Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I
PENDAHULUAN
Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) atau lebih dikenal masyarakat awam dengan
sariawan merupakan salah satu penyakit pada mukosa mulut yang kambuh berulang dan
paling sering terjadi. Prevalensi SAR tergantung pada daerah populasi yang diteliti.
Penelitian-penelitian epidemiologi menunjukkan pada umumnya prevalensi SAR berkisar 1525 % dari populasi, namun ketika ras khusus atau kelompok sosial-ekonomi diteliti insidensi
penyakit ini berkisar antara 5-50 %.
Berdasarkan ukuran ulsernya, Stomatitis Aftosa Rekuren dibagi menjadi 3 variasi,
yaitu Stomatitis Aftosa Rekuren minor dengan ulser berukuran kurang dari 1 cm, Stomatitis
Aftosa Rekuren mayor dengan ulser berukuran lebih dari 1 cm, serta Stomatitis Aftosa
Rekuren herpetiform yang merupakan kumpulan ulser kecil dan bersatu menjadi bentuk ulser
irregular yang besar (Field and Longmann, 2003; Greenberg and Glick, 2003).
Sampai saat ini, etiologi SAR masih belum diketahui dengan pasti. Ulser pada SAR
terjadi bukan karena satu faktor saja, tetapi multifaktorial yang memungkinkannya
berkembang menjadi ulser. Faktor tersebut antara lain faktor psikologis, herediter,
defisiensi komponen darah (serum Fe, folat, & B12), defisiensi nutrisi, respon imun, alergi
makanan, trauma, merokok, dan sosial-ekonomi.
Lesi pada Stomatitis Aftosa Rekuren ditandai dengan adanya rasa panas selama 2-48
jam sebelum munculnya ulser, kemudian muncul gambaran permukaan eritem, berubah
menjadi papula, dan akan membentuk ulser yang melebar dalam waktu 48-72 jam.
(Greenberg and Glick, 2003).
Walaupun SAR tidak mengancam kehidupan, tetapi keluhan rasa sakit yang hebat
sangat menganggu penderita pada saat makan, menelan, atau berbicara terutama pada
penderita yang sering berulang kejadiannya. Selanjutnya, akan terjadi penurunan kualitas
hidup dan kondisi kesehatan secara menyeluruh. Berdasarkan hal tersebut, maka SAR sampai
sekarang masih merupakan penyakit mulut yang dikaji karena dianggap penting.

2
Makalah laporan kasus ini akan dibahas mengenai Stomatitis Aftosa Rekuren pada
seorang pasien yang datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Padjadjaran pada tahun 2012.

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1 Status Klinik IPM
2.1.1 Status Umum Pasien
Nama
: Tn. CW
Umur
: 22 thn
Alamat
: Pasir Pogor
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Status
: Belum Menikah
No. Rekam Medis
: 2013 051xx
Pekerjaan
: Mahasiswa
Tanggal Pemeriksaan : 24 Juni 2014
2.1.2

Anamnesa
Pasien datang dengan keluhan terdapat sariawan pada bagian dalam pipi kanan

belakang dan terdapat sariawan pada permukaan lidah sebelah kanan sejak 4 hari yang lalu
karena tergigit ketika sedang makan 6 hari yang lalu, mula mula sariawan kecil namun lama
kelamaan membesar, sariawan terasa perih ketika berkontak dan mengganggu saat makan.
Pasien terakhir mengalami sariawan 3 minggu yang lalu, muncul tiba tiba pada
bagian kiri lidah, pasien sering mengalami sariawan sejak kecil, sariawan sering berulang

3
dalam jangka waktu 1 bulan, biasanya sariawan timbul jika pasien kurang minum dan
konsumsi sayur dan buah, pasien juga memiliki kebiasaan mengigit pipi.
Pasien juga mengatakan bahwa keluarga dari ayah pasien sering mengalami sariawan,
pasien belum meminum obat dan pasien ingin sariawannya dihilangkan.
2.1.3 Riwayat Penyakit Sitemik
Penyakit jantung
: YA/ TIDAK
Hipertensi
: YA/ TIDAK
Diabetes Melitus
: YA/ TIDAK
Asma/Alergi
: YA/ TIDAK
Penyakit Hepar
: YA/ TIDAK
Kelainan GIT
: YA/ TIDAK
Penyakit Ginjal
: YA / TIDAK
Kelainan Darah
: YA/ TIDAK
Hamil
: YA/ TIDAK
Kontrasepsi
: YA/ TIDAK
Lain-lain
: YA/ TIDAK
2.1.4 Riwayat Penyakit Terdahulu
Disangkal
2.1.5 Kondisi Umum
Keadaan Umum
: Baik
Kesadaran
: Compos Mentis
Suhu
: Afebris

Tensi
Pernafasan
Nadi

2.1.6 Pemeriksaan Ekstra Oral


Kelenjar Limfe:
Submandibula
kiri
: teraba +/- lunak/kenyal/keras
kanan : teraba +/- lunak/kenyal/keras
Submental
kiri
: teraba +/- lunak/kenyal/keras
kanan : teraba +/- lunak/kenyal/keras
Servikal
kiri
: teraba +/- lunak/kenyal/keras
kanan : teraba +/- lunak/kenyal/keras
Mata
: T.A.K. (isokor, non ikterik, non anemis)
TMJ
: Kliking kanan
Bibir
: Hipotonus
Wajah
: Simetri/Asimetri
Sirkum Oral
: T.A.K.
Lain-lain
: T.A.K.

: 120/80 mmHg
: 18 x / menit
: 78 x/ menit

sakit
sakit
sakit
sakit
sakit
sakit

+/+/+/+/+/+/-

2.1.7 Pemeriksaan Intra Oral


Kebersihan Mulut
: Sedang , kalkulus (-), Plak (+), Stain (-)
Gingiva
: Makula difus yang menyebar hingga gusi cekat pada seluruh regio
RA & RB
Mukosa Bukal
: Teraan gigitan pada regio 34 38 dan 44 48 sewarna mukosa; ulser
berbentuk irregular dengan diameter 1 cm, dasar dangkal ( 1 mm)
tepi eritema pada regio 38
Mukosa Labial
: T.A.K.

4
Palatum Durum
Palatum mole
Frenulum
Lidah

: T.A.K.
: T.A.K.
: T.A.K.
: Ulser berbentuk irregular dengan diameter 1 cm dasar dangkal ( 1
mm) tepi eritema pada dorsal lidah bagian kanan; selaput putih pada
permukaan lidah yang dapat di-scrap menggunakan kasa dan tidak
menimbukan jaringan eritema
: T.A.K.

Dasar Mulut
2.1.8
18
48

Status Gigi
17
47

16
46

15
45

14
44

13
43

12
42

11
41

21
31

22
32

23
33

24
34

25
35

26
36

27
37

2.1.9 Pemeriksaan Penunjang


Radiologi
: TDL
Darah
: TDL
Patologi Anatomi
: TDL
Mikrobiologi
: TDL
2.1.10 Diagnosa
D/
Reccurent Aphtous Stomatitis Tipe Minor a/r Mukosa Bukal 38 dan Dorsal Lidah
DD/

sebelah Kanan
Traumatic Ulcers

D/
DD/

Coated Tongue
Oral Candidiasis

D/
DD/

Cheek Biting a/r Mukosa Bukal 34 38 dan 44 - 48


Linea Alba

D/
DD/

Pigmentasi Fisiologis pada seluruh regio RA dan RB


Smokers Melanosis

2.1.11 Rencana Perawatan dan Perawatan


1. Pro OHI homecare dan instruksi untuk mengonsumsi sayur, buah dan minum air putih
2. Pro Resep
R/ Aloclair Gel 8ml (tube I)
3 dd 1
3. Penggunaan tongue scrap ( digunakan setelah menyikat gigi 2 x sehari )
4. Pro kontrol 1 minggu
2.2 Status Kontrol
2.2.1 Status Umum Pasien
Nama
: Tn. CW
Umur
: 22 thn
Alamat
: Pasir Pogor
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Status
: Belum Menikah

28
38

5
No. Rekam Medis
: 2013 051xx
Pekerjaan
: Mahasiswa
Tanggal Pemeriksaan : 1 Juli 2014
2.2.2

Anamnesa
Pasien datang untuk kontrol pada hari ke-7, pasien mengeluhkan bahwa sariawan di

bagian dalam pipi kanannya belum sembuh namun sariawan pada lidah telah sembuh.
Pasien mengatakan bahwa selama 7 hari pasien banyak minum dan konsumsi sayur,
istirahat yang cukup, pasien sudah menggunakan obat yang diberikan namun belum
digunakan secara teratur.
2.2.3 Pemeriksaan Ekstra Oral
Kelenjar Limfe
Submandibula
kiri
: teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/kanan : teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/Submental
kiri
: teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/kanan : teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/Servikal
kiri
: teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/kanan : teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/Mata
konjungtiva: non anemis, pupil: isokhor, sklera: non ikterik
TMJ
TAK
Bibir
Hipotonus
Wajah
Simetri/Asimetri
Sirkum Oral
TAK
Lain-lain
TAK
2.2.4 Pemeriksaan Intra Oral
Kebersihan Mulut
baik/sedang/buruk
plak +/Kalkulus +/stain +/Gingiva
Makula berbentuk difus yang menyebar hingga gusi cekat seluruh
Mukosa Bukal

regio
Teraan gigitan pada regio 34 38 dan 44 48; ulser berbentuk

Mukosa Labial
Palatum Durum
Palatum mole
Frenulum
Lidah

irregular diameter 1 cm dasar dangkal, tepi eritema a/r 38


TAK
TAK
TAK
TAK
selaput putih pada permukaan lidah yang dapat di-scrap menggunakan

Dasar Mulut

kasa dan tidak menimbukan jaringan eritema


TAK

2.2.5

Kebersihan Mulut

6
Debris Indeks
16
1

11
0

Kalkulus Indeks
26
1

16
0

11
0

OHI-S
26

Baik/ sedang/ buruk

0
46
X

31
0

36
X

46
X

31
0

36
X

Stain +/-

OHI-S = DI + CI = 2/12 + 0/12 = 0,1 Baik


2.2.6 Pemeriksaan Penunjang
Radiologi
TDL
Darah
TDL
Patologi Anatomi
TDL
Mikrobiologi
TDL
2.2.7 Diagnosa
D/ Reccurent Aphtous Stomatitis tipe minor pada bagian mukosa bukal regio 38
D/ Coated Tongue
D/ Cheek Biting a/r 34 38 dan 44 - 48
D/ Pigmentasi Fisiologis Gingiva pada seluruh regio RA dan RB
2.2.8 Rencana Perawatan Dan Perawatan
1. Meneruskan obat obatan yang diberikan
2. Pro OHI, melanjutkan menjaga kebersihan gigi dan mulut, serta membersihkan lidah
2x/hari setelah menyikat gigi
3. Melanjutkan konsumsi sayur dan buah yang berserat, dan banyak minum air putih
4. Pro kontrol 1 minggu
2.3. Status Kontrol 2
2.3.1. Status Umum Pasien
Nama
: Tn. CW
Umur
: 22 thn
Alamat
: Pasir Pogor
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Status
: Belum Menikah
No. Rekam Medis
: 2013 051xx
Pekerjaan
: Mahasiswa
Tanggal Pemeriksaan : 1 Juli 2014
2.3.2. Anamnesa

7
Pasien datang untuk kontrol pada hari ke-14, pasien mengeluhkan bahwa sariawan di
bagian dalam pipi kanannya belum sembuh namun sudah tidak terasa sakit.
Pasien mengatakan bahwa selama 7 hari pasien berpuasa, cukup minum dan buah
pada saat berbuka puasa. Istirahat cukup, pasien belum teratur dalam menggunakan obat
karena sering lupa dan pada saat pengaplikasian obat kondisi mulut mudah basah.
2.2.3 Pemeriksaan Ekstra Oral
Kelenjar Limfe
Submandibula
kiri
: teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/kanan : teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/Submental
kiri
: teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/kanan : teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/Servikal
kiri
: teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/kanan : teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/Mata
konjungtiva: non anemis, pupil: isokhor, sklera: non ikterik
TMJ
TAK
Bibir
Hipotonus
Wajah
Simetri/Asimetri
Sirkum Oral
TAK
Lain-lain
TAK
2.2.4 Pemeriksaan Intra Oral
Kebersihan Mulut
baik/sedang/buruk
plak +/Kalkulus +/stain +/Gingiva
Makula berbentuk difus yang menyebar hingga gusi cekat seluruh
Mukosa Bukal

regio
Teraan gigitan pada regio 34 38 dan 44 48; ulser berbentuk

Mukosa Labial
Palatum Durum
Palatum mole
Frenulum
Lidah
Dasar Mulut

irregular diameter 1 cm dasar dangkal, tepi eritema a/r 38


TAK
TAK
TAK
TAK
TAK
TAK

2.2.5

Kebersihan Mulut

Debris Indeks
16
1

11
0

Kalkulus Indeks
26
1

16
1

11
1

OHI-S
26
1

Baik/ sedang/ buruk

8
46
X

31
0

36
X

46
X

31
0

36
X

Stain +/-

OHI-S = DI + CI = 5/12 + 0/12 = 0,4 Baik


2.2.6 Pemeriksaan Penunjang
Radiologi
TDL
Darah
TDL
Patologi Anatomi
TDL
Mikrobiologi
TDL
2.2.7 Diagnosa
D/ Reccurent Aphtous Stomatitis tipe minor pada bagian mukosa bukal regio 38
D/ Cheek Biting a/r 34 38 dan 44 - 48
D/ Pigmentasi Fisiologis Gingiva pada seluruh regio RA dan RB
2.2.8 Rencana Perawatan Dan Perawatan
1. Meneruskan obat obatan yang diberikan
2. Pro Resep
R/ Clorhexidine Gluconate 0,2 % fls no. 1
3 dd 1 dikompreskan pada ulcer menggunakan kapas selama 1 menit
2. Pro OHI, melanjutkan menjaga kebersihan gigi dan mulut, serta membersihkan lidah
2x/hari setelah menyikat gigi
3. Melanjutkan konsumsi sayur dan buah yang berserat, dan banyak minum air putih
4. Pro kontrol 1 minggu
2.4.1. Status Umum Pasien
Nama
: Tn. CW
Umur
: 22 thn
Alamat
: Pasir Pogor
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Status
: Belum Menikah
No. Rekam Medis
: 2013 051xx
Pekerjaan
: Mahasiswa
Tanggal Pemeriksaan : 1 Juli 2014
2.4.2

Anamnesa
Pasien datang untuk kontrol hari ke 21, pasien tidak memiliki keluhan.
Pasien selama 7 hari tengah berpuasa, cukup minum dan konsumsi sayur dan buah,

obat digunakan secara teratur.


2.2.3 Pemeriksaan Ekstra Oral
Kelenjar Limfe
Submandibula
kiri
: teraba +/kanan : teraba +/Submental
kiri
: teraba +/-

lunak/kenyal/keras
lunak/kenyal/keras
lunak/kenyal/keras

sakit +/sakit +/sakit +/-

9
kanan : teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/kiri
: teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/kanan : teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/konjungtiva: non anemis, pupil: isokhor, sklera: non ikterik
TAK
Hipotonus
Simetri/Asimetri
TAK
TAK

Servikal
Mata
TMJ
Bibir
Wajah
Sirkum Oral
Lain-lain

2.2.4 Pemeriksaan Intra Oral


Kebersihan Mulut
baik/sedang/buruk
plak +/Kalkulus +/stain +/Gingiva
Makula berbentuk difus yang menyebar hingga gusi cekat seluruh
Mukosa Bukal

regio
Teraan gigitan pada regio 34 38 dan 44 48; terdapat jaringan parut

Mukosa Labial
Palatum Durum
Palatum mole
Frenulum
Lidah
Dasar Mulut

kemerahan di daerah post ulcer a/r 38


TAK
TAK
TAK
TAK
TAK
TAK

2.2.5

Kebersihan Mulut

Debris Indeks
16
1

11
0

Kalkulus Indeks
26
1

16
1

11
0

OHI-S
26

Baik/ sedang/ buruk

1
46
X

31
1

36
X

46
X

OHI-S = DI + CI = 5/12 + 0/12 = 0,4 Baik


2.2.6 Pemeriksaan Penunjang
Radiologi
TDL
Darah
TDL
Patologi Anatomi
TDL
Mikrobiologi
TDL

31
0

36
X

Stain +/-

10
2.2.7 Diagnosa
Post Reccurent Aphtous Stomatitis tipe minor pada bagian mukosa bukal regio 38
D/ Cheek Biting a/r 34 38 dan 44 - 48
D/ Pigmentasi Fisiologis Gingiva pada seluruh regio RA dan RB
2.2.8 Rencana Perawatan Dan Perawatan
1. Meneruskan obat obatan yang diberikan
2. Pro OHI, melanjutkan menjaga kebersihan gigi dan mulut, serta membersihkan lidah
2x/hari setelah menyikat gigi
3. Melanjutkan konsumsi sayur dan buah yang berserat, dan banyak minum air putih
4. Pro kontrol 1 minggu
2.5.1 Status Umum Pasien
Nama
: Tn. CW
Umur
: 22 thn
Alamat
: Pasir Pogor
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Status
: Belum Menikah
No. Rekam Medis
: 2013 051xx
Pekerjaan
: Mahasiswa
Tanggal Pemeriksaan : 1 Juli 2014
2.5.2. Anamnesa
Pasien datang untuk kontrol hari ke 28, pasien tidak memiliki keluhan, sariawan
sudah sembuh.
Selama 7 hari pasien mengonsumsi banyak air putih, sayur dan buah, istirahat cukup
dan obat digunakan secara teratur.
2.2.3 Pemeriksaan Ekstra Oral
Kelenjar Limfe
Submandibula
kiri
: teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/kanan : teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/Submental
kiri
: teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/kanan : teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/Servikal
kiri
: teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/kanan : teraba +/lunak/kenyal/keras sakit +/Mata
konjungtiva: non anemis, pupil: isokhor, sklera: non ikterik
TMJ
TAK
Bibir
Hipotonus
Wajah
Simetri/Asimetri
Sirkum Oral
TAK
Lain-lain
TAK
2.2.4 Pemeriksaan Intra Oral
Kebersihan Mulut
baik/sedang/buruk
Kalkulus +/-

plak +/stain +/-

11
Gingiva

Makula berbentuk difus yang menyebar hingga gusi cekat seluruh

Mukosa Bukal
Mukosa Labial
Palatum Durum
Palatum mole
Frenulum
Lidah
Dasar Mulut

regio
Teraan gigitan pada regio 34 38 dan 44 48
TAK
TAK
TAK
TAK
TAK
TAK

2.2.5

Kebersihan Mulut

Debris Indeks
16
1

11
0

Kalkulus Indeks
26
1

16
0

11
0

OHI-S
26

Baik/ sedang/ buruk

0
46
X

31
0

36
X

46
X

31
0

36
X

Stain +/-

OHI-S = DI + CI = 2/12 + 0/12 = 0,1 Baik


2.2.6 Pemeriksaan Penunjang
Radiologi
TDL
Darah
TDL
Patologi Anatomi
TDL
Mikrobiologi
TDL
2.2.7 Diagnosa
D/ Cheek Biting a/r 34 38 dan 44 - 48
D/ Pigmentasi Fisiologis Gingiva pada seluruh regio RA dan RB
2.2.8 Rencana Perawatan Dan Perawatan
1. Obat obatan dihentikan.
2. Pro OHI, melanjutkan menjaga kebersihan gigi dan mulut, serta membersihkan lidah
2x/hari setelah menyikat gigi
3. Melanjutkan konsumsi sayur dan buah yang berserat, dan banyak minum air putih

12
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi
Stomatits apthous rekuren (SAR) dikenal dengan berbagai macam istilah seperti
apthous stomatitis, recurrent aphtous ulcers, atau cancer sores. Masyarakat umum
mengenalnya sebagai sariawan. SAR merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh ulkus
rekuren pada mukosa oral dan orofaring (Pindborg, 1994). SAR biasanya menyerang mukosa
lunak mulut atau mukosa nonkeratin yang tidak melekat langsung pada tulang. Daerah ini
meliputi mukosa labial, lateral dan ventral lidah, dasar mulut, palatum lunak, dan mukosa
orofaringeal. Daerah yang jarang terkena SAR adalah palatum keras dan gingiva cekat
(Greenberg and Glick, 2003).
SAR merupakan salah satu ulser inflamasi mukosa oral yang paling sakit terutama
ketika makan, menelan, maupun bicara. Untuk mengidentifikasi kasus ini, selama anamnesa
dan pemeriksaan, biasanya penyebab ulserasi sering timbul tanpa ada tanda penyakit lain
(Greenberg and Glick, 2003). SAR terdiri atas dasar ulser yang berwarna putih dan
dikelilingi daerah eritem. Lesi dapat tunggal, dapat juga multipel, biasanya berbentuk bulat,
simetris dan dangkal.
3.2 Etiologi
Penyebab pasti dari SAR masih belum diketahui, namun kemungkinan bersifat
multifaktor karena kejadiannya tidak dipastikan rekuren dari faktor yang sama. SAR timbul
karena pengaruh faktor-faktor predisposisi seperti stres, trauma, alergi, gangguan endokrin,
makanan yang bersifat asam, atau makanan yang mengandung gluten. Pemeriksaan intra oral
diperlukan untuk mengetahui sumber trauma..
1. Faktor Genetik
Faktor genetik merupakan kemungkinan penyebab paling tinggi dari seluruh kejadian
SAR, dengan peningkatan insidensi yang dipengaruhi keterlibatan faktor lingkungan. Sekitar

13
40-50% pasien yang terkena SAR memiliki riwayat keluarga yang juga pernah terkena SAR.
Kemungkinan dipengaruhi oleh status SAR orangtua. Hubungan juga meningkat pada anak
kembar (Tyldesley, 2003). Studi oleh Ship menunjukkan bahwa pasien dengan orang tua
positif-SAR memiliki 90% kemungkinan terjadinya SAR, dimana pada pasien dengan orang
tua nonpositif-SAR hanya memiliki kemungkinan SAR sebesar 20%. Faktor genetik SAR
diduga berhubungan dengan peningkatan jumlah human leucocyte antigen (HLA) (Scully,
2004).

2. Trauma
Pasien SAR sering dilaporkan terkena ulser akibat trauma seperti terkena sikat gigi
atau injeksi saat anestesi lokal (Tyldesley, 2003). Trauma akibat gigitan dan penyikatan gigi
yang salah, dapat menyebabkan robeknya mukosa dan memperparah ulser yang sudah ada
(Cawson and Odell, 2002).
3. Alergi
Zat deterjen pada pasta gigi, misalnya sodium lauryl sulfat, diduga sebagai pemicu
terjadinya SAR pada beberapa orang (Greenberg and Glick, 2003). Mekanismenya diduga
akibat abnormalitas imun, yaitu respon limfosit T terhadap antigen. Aksi sitotoksis dari
limfosit dan monosit pada epitel mukosa oral dapat menyebabkan ulserasi
4.

Stres dan menstruasi


Kedua faktor ini berperan penting sebagai penyebab kejadian SAR. Beberapa literatur
menyebutkan adanya hubungan yang erat antara SAR dengan siklus menstruasi meskipun
belum ada bukti yang menyakinkan bahwa keadaan psikologis atau stres berhubungan
dengan SAR (Tyldesley, 2003).
Mekanisme terjadinya SAR pada stres berhubungan dengan hormon kortisol. Sekresi
kortisol yang meningkat pada respon stres meningkatkan level plasma kortisol. Hal ini akan
meningkatkan katabolisme protein sehingga penyembuhan luka menjadi lambat. Hormon
kortisol yang terbentuk dapat menghambat imunoglobulin A yang terdapat dalam saliva, yang

14
merupakan sistem imun dalam saliva. Sehingga apabila stres, kortisol meningkat, lalu IgA
menurun dan sistem imun turun sehingga mempermudah terjadi ulser.
5. Mikroorganisme
Beberapa mikroorganisme yang berperan terhadap terjadinya SAR diantaranya
Streptococci, HSV, Varicella Zoster dan Cytomegalovirus (Tyldesley, 2003).

6. Defisiensi nutrisi
Defisiensi zat besi (Fe), asam folat, vitamin B12 dan vitamin B-kompleks (vitamin
B1, B2, dan B6) dilaporkan berhubungan dengan kejadian SAR (Tyldesley, 2003).
Hubungannya biasanya karena defisiensi, terutama vitamin B12 dan asam folat akibat
malabsorpsi. Gangguan hematologik terutama defisiensi besi, folat atau vitamin B12
khususnya serum Fe, folat, atau vitamin B12 juga dihubungkan dengan SAR (Greenberg and
Glick, 2003). Pada defisiensi ini, hemoglobin berada di bawah normal, dan ditandai dengan
mikrositosis atau makrositosis sel darah merah (Cawson and Odell, 2002).

7. Faktor Sistemik
Kondisi sistemik yang mempengaruhi kejadian SAR diantaranya gangguan GIT,
neutropenia, HIV, defisiensi IgA, dan penggunaan obat-obatan anti inflamasi non steroid
(Tyldesley, 2003).

8. Perubahan Kebiasaan Merokok


Penghentian kebiasaan merokok pada beberapa kasus dapat meningkatkan frekuensi
dan derajat keparahan dari SAR itu sendiri. Tembakau dapat meningkatkan keratinisasi

15
mukosa, yang menyebabkan mukosa lebih tahan terhadap ulserasi (Greenberg and Glick,
2003).
3.3 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis SAR penting untuk diketahui karena tidak ada metode diagnosa
laboratorium spesifik yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa SAR. SAR diawali
gejala prodormal yang digambarkan dengan rasa sakit dan terbakar selama 24-48 jam
sebelum terjadi ulser. Ulser ini menyakitkan, berbatas jelas, dangkal, bulat atau oval, tertutup
selaput pseudomembran kuning keabu-abuan,dan dikelilingi pinggiran yang eritematus dan
dapat bertahan untuk beberapa hari atau bulan (Scully, 2003).
Tahap-tahap perkembangan ulser pada RAS (Greendberg dan Glick, 2003) :
1.

Tahap prodormal : berlangsung 2 48 jam, rasa tidak enak di dalam mulut dan
disertai gejala malaise seperti demam. Tetapi tahap ini jarang terjadi pada kebanyakan
pasien.

2.

Tahap pre-ulseratif : ditandai dengan adanya mukosa yang berwarna kemerahan dan
bengkak.

3.

Tahap ulseratif : merupakan tahap yang dominan, pasien merasakan adanya nyeri
lokal pada mukosa mulut. Terlihat lesi cekung dengan margin yang tajam dan jelas
dikelilingi daerah yang eritema dan oedem. Lesi berbentuk bulat atau oval regular. Hal
ini berlawanan dengan lesi traumatik yang berbentuk irregular.

4.

Tahap penyembuhan : rasa nyeri menghilang, terlihat gambaran granulasi dan


pseodomembran. Tahap ini terjadi pada hari ke - 4 hingga 35. Ulser tersebut akan
ditutupi oleh epitelium. Penyembuhan luka terjadi dan sering tidak meninggalkan
jaringan parut dimana lesi SAR pernah muncul. Semua lesi SAR menyembuh dan lesi
baru berkembang (Rogers, 1997; Melamed, 2001)

16
5.

Tahap remisi : tahap ini waktunya panjang / pendek, regular / irregular tergantung
dari faktor etiologi.
Berdasarkan hal tersebut SAR dibagi menjadi tiga tipe yaitu stomatitis Stomatitis

Aftosa Rekuren tipe minor, Stomatitis Aftosa Rekuren tipe mayor, dan Stomatitis Aftosa
Rekuren tipe herpetiformis.
1. SAR Minor
SAR minor sering disebut sebagai mild aphthous aphthae. Merupakan 70-85% kasus
SAR yang sering terjadi. Mempunyai diameter kurang dari 1 cm dan lesi dapat sembuh
selama 10-14 hari, penyembuhannya tanpa meninggalkan jaringan parut. Ulser ini diliputi
pseudomembran berwarna kuning abu-abu dan dikelilingi oleh halo kemerahan.

Gambar 3.1 SAR Minor (Laskaris, 2006)

17

Gambar 3.2 Stomatitis aftosa tipe minor pada lidah (Tyldesley, 2003)
2. SAR Mayor
Tipe mayor diderita 10%-15% dari penderita SAR dan lebih parah dari tipe minor.
Ulser biasanya tunggal, berbentuk oval dan berdiameter sekitar 1-3 cm, berlangsung selama 2
minggu atau lebih dan dapat terjadi pada bagian mana saja dari mukosa mulut, termasuk
daerah-daerah berkeratin. Gejala prodromal lebih sering terjadi sebelum terbentuknya ulser.
Demam, dysfagia, dan malaise merupakan gejala awal yang kadang terjadi di awal penyakit
pada beberapa pasien. Ulser yang besar, dalam serta bertumbuh dengan lambat biasanya
terbentuk dengan bagian tepi yang menonjol serta eritematous dan mengkilat, yang
menunjukkan bahwa terjadi edema. Selalu meninggalkan jaringan parut setelah sembuh dan
jaringan parut tersebut terjadi karena keparahan dan lamanya ulser (Scully, 2003).

Gambar 3.3 SAR Mayor (Laskaris, 2006)

Gambar 3.4 Stomatitis aftosa tipe mayor pada mukosa labial (Tyldesley, 2003)

18
3. SAR Herpetiform
Istilah herpetiformis pada tipe ini dipakai karena bentuk klinisnya (yang dapat terdiri
dari 100 ulser kecil-kecil pada satu waktu) mirip dengan gingivostomatitis herpetik primer,
tetapi virus-virus herpes tidak mempunyai peran etiologi pada SAR tipe herpetiformis. SAR
tipe herpetiformis jarang terjadi yaitu sekitar 5%-10% darikasus SAR. Setiap ulser berbentuk
bulat atau oval, mempunyai diameter 0,5- 3,0 mmdan bila ulser bergabung bentuknya tidak
teratur. Setiap ulser berlangsung selamasatu hingga dua minggu dan tidak akan meninggalkan
jaringan parut ketika sembuh (Scully, 2003; Greenberg and Glick, 2004).

Gambar 3.5 SAR Herpetiform (Laskaris, 2006)

Gambar 3.6 SAR herpetiform pada ujung lidah, dengan bentuk sangat kecil dan
berjumlah banyak (Tyldesley, 2003)

19

Tabel 3.1 Gambaran Klinis Stomatitis Aftosa Rekuren (Cawson, 2001)

Tipe Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR)


Kriteria

Usia onset
(dekade)

Jumlah Ulser

Ukuran Ulser
(mm)

Durasi

Meninggalkan
Jaringan Parut

Tipe Minor

Tipe Mayor

Tipe Herpetiform

Kedua

Pertama & Kedua

Ketiga

1-5

1-3

5-20
(mencapai 100)

<10

>10

1-2

7-14 hari

2 minggu
3 bulan

7-14 hari

Tidak

Iya

Tidak

Mukosa tidak
berkeratin, terutama
Lokasi

mukosa labial &


bukal serta dorsum &
tepi lateral lidah

3.4 Patofisiologi SAR

Mukosa berkeratin

Mukosa tidak

dan tidak

berkeratin dan dasar

berkeratin, seperti

mulut serta permukaan

palatum lunak

ventral lidah

20
Pada awal lesi terdapat infiltrasi limfosit yang diikuti oleh kerusakan epitel dan
infiltrasi neutrofil ke dalam jaringan. Sel mononuclear juga mengelilingi pembuluh darah
(perivaskular), tetapi vasculitis tidak terlihat. Namun, secara keseluruhan terlihat tidak
spesifik (Cawson and Odell, 2002).
Perjalanan Stomatitis Aftosa dimulai dari masa prodromal selama 1-2 hari, berupa
panas atau nyeri setempat. Kemudian mukosa berubah menjadi makula berwarna merah,
yang dalam waktu singkat bagian tengahnya berubah menjadi jaringan nekrotik dengan
epitelnya hilang sehingga terjadi lekukan dangkal. Ulkus akan ditutupi oleh eksudat fibrin
kekuningan yang dapat bertahan selama 10-14 hari. Bila dasar ulkus berubah warna menjadi
merah muda tanpa eksudat fibrin, menandakan lesi sedang memasuki tahap penyembuhan
(Pindborg, 1994).

3.5 Diagnosa
Lesi ulser dalam rongga mulut dapat disebabkan oleh berbagai macam penyebab dan
memiliki tanda klinis yang sama. Diagnosa ditegakan dengan anamnesa mengenai gejala dan
tanda klinis lesi, rekurensi dan predileksi yang dihubungkan dengan sumber pencetus. Pasien
dengan aftosa minor yang berat atau pada ulser aftosa mayor harus dicurigai berhubungan
dengan penyakit jaringan ikat dan tingkat serum besi, folat, vitamin B12 yang tidak normal.
3.6 Diagnosa Banding
Traumatic Ulcer
Traumatic ulcer adalah bentukan lesi ulseratif yang disebabkan oleh adanya trauma.
Traumatic ulcer dapat terjadi pada semua usia dan pada kedua jenis kelamin. Lokasinya
biasanya pada mukosa pipi, mukosa bibir, palatum, dan tepi perifer lidah. Traumatic ulcer
disebabkan oleh trauma berupa bahan-bahan kimia, panas, listrik, atau gaya mekanik
(Langlais and Miller, 2002).

21
Gambaran klinis dari traumatic ulcer bervariasi dalam ukuran dan bentuknya sesuai
dengan penyebabnya. Biasanya traumatic ulcer mempunyai gambaran khas berupa ulser
tunggal dengan batas yang tidak teratur, tampak sedikit cekung tidak ada indurasi, jika
dipalpasi terasa lunak dan sakit. Pada bagian tengah ulser biasanya berwarna kuning-kelabu,
dengan batas yang tegas dan adanya membran fibrinopurulen. Sedangkan di perifer lesi pada
awalnya terdapat daerah eritematous, kemudian perlahan-lahan warnanya menjadi lebih muda
karena proses keratinisasi (Field, 2003; Langlais and Miller, 20002).
Perbedaannya adalah lesi SAR berbentuk bulat atau oval, sedangkan traumatic ulcer
irregular. SAR biasanya mengenai mukosa non keratin seperti mukosa bukal dan labial,
sedangkan traumatic ulcer bisa mengenai palatum, gingiva, dan lidah.

Gambar 3.7 Traumatik ulser pada lidah (Laskaris, 2006)

3.7 Terapi
Stomatitis Aftosa Rekuren dapat menimbulkan rasa yang sangat sakit, meskipun rasa
tersebut dapat sembuh secara spontan dalam 10-14 hari setelah onset. Untuk itu harus
dilakukan terapi yang bertujuan untuk mengurangi inflamasi, meminimalisir rasa sakit dan
rasa tidak nyaman, mempercepat proses penyembuhan dan mencegah terbentuknya ulser baru
(Field and Longman, 2003). Beberapa pengobatan yang dianggap baik meliputi penggunaan
antibiotik, obat kumur antimikroba, dan suplemen makanan.

22
Pengobatan diberikan berdasarkan tingkat keparahan penyakit. Pada kasus yang
ringan dengan 2-3 lesi ringan dapat digunakan obat topikal seperti Orabase atau Zilactin.
Sebagai pereda rasa sakit dapat diberikan topikal anestesi atau diklofenak. Topikal analgesik
dengan sediaan obat kumur atau spray, seperti benzydamine hidrochloride dapat digunakan
untuk mengurangi ketidaknyamanan. Penggunaan 2% gel lignocaine secara langsung atau
dicairkan sebagai obat kumur akan lebih efektif digunakan kasus SAR yang parah.
Penggunaan jangka panjang lignocaine tidak disarankan, karena mempunyai efek sistemik
jika terabsorbsi. Obat untuk tenggorokan (Over-the-counter throat Lozenges) yang
mengandung anestesi, selalu dikombinasikan dengan antiseptik, dapat digunakan untuk
mengurangi ketidaknyamanan SAR tapi kebanyakan mengandung gula. Beberapa pasien juga
membutuhkan analgesik sistemik seperti ibuprofen dan parasetamol (Greenberg and Glick,
2003; Field and Longman, 2003).
Bahan antiseptik dapat sangat membantu untuk mengurangi infeksi sekunder
sementara, dengan sedian obat kumur, gel, dan pastiles. Obat kumur klorheksidin digunakan
secara luas untuk perawatan simtomatik SAR dan membantu pasien yang sulit memelihara
kebersihan mulutnya. Digunakan 3 kali sehari setelah makan dan dikumur dalam mulut
sekitar 1 menit, mengurangi durasi dan ketidaknyamanan SAR. Larutan zink sulfat dan zink
klorida juga mempunyai efek yang menguntungkan (Cawson and Odell, 2002; Field and
Longman, 2003).
Pada kasus berat digunakan kortikosteroid topikal seperti fluocinonide,
betamethasone, atau clobetasol untuk mempercepat waktu penyembuhan dan mengurangi
ukuran lesi. Gel dapat digunakan 2 3 kali sehari sesudah makan dan saat akan tidur. Pada
lesi yang lebih besar terapi dapat dilakukan dengan meletakkan gauze sponge yang berisi
topikal steroid pada lesi lalu dibiarkan selama 15 30 menit. Area lesi dikeringkan sebelum
aplikasi topikal kortikosteroid, kemudian obat diaplikasikan tanpa tekanan didaerah lesi.
Pasien diinstruksikan untuk tidak makan dan minum sekitar satu jam setelah aplikasi topikal

23
kortikosteroid tersebut. Obat topikal lainnnya yang dapat mengurangi waktu penyembuhan
SAR adalah tetrasiklin topikal, yang dapat digunakan sebagai obat kumur atau diaplikasikan
pada gauze sponge. Pada lesi mayor atau lesi minor yang multipel dan tidak merespon terapi
topikal diberikan terapi sistemik seperti kolchicines, pentoxifyllin, dapsone, steroid sistemik
dan thalidomide (Greenberg and Glick, 2003; Gandolfo et al, 2006).

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada kunjungan pertama 26 Juni 2012, pasien datang dengan keluhan terdapat
sariawan di gusi belakang di bawah lidah sejak + 3 hari yang lalu. Pasien merasa sakit saat
mengonsumsi makanan pedas dan ketika menggosok gigi. Beberapa waktu yang lalu, pasien
pernah menderita sariawan di tempat berbeda dengan ukuran lebih kecil. Pasien mengaku
sering sariawan apabila kurang istirahat, Pasien juga mengonsumsi sayuran dan buah-buahan.
Tidak ada riwayat keluarga yang sering menderita sariawan. Sariawan belum pernah diobati.
Pasien ingin sariawannya diobati.
Berdasarkan anamnesa, riwayat penyakit, dan pemeriksaan klinis, maka ditegakkan
diagnosa SAR (Stomatitis Aphtousa Recurrent). Diketahui bahwa sebelumnya pasien sering
mengalami sariawan pada tempat yang berbeda di rongga mulut, dan pasien menyangkal
terdapat ulser serupa di bagian tubuh lainnya. Gambaran klinis ulser yang ditemukan yaitu
terdpat ulser dengan diameter 4 mm, tepi regular, eritema, pseudomembran (+), dasar putih,
a/r lingual gigi 3.2 dan 3.3. Gambaran klinis ini sesuai dengan pernyataan Scully (2003)
bahwa manifestasi klinis dari SAR yaitu ulser berulang yang berbatas jelas, dangkal, bulat

24
atau oval, tertutup selaput pseudomembran kuning keabu-abuan,dan dikelilingi pinggiran
yang eritematus dan dapat bertahan untuk beberapa hari atau bulan.
Penyebab SAR masih belum diketahui, namun kemungkinan SAR merupakan
penyakit yang dapat disebabkan oleh banyak faktor (multifaktorial), diantaranya trauma,
genetik, stress, hormonal, defisiensi nutrisi, dan alergi (Greenberg and Glick, 2003). Pada
kasus ini, faktor yang diduga mengakibatkan SAR yaitu defisiensi nutrisi dan stress (fisik).
Mekanisme terjadinya SAR pada stres berhubungan dengan hormon kortisol. Hormon
kortisol yang terbentuk dapat menghambat imunoglobulin A yang merupakan sistem imun
dalam saliva. Sehingga apabila stres, kortisol meningkat, lalu IgA menurun dan sistem imun
turun sehingga mempermudah terjadi ulser (Tyldesley, 2003).
Adapun terapi yang diberikan kepada pasien yaitu aplikasi obat topikal Kenalog In
Orabase (Triamcinolone acetonide 0,1%) setelah pemeriksaan. Penggunaan obat topikal
tersebut, yaitu sebagai barrier protection (penutup luka), membantu mengurangi rasa sakit
dan anti-inflamasi, serta didasarkan tidak ada keterlibatan infeksi virus dan jamur pada
pasien. Pasien dianjurkan untuk mengonsumsi sayuran dan buah-buahan untuk mendapatkan
vitamin alami dan mempertahankan daya tahan tubuhnya, serta diberikan tambahan Vitamin
B12 yang dapat membantu perbaikan sel. Pasien juga diinstruksikan untuk menjaga oral
higiene-nya untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, dan menjaga keseimbangan
mikroflora.
Pada saat kontrol I, terapi yang diberikan menunjukkan tanda-tanda perbaikan pada
pasien. Pasien juga sangat kooperatif dan melakukan instruksi perawatan dengan baik. Ulcer
ini sudah sembuh, tidak sakit, dan tidak ada bekas luka pada mukosa gingiva. Pasien
dianjurkan untuk tetap menjaga dan memelihara kesehatan rongga mulutnya serta tetap
mengonsumsi sayuran dan buah-buahan.
Pada pasien tersebut, ditemukan juga selaput berwarna putih kekuningan pada dorsum
lidah meliputi 2/3 posterior ketika dikerok tidak menimbulkan permukaan yang eritem.
Pasien ini jarang mengkonsumsi cairan dan makanan berserat, sehingga lebih memungkinkan

25
terbentuknya retensi makanan pada lidahnya. Berdasarkan hal tersebut, maka diagnosis yang
ditegakkan yaitu Coated Tongue (lidah berselaput). Pada semua individu normal lidah dilapisi
oleh mukus, deskuamasi sel epitel, organisme dan debris. Pada orang yang sehat, lidah selalu
bergerak dan terdapat aliran saliva sehingga lapisan tersebut tetap sedikit. Adanya gangguan
pada pergerakan lidah baik karena adanya lesi yang sakit, atau aliran saliva yang berkurang
dapat menyebabkan lapisan bertambah tebal (Field and Longmann, 2003; Laskaris, 2006).
Untuk terapi kasus ini adalah dengan memberikan oral hygiene instructions kepada
pasien yaitu membersihkan lidah 2x sehari dengan menggunakan tongue scrapper. Pasien
juga dianjurkan mengkonsumsi makanan berserat. Makanan berserat dapat menimbulkan
gesekan (friksi) antara makanan berserat tersebut dengan permukaan lidahnya sehingga tidak
menyebabkan food debris, sehingga selaput putih dapat berkurang jumlahnya.
Pada kunjungan kontrol pada kasus ini, terapi yang diberikan menunjukkan tandatanda perbaikan pada pasien. Pasien juga sangat kooperatif dan melakukan instruksi
perawatan dengan baik. Selaput putih kekuningan berkurang dari sebelumnya, adapun sisa
sangat sedikit dari selaput putih tersebut di bagian paling posterior pada dorsum lidah karena
pasien mengeluhkan mual (ingin muntah) ketika menyikat lidah di bagian paling posterior.

26

BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan diketahui bahwa pasien mengalami
Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) pada gingiva sebelah lingual (antara 3.2 dan 3.3) yang
diduga disebabkan karena defisiensi nutrisi dan faktor stress (fisik). Pasien juga mengalami
Coated Tongue berupa selaput putih kekuningan yang terletak di 2/3 dorsal lidah dengan
factor predisposisi adanya ulser, defisiensi nutrisi, dan kelainan pada GIT.
Pasien diberikan triamcinolone acetonide topical, dan menggunakan tongue srapper
sehari dua kali saat menyikat gigi setelah sarapan dan sebelum tidur. Selain itu, pasien
dianjurkan untuk mengonsumsi vitamin B12, serta makanan berserat dan buah-buahan,
kemudian diinstruksikan untuk tetap menjaga kebersihan mulutnya.

27
DAFTAR PUSTAKA
Cawson, RA and EW Odell. 2002. Essentials of Oral Pathology and Oral Medicine. 7th ed.
Edinburg : Churchill Livingstone.
Field, A and L. Longman. 2003. Tyldesley's Oral Medicine. 5th ed. Oxford University Press.
Gandolfo, et al. 2006. Oral Medicine. Italia: Elsevier.
Greenberg, M.S; M. Glick. 2003. Burkets Oral Medicine Diagnosis and Treatment. 10th ed.
Hamilton: BC Decker Inc.
Langlais and Miller. 2002. Atlas Berwarna: Kelainan Rongga Mulut yang Lazim. Jakarta:
Hipokrates.
Laskaris, George. 2006. Pocket Atlas of Oral Disease 2nd Ed. New York : Thieme.
Melamed F. 2001. Aphthous stomatitis (http://www.med.ucla.edu/modules/wfsection/
article.php?articleid=207)
Pindborg, J.J. 1994. Atlas Penyakit Mukosa Mulut. Alih Bahasa oleh K. Wangsaraharja.
Jakarta : Bina Aksara.
R o g e r R S . Recurrent aphthous stomatitis : clinical characteristic
a n d associated systemic disorder. Seminars in Cutaneus Medicine and Surgery
1997;16 (4); 278-283.
Scully C, Gorsky M, Lozada-Nur F. The diagnosis and management of recurrent aphthous
stomatitis: a consensus approach. J Am Dent Assoc. 2003;134:200-7.
Tyldesley. 2003. Tyldesleys Oral Medicine. 5th ed. Inggris: Oxford University Press.