Anda di halaman 1dari 16

malformasi anorectal

I.

LATAR BELAKANG
Malformasi anorektal merupakan kelainan kongenital tanpa anus atau

dengan anus tidak sempurna, sedangkan kloaka persisten diakibatkan


karena pemisahan antara traktus urinarius, traktus genitalia dan traktus
digestivus tidak terjadi. Banyak anak-anak dengan malformasi ini memiliki
anus imperforata karena mereka tidak memiliki lubang dimana seharusnya
anus ada. Walaupun istilah ini menjelaskan penampilan luar dari anak, istilah
ini lebih ditujukan pada kompleksitas sebenarnya dari malformasi.
Malformasi anorektal terjadi setiap 1 dari 5.000 kelahiran. Malformasi
ini lebih sering terjadi pada pria dan pria dua kali lebih banyak mengalami
malformasi anorektal letak tinggi atau intermediet. Empat puluh sampai
tujuh puluh persen dari penderita mengalami satu atau lebih defek
tambahan dari sistem organ lainnya. Manajemen dari malfomasi anorektal
pada periode neonatal sangatlah krusial karena akan menentukan masa
depan dari sang anak. Keputusan yang paling penting adalah apakah pasien
memerlukan kolostomi dan diversi urin untuk mencegah sepsis dan asidosis
metabolik. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang anatominya,
diagnosis yang lebih cepat dari malformasi anorektal dan defek yang
berkaitan dan bertambahnya pengalaman dalam memanajemen, akan
didapatkan dengan hasil yang lebih baik.
II.

PENGERTIAN
Malformasi anorektal adalah suatu kelainan malformasi congenital

dimana tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada bagian anus atau


tertutupnua anus secara abnormal atau dengan kata lain tidak ada lubang
secara tetap pada daerah anus. (Hidayat , A.Aziz Alimul.2006:26)

Malformasi anorektal (anus imperforate) adalah malformasi congenital


dimana rectum tidak mempunyai lubang keluar. Anus tidak ada, abnormal
atau ektopik. Kelainan anorektal umum pada laki-laki dan perempuan
memperlihatkan hubungan kelainan anorektal rendah dan tinggi diantara
usus, muskulus levator ani, kulit, uretra dan vagina (Donna L.Wong,2004 :
520)
Malformasi anorektal adalah kelainan bawaan anus yang disebabkan
oleh ganggan pertumbuhan dan pembentukan anus dari tonjolan embrionik.
(Manjoer Arif, dkk. 2003:379)
Dari pengertian diatas bisa dapat disimpulkan bahwa marformasi
anorektal

adalah

suatu

kelainan

congenital

dan

tidak

lengkapnya

perkembangan embrionik dimana rectum tidak mempunyai lubang keluar


yang disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan pembentukan anus.
III.

ANATOMI DAN FISIOLOGI REKTUM DAN ANUS

1) REKTUM
Rektum adalah bagian terminal dari saluran pencernaan bawah yang
merupakan tabung berongga sepanjang 10-15 cm dan sebuah ruangan yang
berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus.
Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementeara feses.
Biasanya rectum ini kosong karenea tinja disimpan di tempat yang lebih
tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja
masuk ke dalam rectum, maka timbul keinginan untuk buang air besar
(BAB). Mengembangnya dinding rectum karena penumpukan material di
dalam rectum akan memicu system saraf yang menimbulkan keinginan
untuk melakukan defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material
akan dikembalikan ke usu besar, dimana penyerapan air akan kembali
dilakuakan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi
dan pengerasan feses akan terjadi. Orang dewasa dan anak yang lebih tua

bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda
mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yahng penting untuk
menunda BAB.
2) ANUS
Merupakan lubang di ujung slauran pencernaan, dimana bahan limbah
keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan
sebagian lainnya dari usus. Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot
sphincter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air besar
BAB), yang merupakan fungsi utama anus.

IV.

ETIOLOGI

A. Malformasi Anus
Gangguan pertumbuhan dan fusi serta pembentukan anus dari tonjolan
embrionik.
B. Malformasi Rektum
Gangguan pemisahan kloaka menjadi rektum dan sinus urogenital serta
gangguan perkembangan septum anorektal yang memisahkannya (terjadi
fistel).
(Mansjoer, 2000)
V.

PATOFISIOLOGI

Kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan, fusi


dan pembentukan anus dari tonjolan embrionik. Begitu juga pada malformasi
rektum berawal dari gangguan pemisahan kloaka jadi rektum dan sinus
urogenital dan perkembangan septum unorektal yang memisahkannya.
Kedua malforamsi membentuk fistel-fistel yang menghambat pengeluaran

mekonium kolon sehingga terjadi obstruksi usus yang nampak gambaran


perut kembung, distensi abdomen, muntah dengan cairan mula-mula
berwarna hijau kemudian bercampur tinja. Distensi abdomen yang terjadi
menyebabkan penekanan intra abdomen ke torakal sehingga klien
mengalami gangguan pola nafas.
Kegagalan pengeluaran mekonium menimbulkan refluks kolon
sehingga muntah-muntah didukung ketidaknormalan anus serta rektum. Hal
ini mengganggu pola eliminasi feses. Malformasi harus segera ditangani
yang pertama untuk tindakan sementara dengan kolostomi baru kemudian
dilakukan pembedahan definitif sesuai dengan letak defeknya. Pasca
pembedahan pasien tirah baring lama-kelamaan akan menyebabkan
intoleransi aktivitas. Adanya perlukaan pada jaringan akan menimbulkan
nyeri serta resiko tinggi infeksi karena luka merupakan part entry kuman.
Selain itu juga menimbulkan kerusakan integritas kulit. Anestesi yang
diberikan juga mempengaruhi penurunan fungsi organ, misal penurunan
sistem pernafasan, penurunan fungsi jantung dan penurunan peristaltik
usus.
(Nelson, 1999)

VI.

KLASIFIKASI
Klasifikasi Wingspread (1984), berdasarkan consensus internasional

menghasilkan modifikasi sebagai berikut:


Penggolongan anatomis untuk terapi dan prognosis:
Laki-laki:
Golongan I
1. Fistel urine

Tindakan
Kolostomi neonatus

2. Atresia rekti

Operasi definitive

3. Perineum datar

Usia 4 6 bulan

4. Tanpa fistel. Udara > 1 cm dari kulit pada

invertogram

Invertogram adalah teknik pengambilan foto untuk menilai jarak puntung


distal rectum terhadap marka anus dikulit peritoneum.
Golongan II
1. Fistel perineum

Tindakan
Operasi definitive pada neonatus

2. membrane anal meconium tract

Tanpa kolostomi

3. Stenosis ani
4. Bucket handle
5. Tanpa fistel. Udara <>
Perempuan:
Golongan I
1. Kloaka

Tindakan
Kolostomi neonatus
Usia 4-6 bulan

2. Fistel vagina
3. vistel vestibulum ano atau retro
vestibuler
4. Atresia rekti
5. Tanpa fistel

Golongan II
1. Fistel perineum
2. Stenosis
3. Tanpa fistel. Udara > 1 cm dari

Tindakan
Operasi definitif pada neonatus

kulit pada invertogram.

VII.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

KOMPLIKASI
Asidosis hiperkloremia
Infeksi saluran kemih yang berkepanjangan
Komplikasi jangka panjang
Eversi mukosa anal
Stenosis (akibat kontraksi jaringan parut dari anastomosis)
Masalah atau kelambatan yang baerhubungan dengan toilet training
Inkontinensia (akibat stenosis anal atau impaksi)
Prolaps mukosa anorektal (menyebabkan inkontinensia dan rembesan

persisten)
9. Fistula kambuhan (karena tegangan di area pembedahan dan infeksi).
(Cecily., 2009:294)
VIII.

PENATALAKSANAAN MEDIS
Terapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan

keparahan

defek.

Semakin

tinggi

lesi,

semakin

rumit

prosedur

pengobatannya. Untuk anomaly tinggi, dilakukan kolostomi beberapa hari


setelah lahir. Bedah definitifnya, yaitu anoplasti perineal (prosedur penarikan
perineum abdominal), umumnya ditunda 3-12 bulan.
Penundaan ini dimaksudkan untuk memberi waktu pada pelvis untuk
membesar dan pada otot-otot untuk berkembang. Tindakan ini juga
memungkinkan bayi untuk menambah berat badannya dan bertambah baik
status nutrisinya. Lesi rendah diatasi dengan menarik kantong rectal melalui
sfingter sampai lubang pada kulit ananl. Fistula, bila ada harus ditutup. Defek
membranosa hanya memerlukan tindakan pembedahan yang minimal.
Membran tersebut dilubangi dengan hemostat atau scalpel.
Pada

kebanyakan

kasus,

pengobatan

malformasi

anorektal

memerlukan dua tahap tindakan pembedahan. Untuk defek ringan sampai

sedang, prognosisnya baik. Defeknya dapat diperbaiki, peristalsis dan


kontinensia normal juga dapat diperolah. Defek yang lebih berat umumnya
disertai anomaly lain, dan hal tersebut akan menambah masalah pada hasil
tindakan pembedahan. Anus imperforata biasanya memerlukan operasi
sedang untuk membuka pasase feses.
Tergantung pada beratnya imperforate, salah satu tindakan adalah
anoplasti

perineal

atau

colostomy

prosedur

operasi

termasuk

menghubungkan bagian atas colon dengan dinding anterior abdomen,


pasien ditinggalkan dengan lubang abdomen disebut stoma. Lubang ini
dibentuk dari ujung usus besar melalui insisi dan sutura ke kulit.
Setelah colostomy, feses dibuang dari tubuh pasien melalui stoma, dan
terkumpul dalam kantong yang melekat pada abdomen yang diganti bila
perlu. Pengobatan pada anus malformasi anorektal juga dapat dilakukan
dengan jalan operasi PSARP (Posterio Sagital Anorectoplasy). Teknik ini
punya akurasi tinggi untuk membuka lipatan bokong pasien. Teknik ini
merupakan ganti dari teknik lama yaitu Abdomino Perineal Poli Through
(APPT). Teknik lama ini mempunyai resiko gagal tinggi karena harus
membuka dinding abdomen.
Kolostomi
Kolostomi pada kolon desendens merupakan prosedur yang ideal untuk
penatalaksanaan awal malformasi anorktal. Tindakan kolostomi merupakan
upaya dekomprasi, diversi, dan sebagai proteksi terhadap kemungkinan
terjadinya obstruksi usus. Kolostomi pada kolon desendens mempunyai
beberapa keuntungan disbanding dengan kolostomi pada kolon asendens
atau transversum. Bagian distal dari kolostomi akan mengalami disfungsi
dan akan terjadi atropi karena tidak digunakan. Dengan kolostomi pada kolon
desendens maka segmen yang akan mengalami disfungsi menjadi lebih
pendek. Atropi dari segmen distal akan berakibat tejadinya diare cair sampai
dilakukan peneutupan stoma dan hal ini dapat diminimalkan dengan
melakukan kolostomi pada kolon desendens. Pembersihan mekanik kolon

distal lebih mudah dilakukan jika kolostomi terletak di bagian kolon


desendens.
Pada kasus dengan fistel anorektal, urin sering keluar melalui kolon,
untuk kolostomi distal akan keluar memalui stoma bagian distal tanpa danya
absorbs. Bila stoma terletak di kolon proksimal, urin akan keluar ke kolon dan
akan diabsorbsi, hal ini akan meningkatkan resiko terjadinya asidosis
metabolic. Loop

kolostomi akan

menyebabkan

aliran

urin

dari

stoma

proksimal ke distal usus dan terjadi infeksi saluran kencing serta pelebaran
distal rectum. Distensi rectum yang lama akan menyebabkan kerusakan
dinding usus yang irreversible disertai dengan kelainan hipomotilitas dinding
usus yang menetap, hal ini akan menyebabkan konstipasi di kemudian
hari. Double barrel transversocolostomy dextra dengan tujuan dekomprasi
dan diversi memiliki keuntungan antara lain :
1.

Meninggalkan seluruh kolon kiri bebeas pada saat tindakan definitf

tidak menimbulkan kesulitan


2.

Tidak terlalu sulit dikerjakan

3.

Stoma distal dapat berlaku sebagaimana muara pelepasan secret kolon

distal
4.

Feses kolon kanan relative tidak berbau dibanding kolon kiri oleh karena

pembusukan feses.
5.

Dimungkinkan irigasi dan pengosongan dari kantong rectum yang

buntu
Posterosagital anorectoplasty (PSARP)
Metode ini diperkenalkan oleh Pena dan de Vries pada tahun 1982.
Prosedur ini memebrikan beberapa keuntungan seperti kemudahan dalam
operasi fistel rektourinaria maupun rektovaginal dengan cara membelah otot
pelvis, sing, dan sfingter. PSARP dibagi menjadi tiga yaitu minimal, limited,
dan full PSARP.
Posisi penderita adalah prone dengan elevasi pada pelvis. Dengan
bantuan stimulator dilakukan identifikasi anal dimple. Insisi dimulai dari

tengah sacrum ke bawah melewati pusat sfingter eksterna ampai kedepan


kurang

lebih

cm.

lemak, parasagital

Insisi

diperdalam

fibre dan muscle

dengan

membuka

subkutis,

complex. Tulangcoccygeus dibelah

sehingga tampak dinding belakang rectum. Rektum dibebaskan dari dinding


belakang dan jika ada fistel dibebaskan juga, rectum dipisahkan dengan
vagina yang dibatasi oleh common wall. Dengan jahitan, rectum ditarik
melewati

otot

levator,muscle

complex,

dan parasagital

fibre kemudian

dilakukan anoplasty dan dijaga agar tidak tegang.


Untuk

minimal

PSARP

tidak

dilakukan

pemitingan

otot

levator

maupun vertical fibre, yang penting adalah memisahkan common wall untuk
memsahkan rectum dengan vagina dan dibelah hanya otot sfingter
eksternus.

Untuk limited PSARP

yang

dibelah

adalah

otot

sfingter

eksternus, muscle fibre, muscle complex, serta tidak memberlah tulang


coccygeus. Penting melakukan diseksi rectum agar tidak merusak vagina.
Masing-masing

jenis

prosedur

mempunyai

indikasi

yang

berbeda. Minimal PSARP dilakukan pada fistell perianal, anal stenosis, anal
membrane, bucket handle, dan atresia ani tanpa fistel yang akhiran rectum
kurang dari 1 cm dari kuit. Limited PSARP dilakukan pada atresia ani dengan
fistel rektovestibular. Full PSARP dilakukan pada atresia ani letak tinggi,
dengan gambaran invertogram akhir rectum lebih dari 1 cm dari kulit, pada
fistelrektovaginalis, fistel rekto uretralis, atresia rectum, dan stenosis rectum.
IX.

Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan colok dubur, pada atresia rektum jari tidak masuk lebih 12 cm.
2. Protosigmoidoskopi, anoskopi, radiografi lateral terbalik.
3. Urogram intravena; sistourethrogram: dilakukan pada waktu miksi harus
dilakukan karena seringnya malformasi traktuf urinarius menyertai anomali
4.

ini.
Rontgenologis kolumna vertebralis: untuk mengetahui kelainan yang

menyertai yaitu anomali vertebra.


5. Pemeriksaan inspeksi dan palpasi daerah perineum secara dini.

6. Ultrasound: dapat digunakan untuk menentukan letak kantong rektal.


7. Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong rektal dengan cara menusukkan
jarum tersebut sambil melakukan aspirasi; jika mekonium tidak keluar pada
saat jarum sudah masuk 1,5 cm, defek itu disebut defek tingkat tinggi

ASUHAN KEPERAWATAN
0 PENGKAJIAN
A.

Pengumpulan Data

1. Identitas
a. Identitas anak
Nama, umur, jenis kelamin, agama, kedudukan klien dalam keluarga, tanggal
masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, diagnosa medis, nomor rekam
medic, alamat.
b. Identitas Orang tua

Nama ayah, nama ibu, umur, pendidikan, pekerjaan, agama dan


alamat.
2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Pada pengkajian keperawatan dapat ditemukan penyumbatan anus
(anus tidak normal), tidak adanya mekonium, adanya kembung dan terjadi
muntah pada 24-48 jam setelah lahir. Atau pada bayi laki-laki dengan fistula
urinaria didapatkan mekonium pada urin, dan pada bayi perempuan dengan
fistula urogenital ditemukan mekonium pada vagina.
b. Riwayat Kesehatan dahulu
1. Riwayat Parental
Kesehatan ibu selama hamil, kapan hari pertama haid terakhir (HPHT),
imunisasi TT, nutrisi selama ibu hamil dan kebiasaan atau perilaku ibu
sewaktu hamil yang merugikan bagi perkembangan dan pertumbuhan janin,
seperti

kebiasaan

merokok,

minum

kopi,

minum

minuman

keras,

mengkonsumsi narkoba dan obat obatan secara sembarang.


2. Riwayat intranatal
Lamanya kehamilan, jenis dan lamanya partus, jenis pertolongan
persalinan, berat badan lahir, keadaan bayi lahir awal, awal timbulnya
pernafasan, tangisan pertama dan tindakan khusus.
3. Riwayat neonatal
Skor APGAR (warna, sianosis, pucat, ikhterik), mucus yang berlebihan
paralisis, konvulsi, demam, kelainan congenital, kesulitan menghisap,
kesulitan pemberian makan atau ASI.
4. Riwayat kesehatan Keluarga
Mengkaji kemungkinan adanya anggota keluarga uang mengalami
gangguan

seperti

yang

dialami

klien

atau

gangguan

tertentu

berhubungan langsung dengan gangguan system gastrointestinal.

yang

2. Pemeriksaan Fisik
a. Daerah perineum
Inspeksi dengan cermat daerah perineum secara dini
untuk mencari hubungan fistula ke kulit
untuk menemukan muara anus ektopik atau stenatik
untuk memperbaiki bentuk luar jangka panjang
untuk melihat adanya mekonium (apakah keluar dari vagina atau keluar
bersama urine ?)
untuk melihat adanya garis hitam yang menentukan letak fistel dan terapi
segeranya.
b. Abdomen
Memeriksa tanda-tanda obstruksi usus (perut kembung)
Amati adanya distensi abdomen
Ukur lingkar abdomen
Dengarkan bising usus ( 4 koadran)
Perkusi abdomen
Palpasi abdomen (mungkin kejang usus)
c. Kaji hidrasi dan status nutrisi
Timbang berat badan tiap hari
Amati muntah proyektif (karakteristik muntah)
d. TTV
Ukur suhu badan (umumnya terjadi peningkatan)
Ukur frekuensi pernafasan (terjadinya takipnea atau dispnea)
Ukur nadi (terjadinya takikardia)
e. Observasi manifestasi malformasi anorektal
Pemeriksaan colok dubur pada anus yang tampak normal, tapi bila tidak
dapat masuk lebih 1 2 cm berarti terjadi atresia rektum.
0 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan
muntah.

2) Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake tidak


adekuat
3) Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
4) Konstipasi berhubungan dengan gangguan pasase feses, feses lama
dalam kolon dan rectum
5) Cemas berhubungan dengan ancaman terhadap disfungsi rektum
6) Resiko tinggi terhadap komplikasi : infeksi berhubungan dengan prosedur
tindakan pembedahan .
0 INTERVENSI KEPEREAWATAN
A. GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT BERHUBUNGAN
DENGAN MUNTAH.
Tujuan : Klien menunjukan keseimbangan cairan elektrolit setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam, dengan kriteria hasil :
keseimbangan jumlah input dan out put, turgor kulit elastis, TTV normal
(suhu:36,5 37,RR: 35x/menit),tidak didapatkan distensi abdomen.
Intervensi :
1. Ukur jumlah Input Output cairan.
Rasionalisasi : Mengidentifikasi adanya ketidakseimbangan.
2. Inspeksi turgor kulit.
Rasionalisasi : Pada keadaan dejidrasi turgor kulit tidak elastis.
3. Ukur tanda- tanda vital.
Rasionalisasi : Keadaan dehidrasi diidentifikasi dg adanya perubahan TTV
:takikardi,hipotensi,peningkatan suhu.
4. Inspeksi adanya distensi abdomen.
Rasionalisasi : Peningkatan tekanan abdomen ditandai dengan adanya
distenai abdomen
5. Kolaborasi berikan cairan IV.
Rasionalisasi : Menganti cairan dan elektrolit yang hilang.

B. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake tidak


adekuat
1. Tujuan : Mempertahankan Berat Badan stabil / menunjukkan kemajuan
peningkatan Berat Badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal
2. Intervensi Keperawatan :
a. Pertahankan potensi selang Naso-gastrik. Jangan mengembalikan posisi
selang bila terjadi perubahan posisi.
Rasional : Memberikan istirahat pada traktus GI. Selama fase pasca operasi
akut sampai kembali berfungsi normal
b. Berikan perawatan oral secara teratur
Rasional : Mencegah ketidaknyamanan karena mulut kering dan bibir pecah
c. Kolaborasi pemberian cairan IV,
Rasional : Memenuhi kebutuhan nutrisi sampai masukan oral dapat dimulai
d. Awasi pemeriksaan laboratorium. Misalnya Hb / Ht dan elektrolit.
Rasional : Indikator kebutuhan cairan / nutrisi dan keaktifan terapi dan
terjadinya konstipasi.
C.
1.
a.
b.

Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen


Tujuan :
Menyatakan nyeri hilang
Menunjukkan rileks, mampu tidur, dan istirahat dengan tepat

2. Intervensi Keperawatan :
a. Catat keluhan nyeri, durasi, dan intensitasn nyeri
Rasional : Membantu mendiagnosa etiologi perdarahan dan terjadinya
komplikasi
b. Catat petunjuk nonverbal. Mis: gelisah, menolak untuk bergerak
Rasional : Bahasa tubuh / petunjuk non verbal dapat secara prikologis dan
fisiologis dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengidentifikasi masalah
c. Kaji faktor-faktor yang dapat meningkatkan / menghilangkan nyeri
Rasional : Menunjukkan faktor pencetus dan pemberat dan mengidentifikasi
terjadinya komplikasi

d. Berikan tindakan nyaman, seperti pijat penggung, ubah posisi dan


Rasional : Meningkatkan relaksasi, memfokuskan perhatian, dan
meningkatkan koping
e. Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : Memudahkan istirahat dan menurunkan rasa sakit
D. Konstipasi berhubungan dengan gangguan pasase feses, feses lama
dalam kolon dan rectum
1. Tujuan :
a. Menormalkan fungsi usus
b.Mengeluarkan feses melalui anus
2. Intervensi Keperawatan :
a. Kaji fungsi usus dan karakteristik tinja
Rasional : Memperoleh informasi tentang kondisi usus
b. Catat adanya distensi abdomen dan auskultasi peristaltik usus
Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltic usus menunjukkan fungsi
defekasi hilang
c. Berikan enema jika diperlukan
Rasional : Mungkin perlu untuk menghilangkan distensi
E. Cemas berhubungan dengan ancaman terhadap disfungsi rektum
.INTERVENSI
a) Jelaskan proses pemulihan fungsi anus secara bertahap dan butuh waktu
agak lama.
Rasional : Pemahaman dapat mengurangi kecemasan
b) Lakukan pendekatan dengan tenang dan berikann dorongan urtuk bertanya
Rasional : Dengan kondisi tenang akan lebih memudahakan pemahaman
c) . Libatkan keluargan dalam setiap tindakan.
Rasional : Dengan keterlibatan keluarga akan memberi perhatian yang lebih
bagi klien.
F. Resiko tinggi terhadap komplikasi : infeksi berhubungan dengan prosedur
tindakan pembedahan
Intervensi
1. Pantau hasil
- Hasil SDP
- Suhu tiap 4 jam

Rasional : Untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan dan penyimpangan dari


hasil yang diharapkan
2. Implementasikan tindakan untuk mencegah infeksi:
- Rawat luka dengan teknik steril
- Tingkatkan intake cairan 2-3 liter/hari
- Tingkatan nutrisi dengan diet TKTP
- Gunakan pelunak feses bila terdapat konstipasi.
Rasional : Teknik steril untuk pencegahan pemindahan kuman. Dan cairan
untuk memperlancar pengeluaran . Sedangkan nutrisi untuk meningkatkan
ketahanan tubuh dan mempercepat pertumbuhan jaringan
3. Berikan antibiotika sesuai program medis.
Rasional : Antibiotika untuk menghambat dan membunuh kuman patogen
4. Pantau tanda-tanda radang: panas, merah, bengkak, nyeri, kekakuan
Rasional : Untuk mengetahui secara dini terjadinya infeksi

Daftar pustaka
Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. Jakarta:
EGC
Doenges, Marilynn E., Moorhouse, Mary Frances & Geissler, Alice C. 2000. Rencana
Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian
Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.
Mansjoer, Arif dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jilid 1. Jakarta:
Media Aesculapius.
Price, Sylvia A & Lorraine M Wilson. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Jakarta: EGC.
Smeltzer, Suzanne C. & Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan MedikalBedah Brunner & Suddarth.Edisi 8. Jakarta: EGC