Anda di halaman 1dari 28

PAPER

DISASTER VICTIM IDENTIFICATION (DVI)

Disusun oleh:
Andri Nurfajar 09310297
Devi Haryati 09310056
Riyanto 09310172

Konsulen:
dr. Surjit Singh, MBBS, Sp. F, DFM
dr. Arwan, Sp. F

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK
RSUD Dr. R. M. DJOELHAM KOTA BINJAI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat
dan hidayah yang diberikan sehingga referat yang berjudul Disaster Victim
Identification (DVI) dapat terselesaikan dengan baik. Referat ini dibuat sebagai salah
satu tugas dalam kepaniteraan klinik Ilmu Kedokteran Forensik di RSUD Dr. R. M.
Djoelham Kota Binjai.
Kiranya dapat penulis kemukakan bahwa tidak mungkin referat ini dapat
diselesaikan tanpa bantuan, dorongan serta kerjasama berbagai pihak dengan sepenuh
hati, sehingga dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih
kepada dr. Surjit Singh, MBBS, Sp. F, DFM dan dr. Arwan, Sp. F selaku konsulen
SMF Ilmu Kedokteran Forensik RSUD Dr. R. M. Djoelham Kota Binjai.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna. Karena itu
penulis mohon maaf bila terdapat kesalahan di dalamnya. Penulis juga mengharapkan
kiritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki kekurangan referat ini di
kemudian hari. Akhir kata, semoga referat ini bisa bermanfaat bagi para pembaca.
Atas perhatian yang diberikan, penulis mengucapkan terima kasih.
Binjai, April 2015

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................... 1
KATA PENGANTAR ..................................................................................... 2
DAFTAR ISI ................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang ..................................................................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Identifikasi ..................................................................................... 5
1. Definisi Identifikasi ................................................................... 5
2. Prinsip Identifikasi ..................................................................... 6
3. Manfaat Identifikasi ................................................................... 6
4. Peran Dokter Pada Proses Identifikasi ....................................... 7
5. Teknik Identifikasi Jenazah ........................................................ 8
B. Disaster Victim Identification ........................................................ 17
1. Definisi DVI .............................................................................. 17
2. Tahap DVI .................................................................................. 18
3. Metode Identifikasi .................................................................... 25
4. Identifikasi Korban .................................................................... 25
BAB III SIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis
yang memungkinkan terjadinya bencana, baik yang disebabkan oleh faktor alam,
3

faktor non alam maupun faktor manusia yang menyebabkan timbulnya korban jiwa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis yang
dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembangunan nasional.
Kasus bencana alam maupun non-alam, pembunuhan, pemekorsaan, dan lainlain, seringkali jenazah yang ditemukan sudah tidak berbentuk sehingga sangat sulit
untuk mengenalinya. Sementara itu, jenazah perlu dikembalikan kepada keluarga dari
korban. Maka dari itu, diperlukan identifikasi terhadap jenazah tersebut. Identifikasi
diartikan sebagai suatu usaha untuk mengetahui identitas seseorang melalui sejumlah
ciri yang ada pada orang tak dikenal, sedemikian rupa sehingga dapat ditentukan
bahwa orang itu apakah sama dengan orang yang hilang yang diperkirakan
sebelumnya juga dikenal dengan ciri-ciri itu. Sementara identifikasi secara forensik
merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang yang ditujukan untuk
kepentingan forensik, yaitu kepentingan proses peradilan.
Kegiatan identifikasi korban bencana massal (Disaster Victim Identification)
menjadi kegiatan yang penting dan dilaksanakan hampir pada pemeriksaan
identifikasi pada kasus musibah bencana massal adalah untuk mengenali korban.
Dengan identifikasi yang tepat selanjutnya dapat dilakukan upaya merawat,
mendoakan serta akhirnya menyerahkan setiap kejadian yang menimbulkan korban
jiwa dalam jumlah yang banyak. Tujuan utama pemeriksaan identifikasi pada kasus
musibah bencana massal adalah untuk mengenali korban.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. IDENTIFIKASI
1. Definisi Identifikasi
Identifikasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti
sebagai berikut : pertama, tanda kenal diri ; bukti diri ; kedua, penentu atau
4

penetapan identitas seseorang, benda, dan sebagainya ; ketiga, proses


psikologi yang terjadi pada diri seseorang karena secara tidak sadar
membayangkan dirinya seperti orang lain yang dikaguminya, lalu dia meniru
tingkah laku orang yang dikaguminya itu.
Identifikasi forensik memiliki arti penetapan identitas seseorang
berdasarkan ilmu kedokteran yang dilakukan berdasarkan fakta-fakta medis.
Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan
membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang. Identifikasi dari
tubuh yang tak dikenal, baik hidup ataupun mati, dapat dilakukan bagi
kepentingan penyidikan perkara pidana dan bagi tugas kepolisian yang lain,
misalnya pada peristiwa bencana alam, kecelakaan yang mengakibatkan
korban massal (mass disaster) atau pada peristiwa ditemukannya seseorang
dengan demensia atau kelainan jiwa yang sulit diajak berkomunikasi.
Kepentingan

dilakukannya

identifikasi

adalah

sebagai

upaya

memenuhi hak dasar setiap individu untuk memiliki identitas semasa hidup
ataupun setelah mati, dan untuk memudahkan penanganan masalah hukum
perdata ataupun pidana antara orang yang meninggal dengan keluarga yang
ditinggalkan.

2. Prinsip Identifikasi
Dalam proses Identifikasi diperlukan dua aspek :
a. Aspek pengumpulan data identitas ; baik ante-mortem maupun postmortem
b. Aspek komparasi ; antara data ante-mortem dengan post-mortem untuk
menentukan korban
Prinsip dari proses identifikasi adalah membandinkan data antemortem
dengan post-mortem, semakin banyak yang cocok semakin baik.

Data yang digunakan untuk menentukan identitas seseorang, meliputi :


a. Identifikasi primer, meliputi pemerikasaan sidik jari, data gigi dan
deoxyribonucleic acid (DNA),
b. Identifikasi sekunder, yakni data visual seperti pakaian ataupun perhiasan,
data kepemilikan seperti obat-obatan dan gigi palsu, data dokumentasi
seperti kartu identitas atau foto, dan data medis yaitu ciri tubuh, jenis
kelamin, golongan darah, dan lain-lain.
Kedudukan data identifikasi primer memiliki nilai yang lebih tinggi
dibandingkan

data

identifikasi

sekunder.

Korban

dinyatakan

positif

teridentifikasi apabila satu atau lebih ukuran identifikasi primer terbukti


dengan atau tanpa data sekunder, atau minimal dua data identifikasi sekunder
yang cocok bila data primer tidak ada
.
3. Manfaat Identifikasi
a.

Mengungkap kasus tindak pidana

b.

Keluarga/ yang ditinggalkan dapat mengurus sertifikat kematian.

c.

Keluarga/ yang ditinggalkan dapat mengetahui status pernikahan atau


untuk melakukan pernikahan kembali.

d.

Untuk masalah hukum perdata lainnya, seperti menentukan hak


pengurusan rumah atau tanah, hak waris, dll.

e.

Mengetahui asal-usul manusia, penyebarannya dan lain sebagainya.

4. Peran Dokter Pada Proses Identifikasi


Dalam melakukan identifikasi, dokter diharapkan dapat :
a. Membedakan jenazah manusia atau bukan
Apabila hanya di temukan tulang, terkadang tulang antara hewan
dengan manusia mirip. Namun dengan pemeriksaan yang teliti dapat
dibedakan tulang tersebut berasal dari manusia atau hewan. Untuk
tulang yang tidak teridentifikasi dapat ditentukan tulang manusia atau
tulang hewan dengan pemeriksaan imunologik (precipitin test).

b. Membedakan jenazah laki-laki atau perempuan


Pada keadaan dimana jenis kelamin tidak mungkin dilakukan
dengan pemeriksaan luar, maka penentuan jenis kelamin dapat
dilakukan dengan cara :
1) Jaringan lunak tertentu
Uterus dan prostat merupakan jaringan lunak yang tahan
terhadap pembusukkan dan dapat digunakan untuk menentukan jenis
kelamin. Selain itu pemeriksaan seks kromatin dari sampel jaringan
lunak atau tulang rawan pun bisa dilakukan. Pemeriksaan tersebut
sering digunakan untuk menentukan jenis kelamin pada mayat yang
terpotong-potong.
2) Tulang-tulang tertentu
Beberapa tulang pada laki-laki dan perempuan jelas
perbedaannya, antara lain tengkorak, pelvis, tulang panjang, rahang
dan gigi.
3) Memperkirakan umur
Tulang dan gigi dapat memberikan informasi bagi perkiraan
umur manusia. Namun signifikansi pemeriksaan tulang bergantung
pada besarnya penyebaran kelompok umur, dikelompokkan menjadi
kelompok fetus, neonatus, anak-anak, remaja dan dewasa. Pada
kelompok fetus dan neonatus, pemeriksaan difokuskan pada inti
penulangan dengan pemeriksaan rontgenologik atau otopsi. Pada
anak hingga remaja umur 20 tahun yang paling berguna adalah
pemeriksaan epifisis. Pada kelompok dewasa, dapat melihat
penutupan sutura, perubahan sudut rahang dan adanya proses
penyakit pada tulang.
4) Menentukan tinggi badan jenazah
7

Tinggi badan merupakan salah satu informasi penting yang


digunakan untuk melacak identitas. Perlu diketahui bahwa ukuran
tinggi badan orang yang sudah meninggal biasanya sedikit lebih
panjang sekitar 2,5 sentimeter daripada tinggi badan waktu hidup.
Jika jenazah tidak utuh, maka penentuan tinggi badan dapat
dilakukan dengan meggunakan tulang panjang.
5. Teknik Identifikasi Jenazah
Untuk mengidentifikasi jenazah, dapat digunakan berbagai teknik, yaitu :
a. Dokumentasi kejadian
KTP, SIM, Paspor, kartu pelajar dan tanda pengenal lainnya merupakan
sarana yang dapat dipakai untuk menentukan identitas.

Gambar 1. Pemeriksaan sekunder properti dari KTP yang melekat


b. Pengenalan visual
Metode ini dilakukan dengan memperlihatkan jenazah pada
orang-orang yang merasa kehilangan anggota keluarga atau temannya.
Cara ini hanya efektif pada jenazah yang belum membusuk, sehingga

masih mungkin dikenali wajah dan tubuhnya, oleh lebih dari satu orang.
Besar

kemungkinan

adanya

faktor

emosi

yang

mengaburkan

pembenaran atau penyangkalan identitas jenazah.

Gambar 2. jenazah dapat diidentifikasi sederhana secara visual

Gambar 3. pemeriksaan sekunder, adanya sikatriks

Gambar 4. pemeriksaan sekunder, pada korban terlihat kumis dan tahi


lalat

Gambar 5. pemeriksaan sekunder, tato sebagai sarana identifikasi

Gambar 6. pemeriksaan sekunder, sex dan tinggi badan


c. Penyesuaian data antemortem dan postmortem
Cara pengumpulan data ante-mortem adalah sebagai berikut :
1) Melalui Unit polisi pencarian orang hilang dalam DVI
Pengumpulan data berupa nama, alamat, nomor telpon yang bisa
dihubungi dari keluarga korban serta data medis korban.
2) Odontologis
Forensik odontology harus menghubungi seluruh dokter gigi yang
pernah melakukan perawatan gigi terhadap korban. Data tersebut
harus asli dan meliputi: odontogram, radiograf, cetakan gigi dan
fotograf.
Data post-mortem meliputi :
1)

Sidik jari

10

2)

Data dan foto dari pakaian, perhiasan, tato

3)

Pemeriksaan patologi forensik


Data yang paling sering digunakan adalah odontology forensik.
Data post mortem dapat dikumpulkan pada tempat kejadian
perkara (TKP). Setelah data ante mortem dan post mortem yang di
kumpulkan oleh tim yang berbeda terkumpul, kemudian dibawa ke
pusat identifikasi untuk dicocokkan (matching). Proses identifikasi
menggunakan 2 metode, yaitu metode sederhana dan metode ilmiah.
d. Metode obyektif atau ilmiah
Metode ilmiah dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
1) Sidik Jari
Identifikasi menggunakan pola sidik jari merupakan teknik
biometrik tertua di dunia. Sejarahnya kembali ke zaman 6000 tahun
sebelum masehi. Penggunaan sidik jari telah tercatatkan oleh bangsa
Assyiria, Babilonia Jepang dan Cina.Bangsa Cina menggunakan
sidik jari sebagai alat identifikasi penulis dari suatu dokumen. Sejak
tahun 1897, dactyloscopy (identifikasi sidik jari tanpa berbasis
komputer) telah digunakan untuk identifikasi kejahatan.
Karakteristik sidik jari setiap orang adalah unik dan tidak
akan berubah selama hidup. Berdasarkan penelitian peluang dua
orang memiliki sidik jari yang sama lebih kecil dari satu dalam satu
milyar.
Identifikasi sidik jari dilakukan dengan mencocokkan pola
karakteristik yang khas, yang diketahui sebagai detail Galton, point
of identity atau minutiae, dan pemanding minutiae adalah cetak
referensi berupa cap sidik jari menggunakan tinta dari sidik jari
tersangka.
Ada tiga gambaran dasar dari bentuk karakter dasar, yaitu :
a) The ridge ending
11

b) The bifurcation
c) The dot or island
Dalam satu sidik jari terdapat lebih dari 100 poin yang
digunakan dalam identifikasi. Tidak ada ukuran jumlah pasti poin
identifikasi yang ditemukan pada luas area tertentu tergantung dari
lokasi penempelan. Contoh, daerah delta mungkin mengandung
lebih banyak poin permilimeter persegi dibanding daerah ujung jari.

Gambar 7. Glove on. Teknik Fingerprinting

Gambar 8. Analisis Sidik Jari

12

Gambar 9. Pada foto pertama tampak Prosedur Hand boiling dan pada foto
kedua tampak foto sidik jari setelah Hand boiling

Gambar 10. Kulit terlepas, double-rowed pappillaries sudah tampak pada kondisi
tangan setelah hand boiling. Pada gambar kedua, tampak jejak dari ibu jari dan jari
telunjuk tangan kanan setelah dilakukan hand boiling, diwarnai dengan bubuk arang,
dicetak dengan adhesive labels dan ditekankan pada slide transparan.14

2) Rekam gigi
Merupakan metode identifikasi yang memiliki banyak keunggulan,
yaitu :
a) Gigi resisten terhadap pembusukan dan pengaruh lingkungan
yang ekstrim
b) Karakteristik individual yang unik dalam hal susunan gigi dan
restorasi gigi membuat identifikasi gigi memiliki ketepatan
tinggi
c) Kemungkinan adanya data antemortem berupa rekam gigi

13

d) Terlindung oleh otot bibir dan pipi, trauma akan mengenai otototot tersebut lebih dahulu.
e) Bentuk gigi geligi di dunia tidak sama, kemungkinan sama satu
banding dua miliar
f) Gigi tahan panas hingga 400 C
g) Gigi tahan asam keras.
Batasan dari forensik odontologi terdiri dari :
a) Identifikasi dari mayat tak dikenal.
b) Penentuan umur
c) Pemeriksaan jejas gigit
d) Penentuan ras berdasarkan gigi
e) Analisis dari trauma orofasial
f) Dental jurisprudensi berupa keterangan saksi ahli
g) Peranan pemeriksaan DNA dalam identifikasi personal

Gambar 11. Gigi tetap dalam keadaan utuh pada suhu yang tinggi, walaupun tubuh
telah rusak, tetapi gigi masih dapat diidentifikasi
14

Gambar 12. Pemeriksaan gigi : pada gigi emas terdapat inisial korban

Gambar 12. Pemeriksaan Primer Gigi Tidak Akurat Akibat Avulsi Gigi Postmortem
dan Hilangnya Jaringan Lunak.

15

Gambar 13. Proses Pemeriksaan Jenazah Terbakar : Pemeriksaan gigi yang tetap utuh
dan merupakan ciri khas masing-masing
3) DNA
DNA adalah asam nukleat yang mengandung materi genetik
yang berfungsi untuk mengatur perkembangan biologik seluruh
bentuk kehidupan secara seluler.DNA terdiri dari dua molekul yang
membentuk struktur double helix.
Hampir semua sampel biologis tubuh dapat digunakan
sebagai sampel tes DNA, tapi yang sering digunakan adalah sampel
darah, rambut, apusan pipi, dan kuku. Untuk kasus forensik, sperma,
daging, tulang, kulit, air liur atau sampel biologis lainnya yang di
temukan di TKP dapat menjadi sampel tes DNA.
a) Tujuan Tes DNA

Tujuan pribadi: penentuan perwalian anak atau penentuan


orang tua dari anak.

Tujuan hukum: meliputi masalah forensik, seperti identifikasi


korban yang telah hancur, sehingga butuh pencocokkan
antara DNA korban dengan keluarga, ataupun pembuktian
pelaku kejahatan.

b) Metode tes DNA :


STR (Short Tandem Repeat)
STR adalah lokus DNA yang tersusun atas
pengulangan 2-6 basa. Dalam genom manusia dapat
ditemukan pengulangan basa yang bervariasi jumlah dan
jenisnya. Dengan memprofilkan DNA menggunakan STR,
DNA dapat dibandingkan satu sama lain.

16

PCR (Polymerase Chain Reaction)


PCR merupakan teknik yang memungkinkan sintesis
wilayah DNA tertentu. Yang memungkinkan peneliti
membuat berjuta-juta salinan DNA dalam waktu singkat
untuk kemudian di identifikasi.

B. DISASTER VICTIM IDENTIFICATION (DVI)


1. Definisi DVI
DVI atau Disaster Victim Identification adalah suatu definisi yang
diberikan sebagai sebuah prosedur untuk mengidentifikasi korban meninggal
akibat bencana massal yang dapat dipertanggungjawabkan secara sah oleh
hukum dan ilmiah serta mengacu pada standar baku Interpol DVI Guideline.
Yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan DVI adalah polisi
didukung oleh para ahli seperti patologi forensik, odontologi forensik, ahli
sidik jari, ahli DNA, fotografi, dan tim bantuan lain. Prosedur DVI diperlukan
dalam menegakkan HAM, merupakan bagian dari proses penyidikan, jika
identifikasi visual diragukan, serta untuk kepentingan hukum (asuransi,
warisan, dan status perkawinan).
Prinsip dari proses identifikasi ini adalah dengan membandingkan data
ante-mortem dan post-mortem, semakin banyak yang cocok maka akan
semakin baik. Tujuan penerapan DVI adalah dalam rangka mencapai
identifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, sempurna dan
paripurna dengan semaksimal mungkin sebagai wujud dari kebutuhan dasar
hak asasi manusia, dimana seorang mayat mempunyai hak untuk dikenali.
DVI diterapkan pada bencana yang menyebabkan korban massal,
seperti kecelakaan bus dan pesawat, gedung yang runtuh atau terbakar,
kecelakaan kapal laut dan aksi terorisme. Selain itu juga dapat diterapkan
pada bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, dan gunung meletus.

17

Penatalaksanaan korban mati mengacu pada Surat Keputusan Bersama


Menteri Kesehatan dan Kapolri No. 1087/Menkes/SKB/IX/2004 dan No. Pol
Kep/40/IX/2004 Pedoman Pelaksanaan Identifikasi Korban Mati pada
Bencana Massal.
Rujukan Hukum :
a. UU No.24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
b. UU No.2 tahun 2002 tentang Polri
c. UU No.23 tentang kesehatan
d. PP No.21 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana
e. Resolusi Interpol No.AGN/65/RES/13 year 1996 on Disaster
Victim Identification
f. MOU Depkes RI-Polri tahun 2004
g. MOU Depkes RI-Polri tahun 2003
2. Tahap DVI
Proses DVI tersebut mempunyai lima fase, dimana setiap fasenya
mempunyai keterkaitan satu dengan yang lainnya. Fase-fase tersebut yaitu :
a. Fase I TKP (The Scene)
Merupakan tindakan awal yang dilakukan di tempat kejadian
peristiwa (TKP) bencana. Ketika suatu bencana terjadi, prioritas yang
paling utama adalah untuk mengetahui seberapa luas jangkauan
bencana. Sebuah organisasi resmi harus mengasumsikan komando
operasi secara keseluruhan untuk memastikan koordinasi personil dan
sumber daya material yang efektif dalam penanganan bencana. Dalam
kebanyakan kasus, polisi memikul tanggung jawab komando untuk
operasi secara keseluruhan. Dilaksanakan oleh tim DVI unit TKP
dengan aturan umum sebagai berikut:
a. Tidak diperkenankan seorang pun korban meninggal yang dapat
dipindahkan dari lokasi, sebelum dilakukan olah TKP aspek DVI;
18

b. Pada kesempatan pertama label anti air dan anti robek harus diikat
pada setiap tubuh korban atau korban yang tidak dikenal untuk
mencegah kemungkinan tercampur atau hilang;
c. Semua perlengkapan pribadi yang melekat di tubuh korban tidak
boleh dipisahkan;
d. Untuk barangbarang kepemilikan lainnya yang tidak melekat pada
tubuh korban yang ditemukan di TKP, dikumpulkan dan dicatat;
e. Identifikasi tidak dilakukan di TKP, namun ada proses kelanjutan
yakni masuk dalam fase kedua dan seterusnya.
Pada prinsipnya untuk fase tindakan awal yang dilakukan di situs
bencana, ada tiga langkah utama. Langkah pertama adalah to secure atau
untuk mengamankan, langkah kedua adalah to collect atau untuk
mengumpulkan dan langkah ketiga adalah documentation atau
pelabelan.
Pada langkah to secure organisasi yang memimpin komando
DVI harus mengambil langkah untuk mengamankan TKP agar TKP
tidak menjadi rusak. Langkah langkah tersebut antara lain adalah :
1) Memblokir pandangan situs bencana untuk orang yang tidak
berkepentingan (penonton yang penasaran, wakil wakil
pers, dll), misalnya dengan memasang police line.
2) Menandai gerbang untuk masuk ke lokasi bencana.
3) Menyediakan jalur akses yang terlihat dan mudah bagi yang
berkepentingan.
4) Menyediakan petugas yang bertanggung jawab untuk
mengontrol siapa saja yang memiliki akses untuk masuk ke
lokasi bencana.
5) Periksa semua individu yang hadir di lokasi untuk
menentukan tujuan kehaditan dan otorisasi.
6) Data terkait harus dicatat dan orang yang tidak berwenang
harus meninggalkan area bencana

19

Pada langkah to collect organisasi yang memimpin komando


DVI harus mengumpulkan korban korban bencana dan mengumpulkan
properti yang terkait dengan korban yang mungkin dapat digunakan
untuk kepentingan identifikasi korban.
Pada langkah documentation organisasi yang memimpin
komando DVI mendokumentasikan kejadian bencana dengan cara
memfoto area bencana dan korban kemudian memberikan nomor dan
label pada korban.
Setelah ketiga langkah tersebut dilakukan maka korban yang
sudah diberi nomor dan label dimasukkan ke dalam kantung mayat
untuk kemudian dievakuasi.

Gambar 14. Kontainer dan perbendaharaan pemeriksaan badan korban post


mortem
Rincian yang harus dilakukan pada saat di TKP adalah sebagai
berikut:
1) membuat sektorsektor atau zona pada TKP;
2) memberikan tanda pada setiap sektor;

20

3) memberikan label orange (human remains label) pada jenazah dan


potongan jenazah, label diikatkan pada bagian tubuh / ibu jari kiri
jenazah;
4) memberikan label hijau (property label) pada barangbarang pemilik
yang tercecer.
5) membuat sketsa dan foto setiap sektor;
6) foto mayat dari jarak jauh, sedang dan dekat beserta label jenasahnya;
7) isi dan lengkapi pada formulir Interpol DVI PM dengan keterangan
sebagai berikut :
a. pada setiap jenazah yang ditemukan, maka tentukan perkiraan umur,
tanggal dan tempat tubuh ditemukan, akan lebih baik apabila di foto
pada lokasi dengan referensi koordinat dan sektor TKP;
b. selanjutnya tentukan apakah jenazah lengkap/tidak lengkap, dapat
c.

dikenali atau tidak, atau hanya bagian tubuh saja yang ditemukan;
diskripsikan
keadaannya
apakah
rusak,
terbelah,

dekomposisi/membusuk, menulang, hilang atau terlepas;


d. keterangan informasi lainnya sesuai dengan isi dari formulir
8)

Interpol DVI PM
masukkan jenazah dalam kantung jenazah dan atau potongan jenazah di dalam

9)

karung plastik dan diberi label sesuai jenazah;


formulir Interpol DVI PM turut dimasukkan ke dalam kantong jenasah dengan

sebelumnya masukkan plastik agar terlindung dari basah dan robek;


10) masukkan barangbarang yang terlepas dari tubuh korban ke dalam kantung
plastik dan diberi label sesuai nomor properti;
11) evakuasi jenasah dan barang kepemilikan ke tempat pemeriksaan dan
penyimpanan jenazah kemudian dibuatkan berita acara penyerahan kolektif.
b. Fase II Kamar Mayat/Post Mortem (The Mortuary)
Pengumpulan data post-mortem atau data yang diperoleh paska
kematian dilakukan oleh post-mortem unit yang diberi wewenang oleh
organisasi yang memimpin komando DVI. Pada fase ini dilakukan
berbagai pemeriksaan yang kesemuanya dilakukan untuk memperoleh
dan mencatat data selengkaplengkapnya mengenai korban. Kegiatan
pada fase 2 sebagai berikut :
21

1) Menerima jenazah/potongan jenazah dan barang bukti dari unit


TKP;
2) Mengelompokkan kiriman tersebut berdasarkan jenazah utuh,
tidak utuh, potongan jenazah dan barangbarang;
3) membuat foto jenazah;
4) mengambil sidik jari korban dan golongan darah;
5) melakukan pemeriksaan korban sesuai formulir interpol DVI PM
yang tersedia;
6) melakukan pemeriksaan terhadap property yang melekat pada
mayat;
7) Pemeriksaan antropologi forensik : pemeriksaan fisik secara
keseluruhan, dari bentuk tubuh, tinggi badan, berat badan, tatto
hingga cacat tubuh dan bekas luka yang ada di tubuh korban.
8) Pemeriksaan odontologi forensik : bentuk gigi dan rahang
merupakan ciri khusus tiap orang ; tidak ada profil gigi yang
identik pada 2 orang yang berbeda
9) membuat rontgen foto jika perlu;
10) mengambil sampel DNA;
11) menyimpan jenasah yang sudah diperiksa;
12) melakukan pemeriksaan barangbarang kepemilikan yang tidak
melekat di mayat yang ditemukan di TKP;
13) mengirimkan datadata yang telah diperoleh ke unit pembanding
data.
Data data hasil pemeriksaan tersebut kemudian digolongkan ke
dalam data primer dan data sekunder sebagai berikut :
1) Primer (sidik jari, profil gigi, DNA)
2) Sekunder (visual, fotografi, properti jenazah, antropologi medis)
Di dalam menentukan identifikasi seseorang secara positif,
Badan Identifikasi DVI Indonesia mempunyai aturan-aturan, yaitu
minimal apabila salah satu identifikasi primer dan atau didukung dengan
minimal dua dari identifikasi sekunder.

22

Selain mengumpulkan data pasca kematian, pada fase ini juga


sekaligus dilakukan tindakan untuk mencegah perubahanperubahan
paska kematian pada jenazah, misalnya dengan meletakkan jenazah pada
lingkungan dingin untuk memperlambat pembusukan.
c. Fase III Ante Mortem
Pada fase ini dilakukan pengumpulan data mengenai jenazah
sebelum kematian. Data ini biasanya diperoleh dari keluarga jenazah
maupun orang yang terdekat dengan jenazah. Data yang diperoleh dapat
berupa foto korban semasa hidup, interpretasi ciri ciri spesifik jenazah
(tattoo, tindikan, bekas luka, dll), rekaman pemeriksaan gigi korban,
data sidik jari korban semasa hidup, sampel DNA orang tua maupun
kerabat korban, serta informasi informasi lain yang relevan dan dapat
digunakan untuk kepentingan identifikasi, misalnya informasi mengenai
pakaian terakhir yang dikenakan korban.
d. Fase IV Rekonsiliasi
Pada fase ini dilakukan pembandingan data post mortem dengan
data ante mortem. Ahli forensik dan profesional lain yang terkait dalam
proses identifikasi menentukan apakah temuan post mortem pada
jenazah sesuai dengan data ante mortem milik korban yang dicurigai
sebagai jenazah. Apabila data yang dibandingkan terbukti cocok maka
dikatakan identifikasi positif atau telah tegak. Apabila data yang
dibandingkan ternyata tidak cocok maka identifikasi dianggap negatif
dan data post mortem jenazah tetap disimpan sampai ditemukan data
ante mortem yang sesuai dengan temuan post mortem jenazah.
e. Fase V Debriefing
Korban yang

telah

diidentifikasi

direkonstruksi

hingga

didapatkan kondisi kosmetik terbaik kemudian dikembalikan pada


keluarganya untuk dimakamkan. Apabila korban tidak teridentifikasi
maka data post mortem jenazah tetap disimpan sampai ditemukan data
23

ante mortem yang sesuai dengan temuan post mortem jenazah, dan
pemakaman jenazah

menjadi tanggung jawab

organisasi yang

memimpin komando DVI. Sertifikasi jenazah dan kepentingan medikolegal serta administrative untuk penguburan menjadi tanggung jawab
pihak yang menguburkan jenazah.
3. Metode Identifikasi
Secara umum, identifikasi yang akurat diperoleh dari mencocokan
data ante mortem dengan post mortem yang didapatkan dari :
a.

Bukti sirkumstansial (pakaian, perhiasan, dan isi kantong)

b.

Bukti fisik, yang diperoleh dari :


1) Pemeriksaan eksternal, misal : deskripsi secara umum, maupun
sidik jari.
2) Pemeriksaan internal, misal : bukti medis, hasil pemeriksaan gigi
geligi (dental record), hasil labolatorium, dan identifikasi
genetik.

4. Identifikasi Korban
Untuk mengidentifikasi korban bencana, diperlukan dua macam data :
a. Data orang hilang (misal : orang yang berada di tempat kejadian
namun terdaftar sebagai korban selamat)
b. Data dari jenazah yang ditemukan di tempat kejadian
Dalam mengidentifikasi korban, Interpol DVI Guide membentuk beberapa
tim atau unit, diantaranya :
a. Bagian Korban Hilang (Missing Brunch), terdiri dari :
1) Unit pengumpulan data ante-mortem (Ante-mortem record unit)
2)

Unit pendataan berkas ante mortem (Ante-mortem files unit)

3)

Daftar korban (Victim list)


b. Pengumpulan dan klasifikasi jenazah (Victim Recovery), terdiri dari :

24

1) Koordinator tim pemulihan (Recovery Co-ordinatory)


2) Tim pencari (Search teams)
3) Tim dokumentasi (Photography)
4) Tim pemulihan jenazah (Body Recovery team)
5) Tim pemulihan barang-barang pribadi (Property Recovery team)
6) Tempat administrasi dan penyimpanan sementara jenazah
(Morgue Station)
c. Bagian Kamar Mayat (Mortuary Branch), terdiri dari :
1)

Unit keamanan (Security unit)

2)

Unit transportasi jenazah (Body movement unit)

3)

Unit pengumpul data post-mortem (Post-mortem record unit)

4)

Unit pemeriksa jenazah (Body Examination unit), terdiri dari:

d.

a)

Unit dokumentasi (Post-mortem photography unit)

b)

Unit sidik jari (Post-mortem property unit)

c)

Unit barang-barang pribadi (Post-mortem property unit)

d)

Unit media (Post-mortem medical unit)

e)

Unit pemeriksa gigi geligi (Post-mortem dental unit)

Pusat Identifikasi (Identification Centre), terdiri dari :


1) Bagian administrasi berkas identifikasi (Identification centre file
section)
2) Bagian

khusus

pusat

identifikasi

(Identification

centre

specialized section), terdiri dari :


a) Bagian penyelidikan data dokumentasi (Photography
section)
b) Bagian penyelidikan sidik jari (Finger print)
c) Bagian penyelidkan barang-barang pribadi (Property
section)
d) Bagian penyelidikan medis (Medical section)

25

e) Bagian penyelidikan gigi geligi (Dental section)


f) Bagian analisis DNA (DNA analysis)
g) Badan identifikasi (Identification board)
h) Bagian pelepasan jenazah (Body realese section)

BAB III
SIMPULAN

Identifikasi dalam bidang forensik dilakukan untuk membantu penyidik dalam


melakukan penetapan identitas seseorang. Dalam proses identifikasi diperlukan dua
aspek, yaitu aspek pengumpulan data ante-mortem maupun post-mortem dan aspek

26

komparasi antara kedua data tersebut. Data yang digunakan untuk menentukan
identitas jenazah meliputi data identifikasi primer (sidik jari, odontologi, dan DNA)
dan data identifikasi sekunder (pakaian, perhiasan, kartu identitas, foto, data medis,
dll).
DVI adalah sebuah prosedur untuk mengidentifikasi korban mati akibat
bencana massal secara ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan dan mengacu
kepada standar baku interpol. Terdapat lima fase dalam prosedur DVI yaitu, TKP,
pengumpulan informasi post-mortem, ante-mortem, perbandingan data ante-mortem
dan post-mortem, dan debriefing. Seseorang positif teridentifikasi apabila memenuhi
salah satu identifikasi primer dan atau didukung dengan minimal dua dari
identifikasi sekunder.

DAFTAR PUSTAKA
1. Muhtarom, Ali. 2009. Tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) Sebagai Alat Bukti
Hubungan Nasab dalam Perspektif Hukum Islam pp. 53-60. Yogyakarta :
Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
2. Neil A. Campbell dkk.Biologi, alih bahasa Rahayu Lestari et.all. Jakarta. 2002

27

3. Nei, M. 1987. Molecular Evolutionary Genetics.Columbia University Press. New


York.
4. Prawestiningtyas, Eriko, Agus Mochammad Algozi.2009. Identifikasi Forensik
Berdasarkan Pemeriksaan Primer dan Sekunder Sebagai Penentu Identitas
Korban pada Dua Kasus Bencana Massal.Jurnal Kedokteran Brawijaya, Vol.
XXV No. 2, Agustus 2009 pp.87-89
5. Ridley, M. 1991. Masalah-masalah Evolusi. Diterjemahkan A. F. SAIFUDDIN.
Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
6. Rizal, M. Wahyu. 2005. Tes DNA : Mengendus Jejak Kejahatan. Majalah Natural
Ed. 11/Thn. VII/Agustus 2005. Bandar Lampung
7. S Haymer David.1993, Resolution of Population of theMediterananean Fruit Fly
at the DNA Level Using Random Primers for Polymerase Chain Reaction. Journal
Genom 37 (1) : 994
8. Slamet P, Peter S, Yosephine L, Agus M, 2004, Pedoman Penatalaksanaan
Identifikasi Korban Mati pada Bencana Massal hal.23, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jakarta.
9. Suryo.2001. Genetika Srata I cetakan ke-9 pp. 59.Yogyakarta : Gajah Mada
University Press.
10. Yahya, H. Rahasia DNA Kebenaran yang diungkapkan oleh Proyek Genom
Manusia, alih bahasa Halfino Berry. Bandung. 2003.

28