Anda di halaman 1dari 9

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS STROKE NON

HAEMORAGIC DENGAN TERAPI LATIHAN METODE PNF


(PROPIOCEPTIVE NEUROMUSCULAR FACILITATION)
Mizan Abdul Rouuf, Dyah Novi W I , Whida RahmawatiII
Program Studi D-III Fisioterapi Fakultas Kesehatan Masyarakat
Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri
Mizan_Abdulrouuf@yahoo.co.id
ABSTRAK
Latar Belakang : Gaya hidup manusia dewasa ini semakin mengarah kepada gaya
hidup yang pragmatis, semua memenuhi kebutuhan hidup secara instan dan praktis
serta mengabaikan segala hal yang ada di balik pragmatisme tersebut. Pola hidup
yang instan seperti makan makanan junk food, merokok dan minum kopi yang
berlebihan untuk mengusir rasa kantuk akibat lelah bekerja dan tidak pernah berolah
raga karena harus mengejar karier, maka timbulah berbagai penyakit salah satunya
adalah stroke.
Tujuan : Mengetahui penatalaksanaan fisioterapi pada kasus Stroke Non
Haemoragic dengan terapi latihan metode PNF (Propioceptive Neuromuscular
Facilitation).
Metode : Karya Tulis Ilmiah ini menggunakan studi kasus dengan pelaksanaan terapi
sebanyak 6 kali. Dilakukan di RSUD Jombang pada tanggal 15 Maret sampai dengan
tanggal 21 Maret 2014. Dalam hal untuk membantu mengatasi permasalahan yang
ada fisioterapi menggunakan terapi latihan metode PNF dengan teknik Rhytmical
initiation pada anggota gerak atas dan bawah yang menggunakan pola fleksi-abduksieksternal rotasi dan ekstensi-abduksi-eksternal rotasi dengan siku ekstensi pada
anggota gerak atas dan fleksi-adduksi-eksternal rotasi dengan lutut fleksi dan fleksiadduksi-eksternal rotasi dengan lutut ekstensi pada anggota gerak bawah.
Hasil Penelitian : Dapat dilihat bahwa dengan penanganan fisioterapi menggunakan
terapi latihan metode PNF yang telah diberikan memperlihatkan adanya peningkatan
kekuatan otot yang otomatis akan mempengaruhi peningkatan lingkup gerak sendi
secara aktif dan kemampuan aktifitas fungsional.
Kesimpulan : Dalam pengaplikasian terapi latihan metode PNF dapat meningkatkan
kekuatan otot yang juga akan mempengaruhi peningkatan aktifitas fungsional
sekaligus dapat mencegah komplikasi lain yang dapat memperburuk keadaan pasien.
Kata Kunci : Stroke Non Haemoragic, PNF (Propioceptive Neuromuscular
Facilitation)

PENDAHULUAN
Gaya hidup manusia dewasa ini
semakin mengarah kepada gaya hidup
yang pragmatis, semuanya memenuhi
kebutuhan hidup secara instan dan
praktis. Pola hidup yang instan seperti
makan makanan junk food, merokok
dan minum kopi yang berlebihan
untuk mengusir rasa kantuk akibat
lelah bekerja, tidak pernah melakukan
olah raga karena harus mengejar karier
serta gaya hidup yang selalu identik
dengan narkoba, rokok dan alkohol
maka segala penyakit akan datang
menyerang. Bermula dari kelebihan
kolesterol, kelelahan karena kurang
istirahat, tingkat stres yang tinggi dan
hipertensi maka timbulah berbagai
penyakit seperti jantung dan Stroke
yang merupakan salah satu penyakit
beresiko tinggi akibat gaya hidup yang
tidak sehat dan tidak teratur
(Goldszmidt et al, 2013).
Resiko Stroke akan meningkat
seiring
dengan
beratnya
dan
banyaknya faktor resiko. Resiko untuk
timbulnya serangan ulang stroke yaitu
30% dan populasi yang pernah
menderita
stroke
memiliki
kemungkinan serangan ulang adalah 9
kali dibandingkan populasi normal.
Tekanan darah tinggi dan diabetes
masih merupakan faktor resiko jangka
panjang yang penting. Kira-kira 40%60% pasien diabetes terkomplikasi
dengan
hipertensi
yang
mana
merupakan faktor resiko yaang paling
kuat untuk stroke.
Stroke adalah sindrom yang terdiri
dari tanda dan gejala hilangnya fungsi
sistem saraf pusat fokal atau global
yang berkembang cepat dalam detik
atau
menit.
Gejala-gejala
ini

berlangsung lebih dari 24 jam atau


menyebabkan kematian (Ginsberg,
2007).
Lebih dari 80% stroke asalnya
iskemik atau yang lebih di kenal
sebagai Stroke Non Haemoragic dan di
sebabkan oleh oklusi arteri trombotik
atau tromboemboli. Tempat awal
bekuan yang paling sering meliputi
arteri-arteri serebral ekstrakranial,
jantung (fibilasi atrium, penyakit katup
mitral,
trombus),
arteri
kecil
menembus otak (stroke lakunar), dan
plak arkus aorta. Stroke iskemik ini di
bagi lagi menjadi aterotrombosis
arteri besar, emboli otak, stroke
lakunar dan hipoperfusi sistemik.
Stroke iskemik biasanya muncul
sebagai defisit neurologis fokal dalam
distribusi pembuluh darah tunggal.
Gejala mungkin maksimal saat onset,
pasang surut, semakin memburuk, atau
memburuk dalam pola bertahap
(Goldszmidt et al, 2013).
Banyaknya permasalahan yang
muncul
pada
kasus
stroke
membutuhkan terapi dan rehabilitasi
ke
berbagai
arah.
Fisioterapi
merupakan salah satu komponen
proses rehabilitasi. Perannya harus
melibatkan pembatasan gangguan
gerakan yang terjadi pada pasien,
termasuk dasar dan fungsi motorik
yang kompleks dan kemandirian
pasien. Fisioterapi harus berperan
untuk meningkatkan kualitas hidup
pasien dan kemandirian pasien dalam
kehidupan sehari-hari. Komponen
penting dari terapi tersebut harus
melibatkan untuk menentukan dalam
upaya bersama dengan pasien, tujuan
yang memadai untuk kemampuan
pasien dan masalah pasien yang terjadi

selama rehabilitasi pasca stroke (Pasiut


et al, 2005).
Dengan keterbatasan kemampuan
fisik dan fungsional pasien pasca
stroke, banyak cara pendekatan terapi
yang digunakan untuk bisa membantu
menyelesaikan masalah pasien pasca
stroke, misalnya pendekatan terapi
latihan,
metode Brunstorm, MRP
(Motor Relearning Programme), PNF
(propioseptive
neuromuscular
facilitation),
Bobath,
ataupun
pendekatan secara konvensional serta
penggunaan stimulasi elektris.
Dari uraian di atas penulis ingin
mengambil
suatu
pendekatan
fisioterapi
dalam
menangani
permasalahan yang berkaitan dengan
gangguan gerak dan fungsi dari pasien
Stroke Non Haemoragic, salah satunya
adalah pendekatan dengan terapi
latihan metode PNF (Propioceptive
Neuromuscular Facilitation).
Berdasarkan
problematika
yang
muncul pada kasus Stroke Non
Haemoragic menimbulkan pertanyaan,
yaitu bagaimanakah penatalaksanaan
fisioterapi
pada
Stroke
Non
Haemoragic
dengan
penurunan
kekuatan otot dan lingkup gerak sendi
(LGS) pada anggota gerak atas (AGA)
dan anggota gerak bawah (AGB)
dengan terapi latihan metode PNF

(Propioceptive
Neuromuscular
Facilitation).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di bangsal
RSUD Jombang dengan menggunakan
terapi
latihan
metode
PNF
(Propioceptive
Neuromuscular
Facilitation). Terapi latihan dilakukan
6 kali yang dilaksanakan pada 15
Maret 2014 sampai dengan tanggal 21
Maret 2014. Populasi penelitian adalah
satu orang pasien dengan diagnosa
Stroke Non Haemoragic hemipharese
sinistra yang sedang di rawat di
bangsal.
Penatalaksanaan
fisioterapi
dilakukan berdasarkan pemeriksaan
subyektif dan obyektif. Dalam
pemeriksaan
obyektif
terdapat
beberapa
pemeriksaan
yaitu,
pemeriksaan lingkup gerak sendi,
pemeriksaan nilai kekuatan otot,
pemeriksaan spastisitas dengan skala
ashwort, pemeriksaan kemampuan
aktivitas fungsional dengan FIM
(Functional
Independent
Meassurement).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tabel I. Hasil Evaluasi Lingkup Gerak
Sendi secara aktif dari Terapi pertama
sampai ke enam

Tabel I
LGS Aktif
Wrist
Elbow
Shoulder
Angkle
Knee
Hip

T1
S: 000 - 000 - 000
F: 050 - 000 - 000
S: 000 - 000 - 100
S: 000 - 000 - 100
F: 000 - 000 - 100
S: 100 - 000 - 050
S: 000 - 000 - 000
S: 000 - 000 - 000
F: 200 - 000 - 000

T2
S: 000 - 000 - 000
F: 050 - 000 - 100
S: 000 - 000 - 100
S: 000 - 000 - 100
S: 000 - 000 - 150
S: 100 - 000 - 050
S: 000 - 000 - 050
S: 000 - 000 - 050
F: 200 - 000 - 000

T3
S: 000 - 000 - 000
F: 050 - 000 - 100
S: 000 - 000 - 150
S: 000 - 000 - 100
S; 000 - 000 - 150
S: 100 - 000 - 050
S: 000 - 000 - 050
S: 000 - 000 - 100
S: 250 - 000 - 100

T4
S: 000 - 000 - 200
F: 050 - 000 - 100
S: 000 - 000 - 800
S: 000 - 000 - 650
F: 150 - 000 - 300
S: 200 - 000 - 100
S: 000 - 000 - 1300
S: 000 - 000 - 600
F: 300 - 000 - 100

T5
S: 000 - 000 - 200
F: 050 - 000 - 100
S: 000 - 000 - 800
S: 000 - 000 - 800
S: 150 - 000 - 400
S: 200 - 000 - 100
S: 000-000 - 1300
S: 000 - 000 - 900
F: 300 - 000 - 100

T6
S: 000 - 000 - 200
F: 050 - 000 - 100
S: 000 - 000 - 900
S: 000 - 000 - 800
S: 150 - 000 - 400
S: 200 - 000 - 100
S: 000 - 000-1300
S: 000 - 000 - 900
S: 350 - 000 - 100

Tabel II.Hasil Evaluasi Lingkup Gerak Sendi Secara Pasif dari terapi pertama sampai
terapi ke enam
LGS Aktif
Wrist
Elbow
Shoulder
Angkle
Knee
Hip

T1
S: 700 - 000 - 800
F: 200 - 000 - 350
S:000- 000 - 1450
S:000- 000 - 1800
F: 900 - 000 - 450
S: 450 - 000 - 200
S: 000-000 - 1350
S: 000-000 - 1200
F: 450 - 000 - 150

T2
S: 700 - 000 - 800
F: 200 - 000 - 350
S: 000-000 - 1450
S: 000-000 - 1800
F: 900 - 000 - 450
S: 450 - 000 - 200
S: 000-000 - 1350
S: 000-000 - 1200
F: 450 - 000 - 150

T3
S: 700 - 000 - 800
F: 200 - 000 - 350
S: 000-000 - 1450
S: 000-000 - 1800
F: 900 - 000 - 450
S: 450 - 000 - 200
S: 000-000 - 1350
S: 000-000 - 1200
F: 450 - 000 - 150

T4
S: 700 - 000 - 800
F: 200 - 000 - 350
S: 000 - 000 - 1450
S: 000 - 000 - 1800
F: 900 - 000 - 450
S: 450 - 000 - 200
S: 000 - 000 - 1350
S: 000 - 000 - 1200
F: 450 - 000 - 150

T5
S: 700 - 000 - 800
F: 200 - 000 - 350
S: 000-000 - 1450
S: 000-000 - 1800
F: 900 - 000 - 450
S: 450 - 000 - 200
S: 000-000 - 1350
S: 000-000 - 1200
F: 450 - 000 - 150

Tabel III.Hasil Evaluasi nilai Kekuatan Otot dengan MMT (Manual Muscle Testing).
Group otot ekstermitas kiri
Fleksor phalank carpal
Ekstensor phalank carpal
Fleksor wrist
Ekstensor wrist
Ulnar deviasi wrist
Radial deviasi wrist
Fleksor elbow
Ekstensor elbow
Pronator elbow
Supinator elbow
Fleksor shoulder
Abduktor shoulder
Adduktor shoulder
Endorotator shoulder
Eksorotator shoulder
Fleksor phalank tarsal
Ekstensor phalank tarsal

T1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2

T2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2

T3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

T4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

T5
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

T6
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

T6
S: 700 - 000 - 800
F: 200 - 000 - 350
S: 000-000 - 1450
S: 000-000 - 1800
F: 900 - 000 - 450
S: 450 - 000 - 200
S: 000-000 - 1350
S: 000-000 - 1200
F: 450 - 000 - 150

Plantar fleksi angkle


Dorso fleksi angkle
Fleksor knee
Ekstensor knee
Fleksor hip
Abductor hip
Adductor hip

2
2
2
2
2
2
2

2
2
2
2
2
2
2

3
3
3
3
3
3
3

3
3
3
3
3
3
3

3
3
3
3
3
3
3

3
3
3
3
3
3
3

Tabel IV. Evaluasi Spastisitas dengan Skala Ashwort


Pemeriksaan
Tonus AGA kiri
Tonus AGB kiri

T0
0
0

T1
0
0

T2
1
1

T3
1
1

T4
1
1

T5
1
1

T6
1
1

Tabel V. Evaluasi Kemampuan Aktivitas Fungsional dengan FIM (Functional


Independent Meassurement)
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Aktivitas
Makan
Berdandan
Mandi
Berpakaian (bagian atas)
Berpakaian (bagian bawah)
Toileting
Kemampuan sfingter
Kontrol BAB
Kontrol BAK
Transfer (bed/kursi/kursi roda)
Transfer (toilet)
Transfer (bak/tub/shower)
Lokomosi
Jalan atau memakai kursi roda
Naik tutun trap
Komunikasi
Komprehensif
Ekspresif
Kognisi sosial
Interaksi sosial
Pemecahan masalah
memori
Jumlah nilai

T1
4
4
1
1
1
1

T2
4
4
1
1
1
1

T3
6
6
1
1
1
1

T4
6
6
1
1
1
1

T5
6
6
1
1
1
1

T6
6
6
1
1
1
1

6
6
1
1
1

6
6
1
1
1

6
6
1
1
1

6
6
1
1
1

6
6
1
1
1

6
6
1
1
1

1
1

1
1

1
1

1
1

1
1

1
1

7
7

7
7

7
7

7
7

7
7

7
7

7
7
7
64

7
7
7
64

7
7
7
69

7
7
7
69

7
7
7
69

7
7
7
69

Pembahasan
Dalam penatalaksanaan fisioterpi
pada Tn. A umur 43 tahun dengan
diagnosa Stroke Non Haemoragic
hemiparese sinistra yang dilakukan 6
kali terapi mulai pada tanggal 15 maret
2014 sampai 21 maret 2014 dimana
pasien mempunyai keluhan utama
yaitu terjadinya kelemahan pada
anggota gerak sebelah kiri baik AGA
maupun AGB. Pembahasan tersebut
meliputi:
1. Terapi pertama
Pada terapi pertama, hari sabtu tanggal
15 maret 2014, hanya dilakukan
breathing exercise sebanyak 4 kali
karena setelah 4 kali breathing exercise,
pasien sudah merasa rileks. traksi dan
aproksimasi serta gerakan pasif pada
anggota gerak atas dan bawah dengan
posisi pasien berbaring terlentang. Hal
ini dilakukan karena kondisi pasien
pada saat hari pertama tidak
memungkinkan untuk di beri latihan
yang berlebihan karena denyut nadinya
tinggi, pasien tampak berkeringat dan
mengeluh agak pusing, sehingga latihan
harus dihentikan dan dilakukan sebatas
itu.
2. Terapi kedua
Pada terapi ke dua, hari senin tanggal 17
maret 2014, terapi yang dilakukan sama
seperti yang diberikan pada hari
pertama dengan di tambah Rhytmical
Initiation dengan pola fleksi-abduksieksternal rotasi dengan siku ekstensi
pada anggota gerak atas, pola ekstensiabduksi-eksternal rotasi dengan siku
ekstensi pada anggota gerak atas, pola
fleksi-adduksi-eksternal rotasi dengan
lutut ekstensi pada anggota gerak
bawah, pola fleksi-adduksi-eksternal
rotasi dengan lutut fleksi pada anggota

gerak bawah. Penambahan pola dan


dosis latihan ini dikarenakan kondisi
pasien yang sudah mulai stabil, pasien
tidak merasa pusing, denyut nadi dan
suhu tubuhnya normal, sehingga pasien
dalam kondisi cukup aman untuk di
berikan tambahan terapi latihan
tersebut. Tujuan gerakan ini adalah
untuk mengajarkan kembali gerakan,
mencegah
adanya
kaku
sendi,
memperbaiki mobilisasi dan menambah
kekuatan otot. Dilakukan pada anggota
gerak atas dan anggota gerak bawah.
Pada pelaksanaan latihan terapi metode
ini, posisi pasien selama diberikan
latihan
dalam
posisi
berbaring
terlentang, sedangkan posisi terapis
berada di samping kiri pasien atau di
samping bed dekat sisi yang lemah.
Terapis memberikan aba-aba saat
melakukan gerakan pasif dengan pola
diagonal yang sudah disebutkan diatas
untuk melihat dan berkonsentrasi serta
sambil mengikuti gerakan tersebut.
Gerakan dilakukan dengan 2 kali 8
hitungan pada setiap ekstermitas, karena
melihat kondisi pasien yang belum
stabil sehingga tidak memungkinkan
untuk di berikan latihan yang
berlebihan.
3. Terapi ketiga
Pada terapi ketiga, hari selasa tanggal
18 maret 2014. pelaksanaannya sama
seperti terapi hari senin tanggal 17
maret 2014, tetapi dengan ditambah
gerak aktif karena pada hari ketiga
kekuatan otot pasien sudah meningkat
menjadi 3 (ada kontraksi dan gerakan
serta mampu melawan gravitasi) dan
kondisi yang stabil.. Latihan juga di
tambah dengan latihan berpindah posisi
miring ke kanan dan miring ke kiri.
4. Terapi keempat

Pada terapi keempat, hari rabu tanggal


19 maret 2014 latihan sama seperti
latihan pada hari sebelumnya, selasa 18
maret 2014. Pada hari keempat di
berikan latihan, kondisi pasien sudah
stabil dan nilai kekuatan otot pasien
sudah 3.
5. Terapi kelima
Pada dari kelima, hari kamis tanggal 20
maret 2014 latihan sama seperti latihan
pada hari sebelumnya, rabu tanggal 19
maret 2014. Pada hari kelima diberikan
latihan, kondisi pasien sudah stabil dan
nilai otot pasien tetap 3.
6. terapi keenam
Pada hari keenam, hari jumat tanggal
21 maret 2014 latihan sama seperti
latihan pada hari sebelumnya. Pada hari
terakhir diberikan latihan, kondisi
pasien sudah membaik dan pasien sudah
diperbolahkan pulang dari rumah sakit
karena kondisinya yang stabil.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Stroke Non Haemorhagic adalah
gangguan vaskuler akibat aliran darah
yang menuju ke otak terhenti karena
aterosklerosis atau bekuan darah yang
telah menyumbat suatu pembuluh
darah ke otak yang mengakibatkan
kematian jaringan otak karena pasokan
darah yang tidak adekuat. Manifestasi
yang muncul paling dominan adalah
hemiparese, penurunan kekuatan otot
dan
penurunan
kemampuan
fungsional.
Metode
Propioseptive
Neuromuscular Facilitation yang
digunakan dalam kasus ini cukup tepat
mengingat kondisi pasien yang telah
stabil dalam waktu singkat, tidak
terdapat gangguan fungsi kognitif,
motivasi yang tinggi untuk segera

pulih, serta besarnya minat dan


semangat pasien dalam mengikuti
latihan. Tetapi tidak semua tehnik
dapat diberikan dalam satu sesi latihan.
Semua tergantung pada kondisi pasien
selama latihan. Apabila kondisinya
mulai tidak stabil seperti adanya
keluhan pusing, mual-mual, kelelahan
dan denyut nadinya bertambah cepat,
maka terapi harus dihentikan untuk
menghindari menurunnya kembali
kondisi pasien. Pelaksanaan latihan
dilakukan di bangsal RSUD Jombang
sebanyak 6 kali latihan.
Evaluasi yang didapatkan oleh
terapis setelah menjalani 6 kali terapi
mengalami peningkatan kekuatan otot,
lingkup gerak sendi dan kemampuan
fungsional meskipun hanya sedikit.
Peningkatan ini dapat diperoleh karena
beberapa faktor, diantaranya adalah
pemberian latihan secara dini dan
rutin, segera setelah kondisi pasien
stabil, semangat dan motivasi pasien
yang tinggi dalam mengikuti latihan
dan tidak adanya gangguan kognitif,
serta feedback yang baik dan mudah
dimengerti oleh pasien. Namun
demikian kemampuan motorik pasien
masih minimal. Hal ini terjadi karena
pada anggota gerak atas bagian kiri
masih
mengalami
kelemahan
disamping itu karena
penanganan
motorik
memerlukan waktu yang
tidak singkat dan memerlukan
konsentrasi serta usaha yang lebih
besar dari pasien. Walaupun begitu,
potensi kearah perbaikan fungsi fine
motor cukup terbuka mengingat
tingginya motivasi yang dimiliki
pasien.
Dengan
demikian
metode
Propioseptive
Neuromuscular

Facilitation sangat baik diterapkan


pada pasien pasca stroke non
haemoragic stadium akut yang tidak
mengalami gangguan kognitif
Saran
Setelah mendapatkan peningkatan
hasil yang lebih baik, disarankan
kepada pasien untuk menghindari
faktor-faktor yang memungkinkan
berulangnya serangan stroke, sehingga
akan mengakibatkan kondisi yang
lebih berat. Faktor-faktor tersebut
diantaranya adalah dengan tidak
mengkonsumsi
makanan
yang
memiliki kandungan kolestrol yang
tinggi dan menghindarkan faktor
pemicu stress, serta tetap melatih
untuk
berusaha
menggunakan
ekstermitas
yang
mengalami
kelemahan untuk beraktifitas. Pasien
disarankan untuk melanjutkan latihan
di rumah dengan bimbingan terapis
dan dukungan segenap anggota
keluarga agar kemampuannya dapat
kembali seperti semula.
Kesabaran dan motivasi baik bagi
pasien, terapis, dan keluarga sangat
diperlukan dalam proses terapi karena
kesabaran dan motivasi merupakan
faktor penunjang keberhasilan proses
terapi meskipun tidak berhubungan
langsung dengan kesembuhan pasien.
Akhirnya penulis berharap karya
tulis ini dapat bermanfaat bagi
pembaca
dalam
menciptakan
kehidupan bermasyarakat yang sehat.
Penulis menyadari bahwa penyajian
Karya
Tulis
Ilmiah
mengenai
penatalaksanaan fisioterapi pada kasus
Stroke non haemoragic dengan terapi
latihan metode PNF (Propioceptive
Neuromuscular Facilitation) ini masih
mempunyai kekurangan dan perlu

disempurnakan. Oleh karena itu saran


dan kritik yang bersifat membangun
senantiasa penulis harapkan guna
kepentingan bersama yang lebih baik.
DAFTAR PUSAKA
Adler, S.S. et al. 2008. PNF in
practice : Third edition. Germany:
Springer
Bustami, M. Dkk. 2007. Manajemen
stoke
koperhensif.
Yogyakarta : Pustaka
Cendekia Press bekerja
sama
dengan
Panitia
Workshop Stroke KONAS
PERDOSSI KE-2
Cahyono, I.D. Dkk. 2009. Regulasi
Aliran Darah Cerebral
Dan Aneurisma Cerebral :
Jurnal
Anestesiologi
Indonesia. 1(2): 120-131
Garrison,

S.J. 2001. Dasar-dasar


Terapi dan Rehabilitasi
Fisik. Jakarta: Hipokrates

Ginsberg, L. 2007. Neurologi : edisi


kedelapan.
Penerbit
Erlangga
Goldszmidt, A.J dan Caplan, L.R.
2013. Stroke esensial :
edisi kedua. Jakarta: PT
Indeks
Junaidi, Iskandar. 2011. Stroke :
Waspadai
ancamannya.
Yogyakarta: C.V ANDI
OFFSET

Pasiut,

Hudaya,

S. et al. 2005. Stroke


rehabilitation conducted
by PNF method, with and
without the application of
botulinum toxin. Poland:
Jagiellonian
University
Medical College, Cracow.
Dikutip: 13 November
2013. 22.20 WIB.
P. 2002. Dokumentasi
Persiapan
Praktek
Profesional
Fisioterapi
(DP3FT).
Politeknik
Kesehatan Surakarta.

Satyanegara, 2010. Ilmu bedah saraf :


Edisi
ke-4.
Jakarta:
Kompas Gramedia
Shimura, K. and Kasai, T. 2002.
Effects of proprioceptive
neuromuscular facilitation
on the initiation of
voluntary movement and
motor evoked potentials in
upper
limb
muscles.
Japan: Human Movement
Science 21 (2002) 101
113.
Dikutip:
13

November
WIB.

2013.

22.04

Snell, R.S. 2007. Neuroanatomi klinik


:
Untuk
mahasiswa
kedokteran.
Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Trisnowiyanto, B. 2012. Instrumental
Pemeriksaan Fisioterapi
dan Penelitian Kesehatan.
Yogyakarta: Nuha Medika
Weiner, H.L and Levitt, L.P. 2001.
Neurologi : House officef
series neurology. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Widagdo, W. Dkk. 2007. Asuhan
Keperawatan : Pada klien
dengan gangguan sistem
persarafan. Jakarta
Wildani, M.H. Dkk. 2009. Pengaruh
Fisioterapi
Terhadap
Kekuatan Otot Ekstremitas
Pada Penderita Stroke
Non Hemoragik. (Sains
Medika, 2(2):193-199).