Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

FARMAKOGNOSI 1
PENETAPAN INDEKS PEMBUSAAN

Kelompok C2
Iin Indrayani

(10060308085)

Reni

(100603081..)

Era Sri Agustin

(100603081..)

Nurul Rafiqua

(10060308102)

Vino..

(100603090..)

Hari/Tanggal praktikum

: Senin/ 11 Oktober 2010

Hari/Tanggal laporan

: Senin/ 18 Oktober 2010

Asisten

LABORATORIUM TERPADU FARMASI UNIT B


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2010

PERCOBAAN 1
PENETAPAN INDEKS PEMBUSAAN

I. Tujuan
Dapat memahami cara penetapan indeks pembusaan simplisia
Praktikan dapat mengetahui manfaat dari penetapan indeks pembusaan
II.

Teori dasar
Dalam praktikum kali ini, praktikan melakukan pengamatan dan penentuan terhadap

indeks pembusaan suatu simplisia. Praktikan mendapatkan sample simplisia berupa daun kumis
kucing yang mengandung saponin yang akan ditentukan berapa indeks pembusaannya.

Gambar.1 Kumis Kucing


Klasifikasi
Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae


Kelas

: Dicotyledonae

Keluarga

: Lamiaceae

Genus

: Orthosiphon

Spesies

: Orthosiphon spp. (Anonym, 1989)

Habitat

: Tumbuh liar diladang, di tepi sungai dan di tempat-tempat yang

tanahnya agak lembab sampai ketinggian 700 m dpl, ada juga yang
ditanam sebagai tanaman hias. .(Anonym, 1989)

Bagian tanaman yang digunakan:


Seluruh bagian tumbuhan .(Anonym, 1989)
Kandungan kimia:
Genkosid orthosifonin; Zat lemak; Minyak atsiri; Minyak lemak; Saponin; Sapofonin;
Garam kalium . .(Anonym, 1989)
Manfaat tanaman:
Daun kumis kucing basah maupun kering digunakan sebagai bahan obatobatan.Di
Indonesia daun yang kering dipakai (simplisia) sebagai obat yang memperlancar
pengeluaran air kemih (diuretik) sedangkan di India untuk mengobati rematik.
Masyarakat menggunakan kumis kucing sebagai obat tradisional sebagai upaya
penyembuhan batuk encok, masuk angin dan sembelit. Disamping itu daun tanaman ini
juga bermanfaat untu pengobatan radang ginjal, batu ginjal, kencing manis, albuminuria,
dan penyakit syphilis.(Anonym, 1989)
Dalam praktikum ini, indeks pembusaan ditentukan dengan adanya zat saponin pada
tumbuhan,

Gambar.2 Saponin
Saponin berasal dari kata Latin 'sapo', yang berarti tanaman yang terdiri dari buih bila
diencerkan dalam larutan air. Saponin terdiri aglikon polisiklik. Sapogenin atau bagian aglikon

adalah salah satu triterpen atau steroid. Beberapa saponin yang beracun dikenal sebagai
sapotoxin. (Marston, 1995)
Saponin pada dasarnya adalah bahan kimia yang ditemukan di sebagian besar tanaman
dan rempah-rempah. Sumber-sumber saponin yang paling terkenal adalah kacang kedelai,
kacang polong , dan beberapa herbal dengan nama-nama yang menunjukkan sifat berbusa seperti
soapworth , soapberry, soapbark dan akar sabun. (Marston,1995)
Saponin ada pada seluruh tanaman dengan konsentrasi tinggi pada bagian-bagian
tertentu, dan dipengaruhi oleh varietas tanaman dan tahap pertumbuhan. Fungsi dalam tumbuhtumbuhan tidak diketahui, mungkin sebagai bentuk penyimpanan karbohidrat, atau merupakan
waste product dari metabolisme tumbuh-tumbuhan. Kemungkinan lain adalah sebagai pelindung
terhadap serangan serangga. (Nio, 1989)
Sifat-sifat Saponin adalah:
1
2

Mempunyai rasa pahit


Dalam larutan air membentuk busa yang stabil
3
Menghemolisa eritrosit
4 Merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi
5 Membentuk persenyawaan dengan kolesterol dan hidroksisteroid lainnya
6 Sulit untuk dimurnikan dan diidentifikasi
7
Berat molekul relatif tinggi, dan analisis hanya menghasilkan formula empiris yang
mendekati Toksisitasnya mungkin karena dapat merendahkan tegangan
8

permukaan

(surface tension).
Dengan hidrolisa lengkap akan dihasilkan sapogenin (aglikon) dan karbohidrat (hexose,
pentose dan saccharic acid). (Nio, 1989)
Berdasarkan atas sifat kimiawinya, saponin dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu :

1
Steroids dengan 27 C atom.
Triterpenoids, dengan 30 C atom. (Nio, 1989)
Macam-macam saponin berbeda sekali komposisi kimiawinya, yaitu berbeda pada
aglikon (sapogenin) dan juga karbohidratnya, sehingga tumbuh-tumbuhan tertentu dapat
mempunyai macam-macam saponin yang berlainan, seperti:
Quillage saponin : campuran dari 3 atau 4 saponin
Alfalfa saponin : campuran dari paling sedikit 5 saponin

Soy bean saponin : terdiri dari 5 fraksi yang berbeda dalam sapogenin, atau karbohidratnya, atau
dalam kedua-duanya. (Nio, 1989)
Kematian pada ikan, mungkin disebabkan oleh gangguan pernafasan. Ikan yang mati
karena racun saponin, tidak toksik untuk manusia bila dimakan. Tidak toksiknya untuk manusia
dapat diketahui dari minuman seperti bir yang busanya disebabkan oleh saponin. Contoh
glikosida lain adalah tioglikosida dan bensiltioglikosida. Bila dihidrolisa dengan enzim
menghasilkan tiosianat, isotiosianat dan bensilsianat yang merupakan racun dan mempunyai sifat
antitiroid. (Nio, 1989)
Pada tumbuhan, saponin dapat berfungsi untuk melindungi tanaman terhadap mikroba
dan jamur Pada Beberapa tanaman (misalnya dari gandum dan bayam) saponin dapat
meningkatkan penyerapan gizi dan membantu pencernaan hewan. Namun toksisitas saponin,
dapat mengancam kehidupan sebagian hewan. Beberapa penelitian menjelaskan bahwa beberapa
saponin memang beracun

bagi organisme berdarah dingin dan serangga pada konsentrasi

tertentu. (Foerster, 2006)


Sapotoxin menyebabkan gangguan perut yang parah dan toksistasnya timbul karena
terbentuknya suatu senyawa saat bereaksi dengan lesitin yang merupakan komponen utama dari
sebagian besar lemak pada hewan. Hal ini dapat memacu timbulnya gangguan saraf pusat
jantung.

III.

Alat dan Bahan


Alat :
1. Timbangan analitis
2. Baker glass 500 ml
3. Pemanas
4. Labu takar 100 ml
5. Pipet ukur 10 ml
6. Stopwatch

7. corong
8. penggaris
9. Tabung reaksi bertutup
10. Kertas saring

Bahan :
1. Simplisia (kelompok praktikan mendapatkan simplisia Orthosiphonis folium)
2. Aquadest
IV.

Prosedur

Orthosiphonis folium dihaluskan sampai menjadi serbuk kasar (digunakan ayakan


no.1250) lalu ditimbang dengan tepat sebanyak 2 gr. Serbuk kasar tersebut dimasukkan ke dalam
beaker glass 500 ml yang berisi 100ml aquadest mendidih, lalu dibiarkan selama 30 menit.
Dinginkan dan disaring ke dalam labu takar 100 ml. aquadest ditambahkan melalui kertas saring
untuk menggenapkan volume.
Dibuat satu seri pengenceran dalam tabung reaksi bertutup sebagai berikut
:
No.tabung
1
Rebusan simplisia 1

2
2

3
3

4
4

5
5

6
6

7
7

8
8

9
9

10
10

(ml)
aquadest

Rebusan simplisia tersebut dibagi dua menjadi 50 ml dan 50 ml, untuk selanjutnya
dilakukan pengenceran pada 50 ml pertama dan 50 ml yang kedua dijadikan sebagai larutan
stock yang tidak dilakukan pengenceran.
Setelah dibuat satu seri pengenceran dengan ukuran seperti yang di dalam table, tabung
reaksi ditutup dan dikocok kea rah memanjang selama 15 detik dengan frekuensi 2 kocokan per
detik. Lalu dibiarkan selama 15 menit hingga busa dapat diukur.
Pengukuran hasil dapat dinilai dengan cara :
a. Jika tinggi busa pada setiap tabung kurang dari 1 cm, maka indeks pembusaan biasanya
kurang dari 50.
b. Jika tinggi busa 1 cm terdapat pada suatu tabung, maka volume dekokta (rebusan)
simplisia dalam tabung tersebut digunakan untuk ditentukannya indeks (sebagai a), akan
tetapi jika tabung ini merupakan tabung pertama atau kedua dari suatu seri, maka harus
dilakukan pengenceran yang lebih rinci sehingga didapatkan hasil yang akurat.
c. Jika tinggi busa pada setiap tabung lebih dari 1 cm, maka indeks busanya lebih dari 1000.
Dalam hal ini pengujian diulangi dengan menggunakan rangkaian seri baru dari dekokta
untuk mendapatkan hasil.
Indeks pembusaan dihitung dengan rumus:

1000
a
a = volume (ml) dekokta yang digunakan untuk membuat larutan dalam tabung yang
busanya setinggi 1 cm pada saat diamati.

V.

Data pengamatan dan Perhitungan


Praktikan melakukan pengamatan pada simplisia Orthosiphonis folium, tetapi sebagai

pembanding, dilakukan juga pengamatan terhadap hasil-hasil dari pengamatan kelompok


lainnya.
Kelompok 1
Nama Simplisia

: Daun Binahong

Nama Latin Simplisia

Nama Latin Tumbuhan

: Andredera cordifolia (ren) steenis

Tabel 1.1 Pembusaan Daun Binahong


No. Tabung
Tinggi busa (cm)

1
2
3
4
5
6
1< 1< 1< 1< 1< 1<

7
8
9
10
1< 1< 1< 1<

Data tersebut didapat dari pengenceran 100 ml. hasil dari semua tabung menunjukkan
tinggi busa yang kurang dari 1 cm. sehingga dilakukan perlakuan ulang dengan pemekatan pada
tabung 8, 9 dan 10. Menggunakan dekokta simplisia yang tidak mengalami pengenceran. Dengan
kadar binahong 1 gr/ 50 ml. maka didapat hasil sebagai berikut:
No. Tabung
Tinggi busa (cm)

8
0,5

9
0,7

10
0,9

Indeks busa = < 50.


Setelah dilakukan pemekatan, tinggi busa masih menunjukan hasil kurang dari 1 cm.
sehingga dapat disimpulkan nilai indeks pembusaan berada di bawah nilai 50. Karena tinggi busa

masih dibawah 1 cm, sehingga tidak dapat dilakukan perhitungan. Nilai indeks pembusaan daun
binahong < 50.

Kelompok 2
Nama Simplisia

: Daun Kumis Kucing

Nama Latin Simplisia

: Orthosiphonis Folium

Nama Latin Tumbuhan

: Orthosiphon aristatus

Tabel 1.2 Pembusaan Daun Kumis Kucing


No. Tabung
Tinggi busa (cm)

1
-

2
-

3
-

4
-

5
-

6
-

7
0,2

8
0,2

9
0,3

10
0,3

Data tersebut didapat dari pengenceran 100 ml. hasil dari semua tabung menunjukkan
tinggi busa yang kurang dari 1 cm. sehingga dilakukan perlakuan ulang dengan pemekatan pada
tabung 9 dan 10 (tabung yang mulai memperlihatkan busa pada percobaan pertama).
Menggunakan dekokta simplisia yang tidak mengalami pengenceran. Dengan kadar daun kumis
kucing 1 gr/ 50 ml. maka didapat hasil sebagai berikut:
No. Tabung
Tinggi busa (cm)

9
0,6

10
0,7

Indeks busa = < 50


Setelah dilakukan pemekatan, tinggi busa masih menunjukan hasil kurang dari 1 cm.
sehingga dapat disimpulkan nilai indeks pembusaan berada di bawah nilai 50. Karena tinggi busa
masih dibawah 1 cm, sehingga tidak dapat dilakukan perhitungan. Nilai indeks pembusaan daun
kumis kucing < 50.

Kelompok 3
Nama Simplisia

: Daun Kumis Kucing

Nama Latin Simplisia

: Orthosiphonis Folium

Nama Latin Tumbuhan

: Orthosiphon aristatus

Tabel 1.1 Pembusaan Kumis Kucing


No. Tabung
Tinggi busa

1
-

2
-

3
0,2

4
0,2

5
0,2

(cm)

6
0,2

7
0,3

8
0,3

9
10
0,3 0,35

Data tersebut didapat dari pengenceran 100 ml. hasil dari semua tabung menunjukkan
tinggi busa yang kurang dari 1 cm. sehingga dilakukan perlakuan ulang dengan pemekatan pada
tabung 10. Menggunakan dekokta simplisia yang tidak mengalami pengenceran. Dengan kadar
daun kumis kucing 1 gr/ 50 ml. maka didapat hasil sebagai berikut:
No. Tabung
Tinggi busa (cm)

10
0,45

Indeks busa = < 50


Setelah dilakukan pemekatan, tinggi busa masih menunjukan hasil kurang dari 1 cm.
sehingga dapat disimpulkan nilai indeks pembusaan berada di bawah nilai 50. Karena tinggi busa
masih dibawah 1 cm, sehingga tidak dapat dilakukan perhitungan. Nilai indeks pembusaan daun
kumis kucing < 50.

Kelompok 4
Nama Simplisia

: Daun Saga

Nama Latin Simplisia

: Abri Folium

Nama Latin Tumbuhan

: Abrus precatorius

Tabel 1.4 Pembusaan Daun Saga


No. Tabung
Tinggi busa

1
-

2
-

3
0,2

4
0,1

5
0,2

6
0,3

7
0,4

8
0,4

9
0,3

10
-

(cm)
Data tersebut didapat dari pengenceran 100 ml. hasil dari semua tabung menunjukkan
tinggi busa yang kurang dari 1 cm. sehingga dilakukan perlakuan ulang dengan pemekatan pada
tabung 8, 9 dan 10. Menggunakan dekokta simplisia yang tidak mengalami pengenceran. Dengan
kadar daun saga 1 gr/ 50 ml. maka didapat hasil sebagai berikut:
No. Tabung
Tinggi busa (cm)

8
0,4

9
0,5

10
1

Indeks busa = 50
Setelah dilakukan pemekatan, pada tabung 10 didapat busa setinggi 1 cm. sehingga dapat
dilakukan perhitungan sebagai berikut :
1000

= 1000

2a

2.10
= 50.

Dengan didapat tinggi busa sebesar 1 cm pada tabung 10. sehingga dapat dilakukan
perhitungan dengan nilai indeks pembusaan daun saga sebesar 50.

Kelompok 5
Nama Simplisia

: Daun Belimbing

Nama Latin Simplisia

: Carambalae folium

Nama Latin Tumbuhan

: Averrhon caramboia L

Tabel 1.5 Pembusaan Daun Belimbing


No. Tabung
Tinggi busa
(cm)

1
-

2
-

3
-

4
-

5
-

6
-

7
-

8
-

9
0,1

10
0,2

Data tersebut didapat dari pengenceran 100 ml. hasil dari semua tabung menunjukkan
tinggi busa yang kurang dari 1 cm. sehingga dilakukan perlakuan ulang dengan pemekatan
dimulai dari tabung 4. Menggunakan dekokta simplisia yang tidak mengalami pengenceran.
Dengan kadar daun kumis kucing 1 gr/ 50 ml. maka didapat hasil sebagai berikut:
No. Tabung
Tinggi busa (cm)

4
0,

5
0,3

6
0,3

7
0,

8
0,2

9
0,

10
0,

Setelah dilakukan pemekatan, tinggi busa masih menunjukan hasil kurang dari 1 cm.
sehingga dapat disimpulkan nilai indeks pembusaan berada di bawah nilai 50. Karena tinggi busa
masih dibawah 1 cm, sehingga tidak dapat dilakukan perhitungan. Nilai indeks pembusaan daun
belimbing < 50.

Kelompok 6
Nama Simplisia

: Daun Ki Sabun

Nama Latin Simplisia

: Fillicii Folium

Nama Latin Tumbuhan

: Fillicum decipions

Tabel 1.6 Pembusaan Daun Ki Sabun


No. Tabung
Tinggi busa

1
1,5

2
1,5

3
1,6

4
1,7

5
1,7

6
1,5

7
1,8

8
2,0

9
1,5

10
2,1

(cm)
Data tersebut didapat dari pengenceran 100 ml. hasil dari semua tabung menunjukkan
tinggi busa yang lebih dari 1 cm. tetapi jika terdapat tinggi busa yang lebih dari 1 cm pada
tabung 1 dan 2 maka dilakukan perlakuan ulang dengan pengenceran. Menggunakan dekokta
simplisia sebanyak 25 ml dan di ad 100 ml aquadest. Sehingga didapat hasil sebagai berikut:

No. Tabung
1
2
3
Tinggi busa (cm) 1
Setelah dilakukan pengenceran, pada tabung 3 didapat busa setinggi 1 cm. sehingga dapat
dilakukan perhitungan sebagai berikut :
1000

= 1000

.3
= 666,67

Dengan didapat tinggi busa sebesar 1 cm pada tabung 3. sehingga dapat dilakukan
perhitungan dengan nilai indeks pembusaan daun ki sabun sebesar 666,67.
Kelompok Asisten
Nama Simplisia

: lerak

Nama Latin Simplisia

Nama Latin Tumbuhan

: Sapindus mukorrosi

Setelah dilakukan pengenceran menghasilkan data sebagai berikut :


a = 0,3
jadi indeks busa lerak = 2000
0,3
= 6666,67.
VI. Pembahasan
Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan pengamatan terhadap indeks penyabunan
simplisia beberapa simplisia. Kelompok praktikan khususnya mengamati daun kumis kucing.
Pada proses pertama bahan simplisia sebelumnya dihaluskan terlebih dahullu untuk memperluas
permukaan sehingga memudahkan proses pemanasan.

Setelah dilakukan serangkaian perlakuan, dari data pengamatan didapat hasil bahwa
simplisia- simplisia yang diamati memiliki indeks pembusaan yang beragam. Indeks yang paling
besar terdapat pada lerak yaitu 6666,67. Sedangkan yang paling rendah (kurang dari 50) adalah
daun binahong, daun kumis kucing dan daun belimbing dan yang memiliki indeks diatas 50
adalah daun saga dan ki sabun. Dari data di atas terbukti bahwa saponin memang terdapat dalam
beberapa tumbuhan, dengan kadar yang berbeda-beda.
Pada daun kumis kucing, yang memang memiliki saponin sebagai salah satu kandungan
kimianya, terbukti dengan munculnya busa pada dekokta setelah dikocok dan didiamkan.
(anonym, 1989)
Hanya saja, tinggi busa kurang dari 1 cm sehingga tidak dapat dilakukan perhitungan,
karena salah satu syarat dalam penghitungan indeks pembusaan adalah tinggi busa tidak kurang
dari 1 cm. sehingga tidak didapat hasil kuantitatifnya, tetapi dapat disimpulkan dari penelitianpenelitian sebelumnya bahwa untuk dekokta dengan tinggi kurang dari 1 cm memiliki nilai
indeks pembusaan kurang dari 50 (volume pemekatan terakhir).
Nilai indeks pembusaan tersebut dapat mengindikasikan aman tidaknya suatu tanaman
untuk dijadikan sediaan obat. Walau dapat melindungi tanaman terhadap mikroba dan jamur
Pada Beberapa tanaman (misalnya dari gandum dan bayam) juga dapat meningkatkan
penyerapan gizi dan membantu pencernaan hewan. Namun pada konsentrasi tinggi seperti yang
terdapat dalam lerak, ki sabun atau daun saga saponin memiliki efek toksin yang dapat
mengancam kehidupan sebagian hewan (terutama hewan berdarah dingin). (Foerster,2006)
Untuk manusia, saponin juga tidak bersifat toksik selama konsentrasinya tidak tinggi,
dapat diketahui dari minuman seperti bir yang busanya disebabkan oleh saponin. Tetapi bila
dijadikan sediaan obat, saponin yang merupakan glikosida yang bila dihidrolisa dengan enzim
menghasilkan tiosianat, isotiosianat dan bensilsianat yang merupakan racun dan mempunyai sifat
antitiroid. (nio, 1989)
Sehingga dapat pula disimpulkan tanaman-tanaman yang memiliki indeks pembusaan
yang kecil, seperti daun binahong, kumis kucing dan belimbing dapat dijadikan sediaan obat dan
dapat menghindarkan efek dari Sapotoxin yang menyebabkan gangguan perut yang parah ,
merusak sel darah merah atau timbulnya gangguan saraf pusat jantung.

VII. Kesimpulan
Simplisia-simplisia yang memiliki indeks pembusaan diatas 50 adalah:
Lerak
= 6666,67
Ki sabun
= 666,67
Daun saga
= 50
Simplisia-simplisia yang memiliki indeks pembusaan kurang dari 50 adalah:
Daun binahong, daun kumis kucing dan daun belimbing.
Kurangnya tinggi busa dari 1 cm, maka tidak memenuhi syarat penentuan indeks
pembusaan sehingga tidak dilakukan pembusaan, dan disimpulkan nilai indeks
pembusaan kurang dari 50.
Meskipun memiliki indeks pembusaan kurang dari 50, daun binahong, kumis kucing dan
daun belimbing terbukti mengandung saponin, terlihat dari busa yang muncul setelah
perlakuan.
Nilai indeks pembusaan tersebut dapat mengindikasikan aman tidaknya suatu tanaman
untuk dijadikan sediaan obat.
Pada konsentrasi tinggi seperti yang terdapat dalam lerak, ki sabun atau daun saga
saponin memiliki efek toksin yang dapat mengancam kehidupan sebagian hewan
(terutama hewan berdarah dingin). Sehingga tidak baik untuk dijadikan sediaan obat.
tanaman-tanaman yang memiliki indeks pembusaan yang kecil, seperti daun binahong,
kumis kucing dan belimbing dapat dijadikan sediaan obat dan dapat menghindarkan efek
Sapotoxin
VIII. Daftar pustaka
Nio, Oey Kam dra.1989.Zat-zat Toksik yang Secara Alamiah Ada pada Bahan Makanan
Nabati dalam majalah Cermin Dunia Kedokteran No. 58 1989 2.
Anonimous.1989.Vademekum Bahan Obat Alam Hal 411.Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.Jakarta.
Hostettmann, K.; A. Marston.1995.Saponins. Cambridge: Cambridge University Press.
Foerster, Hartmut 2006). "MetaCyc Pathway: saponin biosynthesis I". diakses dari
http://BioCyc.org/META/NEW-IMAGE?type=PATHWAY&object=PWY-5203&detail-level=3.
Pada 16 oktober 2010