Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA DASAR

ACARA VI
URIN KUALITATIF

Disusun oleh :
Kelompok Inhal
Reza Aprilianda

PT/06651

Nurfitroh Lewa

PT/06686

Muhammad Hanan H

PT/06703

Dhamas Aji P

PT/06834

Asisten : Muhammad Sofiul Anam

LABORATORIUM BIOKIMIA NUTRISI


BAGIAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

ACARA VI
URIN KUALITATIF
Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui adanya zat-zat
yang terkandung di dalam urine yaitu senyawa organik dan anorganik
serta keadaan abnormalitas urine.
Tinjauan Pustaka
Urin sering dianggap hasil buangan yang sudah tidak
berguna. Padahal urin sangat membantu dalam pemeriksaan medis. Urin
merupakan salah satu cairan fisiologis yang sering dijadikan bahan untuk
pemeriksaan

(pemeriksaan

visual,

pemeriksaan

mikroskopis,

dan

menggunakan kertas kimia) dan menjadi salah satu parameter kesehatan


dari pasien yang diperiksa. Selain darah, urin juga menjadi komponen
yang penting dalam diagnosis keadaan kesehatan seseorang. Ada 3
macam

pemeriksaan,

antara

lain

(1)

pemeriksaan

visual.

Urin

mengindikasikan kesehatan yang baik bila terlihat bersih. Bila tidak, maka
ada masalah dalam tubuh. Kesehatan bermasalah biasanya ditunjukkan
oleh kekeruhan, aroma tidak biasa, dan warna abnormal. (2) Tes yang
menggunakan kertas kimia yang akan berganti warna bila substansi
tertentu terdeteksi atau ada di atas normal. (3) Hasil yang datang dari
pemeriksaan mikroskopis yang dilakukan untuk mengetahui apakah
kandungan berikut ini berada di atas normal atau tidak (Ganong 2002).
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang
diekskresikan oleh

ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam

tubuh melalui prosesurinasi. Ekskreksi urin diperlukan untuk membuang


molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk
menjaga homeostasis cairan tubuh.Peranan urin sangat penting untuk

mempertahankan homeostasis tubuh, karena sebagian pembuangan


cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urin (Murray danRobert 2003).
Proses pembentukan urin meliputi tiga tahap, yaitu filtrasi
glomerulus,reabsorbsi tubular, dan sekresi tubular. Pembentukan urin
dimulai ketika air dan berbagai bahan terlarut lainnya disaring melalui
kapiler glomerulus dan masuk kekapsul glomerulus (kapsul Bowman).
Penyaringan bahan-bahan ini melalui dinding kapiler kurang lebih sama
seperti pada penyaringan yang terjadi pada ujung arteriol pada kapiler lain
di seluruh tubuh. Hanya saja, kapiler glomerulus bersifat lebih permeabel
karena adanya fenestrae pada dindingnya. Reabsorbsi tubular adalah
proses dimana bahan-bahan diangkut keluar dari filtrate glomerulus,
melalui epitelium tubulus ginjal ke dalam darah di kapiler peritubulus.
Walaupun reabsorbsi tubulat terjadi di seluruh tubulus ginjal, peristiwa ini
sebagian besar terjadi di tubulus proksimal. Adanya mikrovili di tubulus
proksimal akan meningkatkan luas permukaan yang bersentuhan dengan
filtrat glomerulus sehingga meningkatkan proses reabsorbsi. Berbagai
bagian dari tubulus ginjal berfungsi untuk mereabsorbsi zat yang spesifik.
Sebagai contoh, reabsorbsi glukosa terjadi terutama melalui dinding
tubulus proksimal dengan cara transpor aktif. Air juga direabsorbsi dengan
cepat melalui epitelium tubulus proksimal dengan osmosis. Sekresi tubular
adalah proses dimana bahan-bahan diangkut dari plasma kapiler
peritubulus menuju ke cairan tubulus ginjal. Sebagai hasilnya, jumlah zat
tertentu diekskresikan melalui urin dapat lebih banyak daripada jumlahzat
yang diperoleh melalui filtrasi plasma di glomerulus (Sloane 2004).
Urin yang kita keluarkan terdiri dari berbagai unsur seperti air,
protein,amonia, glukosa, sedimen, bakteri, dan epitel. Unsur-unsur
tersebut sangat bervariasi perbandingannya pada orang yang berbeda
dan juga pada waktu yang berbeda dan dipengaruhi oleh makanan yang
kita konsumsi. Kandungan urininilah yang menentukan tampilan fisik air
urin seperti kekentalannya, warna, kejernihan, bau, dan busa. Pada
keadaan normal, urin memang tampak sedikit berbusa karena urin

mengandung unsur-unsur tersebut. Apalagi bila urin dicurahkan ke dalam


tempat berwadah dari posisi tinggi, akan terjadi reaksi yang menyebabkan
urin tampak berbusa. Memastikan adanya kelainan pada urin perlu
diperhatikan

beberapa

hal

seperti

warna,

bau,

kejernihan,

dan

kekentalan.Warna yang memerah menandakan adanya darah yang


bercampur dalam urin.Hal ini terjadi pada keadaan infeksi, luka, batu
saluran kemih, tumor, atau meminum obat tertentu. Jika warna sangat
merah menandakan adanya perdarahan yang hebat di saluran kemih
(Ophart 2003).
Urea merupakan produk akhir normal dari metabolisme protein
yang berbentuk padat, larut dalam air dan tak berwarna (Hart,2003) dan
merupakan produk akhir dari metabolisme protein . Urin sebagai limbah
nitrogen yang mengandung urea tersebut dapat dimanfaatkan sebagai
sumber pupuk. Akan tetapi, pada kondisi tertentu dalam air urea
mempunyai ion ammonium yang dapat berubah menjadi nitrit yang
bersifat racun atau berubah menjadi ammoniak yang dapat mencemari
udara (Pearce,2003).

Materi dan Metode


Materi
Alat. Alat-alat yang digunakan pada praktikum urine kualitatif
ini adalah tabung reaksi, api spirtus, penjepit, penangas air, pipet tetes,
kaca, cawan porselin, kertas saring, mangkuk, dan gelas ukur.
Bahan. Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum urine
kualitatif ini adalah sampel urine sapi Peranakan Ongole (PO), sampel
urine PO abnormal, ureum padat, air suling, larutan NaOH encer, larutan
Na2CO3 2 %, Na2CO3 padat, asam asetat, tepung kedelai, CuSO 4, fenol
merah, pereaksi Benedict, Na2SO3 20 %, HNO3 pekat, asam urat padat,
amoniak, larutan AgNO3, NaOH 10 %, asam pikrat, fenolftalein, HCl encer,
BaCl2, kalium okasalat, amonium molibdat, Benzidin, larutan H 2O2, HNO3
pekat, serbuk belerang, pereaksi obermeyer, dan khloroform.
Metode
Senyawa Organik Dalam Urine
Uji Biuret Terhadap Ureum. Sebanyak 1 sendok kecil ureum padat
dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan dipanaskan dengan api kecil
sampai menjadi cair. Tabung reaksi ditambah 1 ml larutan NaOH encer
dan 1 ml CuSO4. Setelah itu, warna yang terjadi dicatat.
Uji Enzimatik Terhadap Ureum. Sebanyak 2 tabung disiapkan,
pada tabung 1 dimasukkan 2 ml urin dan pada tabung 2 dimasukkan 2 ml
air. Pada kedua tabung, masing-masing tabung ditambahkan beberapa
tetes fenol merah, 1 ml larutan Na2CO3 2 %, dan 1 ml asam asetat.
Larutan dipanaskan pada penangas air dengan suhu 60C selama 10
menit dan ditambahkan tepung kedelai dan digojog. Perbedaan warna
yang terjadi antara kedua tabung diamati.

Uji Benedict Terhadap Garam Urat. Sebanyak 2 ml urine


ditambahkan 2 ml larutan Benedict dan sedikit Na 2CO3 padat dan
dipanaskan dengan api spirtus selama 5 menit. Setelah itu, warna yang
timbul dicatat.
Uji Murexida. Ke dalam cawan porselin dimasukkan 3 tetes HNO 3
pekat dan 1 sendok asam urat padat. Cawan Porselin dipanaskan pada
penangas air sampai larutan menjadi kering. Setelah kering, ditambahkan
amoniak dan diamati perubahan warnanya
Uji Daya Mereduksi Asam Urat. Asam urat dilarutkan dalam 1 ml
larutan Na2CO3. Kemudian larutan diteteskan ke atas kertas saring yang
telah dibasahi dengan larutan AgNO 3. setelah itu, warna yang terjadi
dicatat.
Uji Pikrat. Sebanyak 1 ml asam pikrat jenuh ditambahkan 0,5 ml
larutan NaOH 10 %. Larutan dibagi ke dalam 2 tabung. Pada tabung 1,
ditambahkan 3 ml air, sedangkan pada tabung 2 ditambahkan 3 ml urine.
Kemudian perbandingan warnanya diamati dan dicatat.
Uji Terhadap Garam Amonium. Sebanyak 2 ml urine ditambahkan
indikator fenolptalin dan sedikit larutan Na 2CO3 2 % sampai warna merah,
lalu dipanaskan dengan menggunakan api spirtus sampai timbul uap.
Kemudian uap tersebut ditampung dengan kaca yang telah dibasahi
dengan fenolftalin. Warna yang terdapat pada kaca diamati dan dicatat.
Zat-Zat Anorganik Dalam Urine
Uji Khlorida. Sebanyak 1 ml urine ditambahkan beberapa tetes
HNO3 dan 1 ml AgNO3, lalu warnanya dicatat. Kemudian larutan tersebut
ditambahkan amoniak berlebihan dan perubahan yang terjadi dicatat.

Uji Fosfat dan Kalsium. Sebanyak 10 ml urine ditambahkan 3 ml


amoniak dan dididihkan dengan menggunakan water bath pada suhu
100C selama 10 menit, lalu disaring. Endapan yang didapat dicuci
dengan air dan ditambah 5 ml asam asetat 2 %, lalu dipanaskan dengan
menggunakan api spirtus sampai endapannya menjadi banyak. Kemudian
larutan dibagi ke dalam 2 tabung. Pada tabung 1, larutan ditambahkan 1
tetes HNO3 pekat dan 3 tetes amonium molibdat, lalu dipanaskan. Pada
tabung 2, larutan ditambahkan 3 tetes kalium oksalat dan diamati.
Uji Sulfat. Sebanyak 1 ml urine ditambahkan beberapa tetes HCl
encer dan 1 ml BaCl2. kemudian dicatat apa yang terjadi.
Keabnormalan Urine
Uji Benedict Terhadap Urine Abnormal. Sebanyak 0,5 ml urine
abnormal ditambahkan 3 ml larutan Benedict. Kemudian dididihkan
menggunakan api spirtus, lalu didinginkan. Haisl peercobaan diamati dan
dicatat.
Uji Heller. Sebanyak 1 ml HNO3 pekat ditambahkan urine yang
dialirkan melalui dinding tabung. Lapisan yang terbentuk diamati dan
dicatat apa yang terjadi.
Uji Benzidin Terhadap Pigmen Darah. Sebanyak 1 ml Benzidin
ditambahkan 1 ml H2O2. Kemudian larutan dibagi dua. Pada tabung 1,
larutan ditambahkan 1 ml urine normal, sedangkan pada tabung 2,
ditambahkan 1 ml urine abnormal. Warna yang terjadi dibandingkan
antara keduanya.
Uji Gmelin Terhadap Pigmen Empedu. Sebanyak 1 ml HNO3
ditambahkan 1 ml urine abnormal. Hasil percobaan diamati.
Uji Hay Untuk Garam Kholat. Sebanyak 2 tabung disiapkan, pada
tabung 1 dimasukkan 1 ml urine abnormal, sedangkan pada tabung 2
dimasukkan 1 ml air. Kemudian serbuk belerang ditambahkan ke dalam
masing-masing tabung. Warna yang terjadi dan serbuk belerangnya
diamati.

Hasil dan Pembahasan


Senyawa Organik Dalam Urine
Uji Biuret Terhadap Ureum. Dari hasil pencampuran antara
ureum, NaOH, dan CuSO4 ke dalam tabung reaksi, maka dihasilkan
perubahan warna larutan dari kuning bening menjadi hijau keunguan. Hal
ini terjadi karena adanya ikatan antara Cu 2+ dengan N yang berasal dari
ureum menjadi CuN yang menyebabkan warna larutan berwarna ungu.
Hal ini menandakan bahwa pada senyawa ureum dalam urine terdapat
ikatan peptida.Prinsip uji biuret adalah ikatan peptida dapat membentuk
senyawa kompleks Cu dengan gugus CO dan NH berwarna ungu
dengan penambahan garam kupri dalam suasana basa (Carpette 2005)
Uji Enzimatik Terhadap Ureum. Uji enzimatik pada ureum
dilakukan pada dua sampel yang berbeda, yaitu urine pada tabung 1 dan
air pada tabung 2. Hasil percobaan pada tabung 1 yang berisi urine
menunjukkan terjadinya warna merah muda saat penambahan fenol
merah dan Na2CO3 2 %, namun setelah ditambahkan asam asetat 2 %
warna larutan tersebut berubah menjadi ungu, kemudian saat larutan
dipanaskan menggunakan penangas air pada suhu 60C warnanya
berubah menjadi merah kecoklatan. Setelah ditambah dengan tepung
kedelai, lalu digojog, warna larutan berubah menjadi merah dan terdapat
endapan tepung kedelai. Sedangkan pada tabung 2 yang berisi air, warna
larutan berubah menjadi warna merah muda ketika ditambahkan fenol
merah dan Na2CO3 2 %, namun setelah ditambahkan asam asetat 2 %
warna larutan tersebut berubah menjadi oranye, kemudian saat larutan
dipanaskan menggunakan penangas air pada suhu 60C warnanya tidak
berubah (tetap berwarna kuning) begitu juga pada saat penambahan
tepung kedelai warnanya juga tetap kuning.
Dari percobaan ini, terlihat adanya perbedaan antara tabung 1 dan tabung
2. Pada tabung 1 saat penambahan tepung kedelai terjadi perubahan
warna dari merah menjadi kuning. Hal ini disebabkan tepung kedelai yang

mengandung enzim urease bereaksi dengan urea yang terdapat pada


urine. Sehingga terjadi reaksi enzimatik, yaitu hidrolisis urea dalam urine
oleh urease yang terdapat pada tepung kedelai (Poedjiadi,1994).
Reaksi yang terjadi tabung 1, urin
NH2
C =O

urease

2NH2 + CO2

(NH4)2CO3

NH2(H2O)
(urea)
(Poedjiadi,1994)
Sedangkan pada tabung 2 setelah penambahan tepung kedelai tidak
mengalami perubahan warna karena di dalam air tidak terkandung urea
sehingga tidak ada reaksi enzimatik antara urease pada tepung kedelai
dengan air. Pada percobaan ini digunakan suhu 60C karena suhu ini
merupakan suhu optimum dari enzim urease

(Poedjiadi,1994).

Uji Benedict Terhadap Garam Urat. Setelah urine ditambah


dengan larutan Benedict dan Na 2CO3 padat, lalu dipanaskan, warna
larutan berubah menjadi warna hijau dan di dalam tabung terdapat
endapan putih, bukan endapan merah bata, namun hal ini telah
menandakan bahwa uji Benedict positif karena hasil akhir warna larutan
telah berubah, bukan warna biru (warna benedict). Urine mengandung
garam urat. Benedict dapat digunakan untuk menguji kemampuan
mereduksi garam urat karena Benedict mengandung CuSO 4. Cu2+ dari
CuSO4 direduksi

menjadi

Cu+,

kemudian

membentuk Cu2O

dan

mengendap. Endapan Cu2O berwarna merah bata (Poedjiadi,1994).


Uji Murexida. Pada uji ini dilakukan penambahan HNO 3 pekat ke
dalam asam urat padat dan dianaskan akan berwarna hitam keunguan.
Setelah ditambahkan amoniak warnanya berubah menjadi warna violet
kemerah-merahan. Hal ini menandakan bahwa terdapat murexida di
dalam asam urat. Asam urat dioksidasi oleh HNO3 pekat mengahsilkan
asam dialurat dan alloxan. Asam dialurat dan alloxan akan berkondensasi

membentuk alloxantin. Alloxantin akan berubah menjadi amonium


purparat (murexida) setelah ditambah dengan amoniak (Poedjiadi,1994).
Uji Daya Mereduksi Asam Urat. Uji daya mereduksi asam urat
dilakukan dengan melarutkan asam urat menggunakan larutan Na 2CO3
sehingga terjadi endapan putih. Setelah larutan tersebut diteteskan di atas
kertas saring yang telah dibasahi dengan larutan AgNO 3, kertas saring
akan terdapat noda hitam. Hal ini menunjukkan bahwa asam urat mampu
mereduksi Ag+ dari AgNO3 menjadi Ag. Kadar normal asam urat dalam
darah adalah 2-3 mg tiap 100 cc, sedangkan yang diekskresikan ke dalam
urine adalah 1,5-2 mg (Ganong, 2003).
Uji Pikrat. Pungujian ini dilakukan dengan membandingkan air
dengan urine. Pada tabung 1 diisi dengan air dan tabung 2 diisi dengan
urine, kemudian pada masing-masing tabung ditambah asam pikrat jenuh
dab NaOH 10 %. Dari percobaan ini diperoleh pada tabung 1 terbenuk
larutam berwarna kuning dan pada tabung 2 menunjukkan warna larutan
jingga. Hal ini menunjukkan bahwa di dlama air tidak mengandung
kreatinin, sedangkan pada urine mengandung kreatinin. Warna merah
jingga pada urine menunjukkan adanya kreatinin pikrat yang terjadi karena
kreatinin berikatan dengan pikrat jenuh. Pengujian ini dilakukan untuk
mengetahui adanya kreatinin dalam urine. Kreatin adalah hasil buangan
kreatinin dalam otot. Produk metabolisme lain mencakup benda-benda
purine, oxalat, fosfat, dan sulfat (Ganong, 2003).
Uji Terhadap Garam Amonium. Pengujian terhadap garam
amonium ini dilakukan untuk mengetahui adanya garam amonium dalam
urine. Berdasarkan percobaan diperoleh hasil timbul uap warna merah
yang terdapat pada kaca yang telah dibasahi dengan fenolftalin. Warna
merah ini menunjukkan adanya garam amonium atau gas NH 3 yang
mudah menguap (Ganong, 2003).

Zat-Zat Anorganik Dalam Urine


Uji Khlorida. Setelah urine dicampur dengan HNO 3 dan AgNO3,
pada tabung terbentuk endapan putih (AgCl) dan setelah larutan tersebut
ditambah dengan amoniak berlebihan, endapan putih tadi larut kembali.
HNO3 pada percobaan ini berfungsi untuk mencegah terjadinya perak fofat
Terbentuknya endapan AgCl (endapan putih) menunjukkan adanya ion Cl yang berasal dari urine diikat oleh Ag+ dari AgNO 3. Penambahan amoniak
akan mengurangi endapan AgCl (Ganong, 2003).
AgCl + NH4OH

AgOH + NH4Cl

(Ganong,

2003)
Uji Fosfat dan Kalsium. Berdasarkan dari percobaan, endapan
yang telah ditambah dengan asam asetat haslnya menunjukkan warna
kuning

dengan tidak ada endapan. Setelah larutan dibagi dua, pada

tabung 1 ditambah amonium molibdat dan HNO 3 pekat lalu dipanaskan


maka warnanya menjadi kuning pekat dan terdapat endapan. Warna yang
keruh

pada

tabung

menandakan

adanya

endapan.

Endapan

ini

merupakan amonium fosfo molibdat. Sedangkan pada tabung 2 ditambah


kalium oksalat. Warna larutan akan menjadi putih keruh. Warna yang
keruh pada tabung menandakan adanya endapan kalsium oksalat.
Terbentuk endapan pada tabung 1 disebabkan warna kuning dari urine
dengan HNO3 pecah dan ada unsur fosfor yang terikat oleh amonium
molibdat menjadi amonium fosfo molibdat. Terbentuknya endapan pada
tabung 2 karena urine pecah bertemu dengan kalium oksalat, oksalat
mengikat kalsium yang ada pada urine sehingga menjadi kalsium oksalat
(Ganong, 2003).
Uji Sulfat. Uji sulfat dilakukan dengan mencampurkan antara urine,
HCl encer, dan BaCl2. Dari hasil percobaan terbentuk endapan putih.
Endapan putih ini adalah endapan BaSO 4. Hal ini menunjukkan adanya
kandungan SO4- di dalam urine. Jika urine direaksikan dengan HCl dan
BaCl2 maka sulfat yang terdapat di dalam urine akan dilepas oleh HCl dan

sulfat tersebut akan diikat oleh Ba sehingga membentuk endapan BaSO 4


(Ganong, 2003).
Keabnormalan Urine
Uji Benedict Terhadap Urine Abnormal. Setelah urine sapi PO
abnormal dicampurkan dengan larutan Benedict, larutan menjadi biru
kekuningan kemudian dididihkan namun tidak terbentuk endapan merah
bata. Hal ini menandakan bahwa uji Benedict terhadap urine abnormal
adalah negatif. Hal ini dikarenakan kurangnya pemanasan. Namun secara
teori,

Adanya gugus reduksi dari urine yang terikat dengan Cu 2+ dari

Benedict akan membentuk endapan merah bata (Cu 2O). Gugus reduksi
mampu mengubah ion Cu2+ menjadi ion Cu+ berupa endapan Cu2O yang
berwarna merah bata (Poedjiadi,1994).
Uji Heller. Uji ini dilakukan degan mencampurkan urine PO
abnormal dengan HNO3 pekat sehingga hasilnya terbentuk cincin yang
berwarna putih pada permukaan larutan. Hal ini menandakan bahwa di
dalam urine terkandung albumin (protein). Urine pecah kemudian
mengalami denaturasi oleh HNO3. Protein albumin jika terkena asam
pekat (HNO3) akan terjadi denaturasi protein di permukaan, tetapi jika
berlangsung lama, denaturasi akan berlangsung terus-menerus sampai
cincin putih menghilang (Ganong, 2003).
Uji Benzidin Terhadap Pigmen Darah. Uji Benzidin terhadap
pigmen darah dilakukan dengan mencampurkan Benzidin dengan H 2O2.
Ketika larutan tesebut ditambahkan dengan urine normal, warna larutan
menjadi putih bening, sedangkan jika ditambahkan urine abnormal, warna
larutan berubah menjadi kuning pekat. Saat ditambahkan urine normal,
warna larutan tidak berwarna biru karena pada urine normal tidak
mengandung pigmen darah. Warna biru pada penambahan urine
abnormal menandakan bahwa adanya pigmen darah. Urine akan terpecah
oleh H2O2. Jika terdapat Hb maka O2 akan diikat membentuk HbO2 dan
bereaksi dengan Benzidin sehingga akan membentuk warna biru
(Poedjiadi,1994).

Uji Gmelin Terhadap Pigmen Empedu. Pada tabung 1 dimana urin


normal ditambahkan HNO3 pekat, akan berwarna kuning bening. Pada
tabung 2 dimana urin abnormal, akan berwarna putih keruh. Hal ini
membuktikan Urine + HNO3membentuk warna hijau, biru, ungu, merah,
kuning kemerahan, sebab HNO3mengkondensasi pigmen empedu yang
terdapat dalam urine. Pigmen-pigmen empeduseperti bilirubin, biliverdin,
urobilin, atau urobilinogen.
Uji Hay Untuk Garam Kholat. Uji hay pada tabung 1 yang berisi
urine PO abnormal dihasilkan endapan belerang (belerang mengendap),
sedangkan pada tabung 2 yang berisi air tidak terdapat endapan belerang.
Belerang pada tabung 2 tetap berada di atas permukaan air. Pada tabung
3, urine normal dan serbuk belerang, serbuk tidak mengendap artinya
tidak terdapat garam kholat. Mengendapnya belerang di sini menandakan
bahwa di dalam urine abnormal terdapat garam kholat. Garam kholat
berfungsi

untuk

(Poedjiadi, 1994).

menurunkan

tegangan

permukaan

pada

larutan

Kesimpulan
Pengujian mengenai senyawa organik dihasilkan, pada uji
biuret terhadap ureum dihasilkan warna ungu. Uji enzimatik terjadi
hidrolisis urea. Pada uji Benedict terhadap garam urat menunjukkan hasil
positif.Pengujian Murexida terdapat murexida (amonium purparat) pada
asam urat. Uji pikrat terdapat kreatinin di dalam urine. Pengujian garam
amonium terdapat ammonium dalam urin.
Pengujian zat anorganik dihasilkan, pada uji khlorida terdapat
endapan putih (AgCl).Pada uji fosfat dan kalsium pada tabung 1
dihasilkan endapan kuning (amonium fosfo molibdat) dan pada tabung 2
dihasilkan endapan putih (kalsium oksalat). Pada uji sulfat dihasilkan
endapan BaSO4.
Pengujian keabnormalan urin, dihasilkan pada uji Benedict hasilnya
positif. Uji Heller ditandai dengan terbentuknya cincin putih .Uji Benzidin
terdapat pigmen darah.Uji Gmelin terdapat pigmen empedu.Pada uji hay
terbentuk endapan belerang Percobaan mengenai kualitas dalam urine ini
dilakukan pada dua sampel urine sapi yang berbeda, yakni sapi
Peranakan Friesian Holdstein (PFH) dan sapi Peranakan Ongole (PO).

Daftar Pustaka
Ganong.

2003.

Fisiologi

Kedokteran.

Gadjah

Mada

University.

Press:Yogyakarta.
K. Murray dan Robert, dkk. 2003.BiokimiaHarper.Buku Kedokteran EGC :
Jakarta.
Sloane,E.2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Buku Kedokteran
EGC : Jakarta.
Ophart,C.E.2003. Vitrual Chembook.Elmhurst College : Jakarta.
Pearce,E. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia
Pustaka Utama : Jakarta.
Hart,H.2003. Kimia Organik. Erlangga :Jakarta.
Carpette. 2005. An Introduction to Practical Biochemistry. Great Britany :
Mc Graw Hill Book Company.