Anda di halaman 1dari 3

TORSIO TESTIS

Definisi
Torsio Testis adalah terpeluntirnya funikulus Spermatikus yang berakibat terjadi ganguan aliran
daarh pada testis. Testis dapat berputar dalam kantong skrotum (torsio) akibat perkembangan
abnormal dari tunika vaginalis dan funikulus spermatikus dalam masa perkembangan janin.
Insersi abnormal yang tinggi dari tunika vaginalis pada funikilus akan mengakibatkan testis
dapat bergerak seperti anak genta dalam genta, sehingga testis kurang melekat pada tunika
vaginalis viseralis
Epidemiologi
Dari penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, prevalensi dari torsio testis sangat sedikit,
dilaporkan terdapat 8,6 per 100.000 laki-laki umur 10- 19 tahun( Mansbach et al, 2005 ) ang
sebagian besar disebabkan karena genetik. Sedangkam dari literature yang lain menyebutkan
bahwa torsio testis ini diderita oleh 1 diantara 4000 pria yang berumur kurang dari 25 tahun. Dan
paling banyak diderita oleh anak pada masa pubertas (12-20 tahun ). Di samping itu tidak jarang
janin yang masih berda dalam uterus atau bayi baru lahir menderita torsio testis yang tidak
terdiagnosis sehingga mengakibatkan kehilangan testis baik unilateral maupun bilateral.
Patofisiologi
Secara fisiologis otot kremaster berfungsi menggerakkan testis mendekati dan menjauhi
rongga abdomen guna mempertahankan suhu ideal untuk testis. Adanya kelainan system
penyanggah testis menyebabkan testis dapat bergerak menjadi torsio jika bergerak secara
berlebihan. Beberapa keadaan yang menyebabkan gerakan berlebih itu antara lain adalah
perubahan suhu yang mendadak seperti pada saat berenang, ketakutan, latihan yang berlebihan,
batuk, celana yang terlalu ketat, defekasi atau trauma yang mengenai skrotum, terpeluntirnya
funikulus spermatikus menyebabkan obstruksi aliran darah testis sehingga testis menjadi
hipoksia, edema testis dan iskemia pada akhirnya testis akan mengalami nekrosis.
Gambaran klinis
Biasanya pasien mengeluh tiba tiba nyeri berat pada bagian scrotal dimana muncul pada saat
istirahat, aktivitas atau olahraga, selama tidur, dan juga memiliki riwayat memiliki episode nyeri

yang mirip yang biasanya terjadi pada bagian ipsilateral. Kadang- kadang juga terdapat pasien
torsio testis yang ringan, tidak akut dan tidak ada gejala nyeri pada skrotum tapi ada nyeri
inguinal dan abdominal. Sehingga jika tidak diwaspadai sering dikacaukan dengan apendisitis
akut. Pada bayi gejalanya tidak khas yakni gelisah rewel atau tidak mau menyusui. Pada
pemeriksaan fisis testis membengkak , letaknya lebih tinggi dan lebih horizontal daripada testis
sisi kontralateral. Kadang-kadang pada torsio testis yang baru saja terjadi dapat diraba adanya
lilitan atau penebalan funikulus spermatikus keadaan seperti ini biasannya tidak disertai dengan
demem
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan dari gejala klinis diatas, melihat reflekdari otot kremaster
dan juga dengan beberapa pemeriksaan yaitu pemeriksaan yaitu pemeriksaan Urinalisis untuk
melihat apakah ada pyuria dan bakteriuria. Pada pemeriksaan darah rutin tidak ditemukannya
tanda-tanda inflamasi kecuali, kecuali pada torsiotestis yang sudah lama dan telah mengalami
peradangan steril. Pemeriksaan penunjang yang berguna untuk membedakan torsio testis dengan
keadaan akut skrotum yang lain adalah dengan memakai stetoskop dopler, USG dopler dan
sintigrafi testis yang kesemuannya bertujuan menilai adanya aliran darh ke testis. Pada torsio
testis tidak didapatkan aliran darh ke testis sedangkan pada peradangan akut testis, terjadi
peningkatan aliran darah ke testis sedangkan pada peradangan akut testis terjadi peningkatan
aliran darah testis.
Diagnosis Banding
1. Epididimitis akut. Penyakit ini secara klinissulit dibedakan dengan torsio testis nyeri
skrotum akut biasannya disertai dengan kenaikan suhu tubuh, keluarnya nanah dari uretra,
ada riwayat melakukan senggama dengan bukan istrinya atau pernah menjalani kateterisasi
uretra sebelumnya
2. Hernia Skrotalis inkaserata, yang biasanya didahului dengan anamnesis didapatkan
benjolan yang dapat keluar dan masuk ke dalam skrotum.
3. Hidrokokel terinfeksi dengan anamnesis sebelumnya sudah ada benjolan dalam skrotum.
4. Tumor testis. Benjolan tidak dirasakan nyeri kecuali terjadi perdarahan di dalam testis
5. Edema Skrotum yang dapat disebabkan oleh hipoproteinemia , filariasis adanya
pembuntuan limfe inguinal , kelainan jantung atau kelainan-kelainan yang tidak diketahui
sebabnya.

TERAPI
Detorsi manual
Detorsi manual adalah mengembalian posisis testis ke asalnya yaitu dengan jalan
memutar testis ke arah berlawanan dengan arah torsio. Karena torsio biasanya arahnya ke
medial maka dianjurkan untuk memutar testis kearah lateral dahulu kemudian jika tidak terjadi
perubahan, dicobaditorsi kea rah medial. Hilangnya nyeri setelah ditorsi menandakan bahwa
ditorsi telah berhasil. Jika detorsi berhasil operasi tetap harus dilaksanakan
Operasi
Tindakan operasi ini dimasukkan untuk mengembalikan posisi testis pada arah yang benar
(reposisi) dan setelah itu dilakukan penilaian viabilitas testisyang mengalami torsio, mungkin
masih viable atau hidup atau sudah mengalami nekrosis.. jiak testis masih hidup dilakukan
orkidopeksi ( fiksasi testis ) pada tunika dartos kemudian disusul orkidopeksi pada testis
kontralateral.
Orkidopeksi dilakukan dengan mempergunakan benang yang tidak diserappada 3 tempat
untuk mencegah agar testis tidak terpeluntir kembali, sedangkan pada testis yang sudah
mengalami nekrosis jika tetap dibiarkan berada dalam skrotum akan merangsng terbentuknya
antibodi antisperma sehingga mengurangi kemampuan feeertilitas di kemudian hari.