Anda di halaman 1dari 5

Karsinoma Nasofaring

DEFINISI
Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaing dengan
predileksi di fosa Rossenmuller dan atap nasofaring.
Etiologi
(1)Aadanya infeksi EBV,
(2) Faktor lingkungan
(3) Genetik
Secara mikroskopis karsinoma nasofaring dapat dibedakan menjadi 3 bentuk yaitu :
1. Bentuk ulseratif
Bentuk ini paling sering terdapat pada dinding posterior dan di daerah sekitar fosa
rosenmulleri. Juga dapat ditemukan pada dinding lateral didepan tuba eustachius dan
pada bagian atap nasofaring. Lesi ini biasanya lebih kecil disertai dengan jaringan yang
nekrotik dan sangat mudah mengadakan infiltrasi ke jaringan sekitarnya. Gambaran
histopatologik bentuk ini adalah karsinoma sel skuamosa deengan diferensiasi baik.
2. Bentuk noduler/lubuler/proliferative
Bentuk noduler atau lobuler sangat sering dijumpai pada daerah sekitar muara tuba
eustachius. Tumor jenis ini berbentuk seperti buah angguratau polipoid jarang, dijumpai
adanya ulserasi, namun kadang-kadang dijumpai ulserasi kecil. Gambaran histopatologik
bentuk ini biasanya karsinoma tanpa diferensiasi.
3. Bentuk eksofitik
Bentuk eksofitik biasanya tumbuh pada satu sisi nasofaring, tidak dijumpai adanya
ulserasi, kadang-kadang bertangkai dan prmukaannya licin. Tumor jenis ini biasanya
tumbuh dari atap nasofaring dan dapat mengisi seluruh rongga nasofaring. Tumor nini
dapat mendorong palatum mole ke bawah dan tumbuh kearah koana dan masuk ke dalam
rongga hidung. Gambaran histopatologik berupa limfasarkoma
C. GEJALA DAN TANDA

Gejala pokok karsinoma nasofaring:


1. Gejala hidung :
Pilek lama yang tidak sembuh
Epistaksis. Keluarnya darah ini biasanya berulang-ulang, jumlahnya sedikit dan
seringkali bercampur dengan ingus, sehingga berwarna merah jambu
Ingus dapat seperti nanah, encer atau kental dan berbau.
2. Gejala telinga :
Tinitus. Tumor menekan muara tuba eustachii sehingga terjadi tuba oklusi, karena muara
tuba eustachii dekat dengan fosa rosenmulleri. Tekanan dalam kavum timpani menjadi
menurun sehingga terjadi tinnitus.
Gangguan pendengaran hantaran

Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri di telinga (otalgia).

3. Gejala mata :
Diplopia. Tumor merayap masuk foramen laseratum dan menimbulkan gangguan N. IV dan
N. VI. Bila terkena chiasma opticus akan menimbulkan kebutaan.
4. Gejala cranial terjadi bila tumor sudah meluas ke otak dan dirasakan pada penderita. Gejala
ini berupa :

Sakit kepala yang terus menerus, rasa sakit ini merupakan metastase secara hematogen.
Sensitibilitas derah pipi dan hidung berkurang.
Kesukaran pada waktu menelan
Afoni
Sindrom Jugular Jackson atau sindroma reptroparotidean mengenai N. IX, N. X, N. XI,
N. XII. Dengan tanda-tanda kelumpuhan pada:
o Lidah
o Palatum
o Faring atau laring
o M. sternocleidomastoideus
o M. trapezeus

5. Gejala di leher berupa benjolan. Pembesaran kelenjar limfoid leher ini merupakan penyebaran
atau metastase dekat secara limfogen dari karsinoma nasofaring.
Stadium

Penentuan stadium yang terbaru berdasarkan atas kesepakatan antara UICC (Union
Internationale Contre Cancer) pada tahun 2002 adalah sebagai berikut :
T = Tumor, menggambarkan keadaan tumor primer, besar dan perluasannya.
T0 : Tidak tampak tumor
T1 : Tumor terbatas di nasofaring
T2 : Tumor meluas ke jaringan lunak
T2a : Perluasan tumor ke orofaring dan atau rongga hidung tanpa perluasan ke
parafaring
T2b : Disertai perluasan ke parafaring
T3 : Tumor menginvasi struktur tulang dan sinus paranasal
T4 : Tumor dengan perluasan intrakranial dan/ terdapat keterlibatan saraf kranial ,
fossa infratemporal, hipofaring, orbita atau ruang maskiator
N = Nodul, menggambarkan keadaan kelenjar limfe regional
NX : Pembesaran kelenjar getah bening tidak dapat dinilai
N0 : Tidak ada pembesaran kelenjar
N1 : Metastasi kelenjar getah bening unilateral, dengan ukuran terbesar kurang atau
sama dengan 6 cm, di atas fossa supraklavikula
N2 : Metastasis kelenjar getah bening bilateral, dengan ukuran terbesar kurang atau
sama dengan 6 cm, diatas fossa supraklavikula
N3 : Metastasis kelenjar getah bening bilateral dengan ukuran lebih besar dari 6 cm
atau terletak di dalam fossa supraklavikula
N3a : ukuran lebih dari 6 cm
N3b : di dalam fossa supraklavikula
M = Metastase, menggambarkan metastase jauh
MX : Metastasis jauh tidak dapat dinilai
M0 : Tidak ada metastase jauh
M1 : Terdapat metastase jauh.2,3,9-13
Berdasarkan TNM tersebut di atas, stadium penyakit dapat ditentukan :
Stadium I

: T1 N0 M0

Stadium II

: T2 N0 M0

Stadium III

: T3 N0 M0

T1,T2,T3 N1 M0
Stadium IV

: T4 N0,N1 M0

Tiap T N2,N3 M0
Tiap T Tiap N M12

Laryngitis tuberkulosa
Adalah proses inflamasi pada mukosa pita suara dan laring yang terjadi dalam
jangka waktu lama yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosa.
.1 Stadium infiltrasi
Mukosa laring posterior bengkak dan hiperemis
Disubmukosa terbentuk tuberkel, mukosa tidak rata, tampak bintik-bintik
kebiruan. Tuberkel makin membesar dan bersatu sehingga mukosa
diatasnya meregang yang suatu saat pecah dan timbul ulkus
.2 Stadium ulserasi
Ulkus pada stadium infiltrasi membeesar, dangkal dan dasarnya ditutupi
oleh perkijuan dan rasanya sangat nyeri.
.3 Stadium perikondritis
Ulkus makin dalam dan mengenai kartilago laring yang paling sering
adalah kartilago aritenoid dan epiglottis terbentuk nanah dan bau dan
melanjut terbentuk sekuester. Pada stadium ini keadaan umum pasien
memburuk dan dapat meninggal dunia.
.4 Stadium fibrotuberkulosis
Terbentuk fibrotuberkulosis pada dinding posterior, pita suara dan
subglotik
Gejala klinis
Tergantung pada stadium, selain itu terdapat gejala sebagai berikut :
Rasa kering, panas dan tertekan di daerah laring
Suara parau berlangsung berminggu-minggu, sedangkan stadium lanjut dapat
timbul afoni
Hemoptisis

Nyeri menelan yang lebih hebat disbanding nyeri radang lainnya

Keadaan umum buruk


Pada pemeriksaan paru(secara klinis dan radiologic) terdapat proses aktif (biasanya
pada stadium eksudatif atau pada pembentukan kaverner).
Terapi
Obat antituberkulosis
Istirahat suara