Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

TINJAUAN PUSTAKA
1.1. Konsep Dasar
1.1.1.

Definisi

Tumor kulit adalah suatu benjolan yang dapat berbentuk dari berbagai
jenis sel-sel dalam kulit (sel-sel epidermis, melanosit). Tumor-tumor ini dapat
merupakan tumor jinak atau tumor ganas, dapat terletak dalam epidermis dan
menembus kedalam dermis dan jaringan subkutis (Muttaqin, 2010).
Tumor kulit adalah tumor yang terbentuk dari berbagai jenis sel seperti selsel epidermis dan melanosit. Tumor-tumor ini dapat merupakan tumor jinak atau
tumor ganas, dapat terletak dalam epidermis dan menembus kedalam dermis dan
jaringan subkutis (Sylvia, 2006)
Tumor adalah pembesaran atau pembengkakan yang abnormal pada
jaringan tertentu. Tumor kulit dapat dibentuk dari berbagai jenis sel dalam kulit
( misalnya: sel-sel eidermis, melanosit). Tumor-tumor ini dapat merupakan tumor
jinak atau ganas, dapat terletak dalam epidermis atau menembus kedalam dermis
dan jaringan subkutan (K. Rata, I.G.A, 2007)
1.1.2.

Anatomi Fisiologi

Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh manusia, membungkus otototot dan organ-organ dalam. Kulit merupakan jalinan jaringan pembuluh darah,
saraf dan kelenjar yang tidak berujung, semuanya memiliki potensi untuk
terserang penyakit.
1.1.1.1.

Anatomi Kulit

Secara mikroskopis, kulit terdiri dari tiga lapisan: epidermis, dermis dan
lemak subkutan. Epidermis bagian terluar kulit dibagi menjadi dua lapisan utama
yaitu lapisan sel-sel tidak berinti yang bertanduk (stratum Korneum atau lapisan
induk), dan lapisan dalam yaitu stratum malfigi; stratum malfigi ini merupakan
asal sel-sel permukaan bertanduk setelah mengalami proses diferensiasi. Stratum
malfigi dibagi menjadi: lapisan basal (stratum germinativum), stratum spinosum,
dan stratum granolosum. Stratum granolosum terletak tepat di bawah stratum

korneum. Stratum granosum mempunyai fungsi penting dalam pembentukan


protein dan ikatan-ikatan kimia stratum korneum.
Lapisan basal sebagian besar terdiri dari sel-sel epidermis yang tidak
berdiferensiasi dan terus-menerus mengalami mitosis, memperbarui epidermis.
Kalau sel ini mengalami mitosis, salah satu sel anak akan tetap berada di lapisan
basal untuk kemudian membelah lagi, sedangkan sel yang lain bermigrasi ke atas
menuju stratum spinosum.
Sel epidermis utama yang berdiferensiasi adalah keratinosit, membentuk
keratin, suatu protein fibrosa. Pada waktu keratinosit meninggalkan lapisan
malfigi dan bergerak ke atas, maka sel-sel ini akan mengalami perubahan bentuk,
orientasi, struktur sitoplasmik dan komposisi. Proses ini mengakibatkan
transformasi dari sel yang hidup, aktif mensintesis, menjadi sel-sel yang mati dan
bertanduk dari stratum kormeum, suatu proses yang dinamakan keratinisasi.
Keratinosit dari lapisan sel basal bentuknya

silindris. sel-sel ini menjadi

polihedral pada waktu berada dalam stratum spinosum menjadi semakin pipih
dalam lapisan granular dan menjadi lamelar pada stratum korneum. Unsur-unsur
sitoplasma juga mengalami perubahan yang penting, demikian pula nukleus dan
membran sel. Keratinosit mensintesis tonofilamen tersusun dalam berkas yang
mengelilingi inti sel. Dalam stratum spinosum sintesis terus berlangsung dan
berkas tonofilamen ini menjadi lebih kompleks membentuk suatu jalinan yang
meluas sampai sitoplasma. Dengan pergeseran ke stratum granolosum maka
granula-granula keratohialin mulai terbungkus padat. Susunan kimia keratohialin
belum diketahui secara memuaskan dan peran akhirnya dalam proses keratinisasi
juga belum jelas. Agaknya keratohialin ini jelas berperanan dalam membentuk
gambaran amorf padat elektron dari matriks sel-sel bertanduk. Seperti dijelaskan
di atas, agaknya selama proses diferensiasi, keratinosit melewati fase sintetik di
mana terbentuk tonofilamen, keratohialin, badan lamelar dan unsur-unsur sel
lainnya. Akhirnya sel-sel ini akan melalui fase transisi, di mana komponenkomponen sitoplasma mengalami disosiasi dan degradasi. Unsur sel sisanya
membentuk suatu kompleks amorf, fibrosa yang dikelilingi oleh membran
impermeabel yang diperkuat yaitu sel-sel induk. Proses migrasi sel epidermis
yang telah terprogram ini memakan waktu sekitar 28 hari.

Sel utama kedua pada lapisan basal adalah melanosit. Perbandingan selsel basal terhadap melanosit adalah: 10 : 1 di dalam melanosit disintesis granulagranula pigmen yang disebut melanin. Melalui tonjolan-tonjolan dendritik yang
panjang. Melanosin tersebut dipindahkan ke keratinosit. Setiap melanosit saling
berhubungan melalui tonjolan-tonjolan ini dan sekitar 36 keratinosit membentuk
apa yang disebut sebagai unit melanin epidermis. Melanosum dihidrolisis oleh
enzim dengan kecepatan yang berbeda-beda. Jumlah melanin dalam keratinosit
menentukan warna dari kulit. Melanin melindungi kulit dari pengaruh-pengaruh
matahari yang merugikan. Sebaliknya sinar matahari meningkatkan pembentukan
melanosum dan melanin. Orang kulit hitam mempunyai jumlah melanosit yang
sama dan orang kulit putih mempunyai melanosum yang kecil dan lebih mudah
dihancurkan.
Dermis terletak tepat di bawah epidermis dan terdiri dari serabut-serabut
kolagen, elastin dan retikulin yang tertanam dalam suatu substansi dasar. Matriks
kulit mengandung pembuluh-pembuluh darah dan saraf yang menyokong dan
memberi nutrisi pada epidermis yang sedang tumbuh. Di sekitar pembuluh darah
yang kecil terdapat limphosit, histiosit, sel mast dan leukosit yang melindungi
tubuh dari infeksi dan invasi benda-benda asing. Serabut-serabut kolagen khusus
menambatkan sel-sel basal epidermis pada dermis. Adneksa dermis adalah rambut
kuku dan kelenjar-kelenjar ekrin (keringat) sebasea dan apokrin.
Di bawah dermis terdapat lapisan kulit ketiga: lemak subkutan. Lapisan
ini merupakan bantalan untuk kulit, isolasi untuk mempertahankan suhu tubuh
dan mempertahankan suhu tubuh dan tempat penyimpanan energi. Dari sudut
kosmetik, lemak subkutan ini mempengaruhidarya tarik seksual pada kedua jenis
kelamin.
Kelenjar keringat terdapat pada hampir seluruh kulit, kecuali pada telinga
dan bibir. Kelenjar-kelenjar ini membentuk suatu larutan hipotonik yang jernih,
encer dan mengandung banyak urea dan laktat. Kelenjar keringat juga membantu
mempertahankan suhu tubuh.
Kelenjar sebasea merupakan struktur lobular yang terdiri dari sel-sel
yang berisi lemak. Substansi berminyak disebut serbum disalurkan menuju
saluran sentral dan dikeluarkan melalui saluran-saluran pilosebasea, folikel-folikel

rambut, kelenjar sebasea banyak pada wajah, dada, punggung dan bagian
proksimal lengan. Aktivitasnya terutama diatur oleh hormon-hormon androgenik.
1.1.1.2.
Fisiologi Kulit
1 . Fungsi proteksi, menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisik.
2 . Fungsi absorbsi, kulit yang sehat tidak mudah menyerap air dan larut, tetapi
cairan yang mudah menguap akan lebih mudah diserap, begitu juga yang larut
dalam lemak.
3 . Fungsi ekskresi, kelenjar kulit mengeluarkan zat yang tidak berguna (zat sisa
metabolisme) berupa Na, Cl, ureum, asam urat dan amonia.
4 . Fungsi persepsi : kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik didermis dan
subkutis untuk merangsang panas yang diterima oleh dermis dan subkutis.
5 . Fungsi pengaturan suhu; kulit berperan mengeluarkan keringat dan kontraksi
otot dengan pembuluh darah kulit.
6 . Fungsi pembentukan pigmen : terletak pada lapisan basal dan sel ini berasal
dari rigi saraf. Melanosit membentuk warna kulit.
1.1.3.

Klasifikasi

Tumor kulit dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu: tumor jinak, tumor
prakanker, dan tumor ganas.
1.

Tumor jinak adalah tumor yang berdiferensiasi normal (matang).


Pertumbuhannya lambat dan ekspansif serta kadang-kadang berkapsul. Tumor
jinak umumnya tidak menimbulkan persoalan, akan tetapi perlu diketahui
beberapa jenis yang sering ditemukan agar tidak terjadi kekeliruan dalam tata
cara, diagnosis, maupun penatalaksanaannya.

2.

Tumor prakanker berarti memiliki kecenderungan berkembang


menjadi kanker. Mengenali penyakit ini penting karena apabila dapat
ditemukan dalam bentuk prakanker serta diobati adekuat akan memberikan
penyembuhan yang memuaskan. Secara histopatologik ditemukan perubahan
yang menyimpang dari polarisasi sel normal.

3.

Tumor ganas adalah tumor dimana apabila dilihat dari segi


histopatologik, tumor ganas memiliki struktur yang tidak teratur dengan
diferensiasi sel

dalam berbagai tingkatan pada kromatin, nukleus, dan

sitoplasma. Umumnya pertumbuhan dari tumor ganas sangat cepat dengan


gambaran mitosis yang abnormal. Tumor ganas bersifat ekspansif, infiltratif

sampai merusak jaringan di sekitarnya serta bermetastasis melalui pembuluh


getah bening. Jenis tumor kulit yang banyak ditemukan di seluruh dunia
adalah karsinoma sel basal, karsinima sel skuamosa, dan melanoma malignan
1.1.4.
Etiologi
1 . Tidak diketahui dengan pasti,
2 . Bahan kimia, misalnya borrilium, kadmium, zinkum, plumbum, kromium,
dan nikel. Bahan-bahan lain yang juga bersifat karsigonik adalah bahanbahan dengan inti hidrokarbon polisiklik aromatik, aromatik azodyes,
alkylating agent, nitrogen, dll
3 . Lingkungan, meliputi cahaya matahari, radiasi, lingkungan/ pekerjaan. Bahan
karsinogen yang paling banyak dibicarakan adalah hidrokarbon yang
diisolasikan

dari

ter

batubara

pada

pekerja

cerobong

asap

yang

mengakibatkan karsinoma sel skuamosa pada daerah skrotum.


4 . Genetik,
5 . Imunologi, virus.
1.1.5.

Patofisiologi

Sel tumor adalah sel tubuh yang mengalami transparmasi dan tumbuh
secara autonom lepas dari kendali pertumbuhan sel normal sehingga sel ini
berbeda dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya. Pada umumnya tumor
mulai tumbuh dari satu sel di suatu tempat (unisentrik) atau dari beberapa sentral
(multilokuler) pada waktu yang sama. Selama pertumbuhan tumor masih terbatas
pada organ dasarnya maka tumor disebut masih dalam fase lokal. Tetapi kalau
sudah terjadi infiltrasi ke organ sekitarnya, maka tumor telah mencapai fase lokal
infasif atau lokal infiltratif. Penyebaran lokal ini disebut penyebaran
perkontinuitatum, karena masih berhubungan dengan sel induknya.
Sel tumor ini bertambah terus tanpa batas, sehingga tumor makin lama
makin besar dan mendesak jaringan sekitarnya sehingga dapat menyumbat saluran
tubuh dan menimbulkan obstruksi. Bila tumor ini ganas dapat menyebar ke bagian
tubuh lain dan umumnya fatal bila dibiarkan karena merusak organ yang
bersangkutan dan menyebabkan kematian.

Tidak diketahui

Bahan Kimia

Lingkungan

Genetik

Virus/Imonologi

Mutasi Genetik
Pertumbuhan Jaringan abnormal

Tomur Jinak

Pemeriksaan B3

Pemeriksaan B6

Psikologis

Kerusakan Saraf Perifer

Adanya massa

Adanya massa

Operasi

Konsep diri terganggu

Reseptor mensorik menyampaikan kemedula spinalis

Kerusakan integritas jaringanResiko


kulit tinggi infeksi
Nyeri

Harga diri rendah

1.1.6.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Manifestasi Klinis

Rasa gatal, rasa terbakar, geli.


Ditemukan masa tumor
Palpasi teraba benjolan
Kehilangan rasa pada bagian yang terkena,
Kulit kering, bersisik kemerahan,
Nyeri
Mual, muntah;
Menurunnya nafsu makan;

9 . Berat badan turun.


1.1.7.

Komplikasi

1 . Kanker/Maligna
1.1.8.
Tes Diagnostik
1. Roentgen;
2. Pielogram intravena;
3. Pielogram retrogret;
4. Aurtrografi;
5. Histologik;
6. Histopatologik.
1.1.1.9.
Terapi
1 . Operasi;
2 . Radiasi;
3 . Kemotherapi;
1.1.2. Konsep Asuhan Keperawatan
1.1.1.

Pengkajian

1 . Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan


Riwayat anggota keluarga yang terkena tumor;
Terpapar sinar radiasi atau bahan kimia;
2 . Pola nutrisi metabolik
Kebiasaan makan makanan yang mengandung zat kimia atau bahan pengawet
dan makanan yang berlemak tinggi;
Riwayat minum alkohol;
Mual, muntah;
Berkeringat banyak;
Suhu tinggi;

Kerusakan atau kemerahan kulit;


Adanya benjolan pada kulit;
Hipopigmentasi, hiperpigmentasi;
Nafsu makan menurun;
Berat badan turun.
3 . Pola eliminasi
Menurunnya jumlah urine output;
Anuri saat fase akut;
Diuresis;
Penurunan peristaltik khusus.
4 . Pola aktivitas dan latihan
Riwayat pekerjaan;
Obesitas;
Sesak napas.
5 . Pola persepsi sensori dan kognitif
Mati rasa, kaku, gatal-gatal;
Perubahan reflektendon;
Keluhan nyeri;
Perubahan orientasi, sikap dan tingkah laku.
6 . Pola persepsi dan konsep diri
Kecemasan;
Penampilan diri;
Gangguan terhadap perkerjaan atau keuangan.
7 . Pola mekanisme coping dan toleransi terhadap stres
Sikap menghadapi penyakit;
Penerimaan terhadap diagnosis.

1.1.2.

Diagnosa Keperawatan

1 . Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan adanya lukas eksterpasi.


2 . Nyeri yang berhubungan dengan luka operasi.
3 . Gangguan gambaran diri yang berhubungan dengan penampilan kulit yang
jelek.

4 . Kurang pengetahuan tantang pengetahuan tentang perawatan kulit yang


berhubungan dengan kurang informasi.
1.1.3.
Intervensi Keperawatan
1 . Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan adanya luka eksterpasi
Hasil yang diharapkan :
1) Kulit utuh.
2) Tidak infeksi.
Rencana Tindakan.
1) Kaji keadaan luka (kering, bawah, kemerahan).
Rasional: Luka yang basah dan kemerahan menunjukkan adanya infeksi.
2) Rawat luka dengan teknik steril.
Rasional: Perawatan secara steril mengurangi kontaminasi dan meminimalkan
risiko infeksi.
3) Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk kulit.
Rasional: Garukan menimbulkan pelebaran luka.
4) Anjurkan pasien untuk menjaga tubuh dengan cara mandi dua kali sehari.
Rasional: Melancarkan sirkulasi.
5) Observasi suhu.
Rasional: Suhu meningkat tanda infeksi.
6) Beri terapi antibiotik sesuai pesanan medik.
Rasional: Antibiotik untuk mematikan kuman penyebab infeksi.
2 . Nyeri yang berhubungan dengan luka operasi.
Hasil yang diharapkan :
1) Pasien bebas dari rasa nyeri.
2) Pasien tampak rileks, bisa tidur dan istirahat.
Rencana tindakan.
1) Kaji karakteristik nyeri (lokasi, lama, intensitas).
Rasional: Data membantu menentukan tindakan terhadap nyeri.
2) Observasi tanda-tanda vital.
Rasional: Nyeri hebat ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan nadi.
3) Jelaskan penyebab rasa nyeri.

10

Rasional: Untuk mengurangi kecemasan.


4) Ciptakan lingkungan yang aman.
Rasional: Meningkatkan relaksasi.
5) Ajarkan latihan napas dalam
Rasional: Menurunkan tegangan otot.
6) Beri terapi analgetik sesuai pesanan medik.
Rasional: Analgetik menghilangkan nyeri.
3 . Gangguan gambaran diri sehubungan dengan penampilan kulit yang jelek.
Hasil yang diharapkan :
1 ) Menerima perubahan tubuh dan mengintegrasikannya ke dalam self konsep
sehingga dapat mempertahankan body image yang positif.
2 ) Mengekspresikan penerimaan tentang perubahan body image.
Rencana tindakan.
a. Kaji perasaan dan persepsi pasien tentang penampilan kulit yang jelek.
Rasional: Memvalidasi persepsi diri dan mengambil tindakan untuk
mengatasi krisis.
2) Melibatkan pasien dalam perawatan.
Rasional: Membantu pasien untuk tidak bergantung.
3) Berikan informasi yang dapat dipercaya dan perkuat informasi yang telah
diberikan.
Rasional: Untuk meningkatkan self image.
4) Hargai

pemecahan

masalah

yang

konstruktif

untuk

meningkatkan

penampilan.
Rasional: Meningkatkan penekanan pada perilaku adaptif
5) Membantu pasien dalam menguatkan keterampilan koping dan ikut terlibat
dalam tindakan untuk memenuhi tujuan.
Rasional: Penguatan respon koping untuk menghindari masalah atau stresor
dan meningkatakan harga diri.
4 . Kurang pengetahuan tentang penyakit kulit yang berhubungan dengan kurang
informasi
Hasil yang diharapkan :
1) Dapat mengungkapkan proses penyakit.

11

2) Mengenali tanda dan gejala serta faktor penyebab penyakit.


3) Pasien dapat berpartisipasi dalam perawatan.
Rencana Tindakan.
1) Kaji pengetahuan klien/ tanyakan proses penyakit dan harapan klien.
Rasional: Mengetahui tingkat pengetahuan pasien dan memilih cara
komunikasi yang tepat.
2) Jelaskan faktor penyebab, tanda dan gejala penyakit dengan bahasa yang
mudah dipahami.
Rasional: Penjelasan meningkatkan pengetahuan klien.
3) Beri penyuluhan tentang pentingnya perawatan kulit yang baik.
Rasional: Perawatan yang baik mengurangi risiko terjadinya penyakit kulit.
4) Libatkan keluarga dalam rencana pengobatan
Rasional: Peran serta pasien dan keluarga membantu pelaksanaan terapi.
5) Beri penjelasan pasien untuk mengidentifikasi perubahan-perubahan kulit.
Rasional: Mendeteksi secara dini dan tindakan penanganan yang cepat.
6) Jelaskan prosedur pengobatan dan perubahan gaya hidup.
Rasional: Membantu pasien merasakan, mengontrol melalui apa yang terjadi
dengan dirinya.
1.1.4.

Implementasi Keperawatan

Implementasi merupakan komponen dari proses keperawatan, adalah


kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang digunakan untuk
mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan dilakukan
dan diselesaikan. Implementasi dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan
yang telah dibuat sebelumnya berdasarkan masalah keperawatan yang ditemukan
dalam kasus, dengan menuliskan waktu pelaksanaan dan respon klien (Patricia A.
Potter, 2005:205).
1.1.5.

Evaluasi Keperawatan

Merupakan langkah

terakhir

dari

proses

perawatan dengan cara

melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau
tidak. Dalam melakukan evaluasi perawat seharusnya memiliki pengetahuan dan
kemampuan dalam memahami respon terhadap intervensi keperawatan,
kemampuan menggambarkan kesimpulan tentang tujuan yang dicapai serta

12

kemampuan dalam menghubungkan tindakan keperawatan pada kriteria hasil.


Evaluasi menentukan respons klien terhadap tindakan keperawatan dan seberapa
jauh tujuan perawatan telah terpenuhi (Patricia A. Potter, 2005:216).

DAFTAR PUSTAKA
Doengues, Marilynne E. dkk., Nursing Care Plans,
Philadelphia 1989.
FKUI , 1990, Patologi: Bagian Patologi Anatomi.

FA Daus Company,

13

Luckman and Serensen, S. Medical Surgical Nursing, A pschophysiologic


Approach, Edition 1993.
Price, Anderson Silvia, Patofisiologi, Ed. 4. Alih bahasa: Dr. Peter Anugerah,
EGC., Jakarta 1995
Suhidajat, Sjasn, Buku Ajar Ilmu Bedah.
Tucker, Susan Martin, Mary, M. Canobio, Patient Care Standards, Ed. 5; Mosby
Year Book Inc. Missouri 1991