Anda di halaman 1dari 6

Laporan Praktikum

Peralatan Industri Pertanian

Hari, tanggal : Rabu, 6 Mei 2015


Dosen
: Ir. Ade Iskandar, M.Si
Asisten
:
1. Delmar Zakaria Firdaus F34110093
2. Sendy Twin Sitoresmi F34110096
3. Ade Supriatna
F34110116

MIXING

Kelompok 2
Ajeng Nur Aulia
Elida Nurrohmah

F34130123
F34130130

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Proses pengolahan produk pertanian dalam suatu industri terdiri dari beberapa
tahap, diantaranya adalah proses pencampuran, pemotongan, pengeringan dan
proses-proses lainnya. Seiring dengan kemajuan teknologi saat ini, proses
pengolahan produk hasil pertanian seperti pengecilan ukuran, pemisahan,
pencampuran dan proses lainnya dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan
industri, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dalam hal tenaga kerja maupun biaya
produksi di industri.
Proses pengolahan di industri yakni pencampuran dan pemotongan. Proses
pencampuran adalah suatu proses yang penting dilakukan dalam industri. Mesin
pencampur ditemukan di hampir semua industri pengolahan pangan maupun non
pangan mulai dari pencampuran yang sederhana sampai pencampuran yang rumit.
Untuk mempermudah dalam proses pencampuran, diperlukan bahan dengan ukuran
yang lebih kecil, sehingga bahan perlu dipotong atau diiris. Alat yang digunakan
untuk memotong bahan dalam dunia industri, diantaranya adalah slicer. Mesin
pengiris (slicer) adalah suatu alat yang dirancang untuk mengiris bahan baku menjadi
berbentuk tipis sesuai dengan ukuran yang diinginkan yang biasa dikenal dengan
pengirisan (Suharto 1991).
Pencampuran diartikan sebagai suatu proses menghimpun dan membaurkan
bahan-bahan. Dalam hal ini diperlukan gaya mekanik untuk menggerakkan alat
pencampur supaya pencampuran dapat berlangsung dengan baik (Wiranatakusumah
1992). Peralatan pencampuran memiliki fungsi yang bermacam-macam. Penentuan
jenis dari alat pencampur tergantung pada jenis dan kapasitas bahan yang akan di
campurkan, kecepatan alat yang diinginkan serta kekentalan dari suatu bahan
tersebut. Oleh karena itu, perlu dipelajari berbagai macam peralatan pencampuran,
diantaranya adalah planetary mixer dan ribbon mixer. Sehingga dalam melakukan
proses pencampuran dapat menggunakan peralatan pencampuran yang sesuai dengan
karakteristik bahan yang akan diolah. Selain itu, penting juga untuk mempelajari
prinsip kerja silcer agar mempercepat proses pemotongan bahan sehingga efisensi
kerja lebih tinggi.
Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah mempelajari prinsip dan tujuan dari
pencampuran dan mengiris, alat yang digunakan untuk pencampuran dan mengiris,
prinsip kerjanya serta pengaplikasiannya di bidang industri.

PEMBAHASAN

Pencampuran diartikan sebagai suatu proses menghimpun dan membaurkan


bahan-bahan. Dalam hal ini diperlukan gaya mekanik untuk menggerakkan alat
pencampur supaya pencampuran dapat berlangsung dengan baik. Prinsip
pencampuran adalah pemberian gerakan tertentu sehingga menimbulkan reduksi
gerakan pada bahan, biasanya terjadi pada suatu tempat seperti bejana. Gerakan hasil
reduksi tersebut mempunyai pola sirkulasi. Akibat yang ditimbulkan dari operasi
pengadukan adalah terjadinya pencampuran (mixing) dari satu atau lebih komponen
yang teraduk (Wiranatakusumah 1992).
Ada beberapa tujuan yang ingin diperoleh dari komponen yang dicampurkan,
yaitu membuat suspensi, blending, dispersi dan mendorong terjadinya transfer panas
dari bahan ke dinding tangki jika pencampuran menggunakan pemanas. Blending
yaitu mengurangi ketidaksamaan atau ketidakrataan dalam komposisi, temperatur
atau sifat-sifat lain yang terdapat dalam suatu bahan atau terjadinya homogenisasi,
kesamaan dalam setiap titik dalam pencampuran. Dampak dari hasil pencampuran
adalah terjadinya keadaan serba sama, terjadinya reaksi kimia, terjadinya
perpindahan panas, dan perpindahan massa (Wiranatakusumah 1992).
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pencampuran dari segi alat
pencampur antara lain, perbandingan antara geometri tangki dengan geometri
pengaduk, bentuk dan jumlah pengaduk, posisi sumbu pengaduk, kecepatan putaran
pengaduk, dan penggunaan sekat dalam tangki pengaduk. Faktor lainnya yang juga
mempengaruhi proses pengadukan adalah aliran. Aliran yang turbulen dan laju alir
bahan yang tinggi akan membuat proses pencampuran berjalan lebih efektif.
Sebaliknya jika digunakan aliran yang laminer proses pencampuran kurang efektif
karena derajat pencampurannya rendah. Dari segi bahan yang diaduk, faktor yang
mempengaruhi adalah ukuran partikel. Semakin kecil ukuran partikel maka semakin
luas permukaan kontak bahan-bahan yang harus dicampur, yang berarti semakin
mudah gerakannya didalam campuran, maka proses pencampuran akan semakin
baik. Perbedaan ukuran yang besar dalam proses pencampuran akan menyulitkan
dalam terciptanya derajat pencampuran yang tinggi (Bhatt 2007)..
Kelarutan bahan yang diaduk juga menjadi salah satu faktor penting yang
mempengaruhi pengadukan dan pencampuran. Semakin besar kelarutan bahan-bahan
yang akan dicampur pada pencampuran, maka akan semakin baik pencampurannya.
Pada saat pelarutan terjadi, terjadi pula perstiwa difusi, laju difusi dipercepat oleh
adanya aliran. Kelarutan sebanding dengan kenaikan suhu, sehingga dapat dikatakan
bahwa dengan naiknya suhu, derajat pencampuran akan semakin baik pula. Faktor
lainnya yang mempengaruhi adalah viskositas dan densitas campuran, jenis bahan
yang dicampur, urutan pencampuran, suhu dan tekanan, serta bahan tambahan pada
pencampuran seperti emulgator (Bhatt 2007).
Berbagai macam alat pencampuran yang sering digunakan di industri antara
lain alat pencampur liquid, alat pencampur granula, dan alat untuk pencampuran
tepung kering atau padatan. Alat yang digunakan untuk pencampuran liquid, yakni

propeller mixer. Propeller mixer adalah jenis yang paling umum digunakan. Alat ini
terdiri dari tangki silinder yang dilengkapi dengan propeller beserta motor pemutar.
Bentuk propeller, impeller, blender didesain sedemikian rupa untuk efektivitas
pencampuran dan disesuaikan dengan viskositas bahan (Tousey 2002).
Alat yang digunakan pada pencampuran granula yakni ribbon blender dan
double cone mixer. Ribbon blender terdiri dari silinder horizontal yang didalamnya
dilengkapi dengan screw berputar. Double cone blender adalah alat pencampur yang
terdiri dari dua kerucut yang berputar pada porosnya. Alat untuk pencampuran
tepung yang biasa digunakana adalah jenis mixer dengan berbagai ukuran sesuai
kebutuhan. Mixer tidak memiliki reducer, walaupun demikian perputaran pengaduk
relatif lebih lambat dibanding alat pengaduk lainnya. Hasil akhir dari pencampuran
menggunakan alat tersebut adalah adonan tepung yang memiliki viskositas yang
lebih tinggi (Tousey 2002).
Praktikum kali ini diperkenalkan berbagai jenis mixing equipment,
diantaranta planetary mixer dan ribbon mixer. Planetary mixer yang diperkenalkan
pada praktikum ini yakni berkapasitas 20 kg. Planetary mixer ini bekerja
berdasarkan teori perputaran planet, dimana impeller berputar mengitari bowl,
dimana bowl tidak berputar. Sehingga menghasilkan adonan yang rata dan lembut.
Prinsip kerja alat ini adalah dengan berputarnya impeller untuk mencampur bahan,
sedangkan wadahnya tetap diam. Bahan-bahan yang akan dilakukan pencampurkan
dimasukkan ke wadah melalui celah lubang yang tersedia pada mesin tersebut.
Setelah itu mesin dapat dijalankan dengan menekan tombol on untuk memulai proses
pencampuran. Pengaduk yang digunakan beraneka ragam sesuai dengan jenis bahan
yang diolah. Terdapat tiga jenis pengaduk yakni spiral, beater dan whip. Spiral untuk
mengaduk adonan tepung dan jenis makanan yang sangat kental. Beater untuk
mengaduk makanan keju, adonan pastry dan croissant, aneka tepung dan mentega.
Whip untuk mengaduk bahan makanan encer, seperti cream, telur dan susu segar.
Mixer ini dilengkapi dengan reducer, reducer berfungsi untuk mengatur kecepatan
putaran pengaduk. Keberadaan reducer ini membuat kecepatan pengaduk menjadi
lebih lambat dibanding dengan tanpa reducer tetapi campuran yang dihasilkan
menjadi lebih halus dan lebih homogen (Lindley 1991).
Alat pengaduk kedua yang diperkenalkan yakni Ribbon mixer. Ribbon mixer
yang diperkenalkan pada praktikum ini yakni Ribbon mixer dengan kapasitas 100 kg
dan 15 kg. Ribbon mixer ini tidak dilengkapi dengan reducer. Mixer jenis ini
digunakan untuk bahan-bahan kering dan basah. Ribbon mixer kapasitas 15 kg
memiliki pengaduk yang berbentuk lempengan dengan beberapa bulatan berlubang
pada ujungnya. Bulatan berlubang ini bertujuan untuk memudahkan pengadukan saat
mengaduk bahan (Lindley 1991). Ribbon mixer merupakan salah satu alat pencampur
dalam sistem emulsi, sehingga menghasilkan suatu disperse atau adonan yang
seragam dan homogen. Prinisip kerja dari ribbon mixer yakni pengaduk yang
tersusun secara horizontal dengan proses pengadukan atau pencampuran bahan
terjadi secara vertical. Pengadukan itu sendiri memiliki fungsi untuk mengalirkan
bahan dalam alat pengaduk yang bergerak dan wadah yang diam. Pengaduk juga
berfungsi untuk mengaduk selama proses penampungan dan untuk menghindari
pengendapan. Proses pencampuran adonan dengan ribbon mixer bertujuan untuk
memperoleh adonan yang elastis dan menghasilkan pengembangan gluten yang
diinginkan. Alat ini digunakan untuk pencampuran bahan pasta dan bahan lain yang
memiliki derajat viskositas yang tinggi (Fellows 1988).

Mesin pencampuran memiliki aplikasi yang luas dalam bidang industri.


Banyak industri yang bergerak di bidang agroindustry, pertambangan mapupun
industri lainnya yang menggunakan mesin pengaduk dalam proses pembuatan
produk mereka. Contoh mesin pencampuran yang digunakan adalah jenis gas
cooking mixer atau double layer stove base yang biasa digunakan di industri
pembuatan dodol, selai, saus, atau jenang. Mesin pencampuran jenis ini dilengkapi
dengan kompor untuk memanaskan bahan yang sedang di aduk. Selanjutnya, jenis
mesin pengaduk double rotary mixer termasuk alat yang paling sering digunakan
dalam industri mie dan roti. Selain itu terdapat juga ribbon mixer yang biasa
digunakan di industri makanan ringan atau minuman cepat saji (Manjunath 2004).
Praktium kali ini juga mempelajari mesin pengiris atau slicer. Mesin pengiris
(slicer) adalah suatu alat yang dirancang untuk mengiris bahan baku menjadi
berbentuk tipis sesuai dengan ukuran yang diinginkan yang biasa dikenal dengan
pengirisan. Slicer bekerja dengan prinsip mesin yang digerakkan oleh motor listrik,
pada poros motor dipasang pulley driver, dan poros utama dipasang pulley driven,
pulley dihubungkan dengan sabuk V belt sehingga bila motor dihidupkan maka
pulley driver akan berputar dan akan memutar pula pulley driven. Karena kedua
pulley terpasang pada poros motor, maka poros utama juga akan ikut berputar,
dimana pada poros utama terpasang piringan berputar mata pisau. Sehingga piringan
tersebut akan menyayat bahan yang ada ditabung pemasukan dan hasil sayatan jatuh
ke bak penadah (Suharto 1991).
Mengiris dan memotong merupakan pekerjaan yang sering dilakukan dalam
penanganan pasca panen produk pertanian. Dalam skala kecil, pekerjaan tersebut
dapat dilakukan secara manual dengan pisau atau alat pemotong sederhana lain.
Permasalahan akan muncul jika produk yang akan diiris atau dipotong tersedia dalam
jumlah banyak. Untuk keperluan ini, mesin pemotong dan pengiris berkapasitas
tinggi tentu sangat dibutuhkan. Fungsi slicer pada bidang industri, terutama dalam
industri makanan yakni memotong dan mengiris bahan dengan kapasitas tinggi dan
dengan ketebalan yang dapat ditentukan, sehingga lebih efisien dalam hal waktu dan
tenaga kerja (Suharto 1991).

PENUTUP

Simpulan
Proses pengolahan di industri diantaranya adalah pencampuran dan
pemotongan. Proses pencampuran dan pemotomgan adalah suatu proses yang
penting dilakukan dalam industri. Prinsip pencampuran adalah pemberian gerakan
tertentu sehingga menimbulkan reduksi gerakan pada bahan, sehingga akan
terjadinya pencampuran (mixing) dari satu atau lebih komponen yang tertentu.
Tujuan dari pencampuran adalah membuat suspensi, blending, dispersi dan
mendorong terjadinya transfer panas dari bahan ke dinding tangki jika pencampuran
menggunakan pemanas.

Berbagai macam alat pencampuran yang sering digunakan di industri antara


lain alat pencampur liquid, granula, dan tepung kering atau padatan. Alat yang
digunakan untuk pencampuran liquid, yakni propeller mixer. Alat yang digunakan
pada pencampuran granula yakni ribbon blender dan double cone mixer. Alat untuk
pencampuran tepung yang biasa digunakana adalah jenis mixer dengan berbagai
ukuran sesuai kebutuhan. Mesin pencampuran memiliki aplikasi yang luas dalam
bidang industri, diantaranya adalah industri selai, saus, mie, roti, makanan ringan
serta minuman cepat saji.
Mesin pengiris (slicer) merupakan alat yang digunakan untuk mengiris atau
momotong bahan baku menjadi berbentuk tipis sesuai dengan ukuran yang
diinginkan yang biasa dikenal dengan pengirisan. Slicer bekerja dengan prinsip
mesin yang digerakkan oleh motor listrik dengan poros motor dipasang pulley driver
yang terpasang piringan berputar mata pisau. Sehingga piringan tersebut akan
mengiris bahan.Fungsi slicer pada bidang industri, terutama dalam industri makanan
yakni memotong dan mengiris bahan dengan kapasitas tinggi dan dengan ketebalan
yang dapat ditentukan, sehingga lebih efisien dalam hal waktu dan tenaga kerja.

Saran

Agar praktikum dapat berjalan lebih baik, sebaiknya prinsip dijelaskan


dengan mempraktekkan alat pencampuran dan pemotongan yang tersedia dengan
mengolah bahan, sehingga praktikan lebih paham. Selain itu, kebersihan alat juga
harus dperhatikan.

DAFTAR PUSTAKA
Bhatt. 2007. Pharmaceutical Engineering Mixing. New Delhi (IND): Institute of
Pharmaceutical Science and Research Sector 3 Pushp Vihar.
Fellows PJ. 1988. Food Processing Technology Principles and Practice. Ellis
Horwood Limited. England.
Lindley. 1991. Mixing Processes for Agricultural Food Material. New York (USA):
Harper and Row Publisher.
Manjunath. 2004. Mixing if Particulate Solids in the Process Industries. New Jersey
(USA): John Wiley Inc.
Suharto. 1991. Teknologi Pangan. Jakarta(ID) : Sastra Hudaya.
Tousey. 2002. The Granulation Process 101. New Jersey (USA): John Wiley Inc.
Wiranatakusumah. 1992. Petunjuk Peralatan dan Unit Proses Industri Pangan.
Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor Press.