Anda di halaman 1dari 49

SECOND OPINION

No.
Dokumen

Halaman
1/2

RSM SITI KHODIJAH GURAH


STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

Tanggal
Terbit

Ditetapkan
Direktur,
Dr.M.Irfan Hanafi

Pengertian

Pendapat medis yang diberikan oleh dokter lain


terhadap suatu diagnosa ataupun terapy maupun
rekomendasi medis lain terhadap penyakit yang
diderita pasien.

Tujuan

Memperkecil
kesalahan
diagnosis
dan
penatalaksanaan pengobatan dokter di RSM Siti
Khodijah Gurah

Kebijakan

Pasien yang tidak puas dengan pelayanan DPJP


bisa meminta pendapat (Second Opinion) lain di
RSM Siti Khodijah Gurah Kediri.

Prosedur

Instalasi Terkait

1. Menanyakan kepada pasien/ keluarga


apakah menginginkan pendapat atau
rekomendasi medis lain
2. Menyiapkan formuler permintaan pendapat
lain atau secon opinion.
3. Menyiapkan berkas rekam medik pasien.
4. Menjelaskan kepada pasien / keluarga
tentang hal yang perlu dipertimbangkan
dalam meminta pendapat lain (terdapat
dalam panduan).
5. Memberikan kesempatan kepada pasien/
keluarga untuk bertanya.
6. Mempersilahkan pasien/keluarga untuk
membubuhkan tanda tangan.
7. Menyimpan formulir permintaan pendapat
lain ke dalam berkas rekam medis pasien.
1.
2.
3.

Komite Medik
DPJP
Staf keperawatan dan kebidanan

PENJELASAN HAK PASIEN DALAM PELAYANAN


No. Dokumen

RSU AISYIYAH
PONOROGO
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

Tanggal Terbit

No. Revisi

Halaman
2/2
Ditetapkan
Direktur,

Dr. M. Irfan Hanafi


Prosedur

Instalasi Terkait

1. Menjelaskan agar pasien dan keluarganya mengetahui kapan akan


dijelaskan tentang kondisi medis dan diagnosa pasti.
2. Menjelaskan agar pasien dan keluargaya mengetahui kapan akan
dijelaskan tentang rencana pelayanan dan pengobatannya.
3. Menjelaskan agar pasien dan keluarganya mengetahui bagaimana
proses mendapatkan persetujuan.
4. Menjelaskan agar pasien dan keluarganya mengetahui
5. Menjelaskan agar pasien dan keluarganya mengetahui kapan akan
dijelaskan tentang kondisi medis dan diagnosa pasti.
6. Menjelaskan agar pasien dan keluargaya mengetahui kapan akan
dijelaskan tentang rencana pelayanan dan pengobatannya.
7. Menjelaskan agar pasien dan keluarganya mengetahui bagaimana
proses mendapatkan persetujuan.
8. Menjelaskan agar pasien dan keluarganya mengetahui
4.
5.
6.
7.

Pimpinan RS
DPJP
Staf keperawatan
Pasien dan keluarganya

SECOND OPINION
No.
Dokumen
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

Tanggal
Terbit

Halaman
1/2
Ditetapkan
Direktur,
Dr.M.Irfan Hanafi

Pengertian

Pendapat medis yang diberikan oleh dokter lain


terhadap suatu diagnosa ataupun terapy maupun
rekomendasi medis lain terhadap penyakit yang
diderita pasien.

Tujuan

Memperkecil
kesalahan
diagnosis
dan
penatalaksanaan pengobatan dokter di RSM Siti
Khodijah Gurah

Kebijakan

Semua pasien baik pasien rawat inap atau rawat


jaM Siti Khodijah Gurah Kediri.

Prosedur

Instalasi Terkait

8. Menanyakan kepada pasien/ keluarga


apakah menginginkan pendapat atau
rekomendasi medis lain
9. Menyiapkan formuler permintaan pendapat
lain atau secon opinion.
10. Menyiapkan berkas rekam medik pasien.
11. Menjelaskan kepada pasien / keluarga
tentang hal yang perlu dipertimbangkan
dalam meminta pendapat lain (terdapat
dalam panduan).
12. Memberikan kesempatan kepada pasien/
keluarga untuk bertanya.
13. Mempersilahkan pasien/keluarga untuk
membubuhkan tanda tangan.
14. Menyimpan formulir permintaan pendapat
lain ke dalam berkas rekam medis pasien.
8.
9.

Komite Medik
DPJP
10. Staf keperawatan dan kebidanan
11.

PANDUAN MEMINTA PENDAPAT LAIN (SECOND OPINION)

A. DEFINISI
1. Opini Medis adalah pendapat, pikiran atau pendirian dari seorang dokter atau ahli
medis terhadap suatu diagnosa, terapi dan rekomendasi medis lain terhadap
penyakit seseorang.
2. Meminta Pendapat lain (Second Opinion) adalah pendapat medis yang diberikan
oleh dokter lain terhadap suatu diagnosa atau terapi maupun rekomendasi medis
lain terhadap penyakit yang diderita pasien. Mencari pendapat lain bisa dikatakan
sebagai upaya penemuan sudut pandang lain dari dokter pertama. Second opinion
hanyalah istilah, karena dalam realitanya di lapangan, kadang pasien bisa jadi
menemui lebih dari dua dokter untuk dimintakan pendapat medisnya.
Meminta pendapat lain atau second opinion juga diatur dalam Undang Undang no.
44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, bagian empat pasal 32 poin H tentang hak
pasien, disebutkan bahwa Setiap pasien memiliki hak meminta konsultasi tentang
penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktek
(SIP) baik didalam maupun diluar Rumah Sakit.
B. RUANG LINGKUP
Perbedaan diagnosis dan penatalaksanaan penyakit oleh dokter sering terjadi
dibelahan dunia manapun. Di negara paling maju dalam bidang kedokteran pun para
dokter masih saja sering terjadi perbedaan dalam diagnosis maupun proses terapi,
sehingga menimbulkan keraguan kepada pasien dan keluarganya. Begitu juga di
Indonesia, perbedaan pendapat para dokter dalam mengobati penderita adalah hal yang
biasa terjadi. Perbedaan dalam penentuan diagnosis dan penatalaksanaan
mungkin
tidak menjadi masalah serius bila tidak menimbulkan konsekuensi yang berbahaya dan
merugikan bagi penderita. Tetapi bila hal itu menyangkut kerugian biaya yang besar
dan ancaman nyawa maka harus lebih dicermati. Sehingga sangatlah penting dan
keluarga untuk mendapatkan Second Opinion dokter lain tentang permasalahan
kesehatannya sehinggamendapatkan hasil pelayanan yang maksimal.
Dengan semakin meningkatkan informasi dan teknologi maka semakin terbuka
wawasan ilmu pengetahuan dan informasi tentang berbagai hal dalam kehidupan ini.
Demikian juga dalam pengetahuann masyarakat tentang wawasan dan pengatahuan
Informasi yang sepotong sepotong atau salah dalam menginterpretasikan
informasi seorang pasien akan berakibat pasien atau keluarganya merasa tindakan
dokter salah atau tidak sesuai standar. Hal ini jugamembuat pasien dan keluarganya
mempertahankan informasi yang didapat tanpa mempertimbangkan masukan dari
dokter tentang fakta yang sebenarnya terjadi.
1. Pentingnya Second Opinion untuk pasien adalah :
a) Kesalahan diagnosis dan penatalaksaan pengobatan dokter sering terjadi di
belahan dunia manapun, termasuk di Indonesia
b) Perbedaan pendapat para dokter dalam mengobati penderita adalah hal yang
biasa terjadi, dan hal ini mungkin tidak menjadi masalah serius bila tidak
menimbulkan konsekuensi yang berbahaya dan merugikan bagi penderita

c) Second opinion dianjurkan bila menyangkut ancaman nyawa, kerugian biaya


atau dampak finansial yang besar.
2. Permasalahan kesehatan yang memerlukan Second Opinion
a) Keputusan dokter tentang tindakan operasi, apalagi yang akan membuat
perubahan anatomis permanen pada tubuh pasiendan tindakan operasi lainnya.
b) Keputusan dokter tentang pemberian obat jangka panjang lebih dari 2 minggu,
misalnya pemberian obat TBC jangka panjang, pemberian antibiotika jangka
panjang dan pemberian obat - obat jangka panjang lannya
c) Keputusan dokter dalam pemberian obat yang sangat mahal : baik obat minum,
antibiotika, susu mahal atau pemberian imunisasi yang sangat mahal
d) Kebiasaan dokter memberikan terlalu sering antibiotika berlebihan pada kasus
yang tidak seharusnya diberikan : seperti infeksi saluran napas, diare, muntah,
demam virus, dan sebagainya. Biasanya dokter memberikan diagnosis infeksi,
virus tetapi selalu diberi antibiotika.
e) Keputusan dokter dalam pemeriksaan laboratorium dengan biaya sangat besar
f) Keputusan dokter tentang suatu penyakit yang berulang diderita misalnya
penyakit tifus berulang,
g) Keputusan diagnosis dokter yang meragukan: biasanya dokter tersebut
menggunakan istilah gejala seperti gejala tifus, gejala ADHD, gejala demam
berdarah, gejala usus buntu. Atau diagnosis autis ringan, ADHD ringan dan
gangguan perilaku lainnya.
h) Ketika pasien didiagnosa penyakit serius seperti kanker, maka pasien pun
biasanya diizinkan meminta pendapat lain
i) Keputusan pemeriksaan dan pengobatan yang tidak direkomendasikan oleh
institusi kesehatan nasional atau internasional : seperti pengobatan dan terapi
bioresonansi, terapi antibiotika yang berlebihan dan tidak sesuai dengan
indikasi
3. Dalam rangka membantu pasien untuk mendapatkan Second Opinion, RS perlu
memberikan beberapa pertimbangan kepada pasien atau keluarga sebagai berikut :
a) Second Opinion sebaiknyadidapatkandari dokter yang sesuai kompetensinya
atau keahliannya.
b) Rekomendasi atau pengalaman keberhasilan pengobatan teman atau keluarga
terhadap dokter tertentu dengan kasus yang sama sangat penting untuk
dijadikan referensi. Karena, pengalaman yang sama tersebut sangatlah penting
dijadikan sumber referensi.
c) Carilah informasi sebanyak - banyaknya di internet tentang permasalahan
kesehatan tersebut. Jangan mencari informasi sepotong - sepotong, karena
seringkali akurasinya tidak dipertanggung jawabkan. Carilah sumber informasi
internet dari sumber yang kredibel seperti : WHO, CDC, IDAI, IDI atau
organisasi resmi lainnya.
d) Bila keadaan emergensi atau kondisi tertentu maka keputusan Second Opinion
juga harus dilakukan dalam waktu singkat.
e) Mencari second opinion diutamakan kepada dokter yang dapat menjelaskan
dengan mudah, jelas, lengkap dan dapat diterima dengan logika. Dokter yang
beretika tidak akan pernah menyalahkan keputusan dokter sebelumnya atau
tidak akan pernah menjelekkan pendapat dokter sebelumnya atau menganggap
dirinya paling benar.
f) Bila melakukan second opinion sebaiknya tidak menceritakan pendapat dokter
sebelumnya atau mempertentangkan pendapat dokter sebelumnya, agar dokter
terakhir tersebut dapat obyektif dalam menangani kasusnya, kecuali dokter

g)

h)

i)
j)

tersebut menanyakan pengobatan yang sebelumnya pernah diberikan atau


pemeriksaan yang telah dilakukan.
Bila sudah memperoleh informasi tentang kesehatan jangan menggurui dokter
yang anda hadapi karena informasi yang anda dapat belum tentu benar. Tetapi
sebaiknya anda diskusikan informasi yang anda dapat dan mintakan pendapat
dokter tersebut tentang hal itu.
Bila pendapat lain dokter tersebut berbeda, maka biasanya penderita dapat
memutuskan salah satu keputusan berdasarkan argumen yang dapat diterima
secara logika. Dalam keadaan tertentu disarankan mengikuti advis dari dokter
yang terbukti terdapat perbaikan bermakna dalam perjalanan penyakitnya. Bila
hal itu masih membingungkan tidak ada salahnya melakukan pendapat ketiga.
Biasanya dengan berbagai pendapat tersebut penderita akan dapat
memutuskannya. Bila pendapat ketiga tersebut masih sulit dipilih biasanya
kasus yang dihadapi adalah kasus yang sangat sulit.
Keputusan second opinion terhadap terapi alternatif sebaiknya tidak dilakukan
karena pasti terjadi perbedaan pendapat dengan pemahaman tentang kasus
yang berbeda dan latar belakang ke ilmuan yang berbeda.
Kebenaran ilmiah di bidang kedokteran tidak harus berdasarkan senioritas
dokter atau gelar yang disandang. Tetapi berdasarkan kepakaran dan
landasanpertimbanganilmiah berbasis bukti penelitian di bidang kedokteran
(Evidance Base Medicine).

C. TATA LAKSANA
Second Opinion atau mencari pendapat lain yang berbeda adalah merupakan
hak seorang pasien dalam memperoleh jasa pelayanan kesehatannya. Hak
yanGdipunyai pasien ini adalah hak mendapatkan pendapat lain (second opinion) dari
dokter lainnya. Untuk mendapatkan pelayanan yang optimal, pasien tidak usah ragu
untuk mendapatkan second opinion tersebut. Memang biaya yang dikeluarkan akan
menjadi banyak, tetapi paling tidak bermanfaat untuk mengurangi resiko kemungkinan
komplikasi atau biaya lebih besar lagi yang akan dialaminya. Misalnya, pasien sudah
direncanakan operasi caesar atau operasi usus buntu tidak ada salahnya melakukan
permintaan pendapat dokter lain.
Dalam melakukan Second Opinion tersebut sebaiknya dilakukan terhadap
dokter yang sama kompetensinya. Misalnya, tindakan operasi caesar harus minta
Second Opinion kepada sesama dokter kandungan bukan ke dokter umum. Bila
pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan dokter sangat banyak dan mahal, tidak ada
salahnya minta pendapat ke dokter lain yang kompeten. Hak pasien untukmeminta
konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai
Surat Ijin Praktek (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit.
Manfaat yang bisa didapatkan dari Second Opinion adalah pasien lebih
teredukasi mengenai masalah kesehatan yang dihadapinya. Terdapat kondisi yang
meragukan bagi pasien pada saat meminta pendapat lain, misalnya ketika dokter
pertama menyarankan operasi, tidak mengherankan jika pendapat dari dokter lain akan
berbeda, oleh karena setiap penyakit memiliki gejala klinis yang berbeda ketika hadir
di ruang periksa sehingga mempengaruhi keputusan dokter.
Untuk mendapatkan Second Opinion, pasien dan keluarganya menghubungi
perawat atau langsung kepada dokter yang merawatnya kemudian mengemukakan
keinginannya untuk mendapatkan pendapat lain atau Second Opinion. Dokter yang
merawat berkewajiban menerangkan kepada pasien dan keluarganya hal yang perlu
dipertimbangkan dalam mendapatkan Second Opinion (terdapat dalam panduan ini).

Apabila keputusan mengambil pendapat lain telah disepakati, maka formulir


Permintaan Pendapat Lain (Second Opinion) diisi oleh pasien atau walinya dan
diketahui oleh Dokter (DPJP) sertasaksi.
D. DOKUMENTASI
1. Panduan Hak & Kewajiban Pasien
2. Formulir Permintaan Pendapat Lain (Second Opinion)
E. RUJUKAN
1. 1. Undang-undang RI No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
2. 2. Kementerian Kesehatan RI. Standard Akreditasi Rumah Sakit. Tahun 2011.

PELAYANAN PASIEN TAHAP TERMINAL


No.
Dokumen

Halaman
1/2

RSM SITI KHODIJAH GURAH


STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

Tanggal
Terbit

Ditetapkan
Direktur,
Dr.M.Irfan Hanafi

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Kondisi Terminal adalah suatu kondisi yang


disebabkan oleh cedera atau penyakit dimana
terjadi kerusakan organ multiple yang dengan
pengetahuan dan teknologi kesehatan terkini tak
mungkin lagi dapat dilakukan perbalkan sehingga
akan menyebabkan kematian dalam rentang waktu
yang singkat.
Pasien Tahap Terminal adalah pasien dengan
kondisi terminal yang makin lama makin
memburuk.
Pasien adalah penerima jasa pelayanan kesehatan
di rumah sakit baik dalam keadaan sehat maupun
dalam keadaan sakit.
Mati Kitnis adalah henti napas (tidak ada gerak
nafas spontana0 ditambah henti sirkulasi (jantung)
total dengan semua aktivitas otak terhenti.
1. Memberikan pelayanan yang penuh hormat
dan kasih saying kepada semua pasien tahap
terminal di RSM Siti Khodijah Gurah.
2. Memberikan kenyamanan dengan memberikan
intervensi untuk mengurangi rasa nyeri dan
gejala primer atau sekunder dan mencegah
gejala- gejala dan komplikasi sejauh yang
dapat diupayakan di Rsm Siti Khodijah Gurah
Kediri.
3. Memberikan respon terhadap aspek psikologis,
social, emosional, agama dan budaya dengan
melibatkan keluarganya.
Semua pasien tahap terminal di UGD maupun
rawat inap di RSM Siti Khodijah Gurah Kediri.

Prosedur

1. Memperhatikan kenyamanan dan martabat


pasien dengan mengarahkan semua aspek
asuhan selama stadium akhir hidup,meliputi :
a. Memberikan pengobatan dan gejala yang
sesuai dengan gejala dan keinginan pasien dan
keluarganya.
b. Menyampaikan isu yang sensitive seperti
autopsy dan donasi organ.
c. Menghormati nilai yang dianut pasien, agama
dan preferansi budaya.
d. Mengikutsertakan pasien dan keluarganya
dalam semua aspek pelayanan.
e. Memberi repon pada masalah-masalah
psikologis, emosional, spiritual dan budaya
dari pasien dan keluarganya.
2. Rumah Sakit memastikan pemberian asuhan
yang tepat bagi mereka yang kesakitan atau
dalam proses kematian dengan cara :
a. melakukan intervensi untuk mengurangi rasa
nyeri dan gejala primer atau sekunder
b. mencegah gejala-gejala dan komplikasi sejauh
yang dapat diupayakan
c. melakukan
intervensi
dalam
masalah
psikososial, emosional dan spiritual dari
pasien dan keluarga, menghadapi kematian
dan kesedihan
d. melakukan
intervensi
dalam
masalah
keagamaan dan budaya pasien dan keluarga
e. mengikutsertakan pasien dan keluarga dalam
keputusan terhadap asuhan
f. (lihat maksud tujuan : PPI 7.1)

Instalasi Terkait

1.
2.
3.
4.
5.

Komite Medik
DPJP
Staf Keperawatan dan Kebidanan
UGD
HCU

PANDUAN
PELAYANAN PASIEN TAHAP TERMINAL

(END of LIFE)
II.

DEFINISI
1. Kondisi Terminal adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh cedera atau
penyakit dimana terjadi kerusakan organ multiple yang dengan pengetahuan dan
teknologi kesehatan terkini tak mungkin lagi dapat dilakukan perbalkan sehingga
akan menyebabkan kematian dalam rentang waktu yang singkat. Pengaplikasian
terapi untuk memperpanjang/ mempertahankan hidup hanya akan berefek dan
memperlama pro ses penderitaan/ sekarat pasien.
2. Pasien Tahap Terminal adalah pasien dengan kondisi terminal yang makin lama
makin memburuk
3. Pasien adalah penerima jasa pelayanan kesehatan di nimah sakit balk dalam
keadaan sehat maupun sakit.
4. Mati Kitnis adalah henti nafas (tidak ada gerak nafas spontan) ditambah henti
sirkulasi (jantung) total dengan semua aktivitas otak terhenti, tetapi

III.

POKOK POKOK PANDUAN PELAYANAN PASIEN TAHAP TERMINAL


1. Pasien yang sedang menghadapi kematian mempunyai kebutuhan yang unik,
2. Berhak mendapat pelayanan yang penuh hormat dan kasih-sayang.
3. Perhatian terhadap kenyamanan dan martabat pasien mengarahkan semua
aspek pelayanan pada tahap akhir kehidupan.
4. Semua staf harus menyadari kebutuhan unik pasien pada akhir kehidupannya.
Kebutuhan ini meliputi pengobatan terhadap gejala primer dan sekunder,
manajemen nyeri (lihat juga AP.1.7, dan PP. 6);
5. Melakukan intervensi untuk mengurangi rasa nyeri dan gejala primer atau
sekunder dan mencegah gejala-gejala dan komplikasi sejauh yang dapat
diupayakan (lih PP 7.1)
6. Staf harus berespon terhadap aspek psikologis, sosial, emosional, agama dan
budaya pasien dan keluarganya (lihat juga HPK.1.1; HPK.1.1.1 dan HPK.1.2)

7. Staf diminta
pelayanan.

IV.

melibatkan keluarga

dalam

pengambilan keputusan

POKOK-POKOK PADA PANDUAN PASIEN TAHAP TERMINAL


1. Perhatian terhadap kenyamanan dan martabat pasien mengarahkan semua aspek
asuhan selama stadium akhir hidup. Asuhan akhir kehidupan yang diberikan rumah
sakit termasuk :
b. pemberian pengobatan yang sesuai dengan gejala dan keinginan pasien dan
keluarga
c. menyampaikan isu yang sensitif seperti autopsi dan donasi organ
d. menghormati nilai yang dianut pasien, agama dan preferensi budaya
e. mengikutsertakan pasien dan keluarganya dalam semua aspek pelayanan
f. memberi respon pada masalah-masalah psikologis, emosional, spiritual dan
budaya dari pasien dan keluarganya ((lihat maksud tujuan : HPK 2.5)
2. Rumah sakit memastikan pemberian asuhan yang tepat bagi mereka yang
kesakitan atau dalam proses kematian dengan cara:
a. melakukan intervensi untuk mengurangi rasa nyeri dan gejala primer atau
sekunder
b. mencegah gejala-gejala dan komplikasi sejauh yang dapat diupayakan
c. melakukan intervensi dalam masalah psikososial, emosional dan spiritual dari
pasien dan keluarga, menghadapi kematian dan kesedihan
d. melakukan intervensi dalam masalah keagamaan dan budaya pasien dan
keluarga
e. mengikutsertakan pasien dan keluarga dalam keputusan terhadap asuhan
f. (lihat maksud tujuan : PPI 7.1)

V.

TANDA-TANDA BAHWA KEMATIAN MUNGKIN DEKAT


1. Mengantuk, meningkatkan tidur, dan / atau unresponsiveness (disebabkan oleh
perubahan dalam metabolisme pasien).
2. Disorientasi waktu, tempat, dan / atau identitas orang yang
dicintai; kegelisahan; visi orang dan tempat-tempat yang tidak hadir; menarik-

narik seprai atau pakaian (disebabkan sebagian oleh perubahan dalam metabolisme
pasien).
3. Penurunan sosialisasi dan penarikan (disebabkan oleh penurunan oksigen ke otak,
penurunan aliran darah, dan persiapan mental untuk sekarat).
4. Penurunan kebutuhan untuk makanan dan cairan, dan kehilangan nafsu makan
(yang disebabkan oleh kebutuhan tubuh untuk menghemat energi dan
kemampuannya menurun untuk menggunakan makanan dan cairan dengan baik).
5. Kehilangan kontrol kandung kemih atau usus (yang disebabkan oleh kelemahan
dari otot-otot di daerah panggul).
6. Urin berwarna Gelap atau penurunan jumlah urin (yang disebabkan oleh
melambatnya fungsi ginjal dan / atau penurunan asupan cairan).
7. Kulit menjadi dingin dengan sentuhan, terutama tangan dan kaki; kulit bisa
menjadi berwarna kebiruan, terutama di bagian bawah tubuh (disebabkan oleh
sirkulasi menurun pada ekstremitas).
8. Berderak atau gemericik suara saat bernapas, yang mungkin keras ; bernapas yang
tidak teratur dan dangkal; berkurangnya jumlah napas per menit; bernapas yang
bergantian antara cepat dan lambat (yang disebabkan oleh kemacetan dari
konsumsi menurun cairan, penumpukan produk limbah dalam tubuh, dan / atau
penurunan sirkulasi ke organ).
9. Beralih dari kepala ke arah sumber cahaya (yang disebabkan oleh penurunan
penglihatan).
10. Peningkatan kesulitan mengendalikan rasa sakit (yang disebabkan oleh
perkembangan penyakit).
11. Gerakan tak terkendali (disebut mioklonus ), perubahan denyut jantung , dan
hilangnya refleks di kaki dan tangan adalah tanda-tanda tambahan yang akhir
hidup sudah dekat.

VI.

RUMAH SAKIT MEMASTIKAN PEMBERIAN ASUHAN YANG TEPAT BAGI


MEREKA YANG KESAKITAN ATAU DALAM PROSES KEMATIAN
DENGAN CARA (PP7.1)
1. melakukan intervensi untuk mengurangi rasa nyeri dan gejala primer atau
sekunder
2. mencegah gejala-gejala dan komplikasi sejauh yang dapat diupayakan
3. melakukan intervensi dalam masalah psikososial, emosional dan spiritual dari
pasien dan keluarga, menghadapi kematian dan kesedihan
4. melakukan intervensi dalam masalah keagamaan dan budaya pasien dan keluarga
5. mengikutsertakan pasien dan keluarga dalam keputusan terhadap asuhan

VII.

PENGELOLAAN AKHIR KEHIDUPAN


1. Pengelolaan akhir kehidupan meliputi penghentian bantuan hidup
(withdrawing life support) dan penundaan bantuan hidup (withholding life
support).
2. Keputusan withdrawing/withholding dilakukan pada pasien yang dirawat di ruang
rawat intensif (ICU dan HCU). Keputusan penghentian atau penundaan
bantuan hidup adalah keputusan medis dan etis.

3. Keputusan untuk penghentian atau penundaan bantuan hidup dilakukan oleh 3


(tiga) dokter yaitu dokter spesialis anestesiologi atau dokter lain yang memiliki
kompetensi dan 2 (dua) orang dokter lain yang ditunjuk oleh komite medis rumah
sakit.
4. Tidak dilakukan tindakan-tindakan luar biasa, pada pasien-pasien yang jika
diterapi hanya memperlambat waktu kematian dan bukan memperpanjang
kehidupan. Untuk pasien ini dapat dilakukan penghentian atau penundaan bantuan
hidup. Pasien yang masih sadar tapi tanpa harapan, hanya dilakukan tindakan
terapeutik/paliatif agar pasien merasa nyaman dan bebas nyeri.
5. Semua bantuan hidup dihentikan pada pasien dengan kerusakan fungsi batang
otak yang ireversibel. Setelah kriteria Mati Batang Otak (MBO) yang ada
terpenuhi, pasien ditentukan meninggal dan disertifikasi MBO serta semua terapi
dihentikan. Jika dipertimbangkan donasi organ, bantuan jantung paru pasien
diteruskan sampai organ yang diperlukan telah diambil. Keputusan penentuan
MBO dilakukan oleh 3 (tiga) dokter yaitu dokter spesialis anestesiologi atau
dokter lain yang memiliki kompetensi, dokter spesialis saraf dan 1 (satu)
dokter lain yang ditunjuk oleh komite medis rumah sakit.

*Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Nomor 519/Menkes/Per/Iii/2011Tentang Pedoman Penyelenggaraan


Pelayanan Anestesiologi Dan Terapi Intensif Di Rumah Sakit

PELAYANAN PASIEN TAHAP TERMINAL


No.
Dokumen

Halaman
1/2

RSM SITI KHODIJAH GURAH


STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

Tanggal
Terbit

Ditetapkan
Direktur,
Dr.M.Irfan Hanafi

Pengertian
Tujuan

Kebijakan

Pasien dengan kondisi terminal yang semakin lama


makin memburuk.
1. Memberikan pelayanan yang penuh hormat
dan kasih saying kepada semua pasien tahap
terminal di RSM Siti Khodijah Gurah.
2. Memberikan kenyamanan dengan memberikan
intervensi untuk mengurangi rasa nyeri dan
gejala primer atau sekunder dan mencegah
gejala- gejala dan komplikasi sejauh yang
dapat diupayakan di Rsm Siti Khodijah Gurah
Kediri.
3. Memberikan respon terhadapaspek psikologis,
social, emosional, agama dan budaya dengan
melibatkan keluarganya.
Semua pasien tahap terminal di UGD maupun
rawat inap di RSM Siti Khodijah Gurah Kediri.

Prosedur

1. Memperhatikan kenyamanan dan martabat


pasien dengan mengarahkan semua aspek
asuhan selama stadium akhir hidup,meliputi :
a. Memberikan pengobatan dan gejala yang
sesuai dengan gejala dan keinginan pasien
dan keluarganya.
b. Menyampaikan isu yang sensitive seperti
autopsy dan donasi organ.
c. Menghormati nilai yang dianut pasien,
agama dan preferansi budaya.
d. Mengikutsertakan pasien dan keluarganya
dalam semua aspek pelayanan.
e. Memberi repon pada masalah-masalah
psikologis, emosional, spiritual dan budaya
dari pasien dan keluarganya.
2. Rumah Sakit memastikan pemberian asuhan
yang tepat bagi mereka yang kesakitan atau
dalam proses kematian dengan cara :
a. melakukan intervensi untuk mengurangi
rasa nyeri dan gejala primer atau sekunder
b. mencegah gejala-gejala dan komplikasi
sejauh yang dapat diupayakan
c. melakukan intervensi dalam masalah
psikososial, emosional dan spiritual dari
pasien dan keluarga, menghadapi kematian
dan kesedihan
d. melakukan intervensi dalam masalah
keagamaan dan budaya pasien dan keluarga
e. mengikutsertakan pasien dan keluarga
dalam keputusan terhadap asuhan

Instalasi Terkait

f. (lihat maksud tujuan : PPI 7.1)


4. Komite Medik
5. DPJP
6. Staf Keperawatan dan Kebidanan

PENATALAKSANAAN NYERI
(PAIN MANAGEMENT)
A. Pendahuluan
1. Pada jaman dulu : nyeri dikaitkan dengan hukuman, setan, atau magic
penghilangan nyeri merupakan tanggung-jawab dari pendeta, dukun, atau
pengusir setan, menggunakan tanaman, atau ritual dan upacara tertentu
2. Pain : peone (Yunani) hukuman
3. Teori pertama tentang nyeri datang dari Yunani dan Romawi yang
menyatakan bahwa otak dan sistem saraf berperan dalam menghasilkan
persepsi nyeri
4. abad pertengahan dan jaman Renaissance (1400-1500an) :
fakta-fakta yang mendukung teori tersebut

terkumpul

5. Leonardo da Vinci mempercayai bahwa otak merupakan organ utama


yang bertanggung-jawab terhadap sensasi tersebut. Da Vinci juga
mengembangkan idea bahwa korda spinalis merupakan organ yang
berperan menghantarkan sensasi nyeri ke otak
6. Tahun 1664 : seorang filsuf Perancis Ren Descartes menggambarkan
apa yang sekarang disebut sebagai jalur nyeri (pain pathway).
7. Pada abad 19, nyeri menjadi ilmu tersendiri yang menjadi jalan bagi
berkembangnya ilmu penatalaksanaan nyeri. Saat itu mulai ditemukan
senyawa opium: morfin, kodein, kokain, yang dapat digunakan untuk
mengobati nyeri.
8. Nyeri = perasaan dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan
yang terkait dengan adanya kerusakan jaringan potensial atau aktual
9. Nyeri : akut dan kronis survival function dengan cara mengarahkan
tubuh untuk memberikan refleks dan sikap protektif terhadap jaringan yang
rusak hingga sembuh
B. Patofisiologi
1. Berdasarkan durasinya :
a. Nyeri akut
b. Nyeri kronis
2. Berdasarkan asalnya:
3.

Nyeri nosiseptif (nociceptive pain)


a. Nyeri perifer asal: kulit, tulang, sendi, otot, jaringan ikat, dllnyeri
akut, letaknya lebih terlokalisasi
b. Nyeri visceral/central lebih dalam, lebih sulit dilokalisasikan letaknya

4. Nyeri neuropatik

Pasien memiliki hak untuk:


1. Informasi dan jawaban atas pertanyaan Anda tentang rasa sakit dan nyeri
2. Meminta staf peduli dan menangani keluhan Anda dengan serius
3. Mendapat respon cepat ketika pasien melaporkan nyeri
Perlakuan nyeri terbaik yg tersedia.
Mendapat jasa dr Spesialis yg dapat mengatasi nyeri jika diperlukan
Untuk berbicara dengan dokter atau perawat tentang:
Apa yang diharapkan
Berbagai jenis pilihan nyeri
Rencana penanganan nyeri untuk setiap rasa sakit yang tidak akan
hilang
Untuk meminta untuk menghilangkan rasa sakit segera setelah nyeri
dimulai
Untuk membantu dokter dan perawat mengukur rasa sakit Anda.
Menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
Apakah rasa sakit itu datang dan pergi atau itu terus menerus?
Apakah Anda menggambarkan rasa sakit sebagai tajam, tumpul, sakit,
Di mana rasa sakit itu berada?
Berdenyut, ditusuk jarum, dll?
Apa yang membuat rasa sakit lebih baik?
Apa yang membuat rasa sakit lebih buruk?
Apakah rasa sakit itu menghentikan Anda dari melakukan hal-hal tertentu
seperti

CONTOH FORMULIR ASESMEN/ASESMEN ULANG NYERI


IDENTITAS PASIEN:
TANGGAL/JAM ASESMEN:
P:

Q:

..
R:

S:

T:

Scala Nyeri

Keterangan:
P= Provokatif: yang memprovokasi nyeri apa yang menjadi
penyebab nyeri ? Rudapaksa, benturan ? Apa yg membuat lebih baik
atau lebih buruk ?
Q=Quality/Kualitas: seperti apa rasanya ? Seperti tertusuk benda
tajam, tumpul, sakit, berdenyut, ditusuk jarum, dll?
R=Regio/Radiasi Daerah nyeri dimana rasa sakit itu berada?
Menyebar kemana ?
S=Severity/Skala : seberapa berat pakai skala 0 sd 10
T=Tempo/timing: waktu yang berkaitan dengan nyeri Kapan nyeri
datang? Apakah rasa sakit itu datang dan pergi atau itu terus menerus?

Asesmen nyeri
Asesmen nyeri dapat menggunakan Numeric Rating Scale
Indikasi: digunakan pada pasien dewasa dan anak berusia > 9
tahun yang dapat menggunakan angka untuk melambangkan
intensitas nyeri yang dirasakannya.
Instruksi: pasien akan ditanya mengenai intensitas nyeri yang
dirasakan dan dilambangkan dengan angka antara 0 10.
- 0
= tidak nyeri
- 13
= nyeri ringan (sedikit mengganggu aktivitas seharihari)

46

7 10

= nyeri sedang (gangguan nyata terhadap aktivitas


sehari-hari)
= nyeri berat (tidak dapat melakukan aktivitas
sehari-hari)3

Wong Baker FACES Pain Scale


Indikasi: Pada pasien (dewasa dan anak > 3 tahun) yang tidak
dapat menggambarkan intensitas nyerinya dengan angka,
gunakan asesmen
Instruksi: pasien diminta untuk menunjuk / memilih gambar
mana yang paling sesuai dengan yang ia rasakan. Tanyakan
juga lokasi dan durasi nyeri
- 01
= sangat bahagia karena tidak merasa nyeri sama
sekali
- 23
= sedikit nyeri
- 45
= cukup nyeri
- 7
= lumayan nyeri
- 89
= sangat nyeri
- 10
= amat sangat nyeri (tak tertahankan)

COMFORT SCALE

Kategori
Kewaspadaan

Ketenangan

stress pernapasan

Skor
1 tidurpulas / nyenyak
2 tidurkurangnyenyak
3 gelisah
4 sadarsepenuhnyadanwaspada
5 hiper alert
1 tenang
2 agakcemas
3 cemas
4 sangatcemas
5 panik
1 tidak ada respirasis pontan dan tidak ada batuk
2 respirasi spontan dengan sedikit / tidak ada respons terhadap ventilasi
3 kadang-kadang batuk atau terdapat tahanan terhadap ventilasi
4 seringbatuk, terdapat tahanan / perlawanan terhadap ventilator
5 melawan secara aktif terhadap ventilator, batuk terus-menerus /
tersedak
6 tegangan beberapa otot wajah terlihat nyata
7 tegangan hampir di seluruh otot wajah
8 seluruh otot wajah tegang, meringis

Tekanan darah basal

1 tekanan darah di bawah batas normal


2 tekanan darah berada di batas normal secara konsisten
3 peningkatan tekanan darah sesekali 15% di atas batas normal (1-3
kali dalam observasi selama 2 menit)
4 seringnya peningkatan tekanan darah 15% di atas batas normal (>3

Denyut jantung basal

kali dalam observasi selama 2 menit)


5 peningkatan tekanan darah terus-menerus 15%
1 denyut jantung di bawah batas normal
2 denyut jantung berada di batas normal secara konsisten
3 peningkatan denyut jantung sesekali 15% di atas batas normal (1-3
kali dalam observasi selama 2 menit)
4 seringnya peningkatan denyut jantung 15% di atas batas normal (>3
kali dalam observasi selama 2 menit)
5 peningkatan denyut jantung terus-menerus 15%

Skor total

SCALA NYERI NEONATAL

PARAMETER
Ekspresi wajah

FINDING

POINTS

Santai

0
1

Meringis
Menangis

Tidak menangis

0
1

Merengek

2
Menangis kuat
Pola bernapas

Santai

0
1

Perubahan bernapas
Lengan

Santai

0
1

Fleksi/extensi
Kaki

Santai

0
1

Fleksi/extensi
Keadaan rangsangan

Tertidur/ bangun

0
1

Rewel

Heart Rate

10% dari baseline


11-20% dari

baseline
Saturasi oksigen

>20% dari baseline


Tidak diperlukan oksigen tambahan
Penambahan

oksigen diperlukan
SKOR 0 : Tidak nyeri 1-2 : Nyeri ringan
: Nyeri hebat

3-4 : Nyeri sedang

>4

KATEGORI
WAJAH
KAKI
ACTIVITAS

0
Tidak ada ekspresi tertentu atau
senyum
Normal posisi atau
santai
Berbaring dengan tenang, posisi
normal, bergerak dengan
mudah
Tidak ada teriakan (terjaga atau
tertidur)

PARAMETER
1
Sesekali meringis atau
mengerutkan kening
Tidak nyaman, gelisah,
tegang
Menggeliat, menggeser maju
mundur, tegang

Erangan atau rengekan,


keluhan sesekali
Diyakinkan oleh menyentuh
CONSOLABILITAS Konten, santai
sesekali, memeluk,
SKOR 0 : Tidak nyeri 1-3 : Nyeri ringan 4-6 : Nyeri sedang
MENANGIS

WHO HAS DEVELOPED A THREE-STEP "LADDER" FOR CANCER PAIN RELIEF.

INTERVENSI NYERI

2
Sering cemberut, rahang ditarik, dagu tidak
tertarik.
Menendang, atau kaki
disusun
Melengkung, kaku
Menangis terus, teriakan atau isak tangis;
sering mengeluh
Sulit kenyamanan atau sedang berbicara;
distractable
7-10 : Nyeri hebat

Obat : Non Opioid,Adjuvant, Opioid


Suntikan anestesi lokal
Blok saraf
Terapi fisik dan air: whirlpool, USG, dan pijat otot
Stimulasi Listrik : stimulasi listrik transkutan (TENS)
Akupunktur
Terapi Psikologis
Teknik relaksasi
Bedah

PELAYANAN KEDOKTERAN TENTANG


MANAJEMEN NYERI

RSM SITI KHODIJAH GURAH


STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.
Dokumen

Tanggal
Terbit

Halaman
1/2
Ditetapkan
Direktur,
Dr.M.Irfan Hanafi

Pengertian

Tujuan

Perasaan dan pengalaman emosional yang


tidak menyenangkan yang terkait dengan
adanya kerusakan jaringan potensial atau
aktual
1. Memberikan respon secara cepat kepada
semua pasien yang mengeluhkan rasa nyeri
yang dideritanya.
2. Memberikan informasi dan jawaban atas
pertanyaan pasien mengenai rasa nyeri
yang dideritanya.

Kebijakan

Semua pasien yang mengalami rasa nyeri di UGD


maupun rawat inap di RSM Siti Khodijah Gurah
Kediri.

Prosedur

1. Memberikan salam
2. Menanyakan mekanisme nyeri yang diderita
pasien,adapun tanggung jawab pasien untuk
menjawab antara lain:
Apakah rasa sakit itu datang dan
pergi atau itu terus menerus?
Apakah Anda menggambarkan rasa
sakit sebagai tajam, tumpul, sakit,
Di mana rasa sakit itu berada?
Berdenyut, ditusuk jarum, dll?
Apa yang membuat rasa sakit lebih
baik?
Apa yang membuat rasa sakit lebih
buruk?
Apakah rasa sakit itu menghentikan
Anda dari melakukan hal-hal tertentu
seperti
a.

Instalasi Terkait

SURAT PERNYATAN JANGAN DILAKUKAN RESUSITASI


(DO NOT RESUCITATE)
Yang bertanda tangan dibawah ini saya:
Nama

:.

Taggal lahir:
Dengan ini saya menyatakan bahwa saya membuat keputusan dan menyetujui perintah do not
resuscitate (jangan di resusitasi).
Saya menyatakan bahwa Jika jantung saya berhenti berdetak atau jika saya berhenti bernapas
, tidak ada prosedur medis untuk mengembalikan bernapas atau berfungsi kembali jantung
akan dilakukan oleh staf Rumah sakit, termasuk namun tidak terbatas pada staf layanan medis
darurat
Saya memahami bahwa keputusan ini tidak akan mencegah saya menerima pelayanan
kesehatan lainnya seperti pemberian maneuver Heimlich atau pemberian oksigen dan
langkah-langkah perawatan untuk meningkatkan kenyamanan lainnya.
Saya memberikan izin agar informasi ini diberikan kepada seluruh staf rumah sakit, Saya
memahami bahwa saya dapat mencabut pernyataan ini setiap saat.

.
Saksi-saksi

............................tgl................................
Yang membuat pernyataan
Tanda tangan

(..................................)

(.........................................)

PERSETUJUAN PERMINTAAN PENDAPAT LAIN ( SECOND OPINION )

Yang bertanda tangan dibawah ini saya, nama.......................................tgl lahir.......................


Alamat........................................................................................................................................
Dengan ini menyatakan permintaan untuk mendapat second opinion atas.................................
...................................................................................................................................................
Saya memahami perlunya dan manfaat second opinion tersebut sebagaimana telah dijelaskan
kepada saya . Saya telah mendapat kesempatan untuk bertanya dan telah mendapat jawaban
yang memuaskan. Saya juga menyadari bahwa oleh karena ilmu kedokteran bukanlah ilmu
pasti dan selalu berkembang, maka perbedaan pendapat ahli adalah biasa terjadi dalam dunia
kedokteran.
Saya menyadari beban biaya second opinion menjadi tanggung jawab saya.

.
Saksi-saksi

............................tgl................................
Yang membuat pernyataan
Tanda tangan

(..................................)

(.........................................)

PANDUAN
PERSETUJUAN TINDAKAN KEDOKTERAN (INFORMED CONSENT)
1. UMUM
a. Bahwa masalah kesehatan seseorang (pasien) adalah tanggung jawab seorang
(pasien) itu sendiri. Dengan demikian, sepanjang keadaan kesehatan tersebut tidak
sampai mengganggu orang lain, maka keputusan untuk mengobati atau tidaklah
masalah kesehatan yang dimaksud, sepenuhnya terpulang dan menjadi tanggung
jawab yang bersangkutan.
b. Bahwa tindakan kedokteran yang dilakukan oleh dokter yang dilakukan oleh
dokter atau dokter gigi untuk meningkatkan atau memulihkan kesehatan seseorang
(pasien) hanya merupakan suatu upaya yang tidak wajib diterima oleh seorang
(pasien) yang bersangkutan.karena sesungguhnya dalam pelayanan kedokteran,
tidak seorangpun yang dapat memastikan keadaan hasil akhir dari
diselenggarakannya pelayanan kedokteran tersebut (uncertainty result), dan karena
itu tidak etis jika sifatnya jika penerimaannya dipaksakan. Jika seseorang karena
satu dan lain hal, tidak dapat atau tidak bersedia menerima tindakan kedokteran
yang ditawarkan, maka sepanjang penolakan tersebut tidak membahayakan orang
lain,harus dihormatii.
c. Bahwa hasil dan tindakan kedokteran akan lebih berdaya guna dan berhasil guna
apabila terjalin kerjasama yang lebih baik antara dokter dan pasien sehingga dapat
saling mengisi dan melengkapin. Dalam rangka menjalin kerjasama yang baik ini
perlu diadakan ketentuan yang mengatur tentang perjanjian antara dokter atau
dokter gigi dengan pasien. Pasien menyetujui (consent) atau menolak, adalah
merupakan hak pribadinya yang tidak boleh dilanggar, setelah mendapat informasi
darii dokter atau dokter gigi terhadsp hal-hal yang a\kan dilakukan dokter atau
dokter gigi sehubungan dengan pelayanan kedokteran yang diberikan kepadanya.
d. Informed Consend terdiri dari kata informed yang berarti telah mendapatkan
nformasi dan consend berarti persetujuan (ijin). Yang dimaksud dengan informed
consent dalam profesi kedokteran adalah pernyataan setuju (consent) atau ijin dari
seseorang (pasien) yang diberikan secara bebas, rasional, tanpa paksaan
(voluntary) terhadap tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadapnya
sesudah mendapatkan informasi yang cukup tentang kedokteran yang dimaksud.
e. Bahwa, untuk mengatur keserasian, keharmonisan, dan ketertiban hubungan dokter
atau dokter gigi dengan pasien melalui informed consent harus ada pedoman
sebagai acuan bagi seluruh personal rumah sakit.
2. DASAR
Sebagai dasar ditetapkannya Panduan Pelaksanaan Persetujuan Tindakan
Kedokteran ini adalah peraturan perundang-undangan dalam bidang kesehatan yang
menyangkut persetujuan tindakan kedokteran, yaitu :
a. Undang undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan;
b. Undang undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan;
d. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1996 tentang Wajib Simpan Rahasia
Kedokteran;
e. Peraturan Menteri Kesehattan RI nomor 159b/Menkes/SK/PER/11/1998 tentang
Rumah Sakit;
f. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 290/Menkes/Per/111!/2008 tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran;

g. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 269/Menkes/Per/111/2008 tentang Rekam


Medis;
h. Keputusan Direktorat Jendral Pelayanan Medik nomor : HK.00.06.3.5.1866
tentang Pedoman Pelaksanaan Persetujuan Tindakan Kedokteran.
3. TUJUAN
Panduan ini bertujuan agar dijadikan acuan bagi seluruh dokter, dokter gigi dan
seluruh tenaga kesehatan Rumah Sakit dalam melaksanakan ketentuan tentang
persetujuan tindakan kedokteran.
4. PENGERTIAN
a) Persetujuan Tindakan Kedokterasn adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien
atau keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai
tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien.
b) Tindakan Kedokteran atau Kedokteran Gigi yang selanjutnya disebut Tindaskan
Kedokteran, adalah suatu tindakan medis berupa preventif, diagnostik, terapeutik
atau rehabilitatif yang dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien.
c) Tindakan Intvasif, adalah tindakan yang langsungn dapat mempengaruhi keutuhan
jaringan tubuh pasien.
d) Tindakan Kedokteran yang mengandung resiko tinggi adalah tindakan medis yang
berdasarkan tingkat probabilitas tertentu, dapat mengakibatkan kematian atau
kecacatan.
e) Pasien, adalah penerima jasa pelayanan kesehatan di Rumah Sakit baik dalam
keadaan sehat maupun sakit.
f) Dokter dan Dokter Gigi adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi dan dokter gigi
spesialis lulusan pendidikann kedokteran gigi baik di dalam maupun di luar negeri
yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan
perundang - undangan
g) Keluarga terdekat adalah suami atau istri, ayah atau ibu kandung, anak anak
kandung, saudara - saudara kandung atau pengampunya
Ayah :
- Ayah Kandung
- Termasuk Ayah adalah ayah angkat yang dite tapkan berdasarkan
penetapan pengadilan atau berdasarkan hukum adat.
Ibu
:
- Ibu Kandung
- Termasuk Ibu adalah Ibu angkat yang ditetapkan berdasarkan
penetapan pengadilan atau berdasarkan hukum adat
Suami :
- Seorang laki - laki yang dalam ikatan perkawinan d engan seorang
perempuan berdasarkan peraturan perundang - undangan yang
berlaku.
Istri :
- Seorang perempuan yang dalam ikatan perkawinan dengan seorang
laki - laki berdasarkan peraturan perundang - undangan yang
berlaku.
- Apabila yang bersangkutan mempunyai lebih dari 1 (satu) istri
persetujuan / penolakan dapat dilakukan oleh salah satu dari mereka.
h) Wali, adalah orang yang menurut hukum menggantikan orang lain yang belum
dewasa untuk mewakilinya dalam melakukan perbuatan hukum, atau orang yang
menurut hukum meng gantikan kedudukan orang tua.

i) Induk semang, adalah orang yang berkewajiban untuk mangawasi serta ikut
bertangung jawab terhadap pribadi orang lain, seperti pemimpin asrama dari anak
perantauan atau kepala rumah tangga dari seorang pembantu rumah tangga yang
belum dewasa.
j) Gangguan Mental, adalah sekelompok gejala psikologis atau perilaku yang
secara klinis menimbulkan penderitaan dan gangguan dalam fungsi kehidupan
seseorang, mencakup Gangguan Mental Berat, Retardasi Mental Sedang, Retardasi
Mental Berat, Dementia Senilis.
k) Pasien Gawat Darurat, adalah pasien yang tiba - tiba berada dalam keadaan
gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya
(akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya.
5. PERSETUJUAN DAN PENJELASAN TINDAKAN KEDOKTERAN
Dalam menetapkan dan Persetujuan Tindakan Kedokteran harus
memperhatikan ketentuan - ketentuan sebagai berikut :
a) Memperoleh Informasi dan penjelasan merupakan hak pasien dan sebaliknya
memberikan informasi dan penjelasan adalah kewajiban dokter atau dokter gigi.
b) PelaksanaanPersetujuan Tindakan kedokteran dianggap benar jika memenuhi
persyaratan dibawah ini :
1) Persetujuan atau Penolakan Tindakan Kedokteran diberikan untuk tindakan
kedokteran yang dinyatakan secara spesifik (The Consent must be for what
will be actually performied)
2) Persetujuan atau PenolakanTindakan Kedokteran diberikan tanpa paksaan
(Voluntary)
3) Persetujuan atau Penolakan Tindakan Kedokteran diberikan oleh seseorang
(pasien) yang sehat mental dan yang memang berhak memberikannya dari segi
hukum
4) Persetujuan dan Penolakan Tindakan Kedokteran diberikan setelah diberikan
cukup (adekuat) informasi dan penjelasan yang di perlukan tentang perlunya
tindakan kedokteran dilakukan
c) Informasi dan penjelasan dianggap cukup (adekuat) jika sekurang-kurangnya

mencakup :
1) Diagnosis dan tata cara tindakan kedokteran (contemplated medical
procedure);
2) Tujuan tindakan kedokteran yang dilakukan;
3) Alternatif tindakan lain, dan risikonya (alternative medical procedures and
risk)
4) Risiko (risk inherent in such medical procedures) dan komplikasi yang
mungkin terjadi;
5) Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan (prognosis with and without
medical procedures;
6) Risiko atau akibat pasti jika tindakan kedokteran yang direncanakan tidak
dilakukan;
7) Informasi dan penjelasan tentang tujuan dan prospek keberhasilan tindakan
kedokteran yang dilakukan (purpose of medical procedure);
8) Informasi akibat ikutan yang biasanya terjadi sesudah tindakan kedokteran.

d) Kewajiban memberikan informasi dan penjelasan.


Dokter atau dokter gigi yang akan melakukan tindakan medik mempunyai
tanggung jawab utama memberikan informasi dan penjelasan yang diperlukan.
Apabila berhalangan, informasi dan penjelasan yang harus diberikan
dapatdiwakilkan kepada dokter atau dokter gigi lain dengan sepengetahuan dokter
atau dokter gigi yang bersangkutan. Bila terjadi kesalahan dalam memberikan
informasi tanggung jawab berada ditangan dokter atau dokter gigi yang
memberikan delegasi
Penjelasan harus diberikan secara lengkapdengan bahasa yang mudah
dimengertiatau
cara
lain
yang
bertujuan
untuk
mempermudah
pemahaman.Penjelasantersebut dicatat dan didokumentasikan dalam berkas rekam
medis oleh dokter ataudokter gigi yang memberikan penjelasan dengan
mencantumkan :
1) tanggal
2) waktu
3) nama
4) tanda tangan pemberi penjelasan dan penerima penjelasan.
Dalam hal dokter atau dokter gigi menilai bahwa penjelasan yang akan
diberikandapat merugikan kepentingan kesehatan pasien atau pasien menolak
diberikan penjelasan, maka dokter atau dokter gigi dapat memberikan penjelasan
kepada keluarga terdekat dengan didampingi oleh seorang tenaga kesehatan lain
sebagai saksi.
Hal - hal yang disampaikan pada penjelasan adalah :
1) Penjelasan tentang diagnosis dan keadaan kesehatan pasien dapat
meliputi :
a. Temuan klinis dari hasil pemeriksaan medis hingga saat tersebut;
b. Diagnosis penyakit, atau dalam hal belum dapat ditegakkan, maka
sekurang - kurangnya diagnosis kerja dan diagnosis banding;
c. Indikasi atau keadaan klinis pasien yang membutuhkan
dilakukannya
d. tindakan kedokteran;
e. Prognosis apabila dilakukan tindakan dan apabila tidak dilakukan
tindakan.
2) Penjelasan tentang tindakan kedokteran yang dilakukan meliputi :
a. Tujuan tindakan kedokteran yang dapat berupa tujuan
preventif,diagnostik, terapeutik, ataupun rehabilitatif;
b. Tata cara pelaksanaan tindakan apa yang akan dialami pasien
selama dan sesudah tindakan, serta efek samping atau
ketidaknyamanan yang mungkin terjadi;
c. Alternatif tindakan lain berikut kelebihan dan kekurangannya
dibandingkan dengan tindakan yang direncanakan;
d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi pada masing-masing
alternatif tindakan;
e. Perluasan tindakan yang mungkin dilakukan untuk mengatasi
keadaandarurat akibat risiko dan komplikasi tersebut atau keadaan
tak terdugalainnya.
Perluasan tindakan kedokteran yang tidak terdapat indikasi
sebelumnya, hanya dapat dilakukan untuk menyelamatkan pasien.
Setelah perluasan tindakan kedokteran dilakukan, dokter atau
dokter gigi harus memberikan penjelasan kepada pasien atau
keluarga terdekat.

3) Penjelasan tentang risiko dan komplikasi tindakan kedokteran adalah


semua risiko dan komplikasi yang dapat terjadi mengikuti tindakan
kedokteran yang dilakukan, kecuali :
a. Risiko dan komplikasi yang sudah menjadi pengetahuan umum;
b. Risiko dan komplikasi yang sangat jarang terjadi atau dampaknya
sangatringan;
c. Risiko dan komplikasi yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya
(unforeseeable).
4) Penjelasan tentang prognosis meliputi :
a. Prognosis tentang hidup-matinya (ad vitam);
b. Prognosis tentang fungsinya (ad functionam);
c. Prognosis tentang kesembuhan (ad senationam).
Penjelasan diberikan oleh dokter atau dokter gigi yang
merawat pasien atau salahsatu dokter atau dokter gigi dari tim
dokter yang merawatnya.Dalam hal dokter atau dokter gigi yang
merawatnya berhalangan untuk memberikan penjelasan secara
langsung, maka pemberian penjelasan harus didelegasikan kepada
dokter atau dokter gigi lain yang kompeten. Tenaga kesehatan
tertentu dapat membantu memberikan penjelasan sesuai dengan
kewenangannya. Tenaga kesehatan tersebut adalah tenaga
kesehatan yang ikut memberikan pelayanan kesehatan secara
langsung kepada pasien.
Demi kepentingan pasien, persetujuan tindakan kedokteran
tidak diperlukan bagi pasien gawat darurat dalam keadaan tidak
sadar dan tidak didampingi oleh keluarga pasien yang berhak
memberikan persetujuan atau penolakan tindakan kedokteran.
6. PIHAK YANG BERHAK MEMBERIKAN PERSETUJUAN
Yang berhak untuk memberikan persetujuan setelah mendapatkan informasi
adalah :
a) Pasien sendiri, yaitu apabila telah berumur 21 tahun atau telah menikah.
b) Bagi Pasien dibawah umur 21 tahun, persetujuan (informed consent) atau
Penolakan Tindakan Medis diberikan oleh mereka menurut urutan hak sebagai
berikut :
1) Ayah/ Ibu Kandung
2) Saudara saudara kandung
c) Bagi pasien dibawah umur 21 tahun dan tidak mempunyai orang tua atau orang
tuanya berhalangan hadir, persetujuan (Informed Consent) atau Penolakan
Tindakan medis diberikan oleh mereka menurut hak sebagai berikut :
1) Ayah/IbuAdopsi
2) Saudara saudara Kandung
3) Induk Semang
d) Bagi pasien dewasa dengan gangguan mental, persetujuan (Informed Consent)
atau penolakan penolakan tindakan medis diberikan oleh mereka menurut hak
sebagai berikut:
1) Ayah/Ibu kandung
2) Wali yang sah
3) Saudara Saudara Kandung
e) Bagi pasien dewasa yang berada dibawah pengampunan (curatelle) Persetujuan
atau penolakan tindakan medis diberikan menurut hal tersebut.

1) Wali
2) Curator
f) Bagi Pasien dewasa yang telah menikah/ orang tua, persetujuan atau penolakan
tindakan medik diberikan pleh mereka menurut urutan hal tersebut.
1) Suami/ Istri
2) Ayah/ Ibu Kandung
3) Anak- anak Kandung
4) Saudara saudara Kandung
Cara pasien menyatakan persetujuan dapat dilakukan secara terucap (oral
consent),tersurat (written consent), atau tersirat (implied consent).
Setiap tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus
memperoleh persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak
memberikan persetujuan.Persetujuan tertulis dibuat dalam bentuk pernyataan yang
tertuang dalam formulirPersetujuan Tindakan Kedokteran.
Sebelum ditandatangani atau dibubuhkan cap ibu jari tangan kiri, formulir
tersebut sudah diisi lengkap oleh dokter atau dokter gigi yang akan melakukan
tindakan kedokteran atau oleh tenaga medis lain yang diberi delegasi, untuk
kemudian yang bersangkutan dipersilahkan membacanya, atau jika dipandang
perlu dibacakan dihadapannya.
Persetujuan secara lisan diperlukan pada tindakan kedokteran yang tidak
mengandung risiko tinggi. Dalam hal persetujuan lisan yang diberikan dianggap
meragukan, makadapat dimintakan persetujuan tertulis.
7. KETENTUAN PADA SITUASI KHUSUS
a) Tindakan penghentian/penundaan bantuan hidup (withdrawing/withholding life
support) pada seorang pasien harus mendapat persetujuan keluarga terdekat pasien.
b) Persetujuan penghentian/penundaan bantuan hidup oleh keluarga terdekat pasien
diberikan setelah keluarga mendapat penjelasan dari tim dokter atau dokter gigi
yang bersangkutan. Persetujuan harus diberikan secara tertulis.
8. PENOLAKAN TINDAKAN KEDOKTERAN
a) Penolakan tindakan kedokteran dapat dilakukan oleh pasien dan/atau keluarga
terdekatnya setelah menerima penjelasan tentang tindakan kedokteran yang akan
dilakukan.
b) Jika pasien belum dewasa atau tidak sehat akalnya maka yang berhak memberikan
atau menolak memberikan persetujuan tindakan kedokteran adalah orang tua,
keluarga, wali atau kuratornya.
c) Bila pasien yang sudah menikah maka suami atau isteri tidak diikut sertakan
menandatangani persetujuan tindakan kedokteran, kecuali untuk tindakan keluarga
berencana yang sifatnya irreversible; yaitu tubektomi atau vasektomi.
d) Jika orang yang berhak memberikan persetujuan menolak menerima informasi dan
kemudian menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan dokter atau dokter gigi
maka orang tersebut dianggap telah menyetujui kebijakan medis apapun yang akan
dilakukan dokter atau dokter gigi.
e) Apabila yang bersangkutan, sesudah menerima informasi, menolak untuk
memberikan persetujuannya maka penolakan tindakan kedokteran tersebut harus
dilakukan secara tertulis. Akibat penolakan tindakan kedokteran tersebut menjadi
tanggung jawab pasien.
f) Penolakan tindakan kedokteran tidak memutuskan hubungan dokter pasien.
g) Persetujuan yang sudah diberikan dapat ditarik kembali (dicabut) setiap saat,
kecuali tindakan kedokteran yang direncanakan sudah sampai pada tahapan
pelaksanaan yang tidak mungkin lagi dibatalkan.

h) Dalam hal persetujuan tindakan kedokteran diberikan keluarga maka yang berhak
menarik kembali (mencabut) adalah anggota keluarga tersebut atau anggota
keluarga lainnya yang kedudukan hukumnya lebih berhak sebagai wali.
i) Penarikan kembali (pencabutan) persetujuan tindakan kedokteran harus diberikan
secara tertulis dengan menandatangani format yang disediakan.
9. DOKUMEN PERSETUJUAN TINDAKAN KEDOKTERAN
a) Semua hal hal yang sifatnya luar biasa dalam proses mendapatkan persetujuan
tindakan kedokteran harus dicatat dalam rekam medis.
b) Seluruh dokumen mengenai persetujuan tindakan kedokteran harus disimpan
bersama-sama rekam medis.
c) Format persetujuan tindakan kedokteran atau penolakan tindakan kedokteran,
menggunakan formulir dengan ketentuan sebagai berikut :
1) Diketahui dan ditandatangani oleh dua orang saksi. Tenaga keperawatan
bertindak sebagai salah satu saksi;
2) Formulir asli harus disimpan dalam berkas rekam medis pasien;
3) Formulir harus sudah mulai diisi dan ditandatangani 24 jam sebelum tindakan
kedokteran;
4) Dokter atau dokter gigi yang memberikan penjelaan harus ikut membubuhkan
tanda tangan sebagai bukti bahwa telah memberikan informasi dan penjelasan
secukupnya;
5) Sebagai tanda tangan, pasien atau keluarganya yang buta huruf harus
membubuhkan cap jempol jari kanan.
10. PENUTUP
Dengan ditetapkannya Pedoman Pelaksanaan Persetujuan Tindakan
Kedokteran ini maka setiap personil Rumah Sakit xyz agar melaksanakan ketentuan
tentang Pedoman Pelaksanaan Persetujuan Tindakan Kedokteran ini dengan sebaik baiknya.

SURAT PERNYATAAN PENOLAKAN PENGOBATAN

Yang bertandatangan di bawah ini, saya, nama_____________________,


umur_____ tahun,
Laki-laki/perempuan*,
alamat_________________________________________________,
Dengan

ini

menyatakan

PENOLAKAN

PENGOBATAN

_______________________________
terhadap

saya/

__________________--_

___________________________,

Tgl

saya*

lahir.......:,

bernama
laki-

laki/perempuan*, alamat ____________________________


Saya

memahami

perlunya

dan

manfaat

pengobatan

tersebut

sebagaimana telah dijelaskan seperti di atas kepada saya, termasuk risiko


dan komplikasi yang mungkin timbul.
Saya bertanggungjawab secara penuh atas segala akibat yang mungkin
timbul sebagai akibat tidak dilakukannya pengobatan tersebut.
Jakarta, tanggal ______________, pukul ________
Yang menyatakan*

(_________________)
(_________________)

Saksi :

(________________)

PENOLAKAN RESUSITASI/BANTUAN
HIDUP DASAR

RSM SITI KHODIJAH GURAH


STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Pengertian
Tujuan

Kebijakan

No.
Dokumen

Tanggal
Terbit

Halaman
1/2
Ditetapkan
Direktur,

Dr.M.Irfan Hanafi
Suatu perintah yang memberitahukan tenaga
medis untuk tidak melakukan CPR ( Cardio
pulmonary resuscitation)
Untuk menyediakan suatu proses dimana
pasien bisa memilih prosedur yang nyaman
dalam hal bantuan hidup oleh tenaga medis
emergency dalam [kasusu henti jantung /
henti nafas.
Surat penugasan oleh Direktur Rumah Sakit
tentang penunjukkan prosedur penolakan
resusitas.

Prosedur

1. Ucapkan salam Assalamualaikum...


2. Jelaskan mengenai tindakan dan tujuan
CPR kepada pasien / keluarga pasien.
3. Mintakan informed consent dari pasien atau
keluarganya.
4. Instruksikan kepada keluarga pasien untuk
mengisi formulir DNR.
5. Tempatkan kopi atau salinan pada rekam
medis pasien dan serahkan juga salinan
pada pasien atau keluarga
6. Instruksikan kepada pasien atau keluarga
untuk memasang formulir DNR di tempattempat yang mudah dilihat seperti bedstand.
7. Tinjau kembali status DNR secara berkala
dengan pasien atau walinya, revisi bila ada
perubahan keputusan yang terjadi dan catat
dalam rekam medis. Bila keputusan DNR
dibatalkan,

catat

tanggal

terjadinya. dan

gelang DNR dimusnahkan


8. Perintah DNR harus mencakup hal-hal di
bawah ini:
a. Diagnosis
b. Alasan DNR
c. Kemampuan pasien untuk membuat
keputusan
d. Dokumentasi bahwa status DNR telah
ditetapkan dan oleh siapa
9. Perintah DNR dapat dibatalkan dengan
keputusan pasien sendiri atau dokter yang
merawat, atau oleh wali yang sah. Dalam hal
ini, catatan DNR di rekam medis harus pula
dibatalkan dan gelang DNR (jika ada) harus
dimusnahkan

Instalasi Terkait

1.

1.. Dokter
2. UGD
3. Ruang rawat inap

2.

PENDIDIKAN KESEHATAN :
MANAJEMEN NYERI

RSM SITI KHODIJAH GURAH


STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

No.
Dokumen

Tanggal
Terbit

Halaman
1/2
Ditetapkan
Direktur,
Dr.M.Irfan Hanafi

Pengertian
Tujuan
Kebijakan
Prosedur

Menyiapkan pasien dan keluarga tentang strategi


mengurangi nyeri atau menurunkan nyeri ke level
kenyamanan yang diterima oleh pasien
Memfasilitasi pasien untuk tindakan pengurangan
nyeri
Dilakukan pada pasien yang mengalami nyeri
1. Lakukan pengkajian yang komprehensif tentang
nyeri, termasuk lokasi, karakteristik, onset/durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas, atau beratnya nyeri
2.

dan faktor presipitasi


Amati perlakuan non verbal yang menunjukkan
ketidaknyamanan, khususnya ketidakmampuan

3.
4.

komunikasi efektif
Pastikan pasien menerima analgesik yang tepat
Gunakan strategi komunikasi terapeutik yang
dapat diterima tentang pengalaman nyeri dan

5.

merasa menerima respon pasien terhadap nyeri


Identifikasi dampak pengalaman nyeri terhadap

6.

kualitas hidup
Evaluasi pasca mengalami nyeri termasuk riwayat
individu dan keluarga mengalami nyeri kronik

7.

atau yang menimbulkan ketidakmampuan


Lakukan pengkajian yang komprehensif tentang
nyeri, termasuk lokasi, karakteristik, onset/durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas, atau beratnya nyeri

8.

dan faktor presipitasi


Amati perlakuan non verbal yang menunjukkan
ketidaknyamanan, khususnya ketidakmampuan

komunikasi efektif
9. Pastikan pasien menerima analgesik yang tepat
10. Gunakan strategi komunikasi terapeutik yang
dapat diterima tentang pengalaman nyeri dan
merasa menerima respon pasien terhadap nyeri
11. Identifikasi dampak pengalaman nyeri terhadap
kualitas hidup
12. Evaluasi pasca mengalami nyeri termasuk riwayat
individu dan keluarga mengalami nyeri kronik
atau yang menimbulkan ketidakmampuan
13. paska nyeri yang dapat digunakan
14. Bantu pasien dan keluarga untuk memperoleh
dukungan
15. Bersama keluarga mengidentifikasi kebutuhan
untuk mengkaji kenyamanan pasien dan
16. merencanakan monitoring tindakan
17. Beri informasi tentang nyeri seperti penyebab
18. nyeri, berapa lama berakhir, antisipasi
ketidaknyamanan dari prosedur
19. Ajarkan kepada pasien untuk mengontrol faktor
lingkungan yang dapat mempengaruhi respon
pasien

mengalami

ketidaknyamanan

(misal:

temperature ruangan, cahaya, kebisingan)


20. Mengajarkan pada pasien bagaimana mengurangi
atau

menghilangkan

faktor

yang

menjadi

presipitasi atau meningkatkan pengalaman nyeri


(misal: ketakutan, kelemahan, monoton, dan
rendahnya pengetahuan)
21. Pilih dan implementasikan berbagai pengukuran
(misal:

farmakologi,

nonfarmakologi,

dan

interpersonal) untuk memfasilitasi penurun nyeri


22. Mengajarkan
kepada
pasien
untuk
mempertimbangkan jenis dan sumber nyeri ketika
memilih strategi penurun nyeri
23. Anjurkan pasien untuk memantau nyerinya sendiri
dan intervensi segera
24. Ajarkan teknik penggunaan

nonfarmakologi

(misal: biofeedback, TENS, hypnosis, relaksasi,


guided imagery, terapi musik, distraksi, terapi
bermain, terapi aktivitas, acupressure, terapi

dingin/panas, dan pijatan)


25. Jelaskan tentang penggunaan analgetik untuk
penurun nyeri yang optimal
26. Gunakan pengukuran control nyeri sebelum nyeri
meningkat
27. Lakukan verifikasi tingkat ketidaknyamanan
dengan pasien, catat perubahan pada rekam
medik.
28. Evaluasi keefektifan pengukuran kontrol nyeri
yang dilakukan dengan pengkajian terus-menerus
terhadap pengalaman nyeri
29. Modifikasi pengukuran kontrol nyeri pada respon
pasien
Dorong

istirahat

yang

adekuat/tidur

untuk

memfasilitasi

Instalasi Terkait

1. Dokter
2. UGD
3. Ruang rawat inap

PANDUAN
HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN & KELUARGA
A. DEFINISI
1. Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan
kebutuhan pribadinya, sesuai dengan keadilan, moralitas dan legalitas.
2. Kewajiban adalah sesuatu yang harus dilakukan dan tidak boleh bila
tidak dilaksanakan
3. General Consent atau Persetujuan Umum adalah pernyataan
kesepakatan yang diberikan oleh pasien terhadap peraturan rumah sakit
yang bersifat umum

4. Informed Consent : pernyataan setuju (consent) atau ijin dari seseorang


(pasien) yang diberikan secara bebas, rasional, tanpa paksaan (voluntary)
terhadap tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadapnya sesudah
mendapatkan informasi yang cukup tentang tindakan kedokteran yang
dimaksud.
5. Pasien adalah penerima jasa pelayanan kesehatan di Rumah Sakit baik
dalam keadaan sehat maupun sakit.
6. Dokter dan Dokter Gigiadalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi dan
dokter gigi pesialis lulusan pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi
baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui Pemerintah Republik
Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
7. Keluarga adalah suami atau istri, ayah atau ibu kandung, anak-anak
kandung, saudara-saudara kandung atau pengampunya.
Ayah:
- Ayah kandung
- Termasuk ayah adalah ayah angkat yang ditetapkan berdasarkan
penetapan pengadilan atau berdasarkan hukum adat
Ibu:
- Ibu kandung
- Termasuk ibu adalah ibu angkat yang ditetapkan berdasarkan penetapan
pengadilan atau berdasarkan hukum adat.
Suami:
- Seorang laki-laki yang dalam ikatan perkawinan dengan seorang
perempuan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
Istri:
- Seorang perempuan yang dalam ikatan perkawinan dengan seorang
lakilaki berdasarkan peraturanperundang-undangan yang berlaku
- Apabila yang bersangkutan mempunyai lebih dari 1 (satu) istri
perlindungan hak keluarga dapat diberikan kepada salah satu dari istri
B. RUANG LINGKUP
Hak pasien selalu dihubungkan dengan pemeliharaan kesehatan yang
bertujuan agar pasien mendapatkan upaya kesehatan, sarana kesehatan,
dan bantuan dari tenaga kesehatan yang memenuhi standar pelayanan
kesehatan yang optimal sesuai dengan UU No 44 tahun 2009 tentang
Rumah sakit
1. Prinsip Dalam Pelayanan Kesehatan:
a) Bahwa upaya kesehatan yang semula dititik beratkan pada upaya
penyembuhanpenderita,
secara
berangsur-angsur
berkembang
kearahketerpaduan upaya kesehatan yang menyeluruh.
b) Bahwa dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimalbagi
seluruh masyarakat perlu adanya perlindungan hak pasien dan keluarga.

c)

Bahwa
keberhasilan
pembangunan
di
berbagai
bidangdan
kemajuanilmupengetahuan dan teknologi telah meningkatkan taraf
kesejahteraanmasyarakat dan kesadaran akan hidup sehat.
d) Bahwameningkatnya kebutuhan pelayanan dan pemerataan yang
mencakup tenaga, sarana, prasarana baik jumlah maupun mutu.
e) Bahwa pelayanan kesehatan amat penting apabila dihadapkan pada
pasien yang sangat membutuhkan pelayanan kesehatan dengan baik dan
dapat memuaskan para pasien.
f) Perlindungan merupakan hal yang essensial dalam kehidupan karena
erupakan sifat yang melekat pada setiap hak yang dimiliki.
g) Bahwa seseorang dapat menuntut haknya apabila telah memenuhi
kewajibannya, oleh karena itu kewajiban menjadi hak yang paling utama
dilakukan.
h) Bahwa perlindungan bagi tenaga kesehatan maupun pasien merupakan
hal yang bersifat timbale balik artinya pihka-pihak tersebut dapat
terlindungi atas hak-haknya bila melkukan kewajibannya.
i) Bahwa dalam kondisi tertentu pasien tidak memiliki kemampuan untuk
mendapatkan informasi atau penjelasan mengenai haknya sehinggaakan
disampaiakn melalui keluarga.
j) Bahwa untuk mengatur pemenuhan perlindungan hak pasien dan
keluarga harus ada pedoman sebagai acuan bagi seluruh personil rumah
sakit.
2. Hak Pasien dan Keluarga
Hak-hak pasien dan keluarga di RSM Siti Khodijah Gurah yaitu:
a) Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku
di rumah sakit.
b) Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien, memberikan
informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai Hak dan Kewajiban
pasien.
c) Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur dan tanpa diskriminasi,
memberi pelayanan Kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminsi,
dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan
standar pelayanan Rumah Sakit.
d) Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar
profesi dan standar prosedur operasional, membuat, melaksanakan, dan
menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit sebagai
acuan dalam melayani pasien.
e) Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan.
f) Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan
peraturan yang berlaku di rumah sakit.
g) Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter
lain yang mempunyai SIP baik di dalam maupun diluar rumah sakit.
h) Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang dideritanya
termasuk data-data medisnya.

i) Mendapat informasi mengenai diagnosis dan tata cara tindakan medis,


tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang
mungkin terjadi dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta
perkiraan biaya pengobatan.
j) Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan
dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya.
k) Didampingi keluarga dalam keadaan kritis.
l) Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya
selama itu tidak mengganggu pasien lainnya.
m) Memperoleh keamanan dan keselamatannya dirinya selama dalam
perawatan di rumah sakit.
n) Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan rumah sakit
terhadap dirinya.
o) o) Menolak bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan
kepercayaan yang dianutnya.
p) Menggugat dan/ atau menuntut rumah sakit apabila rumah sakit
diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik
secara perdata maupun pidana.
q) Mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang tidak sesuai dengan standar
pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
3. Kewajiban Rumah Sakit Dalam Menghormati Hak Pasien Dan
Keluarga
a) Memberikan hak istimewa dalam menentukan informasi apa saja yang
berhubungan dengan pelayanan yang boleh disampaikan kepada
keluarga atau pihak lain.
b) Pasien diinformasikan tentang kerahasiaan informasi dalam rekam
medik pasien
c) Pembukaan atas kerahasiaan informasi mengenai pasien dalam rekam
medik diperbolehkan dalam UU No 29 tahun 2004, yaitu sebagai
berikut:
1) Diminta oleh aparat penegak hukum dalam rangka penegakan
hukum misalnya, visum et repertum
2) Atas permintaan pasien sendiri
3) Untuk kepentingan kesehatan pasien itu sendiri
4) Berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku,
misalnya; undang undang wabah, undang undang karantina,
dsb.
d) Pasien diminta persetujuannya untuk membuka informasi yang tidak
tercakup dalam undang-undang dan peraturan.
e) Rumah sakit menghormati kerahasiaan informasi kesehatan pasien
dengan membatasi akses ke ruang penyimpanan rekam medik, tidak
meletakan rekam medis pasien ditempat umum, dan sebagainya.
f) Rumah sakit merespon terhadap permintaan pasien dan keluarganya
untuk pelayanan rohani atau sejenisnya berkenaan dengan agama dan
kepercayaan pasien.Respon tersebut antara lain dengan menyediakan
rohaniawan serta buku doa
g) Menyediakan partisi / sekat pemisah untuk menghormati privasi pasien
di ruang perawatan

h) Menyediakan locker / lemari untuk menyimpan harta benda pasien


i) Memasang CCTV pada area yang perlu pengawasan ketat seperti di
ICU, ICCU,NICU, Burn Unit, ROI, ruang bayi, Irna Jiwa serta area
rumah sakit yang jauh dari keramaian.
j) Memasang finger print pada area yang mempunyai akses terbatas,
seperti ruang bayi, ruang rekam medis, tempat penyimpanan obatobatan
berbahaya di gudang farmasi, dan sebagainya.
k) Melindungi pasien dari kekerasan fisik dengan memantau ketat
pengunjung yang masuk ruang perawatan serta mewajibkan
pengunjung memakai ID Card
l) Menyediakan tenaga satpol PP untuk memantau area di lingkungan
rumah sakit
m) Menyediakan gelang berwarna ungu dalam menghormati hak pasien
dan keluarga terhadap pilihan keputusan DNR
n) Menyediakan kamar mandi khusus untuk manula dan orang cacat
o) Menyediakan tenaga penterjemah, baik bagi pasien yang tidak bisa
memahami bahasa indonesia maupun bagi pasien tuna rungu
p) Membentuk Tim Manajemen nyeri untuk mengatasi nyeri pada pasien
q) Membentuk Tim Code Blue untuk memberikan pelayanan resusitasi
bagi pasien yang membutuhkan
r) Memberikan Informasi bila terjadi penundaan pelayanan
s) Menyediakan formulir permintaan rohaniawan
t) Menyediakan formulir permintaan menyimpan harta benda
u) Menyediakan formulir pelepasan informasi
v) Menyediakan formulir permintaan privasi
w) Menyediakan formulir permintaan penterjemah
4. Kewajiban Pasien
Kewajiban pasien tertuang dalam persetujuan umum atau disebut juga
general consent adalah persetujuan yang bersifat umum yang diberikan
pasien pada saat masuk ruang rawat inap atau didaftar pertama kali sebagai
pasien rawat jalan, yaitu :
a. memberikan informasi yg akurat dan lengkap ttg keluhan sakit
sekarang, riwayat medis yg lalu, medikasi/pengobatan dan hal-hal lain
yg berkaitan dgn kesehatan pasien.
b. Mengikuti rencana pengobatan yg diadviskan oleh dokter termasuk
instruksi para perawat dan tenaga kesehatan yg lain sesuai perintah
dokter
c. Memperlakukan staf rumah sakit dan pasien lain dgn bermartabat dan
hormat serta tidak melakukan tindakan yg akan mengganggu
operasional rumah sakit
d. Menghormati privasi orang lain dan barang milik orang lain dan rumah
sakit
e. Tidak membawa alkohol, obat2 terlarang atau senjata tajam ke dalam
rumah sakit
f. Menghormati bahwa RS adalah area bebas rokok
g. Mematuhi jam kunjungan dari RS
h. Meninggalkan barang berharga di rumah dan membawa hanya barangbarang
yg penting selama tinggal di RS
i. Memastikan bahwa kewajiban finansial atas asuhan pasien dipenuhi
sebagaimana kebijakan RS
j. Bertanggung jawab atas tindakannya sendiri apabila menolak
pengobatan atau advis yang diberikan oleh dokter

C. TATA LAKSANA
1. Pada Saat Pendaftaran.
Pada saat pendaftaran, baik di rawat jalan maupun rawat inap, Petugas
admisiakan memberi penjelasankepada pasien dengan bahasa yang mudah
dimengerti mengenai 18 butir hak pasien berdasarkan Undang Undang
no 44 tentang Rumah Sakit selama pasien dirawat di RSXXXX Pasien diberi
pemahaman bahwa pasien sesungguhnya adalah PENENTU keputusan
tindakan medis bagi dirinya sendiri. Seperti yang tertera pada UndangUndang No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, dimana Undang
Undang ini bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada pasien,
mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis, dan
memberikan kepastian hukum bagi pasien maupun dokter.
Adanya hak pasien membantu meningkatkan kepercayaan pasien dengan
memastikan bahwa sistem pelayanan di RS XXXXX bersifat cukup adil dan
responsif terhadap kebutuhanmereka, memberitahukankepada pasien
mekanisme untukmemenuhi keinginan mereka, dan mendorong pasien
untuk mengambil peran aktif serta kritis dalam meningkatkan kesehatan
mereka. Selain itu, hak dan kewajiban juga dibuat untuk menegaskan pola
hubungan yang kuat antara pasien dengan dokter.
3. Pada Saat Pengobatan.
Pada saat pasien berkunjung ke poliklinik atau sedang dirawat di ruang
perawatan, akan berlangsung tanya jawab antara pasien
dandokter(anamnesis),pasien harus bertanya (berusaha mendapatkan hak
pasien sebagai konsumen). Bila berhadapan dengan dokter yang tidak mau
membantu mendapatkan hak pasien, itu saatnya pasien mencari dokter lain
atau mencari second opinion ditempat lain.
Pasien menjadilkan dirinya sebagai partner diskusi yang sejajar bagi
dokter. Ketika pasien memperoleh penjelasan tentang apapun, dari pihak
manapun, tentunya sedikit banyak harus mengetahui, apakah penjelasan
tersebut benar atau tidak. Semua profesi memiliki prosedur masing-masing,
dan semua kebenaran tindakan dapat diukur dari kesesuaian tindakan
tersebut dengan standar prosedur yang seharusnya. Begitu juga dengan
dunia kedokteran. Ada yang disebut dengan guideline atau Panduan
Praktek Klinis (PPK) dalam menangani penyakit.
Lalu, dalam posisi sebagai pasien, setelah kita mengetahui peran penting
kita dalam tindakan medis, apa yang dapat dilakukan ? Karena, tindakan
medis apapun, harusnya disetujui oleh pasien (informed consent)sebelum
dilakukan setelah dokter memberikaninformasi yang cukup. Bila pasien
tidak menghendaki, maka tindakan medis seharusnya tidak dapat
dilakukan. Pihak dokter atau RS seharusnya memberikan kesempatan
kepada pasien untuk menyatakan persetujuan atau sebaliknya menyatakan
penolakan. Persetujuan itu dapat dinyatakan secara tulisan.
Selanjutnya, UU no. 29/2004 pada pasal 46 menyatakan dokter WAJIB
mengisi rekam medis untuk mencatat tindakan medis yang dilakukan
terhadap pasien secara clear, correct dan complete. Dalam pasal 47,
dinyatakan rekam medis merupakan milik rumah sakityang wajib dijaga
kerahasiannya, tetapiISI-nya merupakan milik pasien. Artinya, pasien
BERHAK mendapatkan salinan rekam medis dan pasien BERHAK atas
kerahasiaan dari isi rekam medis miliknya tersebut, sehingga rumah sakit
tidak bisa memberi informasi terkaitdata data medis pasien kepada orang
pribadi/perusahaan asuransi atau ke media cetak / elektronik tanpa seizin
dari pasiennya.
3. Pada Saat Perawatan.

Selama dalam perawatan, pasien berhak mendapatkan privasi baik saat


wawancara klinis, saat dilakukan tindakan ataupun menentukan siapa
yang boleh mengunjunginya. Begitu pula untuk pelayanan rohani, pasein
berhak mendapatkan pelayanan rohani baik secara rutin maupun secara
insidensial manakala dibutuhkan. D. DOKUMENTASI
Dokumentasi Perlindungan Hak Pasien dan keluarga adalah:
1. Formulir hak pasien dan keluarga
2. Formulir general consent
3. Formulir pemberian informasi bila terjadi penundaan pelayanan
4. Formulir penundaan pelayanan
5. Formulir permintaan rohaniawan
6. Formulir permintaan menyimpan harta benda
7. Formulir pelepasan informasi
8. Formulir permintaan privasi
9. Formulir permintaan penterjemah
10. Formulir pemberian informasi tindakan kedokteran
11. Formulir persetujuan / menolak tindakan kedokteran

1. 12. Formulir DNR

PANDUAN DNR
VIII.

Pengertian