Anda di halaman 1dari 20

KAYU AKASIA

Kayu Akasia (acacia


mangium), mempunyai berat jenis rata-rata 0,75 berarti pori-pori dan seratnya
cukup rapat sehingga daya serap airnya kecil. Kelas awetnya II, yang berarti mampu
bertahan sampai 20 tahun keatas, bila diolah dengan baik. Kelas kuatnya II-I, yang
berarti mampu menahan lentur diatas 1100 kg/cm2 dan mengantisipasi kuat desak
diatas 650 kg/cm2. Berdasarkan sifat kembang susut kayu yang kecil, daya
retaknya rendah, kekerasannya sedang dan bertekstur agak kasar serta berserat
lurus berpadu, maka kayu ini mempunyai sifat pengerjaan mudah, sehingga banyak
diminati untuk digunakan sebagai bahan konstruksi maupun bahan meibel-furnitur.

Kayu Akasia (Acacia Mangium)

Botanical Names: Acacia mangium


Family Name: Leguminosae
Pada awalnya pohon acacia sebagian besar digunakan untuk konsumsi pabrik kertas. Terdapat
banyak hutan khusus untuk pabrik kertas sehingga pohon yang baru berumur 3-5 tahun pun
(diameter 15-20cm) sudah bisa ditebang. Pada 10 tahun terakhir popularitas kayu Akasia sebagai
bahan baku furniture semakin meningkat sehingga kebutuhan pohon Akasia dengan umur di atas
5 tahun semakin tinggi.
Pohon
Tinggi pohon bisa mencapai 30 meter dengan diameter hingga 1 meter. Rata-rata diameter yang
bisa digunakan untuk membuat furniture minimum 25cm untuk mendapatkan rendemen yang
baik.

Acacia mangium membutuhkan 5-7 tahun untuk mencapai diameter 30cm.


Warna Kayu
Kayu teras berwarna dari coklat muda hingga coklat tua kehijauan. Kayu Gubal (sapwood)
berwarna krem keputihan, sangat jelas dan mudah dibedakan dengan kayu terasnya.
Densitas
Pada level MC 12% densitas sekitar 450 - 600 kg/m3. bagian dan jenis tertentu bisa mencapai
hingga 800 kg/m3.
Keawetan
Akasia termasuk pada kayu kelas awet 3, cukup tahan terhadap cuaca dan kondisi normal akan
tetapi akan mudah terserang jamur dan serangga apabila diletakkan pada kondisi luar ruangan
yang terlalu basah. Kurang baik untuk pemakaian yang langsung diletakkan di atas tanah.
Pengeringan
Membutuhkan waktu cukup lama pada pengeringan yaitu antara 45-60 hari terutama untuk
ketebalan kayu di atas 2,5 cm. Kayu tipis bisa dilakukan tidak lebih dari 30 hari.
Sifat penyusutan kayu Akasi juga cukup besar, mudah melengkung terutama apabila peletakan di
dalam Kiln Dry (konvensional) kurang tepat.
Proses Mesin & Konstruksi
Mudah pada saat proses mesin dan hasil cukup halus dan baik.Daya ikatnya terhdapa sekrup dan
paku juga sangat baik. Namun harus berhati-hati pada ketebalan yang kecil karena Akasi
termasuk mudah pecah.
Penetrasi lem ke dalam kayu juga sangat baik.
Kayu Akasia baik digunakan untuk produk flooring, decking, furniture teras (semi outdoor) dan
dekorasi interior.

Ciri Ciri Kayu Meranti merah


tergolong kayu keras berbobot ringan sampai berat-sedang. Berat jenisnya berkisar
antara 0,3 0,86 pada kandungan air 15%. Kayu terasnya berwarna merah muda pucat,
merah muda kecoklatan, hingga merah tua atau bahkan merah tua kecoklatan.
Berdasarkan BJnya, kayu ini dibedakan lebih lanjut atas meranti merah muda yang lebih
ringan dan meranti merah tua yang lebih berat. Namun terdapat tumpang tindih di
antara kedua kelompok ini, sementara jenis-jenis Shorea tertentu kadang-kadang
menghasilkan kedua macam kayu itu. Ciri - ciri Kayu Meranti merah yang lain adalah :

keras,

ringan sampai berat-sedang,

warna merah muda tua hingga merah muda pucat,

tekstur tidak terlalu halus,

lebih keras dari putih

KAYU MERANTI MERAH

Kayu meranti merah termasuk jenis


kayu keras, warnanya merah muda tua hingga merah muda pucat, namun tidak
sepucat meranti putih. selain bertekstur tidak terlalu halus, kayu meranti juga tidak
begitu tahan terhadap cuaca, sehingga tidak dianjurkan untuk dipakai di luar
ruangan. Termasuk kayu dengan Kelas Awet III, IV dan Kelas Kuat II, IV. Pohon
meranti banyak ditemui di hutan di pulau Kalimantan

Sifat-sifat kayu
Meranti merah tergolong kayu keras berbobot ringan sampai berat-sedang. Berat jenisnya
berkisar antara 0,3 0,86 pada kandungan air 15%. Kayu terasnya berwarna merah muda pucat,
merah muda kecoklatan, hingga merah tua atau bahkan merah tua kecoklatan. Berdasarkan
BJnya, kayu ini dibedakan lebih lanjut atas meranti merah muda yang lebih ringan dan meranti
merah tua yang lebih berat. Namun terdapat tumpang tindih di antara kedua kelompok ini,
sementara jenis-jenis Shorea tertentu kadang-kadang menghasilkan kedua macam kayu itu[1].
Menurut kekuatannya, jenis-jenis meranti merah dapat digolongkan dalam kelas kuat II-IV;
sedangkan keawetannya tergolong dalam kelas III-IV. Kayu ini tidak begitu tahan terhadap
pengaruh cuaca, sehingga tidak dianjurkan untuk penggunaan di luar ruangan dan yang
bersentuhan dengan tanah. Namun kayu meranti merah cukup mudah diawetkan dengan
menggunakan campuran minyak diesel dengan kreosot[1].

Pemanfaatan
Meranti merah merupakan salah satu kayu komersial terpenting di Asia Tenggara. Kayu ini juga
yang paling umum dipakai untuk pelbagai keperluan di kawasan Malesia[1].

Kayu ini lazim dipakai sebagai kayu konstruksi, panil kayu untuk dinding, loteng, sekat ruangan,
bahan mebel dan perabot rumahtangga, mainan, peti mati dan lain-lain. Kayu meranti merah-tua
yang lebih berat biasa digunakan untuk konstruksi sedang sampai berat, balok, kasau, kusen
pintu-pintu dan jendela, papan lantai, geladak jembatan, serta untuk membuat perahu[1][2].
Meranti merah baik pula untuk membuat kayu olahan seperti papan partikel, harbor, dan venir
untuk kayu lapis. Selain itu, kayu ini cocok untuk dijadikan bubur kayu, bahan pembuatan
kertas[1].
Di samping menghasilkan kayu, hampir semua meranti merah menghasilkan damar, yakni
sejenis resin yang keluar dari batang atau pepagan yang dilukai. Damar keluar dalam bentuk
cairan kental berwarna kelabu, yang pada akhirnya akan mengeras dalam warna kekuningan,
kemerahan atau kecoklatan, atau lebih gelap lagi[2].
Beberapa jenis meranti merah menghasilkan buah yang mengandung lemak serupa kacang, yang
dikenal sebagai tengkawang[1]. Pada musim-musim tertentu setiap beberapa tahun sekali, buahbuah tengkawang ini dihasilkan dalam jumlah yang berlimpah-ruah; musim mana dikenal
sebagai musim raya buah-buahan di hutan hujan tropika. Di musim raya seperti itu, masyarakat
Dayak di pedalaman Pulau Kalimantan sibuk memanen tengkawang yang berharga tinggi.
KAYU MERANTI MERAH

Karakteristik
Meranti merah adalah nama sejenis kayu pertukangan yang populer dalam perdagangan.
Berbagai jenis kayu meranti dihasilkan oleh marga Shorea dari suku Dipterocarpaceae. Berwarna
merah muda tua hingga merah muda pucat. Bertekstur tidak terlalu halus. Kayu terasnya
berwarna merah muda pucat, merah muda kecoklatan, hingga merah tua atau bahkan merah tua
kecoklatan. Meranti merah merupakan salah satu kayu komersial terpenting di Asia Tenggara.
Kayu ini juga yang paling umum dipakai untuk pelbagai keperluan di kawasan Malaysia. Pohon
kayu meranti banyak di temukan di pulau kalimantan.
Kegunaan
Kayu ini lazim dipakai sebagai kayu konstruksi, panil kayu untuk dinding, loteng, sekat ruangan,
bahan furniture dan perabot rumahtangga, mainan, peti mati dan lain-lain. Kayu meranti merahtua yang lebih berat biasa digunakan untuk konstruksi sedang sampai berat, balok, kasau, kusen

pintu-pintu dan jendela, papan lantai, geladak jembatan, serta untuk membuat perahu. Meranti
merah baik pula untuk membuat kayu olahan seperti papan partikel, harbor, dan venir untuk kayu
lapis. Selain itu, kayu ini cocok untuk dijadikan bubur kayu, bahan pembuatan kertas.
Keunggulan
Kayu meranti termasuk pada kayu dengan kelas awet II, III, IV dan kelas kuat II, III, IV
Harga kayu meranti yang tak begitu mahal menjadikan pilihan bagi bahan pembuatan matrial
kusen, pintu, jendela.
Kayu meranti merah cukup mudah diawetkan dengan menggunakan campuran minyak diesel
dengan kreoso
Bobot kayu ini berbagai macam mulai dari yang ringan sampai yang berat sehingga bisa
disesuaikan dengan kebutuhan
Kelemahan
Kayu ini tidak begitu tahan terhadap pengaruh cuaca, sehingga tidak dianjurkan untuk
penggunaan di luar
Tekstur kayunya tidak terlalu halus
Tingkat keawetan dan kekerasannya juga tergolong rendah (kelas II-IV)
KAYU KAMPER

kayu kamper telah lama menjadi alternatif


bahan bangunan yang harganya lebih terjangkau. Meskipun tidak setahan lama kayu jati dan
sekuat bangkirai, kamper memiliki serat kayu yang halus dan indah sehingga sering menjadi
pilihan bahan membuat pintu panil dan jendela. Karena tidak segetas bangkirai, retak rambut
jarang ditemui. Karena tidak sekeras bangkirai, kecenderungan berubah bentuk juga besar,
sehingga, tidak disarankan untuk pintu dan jendela dengan desain terlalu lebar dan tinggi.
Termasuk kayu dengan Kelas Awet II, III dan Kelas Kuat II, I. Pohon kamper banyak ditemui di
hutan hujan tropis di kalimantan. Samarinda adalah daerah yang terkenal menghasilkan kamper
dengan serat lebih halus dibandingkan daerah lain di Kalimantan.

Ciri Ciri Kayu Kamper :

Di Indonesia, kayu kamper telah lama menjadi alternatif bahan bangunan yang
harganya lebih terjangkau. Meskipun tidak setahan lama kayu jati dan sekuat bangkirai,
kamper memiliki serat kayu yang halus dan indah sehingga sering menjadi pilihan
bahan membuat pintu panil dan jendela. Karena tidak segetas bangkirai, retak rambut
jarang ditemui. Karena tidak sekeras bangkirai, kecenderungan berubah bentuk juga
besar, sehingga, tidak disarankan untuk pintu dan jendela dengan desain terlalu lebar
dan tinggi. Termasuk kayu dengan Kelas Awet II, III dan Kelas Kuat II, I. Pohon kamper
banyak ditemui di hutan hujan tropis di kalimantan. Samarinda adalah daerah yang
terkenal menghasilkan kamper dengan serat lebih halus dibandingkan daerah lain di
Kalimantan. Ciri ciri yang lain adalah :

tidak terlalu awet dan kuat

serat halus dan indah,

tidak tahan air

tidak mempunyai lingkaran tahun

mudah dikerjakan

KAYU KAMPER

Karakteristik
Kayu ini temasuk dalam suku kamfer-kamferan atau Lauraceae adalah salah satu suku anggota
tumbuhan berbunga. Berasal dari Pohon Champor. Pohon kamper adalah cemara yang tumbuh
65- 98 kaki tinggi dan memiliki vertikal pecah-pecah, berwarna kulit. Hal ini dianggap sebagai
kayu eksotis. Pohon kamper tumbuh di tempat teduh sebagian sinar matahari penuh dan sedikit
asam sampai basa kotoran. Sumber daya kayu kamper yang paling dapat diandalkan sebagian
besar di Australia, meskipun juga tumbuh di tempat-tempat seperti Cina, Taiwan, Indochina dan
Jepang. Sedangkan di indonesia banyak terdapat di pulau kalimantan khususnya di samarinda.
Kamper kayu berwarna kuning putih atau cahaya abu-abu di gubal tersebut. namun sering
dijumpai waran emas ke coklat gelap pada kayu batang, terkadang dengan warna merah, dan
juga bisa menjadi bagian merah coklat dengan hangat coklat gelap. Kegunaan Sebagai alternatif

bahan bangunan , bahan pembuat pintu panil dan jendela


Keunggulan
Kayu kamper termasuk pada kayu dengan kelas awet II, III, dan kelas kuat I, II
Kayu Kamper adalah kayu yang mengkilap. Teksturnya sangat halus dan indah
Jarang ditemui retak rambut karena tidak segetas kayu bangkirai
Harganya lebih terjangkau walaupun tidak sekuat kayu jati dan bangkirai
Kelemahan
Karena tidak sekeras bangkirai kecenderungan berubah bentuk juga besar sehingga tidak
disarankan untuk pintu dan jendela dengan ukuran yang terlalu besar
Tidak setahan kayu jati dan tidak sekeras bangkirai
Harga relatif lebih mahal dari kayu meranti merah

Ciri Ciri Kayu Sungkai :


ini kayu yg pernah merajai bahan pembuatan gitar di era tahun 80/90 an . Kayu yg
mirip sekali dengan serat dan warna kayu Ash dari amerika. resonansi suara yg
dihasilkan cukup baik . kayu yg sudah berumur tua sangat bagus. berwarna kuning
muda sampai kuning tua.
Nama lain dari kayu ini adalah Kayu Jati sabrang ( bukan jenis Jati !),Lurus , Koeroes !.
nama latinya Penomena Canascens jack ! tumbuh di Sumatra , Jawa,Kalimantan
barat,tengah & selatan. Ciri ciri kayu sungkai yang lain adalah :

tahan lama

tekstur cukup halus

serat indah dan berwarna kuning pucat

KAYU SUNGKAI

Karakteristik

Sungkai (Peronema canescens) sering disebut sebagai jati sabrang, ki sabrang, kurus, sungkai,
sekai termasuk kedala famili Verbenaceae. Daerah penyebarannya di Indonesia adalah Sumatera
Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan seluruh Kalimantan. Tempat tumbuh
di dalam hutan tropis. Tinggi pohon mencapai 2030 m panjang batang bebas cabang mencapai
15 m, dengan diameter 60 cm atau lebih, batang lurus dan sedikit berlekuk dangkal, tidak
berbanir, dan ranting penuh bulu halus. Kulit luar berwarna kelabu atau sawo muda, beralur
dangkal, mengelupas kecil-kecil dan tipis. Kayu teras berwarna krem atau kuning muda. Tekstur
kayu kasar dan tidak merata. Arah serat lurus, kadang-kadang bergelombang dengan permukaan
kayu agak kesat.
Kegunaan
Kayu sungkai dalam kegunaannya diperuntukkan sebagai kayu bangunan, kayu perkakas, lantai,
papan, seni ukir dan pahat, finir mewah serta sebagai kayu ornamentil.
Keunggulan
Kayu sungkai termasuk pada kayu dengan kelas awet III, dan kelas keras II, III
Teksturnya cukup halus serta seratnya sangat indah berwarna kuning keemasan sehingga sering
digunakan sebagai element dekoratif yang elegan
Pengerjaannya relatif mudah.
Kelemahan
Tingkat keawetannya relatif rendah (kelas III)
Daya retaknya cukup tinggi, serat lurus bergelombang dan memiliki tekstur agak kasar.
CARA MENGAWETKAN KAYU
Pemulasan dan penyemprotan Pengawetan yang sederhana dan menghasilkan pengawetan yang
kurang baik karena van pengawet yang masuk dan diam pada kayu hanya sedikit serta van
pengawet mudah luntur. Keuntungannya hdala : alat yang digunakan sederhana, mudah
penggunaannya dan murah. Dianjurkan hanya dipakai sementara, serangan perusak kayu tidak
ganas dan untuk pengawetan kayu yang sudah terpasang. Contohnya memberi lapisan cat pada
kayu, melabur kayu dengan ter, dll. Rendaman Kayu direndam dalam bak larutan bahan
pengawet yang telah ditentukan kepekatannya selama beberapa hari. Kayu harus terendam
semua. Ada tiga cara pengawetan dengan rendaman, yaitu : rendaman dingin, rendaman panas
dan rendaman panas-dingin. Bahan pengawet yang digunakan berupa garam. Keuntungannya :
Penetrasi dan retensi van pengawet lebih banyak, kayu dalam jumlah banyak dapat diawetkan
bersama, larutan dapat digunakan berulangkali. Adapun keruguian pengawetan kayu dengan cara
rendaman adalah :waktunya lama terutama rendaman dingin, peralatannya mudah kena karat,
pada proses rendaman panas kayu dapat terbakar dan kayu basah sulit diawetkan dengan cara ini.

Kayu Sungkai

Sungkai (Peronema canescens) sering disebut


sebagai jati sabrang, ki sabrang, kurus, sungkai, sekai termasuk kedalam famili Verbenaceae.
Daerah penyebarannya di Indonesia adalah Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan,
Jawa Barat, dan seluruh Kalimantan. Tempat tumbuh di dalam hutan tropis dengan type curah
hujan A sampai C, pada tanah kering atau sedikit basah dengan ketinggian sampai 600 m diatas
permukaan laut. Tanaman sungkai perlu tanah yang baik, sedangkan di tanah mergel tidak
dianjurkan.
Tinggi pohon mencapai 2030 m panjang batang bebas cabang mencapai 15 m, dengan diameter
60 cm atau lebih, batang lurus dan sedikit berlekuk dangkal, tidak berbanir, dan ranting penuh
bulu halus. Kulit luar berwarna kelabu atau sawo muda, beralur dangkal, mengelupas kecil-kecil
dan tipis. Kayu teras berwarna krem atau kuning muda. Tekstur kayu kasar dan tidak merata.
Arah serat lurus, kadang-kadang bergelombang dengan permukaan kayu agak kesat.

Kegunaan kayu sungkai cocok untuk rangka atap, karena ringan dan cukup kuat. Selain itu ipakai
juga untuk tiang rumah dan bangunan jembatan.

Garis-garis indah mungkin baik untuk vinir mewah, kabinet dan sebagainya. Kayunya
mempunyai berat jenis 0,62 dan termasuk kelas kuat II III serta kelas awet III.
Tanaman sungkai berbuah sepanjang tahun, terutama pada bulan Maret Juni. Tiap kilogram biji
berisi 262.000 butir.
Untuk keperluan pembibitan pemilihan benih (biji) dilakukan dengan cara mengambil buah-buah
yang sudah tua yang ditandai warna coklat tua. Akan tetapi mengingat perbanyakan secara
vegetatif lebih mudah dilaksanakan, maka untuk pengadaan benih penanaman dipakai stek
batang, yang diambil dari terubusan-terubusan yang berumur lebih kurang dua tahun pada
tunggul bekas tebangan. Tunggul yang dipilih sebagai induk dari terubusan calon stek adalah
tunggul yang berasal dari tegakan terpilih/tegakan plus.
Pemilihan Terubusan yang akan dipakai sebagai bahan stek dilakukan dengan cara memilih
terubusan yang sehat dan sudah berkayu dengan diameter lebih kurang 2,5 cm dan panjang 25
cm 30 cm. Untuk merangsang pertumbuhan akar, maka stek dapat diberi hormon tumbuh
(Roton F), kemudian ditanam/disemaikan dalam kantong plastik. Kantong-kantong plastik
sebaiknya dibuat bedengan dan dinaungi. Cara pemeliharaan bibit adalah penyiraman dua kali
sehari dan jika terserang hama/penyakit dilakukan pemberantasan dengan insektisida/fungisida.
Dengan cara ini biasanya bibit siap dipindahkan kelapangan pada umur lebih kurang 3 bulan.
Sungkai dapat ditanam pada areal bekas tebangan dan semak belukar dengan sistim jalur atau
cemplongan. Disamping itu dapat juga ditanam pada areal yang terbuka dengan pengolahan
tanah total yang dapat dikombinasi dengan pemberian tanaman tumpang sari.

KAYU MERBAU

Kayu Merbau termasuk salah satu jenis


kayu yang cukup keras dan stabil sebagai alternatif pembanding dengan kayu jati.
Merbau juga terbukti tahan terhadap serangga. Warna kayu merbau coklat
kemerahan dan kadang disertai adanya highlight kuning. Merbau memiliki tekstur
serat garis terputus putus. Pohon merbau termasuk pohon hutan hujan tropis.
Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II dan Kelas Kuat I, II. Merbau juga terbukti
tahan terhadap serangga. Warna kayu merbau coklat kemerahan dan kadang
disertai adanya highlight kuning. Kayu merbau biasanya difinishing dengan melamin
warna gelap / tua. Merbau memiliki tekstur serat garis terputus putus. Pohon
merbau termasuk pohon hutan hujan tropis. Pohon Merbau tumbuh subur di
Indonesia, terutama di pulau Irian / Papua. Kayu merbau kami berasal dari Irian /
Papua.

KAYU MERBAU

Karakteristik
Kayu glubal Merbau berwarna agak kekuningan dengan ketebalan 4-5 cm. Batas
antara kayu gubal dan kayu teras cukup jelas. Bagian kayu terasnya berwarna
Kekuningan dan oranye pada saat dibelah, dan akan berubah coklat kemerahan
setelah beberapa waktu. Pada pori-porinya seringkali terlihat garis-garis pendek dan
halus berwarna kuning. Area tumbuh di Indo-Malayan, Philipina, Indonesia, Australia
dan Kepulauan Pacific Barat. Paling besar terdapat di Sumatra, Kalimantan, Maluku
dan Irian.
Kegunaan
Kayu Merbau biasanya digunakan untuk membuat parket (flooring), furniture,
decking dengan finger joints, panel, musik instrumen dan lainnya

Keunggulan
Kayu merbau termasuk pada kayu dengan kelas awet I, II dan kelas kuat I, II
Kayu merbau tahan terhadap serangan serangga
Kayu merbau cukup keras dan stabil sehingga sering digunakan sebagai alternatif
pembanding dengan kayu jati
Kelemahan
Cukup keras dan akan banyak mematahkan mata gergaji apabila pengerjaan
kurang hati-hati dan melebihi standar pengaturan
Harga masih relatif mahal

Kayu Merbau (Intsia Palembanica)

Kayu Merbau mudah dikenal tekstur seratnya yang berwarna


merah kecoklatan dan banyak digunakan untuk panelling, lantai parket, pintu dan jendela. Kayu
ini masuk kategori kayu keras dan dengan tekstur yang dimilikinya membuat Merbau menjadi
sebuah simbol eklusifitas dalam interior.

Area Tumbuh: Indo-Malayan, Philipina, Indonesia, Australia dan Kepulauan Pacific Barat.
Paling besar terdapat di Sumatra, Kalimantan, Maluku dan Irian.
Pohon: Diameter pohon merbau bisa mencapai 150cm dan tinggi 15 meter.
Warna Kayu: Kayu glubal Merbau berwarna agak kekuningan dengan ketebalan 4-5 cm. Batas
antara kayu gubal dan kayu teras cukup jelas. Bagian kayu terasnya berwarna Kekuningan dan
oranye pada saat dibelah, dan akan berubah coklat kemerahan setelah beberapa waktu. Pada poriporinya seringkali terlihat garis-garis pendek dan halus berwarna kuning.
Densitas: 740 - 900 kg/m3, rata-rata 800 kg/m3 pada level MC 12%
Pengeringan: Direkomendasikan untuk pengaturan suhu pengeringan antara 43 - 71 C dan pada
kelembaban udara 83 - 38 %
Proses mesin: Cukup keras dan akan banyak mematahkan mata gergaji apabila pengerjaan

kurang hati-hati dan melebihi standar pengaturan. Akan tetapi pada pengamplasan termasuk baik
dan halus.

PHYSICAL PROPERTIES
Specific gravity (densitas): 0.84 (0.63 - 1.04) g/cm3
Kelas Awet: II
Penyusutan: 0.6% (Radial) and 0.7% (Tangential).
Fibre Saturation Point: 24 %
FUNGSI
Kayu Merbau biasanya digunakan untuk membuat parket (flooring), furniture, decking dengan
finger joints, panel, musik instrumen dan lainnya.

Sifat-sifat kayu

Batang kayu

Kayu teras berwarna kelabu coklat atau kuning coklat sampai coklat merah cerah atau hampir
hitam. Kayu gubal berwarna kuning pucat sampai kuning muda, jelas dibedakan dari kayu teras.
Merbau memiliki tekstur kayu yang kasar dan merata, dengan arah serat yang kebanyakan lurus.
Kayu yang telah diolah memiliki permukaan yang licin dan mengkilap indah.[4]
Kayu merbau termasuk ke dalam golongan kayu berat (BJ 0,63-1,04 pada kadar air 15%) dan
kuat (kelas kuat I-II). Kayu ini memiliki penyusutan yang sangat rendah, sehingga tidak mudah
menimbulkan cacat apabila dikeringkan. Merbau juga awet: daya tahannya terhadap jamur
pelapuk kayu termasuk kelas I dan terhadap rayap kayu kering termasuk kelas II. [4] Kayu merbau
termasuk tahan terhadap penggerek laut (teredo), sehingga acap digunakan pula dalam pekerjaan
konstruksi perairan.[1]
Merbau termasuk tidak sulit digergaji, dapat diserut dengan mesin sampai halus, diamplas dan
dipelitur dengan memuaskan, namun kurang baik untuk dibubut. Kayu ini juga biasanya pecah

apabila dipaku, dan dapat menimbulkan noda hitam apabila berhubungan dengan besi atau
terkena air. [4]

Pemanfaatan
Merbau terutama dimanfaatkan kayunya, yang biasa digunakan dalam konstruksi berat seperti
balok-balok, tiang dan bantalan, di bangunan rumah maupun jembatan.[4] Oleh karena kekuatan,
keawetan dan penampilannya yang menarik, sekarang kayu merbau juga dimanfaatkan secara
luas untuk pembuatan kusen, pintu dan jendela, lantai parket (parquet flooring), papan-papan dan
panel, mebel, badan truk, ukiran dan lain-lain.[1]
Bahan pewarna coklat dan kuning dapat diekstrak dari substansi berminyak yang dikandung oleh
kayu dan pepagannya. Pepagan dan daun juga digunakan sebagai bahan obat tradisional.[1]
Pepagan yang mengelupas, ditumbuk dan dicampur dengan buah pinang yang tua, sebagai obat
untuk menghentikan murus. Biji-bijinya dibembam dalam arang atau abu panas agar pecah
kulitnya, lalu direndam dalam air garam selama 3-4 hari, sebelum direbus dan dimakan.[5]
KAYU BANGKIRAI / YELLOW BALAU

Kayu Bangkirai termasuk jenis kayu


yang cukup awet dan kuat. Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II, III dan Kelas Kuat
I, II. Sifat kerasnya juga disertai tingkat kegetasan yang tinggi sehingga mudah
muncul retak rambut dipermukaan. Selain itu, pada kayu bangkirai sering dijumpai
adanya pinhole. Umumnya retak rambut dan pin hole ini dapat ditutupi dengan
wood filler. Secara struktural, pin hole ini tidak mengurangi kekuatan kayu bangkirai
itu sendiri. Karena kuatnya, kayu ini sering digunakan untuk material konstruksi
berat seperti atap kayu. Kayu bangkirai termasuk jenis kayu yang tahan terhadap
cuaca sehingga sering menjadi pilihan bahan material untuk di luar bangunan /
eksterior seperti lis plank, outdoor flooring / decking, dll. Pohon Bangkirai banyak
ditemukan di hutan hujan tropis di pulau Kalimantan. Kayu berwarna kuning dan
kadang agak kecoklatan, oleh karena itulah disebut yellow balau. Perbedaan antara
kayu gubal dan kayu teras cukup jelas, dengan warna gubal lebih terang. Pada saat
baru saja dibelah/potong, bagian kayu teras kadang terlihat coklat kemerahan.

KAYU BANGKIRAI

Karakteristik
Kayu bangkirai (Shorea lavefolia Endent) di dalam negeri lebih dikenal dengan
nama kayu Bangkirai, sedangkan di luar Indonesia lebih dikenal dengan nama
Yellow Balau atau kadang hanya disebutkan Balau, yang sebenarnya merupakan
nama dari Malaysia. Kayu ini hanya ditemukan banyak di Indonesia, Malaysia &
Filipina. Kayu berwarna kuning dan kadang agak kecoklatan, oleh karena itulah
disebut yellow balau. Perbedaan antara kayu gubal dan kayu teras cukup jelas,
dengan warna gubal lebih terang. Pada saat baru saja dibelah/potong, bagian kayu
teras kadang terlihat coklat kemerahan. Bangkirai bisa berdiameter hingga 120 cm
dan tinggi pohon mencapai 40 meter. Diamater rata-rata adalah 70-90cm.
Kegunaan
Sebagai bahan pembuat produk decking, outdoor furniture, konstruksi jembatan,
pergola dan konstruksi berat lainnya.

Keunggulan
Kayu bangkirai termasuk pada kayu dengan kelas awet I, II , III dan kelas kuat I, II
Kekerasan kayu Bangkirai cukup tinggi, sehingga cocok diletakkan di luar ruangan
atau bahan outdoor
Tahan terhadap perubahan cuaca
Jenis serat dengan ikatan kuat dan memiliki tingkat keawetan yg tinggi
Kelemahan
Sifat kerasnya disertai dengan tingkat kegetasan yang tinggi sehingga mudah
terjadi retak rambut dan pin hole
Secara konsruksi retak dan pinhole ini bisa mengurangi kekuatan dari kayu

bangkirai ini
Harga kayu bangkirai relatif mahal

Kayu Bangkirai/Yellow Balau


Botanical Name: Shorea lavefolia Endent
Family Name: Dipterocarpaceae
Di dalam negeri lebih dikenal dengan nama kayu Bangkirai, sedangkan di luar Indonesia lebih
dikenal dengan nama Yellow Balau atau kadang hanya disebutkan Balau, yang sebenarnya
merupakan nama dari Malaysia. Kayu ini hanya ditemukan banyak di Indonesia, Malaysia &
Filipina.
Pohon
Bangkirai bisa berdiameter hingga 120 cm dan tinggi pohon mencapai 40 meter. Diamater ratarata adalah 70-90cm.
Warna Kayu
Kayu berwarna kuning dan kadang agak kecoklatan, oleh karena itulah disebut yellow balau.
Perbedaan antara kayu gubal dan kayu teras cukup jelas, dengan warna gubal lebih terang. Pada
saat baru saja dibelah/potong, bagian kayu teras kadang terlihat coklat kemerahan.
Densitas
Kekerasan kayu Bangkirai cukup tinggi, antara 880-990 kg/m3 pada kekeringan MC 12%.
Bahkan bisa mencapai 1050 kg/m3.
Pengeringan
Proses pengeringan Bangkirai dengan suhu normal adalah 12-25 hari. Resiko paling besar adalah
kayu melengkung atau bahkan retak pada saat masih di dalam ruang oven.
Proses Mesin
Jenis serat dengan ikatan kuat, proses mesin akan cukup mudah dan halus, namaun setelah
beberapa jam berada di udara terbuka, Serat Bangkirai memiliki kecenderungan terbuka dan
'melintir' sehingga kurang cocok untuk konstruksi yang membutuhkan kestabilan tinggi.
Namun karena kekerasannya, bangkirai sangat cocok untuk produk decking, outdoor furniture,
konstruksi jembatan, pergola dan konstruksi berat lainnya.

KAYU JATI

Keunggulan
Kayu Jati tergolong pada kayu dengan kelas awet I, kelas kuat I, II.
Memiliki daya tahan yang kuat terhadap jamur, busuk karena udara lembab atau
serangan serangga
Kayu Jati juga memiliki daya tahan yang baik terhadap cuaca dan perubahan
suhu.
Memiliki warna dan serat dan tekstur yang unik dan bagus sehingga tampak
menarik pada pengaplikasiannya
Dengan karakteristik khusus yang dimiliki kayu jati yaitu kandungan minyak pada
kayu Jati membuat kekuatan Jati lebih baik dari jenis kayu yang lain.
Kelemahan
Kecepatan tumbuh pohon jati relatif lambat sehingga jumlah kayu jati yang
dihasilkan tidaklah banyak dan sulit di dapat
Harga kayu jati adalah yang paling mahal dibanding kayu lainnya
Di Indonesia kayu jati hanya bisa diperoleh/dibeli dari Perum Perhutani, sebagai
instansi pemerintah yang berkuasa penuh untuk perawatan dan pengawasan
distribusi kayu jati di Indonesia, terutama di Pulau Jawa

KAYU JATI

Kayu jati sering dianggap sebagai kayu


dengan serat dan tekstur paling indah. Karakteristiknya yang stabil, kuat dan tahan
lama membuat kayu ini menjadi pilihan utama sebagai material bahan bangunan.
Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II dan Kelas Kuat I, II. Kayu jati juga terbukti
tahan terhadap jamur, rayap dan serangga lainnya karena kandungan minyak di
dalam kayu itu sendiri. Tidak ada kayu lain yang memberikan kualitas dan
penampilan sebanding dengan kayu jati.

Harga kayu jati banyak dipengaruhi dari asal, ukuran dan kriteria batasan kualitas
kayu yang ditoleransi, seperti: ada mata sehat, ada mata mati, ada doreng, ada
putih. Penentuan kualitas kayu jati yang diinginkan seharusnya mempertimbangkan
type aplikasi finishing yang dipilih. Selain melindungi kayu dari kondisi luar,
finishing pada kayu tersebut diharapkan dapat memberikan nilai estetika pada kayu
tersebut dengan menonjolkan kelebihan dan kekurangan kualitas kayu tersebut.

Sifat-sifat kayu dan pengerjaan


Kayu jati merupakan kayu kelas satu karena kekuatan, keawetan dan keindahannya. Secara
teknis, kayu jati memiliki kelas kekuatan I dan kelas keawetan I. Kayu ini sangat tahan terhadap
serangan rayap.
Kayu teras jati berwarna coklat muda, coklat kelabu hingga coklat merah tua. Kayu gubal, di
bagian luar, berwarna putih dan kelabu kekuningan.
Meskipun keras dan kuat, kayu jati mudah dipotong dan dikerjakan, sehingga disukai untuk
membuat furniture dan ukir-ukiran. Kayu yang diampelas halus memiliki permukaan yang licin
dan seperti berminyak. Pola-pola lingkaran tahun pada kayu teras nampak jelas, sehingga
menghasilkan gambaran yang indah.
Dengan kehalusan tekstur dan keindahan warna kayunya, jati digolongkan sebagai kayu mewah.
Oleh karena itu, jati banyak diolah menjadi mebel taman, mebel interior, kerajinan, panel, dan
anak tangga yang berkelas.
Sekalipun relatif mudah diolah, jati terkenal sangat kuat dan awet, serta tidak mudah berubah
bentuk oleh perubahan cuaca. Atas alasan itulah, kayu jati digunakan juga sebagai bahan dok
pelabuhan, bantalan rel, jembatan, kapal niaga, dan kapal perang. Tukang kayu di Eropa pada
abad ke-19 konon meminta upah tambahan jika harus mengolah jati. Ini karena kayu jati
sedemikian keras hingga mampu menumpulkan perkakas dan menyita tenaga mereka. Manual
kelautan Inggris bahkan menyarankan untuk menghindari kapal jung Tiongkok yang terbuat dari
jati karena dapat merusak baja kapal marinir Inggris jika berbenturan.
Jati burma sedikit lebih kuat dibandingkan jati jawa. Namun, di Indonesia sendiri, jati jawa
menjadi primadona. Tekstur jati jawa lebih halus dan kayunya lebih kuat dibandingkan jati dari
daerah lain di negeri ini. Produk-produk ekspor yang disebut berbahan java teak (jati jawa,
khususnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur) sangat terkenal dan diburu oleh para kolektor di
luar negeri.

Menurut sifat-sifat kayunya, di Jawa orang mengenal beberapa jenis jati (Mahfudz dkk., t.t.):
1. Jati lengo atau jati malam, memiliki kayu yang keras, berat, terasa halus
bila diraba dan seperti mengandung minyak (Jw.: lengo, minyak; malam, lilin).
Berwarna gelap, banyak berbercak dan bergaris.
2. Jati sungu. Hitam, padat dan berat (Jw.: sungu, tanduk).
3. Jati werut, dengan kayu yang keras dan serat berombak.
4. Jati doreng, berkayu sangat keras dengan warna loreng-loreng hitam
menyala, sangat indah.
5. Jati kembang.
6. Jati kapur, kayunya berwarna keputih-putihan karena mengandung banyak
kapur. Kurang kuat dan kurang awet.

7. Kayu Jati (Tectona Grandis)

8.

Botanical name: Tectona Grandis


Family Name: Verbenaceae
Karakteristik dari kayu jati yang paling dikenal orang adalah karena keawetannya dan
daya tahannya terhadap perubahan cuaca dibandingkan dengan jenis kayu lain. Selain itu
pula karakter serat dan warnanya memiliki ciri khas tersendiri. Oleh karena itulah harga
kayu jati lebih mahal.
Pohon
Tinggi pohon bisa mencapai 50 meter dengan hingga 1,2 meter. Umur pohon jati yang
ideal untuk mendapatkan kualitas terbaik adalah di atas 40 tahun. Kecepatan tumbuh
pohon jati relatif lambat sehingga densitas kayunya pun lebih baik. Untuk memperoleh
40 cm dibutuhkan minimal 50 tahun masa tumbuh.
Warna Kayu
Coklat dan emas warna gelap pada kayu terasnya. Bagian kayu gubal berwarna krem atau
bahkan putih kecoklatan. Pada beberapa jenis kayu jati terdapat warna kemerahan pada

saat baru saja dibelah. Setelah beberapa lama di letakkan di udara terbuka dan terutama di
bawah sinar matahari, warna tersebut akan berubah coklat muda.
Densitas
pada level MC rata-rata 12%, densitas kayu jati berada pada kisaran 700 - 930 kg/m3.
Keawetan
Kayu Jati tergolong pada kayu dengan kelas awet I. Memiliki daya tahan yang kuat
terhadap jamur, busuk karena udara lembab atau serangan serangga. Kayu Jati juga
memiliki daya tahan yang baik terhadap cuaca dan perubahan suhu.
Dengan karakteristik khusus yang dimiliki kayu jati yaitu kandungan minyak pada kayu
Jati membuat kekuatan Jati lebih baik dari jenis kayu yang lain.
Pengeringan
Beberapa manufaktur menggunakan cara pengeringan yang sedikit berbeda pada kayu
jati. Jika biasanya pada bentuk papan lembaran biasa masuk ke ruang pengering, mereka
melakukan dengan cara membentuk kayu menjadi komponen setengah jati ke dalam
ruang pengeringan. Disisakan sepersekian milimeter untuk proses amplas setelah
pengeringan.
Waktu yang dibutuhkan untuk mengeringkan kayu jati adalah sekitar 14-25 hari dengan
temperature maksimum 80 derajat Celcius.
Proses Mesin & Konstruksi
Susunan serat kayu Jati yang kecil memudahkan proses mesin dengan hasil yang halus
dan rata. Bisa dihasilkan kepala kayu yang halus pada saat proses pemotongan melawan
arah serat.
Karena kelebihan kayu Jati dari warna serat dan kelas awetnya, sebagian besar produsen
furniture atau pemakai kayu jati tidak melapiskan bahan finishing karena lapisan
minyak/lilin alaminya sudah merupakan bahan pengawet.
Sertifikasi
Saat ini konsumen (terutama di Eropa & Amerika) menuntut adanya sertifikasi pada
seluruh produk furniture dari kayu Jati.
Di Indonesia kayu jati hanya bisa diperoleh/dibeli dari Perum Perhutani, sebagai instansi
pemerintah yang berkuasa penuh untuk perawatan dan pengawasan distribusi kayu jati di
Indonesia, terutama di Pulau Jawa.