Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Leukemia adalah proliferasi ganas sel induk hemopoetik dalam sumsum tulang.
Leukemia biasanya terjadi pada leukosit. Leukosit yang mengalami keganasan akan
memperbanyak diri secara tidak terkendali, sehingga terbentuk sel yang tidak normal dan
tidak berfungsi. Leukosit ganas akan mendesak pertumbuhan leukosit normal, juga
eritrosit dan trombosit. Leukosit ganas ini beredar secara sistemik kemudian dapat
disertai infiltrasi ke organ lain. Sel leukemia juga tumbuh pada jaringan hemopoetik
primitif (ekstrameduler), sehingga menimbulkan pembesaran lien, hepar, dan kelenjar
limfe.
Penyebab leukemia belum diketahui secara pasti. Menurut para peneliti, leukemia
lebih banyak menyerang pria dibanding wanita dan orang kulit putih lebih banyak
menderita leukemia dibanding orang kulit hitam. Pada leukemia, karena sistem
pertahanan tubuh yang diserang (leukosit) sehingga penderita akan mudah terkena
infeksi. Oleh karena itu, peran perawat sangat dibutuhkan dalam menangani kasus ini.
Dalam makalah ini, penulis juga akan membahas kasus pada Ny. S yang
menderita leukemia. Diharapkan kasus ini, dapat menjadi pembelajaran bagi pembaca
agar lebih memahami penyakit leukemia itu sendiri.
B. Rumusan Masalah
Berdasarakan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari makalah ini
yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Bagaimana anatomi dan fisiologi dari darah itu?


Apakah penyakit leukemia itu?
Bagaimana etiologi dan manifestasi klisnis dari penyakit tersebut?
Bagaimana tinjauan teoritis asuhan keperawatan penyakit leukemia?
Bagaimana pengkajian Gordon dan pemeriksaan fisik pada kasus Ny. S?
Diagnosa apa saja yang ditegakkan dari kasus Ny. S tersebut?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka makalah ini bertujuan untuk:
1

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Memenuhi tugas keperawatan dewasa II tentang penyakit pada sistem hematologi.


Mengetahui anatomi dan fisiologi organ.
Mengetahui definisi penyakit leukemia.
Mengetahui etiologi dan manifestasi klisnis dari penyakit.
Mengetahui tinjauan teoritis asuhan keperawatan penyakit leukemia
Mengetahui pengkajian Gordon dan pemeriksaan fisik pada kasus Ny. S
Mengetahui diagnosa yangditegakkan dari kasus Ny. S.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Fisiologi Organ
Darah adalah suatu jaringan tubuh yang terdapat di dalam
pembuluh darah yang warnanya merah. Pada tubuh yang sehat atau
orang dewasa terdapat darah sebanyak kira-kira 1/13 dari berat badan
atau kira-kira 4 sampai 5 liter. Keadaan jumlah tersebut pada tiap organorgan tidak sama tergantung pada umur, pekerjaan, keadaan jatung atau
pembuluh darah.
Fungsi darah terdiri atas:
1) Sebagai alat pengangkut
2) Sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan bibit penyakit dan racun yang
akanmembunuh tubuh dengan perantaraan leukosit, anti bodi / zat-zat anti racun
3) Menyebarkan panas ke seluruh tubuh
Bagian-bagian darah:
1. Air

2. Protein :

91%
8% (albumin, globulin, protombin dan fibrinogen)

3. Mineral : 0,9%

(Natrium

Klorida,

Natrium

Bikarbonat,

Garam,

Posphatt,

Magnesium dan Asam Amino)


Darah terdiri dari 2 bagian yaitu:
1)

Sel darah ada 3 macam yaitu:


a. Eritrosit (sel darah merah)
b. Leukosit (sel darah putih)
c. Trombosit (sel pembeku darah)

2)

Plasma darah

1) Sel Darah
a. Eritrosit
Ialah bentuknya seperti cakram / bikonkaf dan tidak mempunyai inti.
Ukurannya kira-kira 7,7 unit (0,007 mm) diameter tidak dapat bergerak. Banyaknya
kira-kira 5 juta dalam 1 mm3 (4 - 4 juta).Warnanya kuning kemerah-merahan,
karena di dalamnya mengandug suatu zat yang disebut hemoglobin. Warna ini akan
bertambah merah jika di dalamnya banyak mengandung O2.
Fungsinya mengikat O2 dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh
jaringan tubuh dan mengikat CO2 dari jaringan tubuh dikeluarkan melalui paruparu.Jumlah eritrosit normal pada orang dewasa kira-kira 11,5 15 gram dalam 100
cc darah. Normal Hb wanita 11,5 mg% dan Hb laki-laki 13,0%. Di dalam tubuh
banyaknya sel darah merah ini bisa berkurang, demikian juga banyaknya hemoglobin
dalam sel darah merah.Apabila keduanya berkurang maka keadaan ini disebut
anemia, yang biasanya hal ini disebabkan oleh karena pendarahan yang hebat, hamahama penyakit yang menghanyutkan eritrosit dan tempat pembuatan eritrosit sendiri
terganggu.
b.

Leukosit
Ialah keadaan bentuk dan sifat-sifat leukosit berlainan dengan eritrosit dan

apabila kita periksa dan kita lihat bahwa di bawah mikroskop maka akan terlihat
bentuknya yang dapat berubah-ubah dan dapat bergerak dengan perantaraan kaki
palsu (pseudopodia), mempunyai bermacam-macam inti sel sehingga ia dapat
dibedakan menurut inti selnya. Warnanya bening (tidak berwarna), banyaknya dalam
1 mm3 kira-kira 6.000 sampai 9.000
Fungsinya:
- Sebagai serdadu tubuh yaitu, membunuh dan memakan bibit penyakit / bakteri
yang masuk ke dalam tubuh jaringan RES (System Retikulo Endotel), tempat
-

pembiakannya di dalam limpa dan kelenjar limfe.


Sebagai pengangkut yaitu, mengangkut / membawa zat lemak dari dinding usus
melalui limpa uterus ke pembuluh darah.Hal ini disebabkan sel leukosit yang
biasanya tinggal di dalam kelenjar limfe, sekarang beredar di dalam darah untuk
mempertahankan tubuh terhadap serangan bibit penyakit tersebut. Jika jumlah
4

leukosit dalam darah melebihi 10.000/mm3 disebut leukotosis dan kurang 5.000 /
mm3 leukopenia.
Macam-macam leukosit meliputi:
1.

Agranulosit

Sel leukosit yang tidak mempunyai granula di dalamnya, yang terdiri dari:
a. Limfosit
Macam leukosit yang dihasilkan dari jaringan RES dan kelenjar limfe, bentuknya
ada yang besar dan ada yang kecil, di dalam sitoplasmanya tidak terdapat granula
dan intinya besar, banyaknya 20 25% dan fungsinya membunuh dan memakan
bakteri yang masuk ke dalam jaringan tubuh.
b. Monosit
Terbanyak dibuat di sum-sum tulang merah, besarnya lebih besar dari limfosit,
fungsinya sebagai fagosit dan banyaknya 38%.Di bawah mikroskop terlihat
bahwa protoplasmanya lebar, warnanya biru sedikit abu-abu, mempunyai bintikbintik sedikit kemerah-merahan.Inti selnya bulat dan panjang warnanya
2.

lembayung muda.
Granulosit

Disebut juga leukosit granular terdiri dari:


a) Neutrofil atau pulmor nuclear leukosit, mempunyai inti sel yang berangkai
kadang-kadang seperti terpisah-pisah, protoplasmanya banyak bintik-bintik
halus / granula, banyaknya 60 70%
b) Eosinofil, ukuran dan bentuknya hampir sama dengan netrofil tetapi granula
dalam sitoplasmanya lebih besar, banyaknya kira-kira 2 4%
c) Basofil, sel inti kecil dan pada eosinifil tetapi mempunyai inti yang bentuknya
teratur, di dalam protoplasmanya terdapat granula-granula besar. Banyaknya %.
Dibuat di sum-sum merah, fungsinya tidak diketahui

c. Trombosit ialah merupakan benda-benda kecil yang mati yang bentuk dan
ukurannya bermacam-macam, ada yang bulat, ada yang lonjong, warnanya putih,
banyaknya normal pada orang dewasa 200.000 300.000 mm3.Fungsinya
memegang peranan penting di dalam pembekuan darah. Jika banyaknya kurang
dari normal, maka kalau ada luka darah tidak lekas membeku sehingga timbul
pendarahan yang terus-menerus. Trombosit lebih dari 300.000 disebut
trombositosis.

Trombosit

yang

kurang

dari

200.000

disebut

trombositopenia.Terjadinya pembekuan darah di dalam plasma darah terdapat


suatu zat yang turut membantu terjadinya peristiwa pembekuan darah yaitu Ca 2+
dan fibrinogen mulai bekerja apabila tubuh medapat luka.Hemoglobin ialah
protein yang kaya akan zat besi. Jumlah hemoglobin dalam darah normal ialah
kira-kira 15 gram setiap ml darah, dan ini jumlahnya biasa disebut 100 persen.
2) Plasma darah ialah bagian darah yang encer tanpa sel-sel darah, warnanya bening
kekuning-kuningan. Hampir 90% dari plasma darah terdiri dari air, disamping itu
terdapat pula zat-zat lain yang terlarut di dalamnya.
Zat-zat yang terdapat dalam plasma darah:
1. Fibrinogen yang berguna dalam peristiwa pembekuan darah.
2. Garam-garam mineral (garam kalsium, kalium, natrium dan lain-lain) yang
berguna dalam metabolisme dan juga mengadakan osmotil
3. Protein darah (albumin, globulin) meninggalkan viskositosis darah dan juga
menimbukan tekanan osmotic untuk memelihara keseimbangan cairan dalam
tubuh
4. Zat makanan (asam amino, glukosa, mineral dan vitamin)
5. Hormon yaitu suatu zat yang dihasilkan dari kelenjar tubuh
6. Anti bodi / anti toksin
(Drs. Syaifuddin, B. Ac, 1992: 70)

B. Landasan Teoritis Penyakit


1. Definisi
Setelah dilakukan perawatan, klien diharapkan mampu:
Leukemia adalah proliferasi tak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam
sumsum tulang menggantikan elemen sumsum tulang normal (Smeltzer, S C and Bare,
B.G, 2002 : 248 ).
Leukemia adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel darah berupa proliferas
ipatologis sel hemopoetik muda yang ditandai oleh adanya kegagalan sumsum tulang
dalam membentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi kejaringan tubuh yang lain.
(AriefMansjoer, dkk, 2002 : 495).
Berdasarkan defenisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa leukemia adalah
suatu penyakit keganasan /penyakit kanker yang menyerang sel darah putih yang terdapat
di sumsum tulang sehingga sirkulasi produksi sel darah putih berlebihan atau tidak
terkontrol sehingga mengganggu sel-sel normal lainnya.
KlasifikasiLeukemia:
a. Leukemia Mioloblastik
1) Leukemia Mieloblastik Akut (LMA)
Angka kejadian 80% leukemia akut pada orang dewasa. Permulaannya mendadak
atau progresif dalam masa 1 6 bulan, jika tidak diobati, kematian kira-kira 3-6 bulan.
Insiden pada pria dan wanita 3 : 2.
2) Leukemia Mieloblastik Kronik (LMK)
Paling sering terjadi pada usia pertengahan (orang dewasa) umur 20-60 tahun
puncak kejadian pada umur 40 tahun, dapat juga terjadi pada anak-anak. (Sylvia, 1995).
Leukemia mieloblastik dimulai dengan produksi sel mielogenosa muda yang bersifat
kanker disumsum tulang dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh, sehingga sel darah
putih diproduksi diberbagai organ ekstramedular terutama di nodus limfe, limpa dan hati.

b. Leukemia Limfoblastik
1) Leukemia Limfoblastik Akut (LLA)
Merupakan kanker darah yang paling sering menyerang anak-anak berumur
dibawah umur 15 tahun, dengan puncak insidens atnara umur 3 4 tahun, insiden pada
pria dan wanita 5 : 4.
2) Leukemia Limfoblastik Kronik (LLK)
Merupakan suatu gangguan limfoproliferatif yang ditemukan pada kelompok
umur tua ( 60 tahun), pada pria dan wanita angka kejadian 2:1.Leukemia limfogenosa
disebabkan oleh produksi sel limfoid yang bersifat kanker, biasanya dimulai dalam nodus
limfe atau jaringan limfogenosa yang lain dan selanjutnya menyebar ke area tubuh
lainnya.
2. Etiologi
Penyebab yang pastibelumdiketahui, akantetapiterdapat faktor predisposisi yang
menyebabkan terjadinya leukemia, yaitu
a. Faktorgenetik : virus tertentumenyebabkanterjadinyaperubahanstruktur gen (Tcell
Leukemia Lhymphoma Virus/ HLTV).
b. Tingkat radiasi yang tinggi
Orang orang yang terpapar radiasi tingkat tinggi lebih mudah terkena leukemia
dibandingkan dengan mereka yang tidak terpapar radiasi. Radiasi tingkat tinggi
bisa terjadi karena ledakan bom atom seperti yang terjadi di Jepang. Pengobatan
yang menggunakan radiasi bisa menjadi sumber dari paparan radiasi tinggi.
c. Obat-obatimunosupresif, obat-obatkardiogenikseperti diethylstilbestrol.
d. Orang orang yang bekerja dengan bahan bahan kimia tertentu
Terpapar oleh benzene dengan kadar benzene yang tinggi di tempat kerja dapat
menyebabkan leukemia. Benzene digunakan secara luas di industri kimia.
Formaldehid juga digunakan luas pada industri kimia, pekerja yang terpapar
formaldehid memiliki resiko lebih besar terkena leukemia.
e. Faktorherediter, misalnyapadakembarmonozigot.
f. Kemoterapi

Pasien kanker yang di terapi dengan obat anti kanker kadang kadang
berkembang menjadi leukemia. Contohnya, obat yang dikenal sebagai agen
alkilating dihubungkan dengan berkembangnya leukemia akhir akhir ini.
g. Down Syndrome dan beberapa penyakit genetik lainnya
Beberapa penyakit disebabkan oleh kromosom yang abnormal mungkin
meningkatkan resiko leukemia.
h. Myelodysplastic syndrome
Orang orang dengan penyakit darah ini memiliki resiko terhadap berkembangnya
leukemia myeloid akut.
i. Fanconi Anemia
Menyebabkan akut myeloid leukemia
3. Manifestasi klinik / Tanda dan Gejala
a. Gejala yang khas adalah pucat, panas dan perdarahan (perdarahan dan anemia
adalah manifestasi utama).
1)

Limfadenopatidanhepatosplenomegali
Hal ini disebabkan karena ekstramedular juga terlibat (sel kanker menyebar ke
seluruh sehingga limfe, hati dan limpa menaikkan produksi sel darah putih).

b.

Gejala yang tidak khas ialah sakit sendi atau sakit tulang yang dapat
disalah tafsirkan sebagai penyakit reumatik.

c.

Gangguanpada system syarafpusat


Dapat terjadi sakit kepala, muntah, kejang dan gangguan penglihatan.

d.

Gejala lain
Leukemia pada alat tubuh seperti Lesi purpura pada kulit, efusi pleura, kejang
pada leukemia serebral.
Pardarahan pada leukemia dapat berupa ekimosis, petekie, perdarahan
gastrointestinal.

Manifestasi klinis yang dapat dilihat atau dilaporkan klien atau keluarga
secara langsung :
-

Pilek tidak sembuh-sembuh

Pucat, lesu, mudah terstimulasi

Demam, anorexia

Berat badan menurun

Ptechie, memar tanpa sebab

Nyeri pada tulang/persediaan

Nyeri abdomen

Sedangkan manifestasi klinis menurut klasifikasinya :


1. Leukemia Mieloblastik Akut

Rasa lemah

Pucat

Nafsu makan hilang

Anemia

Ptekie

Perdarahan

Nyeri tulang

Infeksi

Pembesaran kelenjar getah bening, limpa, hati dan kelenjar mediatinum

Kadang kadang ditemukan hipertrofi gusi khususnya pada M4 dan M5

Sakit kepala

2. Leukemia Mieloblastik Kronik

Rasa lelah

Penurunan berat badan

Rasa penuh di perut

Kadang kadang rasa sakit di perut


10

Mudah mengalami perdarahan

Diaforesis meningkat

3. Leukemia Limfositik Akut


Rasa lelah

Panas tanpa infeksi

Purpura

Nyeri tulang dan sendi

Anemia

Macam macam infeksi

Penurunan berat badan

Ada massa abnormal

Muntah

Gangguan penglihatan

Nyeri kepala

4. Leukemia Limfositik Kronik

4.

Mudah terserang infeksi

Anemia

Lemah

Pegal pegal

Trombositopenia

Respons antibodi tertekan

Sintesis immonuglobin tidak cukup

Pemeriksaan Penunjang dan Diagnostik


1)

Pemeriksaan laboratorium
1)

Darahtepi

11

Gejala yang terlihat berdasarkan kelainan sumsum tulang yaitu berupa


pansitopenia, limfositosis yang dapat menyebabkan gambaran darah tepi
monoton dan terdapatnya sel blast.Terdapatnya leukosit yang imatur.
2)

Kimia darah
Kolesterol

mungkin

rendah,

asam

urat

dapat

meningkat,

hipogamaglobinemia.
3)

Sumsumtulang
Hanya terdiri dari sel limfopoetik patologis sedangkan sistem lain terdesak
(aplasia sekunder).
Aspirasi sumsum tulang (BMP) = hiperseluler terutama banyak terdapat
sel muda.

2) Pemeriksaan lain :
1)

Biobsilimpa
Memperlihatkan proliferasi sel leukemia dan sel yang berasal dari jaringan
limpa akan terdesak seperti limfosit normal, RES, granulosit, pulp cell.

2)

Lumbal punksi; yaitu untuk mengetahui apakah SSP


terinfiltrasi yang dapat dilihat dari peningkatan jumlah sel patologis dan
protein (CSS). Kelainan ini dapat terjadi setiap saat pada perjalanan
penyakit baik dalam keadaan remis atau pada keadaan kambuh.

3)

Sitogenik
Pemeriksaan pada kromosom baik jumlah maupun morfologisnya.

5. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan


a. Penatalaksanaan Medik
i. Transfusidarah
Biasanya diberikan jika kadar Hb < 6 gr%. Pada trombositopenia yang berat
dan perdarahan masif, dapat diberikan transfusi trombosit, jika ada tanda DIC
dapat diberi heparin.
ii. Kortikosteroid

12

(Prednison, kortison) deksametason dsb. Setelah dicapai remisi dons dikurangi


sedikit demi sedikit dan akhirnya dihentikan.
iii. Sitostatika
Umumnya sitostatika diberikan dalam kombinasi bersama-sama dengan
prednison.
Efek ; alopesia, stomatitis, leucopenia, infeksi sekunder (kandidiasit)
Jika kadar leukosit < 2000/m3 pemberian harus hati-hati.
iv. Imunoterapi
Merupakan cara pengobatan yang baru, imunoterapi diberikan jika telah
tercapai remisi dan jumlah sel leukemia cukup rendah (105-106).
b. Pelaksanaan Kemoterapi
Terdapat 3 fase pelaksanaan kemoterapi :
1)

Faseinduksi
Dimulai 4-6 mg setelah Dx ditegakkan. Pada fase ini diberikan
:Kortikosteroid (Prednison), vincristin, dan L-asparaginase.
Fase ini dinyatakan berhasil jika tanda-tanda penyakit berkurang atau tidak
ditemukan jumlah sel muda kurang dari 5% dalam sumsum tulang.

2)

Fase profilaksis sistem saraf pusat


Pada fase ini diberikan therapy methotrexate, cytrabine dan hydrocortison
melalui intratekal untuk mencegah invasi sel leukemia ke otak.
Therapy radiasi kranial dilakukan hanya pada pasien leukemia yang
mengalami gangguan sistem saraf pusat.

3)

Konsolidasi
Pada fase ini kombinasi pengobatan dilakukan untuk mempertahankan remisi
dan mengurangi jumlah sel-sel leukemia yang beredar dalam tubuh.
Secara berkala dilakukan pemeriksaan darah lengkap untuk menilai respon
sumsum tulang terhadap pengobatan. Jika terjadi supresi sumsum tulang,
maka pengobatan dihentikan untuk sementara atau posisi obat dikurangi.

6. Komplikasi
a.

Sepsis
13

b.

Perdarahan

c.

Regimen terapi, termasuk transpalntasi sumsum tulang, dihubungkan


dengan

depresi

sumsum

tulang

temporer

dan

peningkatan

risiko

perkembangan infeksi berat yang dapat menyebabkan kematian.


d.

Bahkan pada terapi dan remisi yang berhasil, sel leukemik tetap ada,
meninggalkan gejala sisa penyakit. Implikasi untuk prognosis dan pengobatan
masih belum jelas.

e.

Iron Deficiency anemia (IDA)

f.

Kematian

7. WOC
(terlampir)
C. Landasan Teoritis Asuhan Keperawatan :
1. Pengkajian
a. Anamnesa
1. Identitas klien
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, tanggal masuk, tanggal pengkajian, no
RM, diagnosa medis, dan penanggung jawab.
2. Keluhan Utama atau Alasan Kunjungan
Pasien leukemia biasanya mengeluhkan lemah, sakit kepala dan nyeri pada tulang.
3 Riwayat kesehatan
a. Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya pasien masuk rumah sakit untuk persiapan kemoterapi atau muncul
gejala-gejala seperti perdarahan, hepatomegali.
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Pengobatan kanker sebelumnya. Jika pasien pernah mengalami kemoterapi
sebelumnya akibat kanker yang diderita kemungkinan akan memicu terjadinya
leukemia akibat rusaknya sel-sel darah putih.
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Adanya anggota keluarga yang mengalami penyakit leukemia, adanya gangguan
hematologis.

14

B. Pengkajian Kesehatan Menurut Fungsional Gordon


1. Pola Persepsi dan Penanganan Kesehatan
Pada umumnya klien yang mengidap penyakit leukimia dikarenakan faktor
genetik.Pada umumnya klien datang ke rumah sakit dengan keluhan demam, pucat,
lesu, anorexia, nyeri pada tulang dan persendian, nyeri abdomen, hepatomegali, dan
splenomegali.
2. Nutrisi dan Metabolik
Pada umunya klien mengalami penurunan nafsu makan, sering muntahsehingga
berat badan menurun dan terdapat bintik-bintik merah pada kulit klien.
3. Eliminasi
Pada umunya klien mengalami diare dan penurunan haluaran urine, kadang
adanya darah pada urine akibat perdarahan. Jika ada perdarahan di lambung maka
fesesnya berwarna hitam.
4. Aktifitas dan Latihan
Pada umunya aktifitas klien terganggu karena klien dengan penyakit leukimia
pada umumnya sering merasa cepat lelah dan klien tampak pucatserta mengalami
nyeri pada persendian dan nyeri abdomen. Nyeri tulang akibat penumpukan sel di
sumsum tulang, yang menyebabkan peningkatan tekanan dan kematian sel. Tidak
seperti nyeri yang semakin meningkat, nyeri tulang berhubungan dengan
leukemia biasanya bersifat progresif.
5. Tidur dan Istirahat
Pada umunya klien mengalami sulit tidur karena nyeri yang dirasakan, Klien
gelisah dan tidur klien kurang nyenyak karena merasa sesak napas.
6. Kognitif Persepsi
Pada umunya klien mengalami masalah pada penglihatan dan sering mengalami
nyeri.
7. Persepsi diri Konsep diri
Pada umumnya klien dengan penyakit leukimia merasa tidak berdaya terhadap
dirinya, sering merasa cemas, dan sering merasa takut.

15

8. Peran Hubungan
Pada umunya peran dan hubungan klien dengan keluarga tidak terganggu, klien
umumnya pendiam dan malas berkomunikasi dengan orang disekitarnya karena
perasaan takut dan cemas dengan penyakit yang dideritanya.
9. Seksualitas dan Reproduksi
Pada umumnya terganggu.
10. Koping Toleransi stres
Pada umunya klien tidak bisa berkonsentrasi dalam melakukan aktifitas. Klien
merasa cemas dan takut dengan penyakit yang dideritanya
11. Keyakinan Nilai
Pada umunya klien dan keluarga klien menyerahkan semuanya kepada Tuhan
untuk kesembuhannya.Terkadang pasien merasa Tuhan tidak adil dengannya
akibat penyakit yang diderita (hubungan spiritualnya kurang baik).
C.

Pemeriksaan fisik
a. Keadaan Umum : Takikardia, bradipneu, suhu kadang meningkat, demam,
menggigil
b. Kepala dan Rambut : Biasanya kulit kepala terkelupas dan merah, rambut banyak
yang rontok akibat kemoterapi
c. Leher : Biasanya adanya pembesaran pada kelenjar limfe
d. Mata : Biasanya konjungtiva pucat biasanya pada leukemia dengan tanda dan
gejala anemia, perdarahan retina, gangguan penglihatan
e. Hidung : Biasanya ada epitaksis
f. Mulut dan tenggorokan : Biasanya sering sariawan, mukosa bibir kering/pucat,
ada perdarahan pada gusi
g. Thoraks : Biasanya pasien menderita CLL, ditemukan efusi pleura, suara nafas
ronkhi, frekuensi napas meningkat, dispneu
h. Abdomen : Biasanya ada hepatomegali, pembesaran kelenjar limpa, nyeri ulu hati
jika ada perdarahan
i. Ekstremitas : Biasanya ada nyeri pada tulang dan sendi
j. Integumen : Biasanya akral dingin, pucat, ada petekie, ekimosis, purpura,
hematoma
k. Neurologi : Biasanya pasien pusing, sakit kepala, gelisah, kesadaran turun
l. Anus : ada perdarahan

Pemeriksaan Penunjang :

16

Pemeriksaan darah lengkap : (Hemoglobin < 10 gr/100 ml), retikulosit rendah,


trombosit sangat rendah (<50.000/mm), Leukosit bisa menurun (ALL dan CLL), dan

bisa meningkat (CML), dan hematokrit.


Foto dada dan biopsy nodus limfe
Penilaian PCV (Packed Cell Volume) : adalah pemeriksaan hematokrit untuk melihat
presentase sel-sel darah dalam darah seluruhnya.

2. Perumusan diagnosa (NANDA), Kriteria Hasil (NOC), dan Intervensi Keperawatan


(NIC)
Diagnosa (NANDA)
Nyeri

akut

berhubungan

dengan pembesaran organ,


nodus limfe, sumsum tulang
yang dikemas dengan sel
leukemik

Kriteria Hasil (NOC)

Intervensi Keperawatan

(NIC)
Setelah dilakukan tindakan - Kaji adanya nyeri
- Observasi TTV
keperawatan 1 x 24 jam
- Posisikan nyaman dan
nyeri
berkurang
atau
sokong sendi ektremitas
terkontrol dengan kriteria
dengan bantal
Hasil :
- Evaluasi dan dukung
-

Ny
eri terkontrol

Me
nunjukkan

perilaku

penanganan nyeri
-

Ta
mpak dan mampu untuk
istirahat dan tidur

mekanisme koping pasien


- Bantu/berikan
aktivitas
terapeutik,
relaksasi
- Berikan

teknik
obat

indikasi,
contoh

analgesic
:

asematinofen

(Tylenol)
- Narkotik, missal : kodein,
meperidin
morfin,

(demetol),
hidromorfan

(dilaudis)
Resiko tinggi perdarahan Setelah dilakukan tindakan - Kaji
keadaan
berhubungan
trombositopenia

sesuai

kulit

dengan keperawatan selama 1 x 24

(membrane mukosa)
- Pantau TD dan Nadi
jam, resiko perdarahan
- Hindari tindakan yang
berkurang atau tidak terjadi
dapat membuat cedera
perdarahan, dengan kriteria
jaringan/perdarahan
hasil :
- Anjurkan klien untuk diet
17

- TD dan Nadi Stabil


makanan halus
- HB dalam batas normal - Awasi pemeriksaan Lab,
(> 10 g/100 ml)
misal trombosit, HB/HT
- Trombosit dalam batas - Berikan SDM, trombosit
Resiko

tinggi

berhubungan

normal (>50.000/ml)
infeksi Setelah dilakukan asuhan - Kaji adanya nyeri tekan

dengan

leukosit yang abnormal

sel keperawatan 2 x 24 jam,

pada area eritema


- Observasi suhu tubuh
kondisi klien baik dan
- Berikan mandi kompres
resiko infeksi berkurang - Berikan periode istirahat
atau tidak terjadi infeksi

tanpa gangguan
- Berikan makanan tinggi

Kriteria Hasil :
-

Su
hu dalam batas normal
0

(36 - 37 C)
-

Le
ukosit

dalam

batas

normal
-

protein dan cairan


- Awasi pemeriksaan LAB :
DL terutama SDP, kultur
gram / sensitifitas
- Berikan
obat

sesuai

indikasi. Ex : antibiotic
- Kaji ulang foto thoraks

Pas
ien dapat mengetahui
tindakan

yang

dapat

mencegah

atau

menurunkan
Kelelahan/kelemahan

resiko

infeksi
Setelah dilakukan tindakan - Kaji tingkat kelemahan

umum berhubungan dengan keperawatan 2 x 24 jam,


anemia

kondisi

klien

membaik

(kelemahan/kelelahan

- Keadaan
membaik,
beraktivitas

tenang

lingkungan
dan

periode

istirahat tanpa gangguan


- Jadwalkan makan sekitar

berkurang)
Kriteria Hasil :

Klien
- Berikan

kemoterapi
umum - Kolaborasikan dengan tim
mampu

medis

mengenai

pengobatan

antiemetic

dan penambah darah


18

19

BAB III
Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Leukemia
Kasus
Ny. S datang ke Rumah Sakit M. Djamil pada tanggal 11 Januari 2013 dengan
keluhan sesak napas, badan lemas, sejak 4 hari yang lalu. Klien pingsan setelah beberapa saat
sampai ke tempat klien bekerja dan dibawa ke rumah sakit RSUD Payakumbuh, setelah
dilakukan pemerisaan laboraturium didapatkan Hb klien 8 gr/dl, trombosit 11.000/mm 3 ,
leukosit 8000/mm3 , sehingga mendapatkan transfuse darah 2 kholf dan trombosit 3 kholf.
Namun hasil labnya tidak menunjukkan perubahan yang membaik, setelah 3 hari dirawat
klien dirujuk ke RSUP M. Djamil untuk dilakukan pemeriksaan Lumbal pungsi dan rawatan
lebih lanjut.
A. Pengkajian Kesehatan
1. Identitas Diri Klien
Nama
: Ny. S
Umur
: 35 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat
: Jln. R.A Kartini No. 20 A Payakumbuh Utara
Agama
: Islam
Suku
: Minang
Status
: Sudah menikah
Pendidikan
: SMK
Pekerjaan
: Penjahit
Tgl MRS
: 11 Januari 2013
No. RM
: 33.34.13
2. Anamnesa
1. Keluhan utama
Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak nafas dan badan lemas.
2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Sudah 1 bulan pasien merasa mudah lelah dan badan lemas, serta nyeri di
persendian. Ketika datang ke rumah sakit (11 Januari 2013) pasien mengeluh
lemas dan juga sesak nafas. Sebelum dibawa ke rumah sakit pasien sempat
pingsan di tempat kerjanya dan dirawat di RSUD Payakumbuh selama 3 hari.
b. Riwayat kesehatan dahulu
Pasien tidak pernah mengalami penyakit ini sebelumnya, tetapi cuma sesak
nafas dan demam biasa.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit ini sebelumnya.

3. Pola Fungsional Gordon


1. Persepsi dan Manajemen Kesehatan
Pasien pernah ke puskesmas karena demam biasa serta nyeri di sendi. Tetapi
pasien menganggap itu hanya akibat kelelahan dalam bekerja. Akan tetapi setelah
disertai sesak nafas dan badan lemas sehingga pasien sempat pingsan di tempat
kerja, pasien merasa perlu dilakukan pengobatan pada dirinya.
2. Nutrisi Metabolik
Pasien makan 2-3 kali dalam sehari. Selama sakit, nafsu makan pasien menurun.
Makanan yang disediakan tidak dihabiskan, tetapi cuma setengahnya.
3. Eliminasi
BAB sehari 3x sehari, frekuensi dan warna normal, serta BAK juga normal.
4. Aktivitas Latihan
Aktivitas klien sebelumnya lancar.Namun beberapa hari sebelum ke rumah sakit,
pasien sering merasa lemas dan juga lelah.Dan setelah di rawat, pasien dibantu
untuk beraktivitas.
5. Istirahat dan Tidur
Selama sakit, tidur pasien kurang nyenyak karena nyeri pada sendi dan juga sesak
nafas yang dideritanya.
6. Kognitif Persepsi
Pasien tidak mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan.Tetapi sering
mengalami nyeri.
7. Persepsi Konsep Diri
Pasien merasa tidak berdaya terhadap dirinya, sering merasa cemas, dan sering
merasa takut.
8. Peran Hubungan
Pasien tinggal bersama suami, dan seorang anaknya.Pasien sehari-hari bekerja
sebagai tukang jahit di sebuah toko jahit.Karena sakit, pasien terpaksa
meninggalkan pekerjaanya.
9. Seksual Reproduksi
Pasien juga mengalami gangguan pada pola seksual reproduksi akibat
penyakitnya.
10. Koping Toleransi Stress
Pada umunya pasien tidak bisa berkonsentrasi.Pasien merasa cemas dan takut
dengan penyakit yang dideritanya.

11. Nilai Kepercayaan


Pasien dan keluarganya menyerahkan semuanya kepada Tuhan untuk kesembuhan
pasien.Terkadang pasien merasa Tuhan tidak adil dengannya akibat penyakit yang
diderita (hubungan spiritualnya kurang baik).
4. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Umum :
1. Keadaan umum : Lemah
2. Kesadaran : Composmentis GCS 4-5-6
3. Tanda tanda vital
Tekanan darah
: 100/60 mmHg
Nadi
: 100 x/menit
Temperatur
: 38,5C
Frekuensi pernapasan : 30 x/menit
4. Gizi : baik BB: 58 kg, TB: 156
5. Kelenjar limfe : Tidak ada pembesaran limfe colli, aksila, dan
Inguinal
6. Otot : Tidak terdapat atrofi otot
7. Tulang : Tidak ada deformitas
b. Pemeriksaan Khusus
1. Kepala
Bentuk : lonjong, simetris.
Rambut : hitam, lurus, pendek, tidak mudah dicabut.
Mata
- Konjungtiva :anemis
- Sklera : tidak ikterik
- Palpebra : terdapat edema baik kanan maupun kiri
- Refleks pupil : normal, pupil isokor 3 mm/3 mm, terdapat refleks
cahaya kanan maupun kiri.
Telinga : tidak didapatkan sekret dan perdarahan.
Hidung : tidak terdapat sekret, perdarahan, maupun napas cuping hidung.
Mulut : tidak terdapat sianosis maupun halitosis, mukosa mulut
tidak pucat, namun terdapat pembengkakan gusi.
2. Leher
Inspeksi: tidak tampak pembesaran kelenjar getah bening (KGB) leher.
Palpasi : tidak teraba pembesaran KGB leher.

3. Dada
Jantung
Inspeksi

: Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

: Iktus kordis tidak teraba

Perkusi

: Batas kanan : redup pada ICS IV PSL D


Batas kiri : redup pada ICS V MCL S

Auskultasi

: S1S2 tunggal

Paru
Inspeksi: Simetris, Tidak terdapat retraksi, Tidak terdapat ketinggalan
gerak
Palpasi: Fremitus raba
Auskultasi: Suara dasar Rhonki (-), Wheezing (-)
4. Abdomen
Inspeksi : cembung
Auskultasi : Bising usus normal
Palpasi : hepar/ lien/ ren tidak teraba
Perkusi : timpani
5. Anogenital : Anus (+)
6. Extremitas :
Atas

: Akral Hangat : positif


Oedem : negatif

Bawah : Akral Hangat : positif


Oedem : negatif
d. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan darah lengkap:
Hb = 8 gr/dL
Trombosit = 11.000 /mm3
Leukosit = 8.000 /mm3
2. Foto dada dan biopsy nodus limfe
3. Penilaian PCV (Packed Cell Volume) : adalah pemeriksaan hematokrit untuk
melihat presentase sel-sel darah dalam darah seluruhnya.

B. Analisa Data Senjang


Pada pengkajian di dalam teoritis keperawatan terdapat kesenjangan antara
teoritis dengan kasus. Di dalam pengkajian teoritis pola eliminasi terjadi diare, feses
hitam sedangkan pada kasus tidak ada ditemukan. Pada pengkajian teoritis terdapat nyeri
abdomen, nyeri tulang sendi sedangkan pada kasus tidak ada ditemukan. Dalam
melakukan tahap pengkajian penulis tidak menemukan kesulitan karena data yang
tersedia lengkap dan orang tua pasien dapat diajak kerja sama.
C. Perumusan Diagnosa, Perumusan Kriteria Hasil, Perumusan Intervensi Keperawatan

sesuai Kasus
NANDA
1. Potensial Risiko infeksi
berhubungan dengan
penurunan sistem
pertahanan tubuh

NOC
Status infeksi
Indikator:
Ruam
Nyeri
Demam

NIC
Proteksi infeksi
Intervensi yang dilakukan:
- Kaji kenaikan suhu tubuh,
penampilan ruam,
menggigil, takikardi,

Do:
- klien tampak lemah
- klien tampak pucat
- Trombosit = 11.000/mm
- Leukosit = 8.000/mm

penampilan bercak putih


pada mulut
- Amati terhadap
kemerahan,
pembengkakkan, panas
atau nyeri pada mata,

Ds:
-

telinga, tenggorok, kulit,


sendi, abdomen, rektal,
dan area perineal
- Kaji terhadap batuk dan
perubahan karakter dan
warna sputum
- Berikan oral hygiene yang
sering
- Kenakan sarung tangan
steril untuk mulai
melakukan infus
- Berikan perawatan tempat
tusukan IV setiap hari,

amati terhadap tanda


infeksi
- Pastikan eliminasi
normal: hindari
penggunaan thermometer
rektal, enema, dan trauma
rektal, hindari tampon
vagina
- Hindari kateterisasi
kecuali bila memang
diperlukan. Lakukan
asepsis yang cermat jika
Kontrol nyeri

diperlukan kateterisasi.
Manajemen Nyeri

dengan efek fisiologis

Indikator:

Intervensi yang dilakukan:

dari leukemia

- Menilai faktor penyebab


- Penggunaan mengurangi

- Lakukan penilaian nyeri

2. Nyeri yang berhubungan

Do:
- klien meringis dan tampak
gelisah
- klien tampak tidak tidur
nyenyak akibat nyeri yang
dirasakannya.
Ds:
- klien mengeluh nyeri di
bagian persendian dan
abdomen
- klien mengeluh tidak bisa
tidur nyenyak akibat nyeri
yang dirasakannya

nyeri dengan non


analgesic
- Penggunaan analgesic
yang tepat
- Gunakan tanda tanda
vital memantau
perawatan
- Laporkan tanda / gejala
nyeri pada tenaga
kesehatan professional
- Menilai gejala dari nyeri
- Gunakan catatan nyeri
- Laporkan bila nyeri
terkontrol
Tingkat Kenyamanan
Indikator:
- Melaporkan
Perkembangan Fisik
- Melaporkan

secara komprehensif
dimulai dari lokasi,
karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas,
intensitas dan penyebab.
- Kaji ketidaknyamanan
secara nonverbal,
terutama untuk pasien
yang tidak bisa
mengkomunikasikannya
secara efektif
- Pastikan pasien
mendapatkan perawatan
dengan analgesic
- Gunakan komunikasi
yang terapeutik agar
pasien dapat menyatakan
pengalamannya terhadap

perkembangan kepuasan
- Melaporkan
perkembangan psikologi
- Mengekspresikan
perasaan dengan
lingkungan fisik sekitar
- Mengekspresikan
perasaan dengan
hubungan social
- Mengekspresikan

nyeri serta dukungan


dalam merespon nyeri
- Pertimbangkan pengaruh
budaya terhadap respon
nyeri
- Tentukan dampak nyeri
terhadap kehidupan
sehari-hari (tidur, nafsu
makan, aktivitas,

perasaan secara spiritual


- Melaporkan kepuasan

kesadaran, mood,

dengan tingkatan mandiri


- Menekspresikan

performance kerja dan

hubungan sosial,

kepuasan dengan Kontrol

melakukan tanggung

nyeri

jawab sehari-hari)
- Evaluasi pengalaman
pasien atau keluarga
terhadap nyeri kronik atau
yang mengakibatkan cacat
- Evaluasi bersama pasien
dan tenaga kesehatan
lainnya dalam menilai
efektifitas pengontrolan
nyeri yang pernah
dilakukan
- Bantu pasien dan keluarga
mencari dan menyediakan
dukungan.
Pemberian analgesic
Intervensi yang dilakukan:
- Menentukan lokasi ,
karakteristik, mutu, dan
intensitas nyeri sebelum

mengobati pasien
- Periksa order/pesanan
medis untuk obat, dosis,
dan frekuensi yang
ditentukan analgesik
- Cek riwayat alergi obat
- Mengevaluasi
kemampuan pasien dalam
pemilihan obat
penghilang sakit, rute, dan
dosis, serta melibatkan
pasien dalam pemilihan
tersebut
- Tentukan jenis analgesik
yang digunakan (narkotik,
non narkotik atau NSAID)
berdasarkan tipe dan
tingkat nyeri.
- Tentukan analgesik yang
cocok, rute pemberian dan
dosis optimal.
- Utamakan pemberian
secara IV dibanding IM
sebagai lokasi
penyuntikan, jika
mungkin
- Hindari pemberian
narkotik dan obat
terlarang lainnya, menurut
agen protokol
- Monitor TTV sebelum
dan sesudah pemberian
obat narkotik dengan

dosis pertama atau jika


ada catatan luar biasa.
- Memberikan perawatan
yang dibutuhkan dan
aktifitas lain yang
memberikan efek
relaksasi sebagai respon
dari analgesi
Pemberian Obat penenang
Intervensi yang dilakukan:
- Kaji riwayat kesehatan
pasien dan riwayat
pemakaian obat penenang
- Tanyakan kepada pasien
atau keluarga tentang
pengalaman pemberian
obat penenang
sebelumnya
- Melihat kemungkinan
alergi obat
- Meninjau apakahpasien
telah mentaati pembatasan
berkenaan dg aturan
makan, seperti yang
ditentukan
- Meninjau ulang tentang
contraindikasi pemberian
obat penenang
- Beritahu keluarga
dan/atau pasien tentang
efek pemberian obat
penenang

- Mengevaluasi tingkatan
kesadaran pasien dan
refleks normal sebelum
pemberian obat penenang
- Memperoleh TTV dalam
batas normal

3. Intoleransi aktivitas

Klien diharapkan mampu:

berhubungan dengan

1. Memanajemen aktivitas 1. Manajemen

kelemahan akibat anemia

sehari-hari

sesuai

dengan tingkat energy


Do :
-Klien terlihat lemah
-klien hanya terlihat
berbaring ditempat tidur
-Hb = 8 gram/dl
-Trombosit = 11.000/mm
-Leukosit = 8.000/mm
-TD = 100/60 mmHg
-Nadi = 100 x/menit

yang dimiliki oleh klien.


2. Berjalan
tanpa
menggunakan
bantu.
3. Memanajemen
tidurnya.

alat

Tindakan yang dilakukan:


aktivitas

sehari-hari sesuai dengan


tingkat

energi

yang

dimiliki oleh klien :


- kaji status fisiologis
klien terhadap tingkat
stamina sesuai dengan

pola

konteks

umur

dan

perkembangan.
- jelaskan kepada klien
mengenai

penyebab-

penyebab letih.
- Lakukan
intervensi
berupa pemberian obat

Ds :
-Klien mengatakan
badannya lemah

untuk

meningkatkan

stamina.
- Ajarkan klien tentang

-Klien mengatakan dia

teknik-teknik

pingsan sebelum masuk RS.

memanagemen tingkat

-Klien mengatakan
aktivitasnya selalu dibantu
oleh keluarga.

untuk

kelelahan.
2. jaga pola makannya
sesuai dengan pola
makan normal:
- ajarkan kepada klien

mengenai kolaborasi
makanan yang
dimakan sesuai dengan
nutrisi yang
dibutuhkan.
- Mengajarkan kepada
klien konsumsikonsumsi makanan
yang harus dijaga.
- Memberikan informasi
kepada klien mengenai
kebutuhan-kebutuhan
nutrisi.
3. Memanajemen

pola

tidur:
- Mengajarkan

klien

mengenai pola aktifitas


sebelum tidur.
- Memonitor pola tidur
klien dan gejala-gejala
yang menyimpang dari
pola tidur klien.
- Mengajarkan kepada
klien

bagaimana

mengingkatkan

rasa

nyaman.
4. Mengatur pola makan
yang teratur:
- Mengajarkan
mengenai

klien
konsep

nutrisi yang baik untuk


kesehatan.
- Memonitor

intake

makanan dan nutrisi


klien.
- Memberikan

latihan-

latihan yang rutin dan

teratur

untuk

menghindari gangguan
pola makan.
- Membantu klien untuk
mengembangkan
konsep dirinya dengan
4. Pola nafas tidak efektif
berhubungan dengan
kelemahan
Do :

KLien terlihat sesak

nafas
RR :30 x/menit

Klien mengatakan

Ds:
susah ber
nafas

Status Respirasi:
Ventilasi
Klien diharapkan mampu
menormalkan:
- Jumlah pernapasan
- Ritme pernapasan
- kedalaman inspirasi
- Retraksi dada
Sesak nafas saat
beristirahat
-Ortopnea

berat badan yang sehat.


Manajemen
Ventilasi
Mekanik : Non Invasif
Intervensi-intervensi

yang

dilakukan :
- Memonitor
kondisi

kondisiklien

yang

mengindikasikan bantuan
ventilasi non invasif.
- Memposisikan klien dalam
posisi semi-fowler.
- Memonitor
pengaturanpengaturan

ventilator

(suhu dan kelembaban).


- Memonitor gejala-gejala
yang meningkatkan status
pernafasan.
- Memonitor
ventilasi

keefektifan
pada

status

fisiologis dan psikologis


klien.
- Mengajarkan teknik-teknik
relaksasi.
Terapi Relaksasi :
Intervensi-intervensi

yang

dilakukan :
- Memberikan
kepada

klien

gambaran
mengenai

keuntungan-keuntungan,

batas-batas, dan jenis-jenis


relaksasi.
- Menetukan intervensi yang
sesuai

untuk

relaksasi

klien.
- Menciptakan kenyamanan
pada klien.
- Mengajarkan klien teknikteknik relaksasi.
- Mengevaluasi

dan

mendokumentasikan
respon

klien

terhadap

teknik relaksasi.
Terapi Aktivitas
Intervensi-intervensi

yang

dilakukan :
- Memonitor

program

aktivitas klien.
- Membantu klien

untuk

melalukan aktivitas yang


biasanya ia lakukan.
- Menjadwalkan klien untuk
latihan-latihan fisik secara
rutin.
- Membantu klien dengan
aktivitas-aktivitas fisik.
- Memonitor respon fisik,
sosial, dan spiritual dari
klien

terhadap

aktivitasnya.
- Membantu klien

untuk

memonitor kemajuan dari


pencapaian tujuan.
Pengajaran

Penentuan

Aktivitas dan Latihan


Intervensi yang dilakukan:
- Mengajarkan

klien

tentang:
a. Tujuan dan kegunaan
aktivitas dan latihan.
b. Bagaimana
cara
melakukan

suatu

aktivitas.
c. Bagaimana

cara

memonitor

toleransi

aktivitas.
d. Bagaimana

menjaga

latihan.
- Memberikan

informasi

kepada klien bagaiamana


teknik-teknik
-

untuk

menyimpan energi.
Memberikan informasiinformasi

seputar

kesehatan fisik klien.


BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil kelompok dalam merencanakan tindakan asuhan
keperawatan pada Ny. S dengan leukemia adalah :
Pada tahap pengkajian ditemukannya data subjektif, klien lemas, lemah sedangkan
pada data objektif ditemukan klien pucat, bibir pucat, conjungtiva pucat, tubuh pasien

tampak kurus.
Diagnosa keperawatan penulis temukan tiga diagnosa keperawatan yang terdiri dari

dua masalah yang aktual sedangkan satu masalah resiko tinggi yang akan terjadi.
Dalam tahap pelaksanaan dilakukan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana
yang sudah dirumuskan.

B. Saran
Setelah mempelajari dan mengamati kasus pada Ny. S, maka penulis menyarankan
diharapkan kepada perawat supaya dapat bekerja dan melakukan segala tindakan

keperawatan yang baik dan benar terutama dalam merawat pasien leukemia, perawat dituntut
keterampilannya dalam melakukan proses perawatan dan pegobatan, dianjurkan kepada
pasien agar tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat, diharapkan kepada keluarga supaya
ada kerja sama yang baik dalam melaksanakan perawatan leukemia, setiap pasien yang
mengalami penyakit leukemia.