Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH

1.

2.

3.
4.

Pendidikan di Taman Kanak-kanak (TK) merupakan pendidikan yang menyenangkan dengan


prinsip Belajar sambil bermain, bermain seraya belajar. Berangkat dari sinilah
pembelajaran yang ada di TK harus dicermati, sehingga apa yang diharapkan, yakni agar
anak-anak lebih mandiri dalam segala hal sesuai dengan kapasitas anak bisa ditercapai.
Metode pengajaran yang tepat dan cermat akan mengarahkan anak-anak pada hasil yang
optimal.
Oleh karena itu peningkatan dan pengembangan kreativitas sejak usia dini sangat penting
sebab dapat memupuk, merangsang, dan mengembangkannya dengan cara memanfaatkan
media yang ada seperti media piring kertas yang akan digunakan untuk membentuk binatang
berkaki empat.
Mengapa kretivitas begitu bermakna dalam hidup? Mengapa kretivitas perlu dipupuk sejak
dini dalam diri anak didik ?
Karena dengan berkreasi orang dapat mewujudkan (mengaktualisasikan) dirinya, dan
perwujudan/aktualisasi diri merupakan kebutuhan pokok pada tingkat tertinggi dalam hidup
manusia (Maslow, 1967). Kretivitas merupakan manisfestasi dari individu yang berfungsi
sepenuhnya.
Kreativitas atau berpikir kreatif sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam
kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang
sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan (Guilford, 1967). Di
sekolah yang terutama dilatih adalah penerimaan pengetahun ingatan, dan penalaran (berpikir
logis)
Bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat (bagi diri pribadi dan bagi lingkungan)
tetapi juga memberikan kepuasan kepada individu.
Kreativitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya . Dalam era
pembangunan ini kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan negara bergantung pada
sumbangan kreatif, berupa ide ide baru, penemuan penemuan baru, dan perilaku kreatif
dipupuk sejak dini.

B. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH


a. IDENTIFIKASI MASALAH
- Mengapa kemampuan siswa TK An-nahl dalam membentuk atau menggambar suatu binatang
khususnya berkaki empat, mengalami kesulitan dalam menggembangkan kreativitasnya
untuk menciptakan suatu bentuk atau gambar binatang berkaki empat.
-

Karena sulitnya siswa TK An-nahl dalam membentuk atau menggambar binatang berkaki
empat, maka perlu ditingkatkan dorongan oleh guru kepada siswa untuk dapat berkreasi
dalam membentuk atau menggambar binatang berkaki empat.

Bagaimana caranya agar kreativitas anak dalam membentuk atau menggambar binatang
berkaki empat muncul maka guru memberikan contoh dalam membentuk binatang berkaki
empat melalui pemanfaatan media berupa piring kertas.

Maka yang dilakukan guru agar kreativitas anak dalam membentuk atau menggambar suatu
bintang berkaki empat dapat meningkat yaitu dengan cara memberikan contoh dalam
pembuatan suatu bentuk binatang berkaki empat dengan cara memanfaatkan media piring
kertas untuk dibuat menjadi berbagai bentuk binatang berkaki empat.

b. PEMBATASAN MASALAH
- Variabel yang diteliti adalah kreativitas siswa dan media piring kertas
- Apa yang dimaksud dengan kreativitas siswa.

c. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang identifikasi masalah dan pembatasan masalah tersebut diatas
maka diajukan rumusan masalah sebagai berikut:
- Apakah melalui pemanfaatan media piring kertas dapat meningkatkan kretivitas siswa TK
An-nahl
- Sejauh manakah kemandirian anak kelompok B di TK An-nahl
- Sejauh manakah metode pembelajaran kreativitas dengan menggunakan media piring
kertas siswa kelompok B di TK An-nahl dalam meningkatan kemandiriaan anak?
d. HIPOTESIS
- Berdasarkan atas rumusan masalah sebagai mana diatas dapat dirumuskan hipotesis sebagai
berikut:
Menggunakan metode unjuk kerja dengan media piring kertas dapat meningkatkan
kemandirian siswa TK kelompok B di TK An-nahl Bojonggede-Bogor.

C. TUJUAN PENELITIAN
-

Diharapkan dalam penelitian ini kami dapat mengetahui sejauh mana kreativitas siswa
melalui pemanfaatan media piring kertas di TK An-nahl Bojonggede-Bogor.
Diharapkan adanya kemandirian siswa TK kelompok B di TK An-nahl Bojonggede-bogor.
Diharapkan adanya kretivitas anak dengan media piring kertas dalam meningkatkan
kemandirian siswa TK kelompok B di TK An-nahl Bojonggede-Bogor.

D. LINGKUP PENELITIAN
Agar dalam pembahasan ini tidak terlalu meluas maka pembahasan hanya difokuskan
pada penggunaan metode unjuk kerja dengan menggunakan media piring kertas
kaitannya dengan kemandirian siswa TK kelompok B. Penelitian ini dilakukan di TK Annahl Bojonggede-Bogor.

E. MANFAAT PENELITIAN
-

Secara teoritis kegunaan penelitian ini dapat memperbanyak atau memperkaya tentang variasi
metode unjuk kerja dengan penggunaan media piring kertas dibidang pengembangan
kemampuan kreativitas di TK.

Bisa dipergunakan sebagai bahan pertimbangan bagi para pengajar dalam rangka untuk
memberikan variasi pengajaran agar tidak menjenuhkan.

Adapun manfaat untuk sekolah dapat menjadi suatu media untuk memperkenalkan kepada
anak tentang macam-macam binatang dan dapat didisplay agar memberitahukan dan
memperlihatkan kepada khalayak tentang kreativitas siswa dalam membentuk binatang
berkaki empat dengan menggunakan media piring kertas.

Manfaat untuk Guru yaitu lebih mudah mengajarkan kepada siswa dengan media piring kertas
karena mudah didapat dan mudah dibuat bentuk-bentuk bintang berkaki empat, yang tidak
sering dijumpai siswa. Dengan membuat kreativitas ini guru bisa memperlihatkan kepada
anak-anak bagaimana cara
membuat kreativitas tersebut secara langsung dapat dilihat siswa.

Manfaat bagi siswa yaitu siswa merasa senang dalam kegiatan pembelajaran disekolah karena
dapat membuat kretivitas binatang berkaki empat dengan menggunakan media piring kertas
dengan mandiri. Dan siswa juga menjadi mudah paham dan mengerti, karena langsung
melihat media yang dibuat oleh guru.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Undang-Undang (UU) No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah
mengamanatkan dilaksanakannya pendidikan kepada seluruh rakyat Indonesia sejak usia dini,
yakni sejak anak dilahirkan. Disebutkan secara tegas dalam Undang-Undang tersebut bahwa
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada
anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak
memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (pasal 1, butir 14). Pendidikan
bagi anak usia dini semakin popular. Orang tua semakin merasakan pentingnya memberikan
pendidikan kepada anak sejak dini dan berlomba memberikan fasilitas pendidikan terbaik
pada anak-anaknya. Perkembangan tersebut mendorong semakin menggeliatnya pertumbuhan
lembaga pendidikan pra sekolah atau yang lebih dikenal dengan sekolah Raudatul
Athfal/Taman Kanak-Kanak.
Ditengah beragam alternatif Pendidikan Raudatul Athfal/Taman Kanak-Kanak, pada
dasarnya tujuan Pendidikan Raudatul Athfal/Taman Kanak-Kanak adalah membantu peserta
didik mengembangkan berbagai kemampuan atau kecerdasan yang dimiliki oleh setiap anak
baik psikis maupun fisik, yang biasa disebut Multiple Intelegences.
Kecerdasan visual-spasial merupakan salah satu kecerdasan majemuk yang dikemukakan
oleh Gardner. Anak yang memiliki kecerdasan ini memiliki kemampuan untuk
memvisualisasikan berbagai hal dan memiliki kelebihan dalam hal berpikir melalui gambar
Hildayani, (2005:5.16). Anak yang memiliki kecerdasan visual-spasial dapat dilihat dari
kesehariannya misalnya anak dapat menceritakan gambar dengan jelas, lebih senang
membaca peta, diagram, lebih menyukai gambar daripada teks, menyukai kegiatan seni,
pandai menggambar, yang terkadang mendekati atau persis aslinya, dapat membangun
konstruksi tiga dimensi yang menarik, lebih mudah belajar dengan gambar daripada teks, dan
membuat coretan-coretan yang bermakna dibuku kerja atau kertas.
Kecerdasan

visual-spasial dapat dikembangkan

melalui

kegiatan

membayangkan,

menggambar, membuat kerajinan, mengatur, dan merancang, membentuk dan bermain


konstruktif, bermain sandiwara boneka, meniru gambar objek, bermain dengan lilin mainan,

menyusun objek mainan, bermain peran, membaca buku, dan bermain video game. Kegiatan
tersebut merupakan kegiatan yang melibatkan semua indera anak terlibat dalam pembelajaran
yang diawali dengan menampilkan model dan diakhiri dengan membuat atau menciptakan
sesuatu klinik Pediatri, (2009:2). Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Kostelnik Masitoh,
(2005:7.4) bahwa pengalaman langsung harus mendahului penggambaran atau sesuatu yang
lebih abstrak dan model lebih konkret daripada gambar, dan gambar lebih konkret daripada
kata-kata.
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti pada tanggal 2 sampai 25 April 2012
menunjukkan bahwa kemampuan visual-spasial anak di RA/TK Al-Muminin Kecamatan
Kambu kota Kendari tidak begitu tampak. Ketika diberikan bahan limbah anorganik berupa
kulit aqua gelas anak hanya mampu mengguntingnya yang menghasilkan bentuk tidak
beraturan, ketika kegiatan menggambar orang sebagian besar anak hanya mampu membuat
coretan sederhana berupa garis, lingkaran dan titik, setelah mencuci tangan anak tidak
langsung mengeringkannya padahal sudah disampaikan oleh ibu gurunya, dan ketika kegiatan
menggambar bebas ada anak yang masih bingung gambar apa yang akan dibuat, sedangkan
sekolah sendiri menginginkan anak memiliki kecerdasan visual-spasial diantaranya anak
sudah mengenal spasial dua arah berpasangan seperti arah depan-belakang, atas-bawah, dan
kanan-kiri, anak mampu menggambar figur orang, anak dapat membedakan beberapa warna
dan anak dapat membuat bentuk dari bahan limbah anorganik yang diberikan oleh ibu
gurunya. Kondisi di lapangan tidak sesuai dengan apa yang menjadi tujuan sekolah, hal
tersebut dipicu oleh penggunaan metode pembelajaran yang kurang bervariasi. Metode
ceramah merupakan metode yang mendominasi pembelajaran di RA/TK, khususnya
pembelajaran di RA Al- Muminin kecamatan Kambu kota Kendari. Selain itu media yang
digunakan juga kebanyakan berupa lembar kerja dalam bentuk buku yang berupa latihanlatihan yang lebih menekankan pada kemampuan akademik. Minimnya pembelajaran yang
bisa menggali kecerdasan visual-spasial anak serta kurangnya keterlibatan anak dalam
mengeksplorasi media atau sumber belajar yang bisa mengasah kecerdasan mereka
merupakan faktor utama yang menjadi masalah mengapa anak memiliki kecerdasan yang
minim khususnya kecerdasan visual-spasial. Meskipun demikian, berdasarkan amatan
penulis, potensi kecerdasan visual-spasial masih memiliki peluang yang potensial untuk
dikembangkan secara optimal, dengan catatan perlu melakukan tindakan perbaikan
pembelajaran dalam aktivitas belajar sambil bermain anak.

Pemanfaatan bahan limbah anorganik bagi usia RA/TK merupakan kegiatan bermain
dan memiliki unsur pendidikan yang kompleks, disamping harganya yang murah dan menarik
bagi anak, juga bahannya banyak dan mudah diperoleh disekitar lingkungan anak, maka
dipandang perlu untuk melakukan upaya-upaya perbaikan dalam program pelaksanaan
kegiatan pengembangan potensi anak. Upaya tersebut, dilakukan sebagai bentuk tanggung
jawab kongkrit dan kewajiban untuk mengoptimalkan perkembangan kecerdasan visualspasial yang dimiliki anak, yang mana penulis memandangnya masih memiliki peluang yang
potensial untuk lebih dikembangkan lagi.
Bertolak dari keinginan pada latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk
menerapkan kegiatan memanfaatan bahan limbah anorganik dalam meningkatkan kecerdasan
visual-spasial anak RA/TK Al-Muminin Kendari. Ketertarikan ini, selanjutnya mendorong
penulis dan berkolaborasi dengan guru RA/TK Al-Muminin kota Kendari untuk
melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas dengan judul Meningkatkan Kecerdasan VisualSpasial Anak Dengan Memanfaatkan Bahan Limbah Anorganik Pada Anak Kelompok B2 di
RA/TK Al-Muminin kecamatan Kambu Kota Kendari.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas , maka permasalahan yang akan dijawab dalam
penelitian ini adalah Apakah melalui pemanfaatan bahan limbah anorganik dapat
meningkatkan kecerdasan visual spasial pada anak kelompok B2 di RA/TK Al-Muminin
kecamatan Kambu kota Kendari?
C. Tujuan Penelitian
Mengacu pada rumusan masalah diatas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam
penelitian ini adalah untuk meningkatan kecerdasan visual-spasial pada anak kelompok B2 di
RA/TK Al-Muminin kecamatan Kambu kota Kendari melalui pemanfaatan bahan limbah
anorganik.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat bermanfaat :

1. Bagi anak didik kelompok B2 RA/TK Al-Muminin kecamatan Kambu kota Kendari: agar
mereka terstimulasi sehingga memiliki pola pikir, daya nalar dan pola berimajinasi secara

kompleks, motivasi positif, respon, aktif, kreatif dan meningkatkan interaksi positif antar
mereka (anak).
2. Dari segi teoritis/keilmuwan, hasil penelitian ini diharapkan menjadi kontribusi khasanah
ilmiah dalam mengembangkan kecerdasan visual- spasial anak RA/TK Al-Muminin melalui
pemanfaatan bahan limbah anorganik yang banyak terdapat disekitar lingkungan anak sesuai
dengan karakteristik dan kebutuhan anak secara khusus dan memperkaya kajian ilmu
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada umumnya.
3. Bagi guru RA/TK Al-Muminin kecamatan Kambu kota Kendari sebagai tambahan
pengetahuan keprofesian yang selalu dituntut untuk melakukan upaya inovatif sebagai
implementasi berbagai teori dan teknik pembelajaran bagi anak usia dini di RA/TK serta
bahan ajaran yang dapat dikembangkan lebih lanjut dan dipakainya dalam kegiatan belajar
sambil bermain bagi anak didiknya terutama dalam hal meningkatkan kecerdasan visualspasial anak usia dini.
4. Bagi Lembaga PAUD/RA/TK Al-Muminin kecamatan Kambu kota Kendari dan bagi pihakpihak yang berkompeten dengan masalah perkembangan anak usia dini, diharapkan hasil
penelitian ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan informasi untuk menyusun lankahlangkah yang lebih konkrit dan dalam penyusunan kebijakan usaha pengembangan dan
peningkatan kecerdasan visual-spasial anak usia dini di RA/TK dan sekolah PAUD lain yang
sederajat, khususnya yang relevan dengan pemanfaatan bahan limbah anorganik yang ada
dilingkungan sekitar sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kecerdasan visualspasial anak.
5. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis serta sebagai bahan rujukan atau kajian
lebih lanjut bagi peneliti selanjutnya dalam melakukan penelitian yang lebih luas dan
mendalam mengenai peningkatan kecerdasan visual-spasial anak usia RA/TK, khususnya
dengan memanfaatkan bahan limbah anorganik yang banyak terdapat dilingkungan sekitar.
E. Defenisi Operasional
Untuk menyamakan persepsi dan menghindari terjadinya kesalahan penafsiran terhadap
aspek-aspek atau variabel-variabel pengamatan dalam penelitian ini, maka perlu untuk
diperjelas terlebih dahulu batasan-batasan konsepsinya pada bagian defenisi operasional,
yakni seperti berikut:

1. Kecerdasan visual-spasial adalah kemampuan untuk membentuk suatu gambaran tentang tata
ruang didalam pikiran. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada warna, garis, bentuk, ruang
dan hubungan antar unsur-unsur tersebut. Anak dengan kecerdasan visual-spasial yang tinggi
cenderung berpikir secara visual. Mereka kaya khayalan internal (internal imagery) sehingga
cenderung imajinatif dan kreatif.
2. Pemanfaatan bahan limbah anorganik yang dimaksud adalah suatu kegiatan pengelolaan
sumber pembelajaran berupa penggunaan atau pemanfaatan bahan limbah anorganik yang
terdapat di lingkungan sekitar anak untuk tujuan peningkatan kecerdasan visual spasial anak
dalam kegiatan belajar sambil bermain di RA/TK Al-Muminin kecamatan Kambu kota
Kendari. Melalui pemanfaatan bahan limbah anorganik itu, diharapkan dapat menjadi bahan
pembelajaran yang memfasilitasi capaian perkembangan kecerdasan visual-spasial anak
secara optimal sesuai yang diharapkan.
3. Bahan limbah anorganik yang dimaksud adalah bahan bekas atau bahan sisa pakai yang
terbuat dari bahan plastik dan dianggap tidak memiliki manfaat yang terdapat dilingkungan,
seperti: bekas minuman ringan (bekas; aqua gelas, teh gelas, juice gelas, dan lain sejenisnya),
bekas botol minuman plastik, bekas pembungkus makanan dari plastik, dan lain sebagainya.
Yang semua bahan limbah anorganik tersebut, dimanfaatkan dalam kegiatan belajar sambil
bermain anak didik (anak RA/TK Al-Muminin kecamatan Kambu kota Kendari), dalam
rangka meningkatkan kecerdasan visual-spasial anak didik.

Penelitian ini berlatar belakang pada rendahnya kemampuan motorik halus anak pada
pembelajaran origami. Hal ini disebabkan karena kegiatan pembelajaran origami jarang
sekali diberikan kepada anak. Dari fakta tersebut, penyusun mencoba mengatasi
permasalahan dalam usaha mengembangkan motorik halus anak dalam berolah tangan.
Dengan bimbingan dan motivasi serta memberikan pembelajaran origami yang dilakukan
secara berulang-ulang, diharapkan anak akan lebih terampil dan menyenangi kegiatanini
Penelitian bertujuan untuk (1) mendiskripsikan Penerapan Origami untuk meningkatkan
kemampuan motorik halus pada anak (2) mendiskripsikan peningkatan kemampuan motorik
halus melalui penerapan origami pada anak (3) mendiskripsikan aktifitas motorik halus ketika
anak bermain origami
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Penelitian Tindakan Kelas
dengan dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan
refleksi. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi dan dokumentasi. Penelitian
ini dilakukan di Kelompok B TK Pertiwi I Talun Kabupaten Blitar dengan subyek sebanyak
22 anak, terdiri dari 12 anak perempuan dan 10 anak laki-lakiHasil Penelitian menunjukkan
bahwa (1) origami dapat diterapkan untuk meningkatkan motorik halus anak melalui tema
binatang (2) penerapan origami dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak (3)
motorik halus yang berkembang melalui bermain origami ialah ketepatan dan kerapian
melipat kertas. Pada siklus I dari rata-rata 55% meningkat menjadi rata-rata 75% pada siklus
II.
Berdasarkan hasil analisa penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan
origami dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan motorik halus pada anak. Disarankan
pada pendidik untuk menerapkan kegiatan pembelajaran origami untuk mengembangkan
kemampuan motorik halus pada anak usia dini.