Anda di halaman 1dari 18

PENGANGGARAN DAN EVALUASI KINERJA SEKTOR PUBLIK

ANALISIS STANDAR BELANJA

KINERJA SEKTOR PUBLIK “ ANALISIS STANDAR BELANJA “ Disusun oleh: Dedy Abdur Rauf Dirga Satrio Muhammad

Disusun oleh:

Dedy Abdur Rauf

Dirga Satrio Muhammad

Firlana Subekti

145020304111003

145020304111004

145020304111007

UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS JURUSAN AKUNTANSI MALANG

2015

1. LATAR BELAKANG

Pembahasan tentang sektor publik tidak akan lepas dari proses penganggaran. Proses penganggaran pada organisasi sektor publik dalam hal ini pemerintah daerah merupakan sebuah proses yang tidak gampang. Organisasi sektor publik diharuskan menginformasikan anggaran kepada publik agar dapat mencapai asas transparansi dan keterbukaan dalam pengelolaan keuangan. Anggaran sektor publik merupakan instrumen akuntabilitas atas pengelolaan dana publik dan pelaksanaan program-program yang memperoleh pembiayaan dari uang publik.1

Tahap penganggaran menjadi sangat penting dalam sistem pemerintahan karena apabila sebuah anggaran tidak efektif dan tidak berorientasi kinerja akan berdampak pada terganggunya perencanaan yang telah disusun. Menurut Emi Yulia Siska (2009) anggaran merupakan managerial plan for action untuk memfasilitasi tercapainya tujuan organisasi. Salah satunya agar dapat menghasilkan anggaran daerah yang mencerminkan pengelolaan keuangan daerah yang memenuhi unsur ekonomis, efisien, dan efektif.

Analisis Standar Belanja (ASB) muncul dalam ranah perundangan Pemerintah Daerah pada tahun 2004 ketika terbit Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan ini merupakan pengganti dari peraturan lawas yaitu Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam UU no.32 tersebut ASB dijelaskan sebagai penilaian atas kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan. Berikutnya turunan dari UU no. 32 merupakan Peraturan Pemerintah no. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah yang khusus mengatur pengelolaan keuangan pada tingkat pemerintah daerah. Pedoman lebih rinci untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah tersebut dijabarkan lebih mendalam oleh Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Pada tahun 2007 Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia menerbitkan Permendagri No. 59 tahun 2007 sebagai penyempurnaan dari Permendagri No. 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. ASB diterangkan dalam regulasi-regulasi tersebut sebagai salah satu instrumen pokok dalam penganggaran berbasis kinerja.

Sebelumnya ASB lebih dikenal dengan istilah Standar Analisa Belanja (SAB) yang bermakna penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya terhadap suatu kegiatan. Pengertian ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah no. 105 tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. Kemudian dikeluarkan pedoman operasional dalam bentuk Kepmendagri no.29 tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Bahkan lebih jauh sebelumnya penyusunan anggaran daerah mengacu pada PP no. 6 tahun 1975 tentang Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja. Perubahan regulasi-regulasi yang menyangkut kebijakan penganggaran merupakan implikasi dari perubahan kebijakan

A n a

l

i

s

i s

S t a n d a r

B e

l a

n j

a

Page 1

pengelolaan keuangan negara. Namun dari peraturan tahun 2000 tersebut sampai peraturan perundang-undangan terbaru masih belum menunjukkan secara riil dan operasional bagaimana penerapan ASB.

Permasalahan yang kerap muncul akibat kurang jelasnya intepretasi konsep ASB ini mengakibatkan beberapa persoalan sebagai berikut yaitu:

Plafon anggaran kegiatan pada Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) ditetapkan menggunakan „intuisi‟ atau perkiraan

Sulit menilai kewajaran beban kerja dan biaya suatu kegiatan

Penyusunan dan penentuan anggaran menjadi subjektif

Dua atau lebih kegiatan yang sama mendapat alokasi yang berbeda

Tidak memiliki argumen yang kuat jika „dituduh‟ melakukan pemborosan

Penyusunan anggaran menjadi terhambat/tertunda.

Hal ini menunjukkan bahwa kualitas perencanaan Anggaran Daerah yang digunakan relatif masih lemah. Lemahnya perencanaan anggaran juga diikuti oleh ketidakmampuan Pemerintah Daerah dalam meningkatkan penerimaan Daerah secara berkala, sementara di lain pihak pengeluaran tiap tahun terus meningkat dinamis. Hal ini tidak disertai dengan penentuan skala prioritas dan besarnya plafon anggaran. Keadaan tersebut menghasilkan penyusunan anggaran yang underfinancing atau overfinancing yang berdampak terhadap tingkat efisiensi dan efektivitas unit-unit kerja Pemerintah Daerah.

Dalam PP no. 58 tahun 2005 pasal 36 ayat 2 dinyatakan bahwa proses penyusunan Rencana Kerja Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKASKPD) dalam rangka penyusunan APBD didasarkan pada tiga pendekatan yaitu:

a. Kerangka pengeluaran jangka menengah daerah;

b. Penganggaran terpadu; dan

c. Penganggaran berdasarkan prestasi kerja.

Dalam rangka mengatasi permasalahan yang muncul, Anggaran Daerah dapat menggunakan pendekatan yang disusun berdasarkan kinerja yang dicapai oleh Daerah. APBD disusun dengan berdasarkan pendekatan berbasis kerja adalah anggaran yang disusun seharusnya lebih mengutamakan pencapaian hasil kerja (keluaran, hasil, manfaat dan dampak) daripada menitikberatkan alokasi biaya atau input semata dengan mengabaikan hasil yang akan dicapai. Setiap dana yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah untuk melaksanakan program dan kegiatan harus didasarkan atas hasil dan output yang jelas dan terukur. Dengan Anggaran Kinerja tersebut , maka Anggaran Daerah akan lebih transparan, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan karena setiap penggunaan sumber-sumber yang direncanakan dalam APBD seharusnya dapat dikaitkan dengan barang/jasa yang akan dihasilkan. Salah satu instrumen yang diperlukan untuk menyusun Anggaran Daerah dengan pendekatan kinerja adalah ASB.

A n a

l

i

s

i s

S t a n d a r

B e

l a

n j

a

Page 2

Penyusunan anggaran berdasarkan prestasi kerja pada dasarnya sudah dilakukan sejak Pemerintah Daerah mengajukan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) harus ditentukan secara tegas mengenai besaran hasil dan outputnya. Besaran ini ditentukan oleh indikator yang ditentukan sebagai standar dalam penyusunan anggaran program/kegiatan dan sebagai standar dalam penilaian terhadap kewajaran oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) atas anggaran program/kegiatan yang diajukan oleh tiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Indikator yang ditetapkan harus tepat arah agar mampu menjelaskan apakah kinerja yang dilakukan sudah semakin baik atau sebaliknya. Sementara standar yang digunakan oleh SKPD dalam menentukan jumlah rupiah per program/kegiatan dianggarkan dari rekening belanja dan total belanja kegiatan yang berasal dari Standar Satuan Harga (Standar Harga Barang dan Jasa). Sementara standar yang digunakan oleh TAPD dalam menentukan kewajaran anggaran belanja kegiatan yang diajukan oleh SKPD adalah Analisis Standar Belanja (ASB).

Dalam Ilmu Akuntansi, ASB termasuk dalam lingkup pembahasan Akuntansi Biaya dan Akuntansi Manajemen. Dalam kedua pokok bahasan tersebut, penentuan standar efisiensi ASB pada dasarnya adalah penentuan biaya per unit untuk masing- masing kegiatan. Ada beberapa metode penentuan biaya per unit (costing) yang dapat digunakan, yaitu:

a. Metode penentuan biaya per unit tradisional (tradisional costing), dan

b. Penentuan biaya per unit berdasarkan aktivitas (activity based costing).

Dalam konsep tradisional, semua biaya yang tidak dapat ditelusuri langsung ke output/produk yang dibebankan berdasarkan alokasi. Alokasi merupakan pembebanan biaya ke produk, dimana hubungan antara biaya dengan output/produk yang diasumsikan. Hal ini menyebabkan pembebanan menjadi tidak akurat atau tidak mencerminkan biaya sesungguhnya diserap oleh suatu output/produk. Sebaliknya, dalam konsep ABC, biaya yang tidak dapat ditelusuri langsung (direct tracing) ke output/produk dapat ditelusuri menggunakan hubungan sebab akibat (penelusuran pemicu /driver tracing) untuk mengetahui output/produk dalam sektor publik berupa aktivitas apa yang menyerap biaya dan apa yang menjadi pemicu diserap biaya tersebut.

Tujuan pemerintah adalah memberi pelayanan yang optimum (memuaskan dengan biaya tertentu sesuai dengan kapasitas yang dimiliki pemerintah) kepada masyarakat. Sektor swasta mengenalnya dengan konsep memeroleh laba. Dengan memproduksi produk untuk dijual. Sektor publik mengistilahkan proses produksi dengan membuat program dan menentukan jumlah biaya yang dibutuhkan oleh program tersebut. Untuk melaksanakan program tersebut dibuat beberapa jenis kegiatan, kegiatan ini akan dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang nantinya mampu memberikan manfaat bagi masyarakat yang merupakan sasaran dari program. Jadi suatu pelayanan optimum diperoleh dari pemanfaatan sumber daya manusia yang dimiliki dikurangi dengan semua pengeluaran yang digunakan untuk meningkatkan sumber daya manusia.

A n a

l

i

s

i s

S t a n d a r

B e

l a

n j

a

Page 3

2. POSISI ASB DALAM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

ASB sebagai suatu alat penentu kewajaran memiliki peran penting dalam beberapa tahapan pada pengelolaan keuangan daerah yaitu:

a. Tahap Perencanaan

ASB dapat digunakan pada saat perencanaan keuangan daerah. ASB dapat dipergunakan pada saat musrenbang, rencana jangka panjang (renja), dan pada saat penentuan prioritas. Pada tahap-tahap tersebut ASB digunakan untuk menentukan pagu indikatif dari kegiatan-kegiatan yang diusulkan oleh masyarakat.

b. Tahap Penganggaran

ASB digunakan pada saat proses perencanaan anggaran. ASB merupakan pendekatan yang digunakan oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah untuk mengevaluasi usulan program, kegiatan, dan anggaran setiap satuan kerja dengan cara menganalisis beban kerja dan biaya dari usulan program atau kegiatan yang bersangkutan.

ASB digunakan pada saat mengkuantitatifkan program dan kegiatan setiap SKPDmenjadi RKA-SKPD. RKA-SKPD berisi rencana program dan kegiatan yang akan dilaksanakan beserta usulan anggaran yang akan digunakan. Untuk mengetahui beban kerja dan beban biaya yang optimal dari setiap usulan program atau kegiatan yang diusulkan, langkah yang dilakukan adalah dengan menggunakan formula perhitungan ASB yang terdapat pada masing-masing jenis ASB.

c. Tahap Pengawasan/Pemeriksaan

Pada tahap pengawasan/pemeriksaan, pengawas/pemeriksa dapat menggunakan ASB untuk menentukan batasan mengenai pemborosan / kerugian negara. Apabila penganggaran belanja melebihi ASB maka disebut pemborosan .

3. MANFAAT ASB

Manfaat

yang

dapat

diperoleh

dari

Pemerintah

Analisis Standar Belanja adalah sebagai berikut :

Daerah

ketika

menggunakan

a. Penetapan plafon anggaran pada saat Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) menjadi lebih obyektif

b. Dapat menentukan kewajaran biaya untuk melaksanakan suatu kegiatan.

c. Meminimalisir terjadinya pengeluaran yang kurang jelas yang menyebabkan inefisiensi anggaran.

d. Penentuan anggaran berdasarkan pada tolok ukur kinerja yang jelas.

e. Penentuan besaran alokasi setiap kegiatan menjadi objektif.

f. Penyusunan anggaran menjadi lebih tepat waktu.

A n a

l

i

s

i s

S t a n d a r

B e

l a

n j

a

Page 4

4. PERILAKU BELANJA

Sebagian besar keputusan yang diambil oleh pemerintah daerah memerlukan informasi belanja yang didasarkan pada perilakunya. Oleh sebab itu perlu diketahui penggolongan belanja atas dasar perilakunya. Yang dimaksud dengan perilaku belanja adalah pola perubahan belanja dalam kaitannya dengan perubahan target kinerja atau aktivitas pemerintah daerah ( misalnya, jumlah peserta dan jumlah hari dalam kegiatan bimbingan teknis). Besar-kecilnya belanja dipengaruhi oleh besar-kecilnya target kinerja kegiatan/aktivitas pemerintah daerah. Belanja dapat digolongkan atas belanja variabel, belanja tetap dan belanja semi variabel dan atau belanja semi tetap. Berikut ini penjelasan masing-masing jenis belanja tersebut.

a. Belanja Variabel

Belanja variabel adalah belanja-belanja yang totalnya selalu berubah secara proporsional (sebanding) dengan perubahan target kinerja kegiatan pemerintah daerah. Besar-kecilnya total belanja variabel dipengaruhi oleh besar-kecilnya target kinerja. Contoh jenis belanja ini antara lain belanja sewa stand per meter persegi, belanja sewa gedung per hari, dan lain sebagainya.

Contoh:

Untuk melatih peserta pelatihan teknis diperlukan belanja sebesar Rp 500,00 per orang/hari. Berdasarkan data tersebut belanja total untuk beberapa jumlah peserta adalah sebagai berikut:

No.

Jumlah Peserta

Belanja Per Peserta

Belanja Total

 

1 10

Rp 500

Rp 5.000

 

2 20

Rp 500

Rp 10.000

 

3 30

Rp 500

Rp 15.000

 

4 40

Rp 500

Rp 20.000

 

5 50

Rp 500

Rp 25.000

Hubungan antara peserta belanja total dengan jumlah peserta tersebut dapat disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut :

A n a

l

i

s

i s

S t a n d a r

B e

l a

n j

a

Page 5

Pada grafik tersebut nampak hubungan antara belanja total dengan jumlah peserta. Pada saat jumlah peserta

Pada grafik tersebut nampak hubungan antara belanja total dengan jumlah peserta. Pada saat jumlah peserta sama dengan nol, maka belanja total sama dengan nol. Jika jumlah peserta 10 orang, maka belanja total adalah Rp 5.000,00. Jika jumlah peserta bertambah menjadi 20 orang, maka belanja total menjadi Rp10.000,00. Demikian seterusnya belanja total akan selalu berubah secara sebanding dengan perubahan jumlah peserta (yaitu setiap perubahan satu orang jumlah peserta akan berpengaruh terhadap belanja sebesar Rp500,00).

Dari contoh tersebut di atas belanja total selalu berubah sebanding dengan jumlah peserta, akan tetapi belanja total setiap peserta jumlahnya tetap (tidak berubah) pada setiap tingkat target kinerja. Dengan perkataan lain, belanja variabel total mempunyai perilaku selalu berubah sesuai dengan perubahan target kenrja, sedangkan belanja veriabel per unit mempunyai perilaku tetap, meskipun target kinerja berubah.

b. Belanja Tetap

Belanja tetap adalah belanja-belanja yang di dalam jarak kapasitas (range of capacity) tertentu totalnya tetap, meskipun target kinerja pemerintah daerah berubah-ubah. Sejauh tidak melampaui kapasitas, belanja tetap total tidak dipengaruhi oleh besar-kecilnya target kinerja pemerintah daerah.

Contoh:

belanja tetap adalah belanja gaji pegawai pemerintah daerah. Besar kecilnya belanja pegawai tidak dipengaruhi oleh banyak sedikitnya kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah Jarak kapasitas adalah serangkaian tingkat target kinerja pemerintah daerah yang dapat dicapai tanpa menambah kapasitas. Misalnya, berdasarkan contoh di atas jarak kapasitas atau sering pula disebut jarak relevan adalah beban kerja melatih dengan jumlah peserta antara nol peserta sampai 50 peserta. Jika pemerintah daerah mengadakan bimbingan teknis dengan peserta sampa dengan 50 orang, maka belanja honor panitia adalah X rupiah. Berapapun jumlah peserta, selama berada pada rentang

A n a

l

i

s

i s

S t a n d a r

B e

l a

n j

a

Page 6

kapasitas antara 1 sampai 50 orang maka belanja honor panitia adalah X rupiah. Namun, jika peserta pesert melebihi rentang kapasitas, misalnya 60 orang, maka belanja honor panitia akan lebih dari X rupiah karena pemerintah daerah harus menambah jumlah panitia.

c. Belanja Semi Variabel

Belanja Semi Variabel adalah belanja-belanja yang totalnya selalu berubah tetapi tidak proporsional dengan perubahan target kinerja kegiatan pemerintah daerah. Berubahnya belanja ini tidak dalam tingkat perubahan yang konstan. Belanja ini dapat dikelompokkan pada yang tingkat perubahannya semakin tinggi dan tingkat perubahannya semakin rendah. Dalam belanja semi variabel ini terkandung unsur belanja tetap dan unsur belanja variabel.

Pola Perilaku Dan Fungsi Belanja

Perubahan belanja total sebagai akibat dari perubahan target kinerja pemerintah daerah ada 3 macam pola yaitu :

a. Jumlah tetap, meskipun target kinerja kegiatan berubah (belanja tetap)

b. Jumlah berubah secara proporsional dengan perubahan target kinerja kegiatan (belanja variabel)

c. Jumlah berubah tidak sebanding dengan perubahan target kinerja kegiatan (belanja semi variabel)

Untuk keperluan perencanaan dan pengendalian belanja, pemerintah daerah harus mengetahui pola perilaku masing-masing belanja. Penentuan pola perilaku belanja berkaitan dengan pemisahan belanja ke dalam unsur belanja tetap dan belanja variabel. Dengan kata lain belanja yang dipisahkan tersebut merupakan belanja yang semi variabel dan atau belanja semi tetap.

Untuk menggambarkan hubungan antara belanja total dengan target kinerja kegiatan pemerintah daerah, pada umumnya dinyatakan dengan fungsi belanja sebagai berikut:

Belanja Total = Belanja Tetap Total + Belanja Variabel Total

Belanja variabel total jumlahnya dipengaruhi oleh besar-kecilnya target kinerja kegiatan. Dengan perkataan lain belanja variabel total merupakan hasil perkalian antara belanja variabel per unit dengan target kinerja kegiatan. Dengan demikian fungsi belanja tersebut di atas dapat pula dinyatakan sebagai berikut :

Belanja Total = Belanja Tetap Total + (Biaya Variabel per Unit x Target Kinerja Kegiatan)

Atau dapat diformulasikan sebagai Y = a + b.X

A n a

l

i

s

i s

S t a n d a r

B e

l a

n j

a

Page 7

Metode Penentuan Pola Perilaku Belanja

Untuk menentukan pola perilaku belanja sebagaimana dinyatakan dalam bentuk fungsi tersebut di atas ada berbagai metode/pendekatan. Dari metode yang sederhana sampai pada metode yang kompleks atau sulit. Dari perhitungan yang paling sederhana sampai penggunaan statistik matematika yang rumit dan bahkan dengan menggunakan komputer.

Secara umum ada tiga pendekatan dalam menentukan pola perilaku belanja. Ketiga pendekatan itu adalah pendekatan intuisi, pendekatan analisis enjinering, dan pendekatan analisis data belanja masa.

Pendekatan intuisi merupakan pendekatan yang didasarkan intuisis pembuat keputusan. Intuisi tersebut bisa didasari atas surat-surat keputusan, kontrakkerja dengan pihak lain dan sebagainya.

Pendekatan Analisis Enjinering merupakan pendekatan yang didasarkan pada hubungan fisik yang jelas antara masukan (input) dengan keluaran (output). Misalnya, jika pemerintah daerah melakukan kegiatan bimbingan teknis maka diketahui bahwa akan memerlukan sebuah lima orang panitia, dua buah komputer, 10 rim kertas, dan lain sebagainya. Pendekatan ini memang teliti namun seringkali memerlukan waktu dan belanja yang relatif tinggi.

Pendekatan Analisis Data Belanja Masa Lalu merupakan pendekatan yang didasarkan pada data belanja masa lalu. Pendekatan ini berasumsi bahwa belanja di masa akan datang sama perilakunya dengan belanja di masa yang lalu. Data belanja masa lalu dianalisis untuk mengetahui perilaku masingmasing belanja.

Ada beberapa metode untuk menentukan pola perilaku belanja dangan analisis perilaku belanja masa lalu, antara lain :

a. Metode Titik Tertinggi dan Titik Terendah (high-low method) Cara menentukan pola perilaku belanja dengan metode ini adalah menganalisis belanja masa lalu pada target kinerja kegiatan yang tertinggi dan target kinerja kegiatan yang terendah. Contoh:

Belanja reparasi dan pemeliharaan kendaraan roda dua adalah sebagai berikut :

Nama

Jumlah Kendaraan (unit)

Belanja Reparasi dan Pemeliharaan

SKPD

(000)

A

100

Rp 175.000

B

200

Rp 200.000

C

250

Rp 225.000

D

300

Rp 250.000

E

275

Rp 237.500

F

225

Rp 212.500

G

175

Rp 187.500

A n a

l

i

s

i s

S t a n d a r

B e

l a

n j

a

Page 8

H

125

Rp 162.500

I

100

Rp 150.000

J

120

Rp 160.000

Berdasarkan data tersebut di atas, beban kinerja tertinggi adalah SKPD D yaitu 300 unit dengan belanja Rp250.000.000 sedangkan beban kinerja terendah adalah SKPD I yakni 100 unit dengan belanja Rp150.000.000. Selanjutnya beban kinerja dan belanja pada kedua titik tertinggi dan terendah dianalisis dengan cara menghitung selisih di antara keduanya. Perhitungannya adalah sebagai berikut:

 

Jumlah

Belanja Reparasi dan Pemeliharaan

 

Nama SKPD

Kendaraan

Keterangan

(unit)

(000)

SKPD D

300

Rp 250.000

Tertinggi

SKPD I

100

Rp 150.000

Terendah

 

200

Rp 100.000

Selisih

Selisih tersebut merupakan unsur variabel dari belanja yang bersangkutan. Selisih per unit yakni dengan membagi selisih belanja dengan selisih beban kerja merupakan belanja variabel per unit atau dalam fungsi belanja tersebut di atas dinyatakan dengan simbol b. Dengan demikian:

b.

b = Rp 100.000.000 / 200 = Rp 500.000

Untuk a (belanja tetap total) dihitung dengan cara menghitung selisih antara total belanja dengan belanja variabel. Sebagai contoh untuk belanja SKPD D maka akan dihitung sebagai berikut:

Total Belanja (Y) = Rp 250.000.000 Total Belanja Variabel = Rp 500.000 x 300 = (Rp 150.000.000)

Total Belanja Tetap (a)

Dengan demikian fungsi belanja reparasi dan pemeliharaan dapat dinyatakan

sebagai berikut:

Y = 100.000.000 + 500.000.X

= Rp 100.000.000

Metode Kuadrat Terkecil (least square method) Penentuan pola perilaku belanja menurut metode ini adalah dengan menentukan total belanja tetap dan belanja variabel per unit dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

variabel per unit dengan menggunakan rumus sebagai berikut: A n a l i s i s

A n a

l

i

s

i s

S t a n d a r

B e

l a

n j

a

Page 9

Dalam analisis yang lebih mendalam, sebelum sesuatu belanja ditentukan sebagai suatu fungsi dari hal tertentu, terlebih dulu dilakukan analisis regresi - korelasi. Bahkan dalam analisis regresi ada kemungkinan menggunakan regresi berganda.

5. FORMAT ASB

Definisi ASB menurut PP No. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dalam pasal 39 ayat 2 menyebutkan bahwa “Penyusunan anggaran berdasarkan prestasi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan capaian kinerja, indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga, dan standar pelayanan minimal”, maka format ASB yang dikembangkan adalah sebagai berikut ini :

ASB–011 PENYELENGGARAAN PELATIHAN /BIMBINGAN TEKNIS Deskripsi: Penyelenggaraan Pelatihan Teknis/Bimbingan Teknis
ASB–011 PENYELENGGARAAN PELATIHAN /BIMBINGAN TEKNIS
Deskripsi:
Penyelenggaraan Pelatihan Teknis/Bimbingan Teknis merupakan kegiatan untuk memberikan
pelatihan kepada para pegawai di lingkungan satuan kerja perangkat daerah dan kepada
masyarakat untuk memperoleh keahlian tertentu.
Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah Peserta dan jumlah hari pelatihan.
Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp. 1.162.850,00 per Kegiatan
Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp. 355.600,00 per Jumlah peserta
Rumus Perhitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 1.162.850,00 + (Rp. 355.600,00 x Jumlah peserta x jumlah hari)
Alokasi Obyek Belanja ASB 001 :
No
Keterangan
Batas Bawah
Rata-Rata
Batas Atas
1 Belanja Honorarium PNS
0.00%
18.33%
41.51%
2 Belanja Honorarium Non PNS
0.00%
9.71%
27.03%
3 Belanja bahan material
0.00%
5.74%
27.93%
4 Belanja bahan habis pakai
0.00%
9.87%
41.31%
5 Belanja Jasa kantor
0.00%
22.51%
70.77%
6 Belanja cetak & penggandaan
0.00%
12.13%
64.27%
7 Belanja sewa
0.00%
0.69%
2.54%
8 Belanja Makan & minum
0.00%
12.32%
26.59%
9 Belanja.Perjalanan dinas
0.00%
8.70%
22.68%
Penjelasan atas masing-masing komponen ASB adalah sebagai berikut :

A n a

l

i

s

i s

S t a n d a r

B e

l a

n j

a

Page 10

a. Kode dan Nama Jenis ASB

Kode dan Nama Jenis ASB adalah kode urutan dan nama jenis per ASB yang digunakan agar memudahkan dalam mencari jenis ASB yang sesuai dengan kegiatan yang akan disusun anggarannya. Kode urutan serta nama jenis ASB dapat disusun berdasarkan urutan abjad agar memudahkan dalam penggunaannya.

Contoh :

ASB011 PENYELENGGARAAN PELATIHAN /BIMBINGAN TEKNIS

b. Deskripsi

Deskripsi adalah penjelasan detil operasional peruntukan dari ASB. Deskirpsi digunakan agar memudahkan dalam mengelompokkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan juga memberikan kemudahan ketika menggunakan ASB dalam penyusunan anggaran. Deskripsi ASB merupakan penjelasan detil operasional dari nama ASB. Dengan memahami deskripsi maka pengguna ASB akan mendapatkan keyakinan memadai mengenai ‟ketepatan‟ penggunaan ASB atas kegiatannya.

Contoh :

Deskripsi:

Penyelenggaraan Pelatihan Teknis/Bimbingan Teknis merupakan kegiatan untuk memberikan pelatihan kepada para pegawai di lingkungan satuan kerja perangkat daerah dan kepada masyarakat untuk memperoleh keahlian tertentu. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan keahlian untuk masalah-masalah yang sifatnya operasional yang menjadi kebutuhan utama satuan kerja perangkat daerah serta masyarakat luas.

c. Pengendali Belanja (Cost Driver)

Pengendali Belanja adalah faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya belanja dari suatu kegiatan. Faktor-faktor ini tentunya merupakan beban kerja riil dari kegiatan yang dimaksud.

Contoh :

Pengendali belanja (cost driver):

Jumlah Peserta dan jumlah hari pelatihan.

d. Satuan Pengendali Belanja Tetap (fixed cost)

Satuan pengendali belanja tetap merupakan belanja yang nilainya tetap untuk melaksanakan satu kegiatan. Belanja tetap ini tidak dipengaruhi oleh adanya perubahan volume/target kinerja suatu kegiatan. Besarnya nilai satuan pengendali belanja tetap merupakan batas maksimal untuk setiap kegiatan dimana penyusun anggaran tidak boleh

A n a

l

i

s

i s

S t a n d a r

B e

l a

n j

a

Page 11

melebihi nilai tersebut, namun diperbolehkan apabila menentukan belanja tetap dibawah nilai yang ditetapkan.

Contoh :

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost): = Rp. 1.162.850,00 per Kegiatan

e. Satuan Pengendali Belanja Variabel (variable cost)

Menunjukkan

besarnya

perubahan

belanja

variabel

untuk

masing-

masing

kegiatan yang dipengaruhi oleh perubahan/penambahan volume kegiatan.

Contoh :

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost): =

Rp. 355.600,00 per Jumlah peserta

f. Rumus Perhitungan Belanja Total

Merupakan rumus dalam menghitung besarnya belanja total dari suatu kegiatan. Formula ini merupakan penjumlahan antara fixed cost dan variable cost.

Contoh :

Rumus Perhitungan Belanja Total: Belanja Tetap + Belanja Variabel

= Rp. 1.162.850,00 + (Rp. 355.600,00 x Jumlah peserta x jumlah hari)

g. Alokasi Objek Belanja

Berisikan macam-macam objek belanja, proporsi batas bawah, proporsi rata-rata dan proporsi batas atas dari total belanja. Objek belanja disini adalah objek belanja yang hanya diperbolehkan dipergunakan dalam ASB yang bersangkutan. Batas bawah adalah proporsi terendah dari objek belanja yang bersangkutan. Rata-rata adalah proporsi rata-rata dari objek belanja tersebut untuk seluruh SKPD di Pemerintah Daerah tersebut. Batas atas adalah proporsi tertinggi yang dapat dipergunakan dalam objek belanja.

Maksud akan adanya batas atas dan batas bawah adalah untuk memberikan keleluasaan kepada pengguna anggaran untuk menentukan besaran dari masing-masing objek belanja. Hal ini untuk mengakomodasi sistem pengelolaan keuangan daerah yang telah didesentralisasikan ke SKPD. Dengan demikian ASB tersebut akan mampu mengendalikan belanja sekaligus memberikan keleluasaan kepada penggunanya.

Berdasarkan format tersebut, maka format ASB tersebut di desain agar dapat mengendalikan belanja sekaligus memberikan keleluasaan/fleksibilitas kepada penggunanya. Pengendalian belanja terlihat pada formula total belanja dan jumlah macam belanja yang diperkenankan, sedangkan keleluasaan tampak pada adanya batas atas dan batas bawah dalam penentuan besaran objek belanja

A n a

l

i

s

i s

S t a n d a r

B e

l a

n j

a

Page 12

6. PENGGUNAAN ASB

Langkah-langkah penggunaannya adalah sebagai berikut :

a. Pastikan bahwa kegiatan tersebut telah tercantum dalam Kebijakan Umum APBD atau Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara.

b. Temukan ASB yang sesuai dengan rencana kegiatan yang akan di susun. Kesesuaian ASB dengan rencana kegiatan dapat dikatakan dari mempelajari deskripsi ASB. Misal, anda akan melakukan kegiatan pelatihan teknis untuk guru-guru ekonomi dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang selama 4 hari. Dari daftar ASB dapat diketahui bahwa kegiatan tersebut masuk dalam kelompok ASB-005 BIMBINGAN ATAU PELATIHAN TEKNIS.

c. Dari ASB yang anda temukan tersebut, maka anda dapat menentukan maksimum total biaya untuk kegiatan tersebut berdasarkan rumus yang ada. Misal, rumus total biaya = Rp. 1.162.850,00 + (Rp.355.600,00 x Jumlah peserta x jumlah hari). Dari rumus tersebut dihitung total biaya sebagai beikut: Total Biaya = Rp. 1.162.850,00 + (Rp. 355.600,00 x 30 peserta x 4 hari) = Rp. 43.834.850,00.

d. Alokasikan Total Belanja tersebut ke komponen-komponen belanjanya sesuai dengan prosentase yang telah ditentukan.

No.

Keterangan

Prosentase

Jumlah (Rp)

1.

Belanja Honorarium PNS

18.33%

Rp 8.034.928

2.

Belanja Honorarium Non PNS

9.71%

Rp 4.256.364

3.

Belanja bahan material

5.74%

Rp 2.516.120

4.

Belanja bahan pakai habis

9.87%

Rp 4.326.500

5.

Belanja Jasa kantor

22.51%

Rp 9.867.225

6.

Belanja cetak & penggandaan

12.13%

Rp 5.317.167

7.

Belanja sewa

0.69%

Rp

302.460

8.

Belanja Makan & minum

12.32%

Rp 5.400.454

9.

Belanja Perjalanan dinas

8.70%

Rp 3.813.632

 

Jumlah

100%

Rp. 43.834.850

e. Pindahkan hasil no 3 di atas ke formulir S 3.B.1.1:

A n a

l

i

s

i s

S t a n d a r

B e

l a

n j

a

Page 13

 

RENCANA KERJA DAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH

 

Formulir

RKA - SKPD

 
 

Pemerintah Daerah

 

Tahun Anggaran 2007

2.2.1

UrusanPemerintahan: 1.01. Urusan Wajib Pendidikan

 

Organisasi

:

1.01.01 Dinas Pendidikan

 

Program

:

x. xx xx. xx.

Kegiatan

:

x. xx. xx. xx. xx.

Pelatihan guru-guru ekonomi

Lokasi kegiatan

Dinas Pendidikan

Jumlah Tahun tidak dianggarkan

 

2006

Jumlah Tahun

Rp 43.834.850,00 (empat puluh tiga juta delapan ratus tiga puluh

empat

2007

ribu delapan ratus lima puluh rupiah)

 

Jumlah Tahun

tidak dianggarkan

 

2008

 

Indikator & Tolok Ukur Kinerja Belanja Langsung

 

Indikator

Tolok Ukur Kinerja

 

Target Kinerja

Capaian Program

Pelajaran ekonomi mudah dipahami siswa

 

120 orang

Masukan

Dana yang tersedia

 

Rp43,834,850

Keluaran

Jumlah guru yang dilatih, lama hari pelatihan

30 orang, 4 hari

Hasil

tercapainya kompetensi mengajar pelajaran

 

25%

Kelompok Sasaran Kegiatan : Guru-Guru ekonomi

 

A n a

l

i

s

i s

S t a n d a r

B e

l a

n j

a

Page 14

A n a l i s i s S t a n d a r

A n a

l

i

s

i s

S t a n d a r

B e

l a

n j

a

Page 15

A n a l i s i s S t a n d a r

A n a

l

i

s

i s

S t a n d a r

B e

l a

n j

a

Page 16

DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

Peraturan Pemerintah no. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah

Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah

Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik. 2009. Penyusunan Analisis Standar Belanja. Yogyakarta.

A n a

l

i

s

i s

S t a n d a r

B e

l a

n j

a

Page 17