Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN ASMA BRONKHIAL

DI RUANG RAWAT INAP ADENIUM


RSD dr. SUBANDI JEMBER

Disusun untuk memenuhi tugas pada Pendidikan Profesi Ners


Stase Keperawatan Medikal Bedah

Oleh
Winda Sulistya Safitri
NIM 102311101036

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Alamat : Jl. Kalimantan No. 37 Telp./Fax (0331) 323450 Jember

Diagnosa medik

: Asma bronkhial

A. Tinjauan Teori
1. Definisi
Asma adalah suatu kelainan berupa inflamasi (peradangan) kronik saluran
napas yang menyebabkan hipereaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan
yang ditandai dengan gejala episodik berulang berupa mengi, batuk, sesak napas
dan rasa berat di dada terutama pada malam dan atau dini hari yang umumnya
bersifat reversibel baik dengan atau tanpa pengobatan. Asma bersifat fluktuatif
(hilang timbul) artinya dapat tenang tanpa gejala tidak mengganggu aktifitas tetapi
dapat eksaserbasi dengan gejala ringan sampai berat bahkan dapat menimbulkan
kematian (Kementerian Kesehatan RI, 2008).
Asma merupakan penyakit inflamasi kronik saluran napas yang
disebabkan oleh reaksi hiperresponsif sel imun tubuh seperti mast sel, eosinophils,
dan T-lymphocytes terhadap stimuli tertentu dan menimbulkan gejala dyspnea,
whizzing, dan batuk akibat obstruksi jalan napas yang bersifat reversibel dan
terjadi secara episodik berulang (Smeltzer dan Bare, 2002).
2.

Etiologi
Ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab timbulnya atau

terjadinya asma, dan faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor


predisposisi dan faktor presipitasi (Tanjung, 2003).
a.

Faktor Presdiposisi
Genetik, yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui
bagaiaman cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi
biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena
adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma
bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu, hipersensitifitas
saluran pernapasannya juga bisa diturunkan.

b.

Faktor Presipitasi

1) Alergen

Alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis alergi, yaitu inhalan, ingestan dan
kontaktan.
a) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan. Misalnya debu, bulu
binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi. Jenis inhalan
merupakan jenis alergen yang paling sering dijumpai.
b) Ingestan, yang masuk melalui mulut. Misalnya makanan dan obat-obatan.
c) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit. Misalnya perhiasan,
logam dan jam tangan.
2) Perubahan Cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi
asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya
serangan asma.
3) Stress
Stress atau gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain
itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala
asma yang timbul segera diobati, penderita asma yang mengalami stress
atau gangguan emosional perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah
pribadinya. Karena jika streesnya belum diatasi maka gejala asmanya belum
bisa diobati.
4) Lingkungan
Lingkungan mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya asma.
Hal ini berkaitan dengan dimana klien dengan asma melakukan aktivitasnya
dan melakukan kontak dengan lingkungan yang ada disekitarnya. Misalnya
orang yang bekerja di pabrik atau industri batu bata, saat proses pembuatan
batu bata akan dilakukan pembakaran yang menghasilkan asap yang dapat
terhirup dan mempengaruhi pernapasan pekerja.
5) Olahraga/Aktivitas Jasmani yang Berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan
aktifitas jasmani atau olahraga yang berat. Lari cepat paling mudah
menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya
terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.

3.

Tanda dan gejala

Gambaran klinis pasien yang menderita asma:


a. gambaran obyektif yang ditangkap perawat adalah kondisi pasien dalam
keadaan seperti dibawah ini:
1) sesak napas parah dengan ekspirasi memendek disertai wheezing;
2) dapat disertai batuk dengan sputum kental dan sulit dikeluarkan;
3) bernapas menggunakan otot-otot napas tambahan;
4) sianosis, takikardia, gelisah, dan pulsus paradoksus;
5) fase ekspirasi memanjang disertai wheezing (di apakes dan hilus).
b. gambaran subyektif yang ditangkap perawat adalah pasien mengeluhkan sukar
bernapas, sesak, dan anoreksia.
c. gambaran Psikososial yang diketahui oleh perawat adalah cemas, takut, mudah
tersinggung, dan kurangnya pengetahuan pasien terhadap situasi penyakitnya.
Menurut Mansjoer (2000), gejala yang timbul biasanya berhubungan
dengan beratnya derajat hiperaktivitas bronkus. Obstruksi jalan napas dapat
reversibel secara spontan maupun dengan pengobatan. Gejala-gejala asma antara
lain:
a. bising mengi (wheezing) yang terdengar dengan atau tanpa stetoskop;
b. batuk produktif sering pada malam hari;
c. napas atau dada seperti tertekan.
4.

Patofisiologi
Asma adalah obstruksi jalan napas difus reversibel. Obstruksi disebabkan

oleh satu atau lebih penyebab, seperti penyempitan jalan napas karena kontraksi
otot yang mengelilingi bronki, lapisan bronki yang mengalami pembengkakan
atau inflamasi dan penumpukan mukus atau sekret yang kental disekitar bronki.
Selain itu, otot-otot bronkial dan kelenjar mukosa membesar, sputum atau sekret
yang kental, banyak dihasilkan dan alveoli menjadi hiperinflasi, dengan udara
terperangkap di dalam jaringan paru. Mekanisme yang pasti dari perubahan ini
tidak diketahui, tetapi apa yang paling diketahui adalah keterlibatan sistem
imunologis dan sistem saraf otonom.

Beberapa individu dengan asma mengalami respons imun yang buruk


terhadap lingkungan mereka. Antibodi yang dihasilkan (IgE) kemudian
menyerang sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen
mengakibatkan ikatan antigen dengan antibodi, menyebabkan pelepasan produk
sel-sel mast yang biasa disebut mediator seperti histamin, bradikinin, dan
prostaglandin serta anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat (SRS-A).
Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos dan kelenjar
jalan napas, menyebabkan bronkospasme, pembengkakan membran mukosa, dan
pembetunkan mukus yang sangat banyak.
Sistem saraf otonom mempersarafi paru. Tonus otot bronkial diatur oleh
impuls saraf vagal melalui sistem parasimpatis. Pada asma idiopatik atau
nonalergi, ketika ujung saraf pada jalan napas dirangsang oleh faktor seperti
infeksi, latihan, dingin, merokok, emosi, dan polutan, jumlah asetilkolin yang
dilepaskan meningkat. Pelepasan asetilkolin ini secara langsung menyebabkan
bronkokontriksi juga merangsang pembentukan mediator kimiawi. Individu
dengan asma dapat mempunyai toleransi rendah terhadap respons parasimpatis.
Selain itu, reseptor - dan -adrenergik dari sistem saraf simpatis terletak
dalam

bronki.

Ketika

reseptor

-adrenergik

dirangsang,

akan

terjadi

bronkokontriksi, bronkodilatasi terjadi ketika reseptor -adrenergik yang


dirangsang. Keseimbnagan antara reseptor - dan -adrenergik dikendalikan oleh
siklik adenosin monofosfat (cAMP). Stimulasi reseptor-alfa mengakibatkan
penurunan cAMP, yang mengarah pada peningkatan mediator kimiawi yang
dilepaskan

oleh

sel-sel

mast

bronkokontriksi.

Stimulasi

reseptor-beta

mengakibatkan peningkatan tingkat cAMP, yang menghambat pelepasan mediator


kimiawi dan menyebabkan bronkodilatasi. Teori yang diajukan adalah bahwa
penyekatan -adrenergik terjadi pada individu dengan asma. Akibatnya, asmatik
rentan terhadap peningkatan pelepasan mediator kimiawi dan kontriksi otot polos
(Smeltzer & Bare, 2002).
5. Komplikasi
Komplikasi atau dampak asma yang umum yaitu pada penurunan atau
keterbatasan aktivitas. Asma juga dapat mengakibatkan banyak rawatan
kecemasan di hospital secara berkelanjutan dan jika tidak ditangani dengan segera

dan dengan tepat akan dapat mengakibatkan kematian. Komplikasi yang mungkin
terjadi akibat penyakit asma bronkial, yaitu status asmatikus, hipoksemia,
pneumothorax, pneumomediastinum, atelektasis, gagal napas, bronkitis, fraktur
iga, dan kematian (Vitahealth, 2006).
6.

Penatalaksanaan
Tatalaksana klien dengan asma adalah manajemen kasus untuk

meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidup klien dengan asma agar dapat
hidup normal tanpa hambatan dalam melakukan segala aktivitas sehari-hari (asma
terkontrol) (Kementerian Kesehatan RI, 2008).
Pada prinsipnya penatalaksanaan asma yang telah diklasifikasikan dapat
dibedakan sebagai berikut (Kementerian Kesehatan RI, 2008).
a. Penatalaksanaan asma akut (saat serangan)
Serangan asma akut adalah episodik perburukan pada asma yang harus
diketahui oleh klien. Penanganan harus cepat dan disesuaikan dengan derajat
serangan. Penilaian beratnya serangan berdasarkan riwayat serangan termasuk
gejala, pemeriksaan fisik dan sebaliknya pemeriksaan faal paru, untuk
selanjutnya diberikan pengobatan yang tepat dan cepat. Pada serangan asma
obat-obat yang digunakan adalah:
1) bronkodilator (2 agonis kerja cepat dan ipratropium bromida);
2) kortikosteroid sistemik.
b. Penatalaksanaan asma jangka panjang
Penatalaksanaan asma jangka panjang bertujuan untuk mengontrol asma
dan mencegah serangan. Pengobatan asma jangka panjang disesuaikan dengan
klasifikasi beratnya asma dan sesuai dengan prinsip yang telah ditentukan.
1) Edukasi
Edukasi atau pendidikan kesehatan yang dapat diberikan oleh klien
dengan asma:
a) kapan pasien berobat/ mencari pertolongan;
b) mengenali gejala serangan asma secara dini;
c) mengetahui obat-obat pelega dan pengontrol serta cara dan waktu
penggunaannya;

d) mengenali dan menghindari faktor pencetus;


e) kontrol teratur.
2) Obat asma
Obat asma terdiri dari obat pelega dan pengontrol. Obat pelega
diberikan pada saat serangan asma, sedangkan obat pengontrol ditujukan
untuk pencegahan serangan asma dan diberikan dalam jangka panjang dan
terus menerus. Untuk mengontrol asma digunakan anti inflamasi
(kortikosteroid inhalasi). Pada anak, kontrol lingkungan mutlak dilakukan
sebelum diberikan kortikosteroid dan dosis diturunkan apabila dua sampai
tiga bulan kondisi telah terkontrol. Obat asma yang digunakan sebagai
pengontrol antara lain:
a) inhalasi kortikosteroid;
b) 2 agonis kerja panjang;
c) antileukotrien;
d) teofilin lepas lambat (Kementerian Kesehatan RI, 2008).
Tatalaksana dalam tahap rehabilitatif juga perlu dilakukan pada klien
dengan asma bronkial untuk memperbaiki fungsi pernapasan terutama paru-paru.
Rehabilitasi paru mempunyai 2 aspek (Mulyono, 1997 dalam Nururrohma, 2006).
a. Rehabilitasi fisik, yang dapat dilakukan oleh klien dengan asma pada tahap
rehabilitasi:
1) latihan relaksasi;
2) terapi fisik dada;
3) latihan pernapasan;
4) latihan meningkatkan kemampuan fisik.
b. Rehabilitasi psikososial dan vokasional yang dapat diberikan pada klien
dengan asma:
1) pendidikan perseorangan dan keluarga;
2) latihan pekerjaan;
3) penempatan tugas;
4) latihan merawat diri sendiri.

7.

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada klien yang mengalami

asma adalah sebagai berikut:


a. Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat karakteristik sputum
misalnya kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari
Kristal eosinophil, Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus,
Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum yang pada umumnya
bersifat mukoid.
2) Pemeriksaan darah
Analisa gas darah diperlukan untuk menilai danya keabnormalan misalnya
asidosis, kadar leukosit (indikasi infeksi), dan sebagainya
b. Pemeriksaan radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan
menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang
bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun.
Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah
sebagai berikut:
1) Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan
bertambah.
2) Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen
akan semakin bertambah.
3) Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru
4) Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
5) Bila

terjadi

pneumonia

mediastinum,

pneumotoraks,

dan

pneumoperikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada


paru-paru.
c. Pemeriksaan tes kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat
menimbulkan reaksi yang positif pada asma.

d. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi
menjadi 3 bagian, dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada
empisema paru yaitu :
1) perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi
dan clock wise rotation.
2) Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB
(Right bundle branch block).
3) Tanda-tanda hopoksemia, yakni terdapatnya sinus tachycardia, SVES, dan
VES atau terjadinya depresi segmen ST negative.
e. Scanning paru
Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi
udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru.
f. Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible, cara yang paling
cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan
bronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah
pemberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik.
Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis
asma. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. Pemeriksaan
spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting
untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. Benyak penderita tanpa
keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi.
8.

Pathway

B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas Klien: nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, alamat,
b.

pekerjaan, status perkawinan.


Riwayat kesehatan: diagnosa medis, keluhan utama, riwayat penyakit
sekarang, riwayat kesehatan terdahulu terdiri dari penyakit yang pernah

dialami, alergi, imunisasi, kebiasaan/pola hidup, obat-obatan yang digunakan,


riwayat penyakit keluarga.
Klien biasanya mengalami alergi inhalasi atau cuaca, atau yang lainnya.
c. Riwayat penyakit saat ini
Klien mengalami sesak nafas.
d. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya terdapat anggota keluarga yang mengalami asma. Karena asma
bersifat degenerative.
e. Genogram
f. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum, tanda vital
Klien mengalami sesak nafas, RR klien meningkat, nadi klien juga dapat
2)

meningkat.
Pengkajian Fisik (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi):
a. Kepala
Tidak terdapat gangguan yang diakibatkan oleh asma bronchial.
b. Mata
Tidak terdapat gangguan yang diakibatkan oleh asma bronchial.
c. Telinga
Tidak terdapat gangguan yang diakibatkan oleh asma bronchial.
d. Hidung
Terdapat pernafasan cuping hidung.
e. Mulut
Klien mengalami sianosis sekunder terhadap hipoksia hebat.
f. Leher
Tidak terdapat gangguan yang diakibatkan oleh asma bronchial.
g. Dada
Pada pengakjian system respirasi biasanya didapatkan data sebagai
berikut:
a) Inspeksi
Pada klien asma terlihat adanya peningkatan usaha dan frekuensi
pernapasan, serta penggunaan otot bantu pernapasan. Inspeksi dada
terutama untuk melihat postur bentuk dan kesimetrisan, adanya
peningkatan diameter anteroposterior, retraksi otot-otot interkostalis,
sifat, dan irama pernapasan, dan frekuensi pernapasan.
b) Palpasi
Pada palpasi biasanya kesimetrisan, ekspansi, dan taktil fremitus
normal.
c) Perkusi
Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan
diafragma menjadi datar dan rendah.

d) Auskultasi
Terdapat suara vesikuler yang meningkat disertai dengan ekspirasi
lebih dari 4 detik atau lebih dari 3 kali inspirasi, dengan bunyi napas
tambahan utama wheezing pada akhir ekspirasi.Pada auskultasi suara
nafas klien mengi (wheezing).
Pada system kardiovaskuler klien mengalami gejala-gejala retensi
kabondioksida, yaitu berkeringat, takikardia, dan pelebaran tekanan
nadi.
h. Abdomen
Tidak terdapat gangguan yang diakibatkan oleh asma bronchial.
i. Urogenital
Tidak terdapat gangguan yang diakibatkan oleh asma bronchial.
j. Ekstremitas
Tidak terdapat gangguan yang diakibatkan oleh asma bronchial.
k. Kulit dan kuku
Klien dapat mengalami sianosis.
l. Keadaan lokal
g. Terapi, pemeriksaan penunjang & laboratorium
2.

Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada asma bronchial yaitu:


a. ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan bronkospasme;
b. gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen
(spasme bronkus);
c. ketidakefektivan pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi
paru;
d. ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia;
e. intoleransi aktivitas berhubungan dengan berkurangnya energy pada sel;
f. ansietas berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan;
g. defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi.

3.

Intervensi Keperawatan

No
Diagnosa
1. Ketidakefektifan

Tujuan
Bersihan

Kriteria hasil
NOC: Respiratory

bersihan jalan napas jalan nafas status:


berhubungan

pasien akan patency

dengan

efektif

bronkospasme

setelah
diberikan

Intervensi
NIC: Airway management

airway 1. Auskultasi suara napas


sebelum dan sesudah tindakan
2. Kaji kemampuan

Indicator:
a. Mendemonstrasika
n nafas dalam dan

Rasional
1. Evaluasi keefektifan tindakan
2. Pengeluaran secret akan menjadi
sulit bila sekret sangat kental

mengeluarkan sekresi, catat


karakter, volume sputum dan

3. Membantu ventilasi pasien agar


adanya hemoptisis
perawatan
batuk efektif
maksimal
b. Suara nafas bersih 3. Posisikan pasien: semi fowler
4. Asupan cairan yang adekuat
selama 1x24
untuk memaksimalkan ventilasi
c. Menunjukan jalan
membantu untuk mengencerkan
jam
4. Pertahankan asupan cairan
napas yang paten
sekret
sedikitnya 2500 ml/hari kecuali 5. Membantu
merontokkan
dan
(pasien
tidak
tidak diindikasikan
mengeluarkan sekret dari saluran
merasa tercekik, 5. Lakukan fisioterapi dada:
pernafasan
irama
napas,
clapping dan vibrating jika
6. Teknik pengeluaran sekret yang
frekuensi
napas
tidak terdapat kontraindikasi
efektif
6.
Keluarkan seret dengan nafas
dalam
rentang
7. Mencegah
penyebaran
infeksi
normal,

tidak

dalam dan batuk efektif

suara 7. Ajarkan pasien cara membuang


sekret yang telah dikeluarkan
napas abnormal)
terdapat
2.

Gangguan

Setelah

NIC:

Respiratory

Airway Management

kuman yang mungkin terdapat di


sekret

pertukaran

gas dilakukan

berhubungan
dengan
suplai

tindakan

Status:

Gas

Exchange

napas,

gangguan keperawatan 1. menunjukkan


oksigen selama 1 x

(spasme bronkus)

24

jam,

pertukaran
gas

tekanan oksigen
PaO2

klien 2. saturasi oksigen


dalam

lebih baik.

normal

upaya

uk memberikan intervensi yang

pernapasan, ekspansi thorax

tepat sesuai dengan keadaan klien

dan kelemahan
warna

kulit,

termasuk

sistemik pada klien.


3.

aktivitas dan bantu kebutuhan


dalam

rentang normal

perawatan

diri

Unt
uk mengidentifikasi adanya hipoksia

membran mukosa dan kuku.

rentang 3. Tingkatkan tirah baring, batasi

3. Tanda-tanda
vital

peningkatan

Unt

dalam 2. Catat sianosis dan perubahan 2.

rentang normal

menjadi

1. Kaji dispnea, takipnea, bunyi 1.

Unt
uk mengurangi penggunaan oksigen

sehari-hari

yang digunakan beraktivitas.

sesuai keadaan pasien


4. Pertahankan

posisi

semi

4.

fowler sesuai indikasi

Pos
isi

semi

fowler

dapat

memaksimalkan ekspansi paru klien


sehingga lebih banyak oksigen yang
5. Kolaborasi pemeriksaan AGD

dapat masuk
5.

6. Kolaborasi pemberian oksigen

Unt
uk memeriksa kadar O2 (PaO2) atau

sesuai kebutuhan tambahan

saturasi
6.

Ter
api oksigen dapat membantu klien

dalam mendapatkan oksigen


3.

Ketidakefektivan
pola
berhubungan
dengan

Pola

nafas NOC:

nafas klien

status

menjadi

penurunan efektif

ekspansi paru

Respiratory

NIC: Airway Management


Oxygen therapy
1. Kaji fungsi pernapasan, catat

Indikator:
1. Frekuensi

setelah

pernafasan

dilakukan

dalam

tindakan

normal (RR =

keperawatan

16-24x/menit)

rentang

kecepatan
dispnea,

pernapasan,
sianosis

pernafasan
dalam

rentang

oksigen pada klien

dan

perubahan tanda vital


2. Berikan posisi semi fowler

2. Posisi

semi

fowler

dapat

memaksimalkan ekspansi paru-paru


klien
3. Pemebrian oksigen yang berleihan

selama 1 x 2. Kedalaman
24 jam

1. Untuk menentukan dosis pemeberian

dapat
3. Berikan terapi oksigen sesuai
dosis

normal

mengakibatkan

keracunan

oksigen, dan dapat menimbulkan


kebutaan pada klien
4. Cemas yang dialami klien dapat
memperburuk keadaan klien, dapat

4. Monitor adanya kecemasan


pasien terhadap oksigenasi

meningkatkan RR klien
5. Mendilatasi bronkus agar respirasi
klien menjadi lancar.

5. Kolaborasi dalam pemberian


obat bronkodilator

DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Kesehatan RI. 2008. Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia

Nomor:

1023/Menkes/SK/XI/2008

tentang

Pedoman

Pengendalian Penyakit Asma. Jakarta: Kementerian Kesehatan.


Mansjoer, arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Cetakan 1. Jakarta:
Media Aesculapius.
Moorhead, Sue, et al. 2004. Nursing Outcomes Classification (NOC). Edisi 4.
USA: Mosby Elsevier.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar: Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.
Price, Sylvia A dan Wilson, Lorraine M. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzanne G dan Bare, Brenda C. 2002. Buku Ajar: Keperawatan
Medikal-Bedah. Jakarta: EGC.
Somantri, Irman. 2008. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada
Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: EGC.
Tanjung, Dudut. 2003. Asuhan Keperawatan Asma Bronkial. Sumatera: USU
Digital Library.
Vitahealth. 2006 . Asma: Informasi Lengkap untuk Penderita & Keluarganya.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.