Anda di halaman 1dari 28

PROPOSAL KERJA PRAKTEK

VARIASI KESETIMBANGAN KECEPATAN SIRKULASI DAN


DENSITAS LUMPUR TERHADAP KECEPATAN PEMBORAN

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi kurikulum pada jurusan
teknik pertambangan Institut Teknologi Medan (ITM)

Disusun Oleh :

BUDI SANTOSO
12 306 093

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN
2015

LEMBAR PENGESAHAN

PROPOSAL KERJA PRAKTEK

VARIASI KESETIMBANGAN KECEPATAN SIRKULASI DAN DENSITAS


LUMPUR TERHADAP KECEPATAN PEMBORAN

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi kurikulum pada jurusan
teknik pertambangan Institut Teknologi Medan (ITM)

Disetujui oleh :

Ketua Jurusan

(Ir. M. Eka Onwardana, MT)

Dosen Pembimbing

(Ir. Sedarata Sebayang, MT)

KATA PENGANTAR
Yang pertama saya panjatkan puji dan syukur kehadirat ALLOH Swt, yang telah
memberikan saya kesehatan dan rezeki sehingga saya dapat membuat serta
melaksanakan proposal bimbingan kerja praktek.
Adapun dasar pembutan proposal ini adalah untuk memenuhi kurikulum yang
berlaku pada jurusan teknik pertambangan di Institut Teknologi Medan.
Dalam pembuatan proposal ini, penulis banyak mengalami kesulitan, namun
berkat bantuan dari berbagai pihak, proposal ini akhirnya dapat selesai dengan
baik.
Maka pada kesempatan ini penulis dengan rendah hati ingin menyampaikan
terima kasih kepada :
1.

Kedua orang tua penulis yang telah memberikan dukungan moril dan
materil kepada penulis sehingga propsal ini dapat tersusun tersusun.
2. Bapak Sedarta Sebayang Ir, MT sebagai dosen metodologi penelitian dan
komputasi tambang.
3. Rekan-rekankelompok/seangkatan yang telah banyak membantu
penyusunan hingga selesai propsal ini.
4. Beserta semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun
proposal ini.
Penulis menyadari bahwa proposal ini masih banyak kekurangannya, baik
penulisan kalimat, bahasa, maupun isi, dikarenakan pengetahuan dan pengalaman
penulis yang masih terbatas dalam pembuatan proposal.Namun demikian penulis
telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyusun proposal ini dengan sebaikbaiknya.
Untuk itu penulis mengharapkan saran dan masukan yang bersifat membangun
demi menjadikan proposal ini semakin baik.

Medan, 4 februai 2015


Peserta KP,

(Budi santoso)

DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN..............................................................................
DAFTAR ISI......................................................................................................
DAFTAR TABEL..............................................................................................
Bab I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masaalah................................................................
1.2 Maksud dan Tujuan Penelitian.........................................................
1.4.1. Maksud...................................................................................
1.4.2. Tujuan.....................................................................................
1.3 Perumusan Masaalah.......................................................................
1.4 Batasan masaalah..............................................................................
Bab II. LANDASAN TEORI
2.1. Lumpur Bor
2.2. Fungsi lumpur
2.3. Sifat-sifat fisik lumpur
2.4. Sifat lumpur lainnya
2.5. Sistem Sirkulasi
2.5.1. sirkulasi lumpur pada rotary
2.5.2. Fluida pemboran
2.5.3. Mud Pump
2.5.4. Prime mover
2.6. Bit/ Mata bor
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian
3.2. Diagram Alir penelitian
DAFTAR PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lumpur pemboran menurut API (American Petroleum Institute) didefinisikan
sebagai fluida sirkulasi dalam operasi pemboran berputar yang memiliki banyak
variasi fungsi, dimana merupakan salah satu factor yang berpengaruh terhadap
optimalnya operasi pemboran. Oleh sebab itu sangat menentukan keberhasilan
suatu operasi pemboran, karena kecepatan pemboran atau laju penembusan,
efisiensi keselamatan kerja sangat tergantung pada kondisi lumpur pemboran yang
digunakan dan secara tidak langsung juga mempengaruhi biaya operasi
pemboran.
Sirkulasi pemboran pada drilling sangat penting dan sangat menentukan
keberhasilan dalam pemboran. Dengan di adakannya perhitungan dan
pengontrolan lumpur pada sirkulasi maka dapat di ketahui perubahan yang terjadi
dalam proses pemboran, yang memungkinkan terjadinya kehilangan tekanan
maupun kelebihan tekenan
Kecepatan sirkulasi lumpur yang terlalu besar akan menyebabkan lumpur hilang
ke formasi (lost circulation), sedangkan bila kecepatan sirkulasi Lumpur terlalu
kecil akan menyebabkan terjadinya kick. Oleh sebab itu penulis mencari variasi
dari beberpa kegiatan pemboran yang dilakukan dengan melakukan pengambilan
data lapangan dan pengolahan nya berdasarkan keefektifan penembusan formasi.
Variasi yang didapat diharapkan dapat digunakan untuk menentukan kecepatan
sirkulasi dan densitas lumpur terhadap kecepatan pemboran dalam perencanaan
suatu kegiatan pemboran. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan keseimbngan
antara kecepatan sirkulasi dan densitas lumpur terhadap kecepatan pemboran
dengan keefktifan penembusan formasi yang diperoleh.
1.2 Maksud dan tujuan

1.2.1

Maksud
Menganalisa pengaruh kecepatan sirkulasi dan densitas lumpur
terhadap kecepatan pemboran.

1.2.2 Tujuan
Mendapatkan nilai variasi kesetimbangan kecepatan sirkulasi dan
densitas lumpur terhadap kecepatan pemboran.
Dapat diaplikasikan dalam kegiatan perencanaan pemboran sebagai
refrensi untuk mencari efisiensinya.
1.3 Perumusan masalah
Untuk lebih memfokuskan tujuan penelitian tersebut, maka penulis akan
memvariasikan data hasil kegiatan pemboran dilapangan dan melakukan
pengolahan data yang nantinya akan diplot dalam grafik berdasarkan :
1.
2.
3.
4.
5.

Berapa densitas lumpur dari jenis lumpur yang digunakan ?


Berapa kecepatan pompa sirkulasi lumpur ?
Berapa laju penembusan formasi yang diperoleh?
Berapa kecepatan mesin bor dari mata bit yang digunakan ?
Bagaimana mencari variasi dari data yang diperoleh ?

1.4 Batasan masalah


Untuk mendapatkan hasil penelitian yang baik dan terfokus maka dalam penulisan
ini dibatasi pada permasalahn mencari variasi kesetimbang kecepatn sirkulasi dan
densitas lumpur terhadap kecepatan pemboran.

BAB 11. DASAR TEORI

2.1. Lumpur Bor


Fluida pemboran merupakan suatu campuran (liquid) dari beberapa unsur yang
terdiri dari air (air tawar atau asin), minyak, tanah liat, bahan bahan kimia, gas,
busa maupun detergen. Lumpur merupakan salah satu bagian terpenting dari
sistem pemboran, atau lazim disebut darahnya pemboran yang berfungsi untuk
membantu sistem pemutar dalam operasi pemboran sumur.
2.1.1 Komposisi Lumpur Pemboran
Komposisi dari lumpur pemboran disusun dari berbagai bahan kimia yang
masing-masing mempunyai fungsi secara individual, dan diharapkan saling
bekerja secara sinergik untuk mendapatkan sifat-sifat lumpur yang di harapkan
Bahan-bahan kimia penyusun lumpur tidak hanya berfungsi tunggal melainkan
dapat berfungsi ganda. Fungsi pertama disebut primary fungtion sedangkan fungsi
keduanya disebut secondary fungtion.
Lumpur pemboran yang paling banyak digunakan adalah lumpur pemboran
dengan bahan dasar air (water base mud) dimana air sebagai fasa cair kontinyu
dan sebagai pelarut atau penahan materimateri didalam lumpur.
Empat macam komposisi atau fasa yang umum digunakan di dalam lumpur
pemboran adalah sebagai berikut :
1. Fasa cair (air atau minyak)
2. Reactive solids (padatan yang bereaksi dengan air membentuk koloid )
3. Inert solids (zat padat yang tidak bereaksi)
4. Fasa kimia
Dari keempat komponen ini dicampurkan sedemikian rupa sehingga didapatkan
lumpur pemboran yang sesuai dengan keadaan formasi yang ditembus.

2.1.1.1 Fasa Cair


Fasa cair adalah komponen utama lumpur pemboran. Fungsi dari fasa cair adalah
sebagai fasa dasar yang dapat menyebabkan lumpur dapat mengalir. Disamping
itu bila bereaksi dengan reaktif solid akan membentuk koloid yang viscositasnya
tertentu sehingga lumpur dapat mengangkat serpih bor. Fasa cair yang digunakan
disesuaikan dengan kondisi lapangan dan kondisi formasi yang yang dibor. Fasa
cair yang biasa digunakan adalah air tawar, air garam, minyak dan emulsi antara
minyak dan air.
2.1.1.2 Reactive Solids
Padatan ini bereaksi dengan sekelilingnya untuk membentuk koloidal. Dalam hal
ini clay air tawar seperti bentonite mengisap (absorp) air tawar dan membentuk
lumpur. Istilah yield digunakan untuk menyatakan jumlah barrel lumpur yang
dapat dihasilkan dari satu ton clay agar viskositas lumpurnya 15 cp.
Bentonite digunakan antara lain sebagai bahan dasar lumpur pemboran, pada
dasarnya Bentonite dibuat dari bahan lempung ( clay ) yang besifat NaMonntmorillonite dan Ca-Monntmorillonit. Na-Monntmorillonite sangat baik
digunakan sebagai bahan dasar lumpur pemboran karena mampu mengembang
( Swelling ) sampai 8 kali jika direndam dalam air. Kemampuan mengembang
yang cukup besar, akan membentuk suatu larutan dengan viscositas yang cukup
besar, hal ini penting untuk membersihkan dasar lubang sumur dan juga
membentuk suatu lapisan dinding yang elastic yang akan melindungi dinding
lubang agar tidak runtuh. Bentonite merupakan gabungan lempung ( Clay ) yaitu
kumpulan mineral dan bahan bahan seperti illit, kaolinit, siderite dan terbanyak
adalah montmorillnite ( 85 90 % ) dan logam alkali tanah.

Untuk salt water clay (attapulgite), swelling akan terjadi baik di air tawar atau di
air asin dan karenanya digunakan untuk pemboran dengan salt water muds.
Baik bentonite atau attapulgite akan memberikan kenaikan viskositas pada
lumpur. Untuk oil base mud, viskositas dinaikkan dengan penaikan kadar air dan
penggunaan asphalt.
2.1.1.3 Inert Solids
Inert solid adalah padatan yang tidak bereaksi dengan air dan dengan komponen
lainnya dalam lumpur, dimana material ini tidak tersuspensi. Fungsi utama dari
material ini adalah berkaitan erat dengan densitas lumpur berguna untuk
menambah berat ata berat jenis dari lumpur, yang tujuannya untuk menahan
tekanan dari tekanan formasi dan tidak banyak pengaruhnya dengan sifat fisik
lumpur yang lain. Material inert ini antara lain adalah barite atau barium sulfate
(BaSO4), besi oxida (Fe2O3), calcite atau calsium sulfate (CaSO4) dan galena
(PbS), dimana kebanyakan dari zat-zat ini berfungsi sebagai material pemberat.
Inert solid dapat pula berasal dari formasi-formasi yang dibor dan terbawa oleh
lumpur seperti chert, pasir atau clay-clay non swelling, padatan seperti ini bukan
disengaja untuk menaikkan densitas lumpur dan perlu dibuang secepat mungkin
(dapat menyebabkan abrasi dan kerusakan pompa).
Sebagai contoh yang umum digunakan sebagai inert solid dalam lumpur bor,
adalah :
Barite (BaSO4)
Oksida Besi (Fe2O3)
Kalsium Karbonat (CaCO3)
Galena (PbS)

2.1.1.4 Fasa Kimia


Zat kimia merupakan bagian dari sistem yang digunakan untuk mengontrol sifat
sifat lumpur misalnya menyebarkan partikel- partikel clay (disepertion),
menggumpalkan partikel partikel clay (flocculation) yang akan berefek pada
pengkoloidan partikel clay itu sendiri. Banyak sekali zat kimia yang dapat
digunakan untuk menurunkan kekentalan, mengurangi water loss, mengontrol fasa
kolid yang disebut dengan surface active agent.
Zat kimia yang dapat menurunkan kekentalan dan mendispersi partikel clay biasa
disebut thiner. Thiner yang dapat menurunkan kekentalan atau mengencerkan
partikel clay diantaranya adalah :
1. Quobracho (dispersant)
2. Phosphate
3. Sodium Tannate (kombinasi caustic soda dan tannium)
4. Lignosulfonate
5. Lignite
Sedangkan zat-zat yang dapat menaikkan kekentalan antara lain :
1. C.M.C
2. Starch
3. Drispac
Zat-zat kimia tersebut diatas bereaksi dan mempengaruhi lingkungan sistem
lumpur tersebut, misalnya dengan menetralisir muatan muatan listrik clay,
menyebabkan dispertion dan lain sebagainya.
2.1.2 Jenis-Jenis Lumpur Bor
2.1.2.1. Fresh Water Muds

Adalah lumpur yang fasa cairnya adalah air tawar dengan (kalau ada) kadar garam
yang kecil (kurang dari 10000 ppm = 1 % berat garam). Jenis-jenis lumpur fresh
water muds adalah : Spud Mud, Natural Mud, Bentonite treated mud, Phosphate
treated mud, Organic colloid treated mud, Red mud, Calcium mud, Lime
treated mud, Gypsum treated mud dan Calcium salt.
a.

Spud Mud, adalah lumpur yang digunakan pada pemboran awal atau bagian
atas bagi conductor casing. Fungsi utamanya adalah untuk mengangkat
cutting dan membuka lubang di permukaan.

b.

Natural Mud, yaitu dibentuk dari pecahan-pecahan cutting dalam fasa cair,
sifat-sifatnya bervariasi tergantung formasi yang di bor. Lumpur ini
digunakan untuk pemboran yang cepat seperti pemboran pada surface casing.

c.

Bentonite treated Mud, yaitu mencakup sebagian besar dari tipe-tipe air
tawar. Bentonite adalah material paling umum yang digunakan untuk koloid
inorganic yang berfungsi mengurangi filtrate loss dan mengurangi tebal mud
cake. Bentonite juga menaikkan viscositas.

d.

Phospate treated Mud, yaitu mengandung polyphospate untuk mengontrol


viscositas gel strength dan juga dapat mengurangi filtrate loss serta mud cake
dapat tipis.

e. Organic colloid treated Mud, terdiri dari penambahan pregelatinized starch


atau carboxymethyl cellulose pada lumpur yang digunakan untuk mengurangi
filtration loss pada fresh water mud.
f.

Red Mud, yaitu mendapatkan warnanya dari warna yang dihasilkan oleh
treatment dengan cautic soda dan gueobracho (merah tua). Jenis lumpur ini

adalah alkaline tannate treatment dengan penambahan polyphospate untuk


lumpur dengan pH dibawah 10.
g.

Calcium Mud, yaitu lumpur yang mengandung larutan calcium (di sengaja).
Calcium bisa ditambah dengan bentuk slake lime (kapur mati), semen, plaster
(CaSO4) atau CaCl2.

2.1.2.2. Salt Water Mud


Lumpur ini digunakan terutama untuk membor garam massive (salt dome) atau
salt stringer (lapisan formasi garam) dan kadang-kadang bila ada aliran air garam
yang terbor. Filtrate loss-nya besar dan mud-cake-nya tebal bila tidak ditambah
organic colloid, pH lumpur dibawah 8, karena itu perlu presentative untuk
menahan fermentasi starch. Jika salt mudnya mempunyai pH yang lebih tinggi,
fermentasi terhalang oleh basa. Suspensi ini bisa diperbaiki dengan penggunaan
attapulgite sebagai pengganti bentonite. Adapun jenis-jenis lumpur salt water
mud adalah : Unsaturated salt water mud, Saturated salt-water mud dan SodiumSilicate muds.
2.1.2.3. Oil-In-Water Emultion Muds (Emultion Mud)
Pada lumpur ini, minyak merupakan fasa tersebar (emulsi) dan air sebagai sebagai
fasa kontinu. Jika pembuatannya baik, filtratnya hanya air. Sebagai dapat
digunakan baik fresh maupun salt water mud. Sifat-sifat fisik yang dipengaruhi
emulsifikasi hanyalah berat lumpur, volume filtrat, tebal mud cake dan
pelumasan. Segera setelah emulsifikasi, filtrate loss berkurang. Keuntungannya
adalah bit yang lebih tahan lama, penetration rate naik, pengurangan korosi pada
drillstring, perbaikan pada sifat-sifat lumpur (viskositas dan tekanan pompa
boleh/dapat dikurangi, water loss turun, mud cake tipis) dan mengurangi balling

(terlapisnya alat oleh padatan lumpur) pada drillstring. Viskositas dan gel lebih
mudah dikontrol bila emulsifiernya juga bertindak sebagai thinner.
Fresh water oil-in-water emulsion muds adalah lumpur yang mengandung NaCl
sampai 60,000 ppm. Lumpur emulsi ini dibuat dengan menambahkan emulsifier
(pembuat emulsi) ke water base mud diikuti dengan sejumlah minyak yang
biasanya 5 25% volume. Jenis emulsifier bukan sabun lebih disukai karena ia
dapat digunakan dalam lumpur yang mengandung larutan Ca tanpa memperkecil
emulsifiernya dalam hal efisiensi. Emulsifikasi minyak dapat bertambah dengan
agitasi (diaduk).
2.1.2.4. Oil Base Dan Oil Base Emulsion Mud
Lumpur ini mengandung minyak sebagai fasa kontinunya. Komposisinya diatur
agar kadar airnya rendah (3 5% volume). Relatif lumpur ini tidak sensitif
terhadap kontaminan. Tetapi airnya adalah kontaminan karena memberi efek
negatif bagi kestabilan lumpur ini. Untuk mengontrol viskositas, menaikkan gel
strength, mengurangi efek kontaminasi air dan mengurangi filtrate loss, perlu
ditambahkan zat-zat kimia.
Manfaat oil base mud didasarkan pada kenyataan bahwa filtratnya adalah minyak
karena itu tidak akan menghidratkan shale atau clay yang sensitif baik terhadap
formasi maupun formasi produktif (jadi ia juga untuk completion mud). Kegunaan
terbesar adalah pada completion dan work-over sumur. Kegunaan lain adalah
untuk melepaskan drillpipe yang terjepit, mempermudah pemasangan casing dan
liner.
Oil base emulsion dan lumpur oil base mempunyai minyak sebagai fasa kontinu
dan air sebagai fasa tersebar. Umumnya oil base emulsion mud mempunyai

manfaat yang sama seperti oil base-mud, yaitu filtratnya minyak dan karena itu
tidak menghidratkan shale/clay yang sensitif. Perbedaan utamanya adlah bahwa
air ditambahkan sebagai tambahan yang berguna (bukan kontaminan). Air yang
teremulsi dapat antara 15 50% volume, tergantung densitas dan temperatur yang
diinginkan (dihadapi dalam pemboran). Karena air merupakan bagian dari lumpur,
maka lumpur ini dapat mengurangi bahaya api, dan pengontrolan flow propertinya
dapat seperti water base mud.
2.1.2.5. Gaseous Drilling Fluid
Digunakan untuk daerah-daerah dengan formasi keras dan kering. Dengan gas
atau udara dipompakan pada annulus, salurannya tidak boleh bocor. Keuntungan
cara ini adalah penetration rate lebih besar, tetapi adanya formasi air dapat
menyebabkan bit balling (bit dilapisi cutting/padatan) yang merugikan. Juga
tekanan formasi yang besar tidak membenarkan digunakannya cara ini.
Penggunaan natural gas membutuhkan pengawasan yang ketat pada bahaya api.
Lumpur ini juga baik untuk completion pada zone-zone dengan tekanan rendah.
Suatu cara pertengahan antara lumpur cair dengan gas adalah aerated mud
drilling dimana sejumlah besar udara (lebih dari 95%) ditekan pada sirkulasi
lumpur untuk memperendah tekanan hidrostatik (untuk lost circulation zone),
mempercepat pemboran dan mengurangi biaya pemboran.
2.1.3. Sifat-Sifat Fisik Lumpur
Komposisi dan sifatsifat lumpur bor sangat berpengaruh terhadap operasi
pemboran, perencanaan casing, drilling rate dan komplesi. Misalnya pada daerah
batuan lunak, pengontrolan sifatsifat lumpur sangat diperlukan tetapi didaerah
batuanbatuan keras sifatsifat ini tidak terlalu kritis, sehingga air biasapun
kadangkadang dapat digunakan. Dengan ini dapat dikatakan bahwa sifatsifat

geologi suatu daerah menentukan pula jenisjenis lumpur yang akan digunakan.
Adapun sifatsifat lumpur pemboran tersebut adalah : densitas, viscositas, gel
strength, filtration loss dan mud cake, kandungan padatan, kandungan minyak
dalam lumpur serta kandungan hidrogen.
2.1.3.1. Densitas
Densitas lumpur yang dipilih biasanya serendah mungkin untuk mencapai laju
pemboran yang optimum tetapi bisa menahan tekanan formasi. Selain itu densitas
lumpur dijaga agar tidak melebihi

gradien rekah formasi, karena bisa

menyebabkan hilangnya lumpur pada bagian formasi yang rekah. Densitas lumpur
pemboran dinyatakan dalam berat fluida pemboran per satuan volume dan
biasanya diukur menggunakan mud balance dengan satuan ppg atau lb/ft 3. Efek
densitas lumpur terhadap laju pemboran terutama adalah adanya tekanan
hidrostatik lumpur.
Dengan adanya tekanan hidrostatik ini akan timbul selisih tekanan antara tekanan
hidrostatik dengan tekanan formasi. Bila selisih tekanan ini besar, serbuk bor
hasil pemboran akan sulit diangkat dari dasr lubang bor. Keadaan ini disebut chip
hold down effect. Akibat dari keadaan ini, serbuk bor akan dibor ulang
(regrinding/recutting) sehingga laju pemboran akan menurun.

Tekanan

hidrostatik lumpur dapat dinyatakan sebagai :


Ph =0.052 x m x D
dimana :
Ph = tekanan hidrostatik, psi
m = densitas lumpur pemboran, ppg
D

= tinggi kolom lumpur, ft

Densitas dapat di bagi menjadi 3 bagian yaitu: EMW (Equivalent Mud Weight)
yang artinya densitas yang berasal dari fluida formasi (statis), untuk mendapatkan
densitas ini sebagai cerminan densitas lumpur. Densitas Lumpur yaitu densitas

lumpur yang di rencanakan. ECD (Equivalent Circulation Density) yaitu densitas


dari lumpur yang telah tersirkulasi. Dalam penggunaannya, kontrol terhadap
densitas ini sangat penting, karena bila terlalu berat dapat menyebabkan hilang
sirkulasi dan apabila terlalu ringan akan memyebabkan terjadinya kick dan
semburan liar (blow-out). Berat jenis lumpur diukur secara periodik. Pengukuran
adalah untuk lumpur yang mau dipompakan, sample diambil di suction tank.
Pengukuran yang lain adalah lumpur yang kembali dari dalam lubang, sample
diambil di flow line. Bila berat jenis yang keluar lebih kecil dari pengukuran
sebelumnya, berarti sumur sudah well kick. Jadi sample lumpur yang diukur
adalah : lumpur yang mau dipompakan (disirkulasikan ), densitas lumpur, lumpur
yang keluar dari dalam lubang, ECD.
Lumpur yang mau disirkulasikan perlu diukur agar berat jenis lumpur yang mau
disirkulasikan sesuai dengan berat jenis lumpur yang direkomendasikan.
Sedangkan Lumpur yang keluar dari dalam lubang perlu diukur untuk melihat
perubahan harga berat jenis lumpur. Bila berat jenis lumpur yang keluar lebih
kecil dari pengukuran sebelumnya berarti sudah terjadi well kick. Alat untuk
mengukur berat jenis umpur adalah mud balance.
2.1.3.2. Viskositas
Viskositas lumpur memegang peranan dalam pengangkatan cuttings dari dasar
lubang ke permukaan.
Kalau viskositas lumpur rendah :

Cutting tidak terangkat dengan sempurna yang artinya cutting akan


terakumulasi di sekeliling rangkaian pemboran (drill collar). Sehingga
rangkaian pemboran dapat terjepit

Rate of penetration rendah (laju pemboran). Karena cuttings di bawah bit


tidak cepat keluar, dan akibatnya cuttings dibor kembali.

Viskositas lumpur yang keluar dari dalam lubang akan bertambah bila menembus
batuan yang reactive solid, karena cuttings akan bereksi dengan air yang terdapat

dalam lumpur. Misalnya clay yang bereaksi dengan air tawar akan menaikkan
viskositas lumpur. Viskositas lumpur pemboran juga akan naik bila terkontaminasi
oleh anhydrite dan gypsum. Selain dari itu viskositas lumpur pemboran akan naik
pula bila terlalu banyak padatan yang tidak bereksi (inert solid) di dalamnya.
Karena padatan-padatan ini terkurung di antara padatan-padatan yang bereaksi.
Bila kenaikkan viskositas lumpur pemboran disebabkan oleh terlalu banyak
padatan yang tidak bereksi didalamnya, viskositas lumpur dapat diturunkan
dengan jalan menambahkan fasa cair ke dalamnya, misalkan dengan
menambahkan air. Untuk lumpur minyak fasa cair yang ditambahkan adalah
minyak. Akan tetapi bila kenaikan viskositas lumpur pemboran disebabkan
terjadinya reaksi padatan yang reaktif dengan fasa cair atau terkontaminasi, maka
untuk menurunkan viskositas adalah dengan menambahkan thinner. Kalau lumpur
terlalu kental (viskositas tinggi), akan mengakibatkan :
1.

Sulit untuk melepaskan/memisahkan cuttings yang halus di permukaan.


Cuttings yang lolos dari shale shaker tidak bisa mengendap dalam settling
tank.

2.

Berat jenis lumpur akan bertambah, cutting yang inert solid dapat
menaikkan berat jenis Lumpur.

3.

Peralatan sirkulasi lumpur akan terkikis, cuttings yang berupa abrasive


solid dapat mengikis peralatan sirkulasi lumpur.

4.

Kerja pompa akan bertambah berat, viskositas yang tinggi akan


menyebabkan pressure loss tinggi, sehingga tenaga untuk mensirkulasikan
Lumpur menjadi tinggi.

5.

Mengundang terjadi swab effect saat mencabut rangkaian pemboran dari


dasar lubang. Dengan viskositas Lumpur tinggi Lumpur yang berada di atas bit
terlambat turun ke bawah bit. Ruang di bawah bit akan vakum, dan fluida
formasi akan terisap masuk lubang, Sehingga terjadi well kick. Untuk
menurunkan viskositas lumpur ditambahkan thinner.

Mengingat viskositas Lumpur pemboran yang terlalu rendah, maupun yang terlalu
tinggi menimbulkan masalah, maka viskositas Lumpur harus diukur secara
periodik. Lumpur yang diukur adalah yang akan masuk ke dalam lubang dan yang
kembali dari dalam lubang.Viskositas lumpur diukur dengan : Marsh Funnel, Fann
VG Meter (Viscosimeter ).
2.1.3.3. Filtration Loss dan Mud Cake
Filtration loss merupakan kehilangan sebagian dari fasa cair (air filtrat) lumpur
pemboran karena masuk ke dalam formasi permeabel, sedangkan fasa padat akan
tersaring di muka lapisan membentuk lapisan yang disebut dengan mud cake,
yang berfungsi juga sebagai penguat dinding lubang bor, sehingga tidak mudah
runtuh. Naiknya filtration loss akan dapat melunakkan batuan formasi dan
menurunkan compressive strength batuan. Oleh karena itu makin besar harga
filtration loss akan semakin besar laju pemboran. Akan tetapi pada beberapa
daerah, harga filtration loss tidak boleh terlalu tinggi untuk mencegah gugurnya
lubang bor, .teruitama pada daerah formasi shale. Selain itu pemboran dengan
filtration loss yang besar dapat menyebabkan menebalnya mud cake yang dapat
menyebabkan terjepitnya pipa bor dan filtratnya dapat menyusup ke dalam
formasi yang bisa menyebabkan formation damage atau kerusakan formasi.
Kerusakan itu dapat berupa pengembangan clay, penyumbatan porositas di sekitar
lubang bor ataupun penurunan permeabilitas efektif minyak. Maka dari itu
filtration loss yang diinginkan adalah yang mempunyai keseimbangan, yaitu dapat
memberikan laju pemboran yang maksimum tanpa menyebabkan problem gugur
lubang bor. Filtration loss diukur dengan menggunakan standard filterpress.
Additive yang biasa dipakai untuk mengurangi filtration loss pada lumpur antara
lain : bentonite, emulsified oil, dispersant, CMC dan starch.
2.1.3.4. Kandungan Padatan (solid Content)
Solid content adalah kandungan padatan di dalam lumpur pemboran. Padatan
tidak boleh terlalu banyak yang terkandung di dalam lumpur pemboran karena
dapat menimbulkan masalah masalah di dalam pemboran. Kandungan padatan

yang baik di dalam lumpur sekitar 8% - 12% volume lumpur. Untuk menentukan
kandungan padatan di dalam lumpur digunakan alat Mud Retort.
2.1.3.5. Kandungan Minyak (Oil Content)
Kandungan minyak adalah banyaknya minyak yang terkandung dalam lumpur
emulsi dimana air sebagai bahan dasarnya. Lumpur emulsi yang baik adalah
lumpur dengan kadar minyak optimum lebih kurang sebesar 15% 20% kadar
minyak dalam lumpur emulsi mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap
laju pemboran. Hal ini terutama karena minyak akan memberikan pelumasan
sehingga pahat lebih awet, mengurangi pembesaran lubang bor dan mengurangi
penggesekan pipa bor dengan formasi serta mengurangi kemungkinan terjadinya
jepitan terhadap pahat. Akan tetapi setelah melewati kandungan minyak optimum
tersebut, kenaikan kadar minyak akan menyebabkan penurunan laju pemboran,
hal ini dikarenakan slip dari bit pada batuan formasi yang menjadi lebih licin.
2.1.3.6. PH lumpur bor
PH dipakai untuk menentukan tingkat kebasaan dan keasaman dari lumpur yang
dip akai, berkisar antara 9 12. Jadi lumpur pemboran yang digunakan adalah
suasana basa. Jika lumpur yang digunakan dalam suasana asam maka serbuk bor
yang keluar dari lubang bor akan halus dan hancur, sehingga tidak dapat
ditentukan batuan apa yang ditembus oleh mata bor selain itu peralatan yang
dilalui oleh lumpur saat sedang sirkulasi atau tidak akan mudah berkarat. Kalau
lumpur bor terlalu basa terlalu basa juga tidak baik karena dapat menaikkan
kekentalan dan gel strength dari lumpur.
2.1.3.7. Kadar pasir (Sand Content)
Yang dimaksud dengan Sand content adalah besarnya kadar pasir di dalam lumpur
bor. Kadar pasir harus seminimal mungkin untuk mengurangi sifat abrasive. Pasir
tidak boleh terlalu banyak dalam lumpur bor, karena dapat merusakan peralatan

yang dilalui pada saat sirkulasi dan akan menaikkan berat jenis dari lumpur bor itu
sendiri. Maksimal kadar pasir di dalam lumpur bor yang diperbolehkan adalah
2% volume.
2.1.3.8. Kadar garam (CI content)
Kadar garam berhubungan langsung dengan besarnya ion chloride yang
terkandung di dalam lumpur bor. Kontaminasi ion chloride ini mungkin berasal
dari air formasi. Kandungan Cl- ditentukan untuk mengetahui kadar garam dari
lumpur akan mempengaruhi interpretasi logging listrik atau tidak. Kadar garam
yang besar akan menyebabkan daya hantarnya besar pula. Pembacaan resestivity
dari cairan formasi akan terpengaruh.

2.1.4 Fungsi lumpur


Lumpur (mud) merupakan penunjang yang paling utama dari operasi pemboran
dan mempunyai fungsi. Lumpur dapat menanggulangi masalah - masalah yang
ada sekaligus juga menimbulkan masalah dalam operasi pemboran. Fungsi lumpur
pemboran, antara lain:

2.1.4.1 Mendinginkan dan melumasi pahat


Karena adanya gesekan pada putaran pahat (bit) pada formasi dan rangkaian maka
akan timbul panas. Disaat inilah peran dari lumpur pemboran, panas yang timbul
akan diserap secara konduksi sehingga gesekan dan panas akan berkurang.
2.1.4.2 Mengangkat cutting ke permukaan
Serbuk bor (Cutting) cenderung tidak terbawa oleh aliran lumpur karena adanya
beda

tekanan,

sehingga

cutting

akan

bertumpuk

pada

dasar

lubang.

Pencegahannya adalah mengurangi perbedaan tekanan yang terlalu tinggi dan


aliran lumpur yang merata ke seluruh lubang bor sehingga serbuk bor dapat
terangkat ke permukaan bersama dengan lumpur. Sifat dasar lumpur juga tidak
kalah penting dalam proses pengangkatan serbuk bor, berat jenis (densitas) dan
kekentalan (viskositas) harus dikendalikan sehingga dapat mengangkat serbuk bor
dengan sempurna.
2.1.4.3 Membersihkan dasar lubang
Lumpur mengalir melalui pipa pemboran masuk ke pahat dan keluar melalui
nozzle menimbulkan daya sembur yang sangat kuat sehingga dasar lubang bersih
dari serbuk bor. Dalam fungsi ini sangat dibutuhkan perhitungan gpm pompa dan
kekuatan formasi.
2.1.4.4. Mengontrol tekanan formasi
Mengontrol tekanan formasi merupakan hal yang sangat penting dalam operasi
pemboran untuk mencegah terjadinya semburan liar (blow out) atau lost
circulation. Blow out adalah berat lumpur lebih kecil dari tekanan formasi yang
ada. Lost Circulation adalah kondisi dimana berat lumpur terlalu besar dari
tekanan formasi sehingga lumpur masuk ke dalam formasi.
2.1.4.5. Menahan serbuk bor dan material pemberat saat sirkulasidihentikan
Kemampuan lumpur bor untuk menahan atau mengapungkan serbuk bor saat tidak
ada sirkulasi tergantung pada gel strength-nya. Fungsi ini sangat dibutuhkan untuk
mencegah menumpuknya serbuk bor di anulus yang akan menyebabkan rangkaian
terjepit.
2.1.4.6. Menghantar daya hidrolika ke pahat

Lumpur adalah media untuk menghantarkan daya hidrolika dari permukaan ke


dasar lubang. Daya hidrolika lumpur harus ditentukan dalam membuat progam
pengeboran sehingga laju sirkulasi dan tekanan permukaan menjadi balance
sehingga dapat membersihkan lubang dan mengangkat serbuk bor.
2.1.4.7. Mencegah terjadinya caving dan kontaminasi pada formasi
Terjadinya kontaminasi pada formasi akan mempersulit operasi pemboran. Untuk
itu sangat dihindari menggunakan lumpur yang tidak bereaksi dengan formasi.
Terutama untuk formasi yang mempunyai pemeabilitas 100 150md. Caving
terjadi pada formasi shale yang mudah menghidrasi.
2.1.4.8. Mencegah dan menghambat laju korosi
Gas CO2 dan H2S yang terkandung dalam formasi akan menaikan laju korosi pada
peralatan pemboran dibawah permukaan. Untuk mengurangi terlarutnya gas gas
tersebut harus menjaga PH lumpur. Zat pengikat oksigen (oxygen scavenger) atau
zat penghambat kerak (scale inhibitor) dapat menjadi solusi untuk menghambat
laju korosi.
2.1.4.9. Melindungi dinding lubang bor
Lumpur akan membuat mud cake atau lapisan padat dan tipis di permukaan
formasi yang permeable. Pembentukan mud cake akan mengakibatkan aliran
fulida menuju formasi tertahan. Cairan yang masuk ke formasi disebut filtrate.
Mud cake diharapkan adalah tipis dan padat dengan demikian lubang bor tidak
menyempit.
2.2. SISTEM SIRKULASI

Tujuan utama dari sistem sirkulasi pada suatu operasi pemboran adalah untuk
mensirkulasikan fluida pemboran (lumpur bor) ke seluruh sistem pemboran,
sehingga lumpur bor mampu mengoptimalkan fungsinya.
Peralatan ini mengalirkan lumpur pemboran dari peralatan sirkulasi turun ke
rangkaian pipa bor dan naik ke anulus membawa serbuk bor (cutting) menuju
conditioning area. Sebelum masuk ke mud pit untuk di sirkulasi kembali. Jika
lumpur yang digunakan mengandung material koloid yang cukup. Maka kesulitan
yang terjadi disuatu pemboran relatif kecil tetapi bila sebaliknya lumpur yang
mengandung koloid yang rendah dan kadar padatan yang tinggi akan membentuk
mud cake yang tebal pada dinding lubang bor kerak yang tebal ini akan
membatasi gerak peralatan dan menyebabkan gangguan gerakan filtrat masuk ke
formasi dan hal ini menyebabkan terganggunya operasi pemboran.
2.2.1 Sirkulasi Lumpur Pada rotary

Pemilihan pompa untuk keperluan pemboran harus tepat dan se-ekonomis


mungkin. Konsumsi energi pompa di dalam suatu kerja pemboran sekitar 70 s/d 80
% dari seluruh tenaga yang diperlukan. Oleh karena itu untuk suatu program
pemboran pompa lumpur harus sanggup memberikan kecepatan lumpur untuk
mengangkat cutting sekitar 30-65 m/menit di dalam praktek di usahakan agar
aliran sirkulasi lumpur turbulent di dalam pipa dan laminer di dalam anulus, aliran
diatur sedemikian rupa agar dapat melarutkan mud cake.
2.2.2 Fluida pemboran
Fluida pemboran merupakan suatu campuran cairan dari beberapa komponen yang
dapat terdiri dari : air (tawar atau asin), minyak, tanah liat (clay), bahan-bahan
kimia, gas, udara, busa maupun detergent. Di lapangan fluida dikenal sebagai
"lumpur" (mud). Lumpur pemboran merupakan faktor yang penting serta sangat
menentukan dalam mendukung kesuksesan suatu operasi pemboran. Kecepatan
pemboran, efisiensi, keselamatan dan biaya pemboran sangat tergantung pada
kinerja lumpur pemboran.
2.2.3 Mud Pump

Suatu instalasi pengeboran pompa mempunya tugas yang sangat berat, umumnya
digunakan dua tipe saja, Pompa Piston dan Pompa Lunger. Yang paling umum
diguanakan Pompa Piston dengan kerja ganda dan tiga ganda (duplek / triplek).
Funggsi pompa lumpur adalah untuk mengsirkulasikan lumpur pada tekanan dan
volume yang diinginkan .
Pompa pistom mempunyai keunggulan sebagai berikut:
1. Dapat dilalui fluida yang mengandung kadar solit tinggia dan abrasive.
2. Ruang kelepnya dapat dilalui oleh padatan berukuran besar.
3. Kerja dan pemeliharaannya mudah, penggantian linier dan piston dapat
dikerjakan dengan cepet di lapangan.
4. Dengan menggunakan linier dan piston yang berbeda-beda didapat range
volume dan tekanan yang besar.
Oleh karena tugas pompa yang saat berlangsung maka pompa ini perlu
mempunyai syarat-sayarat sebagai berikut:
1. Dibuat dari bahan yang bermutu tinggi dan dikonstruksikan secara kaku
yang tahan terhadap tekanan yang tinggi dan terhadap cairan yang tajam.
2. Dilengkapi dengan perlengkapan yang tahan bocor.
3. Berkapasitas besar yang dapat berputar cepat.
4. Bagian-bagiannya dapat dibongkar / pasangg untuk pemeliharaan dan
perbaikan dengan cepat dan mudah.
Pompa lumpur pada umumnya dapat terdiri dari dua bagian yang terbesar:
1. Power end / gear box (sisi pengggerak).
2. Water and / pompa (sisi cairan).
Dalam pengeboran, pompa dapat digunakan bersamaan lebih dari satu yang
disambung secara paralel atau seri. Untuk pemboran dangkal paralel lebih umum
karena tekanan sirkulasi tidak begitu besar sedangkan rate sirkulasi harus besar.
Sebaliknya pompa seri pada pemboran dalam karena preasure lost besar. Pada
umumnya pompa dinyatakaan dalam HP yang didefenisikan sebagaai berikut.
2

HP =

D S n p
107000

Dimana :
D = Diameter Linier ............................. Inch
S = Panjang Strok ................................. Inch
n = RPM
p = Tekanan Luar .................................. PSI
Q = 0,00679 SN ( 2D2 d2 ) E
Dimana :
Q = Volume Lumpur ............................. GPM
d = Diameter Rod ................................. Inch
E = Eff Volumetris ump. Diambil 90% u/power.
2.3 Bit / mata bor
Mata bor merupakan salah satu komponen dalam pemboran yang digunakan
khususnya sebagai alat pembuat lubang (hole making tool). Gaya yang bekerja
pada bit agar bit dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan secara garis besar
terbagi atas dua macam, yaitu gaya dorong dan gaya putar.

Gambar 2.1 Jenis mata bor


Keekfetifan penetrasi yang dilakukan pada pemboran tergantung pada kedua gaya
jenis ini. Gaya dorong dapat dihasilkan melalui tumbukan yang dilakukan pada
pemboran tumbuk, pemuatan bit, tekanan dibawah permukaan.
Gaya putar dapat dihasilakan pada mekanisme pemboran putar dengan bantuan
mesin putar mekanik yang dapat memutar bit (setelah ditransmisikan oleh stang
bor) dan dengan bantuan gaya dorong statik mengabrasi batuan yang ditembus.
Gaya dorong yang bersifat statik yang secara tidak langsung turut menunjang
gaya- gaya tersebut diatas misalnya berat dari stang bor dan berat rig.
Faktor- faktor yang harus diperhatiakan dalam pemilihan bit yaitu:

1.
2.
3.
4.

Ukuran dan bentuk mata bor


Ukuran gigi mata bor
Berat mata bor
Kekerasan matriks.

Adapun beberapa jenis mata bor diantaranya :


1.

Mata bor rotasi ; mata bor pisau, air coring bits, roller bits

2.

Mata bor tumbuk ; cross bit, button bit, chisel bit

3.

Mata bor auger ; tipe kelly, tipe auger

4.

Mata bor pada pengeboran kabel ; mata bor tabung, mata bor chisel

5.

Mata bor intan ; mata bor formasi lunak, surface set bits, impregnated bits

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Metodologi Penelitian
Metodologi Penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Studi Literatur
Melakukan studi literature berdasarkan buku-buku tentang pemboran dan juga
searching melalui jaringan interne yang dilakukan di kampus Institute
Teknologi Medan (ITM).
2. Survei Lapangan
Survei lapangan dilakukan dengan cara meninjau lapangan untuk melakukan
pengamatan langsung terhadap kondisi lapangan yang ada.
3. Pengumpulan Data
a. Data-data kegitan pemboran
b. Peta development dan produksi yang akan dilakukan kegitan pemboran
c. Data Spesifikasi Alat
d. Pengelompokan Data
4. Pengolahan data

Pada kegitan pengolahan data dilakukan perhitungan untuk mencari nilai variasi
keceptan

sirkulasi

terhadap

kecepatan

pemboran

dengan

keefektifan

penembusan formasi yang diperoleh dan dilihat bedasarkan pembacaan grafik.


5. Hasil yang diinginkan
Menentukan nilai kesetimbangan kecepatan sirkulasi dan densitas lumpur
terhadap kecepatan pemboran dengan keefektifan penembusan formasi.

3.2 Diagram alir penelitian


1.1.

Diagram Alir Penelitian

Diagram alir penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.1.


Variasi kesetimbangan kecepatan srikulasi dan
densitas lumpur terhadap kecepatan pemboran

Study literature

Pengambilan data lapangan


1. Data spesifikasi alat
2. Laju penembusan formasi
3. Densitas lumpur
1. Pengolahan data
2. Flod grafik ks/kb=pf

Analisa

Pembahsan

Mendapatkan nilai variasi kesetimbangan


kecepatan sirkulasi terhadap kecepatan pemboran
dengan keefektifan penembusan formasi
Kesimpulan
Selesai
Gambar 3.1. Diagram Alir Pelaksanaan Perancangan