Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fimosis adalah preputium penis yang tidak dapat diretraksi (ditarik) ke
proksimal sampai ke korona glandis, bisa dikarenakan keadaan sejak lahir atau
karena patologi. Pada usia bayi glans penis dan prepusium terjadi adesi sehingga
lengket jika terdapat luka pada bagian ini maka akan terjadi perlengketan dan
terjadi fimosis, biasanya pada bayi itu adalah hal yang wajar karena keadaan
tersebut akan kembali seperti normal dengan bertambahnya umur dan produksi
hormon.
Beberapa penelitian mengatakan kejadian Fimosis saat lahir hanya 4% bayi
yang preputiumnya sudah bisa ditarik mundur sepenuhnya sehingga kepala penis
terlihat utuh. Selanjutnya secara perlahan terjadi deskuamasi sehingga perlekatan
itu berkurang. Sampai umur 1 tahun, masih 50% yang belum bisa ditarik penuh.
Berturut-turut 30% pada usia 2 tahun, 10% pada usia 4-5 tahun, 5% pada umur
10 tahun, dan masih ada 1% yang bertahan hingga umur 16-17 tahun. Dari
kelompok terakhir ini ada sebagian kecil yang bertahan secara persisten sampai
dewasa bila tidak ditangani.
Bila Fimosis menghambat kelancaran berkemih seperti pada ballooning maka
sisa-sisa urin mudah terjebak pada bagian dalam preputium dan kandungan
glukosa pada urine menjadi ladang subur bagi pertumbuhan bakteri, maka
berakibat terjadi infeksi saluran kemih (UTI).
Berdasarkan data tahun 1980-an dilaporkan bahwa anak yang tidak
disirkumsisi memiliki resiko menderita UTI 10-20 kali lebih tinggi. Tahun 1993,
dituliskan review bahwa resiko terjadi sebesar 12 kali lipat. Tahun 1999 dalam
salah satu bagian dari pernyataan sirkumsisi disebutkan bahwa dari 100 anak
pada usia 1 tahun. Dua laporan jurnal tahun 2001 dan 2005 mendukung bahwa
sirkumsisi dibawah resiko UTI.
BAB II
FIMOSIS

PEMBAHASAN

2.1 Struktur Anatomi Organ Genitalia Pria


A. Organ Genital Luar

Gambar 1.
Organ Genitalia Pria
Penis

Gambar 2. Anatomi penis


FIMOSIS

Secara anatomis, penis terbagi atas radix, corpus dan glans penis
(Gambar 2). Ketiganya tersusun dari tiga korpus berbentuk silinder yang
mengandung

jaringan

kavernosa

erektil,

yakni

sepasang

corpus

cavernosum yang terletak pada bagian dorsal dan satu corpus spongiosum
yang terletak pada bagian ventral. Setiap corpus cavernosum dilapisi oleh
lapisan fibrosa yang disebut tunica albuginea dan kedua corpus
cavernosum dipisahkan oleh septum penis. Di sebelah superfisial tunica
albuginea terdapat fascia profunda penis (fascia Buck), yang merupakan
lanjutan dari fascia perineal profunda yang membentuk lapisan
membranosa yang kuat yang menutupi dan melekatkan keduacorpus
cavernosa

dengan

corpus

spongiosum.

Kedua

corpus

cavernosa

membentuk crus penis pada bagian posterior.


Corpus spongiosum yang terletak di bagian bawah (bagian ventral)
dan di dalamnya terdapat uretra pars spongiosa. Pada bagian distal, corpus
spongiosum membesar dan membentuk glans penis. Tepi glans penis
merupakan proyeksi ujung corpus cavernosum yang membentuk corona
glandis. glandis memisahkan basis glans dan corpus penis. Di ujung dari
glans penis terdapat bagian uretra anterior berupa celah terbuka yang
disebut orificium urethra externa.

FIMOSIS

Gambar 3. Penis potongan melintang


Kulit penis tipis dan berwarna lebih gelap dibanding kulit sekitarnya
yang dihubungkan dengan tunica albuginea oleh jaringan ikat longgar.
Pada bagian leher glans penis, kulit dan fascia penis berlanjut sebagai dua
lapisan kulit yang disebut prepusium. Frenulum preputii merupakan
lipatan pada bagian tengah yang berasal dari lapisan dalam preputium ke
permukaan uretral dari glans penis.

FIMOSIS

Skrotum
Skrotum merupakan kantung berkulit tipis yang mengelilingi dan
melindungi testis. Skrotum juga bertindak sebagai sistem pengontrol suhu
untuk testis, karena agar sperma terbentuk secara normal, testis harus
memiliki suhu yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan suhu tubuh.
Otot kremaster pada dinding skrotum akan mengendur atau mengencang
sehinnga testis menggantung lebih jauh dari tubuh (dan suhunya menjadi
lebih dingin) atau lebih dekat ke tubuh (dan suhunya menjadi lebih hangat).

B. Vaskularisasi penis
Suplai darah arteri pada penis terutama berasal dari cabang arteri pudendus
internus :

Arteri dorsalis penis : berjalan pada setiap sisi vena dorsalis penis pada
dorsal groove di antara corpus cavernosa, yang mensuplai darah menuju ke
jaringan fibrosa di sekitar corpus cavernosa, corpus spongiosum dan uretra
spongiosa, dan kulit penis.
FIMOSIS

Arteri profunda penis : menembus crura di bagian proksimal dan berjalan


di sebelah distal dekat dengan pusat corpus cavernosa, yang mensuplai
jaringan erektil pada struktur tersebut.

Arteri bulbaris : mensuplai daerah posterior (pars bulbosa) dari corpus


spongiosum dan uretra di dalamnya serta glandula bulbouretralis.
Cabang superfisial dan profunda dari arteri pudendus eksterna mensuplai

darah ke kulit penis, yang saling beranastomis dengan cabang dari arteri
pudendus interna. Darah yang berasal dari ruang cavernosus dialirkan oleh
plexus venosus yang bergabung dengan vena dorsalis penis profunda pada fascia
Buck. Vena ini berjalan di antara lamina dari ligamentum suspensorium, yang
memasuki pelvis dimana selanjutnya mengalir menuju plexus venosus
prostatika. Darah yang berasal dari lapisan superfisial penis mengalir menuju
vena dorsalis penis superfisialis, dimana selanjutnya mengalir menuju vena
pudendus eksterna superficial.
Aliran limfa yang berasal dari kulit penis pada awalnya mengalir menuju
limfonodus inguinal superficialis. Sedangkan yang berasal dari glans penis dan
uretra spongiosa bagian distal mengalir menuju ln. inguinal profunda dan ln.
iliaca eksterna, dan yang berasal dari corpus cavernosa dan uretra spongiosa
bagian proksimal mengalir menuju ln. iliaca interna.
Penis dipersyarafi oleh 2 jenis syaraf yakni syaraf otonom (para simpatis
dan simpatis) dan syaraf somatik (motoris dan sensoris). Syaraf-syaraf
simpatis dan parasimpatis berasal dari hipotalamus menuju ke penis melalui
medulla spinalis (sumsum tulang belakang). Khusus syaraf otonom parasimpatis
ke luar dari medulla spinalis (sumsum tulang belakang) pada kolumna
vertebralis di S2-4. Sebaliknya syaraf simpatis ke luar dari kolumna vertebralis
melalui segmen Th 11 sampai L2 dan akhirnya parasimpatis dan simpatis
menyatu menjadi nervus kavernosa. Syaraf ini memasuki penis pada pangkalnya
dan mempersyarafi otot-otot polos. Syaraf somatis terutama yang bersifat

FIMOSIS

sensoris yakni yang membawa impuls (rangsang) dari penis misalnya bila
mendapatkan stimulasi yaitu rabaan pada badan penis dan kepala penis (glans),
membentuk nervus dorsalis penis yang menyatu dengan syaraf-syaraf lain yang
membentuk nervus pudendus.

Gambar 4. Vaskularisasi penis

FIMOSIS

2.2 Embriologi Genitalia Pria


Penentuan jenis kelamin pada anak melalui tiga tahap, yaitu tahap genetik,
tahap gonad, dan tahap fenotip.
a.

Tahap genetik : tahap yang bergantung pada kombinasi


genetik pada saat pembuahan. Jika sperma yang membawa
kromosom Y yang membuahi oosit maka akan menjadi
anak laki-laki. Namun sebaliknya, apabila sperma yang
membawa kromosom X yang membuahi oosit maka akan
menjadi anak perempuan.

b.

Tahap gonad : tahap perkembangan testis atau ovarium

c.

Tahap fenotip : tahap diferensiasi membentuk sistem


reproduksi
Sementara itu, perkembangan sistem genitalia manusia berasal dari lapisan

mesoderm intermediat, dan penentu perkembangan genitalia ke arah jenis


kelamin laki-laki atau perempuan ditentukan oleh kromosom Y, dimana dalam
kromosom Y mengandung gen SRY (Sex Determining Region on Y).
Perkembangan sistem genitalia manusia terdiri dari :
a. Gonad
Pada mulanya gonad akan tampak sebagai bubungan longitudinal yang
disebut dengan Genital Ridge. Kemudian pada minggu kelima sampai
keenam akan terjadi perpindahan sel germinativum ke gonad primitif dan
menginvasi

genital

ridge.

Sesaat

sebelum

dan

setibanya

sel-sel

germinativum ke gonad primitif, terjadi ploriferasi pada epitel genital ridge


dan membentuk korda seks primitif. Pada saat ini gonad pada janin laki-laki
dan janin perempuan sangat sulit untuk dibedakan, sehinggga pada tahap ini
gonad disebut gonad indeferen. Kemidian pada minggu kedelapan terjadi
beberapa perubahan yang dipengaruhi oleh gen SRY pada kromosom Y.
Perubahan tersebut diantaranya:

FIMOSIS

Sel intertisial leydig menghasilkan banyak testosteron


Korda seks primitif berploriferasi membentuk korda medularis (testis)
dan pada bulan keempat korda testis terdiri dari sel germinativum
primitif dan sel sertoli.
Terbentuk jaringan ikat yang disebut tunika albuginea.

b. Duktus Genitalis
Pada awalnya terdapat dua pasang duktus, yaitu : diktus mesonefrikus
(duktus Wolfii) dan duktus para mesonefrikus (duktus Mller). Namun,
karena pengaruh gen SRY yang bekerja sama dengan gen otosom SOX9
menyebabkan peningkatan dari produksi faktor steroidogenesis 1 (SF1) dan
mengakibatkan regresi pada duktus paramesonefrikus (duktus Mller) dan
diferensiasi duktus mesonefrikus (duktus Wolfii) menjadi duktus deferens,
vesicula seminalis, duktus eferen dan epididimis, yang terjadi pada kurang

FIMOSIS

lebih bulan keempat. Selain itu, regresi duktus paramesonefrikus juga


dipengaruhi oleh faktor inhibisi duktus Mller.

c. Genitalia Eksterna
Perkembangan genitalia pria dipengaruhi oleh hormon testosteron yang
disekresi oleh testis. Dimulai pada minggu ketiga akan terbentuk sepasang
lipatan kloaka yang berasal dari regio primitive streak. Pada bagian kranial
lipatan kloaka akan menyatu membentuk tuberkulum genitale. Sementara itu
pada bagian kaudal sebelah anterior, lipatan kloaka akan menjadi lipatan
uretra dan pada bagian sebelah posterior akan membentuk lipatan anus.
Selain itu, terdapat pula penebalan genital, yang terdapat dikedua sisi lipatan
urtera yang akan membentuk penebalan skrotum. Proses pembentukan
genitalia eksterna pria, awalnya
akan terjadi pemanjangan cepat
tubernakulum genitale ke arah
depan, disebut sebagai phallus
(penis).

Kemudian

selama

pemanjangan, phallus menarik


FIMOSIS

10

lipatan uretra ke arah depan, sehingga lipatan uretra tersebut membentuk


dinding lateral dari alur uretra. Alur uretra ini berjalan disepanjang kaudal
phallus yang memanjang, namun tidak sampai bagian distal glans penis.
Pada akhir bulan ketiga, kedua lipatan uretra menutupi lempeng uretra dan
menjadi uretra penis. Kemudian, bagian paling distal penis terbebtuk saat
saat ektoderm dari ujung glans menembus ke arah dalam membentuk korda
epitel pendek dan pada akhirnya akan membentuk ostium uretra eksterna
pada bulan keempat.

2.3 FIMOSIS
2.2.1 Definisi
Menurut Ngastiyah (2005), fimosis adalah penyempitan pada
prepusium. Sedangkan menurut Purnomo (2000), fimosis adalah
prepusium penis yang tidak dapat di retraksi (ditarik ke proksimal sampai
ke korona glanis). Fimosis adalah suatu kelainan dimana prepusium penis
yang tidak dapat diretraksi (ditarik) ke proksimal sampai ke korona
glandis. Fimosis dialami oleh sebagian besar bayi baru lahir karena
terdapat adhesi alamiah antara prepusium dengan glans penis.

FIMOSIS

11

Gambar
5.
2.2.2

Fimosis
Etiologi

Fimosis dapat timbul kemudian setelah lahir. Hal ini berkaitan dengan
tingkat higienitas alat kelamin yang buruk, peradangan kronik glans penis
dan kulit preputium (balanoposthitis kronik), (Robbins, 2004) atau
penarikan berlebihan kulit preputium (forceful retraction). Pada fimosis
kongenital umumya terjadi akibat terbentuknya jaringan parut di prepusium
yang biasanya muncul karena sebelumnya terdapat balanopostitis. Apapun
penyebabnya, sebagian besar fimosis disertai tanda-tanda peradangan penis
FIMOSIS

12

distal (Robbins, 2004). Sedangkan fimosis pada bayi laki-laki yang baru
lahir biasanya terjadi karena ruang di antara kutup dan penis tidak
berkembang dengan baik. Kondisi ini menyebabkan prepusium menjadi
melekat pada glans penis, sehingga sulit ditarik ke arah proximal. Apabila
stenosis atau retraksi tersebut ditarik dengan paksa melewati glans penis,
sirkulasi

glans

dapat

terganggu

hingga

menyebabkan

kongesti,

pembengkakan, dan nyeri distal penis atau biasa disebut parafimosis


(Robbins, 2004).
2.2.3 Epidemiologi
Berdasarkan data epidemiologi, fimosis banyak terjadi pada bayi atau
anak-anak hingga mencapai usia 3 atau 4 tahun. Sedangkan sekitar 1-5%
kasus terjadi sampai pada usia 16 tahun .
Normalnya hingga usia 3-4 tahun penis tumbuh dan berkembang, dan
debris yang dihasilkan oleh epitel prepusium (smegma) mengumpul di
dalam prepusium dan perlahan-lahan memisahkan prepusium dari glan
penis. Ereksi penis yang terjadi secara berkala membuat prepusium menjadi
retraktil dan dapat ditarik ke proksimal. Pada saat usia 3 tahun, 90%
prepusium sudah dapat diretraksi (Purnomo, 2011).
a. Konginetal (fimosis fisiologis)
Fimosis kongenital (fimosis fisiologis) timbul sejak lahir sebenarnya
merupakan kondisi normal pada anak-anak, bahkan sampai masa
remaja. Kulit preputium selalu melekat erat pada glans penis dan tidak
dapat ditarik ke belakang pada saat lahir, namun seiring bertambahnya
usia serta diproduksinya hormon dan faktor pertumbuhan terjadi proses
keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi antara glans penis dan lapis
glan dalam preputium sehingga akhirnya kulit preputium terpisah dari
glan penis. Suatu penelitian mendapatkan bahwa hanya 4% bayi seluruh

FIMOSIS

13

kulit preputiumnya dapat ditarik ke belakang penis pada saat lahir,


namun mencapai 90% pada saat usia 3 tahun dan hanya 1% laki-laki
berusia 17 tahun yang masih mengalami fimosis kongenital. Walaupun
demikian, penelitian lain mendapatkan hanya 20% dan 200 anak lakilaki berusia 5-13 tahun yang seluruh kulit preputiumnya dapat ditarik ke
belakang penis.
b. Fimosis didapat (fimosis patologik, fimosis yang sebenarnya, True
Phimosis)
Hal ini berkaitan dengan kebersihan hygiene alat kelamin yang buruk,
peradangan kronik glans penis dan kulit preputium (balanoposthitis
kronik), atau penarikan berlebihan kulit preputium (forceful retraction)
pada fimosis kongenital yang akan menyebabkan pembentukkan
jaringan ikat (fibrosis) dekat bagian kulit preputium yang membuka.
2.2.4 Patogenesis
Normalnya hingga usia 3-4 tahun penis tumbuh dan berkembang, dan
debris yang dihasilkan oleh epitel prepusium (smegma) mengumpul
didalam prepusium dan perlahan-lahan memisahkan prepusium dari glans
penis. Ereksi penis yang terjadi secara berkala membuat prepusium menjadi
retraktil dan dapat ditarik ke proksimal. Pada saat usia 3 tahun, 90%
prepusium sudah dapat diretraksi.
Pada kasus fimosis, lubang yang terdapat di prepusium sempit sehingga
tidak bisa ditarik mundur dan glans penis sama sekali tidak bisa dilihat.
Kadang hanya tersisa lubang yang sangat kecil di ujung prepusium. Pada
kondisi

ini,

akan

terjadi

fenomena

balloning dimana prepusium

mengembang saat berkemih karena desakan pancaran urine yang tidak


diimbangi besarnya lubang di ujung prepusium. Bila fimosis menghambat
kelancaran berkemih, seperti pada balloning maka sisa-sisa urin mudah

FIMOSIS

14

terjebak di dalam prepusium. Adanya kandungan glukosa pada urine


menjadi pusat bagi pertumbuhan bakteri. Karena itu, komplikasi yang
paling sering dialami akibat fimosis adalah infeksi saluran kemih
(ISK). ISK paling sering menjadi indikasi sirkumsisi pada kasus fimosis.
Fimosis juga terjadi jika tingkat higienitas rendah pada waktu
BAK yang akan mengakibatkan terjadinya penumpukan kotoran-kotoran
pada glans penis sehingga memungkinkan terjadinya infeksi pada daerah
glans penis dan prepusium (balanitis) yang meninggalkan jaringan parut
sehingga prepusium tidak dapat ditarik kebelakang.
Pada lapisan dalam prepusium terdapat kelenjar sebacea yang
memproduksi smegma. Cairan ini berguna untuk melumasi permukaan
prepusium. Letak kelenjar ini di dekat pertemuan prepusium dan glans
penis yang membentuk semacam lembah di bawah korona glans penis
(bagian kepala penis yang berdiameter paling lebar). Di tempat ini
terkumpul keringat, debris/kotoran, sel mati dan bakteri. Bila tidak
terjadi fimosis, kotoran ini mudah dibersihkan.
Namun pada kondisi fimosis, pembersihan tersebut sulit dilakukan
karena prepusium tidak bisa ditarik penuh ke belakang. Bila yang terjadi
adalah perlekatan prepusium dengan glans penis, debris dan sel
mati yang terkumpul tersebut tidak bisa dibersihkan. Ada pula kondisi lain
akibat infeksi yaitu balanopostitis. Pada infeksi ini terjadi peradangan pada
permukaan preputium dan glans penis. Terjadi pembengkakan kemerahan
dan produksi pus di antara glans penis dan prepusium. Meski jarang, infeksi
ini bisa terjadi pada diabetes.

II.2.5. Manifestasi Klinis

FIMOSIS

15

Fimosis menyebabkan gangguan aliran urin berupa sulit kencing, pancaran


urine mengecil, menggelumbungnya ujung prepusium penis pada saat miksi, dan
menimbulkan retensi urine. Higiene lokal yang kurang bersih menyebabkan
terjadinya infeksi pada prepusium (postitis), infeksi pada glans penis (balanitis) atau
infeksi pada glans dan prepusium penis (balanopositis).
Kadangkala pasien dibawa berobat oleh orang tuanya karena ada benjolan
lunak di ujung penis yang tak lain adalah korpus smegma yaitu timbunan smegma di
dalam sakus prepusium penis. Smegma terjadi dari sel-sel mukosa prepusium dan
glans penis yang mengalami deskuamasi oleh bakteri yang ada di dalamnya
(Purnomo, 2011).
Adapun tanda dan gejala dari Fimosis, yaitu:
a. Penis membesar dan menggelembung akibat tumpukan urin
b. Kadang-kadang keluhan dapat berupa ujung kemaluan menggembung saat
mulai miksi yang kemudian menghilang setelah berkemih. Hal tersebut
disebabkan oleh karena urin yang keluar terlebih dahulu tertahan dalam
ruangan yang dibatasi oleh kulit pada ujung penis sebelum keluar melalui
muaranya yang sempit.
c. Biasanya bayi menangis dan mengejan saat BAK karena timbul rasa sakit.
d. Kulit penis tak bias ditarik kea rah pangkal ketika akan dibersihkan
e. Air seni keluar tidak lancar. Kadang-kadang menetes dan kadang-kadang
memancar dengan arah yang tidak dapat diduga
f. Bisa juga disertai demam
g. Iritasi pada penis
II.2.6. Pemeriksaan Penunjang
Pada klien dengan fimosis pemeriksaan yang perlu dilakukan sebagai penunjang
dalam pengumpulan data adalah:
1. Pemeriksaan darah lengkap
2. USG penis
FIMOSIS

16

3. Pemeriksaan kadar TSH


II.2.7. Penatalaksanaan
Tidak dianjurkan melakukan dilatasi atau retraksi yang dipaksakan pada
penderita fimosis, karena akan menimbulkan luka dan terbentuk sikatriks pada ujung
prepusium sebagai fimosis sekunder. Fimosis yang disertai balanitis xerotika
obliterans dapat dicoba diberikan salep deksametasone 0,1% yang dioleskan 3 atau 4
kali. Diharapkan setelah pemberian selama 6 minggu, prepusium dapat retraksi
spontan. (Purnomo, 2011).
Bila

fimosis

tidak

menimbulkan

ketidaknyamanan

dapat

diberikan

penatalaksanaan non-operatif, misalnya seperti pemberian krim steroid topikal yaitu


betamethasone selama 4-6 minggu pada daerah glans penis.
Pada fimosis yang menimbulkan keluhan miksi, menggelembungnya ujung
prepusium pada saat miksi, atau fimosis yang disertai dengan infeksi postitis
merupakan indikasi untuk dilakukan sirkumsisi. Tentunya pada balanitis atau postitis
harus diberi antibiotika dahulu sebelum dilakukan sirkumsisi. (Purnomo, 2011).
Fimosis yang harus ditangani dengan melakukan sirkumsisi bila terdapat
obstruksi dan balanopostitis. Bila ada balanopostitis, sebaiknya dilakukan sayatan
dorsal terlebih dahulu yang disusul dengan sirkumsisi sempurna setelah radang
mereda.
Secara singkat teknik operasi sirkumsisi dapat dijelaskan sebagai berikut :
Setelah penderita diberi narkose, penderita di letakkan dalam posisi supine.
Desinfeksi lapangan pembedahan dengan antiseptik kemudian dipersempit dengan
linen steril. Preputium di bersihkan dengan cairan antiseptik pada sekitar glans penis.
Preputium di klem pada 3 tempat. Prepusium di gunting pada sisi dorsal penis
sampai batas corona glandis. Dibuat teugel pada ujung insisi. Teugel yang sama
dikerjakan pada frenulum penis. Preputium kemudian di potong melingkar sejajar
dengan korona glandis. Kemudian kulit dan mukosa dijahit dengan plain cut gut 4.0
atraumatik interupted. (Sjamsuhidajat, 2004)
FIMOSIS

17

Sumber lain mengatakan demikian:


1.

Tidak dianjurkan melakukan retraksi yang dipaksakan, karena dapat


menimbulkan luka dan terbentuk sikatriks pada ujung prepusium

2.

sehingga akan terbentuk fimosis sekunder.


Fimosis disertai balanitis xerotica obliterans dapat diberikan salep
dexamethasone 0,1% yang dioleskan 3/4 kali, dan diharapkan setelah 6

3.

minggu pemberian prepusium dapat diretraksi spontan.


Fimosis dengan keluhan miksi, menggelembungnya ujung prepusium
pada saat miksi atau infeksi postitis merupakan indikasi untuk dilakukan
sirkumsisi, dimana pada fimosis disertai balanitis/postitis harus diberikan
antibiotika terlebih dahulu.

Prinsip terapi dan perawatan sehari-hari


1.
2.

3.

Perawatan Rutin
Kebersihan penis
Penis harus dibasuh secara seksama dan bayi tidak boleh ditinggalkan
berbaring dengan popok basah untuk waktu yang lama.
Sirkumsisi
Pada pembedahan ini, kelebihan katup diangkat. Digunakan jahitan catgut
untuk mempertemukan kulit dengan mukosa dan mengikat pembuluh

4.
5.

darah.
Perawatan Pra Bedah Rutin
Perawatan Pasca Bedah
Pembedahan ini bukan tanpa komplikasi dan Observasi termasuk
adanya perdarahan. Pembalut diangkat jika basah dengan urin dan lap
panggul berguna untuk membersihkan penis dan mendorong terjadinya
penyembuhan. Popok perlu sering diganti.
Komplikasi yang terjadi termasuk ulserasi meatus. Ini terjadi
sebagai akibat amonia yang membakar epithelium glans. Untuk
menimbulkan

nyeri

pada

saat

berkemih

kadang-kadang

adanya

perkembangan perdarahan dan retensi urin. Ulserasi meatus dapat

FIMOSIS

18

menimbulkan stenosis meatus. Hal ini dapat diterapi dengan meatotomi


dan dilatasi.
6.

Bimbingan bagi orang tua.


Instruksi yang jelas harus diberikan pada orang tua jika bayi atau
anak siap untuk pulang kerumah. Ini termasuk hygiene dari daerah dan
pengenalan setiap komplikasi. Mereka juga harus diberikan pedoman
untuk pencegahan dermatitis amonia dan jika hal ini terjadi bagaimana
untuk mengobatinya.

II.2.8. Penatalaksanaan Medis


1. Fimosis disertai balanitis xerotica obliterans dapat diberikan salep
dexamethasone 0,1% yang dioleskan 3-4 kali sehari dan diharapkan setelah 6
minggu pemberian prepusium dapat diretraksi spontan.
2. Dengan tindakan sirkumsisi, apabila fimosis sampai menimbulkan gangguan
miksi pada klien. Dengan bertambahnya usia, fimosis akan hilang dengan
sendirinya.
II.2.9. Pencegahan
Untuk mencegah dapat dilakukan dengan melebarkan lubang prepusium
dengan cara mendorong kebelakang kulit prepusium tersebut dan biasanya akan
terjadi perlukaan, untuk menghindari infeksi luka tersebut diberikan salep antibiotic.
Tindakan ini mula-mula dilakukan oleh dokter (pada orang barat sunat dilakukan
pada saat bayi baru lahir, tindakan ini dilakukan untuk menjaga kebersihan atau
mencegah infeksi karena adanya smegma). Adanya smegma pada ujung prepusium
juga menyulitkan bayi berkemih maka setiap memandikan bayi sebaiknya prepusium
didorong kebelakang dan kemudian dibersihkan dengan kapas yang diolesi air
matang atau hangat
II.2.10Komplikasi

FIMOSIS

19

Akumulasi sekret dan smegma di bawah preputium yang kemudian terkena


infeksi sekunder akhirnya terbentuk jaringan parut

Pada kasus yang berat dapat menimbulkan retensi urin


Penarikan preputium secara paksa dapat berakibat kontriksi dengan rasa nyeri

dan pembengkakan glans penis yang disebut parafimosis


Pembengkakan atau radang pada ujung kemaluan yang disebut ballonitis
Timbul infeksi pada saluran air seni (ureter) kiri dan kanan, kemudian

menimbulkan kerusakan pada ginjal


Fimosis merupakan salah satu faktor resiko terjadinya kanker penis.

BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Fimosis adalah suatu keadaan dimana prepusium tidak bisa ditarik ke
belakang, bisa dikarenakan keadaan sejak lahir atau karena patologi. Pada usia bayi
glan penis dan prepusium terjadi adesi sehingga lengket jika terdapat luka pada
bagian ini maka akan terjadi perlengketan dan terjadi fimosis biasanya pada bayi itu
adalah hal yang wajar karena keadaan tersebut akan kembali seperti normal dengan
bertambahnya umur dan produksi hormon.

FIMOSIS

20

FIMOSIS

21