Anda di halaman 1dari 6

Journal of Pediatric Nursing Vol. 1(2), pp.

087-092, April, 2014


Available online at http://library.stikesnh.ac.id
ISSN 2354-726X

KEJADIAN IRITASI KULIT (RUAM POPOK) PADA BAYI USIA 0-12 BULAN
Hardin La Ramba1, Siti Nurbaya2
1STIKES
2STIKES

Nani Hasanuddin Makassar


Nani Hasanuddin Makassar
ABSTRAK

Iritasi kulit (ruam popok) adalah gangguan atau kejanggalan yang terjadi pada diri manusia yang
dipengaruhi oleh faktor fisik, kimiawi, enzimatik, dan biogenik. Insiden ruam popok di Indonesia mencapai 735%, yang menimpa bayi laki-laki dan perempuan berusia dibawah tiga tahun. Jumlah Balita di Provinsi
Sulawesi Selatan 2011 kurang lebih 2,3 juta jiwa, di tahun 2012 kurang lebih 3,2 juta jiwa. (Pusat Data Dan
Informasi Departemen Kesehatan RI, 2009). Berdasarkan data primer yang diperoleh dari bagian Rekam
Medis RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, jumlah bayi yang lahir tahun 2010 sebanyak 394 bayi,
tahun 2011 sebanyak 457 bayi, tahun 2012 sebanyak 513 bayi, tahun 2013 sebanyak 118 bayi. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian iritasi kulit (ruam
popok) pada bayi usia 0-12 bulan di ruang anak RSUP. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Jenis penelitian ini
adalah Analitik Asosiatif dengan rancangan Cross Sectional dengan menggunakan desain uji Chi-square.
Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 47 Orang Responden yang didapat menggunakan
teknik Total Sampling yang sesuai dengan kriteria sampel. Hasil penelitian menunjukan ada hubungan
antara popok kotor dengan iritasi kulit (p = 0.00 < nilai (0.05), alergi kulit (p = 0.00 < nilai (0.05), dan
lapisan plastik kedap air (sirkulasi) (p = 0.00 < nilai (0.05) terhadap iritasi kulit (ruam popok). Kesimpulan
penelitian ini adalah ada hubungan antara popok kotor, alergi kulit dan lapisan plastik kedap air (sirkulasi)
pada bayi usia 0-12 bulan di Ruangan Anak RSUP. DR. Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Kata kunci: Iritasi Kulit, Ruam Popok, Alergi Kulit
PENDAHULUAN
Popok dan bayi adalah dua hal yang tak
bisa dilepaskan. Namun bagai pedang bermata
dua, popok bisa membuat bayi tenang tapi bisa
juga justru jadi sumber kerewelan mereka. Dan
semua itu bergantung pada seberapa jeli kita
mendeteksi kehadiran ruam popok. Diantara
sejumlah gangguan kulit pada bayi, ruam popok
adalah yang paling sering terjadi pada bayi baru
lahir. Waspada bila kulit di sekitar bokong bayi
meradang, berwarna kemerahan. Itu tandanya
bayi terkena ruam popok. Biasanya, ruam kulit ini
membuat si kecil merasa gatal. Kenapa disebut
ruam popok (diaper rash)? Karena, gangguan
kulit ini timbul di daerah yang tertutup popok, yaitu
sekitar alat kelamin, bokong, serta pangkal paha
bagian dalam, (Hidayat R, 2011).
Kulit merupakan salah satu aspek vital
yang perlu diperhatikan dalam higiene setiap
orang. Kulit sebagai pembungkus yang elastik,
yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan,
dan bersambungan dengan selaput lendir yang
melapisi rongga-rongga dan lubang-lubang masuk
kulit. Begitu vitalnya kulit, maka setiap ada
gangguan dalam kulit dapat menimbulkan
berbagai masalah yang serius dalam kesehatan.
Sebagai organ yang berfungsi sebagai proteksi,
kulit memagang peranan penting dalam
meminimalkan setiap gangguan dan ancaman

yang akan masuk melewati kulit, (Isroin Laily,


2012).
Diaper rash, atau yang sering disebut
sebagai ruam popok yang sering terjadi pada
anak balita. Akibat dari iritasi pada bagian bokong
bayi dan kebanyakan bayi baru lahir memiliki
iritasi kulit yang tak berbahaya yang biasanya
akan hilang sendiri di bulan-bulan pertama. Ruam
popok pernah dialami oleh hampir semua bayi.
Hal ini umum terjadi bila sang bayi mengalami
diare yang dapat menyebabkan popok lembab
atau basah dan biasanya para ibu akan merasa
cemas bila kulit bayinya menjadi berbintik-bintik
merah, (Andi, M. 2012).
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh
Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2009
(dikutip dalam Rahmat Hidayat, H. 2011)
prevalensi iritasi kulit (ruam popok) pada bayi
cukup tinggi. 25% dari 6.840.507.000 bayi yang
lahir di dunia kebanyakan menderita iritasi kulit
(ruam popok) akibat penggunaan popok. Angka
terbanyak ditemukan pada usia 6-12 bulan.
Kimberly A Hori, MD (asisten profesor
spesialis anak Universitas Misouri) dan John
Mersch, MD, FAAP menyebutkan bahwa 10-20 %
Diaper dermatitis dijumpai pada praktek spesialis
anak di Amerika. Sedangkan prevalensi pada bayi
berkisar antara 7-35%, dengan angka terbanyak
pada usia 9-12 bulan. Sementara itu Rania Dib,

87

MD menyebutkan ruam popok berkisar 4-35 %


pada usia 2 tahun, Kejadian ruam popok (Diaper
Rush) sebanyak 50. Penelitian di Inggris
menemukan, 25 persen dari 12.000 bayi berusia
empat minggu mengalami ruam popok, (Rahmat,
H. 2011).
Insiden ruam popok di Indonesia mencapai
7-35%, yang menimpa bayi laki-laki dan
perempuan berusia dibawah tiga tahun, (Andi, M.
2012).
Ahli
Menteri
Kesehatan
Bidang
Peningkatan Kapasitas dan Desentralisasi, dr
Krisnajaya, MS memperkirakan jumlah anak balita
(bawah lima tahun) Indonesia mencapai 10
persen dari populasi penduduk. Jika jumlah
penduduknya 220-240 juta jiwa, maka setidaknya
ada 22 juta balita di Indonesia, dan 1/3 dari jumlah
bayi di indonesia mengalami ruam popok,
(Rahmat, H. 2011).
Jumlah Balita di Provinsi Sulawesi Selatan
2011 kurang lebih 2,3 juta jiwa, di tahun 2012
kurang lebih 3,2 juta jiwa. (Pusat Data Dan
Informasi Departemen Kesehatan RI, 2009). Ini
menunjukan setiap tahunya populasi dari angka
kelahiran bayi yang lahir di provinsi Sulawesi
selatan meningkat setiap tahunya. Dan di
dapatkan Setidaknya 50 persen bayi yang
mengalami ruam popok. Mulai terjadi di usia
beberapa minggu hingga 18 bulan (terbanyak
terjadi di usia bayi 6-9 bulan) (Profil Dinas
Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, 2013).
Ruam popok yang terjadi selama beberapa
hari, walaupun tetap rutin diganti, bisa disebabkan
oleh jamur Candida albicans. Jenis ruam popok
ini berwarna kemerahan dan tidak begitu jelas,
serta muncul bintik-bintik merah di sekitar bagian
utama ruamnya. Umumnya diawali di bagianbagian lipatan kulit bayi, kemudian meluas ke
bagian depan dan belakang tubuhnya. Pemberian
antibiotik pada bayi atau ibu menyusui justru akan
mengakibatkan infeksi jamur karena antibiotik
akan membunuh bakteri baik yang mencegah
tumbuhnya jamur Candida ini (Syahrani, 2008.).
Berdasarkan data primer yang diperoleh
dari bagian Rekam Medis RSUP. Dr. Wahidin
Sudirohusodo Makassar, jumlah bayi yang lahir
tahun 2010 sebanyak 394 bayi, tahun 2011
sebanyak 457 bayi, tahun 2012 sebanyak 513
bayi, tahun 2013 sebanyak 118 bayi. Dan ratarata dari jumlah keseluruhan bayi yang lahir
selamat semua menggunakan popok bayi setelah
lahir. Serta di antara bayi yang lahir selamat
tersebut banyak di dapatkan kejadian iritasi kulit
(ruam popok) akibat penggunaan popok bayi.
Dengan melihat data diatas maka
mendorong peneliti untuk meneliti kasus tersebut
yang dituangkan dalam bentuk proposal dengan
judul "Faktor Yang Berhubungan Dengan
Kejadian Iritasi Kulit (Ruam Popok) Pada Bayi
Usia 0-12 Bulan di RSUP Dr. Wahidin
Sudirohusodo Makassar".

METODE
Desain, Waktu penelitian, Populasi dan Sampel
Berdasarkan masalah penelitian, maka
jenis penelitian ini adalah Analitik Asosiatif
dengan rancangan Cross Sectional. Penelitian ini
dilaksanakan di Ruangan Anak RSUP DR.
Wahidin Sudirohusodo Makassar pada tanggal 3
Juli dengan 11 Juli 3013. Populasi dalam
penelitian ini adalah semua pasien bayi yang di
rawat di ruangan Anak RSUP DR. Wahidin
Sudirohusodo Makassar. Penarikan sampel
menggunakan Total Sampling maka didapatkan
sampel sebanyak 47 Orang Responden.
Sampel
tersebut
kemudian
dipilah
berdasarkan karakteristik dan kriteria sampel
berdasarkan :
1. Kriteria inklusi
a. Bayi usia 0-12 bulan yang dirawat di ruang
anak RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo
Makassar
pada
saat
penelitian
berlangsung.
b. Ibu yang bersedia saat bayinya di observasi
pada saat penelitian berlangsung
2. Kriteria eksklusi
a. Bayi yang tiba-tiba meninggal dunia saat
penelitian berlangsung.
b. Ibu yang tidak kooperatif saat penelitian
berlangsung
Pengumpulan dan pengolahan data
Untuk mendapatkan informasi yang
diinginkan peneliti menggunakan kuisioner
sebagai instrumen pengumpulan data yang
dikembangkan oleh peneliti menurut varibael yang
akan diteliti dan berdasarkan tinjauan literatur.
Setelah data-data terkumpul, maka peneliti
melakukan :
1. Editing
Proses editing (penyuntingan data) dilakukan
dengan memeriksa setiap lembar kuisioner
skala kecemasan yang didapatkan oleh
peneliti setelah melakukan uji pre-post test
dengan
cara
wawancara
langsung
menggunakan teknik komunikasi terapeutik
dengan pasien.
2. Koding
Pada tahap ini yang dilakukan adalah
pemberian kode atau tanda dari tiap lembar
kuisioner skala kecemasan yang telah
didapatkan dari hasil wawancara peneliti
dengan
pasien
pra
operasi.
Untuk
mempermudah pemasukan data maka dibuat
format koding, kemudian hasil koding di
masukkan ke dalam Tabel koding. Setelah itu,
data siap di masukkan kedalam computer.
3. Tabulasi
Pada tahap ini, dilakukan pengelompokan data
dalam suatu Tabel sesuai dengan tujuan
penelitian.
Analisis Data
Dalam penelitian ini, setelah data terkumpul
dan telah diberikan skoring maka dilakukan

88

Analisis data dengan menggunkan komputerisasi


program SPSS versi 16,00.
1. Analisis Univariat
Analisis dilakukan terhadap tiap-tiap variabel
penelitian terutama untuk melihat tampilan
distribusi frekuensi dan presentaasi tiap-tiap
variabel.
2. Analisis Bivariat
Analisis dilakukan untuk melihat hubungan dari
variabel independen yaitu popok kotor, alergi
kulit dan lapisan plastik kedap air (sirkulasi)
dan variabel dependen yaitu perubahan
kandungan feses (pemberian jenis makanan
baru) dan jamur.

Alergi Kulit
Alergi
Tidak Alergi
Total

Frekuensi
(n)
23
24
47

Persentase
(%)
48.9
51.1
100

Tabel 6 Distribusi Responden Berdasarkan


Lapisan Plastik Kedap Air (Sirkulasi) di
Ruangan
Anak
RSUP.
Dr.
Wahidin
Sudirohusodo Makassar Tahun 2013.
Lapisan Plastik Kedap Frekuensi Persentase
Air (Sirkulasi)
(n)
(%)
Kedap Air
23
48.9
Tidak Kedap Air
24
51.1
Total
47
100

HASIL
1. Analisis Univariat
Tabel 1 Distribusi Responden Berdasarkan
Kelompok Umur di Ruangan Anak RSUP. Dr.
Wahidin Sudirohusodo Makassar Tahun 2013.
Frekuensi
Persentase
Umur
(n)
(%)
0 s/d 3 Bulan
2
4.3
4 s/d 6 Bulan
14
29.8
7 s/d 9 Bulan
16
34.0
10 s/d 12 Bulan
15
31.9
Total
47
100

Tabel 7 Distribusi Responden Berdasarkan


Iritasi Kulit (Ruam Popok) di Ruangan Anak
RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar
Tahun 2013.
Iritasi Kulit (Ruam
Frekuensi Persentase
Popok)
(n)
(%)
Ya
23
48.9
Tidak
24
51.1
Total
47
100
2. Analisis Bivariat
Tabel 8 Hubungan Popok Kotor dengan Iritasi
Kulit (Ruam Popok) di Ruangan Anak RSUP.
Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Tahun
2013.
Iritasi Kulit
(Ruam popok)
Total
Popok
Kotor
Ya
Tidak
n
%
n
%
n %
Kotor
22 46.8
4
8.5 26 55.3
Tidak
1
2.1
20
42.6 21 44.7
Kotor
Total
23 48.9 24
51.1 47 100
p = 0,000

Tabel 2 Distribusi Responden Berdasarkan


Jenis Kelamin di Ruangan Anak RSUP. Dr.
Wahidin Sudirohusodo Makassar Tahun 2013.
Frekuensi
Persentase
Jenis Kelamin
(n)
(%)
Laki-Laki
22
46.8
Perempuan
25
53.2
Total
47
100
Tabel Distribusi Responden Berdasarkan
Berat Badan di Ruangan Anak RSUP. Dr.
Wahidin Sudirohusodo Makassar Tahun 2013.
Frekuensi
Persentase
Berat Badan
(n)
(%)
< 5 Kg
2
4.3
5 Kg
25
95.7
Total
47
100

Dari tabel 8 maka diketahui bahwa dari


total 26 orang responden (55.3%) yang dalam
kategori popok kotor, 22 orang responden
(46.8%) mengalami iritasi kulit (ruam popok)
dan 4 orang lainnya (8.5%) tidak megalami
iritasi kulit saat menggunakan popok.
Sedangkan dari total 21 orang responden
(44.7%) yang dalam kategori popok tidak
kotor, 1 orang responden (2.1%) mengalami
iritasi kulit (ruam popok) dan 20 orang
responden (42.6%) lainnya tidak mengalami
iritasi kulit pada saat menggunakan popok.
Dari
hasil
uji
statistik
dengan
menggunakan
uji
Chi-square
maka
berdasarkan correction fishers exact test
diperoleh nilai p = 0.000 < nilai (0.05).
dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
ada hubungan antara popok kotor dengan
iritasi kulit (ruam popok) di Ruangan Anak
RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Tabel 4 Distribusi Responden Berdasarkan


Popok Kotor di Ruangan Anak RSUP. Dr.
Wahidin Sudirohusodo Makassar Tahun 2013.
Frekuensi
Persentase
Popok Kotor
(n)
(%)
Kotor
26
55.3
Tidak Kotor
21
44.7
Total
47
100
Tabel 5 Distribusi Responden Berdasarkan
Alergi Kulit di Ruangan Anak RSUP. Dr.
Wahidin Sudirohusodo Makassar Tahun 2013.

89

Tabel 9 Hubungan Alergi Kulit dengan Iritasi


Kulit (Ruam Popok) di Ruangan Anak RSUP.
Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Tahun
2013.
Iritasi Kulit
(Ruam popok)
Total
Alergi Kulit
Iritasi
Tidak
n
%
n
%
n
%
Alergi
22 46.8 1 2.1 23 48.9
Tidak Alergi 1 2.1
23 48.9 24 51.1
Total
23 48.9 24 51.1 47 100
p = 0,000

Dari
hasil
uji
statistik
dengan
menggunakan
uji
Chi-square
maka
berdasarkan correction fishers exact test
diperoleh nilai p = 0.000 < nilai (0.05).
dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
ada hubungan antara lapisan plastik kedap air
(Sirkulasi) dengan iritasi kulit (ruam popok) di
Ruangan
Anak
RSUP.
Dr.
Wahidin
Sudirohusodo Makassar.
PEMBAHASAN
1. Hubungan Antara Popok Kotor dengan Iritasi
Kulit (Ruam Popok)
Berdasarkan analisis univariat maka
diketahui bahwa 47 Orang responden yang
mengalami iritasi kulit adalah sebanyak 26
orang responden (55.3%) pada saat
menggunakan popok dan yang tidak
mengalami iritasi kulit adalah sebanyak 21
orang responden (44.7%).
Dari hasil analisis bivariat menunjukan
bahwa ada hubungan yang signifikan antara
popok kotor dengan iritasi kulit (ruam popok) di
Ruangan
Anak
RSUP.
Dr.
Wahidin
Sudirohusodo Makassar. Resiko tinggi popok
kotor responden maka akan semakin memicu
kejadian iritasi kulit (ruam popok).
Maka hipotesa yang disajikan peneliti
diterima karena ada hubungan antara popok
kotor dengan iritasi kulit (ruam popok). Dalam
penelitian Rahmat Hidayat (2011) dengan
judul
penelitian
"Faktor-Faktor
yang
Mempengaruhi Diaper Rush Pada Bayi 0-12
Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kota
Bantaeng", diperoleh hasil penelitian bahwa
popok yang tidak sering diganti mengakibatkan
bayi menjadi tidak tenang dan gelisah dapat
mengakibatkan terjadinya ruam pada bayi
(Diaper Rush). Berdasarkan teori dan hasil
peelitian diatas maka dapat kita lihat tingginya
kejadian iritasi kulit akibat alergi kulit.
2. Hubungan Antara Alergi Kulit dengan Iritasi
Kulit (Ruam Popok)
Berdasarkan analisis univariat maka
diketahui bahwa 47 Orang responden yang
mengalami alergi kulit adalah sebanyak 23
orang responden (48.9%) pada saat
menggunakan popok dan yang tidak
mengalami iritasi kulit adalah sebanyak 24
orang responden (51.1%).
Dari hasil analisis bivariat menunjukan
bahwa ada hubungan yang signifikan antara
alergi kulit dengan iritasi kulit (ruam popok) di
Ruangan
Anak
RSUP.
Dr.
Wahidin
Sudirohusodo Makassar. Resiko tinggi alergi
kulit responden maka akan semakin memicu
kejadian iritasi kulit (ruam popok).
Maka hipotesa yang disajikan peneliti
diterima karena ada hubungan antara alergi
kulit dengan iritasi kulit (ruam popok).
Hasil penelitian ini didukung oleh
pendapat yang dikemukakan oleh Vinci
Ghazali (2010), reaksi alergi menyebabkan

Dari tabel 9 maka diketahui bahwa dari


total 23 orang responden (46.8%) yang dalam
kategori alergi kulit, 22 orang responden
(46.8%) mengalami iritasi kulit (ruam popok)
dan 1 orang lainnya (2.1%) tidak megalami
iritasi kulit saat menggunakan popok.
Sedangkan dari total 24 orang responden
(51.1%) yang dalam kategori alergi kulit, 1
orang responden (2.1%) mengalami iritasi kulit
(ruam popok) dan 23 orang responden
(48.9%) lainnya tidak menglami iritasi kulit
pada saat menggunakan popok.
Dari
hasil
uji
statistik
dengan
menggunakan
uji
Chi-square
maka
berdasarkan correction fishers exact test
diperoleh nilai p = 0.000 < nilai (0.05).
dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
ada hubungan antara alergi kulit dengan iritasi
kulit (ruam popok) di Ruangan Anak RSUP.
Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Tabel 10 Hubungan Lapisan Plastik Kedap Iar
(Sirkulasi) dengan Iritasi Kulit (Ruam Popok) di
Ruangan
Anak
RSUP.
Dr.
Wahidin
Sudirohusodo Makassar Tahun 2013.
Iritasi Kulit
(Ruam popok)
Total
Lapisan Plastik
Kedap Air
Ya
Tidak
n %
n
% n %
Kedap Air
1 2.1 23 48.9 24 51.1
Tdak Kedap
22 46.8 1 2.1 23 48.9
Air
Total
23 48.9 24 51.1 47 100
p = 0,000
Dari tabel 10 maka diketahui bahwa dari
total 24 orang responden (51.1%) yang dalam
kategori lapisan plastik kedap air (Sirkulasi), 1
orang responden (2.1%) mengalami iritasi kulit
(ruam popok) dan 23 orang lainnya (48.9%)
tidak megalami iritasi kulit saat menggunakan
popok. Sedangkan dari total 23 orang
responden (48.9%) yang dalam kategori
lapisan plastik kedap air (Sirkulasi), 1 orang
responden (2.1%) mengalami iritasi kulit (ruam
popok) dan 22 orang responden (46.8%)
lainnya tidak menglami iritasi kulit pada saat
menggunakan popok.

90

permukaan kulit rusak. "Ditambah lagi dengan


adanya bakteri serta jamur, permukaan kulit
yang sudah rusak ini membuat hilangnya
pertahanan tubuh." Reaksi lanjutnya, biasanya
muncul secara tiba-tiba dalam waktu 1-2 hari.
"Ini berbeda dengan iritasi yang timbulnya
lebih lama, setelah beberapa hari atau
minggu." Meski begitu, soal waktu tak bisa
dijadikan patokan. "Sebab, iritasi dan alergi
bisa tumpang tindih terjadinya. Yang pasti,
kalau sudah timbul merah-merah di kulit, diikuti
lecet atau melepuh seperti bisul air, berarti
alerginya sudah akut."
Berdasarkan teori dan hasil peelitian
diatas maka dapat kita lihat tingginya kejadian
iritasi kulit akibat alergi kulit.
3. Hubungan Antara Lapisan Plastik Kedap Air
(Sirkulasi) dengan Iritasi Kulit (Ruam Popok)
Berdasarkan analisis univariat maka
diketahui bahwa 47 Orang responden yang
mengalami lapisan plastik kedap air (sirkulasi)
adalah sebanyak 23 orang responden (48.9%)
pada saat menggunakan popok dan yang tidak
mengalami iritasi kulit adalah sebanyak 24
orang responden (51.1%).
Dari hasil analisis bivariat menunjukan
bahwa ada hubungan yang signifikan antara
lapisan plastik kedap air (sirkulasi) dengan
iritasi kulit (ruam popok) di Ruangan Anak
RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Resiko tinggi alergi kulit responden maka akan
semakin memicu kejadian iritasi kulit (ruam
popok).
Maka hipotesa yang disajikan peneliti
diterima karena ada hubungan antara lapisan
plastik kedap air (sirkulasi) dengan iritasi kulit
(ruam popok). Hasil penelitian ini didukung
oleh pendapat yang dikemukakan Syahrani
(2008) bahwa pemakaian popok sintesis atau
celana berlapis plastik yang lama tidak diganti,
sering menimbulkan iritasi langsung pada kulit
akibat tertimbunnya urin atau kotoran yang
mengandung amonia. Tertutupnya daerah
popok
meningkatkan
suhu
maupun
kelembaban di daerah lipatan bokong makin
memudahkan penyerapan bahan-bahan kimia
iritan tersebut. Bila berlangsung berulangulang pelindung kulit akan rusak, sehingga
memudahkan berkembangbiaknya jamur,
seperti Candida albicans.
Menurut laporan Journal of Pediatrics
terdapat 54% bayi berumur 1 bulan yang
mengalami ruam popok setelah memakai
popok yang terbuat dari bahan plastik atau
karet dapat menyebabkan iritasi pada kulit
bayi. Dalam artikel yang berjudul Disposable
Diapers : Potential Health Hazards, Cathy
Allison menyatakan kalau Procter & Gamble
(produsen Pampers dan Huggies) melalui
penelitiannya
memperoleh
data
mencengangkan. Angka ruam popok pada
bayi yang menggunakan popok dengan
kondisi kotor meningkat dari 7,1% hingga 61%.

Sementara itu Mark Fearer dalam artikelnya


yang berjudul Diaper Debate-Not Over Yet
menyatakan beberapa hasil studi medis
menunjukkan angka peningkatan ruam popok
7% pada tahun 2009 dan 78% pada tahun
2010, (Celly, N. 2010).
Berdasarkan teori dan hasil peelitian
diatas maka dapat kita lihat tingginya kejadian
iritasi kulit akibat alergi kulit.
KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan
popok kotor, alergi kulit, dan lapisan plastik kedap
air (sirkulasi) dengan tingkat kejadian iritasi kulit
(ruam popok) pada bayi. Hal ini dikarenakan
popok yang kotor, adanya alergi pada kulit, dan
lapisan plastik yang tidak kedap air dapat
menyebabkan terjadinya iritasi pada kulit (ruam
popok) pada bayi. Sehingga diharapkan kepada
semua masyarakat khususnya kepada Ibu rumah
tangga diharapkan agar lebih memperhatikan lagi
tentang iritasi kulit (ruam popok) pada bayi.
DAFTAR PUSTAKA
Anik, Maryunai. 2010. Ilmu Kesehatan Anak
Dalam Kebidanan. Cetakan Pertama. Trans
Info Medika : Jakarta.
Arif, Rosyid, 2010. Klasifikasi Jamur. (Online)
(http://bebas.vlsm.org, di akses tanggal 07
April 2013 )
Ari, Muhandari A. Dkk, 2000. Perawatan Kulit
Pada Bayi dan Balita. Balai Penerbit FK UI :
Jakarta
Caladine, 2011. Kulit Bayi Lebih Rentan
Dibanding
Kulit
Dewasa.
(Online)
(http://www.facebook.com, di akses pada
tanggal 07 April 2013)
Dina,

2012. Seputar Kulit Bayi. (Online)


(http://www.ayahbunda.com, di akses pada
tanggal 07 April 2013)

Hery, P. 2012. Tentang Iritan Dermatitis (Online)


(http://www.popoktekstil-1455800.html
di
akses pada tanggal 08 April 2013)
Ghazali, Vinci. 2010. Baik Buruknya Popok Sekali
Pakai (Online) (http://www.tabloidnova.com/
Nova/Keluarga/Anak/Baik-Buruknya-PopokSekali-Pakai.html Diakses tanggal 10 Juli
2013)
Hidayat A.A.A. 2009. Metode Penelitian
Keperawatan Dan Teknik Analisis Data.
Salemba Medika : Jakarta.
Iin, Rahmatia. 2012. Mengenan Alergi Kulit.
(Online) (http://www.ilmukesehatan.com, di
akses pada tanggal 05 April 2013)

91

Linda Maya, S. 29 Oktober 2012. Cara Ampuh


Atasi Ruam Popok Pada Bayi (Online)
(http://health.detik.com, di akses pada
tanggal 05 April 2013)
Laily

Isroin, dkk, 2012. Personal Hygiene


(Konsep, Proses dan Aplikasi dalam
Keperawatan).
Graha
Salemba
:
Yogyakarta.

M. Andi, 2012. Makalah Diaper Rash. (Online)


(http://www.ilmupastipengungkapkebenaran
. Di akses pada tanggal 05 April 2013)
Muslihatun, NW, 2012. Asuhan Neonatus Bayi
dan Balita. Citramaya : Yogyakarta.
Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan Metode
Penelitian Ilmu Keperawatan. Salemba
Medika, Edisi 2 : Jakarta.
Nyak Celly. 2010. Pengaruh pemberian VCO
(Virgin coconut oil) terhadap penyembuhan
ruam popok. (online) (http://cellynyak.
blogspot.com/2013/02/pengaruhpemberian
vcovirgincoconut.html. Diakses tanggal 10
Juli 2013)
Rahmat, H. 28 Oktober 2011. Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Diaper Rush Pada Bayi 012 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kota
Bantaeng Kecamatan Bontotiro Akper
Bulukumba : Bulukumba
Rini,

S,
2009.
Ruam
Popok.
(online)
(http://www.idai.or.id, di akses pada tanggal
03 April 2013)

Soetjiningsih, dkk. 1994. Tumbuh Kembang Anak.


Penerbit Buku Kedokteran. EGC : Jakarta.
Syahrani, 2008. Iritasi Kulit Pada Bayi, Apa dan
Bagaimana
Mengatasinya.
(Online)
(http://www.dechacare.com, di akses pada
tanggal 05 April 2013)

92