Anda di halaman 1dari 10

TUGAS STASE

ILMU PENYAKIT DALAM

ANEMIA
Oleh
Gostry Aldica Dohude
NPM : 160121130010

Pembimbing
Dr.dr. Abdul Hadi.,Sp.PD-KGH

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER GIGI SPESIALIS BEDAH MULUT


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2014

ANEMIA
Anemia adalah terjadinya penurunan kadar normal hemoglobin pada sirkulasi tubuh.
Penurunan hemoglobin dapat terjadi karena kehilangan darah, defisiensi zat besi,
peningkatan dekrtruksi sel darah merah ( hemolitik), penurunan produksi sel darah merah
( anemia pernisiosa dan defisiensi asam folat ).
Anemia dapat pula diklasifikasikan berdasarkan

patofisiologinya, ukuran sel darah

merah ( micrositik, normositik, makrositik ), konsentrasi hemoglobin ( hipokromik,


normokromik ).
Gejala-gejala dapat terlihat berupa pucat pada kulit, conjunctiva, kuku.
Anemia Defisiensi Zat Besi
Anemia defisiensi zat besi (anemia kehilangan darah, anemia hipocromik micrositik )
merupakan anemia yang paling sering terjadi kurang lebih 30% dari jumlah penduduk di
bumi ini. Kemungkinan anemia ini terjadi akibat kehilangan darah kronis biasanya pada
perdarahan mentruasi dan menopouse, perdarahan hemoroid, perdarahan lesi keganasan
atau ulkus di gastrointestinal. Dapat pula terjadi karena penurunan absorbsi zat besi
akibat gangguan absorbsi, gastrectomi.
Etiologi
Adanya keseimbangan negatif Fe yang disebabkan:
1. Berkurangnya asupan Fe
Diet tidak adekuat (Malnutisi)
Gangguan absorpsi ; operasi lambung
2. Kehilangan Fe
Perdarahan traktus gastrointestinal
Perdarahan gastrointestinal
Hemoglobinuria
Hemosiderosis pulmonari idiopatik
Teleangiektasia hemoragik herediter
Gangguan hemostasis
Gagal ginjal kronik dan hemodialisis
2

3. Meningkatnya kebutuhan Fe
Anak-anak
Kehamilan
Laktasi

Manifestasi Oral
Gambaran secara umum anemia defisiensi zat besi adalah mucosa oral pucat. Sel epitel
oral akan atropi dan keratinisasi normal hilang. Pada lidah akan tampak halus akibat
atropi papila filiformis dan fungiformis.
Pada pemeriksaan histologis mukosa lidah tampak berkurangnya lapisan tipis epitel
dengan berkurangnya jumlah sel. Pada laki-laki ukuran sel berkurang di lapisan sel yang
matang.

Manifestasi anemia akibat zat besi


Diagnosa

Untuk mendiagnosa anemia ini dapat diperiksa kadar Hb dalam lab darah rutin, apus
darah tepi. Pada apus darah tepi akan tampak mikrositik hypokromik. Jumlah konsentrasi
serum zat besi rendah.
Perawatan.
Penanganan anemia berupa pemberian asupan zat besi selain itu mengevaluasi dan
mengidentifikasi jika terjadi kehilangan darah secara kronis atau kelainan lainnya.
Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik adalah anemia yang disebabkan adanya peningkatan destruksi eritrosit
yang melebihi kemampuan kompensasi eritropoiesis sumsum tulang.
Etiologi:
1. Faktor intrinsik
a. Kongenital:
Defek membran eritrosit (sferositosis, eliptosis)
Defisiensi enzim glikolitik eritrosit (piruvat kinase)
b. Didapat
Paroksismal nokturnal hemoglobinuria
2. Faktor ekstrinsik
Anemia hemolitik autoimun (warm antibody)

Idiopatik

Sekunder : infeksi virus, mikoplasma, limfoma, lupus eritematosus sistemik,


penyakit autoimun lain.
Obat-obatan: sefalosporin, penisilin, tetrasiklin, metildopa.
Anemia hemolitik autoimun (cold antibody)
Cold hemagglutinin disease
Paroxysmal cold haemoglobinuria
Traumatic dan anemia hemolitik mikroangiopatik
Katup jantung buatan
HUS (Haemolitic Uremic Syndrome)
4

TTP (Trombotic Thrombocytopenic Purpura)


Diagnosa:
Dapat asimptomatik maupun akut dan berat.
Adanya bentuk berat dan akut, pada umumnya berupa :
Mendadak mual-mual, panas badan, muntah, menggigil, nyeri perut, pinggang, dan
ekstremitas, lemah badan, sesak nafas, pucat.
Gangguan kardiovaskuler
Buang air kecil warna merah?gelap.
Bentuk kronis: keluhan lemah badan berlangsung dalam periode beberapa minggu sampai
bulan. Pada pemeriksaan laboratorium adanya penurunan Hb, peningkatan retikulosit
( sel muda eritrosit ), peningkatan serum bilirubin terutama indirect.
Manifestasi Oral
Pada anemia defisiensi Fe, mukosa rongga mulut tampak pucat sedangan pada anemia
hemolitik akan tampak jaundice akibat hiperbilirubinemia hasil dari dekstruksi sel
eritrosit.
Terapi
Tergantung etiologi.

Anemia hemolitik autoimun; glukokortikoid, Prednison 40mg/m 2 luas permukaan


tubuh/perhari. Biasanya respon terlihat setelah seminggu. Pada kasus tidak
bers=espon splenektomi. Imunosupresif pada kasus gagal steroid dan tidak
memungkikan splenektomi. Danazol 600 800 mg/ hari bila ada respon
diturunkan 200-400mg/hari. Diberikan bersama prednoson.

Obati penyakit dasar; SLE, infeksi, malaria, keganasan


Stop obat-obatan yang diduga penyebab.
Kelainan kongenital
Pada talasemia: transfusi berkala, pertahankan Hb 10 gr %.
Desferal (Deferoxamine) untuk mencegah penumpukan besi:

Diberikan bila serum Feritin mencapai 1000g/dL. Biasanya setelah


transfusi labeu ke 12-15.
Bila perlu transfusi darah : washed red cell pada hemolitik autoimun. Packed red
cell.
Pada hemolisis kronik, diberikan asam folat 0,15 0,3 mg/ hari untuk mencegah
krisis megaloblastik.

Anemia Megaloblastik
Anemia Megaloblastik merupakan anemia yang disebabkan abnormalitas hematopoiesis
dengan karakteristik dismaturasi nukleus dan sitoplasma sel mieloid dan eritroid sebagai
akibat gangguan sintesis DNA.
Etiology:
1. Defisiensi asam folat
Asupan kurang

Gangguan nutrisi:alkoholisme;bayi premature; orang tua;hemodialisis.

Malabsorbsi; alkoholisme, gastrektomi parsial, reseksi usus halus, limfoma


intestinal, hipotiroidisme.

Gangguan metabolisme folat: antagonis folat (metotreksat, pirimetamin,


trimetoprim), defesiensi enzim.

Penurunan cadangan folat di hati: alkoholisme, sirosis non alkoholik, hepatoma.

2. Defisiensi vitamin B12


Asupan kurang: vegetarian
Malabsorbsi
Diagnosa

Gejala: anemia, ikterus ringan, glositis, stomatitis, purpura, neuropati

Apus darah tepi: eritrosit yang besar dengan bentuk lonjong, trombosit dan
leukosit agak menurun, didapatkan hipersegmentasi neutrofil, Giant stab-cell,
retikulosit menurun.

Sumsum tulang, hiperseluler dengan sel-sel eritroblas yang besar (megaloblast),


giant stab-cell.

Pada anemia pernisiosa: schilling test (+)

Manifestasi Oral
Gejala klinis anemia ini adalah glositis dan glossodynia, lidah terdapat inflamasi dan
Beefy red dengan eritema di margin serta diikuti hilangnya papila piliformis. Serta
adanya eritema di mukosa bucal, umumnya pasien mengeluh mulut terasa terbakar.
Terapi
1. Suportif: transfusi bila ada hipoksia, suspensi trombosit bila trombositopenia
mengancam jiwa.
2. Defisiensi B12, terdapat 2 bentuk yaitu vitamin B12 sianocobalamin dan
hidroksocobalamin.
Dosis sianokobalamin 100g IM/hari selama 6-7 hari bila ada perbaikan
klinis dan rspon retikulosit dalam seminngu dosis diturunkan 100g IM
selang sehari sebanyak 7 dosis, kemudian tiap 3-4 hari selama 2-3 minggu
(dosis total 1,8-2mg B12 dalam 5-6 minggu). Setelah kelainan hematologis
normal anemia pernisiosa diberikan sianokobalamin 100g IM/bulan
seumur hidup.
Dosis hidroksokobalamin
Diretensi dalam tubuh lebih baik daripada sianokobalamin, 28 hari setelah
injeksi. Dosis 1000g IM setiap 5 minggu atau 1000g IM setiap hari
selama 1-2 minggu lalu tiap 3 bulan.
3. Defesiensi asam folat
Dosis 1 mg/hari selama 2-3 minggu. Kemudian dosis pemeliharaan 0,25-0,5 mg/hari.
4. Terapi penyakit dasar
5.

Hentikan obat-obat penebab anemia megaloblastik


7

Anemia Aplastik
Anemia

apalastik

mempunyai

karakteristik

adanya

pansitopenia

disertai

hipoplasia/aplasia sumsum tulang tanpa adanya penyakit primer yang mensupresi atau
menginfiltrasi jaringan hematopoietik.
Etiologi:
1. Didapat
Zat kimia dan fisika; zat yang selalu menyebabkan aplasiapada dosis tertentu;
radiasi, arsen, sulfur, nitrogen, antimetabolit, antimitotik.Zat yang kadang-kadang
menyebabkan hipoplasia; kloramfenikol, fenilbutazon, senyawa emas.
Infeksi virus : Hepatitis, Epstein Barr Virus, HIV, Dengue.
Infeksi mikobakterium
Idiopatik
2.

Familial : Sindroma Fanconi

Diagnosa :

Gejala klinik anemi, tanda infeksi, perdarahan, ptekie, perdarahan gusi,


tidak ada perbesaran organ.

Pansitopenia perifer

Anemia monokrom monositer

Sumsum tulang : aplasia atau hipoplasia dengan infiltrasi sel lemak

Terapi
1. Menghindari kontak dengan toksin/obat penyebab
2. Umum : Hindari kontak dengan penderita infeksi, isolasi, sabun antiseptik, sikat gigi
lunak, obat pelunak buang air besar, pencegahan menstuasi (obat anovulatari)
3. Transfusi ; PRC, trombosit untuk profilaksis penderita dengan trombosit < 10.00020.000/mm3.
4. Penanganan infeksi

5. Transplantasi sumsum tulang; merupakan terapi pilihan untuk penderita usia muda
(<40 tahun) dengan anemi aplastik berat dan HLA cocok.
6.Imunosupresif; anti thymocyte globulin (ATG), siklosporin A, kombinasi ATG dengan
siklosporin A.

Anemia akibat defisiensi zat lain

Anemia akibat defisiensi zat lain

Daftar Pustaka
1. A d a m s o n W J e t a l , 2 0 0 5 , A n e m i a a n d P o l y c y t h e m i a i n
H a r r i s o n s P r i n c i p l e s o f Internal Medicine 16 Th edition ; NewYork :
McGraw Hill.
2. Bakta I Made, dkk, 2006, Anemia Defisiensi Besi dalam Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam jilid II edisi IV ; Jakarta : FKUI.
3. Guyton and Hall, 1997, Sel-Sel Darah Merah, Anemia dan
Polisitemia dalam BukuAjar Fisiologi Kedokteran edisi IX, Jakarta : EGC.
4. Murray, Robert K. Biokimia harper, 24ed. Jakarta: EGC; 1999.
5. Supandiman I dan Fadjari H, 2006, Anemia Pada Penyakit Kronis dalam Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II edisi IV ; Jakarta : FKUI.
6. W e i s s G a n d G o o d n o u g h , 2 0 0 5 , A n e m i a o f C h r o n i c D
i s e a s e , d o w n l o a d f r o m www.nejm.org on june 22, 2006

10