Anda di halaman 1dari 23

Kamis, 16 April 2009

Asuhan Keperawatan Klien dengan TRAKSI


A. DEFINISI
Traksi adalah Suatu pemasangan gaya tarikan pada bagian tubuh. Traksi digunakan
untuk meminimalkan spasme otot ; untuk mereduksi, mensejajarkan, dan
mengimobilisasi fraktur ; untuk mengurangi deformitas, dan untuk menambah
ruangan diantara kedua permukaan patahan tulang. Traksi harus diberikan dengan
arah dan besaran yang diinginka untuk mendapatkan efek terapeutik. Faktor-faktor
yang mengganggu keefekktifan tarikan traksi harus dihilangkan (Smeltzer & Bare,
2001 ).
Traksi merupakan metode lain yang baik untuk mempertahankan reduksi ektermitas
yang mengalami fraktur (Wilson, 1995 ).
Keuntungan pemakaian traksi
1. Menurunkan nyeri spasme
2. Mengoreksi dan mencegah deformitas
3. Mengimobilisasi sendi yang sakit
Kerugian pemakaian traksi
1. Perawatan RS lebih lama
2. Mobilisasi terbatas
3. Penggunaan alat-alat lebih banyak.
Beban traksi
1. Dewasa = 5 - 7 Kg
2. Anak = 1/13 x BB (Barbara, 1998).
B. INDIKASI
1. Traksi rusell digunakan pada pasien fraktur pada plato tibia
2. Traksi buck, indikasi yang paling sering untuk jenis traksi ini adalah untuk
mengistirahatkan sendi lutut pasca trauma sebelum lutut tersebut diperiksa dan
diperbaiki lebih lanjut
3. Traksi Dunlop merupakan traksi pada ektermitas atas. Traksi horizontal diberikan
pada humerus dalam posisi abduksi, dan traksi vertical diberikan pada lengan bawah
dalm posisi flexsi.
4. Traksi kulit Bryani sering digunakan untuk merawat anak kecil yang mengalami
patah tulang paha
5. Traksi rangka seimbang ini terutama dipakai untuk merawat patah tulang pada
korpus pemoralis orang dewasa
6. Traksi 90-90-90 pada fraktur tulang femur pada anak-anak usia 3 thn sampai
dewasa muda (Barbara, 1998).
C. TUJUAN PEMASANGAN
Traksi digunakan untuk meminimalkan spasme otot, untuk mereduksi, mensejajarkan,
dan mengimobilisasi fraktur, untuk mengurangi deformitas, untuk menambah ruang
diantara dua permukaan antara patahan tulang.
1. Traksi harus diberikan dengan arah dan besaran yang diinginkan untuk

mendapatkan efek terapeutik, tetapi kadang-kadang traksi harus dipasang dengan arah
yang lebih dari satu untuk mendapatkan garis tarikan yang diinginkan (Barbara,
1998).
D. JENIS- JENIS TRAKSI
1. Traksi kulit
Traksi kulit digunakan untuk mengontrol sepasme kulit dan memberikan imobilisasi .
Traksi kulit apendikuler ( hanya pada ektermitas digunakan pada orang dewasa)
termasuk traksi ektensi Buck, traksi russell, dan traksi Dunlop.
a. Traksi buck
Ektensi buck ( unilateral/ bilateral ) adalah bentuk traksi kulit dimana tarikan
diberikan pada satu bidang bila hanya imobilisasi parsial atau temporer yang
diinginkan . Digunakan untuk memberikan rasa nyaman setelah cidera
pinggulsebelum dilakukan fiksasi bedah (Smeltzer & Bare,2001 ).
Traksi buck merupakan traksi kulit yang paling sederhana, dan paling tepat bila
dipasang untuk anak muda dalam jangka waktu yang pendek. Indikasi yang paling
sering untuk jenis traksi ini adalah untuk mengistirahatkan sendi lutut pasca trauma
sebelum lutut tersebut diperiksa dan diperbaiki lebih lanjut (Wilson, 1995 ).
Mula- mula selapis tebal semen kulit, tingtura benzoid atau pelekat elastis dipasang
pada kulit penderita dibawah lutut. Kemudian disebelah distal dibawah lutut diberi
stoking tubular yang digulung, kemudian plester diberikan pada bagian medikal dan
lateral dari stoking tersebut lalu stoking tersebut dibungkus lagi dengan perban elastis.
Ujung plester traksi pada pergelangan kaki di hubungkan dengan blok penyebar guna
mencegah penekanan pada maleoli. Seutas tambang yang diikat ketengah blok
penyebar tersebut kemudian dijulurkan melalui kerekan pada kaki tempat tidur. Jarang
dibutuhkan berat lebih dari 5 lb. penggunaan traksi kulit ini dapat menimbulkan
banyak komplikasi. Ban perban elastis yang melingkar dapat mengganggu sirkulasi
yang menuju kekaki penderita, yang sebelumnya sudah menderita penyakit vaskular.
Alergi kulit terhadap plester juga dapat menumbuhkan masalah. Kalau tidak dirawat
dengan baik mungkin akan menimbulkan ulserasi akibat tekanan pada maleolus.
Traksi berlebih dapat merusak kulit yang rapuh pada orang yang berusia lanjut.
Bahkan untuk peenderita dewasa lebih disukai traksi pin rangka, terutama bila
perawatan harus dilakukan selama beberapa hari.
b. Traksi Russell
Dapat digunakan pada fraktur plato tibia, menyokong lutut yang fleksi pada
penggantung dan memberikan gaya tarik horizontal melalui pita traksi balutan elastis
ketungkai bawah. Bila perlu, tungkai dapat disangga dengan bantal agar lutut benarbenar fleksi dan menghindari tekanan pada tumit (Smeltzer & Bare, 2001 ).
Masalah yang paling sering dilihat pada traksi Russell adalah bergesernya penderita
kebagian kaki ketempat tidur,sehingga kerekan bagian distal saling berbenturan dan
beban turun kelantai. Mungkin perlu ditempatkan blok-blok dibawah kaki tempat
tidur sehingga dapat memperoleh bantuan dari gaya tarik bumi (Wilson, 1995).
Walaupun traksi rangka seimbang dapat digunakan untuk menangani hampir semua
fraktur femur, reduksi untuk fraktur panggul mungkin lebih sering diperoleh dengan
memakai traksi Russell dalam keadaan ini paha disokong oleh beban. Traksi
longitudinal diberikan dengan menempatkan pin dengan posisi tranversal melalui tibia
dan fibula diatas lutut. Efek dari rancangan ini adalah memberikan kekuatan traksi
( berasal dari gaya tarik vertikal beban paha dan gaya tarik horizontal dari kedua tali
pada kaki ) yang segaris dengan tulang yang cidera dengan kekuatan yang sesuai.

Jenis traksi paling sering digunakan untuk memberi rasa nyaman pada pasien yang
menderita fraktur panggul selama evaluasi sebelum operasi dan selama persiapan
pembedahan. Meskipun traksi Russell dapat digunakan sebagai tindakan keperawatan
yang utama dan penting untuk patah tulang panggul pada penderita tertentu tetapi
pada penderita usia lanjut dan lemah biasanya tidak dapat mengatasi bahya yang akan
timbul karena berbaring terlalu lama ditempat tidur seperti dekubitus, pneumonia, dan
tromboplebitis.
c. Traksi Dunlop
Adalah traksi pada ektermitas atas. Traksi horizontal diberikan pada lengan bawah
dalam posisi fleksi.
d. Traksi kulit bryant
Traksi ini sering digunakan untuk merawat anak kecil yang mengalami patah tulang
paha. Traksi Bryant sebaiknya tidak dilakukan pada anak-anak yang berat badannya
lebih dari 30 kg. kalau batas ini dilampaui maka kulit dapat mengalami kerusakan
berat.
2. Traksi skelet
Traksi skelet dipasang langsung pada tulang. Metode traksi ini digunakan paling
sering untuk menangani fraktur femur, tibia, humerus dan tulang leher. Kadangkadang skelet traksi bersifat seimbang yang menyokong ekstermitas yang terkena,
memungkinkan gerakan pasien sampai batas- batas tertentu dan memungkinkan
kemandirian pasien maupun asuh keperawatan sementara traksi yang efektif tetap
dipertahankan yang termasuk skelet traksi adalah sebagai berikut (Smeltzer &
Bare,2001 ).
a. Traksi rangka seimbang
Traksi rangka seimbang ini terutama dipakai untuk merawat patah tulang pada korpus
femoralis orng dewasa. Sekilas pandangan traksi ini tampak komplek, tetapi
sesunguhnya hanyalah satu pin rangka yang ditempatkan tramversal melalui femur
distal atau tibia proksimal. Dipasang pancang traksi dan tali traksi utama dipasang
pada pancang tersebut. Ektermitas pasien ditempatkan dengan posisi panggul dan
lutut membentuk sekitar 35 , kerekan primer disesuaikan sedemikian sehingga garis
ketegangan koaksial dengan sumbu longitudinal femur yang mengalami fraktur.
Beban yang cukup berat dipasang sedemikian rupa mencapai panjang normalnya.
Paha penderita disokong oleh alat parson yang dipasang pada bidai tomas alat parson
dan ektermitas itu sendiri dijulurkan dengan tali, kerekan dan beban yang sesuai
sehingga kaki tergantung bebas diudara. Dengan demikian pemeliharaan penderita
ditempat tidur sangat mudah. Bentuk traksi ini sangat berguna sekali untuk merawat
berbagai jenis fraktur femur. Seluruh bidai dapat diadduksi atau diabduksi untuk
memperbaiki deformitas angular pada bidang medle lateral fleksi panggul dan lutut
lebih besar atau lebih kecil memungkinkan perbaikan lateral posisi dan angulasi alat
banyak memiliki keuntungan antara lain traksi elefasi keaksial. Longitudinal pada
tulang panjang yang patah, ektermitas yang cidera mudah dijangkau untuk
pemeriksaan ulang status neuro vascular, dan untuk merawat luka lokal serta
mempermudah perawatan oleh perawat. Seperti bentuk traksi yang mempergunakan
pin rangka, pasien sebaiknya diperiksa setiap hari untuk mengetahui adanya
peradangan atau infeksi sepanjang pin, geseran atau pin yang kendor dan pin telah
tertarik dari tulang (Wilson, 1995 ).
b. Traksi 90-90-90
Traksi 90-90-90 sangat berguna untuk merawat anak- anak usia 3 tahun sampai
dewasa muda. kontrol terhadap fragmen fragmen pada fraktur tulang femur hamper
selalu memuaskan dengan traksi 90-90-90 penderita masih dapat bergerak dengan

cukup bebas diatas tempat tidur (Wilson, 1995 ).


E. PRINSIP PEMASANGAN TRAKSI
Traksi harus dipasang dengan arah lebih dari satu untuk mendapatkan garis tarikan
yang diinginkan. Dengan cara ini, bagian garis tarikan yang pertama berkontraksi
terhadap garis tarikan lainnya. Garis-garis tersebut dikenal sebagai vektor gaya.
Resultanta adalah gaya tarikan yang sebenarnya terletak di tempat diantara kedua
garis tarikan tersebut. Efek traksi yang dipasang harus dievaluasi dengan sinar X, dan
mungkin diperlukan penyesuaian. Bila otot dan jaringan lunak sudah rileks, berat
yang digunakan harus diganti untuk memperoleh gaya tarikan yang diinginkan.
Traksi lurus atau langsung memberikan gaya tarikan dalam satu garis lurus dengan
bagian tubuh berbaring di tempat tidur. Traksi ektensi buck dan traksi pelvis
merupakan contoh traksi lurus.
Traksi suspensi seimbang memberikan dukungan pada ektermitas yang sakit diatas
tempat tidur sehingga memungkinkan mobilisasi pasien sampai batas tertentu yanpa
terputus garis tarikan. Tarikan dapat dilakukan pada kulit ( traksi kulit ) atau langsung
kesekelet tubuh (traksi skelet). Cara pemasangan ditentukan oleh tujuan traksi
Traksi dapat dipasang dengan tangan (traksi manual). Ini merupakan traksi yang
sangat sementara yang bisa digunakan pada saat pemasangan gips, harus dipikirkan
adanya kontraksi
Pada setiap pemasangan traksi, harus dipikirkan adanya kontraksi adalah gaya yang
bekerja dengan arah yang berlawanan ( hukum Newton III mengenai gerak,
menyebutkan bahwa bila ada aksi maka akan terjadi reaksi dengan besar yang sama
namun arahnya yang berlawanan ) umumnya berat badan pasien dan pengaturan
posisi tempat tidur mampu memberikan kontraksi.
Walaupun hanya traksi untuk ektermitas bawah yang dijelaskan secara terinci, tetapi
semua prinsip-prinsip ini berlaku untuk mengatasi patah tulang pada ektermitas atas.
Imobilisasi dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan otot dan densitas tulang
dengan agak cepat, terapi fisik harus dimulai segera agar dapat mengurangi keadaan
ini.misalnya, seorang dengan patah tulang femur diharuskan memakai kruk untuk
waktu yang lama. Rencana latihan untuk mempertahankan pergerakan ektermitas atas,
dan untuk meningkatkan kekuatannya harus dimulai segera setelah cedera terjadinya
(Wilson, 1995 ).
Prinsip traksi efektif :
1. Kontraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif
2. Traksi harus berkesinambungan agar reduksi dan imobilisasi fraktur efektif.
3. Traksi kulit pelvis dan serviks sering digunakan untuk mengurangi spasme otot dan
biasanya diberikan sebagai traksi intermiten.
4. Traksi skelet tidak boleh terputus.
5. Pemberat tidak boleh diambil kecuali bila traksi dimaksudkan intermiten. Setiap
faktor yang dapat mengurangi tarikan atau mengubah garis resultanta tarikan harus
dihilangkan.
6. Tubuh pasien harus dalam keadaan sejajar dengan pusat tempat tidur ketika traksi
dipasang.
7. Tali tidak boleh macet
8. Pemberat harus tergantung bebas dan tidak boleh terletak pada tempat tidur atau
lantai
9. Simpul pada tali atau telapak kaki tidak boleh menyentuh katrol atau kaki tempat
tidur.

10. Selalu dikontrol dengan sinar roentgen ( Brunner & suddarth,2001 ).


F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan foto polos sevikal
Tes diagnostic pertama yang sering dilakukan pada pasien dengan keluhan nyeri leher.
Foto polos sevikal sangat penting untuk mendeteksi adanya fraktur dan subluksasi
pada pasien dengan trauma leher.
2. CT Scan
Pemeriksaan ini dapat memberikan visualisasi yang baik komponen tulang sevikal
dan sangat membantu bila ada fraktur akut.
3. MRI ( Magnetic resonance imaging )
Pemeriksaan ini sudah menjadi metode imajing pilihan untuk daerah sevikal MRI
dapat mendeteksi kelainan ligament maupun discus.MRI menggunakan medan
magnet kuat dan frekuensi radio dan bila bercampur dengan frekuensi radio yang
dilepaskan oleh jaringan tubuh akan menghasilkan citra MRI yang berguna dalam
mendiagnosis tumor, infrak, dan kelainan pada pembuluh darah. Pada pemeriksaan
ini, penderita tidak terpajan oleh radiasi dan tidak merasa nyeri walaupun pasien dapat
mengeluh klaustrofobia dan suara logam yang mengganggu selama prosedur ini.
4. Elektrokardiografi ( EMG)
Pemeriksaan ini membantu mengetahui apakah suatu gangguan bersifat neurogenik
atau tidak. Karena pasien dengan spasme otot, atritis juga mempunyai gejala yang
sama. Selain itu juga untuk menentukan level dari iritasi/ kompresi radiks,
membedakan lesi radiks dan lesi saraf perifer, membedakan adanya iritasi atau
kompresi.
G. PRISIP PERAWATAN TRAKSI
1. Berikan tindakan kenyamanan ( contoh: sering ubah posisi, pijatan punggung ) dan
aktivitas terapeutik
2. Berikan obat sesuai indikasi contoh analgesik relaksan otot.
3. Berikan pemanasan lokal sesuai indikasi.
4. Beri penguatan pada balutan awal/ pengganti sesuai dengan indikasi, gunakan
teknik aseptic dengan tepat.
5. Pertahankan linen klien tetap kering, bebas keriput.
6. Anjurkan klien menggunakan pakaian katun longgar.
7. Dorong klien untuk menggunakan manajemen stress, contoh: bimbingan imajinasi,
nafas dalam.
8. Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan
9. Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh: edema,
eritema
H. KOMPLIKASI
Dekubitus, kulit pasien diperiksa sesering mungkin mengenai tanda tekanan atau
lecet. Perhatian khusus diberikan pada tonjolan tulang. Perlu diberikan intervensi awal
untuk mengurangi tekanan. Perubahan posisi pasien perlu sering dilakukan dan
memakai alat pelindung kulit sangat membantu. Bila risiko kerusakan kulit sangat
tinggi, seperti pada pasien trauma ganda atau pada pasien lansia yang lemah, perawat
harus berkonsultasi dengan dokter mengenai penggunaan tempat tidur khusus untuk
membantu mencegah kerusakan kullit. Bila telah terbentuk ulkus akibat tekanan,
perawat harus berkonsultasi dengan dokter mengenai penanganannya.
Kongesti paru/pneumonia. Paru pasien diauskultasi untuk mengetahui status

pernapasannya. Pasien diajari untuk menarik napas dalam dan batuk-batuk untuk
membantu pengembangan penuh paru-paru dan mengeluarkan skresi paru. Bila
riwayat pasien dan data dasar pengkajian menunjukkan bahwa pasien mempunyai
resiko tinggi mengalami komplikasi respirasi, perawat harus berkonsultasi dengan
dokter mengenai penggunaan terapi khusus. Bila telah terjadi masalah respirasi, perlu
diberikan terapi sesuai resep.
Konstipasi dan anoreksia. Penurunan motilitas gastrointestinal menyebabkan
anorekksia dan konnstipasi. Diet tnggi serat dan tinggi cairan dapat membantu
merangsanng motilitas gaster. Bila telah terjadi konstipasi, perawat dapat
berkonsultasi dengan dokter mengenai penanganannya, yang mungkin meliputi
pelunak tinja, laksatif, supositoria, dan enema. Untuk memmperbaiki nafsu makan
pasien, harus dicatat makanan apa yang disukai pasien dan dimasukkan dalam
program diet, sesuai kebutuhan.
Stasis dan infeksi saluran kemih. Pengosongan kandung kemih yang tak tuntas Karena
posisi pasien di tempat tidur dapat mengakibatkan stasis dan infeksi saluran kemih.
Selain itu pasien mungkin merasa bahwa menggunakan pispot di tempat tidur kurang
nyaman dan membatasi cairan masuk untuk mengurangi frekuensi berkemih. Perawat
harus memantau masukan cairan dan sifat kemih. Perawat harus mengajar pasien
untuk meminum cairan dalam jumlah yang cukup dan berkemih tiap 2 sampai 3 jam
sekali. Bila pasien memperlihatkan tanda dan gejala infeksi saluran kemih, perawat
segera berkonsultasi dengan dokter mengenai penanganan masalah ini.
Trombosi vena profunda. Stasis vena terjadi akibat imobilitas. Perawat harus
mmengajar pasien untuk malakuka latihan tumit dan kaki dalam batas terapi traksi
secara teratur sepanjang hari untuk mencegah terjadinya trombosis vena provunda
(DVT). Pasien didorong untuk meminum air untuk mencegah dehidrasi dan
hemokonsenntrasi yang menyertainya, yang akan mengakibatkan stasis. Perawat
memantau pasien terhadap terjadinya tanda DVT dan melaporkan hasil temuannya
segera mungkin ke dokter untuk evaluasi definitive dan terapi.

A. Pengkkajian Keperawatan
Dampak psikologik dan fisiologik masalah musculoskeletal, alat traksi, dan imobilitas harus
diperhitungkan. Traksi membatasi mobilitas dan kemandirian seseorang. Peralatannya sering
terlihat mengerikan, dan pemasangannya tampak menakutkan. Kebingungan, disorientasi,
dan masalah perilaku dapat terjadi pada pasien yang terkungkung pada tempat terbatas
selama waktu yang cukup lama. Maka tingkat ansietas pasien dan respon psikologis terhadap
traksi harus dikaji dan dipantau. Bagian tubuh yang ditraksi harus dikaji. Status
neurovaskuler (misal : warna, suhu, pengisian kapiler, edema, denyut nadi, perabaan,
kemampuan bergerak) dievaluasi dan dibandingkan dengan ekstremitas yang sehat. Integritas
kulit harus diperhatikan.
Pengkajian fungsi system tubuh harus dilengkapi sebagai data dasar dan perlu dilakukan
pengkajian terus menerus. Imobilisasi dapat menyebabkan terjadinya masalah pada system
kulit, respirasi, gastrointestinal, perkemihan, dan kardiovaskuler. Masalah tersebut dapat
berupa ulkus akibat tekanan, kongesti paru, statis pneumonia, konstipasi, kehilangan nafsu
makan, satis kemih dan infeksi saluran kemih. Adanya nyeri tekan betis, hangat, kemerahan,

atau pembengkakan atau tanda human positif (ketidaknyamanan pada betis ketika kaki
didorsofleksi dengan kuat) mengarahkan adanya trombosis vena dalam. Identifikasi awal
masalah yang telah muncul dan sedang berkembang memungkunkan intervensi segera untuk
mengatasi masalah tersebut.
B. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pada pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan utama paasien karena
traksi dapat meliputi yang berikut :
1. Kurang pengetahuan mengenai program terapi
2. Ansietas yang berhubungan dengan status kesehatan dan alat traksi
3. Nyeri dam ketidaknyamanan yang berhubungan dengan traksi dan imobilisasi.
4. Kurang perwatan diri : makan, hygiene, atau toileting yang berhubungan dengan traksi
5. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan proses penyakit dan traksi
C. Intervensi
Dorong klien latihan aktif untuk daerah yang dapat dilakukan1.
Dorong klien pada aktivitas terapeutik dan pertahankan rangsangan lingkungan. Ex : TV,
radio, kunjungan keluargaKaji derajat imobilitas yang dihasilkan karena adanya traksi dan
perhatikan persepsi klien terhadap imobilisasi
Tingkatkan bagian tubuh yang sakit dengan meninggikan kaki tempat tidur2.
Berikan tindakan kenyamanan (contoh : sering ubah posisi, pijatan punggung) dan aktivitas
terapeutik. Dorong penggunaan teknik manajemen stres (contoh: nafas dalam, visualisasi)
dan sentuhan terapeutik
Berikan pijatan lemah pada area luka sesuai toleransi bila balutan telah dilepas
Selidiki keluhan nyeri luka, kemajuan yang tak hilang dengan analgesik
Berikan obat sesuai indikasi, contoh: analgesik, relaksan otot
Berikan pemanasn lokal sesuai indikasi
Ubah posisi dengan sering geraka pasien dengan perlahan-lahan dan beri bantalan pada
tonjolan tulang dengan pelindung3.
Beri penguatan pada balutan awal sesuai dengan indikasi. Gunakan teknik aseptik dengan
tepat
Pertahankan klien tetap kering. Bebas keriput
Anjurkan klien menggunakan pakaian katun longgar
Kaji hambatan terhadap partisipasi terhadap perawatan diri4.
Berikan waktu yang cukup untuk melakukan tugas-tugas dan tingkatkan kesabaran
Antisipasi kebutuhan kebersihan dan bantu klien sesuai dengan kebutuhan
5. Dorong ekspresi ketakutan masalah klien
Diskusikan tindakan keamanan
Dorong klien untuk menggunakan manajemen stres. Ex: bimbinan imajinasi, nafas dalam
Instruksikan klien, keluarga untuk melakukan perawatan mandiri6.
Dorong klien melakukan program latihan berkesinambungan
Tekankan diet seimbang dan pemasukan cairan yang adekuat
Anjurkan penghentian merokok
Indentifikasi tanda gejala yang memerlukan evaluasi medik. Ex: edema, eritema, dsb

ASKEP G I P S
BAB 2
GIPS

Definisi Gips
Gips dalam bahasaa latin disebut kalkulus, dalam bahasa ingris disebut plaster of paris , dan
dalam belanda disebut gips powder. Gips merupakan mineral yang terdapat di alam berupa
batu putih yang mengandung unsur kalsium sulfat dan air.
Gips adalah alat imobilisasi eksternal yang kaku yang di cetak sesuai dengan kontur tubuh
tempat gips di pasang (brunner & sunder, 2000)
gips adalah balutan ketat yang digunakan untuk imobilisasi bagian tubuh dengan
mengunakan bahan gips tipe plester atau fiberglass (Barbara Engram, 1999).
Jadi gips adalah alat imobilisasi eksternal yang terbuat dari bahan mineral yang terdapat di
alam dengan formula khusus dengan tipe plester atau fiberglass.
2.2. Jenis -jenis gips
Kondisi yang ditangani dengan gips menentukan jenis dan ketebalangips yang dipasang.
Jenis-jenis gips sebagai berikut:

Gips lengan pendek. Gips ini dipasang memanjang dari bawah siku sampai lipatan
telapak tanga, dan melingkar erat didasar ibu jari.

Gips lengan panjang. Gips ini dipasang memanjang. Dari setinggi lipat ketiak sampai
disebelah prosimal lipatan telapak tangan. Siku biasanya di imobilisasi dalam posisi tegak
lurus.

Gips tungkai pendek. Gips ini dipasang memanjang dibawah lutut sampai dasar jari
kaki, kaki dalam sudut tegak lurus pada posisi netral.

Gips tungkai panjang, gips ini memanjang dari perbatasan sepertiga atas dan tengah
paha sampai dasar jari kaki, lutut harus sedikit fleksi.

Gips berjalan. Gips tungkai panjang atau pendek yang dibuat lebih kuat dan dapat
disertai telapak untuk berjalan.

Gips tubuh. Gips ini melingkar di batang tubuh.

Gips spika. gips ini melibatkan sebagian batang tubuh dan satu atau dua ekstremitas
(gips spika tunggal atau ganda).

Gips spika bahu. Jaket tubuh yang melingkari batang tubuh, bahu dan siku.

Gips spika pinggul. Gips ini melingkari batang tubuh dan satu ekstremitas bawah (gips
spika tunggal atau ganda).

Bahan-bahan pembuatan gips


Plester
Gips pembalut dapat mengikuti kontur tubuh secara halus . gulungan krinolin diimregasi
dengan serbuk kalsium sulfat anhidrus ( Kristal gypsum ). Jika basah terjadi reaksi kristalisasi
dan mengeluarkan panas. Kristalisasi menghasilkan pembalut yang kaku . kekuatan penuh
baru tercapai setelah kering , memerlukan waktu 24-72 jam untuk mengering. Gips yang

kering bewarna mengkilap , berdenting, tidak berbau,dan kaku, sedangkan gips yang basah
berwarna abu-abu dan kusam, perkusinya pekak, serba lembab, dan berbau lembab.

Nonplester
Secara umum berarti gips fiberglass, bahan poliuretan yang di aktifasi air ini mempunyai sifat
yang sama dengan gips dan mempunyai kelebihan karna lebih ringan dan lebih kuat, tahan air
dan tidak mudah pecah.di buat dari bahan rajuutan terbuka, tidak menyerap, diimpregnasi
dengan bahan pengeras yang dapat mencapai kekuatan kaku penuhnya hanya dalam beberapa
menit.

Nonplester berpori-pori, sehingga masalah kulit dapat di hindari


gips ini tidak menjadi lunak jika terkena air,sehingga memungkinkan hidro terapi. Jika basah
dapat dikeringkan dengan pengering rambut.

Tujuan pemasangan gips


Prosedur ini bertujuan untuk menyatukan kedua bagian tulang yang patah agar tak bergerak
sehingga dapat menyatu dan fungsinya pulih kembali dengan cara mengimobilisasi tulang
yang patah tersebut.

Pemasangan gips
Persiapan alat alat untuk pemasangan gips:
Bahan gips dengan ukuran sesuai ekstremitas tubuh yang akan di gips
Baskom berisi air biasa (untuk merendam gips)
Baskom berisi air hangat

Gunting perban
Benkok
perlak dan alasnya
waslap
pemotong gips
kasa dalam tempatnya
alat cukur
sabun dalam tempatnya
handuk
krim kulit
spons rubs ( terbuat dari bahan yang menyerap keringat)
padding (pembalut terbuat dari bahan kapas sintetis)

Teknik pemasangan gips


siapkan pasien dan jelaskan pada prosedur yang akan dikerjakan


siapkan alat-alat yang akandigunakan untuk pemasangan gips

daerah yang akan di pasang gips dicukur, dibersihkan,dan di cuci dengan sabun,
kemudian dikeringkan dengan handuk dan di beri krim kulit

sokong ekstremitas atau bagian tubuh yang akan di gips.

Posisikan dan pertahankan bagian yang akan di gips dalam posisi yang di tentukan
dokter selama prosedur

Pasang spongs rubs(bahan yang menyerap keringat) pada bagian tubuh yang akan di
pasang gips, pasang dengan cara yang halus dan tidak mengikat. Tambahkan bantalan di
daerah tonjolan tulang dan pada jalur saraf.

Masukkan gips dalam baskom berisi air, rendam beberapa saat sampai gelembunggelembung udara dari gips habis keluar. Selanjutnya, diperas untuk mengurangi air dalam
gips.

Pasang gips secara merata pada bagian tubuh. Pembalutan gips secara melingkar mulai
dari distal ke proksimal tidak terlalu kendor atau ketat. Pada waktu membalut, lakukan
dengan gerakan bersinambungan agar terjaga ketumpangtidihan lapisan gips. Dianjurkan
dalam jarak yang tetap(kira-kira 50% dari lebar gips) Lakukan dengan gerakan yang
bersinambungan agar terjaga kontak yang konstan dengan bagian tubuh.

Setelah pemasangan, haluskan tepinya, potong serta bentuk dengan pemotong gips.

Bersihkan Partikel bahan gips dari kulit yang terpasang gips.

Sokong gips selama pergeseran dan pengeringan dengan telapak tangan. Jangan
diletakkan pada permukaan keras atau pada tepi yang tajam dan hindari tekanan pada gips.

hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan gips adalah :


1.Gips yang pas tidak akan menimbulkan perlukaan
2. Gips patah tidak bisa digunakan
3. Gips yang terlalu kecil atau terlalu longgar sangat membahayakan klien
4. Jangan merusak / menekan gips
5. Jangan pernah memasukkan benda asing ke dalam gips / menggaruk
6. Jangan meletakkan gips lebih rendah dari tubuh terlalu lama

Pelepasan gips
Alat yang di gunakan untuk pelepasan gips
Gergaji listrik/pemotong gips
Gergaji kecil manual
Gunting besar
Baskom berisi air hangat
Gunting perban
Bengkok dan plastic untuk tempat gips yang di buka
Sabun dalam tempatnya
Handuk
Perlak dan alasnya
Waslap
Krim atau minyak

Teknik pelepasan gips


Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan
Yakinkan pasien bahwa gergaji listrik atau pemotong gips tidak akan mengenai kulit


Gips akan di belah dengan menggunakan gergaji listrik

Gunakan pelindung mata pada pasien dan petugas pemotong gips

Potong bantalan gips dengan gunting

Sokong bagian tubuh ketika gips di lepas

Cuci dan keringkan bagian yang habis di gips dengan lembut oleskan krim atau minyak

Ajarkan pasien secara bertahap melakukan aktifitas tubuhsesuai program terapi

Ajarkan pasien agar meninggikan ekstremitas atau mengunakan elastic perban jika
perlu untuk mengontrol pembengkakan.
2.7 Indikasi

Immobilisasi dan penyangga fraktur

Stabilisasi dan istirahatkan

Koreksi deformitas

Mengurangi aktivitas pada pada daerah yang terinfeksi

Membuat cetakan tubuh orthotic

Konsep asuhan Keperawatan


2.8.1 Pengkajian
Pengkajian secara umum perlu di lakukan sebelum pemasangan gips terhadap gejala dan
tanda, status emosional,pemahaman tujuan pemasangan gips, dan kondisi bagian tubuh yang
akan di pasang gips. Pengkajian fisik bagian tubuh yang akan di gips meliputi status
neurovaskuler, lokasi pembengkakan, memar , dan adanya abrasi. Data yang perlu di kaji
pasien setelah gips di pasang meliputi:
1. Data subyektif: adanya rasa gatal atau nyeri ,keterbatasan gerak, dan rasa panas pada
daerah yang di pasang gips
2. Data obyektif: apakah ada luka di bagian yang akan digips. Misalnya luka operasi , luka
akibat patah tulang; apakah ada sianosis;apakah ada pendarahan ;apakah ada iritasi
kulit;apakah atau bau atau cairan yang keluar dari bagian dari bagian tubuh yang di gips.
2.8.2 Diagnosis keperawatan
Berdasarkan data pengkajian , diagnosis keperawatan utama pada pasien yang menggunakan
gips meliputi:
1. Cemas yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan prosedur pemasangan gips
2. Gangguan rasa nyeri yang berhubungan dengan terpasangnya gips
3. Keterbatasan pemenuhan kebutuhandiri yang berhubungan dengan terpasangnya gips
4. Gangguan eleminasi fekal yang berhubungan dengan imobilisasi
5. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan adanya penekanan akibat
pemasangan gips
6. Resiko tinggi cedera yang berhubungan dengan pemasangan gips pada tungkai
7. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan pemasangan gips
8. Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan ferifer yang berhubungan dengan respons
fisiologis terhadap cederta atau gips restriksi
2.8.3 Interfensi dan implementasi keperawatan
1. Cemas berkurang pasien dapat beradaptasi dengan keadaannya
a) Menunjukan ketenangan
b) Mampu mengekspresikan keadaann ya
c) Menggunakan koping positif
2. Klien melaporkan nyeri berkurang
a) Meninggikan ekstremitas yang digips

b) Mereposisi sendiri
c) Menggunakan analgesic sesuai pogram
3. Kebutuhan diri terpenuhi dengan maksimal
a) Berpartisipasidalam aktivitas pemenuhan kebutuhan diri
b) Melakukan aktivitas higine secara mandiri dengan bantuan minimal
c) Memenuhi kebutuhan eleminasisecara mandiri dengan bantuan minimal
d) Memenuhimkebutuhan nutrisi secara mandiri dengan bantuan minimal
4. Eleminasi fekal teratur
a) Menunjukan kemampuan mobilisasi
b) Makan tinggi serat
c) Asupan cairan 2500 cc per hari
d) Konsistensi feses lunak
5. Memperlihatkan tidak terjadinya gangguan integritas kulit
a) Tidak menunjukan tanda infeksi sistemik kulit
b) Tidak menunjukan tanda local infeksi kulit
c) Memperlihatkan kulit yang utuh saat gips dibuka
d) Kulit tidak ada kemerahan dan lecet
6. Tidak terjadi cedera
a) Melakukan aktivitas secara bertahap
b) Menunjukan penggunaan alat bantu saat aktivitas
7. Memperlihatkan peninggatan kemampuan mobilitas
a) Menggunakan alat bantu yang aman
b) Berlatih untuk meningkatkan kekuatan otot
c) Mengubah posisi sesering mungkin
d) Melakukan latihan sesuai kisaran gerakan sendi yang tidak tertutup gips
8. Peredaran darah adekuat pada ekstremitas yang sakit
a) Memperlihatkan warna dan suhu kulit yang normal
b) Mengalami pembekakan yang minimal
c) Memperlihatkan waktu pengisian kapiler yang memuaskan ketika diuji
2.8.4 Evaluasi keperawatan
Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan peruubahan keadaan
pasien (Hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada tahap
perencanaan.

T RAK S I

3.1 Definisi
Traksi tadalah usaha untuk menarik tulang yang patah untuk mempertahankan keadaan
reposisi secara umum traksi didapatkan dengan penempatan beban berat sehingga arah
tarikan segaris dengan sumbu panjang tulang fraktur. Secara umum traksi dilakukan dengan
menempatkan beban dengan tali pada ekstermitas pasien. Tempat tarikan disesuaikan
sedemikian rupa sehingga arah tarikan segaris dengan sumbu panjang tulang yang patah
3.2 Beban traksi

Dewasa
= 5 - 7 Kg

Anak
= 1/13 x BB
3.3 Macam macam pemakaian traksi

Traksi kulit/skin traksi

Penarikan tulang yang patah melalui kulit dengan menggunakan skin traksi, plester. Ex.
: traksi Buck, traksi Bryant.

Traksi tulang/traksi skeletal

Penarikan tulang yang mengalami fraktur melalui tulang. Ex. : traksi Russel

3.4 Prinsip pemasangan traksi

Tali utama dipasang di pin rangka sehingga menimbulkan gaya tarik.

Berat ekstremitas dengan alat penyokong harus seimbang dengan pemberat agar
reduksi dapat dipertahankan.

Pada tulang-tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan khusus.

Traksi dapat bergerak bebas melalui katrol.

Pemberat harus cukup tinggi di atas permukaan lantai.

Traksi yang dipasang harus baik dan terasa nyaman.


3.5 Prinsip perawatan traksi

Berikan tindakan kenyamanan ( contoh: sering ubah posisi, pijatan punggung ). Dan
aktivitas terapeutik

Berikan pijatan lembut pada area luka sesuai dengan toleransi bila balutan telah dilepas

Berikan obat sesuai indikasi contoh analgesik relaksan otot.

Berikan pemanasan lokal sesuai indikasi.

Beri penguatan pada balutan awal/ pengganti sesuai dengan indikasi, gunakan teknik
aseptic dengan tepat.

Pertahankan liaen klien tetap kering, bebas keriput.

Anjurkan klien menggunakan pakaian katun longgar.


Dorong klien untuk menggunakan manajemen stress, contoh: bimbingan imajinasi,
nafas dalam.

Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan

Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh: edema
eritema,dsb
3.6 Keuntungan pemakaian traksi

Menurunkan nyeri spasme

Mengoreksi dan mencegah deformitas

Mengimobilisasi sendi yang sakit


3.7 Kerugian pemakaian traksi

Perawatan RS lebih lama

Mobilisasi terbatas

Penggunaan alat-alat lebih banyak.

Proses penyembuhan tulang


Penyembuhan patah tulang adalah proses biologis alami yang akan terjadi pada setiap patah
tulang. pada permulaan akan terjadi perdarahan di sekitar fraktur, yang disebabkan oleh
terputusnya pembuluh darah pada tulang dan periost. Fase ini disebut fase hematom.
Hematoma ini akan menjadi medium pertumbuhan sel jaringan fibrosis dan vaskuler hingga
hematom berubah menjadi jaringan fibrosis dengan kapiler di dalamnya. Jaringan ini yang
menyebabkan fragmen tulang saling menempel. Fase ini disebut fase jaringan
fibrosis dan jaringan yang menempelkan fragmen patahan tulang tersebut dinamakan kalus
fibrosa. Kedalam hematom dan jaringan fibrosis ini kemudian juga tumbuh sel kondroblast
yang membentuk kondroid yang merupakan bahan dasar tulang rawan. Sedangkan di tempat
yang jauh dari patahan tulang yang vaskularisasinya relatif banyak, sel ini berubah menjadi
osteoblast dan membentuk osteoid yang merupakan bahan dasar foto rontgen.
Pada tahap selanjutnya terjadi penulangan atau ossifikasi, kesemua ini menyebabkan kalus
fibrosa berubah menjadi kalus tulang. fase ini disebut fase penyatuan klinis. Selanjutnya
terjadi pergantian sel tulang secara berangsur-angsur oleh sel tulang yang mengatur diri
sesuai dengan garis tekanan dan tarikan yang bekerja pada tulang. akhirnya sel tulang ini
mengatur diri secara lamelar seperti tulang normal, kekuatan kalus ini sama dengan kekuatan
tulang biasa dan fase ini disebut fase konsolidasi.
berdasarkan stadium-stadium penyembuhan terdiri dari :

Stadium
penyatuan : absorbsi energi pada tempat fraktur.

Stadium
inflamasi : hematoma, nekrosis tepi fraktur, pelepasan sitokin,
jaringan granulasi dalam celah-celah berlangsung sekitar 2 minggu.

Stadium
reparatif : kartilago dan tulang berdiferensiasi dari periost atau
sel-sel parenkim, kartilago mengalami klasifikasi endokondral, dan
tulang membranosa yang dibentuk oleh osteoblas pada perifer dini
kalus, secara bertahap mengganti kartilago yang berklasifikasi
dengan tulang berlangsung selama satu sampai beberapa bulan.

Stadium
remodelling : tulang yang berongga-rongga berubah menjadi lamelar

melalui resorpsi dan pembentukan ganda. Tulang cenderung untuk


mempunyai bentuk aslinya melalui remodelling dibawah pengaruh dari
stress mekanik berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.

Gangguan pada proses penyembuhan :

Malunion
; adalah suatu keadaan dimana fraktur ternyata sembuh dalam posisi yang kurang sesuai,
membentuk sudut atau posisinya terkilir.

Delayed
union : merupakan istilah yang menyatakan proses penyembuhan yang terus berlangsung
tetapi kecepatannya lebih rendah daripada biasanya.

Non
union : adalah fraktur yang gagal untuk mengalami kemajuan ke arah penyembuhan, ini
disebabkan karena pergerakan yang berlebihan, distraksi yang berlebihan, infeksi dan
jaringan lunak terpisah secara parah.

Faktor yang mempengaruhi penyembuhan tulang tergantung dari :

Banyaknya tulang yang rusak.

Daerah tulang yang patah.

Persediaan pembuluh darah/vaskularisasi di sekitar fraktur untuk pembentukan kalus.

Faktor lain seperti : imobilisasi yang tidak cukup, infeksi, interposisi dan gangguan
perdarahan setempat
3.8.3 Penyembuhan tulang tidak terjadi walaupun telah memakan waktu lama. Penyebab
antara lain :

Terlalu banyak tulang yang rusak pada cedera sehingga tidak ada yang menjembatani
fragmen

Terjadi nekrosa tulang karena tidak ada aliran darah.

Anemi endoceime imbalance (ketidakseimbangan endokrim atau penyebab sitemik


yang lain)

Faktor klien: Usia klien, Pengobatan yang sedang dijalani, Sistem sirkulasi, Gizi,
Riwayat penyakit
3.9 Konsep asuhan keperawatan
3.9.1 Pengkajian Keperawatan
Dampak psikologik dan fisiologik masalah musculoskeletal, alat traksi, dan imobilitas harus
diperhitungkan. Traksi membatasi mobilitas dan kemandirian seseorang. Peralatannya sering
terlihat mengerikan, dan pemasangannya tampak menakutkan. Kebingungan, disorientasi,
dan masalah perilaku dapat terjadi pada pasien yang terkungkung pada tempat terbatas
selama waktu yang cukup lama. Maka tingkat ansietas pasien dan respon psikologis terhadap
traksi harus dikaji dan dipantau. Bagian tubuh yang ditraksi harus dikaji. Status
neurovaskuler (misal : warna, suhu, pengisian kapiler, edema, denyut nadi, perabaan,
kemampuan bergerak) dievaluasi dan dibandingkan dengan ekstremitas yang sehat. Integritas
kulit harus diperhatikan.
Pengkajian fungsi system tubuh harus dilengkapi sebagai data dasar dan perlu dilakukan
pengkajian terus menerus. Imobilisasi dapat menyebabkan terjadinya masalah pada system
kulit, respirasi, gastrointestinal, perkemihan, dan kardiovaskuler. Masalah tersebut dapat
berupa ulkus akibat tekanan, kongesti paru, statis pneumonia, konstipasi, kehilangan nafsu
makan, satis kemih dan infeksi saluran kemih. Adanya nyeri tekan betis, hangat, kemerahan,
atau pembengkakan atau tanda human positif (ketidaknyamanan pada betis ketika kaki
didorsofleksi dengan kuat) mengarahkan adanya trombosis vena dalam. Identifikasi awal

masalah yang telah muncul dan sedang berkembang memungkunkan intervensi segera untuk
mengatasi masalah tersebut.
3.9.2 Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pada pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan utama paasien karena
traksi dapat meliputi yang berikut :
1. Nyeri dan ketidaknyamanan yang berhubungan dengan trauma jaringan syaraf.
2. Nutisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah
3. Ansietas b/d adanya ancaman terhadap konsep diri/citra diri
3.9.3 Intervensi Keperawatan
1) Nyeri akut b/d trauma jaringan syaraf
Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 X 24 jam klien mampu mengontrol


nyeri, dengan kriteria hasil :

Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol

Mengikuti program pengobatan yang diberikan

Menunjukan penggunaan tehnik relaksasi


Intervensi :

Kaji tipe atau lukasi nyeri. Perhatikan intensitas pada skala 0-10. Perhatikan respon
terhadap obat.

Rasional : Menguatkan indikasi ketidaknyamanan, terjadinya komplikasi dan evaluasi


keevektivan intervensi.

Motivasi penggunaan tehnik menejemen stres, contoh napas dalam dan visualisasi.

Rasional : Meningkatkan relaksasi, memvokuskan kembali perhatian, dan dapat


meningkatkan kemampuan koping, menghilangkan nyeri.

Kolaborasi pemberian obat analgesik

Rasional : mungkin dibutuhkan untuk penghilangan nyeri/ketidaknyamanan.


2.) Nutisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam nutrisi pasien terpenuhi dengan
KH:

Makanan masuk

BB pasien naik

Mual, muntah hilang


Intervensi:
a. Berikan makan dalam porsi sedikit tapi sering
Rasional: memberikan asupan nutrisi yang cukup bagi pasien
b. Sajikan menu yang menarik
Rasional: Menghindari kebosanan pasien, untuh menambah c. ketertarikan dalam mencoba
makan yang disajikan
c. Pantau pemasukan makanan
Rasional: Mengawasi kebutuhan asupan nutrisi pada pasien
d. Kolaborasi pemberian suplemen penambah nafsu makan
Rasional: kerjasama dalam pengawasan kebutuhan nutrisi pasien selama dirawat di rumah
sakit

Ansietas b/d adanya ancaman terhadap konsep diri/citra diri


Tujuan :


Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 X 24 jam, klien memiliki rentang
respon adaptif, dengan kriteria hasil :

Tampak relaks dan melaporkan ansietas menurun sampai dapat ditangani.

Mengakui dan mendiskusikan rasa takut.

Menunjukkan rentang perasaan yang tepat.


Intervensi :

Dorong ekspresi ketakutan/marah

Rasional : Mendefinisikan masalah dan pengaruh pilihan intervensi.

Akui kenyataan atau normalitas perasaan, termasuk marah

Rasional : Memberikan dukungan emosi yang dapat membantu klien melalui penilaian
awal juga selama pemulihan

Berikan informasi akurat tentang perkembangan kesehatan.

Rasional : Memberikan informasi yang jujur tentang apa yang diharapkan membantu
klien/orang terdekat menerima situasi lebih evektif.

Dorong penggunaan menejemen stres, contoh : napas dalam, bimbingan imajinasi,


visualisasi.

Rasional : membantu memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi, dan


meningkatkan penigkatan kemampuan koping.
3.9.4 evaluasi
Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan peruubahan keadaan pasien (Hasil
yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan.

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Gips adalah alat imobilisasi eksternal yang kaku yang di cetak sesuai dengan kontur tubuh
tempat gips dipasang yang bertujuan untuk menyatukan kedua bagian tulang yang patah agar
tak bergerak sehingga dapat menyatu dan fungsinya pulih kembali dengan cara
mengimobilisasi tulang yang patah tersebut (brunner & sunder, 2000).
Traksi adalah usaha untuk menarik tulang yang patah untuk mempertahankan keadaan
reposisi secara umum traksi didapatkan dengan penempatan beban berat sehingga arah
tarikan segaris dengan sumbu panjang tulang fraktur.

Saran
Dalam melakukan tulisan dan menjelaskannya kepada orang lain harus mudah dimengerti
sehingga tidak menimbulkan persepsi yang berbeda dari seharusnya. Begitu juga dalam
penulisan Asuhan keperawatan harus dapat dimengerti dan menjelaskan secara lengkap
apalagi menyangkut penyakit yang berbahaya.
Tulisan yang baik harus didasari atas kemampuan intelektual dan jiwa seni dalam menulis
sehingga pembaca dapat mengerti dari maksud dan tujuan. Semoga tulisan ini bermanfaat
bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Linda Jual. (1995). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan
(terjemahan). PT EGC. Jakarta.
Doenges, et al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta.
Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume II
(terjemahan). PT EGC. Jakarta.
Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan).Yayasan
Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.
Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. JaAkarta.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Beberapa tulang, misalnya femur mempunyai kekutan otot yang kuat sehingga
reposisi tidak dapat dilakukan sekaligus. Traksi adalah pemasangan gaya tarikan ke bagian
tubuh digunakan untuk meminimalkan spasme otot, untuk mereduksi, menyejajarkan
mengibolisasikan fraktur, mengurangi deformitas, dan untuk menambah ruangan diantara
kedua permukaan patahan tulang. Traksi doperlukan untuk reposisi dan imobilisasi pada
tulang panjang.
Traksi digunakan untuk menahan kerangka pada posisi sebenarnya, penyembuhan,
mengurangi nyeri, mengurangi kelainan bentuk atau perubahan bentuk. Penanganan nyeri dan
penegaan komplikasi adalah dua kunci tugas perawat dalam perawatan traksi. Komplikasi
yang terjadi berhubungan dengan penggunaan traksi dan pematasan gerak, jika klien obesitas
cachetic, tua, anak muda, diabetes, dan perokok.
Kadang traksi harus dipasang dengan arah yang lebih dari satu untuk mendapatkan
garis tarikan yang diinginkan. Efek traksi yang dipasang harus dievaluasi dengan sinar-X, dan
mungkin diperlukan penyesuaian. Indikasi traksi adalah pasien fraktur an atau dislokasi. Bila
otot dan jaringan lunak sudah rileks, berat yang digunakan harus diganti untuk memperoleh
gaya tarik yang diinginkan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang kami ambil dalam makalah
ini adalah sebagai berikut:
1. Apa defenisi dari traksi ?
2. Apa saja jenis-jenis traksi ?
3. Apa saja komplikai dari traksi ?
4.
Bagaimana klasifikasi dari traksi ?
5.
Bagaimana etiologi dari traksi ?
6.
Bagaimana manifestasi klinis dari traksi ?
7.
Bagaimana pemeriksaan diagnosik dari traksi ?
8.
Bagaimana prinsip perawatan traksi ?
C. Tujuan Pembuatan Makalah
1.
Untuk mengetahui apa defenisi dari traksi ?
2.
Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis traksi ?
3.
Untuk mengetahui apa saja komplikasi dari traksi ?
4.
Untuk mengetahui bagaimana klasifikasi dari traksi ?
5.
Untuk mengetahui bagaimana etiologi dari traksi ?
6.
Untuk mengetahui bagaimana manifestasi klinis dari traksi ?
7.
Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan diagnosik dari traksi ?
8.
Untuk mengetahui bagaimana prinsip perawatan traksi ?
D. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu menggunakan media buku dan
internet.
BAB II
A. PENGERTIAN

Traksi adalah Suatu pemasangan gaya tarikan pada bagian tubuh. Traksi digunakan
untuk meminimalkan spasme otot ; untuk mereduksi, mensejajarkan, dan mengimobilisasi
fraktur ; untuk mengurangi deformitas, dan untuk menambah ruangan diantara kedua
permukaan patahan tulang. Traksi harus diberikan dengan arah dan besaran yang diinginka
untuk mendapatkan efek terapeutik. Faktor-faktor yang mengganggu keefekktifan tarikan
traksi harus dihilangkan (Smeltzer & Bare, 2001 ). Traksi merupakan metode lain yang baik
untuk mempertahankan reduksi ektermitas yang mengalami fraktur (Wilson, 1995 ).
B. JENIS- JENIS TRAKSI
1. Traksi kulit
Traksi kulit digunakan untuk mengontrol sepasme kulit dan memberikan imobilisasi . Traksi
kulit apendikuler ( hanya pada ektermitas digunakan pada orang dewasa) termasuk traksi
ektensi Buck, traksi russell, dan traksi Dunlop.
a.
Traksi buck
Ektensi buck ( unilateral/ bilateral ) adalah bentuk traksi kulit dimana tarikan diberikan pada
satu bidang bila hanya imobilisasi parsial atau temporer yang diinginkan . Digunakan untuk
memberikan rasa nyaman setelah cidera pinggulsebelum dilakukan fiksasi bedah (Smeltzer &
Bare,2001 ).
Traksi buck merupakan traksi kulit yang paling sederhana, dan paling tepat bila dipasang
untuk anak muda dalam jangka waktu yang pendek. Indikasi yang paling sering untuk jenis
traksi ini adalah untuk mengistirahatkan sendi lutut pasca trauma sebelum lutut tersebut
diperiksa dan diperbaiki lebih lanjut (Wilson, 1995 ).
Mula- mula selapis tebal semen kulit, tingtura benzoid atau pelekat elastis dipasang pada kulit
penderita dibawah lutut. Kemudian disebelah distal dibawah lutut diberi stoking tubular yang
digulung, kemudian plester diberikan pada bagian medikal dan lateral dari stoking tersebut
lalu stoking tersebut dibungkus lagi dengan perban elastis. Ujung plester traksi pada
pergelangan kaki di hubungkan dengan blok penyebar guna mencegah penekanan pada
maleoli. Seutas tambang yang diikat ketengah blok penyebar tersebut kemudian dijulurkan
melalui kerekan pada kaki tempat tidur. Jarang dibutuhkan berat lebih dari 5 lb. penggunaan
traksi kulit ini dapat menimbulkan banyak komplikasi. Ban perban elastis yang melingkar
dapat mengganggu sirkulasi yang menuju kekaki penderita, yang sebelumnya sudah
menderita penyakit vaskular. Alergi kulit terhadap plester juga dapat menumbuhkan masalah.
Kalau tidak dirawat dengan baik mungkin akan menimbulkan ulserasi akibat tekanan pada
maleolus. Traksi berlebih dapat merusak kulit yang rapuh pada orang yang berusia lanjut.
Bahkan untuk peenderita dewasa lebih disukai traksi pin rangka, terutama bila perawatan
harus dilakukan selama beberapa hari.
b. Traksi Russell
Dapat digunakan pada fraktur plato tibia, menyokong lutut yang fleksi pada penggantung dan
memberikan gaya tarik horizontal melalui pita traksi balutan elastis ketungkai bawah. Bila
perlu, tungkai dapat disangga dengan bantal agar lutut benar- benar fleksi dan menghindari
tekanan pada tumit (Smeltzer & Bare, 2001 ).
Masalah yang paling sering dilihat pada traksi Russell adalah bergesernya penderita kebagian
kaki ketempat tidur,sehingga kerekan bagian distal saling berbenturan dan beban turun
kelantai. Mungkin perlu ditempatkan blok-blok dibawah kaki tempat tidur sehingga dapat
memperoleh bantuan dari gaya tarik bumi (Wilson, 1995).
Walaupun traksi rangka seimbang dapat digunakan untuk menangani hampir semua fraktur
femur, reduksi untuk fraktur panggul mungkin lebih sering diperoleh dengan memakai traksi
Russell dalam keadaan ini paha disokong oleh beban. Traksi longitudinal diberikan dengan
menempatkan pin dengan posisi tranversal melalui tibia dan fibula diatas lutut. Efek dari
rancangan ini adalah memberikan kekuatan traksi ( berasal dari gaya tarik vertikal beban

paha dan gaya tarik horizontal dari kedua tali pada kaki ) yang segaris dengan tulang yang
cidera dengan kekuatan yang sesuai. Jenis traksi paling sering digunakan untuk memberi rasa
nyaman pada pasien yang menderita fraktur panggul selama evaluasi sebelum operasi dan
selama persiapan pembedahan. Meskipun traksi Russell dapat digunakan sebagai tindakan
keperawatan yang utama dan penting untuk patah tulang panggul pada penderita tertentu
tetapi pada penderita usia lanjut dan lemah biasanya tidak dapat mengatasi bahya yang akan
timbul karena berbaring terlalu lama ditempat tidur seperti dekubitus, pneumonia, dan
tromboplebitis.
c.
Traksi Dunlop
Adalah traksi pada ektermitas atas. Traksi horizontal diberikan pada lengan bawah dalam
posisi fleksi.
d. Traksi kulit Bryant
Traksi ini sering digunakan untuk merawat anak kecil yang mengalami patah tulang paha.
Traksi Bryant sebaiknya tidak dilakukan pada anak-anak yang berat badannya lebih dari 30
kg. kalau batas ini dilampaui maka kulit dapat mengalami kerusakan berat.
2. Traksi skelet
Traksi skelet dipasang langsung pada tulang. Metode traksi ini digunakan paling sering untuk
menangani fraktur femur, tibia, humerus dan tulang leher. Kadang- kadang skelet traksi
bersifat seimbang yang menyokong ekstermitas yang terkena, memungkinkan gerakan pasien
sampai batas- batas tertentu dan memungkinkan kemandirian pasien maupun asuh
keperawatan sementara traksi yang efektif tetap dipertahankan yang termasuk skelet traksi
adalah sebagai berikut (Smeltzer & Bare,2001 ).
a. Traksi rangka seimbang
Traksi rangka seimbang ini terutama dipakai untuk merawat patah tulang pada korpus
femoralis orng dewasa. Sekilas pandangan traksi ini tampak komplek, tetapi sesunguhnya
hanyalah satu pin rangka yang ditempatkan tramversal melalui femur distal atau tibia
proksimal. Dipasang pancang traksi dan tali traksi utama dipasang pada pancang tersebut.
Ektermitas pasien ditempatkan dengan posisi panggul dan lutut membentuk sekitar 35 ,
kerekan primer disesuaikan sedemikian sehingga garis ketegangan koaksial dengan sumbu
longitudinal femur yang mengalami fraktur. Beban yang cukup berat dipasang sedemikian
rupa mencapai panjang normalnya. Paha penderita disokong oleh alat parson yang dipasang
pada bidai tomas alat parson dan ektermitas itu sendiri dijulurkan dengan tali, kerekan dan
beban yang sesuai sehingga kaki tergantung bebas diudara. Dengan demikian pemeliharaan
penderita ditempat tidur sangat mudah. Bentuk traksi ini sangat berguna sekali untuk merawat
berbagai jenis fraktur femur. Seluruh bidai dapat diadduksi atau diabduksi untuk
memperbaiki deformitas angular pada bidang medle lateral fleksi panggul dan lutut lebih
besar atau lebih kecil memungkinkan perbaikan lateral posisi dan angulasi alat banyak
memiliki keuntungan antara lain traksi elefasi keaksial. Longitudinal pada tulang panjang
yang patah, ektermitas yang cidera mudah dijangkau untuk pemeriksaan ulang status neuro
vascular, dan untuk merawat luka lokal serta mempermudah perawatan oleh perawat. Seperti
bentuk traksi yang mempergunakan pin rangka, pasien sebaiknya diperiksa setiap hari untuk
mengetahui adanya peradangan atau infeksi sepanjang pin, geseran atau pin yang kendor dan
pin telah tertarik dari tulang (Wilson, 1995 ).
b. Traksi 90-90-90
Traksi 90-90-90 sangat berguna untuk merawat anak- anak usia 3 tahun sampai dewasa muda.
kontrol terhadap fragmen fragmen pada fraktur tulang femur hamper selalu memuaskan
dengan traksi 90-90-90 penderita masih dapat bergerak dengan cukup bebas diatas tempat
tidur (Wilson, 1995 ).
C. KOMPLIKASI


Decubitus

Kongesti paru / pneumonia

Konstipasi

Anoreksia

Stasis & ISK

Trombosis vena profunda


D. KLASIFIKASI :
1.
Dislokasi congenital
Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan.
2.
Dislokasi patologik
Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi.
3.
Dislokasi traumatic
Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat,
kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena mengalami pengerasan)
E. ETIOLOGI :
1. Tidak diketahui
2.
Faktor predisposisi
Akibat kelainan pertumbuhan sejak lahir.
Trauma akibat kecelakaan.
Trauma akibat pembedahan ortopedi
Terjadi infeksi disekitar sendi.
F. MANIFESTASI KLINIS
1.
Nyeri
2.
perubahan kontur sendi
3.
perubahan panjang ekstremitas
4.
kehilangan mobilitas normal
5.
perubahan sumbu tulang yang mengalami dislokasi
6.
deformitas
7.
kekakuan
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan foto polos sevikal
Tes diagnostic pertama yang sering dilakukan pada pasien dengan keluhan nyeri leher. Foto
polos sevikal sangat penting untuk mendeteksi adanya fraktur dan subluksasi pada pasien
dengan trauma leher.
3.
CT Scan
Pemeriksaan ini dapat memberikan visualisasi yang baik komponen tulang sevikal dan sangat
membantu bila ada fraktur akut.
4.
MRI ( Magnetic resonance imaging )
Pemeriksaan ini sudah menjadi metode imajing pilihan untuk daerah sevikal MRI dapat
mendeteksi kelainan ligament maupun discus.MRI menggunakan medan magnet kuat dan
frekuensi radio dan bila bercampur dengan frekuensi radio yang dilepaskan oleh jaringan
tubuh akan menghasilkan citra MRI yang berguna dalam mendiagnosis tumor, infrak, dan
kelainan pada pembuluh darah. Pada pemeriksaan ini, penderita tidak terpajan oleh radiasi
dan tidak merasa nyeri walaupun pasien dapat mengeluh klaustrofobia dan suara logam yang
mengganggu selama prosedur ini.
5.
Elektrokardiografi ( EMG)
Pemeriksaan ini membantu mengetahui apakah suatu gangguan bersifat neurogenik atau
tidak. Karena pasien dengan spasme otot, atritis juga mempunyai gejala yang sama. Selain itu

juga untuk menentukan level dari iritasi/ kompresi radiks, membedakan lesi radiks dan lesi
saraf perifer, membedakan adanya iritasi atau kompresi.
H. PRINSIP PERAWATAN TRAKSI
1. Berikan tindakan kenyamanan ( contoh: sering ubah posisi, pijatan punggung ) dan
aktivitas terapeutik
2. Berikan obat sesuai indikasi contoh analgesik relaksan otot.
3. Berikan pemanasan lokal sesuai indikasi.
4. Beri penguatan pada balutan awal/ pengganti sesuai dengan indikasi, gunakan teknik
aseptic dengan tepat.
5. Pertahankan linen klien tetap kering, bebas keriput.
6. Anjurkan klien menggunakan pakaian katun longgar.
7. Dorong klien untuk menggunakan manajemen stress, contoh: bimbingan imajinasi, nafas
dalam.
8. Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan
9. Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh: edema, eritema
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari makalah ini kami dapat menarik kesimpulan bahwa traksi digunakan untuk
menahan kerangka pada posisi sebenarnya, penyembuhan, mengurangi nyeri, mengurangi
kelainan bentuk atau perubahan bentuk. Indikasi traksi adalah pasien fraktur an atau dislokasi
B. Saran
Saran yang dapat kami berikan yaitu agar mahasiswa dapat memahami prinsip
penanganan pasien dengan traksi guna kelancaran dalam perawatan.

DAFTAR PUSTAKA
Nurma Ningsih, Lukman.2009.Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem
Muskuloskeletal.Jakarta:Salemba Medika.
http://www.endrix89.blogspot.com
http://www.jovandc.multiply.com