Anda di halaman 1dari 5

Salah Kaprah Pemahaman Surat Rujukan Dalam Pelayanan JKN

Dalam berbagai diskusi dan perdebatan di forum-forum BPJS Kesehatan, kerap kali muncul
kalimat rujukan berlaku 30 hari ada juga yang berpendapat bahwa rujukan hanya berlaku
2 minggu dan lain-lain informasi yang cukup berbeda-beda dan meimbulkan kebingungan di
antara para petugas pemberi layanan kesehatan maupun di kalangan masyarakat yang
mengeluh mendapat intruksi dan informasi yang berbeda-beda.
Benarkah terdapat ketentuan secara eksplisit yang mengatur umur surat rujukan tersebut ?.
Saya mulai menelusuri berbagai peraturan perundangan-undangan terkait pelayanan JKN ini
dari mulai PMK Nomor 71/2013 tentang Pelayanan Kesehatan pada JKN, PMK Nomor
28/2014 tentang Pedoman Pelaksanaan (Manlak) Program JKN, SE Menkes Nomor 32/2014
tentang Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan bagi Peserta BPJSK di FKTP dan FKRTL,
Peraturan BPJS Nomor 01/2014 tentang Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan, SE Direkur
Pelayanan BPJS Nomor 38/2014 tentang Juknis SE Menkes Nomor 32/2014 serta Buku
Panduan Praktis Sistem Rujukan Berjenjang.
Namun sayangnya, saya tidak menemukan ketentuan tentang batasan waktu ataupun umur
surat rujukan secara eksplisit di dalam aturan-aturan yang saya pelajari di atas. Tidak juga
terdapat kalimat atau kata-kata 30 hari ataupun 2 minggu. Lalu kenapa bisa muncul
informasi tersebut ? Pemberi informasi tersebut mengacu kepada aturan yang mana ?
Tingkatan Pelayanan Kesehatan di Indonesia
Pelayanan kesehatan perorangan di Indonesia terdiri dari 3 (tiga) tingkatan yaitu :
a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama;
b. Pelayanan kesehatan tingkat kedua; dan
c. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga.
Pelayanan kesehatan tingkat pertama merupakan pelayanan kesehatan DASAR yang
diberikan oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama. Pelayanan kesehatan tingkat kedua
merupakan pelayanan kesehatan SPESIALISTIK yang dilakukan oleh dokter spesialis atau
dokter gigi spesialis yang menggunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan spesialistik.
Pelayanan kesehatan tingkat ketiga merupakan pelayanan kesehatan SUB SPESIALISTIK
yang dilakukan oleh dokter sub spesialis atau dokter gigi sub spesialis yang menggunakan
pengetahuan dan teknologi kesehatan sub spesialistik.
Implementasi di lapangan terkait dengan program JKN ini adalah Puskesmas, Klinik
Pratama, Praktik Dokter, Praktik Dokter Gigi, Klinik Pratama atau yang setara dan RS Kelas
D Pratama atau yang setara adalah termasuk dalam Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama
atau FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama). Sementara Klinik Utama, Rumah Sakit
Umum dan Rumah Sakit Khusus termasuk dalam Pelayanan Kesehatan Tingkat Kedua dan
Ketiga atau FKRTL (Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut).
Berdasarkan klasifikasi rumah sakit, maka RS Umum/Khusus kelas C dan B dapat
dikatagorikan sebagai Pelayanan Kesehatan Tingkat Kedua (Sekunder) dan RS

Umum/Khusus Kelas A atau RS Umum/Khusus Kelas B yang menjadi pusat pendidikan


kedokteran dapat dikatagorikan sebagai Pelayanan Kesehatan Tingkat Ketiga (tersier).
Definisi Rujukan
Sistem Rujukan adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas
dan tanggung jawab pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun horizontal
(PMK 71/2013 Psl 1 Butir 13). Pelayanan rujukan dapat dilakukan secara HORIZONTAL
maupun VERTIKAL.
Rujukan horizontal adalah rujukan yang dilakukan antar pelayanan kesehatan dalam satu
tingkatan apabila perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan
kebutuhan pasien karena keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atau ketenagaan yang sifatnya
sementara atau menetap.
Rujukan vertikal adalah rujukan yang dilakukan antar pelayanan kesehatan yang berbeda
tingkatan, dapat dilakukan dari tingkat pelayanan yang lebih rendah ke tingkat pelayanan
yang lebih tinggi atau sebaliknya. Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih
rendah ke tingkatan pelayanan yang lebih tinggi dilakukan apabila :
a. pasien membutuhkan pelayanan kesehatan spesialistik atau subspesialistik;
b. perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien
karena keterbatasan fasilitas, peralatan dan/ atau ketenagaan.

Ketentuan Sistem Rujukan Berjenjang


Dalam PMK Nomor 71 Tahun 2013 diatur ketentuan tentang Sistem Rujukan sebagaimana
berikut ini :
a. Pelayanan kesehatan tingkat kedua hanya dapat diberikan atas rujukan dari Pelayanan
Kesehatan Tingkat Pertama (PMK 71/2013 Psl 15 Ayat 2).
b. Apabila sesuai dengan indikasi medis Peserta memerlukan pelayanan kesehatan rujukan
tingkat lanjutan, Peserta WAJIB membawa SURAT RUJUKAN dari Puskesmas atau
Fasilitas Kesehatan tingkat pertama lain yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, kecuali
dalam keadaan gawat darurat, bencana, kekhususan permasalahan kesehatan pasien, dan
pertimbangan geografis (Lampiran PMK 71/2013 Romawi A angka 6).
c. Pelayanan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan merupakan kelanjutan dari pelayanan tingkat
pertama yang berdasarkan surat rujukan dari Fasilitas Kesehatan tingkat pertama kecuali
dalam kondisi tertentu sehingga Peserta tidak perlu membawa surat rujukan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku (Lampiran PMK 71/2013 Romawi C angka 1a).
d. Dokter di Fasilitas Kesehatan penerima rujukan berkewajiban memberikan jawaban surat
rujukan kepada dokter yang merujuk disertai jawaban dan tindak lanjut yang harus
dilakukan jika secara medis Peserta sudah dapat dilayani di Fasilitas Kesehatan yang merujuk
(Lampiran PMK 71/2013 Romawi C angka 1b.2).

Sementara dalam PMK Nomor 28 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan (Manlak)
Program JKN menerangkan secara lebih rinci terkait dengan sistem rujukan berjenjang ini
dengan disertai alur pelayanan pasien ke FKRTL sebagai berikut :
a. Peserta datang ke Rumah Sakit dengan menunjukkan nomor identitas peserta JKN dan
surat rujukan, kecuali kasus emergency, tanpa surat rujukan .
b. Peserta menerima Surat Eligibilitas Peserta (SEP) untuk mendapatkan pelayanan.
c. Peserta dapat memperoleh pelayanan rawat jalan dan atau rawat inap sesuai dengan
indikasi medis.
d. Apabila dokter spesialis/subspesialis memberikan surat keterangan bahwa pasien masih
memerlukan perawatan di FKRTL tersebut, maka untuk kunjungan berikutnya pasien
LANGSUNG DATANG ke FKRTL (tanpa harus ke FKTP terlebih dahulu) dengan
membawa surat keterangan dari dokter tersebut.
e. Apabila dokter spesialis/subspesialis memberikan surat keterangan rujuk balik, maka
untuk perawatan selanjutnya pasien langsung ke FKTP membawa surat rujuk balik dari
dokter spesialis/subspesialis.
f. Apabila dokter spesialis/subspesialis TIDAK MEMBERIKAN surat keterangan
sebagaimana dimaksud pada poin (d) dan (e), maka pada kunjungan berikutnya pasien
HARUS MELALUI FKTP. (Lampiran PMK 28/2014 Huruf F poin 2).
Di lapangan ternyata masih adanya multitafsir terhadap aturan sistem rujukan berjenjang ini,
maka Menkes mengeluarkan Surat Edaran Menkes Nomor 32 Tahun 2014 tentang
Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan bagi Peserta BPJSK di FKTP dan FKRTL yang pada
halaman 3 yang berbunyi : Surat rujukan dibutuhkan untuk PERTAMA KALI pengobatan
ke FKRTL, dan selanjutnya selama masih dalam perawatan dan belum di rujuk balik ke
FKTP TIDAK DIBUTUHKAN lagi surat rujukan. Dokter yang menangani memberi surat
keterangan masih dalam perawatan.
BPJS Kesehatan pun sebagai penyelenggara program JKN ini merasa perlu mengeluarkan
surat edaran tentang petunjuk teknis terhadap SE Menkes tersebut sehingga diharapkan tidak
lagi ada perbedaan pemahaman tentang sistem rujukan berjenjang ini. Terbitlah Surat Edaran
(SE) Direkur Pelayanan BPJS Nomor 38/2014 tentang Juknis SE Menkes Nomor 32/2014.
Pada poin 1 huruf (c) sampai huruf (e) disebutkan bahwa :
a. Apabila pasien masih memerlukan pelayanan di Faskes tingkat lanjutan karena kondisi
BELUM STABIL sehingga belum dapat dirujuk balik ke FKTPP, maka dokter
spesialias/sub spesialis membuat surat keterangan yang menyatakan bahwa pasien
masih dalam perawatan.
b. Apabila pasien sudah dalam kondisi STABIL sehingga dapat dirujuk balik ke FKTP,
maka dokter spesialis/sun spesialis akan membuat surat keterangan rujuk balik.
c. Apabila dokter spesialis/sub spesialis TIDAK memberikan surat keterangan yang
dimaksud huruf c dan d maka unutk kunjungan berikutnya pasien HARUS membawa
surat rujukan yang baru dari FKTP.

Kesimpulan
Berdasarkan aturan-aturan yang telah disampaikan diatas, maka saya mencoba membuat
kesimpulan ringkas terkait sistem rujukan berjenjang ini :
1. Pelayanan kesehatan spesialistik dan sub spesialistik dibagi menjadi dua bagian yaitu : 1).
Kasus Non-Kronis dan 2). Kasus Kronis.
2. Kasus Non-Kronis adalah kasus / penyakit yang sudah menjadi kompetensi spesialis atau
sub spesialis tetapi TIDAK termasuk dalam 10 PENYAKIT KRONIS yang telah
ditetapkan oleh Menkes.
3. Kasus Kronis adalah kasus / penyakit yang sudah menjadi kompetensi klinis spesialis atau
sub spesialis tetapi dan termasuk dalam 10 PENYAKIT KRONIS yang telah ditetapkan
oleh Menkes yaitu : diabetes mellitus (DM), hipertensi, jantung, asma, Penyakit Paru
Obstruktif Kronis (PPOK), epilepsy, skizofren, stroke, sirosis hepatis dan Sindroma
Lupus Eritematosus (SLE).
4. Untuk kasus Non-Kronis setelah pelayanan di RS ada 2 kemungkinan yaitu : a). Perlu
kontrol ulang dan b). Tidak perlu kontrol ulang.
5. Jika Kasus Non-Kronis perlu kontrol ulang, maka dokter HARUS membuat surat
keterangan atau surat kontrol dan diserahkan kepada pasien sebelum pulang. Surat ini
akan dibawa oleh pasien pada kunjungan berikutnya ke rumah sakit TANPA harus
meminta surat rujukan lagi dari FKTP.
6. Jika Kasus Non-Kronis TIDAK perlu kontrol ulang, maka dokter HARUS membuat surat
rujuk balik atau jawaban rujukan dan diserahkan kepada pasien sebelum pulang. Surat ini
akan dibawa oleh pasien pada kunjungan berikutnya FKTP untuk melanjutkan
pengobatan di FKTP.
7. Untuk kasus Kronis setelah pelayanan di RS ada 2 kemungkinan yaitu : a). BELUM
STABIL dan b). SUDAH STABIL.
8. Jika kasus Kronis yang BELUM STABIL, maka dokter HARUS membuat SURAT
KETERANGAN MASIH DALAM PERAWATAN dan diserahkan kepada pasien sebelum
pulang. Surat ini akan dibawa oleh pasien pada kunjungan berikutnya ke rumah sakit
TANPA harus meminta surat rujukan lagi dari FKTP.
9. Jika kasus Kronis yang SUDAH STABIL, maka dokter HARUS membuat surat
rekomendasi PROGRAM RUJUK BALIK (PRB) dan diserahkan kepada pasien sebelum
pulang. Surat ini akan dibawa oleh pasien ke kantor BPJS Cabang untuk mendaftarkan
diri sebagai peserta Program Rujuk Balik (PRB) dan kunjungan berikutnya pasien
langsung menuju FKTP dengan menunjukkan Surat Rujuk Balik (SRB) dan buku kontrol
peserta PRB.
Jadi berdasarkan aturan-aturan yang ada, sesungguhnya TIDAK ADA yang membatasi
UMUR surat rujukan dari FKTP ke RS. Surat rujukan dari FKTP ke rumah sakit HANYA
pada kunjungan PERTAMA KALI dan selanjutnya dilakukan penilaian apakah masuk dalam
kriteria kasus Non-Kronis atau kasus Kronis. Tidak ada aturan ekspilist yang menentukan
bahwa Surat Rujukan berlaku untuk 30 hari ataupun 2 minggu ataupun batasan hari yang
lain.

Kejadian di lapangan yang paling sering adalah memang pasien seringkali HARUS membuat
surat rujukan lagi dari FKTP. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Karena sesuai dengan aturan
bahwa Apabila dokter spesialis/sub spesialis TIDAK memberikan Surat Keterangan
Kontrol/Masih Dalam Perawatan atau Surat Rujuk Balik/Jawaban Rujukan, maka untuk
kunjungan berikutnya pasien HARUS membawa surat rujukan yang baru dari FKTP.
Nah inilah yang menyebabkan pasien harus membuat surat rujukan lagi ke FKTP pada saat
akan berkunjung lagi ke RS. Bagi para dokter dan petugas pemberi layanan kesehatan
mungkin hal ini cukup sepele, namun bisa kita lihat dampaknya kepada pasien peserta
program JKN yang akan mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Yang perlu dipahami adalah bahwa alur sistem rujukan diatas hanya berlaku untuk
kasus/diagnosa yang SAMA ataupun yang BERHUBUNGAN. Jika merupakan
kasus/diagnosa yang baru dan berbeda, maka pasien tetap harus ke FKTP untuk mendapat
surat rujukan yang baru dan berbeda dengan rujukan yang terdahulu. Berapapun episode nya
jika masih merupakan kasus/diagnosa yang sama dan berhubungan, maka TIDAK
memerlukan surat rujukan baru kecuali dokter tidak membuat surat keterangan kontrol /
masih dalam perawatan.
Demikian, semoga sedikit memperjelas pemahaman kita bersama tentang ketentuan surat
rujukan dalam sistem rujukan berjenjang. Mohon maaf bila banyak kekurangan dan
kesalahan, semata-mata karena keterbatasan referensi saya.
Salam,

Tri Muhammad Hani


RSUD Bayu Asih Purwakarta
Jl. Veteran No. 39 Purwakarta Jawa Barat
Bahan Bacaan :
1. PMK Nomor 71/2013 tentang Pelayanan Kesehatan pada JKN
2. PMK Nomor 28/2014 tentang Pedoman Pelaksanaan (Manlak) Program JKN
3. SE Menkes Nomor 32/2014 tentang Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan bagi Peserta
BPJSK di FKTP dan FKRTL
4. Peraturan BPJS Nomor 01/2014 tentang Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan
5. SE Direkur Pelayanan BPJS Nomor 38/2014 tentang Juknis SE Menkes Nomor 32/2014
6. Buku Panduan Praktis Sistem Rujukan Berjenjang, BPJS Kesehatan Jakarta, 2014

Anda mungkin juga menyukai