Anda di halaman 1dari 16

DISFUNGSI SEKSUAL WANITA

REFERAT PSIKIATRI

Oleh:
Nur Ahmad Santoso

102011101100

Muhammad Izat Fuadi

112011101059

Natasha Amelia

112011101069

Pembimbing :
dr. Justina Evy Tyaswati, Sp. KJ
dr. Alif Mardijana, Sp. KJ

SMF/LAB. PSIKIATRI RSD. DR. SOEBANDI JEMBER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015

DISFUNGSI SEKSUAL WANITA


REFERAT PSIKIATRI
Disusun untuk melaksanakan tugas Kepaniteraan Klinik Madya
SMF/Lab. Psikiatri RSD. dr. Soebandi Jember

Oleh:
Nur Ahmad Santoso

102011101100

Muhammad Izat Fuadi

112011101059

Natasha Amelia

112011101069

Pembimbing :
dr. Justina Evy Tyaswati, Sp. KJ
dr. Alif Mardijana, Sp. KJ

SMF/LAB. PSIKIATRI RSD. DR. SOEBANDI JEMBER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL..........................................................................i
HALAMAN JUDUL .............................................................................ii
DAFTAR ISI .........................................................................................iii
BAB I. PENDAHULUAN ....................................................................1
1.1 Latar Belakang .......................................................................1
BAB II. PEMBAHASAN .....................................................................2
2.1 Definisi .....................................................................................2
2.2 Ciri-ciri ....................................................................................2
2.3 Jenis .........................................................................................2
BAB III. PENUTUP .............................................................................9
3.1 Kesimpulan .............................................................................9
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................10

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang
Salah satu aspek penting yang ikut menentukan kualitas hidup manusia
ialah kehidupan seksual. Karena itu aktivitas seksual menjadi salah satu
bagian dalam penilaian kualitas hidup manusia. Kehidupan seksual yang
menyenangkan memberikan pengaruh positif bagi kualitas hidup. Sebaliknya,
kalau kehidupan seksual tidak menyenangkan, maka kualitas hidup terganggu
(Pangkahila, 2007).
Dalam perkawinan, fungsi seksual mempunyai beberapa peran, yaitu
sebagai sarana untuk reproduksi (memperoleh keturunan), sebagai saranan
untuk memperoleh kesenangan atau rekreasi, serta merupakan ekspresi rasa
cinta dan sebagai saranan komunikasi yang penting bagi pasangan suami-istri.
Fungsi seksual merupakan bagian yang turut menentukan warna, kelekatan
dan kekompakan pasangan suami-istri (Elvira, 2006).
Suatu penelitian di Amerika. Pada wanita, dilaporkan 33% mengalami
penurunan hasrat seksual, 19% kesulitan dalam lubrikasi, dan 24% tidak dapat
mencapai orgasme. (Cyranoswki et al., 2009). Oleh karena itu pada referat ini
naninya akan membahas tentang disfungsi seksual pada wanita.

BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Definisi disfungsi seksual


Gangguan disfungsi seksual meliputi masalah dalam minat, rangsangan
atau respon seksual. Gangguan ini seringkali merupakan sumber distress bagi
orang yang menmgalaminya dan bagi pasangan mereka. Ada beberapa tipe
disfungsi seksual tetapi semuanya cenderung memiliki ciri yang sama.
2.2 Ciri-ciri disfungsi seksual
Ciri

Deskripsi

Takut akan gagal

Ketakutan yang terkait dengan kegagalan untuk

2.3

mencapai atau mempertahankan eraksi atau

kegagalan untuk mencapai orgasme.


Asumsi

dan

peran Memonitor danmengevaluasi reaksi tubuh saat

sebagai penonton dan melakukan hubungan seks.


bukan sebagai pelaku
Kurangnya

self- Kurangi memikirkan kegagalan yang dihadapi

esteem

untuk memenuhi standar normal.

Efekemosional

Rasa bersalah, rasa malu, frustasi, depresi, dan


kecemasan.

Perilaku menghindar

Menghindari kontak seksual karenatakut gagal


untuk menampilkan performa yang adekuat,
membuat berbagai macam alas an pada pasangan.

enis disfungsi seksual


Jenis-jenis disfungsi seksual, DSM-IV mengelompokkan disfungsi
seksual kedalam kategori berikut:
a) Gangguan hasrat seksual (Sexual desire disorder)

b) Gangguan rangsangan seksual (Sexual arousal disorder)


c) Gangguan orgasme (Orgasm disorder)
d) Gangguan sakit atau nyeri (Sexual pain disorder)
a) Gangguan Nafsu / Hasrat Seksual
DSM-IV-TR membedakan 2 jenis gangguan nafsu seksual.
Gangguan nafsu seksual hipoaktif yang merujuk pada kurangnya atau tidak
ada fantasi atau dorongan seksual, dan gangguan keengganan seksual yang
lebih extrim dimana seseorang menghindari hampir semua kontak genital
dengan orang lain.
1. Kriteria gangguan nafsu seksual hipoaktif dalam DSM-IV-TR:

Kurangnya atau tidak ada fantasi dan nafsu seksual yang


berlangsung terus-menerus.

Menyebabkan distress mendalam atau masalah interpersonal.

Tidakdisebabkanoleh aksis I lain (kecuali disfungsi seksual lain)


atau efek fisiologis langsung dari suatu obat atau penyakit medis
umum.

2. Kriteria Gangguan Keengganan Seksual

Penolakan secara terus-menerus terhadap (hampir) semua kontak


seksual.

Menyebabkan distress mendalam atau masalah interpersonal.

Tidak disebabkan oleh aksis I lain (kecuali disfungsi seksual lain).

Tidak banyak yang diketahui mengenai penyebab gangguan nafsu


seksual hipoakif atau gangguan keengganan seksual. Karena perempuan
yang mengalami gangguan tersebut menunjukkan respon seksual normal
terhadap stimuli seksual dalam berbagai studi laboratorium,dan tidak
tampak mereka tidak mampu untuk merasakan gairah sepenuhnya
(Kaplan,1997). Diantara berbagai penyebab dorongan seks rendah adalah
ortodoksitas agama,mencoba melakukan hubungan seks dengan orang yang

tidak berjenis kelamin sesuai keinginan,takut hilangan kendali,takut


hamil,depresi,kurangnya rasa tertarik karena faktor-faktor seperti kurangnya
kebersihan pasangan
Pedoman diagnosis menurut PPDGJ III:
F52.0 Kurang atau Hilangnya Nafsu Seksusal

Hilangnya nfsu seksual merupakan masalah utama dan tidak


merupakan gangguan sekunder dari kesulitan seksual lainnya, seperti

kegagalan ereksi atau dispaureni (F52.6).


Berkurangnya nafsu seksusal tidak menyingkirkan kenikmatan atau
bangkitan (aurosal) seksual, tetapi menyebabkan kurangnya aktitas
awal seksusal. Termasuk frigiditas.

b) Gangguan Gairah Seksual Pada Perempuan


Gangguan gairah seksual pada wanita adalah ketidakmampuan
sebagian perempuan untuk mencapai atau mempertahankan lubrikasi vagina
dan respons keterangsangan seksual yang membuat vagina membesar sampai
aktivitas seksual dan keadaan ini terjadi berulang kali. Kelainan ini mirip
dengan impotensi pada pria. Kelainan ini bisa terjadi seumur hidup atau bisa
terjadi setelah suatu masa dimana fungsinya normal. Gangguan seperti ini
seringkali disebut sebagai frigiditas. Adapun fitur-fitur gangguan gairah
seksual pada perempuan meliputi:
1. Ketidakmampuan yang presisten atau berulang kali terjadi untuk
mencapai atau mempertahankan respons lubrikasi-pembesaran vaginal
sebagai respons keterangsangan seksual selama melakukan aktivitas
seksual.
2. Distres

yang

signifikan

atau

kesulitan

interpersonal

karena

ketidakmampuan ini.
3. Ketidakmampuan ini bukan lebih menjadi bagian penentu bagi gangguan
lain (misalnya: gangguan suasana perasaan, kecemasan, kognitif) dan
bukan disebabkan karena efek-efek fisiologis obat atau penyalahgunaan
obat.
4

Gangguan gairah seksual pada wanita memiliki penyebab fisik


maupun psikis. Penyebab yang utama adalah faktor psikis, yang bisa berupa
perselisihan

pernikahan,

depresi,

dan

keadaan

yang

menimbulkan

stress. Seorang wanita bisa menghubungkan seksual dengan perbuatan dosa


dan kesenangan seksual dengan perasaan bersalah. Rasa takut akan keintiman
juga dapat memegang peranan.
Sedangkan faktor fisik yang bisa menyebabkan gangguan gairah
seksual pada wanita diantaranya:
a. Rasa nyeri karena endometriosis atau infeksi kandung kemih (sistitis),
infeksi vagina (vaginitis).
b. Kekurangan hormon estrogen yang menyertai masa menopause atau
pengangkatan indung telur biasanya menyebabkan kekeringan dan
penipisan dinding vagina.
c. Histerektomi (pengangkatanrahim)
atau mastektomi (pengangkatanpayudara).
d. Kelenjartiroid yang kurangaktif.
e. Anatomi vagina yang abnormal, yang disebabkan oleh kanker,
pembedahan atau terapi penyinaran.
f. Hilang rasa karena alkoholik, diabetes atau kelainan system saraf tertentu
(misalnya sklerosis multiple).
g. Penggunaanobat-obatan untuk mengatasi kecemasan, depresi atau
tekanandarah tinggi.
Berbagai keadaan fisik bisa diobati. Misalnya diberikan antibiotic
untuk mengatasi infeksi kandung kemih atau infeksi vagina dan diberikan
hormone

untuk

menggantikan

kekurangan

hormon. Bisa

dilakukan

penyuluhan untuk mengajarkan teknik pemusatan perasaan (terapi


seksual). Latihan Kegel dapat memperkuat otot-otot panggul dan bisa
membantu wanita untuk mencapai kepuasan. Pada latihan ini wantia

mengerutkan otot-otot vaginanya kuat-kuat (seperti menahan berkemih)


selama 10-15menit, minimal sebanyak 3 kali sehari selama 2-3 bulan.
Pedoman diagnosis menurut PPDGJ III:
F52.1 Penolakan dan Kurangnya Kenikmatan Seksual
F52.10

Penolakan Seksual (sexual aversion)


Adanya perasaan negatif terhadap interaksi seksusal, sehingga
aktivitas seksual dihindarkan.

F52.11

Kurangnya kenikmatan seksual (lack of sexual enjoyment)


Respons seksual berlangsung normal dan mengalami orgasme, tetapi
kurang ada kenikmatan yang memadai.

F52.2 Kegagalan dari Respon Genital

Pada pria masalah utama adalah disfungsi ereksi, misalnya kesukaran


untuk terjadinya atau mempertahankan ereksi yang memadai untuk

suatu hubungan seksusal yang memuaskan


Pada wanita masalah utama adalah kekeringan vagina atau kegagalan
pelicinan (lubrication)

c) Gangguan Orgasme Pada Perempuan


Gangguan orgasme adalah lambatnya atau tidak tercapainya klimaks
seks (orgasme), yang terjadi berulang kali pada sebagian perempuan
walaupun rangsangan seksual cukup lama dan kuat. Penyimpangan ini
didefinisikan sebagai hambatan orgasme wanita berulang dan menetap, yang
dimanifestasikan dengan tidak adanya atau kelambatan orgasme setelah
suatu periode rangsangan seksual yang diduga sudah adekuat dalam
intensitas dan lamanya untuk menghasilkan respon tersebut.
Jumlah dan jenis rangsangan yang dibutuhkan untuk orgasme sangat
bervariasi dari perempuan ke perempuan. Kebanyakan para wanita bisa
mencapai orgasme pada saat klitoris terangsang, namun hanya sekitar

separuh dari wanita secara teratur mencapai orgasme selama hubungan


seksual. Sekitar 1 dari 10 wanita tidak pernah mencapai orgasme. Gangguan
orgasme terjadi ketika masalah dengan orgasme sering dan terus menerus,
mengganggu fungsi seksual dan menyebabkan stress.
Umumnya, para wanita yang sudah mengerti cara mencapai orgasme
tidak kehilangan kemampuan kecuali komunikasi seksual yang kurang,
masalah dalam hubungan, pengalaman yang membuat trauma, atau
gangguan fisik atau psikologi yang menghalangi. Fisik dan psikologi
menyebabkan gangguan hasrat seksual yang sama. Depresi adalah penyebab
umum.
Gangguan orgasme bisa terjadi karena permainan cinta yang secara
konsisten berakhir sebelum yang wanita mencapai orgasme. Wanita bisa
tidak mencapai orgasme karena pemanasan yang tidak cukup, karena baik si
wanita maupun pasangannya tidak memahami bagaimana fungsi alat
kelamin, atau karena ejakulasi dini. Beberapa permainan cinta menimbulkan
frustasi dan bisa menghasilkan kemarahan dan kadangkala rasa sebal untuk
untuk melakukan seks apapun. Beberapa wanita yang tidak bisa mencapai
orgasme karena mereka takut ditinggalkan khususnya selama hubungan
seks. Ketakutan ini bisa berhubungan dengan perasaan bersalah setelah
menikmati kesenangan, takut ditinggal sendirian untuk menikmati yang
tergantung pada pasangan, atau takut kehilangan kendali. Obat-obatan
tertentu, terutama sekali serotonin selektif penghambat reuptake seperti
fluoxetine, bisa menghambat orgasme.
Gangguan orgasme kemungkinan bersifat sementara, bisa terjadi
setelah tahun-tahun pada fungsi seksual normal, atau kemungkinan tahan
lama. Hal itu bisa terjadi sepanjang waktu atau hanya pada keadaan tertentu.
Kebanyakan wanita yang memiliki masalah mencapai orgasme juga
memiliki masalah pada membangkitkan hasrat.

Pedoman diagnosis menurut PPDGJ III:

F52.3 Disfungsi Orgasme

Baik orgasme tidak terjadi sama sekali maupun yang sangat


terlambat. Termasuk: psychogenic anorgasmy

d) Gangguan Nyeri Seksual


1. Dispareunia
Dispareunia adalah rasa sakit saat atau setelah berhubungan
seksual yang tidak dapat dijelaskan secara medis. Dapat didefinisikan
juga sebagai:

Persenggamaan yang sangat menyakitkan.

Tidak adanya kapasitas untuk menikmati relasi seksual.


Kesakitan pada dispareunia ini meurut tempatnya bisa dibagi

dalam beberapa penggolongan, sebagai berikut:


i.

Sewaktu pria mengadakan emissio (pengeluaran air mani), pihak


wanita merasakan kesakitan pada vulva atau lubang kemaluan.

ii.

Karena transudasi yang berkurang (transude adalah keluarnya


lender pelicin yang kurang). Hal ini disebabkan:

Kurang lama melakukan permainan pendahuluan

Dimuati rasa-rasa ketakutan misalnya takut hamil, takut


karena penyakit kotor, atau takut karena berzinah dengan
laki-laki bukan suami sendiri

iii.

Ada alergi terhadap kondom

Ada infeksi pada vulva atau vagina

Kurang hormone pada wanita lanjut usia

Ada rasa sakit pada pinggul bagian dalam

2. Vaginismus
Vaginismus adalah kontraksi tak disengaja atau involunter dari
otot vagina, sehingga penetrasi penis menjadi menyakitkan atau tidak
mungkin dilakukan. Vaginismus adalah kejang urat yang sangat
menyakitkan pada vagina. Ada kalanya fungsi vagina itu menjadi
sangat abnormall yaitu mengadakan kontraksi-kontraksi (penegangan,
pengejangan, pengerasan) yang menyakitkan sekali, yang menyamai
sebuah kompresor (alatpenekan, pemadat, pemampat). Kontraksi yang
sangat kuat pada distal vagina (mis: constrictor cunni, vagina yang
bentuknya tidak rata) itu menyebabkan vaginismus dan paresthesia
penuh kesakitan; di pihak pria karena penis laki-laki terjepit kuat-kuat,
dan merasakan kesakitan yang luar biasa bagaikan hampir lumpuh
rasanya.
Pada peristiwa lainnya yang sangat luar biasa, kontraksi vagina
itu berlangsung begitu hebatnya, sehingga penis terjepit dan
terperangkap sehingga tidak bisa keluar dari vagina. Terjadilah yang
disebut penis captivus.
Peristiwa vaginismus bisa timbul spontan tanpa disadari, bisa
reflektif sewaktu zakar melakukan penetrasi, atau sewaktu berlangsung
emossio penis (testis mengeluarkan sperma) atau berlangsung pada
waktu diadakan pemeriksaan ginekologis.
Orang mengenal 4 macam bentuk vaginismus:
i.

Vaginismus reflektif primer, yang terjadi pada saat melakukan


coitus pertama kali.

ii.

Vaginismus reflektif sekunder, disebabkan kelainan somatic atau


gangguan organis. Pada mulanya wanita yang bersangkutan mampu
melakukan coitus biasa.

iii.

Vaginismus psikogen primer. Pada peristiwa coitus pertama, yang


bersumber pada sebab-sebab psikis (ketakutan dan kecemasan yang
hebat, rasa berdosa)

10

iv.

Vaginismus psikogen sekunder. Pada awalnya wanita yang


bersangkutan mampu melakukan coitus. Akan tetapi sesudah
beberapa waktu lamanya timbul gejala vaginismus, disebabkan
oleh rasa penolakan secara sadar atau tidak sadar untuk
melakukan coitus, dan ada rasa antipasti atau rasa-rasa tidak mapan
terhadap partner seksnya.

Pedoman diagnosis menurut PPDGJ III:


F52.5 Vaginismus Non-organik

Terjadi spasme otot-otot vagina, menyebabkan tertutupnya


pembukaan vagina. Masuknya penis menjadi tak mungkin atau
nyeri.

F52.6 Dispareunia Non-organik

Dispareunia adalah keadaan nyeri pada waktu hubungan seksual,

dapat terjadi pada wanita maupun pria.


Diagnosis ini dibuat hanya bila tidak ada kelainan seksual primer
lainnya (seperti vaginismus atau keringnya vagina)

10

11

BAB III. PENUTUP

3.1.

Kesimpulan
Disfungsi seksual merupakan masalah yang meliputi minat, rangsangan,

atau responseksual. Disfungsi seksual ini bisa terjadi pada pria ataupun wanita
saat mereka melakukan relasi seksual. Jenis dari disfungsi seksual ini
diantaranya (berdasarkan DSM-IV) gangguan nafsu seksual, gangguan gairah
seksual, ganguan orgasme, dangan ganguan nyeri seksual. Penanganan
disfungsi seksual dilakukan secara holistic tidak hanya memperhatikan factor
tertentu saja. Pengobatan yang diberikan disesuaikan dengan penyebabnya dan
keluhan yang menyertainya.

DAFTAR PUSTAKA

11

12

Ardani, Tristiadi Ardi. 2011. Psikologi Abnormal. Bandung: Lubuk


Agung.
Kaplan, Harold dkk. 1997.Sinopsis
Ketujuh.BinarupaAksara. Jakarta.

Psikiatri

Jilid

II

Edisi

Kartono, Kartini. 2009. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual.


Bandung: Mandar Maju
Maslim, Rusdi. 2003. Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta: PT Nuh Jaya.

12

13