Anda di halaman 1dari 7

STATEGI PENGELOLAAN DAS

BAB I PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang

Daerah Aliran Sungai(DAS) merupakan wilayah yang dikelilingi dan dibatasi oleh
topografi alamiberupa punggung bukit atau pegunungan, dimana presipitasi yang
jatuh di atasnyamengalir melalui titik keluar tertentu (outlet) yang akhirnya
bermuara ke danauatau laut. Batasbatas alami DAS dapat dijadikan sebagai batas
ekosistem alam,yang dimungkinkan bertumpangtindih dengan ekosistem buatan,
seperti wilayahadministratif dan wilayah ekonomi. Namun seringkali batas DAS
melintasi bataskabupaten, propinsi, bahkan lintas negara.

Provinsi Bengkulu yangberada di wilayah barat pulau sumatera, banyak dialiri


sungai-sungai besar dankecil yang menuju samudra hindia. Tahun-tahun
belakangan ini dirasakan telahterjadi penurunan kualitas DAS dan air yang
disebabkan oleh berbagai aktifitasdi lokasi tersebut.

Menurut hasil investigasiyang dilakukan oleh Bengkulu Ekspres (Bengkulu


Ekspress.com Kamis, 25 November2010) Kerusakan terjadi terutama di DAS
Bengkulu, Manna, Padang Guci danKetahun. Atau pada 57 DAS dan 154 sub DAS.
Kerusakan bisa dilihat dari kondisilahan, tingkat kelerengan lokasi hingga
pengolahan lingkungan sekitar kawasansungai.

Terjadinya perambahan hutan dan pencemaran lingkungan menjadi penyebab


utama kerusakan. Sehinggamengakibatkan tanah longsor dan banjir yang semakin
mengkikis bagian sungai.

Perubahan DAS yangdisebabkan oleh aktivitas manusia seperti membuat bangunan


dan bercocok tanamdi pinggir sungai atau melakukan kegiatan pertambangan,
padahal dalam aturan100 meter dari sungai tidak diperbolehkan ada kegiatan.

Guna mengatasipermasalahan Provinsi Bengkulu telah melakukan rehabilitasi hutan


lindungseluas 2900 hektar dan 2100 hektar hutan konservasi atau hingga 2010
kawasanhutan yang telah dihijaukan seluas 5000 hektar. Diharapkan kegiatan ini
dapat mengatasi kerusakan pada DAS yang ada diProvinsi Bengkulu.

Melalui tulisan singkatini dicoba untuk mencari strategi pengelolaan Daerah Aliran
Sungai yang ada diProvinsi Bengkulu.

2.

Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan iniadalah untuk mencari strategi yang sesuai pengelolaan Daerah
Aliran Sungai(DAS) yang ada di Provinsi Bengkulu.

3.

Metode Penulisan

Penulisan dilakukandengan menggunakan metode telaah pustaka dari beberapa


sumber yang dapatdijadikan rujukan.

BAB II.

PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)

1.

Komponen Utama Ekosistem DAS

Komponenkomponen utamaekosistem DAS, terdiri dari :manusia, hewan, vegetasi,


tanah, iklim, dan air.Masingmasing komponen tersebut memiliki sifat yang khas
dan keberadaannyatidak berdirisendiri, namun berhubungan dengan komponen
lainnya membentuk kesatuansistem ekologis (ekosistem). Manusia memegang
peranan yang penting dan dominandalam mempengaruhi kualitas suatu DAS.
Gangguan terhadap salah satu komponenekosistem akan dirasakan oleh komponen
lainnya dengan sifat dampak yang berantai.

Keseimbangan ekosistemakan terjamin apabila kondisi hubungan timbal balik antar


komponen berjalandengan baik dan optimal. Kualitas interaksi antar komponen
ekosistem terlihatdari kualitas output ekosistem tersebut. Di dalam DAS kualitas

ekosistemnyasecara fisik terlihat dari besarnya erosi, aliran permukaan,


sedimentasi,fluktuasi debit, dan produktifitas lahan.

DAS dibagi menjadi hulu,tengah, dan hilir. DAS bagian hulu sebagai daerah
konservasi, berkerapatandrainase tinggi, memilikikemiringan topografi besar, dan
bukan daerah banjir. Adapun DAS bagian hilirdicirikan sebagai daerah pemanfaatan,
kerapatan drainase rendah, kemiringanlahan kecil, dan sebagian diantaranya
merupakan daerah banjir. Daerah aliransungai tengah merupakan transisi diantara
DAS hulu dan DAS hilir. Masingmasingbagian tersebut saling berkaitan. Bagian hulu
DAS merupakan kawasanperlindungan, khususnya perlindungan tata air, yang
keberadaannya penting bagibagian DAS lainnya. Contoh keterkaitan antara bagian
hulu dengan hilirdiantaranya adalah : (a). bagian hulu mengatur aliran air yang
dimanfaatkanoleh penduduk di bagian hilir, (b). erosi yang terjadi di bagian
hulumenyebabkan sedimentasi dan banjir di hilir, dan (c). bagian hilir
umumnyamenyediakan pasar bagi hasil pertanian dari bagian hulu.

2.

Pengelolaan DAS

Pengelolaan DAS adalahpengelolaan sumberdaya alam dan buatan yang ada di


dalam DAS secara rasionaldengan tujuan untuk mencapai keuntungan yang
maksimum dalam waktu yang tidakterbatas dengan resiko kerusakan seminimal
mungkin. Dalam konteks yang lebihluas pengelolaan DAS dapat dipandang sebagai
suatu sistem sumberdaya, satuanpengembangan sosial ekonomi, dan satuan
pengaturan tata ruang wilayah.Pengelolaan DAS juga ditujukan untuk produksi dan
perlindungan sumberdaya air termasukdi dalamnya pengendalian erosi dan banjir.

Pengelolaan DASdijalankan berdasarkan prinsip kelestarian sumberdaya


(resourcessustainability) yang menyiratkan keterpaduan antara prinsip produktifitas
dankonservasi sumberdaya (sustainabilty = productivity + conservation
ofresources) di dalam mencapai beberapa tujuan pengelolaan DAS, yaitu :
(a)terjaminnya penggunaan sumberdaya alam yang lestari, seperti hutan,
hidupanliar, dan lahan pertanian; (b). tercapainya keseimbangan ekologis
lingkungan sebagaisistem penyangga kehidupan; (c).terjaminnya jumlah dan
kualitas air yang baiksepanjang tahun; (d).mengendalikan aliran permukaan dan
banjir;(e).mengendalikan erosi tanah, dan proses degradasi lahan lainnya.

Pengelolaan DAS mencobamenyeimbangkan tujuan ekonomi sumberdaya alam


dengan tujuan konservasi dalamsuatu kawasan DAS. Tujuan produksi
menitikberatkan untuk mengoptimumkanpendapatan dan produksi, sedangkan
tujuan konservasi lebih menekankan padaupaya meminimalkan terjadinya

degradasi sumberdaya alam. Ekosistem DAS yangbaik dicirikan oleh beberapa


parameter sebagai berikut :
a.

Produktifitassumberdaya lahan tinggi

Produktifitas sumberdayalahan secara langsung dapat dilihat dari hasil panen untuk
setiap komoditasyang diusahakan. Hasil yang diperoleh harus dapat memenuhi
kebutuhan hidupnyadan mampu mendesain masa depannya; dalam hal ini
pendapatan yang diperolehselain mencukupi kebutuhan primernya akan pangan,
sandang, dan papan, jugakebutuhan lainnya, seperti pendidikan dan kesehatan
sebagai bekal dalammendesain masa depannya yang lebih baik, juga untuk
melaksanakan aktifitassosialnya. Untuk mencapai tingkat produktifitas yang
diharapkan digunakanteknologi (agroteknologi) yang juga menjamin kelestarian
sumberdaya alam yangdiupayakannya.

Pendapatan yang diperolehhendaknya mencapai 3 4 kali standar batas miskin.


Garis kemiskinanberdasarkan pendekatan Sayogyo adalah 320 kg
beras/kapita/tahun; adapun menurutBank Dunia garis kemiskinan untuk daerah
pedesaan US$ 50 dan untuk daerahperkotaan sebesar US $ 75.

b.

KelestarianSumberdaya Alam terjamin

Sumberdaya tanah, air,vegetasi, dan fauna dalam kawasan DAS harus terjamin
kelestariannya, misalnyalaju erosi yang lebih kecil dari laju erosi yang
diperkenankan, distribusihasil air merata sepanjang tahun, kualitas air terjaga,
sedimentasi dan kadarlumpur dalam aliran air kecil, keanekaragaman hayati tinggi,
prosentasepenutupan lahan oleh vegetasi tinggi, polusi lingkungan rendah, dan
sebagainya.

c.

Kelenturan dan Pemerataan Pembangunan

Kelenturan (resilience)merupakan ketahanan ekosistem terhadap setiap guncangan


(ekologis dan ekonomi)yang terjadi dalam DAS. Suatu DAS yang baik akan memiliki
tingkat kelenturanyang tinggi terhadap gejolak yang timbul, sehingga ekosistem
tersebut tetapbertahan dan kembali ke bentuk semula. Pemerataan pembangunan
antara bagianhulu dan hilir masih menjadi masalah dalam pengelolaan DAS.
Masyarakat dibagian hulu dengan tingkat kesejahteraan, infrastruktur, dan
aksesibilitas yanglebih rendah dari bagian hilir cenderung mengeksploitasi lahannya
dengan sangatintensif, sehingga menurunkan kualitas air di hilirnya akibat erosi. Di
bagianhilir masyarakat banyak yang tidak menyadari arti pentingnya bagian hulu
dalammenjamin infrastrukturnya, sehingga pembangunan di bagian hulu
dinomorduakan.Oleh karena itu pemikiran dalam menyisihkan sebagian pajak
masyarakat di bagianhilir untuk pengelolaan lingkungan dan pembangunan di
bagian hulu dalam bentuksubsidi silang (cross subsidy) perlu ditindaklanjuti,
sehingga terjadi proses pemerataanantara kedua bagian wilayah DAS tersebut.

3.

Strategi Pengelolaan DASBerkelanjutan

Pengelolaan DAS padaprinsipnya ditujukan untuk mengelola sumberdaya alam


(SDA) dan sumberdayalainnya dalam wilayah DAS yang ada di Provinsi Bengkulu
secara berkelanjutan,dengan menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan ekologis
serta meminimalkanterjadinya degradasi lingkungan. Prinsip produktifitas dan
konservasi menjadidasar dalam merencanakan, mendesain, dan
mengimplementasikan programpengelolaan DAS
Kebijakan pengelolaan DASmemerlukan dukungan institusi pemerintah baik
Kabupaten maupun PemerintahProvinsi yang memadai dan sesuai dengan
paradigma pengelolaan DASberkelanjutan. Ikatan institusi yang kuat akan menjamin
pelaksanaan pengelolaanDAS secara baik. Selain institusi yang kuat, kebijakan
pengelolaan DAS akanefektif apabila didukung oleh sistem legal. Legislasi sebagai
alat hukum dapatbersifat memaksa orang atau publik untuk mentaati kebijakan
yang dibuat.Lemahnya aspek institusi dan legal (hukum) menjadi faktor
penghambat dalamkeberhasilan pengelolaan DAS di Indonesia secara umum dan di
kabupaten danprovinsi khususnya. Sebagaimana kegiatan penutupan galian C oleh
pemerintahkabupaten Bengkulu Utara sering dilanggar oleh penambang liar.

Untuk mencapai pengelolaanDAS berkelanjutan diperlukan upayaupaya sebagai


berikut
a.

Meningkatkan keterpaduan dalampengelolaan DAS.

b.

Ketersediaan dana dan insentif.

c.

Pengembangan teknologi DAS danpenyuluhan.

d.

Peningkatan partisipasi masyarakat(pemberdayaan).

e.
Adanya kebijakan pemerintah dandukungan legislatif dalam pengelolaan DAS
berkelanjutan.
Ukuran efektifitaskebijakan pengelolaan DAS yang perlu diperhatikan adalah :
a.
Efisiensi. Kebijakan dalampengelolaan DAS harus mampu meningkatkan
efisiensi penggunan sumberdaya alam(SDA) dalam DAS secara optimal. Kebijakan
pengelolaan DAS yang tidakmencerminkan efisiensi dapat menimbulkan degradasi
lingkungan.
b.
Fair (adil). Bobot kebijakan harusditempatkan secara adil, dimana kepentingan
publik tidak terabaikan. Sebagaicontoh rusaknya hutan tropis Indonesia disebabkan
oleh tidak tercerminnya rasakeadilan publik. Masyarakat lokal selama 32 tahun
rejim orde baru tidakmendapatkan kesempatan untuk menikmati langsung hutan
yang berada dilingkungannya. Kebijakan konsensi hutan yang tidak fair dalam
prakteknya telahmemperkaya sekelompok pengusaha (pusat) dan memiskinkan
masyarakat lokal.Ketidakadilan ini menyebabkan konflik sosial.

c.
Mengarah kepada insentif. Perbaikanlingkungan adalah tanggungjawab
bersama karena SDA ini prinsipnya obligasibersama yang harus dijaga. Namun
untuk menciptakan attitude diperlukaninsentif. Oleh karena itu kebijakan dalam
pengelolaan DAS harus mengarah kepadainsentif untuk merangsang tindakan
dalam perbaikan lingkungan.
d.
Penegakan hukum (enforceability).Kebijakan tidak akan efektif berjalan dalam
kondisi disorder dan poor lawenforcement. Penegakan hukum akan memaksa setiap
anggota masyarakat untukmentaati kebijakan yang ditetapkan.
e.
Diterima oleh publik (publicacceptability). Kebijakan pengelolaan DAS selalu
menyangkut kepentingan publik.Dengan demikian kebijakan yang baik harus dapat
diterima oleh publik.
f.
Moraladalah aspek normatif yang sangat penting dalam menjamin aspek
positif darisuatu kebijakan. Moral menjadi spirit of soul dalam pengelolaan SDA.
Olehkarena itu terjadinya moral hazard menjadi titik awal kerusakan SDA
danlingkungan.

BAB III

PENUTUP

Dari uraian di atas dapat disimpulkanbahwa Pengelolaan DAS pada prinsipnya


ditujukan untuk mengelola sumberdaya alam(SDA) dan sumberdaya lainnya dalam
wilayah DAS yang ada di Provinsi Bengkulusecara berkelanjutan, dengan
menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan ekologisserta meminimalkan terjadinya
degradasi lingkungan
Ukuran kebijakan pengelolaan DASperlu memperhatikan efisiensi, keadilan,
mengarah kepada insetif, penegakanhukum, diterima oleh publik dan
mengedepankan aspek moral.

Semoga ide singkat ini dapatmemberikan sumbang saran bagi perbaikan kegiatan
lingkungan di ProvinsiBengkulu.

DAFTAR PUSTAKA

Bengkuluekspress.comKamis, 25 November 2010 618 Ribu Hektar DAS Rusak,


http://www.bengkuluekspress.com/ver3/mod.php?
mod=publisher&op=viewarticle&cid=19&artid=24141
Efendi, E. 2005.Kajian Model Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Terpadu
DirektoratKehutanan dan Konservasi Sumberdaya Air. Jakarta.
Irwanto, 2006. Konsep Perencanaan Pengelolaan DAS Terpadu,
http://www.irwantoshut.com/
Ramdan, H. 2006.Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Laboratorium
Ekologi Hutan,Fakultas Kehutanan Universitas Winaya Mukti. Jatinangor