Anda di halaman 1dari 9

PENGANTAR KURIKULUM

1.1 Latar Belakang


Kurikulum merupakan salah satu bagian penting terjadinya
suatu proses pendidikan. Karena suatu pendidikan tanpa adanya
kurikulum akan kelihatan amburadul dan tidak teratur. Hal ini
akan menimbulkan perubahan dalam perkembangan kurikulum,
khususnya di Indonesia.
Kurikulum merupakan salah satu alat untuk mencapai
tujuan pendidikan, dan sekaligus digunakan sebagai pedoman
dalam pelaksanaan proses belajar mengajar pada berbagai jenis
dan tingkat sekolah. Kurikulum menjadi dasar dan cermin
falsafah pandangan hidup suatu bangsa, akan diarahkan kemana
dan bagaimana bentuk kehidupan bangsa ini di masa depan,
semua itu ditentukan dan digambarkan dalam suatu kurikulum
pendidikan. Kurikulum haruslah dinamis dan terus berkembang
untuk menyesuaikan berbagai perkembangan yang terjadi pada
masyarakat dunia dan haruslah menetapkan hasilnya sesuai
dengan yang diharapkan.
Sejak isu reformasi pendidikan digulirkan, maka banyak
bermunculan gagasan-gagasan pembaharuan pendidikan.
Reformasi sebagai sebuah gerakan yang memiliki perspektif
sejarah politik monumental, karena era reformasi menjadi era
pemerintahan substitusi pemerintahan orde baru. Tentunya
gagasan reformasi pendidikan ini memiliki momentum yang
amat mendasar dan berbeda dengan gagasan yang sama pada era
sebelumnya. Arah reformasi dalam mewujudkan pengembangan
pendidikan terkait dengan kebijakan kurikulum adalah ikut
diperbaharuinya kurikulum yang ada sebelumnya dari kurikulum
1994 diperbaharui menjadi kurikulum 2004 atau KBK
(Kurikulum Berbasis Kompetensi). Selang dua tahun kemudian
KBK pun telah mengalami pembaharuan kembali menjadi KTSP
(Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) atau kurikulum 2006.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai
berikut:
1) Apakah pengertian kurikulum ?
2) Apa fungsi dan tujuan kurikulum ?
3) Bagaimana sejarah dan Pembaharuan kurikulum di
Indonesa?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1) Untuk mengetahui pengertian kurikulum.
2) Untuk mengetahui fungsi dan tujuan kurikulum.
3) Untuk mengetahui sejarah perkembangan di Indonesia.
4) Untuk mengetahui mekanisme pembaharuan kurikulum di
indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kurikulum
Secara etimologi, kurikulum (curriculum) berasal dari
bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya pelari dan curere yang
berarti tempat berpacu. Itu berarti istilah kurikulum berasal
dari dunia olah raga pada zaman Yunani Kuno di Yunani, yang
mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh
pelari dari garis start sampai finish, kemudian di gunakan oleh
dunia pendidikan.
Secara terminologi, istilah kurikulum digunakan dalam dunia
pendidikan, yaitu sejumlah pengetahuan atau kemampuan yang
harus ditempuh atau diselesaikan siswa guna mencapai tingkatan
tertentu secara formal dan dapat dipertanggung jawabkan. Para
ahli mengartikan kurikulum itu yaitu:

1.

2.
3.

4.

5.

6.

Menurut Nasution, Kurikulum adalah suatu rencana yang


disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di
bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau
lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya.
Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu
perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out- comes)
yang diharapkan dari suatu pembelajaran.
Menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan
pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa
latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini
definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang
dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi
juga termasuk seluruh program pembelajaran yang
terencana dari suatu institusi pendidikan.
John Dewey 1902;5 kurikulum dapat diartikan sebagai
pengajian di sekolah dengan mengambil kira kandungan
dari masa lampau hingga masa kini. Pembentukan
kurikulum menekankan kepetingn dan keperluan
masyarakat.
Frank Bobbit 1918, Kurikulum dapat diartikan keseluruhan
pengalaman, yang tak terarah dan terarah, terumpu kepada
perkembangan kebolehan individu atau satu siri latihan
pengalaman langsung secara sedar digunakan oleh sekolah
untuk melengkap dan menyempurnakan pendedahannya.
Konsep
beliau
menekankan
kepada
pemupukan
perkembangan individu melalui segala pengalaman
termasuk pengalaman yang dirancangkan oleh sekolah.
Menurut Hasan Kurikulum bersifat fleksibilitas Jadi,
kurikulum itu merupakan suatu usaha terencana dan
terorganisir untuk menciptakan suatu pengalaman belajar
pada siswa dibawah tanggung jawab sekolah atau lembaga
pendidikan untuk mencapai suatu tujuan. Pengertian
kurikulum secara luas tidak hanya berupa mata pelajaran
atau kegiatan-kegiatan belajar siswa saja tetapi segala hal
yang berpengaruh terhadap pembentukan pribadi anak
sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.

2.2 Fungsi dan Tujuan Kurikulum


Pengertian kurikulum berkembang sejalan dengan
perkembangan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Dalam
pengertian sederhana, kurikulum dianggap sebagai sejumlah
mata pelajaran (subjects) yang harus ditempuh oleh seorang
siswa dari awal sampai akhir program pelajaran untuk
memperoleh ijazah, sedangkan dalam pengertian lebih luas
kurikulum mencakup semua pengalaman belajar (learning
experiences) yang dialami siswa dan mempengaruhi
perkembangan pribadinya.
Kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan
pendidikan di sekolah bagi pihak-pihak yang terkait, baik secara
langsung maupun tidak langsung, seperti pihak guru, kepala
sekolah, pengawas, orang tua, masyarakat, dan pihak peserta
didik itu sendiri. Selain sebagai pedoman, bagi peserta didik,
kurikulum memiliki enam fungsi, yaitu fungsi penyesuaian,
fungsi pengintegrasian, fungsi diferensiasi, fungsi persiapan,
fungsi pemilihan/seleksi, dan fungsi diagnostik.
Kurikulum pada dasarnya merupakan suatu sistem
(system), artinya kurikulum tersebut merupakan suatu kesatuan
atau totalitas yang terdiri dari beberapa komponen, di mana
antara komponen satu dengan komponen lainnya saling
berhubungan dan saling mempengaruhi dalam rangka mencapai
tujuan. Komponen-komponen kurikulum tersebut, yaitu tujuan,
isi/materi, strategi pembelajaran, dan evaluasi.
Fungsi kurikulum menurut Hendyat Soetopo Wasty
Soemanto
1.
kurikulum berfungsi sebagai media untuk mencapai
tujuan-tujuan pendidikan yang ingin dicapai.

2.
3.
4.

kurikulum juga berpungsi bagi perkembangan siswa


karena kurikulum berperan organisasi belajar ( learning
oprganisatior) yang tersusun dengan cermat.
sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan
mengorganisir pengalaman belajar siswa.
sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi terhadap
tingkat perkembangan siswa dalam rangka menyerap
sejumlah ilmu pengetahuan sebagai pengalaman bagi
mereka.

Berkaitan dengan fungsi kurikulum bagi siswa sebagai


subjek didik, terdapat enam fungsi kurikulum, yaitu :
1) Fungsi Penyesuaian
Fungsi penyesuaian mengandung makna bahwa kurikulum
sebagai alat pendidikan harus mampu mengarahkan siswa agar
memiliki sifat well adjusted yang mampu menyesuaikan dirinya
dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan
social. Lingkungan itu sendiri senantiasa mengalami perubahan
dan bersifat dinamis. Oleh karena itu, siswa pun harus memiliki
kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang
terjadi di lingkungannya.
2) Fungsi Integrasi
Fungsi integrasi mengandung makna bahwa kurikulum
sebagai alat pendidikan harus mampu menghasilkan pribadipribadi yang utuh. Siswa pada dasarnya merupakan anggota dan
bagian integral dari masyarakat. Oleh karena itu, siswa harus
memiliki kepribadian yang dibutuhkan untuk dapat hidup dan
berintegrasi dengan masyarakatnya.
3) Fungsi Diferensiasi
Fungsi diferensiasi mengandung makna bahwa kurikulum
sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan pelayanan
terhadap perbedaan individu siswa. Setiap siswa memiliki
perbedaan, baik dari aspek fisik maupun psikis yang harus
dihargai dan dilayani dengan baik.
4) Fungsi Persiapan
Fungsi persiapan mengandung makna bahwa kurikulum
sebagai alat pendidikan harus mampu mempersiapkan siswa
untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya.
Selain itu, kurikulum juga diharapkan dapat mempersiapkan
siswa untuk dapat hidup dalam masyarakat seandainya sesuatu
hal, tidak dapat melanjutkan pendidikannya.
5) Fungsi Pemilihan
Fungsi pemilihan mengandung makna bahwa kurikulum
sebagai alat pendidikan harus mampu membarikan kesempatan
kepada siswa untuk memilih program-program belajar yang
sesuai dengan kemapuan dan minatnya. Fungsi pemilihan ini
sangat erat hubungannya dengan fungsi diferensiasi, karena
pengakuan atas adanya perbedaan individual siswa berarti pula
diberinya kesempatan bagi siswa tersebut untuk memilih apa
yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Untuk
mewujudkan kedua fungsi tersebut, kurikulum perlu disusun
secara lebih luas dan bersifat fleksibel.
6) Fungsi Diagnostik
Fungsi diagnostic mengandung makna bahwa kurikulum
sebagai alat pendidikan harus mampu membantu dan
mengarahkan siswa untuk dapat memahami dan menerima
kekuatan (potensi) dan kelemahan yang dimilikinya. Apabila
siswa sudah mampu memahami kekuatan-kekuatan dan
kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya, maka diharapkan
siswa dapat mengambangkan sendiri kekuatan yang dimilikinya
aau memperbaiki kelemahan-kelemahannya.
Tujuan kurikulum menggambarkan kualitas manusia yang
diharapkan terbina dari suatu proses pendidikan. Dengan
demikian suatu tujuan memberikan petunjuk mengenai arah
perubahan yang dicita-citakan dari suatu kurikulum. Tujuan yang
jelas akan memberi petunjuk yang jelas pula terhadap pemilihan

isi/bahan ajar, strategi pembelajaran, media, dan evaluasi.


Bahkan dalam berbagai model pengembangan kurikulum, tujuan
dianggap sebagai dasar, arah, dan patokan dalam menentukan
komponen-komponen yang lainnya. Tujuan yang harus dicapai
dalam pendidikan di Indonesia bersifat hierarkis, yang terdiri
atas Tujuan Pendidikan Nasional, Tujuan Institusional, Tujuan
Mata Pelajaran, dan Tujuan Instruksional (Umum dan Khusus).
2.3 Sejarah dan Pembaharuan Kurikulum Di Indonesia
Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum
pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada
tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 1999, 2004 dan
2006.
1.

Kurikulum Rencana Pelajaran (1947-1968)


Kurikulum yang digunakan di Indonesia pra kemerdekaan
dipengaruhi oleh tatanan sosial politik Indonesia. Pada masa
penjajahan Belanda, setidaknya ada tiga sistem pendidikan dan
pengajaran yang berkembang saat itu. Pertama, sistem
pendidikan Islam yang diselenggarakan perantren. Kedua, sistem
pendidikan Belanda. Sistem pendidikan belanda pun bersifat
diskriminatif. Susunan persekolahan zaman kolinial adalah
sebagai berikut (Sanjaya, 2007:207):
a. Persekolahan anak-anak pribumi untuk golongan non
priyayi menggunakan pengantar bahasa daerah, namanya
Sekolah Desa 3 tahun.
b. Untuk orang timur asing disediakan sekolah seperti Sekolah
Cina 5 tahun dengan pengantar bahasa Cina, Hollandch
Chinese School (HCS) yang berbahasa Belanda selama 7
tahun.
c. Sedangkan untuk orang Belanda disediakan sekolah rendah
sampai perguruan tinggi, yaitu Eropese Legere School 7
tahun, sekolah lanjutan HBS 3 dan 5 tahun Lyceum 6 tahun,
Maddelbare Meisjeschool 5 tahun, Recht Hoge School 5
tahun, Sekolah kedokteran tinggi 8,5 tahun, dan kedokteran
gigi 5 tahun.
Tiga tahun setelah Indonesia merdeka pemerintah membuat
kurikulum Rencana Pelajaran. Tahun 1947. Kurikulum ini
bertahan sampai tahun 1968 saat pemerintahan beralih pada masa
orde baru.
a. Rencana pelajaran 1947
Kurikulum ini lebih populer disebut dalam bahasa belanda
leer plan, artinya rencana pelajaran, ketimbang curriculum
(bahasa Inggris). Perubahan kisi-kisi pendidikannya lebih
bersifat politis: dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan
nasional.
Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam
semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai
development conformism lebih menekankan pada pembentukan
karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan
sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini.
Rencana Pelajaran 1947 baru dilaksanakan sekolah-sekolah
pada 1950. Bentuknya memuat dua hal pokok:
1) Daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya
2) Garis-garis besar pengajaran (GBP)
Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran
dalam arti kognitif, namun yang diutamakan pendidikan watak
atau perilaku (value , attitude), meliputi :
1) Kesadaran bernegara dan bermasyarakat;
2) Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari
3) Perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.
Fokus pelajarannya pada pengembangan Pancawardhana,
yaitu :
1) Daya cipta,

2)
3)
4)
5)

Rasa
Karsa
Karya
Moral

Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok


bidang studi.
1) Moral
2) Kecerdasan
3) Emosional/artistik
4) Keprigelan (keterampilan)
5) Jasmaniah.
b.

Rencana Pelajaran Terurai 1952


Ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran
harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan
kehidupan sehari-hari. Pada masa itu juga dibentuk Kelas
Masyarakat. yaitu sekolah khusus bagi lulusan SR 6 tahun yang
tidak melanjutkan ke SMP. Kelas masyarakat mengajarkan
keterampilan, seperti pertanian, pertukangan, dan perikanan.
Tujuannya agar anak tak mampu sekolah ke jenjang SMP, bisa
langsung bekerja.
Mata Pelajaran yang ada pada Kurikulum 1954 yakni untuk
jenjang Sekolah Rakyat (SD) menurut Rencana Pelajaran 1947
adalah sebagai berikut
1)Bahasa Indonesia
2)Bahasa Daerah
3)Berhitung
4)Ilmu Alam
5)Ilmu Hayat
6)Ilmu Bumi
7)Sejarah
8)Menggambar
9)Menulis
10) Seni Suara
11) Pekerjaan Tangan
12) Pekerjaan kepurtian
13) Gerak Badan
14) Kebersihan dan kesehatan
15) Didikan budi pekerti
16) Pendidikan agama
c.

Kurikulum Rencana Pendidikan 1964


Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 adalah bahwa
pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat
pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD.
Kurikulum 1964 juga menitik beratkan pada pengembangan daya
cipta, rasa, karsa, karya, dan moral, yang kemudian dikenal
dengan istilah Pancawardhana. Pada saat itu pendidikan dasar
lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional
praktis, yang disesuaikan dengan perkembangan anak. Sehingga
pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana
(Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan,
emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani.
Cara belajar dijalankan dengan metode disebut gotong
royong terpimpin. Selain itu pemerintah menerapkan hari sabtu
sebagai hari krida. Maksudnya, pada hari Sabtu, siswa diberi
kebebasan berlatih kegitan di bidang kebudayaan, kesenian, olah
raga, dan permainan, sesuai minat siswa. Kurikulum 1964 adalah
alat untuk membentuk manusia pacasialis yang sosialis
Indonesia, dengan sifat-sifat seperti pada ketetapan MPRS No II
tanun 1960.
Kurikulum 1964 bersifat separate subject curriculum, yang
memisahkan mata pelajaran berdasarkan lima kelompok bidang
studi (Pancawardhana). Mata Pelajaran yang ada pada
Kurikulum 1964 adalah:

1) Pengembangan Moral (Pendidikan kemasyarakatan dan


Pendidikan agama/budi pekerti)
2) Perkembangan kecerdasan (Bahasa Daerah, Bahasa
Indonesia, Berhitung, Pengetahuan Alamiah)
3) Pengembangan emosional atau Artistik (Pendidikan
kesenian)
4) Pengembangan keprigelan (Pendidikan keprigelan)
5) Pengembangan jasmani (Pendidikan jasmani/Kesehatan)
d.

Kurikulum 1968
Kurikulum 1968 memiliki perubahan struktur kurikulum
pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa
pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum
1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada
pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Kurikulum 1968 bertujuan agar pendidikan ditekankan
pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan
sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan
jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi
pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan
dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan
kuat.
Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi
pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar,
dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 disebut sebagai
kurikulum bulat. Karena kurikulum ini hanya memuat mata
pelajaran pokok-pokok saja. Muatan materi pelajaran bersifat
teoritis, tak mengaitkan dengan permasalahan faktual di
lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat
diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.
Kurikulum 1968 bersifat correlated subject curriculum,
artinya materi pelajaran pada tingkat bawah mempunyai korelasi
dengan kurikulum sekolah lanjutan. Bidang studi pada kurikulum
ini dikelompokkan pada tiga kelompok besar: pembinaan
pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah
mata pelajarannya 9, yakni:
1) Pembinaan Jiwa Pancasila (Pendidikan agama, Pendidikan
kewarganegaraan Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah,
Pendidikan olahraga)
2) Pengembangan pengetahuan dasar (Berhitung, IPA,
Pendidikan kesenian. Pendidikan kesejahteraan keluarga)
3) Pembinaan kecakapan khusus (Pendidikan kejuruan)
2.

Kurikulum Berorientasi Pencapaian Tujuan (1975-1994)


Kurikulum ini menekankan pada isi atau materi pelajaran
yang bersumber dari disiplin ilmu. Penyusunannya relatif mudah,
praktis, dan mudah digabungkan dengan model yang lain.
Kurikulum ini bersumber dari pendidikan klasik, perenalisme
dan esensialisme, berorientasi pada masa lalu. fungsi pendidikan
adalah memelihara dan mewariskan ilmu pngetahuan, tehnologi,
dan nilai-nilai budaya masa lalu kepada generasi yang baru.
Menurut kurikulum ini, belajar adalah berusaha menguasai
isi atau materi pelajaran sebanyak-banyaknya. kurikulum subjek
akademik tidak berarti terus tetap hanya menekankan materi
yang disampaikan, dalam sejarah perkembangannya secara
berangsur-angsur memperhatikan juga proses belajar yang
dilakukan peserta didik.
a)

Kurikulum 1975
Latar belakang ditetapkanya Kurikulum 1975 sebagai
pedoman pelaksanaan pengajaran di sekolah menurut Menteri
Pendidikan Republik Indonesia Sjarif Thajeb, adalah:
1)Selama Pelita I, yang dimulai pada tahun 1969, telah
banyak timbul gagasan baru tentang pelaksanaan sistem
pendidikan nasional.
2)Adanya kebijaksanaan pemerintah di bidang pendidikan
nasional yang digariskan dalam GBHN yang antara lain

berbunyi : Mengejar ketinggalan di bidang ilmu


pengetahuan dan teknologi untuk mempercepat lajunya
pembangunan.
3)Adanya hasil analisis dan penilaian pendidikan nasional
oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaaan mendorong
pemerintah untuk meninjau kebijaksanaan pendidikan
nasional.
4)Adanya inovasi dalam system belajar-mengajar yang
dianggap lebih efisien dan efektif yang telah memasuki
dunia pendidikan Indonesia.
5)Keluhan masyarakat tentang mutu lulusan pendidikan untuk
meninjau sistem yang kini sedang berlaku.
6)Diperlukan peninjauan terhadap Kurikulum 1968 tersebut
agar sesuai dengan tuntutan masyarakat yang sedang
membangun.
Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968
menggunakan prinsip-prinsip di antaranya sebagai berikut.
1)Berorientasi pada tujuan. Pemerintah merumuskan tujuantujuan yang harus dikuasai oleh siswa yang lebih dikenal
dengan khirarki tujuan pendidikan.
2)Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap
pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang
kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif.
3)Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal
daya dan waktu.
4)Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal
dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional
(PPSI).
5)Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan
kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan
(Drill). Pembelajaran lebih banyak menggunaan teori
Behaviorisme, yakni memandang keberhasilan dalam
belajar ditentukan oleh lingkungan dengan stimulus dari
luar, dalam hal ini sekolah dan guru.
Kurikulum 1975 memuat ketentuan dan pedoman yang
meliputi unsur-unsur :
1) Tujuan institusional.
Berlaku mulai SD, SMP maupun SMA.Tujuan Institusional
adalah tujuan yang hendak dicapai lembaga dalam melaksanakan
program pendidikannya.
2) Struktur Program Kurikulum.
Struktur program adalah kerangka umum program pengajaran
yang akan diberikan pada tiap sekolah.
3) Garis-Garis Besar Program Pengajaran
Garis-Garis Besar Program Pengajaran, memuat hal-hal yang
berhubungan dengan program pengajaran, yaitu.
a) Tujuan Kurikuler, yaitu tujuan yang harus dicapai setelah
mengikuti program pengajaran yang bersangkutan selama
masa pendidikan.
b) Tujuan Instruksional Umum, yaitu tujuan yang hendak
dicapai dalam setiap satuan pelajaran baik dalam satu
semester maupun satu tahun.
c) Pokok bahasan yang harus dikembangkan untuk dijadikan
bahan pelajaran bagi para siswa agar mencapai tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan.
d) Urutan penyampaian bahan pelajaran dari tahun pelajaran
satu ke tahun pelajaran berikutnya dan dari semester satu ke
semester berikutnya.
4) Sistem Penyajian dengan Pendekatan PPSI (Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional)
Sistem PPSI berpandangan bahwa proses belajar-mengajar
sebagai suatu system yang senantiasa diarahkan pada pencapaian
tujuan. PPSI sendiri merupakan sistem yang saling berkaitan dari
satu instruksi yang terdiri atas urutan, desain tugas yang
progresif bagi individu dalam belajar (Hamzah B.Uno, 2007).
Oemar Hamalik mendefinisikan PPSI sebagai pedoman yang

disusun oleh guru dan berguna untuk menyusun satuan pelajaran.


Komponen PPSI meliputi:
a) Pedoman perumusan tujuan. Pedoman perumusan tujuan
memberikan petunjuk bagi guru dalam merumuskan tujuantujuan khusus.
b) Pedoman prosedur pengembangan alat penilaian. Tes yang
digunakan dalam PPSI disebut criterion referenced test
yaitu tes yang digunakan unuk mengukur efektifitas
program/ pelaksanaan pengajaran.
c) Pedoman proses kegiatan belajar siswa. Pedoman proses
kegiatan belajar siswa merupakan petunjuk bagi guru untuk
menetapkan langkah-langkah kegiatan belajar siswa sesuai
dengan bahan pelajaran yang harus dikuasai dan tujuan
khusus instruksional yang harus dicapai oleh para siswa
d) Pedoman program kegiatan guru. Pedoman program
kegiatan guru merupakan petunjuk-petunjuk bagi guru
untuk merencanakan program kegiatan bimbingan sehingga
para siswa melakukan kegiatan sesuai dengan rumusan
TIK.
e) Pedoman pelaksanaan program. Pedoman pelaksanaan
program merupakan petunjuk-petunjuk dari program yang
telah disusun.
f) Pedoman perbaikan atau revisi. Pedoman perbaikan atau
revisi yang merupakan pengembangan program setelah
selesai dilaksanakan.
5) Sistem Penilaian
Penilaian menggunakan PPSI diberikan pada setiap akhir
pelajaran atau pada akhir satuan pelajaran tertentu.
6) Sistem Bimbingan dan Penyuluhan
Setiap siswa memiliki tingkat kecepatan belajar yang tidak
sama. Sehingga mereka memerlukan pengarahan yang akan
mengembagkan mereka menjadi manusia yang mampu meraih
masa depan yang lebih baik.
7) Supervisi dan Administrasi
Sebagai
suatu lembaga
pendidikan memerlukan
pengelolaan yang terarah, baik yang digunakan oleh para guru,
administrator sekolah, maupun para pengamat sekolah
menggunakan teknik supervisi dan administrasi sekolah yang
dapat dipelajari pada Pedoman pelaksanaan kurikulum tentang
supervise dan administrasi.
Mata Pelajaran dalam Kurikulum tahun 1975 adalah
1) Pendidikan agama
2) Pendidikan Moral Pancasila
3) Bahasa Indonesia
4) IPS
5) Matematika
6) IPA
7) Olah raga dan kesehatan
8) Kesenian
9) Keterampilan khusus
b) Kurikulum 1984
Sidang umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam
GBHN 1983 menyiratakan keputusan politik yang menghendaki
perubahan kurikulum dari kurikulum 1975 ke kurikulum 1984,
karena suda dianggap tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan
masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi .
Secara umum dasar perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum
1984 di antaranya adalah sebagai berikut.
1) Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang belum
tertampung ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan
menengah.
2) Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai
bidang studi dengan kemampuan anak didik.
3) Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan
pelaksanaannya di sekolah.

4) Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan hampir


di setiap jenjang.
5) Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa
(PSPB) sebagai bidang pendidikan yang berdiri sendiri
mulai dari tingkat kanak-kanak sampai sekolah menengah
tingkat atas termasuk Pendidikan Luar Sekolah.
6) Pengadaan program studi baru (seperti di SMA) untuk
memenuhi kebutuhan perkembangan lapangan kerja.

Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri sebagai berikut.


1) Berorientasi kepada tujuan instruksional. Didasari oleh
pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada
siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah
harus benar-benar fungsional dan efektif.
2) Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik
melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). CBSA adalah
pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan
kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental,
intelektual, dan emosional dengan harapan siswa
memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik
dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.
3) Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan
spiral. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam
pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan
keluasan materi pelajaran.
4) Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan
latihan. Untuk menunjang pengertian alat peraga sebagai
media digunakan untuk membantu siswa memahami
konsep yang dipelajarinya.
5) Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau
kematangan siswa. Pemberian materi pelajaran berdasarkan
tingkat kematangan mental siswa dan penyajian pada
jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret,
semikonkret,
semiabstrak,
dan
abstrak
dengan
menggunakan pendekatan induktif dari contoh-contoh ke
kesimpulan.
6) Menggunakan
pendekatan
keterampilan
proses.
Keterampilan proses adalah pendekatan belajar-mengajar
yang memberi tekanan kepada proses pembentukkan
keterampilan
memperoleh
pengetahuan
dan
mengkomunikasikan perolehannya.
Kebijakan dalam penyusunan Kurikulum 1984 adalah
sebagai berikut.
1) Adanya perubahan dalam perangkat mata pelajaran inti.
Kurikulum 1984 memiliki enam belas mata pelajaran inti.
2) Penambahan mata pelajaran pilihan yang sesuai dengan
jurusan masing-masing.
3) Perubahan program jurusan. Kalau semula pada Kurikulum
1975 terdapat 3 jurusan di SMA, yaitu IPA, IPS, Bahasa,
maka dalam Kurikulum 1984 jurusan dinyatakan dalam
program A dan B. Program A terdiri dari.
a) A1, penekanan pada mata pelajaran Fisika
b) A2, penekanan pada mata pelajaran Biologi
c) A3, penekanan pada mata pelajaran Ekonomi
d) A4, penekanan pada mata pelajaran Bahasa dan Budaya.
e) B, penekanan keterampilan kejuruan. Tetapi mengingat
program B memerlukan sarana sekolah yang cukup maka
program ini untuk sementara ditiadakan.
4) Pentahapan waktu pelaksanaan
Kurikulum 1984 dilaksanakan secara bertahap dari kelas I
SMA berturut tahun berikutnya di kelas yang lebih tinggi.
c)

Kurikulum 1994
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989
tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa

Kurikulum Sekolah Menengah Umum perlu disesuaikan dengan


peraturan perundang-undangan tersebut.
Pada kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1984, proses
pembelajaran menekankan pada pola pengajaran yang
berorientasi pada teori belajar mengajar dengan kurang
memperhatikan muatan (isi) pelajaran. Akibatnya, pada saat itu
dibentuklah Tim Basic Science yang salah satu tugasnya ikut
mengembangkan kurikulum di sekolah. Tim ini memandang
bahwa materi (isi) pelajaran harus diberikan cukup banyak
kepada siswa, sehingga siswa selesai mengikuti pelajaran pada
periode tertentu akan mendapatkan materi pelajaran yang cukup
banyak.
Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan
kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut.
1) Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem
caturwulan. Diharapkan agar siswa memperoleh materi
yang cukup banyak.
2) Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran
yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi)
3) Kurikulum
1994
bersifat
populis,
yaitu
yang
memberlakukan satu sistem kurikulum inti untuk semua
siswa di seluruh Indonesia.
4) Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan
menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam
belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial.
5) Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya
disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan
perkembangan berpikir siswa, sehingga menekankan pada
pemahaman konsep dan keterampilan menyelesaikan soal
dan pemecahan masalah siswa.
6) Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari
hal yang mudah ke hal yang sulit, dan dari hal yang
sederhana ke hal yang komplek.
7) Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu
dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa.
Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa
permasalahan, di antaranya sebagai berikut:
1) Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata
pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata
pelajaran.
2) Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang
relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan
kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi
kehidupan sehari-hari.
Hal ini mendorong para pembuat kebijakan untuk
menyempurnakan kurikulum dengan diberlakukannya Suplemen
Kurikulum 1994. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan
tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum,
yaitu :
1) Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai
upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan
masyarakat.
2) Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan
proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan
beban belajar, potensi siswa, dan keadaan lingkungan serta
sarana pendukungnya.
Penyempurnaan kurikulum 1994 di pendidikan dasar dan
menengah dilaksanakan bertahap yaitu tahap penyempurnaan
jangka pendek dan penyempurnaan jangka panjang.
3.

Kurikulum Berbasis Kompetensi Dan Ktsp (2004/ 2006)


Kurikulum yang berorientasi pada pencapaian tujuan
(1975-1994) berimpilkasi pada penguasaan kognitif lebih
dominan namun kurang dalam penguasaan keterampilan (skill).

Sehingga lulusan pendidikan kita tidak memiliki kemampuan


yang memadai terutama yang bersifat aplikatif, sehingga
diperlukan kurikulum yang berorientasi pada penguasaan
kompetensi secara holistik.
Penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan peserta
didik yang dimaksudkan itu telah diamanatkan dalam kebijakankebijakan nasionalsebagai berikut:
1) Perubahan keempat UUD 1945 Pasal31 tentang Pendidikan.
2) Tap MPR No. IV/MPR/1999 tentang GBHN tahun 19992004.
3) Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional.
4) Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999
tentang Otonomi Daerah
5) Peraturan
Pemerintah
Nomor
25
tahun
2000
tentangKewenangan
Pemerintah dan Daerah sebagai Daerah Otonom, yang
antara lain menyatakan pusat berkewenangan dalam
menentukan: kompetensi siswa; kurikulum dan materi pokok;
penilaian nasional;dan kalender pendidikan.
Atas dasar itulah maka Indonesia memilih untuk
memberlakukan
Kurikulum
KBK
sebagai
pedoman
penyelenggaraan pendidikan serta penyempurnaannya dalam
bentuk Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
a)

Kurikulum Berbasis Kompetensi


Kurikulum 2004 lebih populer dengan sebutan KBK
(Kurikulum Berbasis Kompetensi). Lahir sebagai respon dari
tuntutan reformasi diantaranya UU No 2 1999 tentang
pemerintahan daerah, UU No 25 tahun 2000 tentang kewenangan
pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom,
dam Tap MPR No IV/MPR/1999 tentang arah kebijakan.j
pendidikan nasional.
KBK tidak lagi mempersoalkan proses belajar, proses
pembelajaran dipandang merupakan wilayah otoritas guru, yang
terpenting pada tingkatan tertentu peserta didik mencapai
kompetensi yang diharapkan.
Kompetensi mengandung beberapa aspek, yaitu knowledge,
understanding, skill, value, attitude, dan interest. Dengan
mengembangkan aspek-aspek ini diharapkan siswa memahami,
mengusai, dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari materimateri yang telah dipelajarinya.
Adapun kompentensi sendiri diklasifikasikan menjadi:
kompetensi lulusan (dimilik setelah lulus), kompetensi standar
(dimiliki setelah mempelajari satu mata pelajaran), kompetensi
dasar (dimiliki setelah menyelesaikan satu topik/konsep),
kompetensi akademik (pengetahuan dan keterampilan dalam
menyelesaikan persoalan), kompetensi okupasional (kesiapan
dan kemampuan beradaptasi dengan dunia kerja), kompetensi
kultural (adaptasi terhadap lingkungan dan budaya masyarakat
Indonesia), dan kompetensi temporal (memanfaatkan
kemampuan dasar yang dimiliki siswa
Secara umum kompetensi diartikan sebagai pengetahuan,
keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam
kebiasaan berpikir dan bertindak. Sedangkan Kurkikulum
Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan perangkat rencana dan
pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus
dicapai pebelajar, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan
pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan
kurikulum sekolah (Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas,
2002:3).
1) Kompetensi Utama
Anderson dan Krathwhol (2001:ii), Kompetensi Utama
dapat dikelompok menjadi 4 (empat) gugus, yaitu:
a) factual knowledge, menyangkut pengetahuan tentang fiturfitur dasar pebelajar dalam disiplin keilmuan dan dapat
digunakan dalam memecahkan masalah. Jenis kompetensi
ini, yaitu: pengetahuan tentang terminologi, dan

pengetahuan tentang detil spesifik (specific details) serta


fiturfitur dasar (basic elements).
b) conceptual knowledge, meliputi kompetensi yang
menunjukkan pemahaman tata hubungan antar fitur dasar
dalam suatu struktur yang lebih luas dan yang
memungkinkan berfungsinya fitur-fitur tersebut. Termasuk
ke dalam kompetensi ini adalah, pengetahuan tentang
klasifikasi dan kategori, pengetahuan tentang prinsi-prinsip
kerja dan generalisasinya, serta pengetahuan tentang teori,
model, paradigma dan struktur dasar.
c) procedural knowledge, meliputi pengetahuan dan
pemahaman bagaimana melakukan sesuatu (technical know
how), metode inkuiri, dan kriteria dalam menggunakan
keterampilan, algotima, teknik, dan metode. Termasuk
dalam kompetensi ini, yaitu pengetahuan tentang
keterampilan khusus (subject-specific skills) dan
perhitungan-perhitungan (algorithm), pengetahuan tentang
teknik dan metode khusus (subject-specific techniques and
methods), serta pengetahuan tentang kriteria penggunaan
sebuah prosedur yang tepat.
d) metacognitive knowledge. merupakan kompetensi yang
menyangkut tentang pengetahuan terhadap kognisi secara
umum dan kesadaran serta memahami kognisi diri sendiri.
Kompetensi ini meliputi 3 hal, yaitu: pengetahuan strategis,
pengetahuan tentang tugas-tugas kognitif, termasuk
pengetahuan tentang kontekstualitas dan kondisi khusus,
dan pengetahuan tentang diri sendiri.
Ke-empat gugus kompetensi utama tersebut perlu
dijembatani dengan lima unsur pokok yang diamanatkan dalam
Kepmen 045/U/2002, yaitu: Pengembangan kepribadian (MK),
pengembangan
keahlian
dan
keterampilan
(MKK),
pengemabngan keahlian berkarya (MKB), pengembangan
perilaku berkarya (PPB), dan pengembangan berkehidupan
bermasyarakat (PBB).
Beberapa keunggulan KBK dibandingkan kurikulum 1994
adalah.
1) KBK yang dikedepankan Penguasaan materi Hasil dan
kompetenasi Paradigma pembelajaran versi UNESCO:
learning to know,learning to do, learning to live together,
dan learning to be.
2) Silabus ditentukan secara seragam, peran serta guru dan
siswa dalam proses pembelajaran, silabus menjadi
kewenagan guru.
3) Jumlah jam pelajaran 40 jam per minggu 32 jam
perminggu, tetapi jumlah mata pelajaran belum bisa
dikurangi.
4) Metode pembelajaran Keterampilan proses dengan
melahirkan metode pembelajaran PAKEM dan CTL,
5) Sistem penilaian Lebih menitik beratkan pada aspek
kognitif, penilaian memadukan keseimbangan kognitif,
psikomotorik, dan afektif, dengan penekanan penilaian
berbasis kelas.
6) KBK memiliki empat komponen, yaitu kurikulum dan hasil
belajar (KHB), penilaian berbasis kelas (PBK), kegiatan
belajar mengajar (KBM), dan pengelolaan kurikulum
berbasis sekolah (PKBS).
b) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah
sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan
dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan di Indonesia.
KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh
sekolah dimulai tahun ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada
Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk

pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan


melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing
Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan
Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP.
KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan
pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan
pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP
mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang
Pelaksanaan SI dan SKL.
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat
kompetensi yang dituangkan dalam persyaratan kompetensi
tamatan, kompetensi bahan kajian kompetensi mata pelajaran,
dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi peserta didik pada
jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi merupakan
pedoman untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan
pendidikan yang memuat:
1) Kerangka dasar dan struktur kurikulum,
2) Beban belajar,
3) Kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dikembangkan
di tingkat satuan pendidikan, dan
4) Kalender pendidikan.
SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam
penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. SKL
meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok
mata pelajaran. Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi
kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah
disepakati.
Pemberlakuan KTSP, sebagaimana yang ditetapkan dalam
peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006
tentang Pelaksanaan SI dan SKL, ditetapkan oleh kepala sekolah
setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah.
Dengan kata lain, pemberlakuan KTSP sepenuhnya diserahkan
kepada sekolah, dalam arti tidak ada intervensi dari Dinas
Pendidikan atau Departemen Pendidikan Nasional. Dengan
demikian diharapkan KTSP yang disusun akan sesuai dengan
aspirasi masyarakat, situasi dan kondisi lingkungan dan
kebutuhan masyarakat.
Penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada
jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada
panduan yang disusun oleh BSNP dimana panduan tersebut
berisi sekurang-kurangnya model-model kurikulum tingkat
satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tersebut
dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/
karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan
peserta didik.
1) Tujuan diadakannya KTSP
a) Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan
inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum,
mengelola dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia.
b) Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat
dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan
keputusan bersama.
c) Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan
pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.
KTSP perlu diterapkan pada satuan pendidikan berkaitan
dengan tujuh hal berikut :
a) Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang
dan ancaman bagi dirinya.
b) Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya,
khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan.
c) Pengambilan keputusan lebih baik dilakukan oleh sekolah
karena sekolah sendiri yang paling tahu yang terbaik bagi
sekolah tersebut.

d) Keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam


pengembangan kurikulum dapat menciptakan transparansi
dan demokrasi yang sehat.
e) Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu
pendidikannya masing-masing.
f) Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan
sekolah-sekolah lain dalam meningkatkan mutu pendidikan.
g) Sekolah dapat merespon aspirasi masyarakatdan lingkungan
yang berubah secara cepat serta mengakomodasikannya
dengan KTSP.
Adapun prinsip-prinsip pengembangan KTSP menurut
Permendiknas nomor 22 tahun 2006 sebagaimana dikutip dari
Mulyasa (2006: 151-153) adalah sebagai berikut.
a) Berpusat pada potensi, perkembangan, serta kebutuhan
peserta didik dan lingkungannya.
b) Beragam dan terpadu.
c) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni.
d) Relevan dengan kebutuhan.
e) Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan relevansi
pendidikan tersebut dengan kebutuhan hidup dan dunia
kerja.
f) Menyeluruh dan berkesinambungan.
g) Belajar sepanjang hayat,
h) Seimbang antara kepentingan global, nasional, dan lokal.
2) Komponen KTSP
Secara garis besar, KTSP memiliki enam komponen penting
sebagai berikut.
a) Visi dan misi satuan pendidikan
Visi merupakan suatu pandangan atau wawasan yang
merupakan representasi dari apa yang diyakini dan diharapkan
dalam suatu organisasi dalam hal ini sekolah pada masa yang
akan datang.
b) Tujuan pendidikan satuan pendidikan
Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan untuk
pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk
hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
c) Kalender pendidikan
Kalender pendidikan untuk pengembang kurikulum jam
belajar efektif untuk pembentukan kompetensi peserta didik, dan
menyesuaikan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar
yang harus dimiliki peserta didik.
d) Struktur muatan KTSP
Struktur muatan KTSP terdiri atas.
Mata pelajaran
Muatan lokal
Kegiatan pengembangan diri
Pengaturan beban belajar
Kenaikan kelas, penjurusan, dan kelulusan
Pendidikan kecakapan hidup
Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global.
e) Silabus
Silabus merupakan rencana pembelajaran pada suatu
kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu, yang mencakup
standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran,
indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang
dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan.
f) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana
yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran
untuk mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang ditetapkan
dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus.
4.

Kurikulum 2013

Makna manusia yang berkualitas, menurut Undang-Undang


Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
yaitu manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan
bertanggung jawab.
Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang dirancang baik
dalam bentuk dokumen, proses, maupun penilaian didasarkan
pada pencapaian tujuan, konten dan bahan pelajaran serta
penyelenggaraan pembelajaran yang didasarkan pada Standar
Kompetensi Lulusan.
Konten pendidikan dalam SKL dikembangkan dalam
bentuk kurikulum satuan pendidikan dan jenjang pendidikan
sebagai suatu rencana tertulis (dokumen) dan kurikulum sjebagai
proses (implementasi). Dalam dimensi sebagai rencana tertulis,
kurikulum harus mengembangkan SKL menjadi konten
kurikulum yang berasal dari prestasi bangsa di masa lalu,
kehidupan bangsa masa kini, dan kehidupan bangsa di masa
mendatang.
Kurikulum 2013 bertujuan untuk mengarahkan peserta
didik menjadi:
1) Manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab
tantangan zaman yang selalu berubah;
2) Manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri;
3) Warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis
kompetensi merupakan salah satu strategi pembangunan
pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam
Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional.
Kurikulum ini menekankan tentang pemahaman tentang
apa yang dialami peserta didik akan menjadi hasil belajar pada
dirinya dan menjadi hasil kurikulum. Oleh karena itu proses
pembelajaran harus memberikan kesempatan yang luas kepada
peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi
hasil belajar yang sama atau lebih tinggi dari yang dinyatakan
dalam Standar Kompetensi Lulusan.
Karakteristik kurikulum berbasis kompetensi adalah:
1) Isi atau konten kurikulum adalah kompetensi yang
dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) mata
pelajaran dan dirinci lebih lanjut ke dalam Kompetensi
Dasar (KD).
2) Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara
kategorial mengenai kompetensi yang harus dipelajari
peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan mata
pelajaran
3) Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang
dipelajari peserta didik untuk suatu mata pelajaran di kelas
tertentu.
4) Penekanan kompetensi ranah sikap, keterampilan kognitif,
keterampilan psikomotorik, dan pengetahuan untuk suatu
satuan pendidikan dan mata pelajaran ditandai oleh
banyaknya KD suatu mata pelajaran. Untuk SD
pengembangan sikap menjadi kepedulian utama kurikulum.
5) Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris kompetensi
bukan konsep, generalisasi, topik atau sesuatu yang berasal
dari pendekatan disciplinarybased curriculum atau
content-based curriculum.
6) Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada
prinsip akumulatif, saling memperkuat dan memperkaya
antar mata pelajaran.
7) Proses pembelajaran didasarkan pada upaya menguasai
kompetensi pada tingkat yang memuaskan dengan
memperhatikan karakteristik konten kompetensi dimana
pengetahuan adalah konten yang bersifat tuntas (mastery).

Keterampilan
kognitif
dan
psikomotorik
adalah
kemampuan penguasaan konten yang dapat dilatihkan.
Sedangkan sikap adalah kemampuan penguasaan konten
yang lebih sulit dikembangkan dan memerlukan proses
pendidikan yang tidak langsung.
8) Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi,
bersifat formatif dan hasilnya segera diikuti dengan
pembelajaran remedial untuk memastikan penguasaan
kompetensi pada tingkat memuaskan (Kriteria Ketuntasan
Minimal/KKM dapat dijadikan tingkat memuaskan).
Pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip
berikut:
1) Kurikulum satuan pendidikan atau jenjang pendidikan
bukan merupakan daftar mata pelajaran.
2) Standar kompetensi lulusan ditetapkan untuk satu satuan
pendidikan, jenjang pendidikan, dan program pendidikan.
3) Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh
pengembangan kompetensi berupa sikap, pengetahuan,
keterampilan berpikir, dan keterampilan psikomotorik yang
dikemas dalam berbagai mata pelajaran.
4) Kurikulum didasarkan pada prinsip bahwa setiap sikap,
keterampilan dan pengetahuan yang dirumuskan dalam
kurikulum berbentuk Kemampuan Dasar dapat dipelajari
dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai
dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi.
5) Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan
dalam kemampuan dan minat.
6) Kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan,
kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta
lingkungannya.
7) Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan, budaya, teknologi, dan seni.
8) Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan..
9) Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan,
pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang
berlangsung sepanjang hayat.
10) Kurikulum
dikembangkan
dengan
memperhatikan
kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk
membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
11) Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan
memperbaiki pencapaian kompetensi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini
adalah:
1) Kurikulum adalah sejumlah rencana isi yang merupakan
sejumlah tahapan belajar yang di desain untuk siswa
dengan petunjuk institusi pendidikan yang berupa proses
yang statis ataupun dinamis dan kompetensi yang harus
dimiliki.
2) Kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan
pendidikan di sekolah bagi pihak-pihak yang terkait, baik
secara langsung maupun tidak langsung, seperti pihak guru,
kepala sekolah, pengawas, orang tua, masyarakat, dan pihak
peserta didik itu sendiri. Tujuan kurikulum menggambarkan
kualitas manusia yang diharapkan terbina dari suatu proses
pendidikan.
3) Sejarah kurikulum di indonesia: Kurikulum Rencana
Pelajaran (1947-1968), Kurikulum Berorientasi Pencapaian
Tujuan (1975-1994), Kurikulum Berbasis Kompetensi Dan
Ktsp (2004/ 2006), dan Kurikulum 2013.