bahkan nyeri
abdomen bawah, serta demam. Sebagian besar abses rektal akan mengakibatkan
fistula. (Price, 2005 : 468)
2.1.6 Penatalaksanaan
Terapi paliatif terdiri dari rendam duduk dan analgesik. Namun, tindakan
bedah segera untuk menginsisi dan mendrainase abses adalah tindakan pilihan.

[8]

Apabila terdapat infeksi lebih dalam, dengan kemungkinan fistula, saluran


fistula harus diangkat. Apabila mungkin fistula diangkat ketika abses diinsisi
dan didrain, atau prosedur kedua perlu dilakukan. Luka dapat diberi tampon
dengan kasa dan dibiarkan sembuh dengan granulasi. (Price, 2005 : 468)
1. Penatalaksanaan keperawatan
Jalankan pola hidup sehat
Olah raga secara teratur
Makan makanan berserat
Hindari terlalu banyak duduk atau nongkrong di wc / toilet
Jangan merokok, minum minuman keras, narkoba, dll
Jangan melakukan aktivitas hubungan seks yang tidak wajar
Minum air yang cukup
Jangan menahan BAK dan BAB
Jangan suka menggosok dan menggaruk dubur berlebihan
Jangan mengejan / mengeden / ngeden berlebihan
Jika tidak ingin pup / bab jangan dipaksa
Duduk berendam pada air yang hangat
Minum obat sesuai anjuran dokter
2. Farmakologi
Bertujuan memperbaiki defekasi dan meredakan atau menghilangkan
keluhan dan gejala. Obat-obat farmakologis dapat dibagi atas empat macam,
yaitu:
- Obat yang memperbaiki defekasi
Terdapat dua macam obat yaitu suplement serat (fiber suplement) dan
pelicin tinja (stool softener). Suplemen serat komersial yang yang banyak
dipakai antara lain psylium atau isphaluga Husk (ex.: Vegeta, Mulax,
Metamucil, Mucofalk) yang berasal dari kulit biji plantago ovate yang
dikeringkan dan digiling menjadi bubuk. Obat ini bekerja dengan cara
membesarkan volume tinja dan meningkatkan peristaltik usus. Efek
samping antara lain ketut dan kembung. Obat kedua adalah laxant atau
pencahar (ex.: laxadine, dulcolax, dll).
- Obat simptomatik
Bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi keluhan rasa gatal,
nyeri, atau kerusakan kulit di daerah anus. Jenis sediaan misalnya
Anusol, Boraginol N/S dan Faktu. Sediaan yang mengandung

[9]

kortikosteroid digunakan untuk mengurangi radang daerah hemoroid atau


anus. Contoh obat misalnya Ultraproct, Anusol HC, Scheriproct.
-

Obat penghenti perdarahan


Perdarahan menandakan adanya luka pada dinding anus atau pecahnya
vena hemoroid yang dindingnya tipis. Psyllium, citrus bioflavanoida
yang berasal dari jeruk lemon dan paprika berfungsi memperbaiki
permeabilitas dinding pembuluh darah.

Obat penyembuh dan pencegah serangan


Menggunakan Ardium 500 mg dan plasebo 32 tablet selama 4 hari, lalu
22 tablet selama 3 hari. Pengobatan ini dapat memberikan perbaikan
terhadap gejala inflamasi, kongesti, edema, dan prolaps.

3. Non Farmakologi
Bertujuan untuk mencegah perburukan penyakit dengan cara memperbaiki
defekasi.
Pelaksanaan berupa perbaikan pola hidup, perbaikan pola makan dan
minum, perbaikan pola/cara defekasi. Perbaikan defekasi disebut Bowel
Management Program (BMP) yang terdiri atas diet, cairan, serat tambahan,
pelicin feses, dan perubahan perilaku defekasi (defekasi dalam posisi
jongkok/squatting). Selain itu, lakukan tindakan kebersihan lokal dengan cara
merendam anus dalam air selama 10-15 menit, 2-4 kali sehari. Dengan
perendaman ini, eksudat/sisa tinja yang lengket dapat dibersihkan. Eksudat
atau sisa tinja yang lengket dapat menimbulkan iritasi dan rasa gatal bila
dibiarkan.
2.1.7 Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan darah rutin
Pemeriksaan hitung darah lengkap, tes fungsi hati dan elektrolit.
2. Pemeriksaan endoskotik
Sigmoidoskopi (kaku atau fleksibel) dilakukan mendeteksi adanya
masa adanya rektum.
2.2 Asuhan Keperawatan
2.2.1 Pengkajian

[10]

Riwayat Kesehatan di ambil untuk menentukan adanya rasa terbakar,


adanya gatal, sembelit, nanah di rectum, pembengkakan di dubur, malaise,
berkeringat di malam hari, ada benjolan di dubur, lelehan di rectum,
kelelahan,rasa kedinginan, dan nyeri beserta karateristiknya.
-

apakah ini terjadi selama defekasi?


berapa lama ini berakhir?
adakah nyeri abdomen di hubungkan dengan hal itu?
apakah terdapat perdarahan dari rektum?
seberapa banyak?
seberapa sering?
apa warnanya?
adakah mukus atau pus?

1. Sirkulasi
Tanda : Peningkatan TD (efek pembesaran ginjal)
2. Eliminasi
Gejala : Penurunan kekuatan /dorongan aliran urin, tetesan
Tanda : Feses yang keluar bercampur dengan nanah dan berbau
3. Makanan/cairan
Gejala : Anoreksia; mual dan muntah
Tanda : Penurunan Berat Badan
4. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri punggung bawah
5. Keamanan
Gejala : Demam
6. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Rencana pembedahan
Rencana Pemulangan :Memerlukan bantuan dengan manajemen terapi
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan iritasi, tekanan, dan sensitifitas pada area rectal
atau anal sekunder.
2.

Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu.


3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kesalahan interprestasi dan
kurang informasi.

4.

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penumpukan pus di anus.

[11]

5. Aktual atau resiko tinggi ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan


tubuh berhubungan dengan intake makanan yang tidak adekuat.

[12]

2.2.3

Intervensi Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan iritasi, tekanan, dan sensitifitas pada area rectal atau anal sekunder.
Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang
Intervensi
1. Dorong

pasien

Rasional
untuk 1. Mencoba untuk mentoleransi nyeri tanpa analgesik.

melaporkan nyeri.
2.Nyeri sebelum defekasi sering terjadi pada KU dengan tiba-tiba,
2. Kaji
laporan
kram
dimana dapat berat dan terus-menerus.
abdomen atau nyeri,
3.Dapat digunakan pada hubungan petunjuk verbal untuk
catat lokasi, lamanya,
mengidentifikasi luas/ beratnya masalah
intensitas.
4.Dapat menunjukkan dengan tepat pencetus atau faktor pemberat
3. Catat petunjuk non5.Melindungi kulit dari asam usus, mencegah ekskoriasi.
verbal,
mis.gelisah,
6.Dapat menunjukkan terjadinya
obstruksi usus karena
menolak untuk bergerak,
inflamasi, edema, dan jaringan parut
berhati-hati
dengan
7.Mengurangi/menghilangkan nyeri
abdomen.
4. Kaji ulang faktor-faktor
yang

meningkatkan/

menghilangkan nyeri
5. Bersihkan area rektal

[13]

dengan sabun ringan dan


air/lap setelah defekasi
dan berikan perawatan
kulit.
6. Observasi/ catat distensi
abdomen,

peningkatan

suhu, penurunan TD.


7. Berikan obat analgetik
2. Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu.
Tujuan : Kecemasan berkurang atau teratasi
Intervensi
Rasional
1. Catat petunjuk perilaku mis, gelisah, peka 1. Stres dapat terjadi sebagai akibat gejala
rangsang, menolak, kurang kontak mata,
perilaku menarik perhatian.
2. Dorong menyatakan perasaan. Berikan

fisik kondisi, juga reaksi lain.


2. Membuka hubungan terapeutik. Membantu
dalam meng-indentifikasi masalah yang

umpan balik.
menyebabkan stres.
3. Akui bahwa ansietas dan masalah mirip 3. Validasi bahwa perasaan normal dapat
yang diekspresikan orang lain. Tingkatkan
perhatian mendengan pasien.
4. Berikan informasi yang akurat dan nyata

membantu menurunkan stres.


4. Keterlibatan pasien dalam perencanaan
perawatan memberikan rasa kontrol dan

[14]

tentang apa yang dilakukan.


membantu menurunkan ansietas.
5. Berikan lingkungan tenang dan istirahat. 5. Meningkatkan
relaksasi,
membantu
6. Dorong pasien/orang terdekat untuk
menurunkan ansietas.
menyatakan perhatian, perilaku perhatian. 6. Tindakan dukungan dapat membantu pasien
7. Bantu pasien belajar mekanisme koping
merasa stres berkurang.
baru, mis teknik mengatasi stres.
7. Meningkatkan kontrol penyakit.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kesalahan interprestasi dan kurang informasi.
Tujuan : Klien/ keluarga menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan pengobatan.
Intervensi
1. Tentukan persepsi pasien/ keluarga tentang

Rasional
1. Membuat

proses penyakit.
2. Kaji ulang proses penyakit, penyebab/ efek

memberikan kebutuhan belajar individu.


2. Pengetahuan dasar yang akurat memberikan

hubungan faktor yang menimbulkan faktor


pendukung.
3. Kaji ulang obat, tujuan, frekuensi, dosis, dan
kemungkinan efek samping.
4. Tekankan pentingnya perawatan kulit, mis,
teknik cuci tangan dengan baik dan
perawatan perineal yang baik.
5. Penuhi kebutuhan evaluasi jangka panjang
dan evaluasi periodik.

kesempatan

pengetahuan

pasien

dasar

untuk

dan

membuat

keputusan informasi/pilihan tentang masa


depan dan kontrol penyakit.
3. Meningkatkan pemahaman

dan

dapat

meningkatkan kerjasama dalam program.


4. Menurunkan penyebaran bakteri dan resiko
iritasi kulit/kerusakan, infeksi.
5. Pasien dengan inflamasi beresiko untuk
kanker dan evaluasi diagnostik teratur dapat

[15]

diperlukan.
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penumpukan pus di anus.
Tujuan: menghindari kemungkinan terjadinya infeksi pada anus
Intervensi

Rasional

[16]

1. Berikan perawatan kulit pada area epidema 1. upaya menghindari infeksi


2. Inspeksi kulit dan membran mukosa 2. kemerahan,dan rasa panas

menunjukan

terhadap kemerahan, panas, drainase


adanya gejala radang dan infeksi
3. Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
3. identifikasi adanya infeksi setelah pasca bedah
4. Dorong masukkan cairan & nutrisi yang 4. mempercepat penyembuhan luka setelah
cukup
pembedahan
6. Instruksikan pasien untuk minum antibiotik 5. antibiotik mencegah perkembangan bakteri
sesuai resep
penyebab infeksi
7. Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan 6. membantu perawat mendeteksikan gejala
gejala infeksi
8. Ajarkan cara menghindari infeksi.

infeksi dengan cepat sehingga segera di


tangani
7. meminimalkan

resiko

infeksi

yang

mengancam
8. mempercepat intervensi dan penanganan

5. Aktual atau resiko tinggi ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang tidak
adekuat.
Tujuan : Untuk menghindari pasien mengalami

[17]

Intervensi
1. Identifikasi

penyebab

penurunan

nafsu

makan.
2. Berikan makanan sedikit tapi sering.
3. Berikan makanan kesukaan klien dan beri
selagi hangat.
4. Kolaborasi dengan

ahli

gizi

Rasional
1. Mengetahui penyebab nafsu makan.
2. Untuk menghindari mual muntah.
3. Untuk menambah nafsu makan.
4. Menentukan diit klien.

untuk

menentukan diit.

2.2.4

Implementasi Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan iritasi, tekanan, dan sensitifitas pada area rectal atau anal sekunder
Intervensi
Implementasi
1. Dorong pasien untuk melaporkan nyeri.
1. Memberi bantuan untuk mentoleransi nyeri
2. Kaji laporan kram abdomen atau nyeri,
tanpa analgesik.
catat lokasi, lamanya, intensitas.
2. Mengkaji dengan skala nyeri sebelum
3. Catat petunjuk non-verbal, mis.gelisah,
defekasi sering terjadi pada KU dengan tibamenolak untuk bergerak, berhati-hati
tiba, dimana dapat berat dan terus-menerus.
dengan abdomen.
3. Dengan melihat bahasa non verbal untuk
4. Kaji
ulang
faktor-faktor
yang
mengidentifikasi luas/ beratnya masalah
meningkatkan/ menghilangkan nyeri
4. Mengkaji dengan tepat pencetus atau faktor
5. Bersihkan area rektal dengan sabun ringan
pemberat
dan air/lap setelah defekasi dan berikan

[18]

perawatan kulit.
6. Observasi atau catat distensi abdomen,
peningkatan suhu, penurunan TD.
7. Berikan obat analgetik

5.Membersihkan area rektal untuk melindungi


kulit dari asam usus, mencegah ekskoriasi.
6.Mencatat terjadinya

obstruksi usus karena

inflamasi, edema, dan jaringan parut


7.memberikan

obat

untuk

mengurangi/menghilangkan nyeri
2. Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu.
Intervensi
Implementasi
1. Catat petunjuk perilaku mis, gelisah, peka 1. Dengan melihat ekspresi pasien dan sikap
2. Mengajak pasien untuk berkomunikasi secara
rangsang, menolak, kurang kontak mata,
akrab membuka hubungan terapeutik.
perilaku menarik perhatian.
2. Dorong menyatakan perasaan. Berikan
Membantu dalam meng-indentifikasi masalah
umpan balik.
yang menyebabkan stres.
3. Akui bahwa ansietas dan masalah mirip 3. Memberi pasien penjelasan
yang diekspresikan orang lain. Tingkatkan
perhatian mendengan pasien.
4. Berikan informasi yang akurat dan nyata

mengenai

penyakitnya.
4. Memberi informasi yang baik dan aku kepada
pasien dan keluarga
5. Mengajarkan pasin teknik relaksasi, seperti

tentang apa yang dilakukan.


5. Berikan lingkungan tenang dan istirahat.
napas dalam.
6. Dorong pasien/orang terdekat untuk 6. Memberi dukungan agar dapat membantu

[19]

menyatakan perhatian, perilaku perhatian.


pasien merasa stres berkurang.
7. Bantu pasien belajar mekanisme koping 7. Mengajarkan teknik mengelola stress sendiri.
baru, mis teknik mengatasi stres.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kesalahan interprestasi dan kurang informasi.
Intervensi
Implementasi
1. Tentukan persepsi pasien/ keluarga tentang 1. Memberikan pengetahuan
2. Mengkaji ulang sampai mana pengetahuan dasar
proses penyakit.
2. Kaji ulang proses penyakit, penyebab/ efek
yang yang dimilika.
3. Memberi tau kepada pasien dan keluarga
hubungan faktor yang menimbulkan faktor
mengenai setiap tindakan yang diberikan .
pendukung.
4. Membersihkan kulit dengan menjaga kebersihan
3. Kaji ulang obat, tujuan, frekuensi, dosis,
kulit seperti mandi, mengosok gigi, dll
dan kemungkinan efek samping.
5. Melakukan observasi terhadap pasien dengan
4. Tekankan pentingnya perawatan kulit, mis,
inflamasi beresiko untuk kanker dan evaluasi
teknik cuci tangan dengan baik dan
diagnostik teratur dapat diperlukan.
perawatan perineal yang baik.
5. Penuhi kebutuhan evaluasi jangka panjang
dan evaluasi periodik.

[20]

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penumpukan pus di anus.


Intervensi

Implementasi

[21]

1. Berikan perawatan kulit pada area epidema 1.Melakukan pemebersihan secara teratur pada
2. Inspeksi kulit dan membran mukosa
area epidema
terhadap kemerahan, panas, drainase
2.Melihat apakah kemerahan, dan rasa panas
3. Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
menunjukan adanya gejala radang dan infeksi
4. Dorong masukkan cairan & nutrisi yang
3.Mengidentifikasi adanya infeksi setelah pasca
cukup
bedah
5. Instruksikan pasien untuk minum antibiotik
4.Melakukan pemasangan infus
sesuai resep
5.Memberikan antibiotic
6. Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan 6.Mengajari pasien dan keluarga tanda dan gejala
gejala infeksi
7. Ajarkan cara menghindari infeksi.

infeksi
7.Bersihakan luka atau memberitahukan pada
petugas bila merasakan sakit pada area yang
di obati.

5. Aktual atau resiko tinggi ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang tidak
adekuat.

[22]

Intervensi
1. Identifikasi

Implementasi
penyebab

penurunan

nafsu 1. Mengidentifikasi penyebab penurunan nafsu

makan.
makan.
2. Berikan makanan sedikit tapi sering.
2. Menganjurkan keluarga untuk memberikan
3. Berikan makanan kesukaan klien dan beri
makanan sedikit tapi sering dan dalam
selagi hangat.
keadaan hangat.
4. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
3. Menganjurkan keluarga pasien agar
menentukan diit.
memberikan pasien makanan yang ia
senangi agar asupan makanan tetap terjaga.
4. Kolaborasi untuk menentukan diit dan
pemberian curcuma 3x1

[23]

2.2.5
1.
2.
3.

Evaluasi
Nyeri telah berkurang atau hilang
Kecemasan berkurang atau teratasi
Klien/ keluarga menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan

pengobatan.
4. Terhindar dari infeksi.
5. Terhindar dari kurangnya nutrisi tubuh

BAB 3
PENUTUP

[24]

3.1 Simpulan
Abses anorektal biasanya dimulai sebagai peradangan kriptus ani yang
terletak pada ujung bawah kolum morgagni. Kelenjar anus bermuara dalam
kriptus ani. Obstruksi atau trauma pada saluran ini menimbulkan stasis dan
mencetuskan terjadinya infeksi. Robekan mukosa akibat feses yang keras dapat
menjadi faktor predisposisi.
Abses anorektal merupakan suatu pengumpulan nanah yang disebabkan
masuknya bakteri ke ruangan di sekitar anus dan rectum. Sebuah abses anorektal
merupakan akumulasi nanah di sekitar anus dan rektum. Abses anorektal (juga
dikenal sebagai abses anal / dubur, atau perianal / perirectal abses) adalah abses
berdekatan dengan anus.
Diagnosis maupun penatalaksanaan dari abses anorektal tidak hanya
memerlukan pengertian dari etiologi dan patofisiologi tetapi dari anatomi regional
dan rute penyebaran infeksi. Tindakan bedah yang dilakukan atas diagnosis tidak
tepat dan kesalapahaman tentang hubungan dari proses infeksi dan mekanisme
sfingter ani dapat mengakibatkan pemberantasan infeksi yang tidak sempurna
dan/atau gangguan permanen
Puncak insidensi dari abses anorektal adalah pada dekade tiga dan keempat.
Pria lebih sering terkena daripada wanita, dengan rasio 2:1 sampai dengan 3:1.
Sekitar 30% dari pasien dengan abses anorektal mempunyai riwayat abses serupa
yang sembuh dengan spontan atau memerlukan intervensi bedah. Insidensi yang
lebih tunggu dari pembentukan abses tampaknya berkait dengan musim semi dan
musim panas.
3.2 Saran
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun sangat menyadari masih banyak
kesalahan dalam penulisan makalah ini. Untuk itu kami sangat berharap kepada
pembaca untuk memberikan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini.

[25]

[26]

[27]