Anda di halaman 1dari 46

BLOK MEKANISME PERTAHANAN TUBUH

WRAP UP SKENARIO 1
MENCEGAH PENYAKIT DENGAN VAKSINASI

Kelompok

: A-8

Ketua

: Aindana Khoirunnisa

1102014009

Sekretaris

: Annisa Iftitahuljannah

1102014033

Anggota

: Auryn Zhafiri Erwin .N

1102013049

Destia Nahlah Iqmalia

1102013048

Atika Lailana Qomarianty

1102014047

Dinda Kemala Rantih

1102014075

Fitri Annisah

1102014105

Ikhsanul Akbar Misfa

1102014125

Ina Romantin

1102014128

FAKULTAS KEDOKTERAN UMUM


UNIVERSITAS YARSI
JL. LET. JEND. SUPRAPTO CEMPAKA PUTIH,
JAKARTA PUSAT, 10510

MENCEGAH PENYAKIT DENGAN VAKSINASI

Seorang bayi berumur 2 bulan mendapat vaksinasi BCG di lengan kanan atas untuk
mencegah penyakit dan mendapatkan kekebalan. Empat minggu kemudian bayi tersebut dibawa
kembali ke RS karena timbul benjolan di ketiak kanan. Setelah Dokter melakukan pemeriksaan
didapatkan pembesaran nodus limfatikus di regio axilaris dekstra. Hal ini disebabkan adanya
reaksi terhadap antigen yang terdapat dalam vaksin tersebut menimbulkan respon imun tubuh.

KATA-KATA SULIT
2

Vaksin BCG : Vaksin yang dibuatdariMycobacterium bovis strain Calmette-Guerin, yang


dibuatavirulendenganpembiakanolehCalmettedan Guerin selamabertahun-tahundalam
medium yang diperkayaempedusapi. Vaksininidiberikanmelaluigoresanataupenyuntikan
intradermal atauintrakutankepada orang yang
tuberkulinnegatifuntukmencegahtuberkulosis. Vaksin BCG
digunakansebagaivaksinasirutinpadaanak-anakhanya di daerah yang
mempunyaiinsidenstuberkulosistinggi. (Dorland. 2010)

NodusLimfatikus
: Setiapkumpulanjaringanlimfoid yang diatursebagai organ
limfoidtertentu, diameternyabervariasidari 1 hingga 25 mm, terletak di
sepanjangpembuluhlimfatik, danterdiridaribagiankorteksluardanbagianmedularisdalam.
Noduslimfatikusmerupakansumberutamalimfositdarahtepi,
dansebagaibagiandarisistemretikuloendotelial,
berfungsisebagaimekanismepertahanandengancaramembuangbahan-bahanberbahaya,
sepertibakteridanracun, danmungkinberperandalamproduksiantibodi.
Disebutjugalymphoglandula. (Dorland. 2010)

RegioAksilaDekstra: Regio dada di sekitar fossa aksilarissebelahkanan. (Dorland. 2010)

Antigen
:Setiapzat (non self) yang
mampuberhubunganataumenginduksisuaturesponimunspesifikdanbereaaksidenganproduk
respon (antibodispesifik/ Limfosit T) (Dorland. 2010)

Vaksin
: Mikroorganisme yang dilemahkanataudimatikan (Bakteri,
Virus,atauRiketsia) atau protein antigenikdariberbagaiorganisme yang
diberikanuntukmencegah, meringankan,ataumengobatipenyakit-penyakitmenular.
(Dorland. 2010)

ResponImunTubuh: Reaksi yang dikoordinasiselselmolekuldanbahanlainnyaterhadapmikroba. (Dorland. 2010)

Kekebalan
:Kemampuanalamiahorganismeuntukbertahandarisuatumikroorganismeatautoksin yang
diprosuksipenyakit. (Dorland. 2010)

PERTANYAAN DAN JAWABAN


3

PERTANYAAN
1. Kenapa ditemukan benjolan setelah pemberian vaksin?
2. Kapan vaksin BCG optimal diberikan?
3. Adakah orang yang tidak boleh diberikan vaksin BCG?
4. Apasaja reaksi yang diberikan dari vaksin BCG?
5. Adakah vaksin yang diberikan selain vaksin BCG?
6. Kenapa vaksin BCG dilakukan dilengan atas?
7. Apakah dalam islam diperbolehkan pemberian vaksin?
8. Mengapa terjadi pembesaran pada noduslimfatikus?
9. Apasaja tipe-tipe vaksin?
10. Apakah sebelum vaksinasi BCG harus dalam pemeriksaan terlebih dahulu?
11. Respon imun terbagi menjadi?
12. Mengapa vaksinasi BCG harus diberikan saat usia 2 bulan?
13. Mengapa pemberian vaksin menghasilkan antibodi?
JAWABAN
1.

Karena limfosit berusaha untuk melawan antigen sehingga nodus limfatikus membesar
atau membengkak terlihat seperti benjolan
2. Bayi berumur 2-3bulan
3. Ibu hamil, bayi imunodefisiensi, orang yng terkena TBC
4. Demam, timbul benjolan
5. MMR, DPT, Polio, Hepatitis
6. Tergantung vaksin yang diberikan dan biasanya penyuntikan vaksin dilakukan secara
intrakutan
7. Boleh ( asalkan bukan dari zat haram)
8. Limfosit berproliferasi yang bertujuan untuk mengimbangi bakteri yang masuk,karena
itulah noduslimfatikus membesar
9. Tipe-tipe vaksin ada yang dilemahkan, dimatikan (mikroorganisme, toksin)
10. Perlu, karena untuk mengetahui keadaan fisik (seseorang atau bayi)
11. Respon: 1. Respon imun spesifik
2. Respon imun non spesifik ( humoral, seluler)
12. Karena pertahanan tubuh dari ibu sudah berkurang sehingga harus di beri vaksin
13. Karena vaksin memiliki antigen yang menstimulasi antibodi

HIPOTESA
4

Limfoid merupakan sistem organ yang menghasilkan organ-organ yang berperan dalam
mengatur sistem imunitas tubuh. Hal ini dilakukan dengan cara menghasilkan limfosit untuk
melawan antigen. Sistem ini dapat dimanipulasi dengan pemberian antigen (bakteri) yang telah
di lemahkan atau di vaksinasi,misalnya BCG. Pemberian BCG dilakukan pada usia 2 bulan
karena pertahanan tubuh dari ibu sudah berkurang, Pemberian vaksin dapat menimbulkan
benjolan di nodus limfatikus terdekat karena terjadi respons tubuh terhadap antigen tersebut.

SASARAN BELAJAR
1. Memahami dan Mempelajari Anatomi Sistem Limfatik
1.1. Memahami dan Mempelajari Makroskopik Anatomi Sistem Limfatik
1.2. Memahami dan Mempelajari Mikroskopik Anatomi Sistem Limfatik
1.3. Memahami dan Mempelajari Fungsi Sistem Limfatik
2. Memahami dan Mempelajari Sistem Imun
2.1. Memahami dan Mempelajari Klasifikasi Sistem Imun
2.2. Memahami dan Mempelajari Sistem imun humoral, seluler, spesifik, dan non spesifik
Mekanisme Imun
3. Memahami dan Mempelajari Antigen
3.1. Memahami dan Mempelajari Definisi Antigen
3.2. Memahami dan Mempelajari Klasifikasi Antigen
3.3. Memahami dan Mempelajari Sifat Antigen
3.4. Memahami dan Mempelajari Fungsi Antigen
3.5. Memahami dan Mempelajari Struktur Antigen
4. Memahami dan Mempelajari Antibodi
4.1. Memahami dan Mempelajari Definisi Antibodi
4.2. Memahami dan Mempelajari Klasifikasi Antibodi
4.3. Memahami dan Mempelajari Struktur molekul Antibodi
5. Memahami dan Mempelajari Vaksin dan imunisasi
5.1. Memahami dan Mempelajari Perbedaan
5.2. Memahami dan Mempelajari Vaksin (jenis-jenis, efek)
5.3. Memahami dan Mempelajari Penyimpanan
6. Memahami dan Mempelajari pandangan islam tentang vaksin

LI. 1. Memahami dan Mempelajari Anatomi Sistem Limfatikus


6

LO. 1.1. Memahami dan Menjelaskan Makroskopik Anatomi Sistem Limfatik


Sejumlah ogan limfoid dan jaringan limfoid yang morfologis dan fungsional berlainan
berperan dalam respons imun.
Organ limfoid dapat dibagi menjadi:
Organ limfoid primer
Organ limfoid primer merupakan tempat pembentukan dan pematangan
limfosit. Organ limfoid primer terdiri dari sumsum tulang dan timus. Sumsum
tulang merupakan jaringan yang kompleks tempat hematopoiesis dan depot lemak.
Lemak merupakan 50% atau lebih dari kompartemen rongga sumsum tulang. Organ
limfoid diperlukan untuk pematangan, diferensiasi, dan proliferasi sel T dan B
sehingga menjadi limfosit yang dapat mengenal antigen. Sel hematopoietik yang
diproduksi di sumsum tulang menembus dinding pembuluh darah dan masuk ke
sirkulasi dan didistribusikan ke bagian tubuh.
Organ limfoid sekunder
Organ limfoid sekunder merupakan tempat sel dendritik mempresentasikan
antigen yang yang ditangkapnya di bagian lain tubuh ke sel T yang memacunya
untuk proliferasi dan diferensiasi limfosit.
Organnya yaitu lien/limpa, limfonodus, tonsil, dll.
1.

2.

Yang termasuk sistem limfatikus adalah:


Cairan limfe/Lymph
Lymph merupakan cairan intraselular yang masuk ke kapiler lymph dan
mengalami filtrasi yang kemudian masuk ke pembuluh lymph. Setelah itu akan
beredar/bersirkulasi ke seluruh tubuh yang kemudian akan masuk ke pembuluh
darah.
Pembuluh Lymph
Pembuluh Lymph memiliki diameter yang berbeda-beda mulai dari yang
terkecil yaitu Kapiler Lymph, Lymphatic dan Ductus Lymphaticus. Ductus
Lymphaticus terdiri atas 2 bagian yaitu: Ductus Lymphaticus Dextra dan Ductus
Lymphaticus Sinistra.
A.
Ductus Lymphaticus Dextra
Ductus Lymphaticus Dextra merupakan saluran limfe yang pendek (1,25 cm),
menerima aliran cairan limfe dari daerah:
- Kepala dan leher bagian dextra.
- Thorax dan extremitas superior bagian dextra.
- Aliran lymph ini akan bermuara ke Vena Brachiocephalica Dextra tepat pada
sudut pertemuan antara Vena Jugularis Interna dan Vena Subclavia Dextra.

B. Ductus Lymphaticus Sinistra (Ductus Thoracicus)


Ductus Lymphaticus Sinistra merupakan saluran limfe yang panjang (38-45cm)
dengan diameter 4-6 mm serta terletak dalam ruangan mediastinum (posterior),
menerima aliran cairan limfe dari daerah:
7

3.

Daerah regio kepala dan pangkal leher sinistra


Daerah extremitas superior dan bahu sinistra
Daerah regio thorax sinistra
Daerahextremitas inferior, panggul dan abdomen terutama dari intestinum
yangkemudian ke cysterna chyle.
Kepentingan klinis saluran limfe:
Limfangitis
: Bila infeksi pada saluran limfe (pembuluh limfe)
Limfadenitis
: Bila infeksi pada limfonodus
Limfedema
: Edema pembuluh limfe bila terjadi obstruksi pembuluh limfe
olehparasit
Contoh: Penyakit kaki gajah atau penekanan oleh tumor, sehingga tekanan pada
Pembuluh limfe meningkat kemudian edema dan membengkak.
Lien (Limpa)

Organ limfoid terbesar, lunak, rapuh dan vascular berwarna kemerahan, dan
berbentuk oval
Besar lien sebesar kepalan tangan sendiri
Dibungkus oleh jaringan perlekatan peritoneum pada permukaan yang disebut
kapsula fibrosa lienalis
Fiksasi lien ke ginjal melalui ligamentum renolienalis dan ke lambung melalui
ligamentum gastrolienalis
Pembuluh darah masuk daerah hilus lienalis adalah arteri lienalis dan darah
vena masuk melalui vena lienalis (vena port untuk dibawa ke hepar)
Terdapat pusat immunologis yaitu folikel limfoid (pulpa alba / folikel putih )
yang tersebar di seluruh sinusoid yang sangat vaskular (pulpa rubra / folikel
merah)
Memiliki serat otot polos yang membantu pengaturan volume darah didalam
lien, juga serat kolagen dan elastis
Letak: Regio hypochondrium sinistra dalam ruang intraperitoneal.
Diproyeksikan dari luar pada costae 9,10,11 sinistra, setinggi vertebrae
thoracalis 9-12
Cauda pankreas menempel pada daerah hillus lienalis bersamaan masuknya
arteria lienalis dan keluar vena lienalis
8

Batas anatomis:
- Anterior = Gaster, cauda pankreas, fleksura colli sinistra, renalis sinistra
- Posterior = Diaphragma, pleura dan pulmo sinistra, costae 9, 10, 11 sinistra
4. Limfonodus/Nodus Limfatikus

Bentuk oval seperti kacang tanah, mempunyai pinggiran yang cekung disebut
dengan hilus
Besarnya sebesar kepala peniti sampai sebesar buah kenari dan dapat diraba
terutama pada daerah leher, axilla, inguinale dan lain-lain
Terletak disekitar pembuluh darah yang berfungsi memproduksi limfosit dan
antibodi untuk mencegah penyebaran infeksi lanjutan
Daerah daerah tubuh yang memiliki nodus limfatikus
1. Daerah Kepala dan Leher bagian lateral dan belakang: Yaitu di sepanjang
m.sternocleidomastoideus, lingual, pharynx, cavum nasi, palatum, muka, di
bawah ramus mandibula (mencakup dasar mulut)
2. Daerah Extremitas Superior: Manus, antebrachi,brachi dan regio axillaris
3. Daerah Mamae di bawah m.pectoralis meliputi kulit dan otot
4. Daerah Thorax: Meliputi dinding thorax, jantung, pericardium dan paru,
pleura, timus, dan esophagus
5. Daerah Abdomen dan Pelvis: Meliputi daerah peritonium dan sekitar aorta
dan Vena Cava Inferior dan pembuluh darah intestinum. Aliran limfe
superficialis bagian depan dan lateral dan belakang diatas pusat masuk, nodi
9

lymphatici axillaris anterior dan posterior dan dibawah pusat, ke nodi


lymphatici inguinalis superficial
6. Daerah Extremitas Inferior: Disepanjang arteri,vena tibialis, regio poplitea,
regio inguinale, aliran limfe masuk limfonodus inguinale
5. Timus

Organ limfoid terletak pada sternum bagian atas belakang di daerah


mediastinum superior dan bertumbuh terus sampai pubertas
Setelah pubertas, timus mengalami involusi dan setalah dewasa semakin kecil
tetapi masih berfungsi untuk menghasilkan limfosit T yang baru
Timus yang besar terlihat setelah lahir pada saat bayi dan neonatus
Mempunyai 2 lobus, mempunyai bagian korteks dan medulla berbentuk
segitiga, gepeng dan kemerahan
Perdarahan timus berasal dari arteria thymica yang merupakan cabang dari
arteria thyroidea inferior dan mamaria interna

Batas-batas anatomi:
Batas anterior
: Sternum, rawan costae 4, M.sternohyoid, dan
M.sternothyroideus
Batas superior
: Leher, kadang sampai dekat lobus inferior glandula
thyroidea
6.

Tonsil
Tonsil terletak dalam satu lekukkan yang dikenal dengan Fossa Tonsilaris yang
dibatasi 2 otot yang melengkung berbentuk arcus palatoglosus dan arcus
palatopharyngeus. Dasar fossa tonsilarus dinamakan dengan istilah Tonsila bed dan
tonsil termaksud salah satu dari organ limfoid yang terdiri atas 3 buah tonsil yaitu
Tonsila Palantina, Tonsila Lingualis, Tonsil Pharyngeus.
Ketiga tonsil tersebut membentuk cincin pada saluran limfe yang dikenal
dengan Ring of Waldeyer. Hal ini yang menyebabkan jika salah satu dari ketiga
tonsila ini terinfeksi dua tonsila yang lain juga ikut meradang.

10

Organ limfoid yang terdiri atas 3 buah tonsil, yaitu:


a. Tonsila palatina
Terletak pada dinding lateralis, orofaring dekstra dan sinistra
Terletak dalam satu lekukan yang dikenal dengan fossa tonsilaris, dasar dari
lekukan itu adalah tonsil bed
Tonsil membuka ke cavum oris terdiri dari 12-15 crypta tonsilaris
Ditutupi oleh selapis jaringan ikat fibrosa yang berbentuk capsula
Persyarafan tonsil oleh N IX (Glossopharyngues) dan N palatinus (N V2)
Pendarahan berasal dari arteria tonsilaris cabang a.maxillaris externa
(facialis) dan arteria tonsilaris cabang a.pharyngica ascendens lingualis
b. Tonsila lingualis
Terletak dibelakang lidah, 1/3 bagian posterior, tidak mempunya papilla
sehingga terlihat permukaan berbenjol-benjol (folikel).
Perdarahan tonsil berasal dari arteria dorsalis lingue (cabang arteria
lingualis), arteria carotis eksterna
c. Tonsila pharyngealis
Terdapat di daerah nasofaring dibelakang pintu hidung belakang
Bila membesar disebut adenoid, dapat menyebabkan sesak nafas karena
dapat menyumbat pintu nares posterior (choanae), terletak di daerah
nasopharynx, tepatnya diatas torus tobarius dan OPTA

11

LO. 1.2. Memahami dan Menjelaskan Mikroskopik Anatomi Sistem Limfatik


A. Lien (limpa)

Merupakan tempat destruksi bagi banyak sel darah merah.


Merupakan tempat pembentukan limfosit yang masuk ke dalam darah.
Limpa bereaksi segera terhadap antigen yang terbawa darah dan merupakan
organ pembentuk antibodi penting
Dibungkus oleh simpai jaingan ikat padat yang menjulurkan trabekula yang
membagi parenkim atau pulpa limpa menjadi kompartemen tidak sempurna
Pulpa limpa tidak mempunyai pembuluh limfe
Limpa dibentuk oleh jalinan kerja jaringan retikular yang mengandung sel
limfoid, makrofag dan sel-sel antigen-presenting
Tidak memperlihatkan adanya daerah korteks dan medula yang jelas
Kapsul pada limpa lebih tebal dibanding pada limfonodus

Pulpa limpa
Pada permukaan irisan melalui limpa, tampak bintik-bintik putih dalam
parenkim yang disebut nodulus limfatikus (pulpa putih/pulpa alba)
Pulpa alba terdapat dalam jaringan merah tua yang penuh dengan darah
yang disebut pulpa merah/pulpa rubra.
Pulpa rubra terdiri atas bangunan memanjang yaitu korda limpa (korda
billroth) yang terdapat diantara sinusoid
Pulpa putih
Terdiri dari jaringan limfoid yang menyelubungi A. sentralis dan nodulus
limfatikus
Sel-sel limfoid yang mengelilingi A. sentralis terutama Limfosit T dan
membentuk selubung periarteri
Nodulus limfatikus terutama limfosit B
Diantara pulpa putih dan pulpa merah terdapat zona marginalis
Pulpa merah: Jaringan Retikular dengan ciri khas, yaitu adanya:
Korda limpa yang terdiri dari sel dan serat retikular
12

Makrofag
Limfosit
Sel plasma dan banyak unsur darah (eritrosit, trombosit, granulosit)
Banyak terdapat sinusoid

Zona marginalis
Terdiri dari banyak sinus dan jaringan ikat longgar
Terdapat sedikit limfosit dan banyak makrofag yg aktif
Banyak mengandung antigen darah yangberperan utama dalam aktivitas
imunologis limpa
Fungsi limpa
Pembentukan limfosit
- Dibentuk dalam pulpa putih pulpa rubra sinusoid bercampur darah
Destruksi eritrosit
Dilakukan oleh makrofag dalam korda pulpa merah
Pertahanan organisme
- Oleh karena kandungan limfosit B, limfosit T, sel antigen presenting dan
makrofag
B. Limfonodus/Nodus Limfatikus/Kelenjar Limfe

Organ bersimpai berbentuk bulat/mirip ginjal, terdiri dari jaringan limfoid.


Tersebar diseluruh tubuh disepanjang jalannya pembuluh limfe
Nodus ditemukan di ketiak dan di lipat paha, sepanjang pembuluh-pembuluh
besar di leher dan dalam jumlah besar di thorax dan abdomen terutama dalam
mesenterium
Limfonodus memiliki sisi konveks (cembung) dan konkaf (cekung) yang
disebut hilus. Hillus merupakan tempat arteri dan saraf masuk dan vena keluar
dari organ

Korteks luar
13

Dibentuk oleh jaraingan limfoid yang terdiri dari satu jaringan sel retikular
dan serat retikular yang dipenuhi oleh limfosit B
- Di dalam jaringan limfoid korteks terdapat struktur berbentuk sferis yang
disebut nodulus limfatikus
- Terdapat sinus subkapsularis, yang dibentuk oleh suatu jaringan ikat longgar
dari makrofag, sel retikular, dan serat retikular
Korteks dalam
- Merupakan kelanjutan korteks luar, mengandung beberapa nodulus
- Mengandung banyak limfosit T
Medula
- Terdiri dari korda medularis yg merupakan perluasan korteks dalam
- Banyak mengandung Limfosit B dan beberapa sel plasma
- Korda medularis dipisahkan oleh struktur seperti kapiler yg berdilatasi

Limfe mengalir ke nodus limfatikus untuk membersihkannya dari partikel asing


sebelum kembali ke sirkulasi darah.
Sewaktu cairan limfe mengalir melalui sinus, 99% atau lebih antigen dan
kotoran lainnya dipindahkan oleh aktivitas fagositosis makrofag.
Infeksi dan perangsangan antigenik menyebabkan limfonodus yang terinfeksi
membesar dan membentuk pusat-pusat germinativum yang banyak dengan
proliferasi sel yang aktif

C. Tonsil
I.

Tonsila palatina

Terletak pada dinding lateral faring bagian oral


Permukaan tonsila palatina dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan
tanduk yang juga melapisi bagian mulut lainnya
Setiap tonsila memiliki 10-20 invaginasi epitel (epitel berlapis gepeng tanpa
lapisan tanduk) yang menyusup ke dalam parenkim membentuk kriptus
14

II.

Tonsila lingualis

III.

yang mengandung sel-sel epitel yang terlepas, limfosit hidup dan mati, dan
bakteri dalam lumennya
Yang memisahkan jaringan limfoid dari organ-organ berdekatan adalah satu
lapis jaringan ikat padat yang disebut simpai tonsila yang biasanya bekerja
sebagai sawar terhadap penyebaran infeksi tonsila
Di bawah tonsila palatina terdapat jaringan ikat padat yang membentuk
kapsul. Dari kapsul terbentuk trabekula dengan pembuluh darah, dibawah
kapsul terdapat serat otot rangka

Lebih kecil dan lebih banyak


Terletak pada pangkal lidah
Ditutupi epitel berlapis gepeng
Masing-masing mempunyai sebuah kriptus

Tonsila faringeal

Merupakan tonsila tunggal yang terletak dibagian supero-posterior faring


Ditutupi epitel bertingkat silindris bersilia
Terdiri dari lipatan-lipatan mukosa dengan jar. Limfoid difus dan nodulus
limfatikus
15

Tidak memiliki kriptus


Simpai lebih tipis dari tonsil palatina

D. Timus

Timus memiliki suatu simpai jaringan ikat yang masuk ke dalam parenkim dan
membagi timus menjadi lobulus
Setiap lobulus memiliki satu zona perifer gelap disebut korteks dan zona pusat
yang terang disebut medula korteks dan medula berisi sel-sel limfosit
Sel limfosit berasal dari sel mesenkim yang menyusup ke dalam suatu epitel
primordium dari kantung faringeal ke 3 dan 4.
Korteks timus
- Limfosit T yang sangat banyak
- Sel retikular epitel yang tersebar
- Beberapa makrofag
Medula timus
- Mengandung sel retikular dan limfosit
- Sel-sel ini menyebabkan medula tampak lebih pucat dibanding bagian
korteks

Mengandung badan hassal (corpusculum tymicum) yang merupakan sel retikular


epitel gepeng yang tersusun konsentris, mengalami degenerasi dan mengandung
granula keratohialin.
Timus mengalami involusi setelah pubertas
Timus ditempati oleh sel-sel yang dihasilkan dari sumsum tulang
Sel-sel ini mulai menjalani diferensiasinya menjadi sel T
Timus menghasilkan beberapa faktor pertumbuhan protein yang merangsang
proliferasi dan diferensiasi limfosit T
LO. 1.3. Memahami dan Menjelaskan Fungsi Sistem Limfatikus
Sistem limfatikus berfungsi sebagai:
1. Mengembalikan cairan dan protein dari jaringan ke dalam sirkulasi darah
2. Mengangkut lymphocytes dari kelenjar lymph ke sirkulasi darah
16

3. Untuk membawa lemak yang sudah diemulsikan oleh usus ke sirkulasi darah (oleh
lacteal)
4. Kelenjar lymph menyaring dan menghancurkan mikroorganisme untuk menghindari
penyebaran mikroorganisme itu dari tempat masuknya ke dalam jaringan, ke bagian
tubuh lain
5. Apabila ada infeksi, kelenjar lymph menghasilkan zat anti (antibodi) untuk
melindungi tubuh terhadap kelanjutan infeksi
LI. 2. Memahami dan Mempelajari Sistem Imun
LO. 2.1. Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Sistem Imun

Sistem
Imun
Non-Spesifik
Fisik

-Kulit
-Selaput
lendir
-Silia
-Batuk
-Bersin

Larut
Biokimia:
-Lisozim
Sekresisebase
us
-Asam
lambung
-Laktoferin
-Asam
neuraminik

Spesifik
Selula
r
-Fagosit:
>Mononuklear
>Polimorfonukle
ar
-Sel NK
-Basofil
-Eosinofil
-SD

Humor
al

Selula
r

Sel B
-IgG
-IgA
-IgM
-IgE
-IgD
Sitokin

Sel T
-Th1
-Th2
-Th17
-Treg
-Tdth
-CTL/Tc
-NKT

Humoral:
Kompleme
n
-APP
-Mediator
asal lipid
-Stitokin

A. Sistem Imunitas Innate (Nonspesifik) / Imunitas Alamiah:


Imunitas yang diperoleh tanpa didahului oleh kontak dengan antigen, bersifat
nonspesifik.
Tidak ditujukan terhadap mikroba tertentu, telah ada dan siap berfungsi sejak lahir.

17

Mekanismenya tidak menunjukan spesifitas terhadap benda asing dan mampu


melindungi tubuh terhadap banyak pathogen potensial.
Pertahan terdepan dalam menghadapi serangan berbagai mikroba dan dapat
memberikan respon langsung
Terdiri dari 3 mekanisme, yaitu :
1. Pertahanan Fisik/Mekanik
Kulit, selaput lendir, silia saluran napas, batuk dan bersin : garis pertama terdepan
terhadap infeksi.
2. Pertahanan Larut
PERTAHANAN BIOKIMIA
a. Asam lemak pada kelenjar sebaseus di kulit mempunyai efek denaturasi terhadap
protein membran
b. Lisozim dalam keringat, ludah, air mata, dan air susu ibu dapatmenghancurkan
lapisan peptidoglikan dinding bakteri positif gram
c. ASI memilikilaktooksidase dan asam neuraminik yang merupakanantibakterial
terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus
d. Saliva memilikilaktooksidase yang dapatmerusak dinding dan menimbulkan
kebocoran sitoplasma, dan berfungsi sebagai opsonin dalam lisis sel mikroba
e. HCL, enzim proteolitik, antibodi, empedu dalam usus halus, menciptakan
lingkungan yang dapat mencegah infeksi banyak mikroba
f. Mukus yang kental melindungi sel epitel mukosa dan dapat menangkap bakteri
dan bahan lainnya
PERTAHANAN HUMORAL
Pertahanan humoral: sistem imun nonspesifik menggunakan berbagai molekul,
diantaranya adalah peptide antimikroba seperti defisiensi, katelisidin dan IFN dengan
efek antiviral.
Komplemen
Komplemen merupakan molekul sistem imun nonspesifik yang bisa menjadi
spesifik dalam keadaan tertentu. Komplemen terdiri atas jumlah besar protein
yang bila diaktifkan dapat memberikan efek proteksi terhadap infeksi dan
berperan dalam respon inflamasi. Komplemen berperan sebagai opsonin yang
meningkatkan fagositosis, sebagai factor kemotaktik, menimbulkan destruksi/lisis
bakteri dan parasit. Komplemen dengan spectrum aktivitas yang luas diproduksi
oleh hepatosit dan monosit serta langsung dapat diaktifkan oleh mikroba atau
produknya.
Hasil aktivasi komplemen berupa mediator yang bersifat biologik aktif dan
enzim untuk reaksi berikutnya. Aktivasi dari komplemen merupakan usaha tubuh
dalam menghancurkan antigen. Ada 9 komponen dasar pada komplemen yaitu C1
sampai dengan C9.
Protein fase akut (PFA)
a. Selama fase akut infeksi, terjadi perubahan pada kadar protein dalam serum
yang disebut APP
b. Protein yang meningkat atau menurun selama fase akut disebut juga APRP
yang berperan dalam pertahanan dini. Diinduksi oleh sinyal yang berasal dari
tempat cedera atau infeksi melalui darah. Hati merupakan tempat sintesis
APRP
18

c. C-reactive protein (CRP) merupakan salah satu PFA, termasuk golongan


protein yang kadarnya dalam darah meningkat pada infeksi akut sebagai
respon imunitas nonspesifik. Sebagai opsonin, CRP mengikat berbagai
mikroorganisme. Pengukuran CPR digunakan untukmenilai aktivitas penyakit
inflamasi dan jika tetap tinggi maka menunjukkan infeksi yang persisten. CRP
dapat meningkat dengan bantuan Ca2+.
d. Lektin/kolektin merupakan molekul larut dalam plasma yang dapat mengikat
manan/manosa dalam polisakarida (karenanya disebut MBL) yang merupakan
permukaan banyak bakteri seperti galur pneumokokus dan banyak mikroba,
tetapi tidak pada sel vertebrata. Lektin berperan sebagai opsonin yang
mengaktifkan komplemen
e. Protein fase akut lainnya adalah 1-antitripsin, amilod serum A, haptoglobin,
C9, factor B dan fibrinogen yang juga berperan pada peningkatan laju endap
darah akibat infeksi, namun dibentuk jauh lebih lambat dari CRP
f. Mekanisme fosfolipid diperlukan untuk produksi PG dan LTR yang berguna
untuk meningkatkan respons inflamasi melalui peningkatan permeabilitas
vascular dan vasodilatasi
g. Sitokin IL-1, IL-6, TNF- disebut sitokin proinflamasi, merangsang hati untuk
mensintesis dan melepas sejumlah protein plasma.
3. Pertahanan Seluler
a. Fagosit mononuklear
Terdiri atas monosit dalam sirkulasi dan makrofag dalam jaringan. Pada
dasarnya, monosit dan makrofag sama-sama mempunyai fungsi yang sama,
yaituuntuk fagositosis mikroba patogen, melepas mediator inflamasi dan sitokin,
sertamempresentasikan antigen dari patogen yang dicerna kepada sel limfosit T.
Penghancurankuman(fagosit) dilakukan dengan membentuk fagolisosom, yaitu
fusi antar fagosom yangdidalamnya terdapat patogen dan lisosom, yang akan
mendestruksi patogen, baik dengan menggunakan enzim pencernaan dari lisosom
maupun menggunakan spesies oksigen reaktif.Hal ini juga mengawali pelepasan
mediator inflamasi maupun sitokin yang akanmenginduksi baik sel-sel imun
spesifik maupun nonspesifik lainnya.
b. Fagosit Polimorfonuklear atau Granulocyte
Merupakan 60-70% dari seluruh jumlah darah putih normal dan dapat keluar dari
pembuluh darah(kemotaksis/responinflamasi). Granulosit dibagi menurut
pewarnaan histologiknya menjadi neutrofil, eosinofil, dan basofil.Sel-sel ini
mempunyai granul-granul yg mengandung enzim pencernaan.
Neutrofil
Merupakan sel pertama yang dikerahkan ketempat bakteri masuk.Fungsi
utamaneutrofil adalah fagositosis, baik dengan jalur oksigen dependen dan
independen.Neutrofil juga dapat mengenal patogen secara langsung.
Eosinofil
Merupakan 2-5% dari sel darah putih orangsehat.Eosinofil juga berfungsi
sebagai fagosit, dengan cara melepaskan isi granulnya yang bersifat toksik ke
sel sasaran.Sel ini berperan penting pada infeksi parasit.
Basofil
19

Berjumlah sangat sedikit,sekitar<0,5% dari seluruh sel darah putih. Basofil


dapat berfungsi sebagai fagosit dengan memiliki enzim pencernaan(protease).
Akan tetapi fungsi utamanya adalah melepas mediator inflamasi, seperti
histamin,leukotrien,heparin, dll.
c. Sel mast
Sel mast adalah sel yang dalam struktur, fungsi dan proliferasinya serupa
dengansel basofil, bedanya adalah sel mast hanya ditemukan dalam jaringan yang
berhubungan dengan pembuluh darah. Sel mast diaktifkan dengan pengaruh PAF,
C3a,C5a, dan mediator lainnya.Bila telah teraktivasi, maka sel mast akan
degranulasi mengeluarkan berbagai sitokin yang berperan dalam proses inflamasi.
d. Sel Natural Killer (NK)
Termasuk sel limfosit karena berkembang dari sel asal progenitor yang sama
dengan sel B dan T. Sel NK dapatmengenali dan membunuh berbagai selyang
sudah terinfeksi tanpa bantuan tambahan untuk aktivasinya. Sel NK mengandung
perforinyang dapat melubangi membran sel sasaran dan granzim untuk sitotoksik,
sama seperti Th. Selini memproduksi IFN- dan TNF- yg merupakan sitokin
proinflamasi serta berperan dalam pengaktifan makrofag dan regulator sel Th.
e. Sel Dendritik (SD)
Merupakan antigen presenting cell (APC) paling efektif karenaletaknya yang
strategis di tempat-tempat mikroba masuk tubuh. SD mengenali
antigen,mengawali respon imunitas seluler dan humoral yang mengaktifkan sel T
dan sel B. APC mempresentasikan peptida antigen ke sel T CD4 melalui MHC-II
atau ke sel T CD8 melalui MHC-I, sehingga dapat mengaktifkan kedua sel
tersebut.
B. Sistem imun Spesifik/Imunitas Adapatif:
Didapat setelah terjadi paparan terhadap antigen, bersifat spesifik.
Imunitas pasif: diperankan oleh antibodi atau limfosit yang telah dibentuk
sebelumnya didalam tubuh pejamu yang lain,diberikan dalam antiserum
Imunitas aktif: diinduksi setelah kontak (klinis atau subklinis) dengan antigen
Mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap asing bagi dirinya.
Pajanan tersebut menimbulkan sensitasi, sehingga antigen yang sama dan masuk
tubuh untuk kedua kali akan dikenal lebih cepat dan kemudian dihancurkan
Sistem imun spesifik humoral: yang berperan adalah limfosit B atau sel B yang
berasal dari sel asal multipoten di sumsum tulang. Sel B yang dirangsang oleh
benda asing akan berproliferasi, berdiferensiasi, dan berkembang menjadi sel
plasma yang memproduksi antibodi. Antibodi yang dilepas ditemukan didalam
serum, berfungsi untuk pertahanan terhadap infeksi ekstraselular, virus dan bakteri
serta menetralkan toksinnya.
Sistem imun spesifik selular: yang berperan adalah limfosit T atau sel T yang
dibentuk dalam sumsum tulang, tetapi proliferasi dan diferensiasinya terjadi di
dalam kelenjar timus. Faktor timus disebut timosin yang dapat ditemukan dalam
peredaran darah sebagai hormon asli dan dapat mempengaruhi diferensiasi sel T
diperifer. Fungsi utama sistem imun spesifik selular adalah pertahanan terhadap
bakteri yang hidup intraselular,virus, jamur, parasit dan keganasan.
20

LO. 2.2. Memahami dan Menjelaskan Mekanisme Sistem Imun


MEKANISME IMUNITAS NONSPESIFIK
Mekanisme imunitas nonspesifik terhadap bakteri tingkat sawar fisik seperti
kulit atau permukaan mukosa
Kulit merupakan sawar fisik efektif dan pertumbuhan bakteri dihambat sehingga
agen pathogen yang menempel akan dihambat pH rendah dari asam laktat yang
terkandung didalam sebum yang dilepas kelenjar kulit
Sekret dipermukaan mukosa mengandung enzim destruktif seperti lisozim
Saluran napas dilindungi oleh gerakan mukosiliar sehingga lapisan mukosa
secara terus menerus digerakkan menuju arah nasofaring
Bakteri ditangkap oleh mucus sehingga dapat disingkirkan dari saluran napas
Sekresi mukosa saluran napas dan saluran cerna mengandung peptide
antimicrobial yang dapat memusnahkan mikroba pathogen
Mikroba pathogen yang berhasil menembus sawar fisik dan masuk ke jaringan
dibawahnya dapt dimusnahkan dengan bantuan komplemen dan dicerna oleh
fagosit
I.

Komplemen
Komplemen diaktifkan melalui 3 cara :
a. Jalur Klasik
Jalur klasik diaktifkan oleh respon imun yaitu dimulai dengan aktivasi
antigen-antibodi yang akan mengaktifkan C1 C1 aktif C1 akan
mengikat IgM menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasi
munculnya C4 C4 akan menghasilkan komponen enzimatik yang
menstimulasi munculnya C2 C2 akan menstimulasi munculnya C3
convertase.
b. Jalur Alternatif
Jalur Alternatif merupakan jalur pertahanan utama dan tanpa diperantarai
oleh antigen-antibodi. Jalur ini terjadi dalam respon polisakarida dan
langsung ke C3 karena C3 merupakan molekul yang tidak stabil. C3 akan
menghasilkan komponen enzimatik yang akan menstimulasi faktor B dan
faktor B menstimulasi munculnya faktor D. Pada akhirnya faktor D akan
menstimulasi munculnya C3 convertase.
c. Jalur Lektin
Jalur ini diawali oleh stimulasi dari komplek manosa binding protein pada
permukaan pathogen yang menstimulasi beberapa komponen enzimatik
yang menstimulasi C4 C4 menstimlasi munculnya C2 dan C2
menstimulasi munculnya C3 convertase.
21

Setelah ketiga jalur ini mengaktifkan C3 convertase, C3 convertase ini akan


menghasilkan C3a, C5a, dan C3B. C3a dan C5a berperan dalam proses
inflamasi dan menstimulasi sel mast untuk menghasilkan histamine dalam
proses inflamasi. Sedangkan C3B akan berikatan dengan reseptor komplemen
pada sel fagositik dan kemudian menstimulasi opsonisasi dan penghilangan
kompleks imun. Selain itu, C3B akan menghasilkan reaksi cascade yang
menstimulasi beberapa komponen yaitu C5B, C6, C7, C8, C9.
Komponen-komponen tersebutlah yang pada akhirnya akan membentuk
Membran Attack Complex (MAC). MAC dari sistem komplemen ini dapat
membentuk lubang-lubang kecil dalam sel membran bakteri sehingga bahan
sitoplasma yang mengandung bahan-bahan vital keluar sel dan menimbulkan
kematian mikroba dan menyebabkan patogen menjadi lisis.

II.

Interferon
Interferon merupakan hormone pembentuk sitokin. Interferon melindungi
tubuh dari virus dengan menghambat replikasi virus.
22

MEKANISME IMUNITAS SPESIFIK

1. LIMFOSIT B

Bakteri membawa toksin sehingga badan sel dan toksin berhasil didegradasi
oleh makrofag. Namun, jika invasi bakteri banyak, makrofag tidak akan
sanggup untuk memfagosit. Oleh karena itu, makrofag akan berubah fungsi
menjadi APC (Antigen Presenting Cells).Toksin dan beberapa materi protein
dari bakteri akan dipresentasikan oleh makrofag dan memberi marker,
lalumarker diterima oleh sel B yang belum aktif dan masih beredar. Kemudian
dikenali oleh limfosit B. Jika aktif akan berubah menjadi sel plasma dan
23

menghasilkan antibodi yang spesifik dengan antigennya. Ada juga yang menjadi
sel B memori. Jika nanti ada kuman yang serupa masuk ke tubuh, maka tubuh
akan langsung menghasilkan antibodi tanpa harus berfungsi sebagai APC
terlebih dahulu. Contohnya yaitu yang terjadi pada imunisasi.
2. LIMFOSIT T

Sel T-Helper
Jika humoral masih kurang, maka seluler akan berperan atau bisa bekerja
bersamaan. Sel T-Helper mengenali suatu antigen dan akan menghubungi Sel-T
sitotoksik atau Sel B. Sel B akan aktif menjadi sel plasma. Sel T-sitotoksik akan
menghasilkan protein tertentu untuk menghancurkan antigen. Sel T-helper akan
mencetuskan dirinya sendiri untuk membelah diri menjadi banyak agardapat
membantu sel yang lain dan sebagian menjadi sel T-memori.

Contoh dari kerja APC yaitu pada sel dendritik. Bakteri dimakan lalu bakteri
diproses di dalam tubuh. Protein yang identik dengan bakteri akan
mempresentasikan di permukaan tubuhnya sehingga ditangkap oleh sel T-helper
dan teraktivasi.
Sel T-Helper membelah diri dan akan menghubungi sel B dan sel T yang
lain. Begitu dikenali dengan antigen yang dihubungi oleh sel T-Helper, sel akan
membelah diri dan mengejar bakteri. Sel akan menghasilkan beberapa protein
yang menyebabkan bakteri akan apoptosis.
24

Mekanisme Respon Imun Non-Spesifik


Sistem imun alami merupakan pertahanan tubuh yang pertama kali bekerja saat
terdapat invasi. Sistem ini umumnya aktif sampai 12 jam pertama sejak invasi
organisme. Sel yang berperan dalam sistem imun alami di antaranya adalah
makrofag dan natural killer cell. Sel-sel tersebut dinamakan fagosit karena akan
melawan invasi dengan cara fagositosis (penelanan organisme asing).
Selain fagositosis, salah satu mekanisme lain dalam sistem imun alami adalah
dengan produksi antibiotik alami berupa interferon dan lysozyme. Interferon
berperan dalam menghambat replikasi dari virus yang masuk ke dalam tubuh,
sedangkan lysozyme berperan dalam menyerang dinding sel bakteri.

Proses fagositosis bakteri. Luka yang menyebabkan bakteri masuk menembus


barrier kulit akan direspon langsung oleh fagosit yang bermigrasi dari pembuluh
darah. Kemudian membran sel fagosit akan membentuk cekungan agar bakteri bisa
masuk. Dari situ bakteri akan masuk ke dalam sel di dalam vacuola berbungkus
membran (disebut Fagosom). Lalu fagosom akan bergabung bersama lisosom untuk
proses digesti bakteri.
Salah satu contoh respon imun non-spesifik adalah Natural Killer (NK). Dimana sel
tersebut merupakan jenis pertahanan selular. Mereka membuat sekitar 5% sampai
15% dari total populasi limfosit beredar. Mereka menargetkan sel tumor dan
melindungi terhadap berbagai mikroba menular. Natural Killer Sel adalah faktor
yang sangat penting dalam memerangi kanker. Stimulasi imun adalah kunci untuk
menjaga jumlah sel darah putih yang tinggi dan memberikan Sel Natural Killer
kesempatan untuk melawan kanker dan penyakit lainnya.
Natural Killer ikut mengalir bersama peredaran darah. Ketika terjadi viremia, virus
akan melekat pada sel tersebut dan melakukan penetrasi genom. Pada saat inilah sel
natural killer mendapatkan identitas gen mengenai virus. Sel ini selanjutnya akan
mencari sel terinfeksi yang memiliki identitas yang sama seperti virus lalu
membunuhnya dengan mengeluarkan toksin.
25

Mekanisme Respon Imun Spesifik


Aktivasi dari respon imun pada umumnya berawal dari masuknya patogen ke dalam
tubuh. Kemudian makrofag akan mencerna(memakan), memproses, dan membuat
fragmen antigen pada tubuh mereka. Makrofag dengan pengenalan fragmen pada
tubuhnya disebut Antigent Presenting Cell (APC). Kemudian sel T helper akan
mendeteksi fragmen tersebut dan membentuk interaksi dengan fragmen di
permukaan APC. Saat proses interaksi, APC akan menegeluarkan sinyal kimia
dalam bentuk Interleukin-1 yang merangsang sel T helper untuk melepas
Interleukin-2. Zat kimia Interleukin ini akan merangsang proliferasi dari sel T
efektor jenis sel T sitotoksik dan sel B. Respon imun dalam poin ini kemudian akan
terbagi menjadi dua jalur, yaitu
1. Sel T Sitotoksik
Sel normal yang terinfeksi juga dapat mencerna serta membuat fragmen antigen
pada permukaan tubuh mereka. Tubuh kita membuat berjuta-juta sel T
sitotoksik dengan tipe yang berbeda untuk setiap jenis antigen yang berbeda. Sel
T sitotoksik dapat berinteraksi dengan fragmen antigen pada sel terinfeksi,
dengan cara berikatan dengan fragmen tersebut. Ikatan tersebut akan
merangsang sel T sitotoksik untuk mengeluarkan zat kimia toksin yang dapat
membunuh sel terinfeksi beserta dengan antigen di dalamnya.
2. Sel B
Sel B juga terdiri dari berjuta-juta tipe yang dimana setiap jenisnya berfungsi
untuk mengenali antigen berbeda. Sel B ini akan teraktivasi oleh sel T helper
yang memiliki pasangan struktur fragmen antigen. Kemudian sel B akan
berdiferensiasi menjadi sel plasma. Sel plasma ini menjadi pabrik utama sumber
antibodi yang akan ikut mengalir bersama aliran darah. Antibodi yang sudah
spesifik akan mengikat antigen tertentu sehingga tidak bisa berikatan dengan sel
lainnya. Pengikatan ini sebagai marker bagi makrofag untuk menghancurkan
patogen tersebut.

LI. 3. Memahami dan Mempelajari Antigen


LO. 3.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Antigen
Secara spesifik imunogen merupakan bahan yang dapat merangsang sel B atau sel T
atau keduanya. Antigen adalah bahan yang berinteraksi dengan produk respons imun
yang dirangsang oleh imunogen spesifik seperti antibodi atau TCR.
Antigen lengkap adalah antigen yang menginduksi baik respons imun maupun
bereaksi dengan produknya.Yang disebut antigen inkomplit atau hapten, tidak dapat
dengan sendiri menginduksi respons imun, tetapi dapat bereaksi dengan produknya
seperti antibodi. Hapten dapat dijadikan imunogen melalui ikatan dengan molekul besar
yang disebut molekul atau protein pembawa.
LO. 3.2. Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Antigen
1. Pembagian Antigen MenurutEpitop
Menurut epitop, antigen dapat dibagi sebagai berikut:
a. Unideterminan, univalent
26

Yaitu hanya satu jenis determinan atau epitop pada satu molekul.
b. Unideterminan, multivalen
Yaitu hanya satu determinan tetapi dua atau lebih determinan tersebut
ditemukanpada satumolekul.
c. Multideterminan, univalen
Yaitu banyak epitop yang bermacam-macam tetapi hanya satu dari
setiapmacamnya (kebanyakan protein).
d. Multideterminan, multivalen
Yaitu banyak macam determinan dan banyak dari setiap macam pada satu
molekul (antigendengan berat molekul yang tinggi dan kompleks secara
kimiawi).
2. Pembagian Antigen MenurutSpesifisitas
Menurut spesifisitas, antigen dapat dibagi sebagai berikut:
a. Heteroantigen, yaitu antigen yang terdapat pada jaringan dari spesies yang
berbeda.
b. Xenoantigenyaitu antigen yang hanya dimiliki spesies tertentu.
c. Alloantigen (isoantigen) yaitu antigen yang spesifik untuk individu dalam satu
spesies.
b. Antigen organ spesifik, yaitu antigen yang dimiliki oleh organ yang sama dari
spesies yangberbeda.
c. Autoantigen, yaitu antigen yang dimiliki oleh alat tubuh sendiri

3. Pembagian Antigen MenurutKetergantungan Terhadap Sel T


Menurut ketergantungan terhadap sel T, antigen dapat dibagi sebagai berikut:

27

a. T dependent yaitu antigen yang memerlukan pengenalan oleh sel T dan sel B
untuk dapat menimbulkan respons antibodi. Sebagai contoh adalah antigen
protein.
b. T independent yaitu antigen yang dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel
Tuntuk membentuk antibodi.Antigen tersebut berupa molekul besar polimerik
yangdipecah didalam badan secara perlahan-lahan, misalnya lipopolisakarida,
ficoll, dekstran, levan, dan flagelin polimerik bakteri.

4. Pembagian Antigen Menurut Sifat Kimiawi


Menurut sifat kimiawi, antigen dapat dibagi sebagai berikut:
a. Hidrat arang (polisakarida)
Hidrat
arang
pada
umumnya
imunogenik.
Glikoprotein
dapat
menimbulkanrespon imunterutama pembentukan antibodi. Respon imun yang
ditimbulkan golongan darahABOmempunyai sifat antigen dan spesifisitas imun
yang berasal dari polisakarida padapermukaan sel darah merah.
b. Lipid
Lipid biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat
olehproteincarrier.
Lipiddianggap sebagai hapten, sebagai contoh
adalahsphingolipid.
c. Asam nukleat
Asam nukleat tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat oleh
protein carrier. DNA dalam bentuk heliksnya biasanya tidak imunogenik.
Respon imun terhadap DNA terjadi pada penderita dengan SLE.
d. Protein
Kebanyakan protein adalah imunogenik dan pada umunya multideterminan
univalent.

28

LO. 3.3. Memahami dan Menjelaskan Sifat Antigen


Antigen memiliki beberapa sifat-sifat yang khas pada antigen tersebut, sifat-sifat
tersebut antaralain:
1. Keasingan: Kebutuhan utama dan pertama suatu molekul untuk memenuhi
syaratsebagai imunogen adalah bahwa zat tersebut secara genetik asing terhadap
hospes.
2. Sifat-sifat Fisik: Agar suatu zat dapat menjadi imunogen, ia harus mempunyai
ukuran minimum tertentu, imunogen yang mempunyai berat molekul yang kecil,
respon terhadap hospes minimal, dan fungsi zat tersebut sebagai hapten sesudah
bergabung dengan proten-proten jaringan.
3. Kompleksitas: Faktor-faktor yang mempengaruhi kompleksitas imunogen meliputi
baik sifat fisik maupun kimia molekul.
4. Bentuk-bentuk (Conformation): Tidak adanya bentuk dari molekul tertentu yang
imunogen. Polipeptid linear atau bercabang, karbohidrat linear atau bercabang, serta
protein globular, semuanya mampu merangsang terjadinya respon imun.
5. Muatan (charge): Imunogenitas tidak terbatas pada molekuler tertentu; tidak
terbatas pada molekuler tertentu, zat-zat yang bermuatan positif, negatif, dan netral
dapat imunogen. Namun demikian imunogen tanpa muatan akan memunculkan
antibodi yang tanpa kekuatan.
6. Kemampuan masuk:Kemampuan masuk suatu kelompok determinan pada sistem
pengenalan akan menentukan hasil respon imun.
LO. 3.4. Memahami dan Menjelaskan Fungsi Antigen
Fungsi antigen :
1. Menginduksi respons imun terhadap dirinya sendiri
Sel B dan T harus mampu secara spesifik mengenal sel atau bahan lain yang tidak
diperlukan untuk dihancurkan atau dinetralkan karena berbeda dari sel normal
tubuh sendiri. Keberadaan antigen memungkinkan limfosit melakukan pembedaan
tersebut.Antigen adalah molekul asing besar yang unik yang memicu respons imun
spesifik terhadap dirinya jika masuk ke dalam tubuh.Secara umum, semakin
kompleks suatu molekul, semakin besar antigenisitasnya.Protein asing adalah
antigen yang paling umum karena ukuran dan kompleksitasnya, meskipun
makromolekul lain, misalnya polisakarida dan lemak, juga dapat berfungsi sebagai
antigen.Antigen dapat berdiri sendiri, misalnya toksin bakteri, atau merupakan
bagian integral dari suatu struktur multimolekul, misalnya antigen di permukaan
suatu mikroba asing.
2. Merangsang sel B untuk berubah menjadi sel plasma yang menghasilkan antibodi
LO. 3.5. Memahami dan Menjelaskan Struktur Antigen
Karakteristik antigen meliputi bentuk, ukuran, rigiditas, lokasi determinan dan struktur
tersier.
Ukuran
Antigen lengkap (imunogen) biasanya mempunyai berat molekul yang besar.Akan
tetapi molekul kecil dapat bergabung dengan protein inang sehingga dapat bersifat
imunogen dengan membentukkompleks molekul kecil (hapten) dan protein inang
(carrier).
29

Bentuk
Bentuk determinan sangat penting sebagai komponen utama, seperti DNP dalam
DNP-L-lisin yang memberi bentuk molekul yang tidak dapat ditemukan dalam
homolog primer. Kopolimer dari dua asam amino bersifat imunogenik untuk
beberapa spesies, yang mana polimer dari tiga atau empat asam amino yang
merupakan syarat yang penting untuk spesies lain. Lokasi dari struktur dalam
determinan juga sangat penting.
Rigiditas
Gelatin, yang mempunyai berat molekul yang sangat besar, hampir semuanya non
imunogenik.Kespesifitasanya dari produksi antigen secara langsung diangkut ke
gelatin.
Lokasi determinan
Bagian protein yang terdenaturasi mengindikasikan determinan antigen yang
penting yang dapat dimasukkan oleh molekul besar.
Struktur tersier
Struktur tersier dari protein (spatial folding) penting dalam mendeterminasi
kespesifikan dari respon suatu antibodi. Produksi antibodi rantai A dari insulin tidak
bereaksi dengan molekul alami. Reduksi dan reoksidasi dari ribonuklease di bawah
kondisi kontrol diproduksi dari campuran molekul protein yang berbeda hanya
dalam struktur tiga dimensi. Jika katabolisme terjadi, struktur tersier dari imunogen
akan dihancurkan

LI. 4. Memahami dan Mempelajari Antibodi


LO. 4.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Antibodi
Berdasarkan kamus kedokteran Dorland, antibodi adalah molekul imunoglobulin
yang mempunyai suatu rantai asam amino spesifik, yang hanya berinteraksi dengan
antigen yang menginduksi sintesis molekul ini di dalam sel seri limfoid (khususnya sel
plasma), atau dengan antigen yang sangat erat hubungannya dengan antigen tersebut.
Antibodi digolongkan menurut cara kerjanya, seperti aglutinin, bakteriolisin, hemolisin,
opsonin, presipitin, dll.
LO. 4.2. Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Antibodi
Terdapat 5 jenis antibodi atau imunoglobulin, yaitu imunoglobulin G, imunoglobulin A,
imunoglobulin M, imunoglobulin D, dan imunoglobulin E.
1. Imunoglobulin M
Antibodi yang dihasilkan pada pemaparan awal oleh suatu antigen.
a. Imunoglubulin utama pada sekret kolostrum, saliva, air mata, secret saluran
pernapasan, gastrointestinal, dan genitalia.
b. Melindungi membran mukosa dari bakteri dan virus.
c. Berperan sebagai reseptor permukaan sel B dan disekresi pada tahap awal
respons sel plasma.
2. Imunoglobulin G
Antibodi yang dihasilkan pada pemaparan selanjutnya.
a. Imunoglobulin utama pada serum manusia (70-75% immunoglobulin).

30

b. Antibodi terpenting pada respon imun sekunder & pertahanan terhadap bakteri
& virus.
c. Satu-satunya antibodi yang dapat melewati plasenta.
d. Memberikan imunitas pasif pada bayi yg baru lahir.
e. IgG yang tersebar di intravaskuler dan ekstravaskuler bersifat antitoksin.
f. Terdiri dari = 2 rantai L & 2 rantai H yang dihubungkan dengan ikatan disulfide
(formula molekul H2L2).
g. Bersifat divalen (karena mempunyai 2 tempat pengikatan yang identik).
h. Sub kelas IgG: IgG1 (65%),IgG2 (ditujukan pada antigen polisakarida (bagian
sistem pertahanan penting terhadap bakteri berkapsul),IgG3, IgG4 (berdasarkan
pada perbedaan antigen rantai H, dan lokasi ikatan disulfide).
i. Ig terbanyak di darah, diproduksi jika tubuh berespons terhadap antigen yang
sama.
j. IgM & IgG berperan jika terjadi invasi bakteri dan virus serta aktivasi
komplemen.
3. Imunoglobulin A
a. Ada di dalam sekresi mukosa dan aktif di tempat tersebut.
b. Ditemukan pada sekresi sistem pencernaan, pernapasan, dan perkemihan
(contoh: pada airmata dan ASI).
4. Imunoglobulin D
a. Terdapat pada banyak permukaan sel B; mengenali antigen pada sel B.
b. Antibodi yang terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit dalam darah.
5. Imunoglobulin E
a. Melindungi tubuh dari infeksi parasit dan merupakan mediator pada reaksi
alergi; melepaskan histamin dari basofil dan sel mast.
b. Menyebabkan reaksi alergi akut.
STRUKTUR ANTIBODI

Keterangan :
Unit dasar antibody yang terdiri dari 2 rantai berat dan 2 rantai ringan yang identic
diikat jadi satu oleh ikatan disulfide.
2 jenis rantai ringan (kappa dan lambda) terdiri dari 230 asam amino.

31

5 jenis rantai berat, yg tergantung pada kelima jenis immunoglobulin : IgM, IgG, IgE,
IgA, IgD yg terdiri dari 450-600 asam amino. (sehingga panjang rantai berat adalah
dua kali rantai ringan).
Antibody terdiri dari 4 rantai polipeptida yang saling berkaitan-dua rantai panjang
yang berat dan dua rantai pendek yang ringan-yang tersusun membentuk huruf Y.
Karakteristik bagian lengan dari Y menentukan spesifisitas antibody (yaitu, dengan
antigen apa antibody dapat berikatan). Sifat dari bagian ekor antibody menentukan sifat
fungsional antibody (apa yang dilakukan antibody setelah berikatan dengan antigen).

Sebuah antibody memiliki dua tempat pengikatan antigen identik, satu di masingmasing ujung lengan.Antigen binding fragment (Fab, bagian pengikat antigen) ini
bersifat unik untuk masing-masing antibody, sehingga setiap antibody hanya dapat
berinteraksi dengan satu antigen yang secara spesifik cocok dengannya, seperti kunci dan
anak kuncinya.Sangat beragamnya bagian pengikat antigen dari berbagai antibody
menyebabkan adanya antibody unik dalam jumlah sangat besar yang dapat berikatan
secara spesifik dengan jutaan antigen berbeda.
Berbeda dengan bagian Fab di ujung lengan yang bervariasi ini, bagian ekor
setiap antibody dalam subkelas immunoglobulin yang sama bersifat identik. Bagian ekor,
atau disebut bagian konstanta (Fc), mengandung tempat untuk mengikat mediator
tertentu yang aktivitasnya diinduksi oleh antibodi, yang berbeda-beda di antara berbagai
subkelas antibodi.Pada kenyataannnya, perbedaan bagian konstan merupakan dasar untuk
membedakan antara berbagai subkelas immunoglobulin.

32

Kelas dan sifat immunoglobulin


IgG1-4
Sifat utama
Paling banyak
ditemukan
dalam
cairan
tubuh terutama
ekstravaskular
untuk
memerangi
mikroorganism
e dan toksinnya

IgM
Aglutinator
yang sangat
efektif;
diproduksi
dini
pada
respons
imun.
Pertahanan
terdepan
terhadap
bacteremia
Ditemukan
Mengikat
dalam sekresi komplemen
(asam
Opsonin baik
lambung)
Proteksi
terhadap
mukosa
disekresi
dalam
air
susu
Limfosit
Limfosit
Neutrofil
Reseptor sel
B

IgD
Umumnya
ditemukan di
permukaan
limfosit

++
++

+
-

+++
-

+++

+++

Fungsi

Opsonisasi
ADCC
Imunisasi
neonatal

Ikatan sel

Mononuklear
Limfosit
Neutrofil
Trombosit

Fiksasi
komplemen
Klasik
Alternatif
Lewat
plasenta
Sensitisasi sel
mast
dan
basophil
Ikatan dengan
makrofag dan

IgA
Ig
utama
dalam sekresi
seromukosa
untuk
menjaga
permukaan
luar tubuh

IgE
Pengerahan
agens
anti
microbial.
Meningkat
pada infeksi
parasit.
Berperan
pada gejala
alergi atopi.

Menimbulkan
alergi, syok
anafilaksis.
Pertahanan
terhadap
parasit.

Reseptor sel Sel mast


B
Basofil
Limfosit

33

polimorfisme

LI. 5. Memahami dan Mempelajari Vaksin dan imunisasi


LO. 5.1. Memahami dan Menjelaskan Perbedaan
a. Perbedaan

Vaksinasi adalah memberikan vaksin atau jenis patogen tertentu yang dilemahkan atau
dinon-aktifkan. Sedangkan imunisasi adalah pemberian serum tertentu yang sudah
terdapat hasil respon imun, misalnya antibodi. Vaksinasi merupakan imunitas aktif buatan
sedangkan imunisasi adalah imunitas golongan pasif buatan.
LO. 5.2. Memahami dan Menjelaskan Jenis-Jenis Vaksin
1. BCG
BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). BCG
diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan. BCG ulangan tidak dianjurkan
karena keberhasilannya diragukan.
a. Vaksin disuntikkan secara intrakutan pada lengan atas, untuk bayi berumur
kurang dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,05 mL dan untuk anak berumur
lebih dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,1 mL.
b. Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang
dilemahkan, sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis.
c. Kontraindikasi untuk vaksinasi BCG adalah penderita gangguan sistem
kekebalan (misalnya penderita leukemia, penderita yang menjalani
pengobatan steroid jangka panjang, penderita infeksi HIV). Reaksi yang
mungkin terjadi:
i. Reaksi lokal : 1-2 minggu setelah penyuntikan, pada tempat
penyuntikan timbul kemerahan dan benjolan kecil yang teraba
keras. Kemudian benjolan ini berubah menjadi pustula (gelembung
berisi nanah), lalu pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus).
Luka ini akhirnya sembuh secara spontan dalam waktu 8-12
minggu dengan meninggalkan jaringan parut.
ii. Reaksi regional : pembesaran kelenjar getah bening ketiak atau
leher, tanpa disertai nyeri tekan maupun demam, yang akan
menghilang dalam waktu 3-6 bulan.
d. Komplikasi yang mungkin timbul adalah
i. Pembentukan abses (penimbunan nanah) di tempat penyuntikan
karena penyuntikan yang terlalu dalam. Abses ini akan menghilang
secara spontan. Untuk mempercepat penyembuhan, bila abses telah

34

matang, sebaiknya dilakukan aspirasi (pengisapan abses dengan


menggunakan jarum) dan bukan disayat.
ii. Limfadenitis supurativa, terjadi jika penyuntikan dilakukan terlalu
dalam atau dosisnya terlalu tinggi. Keadaan ini akan membaik
dalam waktu 2-6 bulan.
2. DPT
a. Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap
difteri, pertusis dan tetanus.
b. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan
dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal.
c. Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang
ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang
melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat
menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas,
makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius,
seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak.
d. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada
rahang serta kejang.
e. Vaksin DPT adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada anak yang
berumur kurang dari 7 tahun.Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk
suntikan, yang disuntikkan pada otot lengan atau paha
f. Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2
bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak
kurang dari 4 minggu. Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah
DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi
alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT, bukan DPT.
g. Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi awal, sebaiknya diberikan
booster vaksin Td pada usia 14-16 tahun kemudian setiap 10 tahun (karena
vaksin hanya memberikan perlindungan selama 10 tahun, setelah 10 tahun
perlu diberikan booster). Hampir 85% anak yang mendapatkan minimal 3
kali suntikan yang mengandung vaksin difteri, akan memperoleh
perlindungan terhadap difteri selama 10 tahun.
h. DPT sering menyebakan efek samping yang ringan, seperti demam ringan
atau nyeri di tempat penyuntikan selama beberapa hari. Efek samping
tersebut terjadi karena adanya komponen pertusis di dalam vaksin.
i. Pada kurang dari 1% penyuntikan, DTP menyebabkan komplikasi berikut:
i. demam tinggi (lebih dari 40,5 Celsius)
ii. kejang
iii. kejang demam (resiko lebih tinggi pada anak yang sebelumnya
pernah mengalami kejang atau terdapat riwayat kejang dalam
keluarganya)
iv. syok (kebiruan, pucat, lemah, tidak memberikan respon).
j. Jika anak sedang menderita sakit yang lebih serius dari pada flu ringan,
imunisasi DPT bisa ditunda sampai anak sehat. Jika anak pernah
mengalami kejang, penyakit otak atau perkembangannya abnormal,

35

penyuntikan DPT sering ditunda sampai kondisinya membaik atau


kejangnya bisa dikendalikan.
k. 1-2 hari setelah mendapatkan suntikan DPT, mungkin akan terjadi demam
ringan, nyeri, kemerahan atau pembengkakan di tempat penyuntikan.
Untuk mengatasi nyeri dan menurunkan demam, bisa diberikan
asetaminofen (atau ibuprofen). Untuk mengurangi nyeri di tempat
penyuntikan juga bisa dilakukan kompres hangat atau lebih sering
menggerak-gerakkan lengan maupun tungkai yang bersangkutan
3. DT
a. memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman
penyebab difteri dan tetanus.
b. Vaksin DT dibuat untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak
boleh atau tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu
menerima imunisasi difteri dan tetanus.
c. Cara pemberian imunisasi dasar dan ulangan sama dengan imunisasi DPT.
Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha sebanyak 0,5 mL. Vaksin
ini tidak boleh diberikan kepada anak yang sedang sakit berat atau
menderita demam inggi. Efek samping yang mungkin terjadi adalah
demam ringan dan pembengkakan lokal di tempat penyuntikan, yang
biasanya berlangsung selama 1-2 hari.
4. TT
a. Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif
terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat
digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan
penyakit tetanus.
b. Kepada ibu hamil, imunisasi TT diberikan sebanyak 2 kali, yaitu pada saat
kehamilan berumur 7 bulan dan 8 bulan. Vaksin ini disuntikkan pada otot
paha atau lengan sebanyak 0,5 mL. Efek samping dari tetanus toksoid
adalah reaksi lokal pada tempat penyuntikan, yaitu berupa kemerahan,
pembengkakan dan rasa nyeri.
5. Polio
a. Memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis. Polio bisa
menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun kedua
lengan/tungkai. Polio juga bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot
pernafasan dan otot untuk menelan. Polio bisa menyebabkan kematian.
b. Terdapat 2 macam vaksin polio :
i. IPV (Inactivated Polio Vaccine, Vaksin Salk), mengandung virus
polio yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan
ii. OPV (Oral Polio Vaccine, Vaksin Sabin), mengandung vaksin
hidup yang telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau
cairan. Bentuk trivalen (TOPV) efektif melawan semua bentuk
polio, bentuk monovalen (MOPV) efektif melawan 1 jenis polio.
c. Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I,II, III, dan IV) dengan
interval tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi polio ulangan diberikan 1
tahun setelah imunisasi polio IV, kemudian pada saat masuk SD (5-6
tahun) dan pada saat meninggalkan SD (12 tahun).
36

d. Di Indonesia umumnya diberikan vaksin Sabin. Vaksin ini diberikan


sebanyak 2 tetes (0,1 mL) langsung ke mulut anak atau dengan
menggunakan sendok yang berisi air gula.
e. Kontra indikasi pemberian vaksin polio:
i. Diare berat
ii. Gangguan kekebalan (karena obat imunosupresan, kemoterapi,
kortikosteroid)
iii. Kehamilan
f. Efek samping yang mungkin terjadi berupa kelumpuhan dan kejangkejang.
g. Dosis pertama dan kedua diperlukan untuk menimbulkan respon
kekebalan primer, sedangkan dosis ketiga dan keempat diperlukan untuk
meningkatkan kekuatan antibobi sampai pada tingkat yang tertinggi.
h. Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi dasar, kepada orang dewasa
tidak perlu dilakukan pemberian booster secara rutin, kecuali jika dia
hendak bepergian ke daerah dimana polio masih banyak ditemukan.
Kepada orang dewasa yang belum pernah mendapatkan imunisasi polio
dan perlu menjalani imunisasi, sebaiknya hanya diberikan IPV. Kepada
orang yang pernah mengalami reaksi alergi hebat (anafilaktik) setelah
pemberian IPV, streptomisin, polimiksin B atau neomisin, tidak boleh
diberikan IPV. Sebaiknya diberikan OPV. Kepada penderita gangguan
sistem kekebalan (misalnya penderita AIDS, infeksi HIV, leukemia,
kanker, limfoma), dianjurkan untuk diberikan IPV. IPV juga diberikan
kepada orang yang sedang menjalani terapi penyinaran, terapi kanker,
kortikosteroid atau obat imunosupresan lainnya.
i. IPV bisa diberikan kepada anak yang menderita diare. Jika anak sedang
menderita penyakit ringan atau berat, sebaiknya pelaksanaan imunisasi
ditunda sampai mereka benar-benar pulih.
j. IPV bisa menyebabkan nyeri dan kemerahan pada tempat penyuntikan,
yang biasanya berlangsung hanya selama beberapa hari.
6. Campak
a. Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak
(tampek). Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak
berumur 9 bulan atau lebih. Pada kejadian luar biasa dapat diberikan pada
umur 6 bulan dan diulangi 6 bulan kemudian. Vaksin disuntikkan secara
subkutan dalam sebanyak 0,5 mL.
b. Kontra indikasi pemberian vaksin campak :
i. infeksi akut yang disertai demam lebih dari 38 Celsius
ii. gangguan sistem kekebalan
iii. pemakaian obat imunosupresan
iv. alergi terhadap protein telur
v. hipersensitivitas terhadap kanamisin dan eritromisin
vi. wanita hamil
c. Efek samping yang mungkin terjadi berupa demam, ruam kulit, diare,
konjungtivitis dan gejala kataral serta ensefalitis (jarang).
7. MMR
37

a. Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan


campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali.
b. Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler dan mata
berair. Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia.
Campak juga bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti
pembengkakan otak dan bahkan kematian. Gondongan menyebabkan
demam, sakit kepala dan pembengkakan pada salah satu maupun kedua
kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa menyebabkan
meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan
pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan
pembengkakan pada buah zakar sehingga terjadi kemandulan. Campak
Jerman (rubella) menyebabkan demam ringan, ruam kulit dan
pembengkakan kelenjar getah bening leher. Rubella juga bisa
menyebakban pembengkakan otak atau gangguan perdarahan.
c. Jika seorang wanita hamil menderita rubella, bisa terjadi keguguran atau
kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkannya (buta atau tuli). Terdapat
dugaan bahwa vaksin MMR bisa menyebabkan autisme, tetapi penelitian
membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara autisme dengan
pemberian vaksin MMR.
d. Vaksin MMR adalah vaksin 3-in-1 yang melindungi anak terhadap
campak, gondongan dan campak Jerman. Vaksin tunggal untuk setiap
komponen MMR hanya digunakan pada keadaan tertentu, misalnya jika
dianggap perlu memberikan imunisasi kepada bayi yang berumur 9-12
bulan.
e. Suntikan pertama diberikan pada saat anak berumur 12-15 bulan. Suntikan
pertama mungkin tidak memberikan kekebalan seumur hidup yang
adekuat, karena itu diberikan suntikan kedua pada saat anak berumur 4-6
tahun (sebelum masuk SD) atau pada saat anak berumur 11-13 tahun
(sebelum masuk SMP).
f. Imunisasi MMR juga diberikan kepada orang dewasa yang berumur 18
tahun atau lebih atau lahir sesudah tahun 1956 dan tidak yakin akan status
imunisasinya atau baru menerima 1 kali suntikan MMR sebelum masuk
SD.
g. Dewasa yang lahir pada tahun 1956 atau sebelum tahun 1956, diduga telah
memiliki kekebalan karena banyak dari mereka yang telah menderita
penyakit tersebut pada masa kanak-kanak. Pada 90-98% orang yang
menerimanya, suntikan MMR akan memberikan perlindungan seumur
hidup terhadap campak, campak Jerman dan gondongan. Suntikan kedua
diberikan untuk memberikan perlindungan adekuat yang tidak dapat
dipenuhi oleh suntikan pertama.
h. Efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh masing-masing komponen
vaksin:
i. Komponen campak 1-2 minggu setelah menjalani imunisasi,
mungkin akan timbul ruam kulit. Hal ini terjadi pada sekitar 5%
anak-anak yang menerima suntikan MMR. Demam 39,50 Celsius
atau lebih tanpa gejala lainnya bisa terjadi pada 5-15% anak yang
38

menerima suntikan MMR. Demam ini biasanya muncul dalam


waktu 1-2 minggu setelah disuntik dan berlangsung hanya selama
1-2 hari. Efek samping tersebut jarang terjadi pada suntikan MMR
kedua.
ii. Komponen gondongan. Pembengkakan ringan pada kelenjar di pipi
dan dan dibawah rahang, berlangsung selama beberapa hari dan
terjadi dalam waktu 1-2 minggu setelah menerima suntikan MMR.
iii. Komponen campak Jerman, Pembengkakan kelenjar getah bening
dan atau ruam kulit yang berlangsung selama 1-3 hari, timbul
dalam waktu 1-2 mingu setelah menerima suntikan MMR. Hal ini
terjadi pada 14-15% anak yang mendapat suntikan MMR. Nyeri
atau kekakuan sendi yang ringan selama beberapa hari, timbul
dalam waktu 1-3 minggu setelah menerima suntikan MMR. Hal ini
hanya ditemukan pada 1% anak-anak yang menerima suntikan
MMR, tetapi terjadi pada 25% orang dewasa yang menerima
suntikan MMR. Kadang nyeri/kekakuan sendi ini terus
berlangsung selama beberapa bulan (hilang- timbul).
iv. Artritis (pembengkakan sendi disertai nyeri) berlangsung selama 1
minggu dan terjadi pada kurang dari 1% anak-anak tetapi
ditemukan pada 10% orang dewasa yang menerima suntikan
MMR. Jarang terjadi kerusakan sendi akibat artritis ini. Nyeri atau
mati rasa pada tangan atau kaki selama beberapa hari lebih sering
ditemukan pada orang dewasa. Meskipun jarang, setelah menerima
suntikan MMR, anak-anak yang berumur dibawah 6 tahun bisa
mengalami aktivitas kejang (misalnya kedutan). Hal ini biasanya
terjadi dalam waktu 1-2 minggu setelah suntikan diberikan dan
biasanya berhubungan dengan demam tinggi.
i. Keuntungan dari vaksin MMR lebih besar jika dibandingkan dengan efek
samping yang ditimbulkannya. Campak, gondongan dan campak Jerman
merupakan penyakit yang bisa menimbulkan komplikasi yang sangat
serius.
j. Jika anak sakit, imunisasi sebaiknya ditunda sampai anak pulih. Imunisasi
MMR sebaiknya tidak diberikan kepada:
i. anak yang alergi terhadap telur, gelatin atau antibiotik neomisin
ii. anak yang 3 bulan yang lalu menerima gamma globulin
iii. anak yang mengalami gangguan kekebalan tubuh akibat kanker,
leukemia, limfoma maupun akibat obat prednison, steroid,
kemoterapi, terapi penyinaran atau obati imunosupresan.
iv. wanita hamil atau wanita yang 3 bulan kemudian hamil.
8. Hib
a. Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza
tipe b. Organisme ini bisa menyebabkan meningitis, pneumonia dan
infeksi tenggorokan berat yang bisa menyebabkan anak tersedak.
b. Vaksin Hib diberikan sebanyak 3 kali suntikan, biasanya pada saat anak
berumur 2, 4 dan 6 bulan.
9. Imunisasi Varisella
39

a. Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air. Cacar air


ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara
perlahan mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas.
b. Anak yang berumur 12-18 bulan dan belum pernah menderita cacar air
dianjurkan untuk menjalani imunisasi varisella. Anak-anak yang
mendapatkan suntikan varisella sebelum berumur 13 tahun hanya
memerlukan 1 dosis vaksin. Kepada anak-anak yang berumur 13 tahun
atau lebih, yang belum pernah mendapatkan vaksinasi varisella dan belum
pernah menderita cacar air, sebaiknya diberikan 2 dosis vaksin dengan
selang waktu 4-8 minggu.
c. Cacar air disebabkan oleh virus varicella-zoster dan sangat menular.
Biasanya infeksi bersifat ringan dan tidak berakibat fatal; tetapi pada
sejumlah kasus terjadi penyakit yang sangat serius sehingga penderitanya
harus dirawat di rumah sakit dan beberapa diantaranya meninggal. Cacar
air pada orang dewasa cenderung menimbulkan komplikasi yang lebih
serius.
d. Vaksin ini 90-100% efektif mencegah terjadinya cacar air. Terdapat
sejumlah kecil orang yang menderita cacar air meskipun telah
mendapatkan suntikan varisella; tetapi kasusnya biasanya ringan, hanya
menimbulkan beberapa lepuhan (kasus yang komplit biasanya
menimbulkan 250-500 lepuhan yang terasa gatal) dan masa pemulihannya
biasanya lebih cepat.
e. Vaksin varisella memberikan kekebalan jangka panjang, diperkirakan
selama 10-20 tahun, mungkin juga seumur hidup.
f. Efek samping dari vaksin varisella biasanya ringan, yaitu berupa :
i. Demam
ii. nyeri dan pembengkakan di tempat penyuntikan
iii. ruam cacar air yang terlokalisir di tempat penyuntikan.
g. Efek samping yang lebih berat adalah :
i. kejang demam, yang bisa terjadi dalam waktu 1-6 minggu setelah
penyuntikan
ii. pneumonia
iii. reaksi alergi sejati (anafilaksis), yang bisa menyebabkan gangguan
pernafasan, kaligata, bersin, denyut jantung yang cepat, pusing dan
perubahan perilaku. Hal ini bisa terjadi dalam waktu beberapa
menit sampai beberapa jam setelah suntikan dilakukan dan sangat
jarang terjadi.
iv. Ensefalitis
v. penurunan koordinasi otot.
h. Imunisasi varisella sebaiknya tidak diberikan kepada :
i. Wanita hamil atau wanita menyusui
ii. Anak-anak atau orang dewasa yang memiliki sistem kekebalan
yang lemah atau yang memiliki riwayat keluarga dengan kelainan
imunosupresif bawaan

40

iii. Anak-anak atau orang dewasa yang alergi terhadap antibiotik


neomisin atau gelatin karena vaksin mengandung sejumlah kecil
kedua bahan tersebut
iv. Anak-anak atau orang dewasa yang menderita penyakit serius,
kanker atau gangguan sistem kekebalan tubuh (misalnya AIDS)
v. Anak-anak atau orang dewasa yang sedang mengkonsumsi
kortikosteroid
vi. Setiap orang yang baru saja menjalani transfusi darah atau
komponen darah lainnya
vii. Anak-anak atau orang dewasa yang 3-6 bulan yang lalu menerima
suntikan immunoglobulin.
10. HBV
a. Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Hepatitis B
adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan
kematian.
b. Dosis pertama diberikan segera setelah bayi lahir atau jika ibunya
memiliki HBsAg negatif, bisa diberikan pada saat bayi berumur 2 bulan.
Imunisasi dasar diberikan sebanyak 3 kali dengan selang waktu 1 bulan
antara suntikan HBV I dengan HBV II, serta selang waktu 5 bulan antara
suntikan HBV II dengan HBV III. Imunisasi ulangan diberikan 5 tahun
setelah suntikan HBV III. Sebelum memberikan imunisasi ulangan
dianjurkan untuk memeriksa kadar HBsAg. Vaksin disuntikkan pada otot
lengan atau paha.
c. Kepada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif, diberikan vaksin
HBV pada lengan kiri dan 0,5 mL HBIG (hepatitis B immune globulin)
pada lengan kanan, dalam waktu 12 jam setelah lahir. Dosis kedua
diberikan pada saat anak berumur 1-2 bulan, dosis ketiga diberikan pada
saat anak berumur 6 bulan.
d. Kepada bayi yang lahir dari ibu yang status HBsAgnya tidak diketahui,
diberikan HBV I dalam waktu 12 jam setelah lahir. Pada saat persalinan,
contoh darah ibu diambil untuk menentukan status HBsAgnya; jika positif,
maka segera diberikan HBIG (sebelum bayi berumur lebih dari 1 minggu).
Pemberian imunisasi kepada anak yang sakit berat sebaiknya ditunda
sampai anak benar-benar pulih. Vaksin HBV dapat diberikan kepada ibu
hamil.
e. Efek samping dari vaksin HBV adalah efek lokal (nyeri di tempat
suntikan) dan sistemis (demam ringan, lesu, perasaan tidak enak pada
saluran pencernaan), yang akan hilang dalam beberapa hari.
11. Pneumokokus Konjugata
a. Imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak terhadap sejenis
bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat
menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan
bakteremia (infeksi darah).
b. Kepada bayi dan balita diberikan 4 dosis vaksin. Vaksin ini juga dapat
digunakan pada anak-anak yang lebih besar yang memiliki resiko terhadap
terjadinya infeksi pneumokokus.
41

LO. 5.3. Memahami dan Menjelaskan Cara Penyimpanan Vaksin


Terkait dengan penyimpanan vaksin, aturan umum untuk sebagian besar vaksin, bahwa
vaksin harus didinginkan pada temperature 2-8 C dan tidak membeku. Sejumlah vaksin
(DPT, Hib,Hepatitis B dan Hepatitis A) akan tidak aktif bila beku. Vaksin yang disimpan dan
diangkut secara tidak benar akan kehilangan potensinya. Instruksi pada lembar penyuluhan
(brosur) informasi produk harus disertakan. Penyimpanan vaksin membutuhkan suatu perhatian
khusus karena vaksin merupakan sediaan biologis yang rentan terhadap perubahan temperatur
lingkungan.Pada setiap tahapan rantai dingin maka transportasi vaksin dilakukan pada
temperature 0oC sampai 8C. Vaksin polioboleh mencair dan membeku tanpa membahayakan
potensi vaksin. Vaksin DPT, DT, dT, hepatitis-B dan Hib akan rusak bila membeku pada
temperature 0 (vaksin hepatitis-B akan membeku sekitar -0,5C).
Menurut Petunjuk Pelaksanaan Program Imunisasi, Depkes RI, 1992, sarana penyimpanan
vaksin di setiap tingkat administrasi berbeda. Di tingkat pusat, sarana penyimpan vaksin
adalah kamar dingin/cold room.Ruangan ini seluruh dindingnya diisolasi untuk menghindarkan
panas masuk ke dalam ruangan. Ada 2 kamar dingin yaitu dengan suhu +2o C sampai +8o C dan
suhu -20o C sampai -25o C. Sarana ini dilengkapi dengan generator cadangan untuk
mengatasi putusnya aliran listrik. Di tingkat provinsi vaksin disimpan pada kamar dingin dengan
suhu -20o C sampai -25o C, di tingkat kabupaten sarana penyimpanan vaksin menggunakan
lemari es dan freezer.
Dasar yang menjadi pertimbangan dalam memilih cold chain antara lain meliputi jumlah
sasaran, volume vaksin yang akan dimuat, sumber energi yang ada, sifat, fungsi serta stabilitas
suhu sarana penyimpanan, suku cadang dan anjuran WHO atau hasil penelitian atau uji coba
yang pernah dilakukan. Sarana cold chain di tingkat Puskesmas merupakan sarana
penyimpanan vaksin terakhir sebelum mencapai sasaran.Tingginya frekuensi pengeluaran dan
pengambilan vaksin dapat menyebabkan potensi vaksin cepat menurun.
Untuk melakukan pemantauan suhu rantai dingin (cold chain) vaksin maka digunakan
pemantau suhu. Pada kamar dingin (cold room) alat pemantau suhu berupa lampu alarm yang
akan menyala bila suhu di dalamnya melampaui suhu yang ditetapkan. Untuk memantau suhu
lemari es selain menggunakan termometer yang terletak pada dinding luar lemari es juga
menggunakan termometer yang diletakkan dalam lemari es.Agar vaksin tetap mempunyai
potensi yang baik sewaktu diberikan kepada sasaran maka vaksin harus disimpan pada suhu
tertentu dengan lama penyimpanan yang telah ditentukan di masing-masing tingkatan
administrasi. Untuk menjaga rantai dingin vaksin yang disimpan pada lemari es di Puskesmas,
perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Pengaturan dan penataan vaksin di dalam lemari es
2.Pengontrolan suhu lemari es dengan penempatan termometer di dalam lemari di tempat yang
benar dan pencatatan suhu pada kartu suhu atau grafik suhu sebanyak dua kali sehari pada pagi
dan siang hari
42

3.Pencatatan data vaksin di buku catatan vaksin meliputi tanggal diterima atau
dikeluarkan, nomor batch, tanggal kadaluarsa, jumlah diterima atau dikeluarkan dan jumlah sisa
yang ada.
Cara penyimpanan untuk vaksin sangat penting karena menyangkut potensi dan daya
antigennya. Beberapa faktor yang mempengaruhi penyimpanan vaksin adalah antara lain suhu,
sinar matahari dan kelembaban.
Pada awalnya vaksin yang berasal dari virus hidup seperti polio dan campak, harus
disimpan pada suhu di bawah 0oC.Namun berdasarkan penelitian berikutnya, ternyata hanya
vaksin polio yang masih memerlukan suhu dibawah 0oC.Sementara vaksin campak dapat
disimpan di refrigerator pada suhu 2oC-8oC.Sedangkan vaksin lainnya harus disimpan pada suhu
2oC-8oC.
LI.6. Memahami dan menjelaskan pandangan Islam tentang vaksin

Imunisasi hukumnya boleh dan tidak terlarang, karena termasuk penjagaan diri dari
penyakit sebelum terjadi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa
yang memakan tujuh butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar sehari itu dari racun dan
sihir(HR. Bukhari : 5768, Muslim : 4702).
Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang disyariatkannya mengambil sebab untuk
membentengi diri dari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga kalau dikhawatirkan terjadi
wabah yang menimpa maka hukumnya boleh sebagaimana halnya boleh berobat tatkala
terkena penyakit.

Boleh dalam kondisi darurat dalil firman Allah : Sesungguhnya Allah telah
menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa
kamu memakannya. (QS. Al- Anam [6]:119)
1) Dhorurat dalam Obat
Dhorurat (darurat) adalah suatu keadaan terdesak untuk menerjang keharaman,
yaitu ketika seorang memilki keyakinan bahwa apabila dirinya tidak menerjang
larangan tersebut niscaya akan binasa atau mendapatkan bahaya besar pada badanya,
hartanya atau kehormatannya. Dalam suatu kaidah fiqhiyyah dikatakan:
Darurat
itu
membolehkan
suatu
yang
dilarang
Namun kaidah ini harus memenuhi dua persyaratan: tidak ada pengganti lainya yang
boleh (mubah/halal) dan mencukupkan sekadar untuk kebutuhan saja.
Oleh karena itu, al-Izzu bin Abdus Salam mengatakan : Seandainya seorang terdesak
43

untuk makan barang najis maka dia harus memakannya, sebab kerusakan jiwa dan
anggota badan lebih besar daripada kerusakan makan barang najis.20
2) Kemudahan Saat Kesempitan
Sesungguhnya syariat islam ini dibangun di atas kemudahan. Banyak sekali dalildalil yang mendasari hal ini, bahkan Imam asy-Syathibi mengatakan: Dalil-dalil
tentang kemudahan bagi umat ini telah mencapai derajat yang pasti.20
Semua syariat itu mudah. Namun, apabila ada kesulitan maka akan ada tambahan
kemudahan lagi. Alangkah bagusnya ucapan Imam asy-Syafii tatkala berkata :
Kaidah syariat itu dibangun (di atas dasar) bahwa segala sesuatu apabila sempit
maka menjadi luas.21

Perlukah Vaksin?
Vaksin bertanggung jawab terhadap peningkatan jumlah anak-anak dan orang dewasa
yang mengalami gangguan system imun dan syaraf, interaktif, kelemahan daya ingat, asma,
sindrom keletihan kronis, lupus, arthritis reumatiod, sklerosis multiple, dan bahkan epilepsy.
Hal itu disampaikan oleh Presiden Pusat Informasi Vaksin Nasional Amerika, Barbara Loe.
Sementara itu, dr. Muhammad Ali Toha Assegaf, Anggota IDI, Anggaota Ikatan Dokter
Akupuntur Indonesia menyatakan kegelisahannya terhadap vaksin, Halalkah vaksin yang ada
di negeri ini/perlukah vaksinasi? Dan amankah? Ini adalah kegelisahan saya sebagai dokter
dan kegelisahan jutaan orang yang menyakini sabda Rasulullah SAW., : Allah tidak
menciptakan kesembuhan dari hal yang diharamkan atas kalian. Juga Allah SWT tidak
menjadikan barang haram sebagai obat bagi umatku.
Pendapat Kontra :
-

Vaksin haram karena menggunakan media ginjal kera, babi, aborsi bayi, darah orang
tretular penyakit infeksi yg pengguna alkohol, obat bius, dll.

Efek samping yg membahayakan karena mengandung mercuri, thimerosal, aluminium,


benzetonium klorida, dan zat-zat berbahaya lainnya yg akan memicu autism, cacat otak,
dll.

Lebih banyak bahaya daripada manfaatnya, banyak efek sampingnya.

Konspirasi & akal-akalan Negara barat untuk memperbodoh dan meracuni Negara
berkembang dan Negara muslim dengan menghancurkan generasi muda.

44

Menyingkirkan metode pengobatan & pencegahan dari Negara-negara berkembang dan


Negara muslim seperti minum madu, minyak zaitun, kurma, & habbatussauda.

Pendapat Pro :
-

Mencegah para bayi tertular dari sang ibu, yang membawa virus toksoplasma, rubella,
hepatitis B yg dapat membahayakan ibu dan janin.

Vaksinasi penting dilakukan untuk mencegah penyakit infeksi berkembang menjadi


wabah seperti kolera, diphteri, & polio.

Efek samping yg membahayakan bisa diminimalisirkan dengan tanggap terhadap kondisi


ketika hendak imunisasi dan lebih banyak cari tahu tentang jenis merk vaksin serta
jadwal yg benar sesuai kondisi setiap orang.

Ada beberapa fatwa halal dan bolehnya imunisasi. Contoh fatwa MUI yg menyatakan
halal. Dan jika haram, maka tetap diperbolehkan karena mengingat keadaan darurat,
daripada penyakit infeksi mewabah.
Daftar Pustaka

Artikel Pro Kontra Hukum Imunisasi dan Vaksinasi Muslim.Or.Id Memurnikan Aqidah
Menebarkan Sunnah.
Artikel Standar Penyimpanan Vaksin Menurut Depkes RI dan WHO.Available at:
http://www.indonesian-publichealth.com/2012/09/standar-penyimpanan-vaksin.html
Baratawidjaja, Karnen Garna. 2014. Imunologi Dasar. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Eroschenko, Victor P. 2010. Atlas Histologi diFiore ed. 11.Jakarta: EGC
Dorland, W. A. N. 2010. KamusKedokteran Dorland, edisi 31. Jakarta: EGC.
Sherwood, Lauralee. 2007. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Edisi 6. Jakarta:EGC.
Zuhroni. 2010. Profesionalisme Dokter dalam, Pandangan Islam Terhadap Masalah Kedokteran
dan Kesehatan, hal 181-182. Bagian Agama Universitas Yarsi. Jakarta.
Zulhamidah, Yeni. 2014. Sistema Lymphaticus. Jakarta : Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran
Universitas Yarsi

45

46