Anda di halaman 1dari 9

4.

Kebijakan sosial politik Orde Baru

Kebijakan sosial politik dilakukan dengan fusi politik dengan komposisi sbb:
1. Kelompok Demokrasi Pembangunan (11 Januari 1973), terdiri dari:

Partai Nasional Indonesia (PNI)

Partai Kristen Indonesia (Parkindo)

Partai Katolik

Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI)

Partai Murba
2. Kelompok Persatuan Pembangunan (5 Januari 1973), terdiri dari:

Nahdatul Ulama (NU)

Partai Muslimin Indonesia

Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)

Partai Islam Persatuan Tarbiyah Indonesia (Perti)


3.Kelompok Golongan Karya, terdiri dari berbagai organisasi profesi, seperti organisasi
buruh, organisasi pemuda, organisasi tani dan nelayan, organisasi seniman, dan
organisasi masyarakat.

3. Menguatnya peran Negara pada masa Orde Baru dan


dampaknya terhadap kehidupan sosial politik masyarakat.
Pada masa pemerintahan Orde Baru, struktur kinerja dan peran negara menjadi sangat
kuat karena didukung oleh pemusatan dan penguata 3 sektor utama, yaitu militer, ekonomi,
dan budaya.
Menguatnya posisi Golkar di masa pemerintahan Orde Baru menunjukkan kuatnya
peran pemerintah dalam menentukan perkembangan kehidupan masyarakat.
Menguatnya peran negara tidak terlepas dari strategi agregasi yang diterpkan Soeharto.

Salah satu strateginya adalah sistem reward and punishment terhadap orang-orang yang
mendukung dan menentang kekuatan orde baru.

Kehidupan Sosial dan Budaya


Pada masa Orde Baru terdapat beberapa kebijakan pemerintah yang bersifat
diskriminatif, seperti Surat Edaran No.06/Preskab/6/67 yang memuat tentang perubahan
nama. Dalam surat itu disebutkan bahwa masyarakat keturunan Cina harus mengubah
nama Cinanya menjadi nama yang berbau Indonesia, misalnya Liem Sioe Liong menjadi
Sudono Salim. Selain itu, penggunaan bahasa Cinapun dilarang.
Di masa pasca Orde Baru, partisipasi sosial kalangan etnis Tionghoa sangat menonjol.
Pada umumnya mereka aktif bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan. Banyak
sekali orang-orang Tionghoa yang memilih profesi sebagai guru, dosen, profesor, dokter,
insinyur, pengacara, hakim, jaksa, advokat, bahkan polisi dan tentara. Mereka
mendirikan berbagai sekolah mulai dari TK sampai SMA dan berbagai universitas.
Demikian juga puluhan rumah sakit didirikan kalangan etnis Tionghoa. Rumah sakitrumah sakit ini didirikan dengan tujuan sosial semata yaitu untuk memberikan bantuan
medis bagi yang membutuhkan tanpa memandang kemampuan ekonominya.
Bandingkan dengan rumah sakit-rumah sakit yang didirikan di masa Orde Baru yang
bertujuan komersial semata.
Selaras dengan berlangsungnya reformasi, berbagai kegiatan sosial dilakukan oleh
organisasi-organisasi Tionghoa antara lain dalam membantu korban gempa bumi, banjir,
dan kebakaran. Demikian juga dengan kegiatan pembagian sembako dan pakaian bekas,
donor darah, khitanan massal serta pengobatan massal secara cuma-cuma bagi kaum
duafa.
Di bidang pendidikan mereka banyak mendirikan lembaga-lembaga pendidikan mulai
dari kursus bahasa Inggris, Mandarin, komputer sampai akademi dan universitas.
Kalangan mudanya secara aktif mulai memasuki bidang-bidang profesi di luar wilayah
bisnis semata. Mereka sekarang secara terbuka berusaha menjadi artis sinetron,
presenter TV, peragawati, foto model, pengacara, wartawan, pengarang, pengamat
sosial/ politik, peneliti, dsbnya. Hal ini sangat berbeda ketika rezim Orde Baru
memberlakukan kebijakan diskriminasi. Misalnya, pemberlakuan batasan 10 persen bagi
etnis Cina untuk bisa belajar di bidang medis, permesinan, sains dan hukum di
universitas.

Di dalam kehidupan sosial mereka mulai membuka diri dan mau peduli terhadap
lingkungan di sekitarnya. Mereka tidak lagi menolak apabila terpilih menjadi Ketua
RT/RW dan secara aktif ikut dalam penyelengaraan Pemilu di lingkungan tempat
tinggalnya.
Dalam hubungan mereka dengan negara leluhur (RRC), pada umumnya mereka
mengambil sikap bahwa hubungan tersebut hanya bersifat kekerabatan semata. Mereka
merasa telah sepenuhnya menjadi bangsa Indonesia yang lahir, besar, dan meninggal
serta dikebumikan di Indonesia. Filsafat mereka sekarang adalah luo di sheng gen yaitu
berakar di bumi tempat berpijak yang dapat diartikan menetap di Indonesia selamalamanya menggantikan ye luo gui gen yang berarti ibarat daun rontok kembali ke
bumi.
Demikian juga sikap pemerintah RRC yang dengan tegas menyatakan bahwa orang
Tionghoa Indonesia adalah warga Indonesia yang harus loyal kepada Indonesia,
mentaati hukum dan peraturan Indonesia serta memberikan sumbangan pada
pembangunan dan kemajuan Indonesia. Orang Tionghoa Indonesia bukan warga RRC
dan tidak berada di bawah yurisdiksi Tiongkok.

Bidang kesehatan
Untuk mengendalikan jumlah penduduk Indonesia, Soeharto memulai
kampanyeKeluarga Berencana yang menganjurkan setiap pasangan untuk memiliki
secukupnya 2 anak. Hal ini dilakukan untuk menghindari ledakan penduduk yang
nantinya dapat mengakibatkan berbagai masalah, mulai dari kelaparan, penyakit sampai
kerusakan lingkungan hidup.

Bidang pendidikan
Dalam bidang pendidikan Soeharto mempelopori proyek Wajib Belajar yang bertujuan
meningkatkan rata-rata taraf tamatan sekolah anak Indonesia. Pada awalnya, proyek ini
membebaskan murid pendidikan dasar dari uang sekolah (Sumbangan Pembiayaan
Pendidikan) sehingga anak-anak dari keluarga miskin juga dapat bersekolah. Hal ini
kemudian dikembangkan menjadi Wajib Belajar 9 tahun.

Garis Besar Kebijakan-Kebijakan Pada Masa Soeharto Berkuasa


Sukses transmigrasi
Sukses KB
Sukses memerangi buta huruf
Sukses swasembada pangan
Pengangguran minimum
Sukses REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun)
Sukses Gerakan Wajib Belajar
Sukses Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh
Sukses keamanan dalam negeri
Investor asing mau menanamkan modal di Indonesia
Sukses menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta produk dalam negeri

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN MASA ORDE BARU


Pendidikan adalah pilar utama berdirinya sebuah bangsa. Pada dasarnya
pendidikan merupakan usaha untuk merancang masa depan umat manusia
sebagai genarasi yang memajukan sebuah bangsa. Dalam konsep dan implentasi
pendidikan harus memperhitungkan berbagai faktor. Konsep pendidikan harus
disesuaikan dengan keinginan, ukuran, mental, budaya, sosial, ekonomi, dan
politik sebuah kelompok masyarakat yang bersangkutan.
Demikian juga konsep pendidikan yang diterapkan di Indonesia yang tidak
pernah lepas dari unsur politik dan kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah
orde baru , sebelum maupun setelahnya seringkali menganak tirikan pendidikan.
Pendidikan mempunyai anggaran paling kecil dari dana APBD dan sistem
pendidikan yang terpusat atau dengan istilah sentralilasi membuat kualitas
pendidikan Indonesia semakin memburuk.

Kebijakan pada Masa Orde Baru


Yang lebih menyedihkan dari kebijakan pemerintahan orde baru terhadap
pendidikan adalah sistem doktrinisasi. Yaitu sebuah sistem yang memaksakan
paham-paham pemerintahan orde baru agar mengakar pada benak anak-anak.
Bahkan dari sejak sekolah dasar sampai pada tingkat perguruan tinggi ,
diwajibkan untuk mengikuti penetaran P4 yang berisi tentang hapalan butir-butir
Pancasila. Proses indoktrinisasi ini tidak hanya menanamkan paham-paham orde
baru, tetapi juga sistem pendidikan masa orde baru yang menolak segala bentuk
budaya asing, baik itu yang mempunyai nilai baik ataupun mempunyai nilai
buruk. Paham orde baru yang membuat kita takut untuk melangkah lebih maju.

Pendidikan pada Masa Orde Baru

Dengan demikian, pendidikan pada masa orde baru bukan untuk


meningkatkan taraf kehidupan rakyat, apalagi untuk meningkatkan sumber daya
manusia Indonesia, tetapi malah mengutamakan orientasi politik agar semua
rakyat itu selalu patuh pada setiap kebijakan pemerintah. Bahwa putusan
pemerintah adalah putusan yang adiluhung yang tidak boleh dilanggar. Itulah
doktrin orde baru pada sistem pendidikan kita.
Indoktrinisasi pada masa kekuasan Soeharto ditanamkan dari jenjang
sekolah

dasar

sampai

pada

tingkat

pendidikan

tinggi,

pendidikan

yang

seharusnya mempunyai kebebasan dalam pemikiran. Pada masa itu, pendidikan


diarahkan pada pengembangan militerisme yang militan sesuai dengan tuntutan
kehidupan suasana perang dingin . Semua serba kaku dan berjalan dalam sistem
yang otoriter.
Ahkirnya, kebijakan pendidikan pada masa orde baru mengarah pada
penyeragaman. Baik cara berpakaian maupun dalam segi pemikiran. Hal ini
menyebabkan generasi bangsa kita adalah generasi yang mandul. Maksudnya,
miskin ide dan takut terkena sanksi dari pemerintah karena semua tindakan bisabisa dianggap subversif. Tindakan dan kebijakan pemerintah orde baru-lah yang
paling benar. Semua wadah-wadah organisasi baik yang tunggal maupun yang
majemuk, dibentuk pada budaya homogen. Bahkan partai politik pun dibatasi.
Hanya tiga partai yang berhak mengikuti Pemilu. Bukankah kebijakan ini sudah
melanggar undang-undang dasar 45 yang menjadi dasar dari berdirinya negara
ini?

Dampak yang Ditimbulkan


Namun pada waktu itu tak ada yang berani bicara. Pada masa itu tidak
ada lagi perbedaan pendapat sehingga melahirkan disiplin ilmu yang semu dan
melairkan generasi yang latah dan penakut. Pada masa pemerintahan orde baru
pertumbuhan ekonomi tidak berakar pada ekonomi rakyat dan sumber daya
domestik,

melainkan

bergantung

pada

utang

luar

negeri

sehingga

menghasilakan sistem pendidikan yang tidak peka terhadap daya saing dan
tidak produktif.
Pendidikan tidak mempunyai akuntabilitas sosial karena masyarakat tidak
diikutsertakan dalam merancang sistem pendidikan karena semua serba

terpusat. Dengan demikian, pendidikan pada masa itu mengingkari pluralisme


masyarakat sehingga sikap teloransi semakin berkurang, yang ada adalah sikap
egoisme.
Sebagai akibat dari kebijakan pemerintah tersebut, pendidikan yang maju
hanya di pulau Jawa sementara di daerah lain sistem pendidikannya kurang maju
karena kurangnya keberterimaan masyarakat terhadap sistem pendidikan.
Akhirnya, penerapan pendidikan tidak diarahkan pada kualitas melainkan pada
kuantitas. Hal ini menimbulkan peningkatan pengangguran dari berbagai
jenjang.

Banyak

lulusan,

tetapi

tidak

punya

pekerjaan.

Pada

masa

itu

akuntabilitas pendidikan masih sangat rendah.

HAR Tilaar, 2000, Paradigma baru Pendidikan Nasional, Jakarta : Rineka


Cipta

Diposkan 10th April 2012 oleh ramboe

Di dalam sector pendidikan mengalami kemajuan yang sangat pesat, lebih dari
100.000 sekolah dibangun, terutama di daerah-daerah pedalaman, dan lebih dari 500.000
guru diperkerjakan. Pada tahun 1984, dilaporkan bahwa 97% dari anak usia 7-12 tahun
sedang mengenyam bangku sekolah, dibandingkan angka 57% pada tahun 1973. Tingkat
melek huruf terus meningkat. Sensus penduduk 1980 melaporkan bahwa 80,4% kaum laki-

laki di atas sepuluh tahun dan 63,6% wanita sudah melek huruf. Pada sensus 1990, angka itu
meningkat menjadi 89,6 dan 78,7%.
Manfaat pendidikan langsung terasa dengan semakin meningkatnya persentase melek
huruf masyarakat Indonesia terutama dalam perkembangan bahasa nasional, bahasa
Indonesia. Pada tahun 1971, persentase pengunaan bahasa nasional mencapai 40,8%. Dalam
sensus 1980 menunjukkan kenaikan menjadi 61,4%, dan pada 1990 mencapai 80%. Pengaruh
tersebut bukanlah tanpa sebab. Penggunaan bahasa nasional dalam surat kabar dan majalah
serta media elektronik memberikan sumbangan yang berarti bagi kenaikan persentase
penggunaan bahasa nasional di seluruh Indonesia.
Salah satu indikator kesejahteraan lainnya adalah tingkat kesehatan. Pada sensus 1971
melaporkan bahwa hanya ada satu dokter untuk melayani 20,9 ribu penduduk. Sensus 1980,
menunjukkan bahwa satu tenaga dokter untuk 11,4 ribu penduduk. Tapi, tingkat ketersediaan
medis ini belum mampu membuat Indonesia mampu mengejar ketertinggalannya dengan
tetangga ASEAN-nya, yaitu Malaysia, Thailand dan Filipina.
Salah satu sukses terbesar Indonesia adalah program Keluarga Berencana. Pada
umumnya, sterilisasi dan aborsi tidak dapat diterima secara kultural dan secara religius,
sehingga program KB dilakukan terutama dengan pil kontrasepsi dan alat kontrasepsi intrauterus. Pemerintah pun mengalokasikan sumber daya yang besar untuk program ini. Terbukti
angka kelahiran setiap tahunnya turun dan tingkat pertumbuhan penduduk tahunan turun dari
2,32% pada tahun 1960-an menjadi 2,10% pada tahun 1970-an dan 1, 97% pada tahun 1980an. Ini menjadikan program KB di Indonesia sebagai salah satu yang paling sukses di dunia,
sehingga menarik perhatian dunia untuk mengikuti kesuksesan Indonesia.
Perbaikan kesejahteraan dan pendidikan yang dilakukan rezim, lebih terkonsentrasi ke
wilayah Indonesia bagian Barat, terutama pulau Jawa. Sebanyak 60% penduduk Indonesia
tinggal di Jawa pada tahun 1990, turun dari angka 61,9%, pada tahun 1980 dan hampir 70%
pada tahun 1930.
Pembangunan ekonomi dan investasi pemerintah bidang kesehatan, pendidikan dan
kesejahteraan membawa perubahan signifikan bagi Indonesia, termasuk urbanisasi yang
pesat. Pada tahun 1990, sebanyak 30,9% penduduk bisa dianggap sebagai kaum urban.
Penduduk Jakarta mencapai 8,3 juta, sementara penduduk Bandung dan Surabaya sudah
melebihi angka 2 juta, dan Semarang memiliki lebih dari 1 juta penduduk. Di daerah
pedesaan, listrik, sekolah, sepeda motor dan tayangan-tayangan televise mengenai peristiwaperistiwa nasional dan gaya hidup perkotaan mampu merubah persepsi secara radikal.