Anda di halaman 1dari 17

Case Report

RETENSIO PLASENTA

BAB I

I. PENDAHULUAN
Retensio plasenta (placental retention) merupakan plasenta yang belum lahir dalam
setengah jam setelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta (rest placenta) merupakan
tertinggalnya bagian plasenta dalam rongga rahim yang dapat menimbulkan
perdarahan postpartum dini (early postpartum hemorrhage) atau perdarahan post
partum lambat (late postpartum hemorrhage) yang
biasanya terjadi dalam 6-10 hari pasca persalinan.
Sebab-sebabnya plasenta belum lahir bisa oleh karena:
a). plasenta belum lepas dari dinding uterus; atau
b).plasenta sudah lepas, akan tetapi belum
dilahirkan.
Apabila plasenta belum lahir sama sekali, tidak terjadi perdarahan; jika lepas
sebagian, terjadi perdarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya.
Plasenta belum lepas dari dinding uterus karena:
a). kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta
adhesiva);
b). plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korialis
menembus desidua sampai miometrium- sampai di bawah peritoneum
(plasenta akreta-perkreta).
Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, disebabkan
oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III,
sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi
keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta).
II. DEFENISI
Retensio plasenta adalah plasenta tidak lahir spontan maksimal 30 menit.

Case Report

Retensio plasenta adalah lepas plasenta tidak bersamaan sehingga sebagian masih
melekat pada tempat implantasi, menyebabkan terganggunya retraksi dan kontraksi
otot uterus, sehingga sebagian pembuluh darah tetapi terbuka serta menimbulkan
perdarahan.
Retensio plasenta yaitu plasenta dianggap retensi bila belum dilahirkan dalam batas
waktutertentu setelah bayi lahir (dalam waktu 30 menit setelah penatalasanaan aktif).
Retensio plasenta adalah tertahan atau belum lahirnya palsenta hingga melebihi 30
menit setelah bayi lahir (Sarwanto, 2002).
II. JENIS-JENIS
1. Plasenta adhesiva adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta
sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.
2. Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki
sebagian lapisan miometrium.
3. Plasenta inkreta adalah implantasi

jonjot

korion

plasenta

hingga

mencapai/memasuki miometrium.
4. Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus
lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus .
5. Plasenta inkarserata adalah tertahannya plasenta di dalam kavum uteri,
disebabkan oleh konstruksi ostium uteri.
III. ETIOLOGI
Etiologi dasar meliputi:
1) Faktor maternal
a) Gravida berusia lanjut atau terlalu muda
b) Multiparitas
2) Faktor uterus
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)

Bekas sectio caesaria, sering plasenta tertanam pada jaringan cicatrix uterus
Bekas pembedahan uterus
Uterus terlalu regang dan besar ,
Kelainan pada uterus,
Atonia uteri,
Bekas curetage uterus, yang terutama dilakukan setelah abortus
Bekas pengeluaran plasenta secara manual
Bekas endometritis
2

Case Report

3) Faktor plasenta
a)
b)
c)
d)

Plasenta previa
Implantasi cornual
Plasenta akreta
Kelainan bentuk plasenta

IV. INSIDEN
Perdarahan merupakan penyebab kematian nomor satu (40%60%) kematian ibu
melahirkan di Indonesia. Insidens perdarahan pasca persalinan akibat retensio
plasenta dilaporkan berkisar 16%17% Di RSU H. Damanhuri Barabai, selama 3
tahun (19971999) didapatkan 146 kasus rujukan perdarahan pasca persalinan akibat
retensio plasenta. Dari sejumlah kasus tersebut, terdapat satu kasus (0,68%) berakhir
dengan kematian ibu.
V. ANATOMI
Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15 sampai 20 cm dan
tebal lebih kurang 2.5 cm. beratnya rata-rata 500 gram. Tali-pusat berhubungan
dengan plasenta biasanya di tengah (insertio sentralis).
Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan lebih kurang 16 minggu
dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uteri. Bila diteliti benar, maka
plasenta sebenarnya berasal dari sebagian besar dari bagian janin, yaitu vili koriales
yang berasal dari korion, dan sebagian kecil dari bagian ibu yang berasal dari desidua
basalis.
Darah ibu yang berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yang berada di
desidua basalis. Pada sistole darah disemprotkan dengan tekanan 70-80 mmHg seperti
air mancur ke dalam ruang interviller sampai mencapai chorionic plate, pangkal dari
kotiledon-kotiledon janin. Darah tersebut membasahi semua vili koriales dan kembali
perlahan-lahan dengan tekanan 8 mmHg ke vena-vena di desidua.
Plasenta berfungsi: sebagai alat yang memberi makanan pada janin, mengeluarkan
sisa metabolisme janin, memberi zat asam dan mengeluarkan CO2, membentuk
hormon, serta penyalur berbagai antibodi ke janin.
VI. FISIOLOGIS
3

Case Report

Setelah bayi dilahirkan, uterus secara spontan berkontraksi. Kontraksi dan retraksi
otot-otot uterus menyelesaikan proses ini pada akhir persalinan. Sesudah berkontraksi,
sel miometrium tidak relaksasi, melainkan menjadi lebih pendek dan lebih tebal.
Dengan kontraksi yang berlangsung kontinyu, miometrium menebal secara progresif,
dan kavum uteri mengecil sehingga ukuran juga mengecil. Pengecilan mendadak
uterus ini disertai mengecilnya daerah tempat perlekatan plasenta.
Ketika jaringan penyokong plasenta berkontraksi maka plasenta yang tidak dapat
berkontraksi mulai terlepas dari dinding uterus. Tegangan yang ditimbulkannya
menyebabkan lapis dan desidua spongiosa yang longgar memberi jalan, dan pelepasan
plasenta terjadi di tempat itu. Pembuluh darah yang terdapat di uterus berada di antara
serat-serat otot miometrium yang saling bersilangan. Kontraksi serat-serat otot ini
menekan pembuluh darah dan retaksi otot ini mengakibatkan pembuluh darah terjepit
serta perdarahan berhenti.
Pengamatan terhadap persalinan kala tiga dengan menggunakan pencitraan
ultrasonografi secara dinamis telah membuka perspektif baru tentang mekanisme kala
tiga persalinan. Kala tiga yang normal dapat dibagi ke dalam 4 fase, yaitu:
1. Fase laten, ditandai oleh menebalnya duding uterus yang bebas tempat
plasenta, namun dinding uterus tempat plasenta melekat masih tipis.
2. Fase kontraksi, ditandai oleh menebalnya dinding uterus tempat plasenta
melekat (dari ketebalan kurang dari 1 cm menjadi > 2 cm).
3. Fase pelepasan plasenta, fase dimana plasenta menyempurnakan
pemisahannya dari dinding uterus dan lepas. Tidak ada hematom yang
terbentuk antara dinding uterus dengan plasenta. Terpisahnya plasenta
disebabkan oleh kekuatan antara plasenta yang pasif dengan otot uterus yang
aktif pada tempat melekatnya plasenta, yang mengurangi permukaan tempat
melekatnya plasenta. Akibatnya sobek di lapisan spongiosa.
4. Fase pengeluaran, dimana plasenta bergerak meluncur. Saat plasenta bergerak
turun, daerah pemisahan tetap tidak berubah dan sejumlah kecil darah
terkumpul di dalam rongga rahim. Ini menunjukkan bahwa perdarahan selama
pemisahan plasenta lebih merupakan akibat, bukan sebab. Lama kala tiga pada
persalinan normal ditentukan oleh lamanya fase kontraksi. Dengan
menggunakan ultrasonografi pada kala tiga, 89% plasenta lepas dalam waktu
satu menit dari tempat implantasinya.
4

Case Report

Tanda-tanda lepasnya plasenta adalah sering ada pancaran darah yang mendadak,
uterus menjadi globuler dan konsistensinya semakin padat, uterus meninggi ke arah
abdomen karena plasenta yang telah berjalan turun masuk ke vagina, serta tali pusat
yang keluar lebih panjang.
Sesudah plasenta terpisah dari tempat melekatnya maka tekanan yang diberikan oleh
dinding uterus menyebabkan plasenta meluncur ke arah bagian bawah rahim atau atas
vagina. Kadang-kadang, plasenta dapat keluar dari lokasi ini oleh adanya tekanan
inter-abdominal. Namun, wanita yang berbaring dalam posisi terlentang sering tidak
dapat mengeluarkan plasenta secara spontan. Umumnya, dibutuhkan tindakan
artifisial untuk menyempurnakan persalinan kala tinggi. Metode yang biasa
dikerjakan adalah dengan menekan dan mengklovasi uterus, bersamaan dengan
tarikan ringan pada tali pusat.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelepasan Plasenta :
1. Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks; kelemahan
dan tidak efektifnya kontraksi uterus; kontraksi yang tetanik dari uterus; serta
pembentukan constriction ring.
2. Kelainan dari plasenta, misalnya plasenta letak rendah atau plasenta previa;
implantasi di cornu; dan adanya plasenta akreta.
3. Kesalahan manajemen kala tiga persalinan , seperti manipulasi dari uterus
yang tidak perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan
kontraksi yang tidak ritmik; pemberian uterotonik yang tidak tepat waktunya
yang juga dapat menyebabkan serviks kontraksi dan menahan plasenta; serta
pemberian anestesi terutama yang melemahkan kontraksi uterus.
VII. GAMBARAN KLINIS
a. Waktu hamil
1) Kebanyakan pasien memiliki kehamilan yang normal
2) Insiden perdarahan antepartum meningkat, tetapi keadaan ini biasanya
menyertai plasenta previa
3) Terjadi persalinan prematur, tetapi kalau hanya ditimbulkan oleh
perdarahan
4) Kadang terjadi ruptur uteri
b. Persalinan kala I dan II
5

Case Report

Hampir pada semua kasus proses ini berjalan normal


c. Persalinan kala III
1) Retensio plasenta menjadi ciri utama
2) Perdarahan post partum, jumlahnya perdarahan tergantung pada derajat
perlekatan plasenta, seringkali perdarahan ditimbulkan oleh Dokter kebidanan
ketika ia mencoba untuk mengeluarkan plasenta secara manual
3) Komplikasi yang seriun tetapi jsrsng dijumpai yaitu invertio uteri, keadaan ini
dapat tejadi spontan, tapi biasanya diakibatkan oleh usaha-usaha untuk
mengeluarkan plasenta
4) Ruptura uteri, biasanya terjadi saat berusaha mengeluarkan plasenta
Untuk mengetahu gejala:
a. Anamnesis, meliputi pertanyaan tentang periode prenatal, meminta informasi
mengenai episode perdarahan postpartum sebelumnya, paritas, serta riwayat
multipel fetus dan polihidramnion. Serta riwayat pospartum sekarang dimana
plasenta tidak lepas secara spontan atau timbul perdarahan aktif setelah bayi
dilahirkan.
b. Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta tidak ditemukan di dalam kanalis
servikalis tetapi secara parsial atau lengkap menempel di dalam uterus.

VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG


a. Hitung darah lengkap: untuk menentukan tingkat hemoglobin (Hb) dan
hematokrit (Hct), melihat adanya trombositopenia, serta jumlah leukosit. Pada
keadaan yang disertai dengan infeksi, leukosit biasanya meningkat.
b. Menentukan adanya gangguan koagulasi dengan hitung protrombin time (PT)
dan activated Partial Tromboplastin Time (aPTT) atau yang sederhana dengan
Clotting Time (CT) atau Bleeding Time (BT). Ini penting untuk
menyingkirkan perdarahan yang disebabkan oleh faktor lain.
c. USG melihat adanya sisa jaringan plasenta setelah dilakukan manual plasenta.
IX. DIAGNOSA BANDING
Meliputi plasenta akreta, suatu plasenta abnormal yang melekat pada miometrium
tanpa garis pembelahan fisiologis melalui garis spons desidua.
6

Case Report

X. PENATALAKSANAAN
Penanganan retensio plasenta atau sebagian plasenta adalah:
a. Resusitasi. Pemberian oksigen 100%. Pemasangan IV-line dengan kateter
yang berdiameter besar serta pemberian cairan kristaloid (sodium klorida
isotonik atau larutan ringer laktat yang hangat, apabila memungkinkan).
Monitor jantung, nadi, tekanan darah dan saturasi oksigen. Transfusi darah
apabila diperlukan yang dikonfirmasi dengan hasil pemeriksaan darah.
b. Drips oksitosin (oxytocin drips) 20 IU dalam 500 ml larutan Ringer laktat atau
NaCl 0.9% (normal saline) sampai uterus berkontraksi.
c. Plasenta coba dilahirkan dengan Brandt Andrews, jika berhasil lanjutkan
dengan drips oksitosin untuk mempertahankan uterus.
d. Jika plasenta tidak lepas dicoba dengan tindakan manual plasenta. Indikasi
manual plasenta adalah: Perdarahan pada kala tiga persalinan kurang lebih 400
cc, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah persalinan buatan
yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan
untuk eksplorasi jalan lahir, tali pusat putus.
e. Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat
dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta. Pada
umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Kuretase
harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif
tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus.
f. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan
pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral.
g. Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan
infeksi sekunder.
XI. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
1. Komplikasi yang berhubungan dengan transfusi darah yang dilakukan.
2. Multiple organ failure yang berhubungan dengan kolaps sirkulasi dan
penurunan perfusi organ.
3. Sepsis
4. Kebutuhan terhadap histerektomi dan hilangnya potensi untuk memiliki anak
selanjutnya.
XII. PROGNOSIS
7

Case Report

Prognosis tergantung dari lamanya, jumlah darah yang hilang, keadaan sebelumnya
serta efektifitas terapi. Diagnosa dan penatalaksanaan yang tepat sangat penting.

DAFTAR PUSTAKA
1. Wibowo B, Rachimhadhi T, Pre-eklampsia dan eklampsia. In: llmu Kehidanan
FK-Ul, Winkjosastro H, editor. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,
Edisi ketiga, Jakarta; 1992 : 281-300.
2. Mochtar R. Toksemia Gravidarum. In: Sinopsis Obstetri, Obstetri Fisiologi,
Obstetri Patologi, Jilid I, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta; 1998: 198203
3. Manila B. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta:2002, 34-41.
4. Panitia Standar Terapi Bagian Obgin FK-USU/RSU Dr. Pirngadi Medan.
Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri Ginekologi, Medan, 1991 ; 41 -3 1.
5. Bagian Ilmu Kebidanan dan Kandungan FK Univ. Padjajaran Bandung, Ilmu
Kebidanan Patologi, Edisi 1981: 89-98.
6. Pritchard, MacDonald, Gant. Ilmu Kebidanan Williams, Edisi 17, Universitas
Airlangga, Surabaya, 1991 ; 609-27.
7. Mansjoer A, Triyanti K, et al, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ketiga, Media
Aesculapius, FKUI, Jakarta, 1999; 270-73.

Case Report

STATUS PASIEN
ANAMNESIS PASIEN
Pasien

Suami

Nama

: Mulyana

Musliadi

Umur

: 24 tahun

26 tahun

Agama

: Islam

Islam

Pendidikan

: SMA

SMA

Pekerjaan

: IRT

Petani

Alamat

: Dsn. Tempok Teungoh Gampong Ceumpedak Kec. Cot Girek Kab. Aceh

Utara
No. MR

: 04 84 43

Kelas Rawatan : Kelas 3


Tanggal Masuk : 3 Juni 2013
Tanggal Keluar: 11 Juni 2013

Case Report

ANAMNESA PENYAKIT
Keluhan Utama: Plasenta masih tertinggal di dalam rahim
Telaah

:Os masuk ke RSUD Cut Meutia kiriman bidan pukul 12.30 WIB
dengan keluhan baru melahirkan sekitar pukul 10.00 wib, dengan
keluhan plasenta masih tertinggal di dalam rahim.

HPHT : .....?
TTP

: ..?-2013

Gravida: 1

Partus: 0

Abortus: 0

RIWAYAT PERSALINAN
G1: hamil ini dengan post date dengan PTM (partus tak maju) dan bayi lahir dengan
aspirasi mekonium, bayi meninggal setelah 1 jam kemudian.
STATUS PRESENT
Vital sign
K/U : Lemah
Sensorium : compos mentis

anemia : (+) ringan

TD : 130/90 mmHg

sianosis : (-)

HR : 80 x/i

icterus

RR : 24 x/i

dyspnoe : (-)

T : 36 0 C

edema : (-)

: (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Darah rutin : Golongan darah (AB)
Hb: 8,9 gr % pada tanggal 3 Juni 2013
10

Case Report

Hb: 9, 5 gr% pada tanggal 6 Juni 2013


Urine :
Warna : kuning jernih
RESUME
STATUS PRESENT
Vital sign
Sensorium : compos mentis

anemia : (+) ringan

TD : 130/90 mmHg

sianosis : (-)

HR : 80 x/i

icterus

RR : 20 x/i

dyspnoe : (-)

T : 36,5 0 C

edema : (-)

: (-)

DIAGNOSA SEMENTARA
RETENSIO PLASENTA pada tanggal 3 Juni 2013
DIAGNOSA
RETENSIO PLASENTA
PLASENTA REST + ANEMIA pada tanggal 5 Juni 2013
RENCANA TINDAKAN

MANUAL PLASENTA
CURETTAGE
INFUS RL+NaCl
TRANSFUSI PRC 4 BAG
USG Tampak sisa jaringan plasenta di corpus uteri pada tanggal 5 Juni

2013
TERAPI:
1.
2.
3.
4.

Cefotaximen 1gr/12 jam


Metronidazol 1gr/8 jam
Methylogemetrine malleat 2 amp
Oxytoxin 2 amp drips
11

Case Report

KEADAAN PASIEN POST CURETASE : Baik


Teraphy post curetase pada tanggal 10-06-2013 :
1. Ketorolax 2 gr
2. Metronidazol 3x1
3. Methylogemetrine malleat 1 amp
4. Infus RL + 1 ampul Oxytoxin 20 gtt/menit
5. Post Transfusi 4 bag PRC
FOLLOW UP
Follow up 04 JUNI 2013
KU

: lemah

TD

: 110/80 mmHg

HR

: 80 x/i

RR

: 24 x/i

: 36,0 0C

Therapy

: Infus RL 20 gtt/i
Transfusi 1 bag terpasang
Cefotaxime 1g/12 jam
SF (Sulfas Ferosus) 2x1
Vit C 2x1
Asam Mefenamat 3x1

Follow up 05 JUNI 2013


KU

: baik

TD

: 120/80 mmHg

HR

: 80 x/i

RR

: 18 x/i

: 36,5 0C

Therapy

: Post transfusi 2 bag


Infus RL 20 gtt/i
Asam mefenamat 3x1
SF (Sulfas Ferosus) 2x1

12

Case Report

Vit C 2x1
Infus RL 20 gtt/menit
Follow up 06 JUNI 2013
KU

: baik

TD

: 110/70 mmHg

HR

: 76 x/i

RR

: 20 x/i

: 36,3 0C

Therapy

: Asam Mefenamat 3x1


Amoxycilin 3x1
Sulfas Ferosus 2x1
Vit C 2x1
Post transfusi 3 bag + Infus RL 20 gtt/i

Follow up 07 JUNI 2013


KU

: baik

TD

: 100/70 mmHg

HR

: 80 x/i

RR

: 20 x/i

: 36,5 0C

Therapy

: Asam Mefenamat 3x1


Amoxycilin 3x1
Sulfas Ferosus 2x1
Vit C 2x1
Post transfusi 3 bag + Infus RL 20 gtt/i

Follow up 08 JUNI 2013


KU

: baik

TD

: 110/70 mmHg

HR

: 90 x/i

RR

: 16 x/i
13

Case Report

: 36,0 0C

Therapy

: Post transfusi 3 bag stok 1 bag PRC


Infus NaCL 20 gtt/i + transfusi PRC
Asam Mefenamat 3x1
Amoxycilin 3x1
Sulfas Ferosus 2x1
Vit C 2x1

Follow up 09 JUNI 2013


KU

: baik

TD

: 100/90 mmHg

HR

: 70 x/i

RR

: 24 x/i

: 36,1 0C

Therapy

: Amoxicilin 500mg 3x1


SF (Sulfas Ferosus) 2x1
Vit C 2x1
Asam Mefenamat 3x1
Post Transfusi 3 bag, Infus RL 20 gtt/i

Follow up 10 JUNI 2013


KU

: baik

TD

: 110/70 mmHg

HR

: 80 x/i

RR

: 20 x/i

: 36,9 0C

Therapy

: Post transfusi 4 bag stok 1 bag PRC


Ketorolax 2 gr
Metronidazol 3x1
SF (Sulfas Ferosus) 2x1
14

Case Report

Vit C 2x1
Asam Mefenamat 3x1
Methylogemetrine malleat 1 amp
Infus RL + 1 ampul Oxytoxin 20 gtt/menit
Follow up 11 JUNI 2013
KU

: baik

TD

: 110/70 mmHg

HR

: 76 x/i

RR

: 24 x/i

: 36,8 0C

Therapy

: Amoxicilin 500mg 3x1


Asam Mefenamat 3x1
Vit B12 kompleks 2x1
SF 2x1
Vit C 2x1
Post Transfusi 4 bag, Infus RL Aff

PASIEN PAPS PADA TANGGAL 11-6-2013 PUKUL 10.30 WIB DALAM


KEADAAN BAIK
PROGNOSA
Dubia ad Bonam

15

Case Report

BAB III
KESIMPULAN
Retensio plasenta (placental retention) merupakan plasenta yang belum lahir dalam
setengah jam setelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta (rest placenta) merupakan
tertinggalnya bagian plasenta dalam rongga rahim yang dapat menimbulkan
perdarahan postpartum dini (early postpartum hemorrhage) atau perdarahan post
partum lambat (late postpartum hemorrhage) yang biasanya terjadi dalam 6-10 hari
pasca persalinan.
Os masuk ke RSUD Cut Meutia kiriman bidan pukul 12.30 WIB dengan keluhan
baru melahirkan sekitar pukul 10.00 wib, dengan keluhan plasenta masih tertinggal di
dalam rahim. Riwayat kehamilan G1P0A0 dengan post date dengan PTM (partus tak
maju) dan bayi lahir dengan aspirasi mekonium, bayi meninggal setelah 1 jam
kemudian. Pasien dengan keadaan umum lemah, dilakukan pemeriksaan dalam
terdapat pembukaan 2 cm, terlihat tali pusat dan tinggi fundus uteri setinggi pusat dan
tidak ditemukan tanda-tanda pelepasan plasenta, cek lab cito dan dilakukan manual
plasenta dan terkesan belum bersih, kemudian USG pada tanggal 5 Juni 2013 tampak
sisa jaringan plasenta di corpus uteri. Dilakukan kuretase pada tanggal 10 Juni 2013
dengan keadaan umum pasien baik post transfusi 3 bag, post curetase keluar jaringan
250 gram, kesadaran compos mentis, dengan keadaan umum baik dan persiapan 1
bag PRC lagi. Pulang Os pada tanggal 11 Juni 2013 dengan PAPS keadaan umum
baik, post transfusi 4 bag.

16

Case Report

17