Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS KADAR ABU DAN MINERAL

OLEH

KELOMPOK 8
1.
2.
3.
4.

NI WAYAN NIA ARISKA PURWANTI


NI KADEK DWI ANJANI
NI NYOMAN SRI KASIHANI
GUSTYARI JADURANI GIRI

(P07134013010)
(P07134013021)
(P07134013031)
(P07134013039)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2015
a. Pengertian Abu dan Mineral

Abu adalah residu anorganik dari proses pembakaran atau oksidasi komponen
organik bahan pangan. Kadar abu total adalah bagian dari analisis proksimat yang
bertujuan untuk mengevalusi nilai gizi suatu produk/bahan pangan terutama total mineral.
Mineral adalah nutrisi penting untuk pemeliharaan kesehatan dan pencegahan
penyakit. Mineral dan vitamin bertindak secara interaksi. Mineral dapat diklasifikasikan
menurut jumlah yang dibutuhkan tubuh manusia. Mineral utama (mayor) adalah mineral
yang kita perlukan lebih dari 100 mg sehari, sedangkan mineral minor (trace elements)
adalah yang kita perlukan kurang dari 100 mg sehari. Kalsium, tembaga, fosfor, kalium,
natrium dan klorida adalah contoh mineral utama, sedangkan kromium, magnesium,
yodium, besi, flor, mangan, selenium dan zinc adalah contoh mineral minor. Pembedaan
jenis mineral tersebut berdasarkan jumlah yang diperlukan (Samsudin 1992).
Kadar abu dari suatu bahan menunjukkan total mineral yang terkandung dalam
bahan tersebut. Mineral itu sendiri terbagi menjadi 4, yaitu:
1. Garam organik : garam-garam asam malat, oksalat, asetat, pektat
2. Garam anorganik : garam fosfat, karbonat, klorida, sulfat, nitrat
3. Senyawa kompleks : klorofil-Mg, pektin-Ca, mioglobin-Fe, dll
b. Metode Analisis Kadar Mineral
Pengabuan dilakukan untuk menentukan jumlah mineral yang terkandung dalam
bahan. Penentuan kadar mineral bahan secara asli sangatlah sulit sehingga perlu
dilakukan dengan menentukan sisa hasil pembakaran atas garam mineral bahan tersebut.
Pengabuan dapat menyebabkan hilangnya bahan-bahan organik dan anorganik sehingga
terjadi perubahan radikal organik dan segera terbentuk elemen logam dalam bentuk
oksida atau bersenyawa dengan ion-ion negatif.
Kandungan abu dari suatu bahan menunjukkan kadar mineral dalam bahan
tersebut.
Penentuan kandungan mineral dalam bahan pangan dapat dilakukan dengan tiga
cara yaitu dengan penentuan abu total dan penentuan individu komponen mineral (makro
& trace mineral) menggunakan titrimetrik, spektrofotometer, AAS (atomic absorption
spectrofotometer).
c. Metode Analisis Kadar Abu
1. Pengabuan Kering
Pengabuan ini menggunakan panas tinggi dan adanya oksigen. Metode pengabuan
cara kering banyak dilakuakan untuk analisis kadar abu. Caranya adalah dengan
mendestruksi komponen organik contoh dengan suhu tinggi di dalam suatu tanur

(furnace) pengabuan, tanpa terjadi nyala api sampai terbentuk abu berwarna putih
keabuan dan berat tetap (konstan) tercapai. Oksigen yang terdapat di dalam udara
bertindak sebagai oksidator. Oksidasi komponen organik dilakukan pada suhu tinggi 5006000C. Residu yang tertinggal ditimbang dan merupakan total abu dari suatu contoh.
(Fauzi, 2006)
Sampel yang digunakan pada metode pengabuan kering ditempatkan dalam suatu
cawan pengabuan yang dipilih berdasarkan sifat bahan yang akan dianalisis serta jenis
analisis lanjutan yang akan dilakukan terhadap abu. Sebelum diabukan, sampel-sampel
basah dan cairan biasanya dikeringkan lebih dahulu di dalam oven pengering.
Pengeringan ini dapat pula dilakukan menentukan kadar air sampel. Pra-pengabuan
dilakukan di atas api terbuka, terutama untuk sampel-sampel yang seluruh sampel
mengering dan tidak mengasap lagi. Setelah perlakuan ini, baru sampel dimasukkan ke
dalam tanur (furnace)Apabila pengabuan yang berkepanjangan tidak dapat menghasilkan
abu bebas karbon (carbon free ash), residu harus dibasahi lagi dengan air, dikeringkan
dan kemudian diabukan sampai didapat abu berwarna putih ini, residu dapat pula
diperlakukan dengan hidrogen peroksida, asam nitrat dan atau asam sulfat, tetapi perlu
diingat bahwa perlakukan ini akan mengubah bentuk mineral yang ada di dalam abu. Jika
diperlukan, dapat pula residu yang belum bebas karbon dilarutkan dalam sejumlah kecil
air dan kemudian disaring dengan kertas saring berkadar abu rendah. Kedua bagian ini
kemudian diabukan kembali secara terpisah
2. Pengabuan Basah
Pengabuan ini menggunakan oksidator-oksidator kuat (asam kuat).Biasanya
digunakan untuk penentuan individu komponen mineral. Pengabuan merupakan tahapan
persiapan contoh. Pengabuan cara basah ini dilakukan dengan mendestruksi komponenkomponen organik (C, H, dan O) bahan dengan oksidator seperti asam kuat. Pengabuan
cara ini dilakukan untuk menentukan elemen-elemen mineral. Cara ini lebih baik dari
cara kering karena pengabuan cara kering lama dan terjadi kehilangan mineral karena
suhu tinggi. (Fauzi, 2006)
Prinsip pengabuan cara basah adalah memberi reagen kimia (asam kuat) pada
bahan sebelum pengabuan. Bahan tersebut dapat berupa:

a. Asam sulfat yang berfungsi sebagai bahan pengoksidasi kuat yang dapat
mempercepat reaksi oksidasi.
b. Campuran asam sulfat & potasium sulfat. K2SO4 menaikkan titik didih H2SO4
menyebabkan suhu pengabuan tinggi sehingga pengabuan berlangsung cepat.
c. Campuran asam sulfat & asam nitrat .Campuran ini banyak digunakan selain itu
capuran ini merupakan oksidator kuat. Memiliki suhu difesti dibawah 3500C.
d. Campuran asam perklorat & asam nitrat untuk bahan yang sulit mengalami oksidasi
campuran ini baik untuk digunakan karena pengabuan sangat cepat 10 menit.
Perklorat bersifat mudah meledak. ( Sudarmadji , 2003)
d. Manfaat menganalisa Kadar Abu
1. Menentukan baik tidaknya suatu pengolahan
Dalam penggilingan gandum, misalnya apabila masih banyak katul atau lembaga
yang terikut maka tepung gandum tersebut akan memiliki kadar abu yang tinggi
2. Mengetahui jenis bahan yang digunakan
Penentuan kadar abu dapat digunakan untuk memperkirakan kandungan buah yang
digunakan dalam marmalade atau jelly.
3. Penentuan parameter nilai gizi pada bahan makanan
Adanya kandungan abu yang tidak larut dalam asam yang cukup tinggi menunjukkan
adanya pasir atau kotoran yang lain.
4. Untuk mengetahui kandungan mineral yang terkandung dalam suatu bahan pangan.
(Irawati , 2008)

DAFTAR PUSTAKA
Fauzi, M. 2006. Analisa Pangan dan Hasil Pertanian, Jember : FTP UNEJ.
Irawati, 2008, Modul Pengujian Mutu 1, Cianjur : Diploma IV PDPPTK VEDCA.
Samsudin. 1992. Peranan mineral khususnya Zn dalam tumbuh kembang anak. Jakarta : Seminar
Sehari Pengaruh Mineral Terhadap Kesehatan.
Sudarmadji.dkk, 2003, Prosedur Analisa Bahan Makanan Dan Pertanian, Yogyakarta : Liberti.
Winarno, F. G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama