Anda di halaman 1dari 13

PRAKTIKUM III

MENENTUKAN LD50 (LETHAL DOSE)


SUPERMETRIN (SUTRIN 100 ec) PADA TIKUS

Oleh Kelompok VI :
Roessalin Permata Ningrum

(201310410311263)

Rafina Syifridiana

(201310410311264)

Aliyah Nia Fauziah

(201310410311276)

Nabella Murtadho

(201310410311278)

Cece Purwanti

(201310410311280)

Aulia Rahmi Medianti

(201310410311285)

Sahna Naurzam Aulia

(201310410311284)

Wulan Megasari

(201310410311287)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Menentukan Ld 50 (Lethal Dose) Supermetrin. Pada
Tikus. Tidak lupa juga, kami ucapkan terima kasih pada Ibu Nailis Syifa, S.Farm., M.Sc.,

Apt. dan Ibu Nikmatul Ikhrom E J, S.Farm., M.FarmKlin., Apt. yang telah memberi kami
arahan dan bimbingan mengenai makalah ini. Serta kepada teman-teman yang telah memberi
semangat dan dukungan dalam pengerjaan makalah ini.
Makalah ini akan membahas mengenai mula kerja, puncak efek dan lama kerja dari
obat analgetik yang akan diberikan secara oral maupun intraperitoneal pada tikus. Dimana
penulis akan memaparkan alat dan bahan apa saja yang dibutuhkan dalam pengamatan ini,
serta bagaimana prosedur kerja dan hasil dari pengamatan ini.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Farmakologi serta
memberikan referensi mengenai Ld 50 (Lethal Dose) supermetrin. Pada Tikus kepada
mahasiswa Program Studi Farmasi. Tidak menutup kemungkinan bagi pembaca yang ingin
mengetahui sekilas mengenai pengamatan ini dapat menggunakan makalah ini sebagai
wawasan tambahan.
Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca agar makalah
ini dapat dikembangkan menjadi lebih baik.
Malang, 30 Oktober 2014

Penulis

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pestisida merupakan suatu zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk
mengendalikan, mencegah dan menangkis gangguan serangga, binatang pengerat, jasad
renik yang dianggap hama serta semua zat atau campuran zat yang digunakan untuk
mengatur pertumbuhan tanaman dan pengering tanaman.
Pestisida bersifat toksik. Pada mamalia efek utama yang ditimbulkan adalah
menghambat asetilkolin estrase yang menyebabkan aktivitas kolinergik yang berlebihan
perangsangan reseptor kolinergik secara terus menerus akibat penumpukan asetilkolin yang
tidak terhidrolisis. Penghambatan asetilkolin estrase juga menimbulkan polineuropati
(neurotoksisitas) mulai terbakar sampai kesemutan, terutama di kaki akibat kesukaran
sensorik dan motorik dapat meluas ke tungkai dan kaki (terjadi ataksia).
Penilaian keamanan obat / zat kimia perlu dilakukan untuk menentukan seberapa
toksik zat tersebut ke manusia. Hal tersebut dapat dilakukan dengan tahapan berikut :
a. Menentukan LD 50
b. Melakukan percobaan toksisitas sub akut dan kronis untuk menentukan no effect
level
c. Melakukan percobaan karsinogenitas, teratogenitas, mutagenesis yang merupakan
bagian dari penyaringan rutin keamanan.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis dapat merumuskan permasalahan sebagai
berikut:
1)

Apa saja alat dan bahan yang digunakan untuk praktikum tersebut?

2)

Bagaimana prosedur kerja dari praktikum tersebut?

3)

Bagaimana hasil pengamatan dari praktikum tersebut?

1.3. Tujuan Praktikum


Tujuan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1)

Dapat menyebutkan alat dan bahan yang digunakan untuk praktikum tersebut.

2)

Dapat menjelaskan prosedur kerja dari praktikum tersebut.

3)

Dapat menjelaskan hasil pengamatan dari praktikum tersebut.


4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Dasar Teori


Pestisida telah digunakan secara luas untuk meningkatkan produksi pertanian,
perkebunan, dan memberantas vector penyakit.Penggunaan pestisida untuk keperluan
di atas, terutama sintetik telah menimbulkan dilema.Pestisida sintetik di satu sisi
sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan produksi pangan untuk menunjang
kebutuhan yang semakin meningkat dan di satu sisi penggunaanya juga berdampak
negatif baik pada manusia, hewan, mikroba dan lingkungan.
Supermetrin (Sutrin) merupakan salah satu contoh pestisida yang biasanya
digunakan untuk membasmi hama pertanian. Uji ketoksikan akut dirasa penting untuk
senyawa ini karena uji ini dapat memperkirakan kisaran dosis letal atau dosis toksik
obat terkait.
Uji ketoksikan akut merupakan parameter derajat efek toksik suatu senyawa
yang terjadi dalam waktu singkat setelah pemberiannya dalam dosis tunggal. Batasan
waktu yang dimaksud dalam uji ketoksikan akut ini adalah 24 jam setelah pemejanan.
Karena sifatnya yang akut dan dalam waktu singkat, maka uji ini sangat penting
dipelajari untuk mengantisipasi akibat terburuk yang akan terjadi.
Toksisitas merupakan suatu sifat relatif yang biasa digunakan untuk
membandingkan apakah zat kimia yang satu lebih toksik dari zat kimia yang lain.
Supermetrin merupakan insektisida non-sistemik yang bekerja sebagai racun
kontak dan racun perut. Sipermetrin banyak digunakan pada bidang pertanian,rumah
tangga, kesehatan, masyarakat serta kesehatan hewan.
Untuk menentukan efek toksik suatu senyawa dalam waktu singkat setelah
pemejanan perlu dilakukan suatu uji toksisitas akut.Uji ketoksikan dikerjakan dengan
memberikan dosis tunggal senyawa uji pada hewan uji (sekurang-kurangnya 2 jenis
hewan uji roden dan miroden, jantan maupun betina).Takaran dosis yang dianjurkan
paling tidak 4 peringkat dosis dari dosis rendah yang tidak mematikan hewan uji
sampai dosis tertinggi yang mematikan seluruh hewan uji.Pengamatan yang dilakukan
meliputi gejala klinis, jumlah hewan yang mati dan histopatologi organ.
Data yang diperoleh dari uji ketoksikan akut berupa data kuantitatif yang berupa
LD50 sedangkan data kualitatif berupa penampakan klinis dan morfologi efek toksik
senyawa uji data. LD50 yang diperoleh digunakan untuk potensi ketoksikan akut
senyawa relatif terhadap senyawa lain dan untuk memperkirakan takaran dosis uji
toksikologi lainnya.
LD50 ( Lethal Dose 50 ) adalah dosis yang menimbulkan kematian pada 50%
individu. Perhitungan LD50 didasarkan atas perhitungan statistic. Nilai LD 50 dapat
berbeda 0,002 sampai 16 kali bila dilakukan berbagai macam laboratorium. Karena itu

harus dijelaskan lebih lanjut tentang prosedur yang dipakai, misal berat badan dan
umur tikus, zat pelarut, jantan atau betina, lingkungan, dan sebagainya.
Uji toksisitas akut tidak hanya bertujuan untuk menentukan nilai LD50, tetapi uga
untuk melihat berbagai perubahan tingkah laku, adakah stimulasi atau depresi SSP,
perubahan aktivitas motorik dan pernafasan tikus, serta untuk mendapat gambaran
tentang sebab kematian. Oleh karena itu uji toksisitas ini harus dilengkapi dengan
pemeriksaan laboratorium klinik dan pembuatan sediaan histologik dari organ yang
dianggap dapat memperlihatkan kelainan. Kematian yang timbul oleh kerusakan sel
hati, ginjal, atau system hematopoisis tidak akan terjadi pada hari pertama tiap timbul
paling cepat hari ketiga.
Pestisida merupakan suatu zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk
mengendalikan, mencegah, dan menangkis gangguan serangga, binatang pengerat,
jasad renik yang dianggap hama serta semua zat atau campuran zat yang digunakan
untuk mengatur pertumbuhan tanaman dan pengering tanaman.
Pada praktikum ini menggunakan obat (bahan obat pestisida) yang mempunyai
mekanisme kerja yang menghambat asetilkoliaesterase dan plasmakolinesterase yang
non spesifik melalui fosforilesasi asam amino serin dipusat asteratik dari enzim
menuju paparan organismus dengan asetilkolin menuju pada semua sinaps kolinergik
(parasimpatik pascaganglioner, ujung saraf motorik, ganglia, SSP) dengan jalan
depolarisasi persisten terjadi blokade depolarisasi. Penghambatan astilkolinesterasi
bersifat irreversibel memutuskan ikatan kovalen dari ester asam fosfat pada sektrum
aktif enzim secara hidrolisis sehingga aktivasi enzim hanya berlangsung secara tidak
sempurna dang sangat lamabt (berhari-hari), akibatnya sebagian besar enzim harus
diganti dengan jalan sintesis baru. (Farmakologi dan toksiologi edisi 3, 2009: penerbit
kedokteran) Mekanisme terjadinya toksisitas obat, berbagai mekanisme dapat
mendasari toksisitas obat. Biasanya reaksi toksis merupakan kelanjutan dari efek
farmakodinamiknya. Karena itu, gejala toksis merupakan efek farmakodinamik yang
berlebihan. Dalam percobaan toksiologi pada hewan harus digunakan dosis yang
sangat besar karena ingin ditemukan kelainan jaringan atau efek toksi yang jelas.
Dengan cara ini reaksi yang jarang terjadi bisa dibuat lebih sering. Bila dengan dosis
terapi efek hepotoksik hanya terjadi pada 1 per 10000 orang, maka diperlukan ribuan
tikus untuk percobaan dengan dosis ini. Sebelum terlihat reaksi pada 1-2 ekor tikus
saja. Selain itu waktu observasi akan jauh lebih pendek bila kita menggunakan dosis
yang lebih besar, sehingga akan mengurangi biaya pemeriksaan. Namun akan timbul
kesulitan dalam interpretasi hasilnya pada manusia sebab kelainan yang ditemukan
tidak dapat diextrapolasikan begitu saja pada manusia. Interpretasi ini harus dilakukan
7

dengan bijaksana dengan memperhitungkan besarnya dosis dan kondisi percobaan.


( Farmakologi dan Terapi ed. 5, 2011 Fakultas Kedokteran UI).

BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum, yaitu:

Kapas

Kain

Spuit

Kasa

Klem

Kandang

Tikus 3 ekor

Alkohol

Sutrin 100 ec (dosis 25 mg/kgBB, 100 mg/kgBB, 400 mg/kgBB)

3.2. Prosedur Kerja


Siapkan sonde yang berisi sutrin 100 ec untuk
masing-masing tikus dengan dosis :

Dosis
25 mg/kgBB

Dosis
100 mg/kgBB

Dosis
400
mg/kgBB

Pegang tikus dalam posisi terlentang secara


gentle.
Berikan sutrin 100 ec per sonde pada masing-

Amati perubahan perilaku masing-masing tikus


dengan seksama.
(seperti yang tertera pada lembar pengamatan)

3.3. Perhitungan Dosis


a. Dosis 25mg/kgBB
Berat tikus : 127 gram
25 mg

1 kg

20040 mg

1000 ml

0,127 kg

3,175 mg

X = 3,175 mg

X = 0,158 ml

b. Dosis 100mg/kgBB
Berat tikus : 87 gram
100 mg

1 kg

20040 mg

1000 ml

0,087kg

8,7 mg

1000 ml

X = 8,7 mg
c.

X = 0,1434 ml

Dosis 400mg/kgBB
Berat tikus : 105 gram
400 mg

1 kg

20040 mg
9

0,105 kg

42 mg

X = 42 mg

X = 2,096 ml

1,05 ml

1,05 ml

3.4. Hasil Pengamatan

Menit

10

15

Nomor

Postur

Aktivitas

eksperimen

tubuh

motor

++

Ataxia

Righting

Test

Analgesia

Ptosis

reflex

kasa

+++

+++

++

++

+++

++

++

++

++

+++

+++

++

++

++

++++

++

++

++

+++

++

++

+++

++

+++

++

++

10

30

60

++

++++

++

+++

++

++

++

++

+++

++

++

++

++

+++

++

+++

+++

+++

++++

+++

+++

++

++

+++

++

+++

++

++

++

+++

+++

+++

+++

+++

+++

+++

++

++

+++

Keterangan :
1. Postur Tubuh :
+
= Jaga
++
=Ngantuk
+++
= Tidur

= kepala dan punggung tegak


= Kepala tegak punggung mulai datar
= Kepala dan punggung datar

2. Aktifitas Motor
+
= Gerak spontan
++
= Gerak spontan bila dipeggang
+++
= Gerak menurun saat dipegang
++++
= Tidak ada gerak spontan
3. Ataksia = Gerakan berjalan inkoordinasi
+
= Inkoordinasi terlihat kadang-kadang
++
= Inkoordinasi terlihat jelas
+++
= tidak dapat berjalan lurus
4. Righting Reflex
+
= Diam pada satu posisi miring
++
= Diam pada dua posisi miring
+++
= Diam saat terlentang
5. Tes Kasa
+
= tidak jatuh apabila kasa dibalik dan digoyang
++
= jatuh apabila kasa dibalik
+++
= jatuh apabila posisi kasa 90
++++
= jatuh apabila posisi kasa 45
6. Analgesia
+
= respon berkurang ketika telapak kaki dijepit
++
= tidak ada respon saat telapak kaki dijepit
7. Ptosis
+
= ptosis <
++
=
+++
= seluruh palebra tertutup

Dosis

25 mg

Respon mati (+/-) pada tikus no

% indikasi yang berespon

11

0%

100 mg

50%

400 mg

100 %

Rumus regresi y = bx + a
A = 8,3333
B = 0,2381
R =0,9449
Y = bx + a
50 = 0,2381x + 8,3333
X = 174,9979

12

BAB IV
KESIMPULAN
4.1

KESIMPULAN
1.

Setelah pemberian sutrin 100 ec secara per sonde terlihat perubahan aktivitas
perilaku pada hewan coba diantaranya perubahan postur tubuh, aktivitas motor,
ataksia,righting reflex, testkasa, analgesia, dan ptosis. Pemberian dosis
yang berbeda beda memberikan perubahan aktivitas perilaku yang
berbeda pula. Perubahan perilaku yang paling signifikan terlihat pada
tikus III yang diberi dosis 400 mg / kgBB.

2.

LD50 adalah dosis yang memberikan kematian pada 50% individu.


Pada praktikum ini LD50 adalah sebesar 216,15 mg.

DAFTAR PUSTAKA
Farmakologi dan terapi Universitas Indonesia; edisi 5
Tjay, Tan Hoan, Kirana Rahardja. 2006. Obat-Obat Penting; Edisi Keenam, Elex Media
Komputindo: Jakarta
Katzung, BG. 1997. Farmakologi Dasar dan Klinik, edisi 6. EGC : Jakarta,
Gilman, Alfred Goodman. 2012. Dasar Farmakologi Terapi vol 1. EGC: Jakarta

13